Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:07 Rasul [musik] 0:08 TV 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. 0:17 Assalamualaikum warahmatullahi 0:18 wabarakatuh. Ikhwan akhwat 0:20 rahimakumullah. 0:22 Alhamdulillah wasyukurillah. Di tahun 0:25 baru di minggu 0:28 pertama di bulan Januari ini kita 0:31 bersama-sama lagi di acara 0:34 perlindungan anak 0:36 yang mudah-mudahan akan menambah wawasan 0:40 dan pemahaman kita terkait dengan 0:42 bahasan 0:44 anak. Bukan hanya anak kita sendiri 0:46 tetapi juga anak di negeri tercinta 0:48 Indonesia ini. 0:50 Tidak lupa salam selawat kita lantunkan 0:52 untuk junjungan umat kekasih kita 0:55 Muhammad Rasulullah sallallahu alaihi 0:57 wasallam. Semoga kelak kita dipertemukan 1:00 dengan beliau di saat yang sangat kita 1:02 rindukan di yaumil akhir. 1:05 Narasumber kita Dokter Hamid sudah siap 1:08 untuk hadir ke ruang dengar kita 1:10 semuanya 1:12 bersama Mas Ondih dan juga kita akan 1:15 eh sapa semua yang saat sekarang 1:18 bersama-sama 1:19 Radio Silaturahim. 1:21 Kita sapa 1:23 Dokter Hamid Fadli Lima. Assalamualaikum 1:26 warahmatullahi wabarakatuh. 1:28 Waalaikumsalam. Apa kabar Bunda? 1:30 Alhamdulillah. 1:32 Jadi eh persisnya tadi waktu off air 1:35 kita juga bicara ini lebih 1:38 utama 1:39 para ayah nih ya yang dengerin. Iya, 1:42 insya Allah. 1:43 Karena ikhwan akhwat pilihan bahasan 1:45 kita adalah ayah tumbuh 1:48 anak atau ayah belajar anak yang tumbuh 1:51 begitu ya. Baik, mari kita simak. 1:55 Baik, terima kasih Bunda. 1:57 Bismillahirrahmanirrahim, 1:58 asalamualaikum warahmatullahi 2:01 wabarakatuh. Waalaikumsalam. Pendengar 2:03 Radio Ras FM di mana saja berada, 2:07 alhamdulillah 2:08 kita masih diberi kesempatan oleh Allah 2:11 untuk berbagi informasi. Kali ini 2:15 melanjutkan 2:17 bahasan topik yang sebelumnya terkait 2:19 dengan ayah. 2:22 Ingat enggak Bunda kemarin 2:24 para ayah itu di minta oleh Menteri 2:28 Kependudukan 2:30 untuk menjemput 2:32 raport anak-anak di sekolah. 2:35 Ada yang pro dan ada yang kontra. Yang 2:40 pro dan kontra tidak perlu kita bahas di 2:42 sini, tapi yang 2:44 paling penting yang perlu kita tekankan 2:47 ayah sebagai tulang punggung tidak hanya 2:52 sampai di situ tetapi menjadi ayah yang 2:55 hebat itu menjadi penting. Untuk itu 2:57 kali ini kita akan ambil 3:00 topik bahasan terkait dengan ayah yang 3:03 belajar, anak yang tumbuh. Ini kenapa 3:07 menjadi penting untuk perlu kita 3:10 sama-sama bahas di studio, 3:14 berharap para ayah dan bunda di rumah 3:18 terutama kalau yang mendengarkan para 3:21 ayah, ini menjadi 3:22 eh poin penting. Tapi bagaimana 3:26 yang mendengarkan ini para ibu. Untuk 3:29 itu para ibu perlu men transformasikan 3:33 informasi yang kita sampaikan kali ini 3:37 untuk jadi bahan diskusi di rumah 3:40 sehingga anak-anak kita akan menemukan 3:44 ayah-ayah mereka yang hebat. 3:47 Apa yang penting yang perlu kita ketahui 3:50 bersama-sama? Sebagaimana kita ketahui, 3:54 Indonesia telah meratifikasi konvensi 3:58 hak anak sejak 4:00 tanggal 25 Agustus tahun 1990. 4:07 Presiden Soeharto waktu itu 4:09 menerbitkan 4:11 keputusan presiden nomor 25 4:16 nomor 4:17 36 tahun 1990. 4:23 Ini menjadi penting untuk kita ketahui 4:27 bersama-sama. 4:29 Atas dasar itu 4:31 berbagai peraturan perundangan 4:33 lahir. Berharap undang-undang yang 4:38 terkait dengan orang tua ini perlu 4:41 dikuasai dan perlu dipelajari. 4:45 Tapi yang tidak kalah penting 4:47 sebagaimana kita bahas hari ini terkait 4:49 dengan bagaimana ayah yang belajar. 4:53 Ayah yang belajar 4:54 adalah ayah yang mau 4:58 belajar dari anaknya. 5:01 Ayahanda dan Bunda 5:03 mungkin 5:05 kita 5:06 pernah melewati masa-masa anak. 5:10 Itu pada masanya. Tetapi 5:13 kali ini 5:15 di hadapan kita adalah anak-anak kita 5:17 yang juga memiliki masa dan memiliki 5:21 tantangan yang berbeda dengan kita. 5:23 Untuk itu apa yang perlu kita lakukan? 5:26 Dari anak itu sejak di dalam kandungan 5:30 sampai usia 18 tahun tinggal satu detik 5:35 itu kita 5:36 harusnya ya banyak belajar dari mereka. 5:40 Dari 5:43 mereka kita akan menemukan banyak hal. 5:46 terutama dari berbagai aspek 5:49 perkembangan. 5:51 Terutama, pertama aspek nilai-nilai 5:54 agama. Bagaimana nih? 5:56 Apa yang dapat kita temukan dari anak 5:59 kita? Apakah dia sudah mengenal secara 6:04 utuh 6:06 siapa yang memberi nafas, yang memberi 6:10 ee rezeki pada anak kita? 6:13 Apakah anak kita sudah mengetahuinya? 6:15 Kalau belum, 6:16 ini yang perlu kita tambahkan atau perlu 6:20 kita informasikan. 6:22 Tapi yang tidak kalah penting dari aspek 6:24 moral. 6:25 Apakah anak kita 6:28 setiap dia melakukan segala sesuatu, 6:31 terutama menyangkut ee diri dia untuk 6:36 mengus menguasai suatu benda, baik itu 6:39 apa yang dia makan, apa yang dia minum, 6:43 apa yang dia pakai, apa yang dia gunakan 6:47 untuk menulis, atau apa yang dia gunakan 6:51 untuk bermain, itu selalu minta izin 6:53 kepada kita. 6:55 Kalau 6:56 anak-anak kita masih kita temukan mereka 7:00 selalu minta izin, itu berarti bertanda 7:03 kita sangat mensyukurinya bahwa anak 7:06 kita itu selalu memastikan apa yang dia 7:10 gunakan itu benar-benar ada yang 7:13 mengetahuinya. Terutama 7:15 ayah 7:16 dan bundanya. Coba bayangkan kalau anak 7:20 kita itu tidak lagi 7:22 permisi atau minta izin kepada kita, ada 7:25 sesuatu hal yang 7:28 perlu kita coba cek lagi. Ini 7:32 ayahanda dan bunda 7:35 menjadi poin penting. 7:37 Selanjutnya coba kita 7:40 amati atau perlu kita ee 7:44 diskusi dengan dia 7:46 terkait dengan nilai-nilai Pancasila. 7:50 Nilai-nilai Pancasila ada lima sila. 7:54 Kita coba 7:57 lihat apakah setiap sila yang ada di 8:01 Pancasila itu ada enggak yang dia 8:04 praktikkan. Ayo kita coba amati, kita 8:06 pelajari. 8:08 Dengan kita mempelajari itu berarti kita 8:11 akan mengetahui apakah dia sudah me 8:14 terpapar atau belum. Kalau sudah 8:18 terpapar berarti itu bertanda kita telah 8:21 berupaya atau anak telah mendapatkan 8:24 informasi itu selain dari kita juga dia 8:26 dapat dari orang lain. 8:30 Lalu apalagi nih yang ketiga ini Bunda 8:33 Nuning ya, Ayahanda dan Bunda coba kita 8:37 pelajari. 8:39 Apakah 8:40 anak kita setiap dia melakukan gerakan 8:45 bagaimana motorik halus dan motorik 8:48 kasar dia. 8:51 Apakah kita dapat pastikan 8:54 kalau dia benar-benar anak yang setiap 8:57 hari melakukan exercise atau 9:00 latihan-latihan 9:02 dia dari coba kita 9:04 amati itu dari proses dia lahir terus 9:08 dia nangis 9:10 kemudian dia mulai ee tengkurap, lalu 9:15 dia mulai merangkak, lalu dia berupaya 9:18 untuk jalan, lalu pada saat dia jalan 9:22 apakah benar-benar anak ini dalam ee 9:26 pertumbuhan yang 9:28 sesuai dengan harapan kita atau tidak. 9:31 Nah itu coba kita 9:33 jadi kita belajar benar dari anak kita. 9:37 Dengan kita belajar dari mereka, 9:39 insyaallah 9:41 kita akan segera menemukan banyak hal. 9:44 Dari banyak hal itu, 9:46 kalau yang sudah sesuai dengan kehendak 9:49 kita atau sesuai dengan harapan kita, 9:51 berarti itu sudah merupakan pencapaian 9:55 dari apa yang telah kita upayakan selama 9:58 ini. Tetapi, kalau itu belum, itu 10:02 berarti 10:03 menjadi tantangan yang perlu kita 10:06 upayakan agar anak kita benar-benar 10:10 tumbuh sesuai dengan apa yang kita 10:13 harapkan. 10:14 Atau sesuai dengan usia dan 10:18 kecerdasannya. 10:20 Itu yang ketiga. Nah, yang keempat nih, 10:22 terkait dengan kognitif. 10:25 Apakah anak-anak 10:28 kita 10:29 itu sudah mulai dia dari 10:32 eee 10:33 menghitung, 10:35 dia sudah mampu membedakan benda dari 10:38 yang halus, 10:40 yang kasar, yang berwarna terang, 10:44 berwarna gelap, lalu kemudian dia sudah, 10:48 pokoknya intinya 10:50 dia 10:51 sudah terlihat 10:53 perkembangan eee 10:55 kognitifnya itu benar-benar 10:58 kita sangat eee terkaget-kaget dengan 11:03 apa yang terjadi pada diri dia. 11:06 Ini kita pelajari nih. Jadi, kita 11:08 belajar setiap saat. 11:10 Coba bayangkan 11:12 kalau Ayahanda dan Bunda 11:15 dari setiap detik, setiap menit, setiap 11:18 jam, kita tahu itu perkembangan anak 11:21 kita, insyaallah kita akan merasa eee 11:27 bersyukur 11:29 terhadap apa yang telah kita upayakan. 11:31 Tapi, coba bayangkan kalau kita tidak 11:34 mengetahui 11:37 semua proses itu. Akhirnya kita akan 11:39 kehilangan. 11:41 Dan kehilangan itu menjadi mahal bila 11:45 kita tidak segera 11:48 koreksi atau tidak segera kita sadari. 11:51 Ini menjadi penting. 11:53 Yang kelima, 11:54 ini yang tidak kalah penting Bunda 11:56 Nuning, sehari-hari anak-anak kita itu 12:00 sudah mulai berupaya untuk mengeluarkan 12:04 bunyi-bunyian dari mulutnya atau suara 12:07 dari suara yang belum jelas, kemudian 12:10 menjadi jelas, lalu kemudian membentuk 12:13 huruf, lalu kemudian membentuk ee 12:17 kata, dari kata membentuk kalimat, 12:20 kalimat ini yang kalimat nih, ada 12:22 kalimat yang mudah dipahami, ada kalimat 12:25 yang 12:26 mudah dimengerti, tapi ada juga kalimat 12:30 yang 12:32 kalau kita 12:33 mau dengar itu 12:35 itu 12:35 kita tidak paham apa yang disampaikan 12:38 oleh anak kita. Kita belajar nih. 12:41 Jadi, 12:42 segala sesuatu kita pelajari. 12:45 Lalu kemudian 12:46 anak sudah mulai menggunakan intonasi, 12:49 lalu kemudian sudah mulai menggunakan 12:51 logat, lalu kemudian sudah menyesuaikan 12:54 dengan usia dan kecerdasan dia. Tapi 12:56 yang tidak kalah penting adalah 12:59 bagaimana dia mengeluarkan kata-kata 13:02 yang sangat menyenangkan terutama oleh 13:06 ayah atau oleh orang sekitarnya. 13:09 Begitu juga sebaliknya. 13:11 Ada kata-kata yang seharusnya tidak 13:13 keluar dari mulut anak kita 13:16 atau mulut dari orang dewasa pun itu 13:18 tidak pantas. Nah, itu berarti kita 13:21 sudah mulai coba nih. 13:23 Jadi, ayahanda dan Bunda, 13:26 kita harus belajar dari anak kita. 13:31 Dari hasil pembelajaran itu yang 13:33 kemudian 13:35 ada beberapa hal yang perlu kita tindak 13:38 lanjuti. 13:40 Dengan cara apa? 13:42 Kita perlu belajar lagi untuk anak kita. 13:45 Berarti apa yang perlu kita pelajari 13:48 dari anak dari 13:50 anak kita dan apa yang perlu kita 13:52 pelajari untuk anak kita. 13:54 Dari 13:55 yang ekstrim kanan dan ekstrim kiri itu 13:58 ada hal-hal yang kita dapatkan. 14:01 Terus yang keenam ini 14:03 ini yang tidak kalah penting dan ini 14:06 menjadi modal besar 14:09 bagi anak kita saat dia akan keluar dari 14:12 rumah kita. Yaitu 14:14 bagaimana nih emosi anak kita. 14:18 Bagaimana hubungan sosial anak kita 14:21 dengan ayahnya, dengan bundanya dengan 14:25 kakek, dengan nenek, dengan paman dan 14:30 orang-orang yang ada di rumah dan yang 14:32 tidak kalah penting saat dia 14:35 keluar dari rumah, bagaimana hubungan 14:37 dia dengan teman-temannya. Ini kita coba 14:40 cek nih. 14:41 Kita pelajari. 14:42 Kalau hubungan 14:44 sosial dia yang didukung dengan emosi 14:48 positif dia, insyaallah 14:50 anak kita menjadi anak yang sangat 14:54 diharapkan kan kehadirannya. 14:57 Kalau tidak ada anak kita sepertinya 15:00 teman-temannya itu 15:01 tidak ee nyaman atau ada sesuatu yang 15:05 hilang dari mereka. Untuk itu mereka 15:07 segera cari anak kita. Ah, coba kita 15:10 lihat tuh. 15:11 Kita pelajari. 15:13 Kita belajar dari anak kita. Dari hasil 15:17 belajar ini, ini yang kemudian mulai 15:20 kita identifikasi. 15:23 Pertanyaannya, bagaimana 15:27 cara kita lebih dekat untuk mempelajari 15:30 anak kita secara 15:32 utuh atau sesungguhnya. Nah, itu ada 15:35 yang kedua. Ini yang 15:37 perlu kita ketahui bersama-sama. Perlu 15:41 kita dorong 15:42 pendidikan dua arah. 15:45 Pendidikan yang ideal itu 15:48 adalah berdialog. 15:51 Berdialog dengan siapa? Dengan anak 15:53 kita. 15:54 Sebagaimana kita ketahui, negara ini 15:57 memiliki 15:59 Pancasila 16:00 yang sila keempat itu itu sangat 16:04 ditentukan oleh musyawarah. Musyawarah 16:08 itu lahir dua arah antara yang diajak 16:12 diskusi dan yang 16:14 eh menjadi peserta diskusi. 16:17 Kalau kita sebagai ayah, bagaimana nih 16:20 menjadi 16:22 moderator yang hebat atau menjadi 16:27 orang yang 16:28 mampu 16:30 diajak atau 16:32 diikuti 16:34 oleh anak kita saat berdialog. Apa saja 16:37 yang perlu kita dialogkan? 16:40 Sebagaimana kita ketahui, 16:43 tujuan pendidikan yang ada di konvensi 16:46 anak itu memastikan bagaimana 16:51 anak-anak kita itu memiliki kepribadian. 16:56 Ah, kepribadian inilah yang kemudian 16:59 mulai kita dialogkan dengan anak-anak 17:01 kita. 17:03 Poin penting di pasal 29 konvensi anak 17:07 itu, 17:08 pertama, bagaimana 17:11 kita mendialogkan tentang 17:15 hak-hak 17:17 asasi manusia. 17:19 Sebagaimana kita ketahui, hak asasi 17:21 manusia itu sebetulnya ada empat yang 17:25 paling utama itu adalah 17:28 berpolitik. 17:30 Ah, berpolitik di sini, Bunda Nuning, 17:33 bersuara. 17:36 Kalau seorang ayah 17:38 telah memahami bahwa hak asasi manusia 17:42 yang paling utama itu adalah berpolitik, 17:45 dalam hal ini bersuara, 17:48 kalau 17:49 kita mulai 17:52 mendengarkan suara anak. Dengan cara 17:54 apa? Tadi, berdialog, 17:57 berdiskusi, sebagai se- sebagaimana yang 18:02 dicontohkan 18:03 oleh Nabi Ibrahim bersama putranya 18:08 saat mendiskusikan hal yang paling 18:11 eh krusial yaitu 18:14 harus dikorbankan. 18:16 Atau kita coba lihat di surat Luqman, di 18:20 sana dialog antara si ayah dan anaknya 18:26 mendialogkan banyak hal. 18:29 Sampai ke hal-hal menyangkut 18:31 bagaimana dia akan mempraktikkan 18:36 nilai-nilai agama. Ini menjadi penting 18:38 sekali berdialog. Itu yang perlu kita 18:42 tekankan 18:43 dari proses dialog itu ada proses 18:46 belajar dua arah. 18:49 Kita lanjutkan lagi dari tujuan 18:51 pendidikan yang 18:52 coba didorong oleh konvensi anak itu, 18:56 yaitu bagaimana 18:59 anak menghargai orang tua. 19:04 Itu juga akan terekam melalui proses 19:08 dialog. 19:10 Bagaimana dia memilih kata 19:14 lalu kemudian memilih diksi 19:16 yang 19:18 barang tentu itu semua 19:21 akan tereksprsi 19:23 kalau di rumah anak terbiasa 19:26 didengar suaranya. 19:28 Ini proses juga belajar benar ini. 19:31 Tapi kalau 19:32 tuh ayah sudah ada 19:34 akhirnya anak kita jadi pendiam, jadi 19:38 apa itu berarti ada sesuatu 19:41 perlu segera kita koreksi atau perlu 19:46 kita 19:48 cek lagi bagaimana sikap kita dengan 19:51 anak kita. 19:53 Yang kedua 19:54 bagaimana anak itu sudah mulai 19:57 mengetahui bahwa dia perlu menghargai 20:02 identitas dia dari dialog. 20:05 Coba kita tanya 20:07 adik 20:10 apa yang 20:11 kamu lakukan bila setelah keluar dari 20:15 rumah? Emm. Nah itu dari obrolan itu 20:18 insyaallah dia 20:19 aku selalu 20:22 baik dengan temanku 20:24 aku selalu berbicara dengan mereka, aku 20:27 selalu berbagi sesuatu dengan mereka 20:30 sehingga mereka mau eee 20:34 mau 20:35 diajak untuk bermain. Nah itu kita sudah 20:38 mulai memperkenalkan identitas diri dia 20:42 bahwa 20:45 selain diri dia ada orang di belakangnya 20:49 nah itu 20:50 kemudian 20:51 kita coba mulai cek lagi 20:54 di antara teman-teman 20:56 kamu di luar itu 20:58 pasti berbeda 21:01 suku 21:02 berbeda 21:03 bahasa 21:04 berbeda warna kulit, berbeda ee 21:08 kekayaan, 21:10 juga berbeda 21:12 suku, bangsa. Nah, itu kemudian. Coba 21:15 kita mulai 21:16 dari dialog itu, itu otomatis dari 21:18 proses perkembangan usia anak. Jadi, ada 21:21 tahapan-tahapannya. Tapi, kalau itu 21:24 mulai kita biasakan untuk berdiskusi 21:27 dengan anak kita 21:29 dari setiap tahapan, kalau kita lihat 21:31 itu dari 21:32 dia 21:34 balita, lalu jadi 21:37 usia di bawah 5 tahun, 21:40 kemudian sudah mulai masuk PAUD, lalu 21:43 SD, SMP, SMA, dan itu yang kemudian 21:48 itu terekam rapi 21:51 di dalam ingatan kita dan juga terekam 21:55 rap- rapi dalam ingatan anak kita bahwa 21:59 hubungan ayah 22:00 dan anaknya itu benar-benar terjalin 22:04 dengan ee baik. 22:07 Kita tidak bicara yang 22:09 yang lain lagi ya, Bunda Nanny, tapi ini 22:11 yang kita bicarakan hal-hal yang ideal 22:14 dan harapannya itu terjadi di dalam 22:18 kehidupan sehari-hari kita. 22:20 Karena 22:21 dengan 22:23 cara kita selalu berkomunikasi, 22:26 berdialog, berdiskusi dengan anak kita, 22:29 insyaallah 22:31 ayah itu akan belajar secara optimal. 22:36 Kemudian, 22:38 bagaimana nih? 22:39 Apakah anak kita sudah mulai 22:44 menjalin ee komunikasi dengan orang 22:48 lain? Itu kita perlu pelajari itu. 22:52 Dia otomatis sudah menjalin hubungan 22:55 dengan 22:57 orang-orang yang ada di 22:59 beda 23:01 kelurahan, 23:02 beda kampung 23:05 beda kecamatan 23:07 beda kabupaten, apalagi sekarang Bunda 23:09 Nuning dengan sosmed pasti anak kita tuh 23:14 saya belajar dari anak saya, dia punya 23:16 teman di Brazil, punya teman di Korea, 23:19 punya teman di apa itu dia sudah mulai 23:22 mencoba 23:24 me 23:25 jalin komunikasi dengan 23:28 teman-temannya 23:30 di berbagai eh belahan dunia 23:35 di sana 23:37 mereka banyak belajar, memang awalnya 23:40 dihubungkan oleh bahasa 23:43 nah karena 23:44 anak-anak kita itu sekarang dia tertarik 23:48 apalagi dengan menggunakan berbagai 23:50 aplikasi sekarang kita 23:53 dapat tuh mengecek 23:55 ah 23:56 di sana 23:57 kita akan mengetahui apakah anak kita 24:00 juga mencoba mendalami 24:04 eh perbedaan dari latar eh bangsa-bangsa 24:10 dari Brazil, dari Amerika, dari Jepang, 24:14 dari Afrika 24:16 dari Eropa atau dari Timur Tengah atau 24:21 di negara serumpun dengan kita di ASEAN, 24:24 nah anak-anak kita itu 24:26 kita coba 24:28 kemungkinan 24:29 kita akan terkagum-kagum mendengar 24:33 hasil dialog kita dengan anak-anak kita 24:36 dan itu 24:38 menjadi 24:39 bekal untuk diri mereka, nah bagaimana 24:42 kalau kita temukan anak-anak kita tidak 24:45 memiliki 24:49 hubungan-hubungan atau jaringan-jaringan 24:51 dengan teman-temannya se 24:54 kelurahan 24:56 se kecamatan 24:58 se kabupaten, se 25:00 atau se-Indonesia ya, Bunda Nuning. Atau 25:04 dari beragam pulau, dari Sumatera, dari 25:08 Kalimantan, 25:10 dari Sulawesi, dari Papua atau Nusa 25:15 Tenggara Timur dan Bali. 25:17 Bayangkan tuh, Bunda Nuning, kalau 25:19 anak-anak kita tidak memiliki itu. 25:22 Akhirnya mereka 25:24 eh terke-kaget-kaget. 25:26 Kalau mendengar, kok ada 25:28 oh ada orang dari 25:30 pulau ini ya, nah 25:32 coba. 25:33 Dengan 25:34 demikian, 25:36 kita akhirnya akan menemu kenali anak 25:40 kita secara sesungguhnya. Dan di sanalah 25:44 apa yang perlu kita upayakan. Jangan 25:47 biarkan anak kita 25:50 berjalan 25:51 dengan sendirinya. 25:53 Sesibuk apapun ayah sebagai penopang 25:57 rumah tangga, sebagai tulang punggung 26:00 yang dari pagi sampai malam, 26:03 ada ada juga ya, Bunda Nuning, ada para 26:06 ayah itu harus eh bekerja di luar kota, 26:11 di luar provinsi, di luar pulau, atau 26:14 ada juga yang ada di luar negara. 26:18 Kita memiliki tanggung jawab sebagai 26:22 orang tua. Sebagaimana yang diatur di 26:25 dalam 26:26 eh undang-undang, dalam 26:28 peraturan-peraturan, 26:30 dan yang tidak kalah penting juga ada di 26:33 konvensi hak anak. 26:35 Sebagai standar internasional yang juga 26:38 perlu diketahui oleh setiap orang tua. 26:41 Jadi, tidak ada alasan lagi. 26:45 Tidak ada 26:46 eh 26:47 penolakan lagi. 26:49 Kita harus mempertanggungjawabkan itu. 26:52 Sekali kita memiliki anak, 26:57 itu tidak ada pantangan untuk belajar. 27:01 Dan yang paling utama itu kita belajar 27:04 dari anak kita. 27:06 Dan jangan lupa, kita juga belajar untuk 27:10 anak kita. Apa yang dimaksud belajar 27:13 untuk anak kita itu, Bunda Nuning? He 27:15 em, apa tuh? Kita memperkaya berbagai 27:19 pengetahuan, keterampilan, yang kemudian 27:23 akan menjadi kompetensi kita sebagai 27:25 seorang ayah pada saat anak kita 27:30 mau berdialog dengan kita, itu yang 27:33 kemudian 27:34 kita akan mampu menjawab sesuai dengan 27:38 kemampuan kita. 27:40 Sekarang juga, 27:42 kalau misalnya kita tidak memiliki 27:44 kemampuan, kita 27:46 mampu atau membuat jadwal tertentu, 27:49 misalnya diskusinya akan dilanjutkan 27:51 minggu besok atau besok, dengan catatan 27:55 yang tidak terjawab itu, itu akan dicari 27:58 jawabannya. Sekarang berba- berbagai 28:01 [berdehem] 28:02 teknologi 28:03 lewat AI, juga kita bisa gunakan. Ah, 28:06 itu poin yang kedua. Ah, poin yang 28:09 ketiga ini, Bunda Nuning, yang perlu 28:12 eh para ayah yang hebat untuk coba 28:18 lakukan refleksi 28:22 supaya 28:23 ayah benar-benar mengetahui proses 28:26 tumbuh kembang anak kita. Refleksi yang 28:29 sederhana ini, 28:31 ini 28:33 tidak akan lahir bila tidak ada jalinan 28:37 He em. 28:38 komunikasi yang intens, 28:41 baik yang ada di rumah maupun yang ada 28:45 di luar rumah. Kalau boleh, 28:47 buatkan jadwal. 28:49 Dan 28:50 berharap refleksi yang hebat itu 28:53 dilakukan pada jam-jam menjelang 28:56 maghrib. Nah, untuk itu, coba 29:00 tetapkan agenda itu atau 29:04 juga kadang-kadang 29:05 anak kita kalau sudah terbiasa 29:07 berkomunikasi dengan ayahnya, insyaallah 29:11 dia akan selalu mengajukan berbagai 29:13 pertanyaan. Nah, 29:16 pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh 29:18 anak-anak, 29:20 itu sebetulnya tidak perlu kita siapkan 29:23 jawaban dari kita. He em. 29:27 [mendengus] 29:27 Kita 29:28 balik bertanya kepada dia. 29:31 Kan anak-anak tuh 29:34 banyak yang pertanyaan-pertanyaan 29:36 diajukan kepada kita, 29:38 berharap setiap pertanyaan yang diajukan 29:42 kepada kita sebagai ayah, itu akan 29:45 dijawab oleh ayah. He em. Tidak harus. 29:49 Bagaimana caranya? 29:50 Kita balikkan pertanyaan itu supaya dia 29:54 itu, coba kita lihat. Misalnya dia nih 29:56 nanya nih, "Ayah, kenapa tuh air laut 30:01 biru? Langit tuh biru." Nah, tuh. "Kalau 30:04 gunung kok kenapa hijau, Ayah?" Nah, ini 30:07 pertanyaan yang sederhana yang 30:10 yang 30:12 menguras 30:14 eh kita sebagai orang tua, bila kita 30:17 salah menjawab, itu yang kemudian akan 30:20 menjadi hal yang mengkhawatirkan. 30:24 Untuk itu, kita balik. "Kalau menurut 30:26 kamu, 30:27 kenapa ya eh 30:32 langit itu biru?" He em. 30:35 Coba kebayang, Bunda Noni? 30:37 Dari 30:39 dia mengajukan pertanyaan, lalu 30:41 pertanyaan itu kita balik kepada dia. He 30:44 em, he em. Itu kita akan lihat tuh 30:46 bagaimana raut wajahnya. 30:50 [berdehem] 30:50 Bagaimana dia mulai mencari 30:54 eh apa informasi yang dia ketahui, lalu 30:57 kemudian mulai dia ekspresikan melalui 31:01 mulut dia atau melalui tangan dia. He 31:04 em, he em. Tangan mungkin melalui gambar 31:06 ya, ah itu. 31:08 Dari situ kita sudah dapat mengukur. 31:12 Anak kita itu benar-benar 31:15 dia berupaya untuk mencari eh jawaban. 31:19 Dari jawaban-jawaban dia kemungkinan. 31:23 100% ada benarnya, tapi kemungkinan ada 31:28 yang. 31:29 Yang perlu diluruskan. 31:31 He em. Dengan menggunakan. Ya tidak kita 31:34 tunjukkan referensi, tapi. Ada baiknya 31:37 kalau di sekitar kita ada buku 31:41 ensiklopedia atau. Kayaknya. 31:45 Pertanyaan adik, boleh enggak kita ke 31:48 Gramedia atau ke toko buku atau coba 31:52 lihat buku yang ada di rak itu, ah coba 31:55 ada enggak tuh gambar itu. Dari. Itu 31:58 kita mulai ajak anak untuk belajar atau 32:02 yang simpel sekarang ya. 32:05 Kita gunakan handphone atau gadget. Kita 32:09 ajak itu anak-anak untuk mencari 32:11 informasi. Jadi dari setiap 32:14 pertanyaan-pertanyaan yang diajukan 32:17 kepada kita dari anak kita otomatis itu 32:20 yang kemudian. 32:22 Kita boleh jawab secara langsung tapi 32:25 kalau boleh. 32:26 Kita 32:27 kembalikan kepada anak kita dengan cara 32:30 begitu Bunda Nining. 32:32 Anak itu. 32:34 Berupaya untuk. Eh mencari. 32:39 informasi 32:41 dan berharap informasi yang dia dapat 32:44 itu benar-benar informasi yang sesuai 32:47 dengan apa 32:49 yang kita harapkan atau informasi yang 32:52 sesuai dengan apa yang dipahami oleh 32:56 orang tua, oleh keluarga, oleh 32:59 masyarakat. Dan di sinilah proses 33:02 pembimbingan kita tuh, Bunda Nunik. 33:05 Sehingga akhirnya anak itu benar-benar 33:09 tumbuh. Jadi, dari ayah yang mau belajar 33:12 dari anak kita He eh. akhirnya anak akan 33:16 tumbuh. Dan ini menjadi proses yang 33:20 perlu mendapatkan eh dukungan 33:23 kesungguhan dari kita semua, terutama 33:27 para ayah yang hebat. Ini mungkin yang 33:31 kita dapat eh berikan informasi dan 33:35 berharap 33:37 ke depan kita akan menemukan ayah-ayah 33:40 yang hebat yang selalu belajar dari 33:43 anaknya dan dari proses belajar itu 33:48 para ayah akan mampu mendampingi, 33:52 membimbing proses tumbuh kembang anak. 33:55 Salah satu metode dari Rasulullah adalah 33:59 belajar dan mengajar. Itu metode yang 34:03 pertama, Bunda Nunik. He eh. 34:05 Dari pro-proses belajar 34:09 Rasulullah belajar dari para sahabat. 34:11 Iya. Dari anak-anak yang ada di sekitar 34:14 dia. Dari proses belajar itu He eh. 34:16 beliau mengajarkan. Kalau Rasulullah 34:19 referensinya langsung dari Allah 34:22 melalui 34:24 eh 34:25 wahyu yang sudah terekam di dalam 34:29 Quran dan hadis. Nah, bagaimana dengan 34:32 para ayah 34:34 dari anak kita akan banyak belajar 34:37 tentang dunia mereka yang perlu 34:40 mendapatkan pembimbingan, pendampingan 34:43 dan otomatis perlu kita perkuat 34:47 referensi kita. Demikian semoga ada yang 34:50 mau bertanya. Iya. 34:52 Masya Allah ikhwan akhwat ayah belajar 34:57 dari anak karena tantangan anak zaman 35:00 sekarang itu berbeda dengan ketika ayah 35:03 masih muda atau menjadi anak dulu. Kita 35:06 boleh langsung ke pertanyaannya Pak 35:08 Hamid ya. Ini Ibu Eni bertanya bagaimana 35:13 caranya memvalidasi perasaan anak agar 35:17 mereka merasa bahwa kita memahami 35:20 mereka. 35:21 Terima kasih. Baik, wah ini menarik 35:25 pertanyaan dari Bunda. Sebetulnya kalau 35:29 Ibu 35:30 atau ayah terbiasa berdiskusi dengan 35:33 anak kita dan keterbiasaan itu menjadi 35:39 eh 35:41 regulasi atau teratur di kehidupan 35:45 sehari-hari anak kita, itu kita akan 35:48 menemukan 35:49 apa yang kita harapkan dari anak kita 35:52 dan kita akan mampu memvalidasi 35:57 dari proses-proses tinggal kita cek 36:00 bagaimana menurut kamu 36:02 bagaimana menurutmu? Coba apa yang kamu 36:06 pikirkan? 36:07 Bayangkan Bunda Nuna. He em. 36:10 Sekali anak itu mengekspresikan 36:14 apa yang 36:15 dia pikirkan 36:16 He em. itu lahir bukan dari hari itu 36:20 saja 36:21 tetapi itu melewati tiga proses. Pertama 36:25 apa yang dia baca. Jadi, baca ini bukan 36:29 hanya baca buku, tetapi baca semua hal. 36:33 Membaca hubungan dia selama ini dengan 36:36 ayah, 36:37 membaca hubungan 36:39 dengan ibunya, 36:41 dengan orang serumahnya. Dia membaca 36:44 tuh. He em. 36:45 Lalu kemudian, 36:46 itu juga sangat dipengaruhi oleh 36:49 pengalaman. 36:51 Pengalaman itu bukan pengalaman hanya 36:53 satu hari. He em. Pengalaman itu dari 36:56 anak di dalam kandungan sampai saat anak 37:00 itu berdiskusi dengan kita, itu juga 37:03 sangat menentukan apa yang dia 37:06 ungkapkan. He em. Tapi yang tidak kalah 37:08 penting, yang ketiga ini, yaitu apa yang 37:13 dirasakan oleh anak kita saat itu. 37:17 Mungkin pada saat proses validasi di 37:20 sore hari, 37:23 anak mengeluarkan pernyataan itu di pagi 37:26 hari. Iya. Ah, kita coba lihat. Mungkin 37:30 di pagi hari, dia tidur 37:34 telat, 37:35 bangun telat, tidak sarapan. Saat kita 37:38 ajak bicara, yang akan keluar dari mulut 37:42 dia, 37:43 intonasinya akan berbeda dengan anak 37:46 yang tidur tepat waktu, He em. bangun 37:49 tepat waktu, dan dia sarapan. 37:52 Dan pada saat kita validasi sore hari, 37:55 kok berbeda? Kenapa nih? Tadinya kok 37:57 anak ini berbicara kok agak 38:00 tidak menyenangkan. Tapi pada sore hari, 38:02 ah 38:03 saat itu perasaannya sudah dalam kondisi 38:07 nyaman. Ah, untuk itu 38:09 bagi ayahanda dan bunda, bila kita 38:12 menemukan ada anak-anak yang menurut 38:15 kita sepertinya nih He em. 38:18 ada sesuatu yang salah. Ah, jangan 38:21 segera Disalahin 38:24 tapi 38:24 kita harus pelajari nih. Kemungkinan 38:27 banyak faktor yang mempengaruhi dalam 38:31 tiga kondisi situasi yang tadi berproses 38:33 itu. Dari apa yang dia pelajari, apa 38:36 yang dia alami, dan apa yang dia 38:39 rasakan. 38:40 Dari proses itu akhirnya kita akan 38:42 semakin paham dan 38:45 kita 38:47 semakin memahami dan otomatis kita akan 38:51 mafhum dan memahami kondisi anak kita. 38:54 Sehingga pada saat kita melakukan 38:55 validasi, itu akan lebih mudah. 38:59 Dan 39:01 ibu yang hebat 39:02 atau ayah yang hebat saat memvalidasi 39:05 tidak melakukan penghukuman yang 39:10 tidak sepantasnya. 39:12 Demikian, Bunda Nunung. 39:14 Baik. Iya. 39:16 Mudah-mudahan kita bisa mempraktikkannya 39:19 ya terkait dengan pemahaman. Anak merasa 39:22 dipahami itu gampang-gampang susah. Nah, 39:24 ini pertanyaan berikutnya nih dari Pak 39:26 Rudi. 39:28 Ehm. 39:30 Sampai usia berapa ya kita menunjukkan 39:32 kasih sayang secara fisik berupa pelukan 39:35 ataupun ya pujian. 39:38 Sampai umur berapa diperlukan? Karena 39:42 kalau 39:43 saya 39:44 kurang yakin ya apakah kalau sudah 39:46 remaja enggak apa-apa juga tuh dipeluk. 39:49 Iya. Silakan. 39:51 Tergantung 39:54 bagaimana kita memandang. 39:56 Setiap anak itu sangat membutuhkan 39:59 sentuhan. 40:02 Sentuhan 40:03 yang kemudian 40:05 hubungan ayah 40:07 dan anak. 40:09 Saya punya anak remaja saat 40:12 dia bersekolah di Jogja saat saya jemput 40:16 di 40:18 stasiun kereta atau di bandara 40:20 itu otomatis kita peluk 40:23 itu 40:25 ungkapan yang 40:26 ungkapan ee 40:28 rasa ee kangen yang tinggi 40:31 tapi jangan diterjemahkan dengan hal 40:33 yang lain ah jadi jangan memasukkan 40:37 sampai anak itu sudah jadi nenek saja 40:39 itu 40:41 kita perlu melakukan ee apa hal yang 40:46 menurut kita yang pantas tapi kalau di 40:49 luar itu yang kemudian itu yang tidak ee 40:54 layak untuk kita lakukan jadi kepantasan 40:57 itu sangat ditentukan oleh apa yang 41:00 dipersepsikan oleh masyarakat 41:04 lalu kemudian 41:05 oleh diri kita dan itu yang kemudian 41:08 kita harus jaga jangan sampai 41:11 memunculkan fitnah 41:13 ah itu 41:15 di setiap saat saya punya pengalaman 41:18 bersama dengan 41:20 anak dan teman-teman anak saya di 41:22 komplek ini 41:24 saya tidak melakukan sentuhan tapi hanya 41:27 menjadi pengawal saat anak-anak main di 41:32 ee taman di komplek tetangga kita jalan 41:36 untuk ke sana 41:37 itu coba saya 41:39 karena mendalami tentang 41:42 apa yang disebut dengan 41:45 ee orang yang berperilaku menyimpang 41:49 itu 41:50 kita lihat tuh mata dari orang-orang 41:53 yang kami lewati itu tertuju kepada 41:56 kami yang sedang mengawal anak-anak 41:59 ah bagaimana itu supaya tidak ada 42:03 memunculkan ee 42:06 anggapan itu kita coba cari pendamping 42:10 kalau boleh ajak dua ayah itu mengawal 42:14 tuh anak-anak kita. Sehingga 42:16 yang akan terjadi bahwa uh mereka sedang 42:20 mendampingi anak kita. 42:22 Anak-anak, he Baik. 42:24 Karena 42:25 kalau kita lihatnya ada orang dewasa kok 42:27 akrab dengan anak-anak itu kemungkinan 42:31 ada dua tuh. He he. Pedofil atau apa 42:33 nih? [tertawa] 42:34 Jadi untuk itu eh para ayah dan para 42:39 eh bunda 42:41 kita perlu mencoba 42:44 mengupayakan 42:45 memahamkan diri kita, menjalin 42:48 sentuhan-sentuhan itu di sentuhan yang 42:51 tertentu. Iya. Yang 42:54 sepantasnya dan jangan sampai 42:56 memunculkan fitnah. 42:59 Masya Allah. Yang dapat mengekspresikan 43:02 atau yang dapat menjelaskan ya diri 43:04 kita. Sekali kita melakukan hal yang 43:08 negatif 43:10 itu otomatis memunculkan fitnah. He he. 43:13 Seberapapun 43:15 kita menjelaskan, orang tetap tidak akan 43:18 menerima. Ah bagaimana seperti 43:20 kekhawatiran Bapak tadi 43:22 kita lakukan sentuhan 43:25 seperti misalnya nih, coba 43:27 Tepukan di pundak. 43:28 Eh 43:29 ketemu dengan anak kita yang baru pulang 43:33 dari merantau. He he. 43:38 Atau kita tuh eh 43:41 itu sebetulnya tidak ada batas usia. 43:43 Waktu masih bayi, waktu dia udah PAUD, 43:47 SD, SMP, ah yang yang agak mulai 43:52 tanggung itu di range SMP dan SMA. Itu 43:57 yang banyak di khawatirkan. Tapi coba 44:00 bayangkan tuh, setelah dia menikah itu 44:03 dia malah justru dia yang memeluk kita. 44:06 Yang di jadi hubungan atau pada saat 44:10 misalnya nih dia 44:12 baru datang dari luar kota 44:16 menjumpai kita, misalnya nih ayahnya 44:20 terbaring di rumah sakit. Pasti anak 44:22 kita akan memeluk kita atau mencium 44:25 kita, tapi dalam kewajaran. 44:29 Nah, itu yang kewajaran 44:31 ayah di rumah dapat menerjemahkan secara 44:36 jelas 44:37 sesuai dengan 44:39 kaidah, norma yang berlaku di 44:42 masyarakat. Dan untuk itu 44:44 tipsnya sederhana. 44:47 Baca Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 44:52 tentang tindak pidak 44:55 tindak pidana kekerasan seksual. Ah, 44:57 batasannya itu di situ sangat jelas. 45:01 Demikian, Bunda Nuning. Masya Allah. 45:04 Jadi, sentuhan tetap perlu sesuai dengan 45:08 kondisinya. Pujian juga ya. 45:10 Ah, pujian sangat penting. Dan itu tidak 45:13 ada batasan umurnya. Oke, ini pertanyaan 45:16 berikutnya kalau tadi dari Pak Rudi. 45:19 Ini 45:21 anak yang temperamental pada saat balita 45:24 itu bagaimana caranya ya agar nanti 45:28 tidak terus-terusan menjadi orang yang 45:30 seperti itu setelah nanti remaja atau 45:33 bahkan dewasa. 45:34 Oh, Ibu Titi. Iya. 45:37 Baik, Ibu Titi. 45:39 Nih, tantangan, Bunda. Kalau nih, saya 45:44 beri 45:45 tanda-tanda anak-anak yang mengalami 45:48 kekerasan. 45:51 Pertama tadi yang temperamental. He em. 45:54 Yang kedua 45:56 agresif. 45:58 Yang ketiga 45:59 suka marah. 46:01 Lalu yang keempat suka menyalahkan orang 46:04 lain. 46:05 Lalu tidak suka mendengar. 46:08 Itu tanda-tanda anak korban kekerasan. 46:12 Heeh. 46:14 Tinggal pertanyaannya, kapan dia 46:17 mengalami kekerasan? 46:20 Tinggal kita identifikasi. 46:23 Saat di dalam kandungan, 46:25 pelakunya sangat sederhana. 46:27 Kita dapat cepat tuh ketahui. 46:30 Ayah. 46:30 Hubungan ayah dengan ibu. 46:33 Ibu atau istrinya. Ah, untuk itu dicek. 46:36 Bagaimana tuh? Apakah ayah sebagai orang 46:40 yang selalu melakukan kekerasan atau 46:43 ibunya? Ah, itu juga 46:46 perlu didalami. 46:49 Lalu kemudian yang kedua, 46:51 saat dia sudah mulai 46:53 menginjak dari 46:56 baru lahir, 46:58 apakah 46:59 saat dia digendong atau di apa, diberi 47:02 ASI atau apa? 47:03 Apakah sudah mengalami bentakan atau 47:07 sudah mengalami apa? Banyak hal. 47:10 Lalu apa solusinya 47:13 kalau 47:14 kita ketahui anak-anak seperti itu? 47:18 Ah, ini yang perlu 47:20 kita 47:21 syukuri. 47:22 Kalau ada anak-anak yang marah-marah, 47:26 agresif, lalu kemudian tadi yang seperti 47:29 yang disampaikan oleh ibu, supaya tidak 47:32 berlanjut, 47:35 kita harus menciptakan rasa aman pada 47:40 diri anak kita. 47:42 Untuk itu, kitanya yang harus mengoreksi 47:44 diri. 47:45 Dengan cara apa? 47:47 Meminta maaf 47:49 kalau kita telah menyadari 47:52 anak menjadi seperti ini, itu adalah 47:56 bagian dari kontribusi kita. 47:59 Dulunya kita kemungkinan jadi pelaku 48:02 atau korban. 48:03 Kalau 48:05 pelakunya dalam kandungan misalnya, 48:07 pelakunya ayah 48:09 jadi korban ibu dan anaknya. 48:12 Atau 48:14 bisa saja sebaliknya. Ah, untuk itu 48:17 kita 48:18 meminta maaf kepada anak kita. Lalu yang 48:22 kedua 48:23 kalau dia me menampilkan diri dia 48:26 seperti itu 48:28 kenapa tadi saya bilang kita syukuri? 48:31 Karena dia sedang mencari perhatian. 48:36 Mmm. Dan dia sesungguhnya sedang minta 48:38 tolong. Minta tolong nih aku sebetulnya 48:41 korban kekerasan, tapi wujud 48:45 aku perlihatkan dengan tadi cara 48:48 marah-marah. 48:48 Ah, iya. Dengan cara agresif, dengan 48:51 cara menyalah-nyalahkan orang lain. Atau 48:56 nih 48:57 menarik diri. Kalau menarik diri itu itu 49:00 kemungkinan besar anak tersebut 49:02 mengalami korban kekerasan seksual. 49:05 Astagfirullah. 49:06 Itu kita sudah mulai tuh coba 49:08 identifikasi. Kalau ada anak sudah mulai 49:11 mengurung diri kemungkinan kekerasan 49:14 seksual 49:15 pada masa ini 49:18 dia tidak disentuh oleh orang 49:21 tetapi foto-foto anak kita sudah disedot 49:25 ke luar dan orang yang menyedot itu 49:28 mengancam dia kalau tidak kirim uang 49:32 Awas. Fotomu akan disebar. Nah, itu juga 49:35 kekerasan yang 49:36 sakitnya luar biasa tuh. Dan itu kalau 49:39 kita ketahui anak sudah mulai 49:42 mengurung diri, itu harus kita 49:44 mulai pastikan. Ah, untuk itu kita harus 49:47 tadi 49:50 meminta maaf 49:52 menciptakan ruang yang aman, 49:56 nyaman, 49:57 dan 49:58 intonasi suara kita harus diperhatikan. 50:03 Ah, tidak boleh sedikit 50:06 Nih, saya sedang eh atau bukan sedang 50:09 lagi, bukunya sudah jadi. Ah, nanti akan 50:12 kita bahas di siaran-siaran ya, 50:15 kesempatan berikut 50:16 dalam rangka eh 50:19 anak aman, proses tertib. Itu salah 50:22 satunya untuk mengatasi kalau anak-anak 50:25 yang seperti yang disampaikan oleh Ibu. 50:28 Jadi, kita syukuri anak kita masih mampu 50:32 memperlihatkan 50:34 sikap seperti itu, itu pertanda dia 50:37 adalah korban kekerasan 50:40 dan untuk menjawab 50:43 apa yang 50:44 dia ekspresikan itu, kita harus rangkul 50:48 dia, kita ciptakan rasa aman dan nyaman 50:51 dan akhirnya dia mau berbicara dan dia 50:55 akan senang dengan kita. 50:57 Masya Allah. 51:00 Iya. Menarik sekali bahasan hari ini dan 51:02 ke depan di acara perlindungan anak kita 51:05 akan lebih banyak bahas dari buku 51:08 seperti yang tadi kita dengar ya. Eh, 51:10 Pak Hamid sebelum kita lanjutkan dengan 51:13 closing statement, ini sudah di 51:14 penghujung. Kami ingin sekali kembali 51:17 menginformasikan kepada 51:20 ikhwan akhwat dan dalam hati mari kita 51:22 bersama-sama mendoakan 51:25 eh kondisi ini dari Badan Nasional 51:28 Penanggulangan Bencana, BNPB, 51:31 itu terakhir berita kemarin hari Minggu, 51:34 korban meninggal dunia bencana 51:38 yang ada di Sumatera Utara, Aceh dan 51:40 Sumatera Barat sampai ke angka 1.177 51:46 orang. 51:47 Sementara 148 51:49 orang masih belum ketemu, masih 51:52 dinyatakan hilang 51:54 di dalam pencarian tim SAR gabungan. 51:57 Dan jumlah yang mengungsi, masya Allah 52:01 berjumlah 242.174 52:06 jiwa. 52:07 Semoga Allah mudahkan segala sesuatunya 52:10 untuk saudara-saudara kita, 52:11 sahabat-sahabat kita yang mengalami 52:13 bencana ini. 52:15 Dan 52:17 [mendengus] 52:17 mudah-mudahan 52:19 eh 52:20 status bencana ini segera berakhir ya. 52:23 Sekali lagi 52:24 sekarang kita akan dengar closing 52:26 statement dari Pak Hamid 52:28 Fattilima, silakan. Baik, terima kasih 52:31 Bunda. 52:33 Ayah yang belajar 52:35 anak yang tumbuh, ini menjadi 52:38 topik yang menarik untuk coba mulai kita 52:43 praktikkan. 52:44 Ah, untuk mempraktikkannya 52:47 ini satu 52:49 hal yang perlu Ayahanda 52:53 upayakan. 52:54 Kalau boleh 52:56 yaitu apa yang Ayahanda pelajari dari 53:01 anak-anak kita hari ini. 53:06 Hari ini 53:07 berarti 53:09 dari dia 53:10 bangun 53:12 dia 53:14 membersihkan diri, sarapan, lalu 53:17 kemudian dia ke sekolah 53:20 sesuai dengan eh tingkat 53:22 atau eh tahapan dari sekolah anak kita. 53:26 Dari PAUD 53:27 SD, SMP 53:29 SMA. 53:31 Apalagi kalau hari ini hari pertama 53:33 masuk ke sekolah Iya. kita sebagai Ayah 53:36 mengantar anaknya. Ah, itu banyak yang 53:40 dapat kita lihat dari 53:43 dia mandi saat kita angkat antar 53:47 kemungkinan kalau menggunakan sepeda 53:49 motor atau berjalan kaki atau dengan 53:51 kendaraan 53:52 pasti ada interaksi ah interaksi dari 53:56 anak kita 53:58 minimal 53:59 dia 54:00 menceritakan apa yang dialami selamat 54:03 selama libur ah tahun baru 54:06 lalu kemudian 54:07 saat kita melepaskan 54:11 anak kita di pintu gerbang 54:14 kita otomatis masih lihat mata kita itu 54:17 masih mau melihat tuh dari dia melangkah 54:21 dia ketemu dengan temannya kemudian dia 54:25 menyambut ah gurunya atau berjumpa 54:28 dengan gurunya pasti banyak hal yang 54:31 kita dapatkan 54:34 bersyukur 54:35 kalau kita menemukan 54:37 hal-hal yang positif bagaimana kalau 54:40 sebaliknya ah di situlah menjadi modal 54:43 kita untuk kita diskusikan pada sore 54:47 hari menjelang maghrib kalau ayah yang 54:51 ada di rumah bagaimana dengan ayah yang 54:54 ada di luar kota ah 54:56 ayah yang ada di luar kota 54:58 jadwalkan 55:00 bertelepon sekarang WhatsApp 55:04 bisa dalam bentuk teks dalam bentuk 55:07 suara atau dalam bentuk video 55:10 tinggal 55:11 ada enggak nih 55:12 kemauan dari para ayah 55:16 baik ayah yang masih menyatu di dalam 55:18 rumah 55:19 atau karena putusan pengadilan pastikan 55:23 ayah tetaplah ayah untuk anak-anak kita 55:27 untuk itu 55:29 kita harus belajar dari mereka dan 55:33 otomatis kita juga belajar untuk 55:36 anak-anak kita. Sehingga akhirnya pada 55:40 akhir hayat hidup kita nanti akan 55:42 dimintai pertanggungjawaban oleh Allah 55:45 "Sudah kamu apakan anakmu?" Dan itu yang 55:49 kemudian dengan gagah berani seorang 55:53 ayah mampu menjawab 55:55 apa yang telah diupayakan. Dan itu semua 56:01 tugas ayah hanyalah memberikan kabar 56:04 gembira dan peringatan. 56:08 Tugas Allahlah yang menjadikan anak kita 56:11 menjadi anak yang hebat. Demikian, 56:14 semoga apa yang kita 56:16 bagikan informasi ini bermanfaat dan 56:19 kita berharap mendapatkan berkah dan 56:21 rida dari Allah 56:23 dan kita tetap diberikan cahaya yang 56:27 selama ini sudah lembut, semakin lembut 56:30 kepada anak-anak kita. Demikian, 56:32 asalamualaikum warahmatullahi 56:34 wabarakatuh. 56:35 Waalaikumsalam warahmatullahi 56:38 wabarakatuh. Ikhwan akhwat 56:41 mudah-mudahan ya dengan mengenali 56:44 bagaimana emosi anak-anak kita, hubungan 56:48 sosial mereka 56:50 dengan kemudian kita menambah intensitas 56:53 berdialog dengan anak-anak sehingga kita 56:56 kenal karakter mereka 56:58 insyaallah ya. 57:00 Baik, sekali lagi terima kasih untuk 57:01 kebersamaan ini. Billahi taufik wal 57:03 hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi 57:05 wabarakatuh. 57:38 Ya.