Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 [musik] 0:08 Brail TV. 0:16 Asalamualaikum, Mas Toni Rosyid. Apa 0:18 kabar? 0:20 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:21 wabarakatuh. Kabar baik Pak Ihsan dan 0:24 seluruh pendengar. 0:25 Hm. Ini dia. Ini bagaimana perjalanan 0:29 malam hari di Jakarta, Mas Toni? 0:31 Nampaknya mesti hati-hati ya, karena 0:34 banyak begal sekarang ya. Kok tahu-tahu 0:36 jadi banyak nih. Ada apa di balik apa? 0:39 Apakah ada sebuah skenario lain atau apa 0:42 yang terjadi? Nah, keuangan memang lagi 0:44 tidak baik-baik saja ya. Menteri 0:47 keuangan tuh lagi sabet sana sabet sini. 0:50 Bahkan pengusaha-pengusaha sawit pun 0:52 kena. Ini 10 perusahaan sudah dilaporkan 0:55 Purbaya. Manipulasi ekspor sabit. Ya, 0:58 lagunya si Indonesia Raya ini, tapi 1:01 duitnya kayaknya ke mana-mana tuh. 1:03 Mungkin Mas Toni bisa pahamlah di balik 1:05 layar ini ada back layar apa ini yang 1:08 bisa disampaikan untuk pendengar kita. 1:11 Dan juga tentu saja sebuah fenomena. Hm. 1:15 Kalau di negeri kita kan suka ada yang 1:17 salah ngomong. Di India juga ada Mas 1:19 Toni yang salah ngomong. Akhirnya timbul 1:21 di sana sebuah partai, bukan partai 1:24 coklat tapi partai kecoa namanya. 1:26 [tertawa] 1:27 Anak muda bergerak. Woh, ramai kali ini 1:29 di negeri ee Kia Halhe tersebut ya. Para 1:32 pendengar juga ingin mendengar tentang 1:36 mm apa ini katanya ilusi, stabilitas. 1:40 ini dari seorang Anis Baswedan yang 1:43 mengkritisi tentang stabilitas yang 1:44 ilusi karena kan berkali-kali keadaan 1:48 stabil, keadaan stabil tapi nampaknya 1:50 tahu-tahu kepala apa nih MBG BGN ini 1:55 bubar tinggal satu saja Ibu anak SD 1:59 yangang yang dipakai. Ah, pasti ada 2:01 cerita di balik cerita mudah-mudahan 2:03 tidak urusan pada komisi bagi yang lagi 2:06 ramai kemarin itu ya. Ya sudah ribuan 2:09 pula SPPG yang ditutup. Ada cerita apa 2:11 di balik ini? Terakhir di Saudi mau 2:14 dibikin SPPG pula lagi. Ah, silakan Mas 2:17 Toni Rosid. 30 menit ke depan kita 2:19 temani pendengar dari Aceh sampai 2:22 Banyuwangi dan 28 pendengar lainnya 2:24 termasuk CIE ada di Israel. Mas Toni 2:27 silakan Mas Toni. 2:29 [mendengus] 2:30 Baik Pak dan seluruh pendengar asel. 2:32 Kita dari jauh dulu aja dari India ya. 2:36 ada Partai Kea. 2:37 Partai Kecoa. 2:38 Dan kebetulan ini sesuai dengan ee hasil 2:42 riset disertasi saya, Pak. 2:44 Oh, iya. Heeh. 2:46 Jadi ketika ada masyarakat mengalami 2:50 sebuah situasi yang tidak menyenangkan, 2:54 tidak membuat mereka nyaman, 2:57 kemudian bahkan membuat mereka gelisah, 3:01 ya. Kalau kemudian ini dirasakan oleh 3:04 semakin banyak orang, ya itu dirasakan 3:07 individu, terkomunikasikan dengan yang 3:10 lain, akhirnya menjadi sebuah perasaan. 3:15 Oh 3:15 ya. 3:16 Jadi ada orang yang sakit tapi tidak 3:19 tidak merasakan sakit, dianggap sakit 3:21 sendiri. Tapi ketika sakit ini 3:23 diceritakan kepada orang lain, maka 3:25 kemudian ee semua akan curhat. ketika 3:29 semakin terkomunikasi meluas maka akan 3:33 menjadi sebuah intenionalitas dan 3:36 intensionalitas ini kemudian menjadi 3:37 sebuah solidaritas. 3:39 Solidaritas itu terbentuk karena prinsip 3:41 yang sama. 3:43 Ketika kons solidaritas ini terbentuk 3:45 kemudian terkonsolidasi 3:47 maka akan menjadi sebuah ee apa? 3:51 pergerakan massa. 3:53 Kalau itu sudah terkonsolidasi menjadi 3:55 pergerakan massa dan ini bahaya. H kan 4:00 dan ini bisa terjadi ee di Indonesia ini 4:03 kaitannya dengan Jakarta lah ini 4:06 kaitannya dengan 4:07 ee begal 4:08 ribuan 4:09 pastikan 4:11 ee banyak teori yang mengatakan bahwa 4:14 kriminalitas itu semakin masuk ketika 4:18 tingkat kesulitan masyarakat itu 4:20 membesar. 4:21 Hm. 4:22 Jadi, ada hubungan antara faktor 4:25 ketidaksejahteraan 4:27 atau faktor minus ekonomi terhadap 4:30 tingkat kriminalitas. H 4:33 dan kenyataannya memang sudah 1200 dalam 4:38 1 bulan ini terjadi sebuah kasus 4:41 20 hari. 4:41 Kalau kemudian kita runut sebelumnya, 4:45 Pak Ian ya ini juga bisa menjadi 4:47 indikator gejolak yang ada di Jakarta. 4:50 faktornya adalah pengangguran dan ee 4:53 kemiskinan. 4:54 Pada [mendengus] saat di bulan ee apa di 4:58 ee 5:00 lebaran Idul Fitri kemarin ya, 5:03 pemerintah memberikan 5:06 insentif ya bantuan kepada 200.000 Ibu 5:10 orang dikumpulkan sebagai hadiah 5:13 lebaran, sebagai kalau kita apa ee apa 5:18 istilahnya itu ya pokoknya ampol lebaran 5:21 lah gitu kan [tertawa] 5:22 500.000 per orang. 5:25 Kenapa itu dilakukan? Ya karena memang 5:27 masyarakat itu butuh, itu lagi susah, 5:31 itu lagi berat. 5:33 Maka perlu kemudian 5:36 di 5:37 subsidi, diberikan insentif ee diberikan 5:42 hadiah supaya mereka tidak kemudian ee 5:46 tambah gelisah dan menciptakan 5:48 kemarahan. 5:49 H. 5:49 Lalu masih tetap muncul lagi gejola itu 5:53 dari burung. 5:55 di melalui jumhur pimpinan, salah satu 5:57 pimpinan buru untuk menjadi menteri yang 6:00 sesungguhnya bukan bidang yang mestinya 6:02 menteri ketatanaganakerjaan supaya 6:04 karena dia berlatar belakang buruh tahu 6:07 bagaimana kebutuhan buruh kemudian 6:09 diberikan ke menteri ketata apa 6:13 ketenagakerjaan sehingga bisa mengatasi 6:15 problem ketenagakerjaan itu bukan 6:19 kemudian kementerian di 6:22 ee apa lingkungan hidup yang enggak ada 6:25 hubungannya. 6:26 Iya. 6:26 Tapi paling tidak secara politis itu 6:28 meredan 6:29 sehingga demo 1 Mei, buruh 1 Mei itu 6:32 berubah menjadi pesta buruh kan gitu 6:35 menjadi perayaan buruh. 6:37 Sukses sampai di situ. Tapi apakah 6:39 kemudian gejola ini akan berhenti dengan 6:42 cara-cara seperti itu? Kenyataannya 6:44 tidak. Pada hari pada bulan Mei kemarin 6:47 itu ada 100 1200 ee ee kasus. Kemudian 6:52 memang sudah ee dari data inilah yang 6:54 sesungguhnya dimiliki oleh aparat untuk 6:57 siapsiaga membuat tim khusus menangani 7:01 ini dan ini ada diakan. 7:03 Nah, problem ini boleh jadi karena 7:05 problem unemployment. 7:07 Oh, 7:08 problem [berdehem] 7:09 pengangguran. 7:11 Karena pengangguran enggak ada kerjaan, 7:13 mereka tidak punya pendapatan. Karena 7:15 enggak punya pendapatan, mereka kemudian 7:16 miskin. Karena dengan kemikan miskin 7:18 mereka tidak memiliki kemampuan untuk 7:21 tidur. 7:22 H 7:23 dan kalau sudah urusan perut, Pak, ya ee 7:27 orang akan 7:29 buta mata, buta telinga, buta segalanya. 7:33 Kenapa? Karena ini urusan hidup dan 7:35 mati. Kalau ini memang betul-betul 7:37 terjadi ya ya ini perlu betul-betul 7:41 waspada diwaspadai. Bukan hanya 7:42 masyarakat tetapi negara. dan ini akan 7:45 bisa menjadi sebuah gejola politik. 7:47 Berangkat dari gejola unemployment 7:49 kemudian bergeser menjadi gejola politik 7:52 dan ini berbahaya ya. Oleh karena itu 7:55 apa yang dilakukan oleh pemerintah 7:56 selama ini itu e dalam konteks 8:00 insidentil dan dalam waktu untuk 8:02 mengatasi sementara itu sudah benar, itu 8:04 sudah baik, itu mesti harus dilakukan 8:07 ya. berikan insentif kepada rakyat 8:09 terutama yang susah sehingga mereka 8:11 tidak tambah susah dan kemudian bisa ee 8:14 mereka menjadi orang bisa bertahan 8:17 hidup. Tetapi sampai kapan 8:20 mesti ada program yang jangka panjang. 8:23 Hm. 8:23 Tapi di sisi lain kelas menengah ee 8:26 sedang ee dalam kondisi yang susah 8:29 payah. 8:30 Hm. ya, BBM naik untuk kelas menengah, 8:34 pajak naik untuk kelas menengah. 8:37 Perputaran ekonomi itu kan lebih banyak 8:38 digerakkan oleh kelas menengah, Pak. 8:42 Kalau [berdehem][mendengus] kelas 8:42 menengah kemudian ya mengalami sebuah 8:45 kesulitan, akhirnya menahan modalnya, ya 8:48 menahan belanja, kemudian menahan diri 8:52 dari semua pengeluaran spending, maka 8:54 apa yang kemudian terjadi? perputaran 8:56 ekonomi makin ee berat, pertumbuhan 9:00 ekonomi juga makin terganggu ya. Karena 9:03 itu ee apa gerak ya gerak keuangan juga 9:08 makin macet. Kalau ini sebuah terjadi ya 9:11 usaha juga makin macet. Apa yang 9:13 kemudian ee menjadi efeknya, menjadi 9:16 akibatnya? Ya, orang makin mis orang 9:19 makin akan makin banyak pengangguran dan 9:21 akan makin ee tinggi angka kemiskinan. 9:24 He. 9:25 Ini menjadi sebuah serius y untuk saat 9:28 ini. Ini ini satu cerita Pak ada kawan 9:30 saya itu punya 9:32 ee apa? Pak padel sekarang lagi itu kan 9:36 lagi 9:36 Oh, lagi ngedel 9:38 lagi masib ya. 9:40 Nasib 9:41 lagi populer lagi digandrungi oleh 9:45 ee masyarakat. He 9:47 ya. Apa yang terjadi? Dia butuh 10 orang 9:51 untuk mengambil bola. Ini pekerjaan yang 9:54 informal dan dengan gaji rendahan kan. 9:56 He. 9:57 10 orang yang dibutuhkan ini di Jakarta 10:00 yang daftar itu 700 orang. 10:03 Masyaallah. [tertawa] 10:06 I 10:06 yang lebih mengerikan lagi lebih dari 10:09 30% 10:11 pendaftar itu adalah sarjana. 10:14 Masyaallah. H 10:16 ini kan menjadi sebuah tanda 10:18 h 10:19 ya ya bahwa ekonomi sedang ee tidak 10:22 baikbaik saja terutama rawan untuk di 10:25 kota-kota besar seperti 10:27 Jakarta ini. 10:29 Ee ada kawan saya juga punya wartek 10:31 franchise biasanya dapat R juta. 10:33 Sekarang kurang dari 2 juta per bulan 10:35 isinya. Ya, 10:36 kelas wartek saja kayak begitu ya. Gitu 10:39 kelas [berdehem] wartek. Dan dia cerita 10:41 banyak ojol yang sekarang dia makan di 10:43 sana kalau ada la kanak paling enggak 10:45 Rp.000 minimal Rp2.000 10:47 sudah dapat telur atau ayam 10:50 dan banyak ojol yang kemudian ee 10:53 saudara-saudara kita atau Kang ojek itu 10:56 membeli ee makan tanpa lauk nasi hanya 10:59 sama sahur R6.000 itu 11:01 dan jumlahnya cukup banyak 11:02 nasi kuah aja gitu ya. 11:04 Artinya ee artinya orang yang 11:07 menggunakan jasa ojol kan makin kecil. 11:09 Hm. 11:10 Bukan ojolnya makin banyak tapi orang 11:12 kalau dulu trennya ojol makin banyak 11:14 supply and demand. Tapi ini pengguna 11:17 Ojol makin kecil sehingga pendapatan 11:19 Ocol makin kecil dan pada akhirnya 11:22 mereka harus efeksi. H 11:25 dan ini berarti menurunkan laki-laki 11:28 menurunkan kelas kepada kelas yang lebih 11:30 ee rendah lagi. Ini problem yang menurut 11:33 saya ee tidak sedang baik-baik saja. 11:37 He. 11:37 Oleh karena itu kalau kemudian seringki 11:41 pemerintah dengan semua juru bicaranya 11:44 ee mengungkapkan sesuatu yang baik-baik 11:46 saja sebagai sebuah optimisme okelah 11:50 kita bisa terima. Tetapi harus kemudian 11:53 jangan sampai data itu yang didapatkan, 11:56 data itu yang direcord oleh pemerintah 11:58 itu salah. Artinya dari berbagai pihak, 12:02 dari berbagai sektor memberikan data 12:04 kepada pemerintah, data yang 12:06 manis-manis, data yang bagus-bagus, data 12:09 yang penuh dengan optimisme. Sementara 12:12 data itu takutnya tidak sesuai dengan 12:15 data yang sesungguhnya, dengan fakta 12:17 yang ada di lapangan. He. 12:18 Dan itu bisa menjadi sebuah ee ledakan. 12:21 Contohlah misalnya Pak Ihsan 12:23 ilusi. 12:24 Pak Ihsan punya tetangga kemudian tidak 12:26 pernah di kolesterol gimana? Ya baguslah 12:29 sehat-sehat saja enggak ada keluhan 12:32 eurat enggak ada ya. PH apa HP HP HP HP 12:37 bagus gitu kan semuanya bagus gitu kan. 12:40 Ee terus ditanya kamu pernah cek enggak? 12:44 Perasaan aja enggak pernah, cek darah 12:46 enggak pernah tensi bagus saja sementara 12:49 cek tensi enggak pernah gitu loh. Satu 12:51 ketika ternyata ee tahu-tahu kena tumot, 12:55 tahu-tahu kena kanker, sudah stadium 5. 12:57 Dan ini kan seringkiali terjadi 12:59 ya. H banyak 13:00 kita takut gitu loh kalau seringki 13:03 data-data itu tidak diberikan apa adanya 13:06 ya ee ada berbagai jumlah oknum ya yang 13:10 melaporkan sektor-sektor ekonomi ini 13:12 bagus-bagus saja tidak sesuai dengan 13:15 fakta di lapangan pada akhirnya ternyata 13:17 itu ada kanker pada akhirnya ee 13:20 tahu-tahu stadium 5 ini bahaya 13:22 kita semua tidak menginginkankan itu 13:25 supaya apa mestinya sudah terdeteksi 13:27 dari awal apa masalahnya sektor ini apa 13:29 masalahnya sektor itu apa masalahnya 13:30 sektor yang lain sama sehingga bisa 13:33 terdetek ketika terdeteksi lebih awal 13:35 bisa diselesaikan dan diberikan solusi 13:37 lebih awal sehingga tidak menjadi sebuah 13:39 akumulasi masalah di akhir yang itu bisa 13:42 menjadi sebuah ledakan dan ini bahaya 13:45 ya jangan asal bapak senang 13:49 karena ketika asal bapak senang anda 13:51 tanpa sadar telah membunuh bapak anda 13:54 h 13:54 ya anda tanpa sadar telah ee menggiring 13:58 bapak Anda kepada ke ke jurang. 14:00 He 14:00 tidak boleh ya ee sampaikan apa adanya. 14:04 Yang pahit biarlah pahit sehingga ada 14:06 kesadaran untuk menyelesaikan. 14:08 Ya biasanya namanya bapak itu diberikan 14:11 informasi yang karena sudah sangat 14:14 suntuk dan beratnya dalam menghadapi 14:16 hidup diberikan data-data yang pahit. 14:19 Itu spontan marah enggak apa-apa. Lebih 14:21 baik marah tapi masalah selesai ya 14:23 daripada kemudian senyum tapi justru 14:27 menambah masalah lebih besar lagi. 14:30 Kan begitu secara 14:32 sederhananya. Jelas ya 14:34 enggak apa-apa Bapak marah enggak 14:36 apa-apa sampaikan apa adanya tapi dari 14:38 situ ada kesadaran yang bersifat ee apa 14:42 ee cepat tanggap untuk menyelesaikan 14:44 persoalan sehingga persoalan satu demi 14:47 satu diselesaikan persoalan demi satu 14:49 demi satu ada solusinya sehingga tidak 14:52 numpuk tidak ngumpul ketika sudah numpuk 14:54 menjadi gelombang yang besar sulit untuk 14:56 diselaik sulit juga untuk direspon 14:59 reaksi apa yang bisa untuk menyelesaikan 15:02 itu 15:02 harus harus diganti akhirnya setelah 1 15:04 seteng tahun ya itu kan 15:06 e kalau kemudian kenapa MBK ee apa ketua 15:10 apa 15:11 ee BGN itu baru diganti mestinya dari 15:13 kemarin-kemarin 15:15 masalahnya itu kan banyak dan numpuk 15:17 sekali [tertawa] 15:19 macam sarangnya 15:20 tapi ini langkah bagus kalau Nani Dayang 15:22 saya kenal Pak saya kenal baik orang ini 15:24 memang punya idealisme. orang ini ee 15:27 memang orang lapangan berlatar belakang 15:29 ee wartawan juga orang ini juga ee 15:32 pekerja ya ee orang ini cukup bisa 15:35 melihat detail dan punya punya punya 15:39 banyak teman yang bisa memberikan input, 15:41 memberikan masukan. Orang ini bisa 15:43 berdialog dengan banyak orang gitu. 15:45 Nah, kita berharap dengan bahwa 15:47 perubahan ini akan menjadi baik. Tetapi 15:49 satu hal yang juga harus diingat dan ini 15:51 pasti akan terjadi perbaikan. H 15:54 Pak Ihsan, dapur-dapur itu yang bangun 15:56 bungan pemerintah, Pak Ihsan. 15:58 Hm. 15:59 Dapur-dapur itu yang membangun swasta. 16:03 Pemerintah minta bantuan ya kepada 16:06 swasta. Sil silakan ayo kita 16:08 bareng-bareng ee apa urut negara ini. 16:11 Terutama anak-anak yang ee apa perancam 16:14 samping dan sebagainya. Kalian bangun 16:16 dapur. Kalau kemudian dapur-dapur ini 16:19 dihentikan 16:21 ya 16:21 harus diberikan kompensasi 16:24 oleh negara. 16:25 Hm. 16:26 Jangan kemudian dihentikan. Bagaimana 16:29 nasib mereka di mana tanggung jawab dan 16:31 komitmen negara melibatkan sudah 16:33 melibatkan orang keluar dana membangun 16:36 ee MBG gitu loh ya, SPPG terus kemudian 16:39 dihentikan begitu saja. Kemarin kan ada 16:42 pesantren yang teriak-teriak yang 16:44 kecewa. Betul. mereka uang paspakan ya 16:47 dikumpulkan untukangun e ini ini tidak 16:50 puluhan juta ini minimal ratusan sampai 16:52 miliaran mereka harus keluar kalau 16:54 kemudian dihentikan modal pas-pasan 16:56 mereka bagaimana nasib mereka 17:00 ditertibkan dalam proses tertib iya 17:03 wajib penting harus ya tetapi juga bahwa 17:08 ee penertiban ini jangan kemudian 17:09 merugikan pihak-pihak yang sudah mereka 17:12 berjuang untuk bangsa dan negara ini. 17:13 Kalau kemarin ternyata ada kesalahan 17:16 dalam pengertian ee kesalahan itu kan 17:18 dari kebijakan. Titik-titik itu yang 17:20 menentukan bukan swasta, titik-titik itu 17:22 yang menentukan bukan orang yang bangun 17:24 dapur, titik-titik itu yang menentukan 17:26 itu bukan pesantren dan lain sebagainya. 17:28 Titik-titik itu yang menentukan itu 17:30 adalah PGN atas persetujuan PGN. 17:33 Hm. 17:34 Ee karena persetujuan PGN itulah PGN 17:38 mesti punya komitmen untuk tetap gitu 17:41 kan melindungi hak mereka. 17:44 berbasis kepada transaksi atau MOU dari 17:46 awal tidak tertulis, tetapi kan 17:49 penentuan itu ada. 17:51 Hm. 17:51 Ah, jangan kemudian bangun lagi, stop 17:54 dulu. 17:55 He 17:55 ya. Tertibkan yang sudah ada ya. Terus 17:59 kemudian satu karena belum pada tertib 18:02 maka waktu yang ada gunakan untuk 18:04 menertibkan, bukan untuk membangun lagi. 18:06 Nah, kemudian juga keuangan yang sudah 18:08 ada di dimaksimalkan untuk ee keuangan 18:12 yang diefisiensi dimaksimalkan untuk 18:15 yang sudah ada, bukan untuk membangun 18:17 yang baru. H 18:18 gitu loh. 18:19 Ya, jadi move on tapi dengan 18:22 komitmen-komitmen yang ada ya. Jadi 18:25 jangan kemudian ee ditinggalkan begitu 18:28 saja. Terus kemudian bilang, "Ya, itu 18:32 ada praktik-praktik yang pasti dan jelas 18:35 bahwa titik-titik itu yang menentukan 18:36 BBN swasta. Tidak mungkin mereka 18:39 pesantren, tidak mungkin yayasan, tidak 18:41 mungkin mereka bangun dapur tanpa ya 18:45 persetujuan ya tanpa penunjukan dari 18:49 BGN. 18:50 Karena itu BGN tidak bisa mundur dan 18:52 kemudian merugikan kepada mereka. proses 18:54 penerbitan tetap terjadi. Jadi, 18:56 efisiensi yang sudah ada dari keuangan 18:59 itu dioptimalisasi ee ke sana supaya ini 19:02 bisa menjadi contoh bahwa negara itu 19:04 tempat mengayomi, negara itu tempat 19:06 teladan, negara itu ee memang ya ee apa 19:10 namanya ee bisa menjadi contoh. Kemudian 19:14 selanjutnya Pak Ehsan 19:16 ya 19:17 di dalam membangun negara, negara ini 19:18 kan milik rakyat, ada dialektika di situ 19:22 ya. ee soal setuju tidak setuju ya sudah 19:26 ketika jadi gubernur, ketika jadi 19:28 walikota, ketika jadi bupati, ketika 19:31 jadi anggota DPR, jadi pejabat tinggi, 19:34 biasa sajalah ee apa karena ini adalah 19:37 demokrasi ya ee maka ada ruang untuk 19:41 berdiskusi, ada ruang untuk berbeda 19:44 pendapat, ada ruang untuk melakukan 19:46 kritis 19:47 dan itu hak yang diberikan kepada semua 19:51 ee warga negara. negara Indonesia. Jadi 19:54 kalau siap jadi pejabat, siap diberikan 19:56 masukan, siap mendengarkan yang enak, 19:58 tapi juga siap mendengarkan yang tidak 20:00 enak. 20:02 Respon mesti positif ya. Yang kalau 20:04 kemudian itu baik ya ee maka itu diambil 20:08 saja menjadi bagian dari masukan yang 20:10 konstruktif. Tapi kalau itu burukabaikan 20:13 saja. Tapi justru ya energi-energinya 20:16 itu untuk mendengarkan ya kemudian 20:18 memilah mana yang cocok dan rasional 20:21 tidak rasional, mana yang sesuai data 20:22 atau tidak data. Kemudian energinya 20:24 digunakan untuk membangun. Kalau energi 20:27 pemerintah dipakai untuk menanggapi ya 20:31 ee bereaksi secara negatif kepada 20:34 kritik-kritik itu ya habis nanti 20:38 mendingan energi itu dipakai untuk 20:39 membangun. itu nanti [tertawa] 20:41 ada ee padi jalau dan sebagainya. Justru 20:45 secara politik itu merugikan pemerintah 20:47 sendiri. Katakan ada yang melakukan 20:49 sebuah kritik ya. Kemudian sang 20:52 pengkritik itu mengaku diintimidasi. 20:54 Sang pengkritik itu e dijelek-jeleki 20:57 dianggap sebagai makar, dianggap 20:59 macam-macam. Ee apalagi kalau kemudian 21:02 sampai seperti 10 tahun yang lalu itu 21:04 ada kriminalisasi. Ya, ini akan justru 21:07 membuka ruang kejaduhan, membuka ruang 21:09 konflik dengan publik ya, membuat 21:12 masalah. Ya, dari sinilah kemudian trust 21:15 publik, trust rakyat kepada pemerintah 21:17 akan semakin tergerus. H. 21:19 Tapi justru ketika pemerintah menanggapi 21:21 secara positif, terima kasih masukannya 21:23 kami akan kaji, kami akan dalami ya. 21:26 Ketika ini akan baik, semoga ini menjadi 21:28 sesuatu kebaikan bagi kita. Saya yakin 21:30 tras publik, kepercayaan publik kepada 21:32 pemerintah akan naik. 21:34 harapan publik dan optimis publik kepada 21:36 pemerintah akan ini massa 21:39 yang tidak bisa diabaikan. 21:42 Orang semua melihat kok ee apa pati 21:45 Jalal itu adalah orang yang di mata 21:47 publik bagus kok. 21:48 Dinopati Jalal ya. Heeh. [berdehem] 21:50 Nah, Dinopati Jalal itu di mata publik 21:53 itu bagus. 21:54 He 21:54 gitu kan. [berdehem] ya banyak 21:56 tokoh-tokoh kemudian seperti si siapa 21:59 itu namanya 22:00 ee profesor ee dari UIN itu siapa itu? 22:06 Seful Mani publik 22:09 ya intelektual ya 22:13 ee akademisi seorang guru besar ya. Nah, 22:17 ketika orang-orang semacam ini 22:19 memberikan sebuah kritik kemudian 22:21 direspon secara negatif, maka dengan 22:24 sendirinya akan menurunkan teras e 22:26 pemerintah. 22:27 Dari situlah kemudian akan makin banyak. 22:30 Coba kalau pemerintah itu meresponnya 22:32 secara positif, orang akan semakin 22:34 elegan, semakin etik di dalam memberikan 22:36 kritik. Tetapi kalau pemerintah 22:38 meresponnya secara negatif, pemerintah 22:40 itu dalam pengertian mereka yang menjadi 22:42 bagian daripada pendukung kekuasaan itu 22:45 meresponnya secara negatif ya, maka akan 22:48 ee lahir ya orang-orang yang semakin 22:52 semakin keras di dalam memberikan 22:54 kritik. 22:55 di [berdehem] situlah kemudian akan 22:57 memunculkan dalam tanda kutip bisa 22:59 memunculkan ee apa kebencian-kebencihan 23:03 publik dan ini berbahaya bagi kekuasaan 23:06 itu sendiri. He iya. 23:08 Jadi e dalam konteks ini komunikasi 23:10 komunikasi apa e publik ee komunikasi 23:14 politik dan komunikasi publik pemerintah 23:16 memang perlu harus diperbaiki. Saya dari 23:19 awal selalu mengusulkan, kenapa enggak 23:21 pakai ee komunikatornya, juru bicaranya 23:24 itu adalah ee apa? dari KPK, orang-orang 23:28 dari juru bicara KPK itu kan KPK 23:30 dikritik bukan main oleh siapapun pada 23:32 saat itu. Tapi betul selalu juru bicara 23:36 KPK mampu untuk meng-hire juru bicara 23:39 Jokia yang matang, yang cerdas, yang 23:42 tahu psikologi publik gitu. [berdehem] 23:45 Iya. 23:46 Kenapa ee penguasa saat ini tidak makai 23:49 itu? Saya pikir itu akan menjadi lebih 23:50 konstruktif ya 23:52 daripada ee apa semua ikut bicara 23:55 menteri ini bicara menteri itu bicara ya 23:58 kita tahulah mereka yang punya jabatan 24:00 apakah tingkat menteri atau tingkat yang 24:02 tingkat-tingkat ee level menteri atau 24:04 level di bawahnya ya mereka akan 24:06 mempertahankan jabatan dengan cara 24:08 menunjukkan loyalitasnya. 24:11 Ee cara menunjukkan loyalitasnya adalah 24:13 dengan ee apa? mengutuk ya, melaknat 24:17 kepada mereka yang mengkritik penguasa. 24:18 Itu cara-cara klasik gitu yang menurut 24:20 saya tidak efektif. 24:22 Hm. Itu yang penting ya. Harusnya DPR 24:25 ini berfungsi, tapi kan DPR ini jadi 24:27 bukan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan 24:29 Perwakilan Partai atau macam mana 24:31 sebenarnya Pak Eak Mas Toni? 24:34 Iya. 24:35 Ee apa namanya? eh dewan ofes eh apa eh 24:41 penguasa representation itu jadinya kan 24:43 [tertawa] 24:46 representasi penguasa itunya. 24:49 Oh gitu. 24:50 Jadi ee malah membela penguasa gitu loh. 24:55 Itu itu dia kan. 24:56 Jadi ya kalau kemudian meluruskan bagus 25:00 tapi terlihat membela ini malah tidak 25:03 ada. Ya memang kita sudah e sudah 25:05 tahulah bahwa sudah bertahun-tahun ini 25:08 ya tidak hanya periode sekarang, 25:11 periode-periode sebelumnya ya anggota 25:13 dewan itu kehilangan fungsinya sebagai 25:15 check and balances 25:17 ya. Tugas dewan itu kan tiga. Salah 25:21 satunya adalah controlling. 25:24 Hm. 25:24 Kan itu. Tapi fungsi controlling ini 25:27 yang tidak ada di di dewan relatif. Dia 25:29 teriak-teriak aja kalau manggilnya 25:31 menteri gitu loh ya. manggil Kapolria 25:33 aja sulitnya bukan main ya gitu 25:35 kira-kira gitu ya Komisi 3 gitu kan. 25:38 Iya 25:39 ya. Tapi kemarin positiflah Kapolri 25:41 sudah sudah mau datang. Ee sebelumnya 25:44 kan ee kita tidak pernah ya apa periode 25:49 anggota dewan periode sebelumnya kan 25:51 khususnya komisi 3 kan nyaris tidak 25:53 pernah mengundang tidak pernah atau 25:55 diundang enggak datang kita enggak tahu 25:57 itu Kapolri kan kemarin tuh prestasi 26:00 Kapolri mau datang terus kemudian 26:02 berdiskusi dan memberikan sebuah 26:03 penjelasan kan. Jadi, [berdehem] 26:07 jadi ee fungsi kontrol itu nyaris hilang 26:11 ya. Kira-kira hilangnya berapa persen 26:13 ya? 99,99% 26:15 lah gitu. [tertawa] 26:17 Masyaallah luar biasa ya. Mudah-mudahan 26:21 di sana di sana gak ada partai ada 26:24 partai kecoa di sana, di sini ada partai 26:26 nyamuk lah gitu. Karena kan ahli 26:28 nyamuknya sekarang lagi kosong 26:30 kerjaannya ini 26:32 ya. ini ini kalau sampai kemudian ada 26:35 yang melakukan itu ya ee terus kemudian 26:39 perasaan yang sama itu terwadahi oleh 26:43 sebuah bentuk apa namanya sebuah bentuk 26:46 seperti itu sebuah maskot itu kan 26:49 mewadahi apa ee perasaan kecewa masal 26:52 terwadah 26:54 di kan banyak negara yang ketika kecewa 26:57 itu tidak terwadai 26:58 ya ee di India terwadai dan kalau 27:01 kemudian terwadah itu terjadi kons 27:02 konsolidasi massal dan itu berbahaya. Di 27:05 India itu sudah apa? Sudah alarm itu. 27:08 Hm. Gitu. Masyaallah. Terakhir Mas Toni 27:12 sebagai penutup kisah menit ke-29 27:15 sekarang apa yang ingin Mas Toni 27:16 sampaikan untuk pendengar radio 27:18 silaturahim yang sedang dalam perjalanan 27:20 di rumah atau di mana pun mereka berada. 27:23 Silakan Mas Toni Rasyid. [berdehem] 27:25 [mendengus] 27:25 Tidak ada kata terlambat. 27:29 Satu. Yang kedua, tidak ada masalah yang 27:32 tidak bisa diselesaikan. 27:34 Hm. 27:35 Ya, tidak terlambat itu artinya apa? Ee 27:39 kita punya banyak masalah, masih cukup 27:42 waktu dan kesempatan untuk 27:44 memperbaikinya. 27:46 Hm. 27:47 Yang kedua adalah ya ee perlu kemudian 27:52 ee untuk memiliki nasib yang sama 27:56 dengan cara berdiskusi, berdialog, 27:59 membuka telinga, urun rembuk ya, 28:01 sehingga menjadi perasaan bersama. 28:04 Sehingga beban yang sedang kita ee alami 28:08 ini bukan menjadi beban penguasa saja, 28:10 tapi menjadi beban seluruh rakyat 28:12 Indonesia. Kalau penguasa mau 28:13 mendengarkan, mau ngajak diskusi, ya 28:16 bukan sekedar merangkul secara politik, 28:18 tetapi merangkul secara substantif 28:20 dengan mendengarkan orang-orang yang 28:23 memiliki kemampuan, memiliki skill, 28:26 memiliki kapasitas untuk ikut 28:28 menyelesaikan persoalan, mengurai dan 28:31 menyelesaikan persoalan demi persoalan. 28:33 Prof. 28:36 E ek 28:39 dari UGM, yang dari Andalas bisa diajak 28:42 untuk ikut menyelesaikan persoalan hukum 28:45 dan dari teman-teman politik bisa diajak 28:47 untuk menyelesaikan persoalan politik. 28:49 Jadi ee 28:52 upaya untuk melakukan rangkulan ee itu 28:55 mesti rangkulan secara substantif bukan 28:57 rangkulan ee politis. 28:59 Itu penting insyaallah. Terima kasih Mas 29:02 Toni Rosid [terkesiap] 29:03 membersamai pendengar sampai hari Rabu 29:07 mendatang. Asalamualaikum warahmatullahi 29:09 wabarakatuh, Mas Toni. [berdehem] 29:11 Waalaikumsalam.