Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:07 Brail TV. 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 0:17 warahmatullahi wabarakatuh, ikhwan 0:19 akhwat rahimakumullah. 0:22 Senang sekali. Alhamdulillah kita dapat 0:24 bersama-sama di acara perlindungan anak 0:28 yang mudah-mudahan membuat kita mampu 0:32 menjadi sosok yang memang sangat 0:33 dibutuhkan oleh anak-anak tercinta kita 0:37 yang akan membuat Indonesia menjadi jauh 0:40 lebih bercahaya. Ya, tidak lupa salam 0:42 selawat kita lantunkan untuk junjungan 0:45 umat kekasih kita Muhammad Rasulullah 0:48 sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak 0:50 kita dipertemukan beliau di saat-saat 0:52 yang sangat kita rindukan di yaumil 0:54 akhir. Ikhwan akhwat, seperti biasa 0:56 perlindungan anak menghadirkan Dr. Hamid 0:59 Patil 5 yang sudah siap untuk mengisi 1:04 tabung jiwa kita dengan bahasan yang 1:07 bisa jadi kalau Anda sudah lihat di 1:10 flyer-nya ee radio silaturahim adalah 1:13 bicara tentang hak anak disabilitas. 1:15 Tapi untuk lebih tepatnya kita sapa 1:18 beliau terlebih dahulu. Asalamualaikum 1:19 warahmatullahi wabarakatuh. 1:21 Waalaikumsalam. Apa kabar Bunda? 1:23 Alhamdulillah Dr. Hamid juga sehat ya. 1:26 Alhamdulillah insyaallah. Terkait dengan 1:28 ee disabilitas yang akan kita bahas kali 1:31 ini itu berbasis apakah gerangan? 1:36 Berbasis konvensi hak anak. Nah, 1:39 persisnya jadi seperti itu ya. Bagaimana 1:42 hak anak disabilitas terkait dengan 1:46 berbasis konvensi hak anak? Silakan, Dr. 1:49 Hamid. Baik, terima kasih Bunda. 1:53 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 1:55 warahmatullahi wabarakatuh. 1:57 Waalaikumsalam pendengar Radio Rasil di 2:00 mana saja berada. 2:02 Alhamdulillah kita masih diberi 2:04 kesempatan oleh Allah hari ini untuk 2:07 berbagi informasi insyaallah terkait 2:10 dengan pemenuhan hak anak 2:13 disabilitas berbasis konvensi hak anak. 2:18 Bunda Nuning sebetulnya berbicara 2:20 terkait 2:21 dengan anak disabilitas ini, ini 2:26 gabungan dari beberapa 2:29 konvensi sebagaimana kita sudah bahas 2:32 sudahudah 2 minggu yang berturut-turut 2:34 ya. ini yang ketiga. Kali ini kita akan 2:38 coba lihat bagaimana tantangan dan upaya 2:41 apa yang perlu kita lakukan terkait 2:44 dengan pemenuhan hak anak ini. Ayahanda 2:48 dan bunda di 2:50 rumah, 2:51 insyaallah pada kali ini coba kita lihat 2:57 ada dua konvensi yang mengatur terkait 3:01 dengan pemenuhan hak anak disabilitas 3:03 ini. Heem. pertama yaitu terkait dengan 3:07 konvensi hak anak. Sebagaimana kita 3:10 ketahui Indonesia telah meratifikasi 3:14 konvensi H anak ini melalui keputusan 3:17 Presiden nomor 36 tahun 1990. 3:24 He 3:25 yang 3:27 kemudian melalui keputusan presiden ini 3:31 ada satu tuntutan atau konsekuensi di 3:36 mana semua peraturan perundangan yang 3:38 terkait dengan anak itu harus merujuk 3:42 kepada konvensi H anak. di konvensi 3:46 Hanak ini terkait dengan anak 3:49 disabilitas, ada beberapa prinsip dan 3:53 ada ketentuan-ketentuan yang mengikat 3:56 yang perlu harus dipenuhi oleh 3:59 negara-negara pihak yang telah 4:01 meratifikasi konvensi hanak tersebut. 4:03 Antara lain 4:05 yaitu terutama ayahanda dan bunda di 4:08 rumah. bagaimana supaya konvensi Hana 4:11 ini 4:13 terimplementasi. Terkait dengan siaran 4:16 kali ini, kita lebih fokus kepada ayah 4:19 Anda dan bunda yang memiliki anak 4:21 abilitas. He kita tidak bicara dengan ee 4:24 keluarga-keluarga yang memiliki anak 4:27 disabilitas karena mereka sudah 4:30 mengalami tantangan bagaimana memenuhi 4:33 hak-hak anak mereka dan juga mereka juga 4:36 mengalami kadang-kadang ya ee stigma dan 4:41 penolakan. Nah, untuk itu apa yang perlu 4:45 kita lakukan terkait 4:47 dengan pemenuhan hak 4:51 anak? Disabilitas berbasis konvensi anak 4:55 dari aspek ayahanda dan bunda yang 4:58 memiliki anak abilitas atau anak-anak 5:01 yang tidak ada masalah. Ya, pertama yang 5:05 perlu kita bangun itu prinsip 5:09 nondiskriminasi di sana. 5:12 Salah satu hal yang perlu kita 5:15 perhatikan bahwa kita tidak ee melakukan 5:18 diskriminasi terhadap anak disabilitas. 5:21 Ini menjadi poin penting dari prinsip 5:24 non diskriminasi. Lalu yang kedua yang 5:28 perlu kita mulai bangun terkait 5:32 dengan kepentingan terbaik bagi anak. 5:36 Pasti setiap anak 5:38 anak itu berharap 5:41 mereka hak-haknya terpenuhi dan mereka 5:44 selalu diperhatikan. 5:47 dan ayah Anda dan bunda. Ini yang 5:50 menjadi menarik terkait dengan bagaimana 5:53 kita memenuhi hak anak 5:56 ee terutama anak disabilitas dengan 6:00 memberi ruang kepada anak kita untuk 6:04 bermain dengan teman-temannya. Heeh. 6:06 Karena di balik itu ada 6:11 satu hal yang mungkin mereka tidak 6:15 akan 6:17 dapat dari sekolah atau dari 6:22 rumah itu hanya didapat melalui mereka 6:25 diberi akses bermain dengan anak-anak 6:28 disabilitas. 6:29 banyak Bunda Nuning ee anak-anak yang 6:33 abilitas itu mendapatkan pelajaran 6:36 bagaimana dari anak-anak disabilitas 6:39 pada saat mereka diberi kesempatan 6:43 bermain oleh orang tuanya. Karena di 6:45 balik itu ada kepentingan terbaik bagi 6:47 anak untuk membangun rasa 6:51 empati, lalu ee respon, kemudian 6:56 kepedulian. 6:58 di mana anak-anak kita itu dengan mereka 7:01 diberi kesempatan bermain dengan 7:03 anak-anak disabilitas terbangun hubungan 7:06 yang secara harmonis antara anak 7:10 disabilitas dan anak disabilitas itu 7:13 saling mengisi terutama terkait dari 7:16 aspek ee apa kemampuan ya mungkin anak 7:21 disabilitas tidak memiliki kemampuan 7:23 misalnya kalau disabilitas fisik ee 7:26 gunakan bagian-bagian tubuhnya. Tapi di 7:30 sisi lain dia memiliki keunggulan yang 7:33 kemungkinan keunggulan itu tidak 7:35 dimiliki oleh anak kita. Dengan dia ee 7:40 berinteraksi lalu diberi kesempatan 7:43 untuk saling kenal mengenal, insyaallah 7:46 anak kita akan berkembang secara utuh. 7:49 Nah, itu kepentingan terbaik bagi anak 7:52 kita. Itu yang juga perlu kita harus 7:54 perhatikan. Tapi yang paling tahu 7:56 kepentingan terbaik bagi anak itu 7:58 sebetulnya anak itu sendiri. Ah, 8:00 bagaimana caranya untuk mendapatkan itu? 8:04 Mau tidak mau kita harus selalu 8:05 berinteraksi dengan anak kita. Kita 8:07 tanya, "Nak, bagaimana ya tadi kamu 8:10 bermain dengan temanmu yang tidak 8:13 memiliki kemampuan untuk mendengar. Itu 8:16 bagaimana interaksinya?" Ah, di situ kan 8:18 ada ee proses pembicaraan yang 8:22 disampaikan oleh anak kita dan otomatis 8:26 kita juga tidak mengetahui informasi 8:28 banyak terkait dengan anak 8:31 disabilitas dari berbagai bentuk itu. 8:33 Akhirnya kita akan belajar dari anak 8:36 kita sendiri. Ini ini menjadi penting. 8:40 Lalu yang tidak kalah penting yang 8:41 ketiga itu prinsip partisipasi. 8:46 anak-anak berhak untuk ee didengar dan 8:50 berpartisipasi dalam pengambilan 8:53 keputusan yang mempengaruhi mereka. 8:57 Termasuk di dalamnya juga anak-anak 8:59 disabilitas. A bagaimana ayahanda dan 9:02 bunda di rumah yang kemungkinan besar 9:05 juga mendapat amanah 9:08 menjadi kepala sekolah atau menjadi guru 9:13 juga menjadi pengelola puskesmas atau 9:18 pengelola fasilitas-fasilitas umum di 9:21 mana ee selain ee anak-anak abilitas 9:26 kita dengar pandangannya he juga tidak 9:29 kalah penting juga ayahanda dan bunda 9:31 coba sekali-sekali kita bertanya kepada 9:36 ee anak-anak disabilitas. 9:38 Bila anak-anak disabilitas itu mengalami 9:42 ee kita sendiri mengalami hambatan untuk 9:45 berkomunikasi dengan 9:47 mereka, kan ada juga orang-orang yang 9:50 ada di sekitar mereka itu kita bisa ajak 9:54 berdiskusi. Jadi penting juga ya 9:57 berdiskusi dengan guru atau berdiskusi 9:59 dengan orang tuanya. Tapi yang tidak 10:01 kalah penting juga sekali-sekali kita 10:04 menggunakan teknik-teknik yang digunakan 10:07 oleh guru-guru atau oleh orang tua yang 10:09 memiliki anak disabilitas untuk kita 10:12 menampung ee aspirasi mereka. 10:16 Mungkin ada sebagian anak yang 10:19 disabilitas fisik kemungkinan besar dia 10:21 masih bisa berbicara dengan kita secara 10:23 lantang atau anak-anak yang tuna bicara 10:28 melalui ee komunikasi. dengan bahasa 10:31 mereka itu mereka mampu menyampaikan. 10:34 Begitu juga dengan orang-orang yang 10:36 memiliki keterbatasan untuk melihat, 10:39 mereka masih bisa 10:42 berbicara. Ini yang kemudian perlu kita 10:47 akomodasi di dalam berbagai hal, antara 10:50 lain dalam 10:52 pengambilan 10:54 atau pembuatan kebijakan. Nah, ini 10:58 orang-orang disabilitas, anak-anak 11:00 disabilitas ini juga perlu kita dengar. 11:03 Lalu yang kedua, pada saat kita mau 11:06 menyusun program, program apa saja? di 11:09 rumah, di lingkungan tempat anak 11:12 bermain, di sekolah atau di fasilitas 11:18 kesehatan atau di fasilitas umum yang 11:24 kemungkinan pada kesempatan-kesempatan 11:27 tertentu ada anak-anak 11:29 disabilitas menggunakan fasilitas 11:32 seperti itu. Ambil contoh Bunda dekat 11:34 dari kita ini ada alun-alun Kota Depok. 11:37 Ah, di sana ada komunitas-komunitas 11:40 anak-anak disabilitas itu mengakses 11:42 fasilitas itu. Kalau sejak dari awal ee 11:47 para pembuat kebijakan, para penyusun 11:50 program itu sudah mengakomodasi mereka, 11:54 apalagi di ee konvensi itu ada juga 11:57 namanya ee penekanan desain 12:01 universal, para pembuat kebijakan 12:03 insyaallah akan mulai mengakomodasi. 12:06 Lalu kemudian para pelaksana teknis. 12:09 Nah, para pelaksana teknis ini sebagai 12:12 mereka yang selalu berhubungan langsung 12:14 dengan anak-anak baik anak habilitas 12:17 maupun anak-anak disabilitas terutama 12:20 juga orang tua di rumah ini. Kemudian 12:23 mereka itu juga harus coba tanya-tanya 12:27 apa sih 12:29 maunya anak-anak disabilitas? 12:32 apa yang membuat mereka itu mengalami ee 12:36 masalah dalam 12:38 mengakses, dalam mendapatkan layanan, di 12:42 dalam 12:43 berkomunikasi dalam banyak hal dengan 12:47 kita me berikan kesempatan kepada mereka 12:51 untuk berbicara. Ini yang menarik Bunda 12:55 Nuning. Di Undang-Undang 35 tahun 2014 13:00 tentang ee perlindungan anak itu salah 13:03 satu pasal di pasal 24 itu di sana 13:07 dinyatakan bahwa negara pemerintah 13:10 pemerintah daerah 13:12 menjamin suara anak didengar sesuai 13:15 dengan usia dan kecerdasan. Berarti 13:17 termasuk di dalamnya juga anak-anak 13:19 disabilitas. 13:20 Apalagi yang perlu kita sanksikan? Sudah 13:24 ada peraturan perundangan, sudah ada 13:26 konvensi, 13:28 tinggal ada enggak kemauan dari kita? 13:31 Ini menjadi satu hal yang menarik untuk 13:36 terus-menerus kita pengaruhi, terutama 13:38 ayahanda dan bunda yang memiliki 13:40 anak-anak abilitas. 13:42 Itu prinsip yang ketiga. Tapi prinsip 13:45 yang keempat juga atau ini juga masuk ke 13:47 dalam ketentuan sebetulnya yaitu semua 13:51 anak berhak atas akses yang sama ke 13:55 semua hak termasuk hak pendidikan. 13:59 Bagaimana nih 14:01 anak-anak ee disabilitas? Apakah mereka 14:05 sudah terakses tidak ke pendidikan ee 14:08 inklusi? Apa persoalannya itu, Bunda 14:10 Nuning? He bukan pada anak-anak 14:14 disabilitas, tapi bagaimana kesiapan 14:17 dari orang tua yang memiliki anak 14:22 abilitas di mana 14:24 mereka memasukkan anaknya ke sekolah 14:28 baik itu dari PAUD, SD, SMP, 14:33 SMA atau madrasah Tsanawiyah, Aliah lalu 14:39 SMK itu 14:41 mereka bersedia enggak memberi akses 14:44 kepada anak-anaknya untuk bermain dengan 14:46 anak-anak 14:48 disabilitas? Bersedia tidak ee sekolah 14:52 ee di mana anaknya bersekolah itu 14:54 anak-anak disabilitas itu diberi ruang? 14:59 Kalau sekolah punya kebijakan, sekolah 15:02 inklusi, 15:06 tapi anak-anak ini tidak mendapat 15:08 dukungan dari orang tuanya, akhirnya 15:12 anak-anak disabilitas itu mereka 15:16 aksesnya terhambat. Ah, untuk itu coba 15:19 mulai kita bangun sebuah ee kesadaran ee 15:23 bahwa 15:25 di sekolah kita itu kalau boleh kita 15:28 dorong menjadi sekolah inklusi dari 15:30 aspek orang tuanya Bunda nih. Karena 15:33 banyak orang tua yang memiliki anak-anak 15:37 disabilitas itu mengalami kesulitan 15:40 terutama ee menyangkut bagaimana anaknya 15:43 bisa terakses karena sudah ada 15:45 penolakan. penolakan ini yang kemudian 15:49 kalau boleh kita sudah mulai ee kurangi 15:51 atau kalau boleh tidak ada lagi sehingga 15:55 sekolah kita menjadi sekolah inklusi. 15:57 itu dari aspek pendidikan ya Bunda aspek 16:01 kesehatan 16:02 bagaimana petugas-petugas 16:05 kesehatan yang otomatis dia tidak boleh 16:08 menolak ya semua yang akan ee meminta 16:12 pelayanan terutama terkait dengan 16:15 pencegahan lalu sampai ke ee penanganan 16:18 medis itu tidak ada ee penolakan. Ah, 16:23 untuk itu bagaimana akses anak-anak yang 16:27 disabilitas itu ke layanan kita? Apakah 16:30 sudah ada enggak ee parkir khusus 16:34 disabilitas? Ada enggak akses untuk 16:36 kursi roda atau akses yang memudahkan ee 16:40 yang disabilitas itu terpenuhi. Dan 16:43 tidak kalah penting juga di sana itu 16:46 mereka-mereka yang abilitas atau 16:49 orang-orang yang tidak mengalami 16:52 gangguan yang permanen itu dengan penuh 16:57 sukacita menciptakan ruang yang nyaman, 17:00 ruang yang apa ee akhirnya anak-anak 17:04 disabilitas dan keluarganya terutama itu 17:06 tidak merasa tertolak malah justru 17:09 merasa diterima. itu bagaimana itu 17:12 benar-beningnya? 17:14 Oh, yang misalnya nih kursi ini sudah 17:18 penuh semua karena ada yang disabilitas 17:20 mau masuk ini semua orang berdiri dengan 17:23 ee keikhlasan mau subhanallah fasilitas 17:26 itu tergantung dari bagaimana kita 17:29 membangun pemahaman dan sebetulnya itu 17:32 kita persiapkan dari uzi 17:35 anak itu menjadi 17:38 penting hal-hal yang terkait dengan 17:41 konvensi 17:43 Tapi untuk disabilitas sendiri itu ada 17:46 satu konvensi 17:49 konvensi ee hak penyandang 17:54 disabilitas. Ah di Indonesia itu Bunda 17:56 Nuning, konvensi ini telah 17:59 diratifikasi melalui 18:02 Undang-Undang Nomor ee 19 tahun 2011. 18:07 sudah berapa tahun yang lalu itu pening. 18:10 Coba ayah Anda dan bunda di rumah 18:14 ee googling ketik undang-undang ee hak 18:19 penyandang disabilitas atau 18:23 konvensi penyandang e konvensi hak 18:27 penyandang disabilitas. Insyaallah di 18:29 situ kita akan ee 18:32 temukan dan kalau boleh dibaca, 18:35 dipahami, dan kalau boleh di-share ke 18:38 tetangga tetangga WhatsApp ya. Enggak 18:40 pulau tetangga sebelah juga kalau ada 18:42 WhatsApp boleh. Atau kalau mereka tidak 18:44 punya WhatsApp kita print kasih 18:47 nih. Akhirnya kita sama-sama akan 18:50 memiliki pemahaman yang sama. Oh, 18:52 ternyata anak-anak disabilitas ini 18:56 secara internasional mereka itu diatur 19:01 melalui sebuah ee konvensi. Konvensi itu 19:05 sebetulnya 19:06 perjanjian. Perjanjian di mana 19:08 kepala-kepala negara berjanji untuk 19:12 memenuhi hak-hak penyandang disabilitas. 19:16 Termasuk di sana adalah anak-anak 19:19 disabilitas. Apa saja? ee 19:21 prinsip-prinsip yang perlu kita ketahui 19:24 dari konvensi ini meskipun beberapa 19:26 waktu yang lalu sudah kami ungkapkan, 19:29 tapi ini perlu menjadi pengetahuan dasar 19:33 agar kita mulai hari ini insyaallah kita 19:36 akan lebih peduli kepada mereka-mereka 19:39 yang disabilitas. pertama 19:43 di ee konvensi itu prinsipnya adalah 19:47 kebebasan dan otonomi. H. Jadi berilah 19:52 anak-anak disabilitas itu 19:55 kebebasan. Mereka bergerak ke mana. Lalu 19:59 otonomi di situ itu adalah kemandirian. 20:01 Sesungguhnya mereka memutuskan 20:05 ke sana ke sini itu mereka sudah tahu 20:10 konsekuensinya. Misalnya mereka nih 20:12 pengin ee main bola atau mereka mau apa 20:17 saja. Sekarang di Indonesia yang 20:20 disabilitas itu sudah diakomodasi. Itu 20:22 pusatnya ada di Kota Surakarta atau kota 20:25 Solo di bawah bimbingan Kementerian 20:28 Sosial. 20:30 Tapi kita sebagai orang-orang 20:34 yang 20:37 ee tidak disabilitas, berarti abilitas. 20:40 Ah, bagaimana kita memiliki pemahaman. 20:43 Berilah kebebasan. Kebasan itu ya 20:47 kesempatan yang sama seperti anak-anak 20:51 yang lain. Berilah mereka otonomi. 20:54 Otonomi itu adalah kemandirian. Mereka 20:57 bertanggung jawab. Lalu mereka tahu apa 21:01 yang menjadi konsekuensi yang mereka 21:03 harus 21:04 lalui. Jangan dibatas hati. Terutama 21:07 anak-anak kita yang abilitas, berilah 21:10 kesempatan kepada anak-anak ee kita 21:13 untuk bermain bersama-sama dengan 21:15 mereka. Insyaallah seperti yang kami 21:18 ungkapkan tadi, mereka akan banyak 21:20 belajar dari anak-anak disabilitas. Itu 21:24 yang pertama. Lalu yang 21:27 kedua, prinsip 21:31 keberagaman. Yang menjadi poin penting 21:34 dari prinsip keberagaman ini sebetulnya 21:38 setiap anak termasuk anak disabilitas 21:41 itu berharap pengakuan. He. Di pengakuan 21:46 ini banyak hal, terutama terkait dengan 21:48 dua hal talian mereka ya. bakat dan 21:52 minat yang dimiliki oleh ee disabilitas, 21:56 oleh anak-anak disabilitas. Kalau kita 21:59 mengakui mereka, insyaallah otomatis 22:02 akan tumbuh harga diri. Iya. Kalau harga 22:06 diri naik, otomatis kepercayaan diri itu 22:10 tinggi. dengan dia percaya diri. 22:14 Misalnya nih Bunda Nunya kita 22:19 ee mendapatkan 22:21 kesempatan berinteraksi dengan ee mereka 22:25 yang disabilitas atau anak-anak 22:27 disabilitas itu misalnya mereka tidak 22:29 mampu ee bergerak ke satu tempat tapi 22:33 dengan 22:34 bimbingan tuntunan atau tuntutan apa ee 22:38 bimbingan atau kita pandu dia dan dia 22:42 yang tadinya nya tidak mampu melakukan 22:45 satu kegiatan lalu kemudian atas 22:49 bimbingan kita dia mampu mengupayakan 22:52 itu. Itu adalah proses habilitasi. Itu 22:56 sesuatu yang dia sangat ee senang dan 23:00 dia sangat bahagia. Yang kita mau cari 23:02 itu orang kan bahagia atau n senang. 23:07 Tapi di balik itu kita beri pengakuan. 23:10 Ah, dengan kita akui insyaallah dia 23:13 merasa dihormati otomatis dia merasa 23:15 dihargai otomatis kepercayaan dia diri 23:19 muncul. Ah, siapa yang harus melakukan 23:22 itu kalau bukan kita yang ada di sekitar 23:26 anak-anak? 23:27 Disabilitas. Berarti peran orang 23:31 tua-orang tua adalah yang memastikan 23:35 anak-anaknya itu selalu mengakui 23:37 anak-anak disabilitas. Otomatis itu juga 23:41 muncul kalau kita mengakui anak kita 23:43 sendiri, "Wih, hebat kamu ya, sudah bisa 23:47 main dengan si Burhan atau dengan si ee 23:52 siapa nih? 23:55 Dewi. Berarti kamu banyak belajar dari 23:58 dia." Ah, kita berarti mengakui 24:00 kemampuan anak kita. Iya. Otomatis juga 24:02 kita mengakui kemampuan dari teman-teman 24:05 anak kita yang disabilitas. Lalu 24:09 kemudian ini yang menjadi kunci ee dari 24:14 konvensi ini adalah terkait dengan 24:16 inklusi. Inklusi itu berarti sejak dari 24:20 rumah Bunda Nuning, kita menyediakan 24:23 berbagai fasilitas yang ada di rumah 24:26 kita itu kalau boleh siapa saja dapat 24:30 mengaksesnya terutama yang disabilitas. 24:33 Iya. Apa manfaat kalau kita sudah ee 24:38 memiliki prinsip inklusi dari rumah, 24:41 dari tempat kerja, layanan sekolah, 24:45 transportasi itu benar uning. Kalau 24:48 fasilitas itu sudah ramah disabilitas, 24:53 he itu otomatis dia ramah kepada anak 24:58 dan otomatis ramah kepada perempuan, 25:01 terutama perempuan yang sedang hamil. 25:03 Iya. Dan otomatis ramah kepada warga 25:07 senior. Ahah. Siapa saja sekarang kan 25:09 warga senior Indonesia ini semakin 25:12 banyak dan mereka juga butuh 25:15 diakomodasi. Tapi kalau sejak dari 25:18 mereka masa muda tidak memperhatikan ee 25:23 prinsip inklusi ini, ini mereka akan 25:26 juga mengalami hal yang ee tidak 25:29 terakomodasi pada saat mereka saat 25:33 menjadi warga senior. Nah, untuk itu 25:35 perlu menjadi sebuah gerakan ya, 25:37 bagaimana kita sudah mulai mendorong ee 25:40 prinsip inklusi di dalam berbagai hal. 25:44 Termasuk pada saat kita bercanda itu 25:47 Bunda Nuning itu mulai harus inklusi. 25:49 Karena belum tentu orang di sekitar kita 25:52 menerima candaan kita. Belum tentu apa 25:56 yang ee kita lakukan itu diterima oleh 26:00 ee semua orang yang hadir dalam 26:02 kemungkinan di antara orang-orang yang 26:05 ada di kelas itu ada yang trauma atau di 26:08 tempat bermain itu ada yang pernah 26:10 mengalami sesuatu. Lalu kemudian karena 26:12 kita tidak inklusi, itu yang kemudian ee 26:15 membuat orang lain ee merasa ee 26:17 terganggu atau tidak senang dengan apa 26:20 yang kita upayakan. ini salah satunya 26:22 adalah bagaimana kita sudah mulai 26:26 memiliki prinsip untuk 26:28 mengakomodasi ee anak-anak disabilitas 26:32 itu. Otomatis kita juga memberi 26:34 kesempatan kepada anak kita membangun 26:36 diri dia yang bersikap inklusif sehingga 26:40 di mana saja dia akan berinteraksi si 26:44 anak kita akan diterima oleh siapapun. 26:46 Wah, ini pertanda anak-anak, anak kita 26:48 menjadi anak yang hebat sehingga pada 26:50 saat dia bermain dengan siapa saja, baik 26:52 itu anak orang kaya, anak orang miskin, 26:55 anak yang berbeda ee keyakinan, lalu 27:00 kemudian yang mengalami gangguan 27:02 permanen yang kemudian kita kenal 27:04 sebagai disabilitas, itu anak-anak kita 27:06 akan terbiasa. Dan 27:09 pengalaman-pengalaman ini kalau mulai 27:12 terbangun sejari anak usia usia anak 27:16 insyaallah pada saat dia menjadi dewasa 27:18 dan diberi amanah untuk menyusun sebuah 27:21 kebijakan, menyusun sebuah program atau 27:24 melaksanakan kebijakan dan program, 27:26 insyaallah dia akan lebih inklusif. ini 27:30 kalau hari ini kita tidak menemukan hal 27:33 itu, kita tidak perlu 27:36 ee apa protes. 27:40 Karena orang yang kita protes juga tidak 27:42 punya pengalaman terkait dengan hal itu. 27:44 Ini penting sekali. Lalu yang tidak 27:47 kalah penting yang diharapkan oleh 27:49 orang-orang atau anak-anak disabilitas 27:51 ini adalah aksesibilitas. 27:54 He akses itu tidak harus ujuk-ujuk ke 27:59 memberikan informasi itu juga 28:01 aksesibilitas. Iya. Memberikan informasi 28:04 tentang beasiswa, informasi 28:06 kegiatan, informasi terkait dengan 28:09 tempat mungkin ada terapis. itu kan ee 28:13 aksesibilitas kita sebagai orang-orang 28:17 yang diberi 28:20 ee keberuntungan, tidak mengalami 28:23 gangguan ee di berbagai bagian tubuh 28:25 secara permanen. Ini berarti kita dapat 28:28 berupaya ah ini kita beri kesempatan 28:30 kepada ee anak-anak disabilitas itu 28:34 mereka terakses ke mana saja. Lalu yang 28:37 tidak kalah penting yang terakhir, 28:39 prinsip yang juga diharapkan oleh ee 28:44 penyandang disabilitas adalah bantuan 28:47 dan dukungan. Bantuan itu tidak harus ee 28:51 berbentuk uang, he dukungan, support, 28:56 semangat, dan motivasi. Dan selalu si 29:01 dukungan itu Bunda Nuning. He. Pada saat 29:04 ada yang anak disabilitas hadir di depan 29:08 kita itu kita sambut dengan sukacita dan 29:11 dia merasa dia diterima itu sudah bentuk 29:15 dukungan. Nah, yang menjadi persoalan di 29:19 masyarakat kita punya memiliki tantangan 29:24 ini dari dua ee konvensi yang kita 29:28 uraikan tadi sebetulnya ee di masyarakat 29:33 itu masih banyak tantangan yang dihadapi 29:37 oleh mereka-mereka yang disabilitas. Apa 29:39 saja itu Bandaring? pertama tantangannya 29:43 masih ada yang stigma 29:45 dan melakukan diskriminasi. Masih ada 29:49 anak disabilitas masih sering mengalami 29:52 stigma dan diskriminasi di berbagai 29:55 aspek kehidupan seperti di 29:58 pendidikan, di tempat pekerjaan atau di 30:02 akses publik nih. Ini perlu juga kita 30:06 harus mulai hindari kalau boleh. 30:11 Kapan kita berhenti untuk ee melakukan 30:15 stikmah? Ah, kita mulai ber ee tanya 30:20 kepada ini bulan-bulan untuk bertanya 30:22 ya, Bunda ini bulan Muharam ini koreksi. 30:25 Apakah kita ini sudah tidak melakukan 30:29 stigma kepada orang lainah? Apakah kita 30:33 sudah tidak pernah melakukan 30:34 diskriminasi? Ah, berarti kita menjadi 30:36 orang yang beruntung. Heeh. 30:39 orang yang akan menuju ke individu yang 30:42 inklusif. Jangan eksklusif ya, inklusi 30:45 itu pertama. Lalu kurangnya 30:48 aksesibilitas. 30:50 kita belajar dari 30:53 ee petugas-petugas yang ada di pelayanan 30:56 kesehatan ya Panduni. Mereka itu sangat 30:59 ee 31:01 respon dan ini juga kita perlu ee beri 31:06 penghargaan yang tinggi kepada Ombusen. 31:10 Kenapa Bunda Noni? Karena Ombusmen hari 31:12 ini itu 31:15 mempersyaratkan ee semua-semua 31:18 fasilitas baik itu fasilitas pendidikan, 31:21 fasilitas kesehatan, fasilitas ee tempat 31:24 kerja, fasilitas publik itu harus sudah 31:28 mulai mengakomodasi desain universal. Di 31:32 sana sudah mulai 31:34 memastikan ada akses, penyediaan akses 31:38 untuk disabilitas. 31:41 Untuk itu ee kalau boleh kita coba 31:44 tanya-tanya sama Ombusman. Kenapa itu 31:46 Ombusmen ee mempersyaratkan itu? Karena 31:50 Ombusmen salah satu lembaga 31:52 yang memastikan pemenuhan 31:56 hak-hak juga. Sekali-sekali kita 31:58 bertanya kepada ee Komnas HAM. He. 32:03 Sekali-sekali juga kita bertanya kepada 32:06 KPAI. 32:08 Tapi tidak kalah penting di Indonesia 32:11 ini sudah ada satu komite Bunda Nuning, 32:14 yaitu 32:16 Komisi Nasional Disabilitas. Wow. Untuk 32:20 itu, ayah Anda dan bunda 32:22 yang tidak memiliki anak disabilitas, 32:26 boleh dong bertanya-tanya kepada mereka, 32:29 "Pak, dari Komisi ee National 32:32 Disabilitas, apa yang bisa kami upayakan 32:35 sehingga kami itu dapat me memberikan ee 32:40 fasilitas yang membadai untuk 32:41 disabilitas?" Nah, mereka insyaallah 32:45 karena mereka yang tahu kebutuhan dan 32:48 Ibu Bapak terutama nih ya. 32:50 Ini juga penting kita besok menghadapi 32:54 apa? Pemilih pemilihan kepala daerah. 32:57 Ahah. Coba sekali-sekali kita bertanya, 33:01 "Pak calon walikota, Pak Calon gubernur, 33:04 Pak Calon Bupati, apa ee tanggapan Bapak 33:08 terkait dengan pemenuhan hak anak 33:11 disabilitas?" 33:12 Ah, itu kalau kita mendapatkan jawaban 33:18 yang jelas pasti wah itu kayaknya orang 33:21 itu perlu kita pertimbangkan untuk 33:23 dipilih. Karena dia sudah punya 33:27 pemahaman yang inklusif. Arti 33:30 disabilitas saja dia mulai perhatikan. 33:34 Bagaimana dengan anak kita, bagaimana 33:36 dengan perempuan dan bagaimana dengan ee 33:39 warga senior? Saya tidak sebut lansia 33:42 ya. Iya. Warga senior saja. 33:46 Lalu kemudian kurangnya data statistik 33:49 ini jadi tantangan ee tantangan kita ini 33:53 coba ayahanda dan bunda ee ambil Google 33:57 terus 33:58 ketik ee data terkait dengan ee 34:04 penyandang disabilitas. Terus kita 34:07 spesifik data anak ee penyandang 34:10 disabilitas itu kemungkinan ada datanya, 34:13 tapi datanya itu yang kemudian 34:18 ee 34:20 belum sesuai dengan fakta yang di 34:22 lapangan. Kita beruntung kemarin itu di 34:26 pemilihan Presiden dan ee anggota 34:30 legislatif KPU itu membuat satu ruang 34:35 khusus data penyandang 34:38 disabilitas itu saya lihat angkanya 34:40 lumayan banyak. Iya. ada sekitar kalau 34:44 kita lihat itu ada sekitar 8 sampai 10% 34:49 dari jumlah pemilih itu adalah 34:53 disabilitas. Ahah. Ini otomatis dengan 34:57 data-data ini ini sebetulnya kita dapat 34:59 gunakan. Tapi yang jadi persoalan ayah 35:01 Anda dan bunda, banyak ee para pembuat 35:06 kebijakan lalu pembuat program itu 35:09 mereka ee kurang ee mempertimbangkan 35:14 karena saat mereka minta data tidak ada 35:17 data. Ah, untuk itu kalau boleh ee BPS 35:21 atau orang-orang yang bekerja di bagian 35:23 data coba support ini para pembuat 35:25 kebijakan dan program untuk ee 35:28 menghadapi tantangan ini. Tantangan yang 35:30 terakhir itu adalah kurangnya 35:33 koordinasi. Koordinasi ini juga menjadi 35:36 tantangan 35:38 bahwa yang jadi soal 35:40 itu pemilik data yang paling akurat 35:44 sesungguhnya siapa? Und dann kalau di 35:47 sebuah komunitas masyarakat RT. Iya. 35:50 harusnya data itu ada di RT lalu 35:54 kemudian itu 35:56 terkonsolidasi ke RW lalu kemudian terak 36:02 terhimpun di ee kelurahan atau di desa 36:06 itu yang kemudian naik sampai ke 36:08 nasional itu sebetulnya kita bisa 36:13 ee menemukan data yang akurat tapi siapa 36:18 yang mau ini yang Jadi tantangan ini ee 36:21 berharap pada periode pemerintahan yang 36:24 akan datang atau di pemerintahan 36:27 kabupaten kota yang akan datang 36:29 data-data dan koordinasi dengan antar 36:32 lembaga ini menjadi sangat penting 36:35 sehingga anak-anak disabilitas ini ee 36:39 mereka terwadahi, mereka terakses, 36:44 mereka mendapatkan program tapi tidak 36:46 kalah penting terbangun sebuah sebuah 36:49 pemahaman baru bahwa di setiap negeri 36:52 itu menjadi negeri yang inklusif. Iya. 36:55 Di mana ee anak-anak disabilitas atau 36:58 orang-orang dengan penyandang 37:00 disabilitas mereka ee haknya 37:03 terpenuhi, lalu mereka diakui dan 37:06 otomatis harga diri dia tinggi. Ah, 37:09 untuk itu apa upaya yang perlu kita 37:12 lakukan? 37:13 Upaya-upaya ini 37:15 sebetulnya sederhana, Bunda. Pertama, 37:19 kalau boleh setiap orang tua yang 37:21 mendengarkan ee siaran kita ini coba 37:27 ambil 37:29 Undang-Undang pertama Undang-Undang 37:31 Nomor 19 Tahun 2011 itu otomatis 37:34 terakses dengan 37:37 konvensi hak penyandang disabilitas. 37:41 Coba baca baik-baik itu. Lalu yang 37:43 kedua, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 37:49 2016, Undang-Undang tentang Penyandang 37:53 Disabilitas. Undang-undang itu oleh 37:56 pemerintah juga sudah 37:58 di uraikan secara detail melalui 38:00 peraturan pemerintah nomor 38:04 37 tahun 2019 tentang akomodasi wajib. 38:11 bagi penyandang disabilitas. Coba itu, 38:14 Wah. Undang-undang itu baca, peraturan 38:17 itu juga dibaca. Dan salah satu 38:20 undang-undang juga Undang-Undang Nomor 38:22 ee bukan Undang-Undang ya, Kepres Nomor 38:25 39 tahun 38:28 1990. Kepres 36 tahun 1990 tentang 38:33 konvensi H anak. Wah, itu lebih mantap 38:35 lagi tuh. He. Sudah baca hukum 38:38 internasional. sudah baca hukum 38:41 nasional, terus sudah baca juga uraian 38:45 lengkap terkait bagaimana nih 38:48 meomodasi wajib bagi disabilitas sesuai 38:51 dengan peraturan pemerintah. Ah, kita 38:53 baca itu semua. Coba Ibu, Bapak 38:56 ambil. Ee saya tidak menyuruh ya, tapi 39:00 coba ambil supaya kita memiliki 39:02 pemahaman yang sama. Lalu akhirnya kita 39:05 menjadi individu-individu yang 39:07 inklusif. Itu upaya pertama. Upaya 39:11 kedua, penyediaan layanan. Penyedia 39:14 layanan itu otomatis kita mulai dari 39:16 rumah kita. Bagaimana rumah kita layak 39:19 enggak 39:21 ee temboknya apa dindingnya ee tangganya 39:26 itu sudah mulai mengakomodasi 39:28 disabilitas? Tidak. 39:31 Kalau Ibu Bapak diberi amanah untuk 39:34 menyusun kebijakan, coba mulai akomodasi 39:37 di sana kebijakan. Bapak, Ibu yang 39:40 diamanahi untuk program baik itu di 39:43 pemerintah maupun di swasta, coba mulai 39:46 akomodasi. 39:48 Bagi Bapak Ibu yang diberi kepercayaan 39:50 untuk menjadi 39:52 pelaksana, Bapak Ibu yang menjadi 39:54 auditor, coba itu semua akan berujung 39:58 pada masing-masing rumah. 40:02 Rumah yang inklusi itu akan tercermin di 40:06 lembaga-lembaga pemerintah. Kalau hari 40:09 ini lembaga pemerintah kurang respon 40:13 atau kurang akomodatif, itu kemungkinan 40:16 dari rumah bermasalah. Jadi kuncinya 40:18 sebetulnya dari para pendengar ee siaran 40:22 radio rasil ini, baik itu ayahanda dan 40:26 bunda, kakek, nenek, paman, bibiah. Ini 40:29 kita coba mulai. 40:32 Kemudian dengan berbagai peraturan yang 40:34 kita miliki itu, coba kita mulai 40:38 sosialisasi. Sosialisasi di mana? Di 40:40 tempat pengajian, di mana lagi, Bunda 40:42 Duning? Arisan, di mana lagi? Di ee 40:48 WhatsApp boleh. Ih tadi di siaran Radio 40:50 Rasil saya dengar tuh ee perlu kita 40:53 membaca Undang-Undang Nomor ee 8 Tahun 40:58 2016. Oh, Undang-Undang apa itu? 41:00 undang-undang disabil. Cuk, kita baca 41:01 baik-baik. Ah, itu salah satu upaya 41:03 untuk membangun kesadaran masyarakat. 41:07 Ibu Bapak, kalau kita tunggu dari 41:08 pemerintah, oh itu bisa kiamat 41:11 tuh. Padahal kita juga punya Al-Qur'an 41:15 surah Abbasah ayat 1 sampai 10 itu baca 41:18 juga penting itu. Itu tentang bagaimana 41:21 memfasilitasi ee disabilitas, kemudian 41:25 penguatan organisasi masyarakat sipil. 41:28 Ah, ini organisasi masyarakat sipil 41:31 sebetulnya Bunda Nuning. He. Itu sudah 41:34 diakomodasi melalui Undang-Undang 35 41:38 Tahun 2014 di pasal 72 ayat 3 itu ada 41:43 delan huruf, Bundeng. Pertama apa? 41:46 Pertama mensosialisasikan dan 41:49 mengedukasi. Wah, itu tugas kita itu 41:53 yang kedua, memberikan masukan apabila 41:56 ada kebijakan, ada peraturan yang 41:58 bertentangan dengan pemenuhan hak anak 42:00 disabilitas. Kita boleh lapor itu ke 42:04 salah satu ke Mahkamah Konstitusi. He. 42:08 Bukan Mahkamah Keluarga ya, Mahkamah 42:10 Konstitusi. Ke ombusmen juga ke Komisi 42:15 Nasional Disabilitas atau ke Komnas HAM. 42:18 Kita beri masukan ke sana. Tapi yang 42:20 tidak kalah penting ini yang ketiga, 42:22 Bunda Nuning, kita diberi ruang sebagai 42:25 anggota masyarakat ya melaporkan ke 42:28 pihak yang berwenang. Bila kita melihat 42:31 ada anak disabilitas, hak-haknya itu 42:34 tidak terpenuhi. Misalnya dia tidak 42:37 bersekolah, dia sekolahnya ditolak. Wah, 42:40 apa ada alasan regional hari ini ee di 42:44 Polda Bangka ee Bangka Belitung he itu 42:48 ada yang disabilitas lolos masuk ee 42:52 pendidikan kepolisian. Masyaallah. 42:54 Mungkin ee dia kepolisian atau ke tapi 42:58 di Instagram saya itu masuk ee dari 43:01 Bangka Pelitung itu informasi dari 43:04 Polda. Wah, menarik tuh. 43:06 itu kita ee laporkan ke pihak berwin 43:09 misalnya ada anak itu dia mau 43:13 jalan-jalan, mau bermain. Ah, ini 43:15 ayahanda dan bunda yang ada di sekitar 43:18 Petra atau ruang bermain ramah anak kok 43:21 ada anak disabilitas tidak terakses ke 43:24 ruang bermain anak. Bisa lapor itu ke 43:26 pihak berwenang. He he. Pihak yang 43:28 mengelola ee mengelola apa ee fasilitas 43:32 itu kita bisa lapor ke kesehatan, ke 43:35 tempat kerja atau tempat umum kita bisa 43:39 lapor. Tapi persoalannya apakah di 43:42 handphone Ibu Bapak punya enggak nomor 43:44 telepon dinas-dinas itu? Nah, untuk itu 43:47 coba aktifkan nomor telepon itu. Ee 43:51 kumpulkan nomor-nomor telepon. 43:52 kemungkinan pada suatu waktu kita diberi 43:56 kesempatan untuk melaporkan. 43:59 Lapor itu bisa saja hal yang terbaik dan 44:01 juga hal yang ee perlu mendapat 44:03 perhatian. Bukan lapor untuk negatif ya, 44:06 bukan untuk ee korek apa kritik tapi 44:10 demi kemaslahatan untuk kita semua. Itu 44:13 yang ketiga. Yang keempat ini, Ibu 44:15 daning kita itu diberi kemampuan oleh 44:19 Allah untuk 44:21 meembimbing, 44:23 mendampingi, meng apa? Membuat anak-anak 44:27 disabilitas itu merasa ee dimanusiakan. 44:31 Nah, itu menjadi penting. Merasa 44:33 dihargai. Itu dari mulut dan dari tangan 44:35 kita. Ini menjadi penting. Lalu yang 44:38 kelima. Yang kelima itu, Bunda 44:41 Nuning, kita diberi kesempatan untuk 44:44 menjadi 44:47 ee pemantau. He. Menjadi pemantau itu 44:52 seperti intel. Bisa jadi ibu bapak bisa 44:55 jadi intel loh. Kok kasihan ya anak 44:57 disabilitas itu kok tidak difasilitasi 45:00 ya? Kok anak-anak di sekitar teman-teman 45:03 anak-anak itu kok tidak diberi akses 45:05 bermain dengan anak disabilitas. Ada apa 45:07 ya? itu kita tahu tapi kita tidak 45:10 boleh mengoreksi tapi yang kedua diberi 45:13 ruang untuk sebagai 45:17 pengawas. Sebagai pengawas atau bawas 45:19 dulu ya kita bisa koreksi tapi yang 45:21 tidak kalah pentingnya juga kita ikut 45:23 bertanggung jawab. Ujung-ujung akhir itu 45:27 kita perlu menyediakan rumah yang 45:29 kondusif untuk disabilitas. Nah, ini 45:32 penting nih. Tapi yang tidak kalah 45:33 penting, yang terakhir itu kita tidak 45:36 melakukan stigma. Ini upaya yang bisa 45:40 kita lakukan. Ah, peran-peran ini ini 45:43 akan ee terjadi bila kita mau belajar. 45:48 Ini mungkin ee sampai di sini dulu. 45:50 Kalau ada yang mau bertanya kita coba 45:53 tanggapi. Kalau ada kami persilakan 45:56 Bunda Nuni. Insyaallah luar biasa sekali 45:59 ya ikhwan Akhwat bahwa kepedulian 46:03 kita menjadikan inklusi bukan cuma di 46:07 kebetulan sekolah-sekolah sudah ada ya 46:09 tetapi kalau seandainya di lingkungan 46:11 kita juga itu kita upayakan luar biasa 46:13 sekali. Baik, kita boleh langsung ke 46:16 pertanyaan ya. ini tidak ada namanya. 46:19 Terkait 46:20 dengan fasilitas pekerjaan untuk 46:23 orang-orang yang disable ini. Saya rasa 46:28 saya belum menemukan, belum mendengar 46:30 bahwa di perusahaan A itu menyediakan 46:34 sekian 46:36 persen untuk anak-anak atau orang-orang 46:40 dewasa 46:41 yang disable. Apakah itu yang 46:45 tuna daksa atau yang tuna runu atau yang 46:50 tuna netra? 46:53 Mudah-mudahan lewat acara seperti ini 46:56 pemerintah peduli atau mungkin Pak Hamid 46:58 punya informasi terkait hal itu. Terima 47:00 kasih, Mbak Noning. Iya. Baik, terima 47:03 kasih ayahanda dan bunda yang telah 47:06 bertanya. 47:07 Sebetulnya informasi itu dekat dari 47:09 rumah kita ada di di Dinas Tenaga Kerja. 47:14 Nah, tugas dari Dinas Tenaga Kerja 47:17 itu harus memastikan tuh peran dari 47:20 Dinas Tenaga Kerja 47:22 memastikan ada 47:24 1% ee pegawainya itu menerima. Misalnya 47:30 kalau ada 10 ee calon tenaga kerja yang 47:34 akan direkrut satu satu itu disabilitas. 47:37 Ah, informasi-informasi terkait itu ada 47:40 di Dinas Tenaga Kerja atau kalau di 47:43 atasnya berarti ada di Kementerian 47:46 Ketenagakerjaan. 47:48 Yang jadi persoalan itu adalah ada 47:52 ee posisi untuk itu, formasi untuk itu, 47:56 tapi tidak ada yang mengisi. Kenapa itu 47:59 tidak ada? Karena anak-anak yang 48:02 disabilitas atau orang-orang yang 48:04 disabilitas itu tidak dipersiapkan sejak 48:07 dari awal. Berarti otomatis mereka perlu 48:13 terakses ke pendidikan. pendidikan di 48:15 sini tidak harus pendidikan yang ee 48:18 formal juga bisa homeschooling sekarang 48:21 kan bisa itu diatur lalu kemudian ee 48:25 otomatis mereka ee bakat dan minat 48:29 mereka itu terfasilitasi. 48:32 Lalu yang tidak kalah penting adalah 48:34 bagaimana mempersiapkan anak itu terkait 48:39 dengan kepercayaan diri dia. Kalau dia 48:42 memiliki kepercayaan diri dia, bahwa 48:45 orang yang ada di sekitarnya itu sama 48:48 seperti dia juga. Karena setiap orang 48:50 itu pasti punya sidik cari kan. Sidik 48:54 cari itu penanda sebagai keunggulan. 48:56 Masing-masing orang itu sudah diberi 48:58 kemampuan oleh Allah keunggulan. 49:01 Ah, keunggulan yang ada di anak 49:04 disabilitas itu kemungkinan tidak 49:06 dimiliki oleh yang abilitas. Ah, ini 49:09 otomatis ee formasi itu akan e. Kapan 49:14 itu bisa kita ketahui secara detail? 49:17 Untuk itu boleh bersilaturahim ke Dinas 49:21 Tenaga Kerja. Dari Dinas Tenaga Kerja 49:24 kita akan banyak mendapatkan informasi 49:27 juga. Jangan lupa di ee 49:30 sekitar komplek perkantoran itu ada 49:33 namanya Dinas Sosial. Nah, Dinas Sosial 49:36 itu juga otomatis akan ee memberikan 49:40 informasi yang banyak. Jadi, tidak harus 49:43 ee kita ee bersusah payah, tapi intinya 49:47 bagaimana kita memberikan kesiapan anak 49:50 kita, kepercayaan diri diri diri dia. 49:53 Lalu kita kuatkan dengan pendidikan. 49:55 pendidikan tidak harus 49:57 yang ee semua yang dia dapat kita 50:00 fasilitasi sesuai dengan seperti ee apa 50:04 yang dikembangkan oleh Montessori. Jadi 50:07 bagaimana si anak itu hak-hak dia 50:10 terpenuhi, pengetahuan dia berkembang, 50:13 lalu bakat dan minat dia itu 50:15 terfasilitasi. Insyaallah kalau itu 50:17 sudah dilakukan, otomatis 50:22 ee 50:24 penerima ee kerja, tenaga kerja dengan 50:27 senang hati 50:28 akan menerimanya. 50:31 Iya, keren banget kalau 1% itu untuk 50:35 disable di perusahaan apapun itu juga 50:38 luar biasa. pemerintah juga maksudnya 50:40 bukan cuman pemerintah. Bayangkan kalau 50:43 swasta juga menyediakan 1% dari 50:45 karyawannya untuk yang disable. Luar 50:48 biasa. Ini ee informasi saja dari Mbak 50:52 Tita. Saya 50:54 kebetulan tahu banget soal sekolah 50:58 inklusi sudah banyak sekarang. Keren 51:00 banget ya. Kalau kantor yang inklusi 51:03 juga sudah ada seperti yang baru saja 51:07 dibahas, tentu akan sangat menyenangkan 51:09 sekali. Mbak Nuning tahu enggak 51:12 berkunjung ke tempat-tempat anak disable 51:15 itu dengan anak-anak kita membuat mereka 51:18 seperti yang Pak Hamid bilang menjadi 51:21 lebih peduli. Dan kalau di sekolah 51:25 inklusi ada yang disable netra itu teman 51:29 sekelasnya menjadi lebih aware, peduli 51:32 untuk membimbing, mengajak jalan keluar 51:36 ke kantin dan segala segalanya. 51:39 Mudah-mudahan apa yang Rasil sampaikan 51:42 membuat kita-kita jauh lebih peduli. 51:44 Iya, terima kasih Bu Tita. Dan untuk 51:47 menjadi inklusif secara pribadi di rumah 51:51 ini dari Pak Warso, apa yang harus kita 51:54 sediakan? Karena saya pengin deh buka 51:57 kesempatan untuk mendatangkan anak-anak 52:00 disable ke rumah sekali sebulanah atau 3 52:04 bulan sekali untuk bersama-sama dengan 52:08 anak-anak. Karang Taruna. Kira-kira 52:11 perlu apa sajakah, Pak Hamid? Oke, 52:15 terima kasih. Ah, ini sekaligus untuk 52:17 penutup ini ya. Iya, sudah di ujung 52:19 kita. Pertama kita per Terima kasih 52:22 ayahanda dan bunda. Dan tadi ya sudah 52:25 menceritakan ee sedikit informasi yang 52:27 menarik ya. Berharap ke depan kita semua 52:30 jadi individu yang inklusif. pertama 52:34 bagaimana kita mempelajari dan memahami 52:37 hak-hak anak disabilitas. Kita pelajari 52:39 dulu. Jadi dengan kita mempelajari lalu 52:42 yang kedua anjang sana dulu. Anjang sana 52:46 ke ee sekolah SLB. Di SLB itu banyak ee 52:52 apa? Seperti yang ada di Depok tuh ada 52:54 dekat ee alun-alun Kota Depok. He. Itu 52:58 ada beragam ee disabilitas. kita akan 53:02 dapat pengetahuan banyak terkait dengan 53:04 berarti kita sudah mulai akomodatif tuh 53:07 pada saat kita akan mengundang 53:10 ee anak-anak disabilitas untuk 53:12 berinteraksi dengan ee Karang Taruna 53:16 dengan anak-anak di komplek kita atau di 53:20 komunitas kita, insyaallah kita sudah 53:23 berbekal. Jadi sudah kuat dulu. Itu 53:26 pertama. Kedua, mulai membangun ee rasa 53:30 hormat dan menghargai. Iya. Jadi kita 53:33 dapat itu dengan dapat pengetahuan lalu 53:38 kemudian kita dapat penjelasan dari 53:41 orang-orang yang ada di sekolah yang 53:43 menangani anak disabilitas atau 53:46 sekolah-sekolah inklusi. Kita dapat 53:48 pengetahuan itu. Lalu itu menjadi modal 53:51 kita untuk mempersiapkan orang-orang 53:54 yang ada di ee komunitas kita. Otomatis 53:58 kan kalau sudah dapat informasi tidak 54:00 ada lagi yang bisik-bisik ini kok 54:02 tangannya udah enggak ada ya. Jadi tidak 54:04 ada lagi. Jadi kita sudah menerima apa 54:09 adanya jadi tidak ada lagi bisik-bisik 54:12 ya mau matanya sudah tidak ada, 54:15 tangannya sudah enggak ada. Lalu boleh 54:18 enggak kita tanya-tanya? Ah itu nanti ee 54:21 secara individu kita boleh berinteraksi 54:23 tapi hubungannya baik dulu. Jadi jangan 54:26 kenapa tangannya ini? Jadi penting tu. 54:29 Lalu kemudian yang 54:32 keempat menghindarkan stigma dan 54:35 diskriminasi. Karena kita sudah punya 54:37 pengetahuan, sudah punya pengalaman, 54:40 lalu kita sudah terbangun rasa hormat, 54:43 otomatis terkikis rasa mau ee 54:47 mengolok-olok itu kan. He. Atau mau 54:49 menyisihkan, "Oh, jangan main, jangan 54:51 datang sini." Oh, itu. Jadi, padahal 54:53 kita mau mempersiapkan diri. Nah, itu 54:57 penting ee Pak yang harus kita Lalu yang 55:00 tidak kalah 55:02 penting meskipun Bapak ada di komunitas 55:06 sudah mulai menyusun sebuah kebijakan 55:08 ya, kebijakan itu tidak harus dalam 55:11 bentuk perda ya, kebijakan komunitas. 55:14 Pak RT, Pak RW atau siapa yang dituakan 55:18 di situ. Kita coba mulai buat ee satu 55:23 kesepakatan. Kita tulis di apa di spand 55:27 apa? He. 55:29 Kami ee menerima ee orang-orang dengan 55:34 disabilitas, dengan menghargai, dengan 55:37 memfasilitasi. itu yang kemudian nanti 55:40 menjadi semacam ee kode etik di 55:43 komunitas itu dan itu kalau bagus 55:46 dibobohi oleh tanda tangan ee otorita 55:50 yang ada di komunitas sendiri. Akhirnya 55:53 siapa saja yang ada di komunitas itu 55:57 mereka merasa ee 56:00 membangun kesepakatan bersama, peraturan 56:03 bersama, otomatis implementasinya dengan 56:08 cara menerima orang-orang disabilitas 56:10 itu otomatis wih hebat banget ya kampung 56:14 ini ya kok kami diterima seperti ee 56:18 tidak ada masalah. Itu berarti sudah 56:20 menjadi hal yang menarik. Lalu yang 56:23 tidak kalah penting partisipasi. 56:25 Partisipasi yang tadi ee Bapak mulai ee 56:29 dorong itu itu menjadi ee hal yang tidak 56:33 kalah penting. Tapi yang paling akhir 56:36 ini Bening, he adalah keteladanan. Ah, 56:40 dari keteladanan siapa? Bapak yang 56:42 mengundang, otomatis Bapak sudah menjadi 56:45 teladan dari anggota-anggota Karang 56:47 Taruna. dengan Bapak sudah menjadi 56:50 teladan, 56:52 insyaallah sudah ada kesiapan untuk 56:54 menerima kan Buning. Iya. itu otomatis 56:57 siapa saja yang datang. Apalagi kalau 56:59 sudah dijadwalkan setiap bulan ya 57:02 seperti yang ada di alun-alun Kota Depok 57:05 dekat nih. Setiap hari Rabu atau hari 57:08 apa anak-anak disabilitas itu ee mereka 57:12 punya jadwal datang ke alun-alun untuk 57:15 bermain. Salah satu ada fasilitas 57:18 bermain di sana itu yang ramah anak dan 57:22 menjadi menarik. Ayo, ayah dan bunda di 57:24 Kota Depok pernah enggak ke Kota Depok 57:28 ini kita dekatnya ya? Iya. 57:30 Pernah enggak ke alun-alun? Ee sebagai 57:34 informasi selain alun-alun di bagian 57:37 barat he eh bagian timur nanti ada di 57:41 bagian barat di Kota Depok itu ada. Lalu 57:44 coba di RPETRA itu di RPETRA itu 57:46 fasilitas untuk disabilitas juga ada. 57:48 Tapi apakah kita sudah akomodatif atau 57:52 di kabupaten kota? Ibu Bapak hari ini 57:55 kebetulan kami juga sedang ee rakor wal 57:59 untuk persiapan ee audit ruang bermain 58:02 ramah anak. Ah, coba ada enggak 58:04 fasilitas-fasilitas itu tersedia untuk 58:06 disabilitas? Insyaallah dengan kita 58:10 mengakomodasi mereka, kita berarti sudah 58:13 sedang mempersiapkan diri diri kita. Ya 58:16 insyaallah pada saat kita akan jadi 58:18 warga senior, kita itu tidak menyusahkan 58:21 orang lain. Karena fasilitas di mana 58:24 kita tinggal itu sudah ramah untuk 58:27 disabilitas, ramah untuk anak, ramah 58:30 untuk perempuan, terutama perempuan 58:31 hamil, lalu ramah untuk warga senior. 58:35 Itu mungkin yang bisa kami jelaskan dari 58:38 tiga pertemuan ini. kunci 58:41 utama segera ee googling undang-undang 58:47 nomor 8 tahun 2016 sama Undang-Undang 58:51 Nomor 19 tahun 2011 dengan kita membaca 58:56 itu sama peraturan pemerintah nomor 58:59 37 tahun 2019 tentang akomodasi wajib 59:04 bagi ee penyandang disabilitas. Karena 59:07 kita tahu khusus untuk Bapak tadi kalau 59:09 boleh ambil tuh peraturan pemerintah 59:12 nomor 37 tahun 2000 ee 19 59:17 supaya ee RT kita atau lingkungan 59:21 kita mengakomodasi hal-hal yang wajib 59:25 ada di komplek kita sehingga penyandang 59:28 disabilitas merasa diterima. Demikian 59:31 kita bermohon kepada Allah semoga Allah 59:34 selalu memberikan cahaya kepada kita 59:36 yang hari ini semakin lembut menjadi 59:40 lebih lembut lagi kepada anak-anak 59:43 termasuk juga anak-anak disabilitas. 59:45 Demikian. Asalamualaikum warahmatullahi 59:48 wabarakatuh. Waalaikumsalam 59:49 warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih 59:52 Dr. Hamid Pati dan Ikhwan Akhwat. 59:55 Mudah-mudahan ya kita mampu untuk tidak 59:59 melakukan stigma terhadap anak-anak yang 1:00:03 menyandang disabilitas. Kalau bisa 1:00:06 seperti yang tadi Pak Hamid bilang ya, 1:00:07 jadi intel jadi pengawas yang 1:00:10 bertanggung jawab demi kepentingan 1:00:12 mereka. Sekali lagi terima kasih. 1:00:14 Billahi taufik wal hidayah. 1:00:15 Wasalamualaikum warahmatullahi 1:00:17 wabarakatuh. Wa