Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:28 Brail 0:31 [musik] 0:35 Bismillahirrahmanirrahim. 0:38 Asalamualaikum warahmatullahi 0:39 wabarakatuh, ikhwan akhwat 0:41 rahimakumullah. 0:43 Alhamdulillah ya, kita dipertemukan 0:45 kembali bersama-sama di acara 0:47 perlindungan anak yang mudah-mudahan 0:51 akan mempersuasi kita semua semakin 0:54 mampu menjadi bagian yang akan sangat 0:58 berarti dan bermanfaat bagi anak-anak 1:00 kita, buah hati kita, dan juga 1:03 putra-putri Indonesia tercinta. Gimana 1:05 kabar? Sehat? Alhamdulillah semua aman 1:08 terkendali ya. Tidak lupa salam selawat 1:11 kita lantunkan untuk junjungan umat 1:13 kekasih kita Muhammad Rasulullah 1:15 sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak 1:18 kita mendapat syafaat beliau dan juga 1:21 dipertemukan dengan beliau di saat yang 1:23 sangat kita rindukan di yaumil akhir. 1:26 Ikhwan akhwat, hari ini tadi di off air 1:31 saya sudah tanya kita mau ngobrolin apa 1:33 nih pada narasumber kita Bapak Dr. Hamid 1:36 Pati 5 ya terkait dengan kebutuhan 1:39 anak-anak kita bahwa semua anak berhak 1:43 belajar. Itulah yang jadi topik bahasan 1:46 kita hari ini. Dan narasumber kita sudah 1:49 ada bersama-sama nih, Bapak Dr. Hamid 1:52 Pati 5. Asalamualaikum warahmatullahi 1:54 wabarakatuh. 1:55 Waalaikumsalam. Apa kabar, Bunda? 1:58 Alhamdulillah 1:59 membersamai Anda di perlindungan anak. 2:02 Benar ya bahasannya ya? 2:05 Iya. 2:05 Pendidikan inklusif di mana semua anak 2:08 berhak belajar. 2:11 Baik, ikhwan akhwat di manaun radio 2:13 silaturahim bisa didengarkan, yuk, 2:17 seperti apakah gerangan bahasan atau 2:19 topik dari hak bagi anak-anak untuk 2:22 belajar ini? Silakan. 2:25 Terima kasih, Bunda. 2:26 Bismillahirrahmanirrahim. 2:28 Asalamualaikum warahmatullahi 2:30 wabarakatuh. 2:31 Waalaikumsalam. 2:32 Apa kabar ayahanda dan bunda yang ada di 2:37 seluruh Indonesia? 2:40 Insyaallah pada kesempatan kali ini kita 2:44 akan membahas satu topik yang sangat 2:47 penting terkait dengan pendidikan 2:49 inklusif. 2:51 Semua anak berhak belajar. 2:55 Sebagaimana kita ketahui, Indonesia 2:57 telah meratifikasi konvensi Hana sejak 3:01 tanggal 25 Agustus tahun 1990 3:06 melalui keputusan Presiden Nomor 36 3:10 tahun 1990. 3:14 Di konvensi Hana ini ada beberapa pasal 3:18 yang mengatur terkait dengan pendidikan. 3:22 dari pasal 2 terkait dengan prinsip non 3:25 diskriminasi, 3:27 pasal 3 kepentingan terbaik bagi anak. 3:31 Tapi yang tidak kalah penting itu ada di 3:34 pasal 23 yang terkait dengan anak-anak 3:39 disabilitas. 3:41 Lalu menjadi sangat kunci itu ada di 3:45 pasal 29 terkait dengan tujuan 3:48 pendidikan. 3:49 Heeh. He. 3:50 Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan 3:53 pendidikan inklusif? Pendidikan inklusif 3:57 itu menjadi satu 4:01 tag line yang mulai didengungkan oleh 4:05 Indonesia. Kita sebagai negara yang 4:10 beragam, berharap setiap anak itu 4:14 memiliki kesempatan yang sama dalam ee 4:18 mengakses pendidikan. Untuk itu, aya dan 4:21 bunda, 4:22 pastikan setiap anak kita itu harus 4:26 terakses sebagaimana sekarang ini 4:29 program pemerintah yang dikemas di dalam 4:34 RPJMN 4:35 2025-2029 4:39 itu menjadikan 4:42 wajib belajar itu menjadi 13 tahun 4:46 termasuk pendidikan anak usia dini Untuk 4:49 itu, ayo pastikan 4:53 anak-anak kita itu harus tetap terakses 4:58 ke pendidikan 5:00 di mana dia berada. Untuk itu apa yang 5:03 perlu kita bangun bersama-sama? 5:07 Untuk pendidikan inklusif itu sangat 5:10 ditentukan oleh kualitas kelasnya. 5:14 Bagaimana kualitas kelas kita hari ini, 5:17 Ayah Anda dan Bunda? 5:19 Apakah sudah dapat diakses oleh semua 5:21 anak, baik itu anak yang 5:25 abilitas maupun disabilitas. 5:30 Lalu yang kedua, bagaimana keadilan yang 5:34 dirasakan oleh setiap anak-anak kita? 5:38 Keadilan itu tidak harus selalu sama ya, 5:41 tapi anak merasa terterima, dia tidak 5:45 ditolak, dia tidak mengalami 5:47 diskriminasi. Itu juga menjadi penting. 5:51 Meskipun tidak ada anak disabilitas di 5:53 sekolah kita, tetapi kan di sekolah itu 5:58 beragam 6:00 anak-anak. Ada yang anak tinggal di 6:04 perkampungan, ada anak yang tinggal di 6:07 gang, ada anak yang tinggal di komplek 6:11 itu mereka 6:13 menjadi menyatu di sebuah institusi 6:15 pendidikan, baik itu di tingkat 6:19 pendidikan anak usia dini, di SD, di 6:23 SMP, di SMA, maupun di SMK termasuk juga 6:29 di RAUD. ul atfal di bustanul atfal lalu 6:34 kemudian di madrasah tsanawiyah madrasah 6:40 aliah madrasah ibtidaiiayah 6:43 itu menjadi sangat penting atau mereka 6:47 yang ada di boarding school atau di 6:48 pesantren harus kita pastikan mereka 6:52 mendapatkan keadilan. Lalu yang tidak 6:55 kalah penting adalah perilaku. 6:59 Perilaku menjadi kunci untuk melihat 7:02 sekolah itu inklusif atau tidak. 7:05 Perilaku dari siapa? Dari antara anak 7:07 dengan teman-temannya. Perilaku anak 7:10 kepada gurunya. Perilaku guru kepada 7:14 anaknya. Perlaku ee office boy kepada 7:18 anak-anak. Begitu juga dengan petugas 7:20 keamanan, tata usaha atau mereka yang 7:24 ada di kantin. Dan hari ini tambah satu 7:27 petugas Bunda Nuning. 7:28 He. 7:29 Yaitu petugas dari MBG yang menyalurkan 7:34 Iya. 7:35 Ada sopirnya, 7:36 lalu ada yang membagikan makanannya. itu 7:42 harus menjadi bagian 7:46 ee satu di dalam komunitas pendidikan 7:50 atau di sekolah. Bagaimana perilaku 7:52 mereka? Apakah mereka terterima atau 7:56 mereka tidak diperhintungkan di sana? 7:59 Ini menjadi penting. Untuk itu, Ayah 8:02 Anda dan Bunda perlu kita dorong ini 8:05 menjadi satu kesatuan yang utuh. Apalagi 8:09 kemarin Bunda Nuning kami mengikuti 8:12 pelatihan untuk pelatih terkait dengan 8:16 nilai-nilai kebangsaan yang 8:17 diselenggarakan oleh Liam Hanas selama 8:21 dari tanggal 5 sampai tanggal 15 8:24 September. Ada poin penting yang 8:27 didorong menjadi konsensus nasional itu 8:30 adalah Pancasila 8:33 kemudian Undang-Undang Dasar Negara 8:36 Republik Indonesia 1945, 8:40 kemudian Negara Kesatuan Republik 8:43 Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika. 8:46 Harapannya ini hidup di sekolah, hidup 8:50 di pendidikan bukan menjadi hanya 8:52 simbol-simbol atau hafalan-hafalan. 8:55 Bagaimana perilaku anak-anak yang sudah 8:59 paham terkait dengan Pancasila? 9:02 Bagaimana anak akan bertoleransi dengan 9:06 temannya? Bagaimana mereka 9:08 berkomunikasi? Bila ini tidak ditanamkan 9:11 sejak dari awal, khawatirnya mereka akan 9:15 menjadi individu yang ee tidak merasakan 9:20 bahwa mereka bersekolah di sekolah yang 9:22 terbaik. Untuk itu, ayah Anda dan bunda 9:25 ini perlu kita bangun. Pertama terkait 9:29 dengan kesiapan sekolah. Nah, kesiapan 9:33 sekolah di sini tidak harus sekolah itu 9:38 didesain ulang, tetapi kalau itu menjadi 9:41 sangat penting itu perlu dipikirkan 9:43 bersama-sama. Dengan 9:47 adanya bangunan sekarang kemungkinan 9:49 kalau dia disabilitas perlu dipikirkan 9:52 ada anak-anak yang berkebutuhan khusus, 9:57 ada anak-anak spesial. Apalagi kalau 10:00 kita mau mendalami satu hal terkait 10:04 dengan anak-anak yang ada di kelompok 10:07 neuro ee diversitas. He he. 10:10 mengalami gangguan tertentu itu menjadi 10:14 satu topik yang saya tulis di artikel 10:17 yang dipublikasi di Afrika Selatan itu 10:20 Buunding di Scopus Q3 10:24 dan 10:24 itu banyak dirujuk oleh 10:27 peneliti-peneliti dari berbagai ee 10:31 peneliti di dunia. Ini juga menjadi 10:34 tantangan untuk kita bersama-sama. 10:38 Bagaimana kesiapan sekolah? Sekolah di 10:41 sini otomatis dimulai dari 10:44 kepala sekolah. Bagaimana kebijakan 10:47 kepala sekolah menjadikan sekolahnya 10:49 menjadi sekolah inklusif. Ah, untuk itu 10:52 kalau mau mendalami lebih dalam lagi 10:55 kami juga sudah membuat satu buku yang 10:58 dipublikasi di Deep Publish itu 11:04 kelas yang ee aman. 11:08 penting di sana ada satu konsep yang 11:10 diperkenalkan Bunda Nuning tentang 11:13 terkait dengan 11:15 desain universal learning. Jadi 11:18 pembelajaran eh universal untuk semua. 11:23 Di sana kita 11:25 dituntut bagaimana kepala sekolah 11:28 memiliki kebijakan yang sangat ee 11:32 bijaksana. Lalu kedua, para guru-guru, 11:36 bagaimana para guru-guru mulai 11:39 dipersiapkan 11:41 untuk menerima keberagaman dari 11:44 anak-anak yang akan mereka didik. Dalam 11:47 hal ini pasti ada anak-anak yang 11:51 abilitas maupun ada anak disabilitas. 11:54 He. 11:54 Apalagi melalui konvensi anak di pasal 11:58 29 itu Bunda Nuning yang didorong itu 12:03 adalah 12:04 anak adalah pusat 12:07 guru sebagai fasilitator. 12:09 He. 12:11 Terkait dengan kesiapan sekolah berarti 12:14 kemampuan asesmen dari seorang guru 12:18 menjadi sangat penting. Untuk itu, ayo 12:20 ayah Anda dan bunda terkait dengan 12:24 assesment ini, ini menjadi satu 12:27 kebutuhan penting yang harus dimiliki 12:30 oleh seorang guru untuk mengetahui apa 12:34 sebetulnya keunggulan-keunggulan dari 12:37 setiap anak-anak. Lalu yang tidak kalah 12:39 penting, apa yang perlu mendapatkan 12:42 perhatian dari kita sehingga anak akan 12:46 keluar dari masalah yang dihadapi. Ah, 12:48 itu butuh guru yang memiliki kemampuan 12:52 sebagai fasilitator. 12:55 Tapi yang perlu kita tekankan adalah 12:58 setiap anak adalah pusat guru 13:02 fasilitator. Berarti 13:04 kebayang oleh kita kalau ada 20 anak di 13:08 kelas itu berarti ada 20 pusat. Iya. 13:11 Ah, bagaimana 13:13 guru mampu mengharmonisasikan 13:17 keunggulan-keunggulan dari setiap anak 13:19 dan apa yang perlu diberi ee perhatian 13:23 dari hal-hal yang perlu dikembangkan 13:27 atau yang perlu di ditingkatkan dari 13:30 setiap anak. Insyaallah kalau guru sudah 13:32 siap ini menjadi sangat penting. Tetapi 13:36 itu semua Bunda Nuning sangat ditentukan 13:39 oleh orang tua. Kemarin ee saya punya 13:45 mata kuliah itu pelibatan 13:48 orang tua dan guru. di sana para 13:52 mahasiswa yang kebetulan mereka ee 13:56 kepala-kepala sekolah di satuan 13:58 pendidikan anak usia dini berbagi 14:01 cerita. Ada tuh 14:04 orang tua itu unik-unik. 14:05 Hm. 14:07 Mereka merasa mungkin ya sudah membiayai 14:10 sekolah anaknya itu banyak tuntutan di 14:13 sekolah. Padahal 14:16 kalau setiap orang tua itu punya 14:19 tuntutan bagaimana sekolah dapat ee 14:22 memenuhi itu semua bila kalau orang tua 14:27 tidak 14:29 bekerja sama atau saling berkolaborasi. 14:34 Dan yang juga unik ni bila ada satu hal 14:39 yang dimintai kepada orang tuanya. 14:42 Banyak orang tua yang juga protes tuh. 14:44 Ah, ini ini butuh eh kesiapan. Apalagi 14:48 kalau kita mau dorong sekolah kita itu 14:51 menjadi sekolah inklusif untuk 14:54 memastikan setiap anak dari beragam 14:57 latar belakang suku, bahasa, agama, 15:02 kekayaan, latar ee politik. e latar 15:05 politik juga berpengaruh itu Buning 15:08 di sekolah masing-masing. Karena apalagi 15:11 kalau partai politiknya menjadi partai 15:15 penguasa sekarang [tertawa] 15:16 ada juga tuh ada orang yang mungkin baru 15:20 mendapatkan satu pelatihan dari KPK. Wah 15:23 itu dia sangat berisik tuh. Itu juga 15:26 menjadi penting untuk kita sama-sama. 15:29 Untuk itu ayo orang tua menjadi sangat 15:33 kunci juga dalam proses pengembangan 15:35 pendidikan inklusif ini. 15:38 Apa lagi yang perlu kita dorong terkait 15:41 dengan pendidikan inklusi ini adalah 15:45 bagaimana kita perlu meningkatkan 15:48 kemampuan 15:49 dari setiap anak. 15:52 Ya, Anda dan Bunda, ada beberapa anak 15:55 itu sebetulnya 15:58 dia sangat ee respek, sangat hormat 16:03 kepada teman-temannya yang membutuhkan 16:05 ee tenaga dia, pikiran dia. Tetapi itu 16:10 akan rusak bila ada intervensi dari 16:13 orang tua. Misalnya nih ada anak 16:15 disabilitas di kelas itu 16:18 atau anak yang neurodiversitas di kelas 16:21 itu. 16:24 Karena anak kita ini 16:27 memiliki keunggulan menghargai 16:31 ee saling berbagi, saling membantu 16:34 dengan temannya. 16:37 dari rumah itu sudah diingatkan, kamu 16:40 jangan main dengan si A, jangan main 16:42 dengan si B, nanti kamu akan 16:45 diapa-apakan. Wah, ini padahal anak itu 16:48 sebetulnya sudah mempunyai kemampuan 16:51 proteksi diri dan kemampuan untuk 16:54 menyesuaikan diri. Tetapi karena sudah 16:56 ada ee intervensi dari 17:00 ee orang yang ada di luar diri dia, 17:03 akhirnya dia tidak menjadi anak yang 17:05 fleksibel lagi. Nah, itu kita bisa 17:07 rasakan Bing. 17:08 Iya. Tadinya dia suka bantu ee misalnya 17:12 nih ada beberapa anak disabilitas bila 17:15 sekolah di sekolah inklusif itu dia akan 17:18 mungkin menggunakan kursi roda atau 17:22 menggunakan apa tuh dia tidak mampu ee 17:25 melihat lalu kemudian dipandu itu yang 17:29 kemudian ada beberapa orang tua itu 17:31 kurang setuju. Padahal 17:34 kalau sekolah inklusi itu benar-benar 17:36 diterapkan Bunda Nuning, di situlah 17:39 wadah bagi anak-anak saring belajar, 17:44 terutama belajar terkait dengan empati. 17:49 bagaimana dia berempati dengan temannya, 17:52 bagaimana dia menghargai ee temannya 17:55 yang tadinya kalau bicara itu tidak 17:57 jelas, 17:58 tapi 17:59 kalau dia menggambar, woh kualitas 18:03 gambaran sangat ee bernilai tinggi. Saya 18:08 bersyukur ya berkesempatan melakukan 18:11 perjalanan ke kota Surabaya itu 18:14 walikotanya dari walikota Ibu Risma lalu 18:18 kemudian dilanjutkan oleh walikota 18:20 sekarang ini. di sana itu ada sekolah 18:23 yang tempat 18:26 anak-anak yang disabilitas itu diberi 18:31 kesempatan untuk berekspresi dari 18:33 menyanyi, dari melukis, dari membuat 18:37 patung atau karya-karya. Lalu yang 18:40 kemudian ini yang membuat saya terharu 18:43 dengan gagasan dari Ibu Risma itu. 18:47 Setiap anak itu dibuatkan ee nomor akun 18:51 bank. Lalu kemudian karya-karya yang 18:55 dihasilkan oleh anak-anak itu dipamerkan 18:58 sampai ke kemarin itu ke 19:02 ee 19:04 Eropa. 19:05 Lalu kemudian hasil uangnya itu 19:07 ditabung. Wih, saya lihat tuh angka 19:10 tabungannya sangat banyak ya 19:12 besar. Nah, itu ada ruang untuk itu. 19:15 Nah, untuk itu perlu juga kita ee 19:19 belajar dari sekolah-sekolah yang sudah 19:22 mengembangkan sekolah-sekolah inklusif 19:24 itu pengalaman menjadi sangat penting 19:26 untuk kita serap. Lalu kemudian ini yang 19:29 tidak kalah penting Bunda Nuning. 19:31 Setiap orang atau setiap warga sekolah 19:35 kita perlu tingkatkan kapasitas cara 19:38 berkomunikasi. 19:40 H 19:41 cara berkomunikasi tidak cukup hanya 19:44 mampu berbicara melalui mulut, tapi dari 19:48 gerakan tubuh, gerakan tangan, lalu 19:52 kemudian mimik, 19:54 ee reaksi itu bahasa itu semua. 19:58 He. 19:59 Dan itu tidak cukup 20:02 hanya dipelajari, 20:04 tapi juga perlu dilatih, dipraktikkan 20:08 sehari-hari. Untuk itu 20:10 siapa yang jadi narasumber idealnya? Ya, 20:13 narasumber idealnya itu orang tua-orang 20:16 tua yang memiliki anak disabilitas 20:19 karena mereka sudah terbiasa 20:20 berkomunikasi dengan anak-anak. Untuk 20:22 itu, ayo ayahanda dan bunda yang 20:25 memiliki anak disabilitas, 20:28 perkayalah pengetahuan 20:30 teman-teman ayah dan bunda di sekolah 20:33 anak-anak kita supaya mereka itu 20:37 memiliki ee pengetahuan, keterampilan, 20:40 dan sikap lalu kemudian itu diturunkan 20:43 kepada anak-anaknya sehingga 20:46 anak-anak mereka itu mampu berkomunikasi 20:50 dengan anak-anak kita. sehingga 20:52 terbangun itu satu harmoni lalu satu 20:56 hubungan yang sangat ee ideal. Ah, untuk 21:00 itu ke depan untuk mewujudkan sekolah 21:03 inklusif ini 21:05 ada satu hal yang perlu kita rubah. Apa 21:08 itu Bunda Nuning? 21:10 Cara pandang kita. Jadi, 21:14 setiap anak adalah manusia ciptaan Allah 21:18 yang memiliki harkat dan martabat. Untuk 21:21 itu selalu diakui. 21:24 Jadi, kita lihat setiap anak-anak itu 21:27 dia memiliki keunggulan untuk selalu 21:31 dihargai, dihormati. 21:35 terkait dengan 21:38 bila kita lihat ada keterbatasan dia itu 21:40 sebetulnya keterbatasan menjadi sesuatu 21:44 yang perlu kita ee fasilitasi kemudian 21:49 bisa menjadi satu keunggulan nantinya 21:52 kalau kita biarkan 21:55 jadinya ada beberapa anak itu akhirnya 21:58 tidak terakses ke sekolah karena kepala 22:01 sekolah sudah ee antipati lebih awal. W 22:05 maaf ya sekolah ini bukan diperuntukkan 22:09 untuk anak-anak berkebutuhan khusus. 22:12 Padahal kita tahu Bunda Nuning 22:14 sekolah-sekolah untuk anak-anak 22:16 berkebutuhan khusus itu rata-rata ada di 22:18 ibu kota kabupaten H 22:20 atau ada di ibu kota provinsi dan 22:23 sekolah-sekolah itu di bawah kewenangan 22:26 provinsi. 22:27 Ahah. Terbayang 22:29 bila anak-anak itu berada di kecamatan. 22:32 Untuk itu apa yang perlu kita ee 22:38 selesaikan 22:40 ke depan? Sebetulnya ada enam tantangan 22:44 yang paling sering 22:47 kita temukan di dalam mengembangkan 22:51 pendidikan inklusif atau sekolah 22:54 inklusif. 22:55 Pertama adalah stigma. 22:57 Nih ayahanda dan bunda perlu kita 23:01 ketahui 23:02 sejak tanggal 18 23:06 Agustus 2000 23:10 itu terjadi amandemen kedua 23:14 ditambahkan satu pasal penting yaitu 23:17 pasal 28B ayat 2. Setiap anak berhak 23:23 hidup, tumbuh, berkembang. terlindungi 23:27 dari kekerasan dan diskriminasi. Ah, 23:31 yang mau kita garis bawah itu, Bundi. 23:34 Kata diskriminasi. 23:36 Lalu kemudian ada di pasal 72 23:41 Undang Pasal 72 ayat 3 huruf G 23:48 undang-undang Nomor 20 Undang-Undang 23:52 Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan 23:55 atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 23:58 tentang perlindungan anak di sana itu 24:04 memastikan masyarakat Masyarakat 24:06 menghilangkan stigma. Ah, itu stigma ini 24:11 memang hurufnya cuma berapa huruf ini? 24:12 Stigma ya, B? 24:14 S T I G M A. 24:19 Ini tantangan. 24:21 Untuk itu ada di surah Al-Hujarat tuh. 24:25 Janganlah kamu mengolok-olok 24:27 ee orang lain. Belum tentu yang 24:30 diolok-olok itu lebih baik daripada yang 24:32 mengolok-olok. Ahah itu aja. Coba 24:35 bayangkan di aturan Tuhan sudah 24:38 ditekankan kita tidak boleh menstigma 24:41 atau mengolok-olok kata lain sekarang ya 24:45 atau membully. 24:46 Nah, ini tantangan. 24:49 Dapatkah kita menghindarkan stigma ini? 24:54 Insyaallah kita berharap hanya kepada 24:56 Allah kita semua mendapatkan cahaya 25:00 untuk menghindarkan dari perilaku, 25:04 sikap, ee ucapan sehingga kita terhindar 25:09 untuk melakukan stigmah kepada anak-anak 25:12 yang menurut kita mereka sebetulnya 25:16 tidak perlu dikasihani, tapi yang mereka 25:18 minta adalah perlu difasilitasi. 25:22 pendidikan ee inklusif. Tantangan 25:25 pertama adalah stigma. 25:28 Yang kedua adalah kesiapan guru. Ah, ini 25:31 juga menjadi kalau saya di 25:34 pelatihan-pelatihan kemarin saya baru 25:35 dari Bandung. Heh, 25:37 ada sekitar ee 150 25:42 guru-guru tenaga kesehatan dan dari 25:46 dayare. Mereka 25:49 itu di dituntut bagaimana kesiapan guru 25:54 untuk memastikan bahwa setiap anak itu 25:58 adalah pusat 26:00 guru sebagai fasilitator. Nah, ini 26:02 terjemahan dari pasal 29 konvensi anak. 26:07 untuk memastikan bahwa setiap anak itu 26:11 berhak untuk mendapatkan 26:14 akses pendidikan. Nah, itu ada di pasal 26:18 ee 28 26:20 akses pendidikan. 26:22 He 26:22 guru 26:24 didorong 26:26 menjadi fasilitator. Ah, fasilitator 26:30 yang hebat di mana-mana itu, Bu. Nuning, 26:32 dia harus membaca ini 26:35 siapa? yang menjadi peserta didik kita. 26:39 Lalu yang kemudian kedua, apa yang 26:41 menjadi keunggulan dia? Apa yang menjadi 26:45 hal yang perlu mendapatkan perhatian 26:48 dari guru sehingga anak tersebut merasa 26:53 dia terterima? Oh, itu 26:55 mendapatkan ee apa? Diksi terterima itu 27:00 sulitnya bukan main. Benar. 27:03 Ah, mereka beralasan, "Kami, Pak, belum 27:06 dilatih." 27:08 Padahal 27:11 setiap 27:12 manusia 27:14 yang kemudian dia menjadi guru itu kan 27:16 pernah melewati jadi anak. 27:17 He. 27:18 Coba Bundan Ning, waktu kita masih 27:20 anak-anak itu kan sudah diberikan ee apa 27:24 itu kemampuan untuk bermain dengan siapa 27:27 saja. 27:28 Iya. 27:29 Tidak membedakan. Yang penting 27:32 anak ee temannya itu mau bermain dengan 27:35 anak kita dan anak kita mau berbagi 27:37 dengan ee anak tersebut. 27:40 Ada yang tidak bisa bicara, 27:43 ada yang anak yang 27:45 mungkin dia bukan dari keluarga 27:49 yang tinggal di komplek, sama-sama 27:51 bermain. Itu sebetulnya kita sudah punya 27:54 kemampuan itu. Tapi berjalannya waktu 27:59 akhirnya 28:01 inklusivitas 28:03 yang ada pada diri setiap diri kita itu 28:06 hilang. Dan itu yang kemudian pada saat 28:10 kita jadi guru kita tidak siap. Nah, 28:13 untuk itu kesiapan guru untuk mendorong 28:17 menjadi sekolah inklusif itu menjadi 28:19 penting. Apalagi 28:22 Kementerian Pendidikan Dasar dan 28:24 Menengah itu telah menerbitkan Permen 28:27 Dikdasmen nomor 6 tahun 2026 baru nih. 28:32 H 28:32 sekolah aman dan berbudaya. Salah satu 28:35 sekolah aman dan berbudaya itu adalah 28:39 bagaimana kesiapan guru untuk menerima 28:42 setiap anak. 28:45 Dan yang perlu kita dorong itu adalah 28:49 kemampuan membaca. 28:51 Membaca guru terhadap anak melalui 28:54 sebuah ee kemampuan 28:57 melakukan assesment. sehingga dari 29:00 assesment itu akan melahirkan portofolio 29:04 dari si anak itu tersebut. 29:07 Kemarin saya sudah menghasilkan sebuah 29:09 aplikasi Bu Nuning. 29:10 He. 29:11 Aplikasi itu ditujukan untuk ee 29:14 guru-guru anak usia dini yang akan 29:18 merekam setiap perubahan yang terjadi 29:23 di hari itu. 29:24 Hm. 29:25 Dari enam aspek. aspek nilai-nilai 29:28 agama, 29:30 moral, nilai-nilai Pancasila, 29:34 ee aspek fisik motorik, kemudian 29:37 kognitif, lalu aspek ee bahasa, dan yang 29:43 terakhir itu 29:45 ee emosi dan sosial. 29:48 Bila aplikasi itu digunakan secara baik 29:52 dan keunggulan dari aplikasi itu benar 29:55 Ning, 29:55 guru-guru tidak perlu menulis lagi. 29:58 Heeh. Jadi di setiap kolom itu sudah 30:00 disediakan ee satu alat alat dari suara 30:04 menjadi teks. Jadi tinggal klik cerita 30:07 itu. Jadi di aplikasi ini si guru tidak 30:12 dituntut menilai tetapi mendeskripsikan 30:16 secara detail terkait dengan anak yang 30:20 ada di depan dia. Wah. 30:22 Yang jadi soal kalau anaknya banyak itu 30:26 butuh waktu. Tapi ee 30:29 saya akan dorong ee aplikasi itu akan 30:32 menjadi lebih mantap. N poin penting 30:36 dari 30:38 aplikasi itu adalah bagaimana membantu 30:41 membantu guru untuk membaca 30:45 anak-anaknya yang ada di kelasnya. Itu 30:48 penting. Itu jadi tantangan tuh. Tapi 30:51 saya sudah kasih solusi juga Bu Nuning 30:53 ya. He 30:54 kedua, ketiga tantangan fasilitas. Nah, 30:58 fasilitas ini memang 31:02 idealnya seperti yang didorong oleh 31:05 konvensi 31:07 ee 31:09 penyandang 31:11 konvensi hak-hak penyandang disabilitas 31:14 yang telah diratifikasi oleh Indonesia 31:16 juga yang kemudian telah diadaptasi di 31:20 Undang-Undang Nomor ee 8 Tahun 2016 31:25 tentang penyandang disabilitas. 31:27 yaitu desain universal. Berharap ya 31:32 Bunda Nuning bangunan-bangunan itu 31:35 didesain sebetulnya untuk memenuhi semua 31:38 kebutuhan dari warganya. Ah tetapi 31:43 kita di Indonesia 31:47 karena sumber pendanaan yang terbatas. 31:51 He 31:52 waktu mendesain dan waktu membangun itu 31:56 tidak sesuai. 31:58 Mungkin karena baru ada bata lalu 32:01 kemudian ada semen dibangunlah satu ee 32:04 ruang kelas lalu kemudian ditambah. 32:07 Padahal seharusnya itu sudah mulai 32:09 diperhitungkan seperti sekarang di 32:12 setiap ee bandara internasional itu 32:16 Buning atau di hotel-hotel juga sekarang 32:19 mulai diikuti oleh bangunan pemerintah 32:23 lalu di mulai dibangun di faskes yaitu 32:27 jalur-jalur 32:28 akses untuk ee disabilitas 32:33 itu harusnya hari ini itu belum desain 32:37 meja juga belum diperhatikan. Untuk itu 32:39 jadi tantangan ke depan. Untuk itu apa 32:42 yang perlu kita lakukan 32:45 ke depan? 32:47 Berharap 32:49 para arsitek lalu para kontraktor 32:54 itu perlu dilatih terkait dengan desain 32:58 universal sehingga fasilitas-fasilitas 33:01 pendidikan kita ke depan 33:04 itu ee terfasilitasi. Ingat enggak waktu 33:07 itu kita punya Presiden ee Gus Dur yang 33:11 kemudian kita bersyukur kehadiran beliau 33:14 itu berdampak kepada penyediaan 33:16 fasilitas ee akses. Kemudian ee 33:22 ee ibu negara kita kan waktu itu harus 33:25 menggunakan kursi roda. Akhirnya semua 33:28 bangunan-bangunan itu ee mau tidak mau 33:32 terfasilitasi. Nah, untuk itu ke depan 33:35 berharap setiap sekolah-sekolah yang 33:37 kita bangun, rumah ibadah yang kita 33:40 bangun sudah memperhatikan desain 33:43 universal. 33:44 Amin. 33:46 Lalu kalau kita mau dalam lagi itu 33:48 sebetulnya ada itu di surat Abbas ee 33:51 Abbasah ee referensi inter 33:53 referensi dari Allah itu kalau referensi 33:56 internasional konvensi tadi hak-hak 33:58 penyandang disabilitas. di Indonesia 34:00 sudah ada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 34:03 2016. Kemudian yang keempat ini 34:07 tantangan 34:09 ejekan dan perundungan. 34:12 Masih ya? Nah, untuk itu kami tekankan 34:16 tadi yang di nomor satu tadi ya, stik ya 34:19 Bunda Nuning. 34:20 Ini 34:21 menjadi modal ee atau jadi dasar orang 34:26 melakukan ee ejekan atau perundungan 34:28 pembulian. Ada beberapa anak kasihan 34:32 memang dia tidak bisa berbicara. 34:34 Dipaksa untuk berbicara. Ada anak tidak 34:38 mampu untuk menulis. Dipaksa untuk 34:41 menulis. akhirnya dibully oleh 34:42 teman-temannya. 34:43 Iya. 34:44 Sekolah yang baik adalah sekolah yang 34:47 memperkenalkan 34:49 setiap anaknya. Lalu setiap anak itu 34:52 saling menghargai satu sama lain. Dan 34:56 itu yang menjadi kekuatan dan itu yang 34:58 kemudian kami tulis di artikel 35:01 neurodiversitas itu. Itu menjadi satu 35:04 hal. Misalnya Bunda Nuning ya. 35:06 He. 35:07 Di kelas itu ada 10 anak. ada anak ada 35:11 satu anak ee mengalami 35:15 ee apa anak-anak yang autis. 35:21 Anak autis itu kan di beberapa ee 35:24 situasi atau suasana dia tidak mau ada 35:27 orang berisik. 35:27 Iya. dia tidak mau ada cahaya yang apa 35:31 terlalu silau. Ah, bagaimana sembilan 35:35 siswa itu, sembilan anak itu 35:37 menyesuaikan dengan anak ini. Kalau itu 35:41 terjadi, wow satu kedamaian yang akan 35:46 didapatkan oleh anak autis. 35:50 Ala, ada anak yang [berdehem] 35:53 ee 35:55 adh 35:57 atau anak yang mengalami gangguan ee 36:00 tertentu itu kalau mereka terfasilitasi 36:04 sebetulnya yang untung bukan anak itu 36:06 sendiri benar 36:07 tapi sembilan anak tersebut. He 36:10 karena mereka akan bagaimana ya belajar 36:14 empati dan itu yang kemudian pada suatu 36:18 waktu mereka akan menjadi orang dewasa, 36:21 menjadi orang tua, lalu menjadi menjadi 36:25 ee angkatan kerja mengisi ee 36:29 sektor-sektor yang ada di pemerintah 36:31 ataupun di swasta atau di ee tentara 36:35 atau di kepolisian itu mereka menjadi 36:38 individu yang hebat. 36:40 Dan yang tidak kalah penting pada saat 36:42 mereka menyusun kebijakan, menyusun 36:45 program, 36:46 melakukan evaluasi, 36:48 itu akan menjadi insting mereka 36:53 dan itu menjadi satu kekuatan. Untuk itu 36:55 ke depan bagaimana ini menjadi kunci 36:59 untuk kita dorong. Lalu yang kelima, 37:01 hubungan dengan orang tua. Nah, saya 37:05 bersyukur suatu waktu menjumpai 37:09 ada 37:11 satu keluarga, ayah dan ibunya itu 37:14 sangat 37:17 pro memfasilitasi, mendukung anaknya 37:21 yang tidak bisa berbicara. 37:23 Heeh. He. 37:24 Tapi dia punya kemampuan melukis. Jadi 37:26 ke mana-mana dia fasilitasi, Bu. ee 37:29 bening. Ah, ini berarti orang tuanya 37:33 yang hebat. Ah, orang tua-orang tua yang 37:38 berada di grup anak-anak disabilitas 37:42 kalau boleh buka kelas di kelas ee yang 37:47 didorong menjadi sekolah inklusif itu 37:49 untuk membantu orang tua-orang tua lain 37:53 dan guru-guru 37:55 untuk mudah memahami bagaimana 37:59 memfasilitasi anaknya. Jadi jangan 38:01 biarkan guru ee petugas di sekolah itu 38:07 mempelajari sendiri. 38:09 H 38:10 akan sangat bijaksana kalau setiap orang 38:13 tua ini menjelaskan ayahanda dan bunda, 38:17 Bapak guru sekolah, 38:19 anak saya ini keunggulan dia. Tetapi 38:23 anak saya ini ada sesuatu hal yang perlu 38:25 mendapat perhatian dan ini berharap ya 38:29 dari Ibu Bapak guru 38:31 mampu memfasilitasinya. 38:33 Kalau tidak kami bersedia untuk ee 38:38 membantunya. Nah, ini ini yang menjadi 38:40 penting. Tapi banyak orang tua yang 38:43 bersembunyi di belakang pintu atau 38:45 menyembunyikan anak-anaknya di belakang 38:47 pintu. Akhirnya nih yang perlu ayahanda 38:51 dan bunda tahu ada jatah 1% 38:55 he 38:56 untuk pegawai ASN, pegawai swasta di 39:01 kepolisian sudah mulai kemarin ee 39:04 Kapolri sudah memberi kesempatan yang 39:07 disabilitas menjadi anggota kepolisian 39:09 itu 1% Buning. 39:11 He. Kalau 1% ini tidak difasilitasi di 39:15 sekolah ibu bapak, bagaimana anak-anak 39:19 itu dapat mengisi kekosongan yang ada di 39:23 1% itu? Untuk itu ayo orang tua-orang 39:26 tua yang memiliki anak-anak disabilitas 39:29 dan orang-orang tua yang memiliki anak 39:32 abilitas, ayo kita saling berkolaborasi 39:35 sehingga nanti pada suatu waktu generasi 39:39 ke depan itu setiap anak itu saling 39:42 bahu-membahu menjadi pejabat, menjadi 39:45 warga negara, menjadi polisi, menjadi 39:48 tentara atau menjadi pegawai swasta itu 39:51 mereka saling menghargai. satu sama lain 39:55 dan mereka terhindar dari perundungan 39:57 lagi apalagi ya. Lalu yang terakhir 40:01 penolakan secara halus. Ini tantangan 40:03 ini biasanya ee kepala sekolah akan 40:05 berkata, "Maaf ya, Pak sekolah kami ee 40:11 belum memfasilitasi atau ada cara lain 40:16 maaf, Pak. Sekolah yang terbaik untuk 40:18 anak Bapak ada di sana." Ahah. Itu 40:20 berarti menolak. Iya. Padahal coba kalau 40:24 kepala sekolah itu sejak dari awal 40:26 menerima anak itu, itu cahaya Allah akan 40:29 menyertai sekolah itu. Kemudian 40:32 berbagai kesulitan 40:34 ee akan mendapatkan jalan keluarnya. 40:38 Pasti itu kan akan menjadi trend setter 40:41 ya Bunda Nuning sekolah itu akan 40:43 didatangi oleh orang yang akan mau studi 40:46 banding, akan mau belajar lalu kemudian 40:50 pasti 40:51 walikota atau bupati atau gubernur 40:54 mengetahui sekolah itu telah membuka 40:58 pendidikan inklusif. Mau tidak mau 41:02 pertanyaannya dia itu mungkin ya. 41:04 He. 41:04 Apakah di sana fasilitasnya sudah 41:06 memadai? Wah. Kalau belum itu perlu kita 41:10 bantu. Nah, itu prioritas tuh. Atau 41:13 apakah SDM-nya di sana sudah dikapasti 41:16 terkait dengan pengetahuan inklusif? 41:18 He. 41:19 Kalau belum mereka diprioritaskan untuk 41:23 mengikuti pendidikan. Ah, dapat beasiswa 41:25 kah sekolah ke Universitas Negeri 41:28 Jakarta. Ada sekolah itu khusus ee 41:31 jurusan ee anak luar biasa dapat tuh. 41:35 Tapi kalau kita sejak dari awal menutup 41:38 diri, akhirnya rezeki dari Allah juga 41:41 akan tertutupi dan cahaya yang akan 41:44 dipancarkan oleh Allah itu akhirnya 41:46 buyar. Nah, ini jadi tantangan. Ah, 41:49 tantangan-tantangan ini ke depan perlu 41:51 di ee selesaikan menjadi sebuah kearifan 41:56 menjadikan sekolah kita menjadi sekolah 41:58 inklusif. Nah, untuk itu apa yang perlu 42:02 kita lakukan? 42:05 ini apa yang perlu kita lakukan? Pertama 42:08 dulu kenali sebelum ee 42:14 menolak. Jadi kenali itu anak-anak itu 42:17 apa nih 42:18 yang menjadi ee keunggulan dan apa yang 42:22 menjadi catatan yang perlu diperhatikan. 42:24 Ah, dengan menggunakan aplikasi yang 42:27 kami bangun itu Bunda Nuning. 42:28 Heeh. 42:30 Itu ada dari PAUD transisi ke SD. Oh, 42:33 jadi ada laporannya tuh. 42:35 Iya. 42:35 Wah, 42:37 guru SD anak ini memiliki keunggulan di 42:40 bidang ini loh. Tapi anak ini supaya 42:45 berkembang lebih pesat lagi di sekolah 42:48 ayah Anda dan bunda 42:49 ini yang perlu mendapatkan perhatian. 42:52 Nah, itu kemungkinan di situ kan setiap 42:56 kita itu lahir 42:59 ada beberapa keunggulan. Ada juga yang 43:03 menjadi catatan. Saya tidak menggunakan 43:06 kata apa tuh ee negatif, tapi catatan 43:11 supaya catatan itu dapat perhatian. Lalu 43:14 kemudian yang kedua, 43:17 perlu melakukan assesment sejak dari 43:19 awal. Ah, assesmen ini ee penting. Ee 43:23 gunakan tadi aplikasi itu. 43:25 Bukan jualan. Ini saya kasih gratis 43:27 kalau ada yang mau minta ya. Karena saya 43:30 ee bekerja sama dengan Yayasan 43:32 Kesejahteraan Indonesia itu mau berbagi 43:36 aplikasi itu akan di 43:39 praktikkan oleh mahasiswa PKM di 43:42 Kabupaten Karawang Buuning di bulan 43:45 Oktober insyaallah. Anik bisa minta ke 43:48 saya nanti saya kasih ya. Jangan jangan 43:51 lupa ee WA. 43:54 Ketiga, 43:56 bangun komunikasi. 43:59 antara guru dan orang tua kalau kita mau 44:03 bangun sekolah inklusif yang hebat. 44:06 Lalu yang keempat, penyesuaian ee 44:10 pembelajaran. Nah, kalau 44:13 guru yang sudah hebat seperti yang 44:16 dikembangkan di sekolah-sekolah 44:18 Montesori 44:20 yang sebetulnya itu didorong melalui 44:22 sekolah Taman Siswa oleh Kiwantara itu 44:26 adalah 44:27 anak sebagai pusat, guru sebagai 44:29 fasilitator. Jadi, bagaimana setiap anak 44:33 itu terfasilitasi 44:36 ee akhirnya ee keunggulan dari setiap 44:39 anak itu keunggulan dimaksud ini bakat 44:43 dan minat dia itu terpupuk, terekspresi, 44:48 ee keluar lalu matang 44:50 tinggal bisa dijual tuh. [tertawa] 44:52 Kalau kalau makanan tinggal dimakan tuh 44:56 atau anak tinggal dia tampil percaya 44:59 diri sebagai individu yang memiliki masa 45:02 depan yang sangat luas. Tergantung dari 45:06 bagaimana ee 45:10 pembelajaran itu disesuaikan. Lalu yang 45:12 kelima, 45:14 gunakan teman sebaya. Nah, nih tadi 45:19 sebetulnya setiap anak itu 45:23 punya ee kemampuan 45:27 untuk berbagi, 45:29 kemampuan untuk saling membantu. 45:31 Seperti yang kita contohkan tadi, ada di 45:33 kelas itu ada 10 anak. Salah satu anak 45:35 itu berkebutuhan khusus. yang sembilan 45:38 anak itu membantu 45:39 membantu 45:41 dan anak-anak ini yang akan menjadi 45:45 humas 45:46 untuk sekolahnya. 45:48 Humas kepada siapa? Kepada orang tua. 45:50 Iya. 45:51 Terutama orang tua yang ee memiliki 45:53 pemikiran ee apa? Kalau boleh kenapa sih 45:57 kamu harus main dengan dia? 46:00 Kenapa kamu tidak main dengan orang 46:01 lain? Iya. 46:02 Yang menurut kamu ee dengan temanmu yang 46:06 lain itu kamu akan lebih hebat lagi. 46:08 Ahah. Anak kita akan menjelaskan, 46:11 "Bunda, tahu enggak aku 46:15 memberi contoh hanya memegang sendok 46:17 aja." Lalu teman aku berhasil membangun 46:20 sendok lalu memindahkan ee 46:25 nasi. 46:25 He. 46:26 Itu pindah ke mulutnya. Bahagianya dia 46:29 luar biasa sambil tepuk tangan. 46:31 Masyaallah. Oh, 46:32 dan guru memberikan bintang kepada aku. 46:35 Ahah. Ini jadi dia akan saling 46:38 bahu-membau itu. Kapan ya ada di 46:42 negeri ini punya sekolah seperti itu. 46:44 Jadi anak-anak yang disabilitas, 46:48 anak-anak yang gifted yang sekarang oleh 46:51 presiden disalurkan ke sekolah Garuda 46:54 itu 46:55 anak-anak yang unggul itu bisa saling 46:58 membau. Ah, ini menjadi tantangan. Yang 47:01 terakhir adalah periksa lingkungan fisik 47:04 dan budaya sekolah. Kita perlu bersyukur 47:09 Menteri 47:11 Pendidikan Dasar dan 47:12 Menengah 47:14 ee hari ini telah menerbitkan Permen 47:16 Dikdasmen. Tapi kalau kita tanya kepada 47:20 orang-orang di sekolah seperti kemarin 47:22 saya di Bandung, 47:23 apakah sudah baca Permen itu? 47:26 Baru lihat, Pak. 47:28 Udah saya kasih nih. Coba ayah dan bunda 47:31 yang ada di rumah tolong catat ini. 47:33 Kalau boleh baca baik-baik permen ini 47:37 yaitu Permen Dikdasmen nomor 6 tahun 47:42 2026. 47:44 Sekolah ee aman berbudaya. Jadi anak 47:49 kita di sana aman 47:50 lalu anak kita akan berbudaya. Salah 47:53 satu adalah memastikan sekolah kita atau 47:56 sekolah anak kita menjadi sekolah 47:57 inklusif. Ini mungkin yang dapat kami 48:00 sampaikan. Semoga bermanfaat dan kita 48:03 berharap Allah selalu memberikan cahaya 48:06 kepada kita semua sehingga kita mampu 48:10 memfasilitasi 48:12 semua anak 48:15 sehingga mereka 48:17 menemukan diri dia sebagai manusia 48:20 dengan cara kita menghormati, 48:22 menghargai, dan mengakui apa yang 48:25 menjadi keunggulan Dia. Demikian. 48:27 Asalamualaikum warahmatullahi 48:28 wabarakatuh. Waalaikumsalam 48:30 warahmatullahi wabarakatuh. Masyaallah. 48:33 Jadi, ikhwan akhwat, inklusi itu di 48:38 bagian yang kita bahas ini memang perlu 48:40 dioptimalkan 48:42 meskipun bukan secara pribadi ya. Karena 48:46 sekolah itu adalah sebuah institusi yang 48:51 luar biasa sekali diperlukan. Pak Amit 48:53 boleh langsung ke pertanyaan? 48:55 Ah, boleh. Insyaallah. 48:57 Mohon pencerahannya. Nah, bagaimana? Oh, 49:00 ini dari Pak Budi ya. Bagaimana dengan 49:04 anak jalanan yang terabaikan? 49:07 Apakah 49:09 kelurahan RT RW tahu bahwa di wilayahnya 49:12 ada anak yang tidak sekolah padahal 49:15 masih di usia sekolah? Atau juga apakah 49:19 sekolah setempat yang cari tahu ada 49:22 enggak kondisi di mana sekolah itu 49:24 berada. Ada anak yang tidak sekolah di 49:27 wilayahnya. Terima kasih banyak. Iya, 49:30 itu saja. Baik, buat kita ucapkan terima 49:33 kasih ke Pak Budi ini. Ini berharap 49:35 beliau menjadi seorang aktivis atau juga 49:38 aktivis anak nih. 49:39 He, 49:40 Pak Budi ee supaya ke depan Pak Budi 49:46 jelas mendapatkan peran dari negara itu 49:49 ada di pasal 72 49:52 He. 49:54 Ayat 3 huruf C melaporkan ke pihak-pihak 49:58 berwenang. Jika ada anak di depan kita 50:02 ee hak-haknya. 50:05 Ah termasuk anak jalanan ini. He 50:09 itu ada di Undang-Undang 35 Tahun 2014. 50:12 Sebetulnya 50:14 ini menjadi 50:16 kewajiban 50:17 ee lurah, 50:19 menjadi kewajiban ee aparatur desa dari 50:25 perangkat yang terbawah itu ya, RT 50:27 RW 50:28 RW, lalu ada kepala dusun, ada ketua 50:32 Dasa Wisma ini yang merekam anak-anak 50:36 ini sehingga anak-anak ini ee dapat 50:41 tersalurkan kan. 50:42 H 50:42 lalu kemudian Kementerian Pembedaan 50:45 Perempuan dan Perlindungan Anak di 50:48 beberapa kementerian sebelumnya, menteri 50:50 sebelumnya itu mengembangkan 50:54 PATBM 50:56 perlindungan anak terpadu berbasis 50:58 masyarakat yang hari ini oleh Ibu 51:01 Arifah, Menteri Pembadan Perempuan dan 51:03 Puan Anak memperkenalkan ruang bersama 51:07 Indonesia yang berbasis di kelurahan 51:10 atau di desa. He. 51:15 Peran komunitas ini sebetulnya 51:20 mendata nih anak-anak sampai anak yang 51:23 ee 51:25 menikah di bawah usia anak itu didata 51:28 tuh kenapa itu bisa terjadi. Salah satu 51:30 anak-anak seperti ini. 51:33 Ah, ini yang perlu kita dorong 51:35 bersama-sama. 51:37 Yang itu yang pertama. Yang kedua, 51:41 melalui presiden sekarang itu 51:43 memperkenalkan sekolah rakyat. 51:46 Hm. 51:46 Nah, sekolah rakyat itu tidak akan 51:49 bermakna bila tidak ada keaktifan dari 51:53 masyarakat untuk 51:56 me 51:58 identifikasi 52:00 anak-anak yang berasal dari keluarga 52:02 miskin yang tidak bersekolah atau putus 52:05 sekolah. 52:07 Dan kalau boleh anak-anak ini segera 52:09 dilaporkan ke Dinas Sosial setempat yang 52:14 kemudian nanti akan di ee asesmen lalu 52:18 kemudian akan di 52:22 tempatkan di sekolah rakyat yang 52:24 terdekat. 52:26 Sekolah rakyat sekarang sudah 52:29 ee di beberapa daerah sudah mulai ada 52:31 seperti misalnya ya. Kalau di Jakarta 52:35 itu ada di belakang 52:38 Pondok Indah. 52:39 Di situ kan ada 52:41 ee komplek Kementerian Sosial. Nah, di 52:44 situ apa namanya itu? Lalu kalau di 52:49 Provinsi Banten, anak-anak di Tangerang 52:53 Raya itu berada di Kota Tangerang 52:56 Selatan tapi masih diperuntukkan untuk 52:58 anak di level SMA 53:02 SD belum. He 53:04 masih proses pembangunan. 53:07 ini sekolah rakyat ini sekolah rakyat ee 53:10 belum tersosialisasi dengan bagus 53:14 terganggu dengan ee apa di masyarakat 53:17 kita sebetulnya ee pemerintahan hari ini 53:21 banyak ide-ide 53:23 tapi ide-idenya itu ee 53:27 terpotong dengan 53:30 kejadian-kejadian 53:31 yang tidak pantas disebarlaskan di 53:34 Mesos. akhirnya tersebarluaskan seperti 53:39 sekolah rakyat itu sebetulnya untuk 53:40 anak-anak yang disampaikan tadi oleh Pak 53:42 Budi untuk anak jalanan ada anak yang 53:46 bekerja atau anak yang putus sekolah itu 53:50 mereka cuma bawa tubuh saja. Iya. 53:53 Bahwa tubuh di sana pakaian dalam dapat, 53:58 pakaian luar seragam. Seragamnya 54:01 lengkaping. 54:02 H 54:02 ada anak yang dari Sulawesi Barat itu 54:05 lolos mengibarkan bendera merah putih. 54:08 Merah putih. Heeh. 54:10 anak perempuan dia karena mendapatkan 54:15 pelatihan sana di sekolah di sekolah 54:19 rakyat itu memang benar-benar anak 54:22 dipersiapkan 54:24 menjadi 54:25 individu yang nantinya mereka akan 54:28 mengangkat derajat martabat orang 54:31 tuanya. Tinggal bagaimana ayahanda dan 54:34 bunda memiliki kesediaan untuk 54:37 melaporkan 54:39 ada tetangga kita atau ada anak-anak ee 54:43 teman kita yang kalau kita lihat 54:46 sepertinya 54:47 ayah ibunya tidak memiliki kemampuan 54:50 secara ekonomi 54:52 untuk menyekolahkan anaknya. 54:54 Ah yang beritanya tertutup dengan 54:56 desil-desil. I sat lah du ada ini 55:01 anggota DPR sudah kaya ya seharusnya dia 55:03 di desil 9 taruh di desil dapat bantuan 55:08 kita kalau berita-berita seperti itu 55:11 kita konsumsi padahal terkait dengan 55:13 sekolah rakyat ini menjadi penting 55:14 terima kasih ee Pak Budi sudah bertanya 55:18 dan saya berharap Pak Budi 55:20 ikut peran serta 55:21 ikut peran serta untuk 55:24 sejak tanggal 17 Oktober 14 55:28 kita telah diberi peran oleh negara 55:30 salah satunya adalah melaporkan ke pihak 55:33 berwenang bila ada anak-anak yang 55:36 hak-haknya itu terabaikan. Terima kasih, 55:40 Pak. 55:40 Terabaikan. Iya. Dan karena sudah di 55:42 penghujung closing idea untuk bahasan 55:45 kita, mudah-mudahan tak ada lagi 55:48 disabilitas yang didiskriminasi, 55:51 dibully atau direndahkan. Silakan. Baik, 55:54 terima kasih ayahanda dan bunda yang 55:57 hari ini ee diberi kesempatan untuk 56:00 mendengarkan siaran ini. Ada beberapa 56:04 hal yang perlu kita dorong ke depan dan 56:07 ini berharap tantangan menjadi peluang. 56:11 Apa itu? 56:13 Kita tidak lagi melakukan stigma. Kalau 56:16 boleh kita kalau tidak berkata itu lebih 56:20 baik daripada berkata itu menjadi 56:22 penting stigma. Kedua, 56:26 kita perlu berharap setiap mereka yang 56:31 mendapatkan amanah sebagai pendidik 56:34 pertama dan utama dan pendidik lanjutan 56:37 untuk meningkatkan kapasitas terutama 56:40 para orang tua-orang tua baik itu orang 56:43 tua yang memiliki anak habilitas maupun 56:46 anak disabilitas. 56:49 Lalu yang ketiga, ayo mulai kita dorong 56:52 tuh berbagai fasilitas yang ada di kita. 56:56 Kalau tidak ada untuk mereka yang 56:59 ee terfasilitasi, laporkan. Kita lapor 57:03 ke sekarang ini setiap kabupaten kota 57:06 itu ada ee hotline 112 57:10 itu dengan smart city. Sebetulnya bupati 57:13 walikota itu sudah tahu, tapi karena 57:17 harus ada itu gerakan dari masyarakat 57:19 untuk melaporkan Bapak kalau tidak mau 57:23 memfasilitasi ini tahun ini, tahun depan 57:25 Bapak tidak kami pilih. Ah, itu baru 57:29 baru ee warga yang hebat. Kemudian ke 57:32 anggota DPR, Bapak anggota DPR pengin 57:35 lanjut enggak? perjuangkan pendidikan 57:38 inklusif ini. Kalau tidak, Bapak tidak 57:40 akan dipilih lagi. Ah, mereka ketakutan 57:42 tuh. Tapi itu semua kalau sudah disogo 57:45 ya 57:47 ini penting. Kita mulai hindarkan. 57:50 Jangan mengejek, jangan merundung. Tapi 57:53 yang tidak kalah penting adalah 57:55 bagaimana hubungan orang tua-orang tua 57:58 yang memiliki anak disabilitas 58:00 harus melalui memiliki kemampuan mau 58:03 terbuka mau meningkatkan kapasitas 58:06 tetangga-tetangganya 58:08 agar tetangga-tetangga 58:11 mau 58:12 membantu anak-anak kita. Ingat, kita 58:16 tidak selalu berada di sekitar anak 58:19 kita. 58:20 Iya. kemungkinan kita sudah meninggal 58:23 atau kemungkinan kita tidak ada di 58:25 tempat itu, tapi anak kita harusnya 58:29 mendapatkan bantuan, dukungan dari 58:32 tetangga atau bantuan dari teman-teman 58:35 atau dari guru-guru. Tapi karena kita 58:37 tidak bagi pengetahuan kepada mereka, 58:40 akhirnya mereka meraba-raba. Untuk itu 58:43 kita berharap kepada Allah kita tetap 58:46 terus diberi ee kemampuan untuk membantu 58:50 satu sama lain dan mendorong pendidikan 58:52 inklusif ini. Tidak hanya di sekolah, 58:55 tapi itu sudah mulai dari sekolah, dari 58:58 rumah, lalu komunitas, lalu kemudian ke 59:01 sekolah dan ke fasilitas fasilitas lain 59:03 sehingga mereka 59:05 merasa diakui, mereka merasa dihargai, 59:09 dan yang paling penting mereka merasa 59:12 terfasilitasi 59:14 bukan merasa dikasihani. Untuk itu kata 59:18 kasihan kita ee buang baik-baik. 59:21 Demikian semoga Allah selalu memberikan 59:23 cahaya kepada kita yang hari ini sudah 59:26 lembut kepada anak-anak kita semakin 59:28 lembut lagi dan berharap kita 59:31 mendapatkan rida dan berkah dari Allah. 59:33 Demikian. Asalamualaikum warahmatullahi 59:35 wabarakatuh. 59:36 Waalaikumsalam warahmatullahi 59:38 wabarakatuh. Terima kasih sekali Pak Dr. 59:42 Hamid Pati untuk bahasan kali ini. Kita 59:45 semua berdoa ya semoga tidak ada lagi 59:47 disabilitas anak-anak kita yang 59:50 didiskriminasi, yang dibully, 59:52 direndahkan. Karena bukankah mereka juga 59:56 anak-anak bangsa ini? Dan setiap dari 59:58 mereka berhak mendapatkan pendidikan 1:00:01 setidaknya 13 tahun. Luar biasa sekali. 1:00:03 Baik, terima kasih. Billahi taufik wal 1:00:05 hidayah. Wasalamualaikum warahmatullah 1:00:08 wabarakatuh. Waalaikumsalam.