Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 [musik] 0:08 Brail TV. 0:11 [musik] 0:15 Halo. Asalamualaikum warahmatullahi 0:17 wabarakatuh, Bang Ehsanudin. 0:20 Waalaikumsalam warahmatullah 0:23 wabarakatuh. 0:24 Bagaimana di pagi hari ini, Bang 0:26 Ihsanudin? Cerah ceria suasananya atau 0:29 bagaimana? Sehat ya? 0:32 Insyaallah. 0:34 Insyaallah. 0:36 Alhamdulillah. Bang Insanudin kita ingin 0:39 ee menyoroti jadi ada istilah yang 0:42 muncul gitu ya di tengah-tengah publik 0:45 ini masalah integritas dan juga ee 0:48 legitimasi 0:51 pejabat gitu ya. 0:53 dimulai dari kasus ijazah palsu sampai 0:57 akhirnya ke kasus-kasus ee sekolah 1:01 pendidikan gitu ya. Ada yang disoroti 1:05 sebenarnya ini pemerintah itu apakah 1:07 pemerintah ee manipulatif gitu ya atau 1:10 pejabatnya yang justru manipulatif gitu. 1:14 dipegang dengan bukan nilai-nilai 1:17 integritas dan juga nilai-nilai 1:19 kejujuran, tapi di belakangnya itu makin 1:22 lama makin terlihat gitu bahwa tidak ada 1:25 kejujuran di para pejabat ini. Kita juga 1:28 menguji Bang Yanudin bagaimana ee MK 1:30 gitu ya ketika kontroversi keabsahan 1:33 surat penyetaraan ijazah wakil presiden 1:36 sampai ada pasal ee pasal-pasal yang 1:39 menjadi polemik gitu ya di kalangan ee 1:42 masyarakat. Lalu melihatnya Bang 1:44 Ihsanudin dari segi ini tadi krisis 1:48 legitimasi pemerintahan karena kan 1:51 kepercayaan dan juga penerimaan rakyat 1:53 terhadap pemerintah ini makin lama makin 1:55 melemah. Ditambah lagi itu kita ada 1:58 kasus terbaru ini gitu ya di di Lapas 2:02 lah di Lapas yang ternyata membuka juga 2:05 publik terus-menerus ini 2:07 kebohongan-kebohongan apa sih sebenarnya 2:09 ditutup oleh para pejabat dan ee juga 2:12 para koruptor-koruptor gitu ya. Melabrak 2:15 hukum, melabrak semuanya gitu ya. makin 2:17 diperlihatkan apakah ke depan 2:21 yang ditutup-tutupi ini penganggaran 2:25 atau ee ee ke apa ee kerusakan gitu ya 2:30 akan terus terbuka Bang Hanudin gitu ya 2:33 dari unsur pemerintahan aparat akan 2:35 terus diperlihatkan seperti itu apa 2:37 bagaimana gini ke depannya gitu Bangudin 2:39 Bang Sudin melihatnya itu akarnya apa 2:41 sebenarnya terjadi gitu ya krisis 2:43 legitimasi pemerintahan ini lalu kita ke 2:46 luar negeri juga Bang Isudin kita ingin 2:48 menyoroti ee konflik Saudi dan Yaman ini 2:53 makin meluas gitu ya. Kalau beberapa 2:57 bulan terakhir kita menyoroti Selat 3:00 Hormus, sekarang kita melihat lagi ada 3:02 pertarungan lagi di situ gitu ya. Tapi 3:05 kita lihat posisi ee Amerika dan juga 3:08 Barat dalam hal ini ee seperti halnya 3:12 ingin mendukung Saudi seperti apa, 3:14 mendukung Yaman juga bagaimana gitu ya. 3:17 Sebenarnya memposisikan diri bagi 3:20 ataupun negara-negara besar ataupun 3:22 Indonesia dari konflik Saudi dan Yaman 3:26 karena konflik ini terus meluas. 3:28 Bagaimana Bang Insanudin menyorotinya 3:31 dari kacamata geopolitik dan juga 3:34 ekonomi? Begitu Bang Hanudin. Dua hal 3:35 ini kita angkat dulu Bang Hanudin. 3:39 Terima kasih. 3:42 Alhamdulillahiabbil alaminatu 3:46 wasalam ala asrofil mursalin 3:49 waa alihi wasbihi ajmain. 3:53 Allah sayidina Muhammad Muhammad 3:57 subhanaka la ilma lana illaana inaka 4:01 antalim hakim. 4:03 Rabbana ilmanah 4:08 yang merekam siap-siap merekam ya. 4:10 [tertawa] 4:12 Rekaman aman. 4:15 [tertawa] 4:17 Sudah saya tahu Anda sedang merap. Siap. 4:20 [tertawa] 4:23 Kita dari luar dulu ya. Kita dari luar. 4:27 ee 4:30 kita bicara dari luar juga bukan sekedar 4:33 hote zaman lawan 4:35 ee mengganggu pasukan minyak 4:38 H 4:39 lewat BEP Almad 4:41 Laut Merah Saudi. 4:43 Iya. 4:43 Tapi kita mulai dari 4:47 PBB yang 4:50 tidak berdaya. 4:52 Iya. PBB yang tidak menghasilkan ee 4:55 sesuatu yang 4:57 yang bermanfaat bagi perdamaian. 4:59 Heeh. 5:00 PBB yang bebek geduk ngesot. 5:04 He. 5:05 Jadi, jadi kalau kemarin-kemarin kita 5:07 bicara oki yang mati suri, maka PBB pun 5:12 akhirnya cuma menjadi panggung 5:14 perlombaan pidato berbagai negara. 5:18 Jadi kayak ajang festival ya. Waduh. 5:20 Iya. ajang pidato. [berdehem] 5:24 Walaupun yang dibahasnya adalah empat 5:26 hal, 5:28 AI, 5:31 perdagangan, 5:33 peperangan, 5:35 dan 5:36 ini yang menarik yang terakhir pandemic 5:39 prepar. 5:41 Hm. 5:42 Persiapan menghadapi pandemik. 5:44 Seakan-akan 5:46 pandemi 5:48 ee sedang dipersiapkan. 5:50 Hm. 5:51 Ini mengingatkan simulasi global pandemi 5:55 yang dilakukan John Popkins University 5:57 Covid. 5:58 Iya. 5:59 Nah, ee saya 6:03 ee ingin mengingatkan pendengar hasil 6:06 itu berarti dalam hitungan dalam 6:08 hitungan waktu saya dalam hitungan waktu 6:11 2 3 tahun ke depan gitu ya. Paling 6:14 lambat di [berdehem] 202829 6:18 gitu. H 6:19 akan ada pandemi. 6:21 Akan ada pandemi 6:23 karena 6:25 mereka merasakan manfaat atas vaksin. 6:28 Mereka mereka merasakan manfaat atas 6:31 COVID. 6:32 Manfaat bagi mereka adalah mereka mampu 6:35 melakukan pembatasan kegiatan yang 6:39 sebenarnya itu melumpuhkan. 6:42 mereka melakukan lockdown, mereka 6:44 mengunci h 6:45 hubungan sosial kecuali lewat lewat 6:49 media dan media sosial. Dan itu berarti 6:52 semu palsu. [berdehem] 6:56 Dan itu berarti interaksi dibatasi 7:00 seperti salat pun akhirnya berjarak dan 7:02 bahkan masjid ditutup. 7:04 Saya mengingatkan itu karena 7:07 Indonesia sudah mengadopsinya dan 7:09 mengadaptasinya lewat undang-undang 7:11 kesehatan yang baru yang dalam pasal 400 7:15 sekian menyebut jika keadaan luar biasa, 7:19 tidak seorang pun yang boleh melakukan 7:21 perlawanan. Jika melawan didenda dan 7:23 ditahan. 7:26 Sebelumnya tidak ada, tapi Indonesia 7:27 sekarang sudah punya tekanan seperti itu 7:30 lewat undang-undang. 7:32 Saya terus terang saya amat sangat risau 7:37 ee menyaksikan 7:40 United Nation General Assembly atau 7:42 sidang umum PBB 2426 September 7:47 2026 7:49 di New York. 7:51 Dan krison saya salah satunya empat 7:53 masalah itu ee bagaimana [berdehem] AI, 7:57 bagaimana perdagangan, bagaimana 7:59 peperangan, dan bagaimana pandemic 8:02 preparedness. Dan merisaukan saya karena 8:05 ini status yang menglobal saya 8:07 betul-betul risau pada posisi 8:09 kalimat-kalimat yang muncul di balik eh 8:12 pandemicness. 8:15 Sekali lagi ini karena mereka mengulang 8:17 keberhasilan mereka mendikt dunia. 8:21 Saya salah satu orang, saya enggak 8:23 bilang saya satu-satunya yang melawan 8:26 COVID dan vaksin di Indonesia. Sehingga 8:29 saya dianggap sebagai orang yang sangat 8:33 bertentangan saat itu dengan vaksin dan 8:34 Covid19. 8:37 e viral bagaimana saya menolak 8:39 termometer scan kan dan saya juga 8:41 menolak bagaimana 8:43 peristiwa COVID itu sehingga kalimat 8:46 saya terbukti bahwa Covid-19 [berdehem] 8:49 tidak didatangkan dari Wuhan dari Kube 8:52 H 8:52 tapi justru dari Amerika dan itu 8:54 kemudian terkonfirmasi dengan pernyataan 8:57 T Gabart Juni 2026 bahwa Amerika punya 9:00 120 9:02 laboratorium biologi 30 di antaranya 9:05 berada di Ukraina dan saya tulis pada 9:08 November 2024 dalam buku saya 9:13 budeta korporasi di balik pandemi. 9:16 Sekali lagi karena mereka merasa menang. 9:18 Sementara hari ini peperangan mereka itu 9:21 betul-betul membuat mereka sendiri 9:23 gelisah 9:25 karena Iran mampu bertahan, Cina tidak 9:28 mau tunduk. Rusia e tetap menyerang 9:32 habis-habisan 9:34 karena Rusia sendiri diserang oleh 9:35 Barat. 9:36 Makanya judul pemerintahan di Barat 9:38 rubah dari Ukraina persus Ria menjadi 9:42 Ukraina garis miring west versus Rusia. 9:45 Kalimatnya sudah begitu. Sekarang mereka 9:46 sudah berani menulisnya begitu. 9:49 Kalau saya bilangnya jelas NATO versus 9:52 Ukraina gitu ya. Ee NATO versus Rusia. 9:56 Nah, kalau ceritanya begitu, maka 9:59 sesungguhnya yang sedang kita hadapi 10:02 adalah 10:04 ada ee 10:07 satu kekuatan yang hendak mendikte di 10:10 dunia dengan kekerasan. 10:12 Ah, itu di situ legitimasi mereka 10:14 berbasis legitimasi kekerasan. Pakai 10:17 bahasa mereka peace through strength. 10:21 Bagaimana satu kedamaian itu dipaksa 10:24 melalui kekuatan. A itulah yang membuat 10:27 posisi di Washington ketika terjadi 10:31 sidang umum ee M sidang umum ee PBB 10:36 justru ee si Jinping dan Trump ee tidak 10:42 menghasilkan banyak keputusan. Mereka 10:44 cuma sekedar mengelola konflik agar 10:47 konflik itu tidak menjadi perang 10:48 terbuka. Mineral Earth tetap tidak bisa 10:52 diekspor 10:53 dari Cina ke Amerika. Ee Nividia tetap 10:58 tidak bisa jual cipnya ke Cina gitu ya. 11:02 [berdehem] 11:03 Tarif tetap tinggi. Soal Taiwan tidak 11:06 putus, soal Iran juga tidak putus. Wah 11:08 kan seru. 11:09 Iya. 11:11 Artinya kalau melihat dari peta 11:12 pertarungan itu dunia makin tidak jelas 11:15 larinya ke mana. Jadi kalau kita mulai 11:18 dari misalnya kita tadi Angga bertanya 11:20 soal bagaimana 11:22 Yaman, bagaimana hati di Laut Merah di 11:24 bab Elandep [berdehem] 11:26 terhadap Arab Saudi. Buat saya itu 11:29 karena memang Amerika membiarkan Saudi 11:31 kehabisan ke atau menyusut eh storage eh 11:36 militer industrialnya dan itu dia akan 11:39 belanja lagi dari Amerika gitu 11:41 ngelihatnya. 11:42 He. [tertawa] 11:44 Jadi akan belanja lagi dengan Amerika 11:46 dengan dengan begitu padahal dia minta 11:48 bantuan Amerika untuk mengatasi HTI di 11:51 di Laut Merah gitu dan Amerika 11:53 e silakan tangani kami akan menangani 11:55 yang lain. 11:56 Iya. 11:59 Jadi kalau dilihat dari 12:03 ee situasi terakhir ini saya mengatakan 12:07 bahwa 12:10 situasinya memang penuh dengan 12:12 ketidakpastian. 12:13 Hm. 12:14 Dan itu terindikasi dari pertemuan 12:18 United Nation General Assembly 2426 12:21 September dan [berdehem] 12:24 KTT Summit US China gitu ya. 12:29 He he. 12:29 Yang juga tidak yang memberikan gambaran 12:33 mereka tidak ingin perang terbuka tapi 12:35 konflik terus berjalan. 12:37 Nah, kalau ini kita baca dalam 12:40 perspektif hegemoni, maka [berdehem] 12:44 bisa kita bayangkan 12:47 General Assembly 12:49 ee sidang umum telah melihat bahwa Dewan 12:52 Keamanan PBB tidak berdaya. 12:56 Hm. 12:57 PBB tidak mampu menghasilkan perdamaian 12:59 dunia. 13:00 Dan karena itu negara selatan global 13:05 mengambil sikap secara terbuka bahwa 13:08 mereka sudah tidak suka dengan Amerika 13:11 dan Israel. Sehingga ketika pidato 13:15 Netanyahu, negara-negara sebagian besar 13:17 meninggalkan 13:19 ruang sidang. Dan ketika Trump pidato, 13:23 orang Iran protes karena Trump 13:25 menyatakan 13:26 akan melakukan serangan yang 13:28 menghancurkan. 13:30 Iran dan pilihannya kalau tidak 13:34 melakukan ee perdamaian ee menurut 13:37 Amerika dan 13:38 he 13:39 proposal Iran ditolak habis-habisan oleh 13:43 Amerika yang diminta adalah ikuti 13:45 kemauan Amerika. Bahasa bahasanya 13:48 kemarin adalah tak tunduk atau takluk. H 13:50 enggak ada yang lain. 13:53 Nah, itu artinya lagi-lagi Amerika 13:55 betul-betul dalam posisi menunjukkan 13:57 kekuatannya 13:59 dan semua negara 14:01 ee dipaksa untuk tunduk dan takluk. 14:04 Karena itu keluar pernyataan Iran. Kalau 14:07 kami tidak melakukan perlawanan maka 14:10 tidak akan ada lagi negara di manapun di 14:12 dunia 14:13 yang akan melakukan perlawanan. 14:15 Itu balik lagi ke cerita COVID sama 14:17 vaksin. 14:18 Hm. 14:20 Tidak ada satu negara yang melakukan 14:21 perlawanan kecuali Cina kemarin. 14:23 Hm. 14:25 Jadi waktu COVID fak itu cuma Cina. Cina 14:28 tidak menolak Piser. 14:30 Cina tidak menolak yang namanya 14:34 vaksin-vaksin dari Barat. 14:36 Tapi Cina melakukan perlawanan dalam 14:37 bentuk 14:38 satu 14:40 COVID tidak berasal dari Wuhan dari 14:43 Hubei. 14:44 Dua, 14:45 vaksin mereka bikin sendiri Sinop dan 14:47 Sinopek. sehingga sehingga mereka pun 14:49 bisa mengekspor. Mereka di satu sisi 14:52 menerima impor, tapi di sisi lain mereka 14:54 juga mengekspor. 14:55 Padahal waktu itu Cina dijadikan agenda 14:58 pertama gitu ya. 15:01 Betul. 15:01 Iya. Agenda awal tuh di situ padahal. 15:04 Iya. Itu karena memang mereka bermaksud 15:06 mau mukul Cina tapi Cina bertahan bisa. 15:10 Nah, itu makanya saya mengingatkan di 15:11 kalimat saya awal tadi. 15:12 Iya. 15:13 Perhatikan situasi pandemi ke depan ini. 15:15 Hm. 15:17 Saya kira ini media pertama di dunia, di 15:20 Indonesia yang mengingatkan 15:22 pendengarnya, hati-hati ini di sini 15:25 karena ini perangkapnya luar biasa yang 15:26 dilakukan oleh kelompok orang ini. 15:28 Mereka sudah merasa punya pesaing, 15:31 mereka sudah merasa punya lawan yang 15:34 tangguh gitu ya. Dan mereka sudah merasa 15:36 bahwa agenda-agenda mereka di panggung 15:39 global itu tertandingi. 15:42 Ee program mereka ditandingi oleh SEO, 15:44 program mereka ditandingi oleh braks. 15:47 Uang mereka menurun kualitasnya, 15:49 legitimasi dolar menurun, lefikasi alat 15:52 pembayaran menurun, legitimasi digital 15:54 menurun. Coba. 15:56 Heeh. 15:57 Hah itu menarik di saya bahkan 16:01 membahas membaca pertarungan pembahasan 16:04 AI. Waduh luar biasa luar biasa yang 16:09 yang saya tidak dengar pembahasan itu 16:11 dilakukan di Indonesia dengan baik gitu. 16:14 Itu yang makanya saya buka sekarang di 16:16 Rasil gitu ya. 16:17 Bagaimana sesungguhnya kita harus sadar 16:19 dari pertarungan global ini yang akan 16:21 berdampak mendalam ke Indonesia. Nah, 16:24 krisis legitimasi ke ee ee panggung 16:27 global tadi itu karena didasarkan atah 16:29 kekerasan 16:30 itu merebak ke Indonesia. Nah, gugu 16:34 prahara bangsa sudah menyebutnya itu 16:36 sebagai kuadran antara ee legal dan 16:41 legitimasi. 16:42 H 16:42 orang mungkin punya posisi formal legal, 16:45 tapi dia tidak legitimate. Seperti kasus 16:47 Gibran, dia legal. 16:50 Iya. Sehingga sehingga Jimli, Yusril, 16:54 Rocky Gerung semua merasa ya sudah legal 16:57 formal. 16:58 Yusril bagaimana bilang kayak gitu, 17:00 Jimle bagaimana ngomong kayak gitu, 17:02 Rocky Grung juga ngomong kayak gitu 17:04 gitu. 17:04 Orang-orang itu kayak gitu gitu. 17:06 Yang buat saya 17:09 e rujukan legalitas legitimasinya tidak 17:12 imbang. 17:13 Heeh. 17:14 Dia punya posisi lehal tapi dia tidak 17:16 posisi punya posisi legitimasi. Hm. 17:19 Nah, itu yang kemudian dicerminkan oleh 17:22 pertemuan mahasiswa di Jogja sebagai 17:25 Nestapa Indonesia. 17:27 Nah, 17:27 bagus itu mahasiswa-mahasiswa 17:29 mahasiswa-mahasiswa itu ini Nesta 17:31 Indonesia. Kenapa? Karena mereka melihat 17:34 ada problem dalam pemerintah. Nah, 17:36 begitu masuk 17:38 ke dalam cerita 17:39 legitimasi global dan legitimasi 17:42 nasional, orang tidak melihat sistem. 17:45 Hm. 17:45 Orang hanya melihat perilaku politik. 17:48 H. 17:49 Padahal padahal ketika saya menyebut 17:52 legitimasi berbasis peace through 17:54 strength dan sekarang ini legitimasi di 17:58 Indonesia legalitasnya berbasis pada 18:02 Undang-Undang Dasar 45 palsu. 18:04 H. 18:05 Karena Undang-Undang 45 yang asli di 18:06 abandemen dengan pemilu yang tidak 18:08 dipercaya. Maka sesungguhnya legalitas 18:12 yang mereka punya adalah legalitas 18:14 palsu. Karena itu mengalami krisis 18:17 legitimasi. Bagaimana legalitas palsu 18:19 itu terjadi? Karena Undang-Undang Dasar 18:22 45nya Undang-Undang 45 palsu, 18:25 sistemnya palsu. 18:27 Seakan-akan itu benar, sejati, jujur 18:30 padahal palsu. 18:32 Mana ada legitimasi atas kepalsuan. 18:37 Celaka mereka yang curang. Cerah mereka 18:40 yang hidup di atas panggung kepalsuan. 18:42 Nah, kan gitu ngelihatnya. [tertawa] 18:45 Jadi saya tidak tahu kenapa Angga 18:48 memulai dengan kayak gitu gitu ya. 18:51 Karena 18:53 karena karena saya terus terang memang 18:55 saya menyiapkan dengan baik ini 18:57 eh wawancara hari ini gitu ya. Siapapun 19:00 apakah ah siapapun gitu ya saya akan 19:03 bicara ini adalah pemahaman begini. 19:06 Saya dalam posisi kerisauan yang amat 19:07 sangat gitu. Hm. 19:10 Sayaah saya kemarin bahkan ketika saya 19:13 menjelaskan ini ke seseorang, saya 19:18 nyaris nitikin air mata karena 19:21 ini orang gimana sih panggung panggung 19:23 nasional ini kayak apa sih? I 19:25 melihat situasi loh Anda bertahan 19:28 habis-habisan kok. Coba lihat kalau 19:30 gaya-gaya ee gaya-gaya pemerintah 19:32 berkomunikasi 19:34 everything is ok gitu loh. Seakan-akan 19:37 semuanya mereka sudah loh ada problem 19:39 besar kok. 19:40 Iya 19:40 ada problem besar yang tidak Anda atasi 19:43 yakni problem kepalsuan. 19:44 Hm. Hm. 19:46 Yang akhirnya melahirkan apa yang Anda 19:47 sebut sebagai krisis legitimasi. 19:50 Nah, mari kita bedah sekarang. He. 19:52 Bagaimana ceritanya sampai krisis 19:54 legitimasi itu terjadi? 19:56 Dari mana itu? [berdehem] 19:59 10 Agustus 20:01 2002. 20:01 Hm. 20:03 10 Agustus 20:06 202, 20:07 Majelis Pemusyaratan Rakyat Indonesia 20:11 memutuskan 20:12 bahwa amandemen Undang-Undang Dasar 45 20:17 kali 20:18 H 20:19 adalah sama dengan Undang-Undang Dasar 20:22 45 yang ditetapkan 18 Agustus 45 seperti 20:28 dikukuhkan oleh Dekret Presiden 5 Juli 20:30 19 garis membawahi kata-kata 20:33 adalah amandemen empat kali [berdehem] 20:38 gitu ya. Amandemen 4 kali Undang-Undang 20:41 Dasar 45 adalah 20:44 pakai kalimat adalah nih 20:45 iya 20:46 Undang-Undang Dasar 45 18 Agustus 45 20:50 seperti dikukuhkan 20:52 gitu ya 20:54 oleh Dekret Presiden 5 Juli 51 kok bisa 20:57 ini empat kali di amandemen dibilang 20:59 adalah sama dengan 18 Agustus 45 21:02 sama dengan Undang-Undang Dasar dan 21:04 seperti dikukan padahal itu beda. 21:07 Padahal itu beda. Bukannya itu 21:08 kepalsuan, bukan itu yang namanya 21:10 legitimasi, bukan itu yang namanya 21:13 ngebohongin rakyat Indonesia. 21:14 Hm. 21:17 Itu ngebohongi. 21:18 Lalu saya temukan lagi kajian Komisi 21:22 Konstitusi. 21:23 Hm. yang menyebut pertama sebagai telah 21:26 terjadi gitu ya satu kontradiksi 21:30 paradigma 21:32 di dalam amandemen tadi. Selain terjadi 21:35 kontradiksi paradigma dari empat kali 21:37 amandemen itu terjadi juga 21:39 inkonsistensi. 21:41 Coba bayangin kontradiksi paradigma 21:44 terjadi, inkonsistensi terjadi. Lalu ada 21:47 orang bilang 21:50 dalam perdebatan saya di rakyat 21:52 bersuara, 21:53 negara itu tidak berideologi. 21:56 Yang berideologi itu orang. Nah, itu 21:59 artinya dia tidak mampu membedakan 22:01 antara negara yang sebagai badan hukum 22:04 yang dilahirkan dengan orang yang 22:06 dilahirkan oleh alam. 22:08 Heeh. Heeh. Reh person sama nature reh 22:10 namanya. 22:12 Reh person sama nature reh namanya gitu 22:15 loh. 22:16 Badan hukum yang dilahirkan oleh hukum, 22:18 badan hukum yang dilahir oleh alam. 22:21 Reersen itu badan hukum yang dilahirkan 22:23 oleh alam. 22:24 H 22:25 sementara yang namanya negara, 22:28 perusahaan, yayasan, CP, PT itu badan 22:32 hukum yang dilahirkan oleh hukum. He. 22:35 Bagaimana mungkin suatu negara, satu 22:38 individu, satu tidak punya ideologi? 22:41 Enggak mungkin gitu. Itu salah cara 22:44 berpikirnya, salah. Walaupun itu ya saya 22:47 dibilang ngaca, tapi kemudian saya 22:48 bilang terstruktur. Nah, itu membuktikan 22:51 betapa legitimasi itu bermasalah di 22:54 situ. 22:55 Iya. 22:56 Cara-cara pandang itu bermasalah di 22:58 situ. Begitu itu ngelihatnya gitu. 23:01 Dan orang terbius dengan 23:02 permasalahan-permasalahan kayak gitu. 23:04 dengan kalimat-kalimat yang sekedar 23:06 kemasan belaka gitu. 23:08 Heeh. Heeh. 23:09 Saya berusaha meluruskan tentu tentu 23:12 saya berusaha meluruskan tapi ada 23:14 tetapinya. 23:15 He he. 23:16 Ada upaya pelurusan dengan kata-kata. 23:19 Ada upaya pelurusan dengan cukup dengan 23:22 bahasa tubuh. 23:23 Hm. 23:23 Ada bahasa dengan dengan mata gitu ya, 23:26 bahwa dia salah gitu ya. Begitu juga 23:28 dengan negeri ini. Para pemimpin ini 23:31 kita ingatkan dengan kata-kata tapi 23:33 dibilang goblok. 23:36 [tertawa] 23:37 Kita diingatkan dengan dibilang endasmu. 23:40 Coba bayangkan situasi seperti itu. 23:42 Seperti saya bilang presiden masuk dalam 23:45 civility war. 23:46 Hm. 23:48 Tapi sudah dialat katanya. 23:52 Ini enggak ada persoalan dengan yang 23:54 namanya federalisme. Ee itu justru kita 23:56 mau menghilangkan federalisme loh. 23:59 Kewibawaan itu tetap ada. Al-Qur'an saja 24:03 mengatakan kepada 24:06 sahabat, 24:07 hm, 24:07 "Janganlah kamu bersuara keras kepada 24:10 Rasulullah." Itu penataan kewibawaan. 24:14 itu penataan menjaga kehormatan. 24:18 Ada protokolernya bahasa sederhananya. 24:21 Jadi kalau Al-Qur'an menyatakan jangan 24:23 bersuara lebih keras dari Rasul mah gitu 24:25 ya. Itu dalam gambaran sikap penghargaan 24:28 dan penghormatan dalam bahasa sarangnya 24:30 ada protokolernya. Nah, kalau protokoler 24:33 mau disingkirkan dengan alasan 24:35 feudalisme itu logika pikirnya gimana? 24:38 Coba. 24:40 [tertawa] 24:42 Ah, jadi ada hal-hal yang memang kita 24:45 lihat legalitasnya begitu rupa gitu ya, 24:48 legitimasinya enggak ada. 24:50 Ada cerita legitimasinya tinggi, 24:52 legalitasnya enggak ada. 24:53 Nah, dalam bahasauddin 24:56 dua-duanya harus ada. 24:58 Hm. 24:59 Jadi dalam buku prahara bangsa saya 25:01 menyebut tidak mungkin Anda menanggalkan 25:04 legalitas 25:06 hanya meninggikan legitimasi. Tidak 25:09 mungkin hanya meninggikan legitimasi 25:11 tanpa legalitas. 25:13 Nah, di sana bukti tidak mungkin Anda 25:15 bicara hanya ilmu tanpa iman. Tidak 25:18 mungkin hanya bicara iman tanpa ilmu. 25:20 Itu [tertawa] jadi nanti Bang Isanudin 25:23 kan khawatirnya ini kebohongan, 25:26 manipulasi ya. Kalau legal jalankan 25:28 saja. Kalau legal ada aturannya, kalau 25:31 legal ya sudah ada strukturnya. Begitu 25:32 nantinya. khawatir 25:36 bukan khawatir sudah terjadi 25:37 sudah terjadi 25:39 gimana enggak nih gimana sudah saya 25:43 mengingatkan berkali-kali 25:47 Leha bahwa negeri ini berhutang 25:49 10.293 293 triliun yang dibayar melalui 25:54 pajak, bukan dibayar juga melalui sumber 25:56 daya alam. 25:57 H 25:58 tapi dibayar oleh pajak. Kenapa? Karena 26:00 pendapatan negara tergantung pada 26:02 perbajakan sebesar 82 sampai dengan 84% 26:07 yang dipakai untuk membayar bunga. H 26:10 cicilannya dipakai lagi dengan utang 26:12 tetapi dengan tekanan utang luar negeri 26:17 dengan tekanan utang publik sedemikian 26:19 rupa gitu ya. Anda bisa lihat enggak? 26:23 Lapas bermewah-mewah. 26:24 Iya. 26:25 Pejabat bermewah-mewah 26:27 gitu ya. Ee dan tidak ada kepedulian 26:30 bahwa yang namanya masyarakat di bawah 26:32 mungkin susah hidupnya 26:34 padahal mereka yang bayar pegang. He he. 26:37 Itu coba itu lehal mereka lehal kok. Oh 26:40 mereka bikin aturannya kok. 26:42 Tapi mereka tidak bisa terima 26:44 sesungguhnya. Tapi dari ketidakmampuan 26:46 berbicara, dari tidak kemampuan 26:48 menunjukkan rasa legitimasi orang-orang 26:50 itu akhirnya cuma tinggal di dada dan di 26:52 pikiran. 26:54 Saya hidup demikian susah untuk sesuap 26:57 nasi. Tapi kalian hidup di atas mobil 27:00 dan rumah mewah 27:01 dari pembayaran pajak kami. Kan ngelihat 27:04 yang jadi 27:04 iya 27:05 kan bisa begitu. Itu yang saya sebut 27:07 saya sudah berkali-kali. Mestinya 27:09 legalitas itu bukan cuma sekedar dituang 27:13 berdasarkan kata-kata yang dalam 27:15 undang-undang, 27:17 tapi moral dan etika yang ada dalam 27:19 undang-undang itu. Nah, muncul kalimat 27:24 [berdehem] 27:25 diperlukan undang-undang etika 27:27 pemerintahan. Bukan soal undang-undang 27:29 etika pemerintahan. 27:31 Kalau Undang-Undang Dasar 45 yang lama 27:33 menyatakan 27:35 pentingnya semangat para penyelenggara 27:37 negara berpihak dalam 27:41 misi, berpihak dalam amanat konstitusi. 27:44 Apa itu? 27:46 Melindungi segenap tumpah darah bangsa, 27:48 h 27:49 mencerdaskan, 27:50 menyejahterakan, 27:52 membangun rasa keadilan. 27:55 Mestinya itu gitu loh. 27:56 Iya. [tertawa] Iya. 27:59 Jadi ee semangat para penyelenggara itu 28:01 bukan hanya berpijak pada kata-kata 28:04 tertulis pada Undang-Undang Dasar, 28:05 kata-kata tertulis pada undang 28:07 [berdehem] perundang-undangan. Bukan itu 28:08 gitu. 28:09 Tapi pada moral dan etika sebagai 28:12 semangat pada penyelenggara negara yang 28:13 salah satunya yang saya kritik sejak 28:15 saya di DPR hingga hari ini tentang 28:17 utang yang saya sebut sebagai dep trap 28:20 gitu. 28:21 Dan sementara pejabat yang tidak merasa 28:23 itu sebagai dep trap. 28:25 Kebayang enggak situasinya kita sudah 28:27 masuk dalam deptnya 28:30 tidak merasa itu sebagai dept. Bukan itu 28:33 bukan itu melahirkan krisis legitimasi. 28:36 Krisis krisis legitimasi 28:37 ya sudah 28:38 krisis legitimasi itu itu yang paling 28:40 nyata tuh itu gitu loh. 28:42 Kita sudah dijebak oleh hutang tapi para 28:44 penyelenggara negaranya tidak merasa itu 28:46 sebagai jebakan hutang. Ya gimana coba? 28:49 Itu kalimat itu sederhana sekali. Anda 28:51 sudah dijebak oleh hutang 28:53 itu ya. 28:54 Tapi seluruh penjalan negara hampir 28:56 semuanya saya bilang dari mulai yang 28:58 paling atas sampai nama yang paling 29:01 bawah pejabat negara itu mereka tidak 29:03 merasakan de trap itu. Maka hiduplah 29:07 mereka dengan mobil mewah. 29:09 Lihat coba mobil-mobil mewah dipakai 29:12 oleh ASN, 29:13 dipakai oleh namanya para pejabat itu. 29:16 Sementara rakyatnya untuk makan susuap 29:17 nasi saja luar biasa susahnya. H 29:21 dari krisis legitimasi jadi krisis moral 29:24 dan krisis keteladanan. 29:27 Bukankah itu sudah saya kita bicarakan 29:29 juga di rahasil? 29:30 Iya. Tadi diinggung lagi itu ilmu tanpa 29:32 iman, jabatan tanpa iman gitu kan. 29:35 Legalitas tanpa iman. sudah legalitas 29:37 tanpa iman jadinya negara tanpa iman itu 29:39 yang bahaya Bangudin. 29:41 Nah di situ 29:44 jadi ketika yang namanya sumber asal 29:46 muuasalnya adalah riba gitu ya, 29:49 maka begitulah kita hidup kita selalu 29:51 dalam kegaduhan. 29:53 Dalam rumusan Albaqarahnya kegaduhan itu 29:55 dibilang berdiri tegak tapi sempoyongan. 29:57 Nah, itu gaduh. 30:00 Itu hidup tanpak disiplin itu gaduh. 30:02 H. He. 30:03 Nah, itu gambaran lukisan Albaqar 275 30:05 279 itu begitu tuh gambaran. Anda 30:09 seperti menjinahi ibu Anda tujuh kali 30:12 dan Anda sedang diperangi oleh Rasul dan 30:14 Allah. Nah, luar biasa. 30:16 Luar biasa. Nah, itu itu dep 30:19 dep gitu. Nah, pertanyaan besarnya 30:23 sampai seapa jauh mereka sadar lihat aja 30:26 APBN mereka sadar apa enggak gitu. lihat 30:29 aja sumber daya dipakai kayak gitu 30:30 gimana sadar apa gitu itu bisa dilihat 30:33 dari situ gitu begitu [berdehem] juga 30:35 Amerika yang utangnya sudah 40 triliun 30:38 tapi mereka menghadapi problem yang 30:40 namanya 30:41 homelessness mereka punya problem 30:43 namanya pendapatan mereka punya problem 30:45 yang namanya ketimpangan rasial mereka 30:47 punya problem yang namanya bencana yang 30:49 enggak kerukaruan terus-menerus 30:50 Heeh 30:51 gitu kalau kalau saya baca media sana 30:54 gitu ya 30:54 Heeh. Heeh. Nah, suka tidak suka, setuju 30:58 tidak setuju, 31:00 mau tidak mau, sadar atau tidak sadar 31:04 gitu ya. 31:05 Anda diajak merenung, diajak 31:08 berkontemplasi, 31:10 ini apa yang salah gitu. Saya selalu 31:14 menyebut 31:16 adik-adik yang bicara di Jogja dengan 31:18 Nestapa Indonesia itu 31:20 hanya bicara Pak Prilaku. 31:22 Mereka tidak melihat problemnya di 31:25 sistem. 31:27 Mereka hanya bilang demokrasi yang makin 31:30 menurun. 31:31 He. 31:31 Mereka tidak tahu bahwa demokrasi itu 31:33 adalah kata-kata yang menyesatkan. 31:36 He. 31:38 Kata-kata yang sesungguhnya sekedar 31:40 menunjukkan hak untuk bersuara. H 31:43 gitu ya. Hak untuk menunjukkan hak gitu 31:47 [berdehem] 31:48 dan itu didasarkan atas individualisme. 31:51 Heeh. 31:51 Padahal katanya ada orang yang 31:53 berteriak-teriak sosialisme. Entah 31:55 sosialisme apa gitu. 31:58 Entah sosialisme apa. Nah, Bang Budin. 32:02 Iya. Ya, jadi kan kita tuh ingin bukan 32:04 sekedar melawan ya, tapi kita juga ingin 32:07 mengobati gitu defisit ee kepercayaan, 32:12 defisit moral, defisit ee legitimasi, 32:15 dan defisit lain-lainnya yang mendera 32:17 republik ini gitu ya. Jadi, gimana Bang 32:20 Sin membangun pemerintahan yang sudah 32:22 hilang ee kredibilitas ini mengobatinya 32:26 bagaimana? 32:29 Oke. Ee saya ingin ee merespon 32:33 ee dalam bahasa Iksandin Nursi yang 32:36 sudah berjalan sejak eh lebih dari ee 28 32:42 tahun 32:44 dalam cara berpikir Ihsanudin Nursi. 32:46 Maaf anggal saya menyebut nama saya 32:49 karena ini saya melakukan dalam cara 32:51 berpikiranudin Nursi. Saya tidak hanya 32:55 melakukan dekonstruksi yang dalam bahasa 32:58 Angga tadi melawan. 32:59 Heeh. Heeh. 33:01 Saya tidak hanya melakukan dekonstruksi. 33:03 Jadi, sebuah konstruksi saya dekon. Di 33:06 itu memang menyakitkan. 33:09 Ulang. Sama seperti orang sakit dikasih 33:12 obat itu sakit. 33:14 Iya, 33:15 sakit 33:16 karena sedang dicari keseimbangan baru. 33:18 Iya. Pahit. Ada keseimbangan baru yang 33:20 harus dicapai. Keseimbangan baru itulah 33:23 rekonstruksi namanya. Lalu apakah 33:25 keseimbangan lama dengan keseimbangan 33:27 baru itu berbeda? Pasti ada samanya, 33:30 pasti ada bedanya. Begitu cara 33:32 berpikirnya. 33:33 He. 33:34 Jadi saya sekali lagi sayaudinsi 33:39 melakukan rekonstruksi dan rekonstruksi. 33:42 Rekonstruksi itu adalah keseimbangan 33:44 baru. Pertanyaan besarnya adalah apakah 33:47 keseimbangan lama dengan keseimbangan 33:49 baru berbeda? Ada samanya, ada bedanya. 33:52 samanya pondasinya tidak boleh berbeda. 33:57 Karena pondasinya adalah berkat rahmat 34:00 Allah yang maha kuasa dan didorongkan 34:03 oleh keinginan kubur supaya kehidupan 34:06 berbangsa dan bernegara bebas mereka 34:10 melindungi segala tumpah darah bangsa, 34:13 mencerdaskan, menyejahterakan, dan 34:16 membangun rasa keadilan 34:18 berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. itu 34:21 itu itu mah harus begitu gitu loh. 34:24 Iya. 34:25 Ada visinya, ada misinya, ada pondasinya 34:27 gitu loh. 34:28 Jelas sekali dibangunnya begitu gitu. 34:31 Nah, karena rekonstruksinya begitu, 34:34 basis keseimbangan lamanya begitu, maka 34:37 keseimbangan baru yang kita munculkan, 34:40 yang kita hadirkan lebih pada kebijakan, 34:43 lebih kepada strategi, lebih kepada 34:46 fungsi, 34:47 lebih kepada teknologi. Nilainya kita 34:49 tidak ubah. Itulah keseimbangan lama 34:52 dengan keseimbangan baru namanya tidak 34:54 berubah. keseimbangan barunya berubah 34:56 pada kebijakan, pada strategi, pada 34:58 fungsi, pada teknologi, pada aplikasi, 35:00 pada bukti. Begitu 35:02 konsistensinya tetap. Konsistensinya 35:05 tetap. Kenapa? Karena konsistensinya 35:07 balik ke dalam nilainya. 35:10 Dengan begitu kesinambungan nilai itu 35:12 berjalan. Itulah yang disebut dengan 35:15 tegaknya nilai-nilai satu bangsa itu 35:18 diukur oleh tiga hal. 35:21 Satu, masyarakat merasakan bahwa 35:24 kehidupannya memang dijahit oleh moral 35:26 dan etika nilai-nilai tadi. Sekarang 35:28 coba masyarakat merasa dijahit enggak 35:31 oleh moral dan etika yang ada. Enggak 35:33 ada. 35:34 Hilang pupuk sudah nilai satu. 35:35 [berdehem] Yang kedua, ukuran berikutnya 35:37 masyarakat merasa bangga dengan nilai 35:39 itu. Ada produk yang dihasilkan oleh 35:42 itu. Ada enggak produk? Enggak ada. 35:45 Enggak ada. 35:46 Enggak ada. Yang keh yang yang ketiga 35:49 sekarang ada pemimpin yang menjadi 35:52 simbol atas tegaknya nilai-nilai itu 35:54 gitu loh. 35:55 Ada enggak? 35:57 Enggak. 35:57 Enggak ada. 35:59 Tiga-tiganya enggak ada. Jadi sekali 36:00 lagi saya ulang tiga indikatornya. 36:04 Dia dirasakan oleh masyarakat sebagai 36:06 nilai-nilai etika dan moral yang 36:08 mengikat. Dua, ada kebanggaan yang 36:11 muncul di masyarakat atas nilai-nilai 36:13 itu. Ada produk yang dibanggakan. Tidak 36:16 ada pemimpin 36:18 yang tampil menjadi teladan atas 36:20 nilai-nilai itu. Tiga-tiganya kita tidak 36:22 punya. Bukankah kita ke akhirnya 36:24 menggambarkan kita krisis nilai? Dan 36:27 krisis nilai itu adalah yang Angga 36:29 sederhanakan tadi 36:30 dalam bahasa sosiologinya, 36:32 dalam bahasa politiknya krisis 36:34 legitimasi. 36:35 Dan itu bukan hanya terjadi di panggung 36:37 nasional juga sedang terjadi di panggung 36:39 global gitu melihatnya. 36:43 Nah, kalau kita ngelihatnya begitu maka 36:45 yang kita perbaiki bukan cuma sekedar 36:47 pelakunya, 36:48 yakni krisis keteladanan pemimpin. 36:51 Seperti Sudin menyatakan pada 15 36:53 November 2024, kita mengalami krisis 36:55 keteladanan. 36:59 Karena seorang pembim menyatakan 37:01 negerinya terbuka untuk investasi asing 37:03 di sektor pendidikan dan kesehatan. Coba 37:05 gimana tuh? 37:07 Gimana 37:08 gimana? 37:10 Eh, cuma, cuma seorang diri saya ngomong 37:12 duluan kayak gitu. Sama seperti di era 37:14 Joko Widodo, cuma seorang diri 37:15 menyatakan send you Joko Widodo. 37:18 Just on you. 37:18 November 2014. 37:21 10 tahun kemudian saya menyatakan kita 37:23 mengalami krisis keteladaan. 37:25 Hm. 37:28 Persoalan pokoknya bukan soal 37:29 konsistensi kita berseberangan dengan 37:31 pemerintah bukan itu. 37:33 Bukan kita konsisten melawan pemerintah 37:35 bukan itu. Karena saya punya konstruksi 37:38 saya punya dekonstruksi. Ih punya 37:41 rekonstruksi. 37:42 Hm. 37:44 Artinya kan ada pemikiran terus ada 37:47 tindakan. Angkat. 37:48 Iya. 37:48 Ada pemikiran, ada tindakan. Sama 37:51 seperti Rusalembah. Dia punya ajaran 37:55 gitu ya. 37:57 muttaqin gitu ya. Amantu billah wumil 38:00 akhir. Lalu dia wujudkan dalam tindakan 38:03 sebagai sunah-sunahnya. 38:04 H 38:05 begitu juga kita. Enggak mungkin kita 38:06 cuma pegang ajaran sampai kita wujudin 38:08 dalam tindakan. Kalau kita punya 38:11 kesalahan, kita perbaiki kesalahan kita. 38:14 Guyak. 38:16 Nah, 38:18 supaya kita sampai pada titik upaya 38:21 merekonstruksi, maka rekonstruksi kita 38:23 tidak kita tujukan untuk kelompok kita. 38:25 H 38:26 tidak kita tunjukkan itu itu untuk 38:28 kelompok kalangan kita. Tapi untuk 38:30 segenap rahmat lil alamin, untuk segenap 38:33 bangsa Indonesia. Maka memperbaiki 38:37 konstitusi yang sudah dipaksukan ini dan 38:41 mengakibatkan krisis serintimasi 38:43 sebenarnya diilakukan dalam rangka 38:45 pemulihan kehidupan berbangsa bernegara 38:48 sesuai dengan semangat para pendiri 38:50 republik. 38:52 Hm. 38:54 supaya kita tidak makin tersesat, tidak 38:57 makin terjerat, tidak makin mendalam 39:00 krisis legitimasi. krisis legitimasi 28 39:04 tahun lalu saya bilang itu disebabkan 39:07 oleh social distal 39:10 social disorder 39:12 social disobedient [batuk] 39:14 [berdehem] 39:14 lah itu kan krisis 39:17 moneter bergeser menjadi krisis 39:18 multidimensi 28 tahun lalui 39:21 he 39:21 saya bilang lahirlah sosial disrasi 39:24 masyarakat tidak saling percaya lahirlah 39:26 social disorder serbuan ke mana-mana 39:29 terjadi krisis 39:31 sampai cerita demo di depan universitas 39:34 ee yang di ee yang di Semangg itu 39:36 h 39:37 ada orang meninggal gitu ya, ada 39:39 mahasiswa meninggal. 39:40 Lalu kemudian juga terjadi social 39:41 disobedience. 39:43 Kalau kata-kata sosial ini kita ganti, 39:45 dia menggambarkan 39:47 ekonomical, political, 39:50 distr, ekonomical, 39:52 political, disorder, economical, 39:54 political, disorder, disobedient. Nah, 39:58 itu berjalan. Nah, itu artinya gitu ya 40:01 ketika harga uang yang menunjukkan 40:04 harkat martabat bangsa yang menunjukkan 40:07 kualitas negara berhasil dipukul oleh 40:10 satu negara, oleh para manipulator, oleh 40:15 para spekulan gitu ya, sesungguhnya yang 40:17 sedang dipukul adalah harga diri kita, 40:20 harga diri bangsa. Dan pukulan terhadap 40:22 harga diri bangsa itu berjalan hingga 40:25 hari ini. 40:26 Hingga hari ini. 40:27 Itu makanya saya bilang nilai tukar 40:30 jatuh 40:31 h 40:32 dalam jangka panjang berkesinambungan. 40:34 Ulang. Nilai tukar jatuh 40:36 dalam jangka panjang berkesinambungan. 40:39 Itu artinya krisis legitimaksi terhadap 40:41 rupiah. Itu artinya krisis kedaulatan. 40:44 Itu artinya krisis di situ kan 40:48 harga diri. PO enggak dipahami sih? Iya, 40:51 di sudahlah ini memang rupiah sudah 40:54 biasa jatuh. Ah, sudahlah memang kita 40:57 sudah terbiasa ditindas begitu. Itu kan 41:01 gimana coba Anda sudah ter dalam bahasa 41:04 sederhana Anda sudah menerima posisi 41:06 diri sebagai terus-menerus berada di IGD 41:09 instalasi gawat darurat. 41:10 H darurat 41:11 keluar sebentar balik lagi. Keluar 41:13 sebentar balik lagi. 41:14 Baik, Bang Isanudin waktu kita sudah 41:16 habis ini singkat. 41:18 Kalimat penutup. Kalimat penutup. apa 41:20 nih krisis legitimasi pemerintahan ini 41:24 yang legal. 41:27 Nah, [berdehem] kalau kita menyadari 41:29 bahwa krisis legitimasi adalah krisis 41:32 kepercayaan 41:34 dan krisis kepercayaan 41:36 merupakan indikator social distust, 41:40 social disorder, social disobedience, 41:43 maka 41:45 kita harus mencegah dia menjadi bentuk 41:47 disintegrasi. Hm. 41:50 Kita harus hentikan dia menjadi 41:54 berproses lebih lanjut menjadi 41:56 disintegrasi. 41:58 Nah, 42:00 kalau MK pernah menjadi sumber munculnya 42:03 legitimasi. 42:05 Kalau MPR yang pada 10 Agustus 2002 42:09 telah menjadi sumber krisis legitimasi, 42:12 maka dari sanalah sumber itu kita 42:13 perbaiki. 42:14 MPR harus kembali berperan untuk 42:16 mengembalikan ini semua. 42:18 gitu ya. Seluruh anak bangsa yang merasa 42:21 menjadi pemikir-pemikir terbaik, 42:24 berikanlah kontribusi yang terbaik agar 42:26 bangsa ini kembali memiliki harga diri. 42:29 Agar bangsa ini kembali punya 42:30 kedaulatan, agar bangsa ini punya 42:33 kemampuan mengatasi krisis legitimasi 42:36 agar hidup berbasis pada iman dan ilmu. 42:39 Hidup bukan berbasis pada tahta dan 42:41 harta. Sehingga Anda merasa terhormat 42:44 dengan tahta dan harta ini. 42:46 Tidak. Anda tidak akan pernah terhormat 42:48 dengan takhta dan f Anda justru akan 42:51 menjadi ee beban dan dia akan menjadi 42:54 beban dan kemudian haus begitu saja 42:56 ketika Anda masuk ke liang lahad 42:59 subhanakallahumma wabi asadu antaagfir 43:04 alalamualaikum warahmatullah 43:06 wabarakatuh 43:08 waalaikumsalam warahmatullahi 43:10 wabarakatuh itu