Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:08 Brail TV. 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. 0:17 Asalamualaikum warahmatullahi 0:19 wabarakatuh, ikhwan akhwat 0:20 rahimakumullah. 0:22 Alhamdulillah 0:24 di bulan yang sangat berarti bagi 0:28 Indonesia tercinta. Karena kemarin 17 0:32 Agustus usia negeri tercinta kita ini 0:37 sudah di 10 windu ya 80 tahun. 0:40 Mudah-mudahan semuanya yang sekarang ini 0:44 bersama-sama penuh rasa syukur bendera 0:47 berkibar bukan hanya di rumah tetapi 0:49 juga di kantor-kantor di sepanjang 0:52 jalan-jalan. Mudah-mudahan ini sebuah 0:57 kebanggaan bagi anak-anak kita kelak 0:59 juga yang di dalam acara perlindungan 1:02 anak menampilkan hal-hal yang diharapkan 1:06 akan membantu sosok-sosok 1:09 yang akan menjadikan Indonesia lebih 1:12 bercahaya. untuk hari ini. Tidak lupa 1:16 Pak Hamid tentu saja nanti akan 1:18 memberikan sesuatu yang kayaknya minggu 1:22 lalu, 2 minggu yang lalu itu masih 1:24 menjadi banyak pertanyaan. Jadi lanjutan 1:27 ya. Dan tidak lupa juga tentu saja salam 1:30 selawat kepada junjungan kita Muhammad 1:33 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. 1:35 Semoga kelak kita mendapatkan syafaat 1:38 beliau dan dipertemukan dengan beliau di 1:40 saat yang kita rindukan di yaumil akhir. 1:43 Ikhwan awat tadi di off air Pak Hamid 1:48 merasa perlu sekali melanjutkan bahasan 1:51 yang minggu-minggu sebelumnya dan beliau 1:55 sudah hadir di sini. Asalamualaikum 1:56 warahmatullahi wabarakatuh. 1:58 Waalaikumsalam. Apa kabar Bunda? 2:01 Alhamdulillah sehat bugar ya. 2:03 Alhamdulillah. 2:05 Keren banget itu batik dari Papua ya. 2:08 Batik dari Papua. [terkesiap] 2:11 Jadi kembali menguatkan ekosistem 2:13 perlindungan anak ya. Kita lanjutkan 2:15 untuk tingkat desa ataupun juga 2:17 kelurahan. 2:19 Kita simak dan kita pahami apa yang 2:21 dapat kita serap dari bahasan ini. 2:24 Silakan. Baik, terima kasih Bunda. 2:27 Bismillahirrahmanirrahim. 2:29 Asalamualaikum warahmatullahi 2:31 wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatull 2:34 pendengar Radio Rasil di mana saja 2:36 berada. Alhamdulillah 2:39 kita masih diberi kesempatan oleh Allah 2:42 untuk berbagi informasi. Kali ini kita 2:45 akan melanjutkan pertemuan 2 minggu yang 2:48 lalu terkait menguatkan ekosistem 2:52 perlindungan anak di tingkat desa atau 2:57 kelurahan. 3:00 Ayahanda dan bunda 3:03 menjadikan anak itu menjadi pusat 3:07 menjadi sangat penting terutama di 3:10 tingkat desa dan kelurahan. Apalagi 3:14 kalau kita mengikuti program-program 3:17 yang didorong oleh pemerintah hari ini. 3:21 Kita awali ada program ee 3:27 koperasi merah putih. Di sana insyaallah 3:31 nanti terdapat banyak layanan 3:36 untuk memastikan 3:38 ekonomi di desa itu meningkat. Itu poin 3:42 penting yang perlu kita ee ketahui 3:45 bersama. Lalu kemudian pada periode 3:48 pemerintahan ini khususnya Kementerian 3:51 Pemberan Perempuan dan Perlindungan Anak 3:53 itu memperkenalkan ruang bersama 3:56 Indonesia. Itu juga menjadi satu hal 4:01 yang perlu kita ketahui bersama-sama. 4:05 sebelumnya waktu periode pemerintahan 4:07 sebelumnya itu ada namanya 4:10 Desa Ramah Perempuan Peduli Anak. 4:14 Hm. 4:15 Lalu kemudian ada juga konsep ee pusat 4:21 perlindungan anak terpadu berbasis 4:23 masyarakat. Lalu ada Satgas Perlindungan 4:27 Perempuan dan Anak. Ini semua 4:30 potensi-potensi yang ada di tingkat 4:33 desa. Yang jadi pertanyaannya, 4:36 apakah Ibu Bapak pernah bersentuhan 4:40 tidak dengan 4:43 hal-hal yang kami informasikan? Kalau 4:45 belum, berarti 4:48 kita tinggal di desa mana di Indonesia. 4:51 Nah, untuk itu hari ini coba kita perlu 4:55 sama-sama mengupdate diri. Insyaallah 5:01 desa ibu bapak sebetulnya sudah mengarah 5:04 ke sana, tetapi kita sebagai anggota 5:09 masyarakat yang mungkin 5:12 belum tahu atau mungkin tidak pengin 5:16 tahu. Nah, sekarang mau dipilih yang 5:18 mana nih? 5:20 sudah tahu mungkin tidak tahu atau apa 5:24 Bunda Nuning pengin tahu banget. 5:27 Nah, 5:27 itu juga menjadi penting sekali. Ah, 5:30 untuk itu bagaimana kita memastikan 5:36 lingkungan 5:38 di desa kita atau di kelurahan kita 5:41 benar-benar memperhatikan perlindungan 5:45 anak. 5:48 Mau tidak mau sebagai orang yang hidup 5:53 atau tinggal bersama anak-anak di rumah 5:57 atau kita punya tetangga, ada anak-anak 6:00 juga 6:01 atau di mana kita melakukan aktivitas di 6:05 desa otomatis selalu berjumpa dengan 6:09 mereka. 6:12 Desa yang memiliki ekosistem 6:17 yang memperhatikan perlindungan anak 6:19 adalah desa di mana 6:23 warga itu benar-benar sangat peduli 6:28 kepada setiap anak yang ada di depan 6:30 dia. Pertanyaan menarik yang mungkin 6:34 perlu dijawab dalam hati ibu bapak yang 6:38 ada di rumah sebagai pendengar radio 6:40 Rasil. Apakah selama ini kita sudah 6:43 peduli tidak kepada anak kita yang ada 6:48 di rumah, 6:50 yang ada di lingkungan kita atau yang 6:53 ada di sekitar kita atau yang ada di 6:57 rumah ibadah di mana kita selalu 7:00 beraktivitas seperti di masjid atau di 7:03 musala. Apakah kita sudah merasa tidak 7:08 memberikan ee perlindungan kepada 7:10 mereka? 7:11 ini menjadi penting karena kalau sejak 7:17 dari awal anak-anak di sekitar kita ini 7:21 merasa kehadiran 7:24 Bapak Ibu 7:26 dan mereka merasa tenang, merasa nyaman, 7:32 lalu kemudian pada saat mereka bertanya 7:35 atau mereka mau berkonsultasi dengan 7:39 kita, respon kita sangat positif. 7:42 Insyaallah 7:43 pada saat itu anak merasa negara hadir. 7:48 Wah, ini menarik nih. 7:50 Kita sudah merdeka 80 tahun. Apakah 7:54 negara itu sudah benar-benar hadir tidak 7:57 di tengah-tengah ee anak-anak kita? 8:00 Iya. 8:02 Kalau kita berbicara perlindungan anak 8:06 itu ada banyak undang-undang yang 8:08 mengaturnya Bunda Nuning. 8:10 Tapi kita harus mulai bangun pemahaman 8:13 kembali lagi. Kalau bicara perlindungan 8:17 anak itu berarti ada dua unsur yang 8:21 perlu kita perhatikan. 8:24 He. 8:27 Pertama, 8:28 pemenuhan hak anak. pemenuhan hak anak 8:32 itu ini kalau boleh ayahanda dan bunda 8:37 sudah mulai proaktif untuk 8:40 mengidentifikasi 8:42 pertama 8:43 apakah 8:45 di rumah kita 8:47 setiap anak yang baru lahir atau yang 8:52 sudah di sudah ada sampai di bawah usia 8:55 18 tahun apakah mereka sudah 8:58 teregistrasi belum? 9:02 Apakah anak-anak kita atau tetangga kita 9:05 punya akta? 9:08 Lalu yang tidak kalah penting, apakah 9:11 anak-anak kita sudah punya KIA? 9:15 Kalau belum, apa yang harus kita lakukan 9:19 sebagai orang dewasa di sekitar 9:21 anak-anak itu? segera informasikan ke 9:25 kelurahan atau ke desa 9:29 supaya desa dan kelurahan itu akan 9:33 mencatatkan anak-anak tersebut menjadi 9:36 prioritas segera 9:39 teregistrasi 9:42 segera mendapatkan kutipan akta 9:44 kelahiran 9:46 ini ibu bapak yang ada di beberapa 9:50 daerah itu masih 9:54 ada anak-anak yang kurang beruntung 9:57 karena di sekitar mereka tidak peduli 10:00 atau tidak mau bertanya. Ini penting 10:02 nih, terutama ayahanda dan bunda yang 10:05 aktif di masjid atau di musala untuk 10:10 selalu tuh menanyakan keadaan anak-anak 10:13 tersebut. Dan ada halangan kalau 10:18 misalnya 10:20 kok dia belum teregistrasi, dia belum 10:23 punya akta apalagi belum punya belum ada 10:28 kakak itu sudah dapat dipastikan 10:31 ayah ibunya itu kemungkinan besar nikah 10:35 sirih. Nah, itu. Jadi dengan begitu kita 10:39 akan menemukan satu tantangan yang 10:42 kemudian bisa jadi program. Kalau ada 10:45 yang nikah siri berarti dia perlu kita 10:48 dorong untuk 10:51 dinikahkan secara massal. Nah, itu ada 10:53 program-program di kabupaten kota 10:55 Bundoning. 10:56 Iya. 10:56 Siapa yang dapat mengidentifikasi ini 10:59 kalau bukan ibu bapak yang ada di 11:04 sekitar anak-anak kita? 11:06 Dan dari titik itu banyak persoalan yang 11:10 bisa kita selesaikan. Itu yang pertama. 11:12 Yang kedua nih 11:16 kita pastikan 11:18 apakah anak-anak di sekitar kita itu 11:22 terakses tidak 11:24 kepada sumber-sumber 11:27 bacaan [berdehem] 11:29 yang ramah anak. 11:32 Tidak cukup sumber bacaan. Kita juga 11:35 harus tahu apakah selama ini anak-anak 11:38 yang ada di sekitar kita apakah mereka 11:42 terakses tidak kepada digital yang ramah 11:46 anak. 11:46 Nah, ini jadi tantangan hari ini 11:49 anak-anak kita ini 11:51 terpapar 11:54 sangat ee tinggi dengan 11:57 informasi-informasi yang belum 11:59 terfilter. Siapa nih yang harus 12:02 memastikan kalau bukan kita yang ada di 12:06 sekitar anak-anak? 12:09 Jadi tanpa harus disuruh harusnya kita 12:13 proaktif. 12:14 He. 12:15 Aktif untuk memastikan 12:18 kalau ada keluhan dari ee orang tua 12:22 misalnya, kenapa anak saya 12:24 ditanya-tanya? Oh, ini berarti itu jadi 12:27 tantangan lagi. 12:28 Iya. orang tua tersebut belum terpapar 12:32 informasi terkait dengan perlindungan 12:34 anak. Karena orang dewasa di sekitar 12:38 yang sudah mengetahui tentang informasi 12:42 ini dia punya kewajiban, dia punya 12:45 peran. Apa dasarnya? ada di 12:48 Undang-Undang pasal 72 12:51 ayat ee 3 huruf A itu ada 12:56 sosialisasikan, 12:57 menanyakan 12:59 ini ada peran-peran itu. Itu yang kedua 13:03 mengetahui 13:05 apakah anak-anak di sekitar kita itu 13:08 terakses tidak dengan 13:11 informasi yang positif dari bacaan atau 13:14 dari gadget. Kalau kita merasa anak-anak 13:19 di sekitar kita tidak memiliki akses 13:23 terhadap 13:24 informasi yang layak anak, apa yang 13:26 harus kita lakukan? Ah, nih, jadi peran 13:29 kita sebagai orang dewasa di sekitar 13:31 anak 13:31 ya kalau boleh kita urunan atau 13:36 membangun sebuah gerakan untuk 13:40 tukar buku. Nah, misalnya Bunda Nuning 13:43 di rumah pasti punya buku enggak? 13:45 Iya. punya kan? 13:46 He. 13:46 Coba bayangkan kalau buku Bu Nuning itu 13:50 dipinjamkan ke rumah tetangga. Rumah 13:53 tetangga itu juga meminjamkan. 13:56 Kita mintakan cuma satu. 13:58 Tolong pastikan kondisinya seperti waktu 14:02 dipinjam pada saat mengembalikan. 14:06 Itu itu harus kita minta tuh. Ah, di 14:09 situ anak tidak hanya dapat bacaan, tapi 14:12 dia mampu bertanggung jawab karena ada 14:18 amanah untuk menjaga. 14:20 Ini yang perlu kita lakukan di 14:24 lingkungan, di desa atau di kelurahan 14:26 kita. 14:28 Jadi kalau kita tunggu nih, kita kalau 14:31 tunggu ya Bunda Nuning 14:33 untuk membangun sebuah ee perpustakaan 14:37 yang hebat di desa kita itu nanti 14:43 zaman kapan itu? Padahal di di rumah 14:46 kita banyak buku. Ada itu yang sangat 14:50 sederhana meminjamkan buku. Yang kedua 14:53 ini di pusat itu sudah dikembangkan 14:57 pusat informasi sahabat anak. Apa itu 14:59 sebetulnya? Pusat informasi sahabat anak 15:02 itu dapat dikembangkan di desa. Selain 15:06 tadi memberi akses buku yang positif, 15:11 memastikan gadget yang ee positif. 15:16 Lalu kemudian yang tidak kalah penting, 15:18 Bunda Nuning, 15:20 anak-anak [berdehem] di desa itu mereka 15:23 tidak miskin harta, tapi mereka miskin 15:28 informasi. 15:30 Misalnya 15:32 ada perlombaan. Nah, coba misalnya di 15:37 dusun mana mereka ada perlombaan, tapi 15:40 di dusun lain itu tidak mengetahui, 15:43 saling tukar informasi tuh. 15:45 Hm. Tinggal tidak tunggu yang dari kota 15:47 dulu informasi itu ada pertandingan atau 15:50 apa. Saling informasi bagi informasi 15:54 beasiswa. 15:56 Ada anak-anak yang ee 16:00 memiliki orang tua yang sumber 16:03 penghasilannya 16:05 tidak mampu untuk membiayai anaknya 16:07 untuk bersekolah, itu otomatisnya 16:10 anaknya juga ee peluang untuk mengakses 16:14 ke sekolah itu terbatas. Iya. 16:16 Kalau tetangga itu menginformasikan, 16:19 "Nak, ini ada informasi beasiswa dari ee 16:22 Basnas atau dari basis daerah atau dari 16:26 ee ada orang kaya di tetangga kita itu 16:29 mau bagi." Ahah. Itu berarti informasi. 16:33 Informasi ini kalau boleh dikemas dengan 16:36 ee baik dan yang paling penting adalah 16:40 valid dan terverifikasi. itu penting 16:44 benaring. 16:45 Apalagi yang perlu juga diberikan 16:48 informasi kepada anak-anak ini terkait 16:51 dengan sekarang ini 16:54 negara sedang mengembangkan sekolah 16:57 rakyat yang isinya itu semua Bunda 17:00 Nuning. 17:01 Tahun ini ada sekitar 100 sekolah 17:04 rakyat. isinya adalah anak-anak dari 17:08 orang tua yang mengalami 17:12 kendala dalam ekonomi. Jadi, 17:15 anak-anaknya berpeluang untuk ee 17:17 sekolah. Tapi ada informasi ada sebagian 17:21 anak-anak itu dia tidak mau melanjutkan 17:25 karena tidak beta di asrama. He 17:29 siapa yang dapat memberi informasi yang 17:33 sebaik sejelas-jelasnya terkait dengan 17:36 hal ini? Kalau bukan tetangga. 17:38 Ah untuk itu tetangga yang baik yang ada 17:41 di desa, yang ada di kelurahan. Coba 17:44 bagi informasi itu kepada anak-anak yang 17:48 ada di sekitar kita tanpa disuruh, tanpa 17:52 diminta kita proaktif. Nih menarik nih. 17:55 Itu baru dua hal Bunda Nuning. Padahal 17:57 untuk membangun ekosistem perindungan 18:00 anak terikat anak banyak sekali. Itu 18:03 yang kedua. Sekarang yang ketiga. Yang 18:05 ketiga, 18:08 tahun 2025 ini Menteri Pemberdayaan 18:12 Perempuan dan Perlindungan Anak telah 18:15 meluncurkan 18:17 satu Permen PPA nomor 3 tahun 18:23 2025 tentang partisipasi anak melalui 18:28 forum anak. Nah, forum anak itu idealnya 18:32 dibentuk dari tingkat desa. 18:36 Siapa saja anak-anak yang ee perlu aktif 18:40 di forum anak itu? Anak-anak yang 18:43 berusia idealnya ya, anak-anak yang 18:46 berusia 12 tahun sampai usia 15 tahun. 18:51 Hm. H 18:53 mereka berharap menjadi pengurus di 18:55 tingkat ee desa di usia itu. Lalu 18:59 anggotanya siapa saja? Ya, semua anak 19:02 dari usia 0 sampai usia tinggal 1 detik 19:06 18 tahun. Apa tugas dari forum anak ini? 19:10 tugas forum anak ini mereka 19:14 akan menjadi ee kelompok yang 19:20 perlu dipertimbangkan pendapatnya oleh 19:22 kepala desa saat menyusun peraturan 19:25 desa. Jadi kalau ada perdes desa yang 19:29 berhubungan baik langsung maupun tidak 19:32 langsung dengan anak, forum anak ini 19:36 dimintai pendapatnya. 19:40 Yang kedua, forum anak ini dapat 19:42 diperankan untuk dimintai informasinya 19:47 atau usulannya terkait dengan 19:49 program-program pada saat Musrembang 19:52 desa. Kan ada Musrembang desa itu Bunda 19:55 jadi kepala desa sebelum mendengarkan 19:58 apa nih usulan dari orang-orang dewasa, 20:02 kita perlu 20:04 bertanya kepada forum anak. Anak-anakku, 20:08 tahun depan kepala desa ingin mau 20:12 melakukan hal-hal ini. Menurut kalian 20:15 apa nih dan apa usulan kalian? Nah, itu 20:18 menjadi sangat ee penting. Lalu ini yang 20:22 perlu kita dorong sejak dari awal kepada 20:25 anak-anak kita di desa adalah mereka 20:29 menjadi 20:30 pelopor. Mereka adalah menjadi agen 20:33 perubahan di desa. Misalnya 20:37 di desa itu mungkin ya ada sampah yang 20:41 kurang ee tertata. Jadi ada forum anak, 20:46 salah satu dari anak itu berkampanye. 20:49 Halo teman-temanku, kalau boleh 20:52 sampah-sampah yang ada di rumah itu 20:54 dikumpul lalu ditempatkan di tempat yang 20:58 sudah disediakan. 21:00 Pastikan jangan dibakar karena akan 21:04 menimbulkan spot ee panas atau spot api 21:08 yang kemudian akan ketahuan oleh 21:11 satelit. Nah, itu bisa jadi ee apa? 21:15 pendorong untuk anak jadi forum 21:17 atau dari anak-anak ini dia jadi agen 21:21 perubahan. 21:22 Ada enggak teman-teman aku yang pengin 21:25 belajar matematika? Nanti aku yang akan 21:28 jadi ee mentornya. Wah, jadi 21:31 mentor 21:31 itu 21:33 menjadi sangat menarik kalau di setiap 21:35 desa itu sudah seperti itu ya. Apakah 21:39 sudah ada? Sudah ada. Jadi apa yang kami 21:42 bicarakan ini sudah ada di berbagai 21:44 desa. Tinggal apakah di desa Ibu Bapak 21:47 belum ada itu berarti ketinggalan 21:49 informasinya kepala desanya. 21:53 Lalu apalagi? 21:55 Jadi jadi agen peruba itu dari anak desa 22:00 Bunda Nuning. Kalau dia sudah terbiasa 22:03 insyaallah sampai dewasa dia akan selalu 22:06 dikenal sebagai pelopor pembangunan. 22:09 Tapi yang tidak kalah penting ini yang 22:11 keempat 22:13 anak-anak kita dorong dia akan menjadi 22:18 pelapor. Pelapor itu adalah melaporkan 22:22 hal-hal yang positif yang mungkin belum 22:25 diketahui oleh tetangga, belum diketahui 22:27 oleh guru, belum diketahui oleh kepala 22:30 dusun, belum diketahui oleh kepala desa. 22:33 Jadi akhirnya uh menarik nih ada teman 22:36 kalian yang berprestasi kok kepala desa 22:39 belum tahu ya. Ah itu berarti informasi 22:42 yang positif. 22:43 Tapi juga ada yang perlu mendapatkan 22:46 perhatian segera. Misalnya nih Pak Kades 22:51 di sana kalau kami malam mau lewat itu 22:53 agak takut. Kenapa tidak ada lampu? 22:57 Berarti sesuatu yang perlu dipikirkan 23:00 oleh kepala desa mengadakan lampu supaya 23:02 terang di jalan. 23:03 Pak Kades, kalau kami menyeberang sungai 23:06 situ kayaknya agak rawan kok. Tidak ada 23:11 orang tua yang menjaga tuh atau 23:14 mengawasi. Berarti ada satu hal yang 23:18 perlu dapat atensi. Jadi melapor ini 23:21 bukan hal-hal yang kita anggap harus 23:23 diviralkan. 23:25 Tapi kalau kepala desanya agak 23:28 telinganya agak tebal, ya mungkin 23:32 harus diviralkan baru itu bergerak. Eh, 23:36 pas mau dibantu malah tidak mau. Wah, 23:39 ini ini siapa nih? Jadi gitu. Jadi 23:42 sekarang Ibu Bapak terkait dengan anak 23:45 ini menjadi penting. Itu yang pertama. 23:48 Yang bagian selanjutnya yang terkait 23:51 dengan hak ini yaitu bagaimana 23:55 memastikan di setiap desa itu 23:59 orang tua-orang tuanya benar-benar 24:04 memiliki pengetahuan tentang pengasuhan. 24:08 Apalagi kita di Indonesia karena sudah 24:12 meratifikasi konvensi hak anak. 24:14 Pengasuhan yang dimaksud adalah 24:16 pengasuhan berbasis hak anak 24:21 yang berprinsip 24:23 nondiskriminasi, 24:25 kepentingan terbaik bagi anak, lalu 24:28 memperhatikan tumbuh ee hidup tumbuh 24:32 berkembang dan yang tidak kalah menarik 24:35 adalah mendengarkan pandangan anak. itu 24:38 orang tua-orang tua yang ada di desa 24:41 perlu dimasukkan ke kelas-kelas 24:45 parenting. Pertanyaannya di desa apakah 24:48 sudah punya? Di desa itu ayahanda dan 24:51 bunda an ada namanya BKB. 24:57 Lalu ada BKR. Apa itu BKB? BKB itu 25:00 adalah bina keluarga balita. Jadi setiap 25:05 ayah, setiap ibu yang punya anak balita, 25:11 mereka itu punya kewajiban 25:14 untuk hadir di Posiandu. 25:18 Di Posiandu itu sekarang ini harus 25:22 dipastikan di desa itu harus punya PAUD 25:25 HI. 25:26 Wow. Pak Utah itu tuh adalah 25:28 pengembangan perkembangan anak usia dini 25:32 holistik terintegrasi. 25:34 Jadi 25:36 selain meja penimbangan, 25:39 meja yang lain-lain, terakhir itu adalah 25:43 meja untuk memastikan orang tua, ayah 25:49 dan ibu harus mendapatkan materi-materi 25:53 parenting. 25:55 Kalau di kelurahan, kalau di desa kita 25:58 tidak ada. Ah, berarti 26:01 ada satu hal yang bisa kita upayakan 26:05 agar ekosistem perlindungan anak di desa 26:08 kita benar-benar 26:11 sangat diharapkan. 26:13 Itu penting, Bunding. 26:15 Iya, 26:16 itu yang pertama. 26:18 Yang kedua, memastikan di desa itu tidak 26:23 ada perkawinan 26:27 usia anak. Oke. 26:28 Jadi kita harus pastikan anak-anak kita 26:32 itu yang paling utama diprioritaskan 26:35 adalah mereka terakses ke pendidikan. 26:39 Apalagi pada masa pemerintahan sekarang 26:42 pendidikan menjadi utama itu. 26:44 Nah, coba perhatikan kemarin pidato 26:48 ee Presiden terkait dengan rencana 26:52 APBN 26:53 tahun 2026 itu pendidikan itu 26:56 diprioritaskan. 26:58 Ah, bagaimana kalau desa kita tidak siap 27:03 menerima ini atau 27:05 ada anggaran tapi anak-anak tidak mau 27:07 sekolah? itu berarti siapa yang harus ee 27:12 mengupayakan ini? Jadi orang tua dan 27:15 masyarakat di sekitar. Karena kita 27:18 sebagai warga desa itu harus benar-benar 27:20 ambil bagian. Saya kadang-kadang ee 27:24 sangat iri dengan desa-desa yang hebat 27:27 itu. Ada desa-desa hebat berkembang tuh 27:31 dan itu yang kemudian kenapa itu tidak 27:33 terjadi di desa kita. Nah, ini berarti 27:35 kita harus ee ambil bagian itu yang 27:39 paling penting tidak ada perkawinan 27:41 anak. Berarti di sana ee peran dari ee 27:46 Hansib kalau masih ada Hansib sekarang 27:48 nih 27:49 masih ada hansip terus ronda ee untuk 27:53 memastikan tidak ada anak-anak yang ee 27:57 berdua-duaan itu akan mencegah itu maisi 28:00 atau perbuatan yang ee tidak dikehendaki 28:04 atau merusak ee norma yang ada di 28:07 masyarakat. Eh, tahu-tahu ditangkap sama 28:09 Satpam, tahu-tahu ditangkap oleh SATPOL 28:12 PP. Kalau desa yang sudah memiliki ee 28:16 ekosistem perlindungan anak, insyaallah 28:21 angka perkawinan anak itu jadi zero. 28:25 Oh, kalau masih ada berarti tantangan 28:27 tuh. 28:28 Iya. Ya, apalagi hari ini ayahanda dan 28:31 bunda, kita sudah memiliki Undang-Undang 28:34 Nomor 12 tahun 2022 tentang tindak 28:38 pidana kekerasan seksual. 28:41 Pemaksaan perkawinan pada anak itu 28:45 termasuk dipidana. 28:48 Oh, itu mau mereka tidak ada. itu pasti 28:52 ada ee dorongan orang tua, tidak ada 28:54 pembatasan dari orang tua. Jadi 28:56 hari ini kita harus ee melek hukum 29:01 terkait dengan ini. Lalu kita juga harus 29:05 memastikan apakah anak-anak di desa itu 29:10 mereka 29:12 yang terutama yang kehilangan kedua 29:15 orang tuanya. Siapa nih yang 29:18 mendampingi, yang membimbing, yang 29:20 mengasuh mereka? Kalau tidak ada berarti 29:24 peran takmir masjid, 29:27 peran dari ee tokoh masyarakat yang ada 29:29 di sana untuk memastikan 29:33 kalau boleh 29:35 hindarkan anak itu masuk ke panti 29:38 asuhan. 29:40 Tapi yang paling utama adalah yang 29:42 membesarkan adalah keluarga besarnya. 29:45 misalnya nih ee kayaknya kakek nenek 29:49 mereka itu tidak ada di desa itu. 29:51 Berarti kita sebagai orang yang ada di 29:54 sekitar anak itu berupaya 29:56 he 29:57 untuk menghubungkan dengan keluarga 30:00 besarnya. Dengan begitu kita ee terbebas 30:04 dari kewajiban. Tapi kalau anak itu 30:06 tidak berkehendak untuk menyatu dengan 30:09 ee keluarga besarnya, berarti tanggung 30:12 jawab 30:13 masyarakat yang ada di sekitar anak 30:16 tersebut. Ini Ibu Bapak yang perlu kita 30:19 ketahui bersama-sama. 30:22 Lalu misalnya nih, kalau ada orang tua 30:29 di desa itu anaknya ee orang tuanya 30:31 bekerja di luar kota ini di desa-desa 30:35 banyak tuh ada yang jadi pekerja migran 30:38 Indonesia 30:39 yang menterinya juga tidak punya program 30:42 yang bagus terkait dengan ini. Akhirnya 30:45 banyak anak-anak juga yang keleleran 30:47 atau mereka tidak mendapatkan e 30:50 penanganan dengan baik. Untuk itu kita 30:52 sebagai orang yang ada di sana, 30:55 bagaimana kita memastikan anak-anak ini 30:59 terawasi, 31:01 terkontrol 31:03 agar mereka terhindar dari 31:06 perbuatan-perbuatan yang kita tidak 31:08 kehendaki. Karena di beberapa desa yang 31:11 banyak mengirim pekerja migran itu 31:14 anak-anaknya kelebihan uang kiriman dari 31:17 orang tua, tetapi mereka tidak diajarkan 31:20 terkait dengan financial literacy. Nah, 31:23 itu kan harus diatur bagaimana terkait 31:25 dengan pengaturan uang. Lalu mereka 31:28 harus ee 31:32 memberi rasa hormat kepada orang tuanya 31:35 yang telah berusaha sampai ke luar 31:38 daerah, ke luar negara. Lalu kemudian 31:41 mereka bekerja. Kemudian uangnya kan 31:44 tujuannya untuk anak-anak mereka. Tetapi 31:47 karena anak-anak yang pekerja mikiran 31:50 ini tidak terdampingi dengan baik, 31:53 akhirnya mereka salah urus. Dan itu yang 31:57 kemudian jadi tantangan di desa. Nah, 31:59 ini kita sebagai warga yang ada di desa 32:02 itu kita coba ambil bagian untuk 32:05 mengupayakan sehingga ekosistem 32:09 di desa kita terkait dengan perlindungan 32:11 anak itu benar-benar ee 32:14 berjalan dengan baik. Lalu kemudian ada 32:18 nih orang tua yang bekerja lalu 32:21 menitipkan anaknya ke neneknya. Itu ah 32:24 itu juga kita harus perhatikan tuh. 32:26 Karena banyak anak-anak yang didampingi 32:30 yang dibesarkan oleh kakek nenek penuh 32:33 dengan ee tantangan. Tantangan ini perlu 32:37 ada solusi-solusi antara lain para kakek 32:41 nenek itu perlu diraing, perlu di 32:45 dilatih terkait dengan pengasuhan 32:48 supaya mereka benar-benar menjadi kakek 32:52 nenek atau yang mengasuh dengan penuh 32:56 pengetahuan. Karena banyak masalah yang 32:59 dimunculkan terkait dengan ini. Ini ibu 33:02 bapak yang terkait dengan urusan yang 33:05 berhubungan dengan anak-anak yang ada di 33:08 lingkungan keluarga. Kita lanjut 33:12 bagaimana kita memastikan anak-anak di 33:14 sekitar kita itu dia benar-benar 33:18 anak yang pertumbuhannya 33:22 dan perkembangannya itu normal. Berarti 33:26 kita otomatis 33:29 ee dapat mendeteksi anak ini badannya 33:32 kelebihan ini. Nah, berarti ini yang 33:34 perlu kita laporkan ke puskes atau ke 33:37 pihak kesehatan agar anak tersebut perlu 33:41 didampingi orang tuanya atau perlu 33:43 diapakan sehingga jangan sampai anak 33:46 tersebut obesitas. Karena kalau anak 33:49 obesitas itu juga jadi tantangan di 33:52 bidang kesehatan. Apalagi kalau anak 33:55 yang giji kurang atau stunting itu juga 33:57 menjadi tantangan. 33:59 Tidak cukup di situ. Kita perlu cek 34:01 bagaimana nih ee jajanan 34:05 anak-anak kita di desa. 34:10 Baik dalam bentuk snack atau dalam 34:14 bentuk minuman. 34:17 Pasti ayahahanda dan bunda pengin 34:21 anak-anak tetangga kita seperti 34:23 anak-anak kita yang tidak terakses pada 34:27 jajanan yang tidak berkualitas. Kita 34:30 pengin gitu kan ya, Bunda Nuning. 34:33 Lalu anak-anak kita tidak e mudah 34:35 terakses dengan ee minuman bersoda atau 34:40 jus insan. Pasti kita pengin 34:43 mengharapkan supaya anak-anak di desa 34:46 kita itu anak-anak yang hebat. Bagaimana 34:48 caranya itu? ya kalau boleh nih bekerja 34:52 sama dengan para pengusaha penjual jajan 34:56 kalau boleh ya kontribusinya itu adalah 35:01 bukan hanya mencari keuntungan tetapi 35:05 menyebabkan anak-anak di desa itu 35:08 menderita. 35:09 Iya. 35:09 Untuk itu kalau boleh kita hindarkan 35:12 jajanan atau snack yang tidak 35:15 berkualitas, kenapa harus masuk di desa 35:17 kita? Kenapa kita sebagai pengusaha masa 35:22 mendapat keuntungan dari 35:25 ee sebanyak-banyaknya dengan 35:26 mengorbankan anak-anak tetangga kita 35:29 nih? Di mana rasa ee [menghela napas] 35:34 kemanusiaannya 35:36 bukan untuk ini semua tuh kalau kita ke 35:39 desa itu jajanan yang tidak sehat. 35:42 Sekarang banyak sekali. Nah, ini apalagi 35:46 banyak juga promosi terkait dengan wah 35:48 ini sudah ada SNI-nya atau sudah ada apa 35:54 ee surat izin dari BB POM 35:57 ya. 35:58 Tidak semua yang 36:01 kita baca itu asli. Ah, yang jadi 36:04 masalah BWPOM juga jarang itu sampai ke 36:08 desa untuk melakukan pemantauan terhadap 36:10 makanan-makanan yang seperti ini. Dan 36:12 ini yang kemudian 36:14 dimanfaatkan oleh pengusaha-pengusaha 36:17 yang tidak berperi kemanusiaan yang 36:20 kemudian hanya meraup keuntungan tapi 36:24 merugikan anak-anak kita. Sekarang 36:27 banyak kasus itu Bunda Ning. 36:29 Iya. 36:30 Ada anak-anak yang seharusnya belum 36:32 sakit ginjal. sudah sakit ginjal atau 36:34 ada anak-anak yang harusnya dia sehat 36:37 pada usia ini tapi terpapar dengan 36:39 makanan-makanan yang tidak berkualitas. 36:42 Siapa nih yang harus bertanggung jawab? 36:45 Kalau pengusaha ya udah dia mau cari 36:47 untung. Kita sebagai masyarakat kita 36:50 harus punya kesadaran konsumen seperti 36:55 yang diatur di dalam pasal 72 36:59 Undang-Undang 35 tahun 2014. setiap 37:03 perusahaan yang masuk di desa kita atau 37:06 setiap pengusaha yang mau berjualan di 37:09 desa kita, kita harus selalu mengajukan 37:12 tiga pertanyaan ke pengusaha itu. Apa 37:15 itu Bunda? Pertama, 37:17 He. 37:18 Apakah 37:20 pengusaha ini mempekerjakan anak? Tidak. 37:23 Oke. 37:24 Kalau tidak lolos nih item pertama. 37:27 Kedua, produk-produknya ramah anak 37:30 tidak? Kalau tidak ramah anak, kenapa 37:33 kita harus memberi izin dia berusaha di 37:35 desa kita? Lalu yang ketiga, punya CSR 37:39 tidak? Itu penting juga tuh. 37:41 Jadi dia tidak hanya 37:43 mengambil untung dari memanfaatkan 37:47 konsumen anak-anak, tapi dia tidak 37:50 bertanggung jawab. Ini penting. 37:53 Kesedaran ini penting harus ditumbuhkan 37:55 di tingkat desa. Bukan eh kita belajar 38:00 dari orang di luar yang memboikot 38:03 produk-produk kita, tapi kita sudah 38:05 punya undang-undang yang sangat kuat 38:08 untuk memastikan anak-anak kita menjadi 38:11 anak-anak yang hebat. Itu poin penting 38:14 yang harus kita bangun. Lalu kemudian 38:18 kita sudah mulai perlu bangun kesadaran 38:23 bahwa 38:25 setiap ibu hamil itu harus selalu 38:27 terakses ke fast cas. Nah, ini kita 38:30 dorong nih di beberapa kabupaten Bunda 38:33 Nuning itu sudah ada denda tuh. 38:35 Kalau melahirkan di rumah itu dapat 38:39 denda atau dibantu oleh dukun anak itu 38:43 dapat denda. Kenapa? Karena hari ini di 38:48 setiap desa atau kecamatan sudah 38:51 dilengkapi dengan fasilitas kesehatan. 38:55 Nah, tinggal pertanyaannya 38:57 apakah faskes yang ada di desa kita 39:01 sudah terstandar belum? H. 39:03 Nah, kalau belum berarti kita harus 39:07 memilih bupati, memilih gubernur, 39:10 memilih presiden yang punya program itu. 39:13 Ah, siapa yang memilih mereka-mereka 39:15 itu? Kalau bukan 39:18 Bapak, Ibu yang ada di desa kan. Ngapain 39:21 milik kepala desa yang tidak 39:22 memperhatikan ee kesehatan ibu-ibu 39:25 hamil? 39:27 Menarik tidak ini, Bunda Nuning? 39:28 Sangat. 39:29 Kesadaran ini harus kita bangun. Itu 39:32 namanya ekosistem 39:34 perlindungan anak. Itu baru dari aspek 39:37 hak anak ya, Bunding. 39:39 Yang lain lagi kita harus pastikan di 39:42 desa kita banyak enggak perokok ee 39:47 aktif. Nah, itu penting juga nih di saya 39:51 belajar dari kota Solo ya, Bunda di kota 39:56 Solo itu sudah lahir komunitas-komunitas 40:00 untuk memastikan tidak ada lagi warga 40:03 yang merokok di komunitas itu. Menarik 40:05 tuh. 40:07 ini kalau boleh di setiap desa, Ibu, 40:09 Bapak 40:11 atau kita perlu belajar ada satu desa di 40:15 pegunungan di ee Sulawesi Selatan. 40:18 Heeh. 40:19 Itu memboikot setiap orang yang mau 40:23 merokok di desanya itu disuruh pindah ke 40:26 ee harus merokok di luar desa. 40:30 Di gunung. 40:31 Di gunung. Orang gunung loh. Wah, orang 40:34 gunung. Kenapa mereka mau mau merokok? 40:37 Karena dingin. Katanya kalau tidak 40:39 merokok itu tidak asik. Akhirnya ada 40:43 kasus 40:45 di mana ada warganya bekerja di Brunei 40:48 Bunda Nuning. 40:49 Heeh. 40:49 Lalu teridentifikasi 40:51 asma palsu. 40:53 Heeh. 40:53 Ee pas ditanya itu apa penyebabnya? 40:56 Karena di rumahnya ada yang merokok. Ah, 40:58 itu yang kemudian informasi itu 41:00 dikembangkan di desa. Lalu kemudian 41:02 punya program desanya tidak ada asap 41:07 rokok menjadi penting dan 41:11 asap rokok tidak ada apalagi iklan 41:14 rokok. Benar-bening [tertawa] itu kalau 41:15 sudah semakin 41:17 ee seperti insyaallah tidak ada lagi 41:20 alasan ada orang tua 41:24 tidak membelikan telur untuk 41:26 anak-anaknya. Karena masih banyak tuh 41:29 anak-anak yang tidak mendapatkan gizi 41:32 yang baik karena ayahnya tuh masih asyik 41:37 merokok. Wah nih. Oh, tidak merokok, 41:39 Pak. Kami hanya pakai apa itu? 41:43 Pet. 41:44 Pakai pet. Ah, itu sama aja itu racun 41:47 buat anak-anak kita. Untuk itu, Ayah 41:49 Anda dan bunda, bagaimana desa kita yang 41:53 memiliki ekosistem perlindungan anak? 41:56 Tidak ada warganya merokok di sembarang 42:00 tempat. Oh, boleh enggak merokok di 42:03 sawah? Boleh di sawah enggak ada ya? 42:06 Kalau di rumah bagaimana? Ah, kita 42:08 tandai itu rumah-rumah yang masih 42:10 merokok itu pasti kemungkinan besar di 42:14 antara anggota keluarganya ada yang 42:16 berpenyakit di bagian ee pernapasan. 42:20 Nah, itu yang jadi tantangan lagi. 42:23 Nih, menarik. Menarik tidak? Nah, ini 42:25 penting. Kemudian kita cek apakah di 42:29 rumah atau di setiap rumah di mana ada 42:32 anak-anak itu punya air bersih tidak? 42:36 Air bersih itu penting. Itu hak anak 42:39 tuh. Coba bayangkan Bu kalau tidak ada 42:42 air di rumah. 42:43 Iya. 42:44 Pada saat mau sikat gigi pakai apa? 42:47 Terus mau mandi, mau cuci, mau apa, itu 42:53 kan butuh air. Pastikan ada air. 42:55 Lalu pastikan di rumah di mana ada 42:59 anak-anak itu ada pembuangan ee air, 43:03 pengelolaan air ee buang itu harus ada. 43:07 Kemudian sampah, 43:10 sampah ee rumah tangga itu benar-benar 43:13 dikelola dengan baik. Nah, ini menjadi 43:15 tantangan sekarang banyak desa juga ee 43:18 apa berhadapan dengan sampah. Ini 43:21 menarik nih. Dan kemudian kalau saat dia 43:24 di kota juga menjadi bermasalah. Begitu 43:26 juga di kelurahan-kelurahan ya ee sampah 43:29 ini masih jadi tantangan kita. 43:32 Padahal di balik sampah itu ada 43:34 ekonomisnya juga tuh. Tinggal kita harus 43:37 bagaimana ini memang banyak ya obrolan 43:42 kita sampai di sini dulu. 43:44 Kalau ada yang bertanya 43:46 akan dilanjut lagi karena masih banyak 43:47 sekali yang akan dibahas. 43:48 Banyak kita bahas ya baru sampai di 43:50 kesehatan tuh. 43:53 Dan apa yang barusan kita dengar nih 43:56 ikhwan akhwat kecubit enggak sih? Karena 44:01 banyak hal yang bukan karena kita enggak 44:03 peduli, bukan karena kita abai, tapi 44:05 enggak terpikirkan untuk bayangin kalau 44:10 di desa tadi, desa mana yang orang 44:11 enggak boleh merokok di desa? ada di 44:14 salah satu pegunungan di Sulawesi 44:17 Selatan. 44:17 Sulawesi Selatan. Sementara kita diminta 44:19 ngerokok di luar halaman aja masih pada 44:21 enggak mau ya. 44:22 Ini ee dan yang melakukan itu justru 44:26 orang tua. Padahal anak-anak yang perlu 44:29 mendapatkan haknya sehat. Ya, kita boleh 44:31 langsung ke pertanyaan ya. 44:33 Iya. Oke. Jadi terkait dengan jangan 44:37 mempekerjakan anak tadi ini dari Pak 44:40 Budi itu memang betul. Tetapi kalau itu 44:45 di perusahaan, kalau anak-anak yang 44:47 kerja di jalan itu jadi tanggung jawab 44:50 siapa? misalnya ngumpulin sampah atau 44:53 bahkan juga 44:56 menjadi 44:58 apa tukang yang suka markir-markir. Saya 45:01 pernah lihat paling-paling usianya baru 45:04 9 tahun. Nah, ini bagaimana tanggung 45:06 jawab siapakah gerangan Pak Budi 45:09 nanyanya mestinya ke mana nih? E terima 45:12 kasih ee terima kasih Pak Budi atas 45:15 pertanyaan. tanggung jawab Pak Budi 45:17 juga. 45:19 Pak Budi ee tanggung jawab Pak Budi 45:22 untuk apa? Melaporkan 45:25 ke Dinas Tenaga Kerja. Lalu kemudian 45:29 dari Dinas Tenaga Kerja akan 45:31 mengidentifikasi lalu kemudian akan di 45:35 ee rujuk ke Dinas Sosial. 45:41 Sebetulnya anak itu boleh Pak bekerja 45:44 boleh. Tapi ada syaratnya. 45:48 Misalnya 45:49 tidak lebih dari 3 jam sampai 4 jam 45:53 boleh lebih tuh. Lalu kemudian dia 45:56 bersekolah 45:57 kemudian dia tidak mengalami ee gangguan 46:02 atau paparan yang kemudian membuat dia 46:05 ee mengalami gangguan kesehatan. 46:08 Lalu dia tetap terakses pada 46:10 kegiatan-kegiatan budaya. Nah, ini kalau 46:13 yang seperti Bapak sampaikan ini 46:16 kemungkinan anak mengalami ee masalah 46:19 kalau dia mengatur kenderaan berarti 46:21 terpapar oleh ee asap 46:26 motor kenderaan. Lalu kemudian kalau dia 46:29 di situ dia jaga dari pagi sampai sore, 46:31 kapan dia belajar tuh? Kapan dia ee 46:35 sekolah? Ah, kalau misalnya anak itu 46:37 tidak bersekolah, 46:39 harusnya sekolah di mana anak itu 46:43 bersekolah melakukan ee akses, mengirim 46:48 ee guru kepada anak tersebut, 46:51 anak itu tetap berlanjut bersekolah. 46:54 Karena di desa itu ada beberapa desa 46:57 yang melibatkan anak-anak di kegiatan 47:00 panen 47:02 atau melakukan kegiatan penanaman. Lalu 47:05 kemudian ee kegiatan apa nih 47:08 mengumpulkan hasil buah sehingga 47:11 akhirnya ada beberapa anak itu dia absen 47:15 atau bolos di sekolah. Ah sekolah yang 47:19 sudah memiliki pemahaman tentang 47:21 perlindungan anak, sekolah yang 47:24 menyesuaikan dengan anak tersebut. Itu 47:27 sekolah yang hebat, Bunda Nuning. Ah 47:29 kapan itu sekolah seperti itu? Kalau 47:33 kepala dinasnya atau bupatinya sudah 47:36 terpapar konvensi hak anak. Kalau kita 47:40 masih menemukan kepala dinasnya, kepala 47:42 sekolahnya masih ee normatif, berarti 47:46 itu ya kepala sekolah yang kita 47:48 pilihlah. [tertawa] 47:51 Itu cerminan dari bupati yang kita 47:53 pilihlah. Harusnya bupati yang kita 47:57 pilih itu bupati yang fleksibel, yang 48:00 akomodatif. Jadi tidak ada tuh alasan 48:04 anak tidak bersekolah. Misalnya kalau 48:07 anak dia lebih memilih untuk membantu 48:10 orang tuanya, berarti sekolah harus 48:12 menyesuaikan dengan kondisi seperti itu. 48:15 Dan itu menjadi tantangan dan itu semua 48:18 sudah ada aturan-aturannya, Bunda 48:21 Naning. Tapi orang tidak mau, "Ah, nanti 48:24 terbiasalah atau inilah." [tertawa] 48:27 Menarik tidak? Nanti kita bahas nih 48:29 bersama-sama. 48:31 Iya. Fleksibel, akomodatif itu perlu 48:34 banget dan untuk menjadi sosok yang 48:37 bisa membuat tempat tinggal bersama 48:40 seperti desa kampung menjadi 48:43 yang seperti itu. 48:44 Seperti itu Heeh. 48:46 Tergantung dari pimpinan dan 48:49 masyarakatnya. 48:50 Jadi masyarakatnya juga kerja sama yang 48:53 harus inklusif. Jadi kita harus dorong 48:56 masyarakat yang inklusif ke depan. 48:59 Oke, satu lagi nih. Tidak ada namanya. 49:02 Kalau ngumpulin buku untuk desa itu 49:05 ngirimnya ke mana ya, Mbak Nuning? Coba 49:07 dong pengin tahu informasi [tertawa] 49:10 untuk jangan jauh-jauh dulu dari ee kita 49:14 kirim ke desa. Kita bagi di 49:16 lingkungan sendiri. 49:17 Lingkungan kita sendiri. He. 49:19 Jadi kalau kalau praktik baik yang Ibu 49:22 Bapak sudah lakukan lalu itu terekspos 49:25 melalui TikTok, melalui Instagram, lalu 49:29 melalui Facebook, lalu ada yang 49:33 mendengar uh kayaknya dipersuasi banget 49:35 itu ya. Pas 49:36 menarik ya [tertawa] 49:37 membukulkan buku tidak untuk dikirim 49:40 tapi dibagi di sharing antar warga itu 49:44 akhirnya jadi ee 49:46 warga pembelajar ya. Jadi warga yang 49:50 aktif untuk menghidupkan suasana ee 49:54 membaca yang sekarang ber ber apa 49:57 mengalami tantangan dengan ee gadget ya. 50:00 Heeh. 50:01 Itu kalau terpapar orang dapat ee 50:05 terpublikasi, orang dapat menjadikan itu 50:08 sebagai sumber informasi untuk ee 50:10 menjadi sumber belajar. Mereka datang. 50:13 Jadi akhirnya ibu tidak perlu kirim 50:15 buku. 50:17 Iya. Iya. Ibu atau Bapak bisa 50:20 mendatangkan orang dari luar, akhirnya 50:24 kelurahan atau tempat ibu menjadi tempat 50:28 yang menginspirasi bagi Indonesia. 50:32 Keren juga tuh kalau misalnya bikin 50:34 perpustakaan keliling. 50:36 Ah, itu udah banyak tuh. Kita suka 50:39 nonton di apa? Kick Andy, ada seorang 50:44 Babing Kapmas, 50:47 ada Babinsa 50:49 yang kemudian ini menarik ee para 50:52 pemimpin ee para panglima dan Kapolri 50:56 itu memberi penghargaan yang tinggi 50:58 kepada ee Babinsa sama Babamtipmas 51:02 yang mempunyai ide-ide 51:04 membangun sekolah, membangun purpus 51:07 dengan dia diberi kesempatan 51:11 untuk sekolah ee apa perwira akhirnya 51:16 dia dikirim ke Lido Bunda Nuni. Kalau 51:18 polisi, kalau tentara berarti dia ke 51:21 sekolah perwira menarik tuh. 51:25 Yah, [menghela napas][terkesiap] 51:26 sayang sekali kita juga sudah di 51:28 penghujung nih bahasan terkait dengan 51:31 ekosistem perlindungan anak di tingkat 51:34 baik desa atau kelurahan pasti akan 51:36 berlanjut karena banyak sekali 51:37 bahasannya yang perlu kita informasikan. 51:40 desa yang ramah perempuan dan anak saja 51:43 kalau dibahas ya luar biasa banget. Oke, 51:46 silakan Pak Hamid. 51:47 Baik, terima kasih ayahanda dan bunda ee 51:51 membicarakan tentang 51:53 apa? Meningkatkan ekosistem perlindungan 51:57 anak di tingkat desa dan kelurahan 52:00 menjadi sebuah harapan ke depan. Ini 52:05 perlu ada satu pemahaman yang sama. 52:09 bagaimana kita sudah mulai inklusif 52:13 kepada siapa saja. Tapi yang tidak kalah 52:16 penting, kita perlu membaca konvensi hak 52:21 anak. Itu yang paling utama yang sudah 52:24 diratifikasi oleh Presiden Soeharto pada 52:28 tanggal 25 Agustus tahun 1990. 52:33 Lalu yang kedua kita perlu baca 52:36 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 52:42 tentang hak asasi manusia. Lalu 52:46 Undang-Undang Perlindungan Anak. Tapi 52:48 yang tidak kalah penting tadi saya sudah 52:50 sampaikan bagaimana perlu kita 52:53 memfasilitasi forum anak. Nah, itu perlu 52:56 membaca Permen PPA 53:00 nomor 3 tahun 2025. Semoga para 53:07 ee pendengar Radio Rasil yang tinggal di 53:11 desa otomatis pasti juga tinggal di 53:13 kelurahan ya. Tidak ada yang tinggal di 53:16 tidak ada warga yang mendengar radio 53:17 Rasil itu tidak tinggal di kelurahan. 53:19 Iya, 53:20 pasti warga kelurahan tidak. 53:22 Lalu kemungkinan besar kalau tinggal di 53:25 kabupaten berarti tinggal di desa. 53:30 Ambil Permen PPA itu untuk me fasilitasi 53:37 anak-anak di desa kita, di kelurahan 53:39 kita untuk membentuk sebuah forum. He 53:44 he. 53:44 Dengan adanya forum itu, akhirnya kita 53:48 akan mempersiapkan mereka secara optimal 53:52 untuk menggantikan kita di kemudian 53:54 hari. Dan yang tidak kalah penting, ke 53:58 depan kita sudah mampu mulai 54:01 mengidentifikasi siapa nih calon kepala 54:04 desa, 54:06 ee calon bupati atau calon siapa saja 54:09 yang dari desa kita. itu terlihat di 54:13 forum anak di tingkat desa. Forum anak 54:16 tingkat desa kalau yang idealnya mereka 54:18 memilih dua wakil, satu perempuan dan 54:22 satu laki duduk di forum kecamatan. 54:25 He. 54:26 Lalu dari tingkat kecamatan mereka 54:29 memilih satu laki, satu perempuan untuk 54:32 duduk di tingkat kabupaten. Kita ambil 54:34 contohlah. di Kabupaten Bogor ada 41 54:38 kecamatan kali du berarti berapa orang 54:40 itu Bunda Nun mereka 54:41 82 54:43 orang duduk di forum anak tingkat ee 54:47 kabupaten. Lalu dari kabupaten mereka 54:51 menunjuk dua wakilnya satu laki, satu 54:54 perempuan untuk duduk di tingkat 54:57 provinsi. Di provinsi Jawa Barat 54:59 misalnya nih ya, 55:00 ada sekitar 27 kabupaten kota. Berarti 55:05 berapa, Bund? 54 anak. 55:09 Kalau kita telusuri anak-anak yang 55:12 terpilih itu sampai di tingkat provinsi 55:14 Buuning itu mereka adalah anak forum 55:18 tingkat desa. 55:20 Iya. 55:20 Kebayang enggak tuh? Kalau sudah seperti 55:22 itu insyaallah mereka akan menjadi calon 55:25 pemimpin yang hebat di kemudian hari. 55:28 Kita berharap Allah memberikan cahaya 55:31 kepada kita yang hari ini sudah lembut. 55:34 Insyaallah semakin lembut. Demikian. 55:36 Asalamualaikum warahmatullahi 55:39 wabarakatuh. 55:39 Waalaikumsalam warahmatullahi 55:41 wabarakatuh. Terima kasih untuk Pak 55:45 Hamid Patilima yang sudah memberikan 55:48 pencerahan kepada kita semua. Sepeduli 55:50 apa sih kita kepada anak-anak baik itu 55:53 di rumah ibadah, di pelosok negeri 55:56 manaun, di sudut negeri manaun dan juga 55:59 yang ada di sekitar kita. Terima kasih 56:02 sekali lagi. Billahi taufik wal hidayah. 56:03 Wasalamualaikum warahmatullahi 56:05 wabarakatuh. 56:06 Waalaikumsalam.