Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:07 [musik] Brail TV. 0:14 Bismillahirrahmanirrahim. 0:16 Asalamualaikum warahmatullah 0:18 wabarakatuh, ikhwan akhwat 0:20 rahimakumullah. 0:21 Alhamdulillah ya kita bisa bersama-sama 0:23 lagi di acara perlindungan anak yang 0:27 mudah-mudahan mempersuasi kita menjadi 0:29 sosok yang bisa membantu banyak hal bagi 0:33 anak-anak kita bahkan anak negeri 0:36 tercinta Indonesia ini. Seperti biasanya 0:39 tidak lupa salam selawat kita lantunkan 0:42 untuk junjungan umat kekasih kita 0:44 Muhammad Rasulullah sallallahu alaihi 0:46 wasallam. Semoga kelak kita dipertemukan 0:49 beliau di saat yang sangat kita rindukan 0:51 di yaumil akhir. Dan seperti biasa juga 0:54 yang hadir untuk acara perlindungan anak 0:57 adalah Dr. Hamid Patilima. Kalau 1:00 beberapa waktu kita bicara tentang bahwa 1:03 ee ayah itu bukan cuma sekedar tulang 1:07 punggung keluarga ya, tetapi bagaimana 1:11 cara menjadi ayah yang hebat adalah 1:13 kerinduan kita bersama. Hari ini 1:16 lanjutan dari bahasan itu kira-kira 1:18 seperti apa persisnya? Yuk, kita sapa 1:21 narasumber kita. Asalamualaikum 1:23 warahmatullahi wabarakatuh. 1:25 Waalaikumsalam. 1:27 Apa kabar, Bunda? 1:28 Alhamdulillah sehat ya. Terus untuk kali 1:32 ini bagaimana cara menjadi ayah yang 1:35 hebat? Spesialisasinya apa nih? 1:37 Insyaallah kita akan membahas anak bukan 1:41 milik kita. He 1:43 dari mereka kita akan belajar mendengar 1:47 suara mereka. 1:49 Masyaallah. Jadi ikhwan akhwat, anak 1:52 bukan milik kita. Anak titipan Allah 1:54 Subhanahu wa taala. Jadi kita harus 1:57 sediakan dua telinga kita untuk 1:59 mendengar, menyimak bagaimana suara 2:01 mereka. Oke, kita dengarkan dengan 2:05 telinga jiwa kita. Silakan, Dok. Baik, 2:07 terima kasih Bunda. 2:09 Bismillahirrahmanirrahim. 2:11 Asalamualaikum warahmatullahi 2:14 wabarakatuh. 2:16 Pendengar Radio Rasil di mana saja 2:18 berada. Alhamdulillah 2:21 kita masih diberi kesempatan oleh Allah 2:24 untuk berbagi informasi. Insyaallah kali 2:28 ini kita akan melanjutkan bahasan 2:32 terkait dengan ayah bukan hanya sebagai 2:36 tulang punggung tetapi juga menjadi 2:40 pengasuh kunci di dalam ee pertumbuhan 2:44 dan perkembangan anak. Menjadi ayah yang 2:47 hebat itu sesuatu yang sangat 2:51 dianti-nantikan 2:53 oleh setiap anak. Untuk itu bagi ayah 2:58 yang hari ini belum bertanya kepada 3:02 anaknya atau menyapa anaknya ini menjadi 3:07 sangat penting bagi anak-anak kita. 3:11 Untuk itu, hari ini kita akan 3:14 membahas satu tema yang penting lanjutan 3:19 dari tema-tema sebelumnya yaitu terkait 3:22 anak bukan milik kita. 3:25 belajar mendengar suara mereka. 3:29 ini menjadi satu hal yang sangat penting 3:34 ee Bunda Nuning, kalau kita di titipkan 3:41 anak oleh bupati 3:43 atau oleh Walikota 3:46 atau oleh Pak Lurah pasti apa yang akan 3:51 kita perlakukan kepada anak-anak 3:52 tersebut. 3:54 yang kali ini yang menitipkan 3:58 anak yang ada di rumah kita melalui 4:00 sulbi 4:02 ayah dan rahim bunda itu Allah sendiri. 4:06 Untuk itu apa yang harus kita lakukan? 4:11 Sebagaimana kita ketahui menjadi seorang 4:16 ayah dan menjadi seorang ibu khususnya 4:19 kali ini kita fokus kepada seorang ayah. 4:23 itu harus memiliki kompetensi. 4:27 kompetensi ini yang kemudian perlu 4:30 didalami baik waktu masih remaja, 4:36 lalu pada saat sudah mulai menganjak ee 4:41 beranjak ke dewasa dan kemudian sudah 4:45 mulai mengenal lawan ee jenis kemudian 4:50 diberi kepercayaan oleh calon mertua 4:55 calon mertua untuk menjaga putrinya. Ah, 4:59 di sanalah kita sudah mulai belajar 5:02 banyak terkait dengan banyak hal agar 5:06 kita menjadi 5:08 seorang ayah yang memiliki kompetensi. 5:11 Nah, kompetensi yang paling penting itu 5:15 adalah terkait dengan pengetahuan kita 5:19 terkait dengan anak. 5:22 Anak sesungguhnya bukan ee milik kita. 5:25 Kita hanya diberi kepercayaan oleh Allah 5:29 melalui sulbi kita 5:32 yang kemudian melalui sebuah proses 5:35 alami yang itu kemudian terjadi sesuai 5:40 dengan sunatullah. Akhirnya kita 5:43 memiliki seorang anak dan anak itu 5:48 memiliki 5:51 salah satu hak asasi yang diberikan oleh 5:55 Allah ke setiap manusia termasuk anak 6:00 kita. Apa itu Bunda Nuning? Hak asasi 6:04 manusia yang pertama yang diberikan oleh 6:08 Allah kepada kita. bukan 6:11 hak asasi yang kita ketahui bahwa 6:14 seakan-akan hak asasi manusia itu ee 6:19 yang dikembangkan oleh Barat. Nah, itu 6:24 orang kalau masih punya pemikiran 6:26 seperti itu belum membaca secara lengkap 6:33 sirah nabawiyah 6:35 dan sirah sahabat. Karena yang 6:38 memperjuangkan hak asasi manusia di 6:41 dunia itu pertama adalah Rasulullah. 6:44 Nah, kali ini kita coba dalami apa salah 6:49 satu hak asasi manusia yang diberikan 6:52 oleh Allah ke setiap manusia terutama 6:57 anak kita. Untuk itu sebagai seorang 6:59 ayah kita perlu memiliki pengetahuan 7:03 tentang itu. Apa itu? yaitu hak 7:06 berpolitik. 7:09 Anak kita itu memiliki 7:13 hak untuk berpendapat atau bersuara. 7:18 Sebagaimana kita ketahui 7:21 Indonesia itu telah meratifikasi 7:24 konvensi anak sejak tanggal 25 Agustus 7:30 tahun 1990 7:33 melalui sebuah keputusan presiden. Kalau 7:37 boleh dicatat ini keputusan Presiden 7:40 agar setiap ayah itu mengetahui 7:43 apa yang akan diupayakan 7:47 oleh ayah kepada setiap anak-anaknya 7:52 agar 7:54 anak-anaknya itu difasilitasi untuk 7:57 berbicara, 7:59 berpendapat. 8:01 itu yang kemudian kita mengetahui, oh 8:03 ada dasar hukumnya itu ada di pasal 12 8:08 konvensi anak baca di sana baik-baik. 8:11 Lalu bagaimana di 8:15 kebijakan nasional? di kebijakan 8:17 nasional itu kalau ayah Anda perlu 8:22 mengetahui untuk memastikan hak bersuara 8:26 anak itu benar-benar apakah sudah 8:29 diakomodasi itu ada di pasal 24 8:34 Undang-Undang 35 8:37 tahun 2014 tentang perlindungan anak dan 8:42 itu juga diulangi lagi di pasal 72 8:47 ee ayat 3 huruf G. Nah, ini apa poin 8:52 yang ada di pasal 24 itu? Yaitu negara, 8:57 pemerintah, pemerintah daerah menjamin 9:01 suara anak didengar sesuai dengan usia 9:05 dan kecerdasannya. Bagaimana dengan 9:08 ayahanda dan bunda di rumah khususnya 9:12 ayah? Apakah kita sudah berupaya tidak 9:16 me coba mempraktikkan apa yang dilakukan 9:21 oleh ee Lukman 9:26 yang selalu berdialog dengan anaknya 9:31 atau apa yang digariskan oleh Allah 9:38 di surah ee Assafat ayat 102 yang 9:43 intinya adalah, 9:46 "Wahai anakku, ayahanda bermimpi untuk 9:50 menyembelihmu." 9:52 Tetapi di kalimat berikutnya ada koma. 9:57 Tolong pikirkan apa pendapatmu. Nah, ini 10:01 poinpoin penting untuk 10:03 [menghela napas][terkesiap] belajar 10:05 mendengar suara anak itu menjadi ee 10:10 sesuatu dan itu merupakan hak asasi 10:14 manusia yang pertama yang diberikan oleh 10:18 Allah kepada setiap manusia terutama 10:21 anak. Untuk itu apa yang telah kita 10:25 upayakan untuk memastikan hak anak untuk 10:31 didengar itu benar-benar telah 10:33 dipraktikkan. 10:35 Untuk itu, Ayah Anda dan Bunda coba 10:39 gali berbagai literatur terkait dengan 10:43 bagaimana nih supaya kita benar-benar 10:47 memastikan 10:49 bahwa anak itu benar-benar merasa 10:54 dia memiliki hak untuk berpendapat 10:58 atau 11:00 dia memiliki seorang ayah yang 11:03 benar-benar 11:05 memfungsikan 11:06 pendengarannya 11:08 untuk mendengarkan suara anaknya. Ini 11:12 satu tantangan bagi setiap ayah yang ada 11:17 di rumah, terutama mereka yang 11:19 mendengarkan ini. Atau bagi mereka yang 11:23 mendengarkan berharap untuk 11:25 menyebarluaskan 11:27 betapa pentingnya untuk memenuhi hak 11:30 asasi manusia pada anak, yaitu hak 11:34 berpolitik atau hak bersuara. Kebayang 11:38 ayahanda dan bunda, 11:41 bagaimana para pemimpin negara kita itu 11:45 merumuskan sila keempat. Di sana ada 11:49 musyawarah. Musyawarah itu kuncinya 11:52 adalah mendengar 11:55 apa yang disampaikan oleh lawan bicara 12:00 kita. Kalau di rumah siapa lawan bicara 12:04 ee seorang ayah? Tiada lain adalah anak 12:09 itu sendiri. Nah, tinggal persoalan 12:12 apakah kita memiliki keterampilan? 12:15 Tidak. ini keterampilan juga menjadi 12:17 penting untuk itu 12:21 kalau kita ingin benar-benar 12:25 untuk me 12:28 wujudkan atau memenuhi atau melaksanakan 12:32 hak anak untuk didengar ee suaranya itu, 12:37 seorang ayah benar-benar harus memiliki 12:40 kemampuan public speaking. Kunci dari 12:44 public speaking bukan hanya mampu 12:47 mendelivery informasi yang di dapat 12:51 kemudian di 12:54 dengar, 12:56 dipahami, 12:58 dimengerti oleh lawan bicara kita. 13:01 Tetapi di sana ada hal kunci, yaitu 13:05 bagaimana memastikan 13:08 kita menggunakan frekuensi anak. 13:12 Pertanyaannya, apakah 13:15 seorang ayah itu pernah enggak jadi 13:17 anak? 13:20 Kalau dia pernah menjadi anak, mungkin 13:23 dia juga punya pengalaman yang positif, 13:27 tapi juga kemungkinan besar punya 13:30 pengalaman negatif, 13:32 suaranya tidak pernah didengar. Dan 13:35 kalau berbicara dengan orang dewasa atau 13:39 orang tuanya atau ayahnya, ayahnya itu 13:43 menggunakan tons atau frekuensi orang 13:46 dewasa. Ah, untuk itu kalau kita sudah 13:50 punya pengalaman seperti kenapa harus 13:53 kita ulangi perbuatan-perbuatan jahil 13:58 itu kepada anak kita. Untuk itu kita 14:02 sebagai ayah yang pernah jadi bayi, 14:06 pernah jadi anak, lalu punya pernah jadi 14:10 remaja, 14:11 coba gunakan frekuensi-frekuensi yang 14:15 pernah kita ee gunakan itu untuk kita 14:19 gunakan berinteraksi dengan anak kita 14:23 saat ini, baik itu anak laki-laki maupun 14:28 anak perempuan yang lahir dari sulbi 14:32 kita. Apakah hanya sampai di situ kita 14:36 dapat berperan? Coba bayangkan kalau 14:39 setiap ayah yang ada di sekitar anaknya 14:44 mempraktikkan hal-hal yang terbaik dan 14:47 itu yang kemudian juga dirasakan oleh 14:51 setiap anak yang berinteraksi dengan 14:53 kita sebagai orang dewasa dan kita juga 14:56 dianggap sebagai ayah oleh anak-anak 15:00 tersebut. Bagaimana rasanya tuh? Ya, 15:03 kehidupan pasti tidak ada yang diam-diam 15:07 saja, tetapi yang ada itu saling 15:11 bercengkeraman, saling berbagi cerita, 15:15 dan yang paling utama yang sangat 15:19 disenangi atau yang sangat diharapkan 15:22 oleh anak-anak kita itu mereka pengin 15:25 didengar. Pertanyaannya, 15:30 apakah Ibu Bapak 15:33 sudah memfungsikan tidak? Pendengaran 15:38 yang menjadi indra penting yang ada di 15:42 bagian tubuh kita diberikan oleh Allah 15:44 kepada kita sebagai seorang ayah itu 15:48 benar-benar difungsikan saat anak kita 15:52 berdiskusi dengan kita. Ini tantangan 15:54 ya, Bunda Nuning. 15:55 Ini harus dijawab 15:58 masing-masing oleh setiap ayah. Kalau 16:01 belum harus berupaya. Kalau sudah syukur 16:06 alhamdulillah. Tapi menjadi tantangan 16:09 juga 16:10 bagi mereka yang sudah mempraktikkan itu 16:13 bagaimana kita menyebarkan 16:17 seluas-luasnya 16:18 keluasan kita kepada anak kita itu 16:22 kepada orang lain. sehingga 16:24 praktik-praktik baik yang ada di diri 16:28 kita sebagai seorang ayah yang telah 16:31 mendengarkan suara anak itu menyebar 16:35 luas ke seluruh Nusantara. Ini tantangan 16:39 sekaligus kalau bisa menjadi sebuah aksi 16:43 ee besar, akhirnya akan lahir ayah-ayah 16:49 yang hebat, ayah-ayah yang selalu 16:53 mendengarkan suara anak-anak mereka. Ini 16:58 pembahasan yang pertama yang perlu 17:01 diketahui oleh setiap ayah yang sudah 17:05 memiliki kompetensi. 17:08 Lalu bagaimana kita harus memastikan 17:12 ketika anak ingin 17:16 berbicara, kita siap mendengar. 17:21 Ada satu metode pembelajaran yang 17:26 disebarlaskan 17:28 oleh Rasulullah melalui sebuah buku. 17:32 berharap buku itu dicari yang ditulis 17:36 oleh seorang ahli dari ee Pakistan yang 17:41 menekankan 17:43 bahwa 17:44 menjadi pendengar yang baik itu adalah 17:48 telinga kita kita arahkan kepada anak 17:53 yang kita ajak bicara. 17:56 Tapi yang tidak kalah penting pada saat 18:01 kita mau berbicara dengan anak kita, 18:05 kita harus menggunakan bahasa yang 18:09 jelas. Berarti dari bunyi huruf, 18:15 kata, dari vonumnya, kemudian kalimat. 18:20 itu yang kemudian kita sesuaikan dengan 18:23 usia dan kecerdasan dari anak kita. Yang 18:28 paling tahu tentang usia dan kecerdasan 18:32 anak kita, tiada lain kita sendiri 18:34 sebagai seorang ayah. Untuk itu, 18:36 bagaimana kita mengajak? Tapi yang tidak 18:40 kalah penting juga kita harus selalu 18:44 bersikap inklusif. Ini Bunda Nuning. Ini 18:48 satu dorongan yang perlu kita 18:51 terus-menerus bagaimana kita menjadi ee 18:54 orang yang inklusi. 18:56 termasuk setiap anak yang ada di depan 19:00 kita atau setiap anak yang ada di rumah 19:04 kita atau setiap anak yang ada di 19:06 sekitar kita, kita selalu memposisikan 19:11 mereka adalah individu yang unggul, yang 19:15 memiliki spesial khusus dan itu yang 19:18 kemudian kita harus menyentuh mereka 19:21 sesuai dengan 19:24 kekhususan-kekhususan 19:26 mereka dan yang kemudian kita menjadi 19:29 orang yang inklusi. 19:33 Betapa senangnya anak-anak kalau saat 19:37 dia diajak berbicara, 19:40 [mendengus] 19:41 saat anak berbicara lalu kita dengar 19:44 dengan ee seksama. Ini berarti tantangan 19:48 hari ini apa, Bunda Nuning? Bagaimana 19:51 seorang ayah kalau mau berbicara dengan 19:54 anak? Apakah sambil megang gadget atau 19:58 anak juga sambil ngadet apa gimana? Ini 20:02 menjadi menarik. Ah, ini mungkin Bung 20:05 Ondi punya anak sekarang yang masih 20:08 dalam proses tumbuh dan kembangnya ini 20:11 coba mulai ee praktikkan di keseharian 20:14 kita. Dan sebagai seorang ayah tidak 20:18 cukup hanya memberi uang, tidak cukup 20:22 hanya memberi pakaian, dan cukup hanya 20:25 menyekolahkan dan mengantarkan mereka ke 20:28 tempat-tempat yang mereka inginkan. Tapi 20:31 yang sangat mereka butuhkan adalah 20:33 bagaimana 20:36 saat mereka berbicara 20:40 ada telinga 20:44 ayah yang siap untuk mendengarkan apa 20:48 yang mereka sampaikan dan mereka sangat 20:53 menantikan 20:54 umpan balik berarti 20:58 apa yang akan keluar dari mulut. 21:01 He 21:02 ayah. Ah, kalau sudah terbiasa berbicara 21:07 dengan anak, insyaallah akan kita 21:10 menemukan suasana yang sangat 21:13 menggembirakan. Tapi ini menjadi catatan 21:16 Bunda Nuning, ada beberapa anak itu 21:20 kalau berbicara harus teriak-teriak. 21:24 itu sebetulnya seorang ayah harus 21:26 menyadari anak menjadi seperti itu itu 21:32 bukan lahir satu detik atau satu hari 21:36 itu sebuah proses. Kemungkinan itu 21:40 terjadi pada saat anak itu di dalam 21:43 kandungan di mana interaksi ayah dan 21:47 ibunya yang memunculkan sehingga keluar 21:51 anak-anak yang bersuara seperti itu. Itu 21:53 juga menjadi sangat penting untuk kita 21:56 ketahui bersama-sama. 21:58 [menghela napas][terkesiap] 21:59 Poin kedua ini juga menjadi penting juga 22:03 harus kita 22:05 ketahui bersama-sama. Tapi kami di 22:08 studio hanya memberikan informasi dasar 22:11 aja. Tapi untuk pengembangan diri dari 22:15 setiap ayah itu sangat ditentukan 22:19 kesediaan 22:21 ayah-ayah yang ada di rumah. ini menjadi 22:25 penting. 22:27 Tapi yang menjadi poin penting juga ini 22:32 kita berharap bahwa 22:35 partisipasi anak di rumah atau di mana 22:39 saja bukan sekedar hal yang ee 22:43 formalitas. 22:46 Ayahanda dan bunda, perlu kita ketahui 22:49 sekarang kalau di tingkat ee negara 22:55 atau di tingkat pemerintah, Kementerian 22:58 Pemberdayaan Perempuan 23:01 dan Perlindungan Anak 23:04 pada tahun ini telah menerbitkan sebuah 23:07 peraturan menteri, yaitu peraturan 23:11 menteri nomor 3 tahun 23:17 2025. Ah, kalau boleh dicatat ya, Bunda 23:19 Nuning. 23:20 He. 23:21 Ayahanda dan Bunda di rumah 23:23 masing-masing. Lalu kemudian cari di 23:26 Google 23:29 Permen PPA nomor 3 tahun 23:35 2025 tentang partisipasi 23:39 anak melalui forum anak. 23:42 yang ingin kami tekankan dari 23:47 mempelajari 23:49 bahwa ee partisipasi anak bukan sekedar 23:53 formalitas. 23:55 Itu bukan yang ada di dokumen ini, 23:58 tetapi bagaimana dokumen ini bisa 24:01 berfungsi, bisa optimal 24:05 itu sangat ditentukan praktiknya ada di 24:09 rumah. 24:11 Ada empat peran 24:14 di kehidupan bernegara hari ini. 24:18 kehidupan anak di kabupaten kota yaitu 24:24 pertama 24:26 bagaimana ayahanda 24:30 pada saat mau 24:33 menyusun sebuah aturan main di rumah 24:39 atau mau ada apa nih mau ngatur apa saja 24:44 di rumah itu dipersilakan tetapi 24:48 Kuncinya 24:50 berharap sebelum ada aturan yang Bapak 24:56 atau ayah susun, 24:59 pertama sekali yang perlu kita ajak 25:02 bicara adalah anak kita sendiri di 25:06 rumah. He. 25:07 Kebayang enggak, Bunda Nuning? Nanti 25:10 kalau anak kita sudah terbiasa mengatur 25:14 apa saja di rumah, dari bangun, 25:18 lalu tidur, ke sekolah, lalu kemudian 25:22 mendapat 25:23 ee peran tanggung jawab merawat taman, 25:27 me 25:29 memberi makan kucing atau memberi makan 25:33 merpati 25:34 atau mengelap kaca. 25:37 menyapu itu semua didiskusikan 25:41 di mana ayah sebagai bisa saja disebut 25:45 oh narasumber karena beliau nanti juga 25:47 akan memutuskan atau sebagai moderator 25:50 atau sebagai pemimpin rapat di rumah 25:55 anak-anakku 25:56 hari ini ayah 25:59 bersama bunda sudah memiliki sebuah 26:02 gagasan tetapi gagasan ini terkait 26:07 dengan 26:08 ada 26:11 pasti anak-anak akan dilibatkan. Ah, 26:13 tolong berikan, tolong pikirkan apa 26:18 pendapatmu. Nah, itu 26:21 tolong pikirkan apa pendapatmu. Itu ada 26:25 di naskah surah Assafat ayat 102. 26:31 praktik Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail 26:36 pada saat mau dikorbankan. 26:39 Poin penting. Jadi mendengarkan suara 26:42 anak itu sampai anak mau dikorbankan 26:46 saja dia harus dimintai untuk berpikir 26:49 dan berpendapat. 26:52 Bagaimana dengan kita mau atur aturan di 26:56 rumah? 26:59 Apakah kita sudah mendengarkan atau 27:02 meminta mereka untuk berpikir lalu 27:05 kemudian mereka berpendapat? Ayah Anda 27:08 dan bunda yang ada di rumah pada saat 27:12 anak berpikir itu, itu adalah kumpulan 27:17 dari 27:19 apa yang mereka baca. 27:22 Kemudian kumpulan pengalaman yang mereka 27:26 peroleh dari hari pertama menghirup 27:29 udara di dunia sampai detik pada saat 27:32 kita ajak berbicara dan suasana 27:36 kebatinan saat mereka dimintai pendapat. 27:41 Untuk itu terkait dengan 27:44 yang terakhir suasana kebatinan anak 27:48 untuk itu kalau kita mau mengajak anak 27:51 berbicara, berdiskusi, 27:54 harus kita pastikan anak kita dalam 27:57 kegembiraan tingkat tinggi. Jangan saat 28:00 dia baru bangun tidur, belum buat PR, 28:06 lalu kemudian dia masih ada tekanan dari 28:09 guru, apalagi ada tuntunan tuntutan dari 28:13 teman-temannya. 28:15 kita harus cari tuh bagaimana nih 28:18 berarti apakah kita bisa rekayasa 28:21 kegembiraan itu atau suasana kebatinan 28:24 anak dapat kita rekayasa atau kita dapat 28:29 upayakan dengan berbagai cara. misalnya 28:32 kita ajak ke satu tempat atau kita 28:36 sediakan makanan yang enak atau kue yang 28:40 enak. Dan kalau bagus juga kita mintai 28:43 pendapat dia untuk sebelum memberikan 28:46 pendapat dalam aturan-aturan yang akan 28:51 dibuat di rumah, dia kita ajak untuk ya 28:56 bergembira. Sehingga pada saat anak kita 29:00 mintai untuk berpikir lalu kemudian dia 29:03 berpendapat insyaallah 29:06 itu adalah hasil-hasil yang terbaik. dan 29:09 kemudian apa yang kita akan diskusikan 29:12 dengan mereka itu menjadi hal yang 29:14 menarik. Itu yang pertama. 29:19 Lalu yang kedua, kita mulai biasakan 29:23 atau kita perlu 29:26 menjadikan ini agenda di rumah kita 29:30 untuk memastikan 29:32 setiap apa yang akan kita 29:37 lakukan. 29:39 atau kegiatan-kegiatan yang akan kita 29:42 laksanakan di rumah 29:45 itu perlu kita mintai pendapat anak 29:49 kita. Perlu kita dengar, 29:53 Kak. Insyaallah ayah besok mau buat ini. 29:59 Menurut kamu bagaimana? Wah, itu 30:02 menarik, Bunda. 30:03 Iya. Ada enggak sih obrolan yang kita 30:06 ceritakan ini di rumah orang-orang saat 30:10 ini? 30:12 ini sebetulnya 30:14 menjadi sangat penting untuk melatih 30:18 anak-anak kita untuk masuki kehidupan 30:21 dia nanti. Kalau anak kita sudah 30:24 terbiasa, 30:26 ayahnya mau merapikan 30:31 tembok di depan, memindahkan pot bunga 30:35 dari Bunda, lalu kemudian merapikan 30:39 talang air atau apa saja yang ada di 30:43 rumah yang terkait dengan peran ayah 30:47 yang perlu 30:49 meminta pendapat dari anak Dan pasti 30:55 saat kita akan memintai anak untuk 30:58 berpikir dan berpendapat 31:02 itu sudah bagian 31:04 apa? Meringankan 31:07 pekerjaan yang sedang kita pikirkan. 31:11 Dan insyaallah kita tidak minta anak itu 31:15 juga akan berbagi tenaga. Oke, ayah. Aku 31:19 ambil bagian ini. Oke, ayah. Aku bagian 31:22 menyiapkan kuenya, makanannya. Kalau 31:25 anak perempuan atau sebagian juga ada 31:28 anak perempuan, dia mau manjat juga. 31:31 Nah, sudah bagian dari diri atau dari ee 31:36 keseharian dia itu menjadi menarik dan 31:38 itu perlu kita dorong. Dan akhirnya anak 31:42 itu mau ee ambil bagian. 31:46 Tapi yang tidak kalah penting ini hal 31:50 yang ketiga, peran anak di dalam 31:53 berpartisipasi. 31:55 Dan ini benar-benar kalau ini diminta 32:00 oleh ayahnya, 32:03 insyaallah dengan kesungguhan anak akan 32:06 mau melakukan apa itu? Dia menjadi 32:11 pelopor. Apa saja yang bisa dia pelopori 32:14 di rumah itu, Buun? 32:16 Bunda Nuning dulu waktu masih kecil 32:18 pernah memelopori apa? [tertawa] 32:23 Apa saja? 32:24 Bung Ondi pernah mau melopori apa di 32:28 rumah? 32:29 Waktu kecil apa sekarang? 32:30 Masih kecil. 32:32 di jadi ayah memberi peran kepada Bung 32:37 Ondi itu. Jadi dan itu yang kemudian 32:41 hari ini itu masih membekas. 32:46 Ayah yang nyuruh [tertawa] 32:47 ayah nyuruh kita. 32:48 Ayah menyuruh kita untuk menjadi ee 32:52 pelopor dalam hal-hal yang 32:55 dan ikutin ayah buat 32:56 positif. 32:58 Ah itu 32:58 jangan ayah buat ngerokok. Jangan 33:00 mengikuti ayah merok. Wah, itu ayah yang 33:03 parah tuh. [tertawa] 33:06 Jadi, akhirnya anaknya tidak menjadi 33:07 perokok. Ya, 33:08 enggak, enggak. 33:09 Tidak menjadi perokok. Iya, betul. Bunda 33:12 Nuning 33:14 banyak tapi bingung milihnya. 33:17 Saking banyak. Ah, coba bayangkan enggak 33:20 kalau anak kita itu sudah diberi 33:23 kepercayaan oleh ayah 33:26 untuk apa nih? kamu kayaknya hasil 33:29 bacaan ayah ini kamu itu kalau memimpin 33:33 ee memimpin apa teman-temanmu bermain 33:36 itu terlihat tuh ee kamu itu suka 33:40 mengatur, suka membimbing, suka apa. 33:45 Lalu ada lagi nih, kalau ayah lihat gitu 33:49 ya 33:51 apa saja yang kotor kamu selalu 33:53 bersihkan. Nah, itu tuh menjadi sesuatu. 33:57 Jadi menjadi ee hal-hal yang nanti saat 34:03 anak itu keluar dari rumah, dia masuk ke 34:06 lingkungan baik itu lingkungan komunitas 34:10 di tetangga, dia kemudian masuk ke 34:14 lingkungan bermain dengan teman-temannya 34:17 lalu dia masuk ke lingkungan pendidikan 34:19 atau sekolah atau di lingkungan di mana 34:23 dia akan ee berkegiatan. dia akan itu 34:28 akan keluar apa yang pernah didiskusikan 34:33 atau pernah diberi amanah oleh ayahnya 34:36 untuk menjadi seorang ee pelopor. 34:39 Pelopor 34:42 hanya memberi alamat kepada orang, "Dek, 34:46 di mana nih rumahnya ini?" Itu juga 34:49 he 34:50 memberikan informasi. Coba kebayang tuh 34:53 kalau seorang ayah mempersiapkan anaknya 34:56 itu tidak cukup hanya dimintai pendapat 35:00 lalu apa saja tapi dia menjadi pelopor. 35:07 Itu yang ketiga. Tapi yang tidak kalah 35:10 penting ini yang keempat Bunda Nuning. 35:11 He. Dan ini kalau diminta oleh ayah dan 35:17 anak kita dengan penuh kegembiraan 35:20 bersedia untuk melakukan adalah sebagai 35:24 pelapor. pelapor di sini bukan 35:28 berkonotasi 35:30 negatif, tapi melaporkan hal-hal yang 35:35 terkait dengan prestasi atau hal-hal 35:39 yang perlu mendapatkan atensi atau 35:43 perhatian. Terutama ayah kan tidak 35:47 setiap hari ee berinteraksi dengan anak 35:51 di rumah. 35:53 Lalu kemudian 35:55 dia sudah memberi peran kepada anaknya 35:57 ini sebagai pelapor. 36:00 Halo, apa kabar, Dek? Hari ini tadi 36:04 ketemu dengan siapa saja di sekolah. 36:10 Dari cerita itu kita coba dalami satu 36:13 saja. Bagaimana dengan si A? 36:17 Apa yang kamu bisa pelajari dari dia? 36:20 apa yang bisa kamu ee hindari dari dia? 36:23 Coba bayangkan Bunda Nuning, 36:25 itu kan laporan 36:27 dan itu yang kemudian bisa jadi bahan 36:29 diskusi ee antara ayah dan anak. Dan 36:34 kalau anak sudah diberi peran itu juga 36:37 dan dia berpartisipasi dengan 36:39 kesungguhan dan itu di mana dia akan 36:43 selalu mengingat 36:46 ee kita sebagai ayahnya. Saya sangat 36:49 sederhana kepada anak saya buat 36:52 proposal. Kalau mau minta apa-apa buat 36:56 proposal. Lalu setiap mau ya 36:58 asalamualaikum dek apa kabar? 37:02 Itu cerita akan keluar tuh semua. Kita 37:04 tanya lagi dikit 37:06 bagaimana nih 37:07 ah 37:09 kapan hal ini mulai kita praktikkan? 37:15 Kapan Bunda Nuning? 37:17 Sejak anak di dalam kandungan kalau 37:19 boleh itu sudah mulai kita persiapkan 37:21 sehingga pada saat anak itu 37:23 lahir ke dunia, kita sebagai seorang 37:26 ayah siap untuk meelakukan 37:31 banyak hal. Lalu yang tidak kalah 37:33 penting ini yang terakhir 37:37 Bunda Nuning. 37:39 Kalau Bunda mau mengenal anak bunda, 37:44 lihat saat dia melakukan apa? Apa tuh? 37:50 Pada saat dia berbicara. 37:53 Untuk itu seorang ayah kalau mau 37:57 mengenal diri kita 38:00 itu lewat anak 38:03 dengan cara bagaimana? 38:06 Sederhana. Bunda Nuning 38:08 tanya sama teman, "Ih, bagaimana dengan 38:12 ayah?" 38:14 Tidak. Kita tanya ke 38:16 anaknya atau ke ayahnya? 38:17 Ke teman anak kita 38:19 bagaimana sih? I 38:20 dia cerita, "Oh, ini ini dia sangat ee 38:24 kalau mau berbagi cerita, dia mau 38:26 berbagi kue, berbagai 38:29 banyak hal itu akan terekam, akan 38:34 tergambar bagaimana kita sesungguhnya 38:37 terhadap anak kita." Coba kebayang 38:40 Bung Ondi sudah mulai tes enggak? Apa 38:44 yang kita lakukan pada anak kita itu? 38:47 Kita tanya sama guru anak kita, "Pak, 38:53 Bu, bagaimana dengan 38:55 si A? Si B, 38:57 si A, wah, dia itu semua temannya itu 39:00 pada nangis. Wah, tuh bayang sederhana 39:03 tuh. 39:05 Kemungkinan besar itu yang dipraktikkan 39:08 oleh ayahnya di rumah. 39:12 Tapi wah sangat senang anak Bapak itu 39:17 sangat ee antusias pada saat kita 39:20 memberi mata pelajaran dia ee 39:23 benar-benar memperhatikan. Lalu kemudian 39:26 kalau saat dia diajak atau dimintai 39:29 untuk bertanya, dia yang pertama sekali 39:31 untuk mengajukkan tangan. dan 39:33 pertanyaannya itu sangat detail yang 39:37 kemudian membuat kami itu agak kesulitan 39:40 untuk mencari jawabannya. Wah, itu itu 39:42 praktiknya. Coba coba mulai tes anak 39:46 kita di rumah kita masing-masing dan itu 39:50 yang kemudian 39:52 akan menjadi kita akan melihat kalau 39:57 anak kita pendiam sudah sangat 39:59 sederhana. Anak itu mengalami pernah 40:03 mengalami kekerasan. Anak itu sangat 40:06 agresif apalagi pendiam saja. 40:10 Oh, anak itu sangat taat aturan. Ah, 40:15 itulah praktik ayahnya. 40:18 Anak itu benar-benar menghargai siapapun 40:22 yang dia jumpai. Begitulah kelembutan 40:26 hati ayahnya kepada diri dia. Ini kita 40:31 belum bicara ibu ya, Bunda Nuning. 40:33 Satu-satu 40:34 hanya ayah aja dulu. Karena ayah sekali 40:37 disebut oleh Rasulullah. 40:40 Tetapi untuk mendapatkan 40:43 peran siapa lagi yang aku harus hargai. 40:48 Ayat itu hanya sekali disebut, tapi 40:51 untuk mendapatkan satu itu investasinya 40:54 luar biasa yang kemudian akan membuat 40:59 anak itu menghargai ibunya yang kemudian 41:03 disebut oleh Rasulullah tiga kali. Nah, 41:05 ini menjadi sangat penting untuk 41:08 sama-sama kita ee coba pelajari 41:14 lewat suara anak-anak 41:18 kita. Kita akan mempelajari tentang diri 41:22 kita sendiri. sudah 41:26 seperti apa ayah memperlakukan 41:30 anak-anaknya, baik itu anak laki-laki 41:34 maupun anak perempuan di rumah. Kalau 41:37 kita lihat di TikTok atau di drama-drama 41:41 itu menjadi hal yang menarik. Ada sebuah 41:45 film India, 41:47 dia seorang ee apa? Benaring ee 41:53 atlet gulat. 41:55 He. 41:55 Jadi pelatih gulat. Lalu juara. Dia 41:58 berharap nanti ee kemampuan dia ini akan 42:03 dia turunkan kepada anaknya. Tapi 42:07 Allah mempercayai melalui sulbinya anak 42:12 perempuan dua-duanya. 42:13 Heeh. 42:14 Ah. Bagaimana nih? Akhirnya anak 42:17 perempuannya dilatih, diberi kepercayaan 42:21 diri, diberi peran, akhirnya juara. Jadi 42:26 mendapatkan anak perempuan itu bukan aib 42:29 bagi diri dia, tapi sebuah kebanggaan. 42:32 Tetapi bagaimana untuk melewati itu? di 42:35 kehidupan masyarakat masih ada seperti 42:38 itu dan itu yang menjadi ee satu 42:41 perjuangan dan berharap kita harus 42:45 selalu ee ingat apa yang diperjuangkan 42:49 Rasulullah adalah bagaimana kita 42:52 memposisikan anak laki-laki dan anak 42:56 perempuan itu sama. dan kalau boleh anak 43:00 perempuan yang perlu kita tonjulkan 43:02 supaya mereka ke depan nanti akan mampu 43:08 menguasai diri dia dan mempersiapkan 43:11 generasi dia yang akan datang yang 43:13 kemudian akhirnya akan lahir 43:15 individu-individu yang hebat. Itu semua 43:18 sangat ditentukan 43:21 oleh bagaimana ayah bersedia 43:25 mendengarkan anaknya. ini mungkin yang 43:28 bisa kita ee sampaikan. Kalau ada 43:31 pertanyaan kita jawab, kalau tidak ada 43:35 wah berarti kita diskusi lagi. 43:37 Demikian. 43:38 Oke. Menarik sekali karena biar 43:41 bagaimanapun juga perlu dicatat tadi ya, 43:45 partisipasi anak melalui forum anak bisa 43:48 cek ke Permen PP nomor 3 43:52 I 43:52 tahun 2025. Oke, ini ada pertanyaan dari 43:57 Ibu Intan. 43:59 Anak dijadikan plopor, saya tuh dulu di 44:02 rumah diserahi memilih besok mau sarapan 44:06 apa. Padahal saya baru TK loh. Tetapi 44:10 sekarang ketika anak-anak dimintain 44:13 pendapat atau mau jadi pelopor, 44:16 jawabannya terserah Bunda. Oh, gimana 44:19 nih? Salah di mana ya? Baik, terima 44:22 kasih Bunda di rumah. tanyakan kepada 44:25 ayahnya, 44:27 apakah ayahnya 44:31 sudah ee menghidupkan tidak 44:34 diskusi-diskusi 44:35 yang diharapkan oleh pendiri bangsa 44:39 bahwa kunci dari negara Indonesia itu 44:42 ada di musyawarah. 44:45 Musyawarah itu tidak harus di tingkat 44:48 RT, di tingkat RW atau sampai ke MPR, 44:52 tetapi 44:54 intinya ada di rumah. Kalau di rumah 44:59 sudah terbiasa 45:02 membicarakan semua hal itu melalui meja 45:05 atau ruang meja makan atau di ruang 45:09 makan, insyaallah itu akan menjadi 45:12 pembiasaan. Dan seperti yang Ibu ee 45:16 alami 45:18 di rumah bahwa pembiasaan itu 45:23 didiskusikan dan akhirnya ibu diberi 45:25 peran untuk 45:27 membuat sarapan waktu masih kecil. Tapi 45:30 pengalaman itu hari ini tidak Ibu 45:33 ketemukan di ee rumah kita. Itu berarti 45:37 ada sesuatu. Nah, untuk itu tidak ada 45:41 kata terlambat. Mumpung masih ada anak 45:46 di rumah kita, 45:48 kita mulai dari hal-hal yang kecil. Tadi 45:52 ada empat hal yang dapat diperankan oleh 45:56 anak kita. Empat peran ini kalau matang 46:01 atau he 46:02 tumbuh lalu berkembang dengan utuh di 46:06 rumah. Pada saat mereka keluar dari 46:09 pagar rumah kita, kita akan merasa lega. 46:13 Apa itu? Segala sesuatu kalau ada aturan 46:18 kita minta anak untuk berpikir dan 46:21 mereka berpendapat. Lalu yang kedua, 46:24 segala sesuatu yang mau kita kerjakan 46:28 sekecil apapun 46:30 yang akan kita rencanakan, selalu kita 46:33 mintai mereka untuk berpikir lalu 46:35 kemudian mereka berpendapat. Ambil 46:37 contoh misalnya ada di depan rumah itu 46:43 kalau hujan suka banjir. 46:45 He 46:46 atau ada 46:49 tampias atau kecil-kecil aja tuh kita 46:52 ajak, "Dik, bagaimana nih besok kita 46:56 punya rencana untuk ini? Bagaimana 46:58 menurut kamu?" 47:01 Jadi dia akhirnya mikir, "Oh, Bun, coba 47:05 aku cari di Google ya, ada enggak nih 47:07 cara ini." Nah, itu berarti dia sudah 47:09 mulai berpikir. Lalu kemudian dari hasil 47:13 apa yang dia searching atau apa yang dia 47:16 itu yang kemudian dia beri usulan. 47:20 Tapi yang menjadi tantangan kita, orang 47:23 dewasa harus bersedia menerima usulan 47:26 anak kita. 47:28 Ada dua hal. Kalau kita terima berarti 47:32 kita harus ada argumen juga. 47:33 Iya. 47:34 Tapi yang jadi soal 47:36 apa yang dia usulkan itu kita tolak. 47:41 Itu harus kita beri argumen yang logik. 47:45 Karena jangan sampai dia sudah memberi 47:49 usulan tapi kemudian usulannya ah gitu 47:51 aja. He. 47:52 Itu berarti melakukan pengabaian dan itu 47:56 menjadi salah satu hal yang sangat 48:00 sangat tidak disukai oleh orang-orang. 48:03 Iya. 48:04 Termasuk anak kita itu menjadi penting. 48:06 Lalu yang ketiga, Bunda Nuning, kita 48:09 kasih dia peran apa saja? Coba bayangkan 48:13 rumah itu ada berapa ee ruangan, Bunda 48:16 Nuning, halaman, 48:18 ruang tamu, ruang makan, 48:20 ruang tamu, ruang makan. Dapur. 48:23 Dapur 48:23 kamar tidur, 48:24 kamar tidur, gudang. Kalau ada apaagi 48:27 Ben Ning coba kebayang. 48:30 Iya. 48:31 Satu ruang aja dia diberi peran tuh. Wah 48:35 atau apa saja. Cuma peran dia itu 48:41 mendorong 48:44 apa? Eh, on off di lampu, on off lampu. 48:47 Nyalakan pagi e apa menjelang petang 48:52 lalu malam kalau mau tidur langsung 48:56 offkan. Itu kan peran. 48:59 Tapi kadang-kadang peran itu 49:02 suka dibypass dan itu yang kemudian akan 49:07 merugikan anak kita. Dan itu yang 49:11 kemudian 49:12 akan menjadi penyesalan bagi banyak 49:17 orang tua itu hari-hari ini mereka 49:19 menyesal. Kenapa ya? Kenapa ya? 49:23 Kalau penyesalan tidak diubah menjadi 49:26 sesuatu. Ah, itu untuk itu hari ini kita 49:29 coba mulai ubah. Lalu yang ketiga nih eh 49:32 yang keempat beri peran anak untuk 49:38 di rumah itu apa saja Bunda Nuning yang 49:40 bisa di dilaporkan kepada 49:43 ayah atau kepada ibu di rumah? Coba dari 49:47 belakang sampai ke depan. dari masuk 49:51 pintu gerbang sampai masuk itu ada aja 49:54 itu yang bisa, "Bun, kok sekarang sudah 49:57 mulai ada lawang di situ, Bun? Kenapa ya 50:01 ee gambar ini udah mulai miring? 50:04 Itu sesuatu yang kecil, Bunda Ning." 50:07 He. 50:08 Tapi kalau kita tidak respon itu, itu 50:10 akan terjadi penghabaian. Ah, Bunda, aku 50:13 aja pada saat aku mau lapor, dia tidak 50:17 cuek. 50:18 Apalagi kalau 50:20 Bun, boleh enggak aku bagi cerita? Ada 50:23 apa? 50:25 Aku tadi dicolek-colek. Hah? Pasti kamu 50:29 nyalain duluan. [tertawa] 50:32 Kita ada apa? Wah, minum dulu air. 50:37 Taruh dulu tas. Apa nih? Dengan 50:41 ketenangan, dengan kesungguhan kita mau 50:44 menerima. 50:46 Kayak ada tuh ayah menerima laporan, 50:49 "Ayah, aku ditampar oleh guru kepala 50:52 sekolah." Tanya, "Kenapa?" 50:56 Ah, karena ayahnya tidak menerima 50:58 laporan yang utuh, langsung 51:00 nyalain anak, 51:01 langsung nyalain kepala sekolahnya. 51:03 Oh, malah nyalahin kepala sekolah. 51:04 Dan itu jadi kasus besar. Hah? Kalau 51:07 ayah yang hebat, ada apa? Kita minum 51:10 dulu, makan dulu. Cerita 51:13 ini arogannya yang keluar. 51:16 Itu yang jadi soal. Semoga ayah-ayah 51:19 yang ada di Indonesia itu kalau ada 51:21 dapat laporan dari anaknya itu mikir 51:24 dulu, 51:26 baca aturan. 51:28 Apakah ini mau melakukan sesuatu untuk 51:32 ee melakukan apa nih? Ee karena selama 51:36 ini melakukan pengabaian pada anak kita, 51:38 sekarang kita pengin jadi pahlawan. Apa 51:41 itu bisa juga tuh ya. Untuk itu menjadi 51:44 ayah yang hebat itu tidak lahir dalam 51:48 satu hari, tetapi dia lahir dari 51:52 berproses, terutama sejak dia ee 51:57 menganjak remaja karena dia pernah jadi 52:01 anak, jadi remaja. Sekarang beberapa 52:04 saat yang akan datang dia akan dewasa. 52:06 Lalu dia selesai sekolah bekerja, lalu 52:09 dia menikah. Dan itu kalau tidak diikuti 52:12 dengan proses pembelajaran hanya melihat 52:16 apa yang dilihat pada praktik-praktik 52:19 yang didapat dari ayahnya dan itu 52:22 kemudian yang hanya dilihat atau yang 52:24 diingat yang negatifnya sudah yang akan 52:27 rugi nanti [berdehem] 52:30 anak-anak yang lahir dari sulbinya dan 52:33 anak-anak yang ada di sekitar 52:36 ee ayah tersebut. itu Bunda Nuni. 52:38 Jadi meminta anak memberikan pendapat 52:41 jauh lebih baik dibandingkan anak yang 52:44 penurut ya yang 52:45 yes mem gitu aja. 52:47 Kalau anak-anak penurut biasanya dia 52:49 sudah terbiasa berpendapat. 52:52 Justru seperti itu ya. Heeh. 52:54 Ini boleh sebelum berakhir pertanyaan 52:58 dari tidak ada namanya. Perbedaan warna 53:00 politik memang bikin suasana di rumah 53:02 tegang. Ayah pilih A, anak dukung B. 53:06 Sebagai ibu saya stres tahu ayah harus 53:09 ngalah ya meski bukan berarti harus ikut 53:11 pandangan anak kan. Dan satu lagi yang 53:15 mirip sekali yaitu terkait dengan emm 53:18 kalau ayah sibuk, anak sibuk, bagaimana 53:21 mengatasinya sebagai ibu yang ingin jadi 53:24 jembatan tapi bingung mereka banyak 53:27 alasannya. Ooh. 53:30 Tantangan. 53:32 Tantangan itu bukan berarti kita tidak 53:35 bisa lewati. Kita ambil terkait dengan 53:39 ee 53:41 perbedaan 53:43 aliran politik. Wah, itu menjadi menarik 53:48 dan itu berarti inklusif. 53:52 Karena kalau satu jadi eksklusif. 53:54 Iya. Iya. 53:55 Dan akhirnya di sana kita akan lihat 53:58 bagaimana tuh kedewasaan anak kita. akan 54:02 belajar dari kedewasaan ayahnya. 54:06 Satu penelitian yang dilakukan oleh 54:09 Kevin Lins terhadap bagaimana persepsi 54:14 anak, 54:16 yaitu anak sangat senang 54:21 cara-cara orang dewasa menyelesaikan 54:24 masalah. He 54:26 dia akan belajar tuh Bunda Nuning. Kalau 54:29 orang dewasa menyelesaikan masalah 54:31 dengan penuh kebijaksanaan, 54:35 anak akan belajar tentang hal seperti 54:37 itu dan itu menjadi penting. Role 54:42 itu menjadi utama. Untuk itu sebagai 54:46 seorang ayah menjadi lebih hebat. Dan 54:50 ini yang jadi tantangan ibu sebagai 54:54 mediator. Wah, bagaimana nih memediasi 54:57 atau memfasilitasi. 54:59 Untuk itu cari [berdehem] momen yang 55:03 sangat ee penting di mana kedua-dua 55:07 orang tersebut itu tidak punya ee 55:10 aktivitas yang tinggi. Ah, untuk itu 55:13 lacak. Berarti coba ibu telusuri 55:18 agenda ayah 1 tahun terakhir. 55:22 Cari di bulan-bulan mana yang longgar 55:26 dan dari bulan-bulan itu di hari-hari 55:29 apa yang longgar. Dari hari-hari yang 55:32 longgar itu di jam mana itu yang 55:34 benar-benar [berdehem] 55:35 ee 55:37 apa memang kosong. Itu kedua anak kita 55:43 cari nih telusuri satu 55:46 1 tahun sama seperti kondisi si ayah 55:49 jadi telusuri dan yang kemudian 55:52 ibu coba agendakan sesuatu yang sangat 55:57 ee spesial. Lalu kemudian di situlah 56:02 Bunda berbagi cerita bagaimana untuk 56:06 mempraktikkan apa yang kita diskusikan 56:09 hari ini. Demikian Bunda. 56:11 Iya. Closing statement. 56:13 Baik, terima kasih ayahanda dan bunda di 56:16 rumah. Anak bukan milik kita karena anak 56:20 adalah titipan Allah melalui sulbi kita. 56:27 Tidak cukup kita hanya memberi makan, 56:31 minum, pakaian, dan memberikan akses 56:36 sekolah kepada mereka. Tapi bagaimana 56:40 kita memastikan hak mereka untuk 56:44 berpolitik. 56:45 Berpolitik di sini adalah bersuara. Itu 56:48 merupakan hak asasi manusia. bersuara. 56:52 Berarti yang akan mendengarkan suara 56:56 anak pertama sekali siapa? Tiada lain 57:02 ayah yang ada di rumah. 57:06 Ayah yang hebat 57:08 akan terlihat dari 57:11 apa yang dipraktikkan oleh anak-anak 57:15 kita di luar. Untuk itu, bagaimana kita 57:18 harus mempersiapkan mereka? 57:20 Sebagai seorang ayah perlu segera 57:24 meningkatkan kompetensi dengan cara 57:27 meningkatkan pengetahuan tentang hak 57:31 anak. Untuk itu baca konvensi hak anak, 57:35 baca Undang-Undang Perlindungan Anak dan 57:38 khususnya baca juga Permen PPA nomor 3 57:42 tahun 2025 tentang partisipasi anak. 57:47 Tetapi kalau boleh telusuri 57:51 ee tafsir 57:54 ayat yang berhubungan dengan 57:58 sirah ee 58:00 Nabi terkait Nabi Ibrahim yang ada di 58:04 surah Assafat ayat 102. 58:09 Wahai anakku, semalam ayah bermimpi 58:13 untuk menyembelihmu. Koma, tolong 58:16 pikirkan apa pendapatmu. 58:20 Yang menjadi pokok bahasan kita hari ini 58:25 itu terkait dengan tolong pikirkan apa 58:29 pendapatmu. 58:31 Apakah para ayah-ayah 58:34 yang ada di Indonesia hari ini masih 58:38 mempraktikkan 58:39 kata-kata ini? 58:42 Tolong 58:44 pikirkan apa pendapatmu. Nah, dalam 58:49 semua hal dari hal yang kecil terutama 58:52 di rumah. Lalu kemudian hal-hal pada 58:56 saat anak kita 58:58 telah berpindah posisi di luar pagar dan 59:02 itu yang kemudian praktik-praktik 59:04 terbaik yang ayahanda lakukan kepada 59:08 anak kita akan terlihat di situlah akan 59:11 terlihat siapa diri ayah yang 59:15 sesungguhnya. Diri ayah yang hebat akan 59:18 terlihat pada diri anak-anak mereka. 59:21 Demikian semoga Allah tetap terus 59:25 memberikan cahaya kepada kita yang hari 59:28 ini sudah lembut kepada anak-anak kita 59:31 akan semakin lembut lagi. Demikian. 59:33 Asalamualaikum warahmatullahi 59:35 wabarakatuh. 59:36 Waalaikumsalam warahmatullahi 59:39 wabarakatuh. Iya, ikhwan akhwat. 59:42 Mudah-mudahan ya kalau kita menganggap 59:45 anak-anak punya kepribadian yang khusus 59:47 sehingga mereka merasa istimewa dan 59:50 mencontoh ayahnya. Luar biasa sekali. 59:53 Apalagi kalau tadi ingat yang terakhir 59:55 disampaikan oleh ee Dr. Hamid 5 tentang 1:00:01 percakapan Nabi Ibrahim bersama Ismail 1:00:05 yang minta pendapatnya saat menghadapi 1:00:08 satu pilihan. Ternyata meminta pendapat 1:00:11 anak itu sesuatu yang luar biasa. Baik, 1:00:14 sekali lagi terima kasih untuk 1:00:15 kebersamaan ini. Mudah-mudahan lanjut di 1:00:18 bulan eh di minggu-minggu yang akan 1:00:21 datang terkait dengan perlindungan anak 1:00:24 yang akan menjadikan kita sosok yang 1:00:27 cukup bisa dibanggakan oleh buah hati 1:00:30 kita. Terima kasih. Billahi taufik wal 1:00:32 hidayah. Wasalamualaikum warahmatullah 1:00:34 wabarakatuh.