Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
33:46 Wallahualam bisawab ikhwan dan akhwat 33:48 demikian tadi telah kita simak bersama 33:52 pemaparan tausiah telah disampaikan oleh 33:55 guru kita Ustad Abul Hidayat Sairuji 33:58 kami akan jeda sejenak terlebih dahulu 34:01 dan kami akan mempersilahkan bagi anda 34:03 yang ingin bergabung silahkan kirimkan 34:05 komentar ataupun pertanyaan di nomor 34:08 kami di nomor WhatsApp 08111 34:12 999720 34:15 tetaplah bersama kami 38:21 [musik] 38:24 Hah. 38:26 [musik] 38:33 [musik] 38:36 Allahuma Radio silaturahim untuk Islam 38:40 yang satu yang masih dipancarluaskan 38:42 dari Jalan Masjid Silaturahim nomor 36 38:45 Kalimanggis Cibubur Bekasi ikhwan dan 38:48 akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu wa 38:50 Ta'ala di kota-kota besar gaya hidup 38:52 enjoy life yang cenderung permisif 38:54 memang mudah sekali terbentuk karena 38:56 memang banyaknya pilihan hiburan 38:58 budaya serba cepat dan pengaruh 39:00 lingkungan sosial dan kemudian orang 39:04 jadi lebih sering mengejar kesenangan 39:06 relaksasi atau self reward setelah sibuk 39:08 beraktivitas 39:10 namun kalau tidak diimbangi dengan 39:11 kontrol diri dan pegangan nilai yang 39:13 kuat gaya hidup seperti ini bisa membuat 39:16 seseorang mudah boros, kurang fokus dan 39:20 pada tujuan jangka panjang dan perlahan 39:22 menjauhi dari hal-hal yang lebih 39:24 bermakna serta kehilangan arah 39:29 sebelum kita menjawab beberapa 39:32 pertanyaan kami ingin menyapa ada Ibu 39:34 Ani di Kemayoran, Bapak Yudi di Bogor, 39:38 Eyang Sri 39:39 Ibu Sundari dan juga Bapak Manih di 39:43 Bekasi pertanyaan pertama datang dari 39:45 Pak Yudi di Bogor Pak Ustadz 39:47 Assalamualaikum warahmatullahi 39:50 wabarakatuh Waalaikumsalam 39:51 warahmatullahi wabarakatuh Ustadz 39:53 bagaimana sikap orang-orang beriman 39:55 menghadapi cobaan dan ujian terima kasih 40:02 masya Allah pertanyaannya memang 40:04 pertanyaan inti mau hidup itu 40:07 isinya ujian 40:09 kalau kita baca surat Al Anbiya ayat 35 40:12 Allah berfirman 40:13 naudzubillahiminasyaitanirrajim 40:15 kullu nafsin dzaiqotul maut wanabluqum 40:19 bisyarri wal khairi fitnah. 40:21 Wa ilaina turja'un. 40:26 Allah mempermaklumkan kepada kita 40:29 supaya tidak lupa diri 40:32 ya, kebablasan 40:35 lupa batas pematang, ingin mereguk 40:39 sepuas-puasnya dalam kehidupan 40:42 maka Allah mem mem memberikan informasi, 40:46 kullu nafsin dzaiqatul maut. 40:49 Tiap-tiap yang hidup pasti akan mati. 40:52 Sehebat apapun 40:54 setinggi 40:56 cita-cita 40:58 sebetapa besar keinginan manusia ingin 41:01 ini, ingin itu dan sebagainya 41:03 Allah memberikan satu maklumat bahwa 41:05 hidup itu sementara, sebentar. 41:09 Yang hidup pasti akan mati. 41:12 Ini dari sini saja kan sudah mestinya 41:14 kan orang tahu diri 41:17 membatasi diri. Oh, ternyata sementara 41:20 hidup ini. 41:22 Hidup itu ada batasnya. Jadi, manusia 41:24 mestinya mengendalikan 41:27 setiap keinginan 41:30 dan dia sadar bahwa hidup ini cuma 41:31 sementara akan kembali kepada Allah. Wa 41:34 nablu kum bis syarri wal khairi khairi 41:36 fitnah. 41:37 Dan kami akan menguji kamu dengan 41:39 keburukan dan kebaikan. 41:42 Nah, yang setiap hari yang kita hadapi 41:44 kan yang keburukan dan kebaikan, 41:45 keburukan, kebaikan. 41:49 Yang menyenangkan, tidak menyenangkan 41:51 yang lapang dan yang sempit. Ternyata 41:53 itu semua yang kita jumpai adalah ujian. 41:57 Ujian yang dimaksud adalah tes kualitas. 42:00 Sejauh di mana kualitas kita sebagai 42:02 manusia. 42:03 Karena manusia sendiri disebutkan oleh 42:05 Allah subhanahu wa ta'ala bisa mulia, 42:08 bisa jatuh martabatnya. 42:10 Bisa mulia, bisa hina. 42:13 Walaupun Allah sudah memuliakan anak 42:15 Adam, anak cucu Adam. 42:18 Memuliakan, memberikan peluang, 42:20 memberikan kesempatan. 42:22 Memberikan kecerdasan, diberikan 42:24 kehormatan dunia diserahkan pada 42:26 manusia. Tapi di sisi lain kalau dia 42:29 tidak ber 42:31 memposisikan diri sebagai fungsi sebagai 42:33 manusia yang terhormat 42:36 mulia dan dimuliakan 42:38 pada perjalanan dan sikap yang mulia 42:41 maka dia bisa jatuh. 42:43 Dan kejatuhan manusia itu bisa lebih 42:46 hina daripada binatang. 42:51 Tuh, jadi 42:54 Allah sudah jelas sekali, uji hidup itu 42:58 ujian. 43:00 Ada 43:02 hawa nafsu, ada akal budi. 43:05 Pada diri manusia sudah dilengkapi. 43:08 Kecerdasan intelektual, kecerdasan 43:10 emosional, kecerdasan spiritual. 43:13 Ada hati nurani, ada Alquran, ada contoh 43:16 keteladanan nabi. 43:19 Akhirnya selanjutnya 43:21 kita lihat dalam kehidupan. 43:25 Banyak orang memilih jalan yang sesaat, 43:27 kenikmatan sesaat walaupun itu sesat. 43:31 Membawa laknat. 43:33 Jadi ilmu tidak menjadi tidak bisa 43:36 dijadikan satu 43:38 patokan 43:39 yang bisa di zikri andalkan semata. 43:43 Nah, maka di sinilah 43:45 apakah kita masih bisa ekstrem menduduki 43:48 makamnya sebagai manusia mulia 43:51 atau justru kalau tidak dia akan lebih 43:53 jatuh, lebih hina, binatang. 43:55 Bahkan kalau jatuh martabat manusia 43:58 karena ngikuti hawa nafsu, siapapun dia, 44:01 dia bisa lebih hina daripada binatang. 44:06 Maka sering saya berseloroh pada ibu-ibu 44:08 taklim ibu-ibu. Heeh. Ibu-ibu milih anak 44:11 apa milih kambing? Ya dimarahin saya. 44:15 Masa suruh milih anak dibandingkan 44:16 dengan kambing. 44:19 Milih anak milih kambing? Ya milih anak 44:21 Pak. Heeh. Bagus. Masa milih kambing. 44:25 Tapi coba kita lihat. 44:29 Ketika kita merawat anak 20 tahun 44:31 umurnya. 44:33 Sekolah mogok, kerja malas. 44:37 Makan gembul. Heeh. Tidur ngorok. Heeh. 44:41 Siang molor, malam melayap. 44:44 Pergaulan salah. Heeh. 44:46 Ya, akhirnya dari mulai minum yang 44:50 hangat berubah menjadi minum brendi, 44:52 wiski. Heeh. 44:54 Kurang puas juga pil setan, pil koplo. 44:58 Dimakan. 44:59 Ditangkap polisi. 45:02 Tuh, gimana itu? Nyesalin, Ustaz. Nah, 45:04 nyesalin. Nyesalin orang tua. Orang tua 45:07 diminta ini itu, emaknya nangis, 45:08 bapaknya siken wae cenah eta budak 45:11 bangor cenah. Biar dia ngerti. 45:13 Tapi emaknya kan enggak bisa. 45:16 Nangis, akhirnya ya biasalah bukan 45:19 rahasia saya kira. Boleh tahan di rumah 45:21 tapi mesti 50 juta. Heeh. 45:24 Jaminannya apa jaminan apa enggak 45:26 tahulah itu realita. 45:28 Tuh. 45:29 Pulang ke rumah sehari dua hari. 45:32 Dicarikan ku bapak ke emak, ayo. Mau dia 45:35 salat. 45:37 Karena ya bisa salat. 45:39 Tapi tiga hari kemudian seminggu kambuh 45:41 lagi. Heeh. Lebih buruk lagi sekarang. 45:45 Sudah bukan lagi pe 45:47 pengguna. Heeh. 45:49 Pengedar. 45:51 Untuk uang sudah di rumah sudah 45:52 barang-barang habis, motor dijual, mobil 45:54 digadaikan. 45:57 Perhiasan emaknya di pokoknya sudahlah. 45:59 Waduh ya Allah tuh. Lama-lama ke 46:01 tetangga. 46:03 Maling, segala macam, habis uangnya, 46:05 badannya kurus begitu. 46:08 Kerjanya bawa janda lagi ke rumah, bawa 46:11 gadis. 46:12 Ke mana-mana, kumpul kebo. 46:14 Sok eta, ayo. 46:17 Coba. 46:19 Coba kalau piara kambing. 46:22 20 tahun. Beranak, Ustaz. Beranak pinak, 46:25 setahun dua kali, kalau dua-dua sudah 46:27 empat. 46:29 Kalau 20 tahun, 4 * 20. 46:32 80, anaknya beranak 80 lagi, 160, bisa 46:37 400 ekor kambing selama 20 tahun. 46:43 Tidak dimandiin. 46:46 Dicari orang. 46:48 Dirawat mudah, kasih rumput mau. Heeh. 46:52 Lebaran [mendengus] enggak usah repot 46:53 nyari celana, enggak dicelanain juga 46:55 pantes. 46:57 Ayo. 46:59 Dijual laku. Heeh. Satu ekor 3 juta. 47:03 Kalau itu 80 sudah berapa? 80 * 3, sudah 47:06 berapa juta? 47:08 Tuh. [mendengus] 47:09 Sekarang pertanyaannya, milih kambing 47:12 atau milih anak? Berubah. Milih kambing, 47:15 milih kambing, tuh. 47:17 Jadi, kualitas manusia, nilai manusia 47:19 itu bisa jatuh lebih hina kalau dia 47:22 tidak ngikuti makam fitrahnya sebagai 47:24 manusia. 47:25 Ini ditugaskan ke kita orang tua 47:29 terhadap anak-anak kita, minimal. 47:33 Salah kaprah kadang-kadang kita ini. 47:36 Punya anak itu dianggap anak kita, 47:38 kemudian yang penting anak itu senang. 47:43 Anak itu bahagia, sekolah, secara zahir 47:45 menjadi orang yang cerdas, tapi hatinya 47:48 dibiarkan kosong daripada iman. 47:53 Kebanggaan kalau terima rapor, rapornya 47:55 bagus, 80, 90, wah banggaan. 48:00 Tapi kalau kemudian rapornya buruk, wah 48:02 sedih kiamat sudahlah ini. 48:04 Kan sering ada ibu-ibu ngambil rapor 48:06 anaknya merah semua. 48:08 Wah sedih itu luar biasa. Pak nih 48:10 musibah. 48:11 Musibah apa Mah? 48:13 Madesu. Madesu apa? Masa depannya yang 48:15 suram tuh anak-anak. Kenapa? Lihat nih 48:18 rapornya Mah jeblok semuanya gimana? 48:20 Yang pintar aja sekarang itu belum tentu 48:22 bisa bersaing. Yang lari aja kadang 48:25 ketinggalan. Apalagi anak kita ini 48:27 gimana Pak? Coba. 48:29 Bapaknya diam aja sambil ngerokok. 48:31 Emaknya mah ngembrewek kayak bebek mau 48:34 nelor udah. 48:35 Enggak bisa kalau begini kata ibunya. 48:38 Ini harus kita mengambil sikap. Panggil 48:41 guru privat. Tuh bagus juga sih ibu ini. 48:45 Panggilnya guru privat matematika, 48:47 bahasa Inggris, biologi, pokoknya 48:49 yang enggak ada yang anak yang bodoh, 48:51 pintar. Ditekuni itu pintar. Wah 48:54 nilainya 80, 90, 100, 80, 90, 100. 48:59 Bangga masyaallah. 49:01 He em. 49:02 Kata 49:04 bapaknya, Bu lihat anak kita. 49:07 Alhamdulillah. Siapa dulu dong ibunya 49:09 katanya. 49:11 Tapi ketika bapaknya bilang, Mah 49:14 ini anak kita pintar-pintar sekarang, 49:16 [mendengus] tapi sudah 49:17 dewasa, menginjak dewasa, sudah baligh. 49:21 Belum bisa baca Quran. He em. Malah 49:24 enggak salat. 49:27 Gimana enggak nutup aurat Mah? 49:29 Kasih itu bapaknya. 49:31 [tertawa] 49:32 Jawabnya apa kata emaknya ketus, lah si 49:34 bapak gitu aja kok repot. Nanti 49:36 gitu-gitu mah bisa sendiri Pak katanya. 49:39 Nah ini 49:40 kesalahan orang tua. Maka memberikan 49:42 pendidikan pada anak itu pendidikan yang 49:45 benar. 49:48 Kalau 49:48 hidup dengan 49:50 permisif 49:52 ikut-ikutan permisif society, 49:54 masyarakatnya bebas nilai. Oh, jangan 49:56 anak jangan terlalu ditekan, kasihan. 50:00 Jangan dibangunin, masih ngantuk, tidur. 50:03 Puasa enggak boleh puasa, yang penting 50:05 anak itu bahagia, senang. 50:06 Lah, kacau nanti. Hidup ini ada perintah 50:09 dan larangan. Ada yang baik, baik ada 50:11 yang tidak baik. Kalau baik dianjurkan, 50:14 yang tidak baik mesti ada aturan-aturan 50:16 dalam kehidupan. Tapi karena dia 50:18 penganut permisif society. Jadi 50:20 masyarakat yang bebas nilai. 50:22 Bebas dari aturan-aturan yang mengikat. 50:26 Katanya kasihan. Maka yang terjadi 50:28 seperti itu. Banyak orang yang punya 50:31 ilmu tapi jiwanya 50:35 kosong, melompong, kering. Maka ilmu 50:38 tidak bisa jadi 50:39 jadi panutan. Mau haji kek, mau kiai, 50:42 mau ustaz, kalau ternyata aplikasi dalam 50:45 kehidupan tidak sesuai dengan akhlak 50:48 Islam bertentangan dengan Islam ya 50:50 memang bajingan itu. Kalau kejahatan 50:53 yang dia lakukan. 50:55 Apalagi yang marak kejahatan-kejahatan, 50:57 kemaksiatan-kemaksiatan yang 51:00 memakai 51:01 kedok agama, pakai nama ustaz, tapi 51:05 kemudian digunakan hanya untuk maksiat. 51:07 Nauzubillahiminzalik. 51:09 Jadi itu bukan parameter. Iblis juga 51:11 lebih hebat lagi ilmunya, tapi ternyata 51:13 dia menjadi penentang 51:15 syariat, penentang perintah Allah 51:16 subhanahu wa taala. Jadi iman, nah itu 51:19 yang harus kita tanamkan di hati. 51:20 Silakan anak kita menjadi pintar, 51:22 cerdas. Mau jadi insinyur, mau jadi 51:24 profesor, mau jadi dokter, menjadi apa, 51:26 silakan, bagus. Punya cita-cita. Tapi 51:29 tanamkan iman, akidah, akhlak yang baik. 51:33 Kejujuran, amanah dan tanggung jawab. 51:36 Wallahu a'lam. Baik, Ustaz. 51:39 Dan pertanyaan terakhir, Pak Ustaz. Dari 51:42 hamba Allah di Sukabumi. Assalamualaikum 51:45 warahmatullahi wabarakatuh. 51:47 Waalaikumsalam warahmatullahi 51:48 wabarakatuh. Ustaz, di tengah gaya hidup 51:50 modern yang serba praktis yang tadi 51:52 Ustaz sampaikan, banyak orang kemudian 51:55 kurang memperhatikan kehalalan makanan. 51:57 Apakah ini bisa berdampak pada kehidupan 51:59 mereka baik dari sisi hati, akhlak 52:02 maupun keberkahan rezeki? Terima kasih. 52:06 Di dalam pertanyaan itu sudah mengandung 52:08 jawaban. 52:12 [mendengus] 52:12 Setiap perbuatan dosa 52:16 itu akan 52:18 mengikis keimanan, akan mengurangi ha 52:22 kemuliaan daripada manusia, mengurangi 52:24 keberkahan. Iya. 52:27 Kalau apalagi dari makanan yang haram, 52:30 itu akan menjadikan darah dan 52:32 daging kita kotor. Kalau kita kasihkan 52:34 pada anak-anak, anak-anak yang tumbuh 52:36 dari makanan yang halal dan haram. 52:39 Di hadis Arbain kan di 52:42 MI, di Tsanawiyah itu kan di kenalkan 52:44 kebenaran. 52:46 Ada seorang musafir yang dalam 52:47 perjalanan jauh, 52:49 bajunya lusuh, rambutnya kusut. 52:53 Dia nampak dalam perjalanan jauh. 52:55 Padahal orang dalam musafir seperti itu, 52:57 biasanya doanya dikabulkan. 53:00 Dia berdoa, "Ya Allah, ya Allah, ya 53:02 Allah." 53:03 Tapi doanya tidak ada yang diterima oleh 53:05 Allah subhanahu wa taala, ditolak. 53:08 Kenapa? Karena makanannya dari makanan 53:11 yang haram. 53:12 Minuman, minuman yang haram. 53:15 Apakah zatnya, apakah hukumnya? 53:18 Bisa saja makan minumnya, makanannya 53:20 baik tapi uang yang didapatkan caranya 53:22 tidak benar. 53:24 Pakaiannya didapat dari acara haram. 53:28 Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan 53:30 Allah subhanahu wa taala. 53:32 Nah, hadis yang diriwayatkan jelas 53:35 sekali, 53:37 [berdehem] 53:38 ya, bahwa 53:41 setiap daging yang tumbuh dari makanan 53:44 yang haram 53:45 atau riba maka neraka lebih tepat untuk 53:49 tempatnya. Nauzubillahiminzalik, kita 53:51 berlindung kepada Allah. Ya, oleh 53:52 karenanya hati-hati para 53:54 ikhwan semuanya 53:56 dalam dalam kehidupan memilah dan 53:58 memilih yang benar dan yang mana yang 54:01 yang salah, jangan mencari yang banyak 54:04 tapi kita lihat yang bersih 54:07 yang halal, yang baik. Demikian juga 54:09 dalam mendidik anak, tanamkan di hati 54:12 anak pertama akidah, keimanan, ubudiyah, 54:14 [mendengus] akhlaknya, kejujurannya. 54:17 Dan berikan makanan-makanan yang halal, 54:19 halalan toyibah karena itu akan 54:21 berpengaruh. 54:22 Bahkan setiap perbuatan buruk kita, 54:25 maksiat kita, durhaka kita 54:28 seberat apapun, sebesar apapun itu 54:31 berarti turut mengundang turunnya 54:33 bencana. 54:35 Karena Allah memberikan suatu ketetapan 54:37 walau anna ahlal qura amanu wattaqu atau 54:40 la fatahna alaihim barokatin minas samai 54:43 wal ard walakin kadzabu fa akhaznahum 54:47 bima kanu yaktsibun. 54:49 Jadi ada dua keadaan. 54:51 Allah berjanji 54:54 janji Allah sendiri langsung 54:56 barang kalau atau seandainya, sekiranya 54:59 penduduk negeri itu beriman dan bertakwa 55:01 berarti kita 55:03 yang hidup di suatu negeri 55:06 jika beriman, bertakwa Allah berjanji 55:10 kan sungguh kami akan menurunkan berkah 55:14 akan kami buka pintu berkah dari langit 55:16 dan dari bumi. Berarti 55:19 perbuatan baik secara langsung ataupun 55:21 tidak sebenarnya mengundang turunnya 55:23 berkah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 55:26 Walakin kadzabu fa akhaznahum bima kanu 55:29 yaktsibun, tapi jika perbuatan kita itu 55:32 mendustai perintah Allah, menyimpang 55:35 dari pada agama, kemaksiatan, 55:37 kedurhakaan dan sebagainya, itu 55:40 mengundang bencana. Allah akan turunkan 55:43 azab disebabkan oleh perilakunya. 55:48 Jadi, kalau di negeri satu negeri itu 55:50 banyak maksiat, 55:52 banyak kedurhakaan, 55:54 banyak korupsi, 55:56 banyak pembunuhan dan seterusnya dan 55:58 lain-lain, itu 56:00 jangan salahkan kalau banyak bencana 56:02 akan menimpa dirinya. 56:04 Dan kalau bencana itu turun, musibah itu 56:06 turun, tidak memilih mana orang baik dan 56:08 orang-orang yang baik, orang yang buruk, 56:11 orang yang melakukan orang melakukan 56:12 jelas, tapi orang baik pun akan terkena. 56:16 Hanya bedanya, kalau orang baik terkena 56:19 daripada dampak itu, 56:21 ini akan menggugurkan semua dosanya dan 56:23 kalaupun dia meninggal, meninggal dalam 56:25 syahid 56:27 sebagai syuhada. 56:28 Tapi kalau orang jahat yang justru 56:30 mengundang malapetaka dan bencana itu, 56:33 merupakan mungkin azab ataupun persekot 56:37 siksa sebelum di 56:39 siksa di kubur dan di akhirat nanti. 56:41 Wallahualam bissawab. Baik, jadi siksa 56:45 sebelum 56:46 siksa di kubur dan akhirat ada 56:47 persekotnya, Ustaz, ya? Ada persekotnya 56:50 di dunia. 56:51 Baik, ikhwan dan akhwat yang dirahmati 56:53 Allah subhanahu wa taala. Telah 56:54 sampailah kita pada sesi akhir di 56:57 tausiah kita di pagi hari ini. Dan 57:00 sebelum ditutup, kita akan eh 57:03 mendengarkan kesimpulan. 57:05 Ayyuhal ikhwan rahimakumullah, 57:08 mari 57:10 sekali lagi kita sama-sama dengan 57:13 tawasau bil haq wa tawasau bis sabr, 57:16 wa tawasau bil marhamah dan seterusnya, 57:20 kita terus menggali 57:22 lebih tajam lagi. 57:25 Dan dalam beberapa ayat disebutkan, 57:28 kalau orang makin tua, genggamannya 57:30 makin 57:31 kendor, makin lemah. 57:34 Itu artinya 57:35 supaya 57:37 pegangan dunia itu 57:40 lebih 57:41 baik kita mulai tinggalkan 57:44 dan lebih erat lagi pegangannya kepada 57:46 Allah. 57:47 Kenapa usia makin tua 57:50 itu makin banyak nikmat yang dikurangi 57:53 oleh Allah subhanahu wa taala secara 57:55 indrawi. 57:57 Itu maksudnya 57:58 kenikmatan indrawi dikurangi. 58:01 Maksudnya diganti dengan kenikmatan yang 58:03 hakiki, 58:04 kelezatan iman, 58:06 kenikmatan spiritual, 58:08 kenikmatan berbuat kebaikan dan munajat 58:11 mendekat pada Allah subhanahu wa taala. 58:14 Jadi, hidup sesaat, hidup sebagai ujian, 58:18 hidup sebagai tes kualitas, mari kita 58:20 isi rentang waktu yang hanya sebentar 58:24 dengan berbagai macam kebaikan yang bisa 58:26 kita lakukan sehingga mampu mengangkat 58:28 harkat martabat kita sebagai manusia 58:30 yang mudah-mudahan dimuliakan oleh Allah 58:32 subhanahu wa taala. Mohon maaf segala 58:34 kekurangan, kekeliruan. Wabillahi taufik 58:36 walhidayah. Wassalamualaikum 58:38 warahmatullahi wabarakatuh. 58:40 Waalaikumsalam warahmatullahi 58:42 wabarakatuh. 58:44 Jazakallah kami ucapkan kepada guru 58:46 kita, Ustaz Abul Hidayat Seroji. Semoga 58:48 Allah selalu memberikan kesehatan kepada 58:50 beliau. 58:51 Amin. Wa iyyakum. 58:51 Kepada Ibu Sandi Wiryatarmini, 58:55 kemudian Bapak Ibu Suratmi, Bapak 58:58 Rahman, 58:59 dan kemudian Bunda Nurjanah binti Madio 59:02 di Singapura pusat menyimak acara pada 59:04 pagi hari ini, serta Eyang Sri. Terima 59:06 kasih, serta Bapak Asep 59:09 sudah menyimak siaran kami. 59:11 Insya Allah nanti Anda bisa mengikuti 59:13 tausiah beliau melalui YouTube Rasio TV. 59:16 Silakan eh buka YouTube Rasio TV-nya. 59:19 Dan insya Allah nanti ada Anda bisa 59:21 ngikuti eh apa namanya apa yang beliau 59:23 sampaikan dari awal hingga akhir. 59:26 Akhirul kalam, kami yang bertugas mohon 59:29 undur diri. Billahi taufik wal hidayah. 59:31 Wassalamualaikum warahmatullahi 59:33 wabarakatuh. Waalaikumsalam.