Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Ikhwan akhwat
- rahimakumullah. Syukur alhamdulillah
- kita dikaruniai kesempatan untuk berada
- bersama-sama di acara tausiah pagi Rasil
- untuk Islam yang satu di hari pertama
- untuk ee acara yang membuat kita
- semuanya mudah-mudahan mampu menambah
- bekal untuk melangkah menuju destinasi
- akhir kita di awal bulan Januari ini.
- Tidak lupa salam selawat kita lantunkan
- kepada kekasih kita, penghulu umat yang
- sangat kita rindukan syafaatnya
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- beserta keluarga dan kerabatnya. Baik,
- ikhwan akhwat. Beliau sudah hadir di
- sini pengisi tetap tausiah pagi untuk
- Rabu yaitu Ustaz Abul Hidayah Sairoji.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Sehat walafiat, Bugar Gar? Alhamdulillah
- banyak kom
- di masa yang sangat-sangat banyak
- mencemaskan tetap sehat adalah sesuatu
- banget.
- Oke, Ustaz. Hari ini apakah gerangan
- yang akan disampaikan?
- Kita mencoba
- sesuatu yang ada ngintip di balik
- pergantian waktu. di balik
- di balik pergantian waktu
- biasanya
- di balik sesuatu itu pasti ada sesuatu
- yang tidak kita ketahui.
- Meskipun kita sudah sering dengar ada
- udang di balik batu tapi itu di balik
- batu. Nah,
- seperti apakah di balik pergantian waktu
- yang perlu kita ketahui? Mari kita simak
- bersama bagaimana Ustaz Abul Hidayah
- Seroji membuka sekat hati kita untuk
- lebih memahami hal ini. Silakan, Ustaz.
- Ya.
- Asalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Bismillahi alhamdulillah
- wasalatu wasalamu ala rasulillah
- wa ala alihi wasohbihi
- waman tabiahum bihsanin ila
- yaumilqiamah.
- Masya. Allahu w lam yasya lam yakun la
- haula wala quwwata illa billah. Amma
- ba'd.
- Ayyuhal ikhwah rahimakumullah di manaun
- ruang dengar Anda dan bisa menyaksikan
- acara
- tausiah pagi di hari Rabu ini.
- Mudah-mudahan
- antum semuanya
- senantiasa
- dalam naungan kasih sayang dan rahmat
- Allah Subhanahu wa taala. Dimantapkan
- iman Islamnya, disehatkan jasmani
- rohaninya.
- dilapangkan rezekinya dan dimudahkan
- jalan keluar dari problem dan masalah
- yang kita hadapi. Selamatlah kita dunia
- akhirat. Amin ya rabbal alamin.
- Waasyiral muslimin, ay ikhwah
- rahimakumullah.
- Di balik pergantian waktu,
- fenomena pergantian waktu atau tahun
- baru biasanya orang melakukan
- sukacita.
- Bahkan
- hura-hura
- malah ada yang menjadikan momen tahun
- baru untuk melampiaskan
- nafsu dengan berbagai macam cara yang
- dia lakukan.
- yang banyak uang dia pergi ke luar
- negeri
- yang uangnya ya banyak juga mencoba ke
- apa di Bali di pantai Sanur atau ke mana
- bersama orang yang sangat dicintai
- kemudian apa saja yang dia lakukan terus
- menurut kehendak
- nafsunya
- yang enggak punya uang tapi pengin
- bersenang-senang kebetulan mainnya tahun
- baru ya kerusak-kerusuk di taman-taman
- kota malah di desa-desa di kalangan
- sawah tak mengapa. Tapi seolah-olah
- bahwa pergantian waktu tahun baru itu
- adalah merupakan satu euforia
- kegembiraan yang harus dilampiaskan pada
- tahun itu.
- Kadang-kadang saya merasa aneh
- kenapa
- setiap tahun pergantian tahun baru itu
- mereka rayakan.
- Ada yang nyulut petasan. dan gak mau
- kalah. Kalau orang kaya gak mau kalah
- dengan yang miskin, dia cari petasan
- yang paling gede. Walaupun ketika
- disulut dia tutup telinga, akhirnya yang
- mendengar bukan dia, orang lain yang
- mendengar.
- Bakar ikan, bakar ayam, bakar kambing.
- Untung enggak bakar rumah.
- Mungkin di satu sisi merasa
- apa? Syukur.
- Merasa senang. karena usianya
- dipanjangkan sampai akhir tahun mungkin
- ya.
- Nah, masalahnya adalah mengapa dia tidak
- pikirkan ke depan sesudah itu?
- Padahal sesungguhnya pergantian waktu
- itu adalah masalah.
- Masalahnya di mana?
- Secara matematis usia kita bertambah.
- Yang tadinya 30 menjadi 31.
- Yang tadinya 35 menjadi 36, yang tadinya
- 50 menjadi 51, 59 dan seterusnya. Apal
- akhirnya yang sudah kepala 6, 61, 62, 63
- dan seterusnya.
- Itu artinya bertambah usia kita 1 tahun
- sebenarnya
- jatah hidup kita menjadi berkurang 1
- tahun. Nah, ini yang enggak terpikir
- ketika
- pergantian tahun itu.
- Artinya kita lebih dekat pada ajal.
- Ibarat orang berkendaraan mau pulang
- kampung mau mudik, makin lama makin
- cepat kendaraan makin dekat dengan rumah
- tempat tinggal kita. Kenapa mesti kita
- sorak-sorai?
- Kalau tahun itu bisa jatah kita masih
- selesai sampai akhir tahun depan. Kalau
- jatah kita ternyata hanya pertengahan
- tahun,
- 1/4at tahun
- atau mungkin bulan dan hari,
- Subhanallah.
- Inilah yang perlu kita cermati. Ini
- antara lain di balik pergantian waktu.
- mestinya pergantian waktu itu kita
- jadikan evaluasi diri,
- feedback ya. Kok feedback apa? Lihat ke
- belakang
- paling tidak 1 tahun yang lalu apa yang
- sudah kita kerjakan? Hitung-hitungan
- matematika dalam arti menghisab diri.
- Nah, itu perlu. Itu baru bijak untuk
- perbaikan ke depan karena tidak tahu
- depan ini berapa lama. Minggu, bulan,
- tahun.
- Kalaupun tahun misalnya jatah hidup kita
- hanya tinggal 2 tahun, ya berapa lamalah
- 2 tahun itu dua kali lebaran?
- Berarti kita sudah hampir selesai
- melaksanakan tugas itu. Masalahnya
- adalah bisakah kita
- mempertanggungjawabkan
- sepanjang perjalanan hidup kita?
- Karena bagaimanapun
- yang namanya hidup itu disebut oleh
- baginda Nabi, kun fid dunya kaanaka
- gorbun abiru sabilin. Jadilah kami itu
- di dunia layaknya bagai seorang musafir,
- seorang yang berkelana,
- seorang yang berada di tengah
- perjalanan.
- sejauh-jauh kita berjalan,
- sejauh-jauhnya kita menjadi seorang
- musafir, to akan kembali lagi pulang ke
- kampung halaman.
- Kalau enggak pulang kampung halaman
- namanya bukan musafir, tapi minggat,
- kabur.
- Kita akan kembali, kembali kepada Allah
- Subhanahu wa taala.
- Maka di sini diingatkan satu ayat dalam
- surah al-Hadid ayat 16 Allah berfirman,
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Alam yni lilladzina amanu anahsya
- qulubuhumikrillah
- w nazala minal haq yakunuadina utul
- kitaba minqoblu
- alaihimul amadu faqosat qulubuhum
- wairum minhum fasiquun shodqallahul
- belumkah datang waktunya bagi orang
- beriman untuk khusyuk lebih khusyuk lagi
- mengingat Allah.
- Ini pertanyaan dari Allah sekaligus
- teguran kepada kita.
- Kapan lagi mau khusyuk? Kapan lagi mau
- lebih dekat takarub kepada Allah? Kapan
- lagi kita mau bertobat dari kekeliruan,
- kesalahan? Kapan lagi kita beramal?
- Waman nazala minal haq. Dan tunduk
- terhadap apa yang setelah Allah turunkan
- kepada kita.
- Bukankah Allah dengan kasih sayangnya?
- Karena amat sangat sayangnya Allah
- kepada kita sebagai manusia selain
- banyak fasilitas nikmat yang tidak
- terhingga, tidak terhitung pada kita,
- khususnya kepada makhluk yang disebut
- manusia, diciptakan seindah-indah
- ciptaan.
- Diberikan kecerdasan dengan kecerdasan
- dunia. Yang sulit menjadi mudah, yang
- gelap menjadi terang, yang jauh menjadi
- dekat, yang enggak mungkin menjadi
- mungkin dan seterusnya.
- Sehingga kita lihat dunia gebyar-gebiar
- dengan segala kemudahan-kemudahan bahkan
- cenderung kemewahan
- ini karena anugerah Allah, kasih sayang
- Allah, kita diberikan kecerdasan yang
- luar biasa.
- Kemudian diberikan hati nurani,
- diberikan juga Al-Qur'an.
- sebagai hudal linnas, petunjuk bagi
- manusia, guide dalam hidup ini. Wire of
- life, jalan hidup.
- Di mana Al-Qur'an membentangkan berbagai
- peristiwa masa lalu agar kita bisa
- mengambil ibrah bagaimana perilaku
- orang-orang dahulu
- yang ingkar kepada Allah Subhanahu wa
- taala. Bagaimana perjuangan orang-orang
- saleh dahulu, para nabi dalam
- memperjuangkan kebenaran dan keadilan,
- kemanusiaan dan sebagainya
- supaya kita bisa mengambil pelajaran
- darinya.
- Dan kehidupan ribentangkan
- oleh Al-Qur'an.
- Peta kehidupan itu digelar begitu jelas.
- jalan-jalan ke surga,
- jalan keutamaan, jalan kemuliaan, jalan
- yang mengangkat derajat martabat kita,
- jalan yang bisa menuju puncak prestasi
- manusia sehingga Allah rida kepadanya.
- Di sisi lain ada jalan-jalan yang
- diperboden.
- Karena itu jalan jika ditempuh, dilewati
- bahaya buat dirinya. Ini wujud dari
- kasih sayang Allah Subhanahu wa taala.
- dicukupkan segala keperluan hidup kita.
- Bumi ini diserahkan kepada kita.
- Dibentangkan petak kehidupan dan
- ditunjukkan jalan-jalan keutamaan itu.
- Coba kurang apa kasih sayang Allah itu.
- Dan dengan Al-Qur'an diinformasikan
- bahwa hidup ternyata bukan hanya di
- dunia. Dunia dibatasi oleh yang namanya
- mati. Kemudian hari hidup yang kekal dan
- abadi justru hidup sesudah hari kematian
- kita.
- Di sana ada bahagia, ada kecelakaan, ada
- kebinasaan. Di sana ada tempat mulia
- yang diridai, ada juga tempat yang
- Allah murka kepadanya. Kita suruh
- memilih
- to. Masyaallah. Maka Allah bertanya,
- "Kapan iraha deui maneh teh tunduk ka
- Allah? Mau kapan lagi? Kapan maning
- sira?
- bisa tunduk, bisa khusyuk, beragama
- dengan benar.
- Waktu makin terus mendesak. Berpacu
- dengan waktu, bukan berpacu dengan lagu,
- berpacu dengan waktu. Kita sendiri
- berpacu.
- Dan belum tentu berapa lama lagi kita
- hidup di dunia. Sementara mungkin
- dosa-dosa kita banyak. Kapan kita
- bertobat? Kapan kita berbenah diri?
- Wala yakunu kalladina utul kitaba
- minqoblu fat alaihimul amadu faqatubuhum
- minhum fas. Jangan kamu seperti
- orang-orang ahli kitab terdahulu Yahudi
- dan Nasrani, orang-orang Bani Israel
- yang dipimpin oleh para nabi.
- Dipimpin oleh para nabi karena
- bengalnya.
- Sehingga yang harus memimpin itu nabi,
- ndak bisa manusia biasa. Itu aja nabi
- masih dikuyo-kuyo. Ada nabi yang
- dibunuh, ada nabi yang di ah macam-macam
- memang terkenal. Jadi dikenalkan
- Al-Qur'an itu bengalnya orang-orang
- Yahudi, ahli kitab terdahulu. Berlalu
- waktu yang panjang,
- banyak peristiwa-peristiwa yang dilihat
- dengan mata kepala, mukjizat-mukjizat
- depan matanya.
- Para nabi yang memimpin coba luar biasa
- itu. Tapi faqosat qulubuhum
- hatinya makin keras, makin makin ingkar,
- makin sombong, makin takabur.
- Makin tinggi pangkatnya makin gembelo,
- mustakan.
- Makin besar kekuasaannya makin
- adikadikung, ngadigun.
- makin kaya, makin haus dan dahaga, makin
- tomak dan serakah.
- Masyaallah. Makin miskin, makin gelap
- mata dan putus asa. Jadi, enggak ada
- benarnya.
- Padahal sepanjang perjalan itu adalah
- ilmu, itu pendidikan
- itu jadi pelajaran. Tapi ini semua tidak
- ada gunanya. Makin hari makin keras
- bisanya menuntut kepada Allah,
- menyalahkan Allah. Allah tidak adillah
- dan sebagainya.
- Wakirum minhum fasikun. Memang
- kebanyakan mereka adalah orang-orang
- fasik. Jadi orang fasik walaupun
- bagaimana ya ditunjukkan kebenaran,
- tunjukkan kebaikan. Para nabi yang
- memimpin tetap aja. Nauzubillah
- minzalik. Ini artinya menjadi ibrah bagi
- kita. Jangan kita waktu umur kita
- panjang tapi hanya panjang umurnya.
- Isinya tidak ada.
- kualitasnya di mana,
- produknya apa yang sudah kita berikan
- kepada sesama, kontribusinya
- dalam kehidupan itu apa.
- Padahal hidup ini sebenarnya
- sebuah pendakian. Memang tidak salah
- kalau orang mau bicara seperti itu.
- Hidup adalah sebuah pendakian.
- Allah sudah memberikan kesempatan dengan
- modal yang begitu luar biasa agar kita
- bisa mendaki, meniti jalan ke surga,
- mendaki tanjakan anak tangga-anak tangga
- sampai kita menjadi pada posisi yang
- tertinggi prestasi kita sebagai manusia
- di mata Allah.
- Jadi bukan di mata manusia saja,
- bukan hanya sukses di dunia saja.
- Kalaupun ada kesuksesan di dunia itu
- sebenarnya bukan sukses yang hakiki,
- sukses sementara yang semu dan relatif.
- Jadi bupati misalnya, wah bangga kan? Ya
- memang patut dibanggakanlah karena dia
- dipilih oleh banyak orang. Walaupun
- kadang-kadang dengan kongkalingkong
- dia mampu memimpin sekabupaten,
- disegani oleh orang sekabupaten.
- Kalaupun dia memang benar sebagai
- seorang bupati yang profesional
- itu 5 tahun paling
- dipilihnya lagi ya 10 tahun sudah dua
- kali sudah selesai. Sesudah itu ya
- sudah. Masa mau jadi bupati terus
- yang punya bintang di pundaknya 1 2 3
- sampai 4 masanya terbatas. Kalau sudah
- masa purna bakti ya selesai. Masa mau
- pakai bintang terus kondangan pakai
- bintang ke mana-mana pakai bintang
- gendeng apa jadi batas
- sekalipun jadi panglim jadi presiden,
- jadi konglomerat sama sementara
- semu
- ada waktunya seperti dramalah sandiwara
- itu. Moso jadi minak jinggo. Begitu
- sudah pagi masih jadi minak jinggo.
- Pagi-pagi kalau di kampung ketoprak itu
- ya jadi minat jinggo malamnya. Pagi-pagi
- ngarit.
- Masa mau masih pakai minak jinggo. Terus
- ke ladang bawa-bawa arit gak mungkin.
- Itulah kehidupan. Jadi yang mana
- prestasi yang sebenarnya dikehendaki
- oleh Allah ada dua dimensinya.
- Ini berkali-kali disampaikan di sini
- surat Ali Imran ayat 112.
- alimillatu ainama
- illa bihab minallah minas
- w minallah alaihimulkan
- alay sadaqallahulim
- jadi ada dua hal yang dalam kehidupan
- ini yang bisa menyelamatkan dia dari
- kejatuhan martabat dan derajat
- karena hidup adalah sebuah pilihan
- karena hidup adalah sebuah pendakian
- banyak manusia yang jatuh itu
- berguguran.
- Derajat manusia itu bisa luruh,
- bisa erosi,
- bisa habis.
- Dan kalau manusia itu jatuh dari
- martabatnya sebagai manusia, kehilangan
- sifat kemanungsan, yang akan ada sisa
- itu nafsu kebinatangan
- dan derajatnya juga bisa lebih rendah
- dari
- makhluk yang namanya binatang.
- Itu uniknya manusia. Tapi kalau dia bisa
- meniti dengan titian jalan yang menjadi
- manusia takwa, kemuliaannya bisa
- melebihi malaikat.
- Malaikat pun akan hormat
- kalau dia berjalan sedang belajar dan
- mengajar. Malaikat mengipas-ngipaskan
- sayapnya,
- menaunginya dengan ribuan malaikat dan
- mendoakan rahmat dan ampunan kepadanya.
- Coba. Masyaallah.
- Kalau kemudian dia harus malaikat izrail
- memanggilnya, itu pun dengan sopan dan
- santun. Berhias dengan hiasan yang
- menarik, simpati dengan keharuman yang
- luar biasa, keharuman surga. Berpakaian
- putih-putih malaikat izrail dengan
- pasukannya
- menyambangi rumahnya. Dan itu pun uluk
- salam. Assalamualaikum.
- Ini menunjukkan bahwa
- dia hormat kepada orang yang takwa, yang
- punya derajat tinggi karena dekatnya dia
- kepada Allah, karena takwanya dia kepada
- Allah. Tapi kalau dia jatuh martabatnya,
- kehilangan pegangan, meluncur di bawah
- nilai seekor binatang.
- Jadi bisa lebih rendah dari sapi, lebih
- rendah dari kebok, lebih rendah dari
- kambing.
- Kecuali illa bihabli minallah wa habli
- minannas. Kecuali yang punya pegangan,
- kecuali yang bersandar
- kepada dimensi vertikal dia kepada Allah
- dengan iman dan takwanya.
- Dan dimensi horizontal dia menjaga baik
- hubungan kepada sesama.
- itu yang akan bebas daripada kejatuhan
- martabat. Dia akan eksis sebagai manusia
- dan punya kedudukan yang tinggi di sisi
- Allah Subhanahu wa taala.
- Nah, inilah yang mestinya
- kita perhatikan. Jadi, bagaimana
- meneliti jalan dengan dua dimensi yang
- kita pegang teguh sebagai parameternya
- sehingga kita menduduki posisi yang
- tertinggi yaitu menjadi manusia yang
- takwa kepada Allah Subhanahu wa taala.
- Ayat yang sudah tidak asing lagi, sering
- dibaca di mana-mana. Inna akromakum
- indallahqokum. Sesungguhnya
- semulia-mulia di antara kamu adalah yang
- paling takwa kepada Allah Subhanahu wa
- taala. Seberapa tinggikah derajat yang
- bisa kita capai? Berapa anak tangga kita
- yang bisa kita lalui dengan modal yang
- sudah Allah berikan kepada kita?
- sehingga kita menjadi manusia yang
- berprestasi dan sukses
- hakiki.
- Nah, di sinilah pergantian waktu.
- Kemudian
- ternyata prosesnya menjadi dua golongan
- besar manusia. Ayat yang sudah sangat
- hafal kita baca dalam salat
- kadang-kadang jadi favorit kita yaitu
- surah Al-Hasr. Wal asri innal insana
- lafi khusrin illalladzina amanu wailus
- shihati wat tawu bilhaq wat tawu bisobr.
- Demi waktu demi masa.
- masa atau waktu itu kalau sudah lewat
- sudah enggak bisa kembali lagi
- dan cepat sekali set kalau sudah lewat
- gak bisa kembali lagi. K tinggal ee
- kenangan
- kalaupun masih ada cerita nostalgia tapi
- gak bisa kembali lagi. Seindah-indah
- apapun sudah dia lakukan tapi kalau
- sudah lewat ya sudahlah lewat seperti
- mimpi.
- Kalau belum memang iya kelihatannya
- panjang besok, lusa, bulan depan, tahun
- depan. Karena kelihatannya masih jauh,
- tapi begitu lewat kita tidak terasa
- habis seperti pergantian tahun.
- Sesungguhnya manusia dalam keadaan
- merugi.
- Rugi itu istilah dagang, istilah usaha.
- Modalnya habis, boro-boro dapat untung.
- Emang hidup ini berdagang? Ya, seperti
- berdagang. Allah sudah kasih modal kita.
- Waktu itu juga modal, kecerdasan itu
- juga modal. Rezeki yang berlimpah itu
- juga modal. Kecakapan, kepiawaian itu
- juga modal dan banyak sekali modal. Nah,
- produknya apa
- dengan dua dimensi tadi? Kepada Allah
- bagaimana dia?
- Apakah dia beriman
- atau tidak beriman atau dia dustakan?
- Atau menjadi orang kafir, menjadi orang
- yang menentang Allah.
- Kalaupun dia beriman, sejauh di mana
- kedekatan dia kepada Allah, sebanyak apa
- ingatnya pada Allah, sejauh di mana
- kepatuhan dan ketaatannya, ini harus
- dihitung di balik pergantian waktu. Maka
- evaluasi diri itu penting.
- Kemudian yang secara horizontal kepada
- sesama manusia kita hitung-hitung diri.
- Coba
- lihat diri.
- Apakah kita ini manusia yang bisa
- memberi manfaat pada orang, memberikan
- kontribusi positif, menjadi manusia yang
- berguna atau justru manusia masalah dan
- membawa petaka?
- Kita hitung.
- Jadi pergantian tahun mestinya kita
- evaluasi diri, mawas diri, introspeksi
- diri. Dan ayat sendiri mengingatkan pada
- kita, "Ya ayyuhalladzina amanutqulah
- wal tazur nafsum ma qoddamat liq
- wattaqulah innallaha khabirum bimaa
- ta'malun."
- Wahai orang-orang beriman, bertakwa
- kamu.
- Orang beriman saja masih diperintah
- untuk bertakwa. Memangnya orang beriman
- tidak bertakwa? Tidak disebut orang
- beriman kalau enggak tidak kalau dia
- tidak bertakwa. Tapi masih diingatkan.
- Itu artinya serius. Masalah takwa itu
- gak main-main,
- gak semangat-semangatan, gak
- asal-asalan. Harus serius
- dan kontinue. Istikamah. Jangan hari ini
- takwa, besok lembek, besoknya lagi
- benye, besok lagi lupa. Harus
- terus-menerus.
- Makanya diingatkan banyak ayat
- mengatakan orang beriman diingat kepada
- orang beriman tapi tetap masih diperinta
- bertakwa. Karena takwa selain memang
- serius harus setiap saat dan kontinue.
- Karena takwa itu adalah derajat
- tertinggi maksudnya agar capailah
- derajat takwa itu supaya kamu menjadi
- manusia mulia, manusia kualitas, manusia
- sukses, hakiki. Takwa kepada Allah.
- Wal tanzur nafsu ma qodamat. Dan lihat
- dirimu,
- lihat delengen awak-awak iro.
- Tengok dirimu,
- tempok manehna.
- Coba siapa diri kita ini? Saya ini
- siapa?
- Bagaimana keadaan hati saya? Bagaimana
- iman saya? Bagaimana amal saya?
- Bagaimana perilaku saya?
- Itu penting sekali. Lihat coba.
- Nah, orang modern sekarang ini lebih
- banyak melihat keluar
- yang pintar mengadakan analisa, berbagai
- macam perubahan jagad raya,
- galaksi, perbintangan, situasi
- macam-macam, iklim dan seterusnya dia
- pelajari. itu sampai detail dia baguslah
- itu. Tapi sayangnya dia melihat pada
- yang di luar, menganalisa yang di luar,
- melakukan observasi di luar dirinya dan
- minim sekali melihat pada dirinya.
- Bahkan banyak manusia gak kenal siapa
- dirinya.
- Kalaupun bercermin, paling yang dilihat
- cuma bibirnya, hidungnya, matanya.
- Apalagi kaum hawa kalau sudah 40 tahun
- 41 42 kok gening jadi kie abdi teh
- bareto magaruliselis abdi teh masyaallah
- sekarang jadi peot begini
- rambu sudah berubah jadi tadinya hitam
- legam ireng melesem hijau lah kok saiki
- jadi putih
- putih ndak tanggung-tanggung bukan hanya
- rambut di kepala di alis di jenggot
- putih semua masyaallah
- Paling itu yang dilihat. Kalaupun yang
- 17 tahun masih cantik-cantiknya 18, 19
- dan sebagainya. Paling kalau bercermin
- yang dilihat wajahnya. Kok aku cantik
- benar ya? Tapi enggak melihat hatinya.
- Jarang kan. Coba lihat hatimu. Tengok
- kamu itu siapa.
- Sejauh di mana syukur kamu kepada Allah
- yang memberikan kecantikan itu.
- Kalau kamu kaya mestinya kamu lihat
- siapa yang berikan kekayaan itu
- dan seterusnya. Allah dengan kasih
- sayang mengingatkan, wal tanzur nafsum
- ma qodamat. Lihat dirimu bekal apa, amal
- apa yang sudah kau persiapkan untuk hari
- esok. Hari esok itu bukan hari tua, hari
- sesudah kematian. Hidup yang kekal dan
- abadi bekal harus sebanyak-banyaknya
- karena perjalanan kita jauh dan gak ada
- yang bisa nolong kita. Siapa yang nolong
- kita
- kecuali amalnya sendiri?
- Memang harus ada latihan sih pengajian
- ibu-ibu tuh latihan malam-malam coba dia
- taruh di atas kuburan gitu. Enggak usah
- di dalam kuburan, di atas pusara kuburan
- aja. Tapi tengah malam jam .00 sampai
- subuh tuh sendirian enggak ada temannya.
- Nanti di kubur kita sendiri, di akhirat
- kita sendiri. Gak bisa panggil-panggil
- suami tercinta. Wahai suamiku tercinta,
- kau adalah belahan jiwaku.
- Kita sehidup semati dulu. Kau pernah
- berjanji akan membahagiakan
- adindamu. Ke mana sekarang wahai suamiku
- tercinta? Gak bisa.
- Orang tua juga begitu. Wahai ayah
- bundaku, kau seorang yang berkuasa dulu,
- yang hebat, yang aku banggakan. Tolong
- anakmu ya ayah, ya ibu. Gak bisa. Siapa?
- Orang bapaknya sendiri. Kewalahan lagi
- kebingungan
- kecuali bekal kita sendiri.
- Jangan main-main. Hidup ini enak aja.
- Loh, memang enggak ada suatu yang
- gratis. Pepatah Belanda mengatakan gak
- ada makan siang gratis. Mesti ada
- sesuatunya. Hidup ini juga ada
- pertanggung jawab. Waktu yang kita
- gunakan, umur kita, rezeki yang kita
- dapatkan dikemanakan untuk apa dan
- produknya apa, itu ada pertanggung jawab
- kena manusia.
- Nah, inilah di balik waktu itu ternyata
- masyaallah banyak ya. Mestinya orang
- yang halus itu merasa,
- "Ya Allah, usia sudah sekian.
- Barangkali tidak akan lama lagi
- saya dipanggil oleh Allah Subhanahu wa
- taala. Ya Allah ampunilah dosa-dosa
- hamba ya Allah. Keburukan-keburukan masa
- lalu hamba ya Allah. Beri kami
- kesempatan untuk bertobat kepada-Mu,
- berlari kepada-Mu, mendekat kepada-Mu.
- Ampunilah hamba ya Allah.
- Tolonglah hamba ya Allah. Lindungilah
- hamba ya Allah. Selamatkanlah hamba ya
- Allah. itu yang akan lahir dari
- orang-orang yang ya sadar diri.
- Karena bagaimanapun lama panjang umur
- atau pendek umur tetap aja kita akan
- pulang. Makin makin lama makin dekat
- makin sudoh batas usia kita. Maksudnya
- jatah hidup kita.
- Nah, di sinilah lihat dirimu, lihat
- hatimu, lihat jiwamu.
- Di sini artinya selalulah nengok kita ke
- dalam relung hati kita, kita menyelam.
- Makanya ingkingkung punya filosuf yang
- luar biasa. Bakak itu untuk biasanya
- selamatan.
- Orang Jawa itu biasa kalau ada apa-apa
- tuh selametan. Selamat itu menjadi hal
- yang penting. Saya kira bukan hanya
- orang Jawa semua. Selamat itu penting.
- Makanya orang Jawa ngasih nama itu
- selamat.
- Selamat selamat. Banyak sekali di
- kampung namanya selamat. Karena sudah
- kebanyakan
- diganti tapi isinya sama. Sugeng.
- Sugeng.
- Kemudian apalagi? Rahayu. E selamat juga
- intinya.
- Jadi selamat itu penting dan ini dalam
- Islam itu selamat. Islam artinya
- selamat. Assalam artinya selamat. Karena
- selamat itu penting.
- Ketika kita berjumpa ucapannya selamat.
- Assalamualaikum. Mudah-mudahan Anda
- selamat. Karena selamat itu penting. Apa
- mau sampean duitnya banyak karungan di
- rumah tapi enggak selamat?
- Ayo, rumahnya megah, magrong-magrong
- rumahnya kendaraannya mewah tapi enggak
- selamat. Mau apa? Milih mana? Banyak
- uang tapi enggak selamat. Enggak punya
- uang tapi selamat. Pilih mana?
- Milihnya mesti banyak uang yang selamat.
- Selamat itu penting.
- Maka orang yang bijak, orang yang arif
- akan menjaga dirinya. Bagaimana hidup
- ini supaya saya selamat?
- Nah, kalau mau selamat Islam, assalam.
- Islam bimakna assalam artinya selamat.
- Kalau mau selamat Islam. Karena Islam
- itu diturunkan oleh Allah untuk supaya
- orangnya selamat.
- Artinya apa? Kalau enggak Islam ya
- enggak selamat. Wong konsepnya selamat
- itu adalah Islam.
- Maka ingkung yang untuk selametan itu
- biasanya bersedekah.
- Sedekah dari tradisi dulunya adalah yang
- namanya selamat itu karena memuli memuja
- kepada karuhun, kepada apa dan wetan,
- danang kidul dan sebagainya diganti
- digupa oleh Sunan Kalijogo tetap
- nasinya nasi apa? Nasi yang kayak gunung
- itu loh. Kemudian kanan kirinya ada
- lauk-lauknya.
- Tapi satu hal yang sekarang mulai banyak
- berkurang itu ayam jago yang besar itu
- dipotong masih utuh kemudian dibuka
- dadanya jadi lebar begitu dibelah tapi
- kepala lehernya tuh dimasukkan ke dalam
- ternyata ini ngemusuh raos
- mengandung makna bahwa kalau ingin
- selamat buka hati kita untuk menerima
- sebuah kebenaran jangan menutup diri
- jangan merasa
- ee jumawah, jangan merasa sudah hebat,
- jangan merasa sudah pintar. Buka hati
- kita untuk menerima sebanyak-banyaknya
- kebenaran.
- Kemudian kepala kita tunduk ke dalam.
- Lihat dirimu, lihat ke dalam ni. Mawas
- diri. Kalau Rasul kan jelas, sibukkanlah
- dirimu untuk mencari-cari aib dirimu.
- Jangan sibuk mencari kesalahan orang
- lain.
- Mawas diri, introspeksi diri. Hasibu an
- tu hasabu
- qobla an tuhasabu. Hitung-hitung dirimu
- sebelum kau nanti dihitung oleh itu dari
- asar Umar bin Khattab. Jadi ayat ini
- menyuruh kita lihat
- kira-kira sudah siap enggak kita kembali
- kepada Allah? Perjalanannya masih jauh
- dan kita akan berangkat sendiri.
- Paling hanya sampai dirubung kita ini
- waktu sakit, waktu meninggal,
- keluarga pada datang semuanya. Walaupun
- kadang-kadang kebanyakan hanya datang
- waktu nyalatkan tinggal sedikit yang mau
- nyalatkan. Paling lebai saja sama
- penghulu di rumah ada berapa orang.
- Aduh, padahal yang layat itu banyak.
- Alasannya waduh saya enggak siap, celana
- saya kotorlah saya segala macam.
- Ini memang ya indikasi kalau orang tekun
- di masjid ya insyaallah sak masjid itu
- mesti nyalatin semuanya. Kalau dia orang
- baik pergaulan mesti semua teman-teman
- sahabat-sahabat tadi yang tulus ikhlas
- ingin menyalatkan dia mengantar
- mendoakan dengan doa yang terakhir.
- Sudah itu dikubur tinggal pulang.
- Goodbye sayunara selamat tinggal
- sendiri. Kita dikubur menghadap Allah
- menghadap dua malaikat. Ya Allah. Mau ke
- mana kita minta tolong sama siapa?
- Anak walaupun dikudang gede dwur
- sembodo, sugih berwibowo, sugih bondo,
- sugih bandu, di akhirat mah enggak bisa
- moal bakal nolongan emak. Aduh nak, ke
- mana kau? Gak bisa kita sendiri.
- Wattaqulah sekali lagi Allah
- mengingatkan takwa pada Allah. takwa
- kamu apak sudah tua udahlah dunia
- tinggalkan ajalah kita sudah orientasi
- hidup kita sudah lain harus
- mempersiapkan diri untuk kembali kepada
- Allah innallah khabirun bima tammalun
- karena sesungguhnya Allah itu maha
- mengetahui terhadap apa yang kamu
- perbuat kita senantiasa ditempok ku
- Allah ditingali ku Allah dilihat
- diperiksa tiap saat dan dicatat
- perbuatan kita jadi kalau selama Ini
- usia kita bertambah 1 tahun. Hari ini
- bertambah usia kita. Mungkin sepanjang
- perjalanan kita itu banyak noda, noda
- dan salah. Tobat sekarang.
- Jika ada kebaikan kita bersyukur kepada
- Allah. Kita tingkatkan terus sesuai
- dengan kemampuan kita. Insyaallah
- bertambahnya usia kalau kita gunakan
- sejak muda itu amal ibadah kebajikan,
- beraktivitas yang berimanfaat terhadap
- kehidupan masyarakat di hari usia kita
- bertambah dan makin uzur, dia akan
- setiap hari mendapat pahala seperti
- kegiatan di waktu mudanya itu. Jadi
- pangsiun bukan hanya PNS saja. Allah itu
- ngasih pangsiun luar biasa.
- Mudah-mudahan
- bagian kecil dari peristiwa atau sesuatu
- di balik pergantian waktu bisa kita
- dapatkan dijadikan pelajaran yang
- berguna bagi diri kita. Wallahuam
- bisawab.
- Amin.
- Dan kalau ayam ingkung dalam nasi
- tumpeng tadi memberikan kita pengingat
- bahwa [tertawa]
- [terkesiap] kita harus membuka hati dan
- menerima kebenaran. serta menundukkan
- kepala untuk introspeksi diri.
- Pertanyaannya adalah apakah kita
- terjerat dalam kebingungan di dalam
- pergantian waktu menghadapi waktu yang
- merenggut manisnya kehidupan atau
- mengikis keharmonisan kita, bahkan
- merobek-robek harapan kita dan
- memporak-porandakan semangat untuk
- melangkah ke depan? Mari kita renungkan.
- [musik]
- [musik]
- masih ditemani Ustaz Abul Hidayah yang
- penuh dengan persuasi membuat kita tahu
- harus bagaimana ya. Dan ikhwan akhwat
- jangan pernah lelah [menghela napas] dan
- menyerah karena semua yang terjadi
- bukanlah beban. Ini ada pertanyaan Ustaz
- dari Ibu Emilda.
- Apa saja yang harus dilakukan untuk
- membentengi diri kita dari hal yang bisa
- merusak iman dan rasa cinta kita kepada
- Allah dan Rasul-Nya agar juga jangan
- sampai kita tergelincir pada bujuk rayu
- setan.
- Oke, itu saja. Terima kasih. Baik, Ibu
- Imelda. Pertanyaan yang bagus.
- Alhamdulillah.
- Dan itu antara lain salah satu tugas
- kita
- karena sudah beriman. Ketika kita sudah
- ikrar beriman tidak cukup sampai di
- sana. Masih harus dilanjutkan dengan
- summastaqomu. Kamu istikomah.
- Istikomah itu memang mudah diucapkan
- tapi harus terus-menerus kita jaga, kita
- rawat. Ibarat tanaman itu setelah kita
- benihnya kita apa namanya?
- semai kemudian dia tumbuh harus kita
- siram,
- harus kita pupuk, harus kita pagar
- dari hama. Ini memang tugas keimanan.
- Pertama, harus meyakini bahwa iman itu
- adalah satu kekayaan yang paling
- bernilai.
- Sebab orang kalau enggak
- menyadari bahwa ini barang berharga
- lalawora cek orang Sunda seenaknya aja
- dia nempatkan. Tapi kalau tahu ini
- barang berharga walaupun kecil tapi dia
- berlian mesti dia simpan di tempat yang
- rapi yang aman masuk brangkas. Kuncinya
- rahasia. Hanya orang dirinya yang tahu.
- Nah, kita harus merasa pertama supaya
- membentengi dirinya tahu bahwa ini yang
- harus dijaga keimanan itu. Iman adalah
- kenikmatan yang paling besar dari sekian
- banyak anugerah Allah Subhanahu wa
- taala. Itu yang pertama. Yang kedua,
- terus berjuang, aktif bagaimana menjaga
- keimanan itu? Menjaga keimanan itu
- pertama memupuknya, menyiraminya dengan
- apa? Dengan ilmu kita belajar membaca,
- bertanya
- supaya subur tumbuhnya dekat dengan para
- ulama, dengan para alim, dengan
- orang-orang ikhlas, dekat orang-orang
- baik.
- Yang ketiga,
- berlindung kepada Allah. Mohon
- perlindungan Allah dari tipu daya setan,
- dari fitnahnya dunia.
- Bagaimana caranya? Ya, terus kita banyak
- banyak menghubungkan diri kita kepada
- Allah. Banyak zikir
- terutama istigfar
- supaya hati kita jernih, jiwa kita
- jernih seperti kaca. Kaca yang sering di
- cermin yang sering dibersihkan.
- Sehingga ini bisa meneropong
- liku-liku langkah kehidupan kita
- sendiri.
- Jadi, hubungkan dirinya kepada Allah
- dengan banyak zikir dan terutama adalah
- istigfar yang terus-menerus. Basahi
- bibirmu dengan zikir kepada Allah dan
- mohon perlindungan kepada Allah dari
- tipu daya setan dan godaan duniawi.
- Kemudian tidak kalah pentingnya adalah
- pelajari itu Al-Qur'an, pelajari itu
- sunah nabinya,
- teladani para orang-orang saleh
- terdahulu, terutama dari kalangan para
- sahabat.
- Kemudian
- jaga diri kita dari hal-hal yang
- diharamkan.
- Karena yang kalau ada perilaku,
- perkataan, perbuatan, makanan, rezeki
- yang haram itu menjadi iman tidak betah,
- akan menjadikan
- erosi terhadap iman kita. Dan bisa saja
- iman pergi tanpa permisi kalau
- kebanyakan dari yang haram yang kita
- lakukan. Jadi jaga dari makanan haram,
- dari perkataan yang haram, dari
- perbuatan yang haram. Ini insyaallah
- akan mengokohkan keimanan kita. Dan
- selalu berkonsultasi dekat para alim,
- para ulama, para asatid sehingga kalau
- ada masalah-masalah tidak dipikirkan
- sendiri tapi minta nasihat kepada
- beliau, beliau sesuai dengan ahlinya.
- Kemudian selalu berdoa.
- Ya, ada doa yang bagus dari tafsir surah
- Al-Hujurat ayat
- 6 ya. Ya, di sana disebutkan
- ketika Al-Qur'an turun
- tentang hati-hati orang beriman.
- Allaha habbaba ilaikumul iman waayanahu
- fi qulubikum
- waqar ilaina
- ee Allahumma habib
- walakinnallah habbaba ilaikumul iman
- waayanahu fi qulubikum waqaroha
- ilaikumul kufra wal fusuq walat. Maka
- kemudian rasul mengajarkan doa kepada
- kita. Allahumma habib Allahumma habib
- e Allahumma habib ilaina iman Allahumma
- habib imana alaina
- Allahumma habib ilainal iman wayayanahu
- fi qulubina
- waqaroha ilaikumul kufro wal fusuqo
- walan waja'alna minar rasyidin. Ya Allah
- tanamkan di hati kami keimanan,
- kecintaan pada keimanan dan dirasakan
- iman itu indah dalam hati kami. Serta
- jadikan hati kami itu benci, tidak suka
- terhadap segala macam bentuk kekafiran,
- kemaksiatan, dan kedurakaan. Dan
- jadikanlah kami golongan orang-orang
- yang mendapat petunjuk untuk doa antara
- lain seperti itu.
- Wallahuam. Terima kasih untuk Ibu Sri
- Hasanah dan teman-teman lain yang tidak
- menyebutkan nama yang sangat terbantu
- sekali dengan bahasan hari ini juga Mas
- Irfan. Dan kepada Pak Mas Ud ya di Batam
- pertanyaannya adalah bagaimana Ustaz
- agar umat lebih takut terhadap waktu
- yang panjang generasi Islam kita yang
- moderat, Islam yang maju untuk anak cucu
- kita ke depan?
- Ya memang ini satu kekhawatiran ya bagi
- kita orang beriman itu. Tapi kan tidak
- boleh pasif, harus aktif.
- Aktif ibarat air yang hidup di air
- deras, dia harus bergerak terus.
- Diam mati hanyut dia oleh arus. Arus
- kehidupan kita ini kontemporer di zaman
- no ini ini luar biasa. Kalau kita tidak
- bergerak dinamis, dia akan mengikis
- kita, kita akan terbawa arus dengan
- mudah. Nah, jadi ciptakan sebuah
- dinamika yang islami. Karena melahirkan
- mendinamisir satu kehidupan yang
- bersifat islami akan menjadikan kita
- apa? Mewarnai terhadap pola, sikap dan
- perilaku kita sebagai seorang muslim.
- Jadi dinamika anak-anak kita hidupkan
- suasana keagamaan mulai dari di rumah,
- kemudian dari pendidikan dari milieu dan
- sebagainya. Ini yang harus kita lakukan.
- Jangan kita priori. Seolah-olah lebih
- memprioritaskan hal-hal yang bersifat
- fisik, materi, kecerdasan semata, tapi
- urusan rohani kita biarkan.
- Iya.
- Saya kira itu. Wallahualam.
- Em Bapak Muhammad ee di mana nih ya
- pertanyaannya, Ustaz? untuk
- menghilangkan rasa dendam pada orang
- yang sudah menyakiti hati kita.
- Bagaimana caranya?
- Hah? [menghela napas]
- Ini memang ya enggak kelihatan
- pekerjaannya, tapi memang enggak susah
- ya. Ya, pertama kita harus tahu pelajari
- itu soal dendam.
- Yang itu dilarang. Hasad dan dengki itu
- dilarang. Hasad dengki itu seperti bara
- yang makan kayu akan menghabiskan
- kebaikan-kebaikan kita sendiri.
- Jadi apa? Merusak diri kita sendiri.
- Maka itu harus kita yakin. Kembalikan
- semua kepada Allah. Nanti Allah yang
- ngurus itu. Jadi memang harus legowo,
- harus lapang dada, harus dipelajari
- bahwa ini bahaya buat kita. Kalau kita
- pertahankan dendam terus ini akan
- membakar kebaikan-kebaikan kita sendiri.
- Bisa saja membakar iman kita, menjadi
- orang gelap mata, menjadi nekad dan
- sebagainya. Jadi ini kita pelajari itu
- kalau gitu harus kita hilangkan. Memang
- harus diperjuangkan, harus dihilangkan.
- Dikasih waktu 3 hari kalau sesama
- muslim.
- Hari pertama masih jengkel, masih gedek,
- masih macam-macam. Hari kedua harus
- berkurang, harus ketiga harus sudah
- selesai ini. Dan kita menjadi orang
- memaafkan. Dan pemaaf itu termasuk
- karakter sifat ahli surga. Walina
- aninas. Sifat orang bertakwa dan sifat
- ahli surga. Jadi memang Allahuma paksa
- kita harus berjuang itu mah enggak enak
- sih tapi insyaallah nanti urusan dia
- Allah kita serahkan Allah yang akan
- balasnya. Wallahuam.
- Ya, Ustaz kita rangkum bahasan kita
- untuk pagi ini.
- Ikhwan di mana pun berada mudah-mudahan
- hidayah selalu menyertai kita semuanya
- sehingga kita hidup berjalan di atas
- jalan kebenaran.
- Kemudian selalu mawas diri.
- Kita mencoba
- membersihkan jiwa, relung hati, relung
- hati dan jiwa kita agar hati kita persis
- seperti cermin yang bersih melihat
- kehidupan dengan terang, dengan iman
- insyaallah sebagai kait melihat tidak
- hanya dengan mata tapi dengan mata hati,
- mata iman. Mudah-mudahan selamatlah kita
- dunia akhirat. Mohon maaf segala
- kekurangan. Wabillahi taufik walhidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih Ustaz dan
- ikhwan akhwat. Hidup adalah anugerah
- bukan, tapi hidup itu perjuangan. Kelam
- akan berubah, muram juga akan kalah,
- suram pun tidak akan menjamah kita.
- Simbah air mata tidak akan menyurutkan
- langkah kita. Jadi, mari kita tingkatkan
- semangat. Teruslah bergelora. Jangan
- padam semangat perjuangan ini. Meskipun
- waktu berganti, tahun berlalu, kegagalan
- adalah pembelajaran menuju sukses. Jadi,
- yakin kita pasti bisa. Billahi taufik
- walhidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.