Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:02 Assalamualaikum warahmatullahi 0:04 wabarakatuh. 0:06 Ikhwan akhwat rahimakumullah. 0:08 Syukur alhamdulillah kita dikaruniai 0:10 kesempatan untuk berada kembali di 0:12 tausiah pagi. 0:13 Yang mudah-mudahan akan membuat kita 0:16 semakin dekat dengan Ilahi Rabbi. 0:19 Dan 0:21 Indonesia memang tengah berduka, Ibu 0:23 Pertiwi dalam 0:26 renungan yang mudah-mudahan membuat kita 0:29 juga semakin sadar. Lewat lagu tadi kita 0:32 semua mudah-mudahan 0:34 mendoakan yang terbaik untuk bangsa ini, 0:37 untuk negeri ini karena musibah 0:40 terjadi, terjadi dan terjadi lagi. Dan 0:43 untuk pagi ini 0:46 Ustaz Abul Hidayat Seroji sudah hadir ke 0:48 ruangan kita semuanya. 0:50 Mudah-mudahan juga akan melengkapi bekal 0:53 kita di dalam melangkah di bumi Allah 0:55 yang sangat luas dan indah ini. Tidak 0:58 lupa salam selawat kita sampaikan kepada 1:01 kekasih kita, kepada junjungan kita 1:03 penghulu umat Muhammad Rasulullah 1:06 sallallahu alaihi wasallam beserta 1:07 dengan keluarga dan sahabatnya. 1:10 Insya Allah ya kita semua dipertemukan 1:12 di saat yang sangat-sangat kita rindukan 1:14 kelak. 1:16 Dan 1:17 Ustaz Abul sudah hadir siap untuk kita, 1:19 kita sapa beliau. Assalamualaikum 1:21 warahmatullahi wabarakatuh. 1:22 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:24 wabarakatuh. 1:25 Sehat Ustaz? 1:25 Alhamdulillah. 1:26 Alhamdulillah. Dan 1:29 kalau 1:31 minggu yang lalu kita bicara soal 1:33 bagaimana menghitung diri 1:36 lanjutannya tentu akan sangat melengkapi 1:38 apa yang kami butuhkan, yang kami 1:40 inginkan, rindukan ya Ustaz ya. 1:41 Insya Allah. 1:42 Baik, tidak sabar kita simak saja. Mari 1:45 kita simak dengan telinga jiwa kita apa 1:48 yang akan dipaparkan oleh Ustaz Abul 1:51 Hidayat Seroji. Monggo Ustaz. 1:54 Assalamualaikum warahmatullahi 1:56 wabarakatuh. 1:58 Bismillahi alhamdulillah. 2:01 Was salatu was salamu ala Rasulillah wa 2:03 ala alihi 2:05 wa sahbihi wa man tabiahum bi ihsanin 2:08 ila yaumil qiyamah. 2:10 Maa syaa Allahu kaana wa ma lam yasya 2:12 lam yakun. 2:14 La haula wala quwwata illa billah amma 2:16 ba'd. 2:19 Tentu saja ucapan yang 2:21 terbaik 2:23 atas segala nikmatnya dalam ucapan 2:25 alhamdulillah, segala puji bagi Allah 2:28 yang terus-menerus dengan Rahman dan 2:31 Rahim-Nya, kasih sayangnya kepada kita 2:34 dicukupkan segala keperluan hidup kita 2:37 dan nikmat-nikmat lain yang tidak 2:39 terhingga 2:41 sampai hari ini. 2:42 Mudah-mudahan kita bisa menjadi hamba 2:44 Allah yang selalu bersyukur kepada-Nya 2:47 memperhatikan dan mentaati titah dan 2:49 perintah-Nya, kemudian kita menghindari, 2:52 meninggalkan apa yang memang dicegah dan 2:55 dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 2:57 Sebelum kita bicara 3:00 banyak hal 3:02 kita doakan pada 3:05 saudara-saudara kita yang terkena 3:06 bencana 3:08 mudah-mudahan 3:10 bencana ini atau musibah ini menjadi 3:14 kafarat bagi seluruh dosa-dosanya, 3:16 menggugurkan segala dosanya 3:18 dan dimasukkan dalam kategori 3:20 orang-orang yang mati syahid karena 3:22 tenggelam di 3:24 ee laut 3:26 insya 3:30 Al Fatihah. 3:31 A'uzubillahiminasyaitanirrajim. 3:33 Bismillahirrahmanirrahim. 3:35 Alhamdulillahirabbil alamin. 3:37 Arrahmanirrahim. Maliki yaumiddin. 3:41 Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. 3:43 Ihdinash shiratal mustaqim. 3:45 Shiratalladzina an'amta alaihim. 3:47 Ghairil maghdubi alaihim walad dhallin. 3:50 Amin. 3:51 Amin ya rabbal alamin. Jazakumullah 3:53 khair atas doanya, mudah-mudahan dikabul 3:55 oleh Allah subhanahu wa taala. 3:58 Muqaddimah tadi di awali iringan lagu 4:04 Ebiet G. Ade. 4:06 Berita untuk kawan, kalau enggak salah 4:08 begitu judulnya. 4:11 Ada satu 4:14 pertanyaan yang mengusik kita, mengapa 4:17 di tanahku terjadi bencana. 4:21 Ini satu pertanyaan yang menggelitik 4:23 jiwa kita. 4:25 Kemudian pada syair-syair lainnya juga 4:27 disebut ke sana. 4:30 Mungkin Tuhan 4:31 mulai bosan melihat tingkah laku 4:34 yang selalu salah dan bangga dengan 4:38 dosa-dosa. 4:39 Saya kira kayaknya benar ya. 4:43 Artinya kalau Allah bosan sih tidak, 4:45 tapi ini kan bahasa 4:47 kiasan ya. 4:48 Berarti memang saking seringnya 4:51 kita berbuat salah 4:54 bertingkah 4:56 dan lebih dari itu bangga dengan 4:58 dosa-dosa, nauzubillah min zalik. 5:00 Sebab Allah itu Maha Pengasih, Maha 5:02 Penyayang. 5:04 Tidak pernah Allah itu menzalimi 5:08 hambanya. 5:09 Itu perlu dicatat. 5:11 Ar-Rahman Ar-Rahim sehari semalam kita 5:14 sebut berapa kali? Minimal 17 kali. 5:17 Ar-Rahman Ar-Rahim, 5:19 bismillahirrahmanirrahim. 5:21 Terus setiap hari kita baca. 5:23 Karena memang Allah itu Maha Pengasih 5:25 lagi Maha Penyayang. 5:27 Kasih sayang Allah itu jauh melampaui 5:29 daripada kasih sayang seorang ibu. 5:31 Padahal kasih seorang ibu itu tiada 5:34 tiada banding. 5:36 Bagaikan sang surya 5:38 menyinari dunia. 5:40 Ya, tak harap kemba apa, hanya memberi, 5:43 tak harap kembali. 5:45 Allah jauh lebih dari itu karena kasih 5:47 sayang itu bersumber dari Allah. 5:50 Kasih sayang yang dimiliki ibu pada 5:51 anak-anaknya 5:53 yang tidak 5:54 terhitung, tidak ada tara bandingannya, 5:57 itu baru percikan sedikit daripada kasih 5:59 sayang Allah. 6:02 Jadi mengapa di tanahku terjadi bencana? 6:04 Nah, ini pertanyaan yang harus kita 6:06 tanyakan. 6:08 Dalam perjalanan, kalau Ebit mengatakan 6:11 apa perjalanan? Perjalanan ini, saya 6:14 juga 6:15 berjalan dari kemarin bulan-bulan ini, 2 6:17 bulan ini. 6:19 Kami pergi ke Lombok, di sana kami 6:21 keliling melihat, masya Allah. 6:24 Banyak pertanyaan-pertanyaan, mengapa 6:26 di tanahku terjadi bencana? 6:29 Kemudian dari sana 6:31 saya pergi juga ke Palu 6:33 di daerah yang tanahnya seperti 6:35 di-blender, ada 4 tempat. 6:38 Di Sibalaya, Sibalaya. 6:41 Itu ada ibu-ibu yang cerita pada saya, 6:44 bagaimana dia selamat dari gulungan 6:47 eh tanah yang bergulung-gulung. 6:50 Kemudian rumahnya tenggelam, kebunnya 6:52 sudah jalan sekian ratus meter. 6:55 Alhamdulillah 6:56 bis, masih keluarga itu masih bisa 6:58 selamat. 7:00 Kemudian di 7:02 Te, Te, Pe, Pe Tobo, Petobo. 7:06 Itu lebih dahsyat lagi. 7:09 Mungkin ada berapa kilo, itu 7:11 kampung itu habis dan tenggelam ditelan 7:14 bumi. 7:16 Kemudian di Jono 7:20 Saya masih melihat bagaimana itu ada 7:22 gereja, sekolah, anak-anak sedang 7:24 sekolah, semua digulung dan tenggelam 7:26 ditelan bumi. 7:28 Juga beberapa bangunan yang 2 tingkat 7:30 tinggal separuh dan seterusnya, 7:32 subhanallah. 7:34 Ini kenapa? Gitu. 7:36 Nah, inilah oleh karenanya 7:38 Indonesia yang sedang prihatin ini 7:42 mari bagi kita yang tidak terkena 7:45 bencana, ini satu pelajaran yang amat 7:48 sangat berharga. 7:50 Jika hal ini belum mengusik kita menjadi 7:54 sebuah kesadaran, keinsafan diri 7:57 barangkali mungkin 7:59 orang yang seperti itu mungkin hatinya 8:02 keras seperti batu ini. 8:05 Kita mesti melihat bagaimana masyaallah 8:07 betapa lemahnya manusia dan belakangan 8:09 ini kita dengarkan 8:11 gunung yang baru 8:14 memuntahkan sedikit saja dari bagian 8:17 eh lava yang keluar itu sudah 8:20 menggoncang 8:21 ratusan orang meninggal dunia, 8:23 bangunan-bangunan hancur oleh tsunami. 8:26 Masyaallah. 8:28 Nah ini oleh karenanya 8:31 seiring berlalunya waktu 8:34 dan menurut 8:36 penanggalan Masehi ini bulan Desember 8:38 berarti bulan 8:40 12 8:42 dan kalau kita hitung banyak sekali 8:43 bencana-bencana terjadi 8:46 di bulan Desember. 8:48 Aceh juga bulan Desember. 8:51 Maka ada kalau ada lagu kadang-kadang 8:53 juga lagu-lagu itu apa ya kebetulan atau 8:56 memang 8:57 Desember Kelabu 8:59 walaupun panjang kisah 9:01 masalah kerinduan dan sebagainya seorang 9:04 wanita terhadap seorang suami, calon 9:06 suami 9:08 tapi kenyataan memang Desember Kelabu 9:10 jadi bulan Desember ini banyak sekali 9:12 musibah-musibah terjadi. 9:14 Seiring berlalunya waktu 1 tahun berlalu 9:18 berbagai peristiwa yang terjadi pada 9:20 mengiringi 9:22 perjalanan waktu itu ini hendaknya 9:25 menjadi satu 9:27 kuliah tertentu ini 9:29 jadi pelajaran buat kita. 9:31 Karena kepekaan kita diperlukan untuk 9:34 bisa menangkap hikmah di balik 9:35 peristiwa. 9:37 Kalau tidak 9:38 kita hanya mungkin mengeluh. 9:40 Kita hanya akan melihat seolah-olah itu 9:42 bencana, sebuah malapetaka. 9:45 Padahal di balik itu ada hikmah, 9:47 ada pelajaran, 9:48 ada berbagai ilmu yang bisa kita 9:50 dapatkan yang intinya adalah untuk 9:53 melahirkan perbaikan bagi diri kita. 9:58 Dan anehnya ada saya dapat WA. 10:03 Itu ada yang teliti memperhatikan. 10:06 Itu tanggal 26. 10:09 Seolah-olah itu menyerupkan tanggal 10:11 tanggal apa ya? Tapi ini 10:14 Allah takdirkan seperti itu. Ini Aceh 10:16 tsunami tanggal 24 bulan 12, 10:19 bulan Desember tahun 2004. 10:22 Kemudian 10:23 Bohemia gempa tahun berapa dulu? 10:27 Lama sudah. Itu juga tanggal 26 bulan 11 10:30 tahun 1902. 10:33 Jogja gempa 10:34 tanggal 26 10:36 bulan 5 2006. 10:39 Tasik 10:40 Jawa Jawa Barat 10:42 sampai Pangandaran itu tanggal 26 10:45 bulan 6 tahun 2010. 10:48 Gunung Merapi meletus itu juga tanggal 10:50 26 bulan 10 2010. 10:53 Jembatan Tenggarong di Kaltim 10:56 runtuh itu juga tanggal 26 bulan 9 10:59 2013. 11:01 Dan 11:02 topan 11:03 Hainan di Filipina itu juga tanggal 26. 11:07 Wallahualam 11:08 kenapa tanggal 26. 11:11 Dan ada yang menyebut bahwa di 11:13 dalam juz 26 Alquran 11:17 salah satu ayatnya mengatakan tentang 11:19 bencana. 11:21 Subhanallah. Jadi memang 11:24 tidak bisa disebut sebagai kebetulan, 11:26 tapi ini memang suatu pelajaran yang 11:27 sangat berharga bagi kita. 11:30 Oleh karenanya pagi ini saya ingin masih 11:32 terus melanjutkan 11:34 judul yang kemarin pekan kemarin 11:36 menghitung diri. 11:38 Mari kita mawas diri. 11:42 Dan ini justru menjadi kelemahan manusia 11:44 modern di abad ini. 11:47 Beberapa kali saya sampaikan bahwa ciri 11:49 masyarakat modern adalah mampu mengatasi 11:51 berbagai persoalan di luar dirinya. 11:55 Dia mampu 11:56 menguasai mesin. 11:59 Mesin apa saja di di modifikasi 12:02 sedemikian rupa 12:04 dari 12:06 luar biasa sampai pertanian sekarang 12:08 sudah enggak ada kerbau lagi yang 12:10 apa namanya meluku di sawah sudah ada 12:13 lagi diganti dengan mesin. Pabrik-pabrik 12:15 selalu demikian canggih membuat itu 12:17 dengan mesin. 12:19 Menguasai 12:20 hal-hal di luar dirinya. 12:22 Baik jagat makro maupun jagat mikro. 12:25 Mereka melakukan eh penelitian, 12:27 melakukan 12:29 apa namanya eh 12:33 penelitian-penelitian yang terus-menerus 12:35 dilakukan. 12:37 Bahkan 12:38 mampu menguasai komputer, menguasai 12:39 informasi. 12:41 Dunia menjadi kecil 12:43 karena dirakit oleh jaringan-jaringan 12:45 internet. 12:47 Informasi dunia begitu terbuka hari ini. 12:50 Orang bisa mendengar berita apa yang 12:52 terjadi di belahan bumi utara dari 12:54 selatan, dari dari bumi selatan bisa di 12:58 lihat didengar oleh bumi di 13:00 belahan-belahan bumi utara, begitu juga 13:02 barat dan timur dan sebaliknya. 13:05 Tetapi justru kelemahan masyarakat 13:07 modern justru 13:10 tidak mengenal diri. 13:12 Kemarin saya singgung 13:15 Sunan 13:16 Sunan sembilan wali di Jawa 13:19 terutama Jawa 13:21 itu merubah budaya dari budaya Hindu 13:24 Buddha 13:25 kepada Islam itu tidak secara drastis 13:28 atau radikal. 13:29 Tetapi semua menjadi bermakna. 13:32 Dulu yang namanya selamatan, itu dimulai 13:34 dari sesaji. 13:36 Bagaimana orang memuliakan, berbakti 13:39 kepada yang dianggap menciptakan alam 13:41 semesta, sesuai dengan kepercayaan 13:42 mereka masing-masing, diberikan sesaji. 13:45 Di Jawa itu dikenal ada 13:47 sego suci ulam sari. 13:50 Segonya berbentuk gunungan, 13:53 kemudian ulam sarinya itu bentuknya ayam 13:56 jago yang dipotong, kemudian dibelah 13:58 dadanya. 14:00 Tetapi dibelah begitu, dimasak dalam 14:02 keadaan yang seolah utuh ingkung tadi, 14:05 tapi lehernya, kepalanya dimasukkan ke 14:08 dalam. 14:10 Nah, ini ngemusu raos kalau orang Jawa 14:12 bilang, mempunyai 14:14 pelajaran dan makna. 14:17 Bahwasanya orang hidup itu selalu 14:18 membuka hati untuk sebuah kebenaran. 14:22 Jangan menutup diri, menutup hati dari 14:24 sebuah kebenaran. 14:25 Karena orang menutup diri, menutup hati 14:27 itu hatinya menjadi keras, membatu, 14:29 menjadi sombong, 14:30 angkuh. 14:32 Kemudian buka diri terhadap kebenaran, 14:34 terhadap kehidupan, kebersamaan, tetapi 14:37 jangan lupa 14:39 bahwa keterbukaan itu juga membawa 14:40 konsekuensi dan risiko. Oleh karenanya, 14:43 kepalanya dimasukkan ke dalam. Maksudnya 14:45 supaya delengono awakmu, 14:48 badanira, 14:50 golekono 14:52 apa namanya kekeliruan, kesalahan. 14:55 Nah, ini yang kurang sekarang tidak 14:56 dihayati manusia itu seolah-olah dengan 14:58 kecerdasannya, ya dia seolah-olah bisa 15:01 membuat apa saja. 15:03 Seolah-olah dunia ini bisa digenggam 15:06 oleh karena kecerdasan, lupa pada 15:08 dirinya. 15:11 Nah, ini bahaya ternyata. 15:13 Ketika manusia itu sudah lupa pada 15:14 dirinya, itu karena ada sebabnya. 15:18 Kalau menurut ayat Alquran, orang yang 15:21 lupa pada dirinya, sebabnya itu karena 15:24 dia lupa kepada Allah. 15:26 Maka dilarang di dalam surat Al-Hasyr. 15:29 Allah berfirman, 15:30 auzubillahiminasyaitanirrajim. 15:34 Pada ayat 18, Allah menyuruh kita 15:36 melihat ke dalam. 15:39 Ya ayyuhalladzina amanuttaqullah wal 15:41 tanzur nafsun ma qaddamat li ghad. 15:45 Wattaqullah. Innallaha khabirun bima 15:48 ta'malun. 15:49 Wahai orang-orang yang beriman, 15:50 bertakwalah kamu kepada Allah. 15:52 Ini selalu diingatkan, walaupun dia 15:55 sudah beriman, tapi masih diingatkan 15:57 bertakwa pada Allah, bertakwa. 15:59 Maksudnya apa? Karena dalam kehidupan 16:01 yang dinamis ini, kadang-kadang orang 16:03 suka lupa. 16:05 Hari ini orang bisa beriman, tapi besok 16:07 lupa karena digilas oleh dinamika, oleh 16:09 kesibukan, lupa kepada takwa pada Allah 16:12 subhanahu wa taala. Maka diingatkan, 16:13 ittaqullah, ittaqullah. 16:15 Yang kedua, wal tanzur nafsun ma 16:18 qaddamat li ghad. Lihat dirimu. 16:21 Delengono awakmu, tengok dirimu, 16:24 introspeksi diri. 16:25 Bekal apa yang sudah kau persiapkan 16:27 untuk hari esok? 16:29 Hari esok itu bukan hari tua. 16:31 Kalau hari tua, kita masya Allah. 16:34 Dulu kita punya punya obsesi masih 16:36 kecil, sekolah berangkat pagi, pulang 16:39 siang, sore, terus begitu. Sepertiga 16:43 usia kita hanya untuk sekolah. 16:45 Kalau ditanya, Mas, sampean kuliah, 16:47 sekolah dari kecil 16:49 untuk apa? Untuk bahagia di hari tua. 16:52 Tapi ternyata ketika saya sudah mulai 16:54 tua, terasa 16:55 mana kebahagiaan yang kita idam-idamkan 16:58 itu? 16:59 Anak-anak bubar. 17:01 Sing lanang sing dikudang, gede, duwur, 17:03 sembodo, pinter golek duit. Ngurusi 17:05 anak, mertua, pergi dari rumah kita. 17:08 Kita ditinggalkan. 17:10 Sing ayu mraati dari 17:12 cilik, dindit, entik 17:14 dengan susah payah, bulayan kasih sayang 17:16 kita curahkan semua. Barang wis gede ayu 17:19 merati ditembung ojo diweke, diberikan 17:22 pada orang lain, bawa pergi entah 17:24 kemana. 17:25 Kadang-kadang kita rindu sama anak-anak 17:27 itu anak anak sudah punya kesibukan 17:29 masing-masing. 17:30 Nak, aku pengen ketemu Nak, mbok kapan 17:33 bisa silaturahmi. Aduh Bu, mohon maaf 17:35 nih sibuk sekali. Besok saya harus ke 17:37 Hongkong, besok saya harus ke luar 17:38 negeri dan seterusnya. Wah, ini ada 17:40 rapat. Sibuk. 17:43 Bahkan cucunya pun pergi semua tinggal 17:46 kakek sama nenek sudah sama-sama bongkok 17:48 kayak udang dua-duanya. 17:50 Malam tinggal batuk-batuk hah hah hah 17:53 kakeknya, si nenek kentut. 17:55 Si nenek batuk si kakek kentut 17:58 bersahut-sahutan 17:59 gimana? Mau makan yang enak bludrek 18:02 kambuh. 18:03 Ya Allah ya Rob, dimana hari bahagia 18:06 dihari tua itu? Apa sih sebenarnya makna 18:08 hidup ini? Oh, ternyata liqot disini 18:11 adalah bekal untuk akhirat, kehidupan 18:13 yang kekal dan abadi. 18:15 Nah, ini yang dilupakan banyak orang 18:17 nih. 18:18 Banyak orang. 18:20 Bahkan kadang-kadang orang sudah usia 18:21 tua berkepala enam. Kalau sudah 18:24 berkepala enam kan sebentar lagi sih, 18:25 mau berapa? Mau berapa lama lagi? Mau 18:28 angka berapa? Angka 100. 18:31 Ya Allah, sudah kepala enam ini sudah 18:33 dekat sudah bau-bau kuburan. 18:35 Kadang-kadang angan-angannya lebih 18:36 panjang, gayanya masih kayak anak muda. 18:39 Mbok kelingan mau kembali kepada sang 18:41 pencipta. 18:44 Maka diingatkan oleh ayat. 18:46 Wattaqullah, bertakwalah kamu kepada 18:49 Allah. Innallaha khobirun bima ta'malun, 18:52 sesungguhnya Allah itu maha mengetahui. 18:54 Lahir batin jerone dalamnya kita ini 18:57 diketahui oleh Allah. 18:59 Allah maha mengetahui perilaku kita, 19:01 kelakuan kita. 19:03 Apa yang kita lakukan dahulu walaupun 19:04 sembunyi orang tidak tahu Allah itu 19:06 tahu. Itu artinya apa? Itu yang harus 19:08 kita pertanggungjawabkan dihadapan 19:09 Allah. 19:11 Nah, kemudian pada ayat berikutnya baru 19:13 di sini jelas. Wala takunu kalladzina 19:16 nasullaha fa ansahum anfusahum. 19:19 Jangan kamu jadi orang yang lupa kepada 19:21 Allah. 19:24 Nanti Allah jadikan kamu lupa pada 19:26 dirimu sendiri. 19:29 Nah, jadi orang sekarang lupa pada 19:32 dirinya, tidak mengenal siapa dirinya. 19:35 Loh, kok maksudnya tidak mengenal siapa 19:36 dirinya? Maksudnya dia manusia tapi 19:38 tidak rumongso kalau dia itu manusia. 19:42 Banyak manusia hilang sifat kemanusiaan. 19:45 Kemanusiaannya tuh hilang. 19:47 Yang ada cuma nafsu saja. Jadi, dorongan 19:50 hidup itu hanya nafsu biologis. Ya, ini 19:52 yang merusak jagat ini manusia model 19:54 ini. 19:55 Serakah. 19:57 Gede ambeke, mau menang sendiri. 20:00 Kalau berhasil sukses, sombong dan 20:02 takabur. 20:03 Kalau susah, oh, 20:06 putus asa, gelap mata, poek panon. 20:09 Sampai lupa diri, hilang, dia mau 20:11 korbankan harga dirinya karena kesusahan 20:15 itu. Kadang-kadang menyalahkan Allah, 20:17 menyalahkan ini dan sebagainya. 20:19 Inilah manusia. Oleh karenanya, kalau 20:22 orang yang sudah lupa pada dirinya 20:23 sendiri, 20:24 itu bahaya. 20:26 Bukankah dia manusia yang terhormat, 20:28 dimuliakan oleh Allah? 20:30 Mestinya berperilaku mulia dan 20:32 terhormat. 20:34 Kalau dia sadar bahwa dirinya manusia 20:35 itu Allah ciptakan makhluk 20:37 seindah-indah, semulia-mulianya sebagai 20:40 khalifatullah di muka bumi. Tapi dia 20:42 lupa. Yang ada cuma gugu karo pitewe. 20:45 Hanya nafsu saja yang dikedepankan. 20:47 Rusaknya dunia seperti ini. Pantai 20:50 indah, silakan nikmati oleh Allah. Tapi 20:53 kadang-kadang disalahgunakan, podo wudo, 20:56 sudah jadi orang kepingin pengin jadi 20:58 ikan lumba-lumba, koler galir di pantai, 21:01 kemudian maksiat. Masya Allah, akhirnya 21:04 Allah berikan peringatan. 21:06 Ini baru sebagian kecil saja peringatan 21:08 Allah. 21:10 Belum murka Allah semuanya. Kalau murka 21:12 Allah semua, masya Allah, habis kita. 21:15 Mudah bagi Allah untuk menenggelamkan 21:17 daratan seluruh bumi ini. 21:19 Itu baru bagian kecil sebagai 21:21 peringatan. 21:22 Sebagai 21:23 pelajaran buat kita. 21:26 Nah, oleh karenanya, 21:28 melewati kesempatan ini, mari menghitung 21:31 diri. 21:32 Siapa sih saya? 21:34 Sebenarnya pada posisi apa 21:37 saya di mata Allah? 21:39 Sudah diberikan modal oleh Allah rupa 21:41 yang indah, ke seindah-indah ciptaan, 21:45 diberikan kecerdasan, diberikan akal 21:47 budi, 21:49 diberikan apa namanya 21:52 ee agama, Allah turunkan syariatnya, 21:54 diutusnya nabi, 21:56 bumi digelar diperuntukkan untuk 21:58 manusia. Coba, produknya apa? 22:02 Modalnya terlalu besar bagi kita kalau 22:04 kita tidak punya produk amal saleh, 22:07 ya, berarti kosong kita. Ibarat pohon 22:09 enggak berbuah. 22:12 Kalau padi namanya 22:14 padi yang gabuk. 22:16 Kalau padi yang gabuk enggak akan 22:17 dimasukkan karung ke lumbung. 22:20 Dibuang, kemudian dibakar. 22:22 Kalau buah itu buah yang 22:24 busuk di dalamnya. Kalau busuk, ya, 22:26 enggak dimakan. Apa sampean gelem ono 22:30 pelem busuk kok terus ikut dimakan? 22:32 Tentu dikupas dan dibuang di angkringan. 22:35 Karena enggak ada punya nilai. Jadi, 22:36 manusia juga banyak manusia gabuk, 22:39 banyak manusia busuk, banyak manusia 22:41 tidak berkualitas, karena enggak pernah 22:43 menghitung-hitung diri. 22:45 Mau ke mana lari kita? Toh akhirnya 22:46 kembali kepada Allah subhanahu wa taala. 22:48 Kullu nafsin zaikatul maut. 22:51 Tiap yang hidup pasti akan mati. 22:53 Wala wa walanablu walanablukum bisyari 22:57 wal khairi fitnah. Dan sungguh kami akan 22:59 menguji kami kalian dengan keburukan dan 23:01 kebaikan. Ternyata dunia yang kita 23:04 lulukan, yang kita kagumi ini yang 23:06 indahnya luar biasa dengan segala macam 23:09 yang kita menjadi rebutan. 23:10 Ternyata isinya cuma ujian, tes 23:12 kualitas. 23:15 Sing ganteng, sing ayu diuji dengan 23:17 ganteng dan cantiknya. 23:19 Wong ayu ning nek judes, cerewet, boros, 23:22 jatuh di mata Allah. Enggak ada bisa 23:25 menolong kecantikannya itu. Wong ganteng 23:27 ning gembel, gembelo, sombong ya enggak 23:30 ada apa-apanya di mata Allah. Senajan 23:32 toh wong elek, tapi kalau di hatinya 23:34 bersih, 23:35 kemudian dia mulia, dia suka menolong 23:37 orang, dia tahu kewajiban terhadap 23:39 Allah, suka berbuat kebaikan, hatinya 23:42 bersih, itu manusia mulia di Allah 23:44 walaupun di dunia kadang-kadang dilihat 23:46 dengan sebelah mata. 23:48 Ya ujian. Yang kaya diuji dengan 23:50 kekayaannya. 23:51 Sing pinter diuji dengan kepintarannya. 23:53 Orang alim diuji dengan kealimannya. 23:56 Sing melarat ya karuan sudah genah itu. 23:59 Wis melarat, elek, jelek, pendek, rebek, 24:01 itu ujian. Tapi itu bukan kehinaan. 24:04 Kalau dia takwa, mulia di Allah karena 24:06 parameter yang diberikan oleh Allah pada 24:08 manusia, inna akramakum indallahi 24:11 atqakum. Sesungguhnya semulia-mulianya 24:13 di antara kamu adalah orang yang paling 24:16 takwa di sisi Allah subhanahu wa taala. 24:19 Saya kira demikian menghitung diri, 24:22 belajar dari situasi peristiwa yang 24:24 terjadi. 24:25 Pertanyaan Ebiet, mengapa di tanahku ini 24:28 terjadi bencana? 24:30 Karena barangkali ya di sini sebutkan, 24:34 mungkin Tuhan mulai bosan melihat 24:36 tingkah kita yang selalu salah dan 24:39 bangga dengan dosa-dosa. Aduh, 24:42 mengelitik hati kita. Barangkali kita 24:44 yang termasuk orang yang banyak dosa dan 24:46 bangga, nauzubillah min zalik. 24:48 Wabillahi taufik wal hidayah. 24:49 Assalamualaikum warahmatullahi 24:50 wabarakatuh. 24:51 Waalaikumsalam warahmatullahi 24:53 wabarakatuh. 24:54 Subhanallah ikhwan akhwat, 24:56 kalau kita renungkan beberapa menit yang 24:59 kita simak bersama Ustad Abul. 25:02 Kita memang harus bercermin, berkaca 25:05 untuk melihat apakah banyak debu di 25:07 wajah kita. Dan kalau mungkin itu semua 25:11 menjadi analogi dari 25:13 debu-debu yang ada di hati kita, mari 25:15 kita renungkan bersama. 25:17 Benar bahwa 25:20 bisa jadi ini semua 25:22 karena kita perlu bercermin, kita perlu 25:25 bertanya kepada hati dan diri kita. 25:28 Mau dibawa ke mana diri ini? Kami terima 25:31 dengan senang hati pertanyaan yang Anda 25:32 kirim ke 25:34 WA seperti biasa atau kalau Anda mau 25:36 telepon juga 845 25:39 15 12. Kami kembali sesudah ini. 29:19 Ikhwan akhwat rahimakumullah. 29:22 Terima kasih masih tetap bersama Rahasil 29:23 untuk Islam yang satu. Saya juga ingin 29:25 sekali mengucapkan terima kasih kepada 29:28 sahabat-sahabat yang ada jauh di sana 29:30 tetapi menyebarluaskan siaran dari 29:33 Rahasil. Teman-teman yang ada di Batam, 29:35 yang ada di Banyuwangi, kemudian di 29:38 Semarang, juga di Pontianak dan di 29:41 Sukabumi, terakhir di Palembang. 29:43 Mudah-mudahan apa yang disiarkan oleh 29:47 Rahasil untuk Islam yang satu menambah 29:50 isi tabung jiwa kita ya. Ustaz, boleh 29:52 kita langsung ke pertanyaan? 29:54 Ini dari hamba Allah. 29:56 Ustaz Abul yang kami muliakan, murka 30:00 Allah dengan bencana yang berurutan ini 30:04 bisa kita 30:06 lakukan apa untuk ini ya, Ustaz? 30:08 Mungkinkah ada doa bersama serentak di 30:11 seluruh wilayah nusantara ini? 30:14 Subhanallah. Kalau ini memang bisa 30:16 terjadi, betapa akan sangat nyamannya 30:19 hati kami. 30:21 Dari hamba Allah, silakan. 30:24 Hamba Allah yang mudah-mudahan dirahmati 30:25 Allah subhanahu wa taala. 30:27 Allah telah menggariskan yang 30:29 berkali-kali juga saya sampaikan di 30:30 sini, satu ayat saja. 30:33 Yaitu surat Al A'raf ayat 96. 30:36 Allah berfirman, 30:37 bismillahirrahmanirrahim. 30:39 Walau anna ahlal qura amanu wattaqau 30:43 lafatahna alaihim barakatin minas sama'i 30:45 wal ard. 30:47 Walakin kadzabu faakhodznahum bima kanu 30:50 yaktsibun. 30:52 Dalam eh artinya. 30:55 Bahwa sekiranya penduduk negeri itu 30:56 beriman dan bertakwa. 31:00 Sungguh akan kami buka pintu barokah 31:02 dari langit dan dari bumi. 31:04 Ini ketentuan Allah. 31:06 Jadi bagaimana menghindari musibah, 31:08 menghindari bencana, menghindari dari 31:10 murka Allah? Beriman dan bertakwa. 31:13 Baik secara pribadi, personal, keluarga, 31:16 rumah tangga. 31:18 Satu masyarakat, RT, RW, negeri, 31:21 Indonesia umumnya. 31:25 Bahwa musibah itu bencana akan datang, 31:26 tetapi ketika orang-orang beriman dan 31:28 bertakwa pada Allah. Itu bukan bencana. 31:32 Tapi berkah. 31:34 Berkah bisa saja misalnya musibah. 31:36 Dalam arti mempercepat hamba-hambanya 31:39 mati syahid dan segera masuk surga. 31:43 Jadi orang yang terkena tsunami, 31:44 terkena. 31:45 Bencana, tenggelam, itu masuk dalam 31:48 kategori mati syahid. 31:50 Karena Rasul pernah bertanya dan 31:51 menjelaskan siapa saja orang yang 31:53 disebut sebagai syuhada. 31:56 Ketika dijawab bahwa mati syahid itu 31:58 adalah orang yang mati 31:59 di medan perang membela agamanya. 32:02 Maka beliau mengatakan kalau begitu 32:03 sedikit syuhada itu. 32:06 Maka beliau menjelaskan orang mati 32:07 syahid itu masuk syuhada. Satu. Wanita 32:11 yang melahirkan akibat melahirkan maka 32:13 menjadi sebab kematiannya. 32:16 Nah, ini kan mati syahid. 32:18 Tuh kan masya Allah ini bahagia nih 32:20 ibu-ibu nih yang sering suka beranak 32:22 nih. 32:23 Kalau tahu ibu-ibu bagaimana pahalanya 32:26 mengurusi anak dari mulai hamil, 32:28 melahirkan dengan perjuangan hidup atau 32:30 mati, kemudian merawatnya. Barangkali 32:33 tiap tahun ibu-ibu itu maunya beranak 32:35 terus. Tapi karena pahala enggak tahu, 32:37 jadi kadang-kadang terkena modernisasi 32:39 wanita sekarang enggak mau beranak. 32:42 Malah lebih dari itu, mau kawin enggak 32:44 mau nikah. 32:45 He em. 32:47 Mau nikah enggak mau punya anak. 32:50 Pengin punya anak enggak mau nyusui. 32:52 Nah, ini kelakuan orang-orang modern 32:54 nih, karena dianggap menjadi belenggu. 32:57 Parameternya berbeda, hanya senang saja, 32:59 hedonis. 33:01 Hedonisme. 33:02 Padahal kalau tahu pahalanya susahnya 33:04 itu, masya Allah pahalanya luar biasa. 33:07 Apalagi akibat melahirkan dia meninggal 33:09 dunia syahid. Satu. 33:11 Yang kedua, orang kena penyakit dalam. 33:13 Dalam kan bisa paru-paru, bisa jantung, 33:16 bisa kanker, bisa usus. 33:18 Ketika dia beriman dan sabar nerima 33:21 dengan takdir Allah, 33:23 kemudian menjadi sebab matinya, 33:25 itu masih syahid. 33:27 Walaupun 33:28 syahidnya syahid dunia. 33:31 Yang ketiga, orang yang terkena benturan 33:33 benda keras. 33:35 Misalnya ketabrak mobil, itu kan 33:37 benturan benda keras ya, memang mobil. 33:40 Ya. 33:41 Ketabrak kereta, ketika dia bukan dalam 33:44 perjalanan maksiat. 33:46 Dan syaratnya tentu 33:48 tiketnya adalah beriman, kalau enggak 33:50 beriman ya enggak masuk dalam kategori 33:51 ini. 33:53 Lain pendapat orang Jawa atau mungkin 33:55 yang lain-lain, 33:57 katanya orang mati ditabrak mobil itu 33:59 matinya sasar. 34:00 Rohnya gentayangan ke mana-mana, ini 34:02 enggak benar. 34:03 Kalau meninggal ya kembali pada Allah. 34:06 Dan termasuk di dalamnya orang yang mati 34:09 tenggelam. 34:11 Syaratnya tadi, 34:12 iman. Nah, jadi kalaupun Allah 34:15 menurunkan musibah, tapi bisa jadi 34:18 menjadi berkah ketika hamba-hamba Allah 34:20 dipanggil oleh Allah melewati jalan 34:23 musibah ini, sedangkan dia beriman dan 34:25 nerima 34:27 apa yang Allah takdirkan, ini hikmah di 34:30 balik itu adalah mempercepat dia masuk 34:32 ke dalam surga. Lah aku nek ditawani 34:34 ngono yo gelem kok daripada lama-lama 34:36 hidup di dunia numpuk dosa, ya lebih 34:38 baik dipercepat oleh Allah diampuni 34:40 dosanya masuk ke surga. 34:42 Nah jadi syaratnya kalau ingin aman, 34:44 berkah, iman dan takwa. 34:48 Kalau bangsa Indonesia ingin aman ya 34:50 beriman dan bertakwa. Sebenarnya oleh 34:52 founding father kita, pendiri Republik 34:54 ini sudah bagus. Negeri kita negara 34:57 kesatuan Republik Indonesia bukan negara 34:59 agama, betul. 35:02 Tapi yang perlu diingat dan ini sudah 35:04 mulai banyak dilupakan, ini negeri bukan 35:07 negeri sekuler. 35:10 Bukan negeri urakan, bukan negeri yang 35:12 tanpa tanpa agama, bukan negeri apa saja 35:16 boleh tanpa norma-norma dan nilai-nilai 35:19 luhur. 35:20 Ini negeri dibangun bukan negara agama, 35:23 bukan negara sekuler, tapi negeri yang 35:25 berketuhanan. 35:27 Dijadikan sila pertama Ketuhanan Yang 35:29 Maha Esa. Artinya apa? Masyarakatnya 35:32 masyarakat religius. 35:34 Masyarakat agamis, cuma sekarang ini 35:37 mulai pada lali podo lali. 35:39 Maunya bebas ngikuti orang-orang yang 35:41 enggak jelas. Orang-orang di sana yang 35:43 sudah bosan dengan sekuler, dengan 35:45 liberal, dengan hedonis, dengan 35:46 macam-macam sudah kepingin kembali 35:48 kepada Allah kok. Dia rindu kepada 35:50 agama, rindu kepada Tuhan. Maka Islam 35:53 tumbuh berkembang di Eropa, di Amerika, 35:55 di Australia karena mereka sudah 35:57 apa sih makna hidupnya hampa. Dia cari 36:00 ke mana? Tidak ada ketenangan. 36:03 Lari pada agama. Lah kok kita malah 36:04 pecicilan. 36:06 Goleki sing enggak jelas. Masyarakat 36:08 sudah masyarakat agama, sudah bagus ini 36:10 malah mulai ditinggalkan. Nah ini 36:12 peringatan dari Allah ada 36:13 bencana-bencana seperti ini supaya kita 36:15 ingat kepada Allah. Dan Allah mengatakan 36:18 walakin kazabu faakhodnahum bima kanu 36:20 yaksubun. 36:22 Tetapi mereka mendustakan agama, 36:24 meninggalkan agama, menepiskan agama. 36:28 Fakadzabu, faakhodznahum bima kanu 36:30 yakdzibun, maka kami turunkan bencana. 36:33 Disebabkan oleh perilaku mereka sendiri. 36:37 Nah, jadi Bapak, Ibu, kalau ingin bebas 36:40 dari itu, amalkan 36:43 Islam. 36:44 Beriman dengan tulus, bersihkan hati, 36:48 banyak bersedekah, banyak berbuat 36:50 kebaikan. Insya Allah, bala tidak akan 36:53 mendahului sedekah. 36:56 Sedekah itu menolak bala. 36:59 Jadi, insya Allah, jika itu, maka 37:01 sebenarnya orang-orang tua dulu kalau 37:04 ada apa-apa itu selalu ada selamatan. 37:07 Di Jawa ini ya, enggak tahu. 37:08 Ya, di mana-mana saya kira mungkin ada 37:10 juga. 37:11 Tapi yang saya tahu di Jawa itu kalau 37:13 anaknya mau merantau saja misalnya yang 37:14 jauh, apalagi ke luar negeri, mesti dia 37:17 masak. 37:18 Undang tetangga, 37:20 makan, di diminta doa. 37:23 Selamatan, supaya anaknya selamat. Ini 37:25 enggak salah karena 37:26 sedekah sedekah itu menolak bala. 37:30 Orang yang banyak sedekah itu enggak 37:31 akan menjadi miskin. 37:33 Ada saja keberkahan yang Allah berikan 37:35 pada dia. 37:36 Nah, jadi bagaimana? Ya, baguslah kalau 37:39 ini menjadi suatu sebuah kesadaran 37:41 nasional, kemudian mereka tidak 37:44 ribut hanya karena urusan rebutan kursi, 37:47 kemudian juga lupa, jangan lupa pada 37:49 pendiri negeri ini, negeri yang 37:52 diberikan oleh Allah indah, zamrud 37:54 khatulistiwa, 37:56 apa namanya, cuilan tanah surga, mbok 37:59 diurus dengan benar, dengan syukur pada 38:01 Allah, hidupkan suasana keagamaan yang 38:04 rukun, yang guyub. 38:06 Jangan macam-macam. 38:08 Jangan LGBT mau ditiru. 38:11 Wong wis lanang karo wedok itu sudah 38:12 pasangannya, sing lanang gole sing 38:14 lanang, sing wedok gole sing wedok. 38:15 Gendeng apa wedus sing ngerti kok endi 38:18 sing lanang, endi sing wedok. Ini orang 38:20 macam-macam, akhirnya itu semua pernah 38:21 dalam ceramah beberapa waktu yang lalu, 38:25 saya sampaikan dosa mengundang bencana. 38:28 Pasti, kalau pengin di azab oleh Allah 38:31 lakukan dosa semaunya, mau LGBT, mau 38:33 berduaan, mau maksiat, mau dosa, 38:36 silakan. Pasti itu akan mengundang azab. 38:39 Wallahualam. 38:40 Soal yang doa bersama tadi, Ustaz. 38:43 Doa bersama, ya monggo boleh-boleh saja 38:45 kan, namanya doa bersama daripada 38:48 apa namanya maksiat bersama kan, lebih 38:50 baik doa bersama. 38:51 Soalnya nih sesuai dengan ini ya, Ustaz, 38:53 keren banget kalau malam tahun barunya 38:56 kita umat Islam berdoa bersama untuk 39:02 segala musibah yang terjadi 39:04 mudah-mudahan segera akan berhenti. 39:07 Iya, tapi jangan setahun sekali. 39:10 Setidaknya sekarang. 39:11 Setiap saat, setiap saat. Lima waktu 39:13 dianjurkannya. Kita berdoa tidak cukup 39:16 lima waktu, malah disunahkan orang-orang 39:18 orang-orang saleh kepingin dekat kepada 39:20 Allah, malamnya diberikan oleh Allah 39:22 sep-sep separuh malam sampai sepertiga 39:24 malam sampai subuh 39:26 dibukakan pintu ijabah. 39:29 Coba kalau ibu-ibu seluruh Indonesia 39:31 yang itu bangun malam, enggak usah jam 39:33 02.00 lah. Jam 03.00 atau jam 03.30 gitu 39:36 bangun minta kepada Allah negerinya 39:38 amankan, ya Allah, beri pemimpin 39:40 orang-orang saleh yang bisa ngerti apa 39:44 kebutuhan rakyatnya dan seterusnya. 39:45 Bapak-bapaknya bangun jam jam 02.00 39:48 malam misalnya, nah itu insya Allah. 39:50 Habis habis salat kita berdoa, anak-anak 39:53 kita pada ngaji, pada apa, insya Allah. 39:56 Lafatahna alaihim barokatin minassamai 39:58 wal ard, sungguh kami akan buka pintu 40:00 barokat dari langit dan dari bumi. 40:02 Jadi jangan setahun sekali, bahkan tiap 40:04 saat kita. 40:06 Jadi ikhwan akhwat seperti anjuran Ustaz 40:09 Abul 40:10 mari sepertiga malam atau mungkin 40:13 seperlima malam kita lakukan, bayangkan 40:15 kalau seluruh kita melakukan itu, 40:18 subhanallah ya. 40:19 Baik Ustad, saya lanjutkan kembali. Saya 40:21 sudah 40:24 mencoba 40:26 untuk selalu berbuat baik Ustad, tetapi 40:29 hanya doa saja yang bisa saya lakukan 40:32 dengan bercermin seperti yang tadi 40:35 kita lakukan. 40:36 Saya cuma bisa biasa sedekah Ustad. 40:41 Karena kalau untuk yang lain, sedekahnya 40:44 untuk itu bukan uang, tetapi tenaga dan 40:48 pikiran. 40:49 Karena kalau 40:51 uang itu biasanya untuk keluarga saja 40:53 kurang. Menurut Ustad, memadaikah kalau 40:56 saya sedekah tenaga dan pikiran untuk 40:59 negeri ini, bukan sedekah uang. 41:01 Iya. 41:02 Iya, silakan. 41:02 Memang betul ada urut-urutannya. Ketika 41:05 orang 41:06 miskin itu iri pada orang kaya, "Tuh 41:10 orang kaya bisa salat sama-sama kita, 41:12 dia bisa sedekah, saya tidak bisa 41:14 sedekah." "Ya Rasulullah, bagaimana 41:16 ini?" Nah, oleh Rasulullah diajarkan, 41:18 "Sedekah itu bukan hanya harta." 41:22 Baca tasbih sedekah. 41:24 Baca istigfar sedekah. 41:27 Enggak bisa dengan harta, dengan tenaga. 41:29 Tenaga enggak bisa dengan ilmu. Ilmu 41:31 enggak ada, tenaga enggak ada, dengan 41:32 senyum. Senyum enggak ada, dengan doa. 41:35 Itu juga sedekah. 41:37 Jadi 41:38 selalu kita mendoakan yang terbaik. 41:40 Tetapi juga jangan 41:42 harta punya. Jadi sudah betul 41:44 Ibu atau Bapak tadi seperti itu. Ya 41:47 kalau enggak bisa dengan harta