Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:04 [musik] 0:11 [musik] 0:15 Bismillahirrahmanirrahim. 0:18 Assalamualaikum warahmatullahi 0:20 wabarakatuh ikhwan akhwat 0:22 rahimakumullah. 0:24 Alhamdulillah kita dipertemukan kembali 0:26 di acara perlindungan anak 0:29 yang bersama 0:32 Dr. Hamid Fadilima. 0:34 Kita akan membahas sesuatu yang 0:36 merupakan 0:38 lanjutan dari bahasan 0:41 di ke pertemuan kita sebelumnya yaitu 0:44 terkait dengan menguatkan ekosistem 0:47 perlindungan anak di tingkat eh desa dan 0:51 atau kelurahan. 0:53 Tidak lupa salam selawat kita lantunkan 0:55 untuk junjungan umat kekasih kita 0:58 Muhammad Rasulullah sallallahu alaihi 1:00 [berdehem] 1:01 Semoga kelak kita mendapatkan syafaat 1:03 beliau dan dipertemukan dengan beliau di 1:05 saat yang sangat kita rindukan di yaumil 1:07 akhir. 1:09 Ikhwan akhwat, Dr. Hamid sudah siap di 1:11 sini, kita sapa beliau. Assalamualaikum 1:14 warahmatullahi wabarakatuh. 1:15 Waalaikumsalam. Apa kabar Bunda? 1:18 Alhamdulillah. 1:19 Jadi memang perlu dilanjutkan karena 1:22 masih banyak hal-hal yang rasanya 1:24 kurang belum lengkap ya terkait dengan 1:27 ekosistem perlindungan anak-anak. Ini 1:29 kalau enggak salah bagian ketiga ya 1:32 berarti ya? Iya, insyaallah. 1:34 Baik, kita simak ikhwan akhwat bagaimana 1:37 menguatkan ekosistem perlindungan anak 1:40 untuk eh wilayah desa atau juga di 1:45 kelurahan bersama Dr. Hamid Fadilima. 1:48 Silakan. 1:49 Baik, terima kasih Bunda. 1:51 Bismillahirrahmanirrahim. 1:53 Assalamualaikum warahmatullahi 1:56 wabarakatuh. Waalaikumsalam. Para 1:58 pendengar Radio Rasio dan TV Rasio di 2:02 mana saja berada. Alhamdulillah 2:05 kita masih diberi kesempatan oleh Allah 2:07 untuk berbagi informasi. Insya Allah 2:10 kita akan melanjutkan pembahasan 2:13 kita yaitu terkait dengan 2:17 ekosistem 2:18 perlindungan anak di tingkat 2:22 desa dan kelurahan. 2:26 Ayahanda dan Bunda sebagaimana kita 2:29 telah sampaikan pada beberapa minggu 2:33 yang lalu 2:34 Tadi enggak masuk? bahwa Oh, cuma 2:36 perlindungan anak di tingkat desa itu 2:39 menjadi penting untuk kita coba 2:44 bahas bersama-sama 2:46 dan ini menjadi sangat penting juga bagi 2:49 Ayahanda dan Bunda untuk lebih 2:53 peduli lagi. Tapi yang menjadi penting 2:56 itu kalau 2:59 kita memperhatikan 3:02 apa yang dimintakan oleh 3:06 pasal 72 3:09 ayat 3 3:11 dari huruf A sampai huruf H 3:14 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 3:18 banyak peran yang dapat diambil oleh 3:21 setiap orang dewasa 3:24 yang ada di desa atau yang ada di 3:26 kelurahan 3:28 terhadap anak-anak mereka yang ada di 3:30 sekitar mereka. 3:32 Tapi yang paling penting yang perlu kita 3:34 dorong itu 3:35 bagaimana memastikan setiap anak yang 3:39 ada di depan kita adalah anak kita 3:42 sendiri dan ini yang kemudian yang perlu 3:45 kita bangun bersama-sama. 3:49 Pada pembahasan sebelumnya kita sudah 3:52 sampai ke 3:54 bagaimana memastikan pemenuhan hak anak 3:58 dari aspek kesehatan. 4:01 Pada pertemuan kali ini, 4:03 kita coba eh 4:07 menaruh perhatian 4:09 terkait dengan pemenuhan hak anak dari 4:13 aspek pendidikan, 4:15 pemanfaatan waktu luang dan kegiatan 4:18 budaya. Dan kemudian nanti kita 4:21 lanjutkan juga terkait dengan 4:24 aspek perlindungan khusus. Ini aspek 4:27 yang 4:28 kedua dari yang pertama itu pemenuhan 4:31 hak anak, yang kedua itu adalah 4:33 perlindungan khusus. Nah, ini yang 4:34 kemudian kita coba 4:36 eh upayakan kalau bisa informasi ini 4:40 kita coba tuntaskan pada pertemuan ke 4:43 ketiga ini. 4:45 Ayahanda dan Bunda, apa saja yang perlu 4:48 kita eh pas tikan terhadap 4:52 pemenuhan 4:53 hak anak atas pendidikan. 4:57 Nah, di sini kita juga perlu eh menaruh 5:01 rasa hormat kepada program eh presiden 5:05 yang kemarin telah meluncurkan 5:09 ada 100 sekolah rakyat yang di mana 5:14 eh 5:15 siswa-siswanya itu direkrut dari 5:18 anak-anak yang orang tuanya 5:22 dalam kategori miskin. Sehingga 5:26 apa yang diharapkan oleh 5:29 negara melalui presiden, berharap 5:33 anak-anak dari orang tua-orang tua yang 5:36 miskin ini, mereka terakses ke 5:39 pendidikan. 5:41 Eh pertanyaannya, 5:42 siapa saja yang paling tahu terkait 5:45 dengan 5:46 anak-anak ini yang ada di sekitar kita. 5:49 Tiada lain adalah 5:50 Ayahanda dan Bunda yang 5:53 [berdehem] 5:53 ada di sekitar 5:55 eh anak-anak kita. Nah, untuk itu 5:58 apa nih yang perlu kita coba eh dorong? 6:03 Untuk itu 6:04 Bapak Ibu yang ada di desa atau yang ada 6:09 di kelurahan dan 6:11 itu sebetulnya 6:13 di mana kita tinggal itu pasti ada 6:17 anak-anak yang mengalami 6:19 kesulitan dalam hal 6:21 akses kepada pendidikan. Dan apa yang 6:25 perlu kita upayakan ini? Salah satunya 6:27 adalah 6:28 memberikan informasi kepada 6:31 pihak-pihak yang berwenang. 6:34 Seperti saat ini negara 6:37 bagaimana memastikan setiap anak itu 6:40 terakses pendidikan. Dan dengan adanya 6:45 eh sekolah rakyat 6:47 kita sebagai orang dewasa yang di 6:49 sekitar anak coba menginformasikan 6:52 informasi ini kepada 6:55 mereka-mereka yang sangat membutuhkan. 6:57 Dengan memberikan informasi itu kita 7:00 sudah ambil bagian. 7:01 Untuk itu coba 7:04 apa nih yang perlu kita ketahui terkait 7:08 dengan program-program ini. Memang kita 7:11 ketahui hari ini 7:13 sekolah-sekolah 7:15 rakyat yang didorong itu masih ada di 7:18 ibu kota kabupaten atau di ibu kota 7:20 provinsi. Belum sampai ke ibu kota 7:24 kecamatan. 7:26 Ah. 7:27 Untuk itu 7:28 kan perlu kita ketahui bersama-sama 7:31 anak-anak yang ada di desa kita itu 7:35 harusnya dia terakses kepada pendidikan. 7:39 Ah, pendidikan 7:41 mana saja yang perlu kita pastikan. 7:44 Pertama dari 7:47 aspek pendidikan anak usia dini. 7:52 Berdasarkan RPJNP, 7:55 ini rencana pembangunan nasional jangka 7:58 panjang 2025 8:02 2045 8:04 dan itu yang kemudian 8:07 mulai dirintis pada RPJMN 8:12 2025-2029 8:16 itu wajib belajar dia langsung 8:20 ke usia atau wajib belajar 13 tahun. He 8:25 eh. 8:26 Anak usia dini itu 8:28 mulai masuk terutama di 8:32 akhir 8:34 1 tahun menjelang 8:36 dia masuk ke SD, dia sudah masuk ke 8:40 program wajib belajar 8:41 ini. Untuk itu 8:43 apa yang perlu kita dorong? 8:46 Berharap 8:47 kalau kabupaten/kota 8:49 yang sudah mendapat kategori 8:53 salah satu kategori dari kabupaten layak 8:56 anak atau kota layak anak 8:59 itu memastikan 9:02 desa-desa 9:04 atau kelurahannya itu memiliki 9:08 PAUD HI. 9:10 Apa itu PAUD HI itu? 9:12 Pengembangan anak usia dini 9:15 holistik integrasi. 9:19 Berharap 9:20 ada 9:21 satuan 9:23 pendidikan anak usia dini 9:26 baik dalam bentuk TK, kelompok belajar 9:31 atau 9:32 raudhatul atfal, bustanul atfal, itu 9:36 kalau boleh layanannya 9:39 plus. 9:41 Kalau boleh terintegrasi dengan eh 9:43 posyandu. Sehingga 9:46 anak-anak yang ada di TK kita atau yang 9:50 ada di satuan pendidikan anak usia dini 9:53 itu 9:54 kita 9:55 eh ketahui perkembangan. 9:59 Sehingga akhirnya sekolah kita atau PAUD 10:02 kita itu mendapatkan status sebagai PAUD 10:06 HI. Hmm. Bagaimana nih kita memastikan 10:09 ini sebetulnya menjadi peran dari Bunda 10:13 PAUD yang ada di desa. Bunda PAUD di 10:17 desa itu kan dia tidak eh sendiri saja 10:21 eh berperan. Ini butuh dukungan 10:24 dari siapa saja. 10:26 Kalau 10:27 di desa itu pasti ada kader-kader, 10:30 kader posyandu, kader 10:33 satuan eh apa? Tugas 10:37 perlindungan perempuan dan anak, itu 10:39 banyak tuh. Coba kita harus memastikan 10:42 apakah 10:44 anak cucu, keponakan kita sudah terakses 10:48 tidak ke PAUD HI. 10:51 Kalau belum, ini yang perlu kita dorong 10:55 bersama-sama. 10:57 Atau mungkin di beberapa rumah ibadah 11:01 seperti di masjid-masjid itu ada eh 11:05 taman 11:06 eh pengajian Alquran. 11:09 Yang kemudian kalau boleh TPA-nya itu 11:14 terintegrasi juga dengan posyandu. 11:16 Sehingga kita akan tahu bagaimana 11:19 eh proses tumbuh kembang anak-anak yang 11:22 ada di desa. Sehingga 11:24 kalau ini segera 11:28 eh 11:30 terlaksana atau anak-anak kita itu 11:32 terakses 11:34 orang dewasa terutama kepala desa akan 11:37 tahu bagaimana kondisi dari anak-anak 11:40 yang ada di desanya terutama dari aspek 11:43 ee 11:44 pertumbuhan dan perkembangan anak 11:47 terutama ada enam aspek perkembangan 11:50 yang tidak perlu kita bahas hari ini 11:52 tapi ini menjadi poin-poin penting 11:56 supaya 11:57 setiap anak-anak usia dini itu sejak 12:02 dari awal terdeteksi 12:05 apakah mereka itu 12:08 benar-benar sudah terbaca bakat dan 12:10 minatnya lalu kemudian enam aspek 12:14 perkembangannya itu benar-benar ee 12:17 berkembang dan ini menjadi 12:22 dasar kita untuk terus mendorong 12:26 anak-anak yang ada di desa kita itu 12:28 selalu terakses ke pendidikan 12:33 bagaimana dengan anak anak usia SD ini 12:37 sekarang 12:39 ee di Kementerian 12:42 Pendidikan 12:43 ee 12:44 itu dulu mendorong adanya program 12:49 transisi anak usia dini ehem 12:52 ke SD ee 12:54 bagaimana 12:56 apakah 12:57 di desa-desa kita sudah punya 13:00 enggak 13:01 informasi terkait dengan ini atau 13:03 program-program terkait dengan hal yang 13:07 kita baru sebutkan tadi transisi anak 13:10 usia dini ke SD 13:13 terutama anak-anak yang ada di range 13:17 usia kelas 1 dan kelas 2 SD karena itu 13:21 masih di bawah ee 8 tahun dan 13:25 kalau kita 13:27 telah memastikan anak-anak yang dari 13:30 PAUD lalu dia masuk ke SD atau ke 13:34 Tsanawiyah kelas awal dan itu mereka 13:38 mampu bersosialisasi 13:41 itu yang kemudian menjadi 13:45 hal dasar dan itu yang kemudian 13:47 memudahkan anak-anak kita menyesuaikan 13:49 diri dengan sekolah-sekolah 13:52 yang baru. 13:55 Karena nanti mereka akan menetap di sana 13:57 itu selama 6 tahun. Bagaimana nih mereka 14:00 harus terpastikan. Ah, apa nih peran 14:04 kita sebagai orang dewasa yang ada di 14:08 desa untuk menciptakan ekosistem 14:10 perlindungan anak untuk memastikan salah 14:13 satunya adalah 14:15 memastikan setiap anak usia SD itu 14:20 mereka terakses ke pendidikan. Ah, 14:23 bagaimana? 14:25 Kalau diantara anak-anak itu ada yang 14:28 tidak lagi terakses ke sekolah. Ini yang 14:32 kemudian 14:34 ada solusi-solusi 14:36 yang perlu kita perkenalkan kepada orang 14:41 tua atau kepada 14:44 aparat desa bahwa ada juga program 14:48 untuk memastikan kalau ada anak-anak 14:50 yang tidak mau lagi bersekolah ke 14:53 sekolah formal itu yang kemudian dia 14:56 disalurkan ke sekolah-sekolah informal 14:59 atau kita mulai kenal dengan program 15:02 homeschooling. 15:04 Ini coba kita memastikan ini. Agar apa? 15:08 Agar anak-anak 15:11 kita itu semuanya 15:13 terakses ke pendidikan dan ini yang 15:16 kemudian menjadi satu kekuatan bagi 15:19 negara ini memiliki SDM yang memiliki 15:24 eee pendidikan. Ini ini coba kita ambil 15:28 bagian. Kalau tidak juga kita perlu 15:31 mendorong 15:33 sekolah-sekolah itu masih banyak sekolah 15:35 yang kolot. Artinya 15:38 mereka memaksakan apa yang menjadi eee 15:45 apa yang sudah diatur dari tingkat 15:47 nasional itu mereka tidak segera 15:50 mengadaptasi. Karena di beberapa desa 15:53 itu 15:54 ada anak-anak 15:57 selalu diminta perannya oleh orang tua 16:00 terutama pada saat musim-musim tertentu. 16:04 Misalnya kalau anak-anak yang di daerah 16:08 eee pantai atau nelayan itu ada 16:12 musim-musim 16:13 panen ikan itu yang kemudian ada 16:16 beberapa anak terganggu sekolahnya dan 16:19 akhirnya mereka tidak masuk sekolah 16:22 karena 16:24 diminta 16:25 atau me 16:28 mengambil bagian agar mereka dapat 16:32 membantu orang tua atau membantu 16:35 tetangganya yang menjadi nelayan. Dan 16:37 akhirnya mereka tidak bersekolah. Dan 16:40 karena mereka asyik pada musim-musim itu 16:45 mereka 16:47 mendapatkan 16:48 uang yang banyak dari hasil penjualan 16:51 ikan dan itu yang kemudian 16:54 eee merubah eee pemikiran mereka. 16:57 Buat apa sekolah? Sekolah kan mencari 16:59 uang. Sekarang mereka sudah dapat uang. 17:03 Dan ini yang kemudian ada 17:05 sekolah-sekolah yang masih ngotot bahwa 17:09 anaknya itu harus hadir ke sekolah. Tapi 17:12 coba mulai dipikirkan ke depan 17:14 ada program-program dari sekolah-sekolah 17:17 yang ada di desa atau di kelurahan itu 17:20 menyesuaikan diri dengan kondisi 17:24 anak-anak. Dan itu tidak semua anak, 17:27 hanya ada beberapa anak dan itu yang 17:29 kemudian 17:30 anak tersebut kita perlakukan secara 17:32 khusus dan itu yang kemudian kita masuk 17:35 ke kelompok pembahasan penanganan khusus 17:38 itu nanti Bunda 17:39 tapi terkait dengan pendidikan 17:42 ada ee 17:45 upaya-upaya atau inovasi-inovasi yang 17:47 dapat dikembangkan oleh sekolah-sekolah 17:49 yang ada di desa itu mengirimkan 17:53 gurunya atau memberikan 17:57 satu keleluasaan kepada anak itu 18:02 dia tetap 18:04 dapat membantu kedua orang tuanya, tapi 18:06 dia tetap terakses ke pendidikan. 18:09 Seperti yang kita alami waktu 18:11 Covid Bunda Nuning 18:13 Ayah ada dan Bunda pasti punya 18:15 pengalaman kan anak-anak tersebut dia ee 18:20 belajar secara online dan ini dapat kita 18:23 upayakan di beberapa kasus ya, ada 18:26 beberapa anak yang berprestasi, dia 18:28 misalnya di aspek olahraga atau kesenian 18:34 karena dia harus 18:36 konsen kepada pelatihan supaya saat 18:39 pertandingan dia dalam kondisi fit lalu 18:44 kemudian dia dapat memberikan 18:47 apa 18:49 hasil yang menyenangkan otomatis ada 18:52 beberapa hal yang harus dia hindarkan 18:55 atau yang harus dia 18:58 tidak lakukan. Nah, seperti anak-anak 19:00 nelayan ini begitu juga dengan anak-anak 19:03 petani 19:05 atau anak-anak yang tinggal di 19:08 perkebunan. 19:09 Nah, ini yang kemudian 19:11 mereka itu di musim-musim menanam atau 19:14 di musim-musim 19:16 panen panen atau pada saat musim untuk 19:20 mengolah tanah itu mau tidak mau mereka 19:24 eee ambil bagian untuk membantu orang 19:28 tuanya sebetulnya orang tuanya tidak 19:30 meminta anak tersebut tetapi karena anak 19:34 eee terus memaksa akhirnya dia eee ikut 19:38 akhirnya ada beberapa waktu anak 19:41 tersebut 19:42 tidak dapat mengikuti pendidikan 19:47 dan ini yang sebetulnya kalau di desa 19:51 itu 19:52 eee orang-orang dewasa yang punya 19:54 pemikiran yang progresif untuk kemudian 19:57 meminta sekolah-sekolah yang masih kolot 19:59 itu 20:01 dapat menyesuaikan dengan kondisi anak 20:03 insyaallah 20:05 tidak ada satu pun anak di desa itu yang 20:09 tertinggal tinggal atau tidak bersekolah 20:13 tinggal bagaimana nih eee kita dari 20:17 orang dewasa yang ada di desa untuk 20:20 memastikan ini 20:21 ini butuh eee dukungan butuh perhatian 20:26 dan tidak kalah penting Bunda Nuning 20:29 ehem itu butuh kerelawanan 20:33 nah ini sebetulnya di desa-desa kita itu 20:35 banyak potensi-potensi yang ada tetapi 20:39 eee kadang-kadang belum muncul dalam eee 20:43 kebiasaan kita itu memastikan bahwa 20:46 setiap anak yang ada di depan kita 20:50 adalah anak kita sendiri nah ini coba 20:53 mulai kita eee pikirkan bersama-sama 20:57 atau ada upaya lain lagi 21:00 kita terus mendampingi anak-anak yang 21:03 tidak bersekolah itu untuk terus dia di 21:08 sampaikan berbagai informasi 21:11 yang kemudian 21:12 ee menggugah diri dia bahwa 21:16 bersekolah itu menjadi sangat penting 21:18 karena banyak 21:20 orang-orang yang 21:22 ee merasa 21:24 dia gagal di bidang pendidikan karena 21:28 dulunya tidak ada orang yang 21:30 terus-menerus 21:31 ee memotivasi. 21:34 Itu menjadi poin penting. Seperti kami 21:36 dulu, kami itu 21:39 pernah Bunda Nuning Ehm. 2 tahun tidak 21:42 ikut sekolah karena memang asyik. 21:45 Kami di daerah pantai asyik nangkap 21:48 ikan, jualan ikan tapi karena ada 21:52 ee kebetulan kakak saya 21:55 ee diangkat jadi guru SD dan itu di 22:00 daerah jauh dari tempat kami, akhirnya 22:05 saya diboyong ke 22:07 tempat ee beliau mengajar dan 22:10 alhamdulillah sampai akhir saya harus 22:13 atau saya dapat gelar doktor. Coba 22:15 bayangkan tuh. 22:16 [tertawa] 22:17 Ee peran dari satu individu yang ee 22:21 mengajak kita, akhirnya 22:25 kita sampai 22:27 ee berpendidikan, mengakses pendidikan 22:29 sampai ke Universitas Indonesia 22:32 lalu kemudian sampai bergelar doktor. 22:35 Itu karena ada orang dewasa di sekitar 22:39 kita yang mau ambil bagian. Coba setiap 22:44 diri kita tuh mau 22:47 di mana saja kita temui anak-anak itu 22:50 temui di musala, di masjid, di pantai, 22:53 di pasar lalu di mana saja yang kemudian 22:58 kalau setiap orang dewasa di desa itu 23:02 pembicaraannya bagaimana ya? Setiap 23:04 anak-anak di desa kita ini bersekolah 23:07 seperti anak kita. Ada juga orang 23:10 ah 23:11 saya tidak mau anak-anak saya itu tidak 23:13 bersekolah seperti saya tidak pernah 23:15 bersekolah. Itu juga menjadi salah satu 23:18 eh pendorong untuk memotivasi. 23:21 Jadi 23:22 ayo turun tangan, ambil bagian untuk 23:26 kita harus memastikan apalagi pada 23:28 periode pemerintahan eh 23:32 Prabowo ini ada potensi untuk itu dengan 23:37 beliau membuka sekolah rakyat itu 23:40 otomatis memastikan 23:43 eh setiap anak dari keluarga-keluarga 23:46 terutama 23:47 orang tua-orang tua yang 23:49 sumber penghasilannya itu tidak 23:51 berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan 23:56 anak-anaknya sehingga mereka memilih 24:01 lebih baik memenuhi kebutuhan makan 24:03 daripada harus bersekolah. Tapi hari ini 24:06 anak-anak tersebut dari orang tua-orang 24:08 tua yang tidak berkecukupan itu akhirnya 24:11 terakses ke pendidikan. Tetapi ada 24:14 tantangannya tuh. 24:16 Kita pernah dengar tuh ada anak-anak 24:18 yang sudah diajak ke sekolah, ada juga 24:21 yang eh kabur. Alasannya apa? 24:24 Kangen sama orang tuanya. Kemarin juga 24:26 kita bisa lihat eh pertemuan presiden 24:29 dengan anak-anak di Margaguna itu 24:32 pertanyaan presiden bagaimana? Kangen 24:33 enggak dengan orang tua? Kangen. Tapi 24:36 mereka sangat eh antusias seperti 24:41 eh pada saat peluncuran itu 24:45 presiden mendengarkan cerita dari anak 24:48 NTT, Bunda Nuning. He em. 24:52 Eh dia sangat eh senang 24:55 walaupun dengan 24:57 eh kangen yang tingkat tinggi, tetapi 25:00 ada di ujung suara anak itu, yaitu ada 25:05 motivasi dari kedua orang tuanya yang 25:08 ingin 25:10 anaknya itu akan membebaskan dari 25:12 keluarganya dari kemiskinan, karena dia 25:15 eh terakses ke pendidikan. Ah, di 25:18 sekitar kita itu banyak anak-anak 25:20 seperti itu, dia mau bersekolah, tetapi 25:26 eh tidak ada yang menggerakkannya atau 25:30 yang memberikan informasi. Ini kalau 25:32 boleh 25:33 ini 25:34 coba setiap orang tua yang ada di 25:36 sekitar anak-anak kita 25:38 kalau boleh cari informasi terkait 25:41 dengan bagaimana anak-anak yang ada di 25:44 sekitar kita itu terakses ke pendidikan. 25:48 Menjadi penting. 25:49 Kemudian yang kedua, ini 25:53 sek- apa desa atau kelurahan yang 25:58 memiliki ekosistem perlindungan anak itu 26:02 salah satu tandanya itu 26:06 anak-anaknya 26:07 terakses ke tempat-tempat 26:11 pengembangan diri dia. Ah, pengembangan 26:14 diri dia itu terutama keterampilan. 26:17 Pasti Ayahanda dan Bunda 26:20 berharap anak-anak kita itu dia tidak 26:24 hanya 26:25 eh mendapatkan pengetahuan yang banyak 26:29 dari sekolah, tetapi perlu juga 26:32 pengembangan keterampilan. 26:34 Keterampilan ini menjadi modal. Eh, mau 26:39 jadi modal pada saat dia nanti 26:43 dewasa atau pada saat dia diberi 26:46 kepercayaan untuk menjadi pekerja, baik 26:49 itu pekerja 26:51 eh formal, informal, swasta maupun di 26:55 eh, sebagai aparatur sipil negara atau 26:59 jadi TNI Polri, itu keterampilan menjadi 27:04 sangat dibutuhkan. Untuk itu coba, 27:06 keterampilan apa saja yang perlu kita 27:10 beri akses kepada anak-anak kita dan 27:13 yang tidak kalah penting juga, kalau 27:15 boleh 27:16 eh, di desa-desa kita itu ada 27:19 orang-orang 27:21 Bunda Nuning, kita tidak pernah sadar 27:23 tuh, ada di desa kita ada orang yang 27:25 memiliki public speaking yang 27:28 eh, mumpuni dan dia seba rata-rata 27:32 mereka itu jadi MC di desa tuh, acara 27:37 kematian, acara eh, kelahiran atau pesta 27:42 perkawinan atau acara-acara di desa itu, 27:46 mereka selalu diminta untuk menjadi MC. 27:49 He em. 27:50 Bayang tuh. Iya. Eh, orang yang memiliki 27:53 kemampuan 27:55 tersebut lalu kemudian mengajak 27:58 anak-anak yang ada di sekitarnya untuk 28:01 berlatih bersama-sama agar 28:05 ada penerus bagi diri dia kelak nanti 28:09 dan itu menjadi penting. 28:11 Tapi yang tidak kalah penting itu adalah 28:14 keterampilan memasak, Bunda Nuning. 28:17 Coba. 28:19 Kok bisa ya, orang Lamongan itu sampai 28:22 ada di pegunungan Papua, sampai ada di 28:26 Karimun, di Natuna juga saya ketemu tuh. 28:30 Ini orang Lamongan ini. 28:33 Apa nih, kelebihan orang Lamongan? 28:35 Ternyata dari 28:37 taste, rasa. He em. 28:39 Dari Tegal, apa itu? 28:42 Masakan Tegal semua. Tapi juga orang 28:46 Padang. Tapi tidak kalah penting saya 28:50 eee 28:51 sudah diberi kesempatan oleh Allah untuk 28:54 keliling ke berbagai daerah, ternyata 28:57 itu semua orang pasti makan Bundo 29:00 Kanduang. Ehm. Coba bayangkan kalau 29:04 anak-anak di desa itu 29:07 dilatih 29:08 untuk mengenal berbagai jenis makanan, 29:12 masakan, itu yang kemudian 29:15 kalau itu menjadi bagian dari dia, 29:19 insyaallah 29:21 dia mau di mana saja, dia tidak bakal 29:23 itu eee kekurangan. 29:26 Dia tidak bakal kehilangan atau dia 29:30 tidak akan merasa 29:32 eee hidupnya jadi 29:35 eee beban orang lain. Ehm. Karena dia 29:37 punya 29:39 kelebihan. Mau apa saja dia bisa tuh. 29:42 Satu keterampilan tuh. 29:44 Lalu yang tidak kalah penting Bundo 29:45 Kanduang adalah 29:48 ada di desa itu atau di kelurahan, ada 29:51 orang 29:52 yang 29:54 kalau di setiap pesta itu selalu diambil 29:58 tenaganya untuk merias. Oh, oke. Di 30:02 setiap desa atau di setiap kabupaten 30:04 kota itu pasti 30:07 ada tradisi-tradisi untuk menghias 30:10 panggung, menghias tempat-tempat 30:13 perkawinan atau acara-acara yang 30:15 berkaitan dengan kebudayaan. 30:18 Seperti yang ada di Bali Bundo Kanduang 30:19 Ehm. dari setiap 30:21 bangun tidur lalu tidur lagi itu itu kan 30:25 semua dengan eee kebudayaan. 30:28 Ak itu kan 30:30 [mendengus] 30:30 ada hasil-hasil karya yang dihasilkan 30:33 oleh eee mereka yang kemudian bisa 30:36 diuangkan. Coba bayangkan kalau ada 30:39 orang-orang dewasa yang ada di desa itu 30:43 mengajak nih, ayo 30:45 anak-anakku, ee penerus-penerusku 30:48 kan 30:50 aku ini mungkin umurnya tidak lama lagi, 30:53 nah aku ingin berbagi nih 30:56 keterampilan membuat apa? Merubah daun 30:59 kelapa menjadi 31:01 ee penghias pelaminan, 31:05 ee panggung-panggung, 31:07 tenda-tenda perkawinan atau 31:09 upacara-upacara Kebayang kan Bunda 31:11 Nuning? Janur jadi keren 31:12 Janur jadi keren dan itu yang kemudian 31:16 itu 31:17 Bunda Nuning 31:18 kalau anak itu ke kota lalu kemudian 31:22 dia mungkin sudah tidak ada nih tempat 31:25 atau orang yang dapat merekrut dia tuh, 31:29 tapi coba kalau dia perlihatkan dia 31:31 memiliki kemampuan untuk 31:33 meng menghias janur menghias janur atau 31:37 merubah daun kelapa menjadi sesuatu atau 31:40 merubah satu benda yang tidak berbentuk 31:43 menjadi ee menarik, itu semua 31:46 orang-orang dari desa tuh Iya kebayang 31:50 mereka itu nanti masuk ke kota, masuk ke 31:54 di mana mereka akan 31:55 tapi siapa nih yang akan memulai ini 31:58 kalau bukan orang dewasa yang ada di 32:01 sekitar desa dan yang kemudian menjadi 32:04 amal jariyah kalau itu menjadi sumber 32:08 penghasilan dari anak tersebut pada saat 32:10 dia dewasa dan dia akan selalu mengingat 32:14 orang-orang yang telah merubah diri dia 32:17 sehingga yang tadinya tidak 32:20 tidak ada apa-apa menjadi apa-apa He em 32:24 ayo coba 32:26 bagaimana nih kita membangun ini semua 32:30 insyaallah [mendengus] 32:31 kalau kita sudah mulai turun insyaallah 32:34 itu bakal 32:35 itu dari aspek ee yang 32:39 kecil-kecil Bunda Nuning. Sekarang nih, 32:42 Bunda Nuning pasti 32:44 setiap, ee, 32:46 orang dewasa yang ada di desa itu di 32:49 lebihkan kemampuan bela diri. 32:52 Oke. Silat, 32:54 karate, 32:55 atau, 32:57 ee, gulat ya, ada beberapa daerah itu 32:59 punya gulat, ada. Ah, coba 33:01 kita 33:02 himpun nih anak-anak yang ada di desa 33:06 dengan 33:07 fasilitas ala kadarnya dan ini kalau 33:12 sebetulnya di dana desa itu Bunda 33:14 Nuning, sudah ada tuh, ee, mata anggaran 33:17 untuk mendukung itu. Tetapi 33:20 karena 33:21 kepala-kepala desa 33:23 jarang menginformasikan atau pada saat 33:26 rapat musrembang desa, 33:30 mereka hanya lebih ke fokus ke 33:32 infrastruktur, tetapi tidak ke hal-hal 33:35 yang kita bicarakan ini. Dan itu, ee, 33:38 terabaikan. 33:40 Dan coba nih, 33:42 coba pada saat musrembang desa itu 33:46 atau musrembang kelurahan, 33:48 masukkan nih ide-ide yang terkait 33:50 bagaimana nih 33:51 ee, memastikan 33:54 dari setiap dusun itu ada, 33:57 ee, 34:01 program-program untuk peningkatan 34:04 kemampuan anak di bidang bela diri. Wah, 34:08 coba 34:09 apa nih keuntungannya Bunda Nuning kalau 34:11 setiap anak itu diberi kemampuan bela 34:16 diri? 34:19 Insyaallah, kalau setiap anak 34:23 dia dibekali dengan bela diri, He eh. 34:26 itu 34:28 akan memunculkan 34:30 ketenangan yang lebih tinggi lagi. 34:34 Akan memunculkan rasa percaya diri dia, 34:39 tetapi yang tidak kalah penting adalah 34:42 membangun rasa hormat diri dia kepada 34:46 orang lain. 34:47 Karena dia sudah memiliki eee 34:51 empati mereka, dia sudah dilatih untuk 34:55 memproteksi diri, untuk menghindarkan 34:59 dari hal-hal yang negatif ke arah-arah 35:02 yang positif. 35:04 Jangan 35:05 katakan kalau anak-anak sudah eee 35:08 terlatih bela diri nanti dia menjadi 35:10 anak arogan. Ah, di beberapa daerah itu 35:13 masih ada seperti itu. 35:15 Karena salah bimbingan, terutama dari 35:19 eee pemilik-pemilik sanggar. Kita 35:22 tidak eee perlu menutup mata di beberapa 35:25 tempat yang ada daerah-daerah eee 35:29 sanggar persilatan itu atau mereka kalau 35:33 pada saat upacara pengukuhan itu konvoi 35:36 di jalan dan itu yang kemudian membuat 35:39 eee 35:40 orang lain terganggu dan terjadinya 35:43 tawuran. Itu ada. Ah, sebetulnya 35:47 itu menyalahi makna dari 35:51 tujuan mereka dilatih untuk belajar 35:54 silat atau taekwondo atau karateka atau 36:02 eee tinju atau apa. 36:04 Ah, ini ini coba. 36:06 Pasti di setiap desa itu ada tokoh-tokoh 36:10 pemuda atau ada orang-orang tua dulu 36:13 yang berprestasi yang me 36:17 banggakan eee daerahnya. 36:20 Kita agak sedikit 36:22 iri 36:24 dengan 36:26 ada tokoh-tokoh eh olahragawan di 36:29 Lampung yang setiap tahun atau setiap eh 36:34 pekan olahraga baik di tingkat nasional, 36:38 eh ASEAN, Asia, dan Olimpiade, itu 36:41 mereka menyumbang medali. He eh. Dari 36:45 apa? 36:46 Eh fasilitas yang ala kadarnya, tapi 36:49 kemudian sekarang mereka sudah mendapat 36:51 perhatian, itu menjadi hal yang sangat 36:53 positif. Tapi, 36:55 coba bayangkan kalau itu sudah mulai 36:59 dikembangkan dari desa. 37:01 Dan setiap orang dewasa di desa itu, 37:04 nih, perlu juga di 37:07 eh beri bekal kepada mereka nih, 37:09 He eh. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 37:13 tentang keolahragaan. 37:16 Ah, coba. 37:19 Negara itu sangat 37:22 menaruh perhatian, menaruh respek kepada 37:25 desa-desa yang me 37:29 lahirkan para para olahragawan. He eh. 37:33 Jadi, penting. 37:35 Tapi, ini yang tidak kalah penting juga, 37:37 ada satu undang-undang nih, kalau boleh 37:39 orang desa juga baca undang-undang ini 37:41 ya, atau orang-orang dewasa di desa itu. 37:43 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009 37:48 tentang 37:49 pemajuan kebudayaan. 37:52 He eh. Kebayang undang-undang ini, kalau 37:54 setiap desa itu memajukan kebudayaannya. 38:00 Tadi, dari makan, pakaian, 38:03 seperti kita juga sangat iri dengan 38:06 orang-orang di NTT, 38:08 setiap eh di sana di NTT benar enggak? 38:12 Setiap anak perempuan itu harus 38:15 menghasilkan tenun. He eh. Dan itu yang 38:18 kemudian nanti jadi bekal dia untuk eh 38:21 mahar ya. He eh. Kebayang tuh kalau 38:23 setiap anak-anak di desa kita tuh 38:27 dia tetap diperkenalkan dengan budaya 38:31 lalu kemudian olahraga 38:33 yang kemudian itu menjadi salah satu 38:36 modal dia nanti saat dia tinggal di kota 38:41 atau di mana saja dia akan berada Bun 38:43 Nunung. 38:44 Bun Nunung 38:45 kalau seseorang diketahui dia memiliki 38:48 eh apa 38:50 keterampilan he eh keterampilan bela 38:51 diri he eh itu orang akan segan kepada 38:54 diri dia. 38:56 Dan otomatis dia juga akan segan kepada 38:58 orang lain karena dia sudah memiliki eh 39:02 kemampuan pengendalian diri. Mulai kapan 39:04 ini Bun Nunung kalau bukan 39:07 dari anak-anak dan siapa yang dapat 39:10 melakukan ini kalau bukan orang dewasa 39:13 yang ada di desa atau di kelurahan. 39:16 Kalau kita tunggu pemerintah oh 39:19 pemerintah itu akan lahir dari 39:21 orang-orang peduli he eh karena sejak 39:23 dari desa 39:25 di desa dan di kelurahan dia tidak 39:27 pernah diajarkan atau diberi eh 39:30 pengalaman untuk kepedulian dia tidak 39:32 bakal akan peduli. 39:34 Ini menjadi penting juga. Ini juga perlu 39:36 kita ketahui kenapa tuh oh 39:40 kok 39:41 olahraga-olahraga berprestasi itu lahir 39:43 dari orang-orang yang peduli 39:46 tidak lahir dari orang-orang yang 39:49 [tertawa] 39:50 ini menjadi penting kepedulian kita ini 39:53 yang kemudian akan memberi berkah kepada 39:56 orang lain. Ini dari aspek eh pendidikan 40:01 lalu kemudian aspek pengembangan diri 40:04 anak yang akhirnya 40:06 ini harus kita 40:09 ambil bagian. 40:10 Kalau kita berharap kepada orang tua 40:12 dari anak-anak tersebut mereka pingin 40:15 anak-anak itu 40:17 memiliki apa yang kita bicarakan. Tapi 40:21 kepada mahat, kepada siapa mereka men 40:25 cari informasi lalu mendapatkan 40:28 dukungan. Kalau berharap dari kepala 40:30 desa, kepala desa 40:33 sibuk untuk mengelola anggarannya. 40:37 Saking sibuk untuk mengurus anggarannya 40:40 terkait dengan administrasi, harusnya 40:42 ada program-program yang penting untuk 40:44 dikembangkan, itu tidak jalan. 40:46 Apalagi kalau ada sistem blocking dari 40:49 kepala desa yang hari-hari ini menjadi 40:52 pasien dari jaksa. 40:55 Kalau kita lihat dari media-media 40:57 online, banyak itu kepala-kepala desa 40:59 yang tidak amanah 41:02 yang kemudian dia 41:04 menyalahgunakan 41:05 kewenangan dalam pengelolaan 41:08 anggaran 41:09 desa yang banyak. Apalagi ini, Bunda 41:12 Nuning? 41:13 Di desa nanti ada 41:16 koperasi 41:18 merah putih dan itu juga 41:21 dominan dari kepala desa itu. 41:24 Untuk itu 41:27 kalau boleh setiap warga di desa atau di 41:30 kelurahan, ayo jangan biarkan 41:33 orang-orang di pemerintah desa itu jalan 41:36 sendiri, akhirnya mereka menyalahgunakan 41:41 kewenangan kalau kita tidak 41:45 dorong, kita tidak ambil bagian terutama 41:48 mengingatkan bahwa 30% 41:53 penduduk dari sebuah desa itu adalah 41:56 usia anak. 41:58 Dan 41:59 30% ini, Bunda Nuning 42:02 5 sampai 10 tahun akan jadi orang 42:04 dewasa. Iya, pasti insyaallah. 42:06 Coba bayangkan 30% ini mereka sudah 42:09 dibekali dengan berbagai pengetahuan 42:12 terutama pendidikan dari PAUD, SD, lalu 42:16 SMP, kemudian mereka tetap terakses ke 42:19 SMA, SMK. 42:21 Karena 42:22 masih banyak desa atau kabupaten kota 42:26 itu 42:27 anak-anaknya putus sekolah terutama di 42:30 usia SMP dan SMA atau SMK. Ah, ini kalau 42:35 boleh ke depan Indonesia tidak ada lagi 42:37 orang yang tidak putus sekolah. 42:40 Semua bersekolah dan itu yang kemudian 42:42 kalau kita telusuri di desa akhirnya 42:45 kita akan ketahui 42:47 berapa persen penduduk yang ada di desa 42:50 itu yang berpendidikan yang dan yang 42:52 tidak berpendidikan. Lalu kita akan 42:54 ketahui 42:56 berapa persen nih warga desa itu yang 42:59 memiliki keterampilan dan yang tidak 43:02 memiliki keterampilan. 43:04 Dan kita berharap ke depan tidak ada 43:06 lagi orang-orang yang menjadi beban dari 43:09 eh desa karena mereka menjadi 43:11 orang-orang yang produktif di bidangnya 43:15 masing-masing. Dan itu yang semua bisa 43:17 terwujud kalau 43:19 setiap warga desa merasa bahwa anak yang 43:23 ada di depan dia adalah anak dia 43:26 sendiri. Ah, ini dari aspek eh terakhir 43:29 dari 43:30 eh pemenuhan hak anak. Lalu kemudian 43:33 bagaimana dengan perlindungan khusus? 43:36 Ah, kemarin 43:37 saya di Kota Tangerang itu berjumpa 43:40 dengan 43:43 perwakilan dari 104 kelurahan dan 13 43:47 kecamatan untuk peningkatan kapasitas di 43:51 bidang 43:52 eh satuan 43:54 eh satgas satuan tugas 43:58 perlindungan perempuan dan anak. Bu, 44:00 tunggu dulu. 44:03 Membicarakan tentang apa? 44:05 Mereka 44:06 diberi peran sebagai 44:10 individu 44:11 yang 44:13 ambil bagian. 44:14 Kalau boleh 99% 44:18 peran mereka itu 44:20 adalah mensosialisasikan 44:23 berbagai peraturan perundangan ke 44:27 He em. warga desa. 44:29 Kalau boleh Ayahanda dan Bunda untuk 44:32 mencatatnya 44:34 peraturan-peraturan apa saja yang 44:36 menjadi penting untuk diketahui oleh 44:38 setiap orang di desa yang kemudian itu 44:41 disosialisasikan oleh orang-orang dewasa 44:45 di sekitar anak-anak. Pertama, 44:48 mensosialisasikan Undang-Undang Nomor 23 44:52 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. 44:57 Bahannya dari mana? 44:59 Ketik saja di Google. 45:01 Itu pasti dapat PDF. Ah, PDF-nya itu 45:04 kita simpan di 45:07 eee 45:10 handphone kita. He em. 45:11 Lalu kemudian kita share ke 45:15 eee setiap anggota di WA. 45:19 Kita kita kirim. 45:21 Lalu kalau ada orang dewasa yang 45:23 bertanya, 45:24 "Tumben hari ini kok kirim 45:25 Undang-Undang? Ada apa nih?" Wah, pasti 45:28 nih orang yang sudah mau eee bertanya. 45:33 Kalau mau bertanya itu berarti dia 45:35 pengin tahu lebih dalam lagi. 45:38 Ah, di situlah peran kita untuk 45:40 menjelaskan. 45:41 Berarti para pendengar Radio Ras FM ini 45:43 coba ambil bagian untuk ambil saja 45:46 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 45:50 tentang perlindungan anak. Ambil. 45:53 Kita sosialisasi itu. 45:55 Kemudian yang kedua, Undang-Undang Nomor 45:57 23 Tahun 2004 tentang 46:01 eee 46:03 penghapusan kekerasan dalam rumah 46:06 tangga. Itu kita sosialisasi itu. Ehm. 46:09 Kirim. 46:10 Kalau boleh, setiap hari satu pasal 46:12 gitu. 46:13 [tertawa] 46:13 Orang tanya, wih, 46:15 kok jadi ahli hukum sekarang? Nah, itu 46:18 menjadi 46:19 amal ibadah kita, karena kita 46:21 memberitahu kepada orang yang tidak 46:24 tahu, itu berarti kita sebagai guru ya, 46:27 sebagai eee penerang di kegelapan. Kita 46:31 ambil bagian. Lalu yang ketiga, 46:34 Undang-Undang Nomor 12 tahun 2022 46:39 tentang 46:42 tindak pidana kekerasan seksual. Nah, 46:46 kita kirim tuh, tanya, wih, 46:48 ternyata nih, enggak boleh ya eee goda 46:52 anak gadis lewat di itu. Nah, itu 46:54 berarti orang di desa sudah mulai baca 46:57 itu undang-undang tuh. Penting nih. 47:00 Tapi yang tidak kalah penting, saya 47:02 kaget kemarin Bunda Neng, kenapa saya 47:04 tidak siaran 2 minggu yang lalu itu, 47:06 saya ke Kabupaten Landak, Provinsi 47:10 Kalimantan Barat. Ehm. 47:14 Di sana, di setiap desa dari 156 47:20 desa, Ehm. 47:22 seluruhnya sudah punya peraturan desa 47:25 tentang penyelenggaraan perlindungan 47:27 anak. Ehm. Jadi, materi yang kita bahas 47:31 beberapa minggu lalu, kaget saya. Wah, 47:33 sudah dibahas. 47:35 Di sana sudah ada Perdes. Ehm. 47:38 Dan masih dalam proses. Karena saya 47:42 diminta oleh satu NGO untuk buat eee 47:46 profil an eee profil 47:48 Kabupaten Landak layak anak. Nah, itu 47:51 saya dapat tuh informasi. Wih, hebat 47:53 juga nih. 47:55 Ah, bagaimana dengan 47:56 desa-desa Ibu Bapak? Sudah punya Perdes 48:00 penyelenggaraan perlindungan anak belum? 48:02 Kalau belum ada, 48:05 itu kita sebagai warga negara 48:07 memintakan. 48:08 Ah, kalau ada tanya tuh, apa dasar 48:10 Perdes itu? Ah, ini tunjukkan tuh. 48:13 Yang tiga undang-undang yang kita sebut 48:15 tadi itu, 48:16 He em. 48:16 itu kita sebutkan, kita oh, kalau ini 48:20 menjadi 48:22 bagian penting. Kalau itu kita lakukan, 48:25 itu laksana kita akan 48:28 mengimplementasikan 48:31 ayat-ayat Alquran dan hadis Rasulullah. 48:35 Lalu kemudian kita otomatis akan 48:38 mengimplementasikan 48:40 apa yang menjadi kesepakatan 48:42 internasional melalui eh, deklarasi hak 48:46 asasi manusia, lalu kemudian konvensi 48:50 hak anak. Lalu yang ketiga, 48:52 ini 48:53 otomatis mengimplementasikan 48:58 kesepakatan 49:00 Presiden dan DPR dalam bentuk 49:02 undang-undang. He em. 49:03 Kita sudah ambil bagian. Kalau kita 49:06 sudah memastikan di setiap desa kita 49:08 sudah punya Perdes eh, penyelenggaraan 49:11 perlindungan anak, 49:13 materi yang kita bahas tiga minggu apa 49:16 tiga kali pertemuan ini, insyaallah 49:19 jalan tuh. Tapi 49:22 siapa yang bisa menggerakkan ini? Kalau 49:24 kita berharap kepala desa, 49:27 sibuk. 49:28 [tertawa] 49:29 Kiamat dulu baru ada itu Perdes-nya tuh. 49:32 Siapa? 49:33 Setiap orang yang merasa pernah memilih 49:38 kepala desa itu atau tidak merasa 49:40 memilih kepala desa tersebut. Kita 49:42 dorong. 49:43 Bagaimana nih, Pak Kades? 49:46 Desa kita ini tidak punya Perdes 49:48 penyelenggaraan perlindungan anak. 49:50 Bagaimana undang-undang perlindungan 49:52 anak bisa jalan? He em. Bagaimana undang 49:55 apa konvensi anak bisa terimplementasi? 49:58 Bagaimana itu ada di salah satu ayat di 50:01 Quran ya, "Jangan kau meninggalkan 50:03 keluargamu dalam keadaan 50:06 lemah." Nah, itu. 50:08 Itu banyak tuh. 50:10 Atau kita mau mengimplementasikan apa 50:13 yang diisyaratkan oleh Allah melalui 50:17 Rasulullah melalui surat Al Balad 50:19 tentang kota. Itu desa kita akan jadi 50:22 kota itu sangat ditentukan oleh 50:25 orang-orang yang ada di desa. Nah, ini 50:27 jadi penting. 50:29 Di 104 50:32 orang dan 13 dari perwakilan kecamatan 50:34 itu saya minta mereka 99% 50:38 itu 50:40 pencegahan, sosialisasi. He em. Tapi 50:43 peran yang kedua ini, Bunda Nuning, 50:44 adalah sebagai pelapor. Ah, untuk itu di 50:48 pertemuan kali ini saya ingin 50:51 mengingatkan kembali Ibu Bapak yang 50:54 punya handphone. 50:56 Kalau boleh nih, 50:58 catat nomor WhatsApp-nya atau nomor 51:02 telepon yang dapat kita gunakan untuk 51:05 melapor 51:06 kan 51:08 individu-individu 51:09 yang kita curigai. 51:12 Pertama, 51:13 nomor teleponnya 1 51:16 29. Kalau ndak luar daerah berarti 51:19 tambahkan 0 21 51:22 129. Telepon itu. 51:26 Atau WhatsApp 51:28 ke 08111129129. 51:36 Ah, itu kemarin Ibu Menteri Pemberdayaan 51:39 Perempuan sudah melaunching pada tanggal 51:42 8 Agustus, Bunda Nuning. He em. Dia 51:45 launching sudah lengkap dengan website. 51:48 Heeh. 51:48 boleh cari tuh website-nya Kemen PPPA, 51:53 di sana nanti setiap yang melapor akan 51:55 dapat ee tiket. 51:58 Ke? Dapat tiket untuk memudahkan dia 52:01 melapor. Oh, ada itunya kemudahannya. 52:04 boleh setiap orang yang ada di desa atau 52:08 di kelurahan memiliki nomor ini. 52:12 WA berapa tuh? WA-nya tadi 08111129129. 52:20 Satunya yang di depan 4 kali, oke. 52:23 Kalau boleh 52:24 kenapa Bunda Nuning? 52:26 Apa nih keuntungan kalau kita punya 52:29 nomor telepon ini dan kalau setiap orang 52:32 di desa sudah punya nomor ini? 52:35 Nomor ini adalah melaporkan 52:38 individu-individu 52:39 yang kasar atau yang mau punya niat 52:43 melakukan kekerasan kepada siapapun, 52:47 terutama perempuan dan anak. 52:49 Ayahanda dan Bunda 52:52 coba nomor ini kalau boleh diberi apa 52:56 itu pin ya? Ehe. 52:57 Diberi pin 52:59 supaya pada suatu waktu kita melihat nih 53:01 ada anak dimarah-marahi oleh orang tua, 53:04 lapor! Jangan dibiarkan tuh. 53:07 Karena itu potensi anak-anak itu menjadi 53:12 ee korban atau kemungkinan kalau dia 53:15 tidak ee teratasi nih hari besok lagi 53:19 saya akan 53:21 berjumpa dengan pekerja sosial se-Kota 53:24 Tangerang Bunda Nuning. Ehe. Untuk 53:25 ditingkatkan pengetahuannya. 53:28 Ini kalau boleh, kalau kita sudah punya 53:30 nomor-nomor ini 53:32 ada rasa takut 53:36 orang-orang yang ada di sekitar anak itu 53:39 atau di sekitar perempuan melakukan 53:41 hal-hal yang 53:42 ee terkait dengan kekerasan. Apa itu 53:45 kekerasannya itu? Ada empat bentuk 53:48 kekerasan yang boleh kita lapor. 53:50 Pertama, 53:52 kekerasan fisik. 53:54 Bentuk fisik itu apa saja? 53:57 Dicubit, ditempeleng, ditendang, 54:01 dijambak, itu kekerasan fisik. Lapor. 54:05 Kedua, 54:06 kekerasan psikis. 54:08 Berkata ah kepada anak, boleh dilapor 54:11 itu. 54:11 Karena itu adalah 54:15 kejahatan kemanusiaan 54:18 yang tidak dapat ee 54:21 apa? Dimaafkan kalau boleh itu. Tapi 54:24 kalau 54:25 pelaku ini kita biarkan, dia akan me 54:30 menimbulkan korban-korban yang kemudian 54:33 kalau korban ini dia tidak 54:35 terehabilitasi, dia akan menjadi pelaku 54:38 lagi, Bunda Nunung. 54:39 Kedua, 54:42 psikis. Yang ketiga, 54:44 kekerasan seksual. Nah, itu sudah ada 54:46 undang-undangnya tuh. 54:48 Undang-undang nomor 11 tahun 2022 54:52 tentang tindak pidana kekerasan seksual. 54:56 Memaksa anak untuk menikah di usia anak 54:59 juga itu salah satunya tuh. Bisa itu. 55:02 Lapor. Lapor nih. 55:04 Jadi, jangan biarkan tuh 55:06 dapat undangan, terus ih, kok dia 55:10 kayaknya masih SMP, kok sudah menikah? 55:12 Lapor tuh. Kalau kita biarkan, ini 55:16 ee membiarkan ee apa? Sirk, siklu, apa? 55:21 Siklus 55:22 ee kekerasan dan ee membiarkan 55:26 kemiskinan terus berlanjut di desa itu. 55:29 Kita bisa lapor tuh. Lalu kemudian yang 55:31 ketiga yang keempat adalah bentuk 55:35 kekerasan 55:37 pengabaian. Melakukan 55:39 pengabaian. Ada anak nih, harusnya dapat 55:42 air susu ibu tapi tidak dapat. Kasih air 55:46 susu sapi ya itu. 55:48 Pengabaian itu termasuk tuh. Kita bisa 55:50 lapor tuh. 55:51 Supaya apa? 55:52 Ada kesadaran di setiap orang dewasa 55:56 itu. Coba Bunda Nuning kalau kita 55:58 mengikuti sejarah Rasulullah 56:01 beliau saat eh Bunda 56:05 eh nya tidak dapat memberi 56:10 akses ASI yang 56:12 diharapkan 56:13 yang banyak harusnya. He em, he em. 56:15 Bunda dan keluarganya mencari tuh keluar 56:18 eh perempuan-perempuan yang 56:19 bisa menyusui 56:20 menyusui dan itu biasanya ada di desa 56:23 tuh anak. Masya Allah. Itu 56:25 waktu zaman Rasulullah sudah ada konsep 56:28 itu. Sekarang eh lari ke supermarket 56:31 beli kotak-kotak yang kemudian eh 56:35 menjadikan 56:37 anak-anak kita tidak memiliki adab tidak 56:41 memiliki eh apa? Menghargai orang 56:44 dewasa. Karena awalnya dia sudah minum 56:46 susu sapi ya. Penting itu. 56:49 Nah ini 56:50 ini kita lapor tuh. Melakukan pengabaian 56:52 tuh. 56:54 Membiarkan anak tidak bersekolah 56:56 membiarkan anak itu tidak mengembangkan 57:00 diri. Itu termasuk pengabaian tuh, 57:02 termasuk kekerasan. Lapor! Supaya apa? 57:05 Supaya orang di desa itu mulai 57:08 peduli, mulai care 57:11 berniat saja untuk memukul takut dia 57:15 dilaporkan. Jangan sampai kejadian nih 57:18 Bunda Nuning 57:19 ada yang di pelaku mutilasi sampai 57:23 berapa potong itu. Masya Allah. 57:25 Eh 57:27 perempuan di 57:29 belum menikah Bunda Nuning 57:31 belum diikat oleh lembaga perkawinan, 57:34 tapi ini pacarnya berani. 57:37 Sebetulnya kasus-kasus seperti ini atau 57:40 ada di kasus 57:42 ibunya bunuh diri, tapi sebelumnya 57:44 mengakhiri dua anaknya itu. Astaga. Coba 57:48 bayangkan kalau setiap tetangga, setiap 57:52 warga, setiap orang dewasa memiliki 57:55 nomor telepon ini dan kemudian itu 57:58 segera 57:59 terlaporkan dan terecord, lalu kemudian 58:03 itu 58:04 nih laporannya 58:06 mekanisme di Bunda Nuning ya. Heeh. Dari 58:08 warga melaporkan itu semua informasi 58:10 masuk ke Jakarta, 58:12 dari Jakarta itu dikirim ke provinsi, 58:15 provinsi langsung ke kabupaten pada 58:17 waktu yang sama. 58:19 Kebayang enggak Bunda Nuning? Nanti dari 58:22 kabupaten, 58:23 di kabupaten itu Kementerian 58:26 Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan 58:27 Anak itu sudah menyediakan mobil 58:30 perlindungan perempuan dan anak. Itu 58:33 warnanya warna putih, lalu ada biru, 58:37 lalu ada logo Kementerian Pemberdayaan 58:39 Perempuan. Kalau sudah datang itu, itu 58:41 berarti dia mau menyelamatkan si korban 58:44 dari keganasan 58:46 eee orang-orang yang dulunya adalah 58:50 korban kekerasan juga, Bunda Nuning. Ah, 58:52 ini penting sekali. Eee coba bayangkan 58:56 kalau desa kita itu sudah tidak ada lagi 58:58 orang-orang yang tulis yang isinya 59:01 adalah orang-orang yang 59:03 penuh kesadaran tinggi untuk melindungi 59:06 perempuan dan anak. Insya Allah desa itu 59:09 akan mendapatkan berkah dari 59:13 Allah. Ah, ini penting. 59:15 Ah, lalu ini yang juga menjadi penting 59:19 juga di desa kita kalau 59:22 kan setelah 59:24 korban itu direhabilitasi, 59:27 Bunda Nuning kan dia akan kembali. 59:30 Begitu juga pelaku juga telah mengalami 59:33 proses 59:34 penahanan lalu masuk proses pemidanaan 59:38 itu kan dia harus kembali ke desa. Yang 59:42 belum ada di desa itu secara 59:44 sungguh-sungguh menerima 59:48 kehadiran korban dan pelaku. Nah, untuk 59:52 itu 59:53 Bapak Ibu kalau boleh nih 59:57 di desa kita kalau sudah ada orang yang 59:59 jadi korban atau yang jadi pelaku 1:00:03 penerimaan kita itu harus adil. 1:00:06 Agar apa? 1:00:08 Agar 1:00:09 ini terutama untuk korban. Bunda Nuning 1:00:12 memang pelakunya sudah dipidana. 1:00:15 Pertanyaannya 1:00:16 sudah adakah rasa keadilan yang didapat 1:00:20 oleh korban? 1:00:22 Belum. 1:00:23 Secara utuh karena pada saat dia di 1:00:26 desa, saat dia ke sekolah dia masih 1:00:29 dibully. 1:00:31 Nah, itu berarti dia belum mendapatkan 1:00:34 rasa keadilan. Nah, untuk itu dia harus 1:00:36 di 1:00:38 bantu. Lalu yang tidak kalah penting 1:00:41 bagaimana nih pelaku dan korban dapat 1:00:44 menyatu kembali dengan keluarga dan 1:00:47 akhirnya desa kita benar-benar desa yang 1:00:51 memiliki ekosistem atau sistem 1:00:55 perlindungan anak. Demikian, semoga apa 1:00:57 yang kita sampaikan hari ini mendapatkan 1:01:01 berkah dari Allah dan kita berharap 1:01:04 setiap orang tua-orang tua yang ada di 1:01:07 desa memiliki 1:01:09 gerakan untuk melindungi anak-anak yang 1:01:13 ada di sekitar mereka. Setiap anak yang 1:01:15 ada di depan kita adalah anak kita 1:01:18 sendiri. Demikian, asalamualaikum 1:01:20 warahmatullahi wabarakatuh. 1:01:22 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:01:24 wabarakatuh. Terima kasih sekali Dokter 1:01:27 Hamid dan ada satu pertanyaan yang 1:01:29 mungkin juga dibutuhkan jawabannya 1:01:32 meskipun hanya satu saja karena waktu 1:01:34 kita terbatas. 1:01:35 Baik. Terkait dengan pelapor, amankah 1:01:38 kita kalau kita melakukan hal tersebut? 1:01:41 Insyaallah 1:01:44 eee 1:01:46 kesediaan 1:01:48 Bapak Ibu melaporkan 1:01:51 itu akan dilindungi oleh eee negara. 1:01:56 Terutama dari Kementerian Pemberdayaan 1:01:59 Perempuan yang telah menghimpun data 1:02:02 itu. Dan 1:02:04 Ayahanda dan Bunda 1:02:06 kita sebagai pelapor itu 1:02:09 juga sudah diamanahi dalam 1:02:13 undang-undang 1:02:15 terutama di pasal 72 1:02:18 Mhm. 1:02:20 ayat 3 huruf C. 1:02:23 Di sana kita 1:02:24 diminta untuk melaporkan. 1:02:27 Dalam undang-undang 35 tahun 2014. 1:02:30 Dengan ada dasar itu semakin meyakinkan 1:02:33 kita 1:02:34 sebagai orang melapor. Kalau di 1:02:37 kejahatan korupsi yang melapor itu malah 1:02:41 diberi 1:02:42 [tertawa] 1:02:42 eee 1:02:44 penghasilan. 1:02:46 10% dari yang dia laporkan itu dikasih 1:02:49 sama dia. Ada peraturan presidennya. 1:02:51 Jadi jangan khawatir negara akan menjaga 1:02:55 eee itu. Oke. Kalau ada yang 1:02:58 oknum-oknum, ah itu 1:03:01 semoga kita hindarkan atau kita bermohon 1:03:05 juga kepada Allah untuk tidak menemui 1:03:08 orang-orang yang 1:03:10 punya niat jahat. Amin, amin. 1:03:12 bagian untuk menyelamatkan anak-anak 1:03:15 negeri, tapi kita malah di eee 1:03:18 [tertawa] 1:03:18 tuduh. Ah, ini penting juga untuk kita 1:03:21 tahu. 1:03:21 Baik. Tapi, jangan disebarkan 1:03:25 melalui eh, media sosial. Ah, di situ 1:03:29 Bapak akhirnya nanti akan kena 1:03:31 undang-undang Pencemaran nama baik. 1:03:34 Pencemaran nama baik. Itu ya. Tapi juga 1:03:37 kalau terkait dengan pelaku anak, korban 1:03:40 anak, saksi anak, kalau informasinya 1:03:43 bocor ke media, kita bisa dihukum 5 1:03:45 tahun, denda eh, 500 juta. Jadi, itu. 1:03:50 Betapa pentingnya menjaga marwah, 1:03:54 aib dari eh, anak-anak kita. Dan bagi 1:03:58 mereka yang telah menjaga, insyaallah 1:04:00 akan dihargai oleh negara sebagai eh, 1:04:05 pelapor. Dan dia harusnya dapat 1:04:08 penghargaan. 1:04:10 Tapi, 1:04:11 kan kita identitasnya tidak boleh bocor. 1:04:13 Jadi, penghargaannya itu dalam bentuk 1:04:16 apa yang sudah Bapak Ibu laporkan, itu 1:04:20 akhirnya ditindaklanjuti. Dan 1:04:24 hari ini 1:04:26 para birokrat, ASN yang ada di bidang 1:04:30 itu, dapat eh, melakukan tindakan, itu 1:04:34 selalu 1:04:35 ada dasar. Ah, dasarnya apa? Dasar 1:04:38 laporan dari Ibu Bapak. 1:04:40 Iya. 1:04:40 Dan biasanya laporan dari Ibu Bapak 1:04:43 tidak akan disebut namanya. Amanlah 1:04:46 pokoknya ya. 1:04:47 Aman. Dan penghargaannya mungkin 1:04:50 negara akan memberikan, tapi negara juga 1:04:53 mikir, kalau saya kasih ini, bocor ya. 1:04:55 Kita berharap hanya Allahlah yang 1:04:58 memberikan penghargaan dan dicatat oleh 1:05:01 malaikat yang mencatat kebaikan yang ada 1:05:04 di sebelah kanan atau kiri ya? Ah, di 1:05:06 sebelah kanan kita dan itu akan 1:05:09 didokumentasikan 1:05:11 dalam buku si ijin 1:05:14 buku iliyin 1:05:16 kalau si ijin itu catatan-catatan buruk 1:05:19 tapi yang baik-baik 1:05:21 iliyin di al mutafifin gitu loh 1:05:25 terima kasih banget dokter Hamid Fathul 1:05:28 5 dan juga saudara-saudara kita semuanya 1:05:31 yang punya kepedulian untuk juga 1:05:35 melakukan apa yang barusan kita bahas 1:05:37 jangan lupa nomor telepon yang bisa 1:05:41 dicatat 08 kemudian satunya 4 kali 1111 1:05:46 29 1:05:48 129 1:05:51 mudah-mudahan kita bermanfaat untuk 1:05:54 anak-anak yang akan menjadikan Indonesia 1:05:57 lebih bercahaya ya dan sekali lagi 1:06:00 mudah-mudahan bahasan yang akan datang 1:06:03 bukan hanya kepedulian kita kepada 1:06:06 anak-anak negeri tetapi juga bagaimana 1:06:08 peran seorang ayah yang rasanya perlu 1:06:12 banyak juga kita pelajari wahai para 1:06:14 ayah gitu ya baik terima kasih billahi 1:06:17 taufik walhidayah wassalamualaikum 1:06:19 warahmatullahi wabarakatuh 1:06:20 waalaikumsalam