Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil
- alamin. Allahumma sholli ala Muhammad wa
- ala ali Muhammad. Dipancaruaskan dari
- Jalan Masjid Silaturahim nomor 36
- Kalimanggis, Cibubur, Bekasi, Radio
- Silaturahim untuk Islam yang satu.
- Alhamdulillah ikhwan dan akhwat, kita
- kembali berjumpa dalam tausiah pagi di
- hari ini bersama narasumber kita Ustaz
- Abul Hidayat edisi hari Rabu di tanggal
- 14 November
- 2018 dan tema kita tentang
- kemasyarakatan Islam dalam tinjuan
- sosiologi. Dan saat ini Ustaz Abdul
- Hidayat sudah bersama dengan kita.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Sehat,
- Ustaz? Ya, alhamdulillah banyak
- oleh-oleh dari banyakrah. Capek yang
- jelas karena jalan terus di sana kan
- enggak ada Heeh. Ke mana-mana mesti
- jalan. Heeh. Enggak ada ojek. Enggak
- ada. Kalau Ustaz sebagai pembimbing ya
- di sana ya. Iya. Keagamaannya saya
- mendampingi Musa. Keagama. Subhanallah.
- Baik. Dan beliau kemarin baru berangkat
- umrah bersama silaturahim travel, Ustaz.
- Ya. I betul. I. Baik. Nah, ikhwan dan
- akhwat di pagi hari ini Ustaz juga akan
- mengangkat tema
- yang bersumber dari Al-Qur'an surah
- Al-Hujurat ayat 13 ya Ustaz ya. Baik
- tafadil Ustaz ya.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Alhamdulillahi nahmaduhu wa nastainuhu
- wa nastagfiruh wa nauzubillahi min
- syururi anfusina wamin sayiati a'malina.
- May yahdillah fala mudilalah wam yudlil
- fala
- hadiyaalah. Ashadu alla ilahaillallah
- wahdahu la syarikalah wa ashadu anna
- muhammadan abduhu wa rasuluhu la nabiya
- ba'dah. Allahumma sholli wasallim ala
- nabina wa habibina Muhammad
- rasulillah wa ala alihi wasohbihi waman
- tabiah bisanin ila yaumilqiamah.
- Masyaallahu kan wama lam yasya lam yakun
- la haula wala quwwata illa billah. Amma
- ba'du. Ayyuhal ikhwah rahimakumullah.
- Para ikhwan dan akhwat pendengar setia
- radio silaturahim yang semoga dirahmati
- oleh Allah subhanahu wa
- taala. Alhamdulillah inilah ucapan yang
- harus saya
- ucapkan karena memang segala puji itu
- milik Allah.
- itu juga berarti segala kebajikan,
- segala nikmat yang kita nikmati, segala
- keutamaan, kemuliaan, keindahan milik
- Allah
- semata. Jadi kalau hari ini kita masih
- hidup karena Allah yang menghidupkan
- kita, kalau hari ini kita diberikan
- kemampuan ya masih bisa beraktivitas,
- itu juga anugerah dari Allah Subhanahu
- wa taala. Jadi ungkapan kalimat
- alhamdulillah memang harus diungkapkan
- dan dibaca, dihayati betul sehingga
- melahirkan rasa syukur kita dan tawadu
- kita, kepatuhan kita, ketundukan kita
- kepada sang pencipta yang memberikan
- segalanya kepada kita. Hari ini
- alhamdulillah suasana sejuk di
- mana-mana.
- Ya, ini menunjukkan mudah-mudahan
- sesejuk hati kita jika disirami dengan
- wahyu Allah atau
- kitabullah. Maasyiral muslimin, ayyuhal
- ikhwah rahimakumullah, para ikhwan dan
- akhwat di mana pun berada.
- Teriring doa kami untuk antum semuanya
- yang ada di rumah, yang ada di jalan,
- yang sedang bekerja semoga diberkati
- oleh Allah, dimudahkan segala
- urusannya dan kalau ada problem dan
- masalah diberikan solusi yang terbaik.
- Amin. Kalau ada yang sakit,
- mudah-mudahan sakitnya segera
- diringankan dan disembuhkan. Dan
- mudah-mudahan sakitnya menjadi kafarat
- bagi
- segala dosa dan kekeliruannya. Amin ya
- rabbal alamin. Hari ini saya ingin
- menyampaikan tentang kemasyarakatan
- Islam dalam tinjauan
- sosiologi. Kelihatannya kok mentereng
- amat ya judulnya.
- Karena kebetulan bukan
- kebetulan saya melihat pada waktu umrah
- kemarin
- betapa beragamnya umat
- Islam. Datang dan pergi silih berganti,
- tiada pernah sepi sepanjang
- waktu. Saya pikir kalau umrah hari ini
- sesudah jeda dari haji dan dibukanya
- kembali umrah yang pertama.
- barangkali masih sepi, ternyata tidak
- juga. Ramainya luar biasa. Tetap masjid
- itu penuh, yang tawaf juga penuh. Dan
- saya amati itu hampir setiap saat datang
- dan pergi silih berganti, tidak pernah
- sepi. Dan itu dari seluruh pelosok
- penjuru dunia. H. Dan untuk datang ke
- sana kan tidak mudah. Iya. Nyatanya
- jenengan kan juga kepengin ya, tapi
- belum bisa berangkat juga. Banyak orang
- yang lebih banyak yang ingin datang ke
- sana daripada yang orang yang bisa
- berangkat. Ada orang yang sudah punya
- uang tapi gak bisa berangkat karena gak
- keinginan. Ada orang yang ingin tapi apa
- namanya?
- Bis bisa berangkat. Dan itu
- terus-menerus seperti air bah.
- Kalau saya cerita dulu tahun
- 92 saya haji
- pertama masih muda, masih fisik, masih
- kuat, penuh sesah luar biasa. Kebetulan
- iklimnya sedang panas
- sampai 50 derajat bahkan bisa
- lebih. Saya mencoba untuk tawaf mencium
- hajar aswad gak dapat karena begitu
- banyak pejubel.
- Kalaupun mau ya mudah-mudahan sih bisa
- ya, tapi karena itu hanya sunah.
- Kadang-kadang orang egonya yang muncul
- di sana ingin dapat sunah tapi caranya
- haram. Kenapa sebut caranya haram?
- Karena dia harus nyodok sana, nyodok
- sini, nyikut sana, seikut sini, baru
- bisa masuk berebut mereka. Jadi kan ada
- yang disakiti. Kalau itu yang terjadi
- dia bisa dapat mencium hajar aswad yang
- hukumnya sunah saja tapi caranya haram.
- Karena apalagi waktu pakai pakaian ihram
- gak boleh menyakiti. Ya debat saja
- enggak boleh. Nah ini dia lakukan dengan
- nyorong sana nyorong sini. Maka saya
- menghindari
- itu. Akhirnya saya gak dapat H enggak
- dapat mencium Hajar Aswad.
- Karena saya kepengin saya mengancam
- nanti tengah hari ketika panas sedang di
- atas 50 derajat barangkali orang pada
- nyingkir semua. Saya mau akan memaksa
- diri ingin menciimnya. Ternyata penuh
- juga. Penuh
- juga. Kalau begitu nanti malam saya jam
- 3.00 malam. Barangkali orang lagi
- kelelahan tidur sepi ya jam 3.00 malam.
- Karena bayangan saya bayangan di sini 3
- malam orang pada tidur semua. Begitu
- saya masuk masyaallah tetap saya nak
- berkurang berjubel.
- Subhanallah. Akhirnya tetap saya naik ke
- atas.
- Dari atas saya lihat ke
- bawah begitu gemuruh suara tasbih,
- tahmid, takbir, selawat segala macam
- bacaan zikir itu bergemur orang itu
- putaran orang seperti air
- bah. Seperti air bah. Padahal tawaf itu
- kan tujuh kali keluar, tujuh kali keluar
- ya kan. Tapi ini tidak pernah siang,
- pagi, sore, malam tidak pernah berhenti.
- Itu tahun 92 yang saya alami. 92.
- Sekarang tahun 18.
- 18 tetap
- sama. Berarti setiap saat dari tahun ke
- tahun sudah berabad-abad lamanya Ka'bah
- itu diputter orang-orang yang memuji
- Allah. Luar biasa.
- Nah, jadi saya melihat ini yang
- kemarin jam berapa saja orang datang dan
- pergi yang selesai dia berkemas untuk
- pulang. Datang lagi rombongan pulang
- pergi terus tidak ada hentinya setiap
- saat. Jam berapa saja. Ada yang datang
- siang hari dia tawaf, ada yang datang
- sore hari dia tawaf, ada yang datang
- malam hari jam .00, jam 3. jam .00, jam
- . Jam berapa
- saja. Subhanallah. Luar biasa. Itu dari
- umat Islam secara penjuru negeri ini
- yang bahasanya
- berbeda ya. Kemudian juga karakternya
- berbeda, warna kulitnya berbeda. Tapi
- mereka bisa
- bersatu. Dan di sana mereka walaupun
- bahasanya kadang-kadang pakai bahasa
- tarsan, tapi mereka saling mengerti,
- saling menghormati. Inilah yang
- mendorong saya mengapa judul ini
- kemasyarakatan Islam dalam tinjauan
- sosiologi. Dan inilah yang disebut
- umat. Artinya kalau disebut umat Islam
- itu yang dibangun oleh Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam cikalbakalnya
- di Madinah dipersaudarakan antara
- Muhajir dan Ansar. Ini adalah lintas
- sektoral.
- lintas lintas pulau, lintas benua,
- lintas
- etnis. Inil yang disebut dengan
- alinsaniah
- alalamiah. Jadi yang dibangun oleh
- Rasulullah, dibangun Islam itu adalah
- masyarakat, kaum,
- umat yang lintas sektoral tadi, lintas
- etnis, tidak dibatasi oleh demarkasi,
- oleh satu fanatisme, kesukuan, marga,
- bangsa.
- Tapi semua yang
- muslim yang di dalam keyakinannya adalah
- kalimah
- lailahaillallah, maka seluruh permukaan
- bumi di mana dia tinggal itulah
- umat. Inilah yang disebut dengan
- masyarakat Islam
- itu yang oleh Al-Qur'an dalam beberapa
- ayat disebut
- kaum, disebut umat, disebut juga
- jemaah. Kumpulan mereka yang tidak
- dibatasi karena etnis.
- karena suku, karena kebangsaan, karena
- warna kulit, karena
- bahasa. Itu yang
- saya perhatikan, saya amati kemarin.
- Begitu beraneka ragamnya manusia dari
- seluruh etnis, warna kulit, bahasa, dan
- bangsa kumpul hanya karena satu ikatan.
- Karena ikatan iman. Daya tariknya karena
- iman. Ngapain dia datang ke sana
- coba? Dia biaya cukup lumayan. Heeh.
- Uangnya. Kemudian dia korbankan waktu.
- Heeh. Kemudian dia tinggalkan usaha, dia
- tinggalkan keluarga. Dia tinggalkan
- orang yang paling dia cintai. Kenapa?
- Panggilan apa? Karena
- iman. Inilah cikalbakal dibangunnya
- sebuah masyarakat
- Islam. Kalau Al-Qur'an menyebutkan tadi
- dalam surah Al-Hujrat ayat 13.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Ya
- ayyuhanas inna khalaqnakum min dzakarin
- unsa wa'alnakum suuba
- waqoba
- litaarofu inna akromakum innallahi
- atqokum innallaha alimun
- khabir. Wahai manusia, sesungguhnya kami
- ciptakan kamu, ya
- manusia bukan hanya orang beriman,
- bukannya orang Islam,
- manusia dari laki-laki dan perempuan min
- dzakarin a wa
- unsa. Waa'alnakum suuba
- waqoba. Dan kami jadikan kamu dari
- suku-suku dan berbangsa-bangsa.
- Litaarofu agar kamu saling mengenal,
- saling
- memahami. Inna akramakum indallahi
- atqokum. Sesungguhnya yang paling mulia
- di antara kamu di sisi Allah dan yang
- paling
- takwa. Jadi bukan yang paling kaya,
- bukan yang paling putih, bukan yang
- paling hitam, bukan bangsa ini, bukan
- bangsa Arab sekalipun.
- yang paling takwa sekalipun mungkin
- kulitnya hitam, mungkin hidungnya pesek,
- mungkin rambutnya kayak
- kismis, tapi kalau dia takwa itu jauh
- lebih mulia daripada orang yang berkulit
- putih, berhidung mancung dan
- seterusnya. Mungkin di antara mereka
- juga bukan orang konglomerat, orang
- kaya, tapi kalau jiwanya manusia-manusia
- takwa, dia lebih mulia daripada
- konglomerat dan seterusnya.
- Innallaha alimun khabir. Dan
- sesungguhnya Allah maha
- mengetahui segala aktivitas atau yang
- dilakukan oleh manusia baik yang zahir
- maupun yang
- batin. Jadi pada ayat ini jelas sekali
- bahwa Allah ciptakan manusia beraneka
- macam, bersuku-suku,
- berbangsa-bangsa. Tapi yang dimaksud di
- sini adalah litaarofu untuk saling
- mengenal. Dari taaruf itu melahirkan
- ukhuwah.
- Persaudaraan. Persaudaraan yang diikat
- bukan karena
- kepentingan, tapi karena persaudaraan
- agama. Dalam hal ini ukhuwah di dalamnya
- adalah
- taaruf, saling
- mengenal, kemudian tafahum, saling
- memahami,
- kemudian taawun, saling menolong.
- Kemudian yang terakhir takaful, saling
- memikul.
- Jadi bukan sekadar
- kenal. Inilah sebenarnya. Maka di dalam
- syariat haji ataupun umrah, berkumpulnya
- orang bukan semata-mata ibadah kepada
- Allah, tapi mengandung nilai-nilai
- litaarofu tadi. Kita mengenal bangsa
- lain, saling mengenal, saling kita apa
- namanya?
- memberi yang tadi saya sebut sebagai
- taaruf, tafahum, saling memahami,
- taawun, saling tolong-menolong, takaful,
- saling menopang kalau sudah urusan
- penting. Nah, ini yang kita lihat dan
- ini setiap saat sebenarnya umat Islam
- diberikan pendidikan seperti ini dengan
- adanya
- umrah apalagi haji yang kolosal.
- Lalu apa kaitannya dengan judul ceramah
- hari ini kemasyarakkan Islam dalam
- tinjauan
- sosiologi. Jadi yang saya maksud di sini
- bahwa
- ternyata Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam membangun umat di
- Madinah setelah iklimnya memang iklim
- kondusif. Sesudah akidah ditanamkan
- kalimah lailahaillallah.
- Kemudian secara akidah, rukun rukun
- Islam, rukun iman
- disampaikan, tauhid
- disampaikan. Maka ketika iklim kondusif
- dibangunlah sebuah
- kemasyarakatan. Lalu masyarakat Islam
- itu masyarakat yang bagaimana? Nah, di
- sini
- masalahnya ternyata kalau kita lihat
- tinjauan sosiologhi bahwa yang disebut
- masyarakat adalah orang yang banyak yang
- berhimpun dalam satu tempat yang mereka
- hidup bersama mengaku nilai-nilai
- tertentu. Tapi secara garis besar ada
- dua
- bentuknya. Satu masyarakat yang disebut
- dengan masyarakatfsaf.
- Gemain bahasa Belanda yang bahasa
- Indonesianya disebutnya
- masyarakat
- paguyuban. Guyub dari bahasa Jawa,
- mengajar bahasa Indonesia paguyuban. Ada
- satu bentuk masyarakat yang dia
- berhimpun atas dasarnya dasar karena
- paguyuban tadi bahasa keranyaf. Iya.
- Khemainf.
- Heah. Jadi
- masyarakat yang mereka berhimpun di satu
- tempat ya karena mereka mengakui
- nilai-nilai nilai-nilai tentang benar
- dan tidak benar dan sebagainya
- nilai-nilai kehidupan.
- Tetapi berhimpun mereka daya tariknya
- adalah karena ikatan
- kesukuan mungkin ikatan marga. He.
- Ikatan kematian, ikatan
- keagamaan. Jadi ikatan mereka bukan
- bukan
- materi, tapi yang bersifat non materi.
- Materi
- materi yang bersifat spiritual. Nah,
- lebih tepatnya kalau disebut di sini
- kalau yang dibawa oleh agama kalau
- dimasukkan dalam kategori ini yang
- dibangun oleh Rasulullah adalah sebuah
- ikat masyarakat yang ikatannya adalah
- ikatan
- keagamaan, bukan ikatan
- suku, bukan ikatan marga, bukan ikatan
- kebangsaan, bukan ikatan
- etnis atau
- kepentingan-kepentingan kebangsaan,
- nasionalisme, bukan.
- Tapi yang dibangun oleh Nabi karena
- ikatan
- akidah. Maka dalam tinjauan sosiologi
- disebutnya dia masuk dalam kategori
- masyarakat, yaitu masyarakat paguyuban.
- Daya tariknya mereka berhimpun, mereka
- berkenalan, mereka taaruf, mereka
- taawun, takaful itu karena akidah,
- karena keimanan.
- Nah, ini tercermin dalam pendidikan yang
- saya sebut sebagai 24 jam terus-menerus
- berabad-abad lamanya dididik kita dalam
- ritual atau ibadah umrah dan
- haji. Itulah sebenarnya ikatan umat
- Islam itu. Jadi bukan ikatan daerah,
- bukan ikatan provinsi, bukan ikatan
- kebangsaan, bukan ikatan karena bangsa,
- bahasa, bukan, tapi ikatan akidah.
- Nampak pada pelaksanaan umrah misalnya
- atau haji, mereka datang dari berbagai
- penjuru bukan karena kepentingan
- ekonomi, bukan karena ada yang
- membayar. Dia datang ke sana jauh-jauh,
- bahkan dia rela mengorbankan banyak
- biaya, meninggalkan keluarga,
- meninggalkan sawalhadanya, meninggalkan
- usahanya. Datang ke sana apa ikatan apa
- yang mendorong? Ikatan
- iman. Lalu mereka bersaudara di sana
- tolong-menolong. tempat entah siapa,
- dari mana
- asalnya gak pernah kenalan, gak ada yang
- bayar. Dan itu ikatan yang perlu
- dihayati dalam penghayatan yang lebih
- mendalam. Jadi itulah sebenarnya bentuk
- umat yang dibangun oleh
- Nabi yang disebut al-insani al-alamiyah
- menjadi ciri yang kedua sesudah
- arrabbaniyah.
- bahwa Islam agama yang bersifat
- ketuhanan. Ada dua makna di situ.
- Maksudnya bersifat ketuhanan adalah
- bahwa Islam itu agama yang diturunkan
- dari Allah. Bukan dari hasil renungan,
- bukan filsafat, bukan sebuah ideologi,
- bukan hasil kongres, bukan hasil
- kesepakatan, tapi agama yang diturunkan
- dari Allah. Wail haqqu mirbikum.
- Katakan bahwa kebenaran itu datang dari
- Allah, dari Tuhan, dari
- Allah. Famanya fal yukmin, faman safal
- yakfur. Yang mau iman, imanlah, mau
- kufur kufurlah. Karena Allah tidak
- pernah memaksa la iqraha fiddin. Tidak
- ada paksaan dalam agama. Kenapa tidak
- dipaksa? Karena memang manusia sudah
- diberikan hak untuk
- memilih. Kenapa manusia di berikan apa
- keleluasan untuk memilih? Karena manusia
- oleh Allah sudah dibekali dengan
- kecerdasan otaknya, dengan hati nurani,
- dengan akal budinya. Dan Allah juga
- sudah menurunkan perintahnya atau
- wahyunya mengutus nabinya, belum lagi
- ayat-ayat kauniah. Jadi jelas sekali
- maka manusia suruh memilih. Kemudian
- Allah juga memfasilitasi semua keperluan
- hidup kita. Maka kita diberikan kebas
- untuk memilih. Itu luar biasa. Ya. Maka
- jangan salahkan. Kalau dia salah
- memilih, ya pasti akan salah langkah.
- Kalau dia salah langkah, pasti akan
- binasa. Jangan salahkan Allah. Heeh.
- Allah sudah memberikan semuanya
- kok. Ya, itu satu. Maka di sini manusia
- boleh
- memilih. Ya, takdirnya adalah boleh
- memilih. Pilihan sebuah pilihan. Memang
- ada dua takdir yang disebut dengan
- sayarah dan khayarah.
- Kalau yang
- sayarah takdir ketentuan Allah kita gak
- bisa
- milih. Mas Agus jadi orang Jawa kulitnya
- apa ini? Hitam manis apa hitam hitam
- legam. Hitam legam ya. Rambutnya lurus
- jadi lahir dari orang Jawa, orang
- Betawi. Gak bisa milih kita. Kalau milih
- kira-kira milih anaknya siapa?
- Jokowi ya? milih anak raja atau anak
- presiden gitu kan atau anak menteri
- paling enggak anak konglomer tapi kita
- gak bisa milih hidungnya mancung atau
- pesek
- rambutnya brindil atau lurus kita gak
- bisa milih wajahnya tampan atau jelek
- kita enggak bisa milih. Nah itu yang
- disebut dengan sayarah takdir ketentuan
- Allah yang mutlak Allah yang menentukan.
- Dalam hal seperti ini kita gak
- diberikan, tidak ada apa namanya
- tanggung jawabnya. H orang disiksa nanti
- ditanya kenapa kulitmu jadi hitam? Kan
- enggak akan ditanya di akhirat nanti.
- Kenapa waktu di hidungmu pesek? Kenapa
- kamu pendek? Gak akan ditanya itu. Jadi
- tidak mukalaf, tidak ada tanggung
- jawabnya. Nah inilah variasi yang Allah
- berikan sebagai menunjukkan ayat-ayat
- kekuasaan dari Allah Subhanahu wa taala.
- Tapi terhadap hal yang bersifat
- khayarah, pilihan seperti agama itu
- pilihan. Mau memilih mana. Karena Allah
- bentangkan takdir ini seperti peta
- kehidupan. Ini loh jalan ke surga, ini
- jalan ke neraka, ini jalan kemuliaan,
- ini jalan kebinasaan. Kita suruh
- memilih. Kalau memilih jalan yang sesat
- ya tersesat lihat dia. Berarti dia
- memilih jalan ke neraka. Kalau memilih
- jalan yang benar yang dibentangkan oleh
- Allah, ya dia berarti memilih takdirnya
- untuk selamat.
- Jadi kaitannya
- dengan pagi hari ini kemasyarakatan
- Islam dalam tinjauan sosiologi, maka
- yang dibangun Rasulullah khususnya para
- akhir nabi akhir zaman yang diutus untuk
- kafatalinas untuk semua manusia itu
- berarti bahwa ikatan kemasyarakatan
- dalam Islam bukan materi bukan demarkasi
- teritorial, bukan etnis, bukan suku,
- bukan bangsa, tapi akidah di mana saja.
- Kalau dia umat Islam berakidah
- lailahaillallah ya Tuhannya Allah,
- kiblatnya Baitullah, Nabinya Muhammad,
- satu kita ini bantu umat namanya. Jadi
- gak dibatas-batasi, gak
- dikotak-kotak. Yang sering
- mengkotak-kotak itu kan manusia. Heeh.
- Karena warna kulit dikotakkan ini. Ini
- bangsa hitam, kulit hitam. Ini yang
- merasa kulitnya putih. Ha ini bangsa
- lebih mulia daripada yang hitam. Dia
- buat negara buat aturan sendiri. Negara
- di apa? Bumi ini di kavling-kapling. Ini
- batasnya orang hitam gak boleh masuk ke
- sini dan seterusnya. Itu manusia. Tapi
- kalau agama Allah yang menciptakan agama
- universal rahmatan lil
- alamin. Ini yang saya maksud dengan
- kemasyarakatan Islam dalam tinjauan
- sosiologi dia masuk dalam kemenf yaitu
- bentuk masyarakat yang tidak dibatasi
- oleh demarkasi teritorial, demarkasi
- karena etnis dan suku bangsa, warna
- kulit dan sebagainya. Tapi ikatan mereka
- adalah ikatan
- batin. Dan ini muslim.
- Maka kalau ada misalnya muslim di satu
- negeri, satu negara dizalimi oleh
- orang-orang kafir, maka semua terusik.
- Kenapa? Ada ikatan batin, ikatan
- akidah. Palestina yang terus-menerus
- dijajah oleh Zionis Israel dengan biadab
- dan tiada kemanusiaan. Kita terusik
- semua. Kenapa? Karena ada ikatan batin.
- Innamal mukminuna ikhwatun. Faaslikhu
- baina akhwaikum
- wattaqulahum turhamun.
- Ya. Jadi kalau ditinjau
- dari tinjauan sesuluki, maka umat Islam
- masuk dalam kategori umat yang satu,
- umat yang dipang oleh Rasulullah sebagai
- umatan wahidah, kemasyarakatan Islam
- yang ikatannya adalah ikatan akidah
- keimanan karena sama-sama punya
- keyakinan lailahaillallah.
- Lalu yang kedua bentuk masyarakat yang
- bagaimana menurut tinjauan sosiologi ada
- masyarakat yang disebut masyarakat Hesel
- saf dalam bahasa Indonesia disebut
- masyarakat Patembayan.
- Patembayan. Patembayan yaitu satu bentuk
- masyarakat yang mereka hidup bersama
- mengaku nilai-nilai tertentu. Tapi
- mereka berhimpun atas dasar karena
- kepentingan.
- Kepentingan banyak. Kepentingan
- ekonomi, ada kepentingan politik,
- kekuasaan, ada kepentingan dan
- kepentingan-kepentingan
- lainnya. Jadi ini berbeda. Mereka
- berkumpul karena ada kepentingan, saling
- menguntungkan. Misalnya masyarakat
- kota hidup mereka bersama-sama,
- berdampingan.
- bisa saja tersenyum, bisa saja
- bersama-sama, bisa seolah-olah seperti
- saudara, sepanjang dia masih bisa
- mendapatkan saling memanfaatkan dari
- segi
- materi. Mas Agus lewat depan
- restoran ada
- [Musik]
- pramuniaganya. Mesti pramuniaga itu
- dibuat bukan dibuat dicari
- yang cantik. Kalau
- perempuan dicari yang senyumnya aduh.
- Hai. yang memikat, yang
- ramah, kita ditawari suruh
- masuk atau di toko atau di mana saja.
- Monggo, Mas, mampir kalau di
- Jawa. Silakan,
- Pak. Masuk kita ke restoran umpamanya.
- Begitu kita duduk mesti segera itu
- datang pelayannya, pramuniaganya
- tadi ditawari kita, "Bapak mau makan
- apa? Minum apa?" Disodori berbagai macam
- menu. Apa yang kita minta mesti dikasih.
- dikasih ucapan kita itu diperhatikan
- betul. Mau minta minum ini, mau minta
- makan ini, minta tambah, minta segala
- macam akan dilayani dengan ramah.
- Betul. Itu karena belum bayar.
- Nah, tapi mereka lakukan itu karena apa?
- Kan ada kepentingan di Bali itu kan ada
- mani maninya ada fiti fulus ada fulus
- mafi fulus
- mampus enggak ono duite matek ya ituang
- ja bilang jadi duit ini karena duit
- ramahnya itu karena luar
- biasa sudah habis minta lagi sini dek
- sini minta tambah lagi ya menu ini mesti
- segera dengan cepat gak ditunda-tunda
- besok atau apa gak baik dengan baik
- terima kasih Ih, Pak. Marah kita karena
- kurang mesti dia terima kan ada
- fulusnya. Tapi jangan coba-coba begitu
- habis makan semuanya Anda keluar tidak
- bayar. Yang ramah menjadi
- marah. Nah, ini ini karena
- kepentingan dari segi ekonomi. Maka
- masyarakat Patembayan, masyarakat Hesels
- seperti ini adalah contohnya masyarakat
- kota.
- Kita pergi ke
- terminal mesti segera disambut. Mau ke
- mana, Pak? Mau ke mana, Pak? Ditunjukin
- itu. Kadang-kadang barang kita dibawain
- sama dia. Ramah
- benar. Di kereta juga begitu dibukakan
- pintunya apa suruh masuk dengan
- hormat. Kereta sekarang ditawari makan
- ini, tawari makan itu. Karena
- bayar. Jangan coba-coba. enggak bayar
- mesti
- dikeluarin. Nah, ini masyarakat sehat
- jadi berbeda sekali. Nah, kalau
- kepentingannya adalah kepentingan
- politik, nah ini lebih
- lebih heboh lagi. Coba lihat senyumnya.
- Kenapa dia tersenyum? Karena memang
- sama-sama
- kepentingan. Kepengin duduk di
- singgahsana kekuasaan.
- Coba kalau musim seperti ini mau
- pilada, pilpres, pilpil gitulah ya
- banyak itu mesti ramah-ramah orang.
- Kenapa dia ramah? Karena pengin
- dipilih. Baik dia kadang-kadang ngasih
- ini ngasih itu. Tapi ada udang di balik
- peyek. Enak, Ustaz. Ya, kalau udang di
- balik peyek enak. Tapi udang di balik
- batu itu yang enggak enak. Mesti coba
- karena belum naik. Coba begitu kita
- pilih, dia jadi legislatif.
- Kadang-kadang lupa sama yang milih
- janji-janji muluk nanti akan kami begini
- kami perhatikan rakyat ini karena saya
- memang tampil sini adalah untuk
- kepentingan rakyat, kemakmuran,
- kesejahteraan dari segi hukum
- tegakkan itu kan janji karena ada
- kepentingan. Begitu sudah naik
- kadang-kadang bukan kadang-kadang yang
- kita lihat kita rasakan suka
- lupa sudah dan sebelum sebelum dipilih
- dan sesudah dipilih beda. Heeh. Coba
- kita mendekat sama dia. Eh, Pak, gimana
- Bapak kabarnya mau nyalonnya? Iya, Pak.
- Oh, iya Dik. Maris ini, Dek. Oh, ramah.
- Tapi sudah terpilih. Kita mau bertemu
- karena ada kepentingan. Pakai ajudan ya.
- Pakai ajudan, pakai janjilah, inilah,
- macam-macam. Karena apa? Karena dia
- ramah, dia berbuat baik, dia bertemu
- karena ada kepentingan. Heeh. Ini bentuk
- masyarakat
- patembayan
- half. Ya, jangan coba-coba. Kalau enggak
- ada kepentingan singkirkan. Jadi begitu
- ketemu dia bersahabat dilihat jidatnya
- kira-kira ada untungnya enggak? Ada
- gambar duitnya enggak. Kalau enggak ada
- gambar duitnya maka
- disingkirkan. Lain kalau dengan sistem
- masyarakatnya dibangun oleh Rasulullah.
- itu karena akidah, karena keimanan.
- Kasih sayang itu karena keimanan. Mereka
- bertemu karena keimanan, mereka
- bersahabat karena
- keimanan. Seperti orang sedang umrah itu
- ada nenek-nenek yang mesti ditolong pad
- entah nenek
- siapa ya. Masyaallah.
- Jadi inilah luar biasa. Saya pernah
- tahun 92
- dulu. Saya sengaja dalam haji ini ingin
- nampak tilas jalan kaki
- dari dari
- Muddalifah ke Mina. K dari Indonesia ke
- Makkah. Iya. Dari Makkahnya.
- Kalau teman-teman dari Makkah ke Mina,
- Mina ke Arafah, balik lagi Muzdalifah ke
- Mina ke Makkah itu jalan kaki. Saya coba
- jalan kaki dari Muzdalifah bersama
- rombongan
- banyak. Di tengah perjalanan saya
- berjumpa nenek-nenek. Namanya
- nenek-nenek kan tua ya, sudah tua di
- atas 70 tahun sendiri.
- Allahu Akbar. Saya bawa rombongan banyak
- mimpin. Nah, ini ujian buat saya nih.
- Saya dekati. Kalau saya enggak peduli,
- kan enggak usah ngomong keimanan lah.
- Ngomong kemanusiaannya di mana. Maka
- saya terusik, terpanggil. Saya dekati,
- saya tanya, "Diam aja, Ibu sama siapa?
- Mana rombongan?" Diam aja. Barangkali
- satu masih satu rumpun Melayu apa?
- Malaysia. Maj mana rombongan tuh? Ini
- orang Indonesia ya? Enggak tahu ngomong
- Indonesia. Diam. Pas diajak ngomong
- Malaysia juga diam. Orang mana nih? Diam
- saja. Nah, saya kan gimana galau hati
- saya. Kalau saya tinggal di mana
- kemanusiaan saya? Apalagi agama saya,
- keimanan saya di mana, ukhuwah saya di
- mana, kepedulian saya di mana. Tapi
- kalau mau saya perhatikan harus saya
- bantu. Bagaimana caranya? Saya
- nyari-nyari barangkali ada gerobak atau
- apa yang bisa saya bawa gitu. Saya
- naikkan saya der. Kalau digendong kan
- jauh. Iya. Saya lagi galau, lagi bingung
- seperti itu. Ada yang ngikut saya
- kebetulan orang Malaysia. Orang Malaysia
- tapi orang Jawa. Jawa. Malaysia
- ngomongnya Jawa melolo tapi orang
- Malaysia ya orang Malaysia dijak wong
- melayu gelem ngomonge jawo jawo
- Purworejo. Oh Purw karena nek kakeknya
- dulu transmigrasi transmigrasi ke sana
- bapaknya lahir di sana dia lahir sana
- tapi mungkin karena komunitasnya Jawa
- jadi ngomongnya Jawa terus apa dia
- bilang melihat saya seperti itu sebagai
- pimpinan rombongan banyak di belakang
- saya dia berpikir care
- dia. Pak, Pak Abu ben aku
- wae. Kalau Pak Abu nanti yang ngurusi
- ini, nanti pasukan ni pada berontak
- semua. Biar saya saja saya yang bimbing
- nenek ini. Bapak pimpin ini rombongan
- untuk lempar
- jumroh. Ya Allah, dalam hati saya kok
- ada orang di abad modern seperti ini.
- Padahal dia bukan pere-pere loh, dia
- insinyur penerbangan keluaran London ya.
- Ee Inggris keluaran Inggris. Jadi yang
- kemarin Ustaz bukan yang dulu tahun 92.
- Oh ini haji cerita haji kemarin umrah.
- Padahal dia begitu tapi pedulinya luar
- biasa kok ada orang baik seperti ini.
- Saya menangis dengan melihat seperti
- itu. Saya peluk dia. Terus saya berdoa,
- "Ya Allah berkati hamba Allah ini
- mudahkan." Sudah saya merasa lepas dari
- belengku karena saya terikat. Jadi sudah
- ya saya serahkan pada antum, antum
- bimbing tolong orang tua ini sampai
- nanti ke Mina nanti kita ketemu di sana.
- Saya pamit jalan. Yang saya pimpin
- muda-muda semua. Saya waktu umur 40
- tahun kan lagi Bambang-bambangnya lagi
- jalan
- cepat. Apa yang
- [Musik]
- terjadi? Begitu sampai Mina di antara
- jutaan orang ketika lempar jumlah bukan
- seperti sekarang masih semerawut. kanan
- kiri lempar semaunya lah. Apalagi
- orang-orang yang liar maunya egonya
- muncul di situ. Ketemu
- dia ini ya Malaysia tadi namanya Nur
- Khalis. Loh, Mas, kok sampean sudah
- sampai sini? Saya sudah lempar jumroh,
- Pak. Saya sudah keh Hah? Loh, kok iso?
- Ya enggak tahu. Terus nenek itu
- mana? Nenek itu, Pak, jalannya di Mak
- dimik tahu. Dimakimi bahasa Indonesianya
- opo? Diik sedikit-sedikit ya.
- Sedikit-sedikit banyak lama-lama di
- Madimi itu langkahnya ya pelan. Satu dua
- langkah tiga berhenti. Satu dua langkah
- tiga langkah
- berhenti. Itu dimak-dimik jalannya loh.
- Terus sekarang mana? Begitu sampai Mina
- hilang. Pak nenek tadi Allah. Inn
- lillahi wa inna ilaihi rojiun. Saya
- matin ini uduk karepe dewe. Ini
- jangan-jangan bukan manusia.
- Jangan-jangan ini malaikat menguji saya.
- menguji kepedulian saya. Ya Allah, kalau
- saya tidak peduli tadi, tidak care sama
- dia, tidak ada rasa apa ya, kasih
- sayang, tidak ada perhatian, saya akan
- nyesal seumur hidup saya. Walaupun saya
- tidak bisa langsung bimbingnya, tapi
- saya memberikan solusi dan ada yang mau
- membimbing. Lah, terus kamu kan bersama
- istri. Iya, Pak. Nah, istri saya yang
- cerewet waktu saya mengambil sikap untuk
- membimbing si nenek tadi, istri saya
- yang ngomel. Biasa kan perempuan lebih
- banyak ngomelnya ya daripada laki-laki.
- Laki-laki biasanya pasangannya kalau
- laki-lakinya diam perempuan cerewet
- biasanya begitu. Kalau yang perempuannya
- pendiam suaminya yang cerewet. Nah, ini
- suaminya pendiam, istrinya yang cerewet.
- Heeh. Melihat seperti itu tentu saja
- teruji kan. Apa ini ketinggalan harus
- bimbing satu langkah, dua langkah
- berhenti lama nanti langkah lagi ngomel
- istrinya. Kamu sih isok pahlawan mau ini
- mau itu. Suaminya bilang, "Dek, kita
- lagi manasik. Sabar, diam dia. Nanti
- melangkah lagi selangkah, dua langkah
- ngomong lagi, sih jadi begini. Lama lagi
- ketinggalan. Nanti gimana? Nanti gimana,
- Dik? Kita ini lagi haji harus sabar
- gitu.
- Tapi anehnya kenapa dia lebih dulu
- daripada saya?
- Padahal jalan yang dilalui sama ya. Sama
- jalannya sama jalannya sama. Seharusnya
- kalau saya lebih dulu saya nunggu
- mestinya nunggu dia belakang. Nah inilah
- antara lain bukan kata orang saya
- ngalaminya sendiri. Jadi memang di sana
- betul-betul cerminan hati. Jangan-jangan
- ini malaikat yang nguji saya aja.
- selangkah dua langkah itu mungkin 100
- langkah langkahnya malaikat kali ya
- enggak terasa orang jadi dia duluan. Nah
- si istri gimana? Istrimu mana? Saya
- bilang. Nah itulah Pak resikonya orang
- cerewet kata suaminya ketinggalan.
- Karena dia begitu lempar jumroh
- terpental dia jauh hilang. Oh ya Allah
- ya Rabb. Memang suaminya hebat. Saya
- salut belajar sama dia.
- Kesabarannya, ketaatannya,
- keikhlasannya. Hilang dalam artian
- hilang yang enggak ketemu. Hilang. Bu,
- hilang artinya hilang dari pandangan
- kita. Tidak tidak di dekat kita lagi.
- Entah ke mana ditabrak sama arus orang
- mau lempar jumbroh. Tapi tapi dia
- tenang.
- Saya bilang enggak saya pimpinan
- rombongan. Saya harus bertanggung jawab.
- Saya belum lempar jumlah sebelum saya
- cari istrimu. Apa dia bilang? Wis, Pak.
- Tenang aja. Itu urusan saya. Itu resiko
- istri cerewet
- katanya.
- Subhanallah. Akhirnya ya Allah ini orang
- subhanallah. Ya sudah kalau gitu saya
- tak lempar jumrah. Saya lempar jumrah.
- Ternyata ketemu juga akhirnya.
- Nah, jadi kembali. Kenapa kita mau
- menolong dia? Karena akidah, karena
- keimanan.
- Gak ada
- pamrih. Banyak cerita-cerita lain. Jadi
- cerminan orang umrah dan pergi haji
- inilah gambaran sebuah masyarakat Islam
- yang kalau dalam tinjauan sosiologi dia
- masuk dalam kategori hemainf atau
- paguyuban. Satu masyarakat yang dibangun
- oleh Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam didasarkan pada akidah, direkat
- oleh ukhuwah islamiah, tidak dibatas
- oleh demarkasi teritorial, tidak
- dibatasi oleh karena etnis dan suku
- bangsa, tapi rahmatan lil alamin. Sesuai
- dengan firman Allah, wama arsalnaka illa
- rahmatan lil alamin. Wama arsalnaka illa
- kafat linas basyir wazir.
- Berarti memang Nabi Muhammad untuk semua
- umat yang dibangun umat sejagat tidak
- dibatasi kotak-kotak tertol yang
- mengkotak kotak ini Islam Malaysia,
- Islam Indonesia, Islam Brunei, Islam
- Asia, Islam India, Islam itu kan
- manusia. Kadang-kadang kita mau masuk
- negeri Islam saja harus persyaratan
- macam-macam, kadang-kadang ditolak dan
- sebagainya. Nah, padahal Allah membangun
- manusia yang ee diutus Nabi Muhammad
- membangun umat adalah umat yang satu,
- umat yang didasarkan pada ikatan batin
- keimanan. Wallahuam bissawab.
- Baik ikhwan dan akhwat yang dirahmati
- Allah subhanahu wa taala. Demikian tadi
- cerita oleh-oleh pengalaman Haji Ustaz
- Abul Hidayat saat beliau naik haji.
- Kemudian ada pula cerita atau pemaparan
- tentang tema kita di pagi hari ini.
- Kemasyarakatan Islam dalam tinjuan
- sosiologi. Ada masyarakat Baguyuban, ada
- masyarakat Patembayan, dan ada
- masyarakat Islam. Baik, kita
- langsung kita jeda dulu atau langsung,
- Ustaz? Langsung, ya. Waktunya tinggal
- sedikit. Baik, kita langsung, Ustaz, ya.
- Baik dan kita awali pertanyaan pertama
- ini dari hamba Allah di Jakarta.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Baik, Ustaz.
- Saat ini kenapa masyarakat Islam susah
- untuk bersatu dan lebih suka
- gontok-gontokan, terutama ketika jelang
- tahun politik?
- Iya, saya kira sebenarnya sudah tahu
- jawabannya mungkin yang nanya itu. Dan
- inilah problema terbesar umat Islam. Hm.
- Dan tidak dijadikan tema besar yang
- sangat strategis soal persatuan dan
- kesatuan
- umat. Kadang-kadang beragama kalau sudah
- pergi haji, sudah salat, sudah tekun,
- sudah zakat, sudah dianggap agama telah
- sempurna. He. Tapi tidak memperhatikan
- dari sisi persatuan dan kesatuan. Ini
- yang disuarakan oleh
- Rasil untuk Islam yang satu. Ini sangat
- strategis. Dan abad ini bagi umat Islam
- bukan abad kemiskinan umat, bukan
- keterbelakangan dari segi intelektual,
- kebodohan. Bukan. Coba lihat umat Islam
- dari segi SDM jumlah jumlah ya. Dari
- segi jumlah heeh itu luar biasa. 1,5
- miliar bahkan konon katanya hampir 2
- miliar.
- Dari segi kecerdasan SDM-nya tidak kalah
- dengan mereka. Banyak orang-orang
- pakar-pakar Islam dari segi kekayaan.
- Masyaallah. Hitung aja orang-orang pergi
- haji dan umrah. Iya. Hitung aja waktu
- lebaran berapa triliun uang umat Islam
- di Indonesia khususnya. Jadi bukan
- miskin. Bahkan orang Arab itu disumbang
- oleh orang-orang Indonesia. Coba
- dihitung tuh orang umrah berapa? Terus
- berjuta-juta. 1 bulan bisa berapa? 1
- tahun berapa.
- Jadi bukan masalah miskin, bukan masalah
- tapi masalah persatuan dan
- kesatuan. Nah, ini orang-orang di luar
- Islam itu tahu betul. Maka strategi
- mereka yang pernah dilontarkan oleh Tuan
- Zimmer, seorang doktor teolog, dia
- mengatakan, "Jangan biarkan umat Islam
- bersatu kalau kamu ingin menang terhadap
- mereka."
- penjajahan tidak mungkin untuk Eropa,
- tapi dalam bentuk mengalahkan umat
- Islam, satu kuncinya, jangan biarkan
- umat Islam bersatu. Nah, ini kalimat ini
- lalu dikembangkan berbagai macam cara.
- Dibuatlah kotak-kotak umat Islam. Tiap
- kotak itu diberikan gula-gulanya,
- bunga-bunga supaya orang pada masuk ke
- kotak-kotak ini, masuk ke
- kubu-kupu dengan berbagai macam teori
- yang dikemas. Demikian rupa. Tapi
- intinya mereka memecah belah umat Islam
- sehingga pada waktunya mereka terjadi
- kepentingan tadi. Nah, ini saya sangat
- disayangkan.
- Padahal kalau umat kembali pada pimpinan
- Allah dan Rasul mendengar ayat-ayat
- Allah watasimu bihablillahi jami
- w animudin wala tatafarqu f w
- takunuadina tafarqualafu m ba'di ma
- jaahumul bayin dan
- seterusnya umat Islam kembali satu
- akidahnya diperkuat satu umat Islam
- persatuan dan
- kesatuan coba mau ngomong P. Heeh. Kalau
- soal pil pilek ya, pilek ya? Pilek
- pilihan legislatif. Legislatif. Pilek
- kan? Heeh. Bukan selesma. Bukan pilek.
- Kita tampilkan orang-orang cendekiaman
- di antara kita. Kita sepakatnya ini aja
- kamu tampil depan kamu tampil mawakil
- umat Islam gak usah berebut. Kita
- tampilkan mau pilpres seperti ini. Alah
- kecil untuk menang itu amat sangat. Tapi
- karena tahu strategi itu di demikian
- rupa, jangan biarkan umat Islam bersatu.
- Konyolnya lagi kita mau jadi boneka,
- jadi wayang yang mau diadu domba seperti
- ini. Dib pecah-pecah itu problem
- terbesar. Maka abad ini bagi umat Islam
- problemannya adalah persatuan dan
- kesatuan. Hm. Insyaallah kalau ini pasti
- kejayaan itu ada. Tapi kalau persatuan
- dan kesatuan ini diabaikan, dianggap
- tidak
- strategis, dianggap bukan prinsip dan
- bukan syariat, sekalipun kita hebat
- semacam apapun, tidak akan mungkin
- kejayaan itu ada. Karena Allah
- berfirman, "Walladzina kafaru ba'duhum
- auliya ba' illa taf'aluhu takun fitnatun
- fil ard wa fasadun kabir." Orang-orang
- kafir mereka kompak dan bersatu dalam
- persekongkolan
- internasional yang disebut dengan
- konspirasi
- global. Karena menganggap Islam itu
- bahaya menurut mereka. Lalu dibuatlah
- animo, dibuatlah ini, dibuatlah
- macam-macam. digambarkan seolah-olah
- umat itu adalah bahaya ekstrem
- fundamental yang membahayakan. Jadi
- harus
- diperangi itu mereka bersekongkol dalam
- semua potensi dan
- kekuatan. Illa tafaluhu takun fitnatun
- fil ard wa fasadun kabir. Jika kamu
- tidak kompak dan tidak bersatu, maka
- terjadi fitnah di muka bumi dan
- kerusakan yang besar. Itu ayat Allah
- yang berfirman. Jadi, Mas yang bertanya
- Pak atau Mas atau tuan atau siapa memang
- ini problema terbesar umat Islam di abad
- ini adalah masalah persatuan dan
- kesatuan umat. Ini yang mesti kita
- galang insyaallah. Dan bagaimana
- persatuan dan kesatuan umat itu? Kalau
- karena kepentingan kita gak akan pikan
- bersatu. Tapi kalau panggilan akidah
- seperti yang dibangun oleh Rasulullah,
- masyarakat Hemainf tadi, masyarakat yang
- diikat oleh ikatan akidah,
- insyaallah umat sama akan jaya. Heeh.
- Jadi, jadi kuncinya adalah bersihkan
- niat ya. Artinya kita jangan sampai
- bersatu karena kepentingan, karena
- enggak akan pernah nyambung bersatunya
- karena akidah. Karena agama bersatu
- karena akidah. Coba
- peristiwa apa? 212. Iya.
- Ya, demo 212 itu karena kepentingan apa
- karena akidah? Karena keimanan. Karena
- keimanan. Ketika heboh masalah kalimah
- lailahaillallah, bendera yang dibakar,
- alasannya bendera orang lain dan
- seterusnya. Heeh. Bangkit umat karena
- akidah, seluruh merata di mana-mana.
- Karena ikatan akidah. Jadi, kekuatan
- dahsyat itu karena kekuatan akidah. He.
- Kalau umat Islam tidak kembali pada
- kekuatan akidah, daya tarik karena
- keimanan, apalagi hanya dibuai oleh
- kepentingan-kepentingan, inilah yang
- menjadi masalah. Tapi kalau kembali pada
- panggilannya itu adalah panggilan
- akidah, panggilan kalimah
- lailahaillallah umat sama umat yang
- satu, insyaallah kejayaan Allah akan
- turunkan rahmat dan berkah. Aljamaatur
- rahmah wal furqatu adab. Berjama itu
- rahmat dan berfirqah-firqah itu azab.
- Baik, Ustaz. Kemudian pertanyaan dari
- Bapak Shihin di Demak. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Baik, bagaimana mengamalkan
- ilmu yang terkandung dalam Quran surah
- Al-Hujurat yang saat ini tengah dibahas
- ayat 13 dalam kehidupan sehari-hari?
- Yaitu tolong-menolong dan persaudaraan
- berdasarkan iman sehingga seorang muslim
- mendapatkan predikat takwa.
- Iya. kita ittiba kepada
- Rasul. Akidah, ibadah itu harus
- dilaksanakan. Dalam hal
- kemasyarakatan kita mesti kompak dan
- bersatu. Kita mungkin boleh berbeda.
- Orang Quran juga menyebutkan suuba
- waqoba berarti ada perbedaan. Tapi
- perbedaan yang ada itu tidak melahirkan
- taasub asobiah. Fanatisme
- kelompok, fanatisme golongan. Ini yang
- membahayakan penyakit umat di
- sini. Toleransi ukhuwah kal jasadil
- wahid itu yang
- diterapkan dalam kehidupan. Sehingga
- kalau urusan kepentingan umat Islam,
- kita kompak semua
- bersama-sama. Umat Islam tidak bisa
- dipisah-pisah, dipecah-belah hanya
- karena kepentingan-kepentingan atau
- alasan lain. Dalam keadaan suka dan duka
- umat Islam bersatu kompak.
- Kita diajari salat lima waktu berjamaah.
- He. Tapi apa? Keluar dari masjid kita
- masing-masing. Padahal lima kali sehari
- semalam itu hidup terpimpin, hidup
- berjamaah, berjamaah dalam salat,
- berjamaah juga kita terapkan aplikasi
- dalam kehidupan. Sehingga nikmat kita
- ada yang salah kita tawu bilhaq, wat
- tawasau bisabr wat taw bil marhamah dan
- seterusnya. Jadi kalau itu kita kita
- praktikkan salat lima waktu dalam
- kehidupan
- bermasyarakat ya kita akan selamanya
- begini terus dicuil-cuil sana cuil sini.
- Apapun alasannya kalau kita tidak
- bersatu gak mungkin main bola saja kalau
- enggak kompak gak jalan. Messi yang
- disebut pemain terbaik coba suruh main
- sendiri kawannya gak kompak. Heeh. Gak
- akan mungkin. Iya. Jadi kekompakan
- kebersamaan boleh kita berbeda, tapi
- kita harus tetap satu. Kalau sudah
- urusan akidah dan urusan kepentingan
- Islam dan muslimin, insyaallah satunya
- umat Islam itu tidak seperti yang
- digambarkan oleh orang-orang kafir.
- Seolah-olah bahaya mengancam mereka.
- Salah. Karena besarnya umat Islam itu
- tidak seperti besarnya raksasa, buto
- hijau, betoro. Bukan tapi besarnya
- umatam kasajarin
- thyibatin asluha sabitu wauha fisama tu
- ukulaha.
- Dia seperti pohon besar, akarnya kuat
- kokoh
- pendiriannya mampu menumbuhkan batangnya
- menjulang ke angkasa. Martabatnya
- tinggi, derajatnya tinggi, sifat
- kemanusiaannya, toleransinya,
- martabatnya, akhlaknya makin tinggi,
- makin nilainya makin tinggi dan mampu
- menumbuhkan cabang ranting yang daun
- yang rimbun tempat berteduh.
- Siapapun berteduh di bawah pohon,
- apalagi di terik matahari yang panas,
- terik peradaban yang panas, dia akan
- merasakan kesejukan. Bernaung pada
- kalimah lailahaillallah di bawah
- panji-panji Islam akan merasakan
- nikmatnya itu Islam yang rahmatan lil
- alamin. Dan pohon itu setiap musim
- memberikan buah, memberikan kontribusi
- positif. Jadi, enggak usah khawatir,
- orang kafir gak dipaksa kok suruh Islam.
- Heeh. Asal kita bertetangga baik.
- Ini menikmati lebaran. Yang menikmati
- juga banyak orang kafir menikmati
- untungnya orang lebaran. Orang haji juga
- nak monopoli kita pesawatnya mesti
- pesawat kita gak. Silakan aja dalam
- berbisnis, dalam bermasyarakat asal
- jangan memerangi
- kita. Itu nyatanya umat Islam perang.
- Betul perang, tapi perangnya bukan
- perang invasi. Bukan perang militer
- untuk menduduki satu daerah menguasai
- mereka. Bukan. Karena diperangi maka
- umat Islam membela harga dirinya. Karena
- mereka melecehkan kita tidak mau damai
- atau mengkhianati perdamaian maka
- terjadi perang. Di dalam Islam gak boleh
- mengganggu tapi juga tidak mau diganggu.
- Tidak boleh mengawali memerangi
- duluan. Kenapa perang terjadi? Karena
- diperangi. Itu prinsip Islam. Jadi gak
- perlu khawatir orang kafir gak perlu
- cemas gelisah karena besarnya umat
- Islam. Insyaallah akan menaungi mereka.
- Asal mereka mau berteduh bawah panji
- kalimah lailahaillallah walaupun
- agamanya ber silakan. Dia akan menikmati
- sejuknya suasana dan bahkan menerima
- buah setiap musim tanpa diminta. He he.
- Insyaallah. Insyaallah. Baik. Dan kita
- ke pertanyaan terakhir, Ustaz. Ini dari
- pendengar kita yang ada di Batam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Baik, Ustaz.
- Saya ingin bertanya. Bagaimana jika
- seorang muslim menyebut kafir kepada
- sesama muslim, tapi ini hanya guyonan
- secara tidak sadar dan tidak sengaja.
- Apakah berdosa dan ada efeknya? Tidak.
- Dalam ngomong kok ora sengoco piye? Mok
- guyon-guyon sing apik. Kalau bercanda,
- bercanda yang benar. Islam kan mengatur
- begitu. Jaga lisanmu. H yang menjadikan
- orang itu masuk neraka itu lisan antara
- lain lidah. Kata Nabi, ada satu kalimat
- yang dia tidak sadar pada kalimat itu.
- Iya, sangat berbahaya menyebabkan orang
- meluncur ke neraka selama 70 tahun
- karena lidah. Nah, jadi jangan main-main
- kalimat kafir, kalimat musyrik, kalimat
- walaupun dalam
- bercanda. Rasul juga suka bercanda, tapi
- candanya itu adalah kalimat-kalimat yang
- benar. Ada
- nenek-nenek datang pada Rasulullah, "Ya
- Rasulullah, boleh enggak saya masuk
- surga?" Nabi bercanda di surga enggak
- ada
- nenek-nenek. Nangis nenek-nenek tadi.
- Artinya apa? Emang di surga tuh yang
- nenek-nenek pun jadi muda belia gitu
- loh. Kan benar tuh kalimatnya. Jadi
- kalau bercanda, gunakanlah
- kalimat-kalimat yang baik. Jangan
- menggunakan kalimat-kalimat yang bisa
- mungkin enak kita ucapkan tapi tidak
- enak bagi yang mendengarnya. Iya.
- Walaupun butuh bercanda ya, jangan
- bercanda itu yang tetap yang benar
- karena orang beriman itu selalu terjaga.
- Wallahuam. Baik. Wallahuam. Baik. Terima
- kasih Ustaz Abul. Ee demikian ikhwan dan
- akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa
- taala tausiah kita di pagi hari ini
- bersama beliau. Dan sebelum ditutup
- kesimpulan apa yang bisa disampaikan
- Ustaz? Baik. Alhamdulillah. Ayyuhal
- ikhwah rahimakumullah. Para pendengar
- setia radi
- silaturahim dari apa yang saya
- sampaikan. Kalau benar dari Allah, kalau
- keliru dari saya mungkin karena
- keterbatasan ilmu. Tapi itulah kenyataan
- yang ada bahwa kita diciptakan
- berbeda, punya kepentingan, punya lain
- dan sebagainya. Tapi tolong satunya
- Islam ini harus menjadi hal yang sangat
- prinsip dan pelajaran yang kita dapat
- dari orang pergi haji, orang pergi
- umrah, salat berjamaah dan seterusnya
- itu semua dia lakukan karena panggilan
- akidah mestinya kita terapkan dalam
- kehidupan. He. Jangan karena kepentingan
- kita beragama, tapi kepentingan dimasuk
- sini adalah kepentingan hanya mendapat
- rida Allah. yang menjadi motivasi dan
- orientasi hidup kita. Karena ikatan
- batin dan tuntutan kalimah
- lailahaillallah. Kita bersatu karena
- Allah insyaallah. Demikian yang bisa
- saya sampaikan. Mohon maaf segala
- kekurangan kekeliruan. Wabillahi taufik
- walhidayah. Asalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih
- Ustaz Tabul. Ikhwan dan akhwat. Terima
- kasih Anda sudah menyimak acara kami
- dari awal hingga akhir. Terima kasih
- untuk Ibu Liza, Ibu Hani, dan juga Bapak
- Iskandar di Jagakarsa, Bapak Amril di
- Tangerang. Kami mohon maaf pertanyaan
- dari Bapak dan Ibu belum sempat kami
- sampaikan kepada Ustaz dan semoga Allah
- mencatatnya sebagai amal saleh. Saya
- Agus ditemani Zain dan juga Muhammad
- Fahri di meja operator serta mahasiswa
- PKL kita ada Hafiz dan juga Hanif undur
- diri. Billahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Tepuk tangan]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Musik]