Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:10 Brazil 0:36 Allahu Akbar 0:40 Allahu Akbar. Allahu Akbar. 0:44 Lailahaillallah. 0:57 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 0:59 warahmatullahi wabarakatuh. Allahumma 1:01 sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali 1:03 sayyidina Muhammad. Alhamdulillah kita 1:05 berjumpa lagi hari ini. Hari Kamis. Saya 1:06 hari Kamis 1:08 hari Senin. 1:09 Ah gimana? tanggal 9 Rabi akhir 1448 1:13 Hijriah atau 21 September 1:16 2026. 1:18 Yang kangen, yang kangen, yang kangen. 1:20 Kita jumpa lagi dalam Sirah Nabawiyah 1:22 bersama Ustaz Salman Alfarisi. Eh, bukan 1:25 Alfarisi namanya 1:26 Abdul Hamid 1:26 Abdul Hamid. Ustaz Salman Abdul Hamid. 1:29 Sekarang namanya Ustaz Salman Abdulid. 1:32 Abdulid. Betul. 1:33 Itu matchos-nya luar biasa ya. Ruha 1:35 Fajar bagus sekali itu. 1:36 Terima kasih Pak Kris. 1:37 Baik di Instagram, di TikTok. di 1:39 mana-mana tentang bagaimana pengembaran 1:41 para 1:42 santri itu bergaul dengan 1:46 apa? 1:47 Tanaman, ternak, dan kegiatan 1:49 sehari-hari. 1:50 Anggur-anggurnya masa berbuah lebat, 1:52 durennya jugaan taman hias. Masyaallah. 1:55 Asalamualaikum Salman. 1:57 Waalaikumsalam Pak Krishna yang ganteng. 2:00 Apa kabar? 2:01 1000 orang apa 2 juta orang nih yang 2:04 kangen sama. 2:06 Oke, selanjutnya Oi, Saputra dan AGI. 2:09 Kita akan mengambil tema membangun e 2:12 akhlak karimah 2:13 tanpa marah. 2:15 Dari rumah, tapi 2:15 dari rumah ya. Jadi membangun akhlak 2:18 karimah tanpa marah. 2:20 Membangun akhlakul karimah dari rumah. 2:24 Dari rumah 2:24 tanpa marah. 2:25 Tanpa marah. Dari rumah tanpa marah. 2:27 Kita boleh enggak sih marah? 2:29 Boleh-boleh aja. 2:30 Dalam hal apa kita boleh marah? Dalam 2:32 hal jika haknya Allah dilanggar. 2:36 Haknya Allah dilanggar. 2:37 Heeh. Tapi marahnya juga beretika. 2:40 Misal orang ada menghina Nabi. 2:43 Menghina Nabi boleh kita marah, tapi 2:44 jangan W itu enggak boleh itu, Pak. 2:46 Oh, gitu. 2:47 Cuma kalau teriak-teriak itu bukan 2:50 marah-marah itu. Itu nunjukkan kita 2:52 bodoh sebenarnya. 2:53 Tantrum ya. 2:53 Tantrum. Orang marah itu cukup bilang ee 2:58 kata-kata yang menukik dengan baik dan 3:01 sopan dengan raut wajah yang tegas 3:04 itu jauh lebih menggetarkan daripada 3:11 Iya kan, Pak? Kan semuanya semuanya itu 3:14 kan dari raut wajah kita sebenarnya. 3:16 Tapi kalau cuma Bapak marah sama orang 3:20 yang menghina Nabi kemudian Bapak cuma 3:23 suaranya keras. P. 3:25 Kalau saya dimarahi begitu, saya akan 3:28 mengatakan orang yang marah ini bodoh 3:30 itu. Tapi kalau dia bilang sama saya, 3:32 "Salman, kamu menghina Nabi enggak takut 3:36 nanti diazab oleh Allah Subhanahu wa 3:38 taala." Itu malam bikin lar 3:40 selesai kan. Ngapain marah-marah, buang 3:42 buang-buang segala-galanya 3:46 gitu, Pak Kris. 3:48 Nabi kan banyak nyontohin. Nabi sering 3:50 kita ulang-ulang dari R hasil. Iya. 3:51 Saya mengulang-ulang tema ini karena ee 3:55 pengin banget saya pengin banget 3:58 terutama saya pribadi Pak Krisia umat 4:00 Islam itu benar-benar kembali 4:03 mengejawantahkan akhlak Rasulullah 4:05 sallallahu alaihi wasallam. 4:07 Tidak mudah marah, tidak mudah 4:08 terpancing 4:09 tidak. Iya. Jangan reaktif. 4:12 Nabi tidak mengajari umat Islam reaktif. 4:15 H 4:16 tak seperti lebah dia kan, Pak Kris? Hm. 4:20 Seperti lebah. Dia guyub bersatu. Di 4:24 mana pun dia mampir pasti menghasilkan 4:26 madu yang banyak gunanya. Ya kan? Ya 4:30 kan? Hinggap di dahan mana pun tidak 4:33 pernah patah dan jangan kau ganggu dia. 4:36 Oke 4:37 gitu kira-kira. Pak 4:39 pendengar pemirsa Rasil yang sedang 4:41 kangen dengan Ustaz Salman bin Abdul 4:44 Hamid. Kita dengarkan uraian beliau 4:47 membangun ahlalul karimah tanpa marah 4:49 dari rumah. Silakan Ustaz. 4:51 I makasih Pak Kris. Asalamualaikum 4:53 warahmatullahi wabarakatuh 4:56 pendengar Rasil di mana pun berada. 4:59 Bismillahirrahmanirrahim. 5:01 Alhamdulillahi rabbil alamin. Wasalatu 5:04 wassalamu ala asrofil mursalin sayyidina 5:07 Muhammadin wa ala alihi wasohbihi 5:10 ajmain. 5:12 Pergi ke Medan membeli kail. Cakep. 5:14 Nah, cakep. 5:16 Habis habis mancing makan lontong Medan. 5:20 Saya kangen nama Rasil. 5:24 Semoga pertemuan ini membahagiakan. 5:29 Ngomong-ngomong lontong Medan ada di 5:31 lapangan tembak Cibubur. Enak katanya 5:33 tuh. Iya. 5:33 Ada di YouTube tuh. 5:35 Kalau lontong Medan di sini juga ada 5:37 nih, Pak sebelum RAP Malaysia itu. 5:40 Iya. Tapi ya yang 5:42 yang itu lebih enak lagi 5:43 katanya sih 5:44 katanya yang tahu lontong meren enak itu 5:47 orang Medan ini. Iya. 5:51 Oke. 5:51 Waduh bangun 5:53 sebenarnya kita itu cocoknya jangan 5:55 ceramah kita ngobrol-ngobrol ya 5:59 karena kangen gitu. Saya juga kangen 6:00 sama Rasil, kangen sama Pak Krishna, 6:03 sama Ondi, sama Pak Ihsan, Pak Farid. 6:05 kayak di Aceh segala apa diobran di 6:07 warung kopi. 6:08 Iya 6:10 kopi. 6:10 Apa perlu set up-nya kalau saya datang 6:12 kita bikin jadi warung kopi di studio? 6:14 Boleh juga ya. 6:16 Ini kita ngobrol ngobrolin apa gitu Pak 6:18 Krisa. Ee hari ini pertama saya datang 6:23 saya rindu sama Rasil Pak Krishna. 6:26 Selain rindu banyak pendengar yang 6:28 bertanya. 6:29 Ustaz Salman sudah enggak dirasil ya? 6:31 Katanya. Ee jadi semoga yang bertanya 6:34 sedang mendengar ini. Saya dengan Rasil 6:37 baik-baik saja. Saya rindu sama Rasil. 6:40 Ee tolong didoakan semoga bisa bersiaran 6:43 baik-baik gitu kan. Maksudnya 6:45 rutin lagi. Wallahuam. Ini hanya Allah 6:47 yang bisa bikin Pak Kris. 6:50 Dan kita tidak ke mana-mana tetap di 6:53 Ruhama Alfajar. Membangun Ruhama 6:55 Alfajar. merintis suruh hama alfajar ee 6:58 agar fokus dan tetap istikamah membantu 7:01 anak yatim dan duafa. 7:04 Justru kalau ada pendengar rasil di 7:05 sekitar Rohama Alfajar, mampir-mampirlah 7:08 kita ngobrol di sana, ngaji bareng di 7:11 sana. Ee setiap malam Kamis 7:15 jam 09.00 malam. Tapi mulainya ada 7:17 pengajian kita di Rohama khusus untuk 7:20 siapa saja. 7:21 Itu tiap malam apa itu? 7:23 Malam Kamis. Malam Kamis jam berapa? 7:25 Jam 09.00 tapi mulainya. 7:27 Hm. Jam 09.00 malam. 7:28 Heeh. Bakda isya ya? 7:30 Bakda isya. 7:31 Sampai jam berapa ya? 7:32 Sampai jam 11.00 biasanya. 7:33 Oh. Kalau rumahnya jauh enggak repot. 7:35 Enggak bisa. Makanya yang dekat-dekat 7:37 situ kajiannya kitab-kitab Safwatut 7:40 Tafasir. 7:42 Yang ngajar Ustaz. 7:44 Iya. Jangan yang ngajarlah. Yang sharing 7:46 bersama jemah adalah Salman Abdul Hamid. 7:48 Kalau ngajar nih masih jauh, Pak. Ini 7:50 Kak Gris. 7:52 Dan itu membaca Al-Qur'an dengan makna 7:54 maksudnya. Oh, 7:55 masyaallah. 7:56 Jadi, alhamdulillah ee hari ini saya 7:58 datang ke Rasil karena saya rindu Rasil. 8:01 Ee mudah-mudahan nanti Allah kasih jalan 8:04 supaya setiap Senin saya datang. 8:05 Wallahuam. 8:11 Nah, hari ini kita ngomong 8:13 ringan-ringan, Pak Kris. Kalau temanya 8:15 berat nanti udah cuaca panas, duit lagi 8:17 enggak ada, ya kan? Hutang banyak, 8:19 temanya berat pula. Ah, ngapain? Gua 8:23 bilang, maka kita bilang, "Kita mau 8:26 bangun akhlakul karimah dari rumah." 8:30 Saya mengatakan dari rumah karena ini 8:33 penting. 8:34 Ee 8:36 tanpa marah pula. 8:39 Saya lihat-lihat, Pak Kris. 8:43 Baik anak remaja, anak kecil, orang tua, 8:47 kakek-kakek, opung-opung, semua akhlak 8:50 rusak mulai dari rumah. 8:52 Kenapa bisa begitu? 8:53 Nah, ini dia nih. Kita kita lihat 8:55 bareng-bareng nanti. Bisa saja aku 8:56 salah, Pak Kris. 8:58 Ini kan kegelisahan saja sebenarnya. 9:02 Eh, anak SD ngobrol sama temannya itu 9:06 ngomong anjing itu normal udah. H 9:10 saya aja nyebutnya tadi itu berat rasa 9:11 lidah Pak itu. Apalagi di radio seperti 9:14 ini yang muslim kita. Tapi saya ingin 9:16 menohok itu semua k saya ucapkan. Tapi 9:19 anak-anak kecil kita itu masih kelas 3 9:22 SD 4 SD anjerit di bilang ya 9:24 kalau itu masih mending masih banyak 9:27 lagi kata-kata lain itu. 9:29 Yang dia sama temannya kesal apa ngomong 9:31 padahal bercanda juga. Tentu kan 9:33 didukung oleh YouTuber atau artis atau 9:37 tokoh yang ditonton oleh banyak orang. 9:40 Saya enggak tahu ya apa saya yang 9:42 terlalu kampungan 9:44 menganggap kata-kata begitu itu menurut 9:46 saya enggak baik. Kalau saya sih, Pak 9:47 Krisia. 9:48 Makanya kadang-kadang saya juga kali 9:51 saya yang kampungan kali ya bahwa 9:53 kata-kata seperti itu normal. Aku juga 9:56 kalau ketemu influencer itu kalau ketemu 9:58 ngomong baik-baik, tolong ajari saya 10:00 supaya saya justru ikut menganggap 10:02 kata-kata itu jadi normal gitu. Kalau 10:05 memang itu mau dinormalkan kan gitu ya. 10:07 Kenapa saya bilang bermula dari situ Pak 10:09 Kris? Akhirnya orang dewasa juga begitu. 10:13 Orang yang umur 20, 30, 40 saya lihat 10:16 juga begitu juga. Akhirnya orang yang 10:19 punya jabatan juga sama juga. Akhirnya 10:22 orang yang ditokohkan juga sama juga. 10:24 Jadi dari mana ini sebenarnya bermula? 10:28 Sekolah ada, 10:30 SD, SMP, SMA ada pesantren banyak. 10:35 Saya pikir orang yang ngomong begitu, 10:37 yang ngomong tidak berakhlak itu saya 10:39 pikir hanya orang yang tidak nyantri. 10:41 Ternyata santri juga ikut. Ya di Rohama 10:43 sering saya dengar itu anak-anak itu 10:45 ngomong ngantar sama dia. Kalau kita 10:48 dengar bisa kita tegur, kalau kita tidak 10:49 dengar bagaimana? 10:52 Apalagi Pak Kris kondisi akhlak kita 10:55 ee seks bebas luar biasa sekarang lihat 10:58 tuh 11:01 khamar di mana-mana, narkoba di 11:03 mana-mana. 11:05 Ee pergaulan sudah enggak ada 11:07 batas-batasnya. Sudah 11:08 LGBT di mana-mana. 11:09 LGBT di mana-mana. Sekarang orang yang 11:13 terjangkit LGBT lagi berjuang supaya 11:16 LGBT dianggap normal. 11:18 Ya kan? Ini kan permasalahannya kalau 11:21 kita LGBT haram, korupsi haram, ngomong 11:26 kasar haram. Saya kira 11:29 memberikan hukum kepada mereka 11:32 kulihat-lihat ya enggak mempan, Pak. Mau 11:36 kita haramkan, mau kita bilang masuk 11:38 neraka, mau apa. Dia bilang biarin aja, 11:41 katanya. 11:43 Eh, saya lihat-lihat lagi. Oh, 11:47 kenapa saya jika dibilang haram takut 11:52 atau kenapa seseorang jika dikatakan itu 11:55 larangan Allah takut? Saya teringat 11:58 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. 12:01 Saya teringat juga sabda Rasulullah 12:03 sallallahu alaihi wasallam, "Innama 12:05 buitu liutammima makarimal akhl." 12:10 Ini hadis yang kita hafal semua, kita 12:11 tahu semua dan sering kita ulang-ulang. 12:14 Saya ini diutus hanya untuk 12:16 menyempurnakan akhlak mulia. 12:20 Dia itu sallallahu alaihi wasallam bukan 12:22 mengajarkan akhlak mulia, tapi akhlak 12:25 mulia kemudian disempurnakan. Dengan 12:28 apa? Disempurnakan dengan Islam dan 12:30 iman. 12:32 Maka ketika akhlak mulia sudah dimiliki, 12:36 iman dan Islam datang, itu tuh tadi tuh 12:39 eh LGBT itu haram. Langsung dia 12:42 gementer, takut istigfar, tobat kepada 12:44 Allah Subhanahu wa taala. 12:46 Ketika akhlak mulia sudah dibangun 12:49 kemudian Islam dan iman dimasukkan, 12:53 maka muncullah orang yang kalau korupsi 12:55 takut. 12:58 Kalau akhlaknya sudah, 12:59 kalau akhlaknya sudah dulu sudah 13:00 dibangun dulu, Pak. 13:03 Akhlaknya dulu dibangun. 13:05 Karena innama buistu liutammima. 13:10 Kan sesungguhnya aku diutus hanya untuk 13:13 menyempurnakan. Apa yang disempurnakan? 13:15 Akhlak. 13:16 Akhlakul karimah. Kalau bahasanya 13:19 menyempurnakan akhlakul karimah, berarti 13:22 akhlaknya sudah ada. 13:25 disempurnakanlah dengan apa? Iman dan 13:28 Islam. 13:30 Nah, sekarang kita bicaranya selalu 13:32 tentang hukum dalam hukum. Dalam hukum 13:34 dalam hukum orang enggak takut sekarang. 13:37 Emang yang korupsi enggak tahu korupsi 13:40 haram, Pak? 13:41 Tahu. Ya, 13:41 tahulah 13:43 apa. Tak tahu dia. 13:47 Koruptor itu ngomong ke saya sebenarnya 13:49 takut kita ustaz. Korupsi ini 13:51 takut kenapa? Nanti ketahuan. Nah, kan 13:53 gak takut dia, Pak. 13:54 Takutnya, 13:55 takut ketahuan kan takut saya korupsi 13:58 ini, Pak Ustaz. Kenapa aku kawan aku tuh 14:00 korupsi akhirnya istrinya selingkuh, 14:02 anaknya narkoba, anaknya ini, anaknya 14:04 itu tahu mereka. Tapi kenapa ketika 14:08 godaan korupsi itu datang tidak bisa 14:09 dihindari? Padahal dia sudah pergi haji, 14:13 dia ikut salat, dia ikut pengajian, 14:15 kadang-kadang dia dengerin radiasi lagi 14:16 itu orang. Ah, macam mana coba? Dia 14:21 ngaku kalau dia korupsi. 14:22 Ngaku dia korupsi. 14:23 Oh. 14:24 Ah. Ah. Kalau yang kayak gitu, Pak, 14:27 bukan satu dua orang, 10 orang ketemu 14:29 sama saya ngomong begitu. 14:31 Ngaku dia korupsi karena situasi dan 14:34 kondisi. 14:37 Maka saya melihat akhlakul karimah 14:39 solusinya. 14:41 Orang harus dibangun akhlaknya dari 14:44 sejak kapan? Dari sejak bayi sebenarnya. 14:47 Di mana? Di rumah. 14:50 Harus dari rumah. 14:55 Kalau dari sekolah, 14:57 kecuali sekolah itu amanah bisa, Pak. 15:02 Sekarang kan sekolah rata-rata, sudahlah 15:04 kita buka-bukaan aja. Sekolah rata-rata 15:06 yang dipertahankan adalah akreditasi kan 15:09 itu kan kalau enggak olimpiade 15:13 kan. Kalau enggak pemenang cerdas 15:16 cermat, apalagi, Pak? 15:18 Kognitif semua ya. 15:19 Kognitif semua. Artinya 15:21 prestasi-prestasi yang memboyong piala. 15:27 Bodo amat sebenarnya 15:29 ee murid ini berakhlak atau tidak. 15:33 Dengan kondisi global yang kita lihat 15:35 ya, adalah satu-satu ada yang tetap 15:38 fokus, tetap sabar bahwa tujuan mendidik 15:41 adalah akhlak. Tapi kan permasalahannya 15:44 akhlak ini tidak ada apresiasinya. 15:48 Siapa yang lembaga mana yang bikin 15:49 apresiasi akhlak coba? 15:51 Dulu diaput budi pekerti. 15:54 Iya. Budinya pergi pekertinya enggak 15:56 tahu di mana coba. 16:01 Terus tanya nanti akhlak itu dinilai 16:03 oleh guru dari mananya? 16:06 Ee nanti Bapak Krishna kalau ketemu guru 16:09 tanya guru matematika bagaimana dia 16:12 membuat nilai 9 di rapot anak 16:14 matematika. Dia akan tahu tahapannya. 16:17 Tapi coba tanya bagaimana Bapak menaruh 16:20 nilai budi pekerti di rapot anak? 16:25 Nanti Bapak dengarkan jawabannya. Kasih 16:27 tahu saya. Nanti kita diskusikan 16:30 mana lebih penting di kepala seorang 16:33 pendidik matematika atau akhlak. Sama 16:37 dengan guru tahfiz juga sama. 16:41 Menghafal Quran 16:43 tanpa membangun akhlak yang baik di 16:45 sanubari santri. Repot ini nanti kalau 16:48 sudah sama-sama tahu kita yang bunuh 16:50 Abdullah ibn Zubair ibn Awwam itu hafal 16:53 Quran. 16:54 Bukan cuma hafal Quran, dia guru tahfiz 16:57 Quran. Masyaallah. 17:00 Yang menyebabkan Ka'bah dibom 17:03 pertama kali sesudah Rasulullah 17:05 sallallahu alaihi wasallam wafat itu 17:07 orang hafal Quran. Bukan cuma sekali 17:10 lagi bukan cuma hafal Quran dia guru 17:12 tahfiz Al-Qur'an di Thaif. 17:14 Siapa namanya? 17:15 Hajjad bin Yusuf. 17:16 H. 17:19 Iya. 17:20 Dia guru tahfid, dia hafal Quran, dia 17:23 ahli nahwu, dia ahli saraf. Syairnya 17:26 kalau kalau lagi berbicara, "Oh, keren 17:28 sekali. Saya pengagumnya dalam hal itu." 17:32 Tapi bahwa 17:34 mereka tidak berhasil 17:39 apa namanya membangun eh salah saya. 17:42 Bahwa mereka bahwa dialah yang 17:44 menyebabkan Ka'bah dibom itu. Betul. 17:48 bahwa dia tega membunuh 17:51 cucunya Abu Bakar 17:54 radhiallahu anhu. 17:57 Abdullah bin Zubair ibnil Awwam 18:00 anaknya Zubair ibn Awwam anaknya Asma 18:03 binti Abu Bakar dibunuh. 18:07 Mana hafalan Al-Qur'annya tidak 18:10 mempengaruhi jiwanya? 18:13 Sama dengan kita sekarang 18:16 yang korupsi itu tadi pagi salat subuh 18:18 berjamaah, Pak. 18:19 Masyaallah. 18:21 Ah, tahu kalilah aku. Orang yang tahu 18:23 aku dia korupsi salat subuhnya rajin, 18:27 puasa Senin Kamis pun diikut. 18:29 H. 18:31 Kenapa? Karena ritual agama dijalankan 18:36 oleh orang yang tidak yang tidak 18:39 dibangun akhlakul karimahnya. 18:45 Terus saya saya ulang lagi, di mana kita 18:47 bangun akhlakul karimah ini? Di rumah. 18:49 Harus dari rumah. 18:51 Jangan percayakan ke orang lain. Dari 18:54 rumah kita harus dari rumah. Ayah 18:56 mendidik anaknya akhlakul karimah. 18:59 Bahkan pemberian termahal ayah ke anak 19:03 adalah akhlakul karimah. 19:06 Bukan sekolah sampai S3. Bukan atau jadi 19:09 profesor bukan. Banyak S3 profesor stres 19:13 juga, Pak. PhD 19:17 banyak kita temukan pengangguran ya, 19:19 pas-pasanlah hidupnya. Tapi karena orang 19:21 tuanya membangun akhlakul karimah di 19:24 sanubarinya enak hidupnya, lebih matang 19:27 hidupnya. 19:28 Terus akhlakul karimahnya kayak gimana, 19:30 Salman? Kita balik lagi ke Rasulullah 19:32 sallallahu alaihi wasallam. 19:34 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 19:37 dari kecil diajari sabar oleh semesta 19:40 ini. 19:42 Ayahnya meninggal, dia masih 2 bulan 19:44 dalam kandungan. 19:46 Ibunya meninggal dia masih 6 tahun. 19:49 Kakeknya meninggal dia masih 8 tahun. Ya 19:52 kan? Dia punya paman dan tante yang 19:54 lumayan ekonominya tapi dititipkan dia 19:56 ke Abu Thalib yang ekonominya lebih 19:58 rendah dari rata-rata orang di Makkah. 20:01 Iya kan? Dia masih 2,5 bulan atau 3 20:04 bulan sudah dibawa dibawa oleh Halimatus 20:07 Sa'diyah ke Thaif berpisah dari ibunya. 20:11 Padahal umur masih dua atau 3 bulan. 20:13 Berapa tahun dia berpisah? Lebih dari 4 20:15 tahun dia berpisah sama ibunya. 20:19 Apa yang diajarkan semesta kepada 20:20 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam? 20:21 Apa yang diajarkan Allah kepada 20:22 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam? 20:24 Sbar. 20:28 Mencari orang yang sabar sekarang susah, 20:30 Pak. 20:36 Penginnya apa yang diinginkan langsung 20:38 di dapatkan. 20:42 Penginnya apa yang menjadi tujuan 20:45 langsung diperoleh. 20:48 Kalau ada sedikit hambatan langsung 20:51 ada dua. Tapi kalau ada hambatan dia 20:54 langsung apa? 20:55 Stres. 20:56 Pertama stres itu buruk juga. Yang 20:58 kedua, dia akan melakukan segala cara 21:00 untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. 21:03 Akhirnya nabrak A, nabrak B, nabrak C. 21:07 Stres menyerah juga tidak boleh kan gitu 21:09 ya. Tapi demi mewujudkan yang 21:12 diinginkan, nabrak sana, nabrak sini, 21:14 itu juga enggak boleh. Terus bagaimana? 21:16 Lihatlah Rasulullah sallallahu alaihi 21:17 wasallam. Dia terima dulu itu kehilangan 21:20 ayahnya, dia terima dulu itu kehilangan 21:22 ibunya. Dia terima dulu itu kehilangan 21:25 siapa? Kakeknya. 21:28 Tapi show must going kan gitu ya. Dia 21:31 menggembalakan kambing. Lagi-lagi ketika 21:33 dia menggembalakan kambing. Apa lagi 21:35 yang dipelajari Rasulullah sahu alaihi 21:36 wasallam? Umur 8 tahun dia sudah 21:38 menggembalakan kambing. 21:40 Umur 8 tahun di kota Makkah 21:42 menggembalakan kambing. Di tengah padang 21:44 pasir di terik panasnya matahari rumput 21:47 gak ada. 21:49 Struggle dibangun. 21:51 Sabar dibangun. 21:54 Ini yang kita harapkan dari rumah. 21:58 Ayah mengajarkan anaknya sabar, ibu 22:02 mengajarkan anaknya sabar. Tapi ayah dan 22:05 ibu mengajarkan anaknya sabar juga 22:07 dengan cara yang 22:08 sabar. 22:09 Sabar. 22:10 Jangan marah-marah. 22:12 Ini anak masih umur 3 tahun cuma 22:14 gara-gara enggak mau disuruh makan. 22:18 Marah-marah ibunya, Pak. 22:21 Dari kecil dia sudah diajari 22:22 marah-marah. 22:24 Dari kecil dia melihat, "Oh, ibu saya 22:28 kalau saya tidak mau, kalau saya tidak 22:32 menuruti keinginannya, ibu saya apa? 22:35 Marah-marah. Nanti gantian. Anak ini 22:38 umur 19 tahun sudah." 22:40 He. 22:40 Ibu dan bapaknya sudah agak tua, pengin 22:43 minum kopi, tak ada duit. 22:46 H. 22:46 Kata emaknya, "Enggak ada duit, Nak, 22:48 beli kopi." Apa yang terjadi nanti? 22:51 Gantian anaknya 22:53 marah 22:53 marah. 22:55 Maka terjadi sudah di Indonesia ibu 22:58 dibakar hidup-hidup oleh anaknya karena 23:01 anaknya pengin beli 23:03 motor. 23:03 Motor 23:04 duit tak ada. 23:06 Ya kan ayah diburu-buru terus sama 23:09 seorang anak gara-gara tak punya duit. 23:12 Mau beli apa? handphone banyak kali itu 23:14 terjadi. Kenapa anak mengcopy apa yang 23:18 didapat oleh anaknya dari siapa? 23:22 Ayah ibunya. 23:25 Ya itu karena kan saya juga ayah Pak 23:27 Kris 23:29 ada Muhammad, ada Yasir, ada Nuh. 23:33 Memang kita digoda oleh kondisi anak 23:37 kita bagaimana kelas 1 juara satu, kelas 23:41 2 juara dua, kelas 3 begitu terus 23:44 kita pengin anak kita dapat juara 23:46 juara matematika juara juara juara juara 23:49 juara juara. 23:52 Saya bilang sama anak saya, "Ah, enggak 23:55 apa-apa, Muhammad. 23:57 Enggak penting juga itu juara itu." 24:00 Tapi kan harus didampingi, diajari. 24:03 Bagaimana cara ngajarinnya? Duduk 24:05 bersama anak, cerita. Jangan didoktrin, 24:08 cerita aja. Ajak dia bercerita. Ajak dia 24:11 ramah tamah, ajak dia minum kopi, ajak 24:14 dia main, ajak dia main bola. Saat main 24:17 inilah akhlak itu diberikan kepada 24:19 anak-anak. sehingga kita tidak 24:21 marah-marah. 24:23 Ajak dia main kartu kek 24:26 kan. Ajak dia 24:29 beli kartu domino misalnya. Ayo bikin 24:33 dia kalah terus. Sabar enggak dia 24:34 menghadapi kekalahan itu? Ayah menang 24:37 terus. Ya kan? 24:40 Iya Nak. Justru ayah memang pengin 24:43 ngajarin kamu Nak. 24:45 Suatu hari nanti, Nak, langkahmu kalah. 24:48 Kalah kalah. Kalah, kalah kalah. 24:54 Ah, ini baru tiga kali kalah. Kamu udah 24:57 curiga sama ayah. Kalau ayah curang, 25:00 kartu kita sama, Nak. H. 25:02 Yang bagi kartu kamu, Nak. 25:04 Hm. 25:05 Nanti dia bilang, dia masuk di dalam 25:09 kepalanya. 25:11 Suatu saat kalau saya kalah, kalah, 25:13 kalah dan kalah. Sabar. 25:16 Karena kalah sekali, kalah dua kali, 25:20 kalah tiga kali, ngamuk. Yang keempat 25:21 kali apa yang terjadi, Pak? Kalah, 25:24 hancur, berantakan. 25:27 Kalau kalah nanti kita jelaskan ke anak 25:29 kita, Nak. Suatu saat kalau kau kalah, 25:31 tarik napas dalam-dalam. 25:34 Dalam tenangkan hatimu, cat. Karena kita 25:37 lagi mendidik, kita juga langsung atur 25:40 strategi. 25:41 Main kartu kita, kita bikin kalah. 25:43 Sekarang kamu tarik napas dalam-dalam. 25:46 Jangan kamu anggap ayah curang mainnya. 25:49 Ah, sesudah itu apa yang kau lakukan? 25:50 Yuk, kita main. Kita juga ayah yang 25:52 sedang mendidik ini kita bikin kita 25:53 kalah. Yang keempat kalinya ayahnya 25:56 kalah. Itulah hasil kalau kau tenang, 25:59 Nak. Ini yang ayah inginkan. 26:02 Ayah mau nanti kalau ayah sudah enggak 26:04 ada, tenang aja, Nak. Sabar. 26:08 Karena kalau kau panik, 26:11 ngamuk, 26:14 masalah enggak selesai, yang ada 26:17 kecerobohan-kejerobohan berikutnya akan 26:19 kau lakukan. Mana ada orang yang bisa 26:21 kerja dan panik, Pak. Ada. 26:23 Tidak ada. 26:24 Tidak ada. 26:26 Kita sudah kalah terus kita mau lawan 26:28 dengan panik gak bisa. Kita lawan dengan 26:31 marah gak bisa. Salahuddin al-Ayyubi 26:35 kenapa mampu melawan 26:38 salib demi salib dalam berperang? Cek 26:41 kenapa Salah itu menang terus? Kenapa 26:44 dia diberi nama Salah? Padahal nama 26:46 aslinya siapa? Yusuf ibn Ayyub kalau 26:49 enggak salah saya namanya. Takut aku 26:50 salah. Tapi Yusuf bin siapa? Lupa saya. 26:53 Diberi nama Salah karena otaknya fis. 26:55 Apa namanya? Damai. 26:58 Dia santai ngadapin Yahudi-Yahudi. 27:02 Enggak kayak gitu nih. Ngamuk-ngamuk 27:03 terus kerjanya. Dia enggak santai 27:05 banget. Dia santai tapi seperti lone 27:10 wolf ya kan. 27:11 Santai tapi menusuk. 27:12 Wah. 27:14 Ee serigala tunggal itu diam Pak. Enggak 27:17 sering mengaung. Oh enggak sering gitu 27:19 dia. Tapi dia memperhatikan situasi dan 27:21 kondisi dengan mata tajamnya, dengan 27:23 wajah tenangnya. Hati-hati itu 27:26 Salahuddin diberikan ke dia oleh bahkan 27:29 oleh pasukan salib memberikan dia 27:30 Salahuddin. Kenapa? Karena 27:32 ketenangannya. 27:34 Karena mereka menyadari kekalahan mereka 27:37 melawan Salahuddin. Karena salahnya apa? 27:39 Hatinya ini loh damai, tenang, santai. 27:43 Saya juga 43 tahun umur saya. Pak Kris. 27:44 Pak berapa umur sekarang? 27:46 68. 27:46 68. Coba kita diam dulu 3 detik. 1 2 3 27:51 pasti banyak kekalahan demi kekalahan 27:54 yang makin terpuruk kita alami. Karena 27:56 apa? Kepanikan tadi. Kecerobohan 27:59 berikutnya muncul karena kepanikan yang 28:01 muncul dari kekalahan pertama. 28:04 Pertama kali kalah panik pengin menang. 28:08 Dengan panik pengin menang ceroboh Pak 28:11 jatuh lagi. 28:13 Nah ini dibangun di mana? Di sekolah. 28:15 Enggak mungkin. 28:18 guru sekolah yang dia tahu kan guru ini 28:20 ya kan oleh kepala sekolah ditugaskanlah 28:24 kepala kurikulum di kepala kurum disuruh 28:26 ngawasin kamu gimana sih ini target kita 28:29 efektif belajar cuma 200 hari matematika 28:31 sekian lembar kalau kamu ngajarnya 28:33 begitu kamu enggak bisa ee menuntaskan 28:36 target pembelajaran sampai halaman 28:37 sekian akhirnya guru apa yang terjadi 28:40 Pak masuk kelas yang dia targetkan 28:42 pertama bagaimana halaman demi halaman 28:45 terselesaikan mau murid paham atau 28:47 enggak mau enggak ada lagi. Terus di 28:50 mana kita bangun? Di rumah. Harus di 28:52 rumah. 28:54 Ayah. Tapi saya sibuk, Salman. Sabtu 28:58 Minggu cukup. 29:01 Yang saya maksud mendidik anak di rumah 29:03 akhlakul karimah tanpa marah ini jangan 29:06 kau buka buku. K enggak ajak ajak anakmu 29:09 main. 29:11 Main bola. 29:13 Saya cari contohkan main domino. Coba 29:16 ustaz nyontohin kartu domino itu sudah 29:18 parah banget ini sebenarnya. Tapi ya 29:21 karena yang kita hadapi di zaman 29:24 sekarang kita harus mampu memberikan 29:27 pendidikan yang aktual ke anak kita. 29:30 Jangan sampai anak kita nanti ee 29:34 mengalami stres yang tidak perlu. Satu 29:37 atau mengalami karena kalah, panik, 29:40 ceroboh, menerabas apa saja. itu nanti 29:43 dampaknya ke mana-mana, Pak Kris. Kita 29:46 bilang aja di wilayah ustaz saja 29:47 misalnya. 29:50 Kalau ustaz tersebut 29:53 akhlaknya tidak ditata dengan rapi saat 29:57 dia berceramah kalah, 30:01 wah itu yang muncul apa, Pak? Jangan kau 30:04 dengar, Ustaz. Itu Syiah itu, Ustaz itu 30:06 karena dia sudah enggak punya jurus apa 30:08 lagi kecuali Syiah, Pak. I kan? Atau 30:11 jangan kau dengar itu ustaz itu ustaz 30:13 wahabi itu 30:16 apa pakai ustaz itu ustaz liberal itu. 30:19 Itu berawal karena kekalahan yang sangat 30:22 menusuk di dalam jiwa. Nah kekalahan ini 30:25 mengakibatkan apa? Jemaah lari. Jemaah 30:27 lari mengakibatkan apa? Jadwal 30:29 berkurang. Jadwal berkurang 30:31 mengakibatkan apa? Hepeng dangadong. 30:34 Emosi lagi. 30:35 Emosi 30:37 akhirnya karena tidak tahu cara 30:39 mengatasinya yang ada alah si Salman itu 30:42 kan dirahasil itu Syiah itu ngapain 30:44 kalau undang-undang lagi katanya. 30:46 He 30:46 karena gak tak karena marah. 30:49 Tapi ketika kita seperti Rasulullah 30:51 sallallahu alaihi wasallam dididik oleh 30:52 Allah Subhanahu wa taala, meninggal 30:54 ayahnya, meninggal ibunya, meninggal 30:56 kakeknya, dipilih Abu Thalib 30:58 mengembalakan kambing. Bahkan sampai 31:01 umur 25 tahun kegiatan Rasulullah 31:04 sallallahu alaihi wasallam banyak 31:05 menggembalakan kambing. Bahkan 31:07 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 31:08 ketika umur 12 tahun pergi berdagang ke 31:10 negeri Syam, Pak Kris 31:13 sampai di Bahira dagang eh proses 31:16 berangkat dagang itu gagal kan. Nabi 31:18 harus kembali anak 12 tahun yang sudah 31:23 dinyatakan akan berdagang ke negeri 31:25 Syam. 31:27 Balik lagi. 31:29 Rasulullah belajar kecewa di umur 12 31:31 tahun. 31:33 Bagaimana kita mengatasi kecewa kita? 31:37 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 31:38 lupa saya persis berapa tahun umurnya 31:40 tapi mesti belasan jatuh cinta kepada 31:42 fakitah. 31:44 Nabi pernah jatuh cinta 31:46 fakitah namanya. Kalau saya salah 31:48 pendengar mohon saya dikoreksi. Fakitah 31:50 ini Nabi menyatakan cinta itu kepada 31:54 Fakitah. Nabi bahkan melamarnya ke ayah 31:57 Fakhitah. 32:00 Tapi ayahnya Fakitah mengatakan, "Mohon 32:02 maaf Nak Fakitah sudah dilamar orang. 32:07 sebelum engkau melamarnya. 32:10 Dan yang melamar fakitah adalah suku 32:12 yang sangat erat keterkaitannya dengan 32:15 suku kita. Rasulullah sallallahu alaihi 32:17 wasallam akhirnya karena penjelasan yang 32:19 baik dari ayahnya mengikhlaskan 32:21 kefakitan. 32:24 Woh, betapa banyak pemakai narkoba yang 32:27 berawal dari gara-gara apa? 32:29 Patah hati. Iya kan? Ah, banyak kali. 32:35 Banyak kaliah. 32:38 Tapi ketika kita mau menelurus 32:40 menelusuri Rasulullah sallallahu alaihi 32:41 wasallam, Rasulullah santai aja. Fakitah 32:45 akhirnya menikah dengan orang lain. 32:47 Rasulullah kembali menggembalakan 32:48 kambing, kembali mengikuti kegiatan 32:51 sehari-hari. 32:53 Fakhitah menikah, punya anak, 32:57 bahagia. Fakhitah dengan suaminya 32:59 meninggal nanti suaminya, Pak. Datang 33:00 lagi Rasulullah sallallahu alaihi 33:01 wasallam. melamarnya untuk yang kedua 33:02 kali 33:05 dalam Islam dia disebut Ummu Hani. 33:09 Dan Ummu Hani lagi-lagi menyatakan, 33:12 "Lebih baik ku mencintaimu sebagai 33:13 seorang utusan Allah Subhanahu wa 33:15 taala." 33:15 Hm. 33:16 Oh, ini bagaimana coba? Akhlak ini kan 33:20 respon seseorang terhadap kejadian 33:22 menurut saya. Tapi Pak Kristen ya, 33:24 menurut saya akhlak itu cara seseorang 33:26 merespon sebuah kejadian. Kita 33:28 sederhanakan. Jika enak dia pandai 33:31 mensyukurinya. Jika tak enak dia pandai 33:34 menatanya. 33:37 Ini aku juga ngucapkannya pandai aku 33:39 nih. Saya juga orang yang panikan, orang 33:41 yang ceroboh, orang yang teledor, orang 33:43 yang justru saya memunculkan ceramah ini 33:46 karena kondisi yang saya lewati. Saya 33:49 lihat betul-betul kekalahan demi 33:51 kekalahan yang saya hadapi dengan 33:52 kepanikan itu justru membuat saya makin 33:54 terpuruk, terpuruk, dan terpuruk. 33:58 Nah, Rasulullah sallallahu alaihi 33:58 wasallam diajarkan langsung oleh Allah 34:00 subhanahu wa taala. 34:03 Akhirnya coba lihat Pak kita 34:06 umur 25 tahun. 34:09 Kebayang enggak, Pak, proses belajar 34:11 akhlak itu? Kalau kita mundur ke 34:12 belakang lagi, Nabi dibelah dadanya di 34:15 Thaif 34:16 waktu bersama siapa? Halimatus Sa'diyah. 34:20 Dibersihkan semua potensi setan di dalam 34:23 hatinya. kesombongannya dihilangkan, 34:26 dengkinya dihilangkan, cemburu yang tak 34:29 berartinya dihilangkan, 34:32 semua di dikikis oleh Allah Subhanahu wa 34:34 taala dan melalui malaikat Jibril dan 34:35 Mikail menggunakan air zamzam dan bejana 34:38 emas. Masyaallah tabarakallah hasil yang 34:40 luar biasa. Nah, kita di zaman ini tak 34:43 punyalah kita alat bedah dada yang 34:45 dimiliki Rasulullah sallallahu alaihi 34:46 wasallam itu. Tapi esensi dari 34:50 pembersihan dada Rasulullah sallallahu 34:51 alaihi wasallam harus kita ee ee ee 34:55 praktikkan ke anak-anak kita di rumah. 34:57 Di rumah. Saya mengharapkan ini di 34:58 rumah. Oleh siapa? Oleh ayah dan ibu. 35:04 Harus oleh ayah dan ibu. Ayah dan ibu 35:06 harus mencara harus mencari cara yang 35:09 kreatif. Bagaimana agar akhlakul karimah 35:14 dibangun di rumah tapi enggak pakai 35:16 marah-marah? 35:18 Saya kasih contoh salah satunya ini 35:20 terjadi ke saya aja. Saya bilang 35:23 salat subuh sebut saja saya ini ustaz 35:26 Pak Krisan. Oke. 35:30 Saya sering diskusi sama teman-teman. 35:32 Anakmu sudah salat subuh? Saya belum. 35:33 Saya bilang 35:36 wah kalau anak saya sudah rutin salat 35:38 subuh. 35:39 Saya penasaran. Saya ke rumahnya, saya 35:41 mempelajari bagaimana dia membangun 35:43 salat subuh itu. Ternyata ada dua hal 35:46 yang terjadi. 35:47 Ada pemaksaan yang luar biasa. Anak 35:50 disiram, anak dimarahin, anak digendong 35:54 sampai ke kamar mandi sampai mau salat 35:56 subuh. Saya bilang, "Saya khawatir 35:59 dengan mental anak ini." Saya bilang, 36:02 "Saya lebih baik ke anak." Saya bilang, 36:04 saya bilang, "Ya, saya lebih baik ke 36:06 anak. Kau rencana besok pagi anakmu 36:08 salat subuh. Yang kau lakukan adalah 36:11 pertama ajak anakmu tidur lebih cepat. 36:16 Enggak mau Salman. Nah, itu yang harus 36:17 kita pikirkan. Jangan pula sekarang 36:20 sesudah kau biasakan anakmu main TikTok, 36:22 sesudah kau biasakan anakmu main game, 36:24 sesudah kau biasakan anakmu nonton, 36:27 tiba-tiba kau mau program salat subuh. 36:29 H 36:30 dan baru selesai berangkat dari TV jam 36:32 11.30, bagaimana mau salat subuh? 36:37 Maka mendidik ini harus tanpa marah dan 36:39 dari rumah. 36:41 Bagaimana caranya kalau begitu? 36:42 Malam-malam kita sudah diskusi sama 36:44 anak, "Nak, ayah pengen banget, Nak, eh 36:49 kau ikut salat subuh sama ayah, besok 36:51 pagi ee kamu gandeng tangan ayah, ayah 36:55 gandeng tangan kamu." 36:57 Tanya anaknya karena tidak boleh marah 37:00 kita. Tunggu respon anaknya. Apa 37:03 kalau dia menolak? 37:06 Biasanya ayah suka marah, apalagi ayah 37:08 yang baru hijrah gitu kan. Iya. Ayah 37:10 yang baru hijrah suka marah gara-gara 37:12 anaknya enggak salat. Padahal dia baru 37:15 hijrah di umur 59 tahun ya kan. Artinya 37:19 dari umur dia dewasa sampai 59 gak 37:21 pernah salat sebenarnya. Kemudian kena 37:24 penyakit stroke ringan sembuh. Dia 37:26 sehati sama guru. Akhirnya tobat kepada 37:28 Allah Subhanahu wa taala. Salat subuh 37:30 dia. Nah sekarang giliran anaknya belum 37:32 mau salat subuh marah-marah. Janganlah, 37:34 gak boleh. Kita membangun akhlakul 37:37 karimah dari rumah. Tidak boleh pakai 37:40 marah. 37:41 Kita harus cari idenya, kita harus cari 37:44 caranya. 37:45 Tujuan kita sampai, tapi kita tidak 37:47 perlu marah. Hanya saja butuh waktu. 37:50 Memang ini 37:52 kalau marah kan ekstrem dengan wajah 37:55 garang kita subuh-subuh siram wajah 37:57 anakmu. Bangun subuh gitu kan. berdiri 38:01 dia, Pak, subuh. Karena apa, Pak? Takut 38:05 sama bapaknya. 38:08 Terus kalau kita meninggal habis salat 38:10 subuh, berbekas enggak itu salat subuh? 38:12 Enggak ada. 38:15 Yang baik itu hari pertama kita ajak, 38:17 "Nak, besok salat subuh sama ayah ya, 38:20 kita tidur duluan, ya, Nak, ya. Karena 38:22 ayah pengin kita salat subuh bareng. 38:24 Besok bangun subuh lebih awal. 38:26 Datang kita ke tempat tidurnya, bangunin 38:29 dia. Muhammad salat subuh sama ayah ya, 38:31 Nak. Kalau belum mau ulangi lagi. Belum 38:34 mau ulangi lagi. Ya udah, karena 38:37 Muhammad belum mau ayah bangunin. Besok 38:39 kita ngobrol lagi anaknya. Ayah pengin 38:40 besok subuh kita salat subuh. 38:43 Saya yakin jangankan anak kecil pulau 38:47 ya, orang dewasa aja sekeras-kerasnya 38:49 hatinya lama-lama lama lama mau juga 38:52 kan. Betul enggak sih? Iya. 38:54 Apalagi anak kita sendiri. Maksud saya 38:56 gini, sering orang tua atau ayah marah 39:00 karena dia maunya hari ini dia ajak 39:02 anaknya salat subuh, 39:03 harinya juga 39:04 harinya juga mau. 39:05 Mau. 39:06 Ah, ini bikin marah kita nih. Pasti saya 39:08 juga pasti marah kita itu. Nah, kita 39:12 punya waktu yang panjang membangun 39:14 karakter anak kita ini. Kita punya waktu 39:17 yang panjang membangun akhlak anak kita 39:19 ini. Jangan pernah bermimpi hari ini 39:22 kita ajari anak kita sabar, besok 39:24 langsung jadi. Tidak. 39:26 kita harus ajari lama. Yang penting pada 39:29 pada pertemuan kita ini gak marah-marah 39:31 itu dulu. 39:33 Pesan baik disampaikan ke anak-anak 39:35 tidak pakai marah-marah. Itu aja dulu 39:37 Pak Kris 39:39 akhlaknya tadi seperti Rasulullah sabar 39:41 kan? Sabar, kecewa. Bagaimana tadi 39:44 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 39:45 itu menghadapi itu semua? Kemudian di 39:49 umur 25 tahun Rasulullah sallallahu 39:51 alaihi wasallam 39:55 dapat hadiah dari Allah, Pak. 39:58 Tapi kan 25 tahun 40:01 tenang, sabar mengikuti alur yang Allah 40:04 berikan. Apa hadiahnya, Pak? 40:07 Dia dapat bini namanya Siti Khadijah 40:10 radhiallahu anha. 40:13 Hidup anak kita ini juga nanti kalau 40:15 kita bangun akhlakul karimah, sabar, 40:19 enggak pakai marah-marah. Tentu bukan 40:21 hasilnya bini ya. Ini kan hadiah hidup 40:23 itu macam-macam ya kepada seseorang. 40:25 Tapi kalau ada seorang ayah yang 40:28 membangun akhlak anaknya di rumah tanpa 40:30 marah, hadiahnya pasti akan datang. Saat 40:33 kapan? 40:34 Aku misalnya, Pak Kris, anakku, aku umur 40:37 43 sekarang. Anakku baru umur 40:40 12. 40:42 Saat anak saya umur 25 tahun, berarti 40:45 umur saya sudah 40:48 65. 40:49 Eh, 4 gak dong. 56. 40:51 56. 40:52 56. Di situ nanti aku rasakan hasilnya. 40:55 Apa itu? Anak yang saya didik selama ini 40:58 dengan sabar, ramah, dan tamah. Pulang 41:01 dia dari kantor dicarinya ayahnya, 41:02 dipeluknya. 41:03 Masyaallah. 41:04 Ayah, bakso buat ayah. Ayah, ada waktu 41:06 enggak aku pengin ngobrol sama ayah? 41:09 Ya, orang yang tak paham memang tidak 41:12 menunggu ini. 41:15 Ayah yang emosional, ayah yang tak paham 41:18 penghargaan anak yang dia tunggu 41:19 transferan anaknya karena anaknya sudah 41:21 kerja kan. He. 41:22 Tapi ayah yang paham dia akan tunggu 41:25 apa? Ayah aku pulang nanti agak cepat 41:28 aku bawain ayah martabak kesukaan ayah. 41:31 Aku pengin cerita sama ayah. 41:33 Masyaallah. E hadiah itu kan tidak 41:37 selalu tangible kan ada intangible. 41:39 Kadang-kadang yang intangible ini lebih 41:43 ee apa namanya? Jauh lebih melekat ke 41:47 Pak Krishna. 41:49 Ingat enggak Bapak sama ayah Bapak lah 41:52 masih ngobrol akrab itu di umur berapa 41:54 terakhir kali? 41:57 Umur 15 16 tahun. 41:59 15 16 tahun. Saat kita sudah punya sudah 42:02 dewasa 25 tahun apalagi sudah punya 42:04 anak, paling 42:07 kita kita pasti akan marah kalau ada 42:09 yang nyinggung perasaan ayah kita. Itu 42:10 tidak hilang tuh. 42:12 Tapi bahwa duduk ngobrol berdua bercanda 42:15 seperti dia dulu bercandain kita saat 42:17 umur-umur 5 tahun 7 tahun 42:21 hilang. Akhirnya apa yang terjadi? 42:23 Ayahnya kesepian, anaknya juga apa? 42:26 Kesepian. 42:26 Kesepian. 42:28 Itu tadi. Kenapa? Karena dari awal rumah 42:32 ini tidak ramah. 42:35 Banyak rumah Pak Kris sekarang 42:40 istrinya 42:44 di rumah ketika tahu suaminya mau pulang 42:49 segera berbenah 42:51 gitu kan. 42:54 Suaminya 42:55 juga pulang kerja menuju rumah cek 42:58 handphone dulu. 43:00 hapusit itu dihapusinah 43:03 anaknya pulang kuliah sikat gigi dulu 43:10 coba itu bayangkan apa yang terjadi di 43:13 rumah itu, Pak. 43:17 Penghuni rumah semua ketakutan. 43:21 Istri ketakutan, ketahuan oleh suami. Di 43:25 rumah nonton TikTok doang kerjaannya. Ya 43:27 kan? sehingga wah udah jam nih laki gua 43:31 mau pulang nih 43:33 ya kan 43:35 suami mau pulang ketakutan juga kenapa 43:39 handphone harus dibersihkan 43:41 ni wa siapa wa siapa siapa siapa harus 43:44 dibersihkan parfum baju dicek ada apa 43:49 kenapa ketakutan pulang Pak begitu juga 43:52 anaknya yang pulang kuliah ayah bilang 43:55 kamu enggak boleh merokok 43:57 sebentar Tarahal dia dari umur 14 sudah 43:59 ngerokok. Iya kan? Pat habis pulak sikat 44:03 gigi dulu. Pulang ke rumah semua di 44:06 rumah itu isinya palsu. Ayah 44:10 anaknya masuk ke kamar, ayahnya ke 44:12 kamar, ayahnya baca koran, baca 44:13 handphone ibunya ramah itu hilang. 44:16 Kenapa? Karena itu tadi dari sekecil 44:19 akhlakul karimah tidak dibangun. 44:22 Karena dari kecil kita juga ke anak 44:25 kita, ayo belajar matematika, ayo 44:27 belajar bahasa Inggris, ayo hafal Quran, 44:29 ayo belajar bahasa Arab, ayo jadi ustaz, 44:31 ayo jadi penceramah. 44:34 Padahal akhirnya entah saya terlalu 44:37 lebai kali ya, akhirnya yang paling kita 44:39 butuhkan 44:42 adalah kehangatan, kebersamaan dengan 44:44 orang-orang yang kita cintai. 44:48 Prestasi hanya akan menghasilkan rupiah 44:52 demi rupiah. 44:54 Ya, kita enggak bilang bahwa kita enggak 44:56 butuh rupiah, butuh kita rupiah ini. 44:59 Tapi banyak orang yang stres gara-gara 45:01 punya kebanyakan rupiah. Banyak kaliah, 45:03 Pak Kris. Pasti tahulah 68 lebih tahu 45:06 Bapak. Iya. Kita butuh rupiah ini. Aku 45:10 juga pengin kali aku minimal 10 miliar 45:11 aku punya duit nih kalau bisa pulang 45:13 dari sini nih. Iya. Tapi kita sudah 45:15 ketemu orang yang uangnya puluhan miliar 45:19 datang ke kita cuma nangis-nangis. 45:22 Kenapa? Anak saya, Ustaz, tidak dengarin 45:24 apa kata saya. 45:28 Kita enggak bingung mau nyalahin siapa. 45:29 Mau nyalahin anaknya. Enggak mungkin 45:31 kita enggak kenal anaknya, 45:33 maunya dia sebagai ibu. Enggak mungkin. 45:35 Ini jawabannya karena mereka tidak 45:37 akrab. 45:40 Ibu punya masalah kecerita ke mana? Anak 45:42 punya masalah kecerita. Di rumah sampai 45:44 ke rumah dua-duanya jaim semua. Jaga 45:47 image. Bagaimana rumah ini kelihatan 45:49 tenang tapi seperti api dalam seka 45:52 membara. 45:54 K. Sekali lagi karena dari sejak awal 45:57 rumah itu tidak ramah. yang ada apa? 46:01 Marah. 46:02 Dan dari awal rumah itu dibangun untuk 46:05 mengejar prestasi demi prestasi. 46:08 Yang saya ingin sampaikan ya, coba kita 46:12 riset kembali di rumah kita 46:14 masing-masing. 46:17 Peluk kembali pasanganmu, 46:20 ya kan? 46:21 Cium kembali anakmu. 46:24 Puji dia. Ganteng kau ya. Ni 46:27 ay pendengaril sudah berapa tahun enggak 46:29 bilang ganteng sama anaknya sendiri. 46:32 Ya kan? 46:34 Sudah berapa lama tidak bilang ganteng 46:35 sama anaknya? Atau sudah berapa lama 46:38 tidak tanya kabar, "Nak, sehat kau nak?" 46:41 Atau sudah berapa lama enggak ngajak 46:43 anak makan bareng? Nak, ayah pengin 46:45 banget makan bareng sama kamu, Nak. 46:49 Rumah-rumah ini gersang sekarang, Pak 46:51 Kris. Tentu tidak semua 46:55 gersang. 46:58 Kalaupun ada hanya sekedar simbolik 47:00 saja. 47:02 Harusnya kehangatan dibangun di rumah 47:04 itu. Kehangatan kalau dibangun. Haduh 47:08 enak kita pulang itu. Enak. 47:11 Ini yang bercerita ini orang yang 47:13 berpengalaman tentang rumah yang tak 47:15 hangat lagi. Ha, kan gitu kan. Luar 47:18 biasa. 47:19 Akhir yang kita rindukan adalah itu 47:21 semua. 47:25 Mau dikasih kita karir oleh Allah 47:27 Subhanahu wa taala sampai setinggi 47:28 langit. 47:30 Kalau pulang kita sendirian 47:33 atau pulang kita ada orang di rumah tapi 47:36 tidak ada yang respon sama kita. 47:38 Yang mereka tahu adalah duit yang kita 47:41 dapatkan. 47:43 Oh, di rumah juga enggak ada yang 47:45 respect sama kita. Sudah aku bilang tadi 47:47 saya enggak ada yang respect. 47:50 Hilang akhlakul karimah. Tapi kalau dari 47:53 awal dibangun, oh ayahnya meluk anaknya, 47:57 ibunya meluk anaknya, ibunya mau 47:59 mengerti. 48:01 Anaknya bilang, "Mama, ee aku enggak 48:04 ngaji dulu, ya hari ini. Aku capek, 48:07 Mama. 48:09 Coba apa respon seorang mama hijabers 48:12 kalau dengar anaknya enggak mau ngaji? 48:16 Marah. 48:17 Nah, itu 48:20 marah. 48:20 Capek apa sih kamu? 48:21 Kamu capek apa sih? Dia bilang, "Mama 48:24 dari pagi sudah masak, nyapu, nyetrika, 48:27 terus ngurusin makan bapak kamu. Mama 48:30 enggak bilang capek. Kamu cuma mama 48:32 suruh ngaji bilang capek." 48:34 Saya bilang, "Kenapa harus sampai 48:37 sebulkanik itu yang keluar?" Gua bilang, 48:41 "Vulkanik." 48:42 Iya. Enggak perlu, 48:44 enggak perlu gitu loh. Harusnya bilang 48:47 apa sama anak ketika anak bilang gitu? 48:49 Mak, aku capek, Mama. 48:52 Aku enggak mau ngaji ya hari ini ya. Oh, 48:54 ya udah sini Mama peluk. Peluk anaknya. 48:57 Ya udah, ya, Nak, ya. 49:00 Tapi Mama minta tolong ya, Nak. Besok 49:02 ngaji, sayang ya. Iya, Mama. Aku janji 49:04 besok aku ngaji. Ah, ini akan akan 49:08 membangun apa namanya? Chemistry, 49:10 kepercayaan. 49:12 Anak itu dari kecil sudah percaya. Kalau 49:14 dia enggak mau ngaji, ayahnya enggak 49:17 marah, ibunya enggak marah. 49:20 Ini enggak cuma enggak mau ngaji, 49:24 udah kayak anak kara kata meletus. Emak, 49:30 enggak perlu begitu. itu terutama 49:32 merespon kesalahan-kesalahan anak. 49:35 Jangan pakai marah. Rangkul. 49:38 Bila anakmu salah, peluk. 49:42 Peluk dulu. 49:45 Peluk dulu. 49:47 Ayah. Aku enggak mau disuruh mimpin 49:50 upacara. 49:51 Hm. 49:52 Ada ibu yang mendengarkan begitu tuh. 49:55 Ibu ditelepon oleh guru kelas misalnya, 49:58 "Bu, anak Ibu kami tugaskan untuk 50:01 memimpin upacara besok, ya." 50:04 Nah, ibu ini merasa, "Wah, keren nih 50:06 anak gua 50:07 dipercaya sama sekolah mimpin upacara." 50:10 Anaknya bilang, "Aku enggak mau, Mama." 50:14 Apa yang akan dibilang oleh emaknya? 50:17 Biasanya emak-emak tiba-tiba sok pintar 50:19 tu. Ini peluang, Nak. Ini kesempatan 50:21 Nak, Pak. 50:23 Enggaklah, 50:26 enggak usah gitu. Lebay itu ketika dia 50:29 bilang enggak mau, terus tanya, "Ya udah 50:31 enggak apa-apa. Coba cerita ke mama 50:34 kenapa tidak mau." 50:36 Tonnya turun dululah. 50:39 Kalau memang mau berdialog, dialoglah 50:40 dengan baik. Sebenarnya bagus loh, Nak, 50:44 kalau kamu begini. 50:46 Atau kamu besok mama temenin. 50:50 Jadi kamu jadi mimpin upacara, mama 50:52 hadir di situ. Mama mama akan kasih kamu 50:55 semangat 50:56 dibandingkan apa Pak langsung apa kamu 50:59 gimana sih? Dapat kesempatan dari 51:01 sekolah mimpin upacara nanti maaf. Ya 51:04 Allah anak masih kelas 5 SD. He. 51:08 Ah ini ini yang saya maksud membangun 51:10 akhlakul karimah dari rumah tanpa 51:14 marah. Baik, hal positif yang ingin kita 51:18 bangun, anak kita malas melakukannya, 51:20 tidak perlu marah-marah atau hal negatif 51:23 yang kita harapkan agar dihindari oleh 51:25 anak-anak, dilakukan sama mereka, kita 51:27 tidak marah-marah. Tapi bukan berarti 51:29 membiarkannya. 51:31 Kalau membiarkannya lebih parah lagi. 51:34 Enggak bolehlah. Yang enggak boleh itu 51:36 marah-marah. Mendidiknya harus. Anak itu 51:40 menurut saya dipeluk. 51:42 Dipeluk, dicium, dibilang, "Ayah sayang 51:44 sama kamu. 51:46 Ya udah, ayah ngalah hari ini ya, Nak. 51:48 Tapi besok minta tolong kamu bantu ayah 51:50 ya. 51:52 Mau ikut salat subuh ya, Nak. 51:55 Ya udah, Nak. Ayah terima mati-mati kamu 51:58 jelek, Nak. Tapi ayah harapkan dan ayah 52:00 doakan semoga mata pelajaran lain kamu 52:02 bagus. 52:05 Jadi kita lebih apa namanya? lebih 52:08 ngayun untuk mendidik anak-anak agar 52:11 mereka punya akhlakul karimah dari rumah 52:14 dan tidak pakai marah-marah. Ini saja 52:17 mungkin Pak Krishna yang bisa saya 52:18 sampaikan di kesempatan yang luar biasa 52:20 ini bersama pendengar Rasil di mana pun 52:22 berada. Sebelum Pak Krishna aku doakan 52:24 dulu semoga pendengar Rasil semua 52:27 hutangnya lunas hari ini. Amin ya rabbal 52:29 alamin. 52:31 Yang belum menikah dapat bini hari ini. 52:33 Amin. 52:34 Nah, makasih Pak Kris. Silakan. 52:35 Oke. Baik. Ini sudah ada yang Mas dari 52:39 ee dari Medan, anak Medan. Lili Lili 52:42 Reger. Asalamualaikum, Bang Salaman dan 52:44 Bung Krisna. Alhamdulillah tadi dengar 52:46 saya lagu suasana suaranya seperti kenal 52:49 rupanya enggak salah duga hilang 52:51 kangennya. Apalagi lontong medannya. 52:54 Gul paku enak kali gule paku. 52:57 Oh iya lontong meran gule paku itu dari 53:01 Minang. 53:02 Oh 53:02 heehnya 53:04 ber berbuah kuah. 53:06 Anggurnya berbuah kah? Oh, anggurnya 53:09 sudah berbuah belum? 53:10 Oh, anggur lagi enggak berbuah, Ibu. 53:13 Sehat walafiat. Horas hororas. 53:15 Horas dan tulang 53:16 ada hari tanpa rasil untuk Islam yang 53:18 satu. 53:19 Siap. 53:20 Ustaz Salman. Ada juga keluarga yang 53:22 dididiknya keras tapi anaknya jadi-jadi 53:24 bagaimana ini? 53:25 Oh, iya. 53:27 Nanti kasih aku datanya biar k pelajari. 53:30 Gersang pasti. 53:33 Aku sudah temukan kok keluarga yang 53:34 dididik keras. He. 53:36 Dan jadi-jadi. He. 53:37 Makanya ketika tadi saya mengajak 53:41 keluarga eh rumah ramah tamah dalam 53:43 memarah, berakhlakul karimah, jangan 53:46 ukur anaknya 53:48 abapak ini jadi semua. Jadi tentara, 53:50 jadi dokter, jadi apa. Cek relung 53:53 batinnya itu. 53:54 H 53:55 cek kebersamaannya, cek kehangatannya. 53:59 Ini sayangnya manusia modern. termasuk 54:02 saya di situ nih yang terjebak juga 54:03 harus saya berusaha keluar dari situ. 54:05 Kita ini rata-rata menilai keberhasilan 54:07 ketika anak kita jadi dokter spesialis 54:10 apa jadi jenderal bintang tuuh jadi 54:12 presiden, jadi pengusaha yang triliunan. 54:16 Saya sudah ngomong dari yang saya kenal 54:18 yang paling alim sampai yang paling 54:19 jahil rata-rata sama penilaian 54:21 berhasilnya. H 54:23 jarang saya menemukan manusia yang 54:26 menilai orang berhasil karena kehangatan 54:28 yang bisa dia bangun dengan orang lain. 54:31 Jarang. 54:33 Jarang saya nemukan manusia yang bisa 54:36 menghargai orang lain karena murni 54:39 akhlakul karimahnya. 54:41 Jarang. Heeh. 54:42 Kita ini selalu 54:44 selalu ditipu oleh ee punya harta apa, 54:49 sebanyak apa gitu loh. Jadi ada Salman 54:54 anak dididik keras berhasil. Ada 54:57 berhasil perspektif itu. 55:02 Karena saya pernah berteman dengan orang 55:05 yang berhasil dengan perspektif itu. 55:09 Namun apa yang terjadi? Kesepian. Hm. 55:12 Kenapa kesepian, Pak? Segudang prestasi 55:15 yang sudah diraih dengan didikan yang 55:17 sangat keras ini harus dipertahankan. 55:21 Harus dipertahankan. Karena kalau enggak 55:24 bikin malu nama keluarga, wah 55:28 batin itu hal yang sangat luar biasa. 55:31 Harus jeli melihatnya. 55:33 Banyak orang yang kita lihat tersenyum. 55:35 Tapi 55:37 yang kita maksud dengan keluarga tanpa 55:39 marah ini bagaimana batin seseorang 55:43 benar-benar bahagia dengan akhlakul 55:45 karimahnya. 55:47 Baru Islam dan iman dimasukkan. Oh, 55:51 indah kali batinnya penuh dengan akhlak. 55:55 Salatnya rajin, ketergantungan sama 55:57 Allahnya kuat. 55:59 Fabiayyi alalibikuma tukadziban. 56:05 Ya, maka 56:08 dan jangan juga gini nanti. Tapi Salman 56:12 anak kata Rasulullah kalau umur 10 tahun 56:14 tidak mau salat pukul. 56:16 H. 56:17 Saya mau tanya balik, pernah enggak 56:19 Rasulullah memukul anak-anak karena 56:20 enggak mau salat? 56:21 H 56:22 cek dulu ada enggak? Apa aku yang salah? 56:24 Cek. Kan gitu. Cek di mana Rasulullah 56:27 memukul anak gara-gara gara-gara anaknya 56:30 tidak mau salat atau gara-gara anak-anak 56:33 kecil sekitarnya tidak mau salat. 56:37 Itu yang ada dindingnya ada pecut 56:39 katanya. Di mana itu? 56:40 Ah, nanti kalau ketemu kasih tahu aku 56:42 biar biar kita tengok. 56:45 Jadi dalam ini kita tetap ingin berpesan 56:51 tidak boleh membiarkan. Tapi Pak Kris 56:53 jangan lupa ini kita jangan kalau 56:55 membiarkan mah rusak semua ini. Kita 56:58 merubah caranya dari marah dengan ramah, 57:05 rangkul, peluk, genggam tangannya. 57:08 Pernah pernah ketemu enggak anak-anak 57:10 anak-anak kita ketakutan karena dia 57:12 salah, Pak? 57:14 Dan dia tahu ayahnya akan marah, gemeter 57:17 tangannya, Pak. Hm. 57:18 Ternyata ketika digenggam tangannya 57:21 berubah langsung wajahnya, Pak. 57:25 Yang tadinya ketakutan mengalir lagi 57:27 darahnya. 57:29 Karena kita enggak cek itu efek jiwa dia 57:33 akan manjang sepanjang-panjangnya nanti. 57:36 Bukan kita biarkan anak kita salah. Ini 57:38 jangan salah sangka ya kita semua ya. 57:40 Tidak boleh membiarkan anak salah. 57:44 Yang kita rubah adalah cara memperbaiki 57:46 kesalahan anak ini dengan ramah bukan 57:49 marah. 57:50 Enggak usah teriak-teriak apalagi 57:51 teriak-teriak. Ngapain anak sendiri kok 57:53 diteriakin sih? 57:56 Ah gitu ngapain? 57:59 Enggak perlu. 58:01 Emaknya di dapur, anaknya di ruang depan 58:05 lagi ngejahilin adiknya. Mama kamu 58:08 bilang jangan kamu jadi adik kamu. Ya 58:11 Allah ya Tuhan. Ngapain sih, Bu? Ibu 58:14 lagi cuci piring. Ya, betul. Anakmu 58:16 jahilin adiknya. Kau tinggal cuci 58:18 tanganmu bersih. 58:20 Samperin 58:21 samperin satu-satu. Kenapa sayang? Aku 58:24 dijalin sama abang. Abang kenapa jalin 58:26 adik? Apa? Dia tadi ini aku mama. Oh ya 58:29 udah. Terus mau gimana sekarang sayang? 58:33 Yuk kita jalan-jalan ke depan yuk. Mama 58:35 mau cerita. 58:37 Biarin aja tuh piring kotor dulu. Karena 58:40 mental anak saya yang dua ini jauh lebih 58:42 mahal daripada piring kotor, Pak. 58:45 Cuman kan ibu-ibu yang sedang cuci 58:47 piring tiba-tiba anaknya dua bertengkar 58:50 pasti emosi. Pakangg 58:52 merasa terganggu. Uh. Apalagi 58:56 apalagi gini ya. Lakinya berangkat dalam 58:59 kondisi dia curiga. Nih laki gua setia 59:01 enggak sama saya nih? Kan dia baru nyapu 59:04 cuci piring anak berantem. Aduh, itu Pak 59:07 korban sudah anak kita itu. 59:09 Nah, itu yang terjadi kan rupanya. 59:12 Kenapa itu tadi keramah tamaha? Maka ayo 59:15 kita bangun itu. 59:16 Jadi jangan lagi mengatakan anak dididik 59:18 keras berhasil. 59:21 Kita cek ininya pakai tes yang bohong 59:23 itu berhasil. Perspektif mana? berhasil 59:27 itu adalah ketenangan batin. 59:31 Pandai menerima gitu loh. Oh, ini warna 59:33 hijau. Eh, aku terima warna hijau. 59:35 Sebelah sini warna hitam. Aku pun pandai 59:37 menerima warna hitamnya. Ini cahayanya 59:39 lebih terang. Aku pandai menerima 59:41 terangnya. Oh, ini cahayanya redup. Aku 59:43 enggak apa-apa redup. Supaya enak hidup 59:45 kita. Memang hidup kita ini bisa sesuai 59:47 dengan yang kita inginkan. Enggak ada. 59:50 Bahwa kita meminta terus kepada Allah 59:52 agar yang kita inginkan diwujudkan. 59:53 Dengan akhlak yang baik pula Allah juga 59:55 akan senang juga. Makanya akhlak, akhlak 59:58 akhlak perlu, Pak siaran dirasil ini 717 1:00:02 kali isinya akhlak setiap hari. 1:00:06 Bangun akhlak umat ini. 1:00:09 Detail ini kan global yang kita 1:00:11 bicarakan. Ayo detail 1:00:15 bikin rasil ini berbeda. 1:00:18 Akhlak umat sekarang sangat 1:00:20 memprihatinkan. 1:00:22 Sangat memprihatinkan. 1:00:25 sangat memprihatinkan. 1:00:29 Yang hafal Quran makin banyak, yang ahli 1:00:31 hadis makin banyak, yang ahli ilmu 1:00:34 pengetahuan makin banyak. Akhlak 1:00:38 bukan hilang dari mana-mana dari semua 1:00:40 kita. Nah, 1:00:44 rasil kita ini jangkauannya luas sekali. 1:00:47 Saya enggak kebayang kalau rasil kita 1:00:49 ini siarannya akhlak terus mungkin nanti 1:00:53 akan ketakutan juga kita. Masa sih 1:00:55 akhlak mulu gitu. Enggak enggak memang 1:00:56 harus akhlak doang. Udah 1:01:00 kondisi kondisi manusia kita ini 1:01:02 sekarang sedang jauh dari akhlak. 1:01:04 Menebang hutan sembarangan kalau ada 1:01:06 akhlaknya ditebang sama dia. Pak 1:01:08 tidak. 1:01:08 Mana ada. 1:01:10 Menggali tambang di hutan emas batu bar 1:01:13 tahapan. Kalau punya narluri ini hati 1:01:15 ini ada akhlaknya. Mau dia karena akhlak 1:01:18 hilang yang penting punya cuan kan itu 1:01:20 sekarang 1:01:22 enggak ada akhlak laut dia bikin pabrik 1:01:27 menghasilkan uang banyak limbahnya 1:01:28 dibuang ke sungai kalau ada akhlaknya 1:01:31 mau dia itu Pak 1:01:32 enggak mau. Coba ini yangak enggak usah 1:01:36 kau tanya pendidikannya yang bikin 1:01:37 pabrik itu doktor PhD kadang-kadang dari 1:01:40 Jerman 1:01:42 buka mereka tambang batubara di sana ada 1:01:44 peraturannya begini begini begini harus 1:01:46 kau AMDAL harus kau pikirkan apa yang 1:01:49 terjadi kita semua kalau mau bikin usaha 1:01:51 mikirin bagaimana AMDAL enggak usah 1:01:52 dikerjain bayar siapa gitu kan limbah 1:01:55 enggak usah dibiar bayar siapa yang di 1:01:57 sana juga ketika kita bayar mau pula 1:02:00 yang ngawas di lapangan kita bayar mau 1:02:02 juga emang Emang bawa pikir yang bangun 1:02:04 usaha, yang ngizinin, yang calin, yang 1:02:06 ngawasin 1:02:08 agamanya kadang-kadang Islam semua. 1:02:10 Sadang-kadang semuanya salat lima waktu 1:02:12 apa yang hilang? Akhlak. 1:02:16 Hilang akhlaknya 1:02:19 dari mana? Dari kita semua. Tengoklah 1:02:21 orang-orang pintar yang debat-debat di 1:02:22 TV itu. Emang boleh debat-debat kayak 1:02:23 gitu? Dari mana ada boleh debat kayak 1:02:26 gitu di TV coba? Dari si dari ajar nenek 1:02:29 moyang kita yang mana yang boleh? Enggak 1:02:31 usah pakai agama Islam dah. 1:02:33 debat kusir kayak gitu sok pintar merasa 1:02:36 lebih ini lagi di kapan cara mendidik 1:02:39 bangsa kayak gitu 1:02:42 kalau ada riwayat yang kayak gitu bangsa 1:02:44 dididik pasti bangsa itu lebih terpuruk 1:02:45 dari kondisi kita sekarang 1:02:48 enggak ada lagi akhlak 1:02:51 sampai saling menyiram saling nempeleng 1:02:53 sambil menuduk apa itu ngapain kalian 1:02:57 sekolah jadi dokter kalau cuma bisa 1:02:58 debat kayak gitu enggak usah kau sekolah 1:03:00 lebih baik kau buta huruf kawan daripada 1:03:02 kayak Kayak gitu. 1:03:04 Akhlak itu hilang. 1:03:07 Kenapa? Karena rumah 1:03:10 akhlak itu juga pupus. 1:03:15 Entah ditipu siapa kita. Wallahuam. 1:03:17 Terima kasih, Pak. Baik. 1:03:21 Selanjutnya, 1:03:22 asalamualaikum Ustaz Salman. Ustaz, 1:03:24 bagaimana halnya suami dan istri ee 1:03:28 berbeda metode di dalam mendidik anak? 1:03:30 Hm. suaminya galak, istrinya lembut 1:03:33 sekali. Bagaimana menghadapi ini? 1:03:36 Masih mending itu. 1:03:37 Heeh. 1:03:38 Tapi kalau bisa ngobrol baik-baik, 1:03:41 bagaimanapun kita sama pasangan kita 1:03:44 harus satu 1:03:46 ee harus punya kesepakatan dalam 1:03:48 mendidik. 1:03:49 Harus punya kesepakatan. Nah, ini PR 1:03:52 juga karena pasangan suami istri kalau 1:03:56 sudah setahun menikah komunikasi sudah 1:03:58 macet kan gitu ya kan. kita sama 1:04:01 pasangan itu waktu PDKT nyambung banget. 1:04:04 Betul enggak sih? Benar. Iya. 1:04:08 Ingat enggak Bapak waktu sama Ibu Didit 1:04:10 waktu BDKT nyambung banget kan dia? 1:04:13 Betul betul. 1:04:14 Oh abang Bang Kris aku lagi enggak bisa 1:04:16 datang. Ya udah enggak apa-apa abang 1:04:18 yang jemput ya. 1:04:20 Pak Krisang jemput dia make up 7 jam 1:04:22 seteng. Bapak tunggu enggak waktu itu? 1:04:25 Tunggu. 1:04:26 Udah jadi bini 1:04:29 5 menit dia yang siap-siap gitu 1:04:31 ngamuk-ngamuk. Betul tidak? 1:04:34 Itu tadi akhlaknya harus dibangun. 1:04:37 Aku juga cerita ini, Pak Kris. Aku juga 1:04:40 enggak bisa ngamalkan ini. Aku juga 1:04:42 sedang belajar mengamalkan. Jangan 1:04:43 kalian pikir aku sudah berakhlak juga. 1:04:45 Enggak. Orang Medan ini akhlak orang 1:04:48 Medan ya. Ah, parahlah. Apalagi kayak 1:04:50 aku ya susah. Tapi kan saya melihat apa 1:04:54 yang saya pelajari khusus di lapangan 1:04:57 saya kayaknya kita perlu kembali 1:05:00 membangun manusia yang bu budi pekerti 1:05:02 berakhlakul karimah sesuai dengan sila 1:05:04 kedua kita Pak di Pancasila apa itu, 1:05:06 Pak? Kemanusiaan yang adil dan 1:05:10 beradab 1:05:10 beradab entah kapan ini dijalankan. 1:05:12 Wallahuam. 1:05:14 Oke, selanjutnya 1:05:16 dari Mas Fajar. 1:05:18 Hm. 1:05:19 Oh, dari hamba Allah. 1:05:20 Dari hamba Allah. dari Bogor. 1:05:22 Alhamdulillah senang Ustaz bisa kembali 1:05:24 siaran di Rasil. 1:05:25 Saya ingin bertanya seputar mendidik 1:05:27 anak. Ustaz, saya punya anak laki-laki 1:05:29 usia 4 tahun. 1:05:30 Hm. 1:05:31 Alhamdulillah anak saya cerdas dan 1:05:33 sangat aktif tapi memang susah untuk 1:05:35 diam. 1:05:35 Sebagai seorang ayah saya sangat ingin 1:05:37 mendidiknya dengan penuh kasih sayang. 1:05:39 Saya selalu berusaha untuk memeluk dan 1:05:41 mencium anak saya. Tapi saat dia sedang 1:05:43 tidak bisa diam dan melakukan hal-hal 1:05:46 yang menurut saya berbaha berbahaya. Dia 1:05:48 susah sekali dikasih tahu. Bahkan kadang 1:05:51 seperti sengaja mengulangi hal itu. Ini 1:05:54 yang saya sering bikin saya dongkol 1:05:56 sampai akhirnya saya mewari dan dia 1:05:59 dengan nada tinggi. Sebenarnya saya 1:06:01 tidak ingin seperti itu, Ustaz. Tapi 1:06:03 sebagai manusia biasa kesabaran saya 1:06:05 juga ada batasnya. Di rumah istri dan 1:06:07 neneknya justru lebih tegas, galak dalam 1:06:10 mendidik. Sementara saya cenderung lebih 1:06:12 santai, tapi terkadang saya juga terbawa 1:06:15 emosi dan kadang sampai berlebihan dalam 1:06:18 mewar anak saya. Man penyelaran, Ustaz, 1:06:21 bagaimana caranya agar saya bisa 1:06:23 mendidik anak saya tanpa mudah terbawa 1:06:25 emosi dan agar anak saya bisa lebih 1:06:28 mudah menurut ee serta mengerti 1:06:32 demikian. 1:06:32 Tapi Bapak, Bapak ini kan kan Bapak ini 1:06:34 sudah mengerti sebenarnya 1:06:36 karena dia sudah bilang sampai saya 1:06:38 kadang-kadang marah melebihi. Nah, itu 1:06:40 itu poin penting pertanyaannya. Sudah 1:06:43 sudah dapat jawaban. Ketika Bapak merasa 1:06:45 bahwa marah Bapak sudah berlebihan, 1:06:48 Bapaklah yang harus istigfar, harus 1:06:50 selawat. Atau saya bilang gini, kalau 1:06:52 nanti pas anak Bapak bisa dipeluk dengan 1:06:54 baik, bacakan al-Fatihah di 1:06:56 ubun-ubunnya. Malam ketika dia sudah 1:06:58 tidur, bacakan selawat minimal tujuh 1:07:00 kali, pegang kepalanya. Kan kita umat 1:07:02 Islam dikasih mantra yang ajaib oleh 1:07:05 Allah Subhanahu wa taala. itu 1:07:06 kadang-kadang juga kita lupa 1:07:08 pegang saya kemarin Pak Kris anak saya 1:07:11 Muhammad dan Yasir berantem 1:07:15 adik kakak ini ya 1:07:15 adik kakak anak saya itu Muhammad yang 1:07:17 paling besar Yasir nomor dua kan 1:07:19 permasalahannya cuma gara-gara tutup 1:07:21 botol Aqua 1:07:22 kan sepele sekali ya 1:07:25 Yasir lari entah ke mana karena 1:07:27 ketakutan di di apa sama abangnya 1:07:29 abangnya pulang ke rumah Yasir mana nak 1:07:33 ee dia lari ayah kenapa dia lari Aku 1:07:35 kejar gara-gara apa? Tutup Aqua. Saya 1:07:38 berterima kasih. Kamu mengatakan apa 1:07:40 adanya. Ayo kita tunggu Yasir. Pulang. 1:07:42 Yasir nangis. Muluk saya. Kenapa, Nak? 1:07:45 Aku gini gini gini. Kan pas saya 1:07:47 hadapkan dua-duanya, K. Saya bilang sama 1:07:49 anak saya ee 1:07:52 orang kan ini kan debat tuh. Dia 1:07:54 berdebat dua-duanya. Saya juga punya 1:07:56 punya punya masa. Saya enggak tahu lagi 1:07:58 mau mengata melakukan apa. Saya harus 1:08:00 bela siapa? Harus bela Muhammad atau 1:08:02 bela Yasir? Sementara dua-duanya anak 1:08:03 saya ini. 1:08:04 Dua-duanya sangat saya sayangi. Kan 1:08:06 enggak mungkin lagi saya lakukan apa-apa 1:08:08 lagi. Apalagi ketika dua-duanya nangis, 1:08:10 kita juga panik. 1:08:12 Agama kita ini punya mantra yang sangat 1:08:13 ajaib, Pak. 1:08:14 Dan kita harus pakai itu. Apa itu? Saya 1:08:17 pegang dadanya Muhammad itu, baca 1:08:19 selawat saya berkali-kali dan saya 1:08:21 bisikkan ke telinganya 1:08:23 sampai akhirnya dia diam dan dia mau 1:08:26 nurut sama saya. Saya bersyukur kepada 1:08:28 Allah. Seperti yang kata Bapak tadi, 1:08:31 hampir juga saya apa? meluap, 1:08:33 marah gitu. Tapi Allah kasih saya 1:08:37 pertolongan. Daripada saya marah, saya 1:08:40 baca selawat ke Rasulullah sallallahu 1:08:41 alaihi wasallam. Saya pegang dadanya dan 1:08:42 saya baca selawat itu didengar oleh 1:08:44 Muhammad dan Yasir. 1:08:47 Agama kita ini ajaib. Ada saat-saat 1:08:50 tertentu kayak Bapak bilang tadi tuh. 1:08:53 Dia juga udah tantrum, udah apa, udah 1:08:55 apa dan kita juga emosi. Jangan 1:08:57 ikut-ikutan emosi. Kita punya mantra 1:09:00 yang luar biasa. 1:09:02 Bapak hafal selawat, baca selawat. 1:09:05 Bapak hafal Fatihah, baca Al-Fatihah. 1:09:08 Dan ketika membaca selawat Al-Fatihah, 1:09:10 bacalah dengan nada yang benar-benar 1:09:13 minta tolong kepada Allah Subhanahu wa 1:09:14 taala agar anakku ini ditenangkan. Ya 1:09:16 Allah, 1:09:19 itu sering al-fakqir amalkan. 1:09:24 Nah, jadi jangan kita karena Bapak 1:09:26 bilang tadi sabar saya kan juga saya 1:09:28 manusia biasa. Semua kita manusia biasa. 1:09:31 Aku juga lebih biasa lagi Bapak kan gitu 1:09:33 ya. Semua kita manusia biasa tapi jangan 1:09:36 nyerah dan jangan ambil marah-marah. 1:09:40 Baca selawat kawan. 1:09:41 Oke. 1:09:43 Salam selselman. Saya Nurzanah binti 1:09:47 Madius. Sedang di Sydney. Dia Singapura 1:09:51 jauh kali kawan. 1:09:52 Tinggalnya di Singapura tapi sekarang 1:09:53 lagi di Sydney lagi dengar kita ini. 1:09:55 Senang Ustaz Salman bisa kembali hadir 1:09:57 di Rasil. Mudah-mudahan setiap Senin 1:10:00 kami bisa mendengar suara Ustaz Salman. 1:10:02 Cocok juga ini 1:10:03 Ibu Nurjana. 1:10:04 Ibu Nurjanah di Sydney ya. 1:10:05 Di Sydney. 1:10:06 Coba dulu bilang salamsalam ku sama 1:10:08 Sydney ya. Mudah-mudahan bisa kita 1:10:10 dakwah di Sydney nanti. Makasih Bu 1:10:12 Nurjanah. 1:10:13 Masyaallah. Oh banyak yang menyambut ni 1:10:15 Ustaz Ustaz Salaman kembali ke Rasil. 1:10:18 Alhamdulillah. Bukan kembali. 1:10:25 Aduh 1:10:26 memang berada di Rasil cuman sudah 1:10:28 beberapa bulan enggak datang kan gitu 1:10:30 aja. 1:10:32 Aduh senang sekali saya mendengar Ustaz 1:10:34 Salman. 1:10:36 Ee bagaimana dengan Rama Alfajarnya? 1:10:39 Baik ya. 1:10:41 Alhamdulillah Pak Kris Ruha Alfajar kita 1:10:43 baik. Nah saya kemarin telepon Pak Ihsan 1:10:45 kenapa enggak datang-datang? Karena ya 1:10:47 berjuang untuk Ruhama Alfajar 1:10:49 pelan-pelan slowly but sure insyaallah. 1:10:52 jalan 1:10:53 ustaz saya kayaknya kalau punya problem 1:10:55 sama anak atau keluarga saya suka lihat 1:10:57 di AI jawabannya apa bagaimana Mur 1:11:01 Salman kita melihat mencari jawaban di 1:11:05 AI kalau menghadapi masalah 1:11:06 cocok juga tapi kalau bisa share 1:11:09 maksudnya di apa namanya dibaca 1:11:11 baik-baik ee saya termasuk pengguna AI 1:11:14 saya Pak Kris 1:11:15 iyaitu 1:11:16 kadang-kadang nasihat AI lebih matang 1:11:20 daripada manusia 1:11:24 Iya, karena lebih terstruktur jawabannya 1:11:28 menurut aku sih yaitu ya 1:11:29 terbit terstruktur cuman kan 1:11:31 tetap kita yang manusia kan kita yang 1:11:33 punya pertimbangan tapi beberapa kali 1:11:35 saya bertanya bahkan tentang usaha 1:11:37 tentang apa saya gak jadi AI Pak 1:11:39 bagus analisanya 1:11:42 kalau Bapak cerita yang nabi perjalanan 1:11:44 Nabi Muhammad yang berdagang 1:11:45 oh iya dari kita ngobrol sebelum siaran 1:11:47 Pak Kir tanya tentang AI saya itu selama 1:11:50 ini mempelajari sirah Nabawi dengan 1:11:51 kitab-kitab klasik ya kan. Sekarang saya 1:11:54 mencoba diskusi dengan AI. Kadang-kadang 1:11:56 diskusi dengan AI yang berbayar lebih 1:11:58 keren lagi Pak Kris. Ketika saya diskusi 1:12:01 sirah nabawi dengan e sirah nabawi ke AI 1:12:05 itu amazing jawabannya. 1:12:07 Hm. 1:12:08 Bagus. 1:12:08 Misalnya apa perjalanan itu? 1:12:10 Contoh yang saya yang saya paling ini 1:12:12 mudah saya ceritakan. Nabi berdagang ke 1:12:14 negeri Syam kan gitu kan. Kan kita 1:12:16 sampai di situ saja paling dinaungi awan 1:12:19 ya kan sampai di Syam barangnya langsung 1:12:22 laku pulang nanti ke ke Makkah kembali e 1:12:26 keuntungannya banyak kan hanya sampai di 1:12:28 situ rata-rata yang kita tahu eh A 1:12:31 ngasih tahu saya Salman, kau kau pernah 1:12:33 tahu enggak Makkah Syam berapa kilo? 1:12:36 1500 1:12:37 1500 kilo. Zaman itu jalurnya padang 1:12:41 pasir dan pakai unta. jalur 1500 kilo 1:12:44 berapa penyamun yang harus dihadapi 1:12:46 Nabi? Bagaimana Nabi memanage penyamun 1:12:48 di perjalanan di setiap rest area yang 1:12:50 dihindari oleh Nabi sallallahu alaihi 1:12:51 wasallam. Kemudian barang yang dibawa 1:12:54 Nabi dari Makkah ke Madinah kayak ke 1:12:56 Syam itu biasanya kismis, kurma, madu, 1:13:00 ee kulit unta, kulit gitu-gitu. 1:13:03 Bagaimana Nabi memanage kismisnya, 1:13:06 kulitnya, madunya, kurmanya. 2 bulan 1:13:09 perjalanan atau berapa hari perjalanan 1:13:12 tidak rusak sampai di 1:13:14 di apa namanya? Di Syam. Manajemen 1:13:17 storage mungkin ya. Manajemen ee 1:13:19 logistik tadi. Yang ketiga kata si E 1:13:23 sama saya unta. Nah, Nabi kedanya unta. 1:13:27 Unta bagaimana Nabi bawa makanan 1:13:29 untanya? Bagaimana Nabi manajemen ee apa 1:13:32 namanya? Kotoran untanya. Bagaimana 1:13:33 kalau untanya di tengah jalan sakit? 1:13:36 Jadi jangan kau anggap Nabi berdagang ke 1:13:38 negeri Syam. Itu cuma cerita Nabi 1:13:40 berdagang ke negeri Syam di perjalanan 1:13:42 dinaungi oleh awan sampai di Syam 1:13:45 berdagangannya laku. Pulang ke Makkah 1:13:47 laporan ke Ibu Khadijah untungnya 1:13:48 banyak. Itu yang selama ini kita 1:13:50 pelajari itu. Saya diskusi my itu, Pak. 1:13:54 Masyaallah. 1:13:54 Akhirnya sekarang saya bikin ee 1:13:57 tulisannya saya mau coba benar enggak 1:13:59 yang dianalisa ini sama dia. 1:14:01 Berapa penyamun yang dihadapi Nabi. 1:14:03 Bagaimana menghadapinya? Bagaimana 1:14:05 menghadapinya? 1:14:06 Apakah baca selawat? 1:14:08 Oh, 1:14:10 aku nih misalnya kayak kita dari Jakarta 1:14:12 mau ke Mandailing Natal. 1:14:14 Berapa preman yang kita hadapi? Mohon 1:14:16 maaf jangan, jangan ada yang salah 1:14:18 sangka dengan ceritaku ini ya. Dari 1:14:19 Jakarta aku berangkat ke Lampung, aku 1:14:21 akan menghadapi preman orang Lampung. 1:14:24 Mohon maaf bukan berarti di Lampung ada 1:14:25 premti kita hadapi. Saya harus belajar 1:14:29 bagaimana bicara sama orang Lampung, 1:14:30 bagaimana tata krama orang Lampung. Dari 1:14:33 Lampung aku ke Palembang. Beda lagi. 1:14:34 Sudah yang ku hadapi preman di Palembang 1:14:37 ya kan. Aku harus pelajar lagi bagaimana 1:14:39 Palembang supaya aku bisa masuk 1:14:41 Palembang. Nanti kita ke mana ya? Lupa 1:14:43 aku. Ke Jambi. Ah Jambi berbeda lagi. 1:14:46 Dari Jambi kita ke Padang ke Bukit 1:14:48 Tinggi. Kita pelajari lagi Bukittinggi 1:14:51 berapa lagi titik sampai akhirnya 1:14:53 kemandaling. Coba bagaimana Nabi 1:14:54 sallallahu alaihi wasallam menghadapi 1:14:55 itu semua. 1:14:56 Begitu juga dari Makkah ke Syam. Setiap 1:14:58 titik itu harus dihadapi oleh Rasulullah 1:15:00 sallallahu alaihi wasallam. Jadi itu 1:15:01 bilang, "Jangan kalian pikir Nabi 1:15:04 berdagang ke negeri Syam. Hanya cerita 1:15:06 Nabi berdagang ke negeri Syam di tengah 1:15:07 jalan diangui oleh awan sampai di Syam 1:15:09 dibelanjai oleh malaikat pulang ke 1:15:11 Khadijah untungnya banyak sesudah itu 1:15:13 dilamar oleh Khadijah menikah." Kata ah 1:15:16 itu jadi saya 1:15:18 termasuk yang menggunakan AI dalam 1:15:20 belajar. Wallahuam. 1:15:22 Senang sekali saya dengar Ustaz Salman 1:15:24 ini dari Eyang Harnoko. 1:15:28 Ehang Harnoko. 1:15:29 Oh iya. Nah, Ustaz Salman sering-sering 1:15:31 kerasil kita kangen Ustaz Salman bikin 1:15:34 kita semangat. Oke, ada yang nanya nomor 1:15:36 telepon Ustaz Salman ini dicatatonnya 1:15:38 ya. 1:15:39 0812 1:15:43 kemudian 84 0-nya 4 * 94 0812 1:15:50 kemudian 84 004 1:15:53 * 94. Kemudian alamat Ruhama apa aja 1:15:56 tempat ee pesantren Ustaz Salman adalah 1:15:59 Ruhama Alfajar. 1:16:01 Alamatnya Jalan Kaliputih Citayam, 1:16:03 Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, 1:16:06 Jawa Barat 16320. 1:16:10 Masuknya dari mana, Ustaz? Kalau dari 1:16:11 Sawangan. 1:16:12 Dari Sawangan kita ambil pengasinan, 1:16:16 bukan Arco. Iya, ambil Arco. Arco juga 1:16:19 bisa. 1:16:19 Bisa. Arco bisa. 1:16:20 Heeh. tanya situ sudah ngerti belum 1:16:22 orang kadang-kadang ngerti kadang-kadang 1:16:24 enggak juga. Aku nih 1:16:26 Rhama Alfajar. 1:16:27 Ruhama Alfajar lah ya. 1:16:28 E Kali Putih Cit. 1:16:29 Kali putih. 1:16:30 Kali putih kecamatan 1:16:33 atau nanti supaya itu apa namanya? Ee 1:16:37 cek di Google Map. Eh, 1:16:39 Rohama Alfajar ada 1:16:40 atau telepon aja dulu? 1:16:41 Atau telepon aja, WA aja aku. 1:16:42 Jadi 0812 1:16:44 kemudian 84 kemudian 00nya 4 kali 94 1:16:49 812 84 1:16:51 0-nya 4 kali 94 Ustaz. 1:16:53 Iya. Atau enggak setiap malam Kamis 1:16:55 datang. 1:16:56 Heeh. 1:16:57 Malam Kamis datang. Kita ada pengajian 1:16:59 di apa namanya? Di Ruhama. Kajiannya 1:17:02 tafsir Al-Qur'an. Ku baca dengan Makna. 1:17:04 Hm. Oke. Baik. Sepertinya semuanya 1:17:08 sudah terjawab semua. Palang semua 1:17:10 harapan-harapan semua supaya Ustaz Somal 1:17:12 kembali lagi di Rasil tiap Senin. 1:17:14 Amin ya Allah. 1:17:15 Kita semangat katanya. 1:17:16 Tolong kabulkan ya Allah. Aku juga 1:17:18 pengin Pak 1:17:19 saya ini pengin banget bisa lagi siaran 1:17:22 di Rasil tuh setiap minggu setiap Senin. 1:17:25 Kalau kadang-kadang hari Senin ya pas 1:17:27 hari Senin ada kegiatan ee retak 1000 1:17:30 jantung itu ketika enggak ketemu Rasil 1:17:32 ini ya kan. Tapi kadang-kadang apa boleh 1:17:35 buat pilihan-pilihannya kadang-kadang 1:17:37 begitulah akhirnya. 1:17:38 Oke, 1:17:38 Bapak bantu doa pemirsa pendengar bantu 1:17:40 doa lah. 1:17:41 Terima kasih Salman. Ee apa doa terakhir 1:17:44 untuk 1:17:46 kita semua? 1:17:47 Untuk kita semua. Semoga kita istiqamah 1:17:49 beriman kepada Allah Subhanahu wa taala 1:17:50 apapun yang terjadi. 1:17:51 Masyaallah. 1:17:52 Itu ajalah Pak Gris. 1:17:53 Oke terima kasih Ustaz. 1:17:54 Terima kasih Pak Krisna. 1:17:56 Saya Muhammad Krisna di Saputra dan 1:17:58 Algi. Mohon pamit. Kita jumpa lagi di 1:18:00 Senin depan dengan Ustaz Salman. 1:18:01 Siap. Wabillahi taufik walhidayah. 1:18:03 Wasalamualaikum warahmatullahi 1:18:04 wabarakatuh.