Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:16 Bismillahirrahmanirrahim. 0:18 Asalamualaikum warahmatullahi 0:20 wabarakatuh. 0:21 Ustaz Husein, Ustaz Abu Bakar, dan 0:24 ikhwan akhwat di manaun radio 0:26 silaturahim bisa disimak. Alhamdulillah 0:30 wasyukurillah kita dikaruniai kesempatan 0:33 berada bersama-sama di psikologi 0:35 keluarga penggal acara yang 0:37 mudah-mudahan mempersuasi kita dan 0:41 menjadikan kita sosok yang memang sangat 0:44 diperlukan oleh anak-anak bukan hanya 0:47 buah hati kita, tetapi juga anak-anak 0:49 bangsa ini. Tidak lupa salam selawat 0:52 kita lantunkan untuk junjungan umat 0:54 kekasih kita Muhammad Rasulullah 0:56 sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak 0:58 kita mendapatkan syafaat beliau dan 1:01 dipertemukan dengan beliau di saat-saat 1:03 yang sangat kita rindukan di yaumil 1:06 akhir. Ikhwan akhwat, seperti biasa 1:09 sebelum kita mulai kita akan 1:11 bersama-sama membaca ummul kitab. 1:13 Silakan, Ustaz. 1:16 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 1:21 Bismillahirrahmanirrahim. 1:28 Alhamdulillahirabbil 1:31 alamin 1:33 arrahmanirrahim 1:37 maiki yaumiddin 1:41 iyyaka na'budu wa iyyaka nasta' 1:48 ihdinasirathal 1:50 mustaqimathalladzina 1:58 giril magdubi alaihim 2:02 wadin. 2:08 Amin. 2:10 Ikhwan akhwat, ustaz, hari ini ada dua 2:14 kasus yang masuk ke acara psikologi 2:17 keluarga yang disampaikan oleh 2:21 sahabat-sahabat kita, akhwat yang memang 2:25 perlu mendapatkan persuasi ini. Yang 2:29 pertama, kami sedang menghadapi suatu 2:32 masalah, Ustaz, dari seorang wanita. 2:34 Kami berdua suami istri sudah 7 tahun 2:38 menikah sampai saat ini belum dikaruniai 2:40 seorang anak pun. Tapi kami berdoa 2:42 semoga Allah karunia. Yang menjadi 2:45 masalah, Ustaz, apakah kalau kami 2:47 memungut seorang anak menjadi anak 2:49 angkat atau suami saya menikah lagi saja 2:52 untuk mendapatkan seorang anak? Nah, 2:55 ketika suami ditawarkan nikah lagi, dia 2:57 mengatakan, "Enggak perlu." Saya jadi 2:59 ragu, Ustaz. Apa benar dia enggak mau 3:02 atau malu mengatakannya? Jadi, bagaimana 3:05 Ustaz, kami mohon penjelasan terkait 3:08 dengan anak angkat atau biarkan dia 3:11 menikah lagi. Kemudian kasus yang kedua, 3:14 seorang istri yang merasa sedih 3:16 berkepanjangan karena suami tidak pernah 3:18 menafkahi keluarga. Dia merasa rumah 3:21 tangga sudah cukup karena saya bekerja. 3:24 Tapi dengan saya bekerja kan saya jarang 3:26 berada di rumah sepanjang hari, 3:28 ninggalin rumah, ninggalin anak-anak. 3:30 Jadi, Ustaz, waktunya anak sekolah saya 3:33 titipkan ke pesantren. Anak saya enggak 3:36 cuma satu, tapi semua saya titipkan ke 3:38 pesantren. Dan sampai mereka dewasa 3:41 selesai SMA tingkatannya. Terus terang 3:45 saya merasa bersalah sih, tidak 3:47 membesarkan mereka di rumah. Tapi karena 3:50 harus bekerja kan anak harus mendapatkan 3:53 pendidikan yang baik dan di pesantren 3:55 itu insyaallah, Ustaz. Alhamdulillah 3:58 anak-anak saya menjadi anak yang baik, 4:00 taat kepada Allah. Pertanyaan saya kalau 4:03 kondisi seperti ini dengan suami yang 4:06 seperti itu lama-lama di usia yang sudah 4:09 lansia ini, saya kok merasa enggak 4:12 bahagia ya? Sepertinya semua pernikahan 4:16 jadi tanggung jawab saya dari dulu 4:18 begini dan sekarang setelah tua. Saya 4:21 merasa ada tidak ikhlas nih, Ustaz. Jadi 4:25 ada kesal juga sama dia yang sampai 4:28 sekarang tetap saja tidak pernah 4:30 memberikan uang sedikit pun untuk 4:33 keluarga. 4:35 Apakah begitu ruginya perempuan yang 4:37 bekerja, Ustaz? Apa sebaiknya perempuan 4:40 itu memang di rumah saja? Besarkan 4:42 anak-anak. Ya ampun, Ustaz. Mohon 4:44 penjelasannya bagaimana melegakkan 4:47 perasaan saya yang semakin ke sini 4:50 semakin merasa 4:52 dimanfaatkan begitu dan terima kasih 4:55 Ustaz atas bantuannya. Iya itu dua kasus 4:59 Ustaz. 5:00 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 5:03 Bismillahirrahmanirrahim. 5:06 Alhamdulillahi rabbil alamin hamdan 5:10 katsiron thayyiban mubarokan fik 5:13 yuhibbu. 5:16 Allahumma sholli ala muhammadin wa ali 5:19 Muhammad. Allahumma atina minika rahmah 5:23 waimna min ladunka ilman nafi wafana 5:26 bima. 5:28 Alalamualaika ya Rasulullah. 5:30 Assalamualaina wa ala ibadillah shihin. 5:34 Wasalamualaikum warahmatullahi 5:36 wabarakatuh. 5:42 Seorang wanita menikah dengan seorang 5:44 pria 5:47 selama 7 tahun, tapi belum dikaruniai 5:50 seorang anak. 5:55 Di sisi yang lain 5:58 sebagian orang dikaruniai banyak anak, 6:02 tapi mereka mengeluh. 6:05 Mereka mengeluhkan 6:09 anak yang banyak tersebut menjadi beban 6:11 buat diri. 6:13 Ini merupakan cobaan yang Allah 6:16 Subhanahu wa taala berikan kepada masing 6:19 dan bukan hanya ibu dan suami ibu yang 6:23 dicoba, tapi Nabi Ibrahim juga hingga 6:27 hari tua baru mendapatkan anak. Begitu 6:30 juga Nabi Allah Zakaria. Oleh karena 6:32 itu, jangan sekali-kali ibu berkecil 6:34 hati. 6:36 Berdoalah seperti doanya Nabi Allah 6:38 Zakaria. 6:41 Mohon pada Allah untuk dianugerahkan 6:42 keturunan yang saleh yang akan menjadi 6:47 penyejuk hati ibu di dunia dan kelak di 6:50 hari akhirat nanti akan menjadi 6:54 anak-anak yang akan membahagiakan ibu 6:56 atau menjadi penyebab ibu mendapatkan 6:59 kebahagiaan yang sempurna di hari akhir 7:01 bersama. 7:05 Ibu pernah menawarkan kepada suami untuk 7:07 menikah lagi. 7:10 Hal ini menunjukkan kebesaran hati ibu. 7:12 Tapi kalau suami menolak, ibu tidak 7:14 perlu 7:16 bercuriga. Apakah dia malu 7:19 atau ibu mendesak dirinya karena dia 7:21 lebih tahu tentang kemampuannya. 7:24 Karena beristri dua juga bukan merupakan 7:27 satu hal yang mudah. Di mana potensi 7:30 konflik pasti akan lebih apa? akan lebih 7:34 besar. 7:37 Seorang yang menikah lebih dari satu 7:39 bukan bertanda bahwa dia lebih bahagia 7:41 dibandingkan orang yang beristri satu. 7:43 Tidak. Tapi cobaan yang akan bertambah. 7:47 Apakah dia sanggup untuk bisa menegakkan 7:50 keadilan? 7:52 Apakah dia justru terpelanting atau 7:54 terombang-ambing di tengah-tengah 7:55 kebingungan? Jadi, ibu tidak perlu 7:57 mendesak suami, 8:00 tapi ibu bersama suami berdoa agar Allah 8:03 sempurnakan kebahagiaan. 8:05 Ibu bersama suami, karuniakan anak, 8:08 jadikan mereka anak-anak yang saleh yang 8:11 kelak akan membawa kebahagiaan dunia dan 8:14 akhirat bagi Bapak dan adapun kalau Ibu 8:17 ingin mengangkat anak, kalau seandainya 8:20 anak laki-laki 8:22 hendaknya anak laki-laki tersebut dari 8:25 keluarga ibu yang merupakan muhrim. 8:27 Contohnya anak dari saudara ibu, anak 8:31 dari saudari ibu ya supaya dia menjadi 8:35 muhrim hingga hari tua. Tapi kalau anak 8:39 perempuan hendaknya diambil dari ponakan 8:42 suami. Artinya dari orang yang muhrim 8:48 bersama suami. Hingga di saat anak 8:51 tersebut dewasa tidak akan timbul 8:53 persoalan-persoalan 8:55 yang tidak menyenangkan. 8:59 Dan mudah-mudahan dengan ibu mengangkat 9:01 seorang anak, Allah mudahkan untuk 9:04 mendapatkan anak. Wallahu fi aunil abdi 9:07 makal abdu fiuni aki. Allah akan selalu 9:10 menolong hambanya selagi hambanya juga 9:13 suka menolong sesamanya. 9:15 Dan banyak kejadian banyak kejadian kita 9:18 jumpai. Orang lama tidak mendapatkan 9:21 anak. Begitu dia mengangkat anak, Allah 9:23 anugerahkan baginya anak. Bahkan bukan 9:25 hanya satu, tapi Allah anugerahkan 9:28 baginya anak yang cukup banyak. 9:34 Jadi yang paling penting dalam 9:36 menghadapi situasi ini, Ibu dengan 9:39 ikhlas menerima 9:42 ketentuan Allah Subhanahu wa taala 9:44 sambil mengharapkan rahmatnya, 9:46 karunianya agar dianugerahkan 9:50 keturunan yang saleh ya, yang dapat 9:54 membawa dan menyempurnakan 9:57 kebahagiaan ibu dunia maupun akhirat. 10:02 ini yang paling dan jangan pernah 10:05 berkecil hati. Jangan pernah berkecil 10:08 hati 10:09 karena belum mendapatkan anak. Ada yang 10:11 sudah 20 tahun tidak mendapatkan anak, 10:14 Allah anugerahkan baginya. 10:16 Tapi yang paling penting 10:19 bukan adanya anak, tidak adanya anak. 10:21 Yang penting bagaimana suami sama ibu 10:25 selalu dalam ketaatan Allah, keikhlasan 10:28 kepadanya. 10:29 Dunia yang luput yang tidak kita mampu 10:32 gapai bisa digantikan di hari akhirat. 10:35 Asal kita beriman bertakwa, tapi agama 10:39 kita, ketakwaan kita, akhirat kita yang 10:42 luput tiada gantinya. Jadi hendaklah ibu 10:45 berlapang dada menerima, tidak perlu 10:47 mendesak. Kalau ibu melihat suami ibu 10:51 berminat untuk berumah tangga, ibu juga 10:53 harus siapkan diri ibu. Kira-kira Ibu 10:56 bagaimana berhadapan dengan situasi yang 10:59 baru? 11:01 Pasti kecemburuan akan muncul. Oleh 11:02 karena itu, harus kalau seandainya harus 11:06 terjadi mencari pasangan yang bisa 11:08 memahami 11:10 kebesaran hati ibu. 11:13 Pasangan yang taat dan takut kepada 11:15 Allah hingga dia tidak berbuat kezaliman 11:17 dan menimbulkan persoalan di belakang. 11:21 Adapun berkaitan dengan kasus kedua, 11:26 suami istri yang sudah cukup lama 11:28 berumah tangga memiliki beberapa anak, 11:31 tapi yang mencari nafkah yang bekerja 11:33 ibu. 11:36 Karena dia mencari nafkah tidak mampu 11:38 untuk merawat anaknya dengan baik. 11:41 Sedangkan suaminya hanya menonton dan 11:43 berpangku tangan. Mendidik anak tidak, 11:47 memberikan nafkah tidak, hingga ibu bisa 11:50 memberikan waktunya untuk anak-anak. 11:54 Maka ibu memilih untuk memasukkan 11:56 anak-anaknya ke dalam pesantren. 11:58 Alhamdulillah anak-anaknya menjadi orang 12:00 yang taat. Karena daripada tinggal di 12:02 rumah, 12:03 tidak memiliki idola yang baik, dia 12:06 menjumpai orang tua laki-laki yang tidak 12:08 bertanggung jawab, dia akan 12:10 mengakibatkan nanti akhirnya menimbulkan 12:13 penularan 12:15 dari bapak yang tidak bertanggung jawab 12:18 kepada anak-anak yang tidak bertanggung 12:20 jawab. Karena anak pada saat tumbuh yang 12:23 jadi idola itu selalu orang tuanya. 12:26 Dan dia menganggap perbuatan orang 12:27 tuanya benar walaupun salah. Tapi dengan 12:30 belajar di pesantren, 12:32 mempelajari nilai-nilai Islam, berakhlak 12:35 baik, dia tahu bahwa selama ini ibunya 12:38 yang bersusah payah berjuang untuk 12:40 merawat mereka, sedangkan ayahnya kurang 12:42 mempunyai tanggung jawab. Jadi 12:44 sebetulnya peran ibu sekarang ini ibu 12:47 sebagai ibu juga, sebagai suami juga, 12:51 ibu merupakan pahlawan yang maka 12:54 di hadapan ibu ada dua pilihan. Yang 12:57 pertama ibu bersabar. 13:00 menerima ya tugas amanat yang mulia 13:03 tersebut. Berarti ibu mendapatkan dua 13:05 janji Allah sebagai istri, sebagai 13:08 suami. 13:10 Ibu mendidik, membesarkan anak-anak dan 13:13 pasti di sisi Allah balasannya berbeda. 13:18 Di hadapan anak-anak juga ibu merupakan 13:20 pahlawan bagi mereka. Sedangkan sang 13:22 ayah yang tidak bercocok tanam, tidak 13:24 bekerja, dia yang akan mengalami 13:26 kerugian. Nah, Ibu bersabar bersama dia 13:29 karena bagaimanapun juga Bapak ini 13:31 merupakan bapak dari anak-anak Ibu. 13:34 Kalau terjadi pergesekan, perpisahan, 13:37 pasti juga akan menimbulkan perasaan 13:39 tidak nyaman. 13:42 Apalagi sudah di hari tua. 13:44 Jadi, ibu tidak perlu berkeluh kesah, 13:47 tidak perlu menyesali, tapi ibu 13:50 siap-siap untuk menerima karunia dari 13:52 Allah yang tak terhind. 13:54 Ibu dibantu oleh Allah, alhamdulillah 13:56 bisa mencari nafkah, memberikan e 13:59 kebutuhan buat anak-anak. Ini bukan 14:01 merupakan pekerjaan yang kecil. 14:03 Sedangkan suami jangan karena 14:04 perbuatannya ibu mengalami kerugian 14:08 melakukan reaksi yang ini pilihan 14:10 pertama. Pilihan yang kedua, kalau ibu 14:12 merasa bahwa tidak nyaman lagi bersama 14:14 suami karena dia tidak memberikan nafkah 14:16 bertanggung jawab, ibu berhak untuk 14:18 menuntut pisah daripadanya. 14:21 Tapi pertimbangkan kira-kira mana yang 14:23 lebih nyaman buat ibu. Masih ada suami 14:26 di samping ibu walaupun suami tersebut 14:29 merupakan suami tanpa daksa 14:34 atau ibu merasa lebih nyaman tanpa 14:36 suami? Ibu pilih, ibu istikharah. Kalau 14:39 ibu merasa walaupun kurang lebihlah 14:42 adanya suami di rumah paling tidak 14:44 menjadi centeng. Walaupun tidak bisa 14:46 memberikan nafkah menjadi centeng 14:48 menjaga kehormatan ibu. 14:50 Atau ibu merasa tiap memandang dia, ibu 14:53 merasa jengkel, muak, melihat laki-laki 14:56 yang tidak bertanggung jawab hingga 14:57 membuat ibu akhirnya resah, takut kalau 15:00 sampai ibu tidak menerima ketentuan 15:02 Allah. Bisa berpisah tapi pertimbangkan. 15:05 Karena banyak perempuan-perempuan 15:07 saya jumpai di hari tua, begitu berpisah 15:11 dengan suaminya, dia merasakan 15:12 kekosongan. Walaupun suaminya sebetulnya 15:14 tidak memberikan apa-apa, 15:16 tapi paling tidak dia merasa ada sesuatu 15:19 yang terisi walaupun tidak sempurna. Maa 15:24 yudrakullah la yudrakullu. Yang tidak 15:26 bisa digapai semuanya paling tidak apa? 15:29 Paling tidak jangan sampai kehilangan 15:31 semuanya. Tapi ibu harus ingat dengan 15:34 perjuangan ibu kalau ibu ikhlas dan 15:36 rida, ibu mendapatkan pahala yang tak 15:39 terhingga dari sisi Allah Subhanahu wa 15:41 taala. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa 15:44 taala sempurnakan kebahagiaan dua 15:46 penanya sama masing-masing suaminya. 15:49 Allah berikan karunia anak bagi yang 15:52 pertama. Dan Allah bahagiakan ibu dengan 15:55 anak-anak ibu menjadi anak-anak yang 15:57 saleh, mendapatkan pasangan yang saleh, 16:00 memiliki keturunan dan cucu yang saleh 16:02 yang tidak serupa suami ibu yang kurang 16:04 tanggung jawab. 16:07 Masyaallah. Jadi ikhwan akhwat 16:11 dari dua kasus ini bekerja sepenuhnya 16:15 atau jadi ibu rumah tangga saja 16:18 atau dari rumah tapi mendapatkan 16:21 penghasilan tambahan kalau seandainya 16:24 memang keuangan keluarga seperti itu. 16:27 Belum lagi tadi soal yang kita dengan 16:30 kesulitan memiliki keturunan ya. Tapi 16:33 seperti yang kita dengar dari Ustaz 16:35 Husein, segala sesuatunya 16:37 tidak mungkin tidak bisa kita lalui 16:41 selagi ada Allah. Lantas kira-kira apa 16:44 nih yang akan didengar 16:47 dari Ustaz atau Bapak Abu Bakar Baraja? 16:51 Yuk, kita simak. 16:55 Bismillahirrahmanirrahim. 16:59 Asalamualaikum warahmatullahi 17:02 wabarakatuh. 17:03 Waalaikumsalam. 17:07 Alhamdulillah, 17:10 segala puji dan syukur kita panjatkan 17:16 kepada Allah. 17:19 Nikmat yang selalu diberikan 17:23 akan menggantikan segala sesuatu yang 17:26 meresahkan. 17:29 Nikmat yang datang kepada diri kita 17:34 menjadikan ketenangan hidup kita. 17:39 Rahmat-Nya 17:41 akan memberikan 17:44 berbagai macam ketentuan yang kita 17:47 lakukan. 17:49 Jadi apagi yang kita akan lakukan? 17:54 Semua yang diberikan Allah selalu 17:59 menyenangkan. 18:02 Apalagi yang kita tunggu 18:05 sesuatu yang datang 18:08 pasti ada sesuatu yang menyenangkan. 18:12 Ketika 18:14 kita 18:15 berhadapan dengan seseorang, 18:19 maka orang itu akan menjadi baik. 18:24 orang itu akan menjadi baik dan 18:28 menyenangkan. 18:31 Kenapa kok kita bisa katakan menjadi 18:33 baik? Karena perbuatan kita 18:38 menjadi baik. Karena perbuatan kita itu 18:42 baik. Ketika perbuatan kita baik, pasti 18:47 akan menjadi baik dalam kehidupan. 18:53 Tidak akan mungkin sesuatu itu bergerak 18:57 dengan sendirinya. Tapi ada yang 19:01 mengatur. Siapa itu? Allah. 19:05 Allah yang mengatur kehidupan diri kita. 19:10 Begitu juga 19:12 bagaimana 19:14 kedua suami istri yang menikah. 19:20 Ketika dia menikah, tentu di situ ada 19:25 harapan. 19:27 Bagaimana dia mengharapkan seseorang 19:31 yang muncul. 19:34 Harapan itu adalah ketentuan. 19:39 Karena segala sesuatu itu ada 19:44 ketentuannya. 19:47 Maka kita berharap kepada Allah, kita 19:52 berdoa kepada Allah, kita berjanji 19:57 berbagai macam untuk mendapatkan 20:02 apa yang diberikan kepada kita. 20:06 Pastikan Allah akan memberikan 20:11 Allah akan memberikan 20:13 jika 20:15 kitanya baik. kitanya sempurna. 20:19 Setelah kita persoalkan 20:23 ternyata ada beberapa 20:26 ketentuan yang tidak diizinkan untuk 20:30 bertemu. Mengapa? 20:36 Apa yang terjadi ketika itu 20:40 tidak terjadi? 20:42 Loh, kok bisa tidak terjadi? 20:46 Karena keduanya ada sesuatu yang tidak 20:51 perlu. 20:54 Di sini kita perlu perhatikan 20:58 bahwa suami istri itu bertemu pasti dia 21:03 pasti punya anak. 21:06 Namun saat ini kita tidak punya anak. 21:11 Kita berdoa belum punya anak. Kita 21:15 meminta belum diberikan 21:20 karena Allah yang menentukan. 21:24 Jadi kita sebagai seorang 21:29 yang mampu melaksanakan, 21:34 yang bisa memperbuatkan 21:38 di sini kita menentukan bagaimana kita 21:42 akan melakukannya. 21:44 Nah, ketika kita bersuami istri pasti 21:49 akan ada sesuatu yang kita peroleh, kita 21:54 dapatkan, namun hasilnya nol. Tidak. 22:01 Tidak. 22:03 Kalau kita berpikir 22:05 mau 7 tahun, 8 tahun, 10 tahun, 12 22:11 tahun, ada yang 12 tahun tiba-tiba dia 22:15 mempunyai anak. 22:19 Ada yang 6 tahun tiba-tiba dia punya 22:22 anak. 22:26 itu yang penting 22:28 loh. Tapi kan saya belum tentu, saya 22:31 belum periksa, maka periksa dulu. Kalau 22:36 dulu tidak ada tempat bagaimana meriksa, 22:39 sekarang periksa dulu apakah kita cocok 22:44 suami istri ini benar cocok. 22:49 kita periksa dulu. 22:53 Nanti ketika periksa insyaallah akan 22:57 ditentukan oleh Allah. 23:00 Nah, kemudian kita mengharapkan 23:06 apakah kita mempunyai anak pungut atau 23:12 suami menikah lagi. 23:14 Coba kita pikirkan anak mungut, anak 23:19 angkat. 23:21 yang sudah dijelaskan 23:24 bahwa anak angkat itu perempuan dari 23:27 pihak laki-laki, laki-laki dari pihak 23:31 wanita. Itu agar supaya mukhrimnya 23:35 jelas. Sudah kita pastikan. Nah, kalau 23:39 kita angkat kita itu baik. 23:46 Itu baik. 23:48 Kalau kita angkat untuk menghidupkan 23:52 baik, bukan dari mana kita ambil, tidak. 23:56 Kita lihat situasinya kalau anak itu 24:00 kurang baik, kita angkat atau kita piara 24:04 anaknya 24:07 di rumah, 24:10 insyaallah akan menjadi baik. 24:15 Insyaallah akan menjadi baik. Nah, kalau 24:19 suami disuruh menikah lagi, 24:23 apakah kita benar-benar melepaskan itu? 24:27 Apakah kita tidak mengkhawatirkan? 24:34 Kita mengkuhawatirkan terjadinya 24:37 sesuatu? Tidak. 24:40 Karena saya ikhlas untuk suami menikah 24:44 lagi. 24:46 Apakah suami 24:49 malu atau enggak bisa atau apa tidak? 24:53 Dia tidak mengatakan itu. Nanti kalau 24:57 dia mau dia akan lakukan. Kalau dia 25:00 belum ya tidak perlu. 25:04 Jadi bagaimana dong? 25:06 Yang paling penting di sini, mari kita 25:10 bersama-sama 25:12 menerima. 25:15 Menerima ini apakah kita punya anak 25:18 angkat, apakah suami menikah lagi atau 25:22 keduanya tidak ada. Kita hidup bersama. 25:29 Menerima sesuatu yang diberikan Allah. 25:32 Yakinkan bahwa sesuatu itu baik. Baik 25:36 kita berdua saja insyaallah akan menjadi 25:39 lebih 25:42 banyak yang kita ceritakan. Banyak 25:46 orang-orang yang 20 tahun dia berjuang, 25:50 dia melakukan dia tidak punya anak. 25:54 Namun tiba-tiba dia punya anak. 26:00 Ada anak yang 4 tahun sudah gelisah, 26:04 sudah berobat ke sana, berobat ke sini, 26:07 berobat ke sana, tidak dapat. 26:11 Tapi ketika dia lepaskan 26:15 saya serahkan kepada Allah. Saya terima 26:19 semua ini. Saya yakinkan bahwa saya akan 26:23 berhasil. Teruskan. Enggak, enggak lama 26:27 sedikit lagi dia mempunyai anu. 26:33 Jadi bagaimana dong? Karena apa yang 26:36 terjadi 26:38 itu dari Allah. Yakinkan bahwa Allah 26:41 yang mengeluarkan dan menentukan. 26:45 Yakinkan bahwa Allah yakin. Maka kita 26:49 minta sama Allah. 26:53 Jadi 26:55 apapun yang kita inginkan, pastikan 26:58 bahwa Allah pasti bisa melakukannya. 27:04 Kalau kita yakin kepada Allah pasti bisa 27:08 insyaallah ya. Oke. 27:12 Dan yang kedua, 27:17 seorang istri 27:20 di mana dia bekerja 27:23 mencari nafkah, suaminya tidak bekerja, 27:28 suaminya hanya duduk-dudukan saja. 27:33 Ya, kalau dia ada proyek-proyek sedikit, 27:36 diambil 27:38 proyek-proyek sedikit. Kalau enggak dia 27:40 tenang saja. 27:43 Suaminya 27:45 pendiam. 27:47 Dia melakukan sesuatu punya anak tiga, 27:50 empat. 27:54 Si istri bingung. Nah, kalau saya mau 27:58 bekerja nanti anak-anak bagaimana? Maka 28:02 setelah SD dimasukkan ke pesantren. 28:09 Jadi anak-anak itu dipesantrenkan hingga 28:12 SMA. 28:16 Anak-anak itu dipesantrenkan hingga ke 28:19 SMA. 28:21 No. Kalau dia masuk ke pesantren hingga 28:24 SMA, jadi bagaimana hubungannya 28:28 antara anak-anak dengan ibunya dengan 28:33 bapaknya? 28:37 Jadi, bagaimana hubungannya? 28:39 Nah, ini yang perlu kita perhatikan. 28:44 Apakah kita cuman bertemu 28:47 sebulan, 28:48 2 bulan, 6 bulan sekali kita ketemu dan 28:52 anak-anak itu di pesantren dan kemudian 28:55 dia mulai besar. Bagaimana kalau dari SD 28:58 dipesantrenkan? 29:03 Itu yang perlu kita perhatikan. 29:06 Benar di pesantren itu baik. Kalau di SD 29:12 dari sampai SD antara anak dengan orang 29:16 tua sudah cukup 29:21 interaksinya, 29:23 pertemuannya, 29:26 komunikasinya 29:29 sudah mengalami cukup, 29:32 insyaallah 29:34 boleh kita taruhkan ke pesantren 29:38 karena dia sudah cukup. 29:42 Tapi di SD ini tidak ada pertemuan. 29:47 Datang pulang sekolah dia di rumah 29:51 berbicara ke sana ya. Mamanya enggak 29:54 tahu di mana. 29:56 Mamanya pulang kerja, bapaknya juga 30:00 bingung dia dudukkan aja. 30:03 dan anak itu kesendirian disendiri 30:06 dimasukkan ke pesantren. 30:11 Akhirnya hilang 30:13 karena dia tidak mendapatkan sesuatu 30:16 sentuhan 30:20 tidak mendapatkan sentuhan. 30:23 Ketika dia dari SD dari 0 tahun sampai 30:29 dengan 12 tahun, dia berkeceramah terus 30:34 dekat sama ibunya, dekat dengan 30:37 bapaknya, selalu bersama. 30:41 Di sini yang namanya baik. 30:45 dimasukkan pesantren boleh saja, 30:49 tapi di SD enggak bisa pulang capek 30:53 masak terus pergi lagi kerja pagi-pagi 30:56 sudah mengerjakan sesuatu. 30:59 Apa yang terjadi? 31:02 Anaknya bengong. 31:06 Di sini yang kita harus perhatikan 31:10 bahwa anak itu 0 sampai 12 tahun 31:15 sebaiknya 31:17 ada di rumah. 31:21 0 sampai 12 tahun ada interaksi dengan 31:27 orang tua 31:29 sama mamanya berkomunikasi 31:32 ada pelukan, ada sentuhan, ada 31:36 komunikasi yang menarik. 31:40 Hingga sampai 12 tahun dia sudah merasa 31:44 nyaman, sudah merasa tenang. ketika itu 31:47 dimasukkan pesantren. Baik. 31:54 Tapi kalau misalnya 12 tahun masih 31:58 pusing, mamanya mengatakan udah daripada 32:01 dia enggak bisa dididik, dididikin aja 32:04 di pesantren. Ini yang perlu 32:07 diperhatikan. 32:09 Apakah nanti setelah itu dia 32:14 setelah SMA dia keluar dia baik, 32:16 orangnya baik tapi hubungan interaksi 32:20 kepada orang tua yang lemah, 32:28 interaksi kepada orang tua yang lem. 32:32 Nah, ketika itu kita perhatikan. Nah, 32:36 pertanyaannya bagaimana saya lagi 32:41 setelah saya sudah tua ini anak-anak 32:44 semuanya sudah keluar dari pesantren dan 32:47 hidupnya menyenangkan. 32:50 Apa yang terjadi? Kok saya merasa resah? 32:54 Coba kita perhatikan 32:56 diri kita. 33:00 Kita perhatikan diri kita. Kita dari 33:02 awalnya bekerja dari anak masih kecil 33:06 dari sampai besar kita bekerja. Setelah 33:10 itu pensiun. 33:16 Setelah saya pensiun bagaimana ini saya 33:19 sendiri. 33:23 Suami cuman duduk naruh. Kalau ada 33:27 proyek dia datang. Kalau enggak ada 33:29 enggak pernah memberikan uang. Enggak 33:31 pernah beli ini buat beli itu. Tidak 33:34 pernah. Kalau ada pun misalnya dapat 33:37 proyek dikasih 33:41 itu suami. 33:43 Nah, sekarang istri sudah pensiun. 33:47 Bagaimana? 33:50 Tetapkan jadi seorang istri. Jadilah 33:54 menjadi seorang istri. Kuatkan menjadi 33:57 seorang istri. Selama suami tidak 34:03 bertindak yang tidak baik, tetaplah 34:07 menjadi seorang istri. 34:09 Kalau suaminya dia tidak KDRT, tidak 34:13 marah-marah, tidak main ke mana-mana, 34:16 tidak ke sana, tidak ke mari, dia di 34:19 rumah dekat dekat sama istrinya, 34:22 membantu sedikit, 34:25 insyaallah dia akan menjadi baik. Tapi 34:28 ini tidak, cuma dudukkan aja. 34:33 Jadi dengan teman dia ke sana ke musala, 34:36 balik lagi ke masjid. balik tulang. Nah, 34:40 di situ dia 34:43 merasakan nyaman. 34:45 Merasa nyaman. Kalau kita melihat 34:48 seorang suami yang merasa nyaman, sudah 34:51 biarkan itu suami. 34:56 Kenapa kita kutak-katik? Kenapa dia 34:59 enggak bekerja? Sudah kita hidup dengan 35:03 apa adanya. 35:06 Apa yang terjadi? Maka terjadi sudah 35:10 kita hidup ngapain kita ber 35:15 pusing-pusing 35:17 merasakan bahwa oh suami saya begini, 35:20 suami saya enggak bisa. 35:24 Selama dia menjadikan orang yang baik 35:28 insyaallah. Tapi kalau orangnya tidak 35:30 baik maka jangan. 35:32 Jangan kita ketika orang itu tidak baik. 35:37 Kalau baik, insyaallah selamanya. Maka 35:40 seorang istri itu sebaiknya terima, 35:44 yakinkan kepada dirinya bahwa dia 35:48 benar-benar 35:50 menjadi seorang istri. 35:53 Menjadi seorang istri yang benar-benar 35:57 insyaallah. Oke. 36:01 Jadi 36:03 terima saja apa yang terjadi dalam rumah 36:06 tangga kita selagi dia baik gitu. Mau 36:09 nyari uang kek, mau enggak kek, mau apa 36:11 kek, yang penting dia baik gitu ya. Gitu 36:13 kan. 36:13 Betul. 36:14 Masyaallah. Allah akan kasih rezeki 36:15 kepada kita. Kalau ada di antara ikhwan 36:19 akhwat yang juga ingin mempertanyakan 36:22 sesuatu terkait dengan masalah yang 36:23 datang boleh WA ke 081199720 36:31 ya bersama radio silaturahim insyaallah 36:34 psikologi keluarga akan menjadi bagian 36:38 dari perjalanan kita. Ada yang mau 36:40 ditambahkan sebelum kita akhiri 36:41 kebersamaan ini? 36:47 Bismillahirrahmanirrahim. 36:51 Jadi kita pastikan 36:54 apapun 36:56 yang terjadi pastikan bahwa itu baik. 37:03 Pastikan bahwa itu baik. Kejadian demi 37:07 kejadian yang kita lakukan adalah baik. 37:12 apapun yang kita lakukan pasti jadi 37:15 baik. 37:18 Diingat 37:20 bahwa kita ingin menjadi tenang. 37:25 Hidup ini menjadi tenang. 37:29 Maka kita melakukan sesuatu yang baik. 37:34 Ketika kita melakukan sesuatu yang baik, 37:37 maka datang kebaikan demi kebaikan. 37:41 Tidak mungkin kita melakukan kebaikan 37:44 datang yang tidak baik. Tidak mungkin. 37:48 Pastikan kalau kita melakukan kebaikan, 37:51 pasti akan datang kebaikan lagi. 37:55 Nah, hidup tenang itu karena adanya 38:00 perbuatan baik, adanya perlakuan yang 38:05 konsisten istiqamah. 38:08 di mana perlakuan istikamah ini 38:12 menjadikan diri kita tenang. 38:16 Kenapa kok bisa istikamah tenang? Karena 38:20 istikamah itu berjalan dengan tenang, 38:24 dengan tertib, dengan sistematis. 38:28 Karena istikamah itu adalah satu 38:31 perbuatan yang kita tetapkan. 38:38 Jadi istikamah inilah yang membuat 38:42 ketenangan hati kita. Kita akan tenang 38:46 sampai kapanpun kita akan tenang. 38:51 Insyaallah. 38:52 Insyaallah. 38:54 Jadi kalau golden age atau usia-usia 38:57 yang sangat penting itu anak harus 39:00 bersama kita, mudah-mudahan bisa kita 39:02 lakukan ya. Karena buah hati kita adalah 39:06 sesuatu yang sangat-sangat 39:08 kita dambakan setelah dewasa nanti gitu 39:11 ya ceritanya. Senang sekali kita sudahi 39:14 kebersamaan kita di psikologi keluarga 39:16 dari Radio Silaturahim. Sekali lagi 39:18 kalau ada yang ingin Anda tanyakan 39:20 terkait dengan kasus yang di sekitar 39:23 Anda, silakan WA ke 08 39:26 11199720. 39:30 Sekali lagi terima kasih Ustaz Husein, 39:32 Ustaz Abu Bakar dan semua yang berada 39:34 bersama-sama kami. Billahi taufik wal 39:37 hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi 39:39 wabarakatuh.