Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:07 [musik] 0:07 Rasul TV 0:14 Bismillahirrahmanirrahim. 0:16 Assalamualaikum warahmatullahi 0:18 wabarakatuh Ikhwan Akhwat 0:19 rahimakumullah. 0:21 Alhamdulillah ya, kita bisa bersama-sama 0:23 lagi di acara perlindungan anak yang 0:27 mudah-mudahan mempersuasi kita menjadi 0:29 sosok sosok yang bisa membantu banyak 0:32 hal bagi anak-anak kita bahkan anak 0:35 negeri tercinta Indonesia ini. 0:38 Seperti biasanya tidak lupa salam 0:40 selawat kita lantunkan untuk junjungan 0:42 umat kekasih kita Muhammad Rasulullah 0:45 sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak 0:48 kita dipertemukan beliau di saat yang 0:50 sangat kita rindukan di yaumil akhir. 0:52 Dan seperti biasa juga yang hadir untuk 0:55 acara perlindungan anak adalah dokter 0:58 Hamid Patlima. Kalau beberapa waktu kita 1:01 bicara tentang bahwa 1:03 eee 1:04 ayah itu bukan cuma sekedar tulang 1:07 punggung keluarga ya tetapi bagaimana 1:11 cara menjadi ayah yang hebat adalah 1:13 kerinduan kita bersama. 1:15 Hari ini lanjutan dari bahasan itu 1:18 kira-kira seperti apa persisnya? 1:20 Yuk kita sapa narasumber kita. 1:22 Assalamualaikum warahmatullahi 1:24 wabarakatuh. Waalaikumsalam, 1:27 apa kabar Bunda? Alhamdulillah sehat ya. 1:31 Terus untuk kali ini bagaimana cara 1:33 menjadi ayah yang hebat spesialisasinya 1:36 apa nih? 1:37 Insya Allah kita akan membahas anak 1:40 bukan milik kita. Ehem. 1:43 Dari mereka kita akan belajar 1:47 mendengar suara mereka. Masya Allah, 1:49 jadi Ikhwan Akhwat anak bukan milik 1:52 kita, anak titipan Allah subhanahu wa 1:55 taala. Jadi kita harus 1:57 sediakan dua telinga kita untuk 1:59 mendengar, menyimak bagaimana suara 2:01 mereka. Oke, kita dengarkan dengan 2:04 telinga jiwa kita. Silakan, Dok. 2:07 Baik, terima kasih, Bunda. 2:09 Bismillahirrahmanirrahim. 2:11 Asalamualaikum warahmatullahi 2:14 wabarakatuh. 2:15 Pendengar Radio Rasya di mana saja 2:18 berada, alhamdulillah 2:21 kita masih diberi kesempatan oleh Allah 2:24 untuk berbagi informasi. Insyaallah kali 2:28 ini kita akan melanjutkan bahasan 2:32 terkait dengan 2:33 ayah bukan hanya sebagai tulang 2:36 punggung, tetapi juga menjadi pengasuh 2:41 kunci di dalam ee 2:43 pertumbuhan dan perkembangan anak. 2:46 Menjadi ayah yang hebat itu sesuatu yang 2:50 sangat di 2:52 nanti-nantikan oleh setiap anak. Untuk 2:55 itu 2:56 bagi ayah yang hari ini 3:00 belum bertanya kepada anaknya 3:03 atau menyapa anaknya, ini menjadi sangat 3:07 penting 3:08 bagi anak-anak kita. 3:11 Untuk itu hari ini kita akan 3:14 membahas satu tema yang 3:17 penting, lanjutan dari tema-tema 3:19 sebelumnya, yaitu terkait 3:22 anak bukan milik kita 3:25 belajar mendengar suara me mereka. 3:29 Ini menjadi satu hal yang sangat 3:31 penting. 3:34 Ee Bunda Nuning, kalau kita di 3:38 titipkan 3:41 anak oleh bupati atau oleh walikota 3:46 atau 3:47 oleh pak lurah 3:49 pasti apa yang akan kita perlakukan 3:51 kepada anak-anak tersebut? Yang kali ini 3:55 yang menitipkan 3:57 anak yang ada di rumah kita melalui 4:00 sulbi 4:02 ayah dan rahim bunda itu Allah sendiri. 4:06 Untuk itu apa yang harus kita lakukan? 4:11 Sebagaimana kita ketahui menjadi seorang 4:16 ayah dan menjadi seorang ibu, khususnya 4:19 kali ini kita fokus kepada seorang ayah 4:23 itu harus memiliki 4:26 kompetensi. 4:27 Kompetensi ini yang kemudian 4:30 perlu didalami baik 4:33 waktu masih remaja 4:36 lalu pada saat sudah mulai 4:39 menganjak ee 4:41 beranjak ke dewasa dan kemudian sudah 4:44 mulai mengenal lawan 4:47 ee jenis 4:48 kemudian 4:50 diberi kepercayaan oleh 4:53 calon mertua 4:55 calon mertua untuk menjaga putrinya, nah 4:58 di sanalah kita sudah 5:00 mulai belajar banyak terkait dengan 5:04 banyak hal. 5:05 Agar kita menjadi 5:08 seorang ayah yang memiliki kompetensi. 5:11 Kompetensi yang paling penting itu 5:15 adalah terkait dengan pengetahuan kita 5:19 terkait dengan anak. 5:22 Anak sesungguhnya bukan ee milik kita. 5:25 Kita hanya diberi kepercayaan oleh Allah 5:29 melalui sulbi kita. 5:32 Yang kemudian melalui sebuah proses 5:35 alami yang itu kemudian 5:38 terjadi sesuai dengan sunatullah, 5:41 akhirnya kita 5:43 memiliki seorang anak dan 5:47 anak itu memiliki 5:50 salah satu hak asasi yang diberikan oleh 5:55 Allah ke setiap manusia 5:59 termasuk anak kita. Apa itu Bunda 6:02 Nuning? 6:03 Hak asasi manusia yang pertama yang 6:05 diberikan oleh 6:08 Allah kepada kita. Bukan 6:11 hak asasi yang kita ketahui bahwa 6:14 seakan-akan hak asasi manusia itu 6:18 eh yang dikembangkan oleh Barat. Ah, itu 6:24 orang kalau masih punya pemikiran 6:26 seperti itu 6:27 belum membaca secara lengkap 6:33 sirah Nabawiyah 6:35 dan sirah sahabat. 6:37 Karena yang memperjuangkan hak asasi 6:40 manusia di dunia itu pertama adalah 6:43 Rasulullah. Kali ini kita coba 6:47 dalami. 6:48 Apa salah satu hak asasi manusia yang 6:51 diberikan oleh Allah ke setiap manusia 6:56 terutama anak kita. Untuk itu sebagai 6:59 seorang ayah, kita perlu memiliki 7:02 pengetahuan tentang itu. Apa itu? Yaitu 7:06 hak berpolitik. 7:09 Anak kita itu 7:11 memiliki 7:13 hak untuk berpendapat atau bersuara. 7:18 Sebagaimana kita ketahui 7:20 Indonesia itu telah meratifikasi 7:24 konvensi anak sejak tanggal 25 Agustus 7:29 tahun 1990 7:33 melalui sebuah keputusan presiden. 7:36 Kalau boleh dicatat ini keputusan 7:38 presiden 7:40 agar setiap ayah itu mengetahui apa yang 7:44 akan diupayakan 7:47 oleh ayah kepada setiap anak-anaknya 7:52 agar 7:54 anak-anaknya itu difasilitasi untuk 7:57 berbicara, 7:59 berpendapat. 8:01 Itu yang kemudian kita mengetahui, oh 8:03 ada dasar hukumnya. Itu ada di pasal 12 8:07 konvensi anak. Ah, baca di sana 8:10 baik-baik. 8:11 Lalu bagaimana di 8:15 kebijakan nasional? Di kebijakan 8:17 nasional itu 8:19 kalau ayahanda 8:21 perlu mengetahui untuk memastikan hak 8:25 bersuara anak itu benar-benar 8:28 apakah sudah diakomodasi, itu ada di 8:31 pasal 24 8:34 Undang-Undang 8:36 35 8:37 tahun 2014 8:40 tentang perlindungan anak. Dan itu juga 8:43 diulangi lagi di pasal 72 8:47 ee ayat 3 huruf G. Ah, ini. Apa poin 8:52 yang ada di pasal 24 itu? Yaitu 8:55 negara 8:57 pemerintah, pemerintah daerah menjamin 9:01 suara anak didengar sesuai dengan usia 9:05 dan kecerdasannya. Ah, bagaimana dengan 9:08 ayahanda dan bunda di rumah? Khususnya 9:12 ayah. 9:13 Apakah kita sudah berupaya tidak 9:16 me 9:17 coba mempraktikkan apa yang dilakukan 9:21 oleh 9:23 ee 9:24 Luqman 9:26 yang selalu berdialog 9:29 dengan anaknya? 9:31 Atau 9:33 apa yang 9:34 digariskan oleh Allah 9:37 di surat 9:39 ee As-Saffat ayat 102 9:43 yang intinya adalah 9:46 "Wahai anakku, 9:48 Ayahanda bermimpi untuk menyembelihmu. 9:52 Tetapi 9:53 di kalimat berikutnya ada koma, 9:57 tolong pikirkan apa pendapatmu." Nah, 10:00 ini poin poin penting untuk 10:03 [menghela napas][terkesiap] 10:04 belajar mendengar suara anak itu menjadi 10:09 ee sesuatu dan itu merupakan 10:13 hak asasi manusia yang pertama yang 10:16 diberikan oleh Allah kepada setiap 10:19 manusia, terutama anak. 10:22 Untuk itu, 10:23 apa yang telah kita upayakan untuk 10:27 memastikan hak anak untuk didengar itu 10:32 benar-benar telah dipraktikkan. 10:35 Nah, untuk itu, Ayahanda dan Bunda, 10:37 coba 10:39 gali berbagai literatur 10:42 terkait dengan bagaimana nih supaya kita 10:46 benar-benar memastikan 10:49 bahwa 10:50 anak itu benar-benar merasa 10:53 dia memiliki hak untuk berpendapat. 10:58 Atau 11:00 dia memiliki seorang ayah yang 11:03 benar-benar memfungsikan 11:06 pendengarannya untuk mendengarkan suara 11:10 anaknya. Ini satu tantangan bagi setiap 11:15 ayah yang ada di rumah, terutama mereka 11:19 yang mendengarkan ini. Atau bagi mereka 11:22 yang mendengarkan 11:24 berharap untuk menyebarluaskan 11:27 betapa pentingnya untuk memenuhi hak 11:30 asasi manusia pada anak yaitu hak 11:34 berpolitik atau hak bersuara. 11:37 Kebayang Ayahanda dan Bunda, 11:40 bagaimana para pemimpin negara kita itu 11:45 merumuskan sila keempat. Di sana ada 11:49 musyawarah. 11:50 Musyawarah itu kuncinya adalah 11:53 mendengar. 11:55 Apa yang disampaikan oleh lawan bicara 12:00 kita. 12:01 Kalau di rumah, siapa lawan bicara 12:04 seorang ayah? 12:06 Tiada lain adalah anak itu sendiri. 12:10 Tinggal persoalan, apakah kita memiliki 12:13 keterampilan tidak? Nah, ini 12:15 keterampilan ini juga menjadi penting. 12:19 Untuk itu, 12:21 kalau kita ingin benar-benar 12:25 untuk me 12:27 wujudkan atau memenuhi atau melaksanakan 12:32 hak anak untuk didengar 12:35 suaranya, 12:37 itu seorang ayah benar-benar harus 12:39 memiliki kemampuan public speaking. 12:43 Kunci dari public speaking bukan hanya 12:46 mampu mendi- mendelivery informasi yang 12:49 didapat 12:51 kemudian di 12:54 dengar, 12:56 dipahami, 12:58 dimengerti oleh lawan bicara kita. 13:01 Tetapi di sana ada hal kunci, yaitu 13:05 bagaimana memastikan 13:08 kita menggunakan frekuensi anak. 13:12 Pertanyaannya, 13:14 apakah 13:15 seorang ayah itu pernah enggak jadi 13:17 anak? 13:20 Kalau dia pernah menjadi anak, mungkin 13:23 dia juga punya pengalaman yang positif, 13:27 tapi juga kemungkinan besar punya 13:29 pengalaman pengalaman negatif. 13:32 Suaranya tidak pernah didengar dan kalau 13:36 berbicara dengan orang dewasa atau orang 13:39 tuanya atau ayahnya, ayahnya itu 13:43 menggunakan tones atau frekuensi orang 13:46 dewasa. 13:48 Nah, untuk itu kalau kita sudah punya 13:50 pengalaman seperti 13:52 kenapa harus kita ulangi 13:55 perbuatan-perbuatan 13:57 jahil itu kepada anak kita. Untuk itu 14:01 kita sebagai ayah yang pernah jadi bayi, 14:06 pernah jadi anak, lalu punya pernah jadi 14:09 remaja 14:11 coba gunakan frekuensi-frekuensi yang 14:14 pernah kita eh gunakan itu untuk kita 14:19 gunakan berinteraksi dengan anak kita 14:23 saat ini. Baik itu anak laki-laki maupun 14:28 anak perempuan yang 14:30 lahir dari sulbi kita. 14:34 Apakah hanya sampai di situ kita dapat 14:36 berperan? Coba bayangkan 14:39 kalau setiap ayah yang ada di sekitar 14:43 anaknya mempraktekkan hal-hal yang 14:46 terbaik dan itu yang kemudian 14:49 juga dirasakan oleh setiap anak yang 14:52 berinteraksi dengan kita sebagai orang 14:54 dewasa dan kita juga dianggap sebagai 14:57 ayah oleh anak-anak tersebut, bagaimana 15:01 rasanya tuh ya? 15:03 Kehidupan pasti 15:05 tidak ada yang diam-diam saja, tetapi 15:08 yang ada itu saling bercengkraman, 15:12 saling berbagi cerita dan yang paling 15:16 utama yang sangat disenangi 15:20 atau yang sangat diharapkan oleh 15:22 anak-anak kita itu mereka ingin 15:25 didengar. 15:27 Pertanyaannya, 15:30 apakah Ibu Bapak 15:33 sudah memfungsikan tidak 15:36 pendengaran 15:38 yang menjadi indra 15:40 penting yang ada di bagian tubuh kita 15:43 diberikan oleh Allah kepada kita sebagai 15:45 seorang ayah 15:47 itu benar-benar difungsikan 15:51 saat anak kita berdiskusi dengan kita. 15:53 Ini tantangan ya Bunda Nuning. 15:55 Harus dijawab masing-masing oleh setiap 15:59 ayah. Kalau belum, 16:02 harus 16:03 berupaya. Kalau sudah, syukur 16:06 alhamdulillah. 16:07 Tapi menjadi tantangan juga buat 16:10 ber bagi mereka yang sudah 16:12 mempraktekkan, itu bagaimana kita 16:14 menyebarkan 16:16 seluas-luasnya 16:18 keluasan kita kepada anak kita, itu 16:22 kepada orang lain sehingga 16:24 praktek-praktek baik yang ada di diri 16:28 kita sebagai seorang ayah yang telah 16:31 mendengarkan suara anak itu 16:34 menyebar luas ke seluruh nusantara. 16:38 Ini tantangan sekaligus kalau bisa 16:41 menjadi sebuah aksi 16:43 eee besar 16:45 akhirnya akan lahir ayah-ayah yang 16:50 hebat. Ayah-ayah yang selalu 16:53 mendengarkan suara anak-anak mereka. 16:57 Ini 16:58 pembahasan yang pertama yang perlu 17:01 diketahui oleh setiap ayah yang sudah 17:05 memiliki kompetensi. 17:08 Lalu, 17:09 bagaimana kita harus memastikan 17:12 ketika anak ingin 17:16 berbicara, 17:17 kita siap 17:19 mendengar. 17:21 Ada satu metode pembelajaran 17:25 yang disebarluaskan 17:28 oleh Rasulullah melalui sebuah buku 17:32 berharap buku itu 17:34 dicari yang ditulis oleh seorang ahli 17:37 dari 17:38 eh Pakistan 17:40 yang menekankan 17:42 bahwa 17:44 menjadi pendengar yang baik itu adalah 17:48 telinga kita kita arahkan kepada 17:52 anak yang kita ajak bicara. 17:56 Tapi 17:58 yang tidak kalah penting 18:00 pada saat kita mau berbicara dengan anak 18:04 kita 18:05 kita harus menggunakan bahasa yang 18:09 jelas. 18:10 Berarti dari 18:12 bunyi huruf 18:15 kata 18:16 dari fonemnya kemudian kalimat itu yang 18:20 kemudian 18:21 kita sesuaikan dengan usia dan 18:25 kecerdasan dari anak kita. Yang paling 18:28 tahu tentang usia dan kecerdasan anak 18:32 kita tiada lain kita sendiri sebagai 18:35 seorang ayah. Untuk itu bagaimana kita 18:38 mengajak. 18:39 Tapi yang tidak kalah penting juga kita 18:42 harus 18:43 selalu bersikap inklusif. Nah, ini Bunda 18:47 Nuning ini satu dorongan yang perlu kita 18:50 terus-menerus bagaimana kita menjadi eh 18:53 orang yang inklusi. 18:56 Termasuk setiap anak yang ada di depan 19:00 kita atau setiap anak yang ada di rumah 19:03 kita atau setiap anak yang ada di 19:06 sekitar kita kita selalu memposisikan 19:11 mereka adalah individu yang unggul yang 19:14 memiliki spesial khusus dan itu yang 19:18 kemudian kita harus menyentuh mereka 19:21 sesuai dengan 19:24 kekhususan-kekhususan 19:26 mereka dan yang kemudian kita menjadi 19:29 orang yang inklusi 19:32 begi betapa senangnya anak-anak kalau 19:36 saat dia diajak berbicara 19:40 [mendengus] 19:41 saat anak berbicara lalu kita dengar 19:44 dengan ee seksama ini berarti tantangan 19:48 hari ini apa Bunda Noni? 19:50 Bagaimana seorang ayah kalau mau 19:53 berbicara dengan anak apakah sambil 19:55 megang gadget atau anak juga sambil 19:59 nge-gadget apa gimana? Ini menjadi 20:02 menarik ah ini 20:03 mungkin Bung Ondy punya anak sekarang 20:07 yang masih dalam proses tumbuh dan 20:10 kembangnya ini coba mulai ee praktekkan 20:13 di keseharian kita dan sebagai seorang 20:16 ayah 20:18 tidak cukup hanya memberi uang, tidak 20:21 cukup hanya memberi pakaian, tidak cukup 20:24 hanya menyekolahkan dan mengantarkan 20:27 mereka ke tempat-tempat yang mereka 20:29 inginkan tapi yang sangat mereka 20:32 butuhkan adalah bagaimana 20:36 saat mereka berbicara 20:40 ada 20:41 telinga 20:44 ayah yang siap untuk mendengarkan apa 20:48 yang mereka sampaikan 20:51 dan mereka sangat menantikan 20:54 umpan balik berarti 20:58 apa yang akan keluar dari mulut Ehem 21:01 ayah Ah 21:03 kalau sudah terbiasa berbicara dengan 21:07 anak insyaallah 21:09 akan 21:10 kita menemukan suasana yang sangat 21:13 menggembirakan. Tapi ini menjadi catatan 21:16 Bunda Nuning 21:18 ada beberapa anak itu 21:20 kalau berbicara 21:21 harus teriak-teriak. 21:24 Itu sebetulnya seorang ayah harus 21:26 menyadari 21:27 anak menjadi seperti itu 21:31 itu bukan lahir satu detik atau satu 21:36 hari, itu sebuah proses. Kemungkinan 21:39 itu terjadi pada saat 21:42 anak itu di dalam kandungan, di mana 21:45 interaksi ayah dan ibunya yang 21:48 memunculkan sehingga 21:50 keluar anak-anak yang bersuara seperti 21:52 itu. Itu juga menjadi sangat penting 21:55 untuk kita ketahui bersama-sama. 21:58 [menghela napas][terkesiap] 21:59 Poin kedua ini juga menjadi penting juga 22:03 harus kita 22:05 ketahui bersama-sama. Tapi kami di 22:08 studio hanya memberikan informasi dasar 22:11 saja 22:12 tapi untuk pengembangan diri dari setiap 22:15 ayah itu sangat ditentukan 22:19 kesediaan 22:21 ayah-ayah yang ada di rumah. Ini menjadi 22:25 penting. 22:27 Tapi yang menjadi poin penting juga ini 22:32 kita berharap bahwa 22:35 partisipasi anak di rumah atau di mana 22:39 saja bukan sekedar hal yang ee 22:43 formalitas. 22:46 Ayahanda dan Bunda perlu kita ketahui 22:49 sekarang kalau di tingkat ee negara 22:55 atau di tingkat pemerintah 22:57 Kementerian Pemberdayaan Perempuan 23:01 dan perlindungan anak 23:04 pada tahun ini telah menerbitkan sebuah 23:07 peraturan menteri 23:09 yaitu peraturan menteri nomor 3 23:14 tahun 2025. 23:18 Ah, kalau boleh dicatat ya, Bunda 23:19 Nuning. 23:21 Ayahanda dan Bunda di rumah 23:23 masing-masing lalu kemudian cari di 23:26 Google 23:29 Permen PPA nomor 3 tahun 2025 23:36 tentang 23:37 partisipasi 23:39 anak melalui forum anak. 23:42 Yang 23:43 ingin 23:44 kami tekankan dari mempelajari 23:49 bahwa 23:50 eh partisipasi anak bukan sekedar 23:53 formalitas 23:55 itu bukan yang ada di dokumen ini tetapi 23:59 bagaimana dokumen ini bisa berfungsi, 24:02 bisa optimal 24:05 itu sangat ditentukan praktiknya ada di 24:08 rumah. 24:11 Ada empat peran 24:14 di kehidupan bernegara hari ini 24:18 kehidupan anak di kabupaten kota 24:22 yaitu 24:24 pertama 24:25 bagaimana ayahanda 24:30 pada saat mau 24:33 menyusun sebuah aturan main di rumah 24:39 atau mau ada apa nih? Mau ngatur apa 24:43 saja di rumah itu 24:46 dipersilakan 24:47 tetapi kuncinya 24:49 berharap sebelum ada aturan yang 24:55 bapak 24:56 atau ayah susun 24:58 pertama sekali yang perlu kita ajak 25:02 bicara adalah anak kita sendiri di 25:06 rumah. Kebayang enggak Bunda Nuning? 25:09 Nanti kalau anak kita sudah terbiasa 25:13 mengatur apa saja di rumah dari bangun 25:17 lalu tidur, ke sekolah, lalu kemudian 25:22 mendapat eh peran tanggung jawab merawat 25:26 taman me 25:29 memberi makan kucing atau memberi makan 25:32 merpati 25:34 atau mengelap kaca, menyapu, 25:38 itu semua didiskusikan. 25:41 Di mana ayah sebagai 25:44 bisa saja disebut eh narasumber karena 25:46 beliau nanti juga akan memutuskan atau 25:48 sebagai moderator atau sebagai pemimpin 25:51 rapat di rumah. 25:53 Mana? 25:55 Anak-anakku hari ini ayah 25:58 bersama Bunda sudah memiliki sebuah 26:02 gagasan. Tetapi gagasan ini terkait 26:07 dengan 26:08 ada 26:10 pasti anak-anak akan dilibatkan. Ah, 26:13 tolong berikan 26:15 tolong pikirkan apa 26:17 pendapatmu. Ah, itu. 26:21 Tolong pikirkan apa pendapatmu itu ada 26:25 di naskah surat As-Saffat ayat 102. 26:30 Praktek Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail 26:36 pada saat mau dikurbankan. 26:39 Poin penting. Jadi, mendengarkan suara 26:42 anak itu. Sampai anak mau dikurbankan 26:46 saja dia harus dimintai untuk berpikir 26:49 dan berpendapat. 26:52 Bagaimana dengan kita? 26:54 Mau atur aturan di rumah? 26:58 Apakah kita sudah mendengarkan atau 27:01 meminta mereka untuk berpikir lalu 27:05 kemudian mereka berpendapat? Ayahanda 27:08 dan Bunda yang ada di rumah, 27:11 pada saat anak berpikir itu itu adalah 27:17 kumpulan dari 27:19 apa yang mereka baca, 27:22 kemudian kumpulan pengalaman yang mereka 27:25 peroleh dari hari pertama menghirup 27:29 udara di dunia sampai detik pada saat 27:32 kita ajak berbicara dan suasana 27:36 kebatinan saat mereka dimintai pendapat. 27:41 Untuk itu, terkait dengan 27:43 yang terakhir, 27:45 suasana kebatinan anak. Untuk itu, kalau 27:49 kita mau mengajak anak berbicara, 27:52 berdiskusi, 27:53 ber harus kita pastikan anak kita dalam 27:57 kegembiraan tingkat tinggi. 28:00 Jangan saat dia 28:02 baru bangun tidur, belum buat PR, lalu 28:06 kemudian dia masih ada tekanan dari 28:09 guru, apalagi ada tuntunan tuntut 28:12 tuntutan dari teman-temannya. 28:15 Kita harus cari tuh, bagaimana nih? 28:18 Berarti apakah kita bisa rekayasa 28:21 kegembiraan itu atau suasana kebatinan 28:24 anak? 28:25 Dapat. Kita 28:27 rekayasa atau kita dapat upayakan dengan 28:30 berbagai cara. Misalnya kita ajak ke 28:33 satu tempat atau kita sediakan makanan 28:37 yang enak atau kue yang enak dan kalau 28:41 bagus juga 28:42 kita mintai pendapat dia untuk sebelum 28:46 memberikan pendapat dalam 28:49 aturan-aturan yang akan dibuat di rumah 28:52 dia kita ajak untuk 28:55 ya bergembira sehingga pada saat anak 28:59 kita mintai untuk berpikir lalu kemudian 29:03 dia berpendapat insyaallah ak 29:06 itu adalah hasil-hasil yang terbaik dan 29:09 kemudian apa yang kita akan diskusikan 29:12 dengan mereka itu menjadi hal yang 29:14 menarik. Itu yang pertama. 29:19 Lalu yang kedua 29:21 kita mulai biasakan 29:23 atau kita perlu 29:26 menjadikan ini agenda di rumah kita 29:30 untuk memastikan 29:32 setiap apa yang akan kita 29:37 lakukan 29:38 atau kegiatan-kegiatan yang akan kita 29:42 laksanakan di rumah 29:45 itu perlu kita mintai pendapat anak kita 29:49 perlu kita dengar. 29:53 Kak 29:55 insyaallah ayah besok mau buat ini. 29:59 Menurut kamu bagaimana? Nah itu menarik 30:02 kan Bunda. 30:03 Iya ada enggak sih 30:05 obrolan yang kita ceritakan ini di rumah 30:09 orang-orang saat ini? 30:12 Ini sebetulnya 30:13 menjadi 30:14 sangat penting untuk melatih anak-anak 30:18 kita untuk memasuki kehidupan dia nanti. 30:22 Kalau 30:23 anak kita sudah terbiasa 30:26 ayahnya mau merapikan 30:31 tembok di depan 30:33 memindahkan pot bunga dari Bunda lalu 30:37 kemudian merapikan talang air atau apa 30:41 saja yang ada di rumah yang terkait 30:45 dengan peran ayah yang perlu me minta 30:49 pendapat dari anak dan 30:53 pasti 30:55 saat kita akan memintai anak untuk 30:58 berpikir dan ber berpendapat 31:02 itu sudah bagian 31:04 apa? 31:05 Meringankan 31:07 pekerjaan yang sedang kita pikirkan. 31:10 Dan 31:12 insyaallah 31:13 kita tidak minta anak itu juga akan 31:16 berbagi tenaga. 31:17 Oke, Ayah, aku ambil bagian ini. 31:20 Eh, oke, Ayah, aku bagian menyiapkan 31:23 kuenya, makanannya kalau anak perempuan 31:26 atau sebagian juga ada anak perempuan 31:29 dia mau manjat juga, eh, sudah bagian 31:32 dari diri atau dari eh 31:35 keseharian dia, itu menjadi menarik dan 31:38 itu perlu kita dorong. 31:40 Dan akhirnya 31:42 anak itu mau eh, ambil bagian. 31:46 Tapi yang tidak kalah penting ini hal 31:50 yang ketiga. 31:52 Peran anak di dalam berpartisipasi 31:55 dan ini benar-benar kalau ini diminta 31:59 oleh 32:01 ayahnya 32:03 insyaallah dengan kesungguhan anak akan 32:06 mau melakukan. Apa itu? 32:09 Dia menjadi pelopor. 32:12 Apa saja yang bisa dia pelopori di rumah 32:14 itu, Bu Nuning? 32:16 Bu Nuning dulu waktu masih kecil pernah 32:18 memelopori apa? 32:20 [tertawa] 32:22 Apa saja? 32:24 Bung Ondy 32:26 pernah memelopori apa di rumah? 32:29 Waktu 32:29 kecil sekali. Masih kecil? 32:32 Masih kecil. Di 32:33 jadi ayah 32:35 memberi peran kepada Bung Ondy itu. 32:38 Jadi, 32:39 dan itu yang kemudian hari ini itu masih 32:42 membekas. 32:46 [tertawa] 32:48 Ayah menyuruh kita untuk menjadi eh 32:52 pelopor dalam hal-hal yang 32:56 positif. 32:58 Ah, itu. 33:00 Jangan mengikuti ayah merokok, itu ayah 33:02 yang parah tuh. 33:04 [tertawa] 33:05 Jadi, akhirnya anaknya tidak menjadi 33:07 perokok ya. 33:09 Tidak menjadi perokok, ya, betul. 33:12 Bunda Nuning? 33:14 Banyak tapi bingung milihnya. 33:16 Saking banyak. Ah, coba bayangkan enggak 33:20 kalau anak kita itu sudah diberi 33:23 kepercayaan oleh ayah 33:26 untuk apa nih? "Kamu kayaknya hasil 33:29 bacaan ayah nih, kamu tuh kalau memimpin 33:33 eh memimpin apa teman-temanmu bermain 33:35 itu terlihat tuh, eh 33:38 kamu itu 33:40 suka mengatur, suka membimbing, suka 33:44 apa?" 33:45 Lalu, ada lagi nih. 33:47 "Kalau 33:48 ayah lihat itu ya, 33:50 apa saja yang kotor kamu selalu 33:53 bersihkan." Nah, itu tuh menjadi 33:56 sesuatu. Jadi, menjadi 33:59 eh hal-hal yang nanti saat anak itu 34:03 keluar dari rumah, dia masuk ke 34:06 lingkungan baik itu lingkungan komunitas 34:10 di tetangga, 34:12 dia kemudian masuk ke lingkungan bermain 34:15 dengan teman-temannya, 34:17 lalu dia masuk ke lingkungan pendidikan 34:19 atau sekolah atau di lingkungan di mana 34:22 dia akan eh berkegiatan, 34:27 dia akan itu, akan keluar apa yang 34:31 pernah didiskusikan 34:33 atau pernah diberi amanah oleh ayahnya 34:36 untuk menjadi seorang pelopor. Pelopor 34:42 hanya memberi 34:44 alamat kepada orang 34:46 "Dek, di mana nih rumahnya ini?" Itu 34:48 juga Ehm, ehm, ehm. memberikan 34:50 informasi. 34:52 Coba kebayang tuh, kalau seorang ayah 34:54 mempersiapkan anaknya itu tidak cukup 34:57 hanya dimintai pendapat lalu 35:01 apa saja, tapi dia 35:04 menjadi pelopor. 35:07 Itu yang ketiga, tapi yang tidak kalah 35:09 penting ini yang keempat Bunda Nuning. 35:11 Ehm, ehm. Dan ini kalau diminta oleh 35:15 ayah 35:16 dan anak kita dengan penuh kegembiraan 35:19 bersedia untuk melakukan adalah sebagai 35:23 pelapor. 35:25 Pelapor di sini bukan 35:28 berkonotasi 35:30 negatif, tapi 35:32 melaporkan hal-hal yang 35:35 terkait dengan prestasi atau hal-hal 35:39 yang perlu mendapatkan atensi atau 35:42 perhatian. Terutama 35:45 ayah kan 35:46 tidak setiap hari eh berinteraksi dengan 35:50 anak di rumah. 35:53 Lalu kemudian 35:55 dia sudah memberi peran kepada anaknya 35:57 ini sebagai pelapor. 36:00 "Halo, apa kabar Dek hari ini? 36:03 Tadi ketemu dengan siapa saja di 36:06 sekolah?" 36:10 Dari cerita itu 36:11 kita coba dalami satu saja. Bagaimana 36:14 dengan si A? 36:16 Apa yang kamu bisa pelajari dari dia? 36:20 Apa yang bisa kamu eh hindari dari dia? 36:23 Coba bayangkan Bunda Nuning Ehm, ehm. 36:25 itu kan laporan dan itu yang kemudian 36:27 bisa jadi bahan diskusi 36:30 antara ayah dan anak. Dan kalau anak 36:35 sudah diberi peran itu juga dan dia 36:37 berpartisipasi dengan kesungguhan dan 36:40 itu di mana 36:42 dia akan selalu mengingat 36:46 kita sebagai ayahnya. 36:49 Saya sangat sederhana kepada anak saya. 36:52 Buat proposal 36:54 kalau mau minta apa-apa, buat proposal. 36:56 Lalu setiap mau ya, "Assalamualaikum, 36:59 Dek. Apa kabar?" 37:01 Itu cerita akan keluar tuh semua. 37:04 Kita tanya lagi dikit. "Bagaimana nih?" 37:09 Kapan 37:10 hal ini 37:12 mulai kita praktikkan? 37:15 Kapan, Bunda Nuning? 37:17 Sejak anak di dalam kandungan kalau 37:19 boleh itu sudah mulai kita persiapkan 37:21 sehingga pada saat anak itu 37:23 lahir ke dunia, kita sebagai seorang 37:26 ayah siap untuk me 37:30 lakukan banyak hal. Lalu yang tidak 37:33 kalah penting ini yang 37:35 terakhir. 37:36 Bunda Nuning, 37:38 kalau Bunda mau mengenal anak 37:42 Bunda, 37:43 lihat saat dia 37:46 melakukan apa. 37:48 Apa tuh? 37:50 Pada saat dia berbicara. 37:53 Untuk itu, seorang ayah kalau mau 37:57 mengenal diri kita, 38:00 itu lewat anak. 38:03 Dengan cara bagaimana? 38:06 Sederhana, Bunda Nuning. 38:08 Tanya sama teman. "Eh, 38:10 bagaimana dengan 38:12 ayah?" 38:13 Tidak. 38:15 Kita tanya ke 38:16 Anaknya atau ke ayahnya? Ke teman anak 38:18 kita. 38:19 "Bagaimana sih ini?" Dia cerita, "Oh, 38:21 ini, ini, ini." Dia sangat eh kalau mau 38:24 berbagi cerita, dia mau berbagi kue, 38:27 berbagai 38:29 banyak hal, 38:30 itu akan terekam, 38:33 akan tergambar bagaimana kita 38:36 sesungguhnya terhadap anak kita. Coba 38:38 bayang. 38:40 Bu Ondy, sudah mulai tes enggak? 38:44 Apa yang 38:45 kita lakukan pada anak kita itu, kita 38:49 tanya sama guru anak kita. 38:52 Pak, 38:53 Bu, bagaimana dengan 38:55 si A, si A? 38:57 "Wah, dia tuh semua temannya itu pada 39:00 nangis." Wah, tuh bayangin deh. 39:03 Sederhana tuh. 39:05 Kemungkinan besar 39:07 itu yang dipraktikkan oleh ayahnya di 39:10 rumah. 39:12 Tapi, 39:13 "Wah, sangat senang. 39:15 Anak Bapak itu sangat eh antusias pada 39:19 saat kita memberi mata pelajaran, dia eh 39:22 benar-benar memperhatikan, lalu kemudian 39:26 kalau saat dia diajak atau dimintai 39:29 untuk bertanya, dia yang pertama sekali 39:31 untuk mengajukan tangan, dan 39:33 pertanyaannya itu 39:35 sangat detail, yang kemudian membuat 39:38 kami itu agak kesulitan untuk mencari 39:41 jawabannya." Wah, itu. Nah, itu 39:42 praktiknya. Coba 39:44 coba mulai tes anak kita di rumah kita 39:48 masing-masing. 39:50 Dan itu yang kemudian 39:52 akan menjadi 39:54 kita akan melihat 39:56 kalau anak kita pendiam, sudah sangat 39:59 sederhana, 40:00 anak itu mengalami pernah mengalami 40:03 kekerasan. 40:05 Anak itu sangat agresif, apalagi 40:08 pendiam saja. 40:10 "Oh, anak itu 40:12 sangat taat aturan." Ada. Itulah praktik 40:15 ayahnya. 40:18 Anak itu benar-benar menghargai siapapun 40:22 yang dia 40:23 jumpai. Begitulah kelembutan hati 40:27 ayahnya kepada diri dia. 40:31 Ini kita belum bicara ibu ya, Bunda 40:32 Nuning. Satu-satu, hanya ayah saja dulu. 40:35 Karena ayah sekali disebut oleh 40:38 Rasulullah. 40:40 Tetapi untuk mendapatkan 40:43 peran 40:44 siapa lagi yang aku harus hargai? 40:48 Ayah itu hanya sekali disebut, tapi 40:51 untuk mendapatkan satu itu investasinya 40:54 luar biasa. Yang kemudian akan membuat 40:59 anak itu menghargai ibunya. Yang 41:02 kemudian disebut oleh Rasulullah tiga 41:04 kali. Ah, ini menjadi sangat penting 41:07 untuk sama-sama kita eh coba 41:11 pelajari. 41:14 Lewat suara anak. 41:18 Anak-anak kita, kita akan mempelajari 41:21 tentang diri kita sendiri. 41:24 Sudah 41:26 seperti apa 41:28 ayah mem 41:29 perlakukan anak-anaknya? 41:31 Baik itu anak laki-laki maupun anak 41:35 perempuan di rumah. 41:37 Kalau kita lihat di TikTok atau di 41:39 drama-drama, 41:41 itu menjadi hal yang menarik. 41:43 Ada 41:44 sebuah film India. 41:47 Dia seorang eh apa, Bunda Nuning? 41:51 Eh 41:53 atlet gulat. He em. Jadi pelatih gulat. 41:57 Lalu juara. Dia berharap nanti 42:00 eh kemampuan dia ini akan dia turunkan 42:04 kepada anaknya. 42:06 Tapi 42:07 Allah mempercayai melalui sulbinya anak 42:11 perempuan dua-duanya. Oh oh. Bagaimana 42:15 nih? 42:16 Akhirnya anak perempuannya ini dilatih, 42:19 diberi kepercayaan diri, diberi peran, 42:23 akhirnya 42:24 juara. Jadi 42:26 mendapatkan anak perempuan itu bukan aib 42:29 bagi diri dia, tapi sebuah kebanggaan. 42:32 Tetapi bagaimana untuk melewati itu. Di 42:35 kehidupan masyarakat masih ada seperti 42:38 itu. 42:39 Dan itu yang menjadi 42:41 satu perjuangan dan berharap 42:44 kita harus selalu 42:46 ingat apa yang diperjuangkan Rasulullah 42:50 adalah bagaimana kita memposisikan 42:54 anak laki-laki dan anak perempuan itu 42:57 sama. Dan kalau boleh anak perempuan 43:00 yang perlu kita tonjolkan supaya mereka 43:03 ke depan nanti akan 43:06 mampu me 43:08 menguasai diri dia dan mempersiapkan 43:11 generasi dia yang akan datang yang 43:13 kemudian akhirnya akan lahir 43:15 individu-individu yang hebat. Itu semua 43:18 sangat ditentukan 43:21 oleh bagaimana 43:23 ayah bersedia mendengarkan anaknya. Ini 43:27 mungkin yang bisa kita 43:30 sampaikan kalau ada pertanyaan kita 43:33 jawab, kalau tidak ada wah berarti kita 43:36 diskusi lagi. Demikian. 43:39 Menarik sekali karena biar bagaimanapun 43:42 juga 43:43 perlu dicatat tadi ya partisipasi anak 43:46 melalui forum anak bisa cek ke Permen 43:50 PP nomor 3 Iya. tahun 2025. 43:54 Oke, ini ada pertanyaan dari Ibu Intan. 43:59 Anak dijadikan pelopor. Saya itu dulu di 44:01 rumah diserahi 44:04 memilih besok mau sarapan apa, padahal 44:07 saya baru TK loh. Tetapi sekarang ketika 44:11 anak-anak dimintain pendapat atau mau 44:15 jadi pelopor jawabannya "Terserah 44:17 Bunda." Oh, oh. Gimana nih? Salah di 44:20 mana ya? 44:21 Baik. Terima kasih Bunda di rumah. 44:24 Tanyakan kepada ayahnya. 44:27 Apakah 44:28 ayahnya 44:30 sudah 44:32 eh menghidupkan tidak diskusi-diskusi 44:35 yang diharapkan oleh pendiri bangsa 44:39 bahwa 44:40 kunci dari negara Indonesia itu ada di 44:43 musyawarah. 44:45 Musyawarah itu tidak harus di tingkat 44:48 RT, di tingkat RW atau sampai ke MPR. 44:52 Tetapi 44:54 intinya ada di rumah. Kalau di rumah 44:59 sudah terbiasa me 45:02 bicarakan semua hal itu melalui meja 45:05 atau ruang 45:07 meja makan Heeh. atau di ruang makan, 45:09 insyaallah itu akan menjadi pembiasaan. 45:13 Dan 45:14 seperti yang Ibu eh alami 45:18 di rumah bahwa pembiasaan itu 45:23 didiskusikan dan akhirnya Ibu diberi 45:25 peran untuk membuat sarapan waktu masih 45:29 kecil tapi 45:30 pengalaman itu hari ini tidak Ibu 45:32 temukan di 45:35 eh rumah kita, itu berarti ada sesuatu. 45:38 Nah, untuk itu 45:40 tidak ada kata terlambat. 45:43 Mumpung masih 45:45 Ada waktu. anak di rumah kita, kita 45:49 mulai dari hal-hal yang kecil. 45:52 Tadi ada empat hal yang dapat diperankan 45:55 oleh anak kita. Empat peran ini kalau 45:59 matang atau Heeh. 46:02 tumbuh lalu berkembang dengan utuh di 46:06 rumah pada saat mereka keluar dari pagar 46:09 rumah kita, kita akan merasa lega. Apa 46:13 itu? 46:14 Segala sesuatu kalau ada aturan, kita 46:18 minta anak untuk berpikir dan mereka 46:21 berpendapat. 46:23 Lalu yang kedua, segala sesuatu yang mau 46:26 kita kerjakan sekecil apapun 46:30 yang akan kita rencanakan, selalu kita 46:32 mintai mereka untuk berpikir lalu 46:35 kemudian mereka berpendapat. Ambil 46:37 contoh, 46:38 misalnya ada 46:41 di depan rumah itu kalau hujan suka 46:44 banjir. Ehe. Atau 46:47 ada 46:48 tampias atau kecil-kecil aja tuh, kita 46:52 ajak. 46:53 Dek, 46:54 bagaimana nih? Besok kita punya rencana 46:57 untuk ini, bagaimana menurut kamu? 47:00 Jadi, 47:01 dia akhirnya mikir, "Oh, Bun, 47:05 coba aku cari di Google ya, ada enggak 47:07 nih cara ini?" 47:07 Ehe, ehe. Nah, itu berarti dia udah 47:09 mulai berpikir lalu kemudian dari hasil 47:13 apa yang dia searching atau apa yang dia 47:16 itu, yang kemudian dia beri usulan. 47:20 Tapi yang menjadi tantangan kita, 47:22 orang dewasa harus bersedia menerima 47:25 usulan anak kita. 47:28 Ada dua hal. 47:29 Kalau kita terima, 47:31 berarti kita harus ada argumen juga. 47:33 Iya, tapi yang jadi soal, 47:36 apa yang dia usulkan itu kita tolak. 47:41 Itu harus kita beri argumen yang logik. 47:45 Karena jangan sampai dia sudah memberi 47:48 usulan tapi kemudian usulannya "Ah, gitu 47:51 aja." Nah, itu berarti melakukan 47:54 pengabaian. Dan itu menjadi salah satu 47:58 hal yang sangat sangat tidak disukai 48:02 oleh orang-orang. 48:03 Iya. 48:04 Termasuk anak kita. Itu menjadi penting. 48:06 Lalu yang ketiga, Bunda Nuning, 48:08 kita 48:09 kasih dia peran. Apa saja? Coba 48:12 bayangkan 48:13 rumah itu ada berapa eh ruangan, Bunda 48:15 Nuning? 48:17 Halaman, ruang tamu, 48:19 ruang makan, 48:20 ruang makan, dapur, dapur, 48:23 kamar tidur, 48:24 kamar tidur, gudang kalau ada. Apa lagi, 48:27 Bunda Nuning? 48:28 Coba kubayang. 48:30 Iya. Satu ruang aja dia diberi peran 48:33 tuh. Wah. 48:35 Atau apa saja. 48:37 Cuma 48:39 peran dia itu 48:40 mendorong 48:43 apa eh on off di lampu. On off lampu. 48:47 Nyalakan pagi, apa menjelang petang, 48:52 lalu malam kalau mau tidur langsung 48:56 off-kan. Itu kan peran. 48:59 Tapi kadang-kadang peran itu s- 49:02 suka di-bypass. Dan itu yang kemudian 49:06 akan merugikan anak kita. 49:09 Dan itu yang kemudian 49:12 akan menjadi penyesalan bagi 49:17 banyak orang tua itu hari-hari ini 49:19 mereka menyesal. Kenapa ya? Kenapa ya? 49:23 Kalau penyesalan tidak diubah menjadi 49:26 sesuatu, ah itu untuk itu hari ini kita 49:29 coba mulai ubah. Lalu yang ketiga nih, 49:32 eh yang keempat, 49:33 beri peran anak untuk 49:38 Di rumah itu apa saja, Bunda Nuning, 49:39 yang bisa di- dilaporkan kepada 49:43 ayah 49:44 atau kepada ibu di rumah? Coba dari 49:47 Belakang sampai ke depan. Dari 49:50 masuk pintu gerbang sampai masuk itu ada 49:54 saja itu yang bisa di Bun, kok sekarang 49:57 sudah mulai ada lawang di situ? Bun, 50:00 kenapa ya 50:01 eh gambar ini sudah mulai miring? 50:04 Sesuatu yang 50:06 kecil Bunda Nuning. 50:08 Tapi kalau kita tidak respon itu, itu 50:10 akan terjadi pengabaian. Ah 50:13 Bunda aku saja pada saat aku mau lapor 50:16 dia tidak anggap, cuek. 50:18 Apalagi kalau 50:20 Bun, boleh enggak aku bagi cerita? Ada 50:23 apa? 50:25 Aku tadi dicolek-colek. Hah 50:28 pasti kamu nyalain duluan. 50:30 [tertawa] 50:32 Kita 50:33 ada apa? Wah, minum dulu air anjir, 50:37 taruh dulu tas, 50:39 apa nih? 50:40 Dengan ketenangan 50:42 dengan kesungguhan kita mau menerima. 50:46 Kayak ada tuh ayah menerima laporan. 50:49 Ayah, aku ditampar oleh guru kepala 50:52 sekolah. 50:53 Tanya kenapa? 50:55 Ah, karena ayahnya tidak menerima 50:58 laporan yang utuh 51:00 langsung nyalain anak. Langsung nyalain 51:02 kepala sekolahnya. 51:04 Dan jadi jadi kasus besar. Ah, kalau 51:07 ayah yang hebat ada apa? Kita minum 51:10 dulu, makan dulu, cerita. 51:13 Ini arogannya yang keluar. 51:15 Itu yang jadi soal. Semoga ayah-ayah 51:19 yang ada di kalau ada dapat laporan dari 51:22 anaknya itu mikir dulu 51:26 baca aturan 51:28 apakah ini mau melakukan 51:30 sesuatu untuk eh melakukan apa nih? 51:35 Eh karena selama ini melakukan 51:36 pengabaian pada anak kita, sekarang kita 51:38 pengin jadi pahlawan apa? 51:40 Itu bisa juga tuh ya. 51:42 Untuk itu menjadi ayah yang hebat 51:45 itu tidak lahir dalam satu hari tetapi 51:50 dia lahir dari berproses terutama sejak 51:55 dia ee 51:57 menganjak 51:58 remaja karena dia pernah jadi anak jadi 52:01 remaja sekarang beberapa saat yang akan 52:04 datang dia akan dewasa lalu dia selesai 52:07 sekolah bekerja lalu dia menikah 52:10 dan itu kalau tidak diikuti dengan 52:12 proses pembelajaran hanya melihat apa 52:16 yang dilihat pada 52:18 praktik-praktik yang didapat dari 52:20 ayahnya dan itu kemudian yang hanya 52:23 dilihat atau yang diingat yang 52:24 negatifnya sudah 52:27 yang akan rugi nanti 52:29 [berdehem] 52:30 anak-anak yang lahir dari sulbinya dan 52:33 anak-anak yang ada di sekitar 52:35 ee ayah tersebut itu Bunda Nuni jadi 52:39 meminta anak memberikan pendapat jauh 52:42 lebih baik dibandingkan anak yang 52:43 penurut ya iya yang yes mam gitu kan 52:47 anak-anak penurut biasanya dia sudah 52:49 terbiasa berpendapat 52:51 justru seperti itu ya he eh 52:54 ini boleh sebelum berakhir pertanyaan 52:57 dari tidak ada namanya perbedaan warna 53:00 politik memang bikin suasana di rumah 53:02 tegang ayah pilih A anak dukung B 53:06 sebagai ibu saya stres tahu 53:08 ayah harus ngalah ya meski bukan berarti 53:11 harus ikut pandangan anak kan 53:13 dan satu lagi yang mirip sekali yaitu 53:16 terkait dengan 53:17 em kalau ayah sibuk anak sibuk bagaimana 53:21 mengatasinya sebagai ibu yang ingin jadi 53:24 jembatan 53:25 tapi bingung mereka banyak alasannya oh 53:28 oh 53:30 tantangan 53:32 tantangan itu bukan berarti kita tidak 53:35 bisa lewati kita ambil 53:38 terkait dengan 53:41 perbedaan 53:43 aliran politik. Wah, itu menjadi 53:46 menarik. 53:48 Dan itu berarti inklusi. 53:51 Karena kalau satu jadi eksklusif, iya 53:54 iya. Dan akhirnya di sana kita akan 53:57 lihat bagaimana tuh kedewasaan anak kita 54:01 akan belajar dari kedewasaan 54:04 ayahnya. 54:06 Satu penelitian yang dilakukan oleh 54:09 Kevin Lins 54:11 terhadap 54:12 bagaimana persepsi anak. 54:16 Yaitu 54:17 anak sangat senang 54:21 cara-cara orang dewasa menyelesaikan 54:24 masalah. 54:26 Dia akan belajar tuh Bunda Nuning. 54:28 Kalau orang dewasa menyelesaikan masalah 54:31 dengan penuh kebijaksanaan 54:34 anak akan belajar tentang hal seperti 54:37 itu. Dan itu menjadi 54:39 penting. Role model itu menjadi utama. 54:44 Untuk itu 54:45 sebagai seorang ayah 54:48 menjadi 54:49 lebih hebat. Dan ini yang jadi tantangan 54:52 Ibu sebagai mediator, wah bagaimana ini 54:55 memediasi atau memfasilitasi. 54:59 Untuk itu 55:00 cari 55:01 [berdehem] 55:01 momen yang sangat ee penting di mana 55:06 kedua-dua orang tersebut itu tidak punya 55:10 ee aktivitas yang tinggi. Ah, untuk itu 55:13 lacak. 55:14 Berarti 55:16 coba Ibu telusuri 55:18 agenda Ayah 1 tahun terakhir. 55:22 Cari di bulan-bulan mana yang longgar. 55:26 Dan dari bulan-bulan itu di hari-hari 55:29 apa yang longgar. 55:31 Dari hari-hari yang longgar itu di jam 55:33 mana itu yang benar-benar [berdehem] 55:35 ee 55:37 apa? 55:38 Memang 55:39 kosong. 55:40 Itu. 55:42 Kedua, anak kita cari ini. 55:44 Telusuri satu 55:46 satu tahun sama seperti kondisi si ayah. 55:49 Heeh. 55:49 Jadi, telusuri dan yang kemudian ibu 55:53 coba agendakan sesuatu yang sangat ee 55:57 spesial lalu kemudian di situlah 56:02 bunda berbagi cerita bagaimana untuk me 56:06 praktikkan apa yang kita diskusikan hari 56:09 ini. 56:10 Demikian, Bunda Nisa. 56:11 Iya, closing statement. 56:13 Baik. Terima kasih, ayahanda dan bunda 56:15 di rumah. Anak bukan milik kita 56:19 karena anak adalah 56:21 titipan Allah melalui sulbi kita. 56:27 Tidak cukup kita 56:29 hanya memberi makan, minum, pakaian, dan 56:33 memberikan akses 56:36 sekolah kepada mereka. Tapi, bagaimana 56:39 kita memastikan hak mereka untuk 56:44 berpolitik. 56:45 Berpolitik di sini adalah bersuara. Itu 56:48 merupakan Heeh. hak asasi manusia. 56:51 Bersuara berarti 56:53 yang akan mendengarkan suara anak 56:56 pertama sekali 56:58 siapa? 57:00 Tiada lain 57:02 ayah yang ada di rumah. 57:06 Ayah yang hebat 57:08 akan terlihat dari 57:11 apa yang dipraktikkan oleh anak-anak 57:14 kita di luar. Untuk itu, bagaimana kita 57:17 harus mempersiapkan mereka. 57:20 Sebagai seorang ayah 57:22 perlu segera meningkatkan kompetensi 57:26 dengan cara meningkatkan pengetahuan 57:29 tentang hak anak. Untuk itu, baca 57:33 konvensi hak anak, baca undang-undang 57:36 perlindungan anak, 57:37 dan khususnya baca juga Permen PPA nomor 57:41 3 tahun 2025 57:45 tentang partisipasi anak. Tetapi kalau 57:48 boleh telusuri 57:51 ee 57:52 tafsir 57:54 ayat yang berhubungan dengan 57:58 sirah ee 58:00 Nabi terkait Nabi Ibrahim yang ada di 58:04 surat As-Saffat ayat 102. 58:08 "Wahai anakku, semalam Ayah bermimpi 58:13 untuk menyembelihmu. 58:15 Koma. 58:16 Tolong pikirkan apa pendapatmu." 58:20 Yang menjadi 58:22 pokok bahasan kita hari ini, itu terkait 58:25 dengan 58:26 "Tolong pikirkan 58:28 apa pendapatmu." 58:31 Apakah 58:32 para Ayah-Ayah 58:34 yang ada di Indonesia hari ini masih 58:38 mempraktekkan 58:39 kata-kata ini? 58:42 "Tolong 58:44 pikirkan apa pendapatmu, Nak." 58:47 Dalam semua hal. Dari hal yang kecil 58:51 terutama di rumah, 58:53 lalu kemudian hal-hal pada saat anak 58:56 kita 58:58 setelah berpindah posisi di luar pagar. 59:01 Dan itu yang kemudian praktek-praktek 59:04 terbaik yang Ayahanda lakukan kepada 59:08 anak kita akan terlihat. Di situlah 59:11 akan terlihat siapa diri Ayah yang 59:15 sesungguhnya. Diri Ayah yang hebat akan 59:18 terlihat pada diri anak-anak mereka. 59:21 Demikian. 59:22 Semoga Allah tetap terus memberikan 59:25 cahaya kepada kita yang hari ini sudah 59:29 lembut kepada anak-anak kita, akan 59:31 semakin lembut lagi. Demikian. 59:33 Assalamualaikum warahmatullahi 59:35 wabarakatuh. Waalaikumsalam 59:37 warahmatullahi wabarakatuh. 59:40 Iya, ikhwan akhwat. 59:42 Mudah-mudahan ya, kalau kita menganggap 59:45 anak-anak punya kepribadian yang khusus, 59:47 sehingga mereka merasa 59:49 istimewa dan mencontoh ayahnya, luar 59:52 biasa sekali. 59:53 Apalagi kalau tadi ingat yang terakhir 59:55 disampaikan oleh eh Dr. Hamid Fadli Lima 1:00:00 tentang 1:00:01 percakapan Nabi Ibrahim bersama Ismail, 1:00:05 yang minta pendapatnya saat menghadapi 1:00:08 satu pilihan. 1:00:09 Ternyata meminta pendapat anak itu 1:00:11 sesuatu yang luar biasa. Baik, sekali 1:00:14 lagi terima kasih untuk kebersamaan ini, 1:00:16 mudah-mudahan lanjut di bulan eh di 1:00:20 minggu-minggu yang akan datang terkait 1:00:22 dengan perlindungan anak yang akan 1:00:25 menjadikan kita sosok yang 1:00:27 cukup bisa dibanggakan oleh buah hati 1:00:30 kita. Terima kasih, billahi taufik 1:00:32 walhidayah, wassalamualaikum 1:00:33 warahmatullahi wabarakatuh.