Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 [musik] 0:11 [musik] 0:15 Assalamualaikum warahmatullahi 0:17 wabarakatuh. Apa kabar Bang Dullah? 0:20 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:22 wabarakatuh. Alhamdulillah. 0:24 Alhamdulillah. Maaf nih Bang Dullah 0:26 mengganggu. Ada acara rupanya pencerahan 0:29 buat di Pulau Dewata hari ini Bang, ya. 0:32 Iya, apa namanya? 0:34 Di Bali terus. 0:35 Masya Allah. 0:37 Radio kita juga didengar oleh separuh 0:39 Bali ya, dari Jembrana ke sana tuh dari 0:42 Banyuwangi mendengar ini Bang Dullah. 0:44 Nah, Bang Bang Dullah apa yang terjadi 0:47 di negeri kita ini? Dulu ada cecak lawan 0:50 buaya, sekarang kayak buaya lawan buaya 0:53 atau gorila lawan gorila ya, karena emh 0:56 luar biasa kasus yang satu ini sehingga 0:59 junior Pak Bang Dullah seperti Saut 1:01 Situmorang itu mengatakan kok KPK tuh 1:04 uwuh pekewuh gitu ya, si baju hitam ini. 1:07 [mendengus] 1:07 Bagaimana sikapnya? Tapi ada pula juru 1:10 bicara yang mengatakan ini yang 1:12 menangani para alumni KPK katanya di 1:14 Kejaksaan. 1:16 Sementara masyarakat menilai melalui 1:18 berbagai meme ya, bah tentang 1:21 terpecahnya alat-alat eh negara pada 1:25 kisah Prabowo bersama TNI dan Jaksa. 1:28 Sementara Jokowi bersama Polri dan KPK. 1:31 Rakyat bersama Damkar, hidup Damkar kata 1:34 mereka. 1:35 Tapi ini kan sebuah meme yang harusnya 1:37 tidak terjadi Bang Dullah. Belum lagi 1:40 urusan masalah OTT yang terus terjadi 1:43 sudah lebih dari 15 kepala daerah. Salah 1:47 sistem atau salah orang ini? Apa yang 1:49 terjadi dengan bangsa ini Bang Dullah? 1:51 Mungkin Bang Dullah bisa menyampaikan, 1:53 belum lagi masalah LGBT. Wah, 1:56 innalillah. Silakan Bang Yahya Muaz, 1:58 beberapa catatan buat hari ini, Jumat 2:01 penuh berkah. Tafadhol Bang Abdullah. 2:04 [mendengus] 2:04 Para pendengar Radio Silaturahim yang 2:06 sholeh 2:08 dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala 2:09 Jumat berkah ini. 2:11 Yang [mendengus] pertama, 2:13 ketika Aman Jemal Undang-Undang Dasar 45 2:17 menjadi Undang-Undang Dasar 2002, di 2:19 situlah terjadi kecelakaan-kecelakaan 2:22 dan musibah-musibah seperti ini. 2:25 Peraturan bahwa 2:27 kalau 2:29 pemilu memilih anggota DPR tingkat 1, 2:33 tingkat 2 dan pusat, 2:36 maka kemudian presiden, wakil presiden 2:38 dipilih oleh MPR. 2:41 Sehingga begitu, pertama 2:43 cost-nya itu menjadi murah. 2:45 Yang kedua, kalau terjadi penyimpangan 2:48 seperti KKN atau apa, 2:50 itu bisa diketahui. 2:52 Dan KPK juga bisa memproses dia. 2:55 Kenapa? Karena beberapa tahun yang lalu 2:57 KPK menangkap 32 dari 34 anggota DPR di 3:01 Kota Malang, jadi satu bis. 3:04 Yang terjadi di Malang. 3:06 Kalau sekarang Pilpres, 3:08 Pilkada, itu 3:11 bagaimana KPK mau tangkap jutaan orang? 3:13 Itu tidak mungkin seperti [tertawa] itu. 3:18 Money politik luar biasa. 3:21 Sehingga akhirnya kemudian ketika 3:22 seseorang menjadi presiden, jadi 3:24 menteri, jadi 3:25 gubernur, jadi bupati, walikota, anggota 3:27 DPR, dia harus 3:30 kembalikan utang. 3:31 Kembalikan 3:33 yang yang Mas Ihsan kira bahwa kalau 3:36 jadi menteri itu tidak setor. 3:38 Jadi menteri 3:39 juga setor. 3:41 Saya punya 3:42 teman 3:43 apa namanya 3:45 di UI 3:46 dan dosen cerita, 3:48 temannya dia itu diundang untuk jadi 3:51 calon menteri pendidikan. 3:53 He eh. 3:54 Maka sekian 3:55 disuruh oleh pelobi itu sekian miliar 3:59 disetor. 4:00 He eh. 4:00 Ternyata ketika pemungutan nilai, dia 4:02 tidak terpilih. 4:03 He eh. 4:04 Yang terpilihnya adalah orang lain jadi 4:06 menteri pendidikan. Ternyata 4:08 karena dia 4:10 setornya lebih tinggi daripada yang 4:12 dosen UIN. 4:13 He eh. 4:14 Maka kompensasinya katanya, "Sudah Anda 4:16 jadi dubes saja." Temannya bilang, 4:18 "Ngapain jadi dubes?" Jadi untuk jadi 4:21 menteri itu juga ber-setor. Setor. 4:23 He eh. 4:24 Sehingga 4:25 jadi menteri harus kembalikan modal itu. 4:28 Maka kemudian banyak menteri yang 4:29 terlibat. 4:30 He eh. 4:30 Gubernur, walikota, bupati, dan 4:33 lain-lain. 4:33 He eh. 4:34 Nah, 4:35 oleh karena itu maka persoalannya adalah 4:37 bukan persoalan individu, 4:39 He eh. 4:39 tapi persoalan sistem. 4:41 Sistem itu yang kemudian Islam 4:44 melibatkan dari presiden sampai kepala 4:46 desa. 4:47 He eh. 4:47 Sistem lain yang selalu saya katakan 4:49 kembali ke UUD 45 yang asli, 4:52 itu menolak sistem seperti itu. Jadi 4:55 kalau misalnya 4:56 eh presiden waktu presiden dipilih oleh 4:58 MPR, kalau masih ada terjadi 5:00 manipulitik, KPK bisa bisa tangkap 5:03 karena cuma apa namanya 700-an orang 5:06 sekitar. 5:06 He eh. 5:07 Tapi kalau 5:08 seperti pilpres dan pemilu langsung 5:10 bagaimana KPK mau tangkap jutaan orang 5:13 yang melakukan seperti itu. 5:14 He eh. 5:14 Nah, jadi 5:16 demikian sehingga kemudian gubernur 5:18 dipilih oleh DPRD tingkat satu, bupati, 5:21 walikota dipilih oleh DPRD tingkat dua. 5:23 Nah, sehingga dengan begitu maka kalau 5:25 terjadi ada manipulitik, bisa diproses 5:28 oleh KPK. 5:30 Itu satu. Yang kedua, 5:32 dikembalikan kepada tupoksi menurut 5:35 Undang-Undang Dasar 45 yang asli. 5:38 He eh. 5:38 Bahwa kejaksaan itu tugasnya adalah 5:40 penuntutan. 5:42 Oh. 5:42 Bukan penyidikan dan penyelidikan. 5:44 Itu iya. 5:45 Oh. 5:46 He eh. 5:46 Kejaksaan 5:47 itu penyidikan dan penyidikan. 5:49 He eh. 5:50 Nah, sekarang 5:51 kejaksaan juga melakukan penyelidikan 5:53 dan penyidikan. 5:54 He eh. 5:55 Nah, padahal 5:56 [mendengus] 5:56 dia harus tugasnya undang-undang dasar 5:58 itu adalah penuntutan. 6:00 He eh. 6:00 Nah, oleh karena itu maka harus 6:02 dikembalikan 6:03 undang-undang kejaksaan yang asli 6:05 berdasarkan undang-undang dasar 45 asli. 6:07 He eh. 6:07 Bahwa dia penuntut. 6:09 Nah, kemudian penyidikan [mendengus] 6:10 penyidikan oleh polisi dan sehingga 6:13 kemudian bisa jadi itu. 6:15 He eh. 6:17 Kasus yang yang yang pidzus 6:20 itu seharusnya diambil alih oleh KPK. 6:24 Kenapa? 6:25 Dalam undang-undang tindak pidana 6:27 korupsi memang ditetapkan kalau satu 6:29 kasus ditangani oleh polisi maka jaksa 6:32 dan KPK tidak boleh menangani lagi. 6:35 He eh. 6:35 Satu kasus ditangani kejaksaan maka 6:37 polisi dan KPK tidak 6:39 He eh. 6:40 Tapi ada kelebihan KPK kasus yang 6:42 ditangani oleh polisi atau jaksa KPK 6:45 punya wewenang untuk melakukan 6:47 supervisi, melakukan supervisi. 6:50 He eh. 6:50 Dengan begitu maka kalau misalnya 6:52 diproses di kepolisian atau di kejaksaan 6:54 terjadi penyimpangan KPK bisa mengambil 6:57 alih. 6:57 He eh. 6:58 Pengalaman saya di KPE di KPK kasus 7:01 bupati pertama 7:03 di Jawa Tengah diproses oleh KPK itu 7:06 karena 7:08 Polda Jawa Tengah itu menyerahkannya ke 7:09 KPK karena Polda Jawa Tengah tidak 7:12 berani karena bupati ini 7:15 He eh. 7:15 orang partai besar yang waktu itu partai 7:17 besar. 7:18 He eh. 7:18 Nah, sehingga 7:20 tidak mampu serahkan KPK KPK tangani. 7:23 He eh. 7:24 Begitu juga kasus di Bengkulu. 7:26 He eh. 7:26 Itu sudah sampai tingkat kejaksaan tapi 7:29 juga kejaksaan tidak berani dan itu 7:31 waktu dan bukti kan masalah hadir dengan 7:33 pimpinan maka KPK ambil alih. Jadi itu 7:36 kewenangan supervisi 7:38 He eh. 7:38 dari KPK. 7:39 Nah, dalam kasus Polri dan 7:42 kejaksaan Agung ini seharusnya mestinya 7:44 yang ambil alih. 7:45 Oh. 7:46 Nah, tapi problemnya adalah bahwa 7:49 eh tetap kekuatan yang ada itu 7:52 Polri 7:53 KPK itu masih di bawah kuasa Jokowi. 7:57 Sedangkan Kejaksaan Agung itu sudah 7:59 tidak lagi di bawah kekuasaan Jokowi. 8:02 Sebab kenapa aku? Polri ini 8:05 adalah Polresnya Jokowi ketika Jokowi 8:08 jadi 8:09 walikota Solo. 8:10 Heeh. 8:11 Jadi dikendalikan. 8:12 Dikendalikan. Seharusnya kan Kapolri ini 8:15 sudah pensiun kan? 8:16 Iya, banyak orang bilang begitu 8:17 harusnya. Terlama ini betul. 8:20 Tapi [mendengus] malah kemudian di 8:21 diperpanjang seperti itu. 8:23 Heeh. 8:23 Nah, itu itu itu problemnya. 8:25 Nah, oleh karena itu maka 8:28 eh seperti yang kita ketahui bahwa 8:31 eh Jampidsus ini memang orang Jokowi. 8:34 Karena itu ditangkap ditangkap 8:35 ditangkap. 8:36 Tapi ketika ditangkap-tangkap itu 8:38 kemudian juga ada permainan di bawah 8:41 meja 8:41 sehingga kemudian 8:43 eh kalau misalnya Mas Ichsan punya 72 8:47 gram emas di rumah, saya 8:49 saya percaya saja 72 gram kan. Tapi ini 8:52 72 kilo. 8:53 72 kilo, lebih dari Monas ini. 8:57 [tertawa] 8:58 Di bawah meja. 8:59 Heeh. 9:01 Heeh. 9:01 Tapi tahun terakhir 9:03 ada peribahasa Melayu mengatakan bahwa 9:05 siapa dekat air basah, siapa dekat api 9:07 panas. Maka tahun terakhir ini ternyata 9:10 Jampidsus sudah merapat dengan Prabowo. 9:13 Heeh. 9:14 Heeh. 9:14 Maka kemudian di situlah Jokowi 9:17 melakukan tindakan. 9:18 Heeh. 9:19 Melalui Polri untuk dihabisi Jampidsus 9:21 itu. Nah, ini permainan antara kekuasaan 9:26 lama dengan kekuasaan baru. 9:27 [mendengus] 9:28 Ini yang selalu saya katakan kalau 9:30 Prabowo itu adalah Jenderal Tua. 9:32 Heeh. 9:33 Bukan karena dia mantu Presiden 9:34 Soeharto. 9:35 Dia gunakan adagium dalam dunia militer 9:38 to kill or to be killed. 9:39 To kill. 9:40 Membunuh atau dibunuh. 9:41 Ehm. 9:42 Dan kalau dia tidak memulai, dia tidak 9:44 bisa seperti itu. Nah, itu problem dia. 9:46 Prabowo berani atau tidak. 9:48 Atau tersandera dengan kasus pula gitu 9:50 atau bagaimana, Bang? 9:51 Ah, itu. 9:52 Ehm. 9:52 Memang 9:53 Memang 9:54 ini kan negara ini saling menyandera. 9:56 Ehm. 9:57 Megawati menyandera Jokowi, Jokowi 9:59 menyandera Megawati. Kemudian Prabowo 10:01 menyandera Jokowi, Jokowi menyandera 10:03 Ehm. 10:04 menyandera Prabowo. 10:05 Ehm. 10:05 Lusi Sianida. 10:06 Itu 3 tahun pertama itu ada tuntutan 10:08 untuk uji berani. 10:10 Iya. 10:10 Apa 10:13 Kemudian diturunkan dulu. 10:14 Ehm. 10:15 Nah, maka kemudian Jokowi mengatakan iya 10:16 satu paket. 10:17 Iya. 10:18 Terus ada waktu orang mengatakan ini 10:20 Jokowi enggak paham undang-undang dasar 10:21 seperti itu. 10:22 Ehm. 10:22 Nah, kan bisa satu orang, bisa dua 10:25 orang. Saya bilang enggak, bukan bukan 10:27 Jokowi tidak paham. Dia dua kali, dua 10:30 wali, dua [mendengus] periode walikota 10:31 Solo setengah periode. Ini enggak 10 10:34 tahun jadi presiden. Tidak mungkin dia 10:35 tidak paham. 10:36 Ehm. 10:36 Tapi itu adalah sinyal. 10:38 Sinyal kepada Prabowo bahwa kalau anak 10:41 saya Gibran diproses maka Anda juga. 10:44 Maka ternyata itu kemudian informasi 10:47 yang saya terima habis Pilpres kan saya 10:49 ke Singapura ketemu teman-teman di 10:50 Singapura. 10:51 Ehm. 10:51 Nah, mereka 10:53 Pilpres 2004 itu dua 10:55 dua tahapan. 10:57 Bukan satu tahap. Dua tahap itu. 10:59 Ehm. 10:59 Maka kemudian si Jokowi mengatakan 11:02 Pilpres 2004 itu dua tahap. Bukan satu 11:05 tahap. Nah, sehingga dengan begitu maka 11:07 dengan bahwa Pilpres 2008 itu curang. 11:10 Tidak harus Prabowo 11:12 yang menang. Kalau dua putaran antara 11:15 Prabowo dengan Anies tentu saja Anies 11:17 akan menang. 11:18 Ehm. 11:18 Nah, karena itu maka Jokowi memberikan 11:20 sinyal. Gibran diproses, ya sudah. Ya, 11:23 dua paket saya taruh. 11:25 Nah, kemudian nah, problemnya itu ketika 11:28 menjadi Menteri Pertahanan juga Prabowo 11:31 punya kasus. 11:32 Ehm. Menangani pupuk 11:35 di Kalimantan Tengah. 11:37 Kalau kementerian melaksanakan, meskipun 11:40 itu di luar job, itu kan job kementerian 11:42 pertanian kan. 11:43 Iya. 11:43 Tapi masih dipahami lagi seperti itu. 11:46 Ehm. 11:46 Tapi ternyata 11:48 eee [mendengus] Gerindra menunjuk 11:49 yayasan, yayasan yang melaksanakan food 11:51 estate itu. Jadi berarti itu sudah 11:53 melanggar 11:53 Ehm. 11:54 SOP yang ada. Sudah itu 11:56 eee gagal lagi. Kalau berhasil masih 11:58 bisa juga jadi, tapi gagal lagi. 11:59 [tertawa] 12:00 Iya. 12:00 Bukan itu. 12:01 Iya. 12:02 Kemudian masih saya ingat 12:04 Tumbuh jagung di sana. 12:05 Ehm. 12:06 Dia mau 12:07 beli pesawat itu kan. 12:08 Ehm. 12:09 Nah, pesawat terbang itu. 12:10 abal-abal gitu. 12:11 Iya. 12:12 Pesawat 12:13 jet Falcon masyarakat, maka tidak jadi 12:15 beli. 12:16 Ehm. 12:17 eee Prabowo sudah bayar fee. 12:19 Ehm. 12:19 Sudah bayar fee, tanda jadi, tanda jadi. 12:22 Ehm. 12:22 Nah, ketika saya protes itu, kemudian 12:26 orang Gerindra mengatakan itu fee uang 12:29 pribadi Prabowo. 12:30 Ehm. 12:31 Dan uang negara, bukan uang kementerian. 12:33 Ehm. 12:33 Saya bilang, uang pribadi atau tidak, 12:36 menurut undang-undang tindak pidana 12:37 korupsi, itu sudah masuk pasal 12:39 percobaan. 12:40 Ehm. 12:40 Dan pengalaman saya di KPK, ada kasus 12:42 percobaan yang kemudian sampai 12:44 dipenjarakan. 12:45 Ehm. 12:45 Jadi, belum jadi, tapi baru percobaan. 12:48 Nah, itu sudah jadi, sudah berarti 12:50 berarti sudah masuk kategori percobaan. 12:52 Ehm. 12:53 Yang 12:54 Nah, ketika sudah jadi presiden, 12:56 Ehm. 12:56 pertama kali Prabowo ke luar negeri itu 12:59 tidak pakai pesawat presiden. 13:01 Ehm. 13:02 Pakai pesawat swasta. 13:03 Ehm. 13:03 Pakai pesawat swasta. 13:04 Ehm. 13:04 Pertanyaannya adalah pesawat swasta itu, 13:07 itu dibeli, disewa, atau hadiah? 13:11 Coba dicek. 13:13 Ehm. 13:13 Nah, kalau hadiah, itu gratifikasi. 13:16 Ehm. 13:18 Dalam undang-undang tindak pidana 13:19 korupsi pasal 12B itu besar. Itu harus 13:23 melapor ke KPK dalam waktu 30 hari 13:25 kerja. 13:26 Ehm. 13:26 Nah, ini sudah hampir 2 tahun. Itu. 13:29 Jadi, kalau misalnya 13:31 eh terbukti bahwa itu 13:33 eh hadiah disewakan, di dikasih free 13:37 free, maka itu adalah gratifikasi. 13:40 Sehingga itu bisa kena. 13:41 Nah, 13:42 [mendengus] 13:42 jadi Jokowi simpan itu kasus food estate 13:46 dengan kasus pesawat itu. Sehingga 13:48 kapan-kapan itu bisa untuk Nah, kita 13:51 tahu Mas Iksan waktu Prabowo sudah 13:54 pelantikan kan luar biasa kan? 13:56 Betul. 13:56 Herois betul seperti itu. 13:57 Oh, iya. 13:59 Mantap. 14:00 Nah, beberapa hari dipanggil Jokowi ke 14:03 Solo. Nah, Jokowi serahkan 14:05 ini daftar 13 orang. 14:07 Tidak boleh diganti, nambah boleh. Satu. 14:11 Yang kedua, jangan libatkan Megawati. 14:13 Yang ketiga, jangan libatkan anak saya. 14:15 Yang keempat, kalau tidak 9 naga turun. 14:18 Heh. 14:18 Jangankan 9 naga, Mas Iksan, satu naga 14:20 saja sudah drop. 14:21 Iya, ini berarti pertarungan antara naga 14:24 pula ya, Bang? Eh, yang yang terjadi. 14:27 Nah, 14:27 [mendengus] 14:28 Nah, itulah sebenarnya yang terjadi di 14:31 sekarang. [berdehem] 14:31 Sekarang ini saya 14:32 Jadi, yang jadi problem itu kan gajah 14:34 dengan gajah berantem, nah pelanduk yang 14:37 Apa? Pelanduk yang susah. 14:38 Heh. 14:39 Pelanduk yang susah. 14:40 Oleh sebab [berdehem] itu, maka 14:42 satu saran kepada masyarakat, dan kepada 14:45 para pemilih, 14:47 nah, supaya kemudian 14:49 punya keberanian untuk menggunakan 14:52 haknya. Kan 14:53 apa namanya? 14:55 Pilpres atau pemilu itu kan hak, bukan 14:58 kewajiban kan? 14:58 Heh. 14:59 Bukan kewajiban. 15:00 Betul. 15:01 Nah, hak itu digunakan. Caranya 15:02 bagaimana? 15:04 Jangan lagi memilih partai-partai yang 15:06 sekarang ini berkolaborasi, mulai dari 15:09 Jokowi waktu itu sampai sekarang. 15:11 Heh. 15:11 Sekarang begitu, maka kemudian eh apa 15:13 namanya? Tidak ada lagi partai yang 15:15 lolos. 15:15 Habis partainya semua. 15:17 Berkolaborasi. 15:19 Heh. 15:20 Hmm. 15:21 Ini dasar partainya yang asli. Hmm. 15:24 Bahwa presiden dipilih oleh MPR, 15:26 gubernur dipilih oleh DPRD tingkat 1. 15:29 Hmm. Kemudian 15:30 partai politik 15:31 juga juga. 15:32 Dengan cara itu sanksi kita berikan 15:34 kepada partai sehingga kemudian akhirnya 15:37 rakyat tidak jadi korban pencobaan 15:39 kelinci percobaan setiap 5 tahun sekali. 15:41 Itu beberapa catatan Hmm. yang terjadi. 15:45 Soal LGBT eh Mas Ihsan saya kaget Hmm. 15:49 dengan menemukan data bahwa Indonesia 15:52 itu nomor 5 LGBT terbesar di dunia. 15:54 Nomor Hmm. nomor 5. Hmm. Sehingga 15:57 kemudian saya lihat musibah-musibah 15:59 Aceh, kemudian Sumatera [mendengus] 16:01 Utara, kemudian Sumatera Barat terakhir 16:05 bulan lalu di Palu apa segala macam. 16:07 Hmm. Saya terus ingat kasus Nabi Nuh. 16:10 Saya ingat kasus Nabi Luth. Yang Nabi 16:13 Luth itu kan luar biasa. Apa namanya? Eh 16:16 apa homoseks dan sebagainya itu. Hmm. 16:19 Dan kemudian Allah hancurkan itu sampai 16:22 tidak ada bekasnya. 16:24 Kaum Nabi Luth itu. 16:25 Dengan cara karena 16:27 Hasbiyallah 16:28 lupa bahwa 16:29 Iya. 16:31 [mendengus] 16:31 Hmm. Kita lupa bahwa tentara Allah itu 16:34 bukan hanya malaikat. Tentara Allah itu 16:36 banjir. Hmm. Tentara Allah itu kuntul 16:39 petir Hmm. ombak 16:42 angin itu tentara Allah. Tentara Allah. 16:45 Jadi jangan sampai kemudian kasus di 16:47 Aceh, kasus di Sumatera Utara, Sumatera 16:49 Barat kasus Palu ini Hmm. itu 16:52 terjadi karena kemaksiatan yang kita 16:55 lakukan salah satunya ya LGBT. Hmm. LGBT 16:58 itu berbuat syahwat. Nah, apalagi kalau 17:00 misalnya datang ke sana 17:01 [mendengus] 17:02 dan wajib LGBT ini sudah masuk ke istana 17:05 misalnya atau mendekati istana. Nah, itu 17:07 Hmm. itu repot lagi sampai itu 17:10 Bang Amien Rais bilang kan macam begitu. 17:12 Sebuah eh apa ya ingatan kepada sahabat 17:16 beliau. Hmm, ya, luar biasa. 17:19 Hah, apakah bencana itu juga 17:22 tercipta seperti korupsi ini, bukan 17:24 hanya alam atau bagaimana, Pak? 17:28 Jadi, eh 17:30 di dalam salah satu hadis Rasulullah 17:34 yang panjang, saya singkatkan saja 17:36 maknanya, kata Rasulullah, umat Islam 17:38 itu seperti buih di lautan, 17:41 tergantung dari mana datangnya angin. 17:43 Hmm. 17:44 Para sahabat bertanya, 17:45 "Kenapa, ya, Rasulullah?" 17:47 Kata Rasulullah, "Hubbu dunia wa karihul 17:49 maut." 17:50 Cinta dunia, takut mati. 17:52 Hmm. 17:53 Jadi, oleh karena itu, maka 17:55 apakah jabatan, apakah kursi, apakah eh, 17:58 bansos atau apa saja, itu 18:01 cinta dunia, cinta dunia. Dan oleh sebab 18:03 itu, ya, kemudian, ya, 18:05 eh, takut mati. Jadi, apakah presiden 18:08 yang kemudian walikota, bupati yang 18:11 kemudian, takut mati, sehingga kemudian, 18:13 ya, sudah apa, ikut dan seterusnya. 18:16 Padahal kalau saya tidak takut mati, 18:19 nah, saya selalu katakan kepada 18:21 mahasiswa saya, Ali bin Walid itu berapa 18:23 puluh perang 18:25 Hmm. 18:25 yang beliau pimpin, ya, kan, 18:28 tapi matinya di tempat tidur. 18:30 Iya. 18:30 Dan dia menangis. 18:31 Temannya, sahabatnya mengatakan kepada 18:33 Ali, 18:34 "Kata Ali bin Walid, kenapa saya tidak 18:35 meninggal di medan perang supaya status 18:37 sebagai syuhada?" 18:38 Hmm. 18:39 Jadi, soal 18:41 ajal itu bukan soal sakit atau tidak 18:43 sakit, ajal itu waktu sudah sampai atau 18:46 belum. 18:47 Sehingga dengan demikian, maka kemudian 18:48 ketika para pejuang, para syuhada yang 18:50 seperti itu, itu adalah sesuatu yang 18:53 sudah ditetapkan oleh Allah, sehingga 18:55 kita jalani saja. Bahkan kemudian 18:57 apa-apanya, dalam Alquran disebutkan, 18:59 "Faidza azamta fatawakkal ilallah." 19:02 Ketika kamu sudah berusaha, sudah 19:04 berikhtiar, serahkan kepada Allah. Allah 19:06 yang menentukan bagaimana hasilnya. 19:08 Hmm. 19:08 Nah, ini yang problem bagi masyarakat, 19:11 khususnya umat Islam, ya. 19:12 Kemudian ketiga itu ketika memiliki 19:14 kendaraan itu 50.000. 19:17 He eh. 19:17 Ah, satu caleg 50.000, 10 caleg 500.000. 19:21 Ah, sudah rasa banyak 20 caleg 1 juta. 19:24 Tapi itu di satu kali 5 tahun, sudah itu 19:26 kemudian mereka harus bayar pajak ini, 19:28 pajak ini, pajak ini, pajak ini. 19:30 He eh. 19:30 Jadi, sebelum ada munas munas eh 19:34 muk 19:34 muk yang terakhir, itu saya sudah 19:36 katakan 3 tahun lalu bahwa kalau kita 19:39 kembali ke pada sistem Islam pada 19:41 undang-undang 45 tidak ada pajak PBB 19:44 tidak ada pajak kendaraan. 19:46 Karena dalam Islam itu kita punya rumah 19:49 yang kita tinggali itu tidak boleh kena 19:51 pajak. Kita punya mobil yang dipakai 19:54 pergi kantor 19:55 Iya. 19:55 motor pergi kantor itu tidak kena pajak. 19:58 Yang kena pajak itu adalah rumah yang 20:01 bisnis dan kendaraan bisnis. Tapi itu 20:04 bukan pajak, itu zakat zakat apa begitu. 20:06 He eh. 20:07 Nah, kalau kembalikan kepada zakat maka 20:10 akan ada keberkahan. Ini yang sering 20:12 saya katakan 20:14 Allah memberikan keberkahan luar biasa 20:16 buat Indonesia ini. 20:18 Masya Allah. 20:18 Hutannya tambang, lautnya 20:20 He eh. 20:20 kalau dengan taat masya Allah. 20:22 He eh. 20:23 Masih Islam, kita punya laut itu 20.000 20:25 triliun. 20:26 Oh, duh. 20:26 Satu tahun potensi laut kita punya APBN 20:29 tahunan cuma 3.500 triliun. 20:31 Beres itu utang, ya. 20:33 Ah, jadi kalau satu tahun saja bisa 20:35 dapat 6 APBN. 20:36 He eh. 20:36 Karena 20.000 triliun 20:37 He eh. 20:38 20.000 yang sering saya omong-omong itu 20:40 He eh. 20:41 kita punya apa 20:42 data-data di komputer menunjukkan kalau 20:45 17 tambang yang dikelola oleh BUMN BUMD 20:47 bukan oleh oligarki setiap warga negara 20:49 dari 295 juta itu setiap warga negara 20:51 dapat 20 juta. 20:52 He eh. 20:53 Iya. 20:53 Iya. Dulu Bang Abraham Samad pernah 20:56 bilang itu, tapi 20:58 [terkesiap] 20:59 terakhir Bang Dullah 21:01 kufur nikmat namanya. 21:02 Iya, iya. Kufur nikmat, ya. 21:05 Nasehat Bang Dullah di hari Jumat ini 21:07 apa Bang? Buat pendengar di 28 negara 21:10 juga dari Aceh hingga Banyuwangi. 21:12 Silakan Bang Dullah. 21:13 [mendengus] 21:15 Yang pertama 21:17 kata Rasulullah 21:18 ibda' binafsik 21:20 Hmm. 21:20 Jadi 21:21 saya, Mas Isan, para pendengar 21:24 mulai apa saja yang baik dari diri 21:26 sendiri. 21:26 Hmm. 21:27 Dihindari daripada satu kejahatan 21:30 kejahatan pada diri sendiri. 21:32 Hmm. 21:32 Baru yang kedua kata Alquran ya 21:34 ayyuhalladzina 21:35 qu anfusakum wa ahlikum naroo. 21:38 Hmm. 21:38 Ini perintah suami lindungi dirimu dan 21:41 kemudian lindungi istrimu dan anakmu. 21:42 Hmm. 21:43 Yang bahan bakarnya jadi manusia yang 21:45 patuh. 21:46 Nah, kalau itu sudah kita lakukan pada 21:49 diri sendiri 21:50 suami, istri, anak, kemudian keluarga, 21:54 maka kemudian akan terciptalah 21:56 keluarga sakinah, kemudian RT sakinah, 21:59 kemudian RW sakinah, kemudian kecamatan 22:02 sakinah, kabupaten sakinah 22:04 Hmm. 22:05 provinsi sakinah, negara sakinah. Itulah 22:07 Kita dapat. 22:08 keberkatan dari Allah. 22:09 Insya Allah. 22:10 Kalau umat Islam bisa kita temukan itu 22:13 masyarakat 22:14 Amin. Amin. Amin. Masya Allah. 22:15 kita, maka bisa jadi masyarakat bukan 22:19 Hmm. 22:19 Indonesia pas, tapi Indonesia cemas dan 22:22 berbahaya sekarang. 22:23 Insya Allah. Masya Allah. Terima kasih. 22:26 Terima kasih Bang Dullah. Mudah-mudahan 22:28 Bang Dullah selalu sehat dan selalu 22:30 bermanfaat. 22:30 Amin. 22:31 Ah, salam buat teman-teman di sana. 22:33 Asalamualaikum warahmatullahi 22:34 wabarakatuh. 22:36 Waalaikumsalam [berdehem] warahmatullahi 22:37 wabarakatuh.