Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:08 Brail [musik] TV. 0:16 Bismillahirrahmanirrahim. 0:18 Asalamualaikum warahmatullahi 0:19 wabarakatuh. Ikhwan akhwat 0:20 rahimakumullah. 0:22 Bersyukur sekali kita dapat bersama-sama 0:24 di acara perlindungan anak dari Radio 0:28 Silaturahim. Mudah-mudahan mempersuasi 0:32 kita semua untuk bisa menjadi sosok yang 0:34 tepat bagi anak-anak kita. Bukan hanya 0:38 anak dalam rumah ya, tetapi juga anak 0:41 bangsa ini. Mudah-mudahan kita semuanya 0:45 sekali lagi sehat, bugar, aman 0:47 terkendali. Tidak lupa salam selawat 0:49 kita lantunkan untuk junjungan umat 0:51 kekasih kita Rasulullah sallallahu 0:53 alaihi wasallam. 0:55 Mudah-mudahan kita mendapatkan syafaat 0:58 beliau kelak. dan bersama-senang dengan 1:01 beliau di saat yang sangat kita rindukan 1:03 di yaumil akhir. Ikhwan akhwat, kalau 1:07 kita sebagai 1:10 orang tua, kira-kira masalah mengelola 1:14 amarah gampang apa enggak sih? Tadi di 1:16 off air sedikit bicara dengan narasumber 1:19 kita, Dr. Hamid Fatih ngomongin soal itu 1:22 tuh tepatnya seperti apa. Mari saya sapa 1:26 beliau dulu. Asalamualaikum 1:27 warahmatullahi wabarakatuh. 1:29 Waalaikumsalam. Apa kabar, Bunda? 1:31 Alhamdulillah sehat ya. 1:33 Alhamdulillah. 1:33 Tadi sebelum on air bicara soal marah 1:37 itu perlu dikelola. Persisnya hari ini 1:39 bahasan kita terkait dengan perlindungan 1:41 anak. 1:42 Insyaallah kita masih terkait dengan 1:46 ayah yang hebat 1:47 dalam mengelola amarah 1:50 dengan menciptakan ruang aman untuk 1:52 anak-anak mereka. 1:54 Jadi seorang ayah yang hebat itu 1:59 sebaiknya atau seharusnya yang mampu 2:01 menciptakan ruang yang aman untuk 2:02 anak-anak. Baik, ikhwan akhwat. Mari 2:04 kita simak apa yang akan disampaikan 2:06 oleh Dr. Hamid Fatih Liimah. Silakan. 2:09 Baik, terima kasih Bunda. 2:11 Bismillahirrahmanirrahim. 2:13 Asalamualaikum warahmatullahi 2:15 wabarakatuh. 2:16 Waalaikumsalam. Pendengar Radio Rasil di 2:19 mana saja berada. Alhamdulillah kita 2:22 masih diberi kesempatan oleh Allah untuk 2:25 berbagi informasi. Kali ini ini kita 2:29 akan melanjutkan pertemuan yang ketiga 2:33 terkait dengan ayah bukan hanya sebagai 2:38 tulang punggung, tetapi 2:41 ayah yang hebat adalah mampu mengelola 2:45 amarah dan yang tidak kalah penting 2:48 adalah menciptakan ruang aman untuk 2:51 anak-anak mereka di rumah. Insyaallah 2:55 kalau 2:57 seorang anak itu menemukan ayahnya 3:03 dengan emosi yang cerdas, insyaallah 3:06 akan melahirkan anak-anak yang mampu 3:08 mengelola emosinya. 3:11 Yang menjadi penting bagi kita, yang 3:15 perlu kita garis bawahi adalah amarah 3:18 adalah emosi manusiawi. 3:21 Jadi, seseorang 3:23 mau marah itu atau 3:27 terlihat wajahnya merah karena sesuatu 3:31 hal itu manusiawi. Tapi yang perlu kita 3:36 garis bawahi 3:38 bahwa 3:39 amarah itu sebetulnya 3:43 terjadi melalui sebuah proses panjang 3:46 yang tidak begitu saja lahir. 3:51 Kemudian kita tiba-tiba marah. 3:54 Nah, kita dapat menelusurinya ke 3:56 belakang. Kemungkinan besar seseorang 4:00 memiliki 4:01 ee emosi yang mudah marah. Sebetulnya 4:05 dulu 4:08 ayahnya sering memarahi ibunya saat 4:12 mengandung anak tersebut yang kemudian 4:16 saat dia dewasa menjadi ayah yang tidak 4:19 mampu mengendalikan akhirnya itu akan 4:22 terlihat dan yang akan merasakan dampak 4:27 dari amarah seorang ayah itu 4:29 anak-anaknya sendiri. Dan ini yang 4:31 menjadi penting untuk kita ketahui 4:34 bersama-sama. 4:36 Memang amarah adalah emosi 4:40 manusiawi, tetapi kekerasan tidak pernah 4:44 terjah menjadi solusi. Untuk itu kita 4:48 perlu garis bawahi menjadi seorang ayah 4:51 itu harus memiliki kompetensi. 4:54 Kompetensi 4:56 dalam hal ini terkait dengan bagaimana 5:00 seorang ayah itu mampu mengendalikan 5:05 emosinya tapi tidak melakukan kekerasan. 5:09 Nah, ini kekerasan ini yang kemudian 5:11 perlu kita ketahui, Bunda. 5:14 Indonesia 5:16 untuk memastikan setiap anak tidak 5:20 mengalami kekerasan, 5:25 Presiden bersama DPR itu membuat lima 5:30 undang-undang. 5:32 Kebayang enggak, Bunda Nun? hanya 5:34 terkait untuk memastikan jangan sampai 5:38 anak-anak 5:39 Indonesia 5:41 mengalami kekerasan. 5:45 Untuk itu tolong ayah handat di rumah 5:49 yang mendengarkan radio ini catat 5:52 undang-undang ini kemudian searching di 5:55 Google agar kita memiliki referensi yang 6:00 sama dan berharap setiap ayah terutama 6:05 nih ayah-ayah muda coba baca baik-baik 6:08 lima undang-undang yang akan kami 6:10 sebutkan berikut ini. pertama 6:15 Undang-Undang Nomor 23 6:18 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. 6:22 Nah, di pasal-pasal akhir itu di sana 6:28 harus dipastikan anak tidak boleh 6:31 mengalami kekerasan. 6:33 Itu Undang-Undang yang kedua. 6:36 Undang-undang Nomor 23 Tahun 6:41 ee 2004 6:44 tentang penghapusan kekerasan dalam 6:48 rumah tangga. Ah, di undang-undang itu 6:50 lebih eksplisit lagi apa yang perlu 6:54 diketahui oleh setiap ayah? Ada empat 6:58 bentuk kekerasan. 7:01 empat bentuk kekerasan itu dipahami. 7:05 Pertama, kekerasan fisik. Ya, fisik 7:08 seperti apa nih yang dikategorikan 7:11 sebagai kekerasan? Kedua, kekerasan 7:15 ee sih 7:18 jenis-jenisnya seperti apa? Kita bisa 7:20 telusuri, tapi tolong baca undang-undang 7:23 ini dulu. Lalu yang ketiga, kekerasan 7:26 seksual. 7:28 Lalu yang keempat adalah ee penelantaran 7:32 atau pengabaian. 7:34 Di undang-undang tersebut, Benda Uning, 7:36 kalau seorang ayah mampu membaca secara 7:40 detail terkait dengan 7:44 apa yang harus dihindarkan oleh seorang 7:47 ayah, jangan apa-apa saat emosi 7:51 semua ee dilakukan dan akhirnya 7:54 merugikan anak-anak. Untuk itu 7:58 boleh marah tapi tidak boleh melakukan 8:02 kekerasan. Ah, bagaimana tuh? [tertawa] 8:04 Jadi itu harus dilatih. Ah, baca 8:07 baik-baik undang-undang itu. Berharap ya 8:11 tujuan dari undang-undang itu sebetulnya 8:13 untuk menciptakan keluarga sakinah, 8:17 mawadah warahmah yang selalu dibacakan 8:20 saat orang mau berikrar menikah. ya 8:23 Bunda Nuning. Dan itu sebetulnya 8:25 ada di halaman akhir dari surat nikah. 8:31 Bagi mereka punya masih punya surat 8:32 nikah, coba ee baca baik-baik tuh. 8:38 Berkata ah saja kepada ana itu tidak 8:40 boleh. Itu harus pastikan. Kemudian 8:44 undang-undang yang ketiga, Undang-Undang 8:47 Nomor 35 Tahun 8:51 2014 tentang perubahan atas 8:54 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002. 8:59 Di sana terkait dengan ee kekerasan 9:02 terhadap anak itu ada perubahan ee 9:06 istilah yang dulu 9:08 ada kekerasan seksual berubah menjadi 9:11 kejahatan seksual. H 9:12 ada perubahan karena waktu proses ee 9:16 pembentukan undang-undang itu banyak 9:18 kasus yang terjadi. Lalu kemudian 9:21 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 9:26 tentang ee 9:31 penerimaan 9:33 peraturan pengganti Undang-Undang Nomor 9:35 1 Tahun 2016 yang mengatur tentang 9:39 kekerasan. Ah, di sana Bunda Nuning 9:41 khususnya 9:42 mereka yang menjadi pelaku kekerasan 9:47 seksual terhadap anak termasuk ayah yang 9:51 akan yang menjadi pelaku itu banyak juga 9:54 diketemukan Bening itu mereka selain 9:57 mendapatkan hukuman tambahan sepertiga 10:01 juga ada hukuman tambahan lagi Bunda 10:03 Ning yaitu 6 bulan sebelum mereka ee 10:08 bebas dari lembaga pemasyarakatan 10:13 para terpidana itu akan dikebiri 10:18 Heeh. 10:18 kimia tu undang-undang itu ada. Kedua, 10:22 ee akan dipasang chips gelang. Jadi 10:26 kalau mau ke mana-mana 10:27 ketahuan 10:28 ee Kominfo di daerah di mana ee warga 10:32 itu tinggal mampu akan menelusuri. 10:35 Lalu kemudian 10:37 potretnya dipajang 10:40 bersama Dinas Pemberaan Perempuan dan 10:44 Dinas Kominfo itu memasang laksana 10:47 seperti kampanye bupati gitu. Benar ni 10:51 ini 10:52 ee dulunya dia pelaku kejahatan seksual 10:56 itu dia dia. Lalu yang keempat dia akan 10:59 di 11:01 ee rehabilitasi. Ah ini undang-undang 11:04 penting. Kemudian undang-undang yang 11:06 terakhir ini yang kelima, Bunda Nuning. 11:10 Undang-undang 11:11 nomor 12 tahun 2022 tentang tindak 11:17 pidana kekerasan seksual. Ah, berharap 11:21 para ayah Anda dan bunda untuk mengelola 11:24 amarah. 11:26 Cara paling mudah untuk mengelola 11:27 amarah, baca ini undang-undang. 11:30 Dengan dengan begitu kita akan ee tidak 11:34 mudah melakukan kekerasan pada anak. 11:37 Tapi ada solusi Rasulullah bagi mereka 11:40 yang ee mau 11:43 mengelola amarah. Kalau sedang berdiri, 11:47 Rasulullah minta 11:48 duduk. 11:48 Duduk, masih juga amarah ee suruh 11:51 berbaring, masih juga ambil ee wudu, 11:58 masih marah salat. Nah, di situ. Jadi, 12:00 ada cara-cara ee mengolelah. Tapi yang 12:03 ingin kami tekankan di sini adalah 12:06 peningkatan kapasitas setiap ayah itu 12:10 penting dengan membaca undang-undang. 12:14 ee yang telah kami sebutkan. Bagaimana 12:16 dengan hukum internasional? Ah, itu ada 12:20 di pasal 19. Pasal 19 sesungguhnya Bunda 12:25 Nuning itu memastikan jangan sampai 12:29 anak-anak mengalami kekerasan. 12:34 Apa solusi agar anak-anak ini tidak 12:37 mengalami kekerasan di rumah? 12:40 Tiada lain para ayah harus ditingkatkan 12:44 kapasitasnya. 12:46 Jadi hari ini kalau 12:49 Bapak Ibu yang sedang 12:53 menelusuri latar ee belakang calon 12:57 menantu, 12:58 Heeh. 12:58 Itu harus dipastikan ada enggak 13:01 sejarahnya dia pernah menjadi pelaku 13:04 kekerasan? 13:06 Kalau ada buat apa kita mempercayakan 13:10 anak gadis kita untuk dinikarkan kepada 13:15 pria yang punya sejarah latar belakang 13:18 sebagai pelaku kekerasan. Nanti 13:21 dampaknya adalah selain anak kita 13:26 perempuan 13:27 itu cucu kita 13:29 akan lahir menjadi pelaku kekerasan 13:33 karena 13:35 mereka menemukan atau mendapatkan ayah 13:39 atau suaminya adalah pemarah yang kasar 13:44 ee apa-apa semua daftar ee jenis ee 13:49 binatang-binatang binatang yang ada di 13:50 kebun binatang itu keluar atau semua 13:53 benda-benda yang ada di sekitar ee 13:57 suami atau ayah itu dilemparkan, 14:01 ditimpahkan kepada anak-anak. Ah, ini 14:03 menjadi penting. Untuk itu syarat untuk 14:08 menjaring ee calon menantu pria, kita 14:13 harus tanya apakah punya sertifikat 14:17 pelatihan konvensi H anak. Ah, di 14:20 pelatihan konvensi Hana itu salah satu 14:24 pasal yang dilatihkan itu adalah pasal 14:27 19. 14:29 Apa poin di pasal 19 konvensi Hana itu? 14:32 adalah memastikan 14:36 bahwa setiap orang dewasa di sekitar 14:40 anak tidak melakukan kekerasan. Nah, 14:43 untuk itu melalui 14:46 ee sosialisasi, 14:48 melalui pelatihan, lalu melalui 14:51 peningkatan kapasitas dari seorang calon 14:56 ayah atau seorang ayah, insyaallah nanti 15:01 mereka akan ditemukan oleh 15:04 calon istrinya atau oleh anak-anak. 15:07 Ayahnya adalah ayah yang hebat yang 15:11 mampu mengelola emosinya dengan tidak 15:14 melakukan kekerasan kepada istri dan 15:18 anak-anaknya. Nah, ini menjadi penting. 15:21 Apalagi kalau si ayahnya tidak terlatih 15:26 menerima amukan dari istri. Ah, itu 15:29 penting juga tuh. 15:31 Kita kalau mengikuti sirah sahabat, 15:34 bagaimana digambarkan ee seorang 15:38 khalifah Umar mau dikunjungi oleh 15:41 seorang sahabat untuk mengadukan bahwa 15:45 istrinya itu wuh suka marah-marah kepada 15:49 suaminya. Lalu ee 15:53 dia bertandang ke rumah khalifah. 15:56 Diketemukan Khalifah sedang dimarahi 15:59 istrinya. Pas ditanya besoknya, "Kenapa 16:03 Khalifah tidak ee 16:07 marah, hanya diam saja dimarah-marahi 16:10 oleh istri?" Ah, poinnya adalah 16:13 Khalifah 16:15 menyedot semua 16:18 kemarahan istrinya pada hari itu agar 16:21 besoknya dia akan mendampingi anaknya. 16:26 Tidak ada lagi yang tersisa emosi 16:28 marahnya. itu menjadi penting. Jadi 16:31 berarti menjadi ayah yang hebat ini 16:35 perlu untuk mengelola amarah. Untuk itu, 16:40 warisan amarah 16:43 menjadi sebuah luka jangan diteruskan. 16:47 Jadi sebagai seorang ayah kalau kita 16:52 punya sejarah pernah menjadi korban 16:56 kekerasan oleh ayah kita sendiri di 16:59 rumah atau oleh ibu kita ee semua ini 17:05 yang poinnya kita pastikan 17:09 ayah ibu waktu itu mereka belum dilatih 17:14 konvensi Hanah itu aja Atau perlu kita 17:18 sedari ayah ibu kita waktu itu mereka 17:23 belum mendapatkan pemahaman bahwa 17:28 melakukan kekerasan pada anak itu akan 17:31 menimbulkan luka yang membekas yang 17:35 akhirnya nanti kalau si anak tersebut 17:39 tidak mendapatkan ee penanganan yang ee 17:44 sistematis melalui rehabilitasi yang 17:47 komprehensif itu yang kemudian akan 17:51 terekspresikan 17:52 kepada anak-anak mereka nanti dan yang 17:56 rugi siapa? Berarti cucu kita. Nah, 17:58 untuk itu 18:00 seorang ayah yang punya pengalaman itu 18:03 kita perlu memaafkan orang-orang yang 18:07 terlebih dahulu dari kita karena 18:10 ketidaktahuan mereka. Coba kalau mereka 18:13 tahu 18:15 bahwa orang yang pertama merendahkan 18:19 manusia itu adalah iblis. 18:22 Nah, jadi para pelaku kekerasan atau 18:27 para emosional itu yang marah-marah itu 18:29 sebetulnya mereka dalam kondisi 18:33 dipengaruhi oleh iblis. 18:36 Iya. Kita harus bangun pemahaman itu dan 18:39 hanya iblislah yang berani merendahkan 18:42 martabat manusia. Untuk itu perlu kita 18:45 garis bawahi bahwa amarah jangan 18:49 diwariskan. Jadi kita cut. Jadi kita 18:52 memaafkan semua orang yang pernah 18:55 menyakiti kita. Apa Bunda Nuning? 18:59 Tanda-tanda seorang anak itu pernah 19:03 mengalami kekerasan. 19:05 pertama dia agresif. Jadi ayahanda dan 19:09 bunda, kalau kita melihat ada ayah yang 19:12 agresif, ah ini dia [tertawa] 19:15 dulu waktu anak-anak pernah mengalami 19:18 kekerasan. Begitu juga kalau kita lihat 19:20 ada anak yang agresif, yang suka 19:23 membulih, yang suka apa nih ee mencela, 19:30 suka menyanyalahkan, 19:33 lalu 19:34 pokoknya dia intinya egois. Itu 19:38 sebetulnya tanda-tanda 19:41 orang yang pernah mengalami kekerasan. 19:44 Nah, untuk itu kalau kita mengetahui 19:48 orang-orang yang seperti ini, kita harus 19:53 bangun hubungan dengan cara menciptakan 19:56 ruang yang nyaman, yang aman. Jadi, 20:01 kalau dia melakukan amarah, jangan 20:03 dilawan. H 20:05 karena api nih [tertawa] 20:08 kalau kita gambarkan yang marah itu 20:12 kalau di film kartun Bunda Nuning 20:16 seperti ada orang makan cabe yang pedas 20:20 sekali mungkin cabe level berapa itu 20:23 Bung Ondi? Level 5 ya? Level 5 atau 20:28 level 10? Wah, 20:31 jadi 20:31 merah 20:32 merah. Ahah. Itu untuk itu ee jangan 20:35 wariskan amarah. Ah, untuk itu kita 20:39 memaafkan. 20:41 Berarti itu sebuah pengetahuan B. 20:44 Tapi keterampilan kita bagaimana ini 20:46 supaya tidak marah-marah? A sederhana. 20:49 Coba bagaimana kita mengetes apakah kita 20:52 masih suka marah-marah? lewat aja di 20:54 depan satpam 20:56 di suatu tempat kita tidak minta main 21:00 lewat aja terus sat tegur mau ke mana 21:02 terus kita 21:04 kita ee 21:06 balas 21:06 balas lag uh itu bisa terjadi sesuatu 21:11 kecuali ee satpam yang ada di BCA mereka 21:15 ramah-ramah e berharap satpamsat seperti 21:18 itu. Tapi berharap ya para ayah kalau 21:21 mau mengetes apakah masih suka 21:23 marah-marah, tes aja ee di depan cermin. 21:26 Kalau cermin itu ee tetap diam, ah 21:32 begitulah. 21:33 Untuk itu kita perlu latih. Jadi latih 21:37 atau 21:41 kita masih suka marah ada itu cari 21:44 samsat apa ee yang buat tinju-tinju itu 21:48 benar nih. 21:49 He. 21:50 Atau kamar 21:52 ayah pasang kedap suara seperti di 21:55 studio ini. Jadi teriak mau apa terserah 22:00 enggak keluar ya 22:01 supaya habis habis itu kemarahan 22:04 sehingga saat ketemu dengan anak 22:08 kita penuh dengan kelembutan. 22:12 Walaupun waktu 22:14 tadi kita dengar informasi dari istri, 22:18 "Ayah, kayaknya anak kita nih." Wah, 22:21 jadi dapat laporan yang kemudian ee 22:24 tidak diselidiki lebih awal langsung 22:27 main nak mak ee naik pitang. Apalagi 22:31 si ayah ini waktu di jalan senggol 22:35 senggol sini, senggol sana. Jadi 22:36 emosinya lagi. Ee untuk itu menjadi 22:39 penting untuk kita ee memiliki 22:42 keterampilan untuk tapi kompetensi untuk 22:47 mengelola amarah menjadi seorang ayah 22:49 ini juga perlu punya sikap. Nah, itu 22:52 perlu di sikap ini ya salah satunya 22:56 sikap 22:58 menekankan kepentingan terbaik bagi 23:01 anak. Apa nih untungnya buat anak kalau 23:04 kita marah-marah? Nah, untuk itu perlu 23:06 kita garis bawahi 23:09 amarah jangan diwariskan. Itu yang 23:11 pertama. A yang kedua 23:14 memutus rantai 23:18 kekerasan. Bagaimana cara memutus rantai 23:22 kekerasan? 23:24 Ada kalau Bunda Nuning di setiap acara 23:29 itu ada namanya acara renungan 23:33 atau muhasabah 23:36 atau kita ee diminta untuk ee duduk 23:41 berdiam diri 23:42 untuk mengoreksi 23:45 dari bangun tidur sampai tidur kembali. 23:51 Apakah kita pernah mengeluarkan 23:53 kata-kata yang tidak mengenakkan anak 23:56 kita? Ahah. Seorang ayah perlu tuh di 24:00 coba hitung tadi pagi saat ee anak kita 24:04 berpisah mau ke sekolah, ada enggak yang 24:07 kata-kata yang membuat anak kita itu ee 24:11 tidak gembira? Nah, itu penting 24:13 telusuri. Lalu kemudian saat kita pulang 24:17 kantor atau saat mendapatkan telepon 24:20 dari istri atau sekarang WA ya, Bunda 24:23 dapat WA tuh, Mas, anakmu tuh. 24:27 Terus itu penting juga kita ada enggak 24:32 kejengkelan yang muncul pada diri kita? 24:35 Kita sudah bekerja keras, tapi anak-anak 24:38 kita ini ee tidak membuat kegembiraan. 24:42 bagi diri ee kita sebagai seorang ayah. 24:45 Ini penting dong, telusuri, dalami dan 24:48 itu yang kemudian kita perlu ee cek. 24:56 marah itu tadi kami sampaikan manusiawi. 25:01 Tapi untuk membedakan 25:05 apakah kita sudah benar-benar ee mampu 25:09 mengelola ee amarah kita, lihat di 25:13 ekspresi akhiran. 25:14 Hm. 25:15 Nah, butuh latihan enggak itu? Ya, 25:18 bagaimana dari satu hari aja dari bangun 25:22 tidur sampai kita mau tidur kembali. 25:25 Nah, itu penting kita cek 25:28 ekspresi kita sebagai seorang ayah. 25:31 Apakah ke istri kita kah atau ke anak 25:37 kita kah atau selama kita di jalanah 25:40 atau saat kita di tempat kerja. Apalagi 25:44 kalau pimpinan kita ee juga ditekan oleh 25:48 pimpinannya. Oh, itu pimpinannya akan 25:51 menekan anak buahnya. anak buahnya 25:54 menekan anak buahnya lagi. Jadi akhirnya 25:56 yang 25:57 kebetulan ayah ini adalah pegawai yang 26:00 paling bawah yang mendapat semua ee tapi 26:05 karena dia sudah memiliki kemampuan 26:07 untuk mengatur emosi insyaallah dengan 26:10 cara muhasabah 26:12 atau melakukan review. Kalau review itu 26:17 meninjau kembali 26:19 atau menelusuri ke belakang atau apalagi 26:25 sambil mendengar musik tapi jangan 26:28 nonton ee yang wah ini kekerasan. Nah, 26:33 ini penting 26:36 melalui apa 26:39 kita memutus rantai itu? Selain tadi 26:42 muhasabah juga kita perlu ee latihan. 26:47 Jadi latihan tadi kalau kita di mobil 26:52 mungkin 26:53 cuma sendiri teriak-teriak aja di mobil. 26:56 Paling cuma ada yang lihat tuh ada 26:58 sedang 27:00 atau kita di sepeda motor, oh jangan 27:04 pasang gas yang tinggi ya. Kita ee 27:08 sehingga dulu kip pom bensin gitu ambil 27:11 wudu atau apa. Itu solusi-solusi yang 27:14 perlu kita pikirkan selain apa yang tadi 27:18 yang kita ee baca. Nah, untuk itu 27:22 apa yang perlu kita upayakan agar kita 27:28 tidak mudah marah atau kita tidak mudah 27:32 emosian. 27:34 Sekarang 27:36 di setiap kabupaten kota 27:39 He 27:39 ada namanya pusat pembelajaran keluarga. 27:43 Oh, Puspaga ya. 27:44 Puspaga. Ah, untuk itu para ayah 27:49 jangan menutup diri, 27:52 jangan ee menyelesaikan masalah itu 27:56 dengan sendiri. 27:58 Negara 28:00 ee sudah hadir, tetapi persoalannya 28:04 kehadiran negara itu apakah sudah kita 28:09 fungsikan secara optimal? Untuk itu kita 28:12 gunakan Puspaga, pusat pembelajaran 28:15 keluarga. Di sana nanti kita akan 28:19 menemui para psikolog atau para konselor 28:24 untuk ya kita bagi cerita saja. 28:29 Insyaallah dari 28:32 kita bercerita dengan mereka, 28:34 He, 28:35 dari para konselor akan 28:39 memberikan hal-hal yang kemudian yang 28:42 perlu kita 28:45 garis bawahi agar mendapatkan perhatian. 28:48 Kalau sudah dari sekolah ada yang 28:51 terbaik ya lanjutkan. Tetapi kalau ada 28:54 yang menurut psikolog hal-hal yang perlu 28:58 mendapatkan perhatian dari ayah agar 29:03 saat berbicara, berdiskusi, 29:06 berdialog 29:08 atau memberi nasihat kepada anak kita di 29:11 rumah, kita sudah punya bekal. Nah, 29:15 mengatur tuh bagi mereka yang ada di 29:17 Jakarta, 29:19 di RPRA, di setiap RPETRA itu ada 29:24 petugas-petugas yang 29:27 mampu ee menerima keluhan kita. Dan 29:32 insyaallah dengan kita berbagi cerita 29:34 dengan mereka, kita akan sembari me 29:40 memanfaatkan fasilitas di Rpetra tuh. 29:43 kita dapat menyelesaikan masalah atau 29:47 bagi mereka yang aktif di masjid cari 29:52 kalau ada masjid yang sudah ramah anak 29:55 di masjid yang ramah anak itu ada bagian 29:58 konsultasi 30:00 cari di sana temuin mereka atau 30:05 ayah yang sering melewati kantor urusan 30:09 agama di sana ada balai 30:12 balai 30:13 ee apa itu pengaturan, 30:16 pencegahan, perceraian ada itu balai. 30:21 Tapi balai itu disalah ee persepsikan. 30:25 Dianggap kalau datang ke situ mau 30:27 konsultasi untuk hal-hal yang di luar 30:30 itu. Padahal balai itu digunakan untuk 30:33 ee kemaslahatan. 30:36 atau kalau kita 30:38 tidak menemukan kantor KUAUA, 30:41 sempat-sempat melewati 30:43 ee LK3S, lembaga 30:47 kesejahteraan keluarga, 30:50 lembaga kesejahteraan sosial keluarga 30:53 LP, LK3S pokoknya lembaga konsultasi 30:57 kesejahteraan keluarga sosial. Nah, itu 31:02 itu juga disalah ee artikan juga dipikir 31:05 kalau kita mau ke sana kita adalah masuk 31:09 kategori keluarga miskin karena 31:11 kesejahteraannya perlu ditingkat. 31:14 Padahal kesejahteraan itu terjemahannya 31:17 bukan miskin secara ee material, tapi 31:22 miskin dari segi pemahaman juga perlu 31:24 datang ke situ, konsultasi, tanya, 31:27 diskusi. 31:28 Tapi yang jadi soal 31:31 kalau orang yang kita temui tidak ada 31:34 untuk itu menjadi penting, perlu dicatat 31:38 itu. Jadi kita ee 31:42 jangan mencari jalan sendiri. Jadi tanya 31:46 ke para pihak agar lembaga-lembaga yang 31:51 saya sebutkan tadi itu benar-benar 31:54 kita rasakan 31:56 kehadiran negara. Tahu enggak Bunda 31:59 Nuning, 32:00 lembaga itu menggunakan APBN APBD. Hm. 32:04 Nah, dan uang-uang itu dari haris hasil 32:08 jari para jeripaya para ayah yang 32:11 membayar pajak. Nah, ini gunakan, 32:13 fungsikan. 32:15 Lalu, ada enggak solusi lain? Ada. 32:19 Sekarang nih 32:21 di aplikasi pemerintah di Satu Hati itu 32:25 ada tuh 32:26 salah satu ee pertanyaan mengenai 32:29 kesehatan kejiwaan. Ah, di sana kita cek 32:31 tuh apakah selama sat 2 minggu 32:34 pertanyaan itu dibatasin 2 minggu Bu 32:37 Noni, apakah selama 2 minggu terakhir 32:39 ini ee marah-marah 32:43 emosional atau melamun atau apa tuh ee 32:47 pikiran kosong? Cek tuh gunakan 32:51 manfaatkan semua fasilitas yang sudah 32:54 ada. Intinya apa sebetulnya pembicaraan 32:57 kita kali ini? yaitu memastikan 33:02 anak-anak kita di rumah menemukan ruang 33:06 yang aman. Salah satu ruang yang aman 33:11 itu adalah diciptakan oleh ayah yang 33:15 mampu mengelola amarah. Demikian semoga 33:19 apa yang kita ee sampaikan hari ini 33:23 bermanfaat. Semoga ada yang mau bertanya 33:26 ini. 33:26 Insyaallah. 33:28 Jadi yang dikelola, yang diolah bukan 33:32 cuman masakan ya, tapi amarah. Baik, 33:35 sebelum kita lanjutkan ada informasi 33:37 dari Radio Silaturahim ini terkait 33:40 dengan hitanan massal dan ini free atau 33:45 gratis ya. Sunat Ceria Anak Bahagia. 33:49 kerja sama Kemenkes Republik Indonesia 33:53 dengan Pondok Pesantren Alfatah di 33:56 Cilengsi Bogor. Pendaftarannya Ikhwan 33:59 Akhwat itu tanggal 19 sampai dengan 23 34:02 November 34:04 2025 34:06 dan pelaksanaannya 34:08 tanggal 25 November 2025 pada hari 34:13 Selasa. Nah, kalau tempatnya PON PES 34:18 Alfatah Bogor itu ada di Jalan Ponpes 34:23 Alfatah RT2 RW5 Pasir Angin, Kecamatan 34:29 Cilengsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 34:34 Dan untuk tahu informasi lebih lanjut 34:37 terkait dengan hal ini bisa menghubungi 34:40 Humas Alfatah di 0821 34:44 2314 34:47 5718. 34:49 Sekali lagi bisa hubungi nomor 08212314 34:55 5718. 34:57 Oke. Baiklah, Ikhwan akhwat. Ee Pak 35:02 Hamid dari apa yang sedang kita bahas 35:05 ini ada pertanyaan yang sudah mulai 35:09 masuk nih 35:11 dari tidak ada namanya 0811 sekian. 35:14 Bagaimana kalau 35:18 kita memang tukang marah? Saya sudah 35:21 berusaha untuk menguranginya 35:23 tapi tetap saja tidak mudah. apa yang 35:27 harus saya lakukan ini kebiasaan marah 35:30 enggak jelas ini. Terima kasih, Pak 35:32 Hamid. 35:33 Baik, terima kasih, Ayahanda dan Bunda. 35:36 Kalau kita merasa punya apa ee 35:42 apa potensi kemarahan yang tingkat 35:45 tinggi itu coba telusuri apa 35:48 penyebabnya. Sederhana. 35:51 Kalau 35:52 ayah handa dan bunda masih punya ayah 35:56 atau punya ibu, 35:58 coba tanya sama ibu. 36:01 Saat 36:04 ayah dan bunda masih di dalam kandungan 36:07 bunda, 36:10 suaminya itu bagaimana sikapnya kepada 36:13 ee istrinya? Nah, itu itu perlu kita 36:17 tanyakan 36:19 dengan kita mengetahui 36:21 sumber atau akar penyebab kita suka 36:24 marah-marah itu dari situ. Kalau kita 36:27 sudah tahu waktu kita masih dalam 36:31 kandungan mendapatkan paparan ee amarah, 36:35 baik itu ibu menanggapi sikap ayah yang 36:41 mungkin 36:43 ee terlambat datang atau mungkin ya 36:47 mungkin mungkin suka bermain mata dan 36:51 kemudian atau 36:54 meminta sesuatu yang tidak terpenuhi. 36:57 itu yang kemudian memunculkan amarah 36:59 dari Bunda saat sedang mengandung kita. 37:02 Atau sebaliknya, potensi kemarahan itu 37:06 dari ayah yang suka marah-marah kepada 37:09 istrinya. Kemungkinan besar pada saat 37:12 proses mereka diikat menjadi suami istri 37:16 itu tidak memiliki sejarah yang ee 37:19 mulus. Nah, itu juga bisa ditelusuri. 37:22 Kalau kita tahu dapat itu 37:26 kita sudah dapat informasi awal. Yang 37:29 kedua, selama kita dalam ee masa bayi 37:35 atau balita, usia ee di bawah ee 8 37:39 tahun, apakah pada masa usia itu kita 37:43 sering mengalami tidak ee kekerasan? 37:47 Kekerasan kemarin tadi kita sudah sebut 37:49 kekerasan itu bukan langsung kita ee 37:53 anotasikan atau dipukul. 37:56 He 37:57 kekerasan itu kan ada empat bentuk 37:59 kekerasan ya. Telusuri nih. Pertama 38:03 kekerasan fisik. 38:07 Mungkin pernah kita dimasukkan ke toilet 38:11 itu fisik kena juga sihister. 38:13 Iya. 38:14 Masuk juga penelantaran. Nah, itu fisik. 38:17 Lalu kemudian sih sih itu kita sering 38:21 mendapatkan 38:23 kata-kata kasar jemoohan. Lalu kemudian 38:27 saat kita mendapatkan itu, kita mau 38:30 marah itu tidak bisa ee terlampiaskan. 38:35 Anak-anak kalau mau marah waktu masih 38:36 anak-anak, 38:38 jalan keluarnya nangis. 38:40 Iya. 38:41 Dia mengaturnya nangis. nangis itu kalau 38:44 menurut ee seorang ee ahli dari IPB itu 38:49 bisa diterjemahkan waktu masih usia 38:51 bayi. Nah, itu ada nangis basah, nangis 38:54 haus, nangis kegerahan. Itu ada tuh 38:57 cintik nangis. 38:58 Lalu ketiga, 39:00 kekerasan seksual. Mungkin tidak 39:03 mendapatkan itu ya. Tapi yang tidak 39:06 kalah penting ini adalah penelantaran. 39:12 Penelantaran itu salah satu bentuk 39:14 adalah tidak memberikan pemahaman yang 39:19 optimal kepada anak saat dia mendapatkan 39:23 amarah dari ayah atau dari ibu. 39:27 Seharusnya seorang ayah yang hebat 39:29 setelah dia memarahi dan biasanya nih 39:32 Buoning 39:33 dia akan 39:34 datang kepada anaknya baik itu saat dia 39:37 mandikan atau apa dia bercerita, "Nak, 39:42 ayah tadi marah, maafkan ayah." Itu kan 39:45 proses untuk ee penyembuhan ee batin 39:49 kita. Dan itu yang kemudian ee memang 39:52 kita mendapatkan amarah tetapi si ayah 39:56 sudah meminta maaf dan itu otomatis 39:59 hilang. Itu kalau kalau ayah yang ee mau 40:04 bersikap gentel untuk meminta maaf 40:09 kepada anaknya yang setelah dia maafkan. 40:13 Pada dasarnya tidak ada seseorang yang 40:16 mau dimarahi dan tidak ada seseorang itu 40:21 mau memarahi. 40:22 Iya. Ah, untuk itu kalau kita sudah 40:27 identifikasi akar-akar 40:30 penyebab kita dimarahin itu, 40:34 kalau kita sudah tahu siapa yang menjadi 40:37 pelaku, sederhana sebetulnya 40:41 kita 40:42 memaafkan 40:44 orang-orang yang telah membuat diri kita 40:49 menjadi seperti hari ini. 40:51 Iya. Sebetulnya orang yang suka marah 40:55 atau emosian itu dia sedang mengirimkan 40:59 sinyal. 41:02 Halo yang mendengarkan amarah saya. Nah, 41:04 itu sebetulnya mengirimkan sinyal 41:06 seperti itu. 41:08 Tolong bantu aku. 41:11 Tolong bantu aku. 41:12 He 41:13 untuk membuat aku nyaman, membuat aku 41:17 merasa diterima, dan membuat aku merasa 41:21 tenang. 41:23 Kalau orang yang di sekitar itu 41:28 sudah terpapar pemahaman bahwa kalau ada 41:31 orang yang suka marah-marah dulu dia 41:33 adalah korban kekerasan. Nah, itu. 41:36 [tertawa] Ah, untuk itu kita gunakan itu 41:38 pemahaman itu. Akhirnya orang-orang yang 41:40 sadar ini pada saat kita marah mereka 41:45 akan ee diam, 41:48 akan menutup telinga, lalu kemudian 41:53 akan merespon dengan kebaikan-kebaikan. 41:56 Itu yang kemudian 41:57 ee kita akan mulai redah emosi kita. 42:01 hari ini atau hari-hari ini ada ee di 42:05 Instagram itu ee viral 42:09 seorang ayah sedang 42:13 menegakkan aturan di rumah karena 42:16 anaknya melakukan pelanggaran. Jadi 42:19 marah ceritanya nih kepada anaknya. 42:21 He 42:23 yang dimarahi 42:25 anak yang tua. 42:28 Si Bapak ini punya anak lagi yang masih 42:32 usia balita sekitar ee di bawah 5 tahun. 42:37 He. 42:37 Saat ayahnya sedang menghukum kakaknya 42:41 ini, si anaknya itu mengambil bangku. 42:46 Jadi kasih bangku ke ayahnya supaya 42:48 ayahnya duduk. 42:49 Terus adiknya ya si kakaknya sedang 42:52 marahi duduk. 42:54 Ini sedang memegang ini Bunda Nuning si 42:56 ayah ini ee apa? Hanger dari kawat 43:00 untuk 43:02 mengkapret si kakaknya ini. Apa yang 43:05 dilakukan oleh si adik ini? Si adik 43:07 ambil air. Airnya dikasih ke ayah. Jadi 43:10 akhirnya ayahnya punya beban sambil 43:13 megang ee gelas. dan memegang ee hanger 43:19 dari kawat ini untuk menstrap. Terus si 43:24 kakaknya juga dikasih air. Terus Bunda 43:27 Nuning. 43:28 Heeh. 43:29 Si anak itu datang lagi ambil hanger 43:32 dari si ayahnya di ee tempatkan di satu 43:35 tempat. Ay akhirnya akhirnya bingung. 43:39 Nah itu kan mendelay 43:42 supaya tidak emosian. 43:43 Betul. terus si kakaknya digeret atau 43:46 ditarik oleh adiknya untuk keluar 43:48 menjauhi ayahnya. Ah, itu berarti di 43:50 situ untuk eh sering sering nontonlah e 43:55 film-film seperti itu ya supaya kita 43:58 dapat mengelola emosi. Tapi ingat 44:03 orang yang suka marah pada dasarnya 44:08 dia 44:09 saat itu tidak dalam keadaan sadar. 44:16 Kalau dia sadar Bunda Nuning, dia tidak 44:18 akan marah. itu tuh poinnya. Untuk itu 44:21 ayo pilih ayah mau selalu sadar atau mau 44:24 selalu tidak sadar. 44:27 Untuk itu sadarilah bahwa mereka yang 44:32 suka marah itu sebetulnya pada saat itu 44:36 mereka sedang dinaungi oleh awan iblis 44:41 atau awan gelap. Jadi dia sedang di Oh 44:45 marah tuh. Untuk itu bagi mereka yang 44:48 mau marah ada solusi dari Rasulullah. 44:51 He 44:51 duduk. Kalau bila berdiri duduk 44:54 berbaring 44:56 masih marah lagi ambil air wudu. Masih 44:58 marah lagi salat lagi. 45:00 Salat 45:00 masih marah lagi tidur aja di bawa tidur 45:03 gitu. Semoga ayah ee yang suka marah 45:07 akan kita temui pada suatu waktu selalu 45:11 menggembirakan anak-anak mereka. 45:14 Iya. 45:15 ini dari Ibu Ida ya. Tadi dengar kalau 45:20 untuk 45:22 menghilangkan 45:24 rantai kekerasan 45:27 dengan muhasabah atau teriak sendiri? 45:30 Teriak sendirinya di mana ya? Kalau saya 45:32 tinggal di kampung yang jauh dari kebun. 45:35 Kalau di rumah nanti dibilang orang 45:37 gila. Adakah cara lain selain 45:40 berteriak-teriak di tempat yang enggak 45:42 bikin orang bingung? Pak, terima kasih. 45:44 Makasih, Ibu. Terima kasih, Ibu. Ee ah 45:48 ni 45:50 kalau tidak ada tempat lain untuk 45:53 berteriak, 45:54 berteriak di dalam hati aja. 45:56 Emang bisa? 45:57 Bisa. Coba tes teriak dalam hati. 46:00 [tertawa] 46:01 Ee asal kita tahu apa sumber penyebab 46:05 kita ee apa marah. Jadi ee salurkan dulu 46:11 ke tempat yang sesungguhnya. 46:14 Ya, sederhana. Kalau kita mau marah 46:17 langsung kita zikir astagfirullahalazim. 46:21 Udah. Jadi itu yang paling sederhana. 46:25 Jadi kalau mau mau marah langsung ee 46:28 berzikir terus. Ingat bahwa yang suka 46:32 marah-marah itu bukan temannya malaikat, 46:35 tapi temannya iblis. Poin tadi gitu ya. 46:40 Insyaallah dengan ee demikian kita akan 46:45 mulai ee sadar diri, mawas diri bahwa 46:51 kita bukan robot yang 46:55 selalu apa-apa. Tapi kita harus 46:59 memastikan 47:02 dari didikan kita, dari contoh kita, 47:08 anak-anak akan melihat. 47:11 Anak sangat senang 47:14 belajar dari cara-cara orang dewasa 47:18 menyelesaikan masalah. He. 47:21 Kalau 47:22 anak-anak kita menemukan kita dalam 47:26 menyelesaikan setiap masalah itu tanpa 47:29 amarah, insyaallah anak-anak kita tidak 47:33 akan melakukan hal yang serupa. Kalau 47:38 ditemukan dengan selalu dengan penuh 47:40 kelembutan, 47:41 lalu mencegah jangan sampai marah, 47:46 insyaallah anak-anak akan belajar dari 47:48 kita. Dan siapa lagi yang akan 47:52 memastikan 47:54 anak-anak kita di pergaulan nanti mereka 47:59 setelah mereka lepas pas