Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:08 Rasul TV 0:15 Assalamualaikum Bang Ikhsanuddin Nursi, 0:17 apa kabar? 0:19 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:21 wabarakatuh Ikhsanuddin Nursi dan para 0:23 pemirsa Rasul TV. 0:25 Ah, alhamdulillah ini 0:28 bagaimana aktivitas kita ini harus 0:30 karena Allah kata begitu kan hari ini 0:31 Bang ya. 0:32 Oh, sebenarnya bukan hanya hari ini. 0:34 Oh, betul. 0:35 Hari ini dan hari-hari yang akan datang. 0:37 Ah, itu penting ya habis. 0:39 Itu kalimatnya lillahi rabbil alamin. 0:42 Itu. Ah, luar biasa ini kalau kita 0:45 bincang dengan orang yang tahu paham 0:47 tapi memang eh, apa ya negeri kita ini 0:52 ndak pernah habis isu macam-macamnya. 0:55 Masalah keadilan, masalah makanan, 0:58 masalah bocor sana bocor sini. Tapi ada 1:02 kebocoran yang menjadi berkah. Kemarin 1:04 BPJS datanya bocor, masuk lagi kisah 1:07 tentang 1:08 apa tuh gaji orang pegawai negeri yang 1:11 bocor ke mana-mana. 1:12 Kali ini data pajak sembako yang bocor. 1:15 Ini 1:16 kan di undang-undang dasar tuh 1:18 pendidikan ditanggung negara ya. Fakir 1:20 miskin dan lain-lain juga ya tapi 1:23 kok ini pendidikan kena pajak pula. 1:26 Bukan terima kasih sama swasta yang 1:27 turut kontribusi ya macam berbagai 1:30 lembaga. Apa yang Bang Ikhsanuddin Nursi 1:34 lihat dari peta ikhtiar perbaikan bangsa 1:37 ini Bang? 1:38 Silakan Bang. 1:39 Oh, karena kalimatnya ikhtiar perbaikan 1:41 bangsa 1:42 He eh. 1:42 maka mau tidak mau kita bicaranya 1:44 konsepnya dulu ya. 1:45 Betul. 1:46 Baru kemudian kita bicara kebijakannya. 1:48 He 1:48 eh. 1:50 Eh 1:51 konsepnya sesungguhnya kan 1:53 eh, bismillahirrahmanirrahim konsepnya 1:55 sesungguhnya kan mestinya dibalikin ke 1:57 konstitusi. 1:58 Ehm. 1:59 Kan tidak ada pejabat negara yang tidak 2:00 disumpah atas nama Allah 2:02 Betul. 2:03 untuk menjalankan konstitusi. 2:04 Ehm. 2:05 Ah, semuanya begitu. Artinya 2:08 kalau ngambil kata pembukaan 2:12 setiap pejabat negara di negeri ini 2:14 Ehm. 2:14 apakah itu DPR 2:17 apakah itu pengadilan, para hakim 2:19 Ehm. 2:20 atau eksekutif 2:23 itu punya lima amanat. 2:26 Ehm. 2:26 Amanat pertama 2:28 membebaskan bangsa ini dari keterindasan 2:32 membebaskan bangsa ini dari kebodohan 2:35 membebaskan bangsa ini dari kemiskinan 2:37 membebaskan bangsa ini dari 2:39 ketidakadilan 2:41 dan yang terakhir yang paling penting 2:42 membebaskan bangsa ini dari kehinaan. 2:45 Ah. 2:45 Itu karena ketuhanan yang maha esa, 2:47 karena orang yang berketuhanan yang maha 2:48 esa itu 2:49 Tak boleh gitu. 2:50 amanat billah 2:51 Ehm. 2:51 itu pasti hidupnya tidak hina. 2:53 Harusnya. 2:54 Dan itu artinya bangsa ini harus bangsa 2:55 beragama. 2:57 Dan eh di situlah relasi pasal 29 ke 3:01 pasal 31 ke undang-undang pendidikan. 3:03 Ehm. 3:04 Eh, bahwa pendidikan itu dalam rangka 3:05 mencapai 3:07 iman dan takwa dan berakhlak mulia 3:09 dengan keterampilan yang dikembangkan 3:10 berbasis eh 3:12 sains dan ilmu pengetahuan. 3:13 Ehm. 3:14 Kalau pakai pasal 31 3:17 negara wajib memang memberikan 3:18 pendidikan dasar dan menengah 3:19 istilahnya. 3:20 Ehm. 3:20 Tidak sampai pendidikan tinggi. 3:22 Oh, ya. 3:22 Tapi ada tetapi nya. 3:25 Kewajiban itu 3:26 Ehm. 3:27 ditetapkan dalam amandemen 3:29 sebesar 20% dari total anggaran. 3:31 Gede loh. 3:32 Gede sekali. 3:34 Gede. 3:34 Itu saya bahas dalam konstitusi bahwa 3:36 sesungguhnya sementara ini 20% itu 3:39 pernah ditolak-tolak oleh pemerintah 3:41 pusat sampai akhirnya digugat ke 3:43 Mahkamah Konstitusi 3:44 baru dijalankan posisinya. 3:46 Ehm. 3:47 Saya kira itu harus kita kita akui itu 3:49 sebagai eh keberhasilan kelompoknya 3:53 Hamzah Haz dan kawan-kawan. 3:55 Iya. 3:56 Jadi kita ingat betul 20% nya ya, 20% 3:59 nya. 4:00 Semua pihak sepakat dengan pendidikan 4:02 itu, 4:03 pendidikan dasar dan menengah adalah 4:05 kewajiban negara untuk membiayainya. 4:08 Tapi besaran 20% itu adalah kelompok 4:10 Hamzah Haz 4:12 yang didukung oleh Golkar 4:14 lalu kemudian di judicial review karena 4:16 pemerintah tidak pernah menjalankan dan 4:18 akhirnya dijalankan. Persoalan 4:20 berikutnya adalah 4:21 dilaksanakannya juga pembangunan 4:23 pendekatan 4:24 pembangunan-pembangunan fisik. 4:26 Oh itu, ke mana duitnya? Itu yang jadi 4:28 masalahnya. 4:29 Itu masalahnya. Jadi 4:30 istilahnya alokasi 20% itu 4:34 didistribusikan ke mana? Nah begitu itu 4:37 problematikanya. 4:38 Nah karena 4:39 bicaranya konsep tentang ikhtiar 4:41 membangun peradaban sosialnya. 4:43 Kan di baliknya ikhtiar membangun 4:45 peradaban. 4:46 Harusnya. 4:46 Yang tadi berakhlak mulia itu berarti 4:49 adabnya yang menghasilkan adab yang di 4:51 di di digenahi karena ee 4:55 format pemikiran dan tindakan 4:58 sehari-hari mestinya menghasilkan akhlak 4:59 mulia. Means akhirnya berbasis pada 5:01 pendidikan. 5:03 Kalau di kalau dalam kalau pakai 5:06 pakai konsep Islam dahsyat sekali itu. 5:08 Ehm. 5:09 Iqra bismi rabbik itu itu pembelajaran 5:13 teaching nya di situ, learning nya di 5:14 situ itu langsung itu 5:17 posisinya. Bagaimana teaching nya 5:20 bagaimana learning nya, bagaimana 5:22 training nya itu langsung di situ 5:23 dahsyat luar biasa. 5:25 Jadi ee 5:26 itu makanya saya sebut konsep pendidikan 5:29 Islam itu paripurna sesungguhnya kalau 5:30 diterapkan. Maka tidak layak kalau 5:32 pembelajaran Islam itu hanya bicara 5:34 penghafalan tapi menghilangkan 5:36 pentadaburan, pemahaman atas Alquran 5:40 dan hadis seperti itu. 5:42 Nah balik lagi kalau kita memang 5:44 berikhtiar dalam rangka membangun 5:45 peradaban bangsa yang berakhlak mulia 5:48 sesuai dengan amanat konstitusi 5:51 maka 5:52 tidak layak pendidikan dasar dan 5:54 menengah bahkan pendidikan tinggi di 5:56 dipajaki 5:57 dipajaki 5:59 tidak mungkin itu dipajaki di situ gitu 6:02 itu dalam rangka 6:03 di Amerika misalnya contoh Amerika 6:06 negara yang liberal kayak gitu 6:09 perguruan tinggi perguruan tinggi negeri 6:10 misalnya George Washington University 6:13 George Washington University itu itu eh 6:15 Universitas Negara gitu misalnya 6:17 itu 6:18 eh 6:19 bahkan mereka membiayai dengan 6:20 memberikan 6:21 istilah istilah mereka kredit pendidikan 6:24 Islam 6:25 jadi walaupun sudah berkeluarga 6:27 kemungkinan besar mereka bukan hanya 6:28 punya gadai perumahan kemungkinan besar 6:31 juga mereka masih belum selesai membayar 6:32 kredit kredit pendidikan gitu gitu 6:36 karena saking ingin membiayai mereka 6:37 selain yang namanya kampusnya sendiri 6:39 dibiayai oleh eh oleh eh oleh negara 6:43 betul 6:43 artinya yang dibiayai bukan hanya 6:45 kampusnya sendiri tapi si mahasiswanya 6:47 juga dibiayai 6:48 luar 6:48 kemudian teringat kasus Obama ya 6:51 bagaimana 6:52 eh ada keinginan di era Obama saat itu 6:55 menghapus sejumlah 6:57 kredit dari 6:58 dari sejumlah warga negara Amerika yang 7:01 kesulitan karena krisis keuangan waktu 7:03 itu gitu misalnya 7:04 luar biasa 7:04 muncul saat itu perdebatan itu gitu 7:06 misalnya karena ini mereka ingin 7:07 menghapus karena jumlahnya relatif 7:09 signifikan itu ramai dalam diskusinya 7:11 gitu misalnya nah kalau kita kembali ke 7:13 Indonesia 7:14 ini menunjukkan bahwa sesungguhnya 7:15 konsep kita enggak jelas 7:17 konsep kebijakan ya 7:19 iya 7:19 enggak jelas arahnya ke mana dan 7:21 eh 7:22 kalau soal bocor buat saya karena memang 7:25 di dalamnya berarti tidak kokoh 7:26 institusinya tidak solid institusinya 7:29 institusi di dalam tidak kokoh dan ada 7:31 pihak yang tidak setuju atas cara 7:33 berpikir eh konsep yang muncul di 7:35 Kementerian Keuangan apakah itu di 7:36 Ditjen Pajak atau gimana walaupun 7:38 kemudian Yustinus Prastowo 7:40 he eh 7:41 eh yang 7:42 ya iya. Saya pernah berdebat sama yang 7:44 bersangkutan, saya tahu kualitasnya 7:46 gitu. 7:47 Kalau ngelihat wajah saya lucu nih 7:48 ketika saya ngomong kualitasnya. 7:53 Eh, itu ya harus begitu gitu ngomongnya. 7:56 Apalagi bilang eh Sri Mulyani bilang, 7:58 "Saya heran ini bisa bocor." Tapi pada 8:00 saat yang sama kemudian terjadi 8:01 pembenaran bahwa 8:03 kebocoran itu dalam rangka memajaki 8:05 untuk barang-barang retail mewah katanya 8:07 yang ada di retail mewah kan bukan 8:09 dipajaki fungsional. 8:10 Dari pendidikan yang kemudian juga 8:12 dimasukkan dalam fungsi barang retail 8:13 bocor. Ini berarti 8:16 ada ke- ada 8:17 eh ketidakutuhan 8:19 Hmm. 8:19 tidak solid 8:20 Belum siap. 8:21 dalam organisasinya. Konsolidasi 8:23 kelembagaan Kementerian Keuangan itu 8:25 ternyata rapuh gitu kalau ngelihatnya. 8:28 Sampai akhirnya bocor kayak gitu. Ada 8:29 yang pihak-pihak yang tidak suka seperti 8:31 itu. 8:31 Dan enggak mau dibandingkan dengan pajak 8:33 mobil dan lain-lain. Jangan dong 8:34 banding-bandingkan gitu katanya. Begitu 8:36 kata menteri. 8:36 Enggak, enggak. Kan, kan 8:37 Saya enggak kan kita bicara ketika PPN 8:40 PPNBM dihapuskan 8:41 0% terus kemudian bergeser 50% nanti 25% 8:44 kan sekarang sudah 50% ya 8:46 Betul. 8:46 PPNBM-nya. Nanti eh di bulan September 8:49 akan sampai 25% sampai akhir tahun sudah 8:51 Kalau enggak diperpanjang ya. 8:52 Iya, kalau enggak diperpanjang. 8:55 Kan saya bilang PPNBM itu pajak barang 8:57 mewah. Namanya saja PPNBM. 8:59 Hmm. 9:00 Pajak penjualan barang mewah. Nah, lucu 9:02 kan kalau saya 9:02 Mungkin ada makanan barang makanan mewah 9:04 nanti kabarnya gitu. 9:06 Yang keluarnya sama antara yang mewah 9:08 dan tidak semewah kan sama saja 9:09 keluarnya. 9:10 Oh, ah. 9:11 Di sini dia tidak mampu membedakan. 9:13 Hmm. 9:14 Di sini nih kacau nih. Makanya saya 9:15 kemarin dalam sebuah dalam beberapa kali 9:17 debat bahkan-bahkan di Mahkamah 9:19 Konstitusi saya menyebut kegagalan utama 9:21 dari pemerintahan adalah 9:23 karena mereka tidak berani menetapkan 9:26 mana pabrik goods, mana komersial goods. 9:29 Nah, itu. 9:29 Kenapa? Karena orientasinya neoliberal. 9:32 Segala sesuatunya menjadi komersial 9:33 goods. 9:34 Hmm. 9:34 Sehingga mereka menganggap 9:36 semua barang tunduk pada hukum penawaran 9:38 permintaan. 9:39 Ehm. 9:39 Nah, peran negara cuma sebagai 9:41 regulator, tidak ingin menjalankan 9:43 perintah bagaimana bagaimana menyediakan 9:45 public services, 9:47 bagaimana menyediakan public goods, 9:48 enggak paham mereka. 9:50 Iya, karena saya pengalaman Ramadan 9:52 kemarin ya, ada kurma yang dikuasai 9:54 oligarki, ketika kurma yang eh apa ya, 9:58 ya macam rakyat bikin sendiri lah gitu, 10:01 itu mengalami masalah yang luar biasa 10:02 karena ikhtiar dari oligarki mengganjal 10:05 impor kurma 10:06 yang natural ini gitu. Itu kan sebuah 10:09 permainan biasa dalam oligarki ini 10:11 begitu. 10:12 Ya, itu itu yang saya sebut 10:13 Ehm. 10:14 bahwa ketika oligarki masuk ke dalam 10:16 kancah kekuasaan, itu kan secara tidak 10:17 langsung menunjukkan apa yang dikerjakan 10:19 oleh 10:20 Ehm. 10:20 Fahri Hamzah Hamzah adalah betapa 10:22 oligarki itu punya akses pada kekuasaan. 10:25 Ehm. 10:25 Sehingga mereka sehingga mereka bisa 10:27 mengganggu pasokan-pasokan barang 10:29 Ehm. 10:30 pihak lain dan sementara mereka 10:31 melancarkan pasokan barang mereka. Itu 10:33 bagian dari persaingan. 10:35 Ehm. 10:35 Dan persaingan itu persaingan tidak 10:36 sehat. Dalam dunia hukum penawaran 10:38 permintaan, itu dianggap biasa. 10:40 Tapi jangan lupa bahwa yang namanya 10:42 mengakses kekuasaan 10:44 Enggak semua orang loh. 10:45 biayanya. Yang biayanya kemudian 10:48 dibebankan kepada konsumen, kepada 10:49 pembeli. 10:51 Ehm. 10:52 Dan itu dalam dalam bahasa ekonomi 10:54 politik, itu dianggap sebagai biaya 10:56 transaksional. 10:58 Ehm. 11:00 Dan akibatnya apa? Ketika mereka sedang 11:02 ketika mereka mempersulit akses, lalu 11:04 kemudian mereka tahu akses yang mereka 11:06 persulit tidak terjadi, mereka pukul di 11:08 harga 11:08 Ehm. 11:09 dan kemudian akses yang mereka persulit 11:10 lagi jika sukses, 11:12 Ehm. 11:12 ah, ya sudah, dia pukul lagi berikutnya 11:14 harganya sampai satu saat harganya akan 11:16 naik melambung dan pemerintah tidak bisa 11:18 menguasai. Contoh yang paling menarik 11:19 adalah gula. 11:21 Contoh yang paling menarik adalah garam. 11:23 Contoh yang paling menarik adalah beras. 11:24 Beras, semuanya. 11:26 Dan kacang-kacangan yang dari Brazil dan 11:28 Amerika itu kan, tempe itu 11:30 Contoh yang paling sederhana juga 11:32 daging. 11:33 Ehm. 11:34 Nah, tapi ini kan ujung-ujungnya dari 11:36 masalah keuangan pemerintah yang digebuk 11:38 dengan pandemi, apalagi kebocoran yang 11:41 luar biasa kata orang KPK yang baru eh 11:46 disingkirkan atau tanda kutip itu ini 11:49 bukan 10 miliar, 20 miliar zaman dulu, 11:52 sekarang triliunan begitu. Ah, 11:54 bagaimana Bang? Apakah ada ada ini ada 11:56 kisah lain eh dari ikhtiar mencari uang 12:00 ini eh pemerintah ini dengan ikhtiar 12:03 untuk saya bilang tadi di berita pas 12:05 saya komentar kenapa enggak zakat saja 12:07 dijadikan 12:08 pajak sih kalau memang pemerintah mau 12:10 tentu dengan pengawasan cara-cara zakat 12:13 memberikan dana ke masyarakat. 12:17 Yang pertama soal soal biaya mengatasi 12:20 eh pandemi ya. 12:22 Ehm. 12:22 Persoalan. 12:24 Eh. 12:25 Kalau konsep dasarnya sejak awal antara 12:28 pemerintah dengan masyarakat 12:29 Ehm. 12:29 dan dengan swasta hidupnya berbagi 12:31 Ehm. 12:32 maka pemerintah tidak akan menanggung 12:33 sendiri beban ini. 12:34 Betul. 12:36 Terasa ada. 12:36 kuncinya. 12:37 Macam-macam zaman dulu ya. 12:38 Ehm. Iya, tapi karena pemerintah selalu 12:41 menempatkan 12:42 Ehm. 12:42 eh pihak lain sebagai objek kebijakannya 12:45 Ehm. 12:45 maka pemerintah berhadapan dengan posisi 12:47 penolakan sikap berbagi dari masyarakat 12:50 Ehm. 12:50 dan dari pihak swasta. 12:52 Iya, betul, betul. 12:54 Bahkan pihak swasta bisa-bisanya 12:55 membebani pemerintah. Contoh-contoh 12:57 sederhananya adalah ada pajak PPN pada 13:00 PPNBM. 13:00 Ehm. 13:01 Bila contoh sederhananya PPNBM pada 13:03 industri properti 13:04 Betul. 13:05 itu contoh. Nah, karena mereka 13:07 bermaksud mendahu 13:09 Ehm. 13:09 apa me mengais kembali perekonomian yang 13:12 memang sudah ter tinggal sisa-sisa ini 13:14 gitu Pak. 13:14 Ehm. 13:15 Dari posisi global pandemi. 13:17 Nah, 13:18 dampaknya masyarakat yang punya uang 13:20 Ehm. 13:21 yang ada di perbankan itu menahan diri 13:23 dan kemudian melakukan bukan sekedar 13:25 menahan diri dari posisi perekonomian, 13:27 langsung juga mengamankan diri. Jadi ada 13:29 konsep pertahanan, ada konsep pengamanan 13:32 dari situasi perekonomian yang tidak 13:34 memberikan gambaran 13:36 ada kepastian soal itu gitu. Apalagi 13:39 dituding sebelumnya pada September 13:41 2019-nya ada problem kredibilitas 13:44 misalnya. Nah, problem kredibilitas itu 13:46 ternyata dimunculkan kembali oleh Bank 13:47 Dunia dengan menyetujui pinjaman 400 13:50 juta US dolar dengan kalimat untuk 13:53 mengatasi kerentanan keuangan. 13:56 Itu kan persoalan kredibilitas. 13:59 Kerentanan keuangan itu kerentanan nilai 14:00 tukar. 14:02 Kerentanan sistem ekonomi itu artinya 14:04 artinya dari itu bahwa kredibilitas 14:06 perekonomian Indonesia itu rendah. Itu 14:08 kan begitu kalimatnya. Jadi bahasa 14:10 ekonomi politiknya bahasa terjemahkan 14:12 ketika Bank Dunia memberikan pinjaman 14:14 400 juta US dolar atau 5,6 triliun lebih 14:18 posisinya, itu menggambarkan 14:20 betapa kredibilitas perekonomian 14:22 Indonesia itu jelek. 14:24 Ada menteri bilang tantrum, tantrum 14:26 minggu lalu sebut-sebut tantrum itu apa 14:28 Bang? Akan terjadi tantrum karena 14:29 pengaruh terhadap Amerika. Gimana? 14:32 Taper tantrum itu 14:34 eee 14:35 quantitative easing di 14:37 dihentikan, 14:39 suku bunga dinaikkan posisinya 14:42 eee lalu eee lalu dalam rangka 14:44 mengendalikan inflasi eee itu 14:48 sementara kalau yang dalam konstruksi 14:50 eee tantrum kebijakan quantitative 14:53 easing gitu ya. Artinya membanjiri pasar 14:56 dengan likuiditas dengan cara Bank 14:59 Sentral membeli surat utang 15:01 dari pemerintah 15:02 itu dilakukan. Nah, tapering off-nya 15:05 atau tahap penahanannya adalah eee 15:08 eee quantitative easing-nya di tahan 15:11 posisinya eee surat utang yang dibeli 15:14 pemerintah ditahan, enggak enggak enggak 15:16 beli lagi eee suku bunga dinaikin 15:19 sehingga antara inflasi dengan tingkat 15:20 suku bunga kembali dalam posisi 15:22 seimbang. Nah, itu yang terjadi di 15:23 Amerika. 15:24 Oke. 15:25 Apa? Karena dilihat indeks harga 15:26 konsumen membaik, sudah sampai posisinya 15:29 tinggi betul gitu posisinya. 15:30 Iya. 15:31 Dan dikhawatirkan inflasi 15:33 Ehm. 15:33 tantrumnya, kuantitatif easing-nya, eh 15:36 itu ya, itu dihentikan, dikurangin 15:38 posisinya. 15:39 Ehm. 15:39 Supaya tadi inflasinya tidak tidak 15:41 meroket. 15:42 Ehm. 15:42 Itu tapering up, tantrum dan itu. 15:44 selamat Amerikanya, kitanya yang 15:46 nyungsep gitu loh. Karena dia mungkin 15:47 kuat. 15:48 karena 15:48 Ehm. 15:48 Dampaknya karena dolar masih menguasai 15:51 pangsa pasar dunia dari dari aspek 15:54 eh transaksi perdagangan, transaksi 15:56 keuangan, 15:58 Ehm. 15:58 transaksi surat-surat utang gitu ya. 16:01 Ehm. 16:01 Kan gitu tuh. Transaksi pasar modal dia, 16:04 transaksi keuangan dia, 16:06 Ehm. 16:06 transaksi perdagangan dia, 16:08 Ehm. 16:08 transaksi surat-surat utang pakai dia 16:11 juga posisinya. 16:12 Transaksi surat-surat utang korporasi 16:14 pakai dia juga posisinya. 16:16 Ehm. 16:16 Walaupun kemudian ada pakai istilah 16:18 special drawing right. 16:19 Ehm. 16:20 Nah, ketika special drawing right adalah 16:22 nilai tukarnya IMF posisinya, 16:24 Ehm. 16:24 eh tetapi jangan lupa bahwa 16:27 eh nilai tukar itu tetap 16:30 bersandar pada bobot US dolar 16:32 yang tetap dominan di dalam special 16:34 drawing right. 16:34 Ehm. 16:35 Yuan cuma 11% kan. Eh, tepatnya 10,11 16:38 11% ya, benar. 16:39 Ehm. 16:39 11% artinya ketika kita ngelihat eh 16:43 mereka 16:45 sudah mulai eh beranjak untuk pulih, 16:47 makanya Biden segera mengatasi eh mau 16:49 segera mengatasi eh 16:51 Itu artinya memang 16:55 eh situasi perekonomian 16:57 akan kembali 16:59 masuk ke new normal. Nah, new normal ini 17:00 kayak gimana situasinya? Ini yang mesti 17:02 dirumuskan ulang. Yang banyak ekonom, 17:05 para eh ilmuwan politik, eh sosiolog dan 17:08 berbagai kalangan menyatakan tidak 17:10 mungkin akan kembali seperti semula. 17:12 Nah, ini Bang. Ini pertemuan KTT NATO 17:16 sama G7 sekarang yang tengah terjadi di 17:18 Eropa sana. Eh, akankah ini akan 17:21 menciptakan sebuah peta baru atau apa 17:24 yang terjadi eh terhadap bangsa-bangsa 17:26 di dunia ketika gajah-gajah pada ketemu 17:28 ini, Bang? 17:30 Eh. 17:31 Saya ngomong kuadropolar di 17:33 di YouTube sudah saya sampaikan. 17:35 He em. 17:35 Kuadropolar saya sampaikan di YouTube 17:36 saya dan di 17:37 He em. 17:38 Sementara sebelumnya saya sudah ngomong 17:40 duluan di eh Rahasia. 17:42 He em. 17:42 Kajian saya sudah saya sampaikan duluan 17:43 di Rahasia. Dan itu itu pada posisi 17:46 kedatangan 17:48 eh 17:50 eh Habib Rizieq Shihab. 17:52 He em. 17:52 Ketika saya diundang oleh PA 212 eh 17:55 melihat relasi antar terpilihnya Biden 17:57 dengan kehadiran Rizieq. 17:58 Iya. 17:59 Saya menyebut ini kuadropolar. Indonesia 18:00 belum dihitung posisinya dalam posisi 18:02 kuadropolar. 18:03 Karena mereka kali ini mereka bukan lagi 18:05 menggunakan istilah 18:07 priority enemy bagi bagi empat negara. 18:10 Bagi Rusia, Cina, Iran, dan eh Korea 18:14 Utara. 18:15 Iya. 18:15 Mereka sudah tidak lagi menggunakan 18:17 priority enemy, musuh prioritas, tapi 18:19 sudah mereka utama sebut sebagai musuh 18:21 utama. 18:24 Ini mereka sudah bicara kayak gitu. 18:26 Artinya sesungguhnya 18:28 per walaupun perangnya nanti eh masih 18:31 akan mundur ke belakang dalam pertingan 18:32 kontak militer gitu ya. 18:34 He em. 18:34 Kontak senjata akan masih mundur. Tapi 18:36 perang perekonomian, perang politik, 18:39 perang untuk 18:39 Lebih dahsyat. 18:40 memainkan posisi kawasan, itu akan akan 18:43 makin kencang. Kawasan Asia Tenggara 18:45 misalnya. 18:46 Oh. 18:46 Itu akan ramai kancah pertarungan. Sudah 18:48 disebut bahkan di eh beberapa kajian, 18:51 Iya. 18:51 kawasan Asia Tenggara bahkan Indonesia 18:54 He em. 18:54 eh itu akan masuk dalam 18:56 fokus 18:57 objek kebijakan mereka 18:59 He em. 18:59 dalam rangka menahan 19:01 eh laju pengaruh Cina. 19:03 He em. 19:04 Itu mereka sudah sebut secara terbuka. 19:06 Jadi laju pengaruh Cina di Asia Tenggara 19:09 khususnya di Indonesia, itu akan mereka 19:11 akan mereka hadapi gitu posisinya. 19:14 Kalimatnya begitu loh enggak. Itu yang 19:15 pernah saya bilang bagaimana Laut Cina 19:17 Selatan itu menjadi fokus mereka seperti 19:19 juga di Selat Taiwan. Seperti itu juga 19:21 saya ngomongin kurang lebih berapa bulan 19:23 lalu ya di Brasil ya. 19:24 pernah pernah ya. 19:25 Nah ini peta KCS. 19:26 KCS. Nah poinnya adalah ketika Biden 19:29 tegas-tegas menyatakan betapa pentingnya 19:31 Amerika melindungi industri 19:32 semikonduktornya, nah itu konferensi 19:35 pers sendiri loh. Biden aja. 19:36 Khususnya. 19:37 Saya lihatnya di di dua stasiun TV. 19:39 Hmm. 19:39 Saya ngelihatnya di Rusia Television dan 19:41 di Turki eh 19:43 Radio Television. Saya lihat dua TV loh 19:45 dua televisi posisinya. Dan itu ak- 19:48 komprehensif tentang betapa yang namanya 19:50 Amerika melindungi industri 19:52 semikonduktornya dari Cina, itu karena 19:54 Cina sudah berhasil eh 19:57 mem- menghadapi Cina eh Amerika dalam 20:00 dalam aplikasi perang Huawei yang di- 20:02 yang dilarang menggunakan Android. 20:04 Sekarang mereka menggunakan Harmony 20:06 mereka sendiri. 20:08 Eh eh sudah sejauh itu perang nya gitu. 20:10 Jadi istilah saya juga berkali-kali saya 20:12 bilang di Brasil, ini menunjukkan 20:14 kalau kemarin saya ngomongnya corporate 20:16 war, perang bisnis itu menjadi tajam. 20:19 Iya. 20:19 Yang menariknya dalam perang bisnis itu 20:22 negara menjadi pelindung bagi korporasi 20:24 yang ada di di negerinya. 20:26 Sementara Indonesia? 20:30 Pengganggu bukan pelindung itu kan. 20:32 Dengan naiknya dengan naiknya beban 20:34 hutang 20:35 Loh kena pajak kena ini ya. 20:37 Jangan macam-macam loh aduh. 20:38 Dia enggak mau tahu kualitasnya masih di 20:41 bawah bisa kita masih jauh terpuruk 20:43 pokoknya pajak dululah gitu. Ini yang 20:45 jadi masalah kan. 20:46 Ini yang saya bilang sejak awal ketika 20:49 krisis keuangan atau kegentingan APBN 20:51 sudah kita bilang berkali-kali dan 20:53 mereka menolak ya. Ternyata jadi 20:55 kenyataan bahwa sesungguhnya 20:57 eh kalimat-kalimat mereka tentang 20:59 perpajakan, kalimat-kalimat mereka 21:00 tentang eh pinjaman, kalimat-kalimat 21:03 mereka tentang hutang gitu posisinya. 21:05 Itu menunjukkan bahwa sesungguhnya APBN 21:06 genting. 21:07 Hmm. 21:08 Yang mereka pernah kan mereka pernah 21:09 menolak kan. 21:10 Ehm. 21:10 Bahwa APBN itu dalam posisi darurat gitu 21:12 maksudnya. 21:13 Iya. 21:13 Bahkan orang bikin analisis berlebihan 21:15 bahwa 21:16 nanti di bulan Juli 21:17 tidak ada uang kondisinya memuncak. Saya 21:20 enggak yakin karena saya bilang dalam 21:22 dalam bahasa saya enggak kan sudah cair 21:24 400 juta US dolar. 400 juta US dolar itu 21:27 membantu saya bilang. 21:28 Nah gitu tambah gali lubang gali lubang 21:32 gitulah macam gitu. 21:33 Iya itulah 21:35 yang tersebut. 21:35 Ketika kalimatnya gali lubang tutup 21:37 lubang 21:38 Ehm. 21:38 kan suka tidak suka secara konkret itu 21:40 berarti lubangnya makin dalam dan makin 21:43 lebar. 21:43 Ehm. 21:44 Nah ketika makin dalam gali lubang dalam 21:46 bahasa konkretisasi dalam bahasa ekonomi 21:48 politiknya itu berarti inflasinya makin 21:50 terbuka, intervensinya makin luas, 21:53 infiltrasinya makin mendalam gitu 21:54 posisinya, intimidasinya makin 21:57 Luas. 21:57 makin terbuka juga makin kualitasnya 21:59 makin tinggi. Lu kalau enggak begini lu 22:01 nanti hancur lu kalau enggak begini lu 22:02 hancur lu gitu loh intimidasinya. 22:04 Inflasinya 22:05 Juga. 22:05 juga. Walaupun mereka bilang inflasi 22:06 terkendali. Ya iya karena Anda punya 22:08 punya konsep pada rakyat kecil untuk 22:10 tidak marah sehingga tidak ingin terjadi 22:12 inflasi. Tapi itu Anda tidak bisa 22:14 hindari bahwa ternyata tetap 22:16 daya beli terpukul. 22:17 Ehm. 22:18 Gitu. 22:19 Artinya kalau gitu angka inflasi yang 22:20 dimunculkan oleh BI dan kemudian 22:22 dibenarkan oleh BPS kemudian-kemudian 22:25 jadi basis untuk menentukan tingkat suku 22:27 bunga, untuk menentukan nilai tukar, 22:28 untuk menentukan pertumbuhan itu juga 22:30 menjadi pertanyaan mendasar gitu. 22:32 Ehm. Iya luar biasa. 22:35 Ah Bang ini banyak orang bilang nih Bang 22:38 Ichsanuddin Noorsy ini kalau ngomong 22:39 pedas banget tapi orang enggak tahu 22:42 bahwa Bang Ichsanuddin Noorsy juga bisa 22:44 diajak ngomong yang lain. Kami ajak Bang 22:47 Ichsanuddin Noorsy untuk melihat peta 22:50 Palestina yang sekarang ini. Peta baru 22:52 Palestina di tengah barang baru ketika 22:56 Netanyahu nih yang enggak nyaut-nyaut 22:58 selama 12 tahun diganti sama 23:01 pemimpin yang baru. Apa yang terjadi di 23:03 negeri antah berantah itu yang kata 23:06 orang pusat konflik dunia, Bang? Gimana, 23:08 Bang, pengaruhnya terhadap mancanegara? 23:11 Sebenarnya ini ee 23:13 antara kelompok-kelompok di sana 23:15 He em. 23:16 ee berkoalisi. 23:17 He em. 23:17 Cuma koalisinya tidak tidak 23:19 Solid. 23:20 tidak menampilkan Netanyahu. 23:21 He em. 23:22 Kalau soal sikap militansi terhadap 23:25 militansi dalam rangka perjuangan 23:27 He em. 23:28 ee menegakkan 23:30 ee nilai-nilai 23:32 zionis 23:33 He em. 23:33 tidak bergeser. 23:34 Enggak bergeser? 23:36 Sama sekali tidak bergeser. 23:36 Sama sekali. 23:37 Ee ini 23:40 ini cerita tentang ee garis kerasnya 23:43 Netanyahu 23:43 He em. 23:44 yang kemarin dianggap tidak taktis 23:46 He em. 23:46 diambil oleh Naftali sekarang posisinya 23:48 Bennett. 23:49 dan ee 23:50 Netanyahu-nya tetap memimpin partainya 23:53 Oh. 23:53 dalam konstruksi mereka. Nah, ini ee 23:55 ee mereka berkoalisi tetapi juga 23:58 sesungguhnya ee 24:00 ya bahasa sederhananya gini 24:02 ee teman tapi 24:04 He em. 24:05 tidak 24:06 tidak se tidak se bukan teman tidak 24:08 sejalan, teman tapi tidak sehati gitu. 24:10 He em. 24:11 Ee teman sejalan tapi tidak sehati. Anda 24:14 sejalan tapi tidak sehati. 24:15 He em. 24:16 Ee ee artinya insider ee outsider inside 24:19 bahasa sederhananya. Nah, itu 24:21 membuktikan kalimat Allah bahwa 24:23 sesungguhnya setan itu tidak pernah 24:25 akur. 24:26 Oh. 24:28 Sesungguhnya setan itu tidak pernah 24:30 akur. Nah, saya heran kalau ketika Biden 24:33 kemarin kampanye sejumlah orang berharap 24:36 Biden akan me 24:37 melakukan sikap pelunakan terhadap 24:40 Israel. 24:40 kelihatan. He em. Tapi 24:42 AIPAC enggak akan tinggal diam gitu ya. 24:44 Mustahil. American Israel Public Affairs 24:46 Committee itu tidak akan pernah diam 24:47 karena mereka sesungguhnya penguasa 24:49 untuk instansi-instansi bergengsi di 24:52 Amerika. 24:53 He em. 24:53 Sehingga presiden cuma menjalankan apa 24:54 yang diputuskan oleh oleh kajian mereka 24:57 gitu. 24:58 Mmm. 24:58 Dalam kajian akademik yang sesungguhnya 25:01 berbasis doktrin politik misalnya, 25:03 memang kelihatannya ada di Brookings 25:04 Institute posisinya karena di situ 25:05 berisi orang-orang pintar. 25:07 Mmm. 25:07 Tapi pada saatnya sama mereka juga punya 25:09 kajian sendiri soal bagaimana mestinya 25:11 doktrin-doktrin politik itu muncul dalam 25:13 kebijakan politik secara secara real 25:16 dijalani gitu. Contoh sederhana ketika 25:18 kemarin 25:19 G7 25:20 Iya. 25:21 Amerika menyatakan mereka akan menarik 25:22 diri. 25:23 Mmm. 25:24 Lihat enggak? 25:25 G7 yang lain menyatakan Anda harus tetap 25:27 berada di Afgan dalam rangka menolong 25:29 pemerintahan Kabul menghendaki Taliban. 25:34 Iya. 25:36 Sudah kocar-kacir di sana tuh. 25:39 Nah, artinya begini saya ingin 25:40 mengatakan kita enggak bisa ngelihat itu 25:42 cuma apa yang tersurat. 25:43 Mmm. 25:45 Yang tersirat dan yang terselubung itu 25:47 harus kita pahami. Nah, memang untuk 25:49 yang melihat yang terselubung tidak 25:50 gampang karena memerlukan data dan 25:52 metodologi gitu posisinya. Tetapi untuk 25:54 yang tersurat kita cuma bisa ngelihat 25:57 kok apa kita bisa ngelihat dengan baik 25:59 kok eh bagaimana relasi berpikir mereka 26:01 dengan tindakan mereka gitu. 26:03 Mmm. 26:03 Sama seperti 26:05 eh ketika ada orang teriak-teriak 26:06 Trisakti gitu ya 26:07 Iya. 26:08 ketika ada orang teriak kerja kerja 26:09 kerja kerja 26:11 ketika ada orang teriak Indonesia hebat 26:12 Indonesia hebat Indonesia hebat faktanya 26:14 seperti sekarang gitu. 26:17 Mmm, begitu. 26:19 Kan bisa ngelihat begitu gitu kalau 26:21 diambil begitu gitu. 26:22 Mmm, begitu. 26:23 Jadi kalau kita balik ke dalam posisi 26:25 sana eh 26:27 tidak surut konfliknya. 26:29 Mmm. 26:30 Sederhananya eh konflik ini tidak akan 26:32 surut, dia cuma sekedar sedang mereda 26:34 tapi tingkat ketegangannya tetap tinggi 26:36 posisinya. Apa artinya? 26:38 Konflik agama tetap jalan. 26:41 Mmm. 26:41 Konflik agama tidak akan tidak akan 26:43 surut. Nah, ketika konflik agama tetap 26:45 tetap jalan eh konflik ketegangan itu 26:47 akan ketegangan antara Hamas dengan 26:50 katakan pemerintahan Israel tetap 26:52 tinggi, kita ngelihat sekarang 26:54 bagaimana pertemuan misalnya 26:56 Erdogan 26:57 Ehm. 26:58 Ehm, dengan Cina. Pertemuan Erdogan 27:00 dengan Rusia gitu misalnya. 27:02 Iya. 27:02 Bagaimana mereka mengakui persoalan 27:04 Ukraina yang kemudian ehm 27:07 ehm, Ukraina yang tadinya 27:10 berpihak ke Rusia 27:11 Ehm. 27:12 dan kemudian Ukraina marah atau tepatnya 27:14 ehm, negara-negara Eropa marah dengan 27:16 Amerika ketika ehm, Krimea dianehxasi 27:19 oleh Rusia ya bisa dilihat di situ. 27:22 Ternyata ya sudah Krimea memang haknya 27:24 dalam bahasa lain kan dengan mengatakan 27:26 ya kami tetap mendukung Ukraina tapi 27:28 kemudian tidak mempermasalahkan Krimea 27:30 atau kemudian mendukung persoalan Krimea 27:31 kan tetap akhirnya tidak bisa ngomong 27:33 apa-apa kepada Rusia. 27:34 Iya. 27:34 Ehm. 27:35 Itu artinya ketika masuk dalam 27:37 konstruksi Turki mau tidak mau Turki 27:39 juga nunjukin sikapnya. Di situlah 27:42 saya lihat 27:43 begitu luas dan 27:45 ehm, ehm, hebatnya permainan taktik 27:48 diplomasi, taktik militer, taktik 27:51 macam-macamnya Erdogan termasuk taktik 27:53 ekonomi dan taktik pendidikan 27:55 Ehm. 27:55 termasuk taktik pendidikan. 27:56 Iya. 27:57 Ehm, saya ngelihat Recep Tayyip Erdogan 27:59 ini 27:59 ehm, lincah memainkan posisi dirinya 28:01 gitu posisinya. Dan itu tidak dimiliki 28:03 oleh 28:04 sorry ya, oleh negara Israel lain gitu. 28:07 Ingat Recep Tayyip Erdogan itu begitu 28:09 dihormati oleh oleh oleh rakyatnya 28:11 karena kelincahan dia bermain tapi juga 28:14 keluwesan dia bermain gitu. 28:16 Iya, memang itu dia permainan 28:18 saya lihat dalam konstruksi begitu. 28:19 Kenapa? Karena Recep Tayyip Erdoganlah 28:21 yang kemudian mendukung Hamas 28:22 habis-habisan dalam rangka Hamas 28:24 melakukan perlawanan terhadap 28:25 pemerintahan Israel. Dan Amerika yang 28:28 jelas-jelas punya 28:30 ehm, punya kewajiban, saya bilang 28:31 kewajiban dalam tanda petik membiayai 28:34 Israel 28:35 Ehm. 28:35 kan memberikan pinjaman serta memberikan 28:36 bantuan persenjataan. Makanya saya 28:38 bilang membiayai. 28:40 Iya. 28:40 Jadi tidak bisa apa-apa gitu. 28:42 Sampai Iron Dome-nya habis itu kan 28:45 pusing dia. Akhirnya minta Mesir 28:46 berperan. Jadi dapat rezeki nomplok 28:49 Mesir juga ini. 28:51 Tapi 28:53 luar biasa ini pergerakan dunia ini luar 28:55 biasa. Kembali lagi ke dalam negeri Bang 28:57 Ichsanudin Noorsy. 28:59 Ya. 28:59 Ini belum lama kan Pak Mahfud bilang 29:01 menyalahkan kampus akibat salah didik. 29:04 Ternyata hari ini ada kabar para guru 29:06 besar Fakultas Hukum merekomendasikan 29:09 Komnas HAM tentang KPK ya panggil paksa. 29:13 Nampaknya para para guru besar ini sudah 29:17 tak berarti lagi kah atau macam mana? 29:19 Kalau dulu kan ini para ilmuwan. Kalau 29:21 zaman dulu kan ada seorang pemimpin tuh 29:24 filosof dipanggil diajak bicara untuk 29:27 kebaikan sebuah bangsa atau gimana? 29:30 Saya lama enggak mendengar lagi 29:32 tokoh-tokoh bangsa atau memang tokoh 29:33 bangsanya sudah habis gitu Bang. Gimana 29:35 sebenarnya Bang Ichsanudin? 29:38 Di dalam bangsa terbelah 29:40 Heeh. 29:40 ketika kaum intelektual menjadi pelacur 29:42 Heeh. 29:43 gitu ya 29:44 Heeh. 29:44 ketika bangsa ketika ketika 29:46 intelektualnya berani 29:48 Heeh. 29:49 mendagangkan keyakinan keilmuannya untuk 29:51 mendukung kekuasaan yang kekuasaan itu 29:54 kemudian tidak menjalankan mandatorinya 29:57 di posisinya. Maka memang terjadi ah 30:00 akan terjadi penurunan atau pendangkalan 30:02 keilmuan. 30:03 Heeh. 30:04 Karena itu tadi Anda masuk ke dalam 30:06 suasana fuka 30:07 Heeh. 30:08 kalau pakai bahasa ICT-nya Anda masuk ke 30:11 dalam suasana fake gitu ya 30:13 Heeh. 30:13 yang yang Anda tidak bisa kasih dengan 30:16 baik ketika Anda tidak bisa hadapi 30:18 dengan baik ketika dia dimunculkan dalam 30:20 sebuah kebijakan. 30:21 Heeh. 30:22 Yang sebenarnya kebijakan itu karena 30:23 sebelumnya Anda dukung gitu ceritanya. 30:26 Jadi ketika saya tidak saya tidak dalam 30:28 posisi 30:29 Heeh. 30:29 ah ah menyalahkan atau membenarkan sikap 30:32 para intelektual itu. Saya dalam posisi 30:35 melihat subjeknya saya tidak melihat 30:38 objeknya. 30:38 Heeh. 30:39 Ah. 30:40 Kenapa misalnya dalam kasus 30:42 Komnas HAM terhadap enam laskar 30:46 He eh. 30:46 FPI seperti itu mereka diam. 30:48 Oh, iya. 30:49 Apakah ada persoalan perbedaan adakah 30:52 persoalan yang berbeda antara perilaku 30:56 yang muncul dari Komnas HAM terhadap 30:58 enam laskar FPI dengan 75 orang? 31:01 Itu. 31:01 Eh, eh. 31:03 Jangan cuma sekadar melihat ada 31:04 persoalan ini sama-sama persoalan 31:06 kejujuran, kan? 31:07 Iya. 31:08 Kejujuran akan tindakan, kan? Sama. 31:10 He eh. 31:10 Bahwa ada 31:12 eh persoalan problematik kejujuran di di 31:15 di eh KPK 31:17 Iya. 31:17 dengan persoalan 75 orangnya dan ada 31:19 persoalan kejujuran bagi aparat penegak 31:22 hukum lain dalam konstruksi enam laskar. 31:25 He eh. 31:25 Ini yang mesti dilihat. Maka kalau para 31:27 guru besar itu kemudian meminta dan 31:29 kemudian me me me mendorong fakta agar 31:32 Komnas HAM menarik eh KPK pimpinan KPK 31:36 dalam konstruksi 75 orang eh 31:39 intelektualitasnya orang-orang itu masih 31:41 sorot-sorot itu saya harus saya bilang. 31:43 Saya enggak harus saya pertanyakan. 31:44 He eh. 31:46 Iya. 31:47 Eh, sori. Saya harus berani ngomong 31:48 begitu, gitu. 31:49 He eh. 31:50 Enggak eh kenapa? Karena kelihatan ada 31:52 soal 31:53 ada soal keberpihakan yang tidak 31:55 proporsional. 31:56 He eh. 31:57 Saya ulang, ya. Ada keberpihakan yang 31:58 tidak proporsional dalam konstruksi 32:00 melihat peta masalah. 32:01 He eh. 32:02 Masa Anda cuma sekadar mempermasalahkan 32:03 75 orang KPK bahwa persoalan korupsi ini 32:06 He eh. 32:07 Anda lebih lihat pada persoalan 32:08 penanggulangannya bukan pada 32:10 persoalan-persoalan eh korupsi politik, 32:12 korupsi konstitusi. 32:13 Keadilan. 32:14 Anda cuma melihat korupsi ke korupsi ini 32:15 dalam kondisi uang kok. Anda tidak 32:18 melihat ada korupsi istilah saya korupsi 32:19 konstitusi dalam bahasa saya di 2002. 32:21 Korupsi pendidikan, macam-macam. 32:22 2003, 2004, ya. 32:23 He eh. 32:24 Itu Anda biar, Anda Anda diam kok gitu 32:26 posisinya. 32:26 He eh. 32:27 Bahkan ketika saya muncul di hadapan 32:28 para orang-orang cerdas di 32:30 di kelompok kerja MPR gitu, ya. 32:33 He eh. 32:33 Ketika saya ribut habis-habisan di 32:35 disebabkan saya menggugat sistem yang 32:37 dibangun dari amandemen. Sebagian 32:39 guru besar itu. Diam juga kok ah gitu. 32:42 Hanya para politisi yang ada di situ 32:44 yang mendukung amandemen yang ribut 32:45 dengan saya ketika saya mempermasalahkan 32:47 amandemen posisinya misalnya. 32:49 Ketika saya menjadi pembicara bersama 32:50 Subianto dan bersama Dahlan Nasution 32:52 saat itu. 32:53 Posisinya. 32:55 Itu menggambarkan. 32:57 Sikap. 32:58 Ambigue istilah-istilah dalam konstitusi 33:01 UUD 45 itu berarti sikap ambigue para 33:03 guru besar. Tentu merasa ada persoalan 33:07 mendasar ketika guru besar ini meminta 33:09 agar Komnas HAM melakukan panggil paksa 33:11 terhadap KPK. Tapi buat saya guru besar 33:14 ini bersikap ambigue. 33:17 Kalau para guru besar ini memang 33:19 berpegang pada nilai-nilai 33:20 intelektualitas. Dan nilai-nilai 33:22 intelektual itu adalah kebenaran yang 33:23 basisnya begitu kuat pada keilmuan yang 33:26 keilmuan tadi secara benar basisnya 33:27 adalah moral. Maka yang dihadapi bangsa 33:30 ini adalah persoalan. 33:31 Krisis moral yang luar biasa. 33:34 Terus terang kalau. 33:35 Ya saya sekali lagi karena saya sudah 33:38 menulis dan sudah saya buktikan lewat 33:39 buku saya begitu ya. 33:41 Saya sama sekali tidak terkejut atau 33:43 saya terkesima atau saya kemudian 33:45 terbetik wih hebat para guru besar sama 33:47 sekali tidak. Bahkan ketika ada seorang 33:49 guru besar ekonomi sudah ribut soal 75 33:51 orang KPK. Saya saya bilang. 33:54 Dia bagian dari masalah kok saya bilang. 33:57 Jadi kalau anda panggil dia sebagai 33:58 pembicara di tempat ini saya enggak usah 33:59 sebut di mana ya. Sorry saya keluar. 34:02 Saya enggak mau saya bilang. 34:04 Kenapa karena saya tahu. Dia bagian dari 34:05 masalah. Anda tidak mengerti bahwa dia 34:07 bagian dari masalah saya tidak perlu 34:08 sebut siapa orangnya. 34:10 Tapi dia dia kok kelihatannya jadi 34:12 bersuara kembali gitu. Kebetulan ada 34:14 Rocky Gerung. Rocky Gerung menimpali 34:17 ini Said Didu Nursi memang begini dia 34:19 tahu persis belakang. 34:21 Alkisah. 34:23 Luar biasa tak terasa ini sudah hampir 34:25 40 menit Bang. Terakhir nih Bang penutup 34:28 kisah pagi hari ini. Di tengah Jakarta 34:32 yang terancam banjir hari ini, apa yang 34:34 Bang Ihsanudin Nursi bisa ingatkan 34:37 penutup bincang kita pagi ini? Silakan, 34:39 Bang. 34:41 Pertama, eh 34:43 apakah Anda punya kekuasaan politik atau 34:45 Anda punya kekuasaan intelektual atau 34:48 Anda 34:49 atau Anda punya kekuasaan eh kekayaan 34:52 atau Anda punya kekuasaan 34:55 eh eh ketokohan 34:57 sosiologi apa eh keumatan jadi tokoh 35:00 umat gitu atau masyarakat gitu. Itu kan 35:02 kekuasaan sosial namanya. 35:04 Eh itu akan segera berakhir. 35:06 Akhir dunia 35:07 Dia akan berak-berakhir dan dia tunduk 35:09 pada hukum waktu. 35:11 Eh 35:12 di sini Allah mengingatkan lewat wal 35:14 asri innal insana lafi khusrin. Nah, 35:17 ternyata kalimat khusrin ini kalau saya 35:19 ambil lagi dalam terjemahkan saya 35:21 ter-saya pahami dalam konstruksi 35:22 Alquran, maka Allah 35:24 menegaskan-menegaskannya 35:26 khusrin mubin. 35:29 Kerugian yang nyata. 35:30 Pertanyaannya 35:32 kerugiannya nyata itu apa konstruksi 35:34 konstruksi konstruksi besarnya? 35:37 Wah, ternyata ketika kita menerjemahkan 35:39 khusrin mubin itu dalam bahasa Alquran 35:41 yang orang banyak hafal tentang wal asri 35:45 gitu posisinya, tapi kata kunci 35:46 berikutnya adalah khusrin mubin kerugian 35:48 yang nyata dan itu tidak tidak akan bisa 35:50 tertanggulangi posisinya di di 35:52 di akhirat nanti bisnisnya. 35:54 Dia 35:55 diterjemahkan lewat satu bentuk 35:58 perlawanan baik pasif maupun aktif 36:01 terhadap ajaran 36:03 terhadap keesaan Allah 36:05 terhadap ketauhidan kalau pakai bahasa 36:07 umumnya. Kalau saya menyebutnya terhadap 36:09 ajaran bahwa jangan pernah 36:10 mensyariatkan. 36:12 Nah, ketika kita pegang kekuasaan kita 36:13 sudah mensyariatkan kekuasaan politik, 36:16 kita sudah mensyariatkan menu- 36:18 menuhankan kekuasaan politik, kita sudah 36:20 menuhankan kekayaan, kita sudah 36:22 menuhankan ketakwaan diri kita, kita 36:24 sudah menuhankan kekuasaan fisik kita 36:26 karena kita jenderal gitu ya, karena 36:28 kita punya punya pasukan, 36:31 orang lupa itu akan segera berakhir. 36:33 Ehm. 36:34 Karena Anda tidak akan pernah bisa 36:36 melawan 36:37 putaran jarum panjang. 36:39 Iya. 36:39 Anda tidak akan pernah bisa melawan 36:41 putaran jarum 36:42 menit. 36:43 Ehm. 36:43 Dia akan terus berputar dan dia akan 36:45 terus 36:46 menghantui bahwa sesungguhnya hidup Anda 36:49 cemas disebabkan Anda melakukan 36:50 perlawanan. Jadi, 36:52 kekafiran itu dalam perspektif saya 36:54 sesungguhnya 36:55 ehm 36:56 berdampak pada posisi hidup dalam 36:58 kecemasan. Jadi, dalam riset saya 36:59 terhadap mereka yang korban pandemi ini, 37:02 terutama pada mereka yang terkena korban 37:04 secara ehm ehm akademi ehm ehm ekonomi 37:08 di di wilayah ekonomi dan itu terjadi 37:10 pada perempuan, maka 37:12 Ehm. 37:12 mereka sesungguhnya punya kecemasan amat 37:14 sangat luar biasa. 37:16 Dan kecemasan itu sesungguhnya karena 37:18 mereka menutupi kebenaran. 37:19 Ehm. 37:20 Kebenaran yang apakah mereka tahu atau 37:22 tidak tahu, mereka menutupi kebenaran 37:23 apakah pasif atau aktif menutupi 37:25 kebenaran, itu terjadi pada diri mereka. 37:27 Ehm. 37:27 Baliknya pada mereka sadar untuk 37:29 menegakkan kebenaran gitu. Ini filsafat 37:31 banget ya omongan saya ini. 37:32 Iya. 37:33 Filsafi banget omongan saya. Jadi, semua 37:35 mereka yang memahami kebenaran itu 37:37 baik mereka sadari atau tidak sadari, 37:39 baik mereka lakukan 37:41 secara terbuka atau tertutup, itu tetap 37:44 lepas dari kecemasan tadi, punya tetap 37:46 keyakinan karena punya gantungan pada 37:48 keimanan yang luar biasa. Nah, saya 37:51 sebagai penutup ingin mengatakan 37:53 itulah jalan benar. 37:55 Itulah jalan siratal mustaqim. Jadi, 37:58 khusrin mubin 37:59 Ehm. 37:59 dalam bencana berhubungannya, itu 38:01 siratal mustaqim. 38:03 Ehm. 38:03 Jadi, begitu nilainya. 38:04 Insyaallah. 38:05 Kita tidak boleh ngambil khusrin mubin 38:07 karena kita akan merugi secara 38:08 nyata-nyata. Dan kerugian secara nyata 38:11 itu kalau dalam kekuasaan politik 38:13 ehm 38:16 pemerintah yang di 38:17 yang disanggah, bukan disembah gitu 38:19 posisinya. Kekayaan yang dicibirkan, 38:23 ketokohan yang kemudian palsu, keilmuan 38:26 yang sesungguhnya palsu. Nah, itu tidak 38:28 boleh terjadi. Sesungguhnya kita harus 38:29 mengambil sesuatu yang genuine. Yang 38:31 genuine itu kalau pakai pakai bahasa 38:33 Alquran, alimul ghaibi was syahadah 38:35 posisinya. 38:37 Iya. 38:38 Saya kira ini mestinya pembelajaran yang 38:40 mendalam gitu ya bagi bagi umat Islam di 38:42 Indonesia karena kita sedang dihadapkan 38:44 oleh satu sikap misalnya G7 yang bilang 38:47 menyatakan kita akan segera mengakhiri 38:49 pandemi secepat 38:50 secepat mungkin. 38:51 Pandemi dan tak akan terulang lagi. 38:52 mengakhiri itu justru sekarang mereka 38:54 buat posisinya. Jadi, 38:56 mari kita kembali kepada Alquran dan 38:58 hadis dengan pendapat para ulama yang 39:00 merujuk kepada Alquran dan hadis 39:02 sehingga kita tetap terbimbing kehidupan 39:04 kita secara baik dan kita tidak 39:05 terombang-ambing oleh situasi yang 39:07 memang mereka ciptakan. 39:08 Hmm. 39:08 Ah, itu kata kuncinya. Jadi, jangan mau 39:11 menjadi korban dari kebijakan-kebijakan 39:14 yang mengombang-ambingkan 39:15 keimanan kita. Itu bahasa sederhananya. 39:18 Hmm. 39:18 Jangan mau mengikuti kebijakan yang 39:21 mengombang-ambingkan 39:22 bahkan akhirnya menurunkan bobot dan 39:24 kualitas keimanan kita. 39:26 Begitu Tholib dan 39:27 Oke, syukran. 39:28 Terima kasih. 39:29 Mohon maaf kalau saya salah 39:31 dan benar karena karena kemaslahatan. 39:33 Assalamualaikum warahmatullahi 39:34 wabarakatuh. 39:35 Waalaikumsalam warahmatullahi 39:37 wabarakatuh.