Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:01 [musik] 0:07 Rasul TV 0:09 [musik] 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. 0:17 Assalamualaikum warahmatullahi 0:19 wabarakatuh Ikhwan Akhwat 0:20 rahimakumullah. 0:22 Senang sekali bisa bersama-sama Anda 0:24 pagi ini di acara yang mudah-mudahan 0:27 mempersuasi kita semua sebagai Ayah 0:30 Bunda sebagai pendidik atau apapun yang 0:33 ada kaitannya dengan anak-anak di 0:37 kesempatan yang mudah-mudahan semuanya 0:39 hari ini sehat ya, bugar, aman, dan 0:43 terkendali. 0:45 Tidak lupa salam selawat kita lantunkan 0:47 untuk junjungan umat kekasih kita 0:49 Muhammad Rasulullah sallallahu alaihi 0:51 wasallam beserta harapan semoga kelak 0:55 kita dipertemukan dengan beliau di saat 0:57 yang sangat kita rindukan di yaumil 1:00 akhir. 1:01 Ikhwan Akhwat 1:03 apakah Anda seorang Ayah? 1:06 Kenapa bertanya kayak gitu? Karena tadi 1:08 waktu di off air Dokter Hamid Fatilima 1:10 bicara soal gimana nih jadi Ayah 1:13 digital. Wow, sesuatu yang pasti 1:17 informasinya akan sangat bermanfaat 1:19 sekali nih. 1:20 Baik, kita sapa beliau yang sudah hadir 1:22 di sini. Assalamualaikum warahmatullahi 1:24 wabarakatuh. Waalaikumsalam. Apa kabar 1:27 Bunda? Alhamdulillah. 1:29 Jadi topiknya ini lebih ke Ayah ya. 1:33 Menjadi Ayah digital. 1:36 Iya. 1:37 Mudah-mudahan ya nanti ini jadi semakin 1:39 paham bagaimana menjadi Ayah kalau 1:43 mungkin ada latihannya keren juga nih. 1:45 Silakan Pak Hamid. 1:47 Baik, terima kasih Bunda. 1:49 Bismillahirrahmanirrahim. 1:50 Assalamualaikum warahmatullahi 1:53 wabarakatuh. Waalaikumsalam. 1:55 Pendengar Radio Rasyl di mana saja 1:58 berada. Alhamdulillah 2:00 kita masih diberi kesempatan oleh Allah 2:03 untuk berbagi informasi. Insya Allah 2:06 kali ini lanjutan dari 2:10 topik-topik yang sudah kita bahas 2:12 terkait dengan 2:15 tema Ayah. 2:16 Kali ini kita akan fokus menjadi Ayah 2:21 digital. 2:22 Berharap 2:24 Ayahanda dan Bunda di rumah khususnya 2:27 mereka yang memiliki 2:31 anak yang sudah menjadi Ayah 2:34 maupun bisa jadi 2:37 apa yang kita bahas hari ini menjadi 2:40 penting untuk 2:43 dicermati baik-baik. 2:46 Terutama terkait dengan saat ini kita 2:49 sudah 2:51 masuk ke era digital. 2:54 Untuk itu menjadi seorang Ayah 2:57 digital sangat penting. 3:00 Kalau kemarin kita membahas bagaimana 3:03 Ayah menjaga amarah 3:06 sehingga anak itu 3:09 eh memiliki ruang yang aman bagi mereka. 3:13 Nah, sekarang bagaimana menjadi 3:15 Ayah digital. 3:18 Mendampingi anak-anak itu menjadi eh 3:23 kebutuhan. Tetapi yang perlu 3:26 diperhatikan oleh setiap Ayah 3:29 kita bukan menjadi 3:33 guru atau menggurui mereka. 3:35 Kemungkinan besar 3:37 mereka lebih hebat dari kita sebagai 3:41 seorang Ayah. Karena anak-anak itu 3:44 mereka 3:46 masih memiliki ruang yang luas untuk 3:50 merekam segala hal dan mereka memiliki 3:55 eh keinginan 3:57 atau ingin tahunya itu sangat eh 4:02 tinggi atau sangat besar. Untuk itu 4:06 kita sebagai orang tua fokus saja 4:09 mendampingi mereka 4:12 pada saat mereka terakses ke berbagai eh 4:18 yang berhubungan dengan digital. Baik 4:20 itu 4:21 televisi 4:24 kemudian gadget. 4:27 Para ayah harus sebagai pendamping yang 4:32 hebat. Namanya juga pendamping berarti 4:35 menjadi seorang pendamping kita lebih 4:39 tahu 4:41 berbagai informasi terkait 4:44 hal-hal apa yang perlu kita dampingi 4:47 pada anak-anak kita. Untuk itu tidak 4:49 cukup seorang ayah itu 4:53 eh hanya fokus sebagai tulang punggung 4:56 keluarga, hanya memberi makan, memberi 5:00 uang untuk eh biaya pendidikan atau 5:03 biaya kesehatan, tetapi pada 5:07 hal-hal yang terkait dengan 5:10 bagaimana kita memastikan anak-anak kita 5:14 terakses ke dunia luar 5:17 dan dunia itu juga kita ketahui. Untuk 5:21 itu butuh eh 5:24 peran seorang ayah sebagai pendamping. 5:29 Apa sebetulnya yang ingin kita bahas 5:32 ini? Apakah ada aturan tidak yang 5:36 mengaturnya? 5:38 Perlu kita ketahui anak itu memiliki 5:42 hak. 5:44 Dan hak-hak anak itu itu sudah diatur di 5:48 dalam konvensi Hana. Untuk itu, sebagai 5:52 seorang ayah, coba 5:54 ambil gadget-nya, ketik di Google 5:58 konvensi hak anak. 6:01 Ambil 6:03 PDF-nya, lalu coba dibaca baik-baik, 6:07 terutama ada tiga pasal penting yang 6:11 terkait dengan 6:13 eh digital ini. Pertama, pasal 13. Pasal 6:19 13 konvensi hak anak itu terkait dengan 6:23 kebebasan anak berekspresi. 6:26 Ah, kebebasan anak berekspresi itu, 6:30 itu sangat ditentukan oleh tiga hal. 6:35 Pertama, 6:36 apa yang mereka baca selama ini. 6:40 Dengan kita mengetahui, 6:44 lalu 6:46 coba-coba kita mendampingi mereka pada 6:49 saat membaca berbagai hal yang ada di 6:53 depan 6:54 eh anak-anak, baik yang bersumber dari 6:57 buku bacaan, yang bersumber dari tablet, 7:02 yang bersumber dari televisi, yang 7:04 bersumber dari 7:06 eh handphone atau 7:10 eh 7:11 alat-alat digital lainnya, itu yang 7:14 kemudian 7:16 kita perlu ketahui apa saja 7:19 bacaan-bacaan yang mereka baca. 7:23 Dan kalau 7:24 seorang ayah sejak dari awal mengetahui 7:29 bacaan-bacaan yang dibaca oleh anak 7:32 kita, insyaallah 7:34 itu akan terlihat pada saat mereka 7:38 eh berekspresi, baik itu dalam bentuk 7:42 maupun dalam bentuk tulisan atau gambar 7:46 atau dalam eh hal-hal lain yang 7:49 diproduksi melalui jari jemari mereka. 7:54 Ini penting. 7:56 Yang kedua, itu sangat juga di 7:59 pengaruhi oleh 8:02 pengalaman 8:03 anak kita. Ah, pengalaman ini jangan 8:07 dianggap sesuatu yang tidak penting. 8:11 Terutama pengalaman anak sejak di dalam 8:14 kandungan sampai detik ini. 8:17 Kalau anak kita berusia 17 tahun atau 8:20 anak kita berusia 15 tahun atau anak 8:23 kita berusia eh 12 tahun atau anak kita 8:27 berusia 7 tahun atau anak kita berusia 5 8:31 tahun, itu berarti kita tahu tuh 8:34 pengalaman-pengalaman dia. 8:36 Kalau pengalaman anak kita itu 8:41 benar-benar melewati 8:45 pengalaman yang membahagiakan, tidak 8:48 pernah mengalami kekerasan, tidak pernah 8:52 mengalami perendahan atau tidak pernah 8:55 mengalami bullying oleh siapa saja, 8:59 insyaallah 9:01 dari omongan anak, itu akan terlihat 9:05 bahwa 9:06 apa yang dia alami terkait dengan 9:09 hal-hal yang terbaik, itu akan 9:12 tercermin dari setiap kata, 9:16 kalimat atau suara yang keluar dari 9:19 mulut dia. Begitu juga dengan rangkaian 9:23 kata-kata, kalimat yang keluar dari 9:26 karya tangannya 9:28 atau dari gambar-gambar yang dia 9:31 produksi. 9:32 Ini menjadi penting. Untuk itu, Ayahanda 9:35 dan Bunda 9:37 sebagai orang juga yang ada di sekitar 9:39 anak-anak kita. 9:41 Kalau ada anak yang berkata-kata yang 9:44 tidak pas, 9:46 itu perlu kita maklumi. 9:49 Karena 9:52 anak tersebut punya pengalaman seperti 9:55 apa yang keluar dari mulut dia. Mhm. 9:57 Nah, itu menjadi penting. 10:00 Pasti kita ingin 10:04 anak-anak kita akan berkata-kata atau 10:08 anak akan berbagi status itu kata-kata 10:12 yang terbaik. Nah, itu syaratnya adalah 10:15 dia punya pengalaman-pengalaman yang 10:17 terbaik. 10:18 Mhm. Tapi bagaimana kalau pengalaman dia 10:21 yang sebaliknya? Itu 10:23 yang kedua. Ah, yang ketiga yang di yang 10:27 terkait dengan kebebasan anak 10:29 berekspresi itu sangat ditentukan oleh 10:33 apa yang 10:35 dirasakan 10:36 oleh anak pada saat sebelum dia 10:39 berkata-kata atau sebelum dia menulis. 10:43 Bila 10:44 anak itu dari pagi 10:49 dia bangun 10:50 tepat waktu, lalu dia mandi, kemudian 10:54 dia salat subuh, sarapan, pergi ke 10:58 sekolah tidak terlambat, insyaallah saat 11:01 kita akan berbicara dengan anak itu, 11:05 yang keluar adalah kata-kata terbaik. 11:07 Tapi sebaliknya, coba dia bangun telat, 11:12 Mhm. tidak mandi hanya cuci muka, tidak 11:15 sarapan, lalu dia buru-buru ke sekolah, 11:18 sampai di depan sekolah pintu gerbang 11:21 sudah tertutup, 11:23 lalu dia memaksa mau masuk, pasti pada 11:27 saat kita akan 11:29 bertanya sama dia, itu akan keluar 11:33 kata-kata yang tidak menyenangkan. Nah, 11:35 untuk itu menjadi penting setiap ayah 11:39 pada saat memastikan 11:42 anak-anak kita terakses pada 11:46 digital, itu perlu kita ketahui itu 11:48 pasal 11:49 13 konvensi anak. 11:52 Kemudian pasal yang kedua nih, yaitu 11:54 pasal 16 11:58 terkait dengan 12:00 privasi. 12:02 Untuk itu, pastikan ayahanda 12:06 pada saat anak kita sudah diberi 12:11 keleluasaan untuk menggunakan 12:14 tablet, menggunakan handphone atau 12:17 menggunakan yang terkait dengan digital, 12:20 pastikan 12:22 dia 12:23 harus 12:25 [berdehem] 12:25 menjaga jangan sampai identitas dia 12:30 bocor. 12:31 Nah, untuk itu 12:33 bagaimana caranya? 12:35 Di dalam penggunaan 12:38 email atau penggunaan akun Facebook, 12:43 Instagram, TikTok atau YouTube, itu ada 12:47 pembatasan usia 12:49 atau pada saat penggunaan 12:51 aplikasi-aplikasi 12:53 yang tersedia di pasar, itu selalu ada 12:56 pembatasan usia. Ah, 12:59 yang jadi soal hal anak-anak kita 13:03 itu tidak didampingi dengan 13:07 utuh oleh ayah 13:09 dalam penggunaan akun ayah. 13:12 Ah, ini menjadi penting. 13:14 Dengan 13:16 anak 13:17 terakses ke berbagai aplikasi, lalu 13:21 kemudian itu dia pertama sekali 13:24 menggunakan email ayah, insyaallah 13:28 kita akan dapat memantau hal-hal apa 13:33 yang akan digunakan atau hal-hal apa 13:37 yang dibagi atau hal-hal apa yang 13:39 diakses oleh anak kita. 13:42 Karena semua akan terekod 13:45 ke 13:46 email kita. 13:47 Tapi persoalan, apakah hari ini setiap 13:51 ayah sudah memastikan 13:53 agar anaknya transparan kepada orang 13:57 tuanya atau jujur kepada ayahnya 14:01 atau sebaliknya? Kalau sebaliknya, ini 14:04 yang jadi persoalan hari ini yang 14:08 dihadapi oleh Indonesia, ditemukan 14:11 banyak anak-anak memiliki akun 14:16 judi online. 14:18 Pertanyaannya, 14:20 ke mana para ayah? 14:23 Tidak itu saja, pada saat anak kita ikut 14:27 bimbel online, 14:30 apakah mereka menggunakan akun email 14:33 ayahnya atau tidak? 14:36 Kalau kita tidak pastikan, akhirnya 14:39 mereka akan berbohong dengan menggunakan 14:43 email palsu dengan merubah umur mereka. 14:47 Ini juga menjadi persoalan dan ini yang 14:50 kemudian kita harus pastikan. 14:53 Ini 14:54 tidak cukup hanya dibicarakan tetapi 14:58 setiap ayah harus memastikan bagaimana 15:01 menjaga privasi anak-anak kita dan itu 15:04 diatur oleh 15:06 undang-undang. Pasal 16 konvensi anak 15:09 ini turunannya, Bunda Nuni, 15:11 ada tiga undang-undang. 15:14 Untuk itu kalau boleh setiap ayah ini 15:18 menjadi ayah digital, perlu membaca tiga 15:21 undang-undang ini. Pertama adalah 15:24 Undang-Undang Nomor 14 tahun 2008 15:28 tentang keterbukaan informasi publik 15:31 yang hari ini 15:33 di Komisi Informasi itu Bunda Nuning 15:36 sedang menyidangkan tuh. Yang disidang 15:38 tuh tidak tanggung-tanggung Bunda Nuning 15:40 KPU 15:42 lalu 15:44 ee UGM terkait 15:47 identitas. Iya. 15:51 Setiap ayah tuh harus pastikan terkait 15:54 dengan anak ada beberapa informasi yang 15:57 ada di pasal 17 itu tidak boleh diumbar 16:01 ke publik. Untuk itu 16:04 bagaimana ayah-ayah di Indonesia yang 16:08 mendengarkan Radio Rasid itu memastikan 16:12 Iya. 16:13 anak gadis kita bagaimana dia berbagi 16:18 status, bagaimana dia berbagi gambar, 16:22 bagaimana dia berbagi video, bagaimana 16:25 dia berbagi selfie di mana, selfie di 16:28 sini 16:29 itu semua kan akan tertampang foto-foto 16:33 anak-anak kita. 16:35 Dan juga sekarang 16:37 anak laki-laki juga itu sudah menjadi 16:40 incaran para pedofil terutama terkait 16:44 dengan 16:45 kekerasan seksual 16:49 eksploitasi seksual melalui online. He 16:53 em. Kontribusi ayah di sana sangat 16:57 tinggi bila tidak melakukan pendampingan 17:01 pada anak-anak gadis atau anak laki-laki 17:06 mereka baik yang dari usia balita sampai 17:10 usia 17 tahun tinggal satu detik 18 17:15 tahun. Nah itu kita harus pastikan tuh. 17:18 Dan kita 17:20 dapat berdebat dengan mereka atau dapat 17:23 berdiskusi dengan mereka terkait dengan 17:25 hal ini. Untuk itu 17:27 tidak cukup kita hanya mengetahui 17:30 undang-undang ini. Kita juga harus baca. 17:32 Undang-undang kedua ini, Bunda Nuning. 17:35 Undang-undang nomor 11 tahun 2012 17:39 tentang sistem peradilan pidana anak. 17:42 Itu ada 17:43 pasal 17:45 19 dan pasal 97 17:49 untuk memastikan 17:51 terutama kalau 17:53 anak-anak kita 17:55 menjadi pelaku atau menjadi korban atau 18:00 menjadi saksi tindak pidana. 18:02 Identitas mereka itu tidak boleh bocor. 18:06 Ah. 18:07 Ayah 18:08 digital itu juga harus tahu terkait 18:13 dengan keberadaan undang-undang ini. Dan 18:17 hak-hak yang 18:19 telah diatur di sebuah peraturan 18:23 Presiden nomor 75 tahun 2020. 18:29 Baca tuh. Di sana tuh ada hak. 18:33 Misalnya 18:34 kalau anak kita identitasnya bocor ke 18:38 publik, terutama dia menjadi korban atau 18:42 jadi saksi 18:43 identitas anak kita itu 18:46 berhak untuk dirubah. Misalnya tadinya 18:49 dia nama A, berubah menjadi nama B. 18:54 Itu sudah diatur, Bunda Nuning. Iya. 18:56 Nah, bagaimana para ayah? Sudah tahu 18:58 belum nih? Sebagai ayah yang punya anak 19:02 laki-laki maupun anak perempuan, harus 19:05 tahu. 19:06 Dan 19:07 harus dipaksa tahu. 19:09 Tidak boleh masa bodoh. Nah, ini penting 19:12 sekali penekanannya ini. 19:14 Kemudian, undang-undang yang ketiga, 19:17 yaitu undang-undang nomor 27 tahun 2022 19:25 tentang perlindungan 19:28 data pribadi. 19:31 Sebagai ayah digital, 19:35 kalau tidak pernah membaca undang-undang 19:39 ini, bagaimana kita akan komplain 19:43 ke media, ke pemilik aplikasi, ke banyak 19:48 hal. 19:50 Karena presiden juga 19:52 melalui Komin, Komin Digi, itu sudah 19:56 menerbitkan peraturan pemerintah nomor 19:59 17 tahun 2025 20:02 tentang perlindungan anak di eh 20:06 lingkungan digital. 20:08 Harus kita baca itu semua. 20:11 Supaya 20:13 ada bahan untuk kita berdiskusi dengan 20:16 anak-anak kita. 20:18 Kadang-kadang kita akan kalah dengan 20:20 mereka kalau terkait dengan penguasaan 20:23 teknologi. Tetapi kalau 20:26 penguasaan terkait substansi peraturan 20:29 perundangan, kita mungkin lebih punya 20:33 pengalaman. Ah, ini juga menjadi 20:36 bahan-bahan diskusi untuk kita. 20:39 Kemudian, yang ada di Konvensi Anak 20:42 Bunda Nuning itu adalah 20:45 pasal 20:46 17. Informasi 20:49 layak anak. 20:50 Sebagai ayah 20:52 yang mendapat amanah untuk memastikan 20:56 anak-anak kita itu mengkonsumsi 20:59 eh informasi dari digital yang aman, 21:03 yang ramah 21:05 buat mereka, kita harus tahu 21:09 informasi apa saja yang 21:11 diproduksi 21:13 oleh berbagai aplikasi. 21:16 Kita tidak 21:18 harus mengetahui semua aplikasi, tetapi 21:22 perlu tahu siapa yang mengembangkan 21:26 aplikasi tersebut. Siapa yang mendanai 21:30 aplikasi tersebut, lalu 21:34 target aplikasi itu siapa? Dan yang 21:37 paling penting, apa sih misi mereka? 21:41 Kalau itu diketahui oleh setiap ayah, 21:45 itu menjadi bahan diskusi untuk bersama 21:49 anak-anak kita. Nah, misalnya nih 21:51 aplikasi game. 21:54 Kita tahu tuh siapa yang mengembangkan 21:56 aplikasi. Searching di Google 22:00 latar belakang si pengembang itu. 22:03 Kalau 22:04 kita tahu bahwa pengembang itu dulu 22:07 punya pengalaman menjadi 22:10 korban atau menjadi pelaku kekerasan, 22:15 kemungkinan besar 22:17 program-program atau aplikasi yang dia 22:20 kembangkan itu berisi hal-hal tersebut. 22:23 Seperti yang tadi kita bahas, seseorang 22:27 berbicara itu dipengaruhi oleh apa yang 22:29 dia baca, apa yang dia alami dan apa 22:34 yang dia rasakan akan pada saat dia 22:36 mengekspresikan itu. Ini juga kita perlu 22:39 tahu nih pengalaman si pengembang. 22:42 Lalu yang kedua, 22:43 kita perlu tahu siapa yang mendanai ini. 22:48 Kalau pendanaan dia punya misi untuk 22:51 merusak negara, sudah otomatis 22:55 aplikasi-aplikasi yang dikembangkan oleh 22:59 orang itu 23:00 tidak lari dari hal itu. Ah, ini 23:04 ini yang menjadi penting juga kita perlu 23:07 ketahui. Jadi, ayah yang hebat 23:10 tidak cukup bilang, "Wah, anakku sudah 23:13 bisa menggunakan 23:15 berbagai aplikasi yang ada di 23:18 gadget-nya." Tapi, kita harus tahu tuh. 23:21 Kalau kita sudah tahu akhirnya pada 23:25 titik temu pada saat kita berdiskusi 23:27 dengan anak. "Dek 23:30 atau Mas atau Mbak atau Kak 23:34 Papa hanya minta satu hal. 23:38 Apa yang terbaik kamu dapatkan dari 23:42 gadget itu, itu jadikan modal untuk 23:45 pengembangan dirimu. 23:47 Tapi, yang paling penting 23:50 kalau ada hal-hal yang terkait 23:54 dalam bentuk kekerasan 23:57 pornografi, 23:59 intoleransi 24:00 itu hanya menjadi pengingat bagimu untuk 24:06 tidak diekspresikan 24:08 ke publik." Ehm. Karena 24:11 kalau yang terbaik kamu ekspresikan, 24:14 kamu akan mendapatkan penghargaan. 24:17 Tetapi, kalau yang 24:20 tadi seharusnya kamu tidak ekspresikan 24:23 tapi hanya menjadi pengingatmu, kamu 24:25 akan mendapatkan cemoohan. Dan diri kamu 24:29 pasti akan dirugikan. Jadi, menarik kan 24:31 diskusi itu Bunda dan Huning ya. 24:33 Ehm. Ah, untuk itu ayahanda dan bunda 24:36 ini 24:37 tidak cukup kita hanya berkata-kata, 24:41 tetapi yang dibutuhkan hari ini adalah 24:45 ambil bagian. 24:46 Dengan cara memastikan 24:51 memahami 24:53 hak-hak anak yang diatur di dalam 24:56 Konvensi Hak Anak tadi pasal 13, pasal 25:01 16, pasal 17. Apakah sudah cukup 25:07 memahami itu? Belum. 25:10 Di pasal 13 itu ada Undang-Undang nomor 25:15 1 tahun 2024 25:20 tentang perubahan atas Undang-Undang 25:24 ITE. Nah, di situ tuh 25:26 pengaturan terkait dengan perlindungan 25:31 data elektronik anak itu dilindungi. 25:35 Untuk itu 25:36 setiap Ayah, kalau boleh Undang-Undang 25:38 itu baru tahun kemarin ya, Bunda Nuni. 25:40 He eh. 2024 25:42 dan nomornya 25:44 unik, nomor 1. Kita baca, kita pahami 25:49 dan 25:49 kemudian 25:51 akhirnya kita akan tahu juga terkait 25:54 dengan banyak hal. 25:56 Di dalam pasal 17 Konvensi Hak Anak 25:59 terkait dengan informasi layak anak, 26:02 para Ayah perlu juga nih, Bunda Nuni He 26:04 em. membaca Undang-Undang nomor 40 tahun 26:10 1999 26:13 tentang kebebasan pers. Ah, di situ tuh 26:16 oh, ternyata 26:19 anak-anak itu 26:22 identitas atau kasus-kasus dia tidak 26:26 boleh dipublikasi melalui media He em. 26:31 cetak. Ah, itu. 26:33 Baca. Terus, Undang-Undang 26:36 nomor 32 tahun 2000. Undang-Undang apa 26:40 itu, Bunda Nuni? 26:43 Tentang penyiaran. 26:47 Radio, televisi yang hari ini YouTube 26:51 belum diatur, Bunda Noni. 26:52 Iya. TikTok belum diatur. 26:55 Berarti siapa yang dapat mengatur itu 26:58 semua? 26:59 Untuk itu, kalau ayah-ayah hebat-hebat 27:02 ini sudah membaca berbagai undang-undang 27:04 ini, Heeh. 27:05 berarti ada kekosongan peraturan 27:08 perundangan. Kalau kita dorong 27:10 pemerintah, kita dorong pengusaha untuk 27:13 memastikan undang-undang, mereka kan mau 27:15 cari untung. 27:16 Iya. 27:17 Siapa yang harus memperjuangkan ini? 27:20 Kalau bukan kita saat memilih 27:24 anggota-anggota DPR yang duduk di DPR. 27:27 Nah, untuk itu perlu kecerdasan juga. 27:30 Apakah anggota-anggota DPR kita yang ada 27:34 di Komisi 1 itu 27:36 mereka 27:38 memperjuangkan tidak 27:40 anak-anak kita yang mungkin 27:44 sebagai ayah, sebagai kakek, sebagai 27:47 paman, mungkin ada yang eh miss. Ah, itu 27:52 yang mereka harus perjuangkan untuk 27:55 memastikan anak-anak kita itu mereka 28:00 berada di ruang 28:02 digital 28:04 yang aman, yang ramah, yang tidak ada 28:08 sekarang ini bullying. Kelihatan 28:11 pemerintah kelihatan eh 28:14 apa? 28:15 Tidak dapat berdaya 28:17 karena Iya. 28:19 tidak dikuatkan dulu ayah-ayahnya nih. 28:21 Ah, melalui pertemuan kita hari ini, 28:24 coba kita berusaha untuk memastikan 28:28 setiap ayah itu menjadi ayah digital. 28:32 Bukan harus menguasai semua aplikasi, 28:35 tapi hadir secara aktif dan terbuka. 28:41 Aktif dan terbuka. Terbuka di sini 28:44 artinya, Bunda Noni, Heeh. ya, dengan 28:46 anak kita, kita harus selalu berdiskusi 28:49 dengan mereka. Seperti tadi Bung 28:53 Ondi punya anak 28:57 ya langsung 28:59 melarang-larang berbagai hal yang 29:01 setelah dia nonton di gadget. Betul 29:04 enggak? 29:05 Biarkan mereka main game 29:09 sepuas-puasnya tetapi 29:11 ada time screen Mhm. atau screen time, 29:15 pembatasan penggunaan 29:18 eh gadget 29:21 misalnya 29:22 oke Ayah setuju 1 jam 29:26 setelah menggunakan gadget ingat sebelum 29:30 salat magrib Ayah pingin mendengar 29:33 cerita ceritanya itu banyak hal ini. 29:36 Coba dicatat ini Bung Ondi 29:39 apa saja yang perlu kita minta sama anak 29:41 kita. 29:42 Ayah sangat senang kamu bisa menggunakan 29:45 gadget. 29:47 Tapi boleh enggak 29:49 Ayah 29:50 dibagi cerita 29:52 siapa saja tokoh-tokoh yang ada di 29:55 gadget itu? Mhm. Lalu 29:58 dari tokoh-tokoh itu 30:00 apa saja yang kamu bisa 30:03 ambil yang terbaik untuk dirimu. Wah, 30:06 ini cerita tuh nanti. Oh, ini ya ini si 30:10 ini, si ini 30:11 tapi yang ini ya 30:13 kayaknya dia suka memukul eh temannya 30:17 atau lawannya. 30:17 Mhm. Ini kayaknya aku tidak mau 30:21 apa yang dia perbuat ini aku lakukan. 30:23 Nah, itu jadi diskusi hidup. 30:24 Iya. Untuk itu boleh enggak 30:28 Kak Adik atau Mbak nah, terserah kan, 30:32 terserah nama-nama anak kita kita 30:34 panggil apa saja sesuai dengan 30:37 eh 30:37 kebaikan para Ayah dan sudah disepakati 30:40 oleh anak kita 30:42 boleh enggak Ayah 30:45 mendapatkan dalam bentuk tertulis apa 30:48 yang kamu dapat? Wah 30:50 dia tulis itu Bunda Nuni 30:53 dia ingat tuh semua apa yang dia dapat 30:56 tuh masyaallah dan itu kemudian 30:58 didiskusikan dengan ayahnya 31:01 dari hasil diskusi itu kembali ada 31:04 penguatan 31:06 oke 31:08 tapi ada catatan nih 31:10 jadi diskusi jadi hidup 31:12 ya jadi saling terbuka antara si 31:17 anak dan si Ayah, Ayah 31:20 aku tadi 31:22 sempat tuh mengklik ada 31:26 iklan lewat aku klik 31:29 aku diajak untuk me berupaya untuk 31:33 mengakses, wah ini berarti ada sesuatu 31:36 nih tapi jangan khawatir Ayah, aku sudah 31:39 baca di atau aku punya cara untuk 31:42 mengatasinya, itu berarti si ayahnya 31:44 tadi belum tahu apa-apa 31:45 jadi tahu 31:46 nah tahu 31:48 ini menjadi penting 31:50 karena 31:51 hari-hari ini 31:55 hampir sebagian besar para Ayah memiliki 32:00 gadget 32:02 tapi pertanyaannya 32:05 sudah 32:06 menyediakan waktu tidak untuk 32:09 anak-anaknya 32:11 terutama anak-anak gadis-gadis mereka 32:16 karena 32:17 potensial untuk menjadi korban 32:22 eksploitasi kekerasan seksual 32:25 di ranah digital atau di ranah online 32:29 itu adalah mereka, ini menjadi penting 32:32 tak perlu coba 32:35 ajak diskusi mereka 32:37 Kalau sudah terbiasa sejak dari usia 32:41 dini. 32:42 Ehm. Lalu mereka masuk ke usia SD, 32:46 kemudian transisi ke SMP, sudah mereka 32:49 sudah mulai menghindar dengan ayah. Tapi 32:52 kalau mereka sudah diajak diskusi sejak 32:56 dari awal, insyaallah sampai kuliah pun 33:01 saya punya pengalaman, anak saya 33:03 sekarang 33:04 masih tetap berdiskusi dengan ayahnya 33:07 lewat WhatsApp atau lewat telepon atau 33:12 pada saat kami menjemput pada saat kami 33:15 mengantar, diskusi terus terkait banyak 33:18 hal. 33:19 Hanya dua hal yang saya ingin pastikan 33:21 Ehm. apa yang kamu dapat? Apa yang kamu 33:24 hindari? Dan itu menjadi sangat efektif 33:28 dan berharap nih 33:30 para ayah yang mendengarkan 33:33 siaran 33:34 yang kita 33:36 hadirkan hari ini, semoga bermanfaat. 33:39 Ini penting. 33:41 Ayah juga harus terus belajar. 33:45 Heeh. Untuk terus belajar, ini ada satu 33:48 dokumen kalau boleh dicatat 33:53 oleh para setiap ayah yang punya Google, 33:56 yang punya handphone. Ehm. 33:59 General Comment nomor 25 tahun 2021 34:06 tentang digital anak. Ah, itu dibaca tuh 34:10 Bunda Nini. 34:12 Dokumen ini disusun oleh Komite Hak Anak 34:18 PBB. 34:20 Para anggota komite ini 34:23 cuma punya satu tujuan menghadirkan 34:27 dokumen ini dan berharap dokumen ini 34:31 dibaca oleh setiap ayah. 34:35 Agar apa? Agar anak-anaknya aman, 34:39 terlindungi 34:41 dari lingkungan digital. Dan ini 34:46 topik ini sudah mulai ee 34:50 in lagi didiskusikan 34:53 di ee lembaga-lembaga dan juga 34:57 mulai mendapatkan perhatian 35:00 dari jurnal-jurnal internasional untuk 35:03 me 35:04 nampilkan call paper 35:07 agar para ee ilmuwan itu menulis tentang 35:13 kejadian-kejadian yang ada di sekitar 35:15 mereka. Untuk itu 35:17 bagaimana para ayah-ayah? 35:21 Penting tidak untuk membaca dokumen ini? 35:24 Ehm. Untuk itu 35:26 tidak perlu khawatir sekarang. Dokumen 35:28 itu memang disusun 35:31 sesuai dengan bahasa PBB, 35:34 bahasa Inggris. Nah, kita ambil. 35:37 Kita bisa minta sama AI, ChatGPT. 35:41 ChatGPT, 35:42 tolong cari dong 35:44 General Comment nomor 25 2021. 35:49 Resume untuk aku sebagai ayah yang 35:54 memiliki anak yang berusia ah tinggal 35:57 sebut. 35:58 Iya. Anak perempuan, anak laki. Insya 36:01 Allah ChatGPT dengan senang hati akan 36:05 bantu kita dalam me resumekan 36:09 dokumen-dokumen ini. Ehm. Ini mungkin 36:12 yang bisa kita sampaikan dalam pertemuan 36:16 ini. Kalau ada hal-hal yang perlu kita 36:19 diskusikan. Wah, ini menarik ya, Bunda 36:21 Nining. Iya. Sekian. Asalamualaikum 36:23 warahmatullahi wabarakatuh. 36:25 Waalaikumsalam warahmatullahi 36:27 wabarakatuh. Jadi, ikhwan akhwat era 36:31 sekarang ini, era digital memang ya, 36:34 memudahkan komunikasi 36:36 tentang informasi, tetapi juga sekaligus 36:41 seperti yang tadi kita dengar 36:42 memunculkan kesenjangan kalau kita 36:44 sebagai orang tua, terlebih-lebih di 36:46 sini sebagai ayah 36:49 eee 36:50 kurang 36:51 punya waktu untuk berada bersama buah 36:54 hati kita. 36:56 Dokter Hamid boleh langsung ke 36:57 pertanyaan ya. Baik. 37:00 Eee ayah itu, ini dari seorang ibu ya, 37:03 tidak disebut namanya. Ayah itu di luar 37:05 rumah seharian, pastilah lelah. Kalau 37:08 pulang perlu istirahat. Jadi, idealnya 37:11 bagaimana dengan ayah yang sibuk seperti 37:15 ini, apa pula yang harus dilakukan 37:17 sebagai istrinya yang lebih banyak waktu 37:21 di rumah. Terima kasih. 37:22 Baik, terima kasih bunda yang memiliki 37:27 suami yang super sibuk, sesibuk-sibuknya 37:32 eee seorang ayah 37:34 kemungkinan besar dia akan meluangkan 37:37 lima waktu untuk ibadah kepada Allah. 37:41 Ehem. Tetapi ada waktu senggang, 37:44 terutama di hari Sabtu atau di hari 37:47 Minggu atau di hari-hari tertentu. Nah, 37:51 untuk itu 37:53 topik yang kita bahas hari ini 37:56 ibu di rumah 37:58 dapat membuat resume dan itu menjadi 38:02 bahan diskusi di tempat tidur. Nah, bisa 38:06 nih. Ehem. Ayah tadi aku mendengar Radio 38:10 Rasial membahas topik ini. Topik apa 38:13 itu? Nah, kalau ada sudah ada pancingan 38:16 seperti itu, berarti ada sesuatu 38:18 perhatian. 38:19 Ini nih, coba kita lihat bersama-sama. 38:23 Tadi aku dengar kayaknya ada istilah 38:26 konvensi hak anak. 38:29 Cari tuh. 38:30 Apa itu konvensi hak anak? 38:33 Tadi ada pasal 13, pasal 16, pasal 17. 38:38 Baca. 38:39 Tapi tidak cukup di situ ya, ada 38:41 undang-undang. Materi-materi itu semua 38:44 jadi bahan diskusi. 38:46 Lalu minta nih komitmen dari ayah. 38:50 Gimana nih ya, ayah punya peran penting 38:54 untuk memastikan 38:56 selain bunda di rumah, tapi anak kita 39:01 perlu sosok yang dia akan selalu dengar 39:06 apa yang keluar dari mulut ayahnya, itu 39:10 yang kemudian selalu di benarkan oleh 39:13 bunda, itu akan semakin menguatkan. 39:18 Untuk itu boleh enggak cari waktu kapan 39:21 saja? 39:22 Bukan mungkin hari ini tidak bisa, cari 39:25 waktu saja. 39:27 Berdiskusi dengan anak-anak kita. 39:32 Mau mulai anak yang tertua kah? 39:35 Anak yang tengah kah? Atau anak yang 39:38 paling adik? Ini menjadi penting. Wah, 39:41 kan anak kita yang tua sudah nikah, kan 39:43 dia punya anak juga, cucu kita. Itu juga 39:47 perlu untuk mendapatkan informasi. 39:49 Dan 39:50 ini 39:52 tidak ada eh 39:55 waktu yang 39:57 kita eh hilang, cari saja. Untuk itu 40:01 bunda yang hebat, bagaimana memastikan 40:05 ada komitmen dari suami kita untuk ambil 40:09 bagian berdiskusi dengan anak apa yang 40:13 dia dapat dari gadget-nya dan apa yang 40:16 perlu dia hindarkan dan di akhir itu 40:18 nanti 40:19 si Ayah hanya 40:21 ingin memastikan 40:22 setiap momen boleh enggak Ayah dapat 40:27 catatan kecil dari apa yang kamu 40:31 lihat He em. apa yang kamu mainkan, apa 40:34 yang kamu share, apa yang kamu 40:38 baca, apa yang kamu tonton 40:40 dengan begitu 40:42 semakin 40:44 eh mendorong Ayah untuk mencari uang 40:46 yang banyak agar kamu menjadi anak yang 40:49 hebat. Wah, itu jadi penting. 40:52 Kapan itu? Hanya 40:53 Bunda yang hebat yang mampu meyakinkan 40:57 suaminya. Seharusnya dibalik ya. He eh. 40:59 Harusnya 41:00 [berdehem] 41:00 suaminya yang harus memastikan istrinya 41:03 untuk selalu memberi informasi atau 41:08 memberi peringatan atau kabar gembira 41:11 kepada anak-anaknya di rumah. Demikian. 41:14 Yang jelas harus kompak antara Ibu dan 41:16 Ayah yang mana yang memang 41:19 sampai waktunya harus diberitakan ya. 41:24 Ini ada pertanyaan yang bukan pertanyaan 41:26 sih, seperti informasi dari Ibu Ida. 41:30 Katanya 41:32 buah jatuh tak jauh dari pohonnya. 41:35 Kalau 41:37 kita berharap anak kita berwarna biru 41:40 sementara kita Ayah Ibunya warnanya acak 41:42 adul, itu 41:45 usaha seperti apa yang harus dilakukan? 41:48 Karena dunia kami waktu masih anak-anak 41:52 dengan 41:53 dunia sekarang beda banget. 41:56 Mohon petunjuknya. Iya. 41:59 Terima kasih Bunda yang 42:01 sudah berusaha untuk memberi gambaran 42:05 yang menarik. He em, he em. 42:09 Anak itu 42:11 adalah cerminan dari ayah dan ibunya. 42:15 Terutama di usia 0 sampai 8 tahun. He 42:21 em. 42:22 Kalau 42:23 di momen 42:25 itu ayah Anda dan bunda benar-benar 42:29 menjadi pendidik pertama dan utama 42:32 insyaallah akan terbentuk sekitar 80% 42:37 kecerdasan anak itu He em. akan kita 42:41 lihat 42:42 sampai dia dewasa. 42:45 Tetapi 42:46 kalau itu kita tidak ambil 42:49 yang kemudian ada pihak luar yang akan 42:54 merebutnya. Sekarang 42:58 siapa nih yang 43:00 mau eh ambil peran nih 43:03 kita membiarkan anak kita di usia 0 43:06 sampai 8 tahun itu dikuasai oleh 43:10 pengaruh-pengaruh dari luar He em. 43:12 atau kita yang mempengaruhi mereka 43:15 sehingga akan lahir anak-anak yang 43:17 hebat. 43:19 Kalau 80% 43:22 ini berhasil dibentuk oleh para ayah dan 43:26 bunda di rumah yang mendapatkan status 43:29 langsung dari Allah sebagai pendidik 43:33 pertama dan utama insyaallah yang sisa 43:37 20% itu itu tinggal konfirmasi. 43:42 Kuncinya sederhana. 43:43 Ayah hari ini aku dapat ini loh, menurut 43:47 ayah bagaimana nih? 43:49 Sama seperti 43:51 bunda saat ini pasti selalu 43:54 kalau sudah terbiasa bertanya sama ayah, 43:57 sama ibu atau sama paman atau sama bibi, 44:02 sama orang-orang yang kita anggap 44:04 sebagai orang tua 44:05 itu 44:08 rasanya 44:09 terkonfirmasi apa yang aku pahami itu 44:12 mendapat dukungan dari orang yang aku 44:16 anggap sebagai orang tua. Nah, ini 44:18 menjadi penting. 44:21 Dan 44:22 kalau setiap ayah sudah berhasil 44:24 mendampingi anaknya 44:27 insyaallah Ehm, ehm. pada saat dia 44:29 menjadi ayah-ayah untuk anak-anaknya ada 44:33 di luar, perlakuan yang sama akan 44:36 terjadi pada anak-anak tersebut. 44:40 Tinggal 44:42 apakah kita siap untuk mengambil itu. 44:45 Ini pilihan. Iya. Kalau kita memilih 44:49 yang terbaik, insyaallah kita akan 44:51 menghasilkan yang terbaik. Tetapi kalau 44:54 kita melakukan pengabaian 44:57 di situ kita telah melakukan kekerasan 45:00 pada anak-anak, baik itu anak kita 45:04 sendiri Ataupun 45:05 maupun anak-anak Indonesia yang ada di 45:08 luar pagar rumah kita. Itu mungkin 45:11 anak-anak. 45:12 Baik, ini ada cerita sedikit menarik 45:14 dari sayang sekali enggak disebut 45:16 namanya. Pernah waktu kami kumpul, Mbak 45:18 Nuning 45:21 di antara ibu-ibu, oh ibu-ibu arisan 45:25 itu 45:26 kalau seorang anak laki-laki ingin 45:30 seperti ayahnya 45:32 kayaknya 45:33 jarang ya bisa kita dapatkan di dalam 45:36 obrolan itu bahkan dibahas juga kalau 45:40 yang anak perempuan pengen punya suami 45:42 dengan sosok seperti ayahnya. Untuk 45:45 menciptakan ini semua diskusi kami 45:47 sampai berlama-lama enggak kelar-kelar. 45:50 Mohon gambaran dari Pak Hamid. Iya. 45:54 Baik, terima kasih, Bunda. 45:56 Ah, untuk itu 45:58 cari waktu, eh Eh, rekaman kita dari eh 46:04 pertemuan pertama sampai pertemuan hari 46:06 ini dan ada lagi beberapa pertemuan atau 46:10 membaca buku kami ada di Amazon tuh. He 46:14 em. Terkait eh 46:17 ayah bukan hanya menjadi tulang punggung 46:20 tetapi dia harus eh berperan. Salah 46:24 satunya topik yang 46:26 eh dibahas topik hari ini. He em. 46:29 Bagaimana menjadi ayah digital. 46:33 Iya, jadi memang ya 46:36 kehadiran ayah yang paham dengan dunia 46:39 anak sekarang ini diperlukan sekali. 46:43 Ehm, kalau yang anak perempuan pengin 46:46 punya 46:48 suami seperti ayahnya itu berarti 46:50 ayahnya luar biasa banget ya sudah ya di 46:52 mata si anak ya. Mendapat pendampingan, 46:55 mendapatkan pembimbingan dan dia 46:58 mendapatkan 46:59 kenyamanan, ketenangan. 47:02 Jadi 47:04 Pak 47:05 aku boleh tanya enggak? Ah, itu kalau 47:07 sudah seperti itu dia eh mau bertanya 47:12 itu berarti kita 47:14 sudah mendapatkan apa tuh? Sesuatu. 47:18 Tapi aku malas bertanya sama ayah. Ah, 47:21 berarti ada sesuatu yang membuat 47:23 Ayahnya enggak suka diskusi. membuat 47:24 [tertawa] dia trauma. Apa nih? 47:27 Tanya-tanya. 47:28 Cari di Google. 47:31 Oke, ayahanda dan bunda ini menjadi hal 47:34 yang penting. Tidak ada yang terlambat. 47:37 Kita bisa belajar dari apa yang 47:39 dilakukan oleh Rasulullah. 47:42 Rasulullah sebagai pendidik 47:45 beliau 47:46 belajar dan mengajar. He em. Balik, 47:49 perhatikan. Ada kata 47:51 beliau belajar dan mengajar. Belajar 47:54 dari dari Bunda Nuning? 47:56 Belajar dari anak-anaknya. Ehm, ehm. 48:00 Atau belajar dari anak-anak yang ada di 48:03 sekitarnya. Atau belajar dari 48:06 sahabat-sahabatnya. 48:08 Ehm, ehm. Kemudian 48:09 mengajar apa yang beliau dapatkan dari 48:13 satu anak, dia ajarkan untuk anak-anak 48:17 yang lain. Untuk itu perkaya baik 48:21 perkaya dengan membaca buku sirah 48:25 nabawiyah dan sirah sahabat. Nah, di 48:28 Radio Rasid itu ada juga siaran terkait. 48:31 Tapi yang membawa topik itu sudah 48:34 diundang oleh Allah lebih dahulu dari 48:37 kita ya. 48:39 Kemudian 48:40 ini menjadi penting juga agar kita 48:44 menjadi sosok seperti itu 48:47 coba 48:48 ikuti apa yang dilakukan oleh Khalifah 48:52 Umar. Ehm, ehm. 48:54 Untuk proses tadi itu sebetulnya. 48:56 Beliau 48:58 pada saat istrinya 49:00 omel, marah-marah 49:03 Khalifah Umar 49:04 diam 49:06 merekam semua apa yang atau menyedot 49:09 semua energi negatif dari eee istrinya 49:14 dengan tujuan hanya satu 49:17 jangan sampai istrinya masih punya 49:19 energi negatif untuk besok hari karena 49:23 Khalifah Umar akan banyak bekerja, 49:26 apalagi mengurus negara itu ya. 49:28 Atau mengurus banyak hal 49:31 di rumah 49:32 anak-anaknya bersama istri yang sudah 49:36 tidak ada energi negatif untuk memarahi 49:40 anak-anaknya. 49:41 Hari ini 49:43 korban kekerasan 49:45 yang banyak pelaku di rumah itu adalah 49:49 ibu dan korbannya adalah anak-anak 49:53 perempuan. Masya Allah. 49:55 Dan itu yang kemudian anak-anak 49:57 perempuan ini akan menjadi 50:00 ibu. 50:01 Kalau itu tidak mendapatkan 50:04 pendampingan, pembimbingan yang baik, 50:07 mereka akan memproduksi hal yang serupa 50:11 kepada anak-anak mereka. Untuk itu, 50:15 ambil bagian. 50:17 Siapa nih kuncinya? Ayah. 50:20 [tertawa] 50:20 Pertama, setiap ayah harus menguasai 50:23 berapa undang-undang tadi, Bunda Nuni? 50:25 Ada sekitar 50:27 eh enam undang-undang. 50:29 Ehm, ehm. Semoga apa yang kita bicarakan 50:32 hari ini mendapatkan berkah 50:36 dan kita berharap Allah selalu 50:39 memberikan cahaya kepada kita yang hari 50:42 ini sudah lembut, semoga 50:46 lebih lembut lagi. Demikian. 50:48 Asalamualaikum warahmatullahi 50:50 wabarakatuh. 50:51 Waalaikumsalam warahmatullahi 50:53 wabarakatuh. Jadi, ikhwan akhwat, apa 50:56 yang kita dengar sekarang terkait dengan 50:58 menjadi ayah digital? Kalau misalnya 51:01 ayah enggak dengar, bisa dilihat lagi di 51:04 eh 51:06 YouTube-nya Rasel TV, ya. 51:10 Ayah yang aktif dan terbuka, sering 51:13 mengajak diskusi terhadap kondisi apapun 51:16 dengan anak-anak. Apalagi kalau tadi 51:19 yang Dok Arham bilang, minta anak-anak 51:22 menuliskan apa yang didapat yang eh dia 51:27 pahami dari ke asikannya di medsos, luar 51:30 biasa banget, ya. Sekali lagi, Dokter 51:32 Hamid, terima kasih banyak. 51:33 Mudah-mudahan akan ada nih pelatihan 51:37 yang khusus untuk ayah-ayah yang paham 51:41 dengan dunia anak-anak sekarang, ya. 51:43 Billahi taufik wal hidayah. 51:45 Wassalamualaikum warahmatullahi 51:46 wabarakatuh. 51:47 Waalaikumsalam.