Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:07 Brail [musik] 0:08 TV. 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. 0:17 Asalamualaikum warahmatullahi 0:18 wabarakatuh, ikhwan akhwat 0:20 rahimakumullah. 0:22 Alhamdulillah wasyukurillah di tahun 0:25 baru di minggu pertama di bulan Januari 0:30 ini kita bersama-sama lagi di acara 0:34 perlindungan anak yang mudah-mudahan 0:38 akan menambah wawasan dan pemahaman kita 0:41 terkait dengan bahasan anak bukan hanya 0:45 anak kita sendiri tetapi juga anak 0:47 negeri tercinta Indonesia ini. Tidak 0:50 lupa salam selawat kita lantunkan untuk 0:52 junjungan umat kekasih kita Muhammad 0:56 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. 0:58 Semoga kelak kita dipertemukan dengan 1:00 beliau di saat yang sangat kita rindukan 1:03 di yaumil air. 1:05 Narasumber kita Dr. Hamid sudah siap 1:08 untuk hadir ke ruang dengar kita 1:10 semuanya bersama Mas Ondih dan juga kita 1:14 akan ee sapa semua yang saat sekarang 1:18 bersama-sama 1:19 radio silaturahim. 1:22 Kita sapa Dr. Hamid Fatil. 1:25 Asalamualaikum warahmatullahi 1:27 wabarakatuh. 1:28 Waalaikumsalam. Apa kabar, Bunda? 1:30 Alhamdulillah. 1:32 Jadi ee persisnya tadi waktu off air 1:35 kita juga bicara ini lebih 1:38 utama para ayah nih ya yang dengerin. 1:42 Iya, insyaallah. 1:43 Karena ikhwan awan pilihan bahasan kita 1:46 adalah ayah tumbuh anak. Ayah belajar 1:51 anak yang tumbuh. Begitu ya. Baik, mari 1:53 kita simak. 1:55 Baik terima kasih Bunda. 1:57 Bismillahirrahmanirrahim. 1:58 Asalamualaikum warahmatullahi 2:01 wabarakatuh. 2:02 Waalaikumsalam. 2:03 Pendengar Radio Rasil di mana saja 2:06 berada. Alhamdulillah 2:08 kita masih diberi kesempatan oleh Allah 2:11 untuk berbagi informasi. kali ini 2:15 melanjutkan bahasan topik yang 2:18 sebelumnya terkait dengan ayah. 2:22 Ingat enggak, Bunda, kemarin para ayah 2:25 itu diminta oleh Menteri Kependudukan 2:30 untuk menjemput 2:32 rapot anak-anak di sekolah. 2:35 Ada yang pro dan ada yang kontra. Yang 2:40 pro dan kontra tidak perlu kita bahas di 2:43 sini. Tapi yang paling penting yang 2:45 perlu kita tekankan, ayah sebagai tulang 2:50 punggung tidak hanya sampai di situ, 2:53 tetapi menjadi ayah yang hebat itu 2:55 menjadi penting. Untuk itu, kali ini 2:58 kita akan ambil topik bahasan terkait 3:02 dengan ayah yang belajar, anak yang 3:05 tumbuh. ini kenapa menjadi penting untuk 3:09 perlu kita sama-sama bahas di studio. 3:14 Berharap para ayah dan bunda di rumah, 3:19 terutama kalau yang mendengarkan para 3:21 ayah ini menjadi ee poin penting. Tapi 3:24 bagaimana 3:26 yang mendengarkan ini para ibu? Nah, 3:29 untuk itu para ibu perlu 3:32 mentransformasikan informasi yang kita 3:34 sampaikan. kali ini untuk jadi bahan 3:39 diskusi di rumah sehingga anak-anak kita 3:43 akan menemukan ayah-ayah mereka yang 3:46 hebat. 3:48 Apa yang penting yang perlu kita ketahui 3:50 bersama-sama? Sebagaimana kita ketahui 3:54 Indonesia telah meratifikasi konvensi 3:58 hak anak sejak tanggal 25 Agustus tahun 4:04 1990. 4:07 Presiden Soeharto waktu itu 4:10 menerbitkan keputusan Presiden nomor 25 4:16 nomor 36 tahun 1990. 4:23 Ini menjadi penting untuk kita ketahui 4:27 bersama-sama. 4:29 Atas dasar itu, berbagai peraturan 4:32 perundangan lahir berharap undang-undang 4:37 yang terkait dengan orang tua ini perlu 4:41 dikuasai dan perlu dipelajari. 4:45 Tapi yang tidak kalah penting 4:47 sebagaimana kita bahas hari ini terkait 4:49 dengan bagaimana ayah yang belajar. Ayah 4:53 yang belajar adalah ayah yang mau 4:58 belajar dari anaknya. 5:01 Ayah Anda dan bunda, 5:04 mungkin 5:05 kita pernah melewati masa-masa anak itu 5:11 pada masanya. Tetapi kali ini di hadapan 5:15 kita adalah anak-anak kita yang juga 5:18 memiliki masa dan memiliki tantangan 5:21 yang berbeda dengan kita. Untuk itu apa 5:24 yang perlu kita lakukan dari anak itu 5:28 sejak di dalam kandungan sampai usia 18 5:33 tahun tinggal 1 detik 5:35 itu kita harusnya ya banyak belajar dari 5:39 mereka. 5:40 dari 5:43 mereka kita akan menemukan banyak hal 5:47 terutama dari berbagai aspek 5:50 perkembangan 5:51 terutama pertama aspek nilai-nilai 5:54 agama. Bagaimana nih? Apa yang dapat 5:58 kita temukan dari anak kita? Apakah dia 6:01 sudah mengenal secara utuh? 6:07 Siapa yang memberi napas, yang memberi 6:11 ee rezeki pada anak kita? Apakah anak 6:14 kita sudah mengetahuinya? Kalau belum, 6:16 ini yang perlu kita tambahkan atau perlu 6:20 kita informasikan. Tapi yang tidak kalah 6:23 penting dari aspek moral, apakah anak 6:26 kita setiap dia melakukan segala 6:30 sesuatu, terutama menyangkut ee diri dia 6:35 untuk menguasai suatu benda, baik itu 6:40 apa yang dia makan, apa yang dia minum, 6:44 apa yang dia pakai, apa yang dia gunakan 6:47 untuk menulis atau apa yang dia gunakan 6:51 untuk bermain itu selalu minta izin 6:53 kepada kita. Kalau anak-anak kita masih 6:58 kita temukan, mereka selalu minta izin, 7:02 itu berarti bertanda kita sangat 7:05 mensyukurinya bahwa anak kita itu selalu 7:08 memastikan apa yang dia gunakan itu 7:11 benar-benar ada yang mengetahuinya, 7:14 terutama ayah dan bundanya. Coba 7:18 bayangkan kalau anak kita itu tidak lagi 7:22 permisi atau minta izin kepada kita, ada 7:26 sesuatu hal yang 7:28 perlu kita coba cek lagi. Ini ayahanda 7:33 dan bunda 7:35 menjadi poin penting. Selanjutnya coba 7:38 kita 7:40 amati atau perlu kita ee 7:44 diskusi dengan dia terkait dengan 7:48 nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai 7:51 Pancasila ada lima sila. Kita coba 7:57 lihat apakah setiap sila yang ada di 8:01 Pancasila itu ada enggak yang dia 8:04 praktikkan. Ayo kita coba amati, kita 8:07 pelajari. 8:08 Dengan kita mempelajari itu berarti kita 8:11 akan mengetahui apakah dia sudah 8:14 terpapar atau belum. Kalau sudah 8:18 terpapar berarti itu bertanda kita telah 8:21 berupaya atau anak telah mendapatkan 8:24 informasi itu. Selain dari kita juga dia 8:27 dapat dari orang lain. 8:30 Lalu apalagi nih yang ketiga ini Bunda 8:33 Nuning ya ayahanda dan bunda. Coba kita 8:37 pelajari 8:39 apakah anak kita setiap dia melakukan 8:43 gerakan 8:45 bagaimana motorik halus dan motorik 8:48 kasar dia? 8:51 Apakah kita dapat pastikan kalau dia 8:55 benar-benar anak yang setiap hari 8:58 melakukan exercise atau latihan-latihan 9:02 dia dari coba kita amati itu dari proses 9:06 dia lahir terus dia nangis kemudian dia 9:11 mulai ee tengkurap lalu dia mulai 9:16 merangkak lalu dia berupaya untuk jalan 9:19 lalu pada saat dia jalan, apakah 9:23 benar-benar anak ini dalam ee 9:26 pertumbuhan yang sesuai dengan harapan 9:30 kita atau tidak. 9:31 Nah, itu coba kita jadi kita belajar 9:35 benar dari anak kita. Dengan kita 9:37 belajar dari mereka, insyaallah kita 9:41 akan segera menemukan banyak hal. dari 9:45 banyak hal itu kalau yang sudah sesuai 9:48 dengan kehendak kita atau sesuai dengan 9:51 harapan kita, berarti itu sudah 9:54 merupakan pencapaian dari apa yang telah 9:57 kita upayakan selama ini. Tetapi kalau 10:00 itu belum, nah itu berarti menjadi 10:04 tantangan yang perlu kita ee upayakan 10:07 agar anak kita benar-benar tumbuh sesuai 10:12 dengan apa yang kita harapkan 10:15 atau sesuai dengan usia dan ee 10:19 kecerdasannya. 10:20 Itu yang ketiga. Ah, yang keempat nih 10:22 terkait dengan kognitif. 10:26 Apakah anak-anak kita itu sudah mulai 10:30 dia dari ee 10:33 menghitung dia sudah mampu membedakan 10:37 benda dari yang halus, yang kasar, yang 10:42 berwarna terang, 10:44 berwarna gelap. Lalu kemudian dia sudah 10:48 pokoknya intinya dia sudah terlihat 10:53 perkembangan ee 10:55 kognitifnya itu benar-benar 10:58 kita sangat ee terkaget-kaget dengan apa 11:03 yang terjadi pada diri dia. Nah, ini 11:06 kita pelajari ini. Jadi kita belajar 11:09 setiap saat. Coba bayangkan kalau 11:13 ayahanda dan bunda dari setiap detik, 11:17 setiap menit, setiap jam kita tahu itu 11:20 perkembangan anak kita, insyaallah kita 11:23 akan merasa ee 11:27 bersyukur 11:29 terhadap apa yang telah kita upayakan. 11:32 Tapi coba bayangkan kalau kita tidak 11:36 mengetahui semua proses itu, akhirnya 11:39 kita akan kehilangan dan kehilangan itu 11:43 menjadi mahal bila kita tidak segera ee 11:48 koreksi atau tidak segera kita sadari. 11:51 ini menjadi penting. Yang kelima, ini 11:55 yang tidak kalah penting, Bunda Nuning. 11:58 Sehari-hari anak-anak kita itu sudah 12:00 mulai berupaya untuk mengeluarkan 12:04 bunyi-bunyian dari mulutnya atau suara 12:07 dari suara yang belum jelas kemudian 12:10 menjadi jelas, lalu kemudian membentuk 12:13 huruf, lalu kemudian membentuk ee kata. 12:18 dari kata membentuk kalimat. Kalimat ini 12:21 yang kalimat ni ada kalimat yang mudah 12:24 dipahami, ada kalimat yang mudah 12:28 dimengerti, tapi ada juga kalimat yang 12:32 kalau kita mau dengar itu itu kita tidak 12:36 paham apa yang disampaikan oleh anak 12:39 kita. Kita belajar nih. Jadi segala 12:42 sesuatu kita pelajari. Lalu kemudian 12:46 anak sudah mulai menggunakan intonasi, 12:49 lalu kemudian sudah mulai menggunakan 12:51 logat. Lalu kemudian sudah menyesuaikan 12:54 dengan usia dan kecerdasan dia. Tapi 12:57 yang tidak kalah penting adalah 12:59 bagaimana dia mengeluarkan kata-kata 13:02 yang sangat menyenangkan terutama oleh 13:06 ayah atau oleh orang sekitarnya. Begitu 13:09 juga sebaliknya, ada kata-kata yang 13:12 seharusnya tidak keluar dari mulut anak 13:15 kita 13:16 atau mulut dari orang dewasa pun itu 13:18 tidak pantas. Nah, itu berarti kita 13:21 sudah mulai coba nih. Jadi, ayah Anda 13:25 dan bunda, kita harus belajar dari anak 13:30 kita. dari hasil pembelajaran itu. Itu 13:33 yang kemudian 13:35 ada beberapa hal yang perlu kita tindak 13:38 lanjuti. 13:40 Dengan cara apa? Kita perlu belajar lagi 13:44 untuk anak kita. Berarti apa yang perlu 13:47 kita pelajari dari anak dari anak kita 13:50 dan apa yang perlu kita pelajari untuk 13:53 anak kita. dari yang ekstrem kanan, dari 13:57 ekstrem kiri ada hal-hal yang kita 14:00 dapatkan. Terus yang keenam ni ini yang 14:04 tidak kalah penting dan ini menjadi 14:07 modal besar bagi anak kita saat dia akan 14:11 keluar dari rumah kita. yaitu bagaimana 14:15 nih emosi anak kita, bagaimana hubungan 14:19 sosial anak kita dengan ayahnya, dengan 14:24 bundanya, dengan kakek, dengan nenek, 14:28 dengan paman, dan orang-orang yang ada 14:31 di rumah. Dan yang tidak kalah penting 14:34 saat dia keluar dari rumah, bagaimana 14:37 hubungan dia dengan teman-temannya? Ini 14:39 kita coba cek nih, kita pelajari kalau 14:43 hubungan sosial dia yang didukung dengan 14:47 emosi positif dia insyaallah 14:51 anak kita menjadi anak yang sangat 14:54 diharapkan kehadirannya. 14:57 Kalau tidak ada anak kita, sepertinya 15:00 teman-temannya itu tidak ee nyaman atau 15:04 ada sesuatu yang hilang dari mereka. 15:06 Untuk itu mereka segera cari anak kita. 15:09 Ah, coba kita lihat tuh, kita pelajari, 15:13 kita belajar dari anak kita dari hasil 15:17 belajar ini. Ini yang kemudian mulai 15:21 kita identifikasi. 15:23 Pertanyaannya, bagaimana 15:27 cara kita lebih dekat untuk mempelajari 15:30 anak kita secara utuh atau sesungguhnya? 15:34 Ah, itu ada yang kedua. 15:36 Ini yang perlu kita ketahui 15:40 bersama-sama. 15:41 Perlu kita dorong pendidikan dua arah. 15:45 Pendidikan yang ideal itu adalah 15:49 berdialog. 15:51 Berdialog dengan siapa? Dengan anak 15:53 kita. Sebagaimana kita ketahui negara 15:57 ini memiliki Pancasila. yang sila 16:02 keempat itu sangat ditentukan oleh 16:06 musyawarah. Musyawarah itu lahir dua 16:09 arah antara yang diajak diskusi dan yang 16:14 ee menjadi peserta diskusi. 16:17 Kalau kita sebagai ayah, bagaimana nih 16:20 menjadi moderator yang hebat atau 16:25 menjadi 16:27 orang yang mampu 16:30 diajak atau diikuti 16:34 oleh anak kita saat berdialog? Ahah. Apa 16:37 saja yang perlu kita dialogkan? 16:40 Sebagaimana kita ketahui 16:43 tujuan pendidikan yang ada di konvensi 16:47 Hana itu memastikan bagaimana 16:51 anak-anak kita itu memiliki kepribadian. 16:56 Ah, kepribadian inilah yang kemudian 16:59 mulai kita dialogkan dengan anak-anak 17:01 kita. 17:03 Poin penting di pasal 29 konvensi anak 17:07 itu pertama bagaimana 17:11 kita mendialogkan tentang 17:15 hak-hak 17:17 asasi manusia. Sebagaimana kita ketahui 17:20 hak asasi manusia itu sebetulnya ada 17:24 empat. Yang paling utama itu adalah 17:28 berpolitik. 17:30 Ah, berpolitik di sini Bunda Nuning 17:33 bersuara. 17:36 Kalau seorang ayah 17:39 telah memahami bahwa hak asasi manusia 17:42 yang paling utama itu adalah berpolitik 17:45 dalam hal ini bersuara. 17:48 Kalau kita mulai 17:52 mendengarkan suara anak dengan cara apa 17:55 tadi? berdialog, 17:57 berdiskusi 17:59 sebagai sebagaimana yang dicontohkan 18:03 oleh Nabi Ibrahim bersama putranya 18:08 saat mendiskusikan hal yang paling ee 18:11 krusial yaitu 18:14 harus dikorbankan. 18:16 Atau kita coba lihat di surat Luqman di 18:20 sana dialog antara si ayah dan anaknya 18:26 mendialogkan banyak hal sampai ke 18:29 hal-hal menyangkut bagaimana dia akan 18:34 mempraktikkan 18:36 nilai-nilai agama. Ini menjadi penting 18:39 sekali berdialog. Itu yang perlu kita 18:42 tekankan dari proses dialog itu ada 18:46 proses belajar dua arah. 18:49 Kita lanjutkan lagi dari tujuan 18:51 pendidikan yang coba didorong oleh 18:55 konvensi anak itu, yaitu bagaimana 18:59 anak menghargai orang tua. 19:04 Itu juga akan terekam melalui proses 19:08 dialog. 19:10 bagaimana dia memilih kata lalu kemudian 19:15 memilih diksi yang 19:18 barang tentu itu semua akan terekspresi 19:23 kalau di rumah anak terbiasa 19:26 didengar suaranya. Ah, ini proses juga 19:29 belajar benar nih. He. 19:31 Tapi kalau tuh ayah sudah ada, akhirnya 19:35 anak kita jadi pendiam, jadi apa, itu 19:39 berarti ada sesuatu yang perlu segera 19:43 kita ee koreksi atau perlu kita ee cek 19:48 lagi bagaimana sikap kita dengan anak 19:52 kita. 19:53 Yang kedua, bagaimana anak itu sudah 19:56 mulai mengetahui bahwa dia perlu 20:01 menghargai identitas dia dari dia loh. 20:05 Coba kita tanya, "Adik, 20:10 apa yang kamu lakukan bila setelah 20:14 keluar dari rumah?" H. 20:16 Nah, itu dari obrolan itu insyaallah dia 20:19 aku selalu 20:22 baik dengan temanku, aku selalu ee 20:26 berbicara dengan mereka, aku selalu 20:28 berbagi sesuatu dengan mereka sehingga 20:31 mereka mau ee 20:34 mau diajak untuk bermain. Nah, itu kita 20:38 sudah mulai memperkenalkan 20:40 identitas diri dia. Bahwa 20:45 selain diri dia ada orang di 20:48 belakangnya. Ah, itu. Kemudian kita coba 20:52 mulai cek lagi 20:54 di antara teman-teman 20:56 kamu di luar itu pasti berbeda. 21:01 Suku berbeda, bahasa berbeda, warna 21:06 kulit berbeda ee kekayaan 21:10 juga berbeda 21:12 suku, bangsa. Ah, itu kemudian coba kita 21:15 mulai dari dialog itu, itu otomatis dari 21:19 proses perkembangan usia anak. Jadi, ada 21:22 tahapan-tahapannya. Tapi kalau itu mulai 21:24 kita biasakan untuk berdiskusi dengan 21:27 anak kita dari setiap tahapan. Kalau 21:31 kita lihat dari dia balita lalu jadi 21:37 usia di bawah 5 tahun kemudian sudah 21:41 mulai masuk PAUD lalu SD, SMP, SMA dan 21:47 itu yang kemudian itu terekam rapi di 21:51 dalam ingatan kita dan juga terekam rapi 21:56 dalam ingatan anak kita bahwa hubungan 21:59 ayah 22:01 dan anaknya itu benar-benar terjalin 22:04 dengan ee baik. 22:07 Kita tidak bicara yang yang lain lagi 22:10 ya, Bundaang, tapi ini yang kita 22:12 bicarakan hal-hal yang ideal dan 22:14 harapannya itu terjadi di dalam 22:18 kehidupan sehari-hari kita. Karena 22:21 dengan 22:23 cara kita selalu berkomunikasi, 22:26 berdialog, berdiskusi dengan anak kita, 22:29 insyaallah 22:31 ayah itu akan belajar secara optimal. 22:36 Kemudian 22:38 bagaimana nih? Apakah anak kita sudah 22:42 mulai 22:44 menjalin ee komunikasi dengan orang 22:48 lain? itu kita perlu pelajari itu. 22:52 Dia otomatis sudah menjalin hubungan 22:55 dengan 22:57 orang-orang yang ada di beda kelurahan, 23:02 beda kampung, beda kecamatan, 23:07 beda kabupaten. Apalagi sekarang Bunda 23:10 Nuning dengan sosmate 23:12 pasti anak kita tuh 23:14 saya belajar dari anak saya dia punya 23:16 teman di Brazil, punya teman di Korea, 23:19 punya teman di apa itu dia sudah mulai 23:23 mencoba 23:24 me jalin komunikasi dengan 23:28 teman-temannya 23:30 di berbagai ee belahan dunia. He 23:35 di sana 23:37 mereka banyak belajar. Memang awalnya 23:40 dihubungkan oleh bahasa. 23:43 Iya. 23:43 Nah, karena anak-anak kita itu sekarang 23:46 dia tertarik 23:48 apalagi dengan menggunakan berbagai 23:50 aplikasi. Sekarang kita dapat tuh 23:54 mengecek. 23:56 Di sana kita akan mengetahui apakah anak 24:00 kita juga 24:02 mencoba mendalami 24:04 ee perbedaan dari latar ee bangsa-bangsa 24:10 dari Brazil, dari Amerika, dari Jepang, 24:14 dari Afrika, dari Eropa atau dari Timur 24:19 Tengah atau di negara serumpun dengan 24:23 kita di ASEAN. Nah, anak-anak kita itu 24:26 kita coba kemungkinan kita akan 24:30 terkagum-kagum 24:32 mendengar hasil dialog kita dengan 24:35 anak-anak kita dan itu menjadi bekal 24:40 untuk diri mereka. Ah, bagaimana kalau 24:43 kita temukan anak-anak kita tidak 24:46 memiliki 24:49 hubungan-hubungan atau jaringan-jaringan 24:51 dengan teman-temannya se kelurahan, 24:56 sekecamatan, 24:58 sekabupaten, seprovinsi atau 25:01 se-Indonesia ya Bunda Nuning 25:03 atau dari beragam pulau dari Sumatera, 25:08 dari Kalimantan, 25:10 dari Sulawesi. 25:12 dari Papua atau Nusa Tenggara Timur dan 25:16 Bali. Bayangkan tuh Nuning, kalau 25:19 anak-anak kita tidak memiliki itu. 25:22 Akhirnya mereka ee terkaget-kaget 25:26 kalau mendengar kok ada oh ada orang 25:29 dari pulau ini ya. Coba dengan demikian 25:36 kita akhirnya akan menemu kenali anak 25:40 kita secara sesungguhnya. Dan di sanalah 25:44 apa yang perlu kita upayakan. Jangan 25:47 biarkan anak kita berjalan dengan 25:52 sendirinya. 25:53 Sesibuk apapun ayah sebagai penopang 25:57 rumah tangga, sebagai tulang punggung 26:00 yang dari pagi sampai malam ada juga 26:05 Bunding ada para ayah itu harus ee 26:09 bekerja di luar kota, di luar provinsi, 26:13 di luar pulau atau ada juga yang ada di 26:16 luar negara. 26:18 kita memiliki tanggung jawab sebagai 26:22 orang tua sebagaimana yang diatur di 26:25 dalam ee undang-undang, dalam 26:28 peraturan-peraturan 26:30 dan yang tidak kalah penting juga ada di 26:33 konvensi hak anak sebagai standar 26:37 internasional yang juga perlu diketahui 26:39 oleh setiap orang tua. Jadi tidak ada 26:43 alasan lagi, tidak ada ee penolakan 26:48 lagi, kita harus mempertanggungjawabkan 26:51 itu. Sekali kita memiliki anak, itu 26:58 tidak ada pantangan untuk belajar. Dan 27:01 yang paling utama itu kita belajar dari 27:05 anak kita. Dan jangan lupa kita juga 27:09 belajar untuk anak kita. Apa yang 27:12 dimaksud belajar untuk anak kita itu 27:14 Bunda Nuning, 27:16 apa tuh? 27:16 Kita memperkaya berbagai pengetahuan 27:20 keterampilan. Nah, itu yang kemudian 27:23 akan menjadi kompetensi kita sebagai 27:25 seorang ayah pada saat anak kita mau 27:30 berdialog dengan kita. itu yang kemudian 27:34 kita akan mampu menjawab sesuai dengan 27:39 kemampuan kita. Sekarang juga kalau 27:42 misalnya kita tidak memiliki kemampuan, 27:45 kita mampu atau membuat jadwal tertentu, 27:49 insyaallah diskusinya akan dilanjutkan 27:51 minggu besok atau besok dengan catatan 27:55 yang tidak terjawab itu itu akan dicari 27:58 jawabannya. sekarang berbagai [berdehem] 28:02 teknologi 28:03 lewat AI juga kita bisa gunakan. Nah, 28:06 itu poin yang kedua. Ah, poin yang 28:09 ketiga ini, Bunda Nuning yang perlu ee 28:13 para ayah yang hebat untuk coba 28:18 lakukan refleksi 28:22 supaya ayah benar-benar mengetahui 28:26 proses tumbuh kembang anak kita. 28:29 Refleksi yang sederhana ini. Ini tidak 28:33 akan lahir bila tidak ada jalinan. 28:37 He. 28:38 Komunikasi yang intens baik yang ada di 28:43 rumah maupun yang ada di luar rumah. 28:46 Kalau boleh buatkan jadwal dan berharap 28:51 refleksi yang hebat itu dilakukan pada 28:54 jam-jam menjelang magrib. Nah, untuk itu 28:58 coba 29:00 tetapkan agenda itu. Atau juga 29:04 kadang-kadang anak kita kalau sudah 29:07 terbiasa berkomunikasi dengan ayahnya, 29:10 insyaallah dia akan selalu mengajukan 29:13 berbagai pertanyaan. Ah, 29:16 pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh 29:19 anak-anak itu sebetulnya tidak perlu 29:22 kita siapkan jawaban dari kita. He 29:27 [mendengus] 29:27 kita balik bertanya kepada dia. Kan 29:31 anak-anak tuh 29:34 banyak yang pertanyaan-pertanyaan 29:36 diajukan kepada kita 29:38 berharap setiap pertanyaan yang diajukan 29:42 kepada kita sebagai ayah itu akan 29:45 dijawab oleh ayah. 29:48 Tidak harus. Bagaimana caranya kita 29:51 balikkan pertanyaan itu supaya dia itu 29:55 coba kita lihat misalnya dia nih nanya 29:57 nih ayah kenapa tuh air laut 30:01 biru langit tuh biru ah tuh kalau gunung 30:05 kok kenapa hijau ya ah ini pertanyaan 30:08 yang sederhana yang yang 30:12 menguras 30:14 ee kita sebagai orang tua bila kita 30:18 salah menj jawab itu yang kemudian akan 30:21 menjadi hal yang mengkhawatirkan. Untuk 30:24 itu kita balik. Kalau menurut kamu 30:27 kenapa ya ee 30:32 langit itu biru? 30:35 Coba kebayang Bunda Nuni dari 30:40 dia mengajukan pertanyaan lalu 30:42 pertanyaan itu kita balik kepada dia. 30:44 He. 30:45 Itu kita akan lihat tuh bagaimana raut 30:48 wajahnya, 30:50 [berdehem] bagaimana dia mulai mencari 30:54 ee apa informasi yang dia ketahui. Lalu 30:58 kemudian mulai dia ekspresikan melalui 31:01 mulut dia atau melalui tangan dia. H he 31:05 tangan mungkin melalui gambar ya. Nah, 31:07 itu dari situ kita sudah dapat mengukur 31:12 anak kita itu benar-benar 31:15 dia berupaya untuk mencari ee jawaban. 31:19 dari jawaban-jawaban dia kemungkinan 31:23 100% ada benarnya, tapi kemungkinan ada 31:28 yang perlu diluruskan 31:32 dengan menggunakan ya tidak kita 31:35 tunjukkan referensi tapi ada baiknya 31:38 kalau di sekitar kita ada buku 31:41 ensiklopedi atau kayaknya pertanyaan 31:46 adik boleh enggak kita ke Gramedia atau 31:49 ke toko buku atau coba lihat buku yang 31:53 ada di rak itu ah coba ada enggak tuh 31:56 gambar itu dari itu kita mulai ajak anak 32:01 untuk belajar atau yang simpel sekarang 32:04 ya kita gunakan handphone atau gadget 32:08 kita ajak an-anak untuk mencari 32:12 informasi jadi setiap 32:15 pertanyaan-pertanyaan yang diajukan 32:17 kepada kita dari anak kita otomatis itu 32:21 yang kemudian kita boleh jawab secara 32:24 langsung tapi kalau boleh kita ee 32:27 kembalikan kepada anak kita dengan cara 32:30 begitu Bunda Ning anak itu 32:34 berupaya untuk ee mencari 32:40 informasi dan berharap informasi yang 32:43 dia dapat itu benar-benar informasi yang 32:46 sesuai dengan apa yang kita harapkan 32:51 atau informasi yang sesuai dengan apa 32:54 yang dipahami oleh orang tua, oleh 32:58 keluarga, oleh masyarakat. 33:01 Dan di sinilah proses pembimbingan kita 33:04 tuh Bunda sehingga akhirnya anak itu 33:08 benar-benar tumbuh. Jadi dari ayah yang 33:12 mau belajar dari anak kita, 33:14 akhirnya anak akan tumbuh. Dan ini 33:18 menjadi proses yang perlu mendapatkan e 33:22 dukungan 33:24 kesungguhan dari kita semua, terutama 33:28 para ayah yang hebat. ini mungkin yang 33:31 kita dapat ee berikan informasi dan 33:35 berharap 33:37 ke depan kita akan menemukan ayah-ayah 33:40 yang hebat 33:41 yang selalu belajar dari anaknya. Dan 33:45 dari proses belajar itu 33:48 para ayah akan mampu mendampingi, 33:52 membimbing proses tumbuh kembang anak. 33:55 Salah satu metode dari Rasulullah adalah 34:00 belajar dan mengajar. Itu metode yang 34:04 pertama, Bunding. 34:05 He. 34:06 Dari proses belajar, 34:09 Rasulullah belajar dari para sahabat. 34:12 Iya. I, 34:12 dari anak-anak yang ada di sekitar dia. 34:14 Dari proses belajar itu 34:16 beliau mengajarkan kalau Rasulullah 34:19 referensinya langsung dari Allah melalui 34:24 ee 34:26 wahyu yang sudah terekam di dalam Quran 34:30 dan hadis. Ah, bagaimana dengan para 34:33 ayah? dari anak kita akan banyak belajar 34:37 tentang dunia mereka yang perlu 34:40 mendapatkan pembimbingan, pendampingan, 34:43 dan otomatis perlu kita perkuat 34:47 referensi kita. Demikian, semoga ada 34:50 yang mau bertanya. 34:51 Iya. Masyaallah, ikhwan akhwat. Ayah 34:56 belajar dari anak karena tantangan anak 34:59 zaman sekarang itu berbeda dengan ketika 35:02 ayah masih muda atau menjadi anak dulu. 35:06 Kita boleh langsung ke pertanyaan ya, 35:08 Pak Hamid ya. Ini Ibu Eni bertanya, 35:11 bagaimana 35:13 caranya memvalidasi perasaan anak agar 35:17 mereka merasa bahwa kita memahami 35:20 mereka? 35:22 Terima kasih. 35:23 Baik. Wah, ini menarik pertanyaan dari 35:26 Bunda. Sebetulnya kalau 35:29 ibu atau ayah terbiasa berdiskusi dengan 35:34 anak kita dan keterbiasaan itu menjadi 35:39 ee 35:41 regulasi atau teratur di kehidupan 35:45 sehari-hari anak kita 35:47 itu kita akan menemukan 35:49 apa yang kita harapkan dari anak kita 35:52 dan kita akan mampu memvalidasi 35:57 dari proses-proses tinggal kita cek 36:00 bagaimana menurut kamu, bagaimana 36:03 menurutmu. Coba apa yang kamu pikirkan? 36:08 Bayangkan bunda nundai. 36:10 sekali anak itu mengekspresikan 36:14 apa yang dia pikirkan 36:17 itu lahir bukan dari hari itu saja 36:21 tetapi itu melewati tiga proses. 36:24 Pertama 36:26 apa yang dia baca. Jadi baca ini bukan 36:29 hanya baca buku, tetapi baca semua hal. 36:34 Membaca hubungan dia selama ini dengan 36:36 ayah. membaca hubungan dengan ibunya, 36:41 dengan orang serumahnya. Dia membaca 36:44 tuh. He. 36:45 Lalu kemudian itu juga sangat 36:47 dipengaruhi oleh pengalaman. 36:51 Pengalaman itu bukan pengalaman hanya 36:53 satu hari. 36:54 Pengalaman itu dari anak di dalam 36:57 kandungan sampai saat anak itu 37:00 berdiskusi dengan kita itu juga sangat 37:04 menentukan apa yang dia ungkapkan. 37:07 Tapi yang tidak kalah penting yang 37:10 ketiga ini yaitu apa yang dirasakan oleh 37:15 anak kita saat itu. Mungkin pada saat 37:18 proses validasi 37:20 di sore hari, 37:23 anak mengeluarkan pernyataan itu di pagi 37:26 hari. 37:27 Iya. 37:27 Ah kita coba lihat mungkin di pagi hari 37:32 dia tidur telat, bangun telat. 37:37 tidak sarapan saat kita ajak bicara yang 37:40 akan keluar dari mulut dia. Intonasinya 37:44 akan berbeda dengan anak yang tidur 37:47 tepat waktu, 37:49 bangun tepat waktu dan dia sarapan. 37:52 Dan pada saat kita validasi sore hari 37:55 kok berbeda. Kenapa nih tadinya kok anak 37:58 ini berbicara kok agak tidak 38:00 menyenangkan? Tapi pada sore hari 38:04 saat itu perasaannya sudah dalam kondisi 38:07 nyaman. Untuk itu bagi ayahanda dan 38:10 bunda, bila kita menemukan ada anak-anak 38:14 yang menurut kita sepertinya nih 38:18 ada sesuatu yang salah. jangan segera e 38:23 menyalahkan, tapi kita harus pelajari 38:25 ini. 38:26 Kemungkinan banyak faktor yang 38:29 mempengaruhi dalam tiga kondisi situasi 38:32 yang tadi berproses itu dari apa yang 38:35 dia pelajari, apa yang dia alami, dan 38:38 apa yang dia rasakan. Dari proses itu 38:41 akhirnya kita akan semakin paham dan 38:45 kita semakin memahami dan otomatis kita 38:50 akan mafhum dan memahami kondisi anak 38:53 kita sehingga pada saat kita melakukan 38:56 validasi itu akan lebih mudah. Dan ibu 39:01 yang hebat atau ayah yang hebat saat 39:04 memvalidasi tidak melakukan penghukuman 39:09 yang tidak sepantasnya. 39:12 Demikian Bundan. 39:14 Baik ya. Mudah-mudahan kita bisa 39:18 mempraktikkannya ya terkait dengan 39:20 pemahaman anak. Merasa dipahami itu 39:22 gampang-gampang susah. Nah, ini 39:24 pertanyaan berikutnya nih dari Pak Rudi. 39:28 Emm. 39:30 sampai usia berapa ya kita menunjukkan 39:32 kasih sayang secara fisik berupa pelukan 39:35 ataupun ya pujian sampai umur berapa 39:40 diperlukan karena kalau saya kurang 39:44 yakin ya apakah kalau sudah remaja 39:46 enggak apa-apa juga tuh dipeluk 39:49 iya silakan 39:51 tergantung 39:54 bagaimana kita memandang setiap anak itu 39:58 sangat membutuhkan sentuhan. 40:02 Sentuhan 40:03 yang kemudian 40:05 hubungan ayah dan anak. Saya punya anak 40:10 remaja saat dia bersekolah di Jogja saat 40:15 saya jemput di 40:18 stasiun kereta atau di bandara itu 40:21 otomatis kita pluk. 40:24 Itu 40:25 ungkapan yang luar biasa. rasa ee kangen 40:29 yang tinggi, 40:31 tapi jangan diterjemahkan dengan hal 40:33 yang lain. Ah, jadi jangan memasukkan 40:37 sampai anak itu sudah jadi nenek saja 40:40 itu 40:41 kita perlu melakukan ee apa hal yang 40:46 menurut kita yang pantas. Tapi kalau di 40:49 luar itu yang kemudian itu yang tidak ee 40:54 layak untuk kita lakukan. Jadi 40:56 kepantasan itu sangat ditentukan oleh 41:00 apa yang dipersepsikan oleh masyarakat 41:04 lalu kemudian oleh diri kita dan itu 41:08 yang kemudian kita harus jaga jangan 41:10 sampai memunculkan fitnah. Nah, itu di 41:15 setiap saat saya punya pengalaman 41:18 bersama dengan anak dan teman-teman anak 41:21 saya di komplek ini. Saya tidak 41:25 melakukan sentuhan, tapi hanya menjadi 41:28 pengawal saat anak-anak main di ee taman 41:33 di komplek tetangga. 41:35 Kita jalan itu ke sana tu. itu coba saya 41:39 karena mendalami tentang 41:42 apa yang disebut dengan 41:45 ee orang yang berperilaku menyimpang. 41:48 He 41:49 itu kita lihat tuh mata dari orang-orang 41:53 yang kami lewati itu tertuju kepada kami 41:57 yang sedang mengawal anak-anak. 41:58 Anak-anak. He 41:59 ah. Bagaimana itu supaya tidak ada 42:03 memunculkan ee anggapan itu. 42:07 Kita coba cari pendamping kalau boleh 42:11 ajak dua ayah itu mengawal tuh anak-anak 42:14 kita sehingga yang akan terjadi bahwa oh 42:20 mereka sedang mendampingi anak kita. He. 42:22 Nah, karena kalau kita lihat nih ada 42:27 orang dewasa kok akrab dengan anak-anak 42:30 itu kemungkinan ada dua tuh. 42:32 He, 42:32 pedofil atau apa nih? [tertawa] 42:34 Jadi untuk itu ee para ayah dan para ee 42:39 bunda 42:41 kita perlu 42:43 mencoba mengupayakan 42:46 memahamkan diri kita menjalin 42:48 sentuhan-sentuhan itu di sentuhan yang 42:52 tertentu. 42:52 Iya. yang sepantasnya dan jangan sampai 42:56 memunculkan fitnah dan 42:59 Allah 43:00 yang dapat mengekspresikan atau yang 43:03 dapat menjelaskan ya diri kita sekali 43:06 kita melakukan hal yang negatif 43:10 itu otomatis memunculkan fitnah. 43:13 He. 43:14 Seberap pun kita menjelaskan, orang 43:17 tetap tidak akan menerima. Ah, bagaimana 43:20 seperti kehawatiran Bapak tadi? kita 43:23 lakukan sentuhan seperti misalnya nih 43:26 ketemukan di pundak 43:28 ee ketemu dengan anak kita yang baru 43:33 pulang dari merantau. 43:35 He. 43:38 atau kita tuh ee itu sebetulnya tidak 43:42 ada batas usia waktu masih baik, waktu 43:45 dia sudah PAUD, SD, SMP ah yang agak 43:50 mulai tanggung itu di range SMP dan SMA. 43:56 Itu yang banyak dikhawatirkan. Tapi coba 44:01 bayangkan tuh setelah dia menikah itu 44:03 dia malah justru dia yang memeluk kita 44:06 yang di jadi hubungan atau pada saat 44:10 misalnya nih dia ee baru datang dari 44:14 luar kota 44:17 menjumpai kita misalnya nih ayahnya 44:20 terbaring di rumah sakit pasti anak kita 44:22 akan ee memeluk kita atau mencium kita, 44:27 tapi dalam kewajaran. Nah, itu yang 44:30 kewajaran ee ayah di rumah dapat 44:34 menerjemahkan secara ee jelas sesuai 44:38 dengan kaidah norma yang berlaku di 44:42 masyarakat. Dan untuk itu 44:44 tipsnya sederhana. 44:47 Baca Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 44:52 tentang tindak pid tindak pidana 44:56 kekerasan seksual. A batasannya itu di 44:58 situ sangat jelas. 45:01 Demikian Bunda Nuning. 45:03 Masyaallah. 45:04 Jadi sentuhan tetap perlu sesuai dengan 45:08 kondisinya. Pujian juga ya. 45:10 Ah, pujian sangat penting 45:11 dan itu tidak ada batasan umurnya. Oke, 45:15 ini pertanyaan berikutnya. Kalau tadi 45:17 dari Pak Rudi 45:19 ini 45:21 anak yang temperamental pada saat balita 45:24 itu bagaimana caranya ya agar nanti 45:28 tidak terus-terusan menjadi orang yang 45:30 seperti itu setelah nanti remaja atau 45:33 bahkan dewasa. Oh, Ibu Titi. Iya. 45:37 Baik, Ibu Titi. 45:39 Nih tantangan Bunda. 45:42 Kalau nih saya beri tanda-tanda 45:46 anak-anak yang mengalami kekerasan. 45:51 Pertama tadi yang temperamental. 45:53 He. 45:55 Yang kedua agresif. Yang ketiga suka 46:00 marah. Lalu yang keempat suka 46:03 menyalahkan orang lain. Orang lain. 46:05 Lalu tidak suka mendengar. Itu 46:09 tanda-tanda anak korban kekerasan. 46:15 Tinggal pertanyaannya kapan dia 46:17 mengalami kekerasan? 46:20 Tinggal kita identifikasi. 46:23 Saat di dalam kandungan pelakunya sangat 46:26 sederhana. kita cepat tuh ketahui 46:30 hubungan ayah dengan 46:32 ibu 46:33 ibu atau istrinya. Ah untuk itu cek 46:36 bagaimana tuh apakah ayah sebagai orang 46:40 yang selalu melakukan kekerasan atau 46:43 ibunya. Ah, itu juga perlu didalami. 46:49 Lalu kemudian yang kedua, saat dia sudah 46:52 mulai 46:54 mengancak dari baru lahir, apakah saat 46:59 dia digendong atau di apa diberi ASI 47:02 atau apa? Apakah sudah mengalami 47:05 bentakan atau sudah mengalami apa? 47:09 Banyak hal. 47:10 Lalu apa solusinya kalau kita ketahui 47:16 anak-anak seperti itu? Ini yang perlu 47:20 kita syukuri. Kalau ada anak-anak yang 47:24 marah-marah, 47:26 agresif, lalu kemudian tadi yang seperti 47:29 yang disampaikan oleh Ibu supaya tidak 47:32 berlanjut, 47:36 kita harus menciptakan rasa aman pada 47:40 diri anak kita. Untuk itu kitanya yang 47:44 harus mengoreksi diri dengan cara apa? 47:47 meminta maaf kalau kita telah menyadari 47:53 anak menjadi seperti ini, itu adalah 47:56 bagian dari kontribusi kita. Dulunya 48:00 kita kemungkinan jadi pelaku atau 48:02 korban. Kalau pelakunya dalam kandungan 48:06 misalnya pelakunya ayah 48:09 jadi korban ibu dan anaknya atau 48:14 bisa saja sebaliknya. Ah, untuk itu kita 48:18 meminta maaf kepada anak kita. Lalu yang 48:22 kedua, kalau dia menampilkan diri dia 48:26 seperti itu, kenapa tadi saya bilang 48:30 kita syukuri? Karena dia sedang mencari 48:35 perhatian 48:36 dan dia sesungguhnya sedang minta 48:38 tolong. Minta tolong nih. Aku sebetulnya 48:42 korban kekerasan, tapi wujud aku 48:46 perlihatkan dengan tadi cara 48:48 marah-marah. 48:49 Iya. 48:49 Dengan cara agresif, 48:51 dengan cara menyalah-nyalahkan orang 48:53 lain 48:54 atau 48:56 ni menarik diri. Kalau menarik diri itu 49:00 kemungkinan besar anak tersebut 49:02 mengalami korban kekerasan seksual. 49:05 Astagfirull. itu kita sudah mulai tuh 49:08 coba identifikasi kalau ada anak sudah 49:11 mulai mengurung diri 49:12 kemungkinan kekerasan seksual pada masa 49:16 ini 49:18 dia tidak disentuh oleh orang tetapi 49:22 foto-foto anak kita sudah disedot ke 49:26 luar dan orang yang menyedot itu 49:29 mengancam dia, "Kalau tidak kirim uang, 49:32 awas 49:32 fotomu akan disebar." Nah, itu juga 49:35 kekerasan yang sakitnya luar biasa tuh. 49:38 Dan itu kalau kita ketahui anak sudah 49:41 mulai mengurung diri, itu harus kita 49:44 mulai pastikan. Ah, untuk itu kita harus 49:48 tadi 49:50 meminta maaf, 49:52 menciptakan ruang yang aman, nyaman, dan 49:58 intonasi suara kita harus diperhatikan. 50:03 Tidak boleh sedikit 50:06 ni saya sedang ee atau bukan sedang lagi 50:10 bukunya sudah jadi. Ah nanti akan kita 50:12 bahas di siaran-siarannya kesempatan 50:15 berikut 50:16 kesan berikut 50:17 dalam rangka ee anak aman proses tertib. 50:22 Nah, itu salah satunya untuk mengatasi 50:24 kalau anak-anak yang seperti yang 50:27 disampaikan oleh Ibu. Jadi kita syukuri 50:30 anak kita masih mampu memperlihatkan 50:34 sikap seperti itu. Itu bertanda dia 50:37 adalah korban kekerasan. 50:40 Dan untuk menjawab apa yang dia 50:45 ekspresikan itu, kita harus rangkul dia, 50:49 kita ciptakan rasa aman dan nyaman. Dan 50:52 akhirnya dia mau berbicara dan dia akan 50:56 senang dengan kita. 50:58 Masyaallah. 51:00 Iya, menarik sekali bahasan hari ini dan 51:03 ke depan di acara perlindungan anak kita 51:05 akan lebih banyak bahas dari buku 51:08 seperti yang tadi kita dengar ya. Eh, 51:10 Pak Hamid sebelum kita lanjutkan dengan 51:13 closing statement ini sudah di 51:14 penghujung. Kami ingin sekali kembali 51:17 menginformasikan kepada ikhwan akhwat 51:21 dan dalam hati mari kita bersama-sama 51:23 mendoakan 51:25 ee kondisi ini dari Badan Nasional 51:28 Penanggulangan Bencana BNPB 51:31 itu terakhir berita kemarin hari Minggu. 51:35 korban meninggal dunia bencana 51:38 yang ada di Sumatera Utara, Aceh, dan 51:41 Sumatera Barat sampai ke angka 117 51:46 orang. Sementara 148 51:49 orang masih belum ketemu, masih 51:52 dinyatakan hilang di dalam pencarian tim 51:56 sar ggabungan dan jumlah yang mengungsi 52:00 masyaallah 52:01 berjumlah 242.174 52:06 jiwa. 52:07 Semoga Allah mudahkan segala sesuatunya 52:10 untuk saudara-saudara kita, 52:11 sahabat-sahabat kita yang mengalami 52:13 bencana ini. Dan 52:17 [mendengus] mudah-mudahan 52:19 hal status bencana ini segera berakhir. 52:22 Ya, sekali lagi sekarang kita akan 52:25 dengar closing statement dari Pak Hamid 52:29 4, silakan. 52:30 Baik, terima kasih Bunda. Ayah yang 52:34 belajar, anak yang tumbuh. ini menjadi 52:38 topik yang menarik untuk coba mulai kita 52:43 praktikkan. Ah, untuk mempraktikkannya. 52:47 Ini satu hal yang perlu ayah Anda 52:53 upayakan kalau boleh, 52:56 yaitu apa yang ayahanda pelajari dari 53:01 anak-anak kita hari ini. 53:06 hari ini berarti 53:09 dari dia bangun, 53:12 dia 53:14 membersihkan diri, sarapan, lalu 53:17 kemudian dia ke sekolah sesuai dengan ee 53:21 tingkat atau ee tahapan dari sekolah 53:25 anak kita dari PAUD, SD, SMP, SMA. 53:31 Apalagi kalau hari ini hari pertama 53:33 masuk ke sekolah. 53:34 Iya. 53:35 Kita sebagai ayah mengantar anaknya. Ah, 53:39 itu banyak yang dapat kita lihat dari 53:43 dia mandi saat kita angkat antar. 53:47 Kemungkinan kalau menggunakan sepeda 53:49 motor atau berjalan kaki atau dengan 53:51 kenderaan pasti ada interaksi. Ah, 53:54 interaksi dari anak kita minimal dia 54:00 menceritakan apa yang dialami selamat 54:03 selama libur ee tahun baru. Lalu 54:06 kemudian saat kita melepaskan 54:11 anak kita di pintu gerbang, kita 54:14 otomatis masih lihat mata kita itu masih 54:18 mau melihat tuh dari dia melangkah dia 54:22 ketemu dengan temannya. kemudian dia 54:25 menyambut ee gurunya atau berjumpa 54:28 dengan gurunya. Pasti banyak hal yang 54:32 kita dapatkan. 54:34 Bersyukur kalau kita menemukan hal-hal 54:38 yang positif. Bagaimana kalau 54:40 sebaliknya? Ah, di situlah menjadi modal 54:43 kita untuk kita diskusikan pada sore 54:47 hari menjelang magrib. Kalau ayah yang 54:51 ada di rumah, bagaimana dengan ayah yang 54:54 ada di luar kota? Ah, ayah yang ada di 54:57 luar kota jadwalkan 55:00 bertelepon sekarang WhatsApp 55:04 bisa dalam bentuk teks, dalam bentuk 55:07 suara atau dalam bentuk video. Tinggal 55:11 ada enggak nih kemauan dari para ayah? 55:16 Baik ayah yang masih menyatu di dalam 55:18 rumah atau karena putusan pengadilan, 55:22 pastikan ayah tetaplah ayah untuk 55:26 anak-anak kita. Untuk itu kita harus 55:31 belajar dari mereka dan otomatis kita 55:34 juga belajar untuk anak-anak kita 55:37 sehingga akhirnya pada akhir hayat hidup 55:41 kita nanti akan dimintai 55:43 pertanggungjawaban oleh Allah. sudah 55:46 kamu apakan anakmu? Dan itu yang 55:49 kemudian dengan gagah berani seorang 55:53 ayah mampu menjawab 55:56 apa yang telah diupayakan. Dan itu semua 56:01 tugas ayah hanyalah memberikan kabar 56:04 gembira dan peringatan. 56:08 Tugas Allahlah yang menjadikan anak kita 56:11 menjadi anak yang hebat. Demikian. 56:14 Semoga apa yang kita bagikan informasi 56:18 ini bermanfaat dan kita berharap 56:20 mendapatkan berkah dan rida dari Allah 56:23 dan kita tetap diberikan cahaya yang 56:27 selama ini sudah lembut semakin lembut 56:30 kepada anak-anak kita. Demikian. 56:32 Asalamualaikum warahmatullahi 56:34 wabarakatuh. 56:35 Waalaikumsalam warahmatullah 56:38 wabarakatuh, ikhwan akhwat. 56:41 Mudah-mudahan ya dengan mengenali 56:44 bagaimana emosi anak-anak kita, hubungan 56:48 sosial mereka 56:50 dengan kemudian kita menambah intensitas 56:53 berdialog dengan anak-anak sehingga kita 56:56 kenal karakter mereka 56:58 insyaallah. Ya. Baik, sekali lagi terima 57:01 kasih untuk kebersamaan ini. Billahi 57:03 taufik wal hidayah. Wasalamualaikum 57:05 warahmatullahi wabarakatuh. 57:38 Yeah.