Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Radio Silaturahim juga Ras TV untuk
- Islam yang satu untuk Anda Ikhwan Akhwat
- yang ada di Sukabumi, Semarang, Batam,
- Pontianak, di Magelang, Banyuwangi. Juga
- Anda yang bisa menyimak kami di
- streaming kami di
- www.radiosilaturahim.com.
- Kita tengah bersama-sama di acara
- tausiah malam bersama Dr. K.H. Zaki
- Mubarak M.A.
- Beliau adalah Rais Syuriah dari Pengurus
- Besar Nahdlatul Ulama. Dan tema kita
- tentang menangisi wafatnya seseorang.
- Tadi sudah dijelaskan begitu gamblang
- oleh Ustaz di malam hari ini. Dan juga
- berikut ada hadis-hadisnya yang
- menjelaskan Ustaz ya, seperti itu.
- Dan sudah banyak SMS yang masuk, saya
- bacakan dari Bapak Hasan di Sukabumi.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Pak Ustaz, bagaimana agar kita tidak
- larut dalam kesedihan ketika ditinggal
- wafat oleh orang yang kita sayangi.
- Baik. Eh, terima kasih.
- Jadi,
- eh, mengenai hal ini kita harus bisa
- menahan diri.
- He.
- Ya, sehingga
- tidak sedih yang berlebihan.
- Kita kembalikan bahwa semua ini adalah
- takdir dari Allah.
- He.
- Ya.
- Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
- Kami semua berasal dari Allah
- dan kepada-Nya kami kembali.
- Kami semua diciptakan dari tanah.
- Iya kan?
- Hidup di atas tanah kan?
- He.
- Kembali ke dalam
- tanah.
- Nah, jadi itu. Dengan-dengan pemahaman
- seperti ini, maka
- insya Allah kita tidak terlalu sedih.
- Sedih mestilah, kalau sedih enggak
- mungkin enggak.
- Iya, wajar.
- Apalagi misalnya ditinggalkan ibu, ya
- Allah, sedih.
- Nah, tapi kita harus bisa menguasai diri
- sehingga kita tidak menangisi secara
- berlebihan.
- Betul.
- Menangisi yang wajar enggak apa-apa.
- Ya. Pastilah menangis kalau enggak
- enggak enggak menangis itu sulit, ya.
- Itu merupakan fitrah.
- Ya.
- Fitrah. Atau sunatullah. Kita sedih.
- Meneteskan air mata, menangis tapi tidak
- bisa.
- Tidak berlebihan, kita tetap bisa
- menguasai diri. Yang berlebihan itu
- misalnya menjerit.
- Meratap.
- Sampai merobek-robek baju, yang
- membanting-banting diri itu enggak
- boleh, ya. Saya kira begitu. Nah,
- caranya kita harus kembalikan bahwa
- semua itu takdir dari Allah.
- Ya.
- La haula wala quwwata illa billah.
- Tidak ada daya. Tidak ada kekuasaan
- kekuatan kecuali dari Allah. Jadi semua
- adalah ketentuan dari Allah. Semua
- adalah.
- Takdir Allah, maka kita terima dengan.
- Tulus dan kita berlatih untuk itu ya,
- enggak bisa langsung, ya. Terima kasih.
- Ya.
- Menangisi secara wajar itu tidak
- apa-apa, Ustaz. Tapi meratap-ratap. Gitu
- ya.
- Meratap-ratap yang berlebihan, ya.
- Tidak diperbolehkan. Ya, semoga terjawab
- Bapak Hasan di Sukabumi. Selanjutnya
- pertanyaan dari hamba Allah di Jakarta,
- Pak Ustaz.
- Ya.
- Oh, dari Bapak Ahmad ya di Jakarta.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Pak Ustaz, saya ingin bertanya apakah
- tetesan air mata Nabi saat itu mengenai
- sang mayit? Mohon pencerahannya, Ustaz.
- Enggak enggak sampai. Enggak sampai, ya.
- Enggak. Jadi. Eee beliau me meneteskan
- air mata, ya. Kemudian.
- Sambil membasahi pipinya.
- Lalu para sahabat tahu.
- Lalu sahabat tanya, "Ma hadza ya
- Rasulullah?" Rasulullah ini apa?
- Ya, di di wajah beliau itu.
- Kata Nabi, "Ini adalah air mata rahmat."
- Ya. Yang Allah letakkan ke dalam hati
- umat manusia.
- Ya, karena itu.
- Eee.
- Man la yarham la yurham.
- Ya.
- Siapa yang tidak mengasihi sesama, dia
- tidak akan dikasih oleh Allah subhanahu
- wa taala, ya. Jadi itu merupakan suatu
- fitrah, suatu sunatullah yang
- eee diletakkan dalam hati manusia, rasa
- kasih sayang terhadap sesama dan
- merasa duka atau sedih ketika
- ditinggalkan oleh seorang
- karena wafat, mungkin dia saudara kita,
- teman kita, orang tua kita atau orang
- yang kita cintai.
- Iya.
- Ya, saya kira demikian.
- Karena mungkin ada eee pemahaman di
- masyarakat kalau tangisan kita mengenai
- mayit itu akan disiksa mayitnya gitu ya.
- Enggak ada.
- Enggak ada.
- Enggak ada dokteran itu enggak ada, ya.
- Enggak ada.
- Baik. Selanjutnya ke SMS dari hamba
- Allah kembali di Jakarta.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Pak Ustaz, bagaimana kalau berjanji di
- depan orang tua yang sudah meninggal?
- Apa hukumnya, Pak Ustaz?
- Berjanji
- di depan orang tua yang sudah meninggal.
- Kalau janjinya bagus, enggak apa-apa.
- Boleh.
- Enggak masalah sih.
- Ya, misalnya begitu orang tua yang kita
- meninggal,
- saya berjanji dalam hati saya, ah nanti
- sebagian warisan yang diberikan dari ibu
- saya,
- Iya.
- saya nanti
- akan infakkan ke masjid atau madrasah,
- enggak apa-apa. Kalau kebaikan boleh,
- ya.
- Enggak masalah sih.
- Ya, janji itu kan harus kita ya nanti
- kita laksanakan kan sama enggak?
- Ya, sudah kita berjanji harus kita
- laksanakan, ya.
- Begitu.
- Oke.
- Kembali ke SMS dari Bapak Deni di Batam.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Apakah ada kejadian pada zaman Nabi
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- tentang seseorang yang menangisi
- wafatnya eee orang yang dicintainya,
- Ustaz?
- Ya, kalau kita lihat
- eee hadis tadi, ya.
- Ya, artinya itu
- di zaman Rasulullah terjadi.
- Iya.
- Ya, orang menangis.
- Malah di hadis yang lain nanti saya akan
- kita bahas pada berikutnya.
- Eee apa namanya?
- Ketika
- eee Ja'far
- ibnu
- Abi Thalib wafat itu keluarganya
- menangisi
- ya Nabi memerintahkan seorang untuk
- mengingatkan mereka supaya mereka tidak
- menangisi. Jadi di zaman Nabi juga
- terjadi.
- Terjadi.
- Iya.
- Supaya tidak menangis menangisi
- berlebihan gitu maksudnya Nabi. Nah.
- Malah mengingatkan.
- Iya.
- Betul.
- Itu melalui seorang pria
- yang memberitahukan bahwa itu
- eee keluarganya Ja'far pada menangis
- kata Nabi.
- He eh.
- Sampaikan pada mereka supaya
- eee menghindari hal seperti itu ya
- karena itu menurut takdir dari Allah.
- Iya.
- He eh.
- Jadi itu di hadis lain ya nanti kita
- bahas pada kesempatan lain.
- Iya.
- Selanjutnya dari Ibu Lili
- di Jakarta. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Pak Ustaz Zaki yang dirahmati Allah pada
- waktu ayah dan ibu saya wafat saya
- menangis sedih karena beliau kurang
- rajin ibadahnya. Khawatir kalau beliau
- tidak bisa menjawab saat ditanya oleh
- malaikat.
- Eee apakah ini diperbolehkan menangis
- seperti ini?
- Iya. Boleh.
- Menangis
- sedih boleh. Iya.
- Nah itu
- Anda harus punya pikiran
- Allah itu Maha Kasih.
- Iya.
- Maha Rahim.
- Maha Rahman. Jadi jangan punya pikiran
- ah
- begini-begini insyaallah Allah memaafkan
- dosa-dosa orang tua Anda
- dan menerima amal salehnya.
- He eh.
- Kita harus husnuzan kepada Allah ya
- jangan kita suuzan ya.
- Betul.
- Ah jangan-jangan enggak diterima. Enggak
- jangan kita harus yakin bahwa amal
- ibadah orang tua kita diterima
- dan dosa-dosa orang tua kita diampuni
- ya. Sebaliknya kita juga berdoa.
- Allahummaghfir
- eee lahu warhamhu waafihi wa afuanhu.
- ja'al qabrohu rodhotan min riyadhil
- jannah wala taj'al qabrohu hufratan min
- hufarin niron. Boleh doa, ya begitu.
- Jadi kita harus optimis, ya dan
- sekaligus kita harus husnuzon pada
- Allah. Ya, bersangka baik. Itu mengapa?
- Karena Allah berfirman dalam hadis qudsi
- Ana inda zhonni abdibi.
- Aku berada dalam persangkaan hambaku
- terhadapku kata Tuhan.
- Jadi kalau hambaku hanya menyangka kita
- baik, ya Allah baik gitu loh.
- Ya, kalau kita menyangka buruk ya jadi
- buruk. Makanya yang terbaik itu kita
- menyangka yang
- sebaik-baiknya pada Allah, husnuzon.
- Maka kita harus optimis bahwa ah
- orang tua kita
- ibadahnya insyaallah diterima dan
- ah dosa-dosanya diampuni. Amin.
- Iya.
- Kembali ke SMS selanjutnya dari 08128197
- sekian-sekian. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Eh, Pak Ustaz menangisi kematian
- seseorang bukankah itu sesuatu yang
- wajar? Bahkan menurut riwayat Rasul
- pernah menangis ketika anaknya
- meninggal.
- Iya.
- Kenapa harus harus ada yang melarang
- tentang tentang menangis ini? Iya.
- Bagaimana pendapat Ustaz?
- Ya, itu yang melarang itu ya
- mungkin dia enggak paham. Makanya saya
- jelaskan hadis tadi kan.
- Hmm.
- Supaya supaya jelas itu. Nah.
- Nah, yang
- ah
- menangisi itu yang wajar itu sesuatu
- yang yang alami, sesuatu yang fitri gitu
- ya.
- Nah, yang tidak boleh itu menangisi,
- meratap secara berlebihan yang saya
- sebutkan tadi, ya. Sampai
- menjobek-nyobek baju,
- menjerit histeris, ya gitu ya.
- Kemudian membanting-banting diri,
- ya. Membanting-banting. Nah, itu yang
- enggak boleh. Tapi kalau yang menangis
- yang wajar enggak apa-apa.
- Ya, itu sesuatu yang disebut fitrah
- tadi. Bahkan Nabi katakan ini adalah air
- mata kasih sayang, yang Allah
- masukkan dalam hati
- manusia, ya gitu.
- Dan tidak ada eh mayat yang disiksa
- karena tangisan
- Ah, enggak enggak ada hubungannya.
- Karena itu di wala taziru wazirotun
- misro ukhro, tidak ada seorang itu
- menanggung dosanya orang lain, ya kan?
- Ya.
- Enggak mungkin ada orang yang berdosa,
- ada yang orang yang berbuat, orang lain
- yang kena dosanya, ya begitu.
- Justru mayat disiksa karena perilakunya
- di alam dunia.
- Perilakunya ya tadi. Ditegaskan di sini
- ya di hadis tadi
- jelas sekali ya di sini ya.
- Iya.
- Ehm.
- Ya, di sini ditegaskan
- ya bi khotiatihi
- wa dzanbihi, ya.
- Dia disiksa karena
- amal perbuatan.
- Kesalahan-kesalahannya, khotiah
- dan dosanya.
- Ya, ya itu dosanya dia sendiri, ya gitu.
- Disiksa karena itu dosanya, begitu.
- Baik.
- Tegaskan di hadis ini disampaikan oleh
- Sayyidah Aisyah radhiallahu anha.
- Ya.
- Jadi tidak ada kaitannya antara
- perbuatan yang masih hidup keluarganya
- sama dia yang sudah meninggal gitu ya.
- Nah, kalau yang tadi
- menjerit-jerit istri
- kemudian
- meratap secara berlebihan, itu yang dosa
- ya yang bersangkutan.
- Itu dosa yang yang
- Iya, yang bersangkutan dosa. Enggak
- boleh kan kalau sudah meninggal boleh
- ya. Tapi kalau nangis yang wajar enggak
- apa-apa, enggak ada masalah, ya.
- Baik.
- Kembali ke SMS selanjutnya datang dari
- hamba Allah. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz, apakah
- mengirim Al Fatihah dapat mengurangi
- siksa kubur? Sebab nenek saya selain
- salat juga tetap membakar sesajen.
- Terima kasih.
- Ya, pengirim Al Fatihah itu sebetulnya
- pengantar doa itu.
- Ya.
- Pengantar doa kepada
- almarhum atau almarhumah. Jadi boleh
- saja kita baca Fatihah, tapi kemudian
- jangan lupakan setelah itu juga kita
- baca doa.
- Ya, misalnya robbighfirli
- waliwalidayya
- warhamhuma kama robbayani soghiro, atau
- doa yang lain. Ya.
- Allahummaghfir
- liabi wa ummi, misalnya. Boleh juga
- pokoknya silakanlah doa ya. Nah, Fatihah
- itu sebagai pengantarnya bagus saja
- karena Fatihah itu merupakan ummul
- kitab. Induknya Alquran, disebut juga
- ummul Quran. Induknya Alquran.
- Jadi, semua ajaran Alquran itu terangkum
- dalam Al Fatihah. Ya, karena itu baik
- baik sekali kita baca. Ya. Makasih.
- Ya.
- Kembali dari hamba Allah di Sukabumi,
- Ustaz. Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ini justru sebaliknya, Ustaz. Gimana
- supaya bisa menangis? Katanya. Kami
- sangat susah menangis. Apakah pada hati
- saya ada penyakit? Terima kasih, Ustaz.
- Sedih tapi tidak menangis apa? Sama juga
- gitu.
- Itu
- ee apa namanya?
- Mestinya enggak bisa terjadi. Ya,
- mestinya enggak bisa terjadi. Mesti
- mesti orang itu pernah menangis.
- Ya, secara fitrah tapi ada yang mudah,
- ada yang
- susah ya.
- Ada yang enggak enggak cepat menangis,
- tapi semua orang pernah menangis. Ya,
- enggak bisa enggak.
- Nah, jadi kalau Anda memang agak susah
- menangis ya
- ee
- lakukanlah untuk
- perenungan-perenungan tentang
- ajaran-ajaran
- agama
- sehingga nanti akan tersentuh hati Anda.
- Menjadi lebih lunak. Ya, tidak tidak
- keras, tidak kasar. Ya, hatinya menjadi
- lebih lunak. Menjadi layyinul qulub,
- bukan qoswatul qulub. Ya, dengan
- menyerap
- ee apa namanya? Bimbingan-bimbingan
- kerohanian, bimbingan-bimbingan
- spiritual keagamaan itu akan ee membuat
- hati kita menjadi ee lebih lunak ya.
- Disebut layyinal
- layyinul qulub. Hatinya lunak, tidak
- qoswatul qulub, keras ya. Nah, itu eh
- apa namanya? Kita harus banyak itu
- melakukan perenungan-perenungan itu, ya.
- Sehingga nanti terbiasa.
- Ya, enggak.
- Sebab, hal itu juga perlu dalam kita
- berdoa kepada Allah, bertobat itu
- menangis baik, ya.
- Tapi nangis yang beneran, ya, bukan
- dibuat-buat, ya.
- Iya.
- Saya kira begitu, terima kasih.
- Baik.
- Dari Bapak Gandhi di Jakarta.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Apakah termasuk ke dalam ranah ikhtilaf
- atau tidak eh atau tidak tentang tema di
- malam hari ini? Kenapa banyak masyarakat
- yang beranggapan justru yang menangisi
- eh mayit di dan si mayitnya tidak dapat
- disiksa.
- Gimana tadi? Justru?
- Justru yang menangisi mayit dan si si
- mayitnya itu tidak dapat disiksa.
- Ya, itu itu lah makanya tidak tidak
- kalau kita pahami dari hadis-hadis tadi
- tidak bukan ikhtilaf, Bu, jelas.
- Jelas sekali bahwa menangis yang wajar
- itu enggak ada masalah, boleh. Yang
- tidak boleh itu menangis secara
- berlebihan.
- Ehm.
- Jelas.
- Lebih jelas.
- Enggak enggak ikhtilaf lagi sudah, ya.
- Karena ini kan eh beberapa hadis kan eh
- disampaikan juga kritiknya dari Sayyidah
- Aisyah sehingga
- eh pemahamannya lurus dan Sayyidah
- Aisyah itu mengetahui asbabul wurudnya,
- Ehm.
- ya.
- Jadi, semua itu baik memahami Quran
- maupun hadis harus tahu background-nya,
- ya. Sehingga pemahamannya jadi jadi pas
- gitu, ya.
- Kalau banyak yang berbeda di titik di
- kalangan masyarakat mungkin karena
- pemahaman saja.
- Ya, karena pemahaman tadi. Makanya saya
- sengaja ini saya angkat supaya kita
- bisa diluruskan. Saya ambil contoh
- begini.
- Ya, bahwa Alquran juga harus
- memahaminya dengan
- konteksnya atau
- eh asbabun nuzulnya. Saya ambil contoh
- ayat menjelaskan walillahil masyriq wal
- maghrib.
- Ehm.
- Fa ainama tuwallu fasamma wajhullah.
- Milik Allah lah timur dan barat.
- Ke mana kamu menghadap di sana
- Ehm. Allah.
- Iya.
- Kalau kita lihat ayat ini saja tidak
- melihat asbabun wurudnya, asbabun
- nuzulnya
- kita salat bisa ke mana saja.
- Ya, milik Allah timur dan barat, ke mana
- pun Anda menghadap di situ Allah.
- Jadi kita bisa salat ke mana saja, tapi
- ternyata
- begitu kita pelajari tafsirnya dan
- asbabun nuzulnya ternyata ayat ini
- diperuntukkan
- bagi orang-orang yang tidak tahu arah
- kiblat.
- Ya.
- Bisa karena di malam hari, bisa karena
- di daerah yang bukan
- orang muslim ya enggak tahu arah kiblat,
- bisa di tengah laut kita enggak bawa
- kompas ya sehingga kita enggak tahu arah
- kiblat. Nah, itu berlaku untuk itu,
- bukan untuk umum. Bagi orang yang tahu
- arah kiblat ya harus menghadap kiblat.
- Nah, jadi artinya perlu sekali pemahaman
- asbabun nuzul. Nah, di hadis pun begitu,
- harus ada
- memahami asbabun wurudnya. Background
- turunnya hadis ini apa? Nah, itu akan
- bisa dipahami secara baik ya.
- Iya, sebenarnya ada telepon kita terima.
- Halo, asalamualaikum.
- Halo, asalamualaikum.
- Ya, silakan. Ya, tadi sempat terputus
- karena mohon maaf menunggu lama. Kembali
- ke SMS selanjutnya Ustaz datang dari
- hamba Allah. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Pak Ustaz, berbeda nya pemahaman para
- ulama harusnya menjadi sebuah rahmat
- bagi agama Islam. Ketika perbedaan itu
- menimbulkan perpecahan apakah rahmat
- Allah akan hilang dari umat Islam ini,
- Ustaz?
- Ya.
- Sebetulnya
- eee enggak semua
- ada perbedaan ya.
- Iya.
- Hal-hal yang pokok itu enggak ada
- perbedaan.
- Ya, jadi yang perbedaan itu dibilang
- di bidang khilafiyah.
- Iya.
- Jadi kalau kita berbicara
- persentase misalnya
- ya
- 88% itu perkiraan saja ya, itu
- disepakati bersama-sama.
- Nah, ada yang mungkin 12%
- ya.
- Yang ada perbedaan pemahaman.
- Nah, kalau kita
- bisa
- memahami dengan lurus, justru itu
- menjadi hikmah untuk kita.
- Ya.
- Perbedaan itu ya, tidak akan menjadi
- bencana.
- Bisa menjadi rahmat ya.
- Nah, saya ambil contoh begini.
- Perbedaan pemahaman
- tentang
- wudhu misalnya.
- He eh.
- Tentang wudhu.
- Menurut
- pandangan ulama Syafiiyah
- wudhu itu akan batal kalau seorang
- bersentuhan kulit laki perempuan.
- Yang bukan mahram ya, itu batal.
- Nah, kemudian dalam praktek keseharian
- kita misalnya bertawaf dan lain-lain
- itu sulit.
- Ya.
- Untuk menghindari itu, nah di situ kita
- bisa mengambil pandangan Imam Malik.
- Ya, yang mengatakan bahwa
- bersentuhan kulit itu tidak
- tidak membatalkan wudhu.
- Yang membatalkan wudhu itu adalah
- bercampur ya, jimak. Nah, jadi artinya
- di sini dalam hal-hal yang kita sangat
- sulit, kita bisa pegang
- ambil mazhab lain ya, nah jadi ini kan
- rahmat kan. Nah, tapi yang yang menjadi
- azab itu kalau kita ribut gitu loh.
- He eh.
- Berbeda kemudian kita
- tapi kalau kita paham betul, itu justru
- menjadi hal yang bermanfaat untuk kita
- ya. Saya kira begitu bagaimana cara kita
- menyikapi ya.
- Ya.
- Saya kira demikian. Seperti Anda pegang
- apa ini ini ya.
- Ya, tembok.
- Itu tergantung kita yang menyikapi ya,
- kalau kita mengambil di sini dari sini
- ayat-ayat Quran hadis
- bermanfaat tapi kalau dari sini kita
- ambil
- ya
- yang buruk-buruk ya
- nah itu barangnya sama ya, tapi di sini
- tergantung sikap kita ya, ya begitu saya
- kira, terima kasih
- baik kembali ke SMS selanjutnya datang
- dari hamba Allah Pak Ustad,
- assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh
- waalaikumsalam
- saya mau bertanya Pak Ustad gimana
- caranya agar bahagia dan hidup dan hidup
- dengan hati yang tenang dan merasa cukup
- Ustad
- ya
- ya kita supaya bahagia itu yang pertama
- sekali adalah
- kita merasa ridho
- ya merasa senang
- menerima apa yang Allah berikan pada
- kita
- ya nabi berpesan
- irdho
- bima qosamallahu laka
- ridholah kamu
- senanglah kamu
- menerimalah kamu terhadap apa yang
- apa yang telah Allah berikan padamu itu
- kamu bahagia pasti
- tapi kalau kita tidak menerima
- ya
- oh kita akan
- resah
- ya
- semua kalau kita terima bahagia
- saya ambil contoh saya dosen di
- perguruan tinggi di UI ya
- nah kalau saya
- melihat murid-murid saya setelah tamat
- dari UI itu gajinya besar
- besar
- he ya di perusahaan asing apa itu wah
- nah dibandingkan dengan gaji saya yang
- dosennya bertahun-tahun jauh nah kalau
- kita
- enggak bersyukur kita resah itu, kita
- jengkel ah murid saya saja gajinya
- sekian masa saya sekian
- he
- kita akan resah terus tapi kalau kita
- malah bersyukur ah alhamdulillah
- murid-murid saya sukses
- mereka bisa bermasyarakat, bisa menjadi
- pemimpin, mereka bisa mendapatkan
- penghasilan yang tinggi dan lebih
- bahagia lagi ketika saya lihat
- murid-murid saya itu di manapun dia
- bekerja, dia bikin pengajian-pengajian.
- Nah, itu jadi bahagia kita, kan gitu.
- Nah, itu tergantung sikap kita. Nah,
- maka kalau kita menerima
- ketentuan dari Allah, menerima takdir
- Allah, kita bahagia. Kalau kita tidak
- menerima, kita akan tersiksa dunia
- akhirat. Itu kesimpulannya.
- Ya, jadi bagaimana kita berlatih
- menerima itu, ya.
- Menerima semua ketentuan yang Allah
- berikan, Ustaz.
- iya.
- Iya.
- Bima qasamallahu lak, begitu ya. Apa
- yang Allah telah kasih untuk kamu.
- Iya.
- Baik, semoga terjawab. Kembali dengan
- Bapak Mulyana di Batam, Ustaz.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Pak Ustaz, bagaimana ketika seorang
- ulama yang meninggal lalu ditangisi
- dengan berlebihan oleh jemaahnya. Bahkan
- jemaah tersebut memperlakukan ulama
- begitu istimewa dalam kematiannya,
- Ustaz.
- Ya, itu menangisi kepergian ulama itu
- sebetulnya sesuatu yang wajar.
- Ya.
- Karena
- eee
- mautul alim, katanya mautul alam.
- Wafatnya seorang ulama itu, ya,
- wafatnya,
- matinya alam, misalnya. Mengapa? Karena
- ilmunya itu ikut hilang.
- Iya.
- Ya.
- Ilmu itu enggak bisa diwariskan dalam
- arti seperti harta, ya.
- Betul.
- Kalau orang meninggal punya harta, kan
- 10 miliar,
- langsung diterima anak-anaknya, kan.
- Kalau ilmu enggak bisa, harus mencari
- sendiri.
- Ya, nah ulama ini betapa dia
- eee mem- mempelajari ilmu sampai dia
- menjadi seorang yang sangat alim,
- kemudian dia wafat, merasa orang
- kehilangan.
- Ya, yang biasa dia bisa bertanya, bisa
- dibimbing, merasa kehilangan, maka
- mereka menangis, ya, wajar.
- Tapi tetap tidak boleh berlebihan, ya.
- Enggak boleh berlebihan sampai misalnya
- ya
- kuburannya itu
- ee di
- apa apa namanya
- disikapi berlebihan enggak boleh ya
- wajar aja harus wajar ya semua wajar.
- Ya sesuatu yang berlebihan itu enggak
- bagus. Ibadah kalau berlebihan enggak
- bagus apalagi yang lain ya oke.
- Dan juga tanda-tanda kiamat itu
- diangkatnya ilmu dengan melalui
- diwafatkannya para ulama seperti itu ya.
- diwafatkannya para ulama
- ee
- ee Allah mengangkat ilmu
- dari dunia ini
- dengan diangkatnya para ulama.
- Innallaha
- yaqbidul ilma
- biqobdil ulama itu kalimat hadisnya
- sesungguhnya Allah mengangkat ilmu dari
- dunia ini
- dengan
- diangkatnya para ulama maksudnya
- diwafatkannya para ulama.
- Ya maka ditugaskan kita harus
- terus belajar sehingga ada pewarisnya
- pewarisnya itu bukan seperti mewarisi
- harta karena dia belajar pada ulama itu
- jadi dia juga jadi alim gitu loh.
- Ya saya kira demikian terima kasih.
- Baik Ustaz kita dibatasi oleh waktu
- mungkin ee
- kesimpulan dari penjelasan tadi malam
- hari ini.
- Gimana?
- Kesimpulan dari tema kita malam hari
- ini.
- Jadi ee
- ikhwan dan akhwat sekalian dalam
- memahami
- ee
- hadis ataupun ayat-ayat Alquran
- itu kita harus pahami secara
- komprehensif
- secara holistik utuh
- jangan satu hadis
- kita simpulkan jangan
- kita bandingkan dengan hadis yang lain
- terus ya
- kita kumpulkan dulu hadis mengenai ini
- apa terus kita kumpulkan
- nanti kita simpulkan dan untuk itu kita
- perlu belajar kepada guru
- ya jangan hanya baca sendiri kalau baca
- sendiri itu ya boleh sih tapi nanti
- kalau enggak paham tanya pada guru gitu
- loh
- tapi jangan mengambil kesimpulan
- sendiri-sendiri ya harus tetap kita
- punya pembimbing ya
- karena
- kalau enggak punya pembimbing itu repot
- atau kita enggak boleh juga belajar pada
- orang yang bukan ahlinya.
- Heeh.
- Kita lihat ini orang pendidikannya di
- mana?
- Heeh.
- Pendidikan agamanya.
- Ya.
- Pendidikan keulamaannya di mana dia?
- Kalau enggak jangan, ya.
- Jangan orang belajar setengah bulan, ya,
- di puncak lalu merasa jadi orang alim,
- enggak bisa, ya. Ilmu agama dipelajari
- dari kecil, ya.
- Heeh.
- Bertahun-tahun. Waktu luzamani panjang
- waktunya untuk belajar, ya. Saya kira
- demikian. Jadi, itu dah kembali kepada
- eh kesimpulan yang kita kaji malam hari
- ini bahwa
- eh menangis secara wajar karena wafatnya
- seorang yang kita cintai
- itu enggak ada masalah.
- Heeh.
- Yang tidak boleh itu menangis secara
- berlebihan, meratap berlebihan sehingga
- ya, menjerit histeris,
- Heeh.
- membanting-banting diri, merobek-robek
- baju, itu yang enggak boleh. Demikian,
- ikhwan dan akhwat sekalian. Mohon maaf
- apabila ada kekhilafan. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam. Terima kasih, Ustaz Zaki
- Mubarak atas kajiannya di malam hari ini
- di Tausiah Malam tentang menangisi
- wafatnya seseorang. Semoga apa yang
- disampaikan menambah ilmu agama kita,
- juga menambah pemahaman kita terhadap
- apa yang telah disampaikan. Dan untuk
- Anda yang sudah bergabung, kami ucapkan
- terima kasih. Saya Muhammad Fahri
- ditemani Ondy juga Anis Malik pamit.
- Subhanakallahumma wabihamdika, asyhadu
- alla
- astagfiruka wa atubu ilaik.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ya Allah,
- ilahi
- salimil
- ummah
- minal
- afati
- wan
- niqamah
- wamin
- hammi
- wamin
- ghummah bi ahlil badri
- ya
- Allah.
- Bi
- ahlil
- badri
- ya
- Allah.