Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:16 Assalamualaikum Bang Ihsanudin Nursi. 0:20 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:22 wabarakatuh. 0:24 Apa kabar Bang Ihsanudin Nursi? Punya 0:26 anak berapa Bang Ihsanudin Nursi 0:28 sekarang? 0:29 Punya anak dua, punya cucu dua. 0:31 Cucu dua. Kalau cucu Bang Ihsanudin 0:34 Nursi hilang di mall 0:35 dua jam saja, pusing enggak tuh 0:37 kira-kira Bang? 0:39 Waduh, saya pernah kehilangan anak di 0:42 Masjidil Haram. 0:44 Pusingnya minta ampun ya? 0:46 Pusingnya minta ampun, apalagi kematian 0:48 sampai karena peperangan ya Allah ya 0:50 Allah. 0:51 orang hilang, anak-anak Cing, 0:53 bocah-bocah. Kan kita tuh enggak 0:56 ngebayangin. He eh saya ada ada sahabat 0:58 itu anaknya meninggal tabrakan, itu tak 1:01 bisa hilang dari muka dia anaknya itu. 1:04 Luar biasa, tapi ini 6.150 1:06 anak di Gaza hilang. 1:09 Terbunuh dan 7.000 lainnya masih ada di 1:11 dalam gedung-gedung yang porak-poranda. 1:14 Luar biasa, tapi yang kita ingin bincang 1:16 Bang Ihsanudin Nursi adalah Qatar. 1:19 Sebuah negara kecil. 1:21 Saya enggak ngebayangin ini kalau 1:22 Indonesia yang berperan harusnya. Ini 1:24 Qatar negara kecil. 1:26 Tapi saya pernah di Gaza menanyakan ya, 1:29 ada orang Gaza bilang 1:31 "Kenapa enggak Qatar yang bangun rumah 1:33 sakit? Qatar ini kecil, orangnya 1:35 sedikit, tapi kalau Indonesia yang 1:36 bangun rumah sakit ini ada 200 juta 1:38 orang." Mereka mengatakan 1:41 "Apa yang menyebabkan Qatar sedemikian 1:43 rupa dalam peran ke dunia di dunia ini?" 1:46 Bagaimana Bang? Tajirkah atau ada yang 1:48 lain? 1:50 Eee 1:52 mungkin kita teringat di era Donald 1:55 Trump itu 1:55 He eh. 1:56 eee Qatar dituding sebagai negara yang 1:59 membiayai teroris. 2:00 Nah, iya, betul. 2:02 Ee, sebenarnya di balik tudingan Qatar 2:06 sebagai pendana teroris 2:08 yang sedang terjadi adalah 2:10 Amerika enggak mengatur harga gas karena 2:12 pemasok gas terbesar di dunia dari 2:14 Qatar. 2:14 Oh. 2:16 Heem, heem, heem. 2:17 Ee. 2:19 Dalam konstruksi perang Ukraina-Rusia 2:22 Heem. 2:23 di mana Uni Eropa membutuhkan gas 2:26 Heem. 2:26 itu dipasok dari Qatar atas persetujuan 2:28 Amerika. 2:29 Heem, heem, heem. 2:30 Jadi, Amerika sangat membutuhkan, 2:32 Amerika sangat membutuhkan Qatar 2:34 dalam rangka memasok gas ke Uni Eropa. 2:37 Jika tidak, Uni Eropa sudah gelap 2:38 gulita. 2:39 Heem. 2:40 Jika tidak, ee, Uni Eropa akan 2:42 kedinginan di di di musim dingin ini. 2:44 Dingin ini, masyaallah. 2:46 Dari posisi tawar yang begitu, Qatar 2:48 mendayagunakannya 2:50 untuk mendolong 2:52 Heem. 2:52 ee, Palestina. 2:54 Heem. 2:54 Sekaligus kan sejumlah negara di Uni 2:56 Eropa juga tidak setuju dengan perilaku 2:58 perilaku Israel yang melakukan genosida. 3:02 Iya, betul. Heem. 3:03 Prancis juga misalnya protes, ee, 3:06 masyarakat di Jerman juga protes, 3:08 masyarakat di Inggris juga protes atas 3:10 perilaku genosida. 3:11 Heem, heem. 3:12 Jadi, 3:13 perilaku ee, Israel yang seperti itu 3:16 mengundang simpati berbagai belahan 3:18 negara 3:19 Heem. 3:20 sehingga terjadi gencatan senjata 3:22 dan Qatar mengga, mendayagunakan posisi 3:25 posisi tawar 3:26 memasok gasnya 3:28 untuk ee, melakukan gencatan senjata. 3:31 Heem. 3:31 Mau tidak mau, Amerika menekan Israel. 3:33 Betul. 3:34 Dan hasilnya adalah gencatan senjata 3:36 itu. Itu peranan Qatar di situ. 3:38 Heem. 3:38 Jadi, kalau kita lihat peranan yang 3:40 begitu 3:41 ee, ya, tentu Qatar 3:43 akan dilihat dengan posisi tawar yang 3:46 yang jauh lebih baik dibanding 3:47 Indonesia, dibanding Indonesia yang ee, 3:49 tangannya Saudi bawah dan bersedia untuk 3:51 di invasi oleh modal gitu. 3:54 Iya iya nih. He eh. Nah, tapi sebenarnya 3:57 kita bisa menjadi Qatar di di di di 3:59 negeri kita asal bertemu dengan seorang 4:02 eh yang bisa mengatur itu. Bukan begitu, 4:04 Bang 4:05 harusnya? 4:06 Eh kata kuncinya sesungguhnya 4:09 eh 4:10 keberpihakan ke juangan pada nilai-nilai 4:12 kemanusiaan dalam posisi negara punya 4:15 posisi tawar. 4:16 Oh. 4:17 Eh Indonesia dalam berbagai hal tidak 4:18 punya posisi tawar. 4:20 He em. 4:20 Sekali lagi saya ulang Indonesia dan 4:22 berbagai kehilangan posisi tawar. 4:24 He em he em he em he em. 4:25 Nah, itu disebabkan Indonesia selalu 4:27 ngemis modal. 4:28 He em he em. 4:29 Itu yang saya bilang selalu ngemis di 4:30 invasi oleh modal. Jadi enggak akan jadi 4:32 enggak tidak punya sama sekali daya 4:34 tawar di situ posisinya. 4:36 Nah, ini ini ini. 4:37 Walaupun itu walaupun kita bilang 4:38 walaupun kita bilang kita kepingin ada 4:39 investasi di IKN misalnya, tetap saja 4:41 IKN kosong. Itu bukti bahwa kita ngemis 4:44 modal. Kita ngemis kita ngemis uang 4:46 asing 4:47 hanya untuk menjajah diri kita gitu. 4:49 He em he em. 4:50 Nah, ini. 4:50 Ini ini ini. Ada orang bilang untuk 4:52 menanam modal itu orang akan berpikir 4:54 orang itu amanah, hukumnya bagus. Tapi 4:57 kita ini kan hang heng hong urusan 4:59 masalah hukum, Bang. Eh kemarin Nawawi 5:02 Pomolango ini pengganti dari Firli yang 5:05 baru saja dilaksanakan mempunyai pesan 5:07 khusus hati-hati. Tapi langsung beliau 5:10 me me apa membuat statement "Ah, Harun 5:13 Masiku akan dikejar prioritasnya." Ini 5:16 kan kita pahamlah arahnya ke mana ya. 5:18 Apa yang akan terjadi eh apa di 5:20 tengah-tengah beberapa hari lagi ini 5:23 menjelang pemilu ya 78 hari lagi tiga 5:25 kandidat yang sedang bersanding. Memang 5:29 tak ada yang sempurna, tapi ke mana arah 5:31 negeri kita ini, Bang Ichsanuddin Nursi? 5:34 Kurang lebih sebulan lalu saya bilang 5:36 pemilu ini terancam batal kan? 5:37 Iya. 5:38 Tuh. 5:40 Ini sudah ada hang heng hong di Sulawesi 5:42 apa ya? 5:44 Loh, cepat. 5:44 Jadi kalau kalau kalau kalau eh sekarang 5:48 ketua KPK yang baru akan memburu Harun 5:51 Masiku 5:51 He eh. 5:52 sebenarnya bukan diburu, Harun Masiku 5:54 sudah sudah terus-menerus diintai 5:56 He eh. 5:56 begitu keluar di ta begitu keluar 5:58 pernyataan ditangkap, itu hanya urusan 6:00 mungkin sehari dua hari sudah langsung 6:02 ditangkap. 6:03 He eh, he eh, 6:04 he eh. 6:04 Itu artinya sesungguhnya dikhawatirkan 6:06 posisi tawar PDIP. 6:08 He eh. 6:08 Nah kalau posisi tawar PDIP berarti akan 6:10 terjadi konflik antara PDIP 6:12 He eh. 6:13 dengan barisan Joko Widodo. 6:14 He eh. 6:15 Berarti perang antara perang antara eh 6:19 Gibran Prabowo dengan eh 6:22 He eh. 6:23 Ganjar Mahfud akan lebih kencang. 6:24 He eh. 6:25 ini intensitasnya makin meningkat gitu. 6:28 Nah itu yang saya bilang eh sejak awal 6:30 ini pemilu bisa enggak jadi karena 6:31 konfliknya akan meningkat 6:33 He eh. 6:33 baik sebelum maupun sesudah. 6:35 He eh. 6:35 Jadi terbayang oleh saya bahwa memang 6:37 kondisi kondisinya 6:39 iya tesis saya sejak awal kan bangsa 6:42 terbelah pemilu itu. 6:43 He eh. 6:44 Nah kalau kali ini tesis saya bukan 6:46 bangsa terbelah, tesis saya prahara 6:47 bangsa. 6:48 Oh. 6:49 Karena kegagalan sistem dan kegagalan eh 6:51 aktor-aktornya gitu. 6:54 He eh. 6:54 Jadi eh saya ditanya oleh banyak 6:55 kalangan 6:56 He eh. He eh. 6:57 karena melihat intensitas karena melihat 6:59 konflik yang makin tajam. 7:01 He eh. He eh. 7:01 Saya bilang kenapa baru ngomong 7:02 sekarang? Saya sudah melihat ini sejak 7:04 2015 di mana keputusan DPR tentang 7:08 Pansus Pelindo enggak dijalankan oleh 7:09 Joko Widodo dan itu menunjukkan posisi 7:11 lemah PDIP sebagai partai pemenang, 7:14 partai penguasa. 7:15 He eh. 7:16 Bayangkan PDIP yang menjadi ketua Pansus 7:18 Pelindo-nya, PDIP yang menjadi 7:19 pemenangnya, PDIP yang meminta hasil 7:22 Pansus dijalankan dan itu tidak 7:24 dijalankan. Itu menunjukkan PDIP tidak 7:26 punya posisi tawar terhadap presiden. 7:28 Nah kali ini dibuktikan oleh presiden 7:30 dengan memainkan posisinya katakan KPK 7:31 akan memainkan apa Harun Masiku. 7:34 He eh. 7:34 Itu berarti lebih kencang. Itu baru 7:35 Harun Masiku, bagaimana dengan soal 7:37 e-KTP? 7:38 Oh. Itu. 7:39 Bagaimana dengan soal BTS gitu loh. 7:41 He eh. 7:43 Artinya sandiwara ini akan tambah seru 7:45 nih menjelang 78 hari ke depan ini. 7:48 Kita juga ya ya ya melihat ya permainan 7:51 ini nampaknya harus diiringi dengan doa 7:54 karena negeri kita kan kadang-kadang 7:57 negosiasi ya macam pengusaha lah win-win 8:00 solution gitu. Apakah mereka akan 8:03 bersandiwara lagi di atas sana? Rakyat 8:05 yang menjadi korban atau bagaimana, 8:06 Bang? 8:08 Yang pertama, saya punya punya tiga 8:11 skenario. 8:13 Skenario pertama adalah 8:15 ini akan konflik sehingga diperlukan 8:18 jalan keluar. 8:19 Iya. 8:19 Jalan keluarnya macam-macam. 8:21 Itu satu. Yang kedua, 8:23 ini akan 8:24 berjalan dengan model pendekatan 8:26 kelembagaan. 8:27 Pendekatan kelembagaan MPR akan kembali 8:29 didayagunakan sehingga 8:32 pemilu akan dipindahkan dari dari ajang 8:34 terbuka menjadi ajang ajang ruangan. 8:37 Istilah saya restrukturisasi kelembagaan 8:39 pemilu, termasuk restrukturisasi 8:41 kelembagaan MPR. Itu yang kedua. 8:43 Artinya kembali MPR menggunakan Pak 8:45 dikembalikan peranannya sebagai lembaga 8:47 tertinggi negara yang memilih Presiden 8:51 dan Wakil Presiden, menetapkan GBHN, 8:53 memberhentikan Presiden dan Wakil 8:55 Presiden dan seterusnya. Itu skenario 8:56 yang kedua. 8:57 Skenario ketiga, ini yang agak ini, 9:00 pemilu tetap berjalan tetapi dengan 9:02 posisi 9:04 konflik yang akan terus-menerus berjalan 9:05 sampai dengan katakan 2029 bahkan. 9:09 Ini yang posisi disintegrasi ini yang 9:12 yang saya sebut sebagai sudah nampak 9:14 sejak yang namanya Indonesia menerapkan 9:15 pilpres langsung. 9:17 Dan itu yang saya sebut sebagai 9:18 pengkhianati Pancasila. Apalagi kemudian 9:21 banyak orang cerdas cendekia tidak 9:22 menyadari bahwa Indonesia telah 9:24 mengkhianati Pancasilanya. 9:26 Masyarakat Indonesia orang cerdas 9:28 cendekianya baik yang namanya cerdas 9:29 cendekia agama maupun cerdas cendekia 9:32 ilmu umum telah melakukan pengkhianatan 9:34 terhadap Pancasila dan mereka merasa 9:36 enjoy dan terhadap pengkhianatan itu. 9:38 Itu yang saya bilang menikmati kesesatan 9:40 dan indah dalam kebusukan gitu. 9:41 Ehm. 9:42 Nah, ini yang yang yang sedang terjadi, 9:43 yang sedang terus di amplifikasi, yang 9:46 terus di modulasi sedemikian rupa 9:49 sehingga orang eh euforia terhadap 9:51 pemilu ini. Saya sedang keliling kawasan 9:53 Jawa Timur, sekarang ini pun saya sedang 9:55 di Jawa Timur. 9:55 Oh, iya. 9:56 Eh, dan saya melihat itu. 9:57 Ehm. 9:58 Bahkan kemarin saya menyaksikan Anies eh 10:00 eh menyaksikan eh Anies sebagaimana 10:02 Anies berpidato di eh 10:05 Di Madiun. 10:06 Di Madiun sana. 10:07 Ehm, dan di Madiun juga. 10:08 Oh, iya. 10:09 Ehm. 10:09 Di Stadion Wilis, di Stadion Wilis 10:11 menyatakan pemilu damai. Pemilu tidak 10:12 akan pernah bisa damai. 10:14 Ehm. 10:14 Karena Anda tidak akan pernah bisa 10:15 mengatasi soal eh 10:17 eh DPT fiktif 52 juta. Anda tidak akan 10:19 pernah bisa mempertanggungjawabkan 10:21 DPT-DPT yang sesungguhnya kayak apa. 10:23 Anda tidak boleh Anda berhadapan dengan 10:26 C1 yang tidak boleh difoto. Anda tidak 10:28 bisa mengontrol perjalanan kertas suara 10:30 dari TPS ke kelurahan, kelurahan ke 10:31 kecamatan, kecamatan ke kabupaten, 10:33 kabupaten ke provinsi. Provinsi ke 10:35 nasional, Anda enggak bisa memonitor 10:36 itu. Yang bisa memonitor cuma satu 10:38 instansi. 10:39 Ehm, polisi. 10:40 Nah, itu itu itu luar biasa di situ 10:42 gitu. Dari situasi itu, jangan bilang 10:45 pemilu ini luber dan jurdil, enggak ada. 10:47 Lubernya iya, jurdilnya tidak. 10:49 Ehm. 10:50 Tapi tapi 5 5 tahun lalu 15 juta DPT 10:54 fiktif, tapi kok sekarang meningkat, 10:55 Bang? Apa ada kisah lain di di di apa di 10:58 database ini yang nampaknya eh menjadi 11:01 sebuah kisah lain dari dunia IT ini, 11:04 Bang. 11:06 Eh, kan sebenarnya ketika perhitungan 11:10 suara Prabowo Subianto bersama Sandiaga 11:12 Uno melawan Joko Widodo dengan 11:14 Ehm. 11:14 eh Ma'ruf Amin. 11:16 Ehm. 11:16 Kan pernah take down eh 1 jam itu lampu, 11:18 dan kemudian berubah suara menjadi 11:20 menang eh Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. 11:22 Nah, hal ini bisa saja terjadi. Jadi, 11:24 konstruksinya bukan hanya di DPT fiktif, 11:26 tapi juga di IT. 11:27 Oh. 11:28 Nah, enggak ada yang bisa ngontrol 11:29 dengan kekuatan DPT fiktif sama IT-nya. 11:31 Ehm. 11:31 Nah, itu eh fakta yang sedang kita 11:33 hadapi kayak gitu, gitu. 11:34 Tapi kan 11:35 posisi jujurnya enggak bisa dipegang. 11:37 Ujung-ujungnya di Mahkamah Konstitusi 11:39 dan juga KPK, ya. Ini kan baru ganti dua 11:42 pemimpinnya dalam waktu satu bulan saja. 11:44 Pucuk-pucuk pimpinan hukum ini berganti. 11:48 Entah apa cerita di balik ini. Eh, apa 11:51 yang 11:52 harapan apa yang Apakah tetap saja eh 11:55 sekali tiga uang atau macam mana, Bang? 11:58 Dalam sistem Undang-Undang Dasar eh 2002 12:01 Mmm. 12:01 yang mereka sebut sebagai Undang-Undang 12:02 Dasar 45 palsu 12:04 Mmm. 12:04 gitu, ya. Eh, itu segala sesuatu itu 12:06 tergantung pada presiden. Enggak, serius 12:08 ini ceramah saya di mana-mana. 12:10 Iya, ini terlalu kuat kekuasaan presiden 12:12 sekarang begitu. Betul, betul. Silakan, 12:13 Bang. 12:14 Iya, termasuk ceramah saya di lembaga 12:16 pendidikan bergengsi di negeri ini gitu, 12:18 ya. Menghadapi sejumlah hakim 12:19 konstitusi, menghadapi sejumlah ahli 12:21 tata negara gitu, ya. Dan saya sebut ini 12:24 ini eh menunjukkan presiden sebagai I am 12:27 the law, presiden I am the king. Dan itu 12:28 pernyataan saya sejak awal ketika saya 12:31 menulis Reformasi Berbuah Krisis 12:32 Konstitusi pada 2004. 12:34 Mmm. 12:34 Jadi, kalau hari ini orang baru 12:35 merasakan presiden sebagai 12:37 segala-galanya 12:39 itu karena memang Undang-Undang Dasar 12:40 2002-nya, Undang-Undang Dasar 45 palsu 12:43 itu 12:44 Mmm. 12:44 itu memberikan kewenangan pada presiden 12:46 yang luar biasa. Nah, ketika presiden 12:47 punya kewenangan luar biasa, dia bisa 12:49 merasuk ke semua lini. Itu yang saya 12:51 sebut sebagai politisasi semua lini yang 12:53 berdampak pada komersialisasi, yang 12:55 berdampak pada kriminalisasi. 12:57 Mmm. 12:57 Siapa saja yang merupakan musuh bagi 12:58 posisi politisasi dan komersialisasi 13:01 akan di akan dikriminalisasi. 13:04 Segitiganya begitu. Politisasi, 13:06 komersialisasi, dan kriminalisasi. Dan 13:08 itulah karenanya Gibran demikian 13:10 dihormati oleh sejumlah partai dan 13:11 sejumlah profesor doktor. 13:13 Itu yang kadang-kadang kita enggak habis 13:15 pikir. Ini ini kan bukan orang 13:17 sembarangan. Orang-orang kok mangsa kita 13:20 jadi seperti tidak punya integritas 13:22 memilih atau sudah macam mana hukum 13:24 dunia atau apa yang terjadi dengan 13:26 kekuasaan, ini hidup sementara. Akhirat 13:29 selamanya itu tak melekat pada jiwa-jiwa 13:31 para pemimpin, minimal pimpin partailah. 13:33 Itu 13:34 Iya. 13:35 Itu yang 13:36 Itu yang saya sebut sebagai 13:38 menikmati ketersesatan. 13:40 Hmm. 13:40 Indah dalam kebusukan gitu. 13:44 Persoalannya bukan persoalan usia 13:46 sebenarnya. Persoalan ini adalah 13:48 persoalan apa yang saya sebut sebagai 13:49 persoalan eh eh kompetensi. 13:52 Hmm, hmm. 13:53 Kompetensi itu mencakup tiga hal. 13:55 Bagaimana keterampilan 13:57 Hmm. 13:57 skill-nya. 13:58 Hmm. 13:58 Bagaimana knowledge-nya, pengetahuannya. 14:00 Bagaimana attitude-nya. 14:02 Hmm. 14:02 orang memasalahkan Gibran dalam 14:03 perspektif usia. Yang dipersoalkan oleh 14:05 undang-undang itu soal usia. 14:07 Hmm. 14:07 Tapi kemudian digeser ke persoalan 14:08 pengalaman. Padahal pengalaman juga 14:10 tidak memadai. Bagaimana? 14:11 Itu. 14:12 Itu. 14:12 Jadi usia tidak memadai, pengalaman 14:14 tidak memadai. 14:15 Hmm. 14:15 Lalu kemudian orang membuktikan semuanya 14:17 di dunia sosial sebagai ini tidak punya 14:19 kompetensi yang cukup. Tapi hanya karena 14:22 di-endorsement oleh bapaknya menjadi 14:23 begitu. Itu yang kemudian memicu salah 14:25 satu konflik, potensi konflik. 14:27 Hmm. 14:28 Nah, itu. Dan itulah kemudian kekecewaan 14:30 orang pada demokrasi. Nah, orang baru 14:32 sadar bahwa kekecewaan demokrasi modal 14:34 sekarang ini disebabkan oleh demokrasi 14:36 liberal dan dalam sistem di mana 14:37 presiden punya kekuasaan yang tidak 14:39 terhingga. 14:40 Hmm. 14:40 Tidak tak terbatas itu dalam bahasa 14:41 sederhananya. Walaupun dibatasi. Tapi 14:44 toh dibatasi oleh impeachment yang juga 14:45 tidak 14:46 tidak berani dilakukan oleh 14:48 partai-partai yang sudah tersandera 14:50 sebagai pasien rawat inap atau pasien 14:52 rawat jalan gitu. 14:53 Hmm. 14:55 Mereka rata-rata sudah tidak punya sudah 14:57 punya surat rawat jalan rata-rata. Ya, 14:59 sudah 15:01 Jadi jadi politik sandra ini betul-betul 15:03 efektif ya apa apa 15:05 terhadap para politisi dan 15:08 Nah. Nah, itulah yang saya sebut sebagai 15:10 kriminalisasi. Kan segitiganya adalah 15:12 politisasi. 15:13 Hmm. 15:14 Berdasarkan pasal 6 ayat 2. 15:16 Hmm. 15:17 Lalu lanjut dia ke komersialisasi. 15:19 Hmm. 15:21 Karena kelemahan sistem keuangan partai. 15:23 Ehm. 15:25 Karena partai masuk ke semua 15:26 pemerintahan dan apa negara. 15:28 Ehm. 15:28 Dampak dari sana, ketika ada pihak yang 15:30 tidak bisa berpihak, tidak mau 15:32 bergabung, yang terjadi adalah 15:33 kriminalisasi. Baik kriminalisasi usaha 15:36 maupun kriminalisasi politik. Itu 15:38 makanya suara-suara kritis akan kemudian 15:40 pasti dikepolisian. 15:42 Pasti akan dikepolisian. 15:43 Ehm. Saya ingat. 15:45 yang membuat sesungguhnya demokrasinya 15:46 acungan jempol. 15:48 Saya ingat ini ini ini sebenarnya bukan 15:50 di Indonesia saja Bang. Kalau kayak 15:52 begini kan. 15:53 Macam Netanyahu mengatakan diam eh 15:56 apa negara-negara Arab. Ini kan 15:58 sebenarnya ada sandera yang dipegang 16:00 oleh dia juga. Dan apakah ini sebuah 16:02 fenomena mendunia masalah sandera 16:04 menyandera ini? Dan. 16:07 Selawat Asghil apakah bagian dari 16:09 ikhtiar ini? Apa yang Bang Ihsanudin 16:11 Nursi lihat korelasi keadaan dunia yang 16:14 di Modi, di beberapa negara luar biasa 16:17 kejadiannya. Bukan hanya di Indonesia. 16:19 Bagaimana Bang? 16:20 Ehm. Ehm. 16:21 Sekarang buka ini. 16:22 Sekarang kita lihat. 16:22 Ehm. 16:23 Amerika Amerika berteriak-teriak 16:25 demokrasi. Faktanya demokrasi enggak di 16:26 seluruh dunia. Enggak. 16:27 Enggaklah. Enggak. Enggak. 16:29 Artinya ya. 16:30 Ehm. 16:31 Artinya eh demokrasi itu semua. 16:33 Demokrasi itu palsu. 16:34 Ehm. 16:35 Itu makanya mereka bilang pusat 16:36 pemerintahan itu Washington. 16:38 Ehm. 16:38 Dia mau mengatur dunia dengan posisi 16:40 begitu. Dengan cara dia. Dengan kehendak 16:41 dia. 16:42 Ehm. 16:42 Maka hak asasi manusia, kesetaraan dalam 16:44 segala macam itu palsu. Itu semu. 16:46 Ehm. Iya. 16:47 Itu di situ kelihatan. Jadi saya 16:49 membuktikan kemarin dalam sebuah 16:51 diskusi. 16:52 Ehm. 16:52 Dengan berbagai referensi bahwa 16:54 sesungguhnya mereka teriakkan itu 16:55 teriakkan palsu semuanya. 16:57 Ehm. 16:57 Berdasarkan kajian mereka sendiri ya. 16:59 Ehm. Iya. Ehm. 17:00 Itu satu. Yang kedua. Kemudian kalau 17:02 negara jazirah Arab seperti itu. 17:03 Ehm. 17:04 Maka sesungguhnya ada problematik pada 17:05 posisi yang saya sebut dengan antara 17:08 politisasi, komersialisasi dan 17:09 kriminalisasi. 17:10 Ehm. 17:11 Nah dunia Arab. 17:12 Terkena juga dalam berbagai kriminal. Eh 17:14 Pangeran Ben Salman terkena ah, 17:17 kriminalisasi soal Jamal Khashoggi, kan? 17:18 Iya, betul. Pernah di, ah, 17:21 enggak pernah dipakai kartu truf ini 17:22 sama Amerika. 17:24 Dan kemudian Muhammad Bin Salman tunduk 17:26 pada kepentingan Amerika. 17:28 Padahal pada saat yang sama, ah, ah, 17:30 Kerajaan Saudi Arabia membeli, ah, 17:32 perangkat militer sampai dengan 65 17:34 miliar US dolar. 17:36 Itu tetap tidak bisa menjadi bargaining 17:37 position-nya nama, ah, Saudi Arabia 17:39 karena tekanannya tekanan Uni Eropa, 17:41 tekanan dunia, dunia internasional 17:43 dengan penggunaan HAM di atas matinya 17:46 Jamal Khashoggi yang ditengarai ditokoh, 17:49 ah, di, ah, otaknya adalah, ah, Muhammad 17:51 Bin Salman. Terlanjur tersandera dia di 17:53 situ gitu. Dengan menggunakan, padahal 17:55 hukum internasional yang mereka pakai, 17:57 baik yang namanya HAM manusia atau 17:59 hal-hal lain, semuanya sifatnya bukan 18:01 lagi double standard, bukan lagi standar 18:03 ganda, tapi multiple suitable standard. 18:06 Apa yang enak buat gua, bolehlah pakai 18:08 yang lain, bodo amat, enggak ada urusan 18:10 sama gua. Itulah multiple suitable 18:11 standard. Itulah yang saya bilang 18:12 demokrasinya menjadi demokrasi semu. 18:15 Nah, ini yang disebut oleh Allah sebagai 18:17 syair-syair palsu, syair-syair 18:19 menyesatkan dalam Alquran disebutnya. 18:21 Betul, itu sudah ada narasinya rupanya 18:24 ini. 18:25 Baca, makanya baca, ya. 18:27 Itu gitu loh. Nah, mereka menikmati baik 18:30 dalam politik, ekonomi maupun sosiologi, 18:32 ilmu politik mereka, ilmu ekonomi 18:34 mereka, ilmu sosiologi mereka. Itu, ah, 18:37 narasi-narasi semu, narasi-narasi palsu 18:40 yang menyesatkan yang kelihatannya indah 18:41 yang saya bilang indah dalam kebusukan 18:43 tadi gitu loh. 18:46 Iya, kita buktikan nih apakah kejadian 18:49 seperti Kosovo dan lain-lain itu, kan, 18:52 ah, Komnas, apa tuh, ah, ICC, ya, 18:55 lembaga internasional tentang hukum 18:56 humanitarian. Kita lihat saja nanti 18:59 sandiwaranya macam gimana. 19:01 Nah, ah, 19:02 Sebenarnya sudah terjadi. Jadi, bukan 19:03 lagi kita buktikan, sudah terbukti 19:05 sesungguhnya. Tidak ada negara yang ikut 19:08 sistem mereka yang hidup tentram damai, 19:10 enggak ada. 19:11 Ehm. 19:13 Jadi, berdasarkan data yang yang saya 19:14 punya tentang sistem ekonomi terbuka, 19:17 sistem terbuka dengan cadangan dolar, 19:19 sistem demokrasi, itu semuanya 19:21 negara-negara yang tidak pernah negara 19:22 mengalami tentram damai, enggak ada 19:24 ciri-cirinya. 19:24 Kusandra terus. 19:26 Ehm. Iya. 19:26 Iya, Brunei Darussalam tidak pernah kita 19:28 dengar konflik karena mereka tidak 19:29 memberlakukan demokrasi. 19:31 Iya. 19:32 Tapi sebaliknya Arab Saudi yang tidak 19:33 memberlakukan demokrasi tetap monarki, 19:35 tetap mengalami kegoncangan. Kenapa? 19:37 Karena eee perilaku Arab Saudi sendiri 19:40 yang di satu sisi iya, tapi sisi lain 19:42 tidak. 19:43 Ehm. 19:43 Jadi, tidak sepenuhnya menerapkan ajaran 19:45 Islam, ya sudah enak diacak-acak. 19:47 Sebaliknya Qatar dengan cuma dengan 19:48 penduduk yang cuma 2.700 orang, negara 19:50 kecil, tapi penguasaan atas gas luar 19:52 biasa dan memang memberlakukan Islam 19:54 punya posisi tawar. Atau sebaliknya kita 19:56 lihat sekarang 19:57 Gaza, Hamas. 19:59 Hamas. 19:59 Bagaimana mereka betul-betul berbicara 20:01 tentang antusiasme keimanan, in 20:02 tansurullah yansurukum, itu. Nah, itu 20:04 bisa kelihatan. Posisi tawar mereka luar 20:07 biasa. Kebayang enggak oleh kita Hamas 20:09 yang demikian kecil itu bisa 20:10 menggemparkan empat negara punya 20:12 kekuatan militer. Kan yang dilawan 20:14 Israel. 20:15 Luar biasa. 20:15 Yang dilawan adalah Amerika, yang 20:17 dilawan adalah Jerman, yang dilawan 20:18 adalah Perancis, yang dilawan adalah 20:19 Inggris. 20:20 Ehm. Ehm. Ehm. 20:21 Tapi dia bisa menggetarkan gitu loh, 20:24 bisa menakutkan gitu. 20:25 Ehm. 20:25 Dengan posisi seperti itu. Itu karena 20:27 tadi 20:28 Ehm. 20:28 sepanjang Anda betul-betul menerapkan 20:31 Ehm. 20:31 tadi 20:31 Ehm, iya. 20:32 keimanan dan ketakwaan dengan 20:33 sebaik-baiknya 20:35 pasti menjadi pemenang. Muflihun pasti, 20:38 kalimatnya begitu. 20:40 Pasti itu muflihun, pasti muflihun gitu 20:42 loh, Pak. 20:42 Masyaallah. Ah, jalan-jalan ke Jawa 20:45 Timur. Apa yang Bang Ihsanuddin Nursy 20:48 lihat perkembangan masyarakat di sana? 20:50 Dunia ingin mengetahui dari mata seorang 20:52 Ihsanuddin Nursy, Bang. 20:55 Saya eee 20:56 eee saya melihat eee 20:59 Jawa Timur saya ini keliling saya Jawa 21:00 Timur yang mungkin yang ke berapa kali, 21:02 yang kelima kali kali ya. 21:03 Masyaallah, iya. 21:04 Eee dalam perjalanan saya 21:06 dari sejak 2004 gitu ya, dari 2004 21:09 sampai sekarang ini. 21:11 Ini perjalanan saya paling lama karena 21:14 menyita waktu 8 hari. 21:19 Yang saya lihat di Jawa Timur, 21:21 orang-orangnya bicaranya terbuka. 21:23 Blak-blakan. 21:25 Apa adanya gitu ya. 21:27 Mereka sadar juga kalau mereka 21:28 dimanfaatkan oleh politik, oleh 21:30 politik-politik provinsi, politik 21:32 kabupaten atau bahkan politik nasional 21:33 gitu ya. 21:34 Mereka sadar seperti itu. Mereka punya 21:36 pengetahuan yang cukup. Tapi yang saya 21:38 saya terkejut melihatnya adalah 21:40 bagaimana kaum mudanya itu begitu 21:43 bergairah mengikuti 21:45 e-sport. 21:47 Kompetisi e-sport. 21:48 Jadi para player, para gamer itu 21:51 demikian bergairahnya mengikuti 21:54 pertandingan olahraga e-sport 21:57 apa 21:58 seperti gamer. Perang-perangan, 22:02 buru-buruan semuanya itu. 22:04 Pesertanya di satu kabupaten bisa 600 22:06 orang, bisa 300 orang kabupaten. 22:08 Semuanya remaja. 22:10 Dan saya bingung melihatnya. Ini 22:12 bagaimana pendidikan spiritualnya kalau 22:14 mereka bisa mengembangkan intelektualnya 22:16 kayak gitu, kreativitas 22:19 itu kan 22:21 Kalau kita melihat sampai-sampai kayak 22:22 gitu di hampir rata-rata kabupaten 22:25 tingkat dua itu bergairahnya mengikuti 22:27 kompetisi e-sport namanya. 22:30 Maka problematiknya adalah pendidikan 22:32 rumah tangga mereka untuk agama kayak 22:34 apa kira-kira? 22:35 Padahal mereka demikian bergairahnya 22:36 gitu. Mereka demikian enaknya memainkan 22:39 game di di handphone mereka, di laptop 22:41 mereka. Lalu kemudian mereka 22:43 pertandingkan 22:44 yang pesertanya kemudian ratusan orang. 22:49 Di tengahnya pada saat yang sama mereka 22:51 punya punya daya pengetahuan yang 22:53 lekang, yang berjarak sekali dengan 22:54 sejarah gitu loh. Mereka tidak lagi 22:57 tidak lagi tahu bagaimana sejarah bangsa 23:01 mereka 23:01 tidak pernah tahu lagi bagaimana eh eh 23:03 eh 23:04 usia kabupaten mereka yang 23:06 ada yang 300 tahun, ada yang 800 tahun. 23:09 Tapi mereka tidak pernah tahu lagi 23:10 sejarah bagaimana mempertahankan harkat 23:12 martabat bangsa. 23:13 Innalillah. 23:13 Itu artinya fighting mereka 23:15 sungguh-sungguh fighting virtual, 23:16 virtual fighter. 23:17 Heh. 23:17 Saya menyebutnya virtual fighter. 23:19 Heh. 23:19 Jadi petarung-petarung virtual. 23:21 Heh. 23:21 Kan belum tentu menghadapi kenyataan. 23:23 Memang ada kecerdasan intelektual, tapi 23:25 tidak belum tentu ada kecerdasan 23:27 spiritual dan emosional di situ. Dan itu 23:29 saya saksikan itu. 23:31 Heh. 23:31 ancaman. 23:32 Ancaman. Saya saya 23:33 Ancaman besar. 23:33 Saya bertemu langsung dengan ancaman 23:35 ini. Kenapa Anda bercerai? "Suami saya 23:37 enggak bisa lepas dari game." Itu pusing 23:39 sekali. Banyak ini masalah keluarga 23:41 akibat akibat macam ini. 23:44 Ah, 23:44 apa yang apa solusi atau eh 23:48 apakah ada sebuah harapan dari dari 23:50 keadaan di Jawa Timur yang Bang Ihsan 23:53 lihat? 23:54 Kan situasinya sudah saya bilang ini 23:56 situasi fuka. 23:57 Fuka, betul. 23:57 Yang intensitasnya makin 23:59 besar. Situasi disrupsi yang orang 24:00 bilang tidak bisa lagi kita lawan. 24:02 Heh. 24:02 Karena anak-anak anak-anak SMP, 24:04 anak-anak SMA saja sudah demikian 24:06 terbiasa hidup dengan dengan HP mereka 24:09 dan mereka bermain game eh 24:12 yang gila-gilaan dan berdampak pada 24:13 posisi kecerdasan virtual itu pada dan 24:17 sekaligus berdampak pada kesehatan mata, 24:19 kesehatan batang otak dan kesehatan 24:22 batang leher gitu kayak gitu. 24:24 Dan asal tahu, menurut bedah saraf bedah 24:28 saraf ahli bedah saraf 24:29 Heh. 24:29 eh di beberapa tempat 24:31 eh anak-anak remaja yang demikian rupa 24:34 lama bermain dengan eh HP mereka, dengan 24:36 laptop mereka, itu akan terkena eh 24:39 ketegangan batang otak dan eh saraf mata 24:41 yang enggak karu-karuan. 24:42 Heh. 24:43 Jadi ada efek negatif, ada efek positif. 24:45 Pada saat yang sama saya melihat tanpa 24:47 pengarahan yang benar dari orang tua, 24:49 dia akan lebih banyak efek negatifnya. 24:51 Saya bahkan terkejut lagi melihat lagi 24:53 di beberapa tempat anak-anak di bawah 24:55 balita diperkenankan main game oleh 24:58 ibunya. 24:58 Innalillah. 24:59 Pada saat yang sama, ibunya sendiri 25:01 pegang tablet memainkan game, coba. 25:04 Rusak bareng-bareng. 25:05 Ngeri gitu yang ngelihatnya. 25:06 Jadi, 25:08 ini yang saya sebut sebagai sebagai 25:09 proxy war. 25:12 Iya, benar. 25:12 Perang di mana perang perang peradaban, 25:15 perang peradaban ini yang kemudian saya 25:17 sampaikan di satu 25:18 tempat ketika saya membahas LGBT Q, 25:21 bahwa ini perang peradaban. Perang 25:23 peradaban itu bukan hanya di hilir. LGBT 25:26 Q itu adalah problematik hulu ke hilir. 25:29 Kalau kita cuma sekedar batasi mereka 25:31 pada proses show kemarin gitu ya, pada 25:34 tanggal 15 kemarin, pada problemnya pada 25:36 hakikatnya dia menggambarkan ada problem 25:38 di hulu. Jadi, enggak mungkin kita cuma 25:40 ngatasi hilirnya, kita larang mereka 25:42 show. Padahal hulunya tidak bisa kita 25:44 selesaikan. Begitu juga ketika kita 25:46 menyaksikan soal laptop, soal HP yang 25:48 dimainkan sebagai game yang berdampak 25:50 pada posisi mereka punya kesenjangan 25:52 terhadap spiritual, mereka punya 25:54 kesenjangan terhadap emosional. Mereka 25:56 tidak punya lagi perilaku santun yang 25:58 memadai sebagai bangsa timur, mereka 26:00 tidak punya lagi kesantunan keagamaan, 26:02 kecerdasan keagamaan yang memadai karena 26:04 mereka demikian menikmati 26:07 kesendirian atau bersama-sama 26:08 teman-temannya saja dalam bermain game. 26:11 Nah, ini tantangan besar, ini proxy war. 26:14 Ini proxy war luar biasa. Bahkan kalau 26:17 kemudian saya menyaksikan masing-masing 26:18 suami istri sudah sedemikian rupa, itu 26:20 juga kemudian perpecahan keluarga. Dan 26:22 itu saya saksikan di kawasan-kawasan di 26:25 Jawa Timur itu yang demikian luasnya 26:27 begitu. Oh, luar biasa kan Jawa Timur 26:30 adalah salah satu provinsi yang suaranya 26:32 diperebutkan oleh tiga capres. Dan 26:34 mereka sama sekali tidak menyentuh atau 26:35 memberikan gambaran bagaimana mengatasi 26:38 satu dampak negatif dari 26:40 dari peralatan teknologi, perkembangan 26:42 teknologi komunikasi dan informasi 26:44 sedemikian rupa. Saya enggak dengar sama 26:46 sekali mereka bicara itu. Visi misi 26:49 mereka bertiga itu sama sekali tidak 26:50 bicara bagaimana sesungguhnya 26:52 kaum remaja, kaum milenial ini, generasi 26:56 Z ini 26:57 itu sesungguhnya sedang diancam 26:59 habis-habisan yang oleh sebuah perang 27:01 proksi war. 27:03 Ehm. 27:03 Saat yang sama terjadi konektifity war, 27:05 saat yang sama terjadi yang namanya 27:06 neokorteks war. 27:08 Ehm. 27:08 Kebayang enggak coba? Kita tidak melihat 27:10 yang namanya mereka bicara ditambah lagi 27:12 dengan nyamuk wolbachia, yang juga 27:13 mereka kemudian welcome to the 27:15 wolbachia, yang saya sebut sebagai 27:16 perang biologis sejak awal. 27:18 Ehm. 27:19 Bertumbuk-tumbuk Mas 27:20 Ehm. 27:20 ini enggak bisa dijawab karena tadi 27:22 undang-undang dasar 2002 duanya 27:24 melahirkan pemimpin palsu istilah saya, 27:26 false leadership. 27:27 Ehm. 27:28 Dan false leadership itu berhimpitan 27:30 dengan yang saya sebut saya sebut tadi, 27:32 politisasi 27:33 kriminalisasi, 27:35 politisasi komersialisasi dan 27:38 Ehm. 27:38 kriminalisasi 27:39 Ehm. 27:39 pada saat yang sama di tengahnya terjadi 27:41 pertarungan proksi war, neokorteks war 27:44 dan dan 27:45 konektifity war. Coba gimana? Jadi, 27:48 siapa yang punya siapa yang 27:50 Ehm. 27:50 membangun ketahanan bangsa ini kalau 27:51 cara berpikirnya begitu, kan mengerikan. 27:54 Ehm. 27:54 Saya tidak sedang menakut-nakuti, itu 27:56 yang saya bilang ini prahara bangsa ini 27:57 yang sedang terjadi. Kita sedang berada 28:00 di pintu gerbang prahara bangsa dalam 28:02 situasi kayak gini. Itu yang saya sedang 28:04 siap selesaikan buku saya, saya kira 28:06 berharap nanti bulan Januari atau paling 28:09 tidak di posisi awal Februari sudah 28:11 selesai buku saya ini. 28:12 Prahara bangsa, kita diskusikan nanti. 28:15 Ah, ini sangat mencerahkan karena 28:17 banyak-banyak keluarga, banyak 28:19 masyarakat merasa nyaman-nyaman saja. 28:21 Kita sedang hidup di sebuah zaman yang 28:23 luar biasa ternyata dan setelah kita 28:26 alami kopat-kopit 2 tahunan dengan 28:29 berbagai isunya, sekarang sebuah prahara 28:32 ada di depan mata kita. Sadar harusnya 28:34 masyarakat. Ah, apa yang Bang Ichsanudin 28:37 Noorsy lihat? Apakah ini bagian dari doa 28:41 para jemaah haji akan berangkat? Ini 28:43 akan kita bahas sebentar eh karena ini 28:46 nilai-nilai religius ini kadang-kadang 28:48 ter terkorelasi dengan berangkatnya haji 28:52 yang bertambah 56 juta 90 28:56 berapa tuh biayanya 93 juta lebih. Ah, 29:00 dan juga ikhtiar-ikhtiar religius kita. 29:03 Kebetulan Arab Saudi pula lagi tempat 29:05 berkunjungnya para jemaah haji ini. 29:07 Bagaimana pandangan dari seorang 29:08 Ihsanuddin Nuh silakan. 29:11 Yang pertama, yang pertama soal soal 29:13 biaya itu 29:15 tidak fair. 29:16 Kenapa tidak fair? Karena sejak awal 29:18 saya bilang permintaan sampai kemarin 29:21 sebutan angka di atas 100 itu ternyata 29:24 ada persoalan permainan citra hanya 29:26 untuk kepentingan citra DPR. Dengan 29:28 begitu DPR bisa bilang "Eh pemerintah 29:30 Anda menetapkan harga ketinggian." Wah 29:32 gitu. Seolah-olah DPR itu sedang 29:34 memperjuangkan masyarakat agar harganya 29:36 turun begitu loh. Kesannya tuh gitu yang 29:38 dibangun. 29:40 Saat yang sama tidak fair juga kalau 29:43 tiap terus naik harga bagi mereka yang 29:45 kemarin dapat harga lebih murah dan 29:46 sekarang harganya tinggi maka mestinya 29:48 terbuka dong. Bagaimana hasil 29:50 optimalisasi atas pendanaan yang ada di 29:52 dalamnya? Berapa sesungguhnya untuk 29:54 komisioner BPKH? 29:56 Apa yang terjadi dengan pembelian Bank 29:58 Muamalat? Saya dikontak oleh salah 29:59 seorang komisioner BPKH tapi belum saya 30:02 belum punya waktu untuk duduk duduk 30:03 bareng. Tapi poinnya adalah antara dalam 30:06 persoalan pendanaan ini 30:08 kita masih butuhkan pengelola yang jauh 30:10 lebih profesional daripada sekarang. 30:12 Kita mesti membutuhkan namanya 30:14 penyelenggaraan haji yang jauh dan 30:15 harusnya lebih baik. Dan saya kira 30:18 dengan situasi di mana Muhammad bin 30:19 Salman memberlakukan pasar bebas atas 30:21 haji kan visa tidak perlu lagi minta 30:23 pada kuota dengan posisi sekarang. 30:25 Online? 30:26 Dengan posisi begini internet sudah bisa 30:28 memberikan visa. Sudah selesai. Itu visa 30:30 sudah orang sudah bisa pergi sendiri 30:32 sepanjang dia bisa membimbing dirinya 30:34 sendiri berangkat haji selesai. Begitu 30:36 juga umrah tidak lagi diperlukan pada 30:38 minta ini karena visa sudah bisa 30:39 langsung minta internet. 30:40 Heem, heem. itu dipenuhi selesai 30:42 semuanya, sepanjang syarat dipenuhi 30:43 selesai semuanya. Nah, 30:46 persoalan pokoknya adalah ketika 30:48 penyelenggaraan haji, pas prosesi 30:51 penyelenggaraan umrah haji, kemudian 30:53 hasilnya diinput dari uang-uang haram, 30:56 maka hasilnya juga tidak akan baik. 30:58 Heem, heem. 30:59 Kenapa kita menyelenggarakan haji sampai 31:01 ratusan ribu orang, tapi negeri kita itu 31:04 tidak sampai pada baldatun toyyibatun 31:05 warobbun ghofur? Kenapa 31:08 kenapa bisa sampai kayak gitu gitu loh. 31:09 Kenapa kemudian kita begitu banyak 31:11 memberangkatkan orang umrah yang dalam 31:13 setahun bisa jutaan orang yang berangkat 31:15 umrah dan dalam setahun musim haji bisa 31:18 200 ribuan, itu tidak melahirkan nafsul 31:20 muthmainnah bagi bangsa ini gitu. 31:22 Nah, itu. 31:22 Kan ada yang salah berarti. 31:24 Betul, betul, betul, betul. Iya, ini 31:26 duit 31:27 Ada kesalahan gitu. 31:28 Nah, ada itu masalahnya bukan sekedar 31:31 pada sumber uangnya. Masalahnya bukan 31:34 hanya sekarang pada posisi bagaimana 31:35 pengorganisasiannya. 31:37 Bagian salahnya bukan pada motif 31:38 berangkatnya. Soal berikutnya adalah 31:40 soal bagaimana memahami ajarannya untuk 31:44 menegakkan baik sebelum maupun sesudah 31:46 dengan sumber pendanaan yang halalan 31:48 toyyiban, dengan pengelolaan yang 31:50 halalan toyyiban, dengan penyelenggaraan 31:52 yang halalan toyyiban gitu loh 31:53 melihatnya. Jadi enggak mungkin kita 31:55 hanya bicara soal udahlah duit kita 31:57 bersih kok enak berangkatnya. Kan pada 31:59 saat yang sama orang merasa juga cuci 32:01 dosa ke sana. 32:05 Ini ini penyelenggara travel umrah 32:08 enggak enak dengarnya ini gitu. 32:11 Saya saya ngomong apa adanya karena kan 32:13 saya berkenalan dengan teman-teman 32:14 penyelenggara haji umrah tidak satu dua, 32:16 puluhan saya kenal saya kenal. 32:18 Dan mereka 32:18 Kondisinya bukan begitu. 32:19 Dan mereka bilang kalau sudah berurusan 32:21 sama Saudi ini ya Allah ada yang kayak 32:23 Nabi Muhammad, ada yang kayak Abu Jahal 32:25 katanya. Luar biasa ini. 32:29 Dan begitu susahnya memang ngambil 32:30 kesepakatan bisnis dengan sama yang 32:32 namanya Arab Saudi, dengan 32:33 pebisnis-pebisnis kita. Nah, itu 32:36 kenyataan artinya sesungguhnya sangat 32:38 tergantung, sangat terpulang pada 32:40 bagaimana kita menyelenggarakan haji ini 32:43 sesuai dengan bukan sekedar, bukan cuma 32:45 sekedar pada ibadah, ibadahnya dan 32:48 muamalahnya, bukan sekedar itu. Tapi 32:49 bagaimana haji dalam prinsip bunial 32:52 Islam ala khomsin. 32:53 Nah, ketika sampai pada titik haji 32:55 bunial Islam ala khomsin, maka 32:57 sesungguhnya 32:59 ketika terjadi pertemuan di Jabal 33:00 Rahmah, mestinya terjadi pidato yang 33:03 menyelesaikan masalah berbagai masalah 33:05 Islam di berbagai dunia. 33:07 Sebelum sampai pada tanggal 33:08 keberangkatan tanggal 8, tanggal 9 itu, 33:10 tanggal 7, 8 5, 6, 7 nya di Mekah, itu 33:13 sudah terjadi kesepakatan-kesepakatan di 33:15 wilayah-wilayah tertentu, di wilayah 33:17 regional. Kawasan Asia Tenggara, muslim 33:19 Asia Tenggara menyelesaikan masalah 33:20 regional Asia Tenggara apa? Nah, nanti 33:22 kita bawa ke dalam posisi di Jabal 33:24 Rahmah. Di Jabal Rahmah muslim Asia 33:26 Tenggara ngomongnya begini, muslim Asia 33:27 Selatan kayak gini. Bagaimana Islam yang 33:30 dimusuhi di India? Bagaimana Islam yang 33:31 dimusuhi di Cina? Bagaimana situasi di 33:34 Amerika Latin? Bagaimana kemudian Islam 33:35 di Amerika, di Uni Eropa dan di 33:37 Australia? Itu kan mestinya terjadi 33:39 pembicaraan di tanggal 5, 6, 7 di 33:41 Masjidil Haram. Yang kemudian dibawa ke 33:43 Jabal Rahmah untuk disepakati bersama 33:45 bahwa program internasional Islam 1 33:48 tahun ke depan adalah begini. Itu 33:50 hebatnya. Jadi, dia sistem, sistem 33:52 perencanaannya, termasuk sistem 33:54 monevnya, monitoring evaluasinya itu di 33:56 aset dalam Islam. 33:58 Jadi, sistem progresif, progresif 33:59 sistem, progresif manajemen sistem itu 34:02 sesungguhnya dilakukan oleh Islam. 34:04 Tapi tidak diterapkan oleh Islam, itu 34:06 masalah besarnya. 34:07 Masya Allah, masya Allah. 34:10 Wah, di menit-menit terakhir, menit 34:12 ke-40 ini, Bang. Ah, apa yang ingin Bang 34:14 Ihsanuddin Nuh sampaikan di masyarakat 34:17 yang menjelang juga buku terbit dan awal 34:21 dari kampanye hari-hari ini. Eh, silakan 34:24 Bang Ihsanuddin Nuh si. 34:25 Hari ini kita mulai 34:27 hari ini kita mulai berkampanye. 34:29 Dan kampanye itu dalam sistem, dalam 34:31 sistem undang-undang dasar 2002 adalah 34:33 pernyataan 34:35 presiden dan sekelompok orang, bukan 34:37 pernyataan bangsa. 34:38 Ehm. 34:39 Yang kemudian diterjemahkan sebagai 34:40 sebuah kepentingan bangsa. Padahal pada 34:42 sistem, 34:44 pada sistem undang-undang dasar 45 tidak 34:46 boleh kepentingan kelompok, kepentingan 34:48 pribadi yang di manipulasi sebagai 34:51 kepentingan kelompok, kemudian 34:52 dimanipulasi kembali sebagai kepentingan 34:54 bangsa dalam bentuk RPJMN. 34:57 Itu 34:58 sesuatu yang sangat musykil. 35:00 Ehm. 35:01 Sistem kita, sistem undang-undang dasar 35:03 45 menerjemahkannya dengan model GBHN, 35:05 bukan dengan model RPJP dan kemudian 35:08 RPJMN yang dalam faktanya adalah 35:10 kepentingan subjektif pribadi atau 35:11 kelompok. Itu yang mesti kita tahu. Maka 35:14 bisa kita lihat sesungguhnya setiap visi 35:16 misi yang dimunculkan oleh para capres 35:18 dan presiden, para para para tim 35:20 suksesnya sesungguhnya bisa kita uji 35:22 satu persatu sampai seberapa jauh 35:23 keterkaitannya dengan yang namanya visi 35:25 dan misi bangsa ini. Itu yang pertama 35:27 dalam konstruksi mulai kampanye masuk ke 35:30 sana. Saat yang sama titik awal ini 35:32 menggambarkan meningkatnya intensitas 35:34 konflik. Ehm. Baik intensitas konflik 35:36 pemikiran, intensitas konflik sosial 35:38 maupun intensitas konflik politik itu 35:41 makin meningkat. Nah, itu kita harus 35:43 punya punya sikap untuk mengatasinya. 35:45 Itu yang pertama. Yang kedua dalam 35:46 konstruksi misalnya bagaimana Palestina 35:49 dengan posisi 35:51 Qatar sebagai juru damai dan berhasil 35:53 mempengaruhi Amerika. Itu bukti ketika 35:55 Allah menghendaki sesuatu tidak ada yang 35:57 bisa menghalangi. Qatar negara kecil 35:59 berhasil menunjukkan posisi tawarnya 36:01 dibanding Indonesia yang punya posisi 36:02 tawar tapi kemudian malah lemas 36:04 selemah-lemahnya. 36:05 Allah sedang mempertontonkan kita dan 36:07 kita sedang dipermalukan oleh sebuah 36:08 situasi internasional bahwa ternyata 36:10 kita tidak punya posisi tawar sama 36:12 sekali dalam posisi Palestina. 36:13 Dan bahkan dilepas. 36:15 Dilepas. Dapat sih 400. 36:17 menuntut, hanya karena kita meminta 36:20 dalam sajian APEC di San Francisco agar 36:22 datang investasi. 36:23 Iya. 36:23 Dan kita sudah merendahkan diri kita 36:25 seperti itu. Itu yang kedua. 36:26 Betul, betul, betul. 36:28 Yang ketiga sekarang dalam konteks 36:30 sekarang dalam kaitan dengan 36:31 perkembangan masyarakat yang muslihat 36:32 mungkin makin parah dalam perspektif 36:35 neokorteks war dan proksi war serta 36:38 konektiviti war. Maka sesungguhnya tiap 36:40 keluarga sekarang diminta untuk 36:41 menegakkan ku anfusakum 36:44 Tidak bisa tidak. Diminta untuk tetap 36:46 menjaga silaturahim. Diminta untuk tetap 36:48 yang namanya qul il haq walau kana 36:50 muron. Diminta untuk khairunnas 36:51 anfa'uhum linnas. 36:53 Untuk membuktikan bahwa kita punya 36:54 sistem itu sistem yang betul-betul 36:56 menegakkan amar ma'ruf dan mencegah 36:58 kemungkaran. Dan itu tidak mungkin 36:59 dilakukan secara individual. Ini saya 37:02 ngomong kemana-mana loh. Saya ngomong 37:03 saya ngomong juga kemarin terakhir 37:05 terakhir ngomong di kawasan Bekasi. Tapi 37:07 orang masih euforia euforia semu. 37:10 Mereka punya keindahan-keindahan semu. 37:12 Saya juga ngomong di beberapa tempat 37:14 lain yang 37:15 tidak mengerti bahwa sesungguhnya sedang 37:16 terjadi adalah penghianatan terhadap 37:18 yang namanya sila keempat. 37:20 Penghianatan terhadap sumpah sumpah para 37:22 pendiri bangsa ini yang mengambil 37:24 pemikiran-pemikiran yang di kata 37:26 pembukaan itu merujuk pada ajaran-ajaran 37:29 Islam baik itu ayat maupun hadis. 37:31 Tapi mereka lepas sedemikian rupa 37:33 padahal mereka katanya pejuang-pejuang 37:34 Islam. Terbayangkan kalau yang sedang 37:36 sedang terjadi yang sedang terjadi 37:38 adalah munafik bersama-sama. 37:40 Gitu, iya. 37:41 Yang sedang terjadi adalah munafik 37:42 bersama-sama. Ini berbahaya. 37:44 Ini berbahaya bangsa ini. 37:46 Nah, ini yang mestinya kita ingatkan 37:48 pada diri kita dan pada keluarga kita 37:49 agar kita tidak seperti itu. Nah, kalau 37:51 salah saya memang keliru tapi kalau 37:53 benar itu kena kemana. Kalau saya juga 37:55 salah itu karena saya kurang 37:56 berpengetahuan. Saya cuma ingin 37:58 mengatakan 37:59 bahwa watawasau bil haq watawasau bis 38:01 sabr itu adalah tanggung jawab setiap 38:03 muslim dalam rangka menegakkan keimanan 38:05 dan kebaikan. 38:06 Ehm, ehm. 38:07 Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu an 38:09 la ilaha illa anta wa astaghfiruka wa 38:11 atubu ilaih. Assalamualaikum 38:12 warahmatullahi wabarakatuh. 38:13 Waalaikumsalam warahmatullahi 38:15 wabarakatuh. 38:25 Hah.