Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Brail TV.
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Ikhwan akhwat
- rahimakumullah.
- bahagia sekali dapat bersama-sama kita
- di acara psikologi keluarga yang
- mudah-mudahan mempersuasi kita untuk
- bisa menjadi bagian dari anggota
- keluarga yang membuat langkah kita
- semakin ringan. Tidak lupa salam selawat
- kita lantunkan untuk junjungan umat
- kekasih kita Muhammad Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak
- kita dipertemukan dengan beliau di saat
- yang sangat kita rindukan di yaumil
- akhir. Ikhwan akhwat, hari ini Ustaz
- Husein alhamdulillah hadir bisa sampai
- penghujung acara kita juga Ustaz Abu
- Bakar Baraja. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Jadi sebelum kita mulai seperti biasa
- kita membaca ummul kitab.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim.
- iki yaumiddin
- iyaka na'budu wa iyyaka nasta
- ihdinasirathal
- mustaqim
- shathalladzina
- an'amta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim waladin
- Amin. Allahum amin.
- Jadi, Ustaz dan ikhwan akhwat, dua kasus
- yang hadir di kesempatan kali ini. Yang
- pertama dari seorang pria.
- Asalamualaikum, Ustaz.
- Saya
- pengusaha yang sedih karena ditinggal
- istri. meninggal sudah 1 tahun 3 bulan
- yang lalu dan sakit selama 3 tahun. Saya
- masih cukup muda, Ustaz. 43 tahun dan
- anak satu 13 tahun. Yang jadi masalah
- sekarang saya itu membutuhkan pendamping
- yang sama seperti istri saya. Dia
- menghargai dan mengerti apa yang saya
- punya dan dia tidak pernah mengeluh.
- yang saya dapatkan, Ustaz, semuanya
- enggak ada yang seperti istri saya.
- Jadi, bagaimana dong saya membutuhkannya
- sampai-sampai badan saya kurus turun 11
- kilo, Ustaz? Itu kasus yang pertama.
- Kemudian yang kedua dari Bapak Ian di
- Slipi, Ustaz, dalam Islam bagaimana ya
- batasan antara marah dan berdebat antara
- suami dan istri? Apa langkah yang islami
- yang harus dilakukan untuk menyelesaikan
- perselisihan biar enggak berujung pada
- pertengkaran dan perceraian? Bagaimana
- juga membangun komunikasi yang sehat dan
- efektif dengan pasangan? Apalagi kalau
- pas lagi bahas yang sensitif dengan
- perbedaan pendapat. Ustaz, emang ada ya,
- Ustaz, tanda-tanda komunikasi yang
- toksik atau beracun di dalam pernikahan?
- Terima kasih. Wasalamualaikum.
- Iya. itu dua kasus.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Seorang suami pada waktu pasangannya
- hidup
- mungkin
- kurang menghargai,
- suka membanding-bandingkan istrinya
- dengan wanita lain.
- Karena terlalu dekat, suami terkadang
- tidak bisa melihat kelebihan keutamaan
- istrinya.
- Begitu juga istri seringki juga
- melakukan hal yang sama karena dianggap
- suaminya sudah merupakan bahagia dari
- dia. Terkadang tidak menjaga tutur kata
- yang diucapkan, sikap penghormatan.
- Akhirnya seperti dua kabel yang
- esolatornya
- terkupas, terjadi koslet karena terlalu
- dekat. Bagaimanapun akrab dekatnya suami
- istri, tetap mereka harus menjaga adab
- dan sopan santun dalam berbicara.
- Masing-masing menghargai pasangannya.
- Baru setelah salah satunya meninggal
- dunia atau berpisah, baru dia menyadari
- bahwa selama ini dia kurang menghargai
- pasangannya.
- Dia kehilangan sesuatu yang amat
- berharga buat dirinya.
- Oleh karena itu hendaknya pasangan suami
- istri
- betul-betul
- mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa
- taala. Suami menggauli istrinya dengan
- cara yang mulia, berkata yang mulia,
- tidak merendahkan pasangannya,
- memberikan apresiasi ya pada saat dia
- melakukan kebaikan.
- Sedangkan bila dia melakukan kesalahan,
- coba berikan pengarahan dengan cara yang
- tidak menjatuhkan dirinya, tapi berupaya
- untuk mengangkat dan memperbaiki
- apa-apa yang salah. Begitu juga pihak
- istri jangan sekali-kali merendahkan
- atau menjatuhkan suaminya. Apalagi kalau
- mengatakan kamu suami yang tak berguna.
- Ini betul-betul merupakan pukulan yang
- berat. Nah, dari apa yang diceritakan
- oleh Bapak tadi,
- dia ditinggal kembali oleh istrinya
- menghadap ke hadapan Allah. Setelah 3
- tahun sakit, dia meninggal dunia.
- Dia hidup sebagai seorang duda berusia
- kurang lebih 43 tahun ya mungkin.
- Kemudian dia memiliki seorang anak
- laki-laki dalam usia 11 tahun 13 tahun.
- Dan dia setelah merasa kehilangan ini,
- dia ingin ada pendamping yang
- mendampingi dirinya
- yang perilakunya sama dengan istrinya,
- yang menghargai suami ya, yang tidak
- banyak menuntut ya, yang bersikap mulia.
- Saya kira setiap laki-laki pasti
- mengidamkan
- pasangan seperti ini.
- Kalau untuk
- serupa mustahil,
- tapi untuk sama bahkan yang lebih baik
- bisa ada.
- Asal kita pertama mohon pada Allah
- Subhanahu wa taala.
- Kita beristikharah mohon ditunjukkan
- pasangan yang sesuai yang kita harapkan.
- Kemudian kita bisa musyawarah,
- bertanya-tanya.
- Jangan
- motivasi kita memilih perempuan hanya
- soal keindahan lahir saja atau nafsu ya
- yang menimbulkan rasa kecewa. Setelah
- nafsunya reda, kecantikan di mata kita
- seiring dengan rendahnya nafsu akan
- kembali normal di hadapan kita. Pada
- saat itu baru yang tertutup terlihat.
- Oleh karena itu, jangan sekali-kali
- hanya semata-mata karena kecantikan,
- keindahan tubuh atau karena apa? Karena
- katakan
- ee sebab-sebab yang lain, tapi mohon
- pada Allah ditunjukkan pasangan yang
- betul-betul Allah ridai buat dirinya.
- Sambil bertanya-tanya
- dengan kita berdoa kepada Allah
- Subhanahu wa taala, Allah Subhanahu wa
- taala akan tunjukkan.
- Saya waktu menikah dulu, saya pasrahkan
- pilihan kepada Allah. Saya bilang, "Ya
- Allah, pilihkan buat saya yang tepat,
- yang sesuai dengan saya, yang bisa
- bekerja sama dalam keridaannya."
- Kita istikharah, melamar satu ditolak,
- berarti Allah tidak izinkan. Jangan
- kecewa. Kedua juga demikian, ketiga juga
- demikian. Mungkin yang kelima setelah
- kita minta pada Allah Subhanahu wa
- taala, Allah tunjukkan bahkan sebelum
- kita menikah ijab kabul tidak pernah
- melihat mukanya.
- Jadi Allah Subhanahu wa taala maha tahu,
- maha melihat dan dia lebih tahu orang
- yang cocok buat kita. Tapi kalau kita
- mencocok-cocokkan belum tentu cocok.
- Akhirnya muncul rasa kecewa. Jadi, Bapak
- beristikharah mohon petunjuk Allah
- Subhanahu wa taala kemudian
- bertanya-tanya
- dan pada saat menentukan pilihan jangan
- hanya terbatas kecantikan, daya tarik
- fisik, tapi lihat akhlak kepribadian.
- Kalau perlu lihat bagaimana pribadi
- orang tuanya.
- Karena anak perempuan biasanya mencontoh
- ibunya. Wanita yang paling dikagumi
- dalam hatinya ibunya.
- Nah, kalau ibunya merupakan wanita
- salehah, baik ya, yang perilakunya juga
- begitu mulia terhadap orang tuanya,
- insyaallah bisa menjadi istri yang
- saleh.
- Tapi kalau ibuy memberikan contoh yang
- tidak baik di tengah-tengah
- anak-anaknya, anak-anak ini menganggap
- perilaku ibunya merupakan perilaku yang
- benar. Itu juga yang akan dilakukan
- bersama suaminya.
- Jadi pertama minta kepada Allah.
- Kemudian jangan malu kita juga bertanya
- ya kalau ada yang bisa menunjukkan
- wanita salehah yang baik. Karena kita
- kan enggak mungkin langsung melihat ke
- sana kemari seperti kita membeli barang
- di pasar Indo atau supermarket.
- Iya.
- Kita tanya pada orang-orang yang
- kira-kira bijak untuk menunjukkan buat
- kita pasangan yang sesuai.
- Dan jangan terlalu perfeksionis. mau
- sempurna semuanya cantik, tinggi, putih,
- rambutnya panjang ya kemudian juga yang
- apa yang akhlaknya baik ya. Di dalam
- kehidupan dunia enggak ada laki sempurna
- ataupun perempuan sempurna tapi Allah
- jadikan pria wanita saling melengkapi
- dan menyempurnakan satu dengan baiknya.
- Hunna libasul lakum wa antum libasunah.
- Kalau Bapak turun timbangannya 8 kilo,
- makan daging yang banyak
- 13. Jangan dijadikan ini sebagai beban.
- Periksakan kesehatan Anda. Mungkin gula
- Anda turun atau karena beban pikiran.
- Coba lepaskan. Serahkan pada Allah untuk
- memilih yang terbaik buat kita. Kalau
- kita mengalami kebuntuuhan, jangan lupa
- kembali pada Allah. Dan jangan pernah
- kita berhenti untuk mengucapkan
- bismillahirrahmanirrahim.
- Karena manifestasi dari Ar-Rahman alam
- semesta dan seluruh isinya termasuk kita
- semua. Sedangkan arrahim manifestasinya
- hidayah, petunjuk, ketentraman hati yang
- Allah berikan buat kita semuanya.
- Jadi hendaknya selalu kita menjalin
- hubungan yang hangat, mesra bersama
- Allah. Allah akan berikan kita yang
- terbaik dalam hidup ini. Adapun kasus
- yang kedua,
- bagaimana suami istri dapat berdialog
- tanpa berujung kepada
- keributan dan perceraian.
- Pertama-tama yang perlu kita ingatkan
- kalau mau berdialog bersama pasangan
- kita jangan pada saat dia lagi
- menghadapi masalah
- jangan dia lagi mau tidur. Kalau dia
- lagi mau tidur atau bangun dari tidur
- itu mesti dihindari.
- Karena kalau dia mau tidur dalam keadaan
- letih, lelah,
- kalau bangun tidur masih belum apa
- belum sadar
- belum penuh konsentrasi. Ini yang
- seringki menimbulkan keributan.
- Kemudian jangan pada saat pasangan kita
- dalam keadaan lapar. Ini saat-saat yang
- mesti dihindari.
- Kemudian untuk kedua pasangan ini
- pertama harus dalam dialog itu niat dan
- tujuannya
- mencari solusi,
- bukan tujuannya untuk mencari masalah
- atau menunjukkan ego masing-masing
- dengan niat kita beribadah kepada Allah.
- Karena pasangan suami istri dalam
- menjalankan hidup mereka, dalam
- menjalani hidup mereka ini mereka sedang
- mengalami ujian. Bisa yang ditempuh
- ibadah pada Allah Taala atau yang
- dilakukan perbuatan-perbuatan yang
- melanggar
- norma-norma yang Allah Subhanahu wa
- taala ajarkan. Karena hidup kita tidak
- akan keluar dari dua. Ibadah kepada
- Allah dengan hidup kita atau berbuat
- maksiat. Kalau kita menjalani kehidupan
- kita dengan selalu kembali pada Allah.
- Kita mendengarkan bimbingan petunjuk
- Allah, mengharapkan ridanya. Insyaallah
- dengan standar ini kita dapat menemukan
- jalan keluar yang baik. Seorang suami ya
- di saat dia menemukan dirinya salah,
- sikapnya tidak benar, dia harus berani
- minta maaf mengakui kesalahan. Begitu
- juga istri di saat dia menemukan
- perbuatan yang tidak benar, salah, dia
- harus berani minta maaf.
- Dan mereka berdua harus memiliki standar
- yang jelas sebagai tolak ukur. Kalau
- orang mau beli tanah katakan 10, dia
- harus punya tolok ukur meteran yang
- disepakati antara penjual dan pembeli.
- Tapi kalau masing-masing bawa meteran,
- repot gak?
- Repot.
- Si penjual
- mau jual tanah meterannya
- berapa?
- 1,5 m.
- Jadi dia tanahnya kelihatan banyak.
- Yang beli datang bawa semeternya 50
- cent.
- Sudah semeter ya, tapi pakai meteran dia
- 50 cent supaya dia bisa apa?
- Ini enggak benar. Dua-duanya harus punya
- standar yang disepakati.
- Nah, kita sebagai orang yang beriman
- kepada Allah Taala, standar kita ada
- Al-Qur'an, ada sunah Rasul. Apa yang
- Allah perintahkan kita patuhi. Apa yang
- dilarang Allah kita hindari. Tujuan kita
- berdialog untuk mencari jalan keluar,
- bukan mencari ribut. Kalau niat
- pertamanya sudah mencari ribut, mau
- menang sendiri, dia 100 tahun juga
- enggak pernah ketemu.
- Oleh karena itu, pasangan suami istri
- harus mensyukuri nikmat Allah. di mana
- Allah pasangkan buat laki-laki.
- Wanita
- yang setia mendampingi dia, mengurus
- kebutuhan dia, jangan berharap istrinya
- sempurna.
- Begitu juga perempuan jangan
- mengharapkan suaminya sempurna seperti
- yang dia inginkan. Mana ada suami yang
- sempurna.
- Syukuri nikmat Allah dengan Allah
- menganugerahkan Anda seorang laki-laki
- yang peduli perhatian mencari nafkah
- buat Anda. Kalau ada kekurangan, coba
- Anda bisa menjadi pelengkap yang
- menyempurnakan kekurangan. Kalau kita
- bersyukur sedikit nikmat akan berarti
- buat kita. Tapi begitu kita lupa untuk
- bersyukur walaupun banyak hal yang
- diberikan untuk kita tidak akan pernah
- puas dan menghargainya. Saya kenal
- seorang perempuan,
- suaminya belikan emas, belikan
- macam-macam, bahkan sediakan rumah yang
- cukup layak. Tapi kalau cerita di
- tengah-tengah orang, suami saya enggak
- pernah membelikan apa-apa,
- enggak pernah ini, enggak pernah itu.
- Kalau ditanya itu emas, itu yang
- belelikan orang tua saya. Apa saja yang
- dibelikan suami enggak dihargai sama
- sekali.
- Nah, orang seperti ini ingin cari belas
- kasihan dari orang lain, tapi dengan
- menjelekkan suaminya.
- Mau tidak mau lama-kelamaan suaminya
- tahu perbuatan dia. Kan ini merupakan
- bob waktu yang bisa merusak rumah
- tangga.
- Nah, kita nih kadang-kadang kurang
- mensyukuri pasangan kita yang Allah
- anugerahkan buat kita. Padahal
- dibesarkan orang tuanya. Setelah dia
- menjadi pria yang baik atau istri yang
- baik, diserahkan pada kita tanpa
- mengharapkan imbalan. Orang tuanya
- berharap kita perlakukan dirinya dengan
- mulia. Sebagaimana orang tuanya berkata
- baik, memperlakukan dengan mulia, peduli
- terhadapnya, khawatir terhadap dirinya,
- suami yang menerima amanat juga harus
- melakukan hal yang sama. Begitu juga
- perempuan di saat menghadapi suaminya.
- Kalau dia berkata tidak baik, bersikap
- tidak baik, orang tua yang membesarkan
- dia pasti akan sakit hati.
- Nanti akhirnya melibatkan dirinya
- menjadi bahagian dari apa? Dari konflik
- yang susah untuk bisa diperbaiki.
- Oleh karena itu, kalau orang bertanya
- kepada kita, "Wanita mana yang paling
- cantik?" Katakan, "Istri saya, karena
- dia yang Allah halalkan buat kita."
- Iya. Begitu juga seorang wanita ditanya,
- "Siapa pria yang paling tampan?"
- Katakan, "Suami saya yang paling
- tampan." Itulah merupakan pasangan yang
- Allah halalkan buat saya. Kalau kita
- bandingkan suami kita dengan pria lain
- atau kita bandingkan dengan aktor dan
- lain sebagainya, lalu mulai kita pandang
- suami kita enggak mengenakkan. Ini
- namanya orang-orang yang lupa kepada
- Allah yang tidak tahu sama sekali apa.
- Bahwasannya ini perbuatan yang
- sebetulnya akan menghancurkan diri
- sendiri.
- Oleh karena itu, ada sebuah kisah Mbak
- Duni.
- Seorang wanita dikenal di satu suku
- bangsa Arab cantik jelita.
- Kebetulan
- ada seorang laki-laki melamar wanita
- ini. Wanita ini cantik jelita, sedangkan
- yang melamar prianya
- hampir dikatakan perbandingannya jauhlah
- antara si laki-laki dengan istri. Saya
- enggak mengatakan jelek karena merupakan
- ciptaan Allah. Iya,
- tapi ini ujian.
- Orang tua perempuan ini setuju karena
- melihat perilaku laki-lakinya baik
- terhadap keluarganya, tanggung jawab.
- Artinya banyak sifat-sifat mulia pada
- pria ini.
- Si perempuan waktu ditawarkan ya melihat
- orang tuanya sudah sepenuhnya menerima
- dia serahkan pada Allah. Dia setuju
- menikah lalu hidup bersama-sama. Si
- wanita walaupun cantik dia hormati
- suaminya,
- dia layani suaminya. Suaminya
- betul-betul apa? Amat bersyukur pada
- Allah. Memperlakukan istrinya dengan
- mulia. Sampai setelah sekian lama hidup
- bersama-sama, mereka juga mendapatkan
- anak. Si wanita berkata kepada suaminya,
- "Insyaallah kita merupakan orang-orang
- yang akan menjadi penghuni surga."
- Suaminya bertanya, "Wama yudriki." Dari
- mana kamu tahu? Dia bilang, "Allah
- menguji kamu dengan saya yang diberikan
- kecantikan. Kamu bersyukur. Perlakukan
- istri kamu dengan mulia. Kamu bersyukur
- kepada Allah. Saya yang diberikan
- kecantikan, diberikan suami yang tidak
- tampan. Saya bersabar menerima dan saya
- mensyukuri apa yang Allah berikan."
- Jadi sebetulnya kita ini kalau
- hidup di dunia tidak mensyukuri nikmat
- Allah, tidak menghargai apa yang Allah
- berikan, bagaimanapun besarnya h
- pemberian yang Allah berikan dan apa
- yang kita miliki tidak akan pernah
- membawa kebahagiaan buat kita.
- Saya temukan ada laki-laki tampan,
- gagah, istrinya sederhana sekali. Sampai
- kalau seandainya orang masuk ke rumahnya
- dia menggunakan daster dianggap
- pembantu.
- Iya,
- betul-betul.
- Tapi kalau orang lihat kecintaan
- suaminya terhadap dirinya luar biasa.
- Betul-betul.
- Kenapa kira-kira?
- He
- karena kelebihan wanita ini akhlaknya,
- pribadinya. Ya, kebetulan laki-laki ini
- punya ee apa namanya? Orang tua yang
- keras.
- Si ibu suka marah, si istri bisa
- menempatkan dirinya.
- Bisa
- menempatkan dirinya.
- Ada juga wanita cantik jelita kawin
- dengan pria biasa-biasa aja.
- Arti kalau seandainya kita lihat
- pasangan tersebut perbedaannya langit
- bumi.
- Tapi si perempuan cinta sama suaminya
- luar biasa. Karena apa? Pertama marah
- menangis waktu dikawinkan. Begitu mereka
- berumah tangga, ternyata suaminya
- menjadi ramah di hadapan dia.
- Masyaallah.
- Menjadi Arjunanya.
- Karena kepeduliannya,
- sayangnya membuat hati wanita dulu.
- Jadi kalau kita perhatikan dalam hidup
- ini yang penting bersyukur.
- Dan di saat ada perbedaan pendapat suami
- istri, kita bertanya pertama pada Allah
- Taala.
- bertanya pada Rasul, kira-kira ini
- sesuai dengan keridaan Allah dan
- Rasulnya apa tidak?
- Kalau seandainya mereka tidak menemukan
- dalam kitab Allah dan apa yang
- dicontohkan rasulnya karena ini
- merupakan kasus yang baru, kita bertanya
- pada orang yang bijak, yang ahli, yang
- bisa merujuk pada kitab Allah, yang bisa
- berbicara dengan akal sehat, bukan
- masing-masing membawa apa?
- membawa
- pendapatnya bersih, keras, menganggap
- pendapatnya yang benar. Karena terkadang
- kebenaran itu kalau dipandang dari sudut
- pandang yang berbeda, kesimpulan juga
- berbeda.
- Apalagi kalau sudut pandang kita sempit,
- terbawa oleh perasaan dan emosi. Dengan
- sendirinya tanpa kita sadari kita masuk
- dalam frame yang dibuat oleh setan.
- Ini yang paling mengerikan. Tapi kalau
- saatnya kita serahkan pada orang yang
- bijak, dia bukan hanya melihat dari satu
- sisi, melihat dari berbagai macam sisi
- dan sudut. Dia memberikan kesimpulan
- yang amat indah. Tanya pada orang yang
- berpengalaman yang bijak. Jadi kalau
- kita berdua berkutet, ujung-ujungnya
- apa? Ujung-ujungnya
- akhirnya tarik-menarik yang membuat
- hubungan kita putus. Karena pada saat
- emosi pria maupun wanita keluar
- kata-kata yang enggak bagus.
- emosi.
- Begitu emosi, kata-kata yang tadinya
- tersimpan di hati enggak keluar, mulai
- keluar. Akhirnya suami bilang, "Saya
- baru tahu. Ternyata selama ini kata-kata
- manis kamu menutupi
- yang sebenarnya di hati kamu." Si
- perempuan juga sama. Setan akhirnya
- mulai apa?
- Bertuk tangan.
- Mulai bertepuk tangan meniupi api yang
- sedang membara di hati mereka. Dan setan
- paling suka memecah belah pasangan suami
- istri karena akibatnya akan menimbulkan
- korban anak-anaknya dari cinta menjadi
- kebencian dua rumah tangga yang tadinya
- akur dua keluarga akhirnya mulai
- tertanam kebencian di hati mereka
- semuanya.
- Jadi kalau ingin dialog ya hindari
- saat-saat suami dalam keadaan tidak
- nyaman, istri tidak nyaman, cari waktu
- dan harapkan keridaan Allah. Apalagi
- kita bisa bicara sama istri kita, saya
- ada masalah, mungkin kamu juga begitu.
- Coba bagaimana kalau seandainya kita
- sama-sama coba bertukar pikiran.
- Bertukar pikiran sambil mohon pada Allah
- memberikan petunjuk yang baik. Dan dalam
- berbicara jangan kita menggunakan bahasa
- apa? Kamu sebagai serangan. Kamu kamu,
- kamu, kamu, kamu. Ini jelas-jelasan
- merupakan apa? Serangan. Tapi gunakan
- kita
- gunakan kita dalam kondisi seperti ini.
- Cara yang terbaik kita mohon petunjuk
- kepada Allah sambil bertukar pikiran
- mungkin kamu benar dalam masalah ini.
- Bisa saya juga saya benar.
- Yang penting bukan saya kamu. Yang
- penting kita ini bisa merajut ya
- hubungan yang membawa kebaikan buat
- kita. Karena kita pasangan suami istri
- bukan lagi kamu, bukan lagi saya, tapi
- kita.
- Kalau ada kebaikan kita nikmati bersama.
- Kalau ada hal yang salah kita juga
- semuanya. Betul gak?
- Iya.
- Iya. Oleh karena itu, dalam rumah tangga
- bukan kontrak hanya sekedar perjanjian
- antara fisik dengan fisik,
- tapi ini merupakan ikatan di antara apa?
- Dua hati ini. Jangan seperti ada
- wanita-wanita zaman sekarang
- bertanya pada seorang ustaz. Ustaz,
- apakah istri wajib memasak untuk
- suaminya? Ustaz mengatakan tidak wajib
- memasak bagi suaminya.
- Lalu suaminya mengatakan,
- "Kalau demikian sudah, kewajiban saya
- memberikan nafkah buat istri ya. Ini
- uang buat beli setiap hari makan kamu
- dari Wartek atau dari restoran Padang
- buat anak-anak suaminya sibuk di luar.
- Kumpul bersama teman-teman, kumpul di
- rumah orang tuanya. Kalau hubungan
- seperti ini hambar."
- Suami
- bagaimana lebih dulu bersikap baik pada
- istri, memperlakukan dengan mulia,
- menjadi kenangan yang indah, istri juga
- melakukan hal yang sama. Suami istri
- kalau seandainya hangat menyatu tidak
- pernah hitung-hitungan.
- Suami melayani suaminya bahkan pada saat
- sakit tidak berdaya dia tidak berhitung.
- Suami juga demikian. Saya kenal seorang
- dokter, Mbak Runing.
- Dia punya anak empat, dua laki-laki, dua
- perempuan.
- Tidak lama kemudian istrinya sakit. Jadi
- setelah melahirkan yang keempat,
- istrinya sakit.
- Dokter ini bertahun-tahun dampingi
- istrinya tidak menikah lagi.
- Pernah saya tanya,
- "Kamu enggak berpikir menikah lagi?"
- Saya pikir enggak perlu, Ustaz.
- sudah cukup
- sampai istrinya meninggal dunia sekian
- lama nih Mbak ni di pembaringan istrinya
- meninggal bahkan istri suruh dia kawin
- istrinya meninggal dunia
- baru setelah lama datang cerita kepada
- saya bawa anak-anaknya bawa dia mau
- nikah
- nikah setelah sekian lama mungkin
- usianya pada saya itu sudah di atas 50
- ada lagi seorang syekh besar terkenal
- Dia baru menikah beberapa lama, istrinya
- terkadang koma, terkadang bangun, tidak
- sadar. Heeh.
- Itu bertahun-tahun suami setiap mau
- pergi ke luar negeri karena
- berpindah-pindah kan,
- dia bisikan istrinya, "Apa yang kamu mau
- saya belikan dari luar?" Istri
- kadang-kadang sadar pesan sesuatu.
- Jadi, sepanjang puluhan tahun istrinya
- dalam keadaan sakit. Di hari tua sudah
- usia 60 sekian tahun mungkin apa yang
- berkati 70. Istrinya bilang, "Sekarang
- kalau kamu mau kawin lagi, silakan
- kawin." Suami bilang terlambat.
- Terlamb
- terlambat.
- Suami tertawa bukan berarti mau menikah
- lagi.
- Artinya kalau kita perhatikan di sini
- bagaimana kesetiaan itu tidak lagi
- berhitung,
- enggak akan berhitung.
- Enggak lagi berhitung.
- Kalau istri baik pada suami, pada saat
- istri tidak berdaya suami pasti
- menghargai. Begitu juga kalau suami baik
- pada istrinya, tahu-tahu dia di PHK,
- sudah enggak mampu memberikan nafkah,
- istri enggak bakal begitu. Jadi apa yang
- kita lakukan dari kebaikan itu merupakan
- deposit
- yang kita tanam dan insyaallah akan
- mengeluarkan hasilnya. Dan yang paling
- utama pasangan suami istri hendaknya
- harus dalam menjalani hidup sadar bahwa
- ini ujian yang kelak akan
- dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
- Bukan kebanggaan punya ini, punya itu,
- beli ini, beli itu. Cerita di antara
- teman-teman mengenai barang yang
- dikoleksi ini semuanya merupakan apa?
- Gambaran dari wanita yang tidak beriman.
- Walaupun kita memiliki segala-galanya,
- kalau sudah jadi milik kita, seminggu
- kita banggakan, setelah itu kita
- lupakan. Kalau hilang baru kita cariin.
- Jadi kesimpulannya jadikan rumah tangga
- kita ibadah, dialog kita juga untuk
- mencari solusi. Hindari saat-saat suami
- istri dalam keadaan sedang bermasalah
- atau saat-saat dia tidak menerima karena
- mau tidur istirahat atau bangun dari
- tidur atau letih pulang dari pekerjaan.
- Insyaallah Allah tunjukkan bagi kita
- semua jalan keluar yang sebaik-baiknya.
- Wallahuam. Fadol.
- Masyaallah. Jadi, ikhwan akhwat, tidak
- ada orang yang sempurna. Pasangan kita
- pun juga pasti ada kekurangannya. Tetapi
- yang jelas
- emm syukuri apa yang ada karena hidup
- itu anugerah dan pasangan itu juga Allah
- yang ee menyediakannya untuk kita.
- Lantas kalau dari sisi sudut pandang Pak
- Abu Bakar Barraja yang psikologi ini,
- kira-kira apa yang bisa kita dapat? Ya,
- silakan.
- Eh, saya
- bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah
- sebaiknya kita bersyukur
- kepada Allah.
- Karena ketika kita bersyukur
- maka anugerah itu akan terus melimpahkan
- pada diri kita.
- Anugerah ini akan mendatangkan berbagai
- macam
- kesenangan,
- keindahan,
- kesejukan,
- menjadikan sesuatu yang baik buat
- kehidupan kita. Karena kita bersyukur
- kepada Allah.
- Nikmatnya syukur kepada Allah itu sangat
- luar biasa.
- Apa yang terjadi?
- Ketika
- seorang
- suami
- mempunyai seorang istri
- yang baik, yang menyenangkan
- dan begitu indahnya dan dia merasakan
- itu
- dan terus menerusmenerus
- dan dia bisa menikmati.
- Begitu indahnya.
- Tapi apa yang terjadi ketika itu sudah
- sekian lama, sudah hampir 13 tahun, 10
- apa 13 tahun dengan kemudian dia
- meninggal.
- Terus apa yang terjadi pada dirinya? Dia
- bingung,
- "Ke mana istri saya?" Kata dia
- yang selama ini
- dia nanti-nantikan
- ke mana istri saya. Dia bingung
- mengambil satu sikap.
- Apa yang terjadi pada saat ini? Kita
- bisa lihat
- bisa saja ketika dia diberikan
- penghargaan,
- pengertian, kepedulian
- dengan berbagai macam,
- dianya cuek aja, santai saja.
- Yang penting dia menikmati saja, tapi
- tidak berinteraksi,
- tidak memberikan apa yang terjadi pada
- dirinya,
- tidak memberikan pengertian, penghargaan
- juga. Dia hanya istri saja sepihak. Ini
- yang membuat dirinya
- kebingungan.
- Karena dia cuman pertama doang. Dia
- bingung pertama doang ngelihatin
- istrinya baik dan menyenangkan. Dia
- sudah santai aja.
- Tapi dia tidak bisa memberikan interaksi
- kembali. Ini yang membuat dia bingung.
- Setelah ditinggal, hah ke mana istri
- saya yang memberikan penghargaan
- ee pengendalian, pengertian semua ke
- mana
- tidak ada.
- Dia mengalami kebingungan karena dia
- tidak memberikan interaksi
- sehingga dia mencari mencari
- saya akan mencari istri seperti istri
- saya.
- menjadi istri seperti istri saya
- karena dia tidak pernah memberikan.
- Jadi kita perhatikan beda dengan seorang
- yang selalu memberikan
- ketika istrinya memberikan penghargaan
- pengertian, dia juga memberikan
- penghargaan pengertian. Jadi timbal
- balik.
- Nah, di dalam timbal balik ini
- meningkatkan hubungan.
- Apakah dia akan mencari? Tidak. Karena
- dia sudah memberikan.
- Karena dia sudah mening. Oh, sudah
- meninggal. Sudah dia pasrahkan kepada
- Allah bahwa istri saya sudah meninggal.
- Dia mencari orang lain bukan sama. N
- [tertawa]
- ketika dia mencari yang sama ya enggak
- bisa orang itu berbeda-beda.
- Dia akan mencari. Tapi ada orang yang
- memberikan penghargaan, pengertian ada.
- Tapi tidak sama. Nah, namun dia tidak
- memikirkan sama karena dia juga akan
- memberikan pengertian dan penghargaan.
- Itu yang benar.
- Nah, kenapa kok dia mencari susah?
- Karena dia tidak pernah memberikan
- pengertian dan penghargaan.
- Dia hanya memberikan dia hanya terima
- pengertian dan penghargaan dari
- istrinya. Dia senang, dia senang doang
- tapi tidak pernah memberikan. Maka dia
- mencari yang susah. Dia mencari yang
- istri saya yang baru saja meninggal.
- Itu yang dicari, dicaari enggak akan
- bisa. Maka itu lepaskan dirimu, yakinkan
- dirimu bahwa kamu akan memberikan
- memberikan pengertian, penghargaan,
- memberikan kasih sayang, memberikan
- penghormatan yang benar-benar. Nah,
- ketika seorang suami memberikan,
- istrinya memberikan, maka itu yang
- terjadi.
- Dan kalau misalnya kehilangan dia enggak
- akan memberi, enggak mencari sama
- seperti istri istri saya. Dia akan
- mencari seorang istri yang mampu
- memberikan penghargaan dan pengertian.
- Itu yang benar. yang kalau dia mencari
- masih mencari dia ketakutan. Kenapa dia
- takut? Enggak ada yang enggak ada yang
- sama seperti itu? Enggak bisa.
- Enggak bisa sama.
- Tapi pengertian, penghargaan bisa sama.
- Tapi dia kan mengatakan yang sama. Dia
- enggak bisa.
- Dia mau cari ini, mencari di bawah itu,
- dia bilang enggak ketemu.
- Mau cari apapun enggak ketemu. Maka itu
- katakan sama diri kita, saya akan
- berikan penghargaan, pengertian, kasih
- sayang. Insyaallah bisa. Maka dari situ
- insyaallah
- bisa memberikan penghargaan
- dan pengertian.
- Dan yang kedua
- ada satu
- berita bahwa
- marah,
- perdebatan
- antara marah dan perdebatan bedanya
- kecil.
- ya. Nah, kalau seorang suami marah sama
- istrinya
- atau istrinya marah sama suaminya, maka
- akan terjadi
- pertentangan.
- Karena marah itu pertama kali marah itu
- akan menegangkan sel-sel otaknya ee
- sel-sel semua yang ada pada dirinya.
- Maka sel tangan, sel kepala, kaki
- semuanya akan tegang.
- Dan ketika tegang itu dia akan marah dan
- capek.
- dia akan mengasakan capek.
- Bagaimana capeknya ini? Karena dia marah
- mengeluarkan energi yang besar
- itu marah. Dan apa akibatnya? Berbagai
- macam akibatnya pertentangan sama istri,
- pertentangan terus perlawanan. Enggak
- pernah ada keakuran.
- itu yang terjadi. Maka itu katakan
- jangan marah.
- Maka Rasulullah juga mengatakan jangan
- marah.
- Kalau kita marah, kita pengin marah
- karena kita dipancing, karena kita di
- ujuk-ujuk harus marah.
- kita dipancing.
- Terus kalau kita dipancing, kita diam
- aja. Tidak mau marah, bingung. Apa yang
- harus kita keluarkan? Tidak marah.
- Kalau kita benar-benar tidak marah,
- berarti berhasil kita tidak marah. Maka
- enak badan kita.
- Untuk apa marah?
- Marah itulah yang membikin kesusahan
- dan komunikasi istri dan suami.
- Ee
- terjadinya
- sesuatu yang menyenangkan.
- pertama kali yang diambil
- dalam proses
- pembicaraan berkomunikasi
- pertama kali ada komunikasi netral. Apa
- kabar? Bagaimana kamu senang? Kamu
- insyaallah kamu berbahagia, kamu
- menyenangkan.
- Di sini yang letaknya bahwa hubungan itu
- indah, netral.
- Jadi benar-benar
- netral. Tidak ada komunikasi tentang
- subjektif.
- Komunikasinya adalah objektif.
- Ketika komunikasi objektif, di situ
- terjadinya sesuatu yang menyenangkan.
- Maka komunikasi netral ini sangat
- dibutuhkan.
- Pertama kali kita berkomunikasi dengan
- seseorang sebaiknya netral dulu. Heh,
- indah sekali wajahnya tuh. Senyumnya
- menarik.
- Oh, bagus sekali. Jangan. Ih, ganteng
- ya. Wah, dia merasa tersinggung karena
- dia enggak ganteng.
- Dia merasa tersinggung.
- Kita jangan mengambil itu. Kita ngambil
- senyumnya menarik.
- ini kalau dia berkata baik sekali,
- menyenangkan,
- berikan sesuatu apresiasi pada dirinya,
- insyaallah dia akan merasa senang.
- Dan yang kedua
- adalah
- menjadi tidak berdebat.
- Yang kedua ni tidak terjadi perdebatan.
- Satu ketika
- seorang
- ee satu pasangan suami istri sedang naik
- mobil.
- Tiba-tiba di dalam perjalanan
- persimpangan ke kanan atau ke kiri,
- si istri mengatakan, "Baiknya kita ke
- kiri.
- Sang suami tidak mau dia ke kanan
- langsung
- ya. Ke kanan langsung. Nah, kalau istri
- yang suka berdebat tuh saya sudah bilang
- ke kiri aja. Kenapa ke kanan? Enggak.
- Orang ini ke kanan dulu baru nanti ke
- sana. Wah, ribut. Karena apa?
- Pertentangan
- dan perdebatan.
- Tapi sang istri dengan senyum mengikuti
- suaminya yang salah.
- Padahal sudah diizin ee sudah diingatkan
- ke kiri.
- Itu jalan yang benar.
- Tapi sang suami tidak mau. Dia harus ke
- kanan.
- Bukan tidak mau dia ngambil kanan dengan
- tidak menyadarinya.
- Ngambil kanan lagi asik jalan jalan
- jalan. Nah gitu terus terus dia mulai
- sadar. Oh ini salah jalan. Oh iya tadi
- kan saya sudah ingatkan istri yang
- mengatakan
- oh iya cukup. Jangan. Makanya tadi kan
- sudah diingatin. Makanya itu kalau
- misalnya kayak gini kan tambah jauh.
- Si istri begitu, itu tidak benar.
- Tapi si istri hanya mengatakan tadi kita
- ke kiri
- dengan seperti itu. Oh ya kalau gitu
- kita balik.
- Kita muter balik.
- Kalau berdebat tuh lihat. Oh iya iya.
- Entar sebentar entar balik nih. Sang
- suami mengatakan sebentar mau balik. Pas
- tikungan dia terus tuh. Makanya kamu
- enggak mau dengar, kamu jangan bicara
- terus. Akhirnya perdebatan terus sampai
- perjalanannya jauh sekali.
- Coba kalau kita tenang, istrinya diam,
- pas waktu mau muar balik dia tahu
- sang suami mengetahui bahwa di situ ada
- putaran balik. Si istri diam.
- Ketika dia balik, dia lihat diam, tenang
- sampai muar balik dan kembali kepada
- jalan yang benar.
- Waktu jalan yang benar, apa yang
- terjadi? Benar yang terjadi.
- Baru saja terjadi sesuatu yang kita
- tidak inginkan.
- Bisa saja ada kejadian macetnya begitu
- panjang.
- Bisa saja nanti kalau kita nabrak atau
- ban kita pecah atau apa saja, tapi itu
- tidak
- jalannya ke kiri terus sampai
- benar-benar.
- Itu permasalahan tidak berdebat.
- Karena dia tidak berdebat. Kalau dia
- berdebat berantakan.
- Maka dia tidak berdebat. perjalanan itu
- lancar dan pada masuk kepada tempatnya
- pada waktu yang pas.
- Apa yang terjadi? Hikmah di sini. Karena
- Allah mengetahui kalau ke kiri tadi
- macet atau bagaimana atau bagaimana
- diambil kanan.
- Diambil kanan karena dia harus mengambil
- kanan dan muar balik ke kiri. Dan
- alhamdulillah
- pas tepat pada waktunya.
- Itu tidak berdebat.
- Kalau berdebat bisa lebih panjang, lebih
- enggak karuan. Jadi usahakan suami istri
- itu yang pertama netral, yang kedua
- tidak berdebat.
- Bagaimana seorang istri mengikuti sang
- suami? Begitu indahnya
- keluarga yang seperti ini. Insyaallah.
- Masyaallah. Jangan berdebat, jangan
- bantah-membantah.
- Tapi kalau dua-duanya ideal, kalau yang
- satunya mau menang sendiri bisa enggak
- sih? Atau yang satunya ee apa ya?
- Pokoknya gitu deh. Nah, karena kita
- masih cukup punya banyak waktu nih,
- Ikhwan Akhwat, Ustaz Husein akan
- menambahkan agar bisa itu tadi damai dan
- nyaman apapun yang terjadi meskipun
- kondisinya nyebelin gitu ya, Ustaz.
- Silakan, Ustaz.
- Kalau Bismillahirrahmanirrahim. Kalau
- suami menemukan istrinya menentang,
- membangkang,
- menolak untuk tunduk, diajak bicara juga
- menutup diri. Dalam kondisi seperti ini
- Allah memberikan petunjuk. Wain khiftum
- siqoq baini
- fabatu hakam min ahlihi wa hakam min
- ahliha. In yurida islahan yuwaiqillahu
- bainahum.
- Kalau kalian khawatir terjadi perpecahan
- di antara keduanya karena istrinya tidak
- mau tunduk, menentang, membangkang,
- maka untuk menghindari kebentuhan ini,
- kirim perwakilan dari pihak laki-laki,
- perwakilan dari pihak perempuan menjadi
- penengah. Karena kalau satu api, satu
- bensin ya pasti kan kobongan.
- Iya.
- Jadi kirim penengah yang bisa mendengar
- dari pihak lain. Karena biasanya
- perempuan enggak mau dengar dari
- suaminya tertutup telanya pada saat
- marah. Laki juga begitu.
- Tahu-tahu datang pendengar
- menyampaikan kepada yang mengutus dari
- pihak sana minta begini begini begini
- begini. Yang menakjubkan silakan kalau
- ini si saya siap. Tapi bukan begitu
- yang saya dengar. Ternyata komunikasi
- mereka apa? Kacau akibat emosi yang
- meletup.
- Jadi utus perwakilan dari pihak
- laki-laki, perwakilan dari pihak
- perempuan memberikan nasihat dari pihak
- perempuan kepada laki-laki. Dari pihak
- laki-laki datang kepada pihak perempuan.
- Apa sebetulnya masalahnya?
- Dipertimbangkan baik-baik.
- Kalau mereka ingin berbaik kembali,
- Allah Subhanahu wa taala memberikan
- taufik di antara mereka.
- Tapi kalau mereka bersih keras mau
- berpisah, ya berarti daripada merawat
- gigi yang dalam keadaan infeksi
- berlubang sana sini daripada menularkan
- kepada gigi yang sehat. Kalau sudah
- tidak ada jalan lagi
- diangkat. Tapi biasanya kalau ada
- penengah memberikan masukan, memberikan
- nasihat juga mendinginkan situasi bisa
- diharapkan pasangan suami istri kembali.
- Cuma sekarang kita jumpai pasangan suami
- istri itu mereka datang sama kita minta
- kita melamarkan, kita nikahkan. Begitu
- mereka berumah tangga ribut, mereka
- tetap ambil keputusan singkat
- tanpa sama sekali bermusyawarah langsung
- menjatuhkan
- keputusan. Diceraikan istrinya tanpa
- menempuh jalan-jalan dan prosedur yang
- diajarkan Allah. Nanti begitu mereka
- berpisah, suami ingin balik lagi, tetap
- perempuannya sudah diambil orang.
- Ini kejadian pada satu orang teman kita,
- dia pulang salat lebaran, pulang ke
- rumah rupanya dia makan makanan lebaran
- kurang nyaman. Dia marah, dia usir
- istrinya suruh pulang ke rumah orang
- tua.
- Kalau orang Arab kalau bilang ilhaqi
- biahliki, berkumpullah kamu kepada
- keluarga kamu. Itu kata cerai.
- Nah, si laki-laki rupanya alasan mau
- didik istrinya. Dia tahan-tahan untuk
- rujuk. Padahal kalau pada waktu idah si
- perempuan tidak pulang dari rumah, tidak
- keluar dari rumah, tinggal sama-sama,
- mereka punya kesempatan berpikirikir.
- Akhirnya sampai waktu idahnya tanpa
- disadari habis.
- Ya Allah,
- ini perempuan cantik. Begitu idahnya
- habis langsung yang berburu apa?
- Oh, banyak.
- Banyak.
- Begitu
- si perempuan diambil orang baru timbul
- penyesalan. Allah
- sampai akhirnya hidupnya nelangsa merana
- kawin sama orang lain enggak cocok
- enggak
- akhirnya meninggal dunia kita ini memang
- kalau sesuatu masih di tangan kita, kita
- suka muncul kesombongan, kebanggaan
- kita laki-laki
- patah satu berganti 1000.
- Memang ngomong gampang.
- Perempuan juga begitu
- terbawa emosi.
- Kita lebih baik berpisah aja.
- Masing-masing menempuh jalannya.
- Pakai bahasa puiti lagi. Puitis lagi.
- Dia cari dari apa? Dari novel-novel,
- dari cerita-cerita. Lalu disampaikan
- pada suaminya. Begitu nanti mereka
- berpisah baru mereka merasa ternyata
- apa? Sudah masuk ke daging.
- Lengket ditarik. Akhirnya apa? Kan sakit
- kan.
- Iya.
- Nah, ini kesombongan yang mesti kita
- hindari. Kita harus tahu kita ini
- manusia yang kurang, yang lemah, yang
- penuh dengan berbagai macam kesalahan
- hingga tahu diri.
- Jangan kita memandang kita ini laki-laki
- sempurna, istri kita yang kurang tahu
- diri atau perempuan merasa dirinya sudah
- sempurna melayani suami. Dia enggak
- melihat kekurangan masing-masing, laki
- maupun perempuan. Lebih baik kita
- berusaha tanya pada pasangan kita, "Apa
- kesalahan saya? Apa yang kurang dari
- saya? Kalau memang ada kekurangan,
- hendaknya dia minta maaf dalam hal ini.
- Kenapa sih orang minta maaf malu-malu?
- Ada seorang anak sakit hati pada orang
- tua. Karena orang tua marah rupanya
- enggak pada tempatnya.
- Si orang tua gengsi,
- si anak lama-kelamaan ini akumulasi
- sampai komunikasi sama bapaknya putus.
- Lalu orang bilang, "Kamu coba kamu
- perbaiki kesalahan kamu, panggil anak
- kamu, kamu minta maaf."
- Akan menghapuskan apa yang
- melekat di hatinya. Anak kamu akan
- terharu
- tapi dia enggak mau.
- Dia merasa tidak patut orang tua minta
- maaf sama anak. Anak patut minta maaf
- sama orang tuanya. Padahal orang tuanya
- jelas-jelas salah.
- Nah, orang tua menghancurkan anaknya,
- menghancurkan dirinya akibat dari ulah
- yang seperti ini. Tapi ada orang tua di
- saat dia tahu dia dipanggil anaknya,
- "Ayah, minta maaf. Ayah rupanya salah
- paham, salah sangka atau ayah dalam
- keadaan emosi. Yang salah di sini ayah
- itu akan menjadi pelajaran yang baik
- buat si anak
- untuk memahami bahwa apa?
- Mengakui kesalahan itu bukan hal yang
- buruk. Buktinya apa? Si anak yang
- tadinya sakit hati sama orang tuanya,
- hatinya langsung terbuka.
- Enggak harus keluar duit, enggak harus
- pergi ke mall, enggak harus ke luar
- negeri. Begitu juga assalamualaikum yang
- diabaikan. Kenapa kita enggak mau
- ucapkan salam tanpa harus keluar apa-apa
- kok.
- Betul gak?
- Berarti biaya untuk kerukunan, kedamaian
- tuh murah, enggak ada biayanya.
- Tapi ternyata manusia tidak mau
- melakukan ini semua karena sombong,
- Mas,
- bangga diri. suka merasa diri sempurna
- orang lain kecil dan rendah.
- Waliyadubillah. Jadi kesimpulannya Mbak
- Nuning,
- paling baik orang itu kalau bisa melihat
- kekurangan dirinya,
- menghargai kelebihan orang lain. Kalau
- kita bersama istri, kita lihat selama
- ini bersama kita banyak kebaikannya, ada
- kesalahan kita bisa maafkan.
- Kecuali kalau kesalahan yang sifatnya
- berkaitan dengan kesetiaan, lain
- masalahnya.
- Ada suami istrinya sedang marah-marah
- emosi, banting pintu, banting piring.
- Suaminya bukan marah ketawa. [tertawa]
- Karena apa? Karena ada deposit kebaikan
- istri yang enggak bisa dilupakan. Jadi
- jangan hanya kita boleh marah, istri
- kita enggak marah. Betul enggak? Istri
- kita bisa aja cemburu seperti ustaz
- jangan jauh-jauh komunikasi. Ada
- perempuan datang ya kemudian mengeluhkan
- masalah dia.
- Kalau dia ada mungkin enggak begitu,
- tapi kadang-kadang laporan dari orang.
- Iya.
- Tadi ustaz habis begini begini begini
- begini dia enggak tahu masalahnya kan.
- Tapi setan memberikan bayangan-bayangan
- yang bermacam-macam.
- Masyaallah.
- Nah, itu bisa timbul fitnah. Jadi kalau
- istri pulang meledak-ledak
- karena dengar kabar dari luar dan pasti
- yang membawa berita suka kasih bumbu kan
- ada bumbu pedasnya ya akhirnya membuat
- istri dan kadang-kadang yang membawa
- berita ingin sengaja menyakiti perasaan
- perempuan tersebut. Oleh karena itu
- perlu ya laki-laki dalam menyikapi hal
- ini bukan dia mengatakan kamu perempuan
- tidak berhak ikut campur tahu menahu
- dalam enggak berikan penjelasan
- masalahnya begini begini begini jangan
- apa salah sangka apa susahnya memberikan
- keterangan yang baik
- makanya yang paling berbahaya perempuan
- kalau suaminya masuk ke rumah dimatiin
- handphone-nya
- atau laki-laki lagi berbicara istri tahu
- laki Eh,
- ada apa tadi? Enggak apa-apa. Siapa
- teman? Eh,
- itu paling berbahaya.
- Paling berbahaya. Akhirnya muncul
- kecurigaan sedikit demi sedikit akhirnya
- menjadi kanser.
- Waliillah.
- Habis sebagian orang beranggapan kalau
- kita transparan
- nanti macam-ma
- nanti dia macam-macam. Padahal apa?
- Betul, Mbak Uni.
- Iya.
- Hah?
- Enggak juga
- enggak kan?
- dan sebaiknya perempuan juga bersama
- suami demikian. Hidup ini sebetulnya
- mudah tapi kita yang mempersulit.
- Dunia lapang sebetulnya asal kita mau
- berlapang dada. Tapi yang kita cari
- justru yang menyusahkan diri sendiri.
- Dan banyak Mbak Uni contoh-contoh dalam
- kehidupan rumah tangga. Pasangan suami
- istri sederhana, hidupnya sederhana tapi
- berdua masing-masing bersyukur. Allah
- berikan kebahagiaan buat mereka. Bukan
- dengan harta, bukan dengan berbagai
- macam pernik-pernik kehidupan, tapi
- dengan ketulusan bersama-sama dengan
- mengharapkan rida Allah, Allah berikan
- keberkahan bagi mereka. Wallahuam.
- Iya, Ustaz. Jadi kalau misalnya memang
- akan diskusi atau membahas sesuatu, yang
- penting jangan pas capek, jangan pas
- lapar, jangan pas lagi
- mau tidur baru dari tidur
- segenting apapun ya, Ustaz ya. Jangan di
- waktu-waktu itu.
- Baik.
- Dan pada saat kita lagi marah juga,
- He.
- Jangan kita buka masalah.
- Saya punya mertua laki-laki kalau lagi
- marah dia tidak akan sama sekali apa?
- Menegur anaknya atau menegur siapa. Tapi
- begitu dingin baru dia marah. Itu
- marahnya meletup-letup padahal hati
- dingin.
- Iya.
- Arti marahnya untuk memberikan
- peringatan bahwa ini merupakan hal yang
- tidak benar dan abah kamu enggak suka
- supaya besok jangan diulangi. Bukan
- tapi karena dia dingin dalam luarnya
- panas
- kata-katanya yang keluar apa?
- Terkendali.
- Betul.
- Tapi kita kalau lagi marah Allah kasih
- kata-kata yang keluar beracun. Itu yang
- dikatakan dialog apa? Toxic. Apa
- namanya? Iya. Waliah.
- Baik ikhwan akhwat. Seandainya ada
- sesuatu yang ingin ditanyakan karena
- memang ada kasus silakan bisa WA ke
- 0811999720
- dengan di judul diberi judul psikologi
- keluarga ya agar nanti studio yang akan
- menyampaikannya kepada program ini.
- Kalau bisa
- bagi yang bertanya tidak perlu sebutkan
- nama.
- Iya. Tapi sebutkan usia kasusnya biar
- agak jelas dikit. Jangan sebutkan nama
- biar menjadi rahasia di antara kita.
- Baik, Ustaz. Sekali lagi terima kasih.
- Mudah-mudahan kita bisa terus berada di
- acara ini untuk membuat yang rada gelap
- jadi agak bercahaya.
- Agak biar bercahaya.
- Oh, malah lebih bercahaya. Baiklah,
- sekali lagi terima kasih semua yang
- bersama-sama Radio Silaturahim. Billahi
- taufik wal hidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.