Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 Assalamualaikum warahmatullahi 0:02 wabarakatuh. 0:03 Saya Leila Monaganim, 0:06 pengisi siaran di Rasil Bincang 0:09 Komunikasi. 0:11 Selamat jalankan ibadah Ramadan. 0:14 Berkah banget Ramadan kali ini. 0:18 Mari kita jalankan Ramadan dengan PSR. 0:22 [tertawa] 0:23 Ramadan adalah bulan PSR, personal 0:26 social responsibility. kita punya 0:29 tanggung jawab sosial untuk bisa 0:32 bermanfaat dan memberi kebaikan pada 0:34 orang-orang di sekitar kita di bulan 0:37 Ramadan ini. Terima kasih, sampai jumpa 0:40 lagi di kegiatan-kegiatan dirasil. 0:54 Bismillahirrahmanirrahim. 0:56 Asalamualaikum warahmatullahi 0:57 wabarakatuh, ikhwan akhwat 0:59 rahimakumullah. Alhamdulillah 1:01 wasyukurillah. 1:03 Bahagia sekali kami dapat kembali hadir 1:06 ke ruang Anda di bulan yang berlimpah 1:10 berkah ini di acara sahur bersama Rasil. 1:15 1 jam yang kita lewati bersama kali ini 1:19 mudah-mudahan menambah semangat kita dan 1:22 mempersuasi kita semuanya untuk bisa 1:25 lebih optimal beribadah di bulan yang 1:29 berlimpah berkah ini. Bayangkan ya 1:32 ikhwan akhwat. Kita belajar untuk 1:35 menahan diri dari lapar dan haus, dari 1:39 melakukan hal-hal yang merugikan kita 1:43 pada saat kita puasa, kita melatih emosi 1:48 kita dan semuanya untuk bisa menggapai 1:53 rida Allah, meningkatkan ketakwaan kita. 1:57 Dan alhamdulillah di sahur bersama Rasil 2:02 selama bulan puasa ini kami hadirkan 2:06 sosok yang insyaallah memberi kita 2:08 semangat dan persuasi untuk bisa lebih 2:12 optimal. Tapi sebelumnya ingin kami 2:14 sampaikan juga bahwa siaran dari Radio 2:17 Silaturahim ini juga disebar luaskan 2:22 oleh Radio Sela FM yang ada di Batam. 2:25 Kemudian juga Radio Latan FM yang ada di 2:28 Sukabumi, radio silaturahim 2:31 107,5 2:34 eh MHz di Bondowoso. Kemudian ada radio 2:38 Suara Habibullah di Banyuwangi. Ada 2:41 Radio Silaturahim di Piungan, 2:44 Yogyakarta. serta radio megafon yang ada 2:47 di Aceh. 2:49 Ikhwan dan akhwat, Sahur bersama Rasil 2:52 kali ini menghadirkan sosok yang sungguh 2:55 sangat luar biasa. Bisa jadi Anda sudah 2:58 kenal. Beliau adalah Associate Prof. Dr. 3:02 Leila Monaganim, S.Pd., M.Si., M.Si., 3:06 CPR CS. 3:10 Beliau juga konsultan komunikasi, dosen 3:12 di berbagai universitas 3:15 yang juga telah menerima berbagai 3:17 penghargaan nih sebagai penghargaan 3:21 IPEMI perempuan Indonesia, perempuan 3:24 inspirasi Indonesia di tahun 2023. 3:27 Kemudian juga Perhumas Award kategori 3:31 pendidik humas di tahun yang sama 2023. 3:35 Excellence awards from International 3:37 Board of Standards 3:39 Global Academy of Finance and Management 3:42 for Commitment to Promoting Excellence 3:45 in Communication Outstanding Service in 3:49 Communication USA. It di Desember 2023. 3:55 Tahu enggak? Beliau juga dosen terbaik, 3:58 pengabdian masyarakat terbaik. 4:01 di samping juga menulis berapa banyak 4:04 buku yang sudah beliau tulis. Luar biasa 4:06 sekali. Ada 27 4:09 buku terkait dengan komunikasi antar 4:11 pribadi, kesehatan, kedokteran, 4:14 kedokteran gigi juga corporate, 4:16 metodologi penelitian dan lain-lain. 4:19 Dan satu lagi, Dr. Mona juga pernah 4:23 menjadi komisioner di Komisi Kedokteran 4:26 Indonesia. ini adalah lembaga negara di 4:30 bawah presiden yang ditujukan untuk 4:32 menjaga kepentingan masyarakat. 4:34 Sekaligus juga beliau menjadi wakil 4:36 ketua umum Ikatan Sarjana Komunikasi 4:39 Indonesia selama dua periode. 4:42 Masyaallah, sungguh luar biasa sekali. 4:45 Dan beliau sudah hadir di sini bersama 4:47 kita. Asalamualaikum warahmatullahi 4:49 wabarakatuh. 4:50 Waalaikumsalam warahmatullahi 4:52 wabarakatuh. 4:53 Pengin tanya yang lain, tapi kok bisa 4:54 cantik terus. Tuh gimana? [tertawa] Oke, 4:57 jadi terima kasih sekali kehadirannya, 5:00 kesediaannya untuk bersama-sama di radio 5:04 silaturahim sahur bersama Rasil 5:07 di puasa Ramadan yang berlimpah berkah 5:09 ini. Sehat ya? 5:11 Alhamdulillah. 5:11 Bugar. Aman. 5:12 Aman. Alhamdulillah. Nuning. 5:15 Kalau enggak enggak sampai sini. 5:17 [tertawa] 5:17 Oh ya. Ngomong-ngomong dari begitu 5:19 banyak prestasi yang diraih, 5:22 begitu banyak ee pengalaman 5:25 pendidikannya. Bisa enggak diceritain 5:29 apakah juga ada unsur dorongan persuasi 5:33 dari ayah bunda, kenapa kok di bidang 5:36 ini? Kenapa enggak mau jadi A B C yang 5:38 lain? Tolong diceritakan. Silakan. 5:41 Terima kasih, Mbak Nuning. Saya mau 5:44 cerita ya pengalaman 5:46 ee dari 5:49 kecil lah gitu ya. 5:50 He 5:51 ee saya itu SD 5:54 itu ee biasa-biasa aja gitu ya. 5:57 Alhamdulillah waktu itu ee lulus dengan 6:01 baik gitu 6:03 ee bahkan kategorinya bagus. 6:07 Kemudian masuk SMP. di SMP itu lagi 6:10 pencarian 6:12 ee jati dirilah gitu ya, Mbak Nuning ya. 6:16 Nyungsep senyungsep-nyungsepnya 6:18 [tertawa] 6:19 pengalaman waktu SMP itu. 6:22 He 6:24 sampai setiap kenaikan kelas atau setiap 6:27 bagi repot itu ee 6:30 atau mostly lah beberapa kaliah ya. He 6:33 orang tua dipanggil nih anak nih 6:36 [tertawa] 6:38 antara baik dan tidak nih harus dijagain 6:42 nih gitu ya saking saking 6:45 ee 6:45 aku rasa karena aktif banget ituak 6:47 [tertawa] 6:50 lagi benar-benar apa ya senangnya 6:54 senangnya kabur dari sekolah 6:57 H 6:57 terus di rumah 7:00 main di rumah gitu gitu. Ee atau 7:04 kadang-kadang jalan-jalan sama 7:05 teman-teman gitu ya. Pokoknya waktu SMP 7:08 itu masa 7:11 paling 7:13 mengkhawatirkan [tertawa] dalam 7:15 kehidupan pendidikan saya. 7:18 Terus sudah gitu dari situ saya ee SMA. 7:21 SMA itu ee saya SMA bukan SMA yang saya 7:24 harapkan waktu itu gitu karena 7:27 nilainya jeblok. [tertawa] Masuk SMP 7:30 nilainya jeblok. eh lulus SMP dulnya 7:32 jeblok. Pas SMA itu ee saya dikasih tahu 7:38 sama seorang kakak kelas di SMA gitu ya. 7:41 He. 7:42 Dikasih tahu 7:44 kamu rajin dikit aja 7:50 bakal bisa bagus kata dia gitu. Saya 7:53 pikir itu omongan kakak kelas. kebetulan 7:57 dia keterima di IPB 8:01 di undangan, jalur undangan ya. 8:04 Jadi inspiring omongan dia yang simpel 8:07 itu kayak kayak ngomong dari hati dan 8:11 nyentuh saraf saya gitu. 8:14 Oh, oke. 8:16 Karena waktu itu saya sudah mulai enggak 8:18 PD gitu kok 8:19 enggak bagus gitu. 8:21 Padahal waktu SD the best lah gitu ya. 8:25 Nah, akhirnya saya mulai sadar, Mbak 8:28 Doni. Kesadaran saya itu mulai di SMA 8:32 bahwa hidup saya itu tergantung saya. Di 8:36 situlah saya sungguh-sungguh ikut ini, 8:39 ikut itu, ikut banyak kegiatan. Saya 8:41 rapiin 8:44 ngajarin teman-teman di kelas. 8:46 Wow. 8:46 Heeh. sampai saya 8:50 jadi guru dilanggar 8:53 di masjid dekat rumah gitu ngajarin 8:56 anak-anak SMP gitu. Heeh. Ngajarin 8:59 pelajaran-pelajaran bahasa Inggris ke 9:01 anak-anak SMP di dekat rumah. 9:03 Jadi waktu itu benar-benar ee apa ya? 9:08 Saya mau bilang bahwa kata-kata itu bisa 9:12 umurnya panjang, bisa dalam banget, bisa 9:15 nyentuh banget ke orang gitu ya. 9:17 ee ketika disampaikan pada saat yang 9:19 tepat gitu. 9:22 Ee akhirnya dari sana saya mulai sadar 9:26 betul bahwa hidup saya tergantung saya. 9:29 Saya ee punya keputusan-keputusan banyak 9:32 terkait dengan masa depan gitu ya 9:34 semenjak SMA itu. 9:36 Jadi you are what you think, you are 9:38 what you believe. Jadilah aku seperti 9:40 sekarang ini gitu ya. He, 9:42 saya pikirkan saya mau ngapain. Dari SMA 9:45 saya ee kuliah. 9:47 He. 9:49 Waktu itu pilihannya apakah mau ke UNPAT 9:53 atau ke ee IKIP. IKIP itu nama sekarang 9:57 namanya UPI gitu ya. Dulu saya di SMA 9:58 Muhammadiyah 9:59 SMP SMP 9. 10:01 Nah, waktu di di Bandung itu Mbak Mbak 10:05 Nuning ya. Heem. 10:07 Waktu saya mau kuliah itu, Kakak saya 10:10 pada bilang begini, "Emang benar nih mau 10:12 jadi guru nih?" Karena saya cita-citanya 10:14 itu ingin jadi guru, Mbak Deng dari dulu 10:16 dari dari TK. 10:18 Jadi enggak heran ya ketika SMA ngajarin 10:20 anak-anak SMP gitu. 10:22 Ngajar SMP. Heeh. 10:24 Ada ee jadi guru TK saya itu namanya Bu 10:30 Ami itu inspiring untuk saya gitu. dia 10:33 ngajar, dia itu ngajar dengan penuh 10:37 kasih sayang dan dekat. Kebetulan Mama 10:39 itu waktu itu jadi pengurus TK gitu. 10:42 Jadi 10:43 ikut jadi ee pengurus di sebuah TK yang 10:47 yayasannya itu mengelola rumah sakit 10:50 sama pendidikan gitu. Jadi ee si ibu itu 10:54 dekat sama ibu guru itu dekat sama ibu 10:56 saya dan dekat sama saya juga gitu. Jadi 10:59 saya kadang-kadang dibawa pulang ke 11:01 rumahnya, dibawa ke rumahnya di Kudus 11:04 ya. Jadi kadang-kadang dibawa ke sana 11:06 dan lain sebagainya. 11:08 Jadi dari sana ee saya punya cita-cita 11:11 kayaknya entar saya mau jadi guru deh 11:13 gitu. 11:14 Kebayangnya guru enggak tahu ya guru TK 11:16 atau guru SD atau guru apa aja gitu 11:18 waktu itu. Makanya saya memilih ke IKIP. 11:22 Ee kakak saya bilang begini, "Kamu ee 11:27 kalau jadi guru entar e zaman zaman itu 11:30 ya entar dibawain pisang, dibawa 11:34 [tertawa] 11:35 dibawain ee apa namanya? ee beras gitu 11:39 ya. 11:40 Ee pokoknya hasil bumi lah gitu ya. Itu 11:42 ee untuk dari orang tua ke kita gitu ya, 11:47 ke gurunya gitu ya. ee malah bisa jadi 11:49 enggak dibayar tuh [tertawa] kayak gitu. 11:53 Jadi awalnya terpersuasi oleh kakak 11:57 kelas. Nah, 11:58 kakak kelas 11:58 di dalam proses kemudian pengambilan 12:00 jurusan yang berbeda dengan apa yang 12:03 dirindukan itu peran ayah ibu 12:06 ada atau gimana? 12:08 Ee 12:10 jadi saya sekarang bisa melihat bahwa 12:13 banyak sekali aktivitas saya itu 12:15 terinspirasi oleh ayah saya. Ayah ya. 12:18 Ayah saya. 12:20 Ayah saya itu ee 12:23 suka menulis. Bahkan waktu saya SMP itu 12:28 saya bagian ngetik gitu ya. Ayah saya ee 12:31 apa namanya? Ngomong saya yang bagian 12:34 ngetiknya gitu. Waktu itu beliau 12:35 masih pakai mesin brother. 12:37 Masih cek. [tertawa] 12:40 Ee ayah saya bikin buku. Eh, saya tuh 12:43 suka bikin buku untuk mengaji, kemudian 12:46 buku haji, umrah gitu ya. Jadi buku-buku 12:50 religi lah gitu. Saya bagian ngetiknya. 12:54 Jadi ee saya teringat betul tentang 12:58 bagaimana prosedur melakukan ee 13:01 ibadah-ibadah itu tuh karena saya ngetik 13:04 gitu. 13:04 [tertawa] 13:04 Jadi, jadi bukan karena bukan karena 13:07 mempelajarinya ee maksudnya ee yang yang 13:12 bertahan itu gitu. Heeh. Ee ayah saya 13:15 juga suka suka speech gitu ya, suka ee 13:19 apa namanya? Tausiah kayak gitu-gitu 13:21 gitu ya. Jadi saya merasa pengalaman itu 13:26 lumayan banyak. Ayah saya punya punya 13:28 rekaman ee radi bukan radio apa namanya 13:33 ee kaset gitu ya Mbak Nuning ya bikin 13:36 kaset kaset membaca Al-Qur'an ee dan 13:39 saya banyak menggunakan suara sama 13:41 seperti Mbak Nun banyak juga menggunakan 13:43 suara dari dulu artinya banyak 13:45 catatan-catatan, kegiatan-kegiatan saya 13:48 itu sekarang saya sadari oh iya ya 13:51 banyak diinspirasi oleh ayah dan ibu 13:53 saya. 13:54 Hm. Ibu saya itu pengurus organisasi 13:56 waktu masa mudanya dan saya akhirnya 13:59 juga lumayan banyak aktivitas di 14:01 berbagai organisasi begitu. 14:03 Iya. Jadi ikhwan akhwat enggak bisa 14:07 enggak yang namanya ayah bunda pasti 14:09 punya peran yang sangat luar biasa di 14:11 dalam perjalanan hidup kita. 14:14 Apakah 14:15 ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, 14:17 itu pasti ada kontribusi beliau. Ya, 14:20 betul. Betul. Nah, kalau tadi memilih 14:24 yang kemudian sekarang ini dijalani hari 14:28 ke hari itu juga sudah atas persetujuan 14:31 keluarga juga 14:32 ee 14:33 atau masih 14:34 demokratis? Keluarga saya demokratis. 14:36 Jadi itu akhirnya banyak pilihan saya. 14:38 He. 14:39 Banyak pilihan saya. Jadi setelah saya 14:41 lulus dari ee apa namanya? Nah, ee 14:45 pendidikan saya mulai dari diploma 3, 14:48 Mbak Doni. Terus saya saya ee kebetulan 14:51 kerja di Deplu waktu itu ya. Ee saya 14:55 kerja di ee apa namanya? Di Islam Abad 14:58 di Pakistan, di KBRI Islam Abad gitu ya. 15:01 Ee membantu duta besar. Nah, di sana 15:04 akhirnya saya ngelanjutin S1 saya. Terus 15:08 ee ketika di Islam itu saya belajar 15:12 banyak tentang mandiri, tentang hidup ee 15:17 apa ya menjadi manusia yang bertanggung 15:19 jawab gitu sama diri sendiri tuh 15:21 terimplementasi dengan lebih 15:23 lebih real itu di situ gitu. Pulang dari 15:26 sana, saya kembali ke sini ke Jakarta. 15:30 Kemudian saya ee kerja di trading. 15:34 Setelah saya pikir-pikir, ini bukan 15:36 bidang saya deh. Bidang saya itu lebih 15:38 ke mengajar gitu. 15:39 Tetap kembali ke situ juga. 15:40 Tetap kembali ke mengajar. Mulailah dari 15:42 sana 15:42 saya akhirnya kuliah lagi 15:44 ee sambil mengajar, sambil 15:48 ee apa namanya? Senanglah training. 15:50 Bidang training itu sangat sangat suka. 15:54 Bahkan mungkin saya bisa sampai 3.000 15:57 kali saya kegiatan training itu, Mbak 15:59 Nuning, mau mengisi training gitu. 16:03 Iya. Dan ema, ini kan kebetulan puasa 16:08 Ramadan. 16:08 Puasa Ramadan. 16:10 Dulu kira-kira umur berapa tuh? Mulai 16:12 start puasa sebelum full start puasa. 16:16 Eh, 16:19 saya anak 16:21 ee kalau bahasa Sunda itu apa ya namanya 16:24 ya? Pangais gitu. Jadi saya kalau enggak 16:26 salah tuh ya, jadi saya punya adik tapi 16:30 adik saya bedanya 7 tahun sama saya. 16:32 Jadi saya anak paling kecil selama 7 16:35 tahun. He. 16:36 Jadi paling dijagainya [tertawa] 16:40 ee paling bikin jealous kakak-kakak gitu 16:43 ya. karena [tertawa] 16:44 karena dijagain terus. Padahal saya 16:47 paling ingin main sama kakak-kakak gitu. 16:50 Nah, jadi saya mulai puasa itu umur ee 16:53 kelas 3 SD, Mbak Nuning. 16:55 Eh, 3 SD itu berarti 9 tahunan, ya? 16:58 9 tahunan. Sementara anak-anak saya itu 17:00 dari TK itu sudah mulai puasa gitu. 17:02 [tertawa] 17:03 Saya enggak tahu tuh ya waktu dulu tuh 17:06 mau puasa udahlah nanti lagi. [tertawa] 17:09 Heeh. Heeh. 17:11 Soalnya waktu itu ringkih ya. ringkih ya 17:13 badannya enggak enggak ini gitu enggak 17:15 apa ee cepat-cepat sakit gitu. 17:18 Tapi memiliki putra-putri yang kemudian 17:20 lebih awal lagi puasa itu pasti peran 17:24 Mbak Mana juga luar biasa kan anak-anak 17:26 melakukan sesuatu pasti karena situasi 17:29 di lingkungan gitu [tertawa] 17:31 diwajibin sama ibunya 17:33 meskipun enggak maksa tapi beda ya. tadi 17:36 ngomong-ngomong 27 buku ditulis keren 17:39 banget itu. Bagi-bagi dong ceritanya 17:42 bagaimana kok ketertarikan ke situ 17:44 kemudian menjadikan itu 17:46 buku-buku. Bayangkan tadi kegunaannya 17:49 kan untuk macam-macam tah tujuannya 17:51 juga. 17:51 Iya. 17:53 Jadi menulis buku pertama itu waktu jadi 17:57 saya tuh suka menulis. 17:59 He. 18:00 Waktu saya di Pakistan, saya nulis Mbak 18:02 Nuning tentang Pakistan. 18:06 untuk Indonesia, tentang Indonesia untuk 18:09 Pakistan. 18:09 Oke. 18:10 Saya nulis di koran 18:12 atau di majalah. 18:13 Heeh. Jadi ee karena saya memang suka 18:17 menulis karena terinspirasi oleh ayah 18:19 saya juga gitu. 18:19 Heeh. 18:21 Saya bahkan pernah nulis ee tentang ee 18:24 kehidupan di Pakistan, di ke Indonesia 18:27 dan saya pernah wawancarain Perdana 18:29 Menteri Benazir Buto waktu itu 18:30 wawancarainnya itu pada saat eh Benazir 18:34 mau ke Indonesia. 18:35 Jadi saya nulis nulis surat, nulis nulis 18:38 tentang histalah 18:44 namanya Femina. Dulu Femina sekarang 18:47 masih ada enggak tahu deh ya. majalah 18:49 Femina itu. Terus saya dikasih tahu sama 18:51 ee peng ininya mau mau enggak 18:54 wawancarain Perdana Menteri Ben Nazir 18:56 Buto waktu itu Ben Nazir Butuh. Saya 18:58 bilang, "Wow, wow, mau banget, mau 19:01 banget." Akhirnya saya lakukan. Setelah 19:04 itu kebetulan beliau lagi mau datang ke 19:05 Indonesia. Itu pertama kali saya menulis 19:08 di publish dan itu senang banget. 19:11 Setelah itu 19:14 saya menulis buku itu tahun 2008, Mbak 19:18 Nulis. Pertama kali 2008 itu kayak baru 19:22 punya anak tahu enggak, Mbak Nuneng? 19:23 Kayak aduh 19:25 kayak punya anak. 19:26 Para akhwat pasti tahu persis ya 19:28 bagaimana rasanya 19:30 memiliki ee buah hati karunia Allah ini. 19:33 Betul. Itu kayak baru pertama kali punya 19:35 anak. Eh, buku-buku berikutnya senang 19:37 tapi tidak sesenang 19:39 pada saat itu. 19:41 Pertama, buku pertama itu benar-benar 19:43 kayak baru punya anak gitu. Heeh. 19:45 Anaknya tulisan. 19:46 Anaknya tulisan. 19:47 Oke. 19:48 Saya pernah menulis, Mbak Nuning. Ee 19:52 kalau sekarang jauh lebih mudah ya 19:54 karena ada banyak teknologi ya. Tapi 19:56 ketika dulu pernah saya menulis dan 19:59 akhirnya saya sakit 20:02 itu hampir 4 bulan nulisnya 3 sampai 4 20:05 bulan. 20:06 He. 20:06 Jadi satu buku dan itu lumayan tebal 20:09 gitu. Itu pagi bangun nulis terus wah 20:15 pokoknya begitu terus deh sampai malam 20:17 sampai terus posisi duduknya juga 20:20 jadinya enggak sehat gitu. Tapi 20:22 alhamdulillah 20:24 setelah itu saya enggak mau lagi, enggak 20:26 mau lagi yang deadline yang sekencang 20:29 itu. 20:30 Jadi, genggam erat STD, sikap tahu diri. 20:32 Iya, [tertawa] 20:34 sikap tahu diri. 20:35 Ngomong-ngomong Mbak Mona begitu aktif 20:39 ee dan di dunia yang sedang kita hadapi 20:42 sekarang ini kalau kita perhatikan 20:44 tentang Genzi 20:45 Iya. 20:46 Bagaimana mereka juga aktif tapi kepada 20:50 benda yang disebut gadget. Iya. 20:52 Belum lagi hal-hal lain yang 20:53 mempengaruhi mereka itu sebagai seorang 20:56 ibu, sebagai sosok wanita yang berperan 21:00 banyak di dalam kehidupan berbangsa dan 21:02 bernegara ini. 21:03 Iya. 21:04 Bagaimana pendapat Mbak Mona terkait 21:07 dengan kondisi seperti ini? 21:08 Iya. 21:10 Eh, Gen itu masa depan kita. Genzi itu 21:15 penting banget. He 21:18 Genji itu perlu 21:21 diberi 21:23 eh support untuk dia. Dia itu lahir jeol 21:27 udah langsung dengan teknologi gadget. 21:32 Jadi hidupnya itu ada di dua sisi antara 21:35 dunia nyata dan dunia maya. He 21:38 dengan posisi yang eh challenging itu, 21:42 maka Gen perlu 21:46 disport juga oleh kita-kita. 21:50 serta dia juga perlu menyadari bahwa dia 21:53 harus berhati-hati jangan sampai 21:55 tenggelam dalam dunia maya dan melupakan 21:59 realitas bahwa dalam kehidupan ini 22:02 banyak yang harus diberesin gitu, Mbak 22:05 Nuni. 22:05 He. 22:06 Banyak yang harus di dikerjakan secara 22:10 real gitu kok. pemanfaatan dia dengan 22:13 teknologi. Oke, tapi jangan sampai dia 22:16 timpang untuk bisa ngelihat bahwa hidup 22:18 ini real loh. 22:20 Sampai dia ngerasa bahwa banyak hal yang 22:24 yang ee ee 22:29 imajinatif gitu karena maya 22:33 tidak bisa dihindari. Memang 22:35 bisa diari 22:35 itulah yang ada. ya. 22:36 Maka mereka perlu kita support untuk 22:40 bisa melihat 22:42 dua 22:43 ee kondisi ini dengan ee tepat gitu 22:48 supaya dia juga bisa menjalani dan kita 22:51 ee bantu bersama gitu ya 22:54 ee untuk mereka bisa menjalani kehidupan 22:58 nyata gitu ya ee dan memanfaatkan 23:01 teknologi-teknologi itu untuk kebaikan 23:04 mereka dan kebaikan ee ee kita semua 23:07 gitu. Karena mereka luar biasa. Mereka 23:10 itu keren banget loh, Mbak Nuning. Ee 23:14 apa ee kreativitasnya luar biasa. 23:17 Keberaniannya itu melampaui 23:20 melampaui keberanian yang di yang apa 23:23 namanya? 23:25 Karena karena kreatif gitu. Kreatif 23:27 banget gitu. 23:29 Jadi ee kalau mereka memanfaatkannya 23:32 dengan tepat itu keren. Tapi kalau 23:34 mereka ter ee tergerus gitu ya oleh 23:40 ee kefanaan dari dunia maya gitu, 23:44 kasihan gitu. 23:46 Yang jelas informasi yang tersebar di 23:49 dunia maya itu banyak juga yang sangat 23:52 mem meresahkan kan ya. Kalau sampai 23:55 anak-anak terpengaruh oleh hal-hal yang 23:56 seperti itu, kemudian kepercayaannya 23:58 juga dibelokin dan segala macam itu 24:02 sebagai ayah dan bunda di mana peran 24:05 kita sungguh sangat luar biasa bagi 24:07 anak-anak kita. 24:09 Belum lagi bahwa mereka adalah tanggung 24:12 jawab kita. 24:14 Apa yang harus kita lakukan? Bayangkan 24:15 kalau kita lihat ibu-ibu dengan anak 24:17 yang usia 3 tahun aja sudah ngasih 24:19 gadget. 24:19 Iya. 24:20 Biar enggak rewel, 24:21 biar enggak bikin susah. 24:23 Iya. Ho. 24:25 Iya. 24:25 Gimana, Mbak Mona? 24:26 Itulah makanya orang tua itu harus siap 24:30 jadi orang tua. Heeh. Harus smart, harus 24:35 dewasa, harus ee 24:39 smart memang gitu. Dia tahu dia dia ahli 24:42 berbagai hal. Memang itu ekspektasi yang 24:45 terlalu jauh ya. Tetapi itu real gitu 24:48 supaya dia bisa menjaga amanah keren ini 24:52 gitu ya. sebaik-baiknya. Jadi ada di 24:56 dalam lingkupnya dia, dia nganterin ini 24:59 anak saya yang siap untuk menjadi 25:01 pemimpin bangsa gitu. Itu keren banget 25:04 kan? Makanya pengolahan di rumah itu 25:06 penting banget, Mbak Nuning. 25:08 Iya. Enggak bisa enggak. Pokoknya 25:10 lagi-lagi ada di tangan kita sebagai 25:12 ayah bunda. 25:12 Iya. Orang tua perlu tahu bahwa ee anak 25:17 ini ee apakah kemandiriannya sudah ada? 25:21 Apakah tanggung jawabnya sudah muncul, 25:24 apakah dia ee empatinya sudah ada? E itu 25:28 itu banyak hal yang harus di apakah 25:30 religiusitasnya juga sudah bagus gitu? 25:32 He he. 25:34 Itu kan proses di rumah yang 25:37 utama dan pertama. Selanjutnya dari 25:40 sekolah, dari lingkungan dan lain 25:42 sebagainya gitu. 25:44 Enggak bisa enggak. Kita tetap ikhwan 25:47 akhwat harus peduli pada hal yang 25:49 kelihatannya susah. Iya sih. 25:52 Tapi sesusah apapun kalau kita punya 25:54 niat baik yang kemudian membuat mereka 25:58 agak ter 25:59 arahkan gitu ya. Karena ini betul-betul 26:01 memporak-porandakan kalau kita biarkan 26:03 ya. 26:03 Iya. Iya. Iya. Betul. 26:06 Sementara perjalanan kita juga kalau 26:10 sudah berusia 26:12 iya 26:12 dibilang senjasi belum. Tapi di atas 40 26:15 50 tahun itu kan juga sudah harus 26:18 memikirkan nanti gimana mereka dan 26:20 segala macamnya ya. 26:21 Ngomong-ngomong nih 26:23 ee dengan proses yang Mbak Mona lakukan 26:26 dari awal 26:27 Iya. 26:28 sampai sekarang 26:29 iya 26:29 pernah enggak ngalamin sesuatu yang 26:32 acakadul amburadul gitu sehingga harus 26:35 ter 26:36 jerembap tersungkur sehingga ya pada 26:40 saat seperti itu apa yang sebaiknya kita 26:43 lakukan? Iya. 26:46 Ee saya 26:50 pernah mengalami satu masa sulit dalam 26:53 membesarkan anak ya. 26:55 He 26:56 masalah 26:58 ee anak yang ya anak Genzi yang lagi 27:04 seru-serunya sama gadget gitu ya 27:07 itu 27:09 pernah berat. 27:11 Jadi yang lain-lain kayaknya ee saya 27:15 bisa lalui meskipun juga enggak 27:19 hidup saya juga enggak semuanya mulus 27:22 gitu, Mbak Nun ya. eh 27:25 penuh perjuangan juga gitu ya, Mbak 27:27 Nuning. Ee tetapi yang paling berat 27:31 menurut saya adalah ee ketika ee anak 27:36 kesayangan saya mm terpengaruh 27:42 sama gadget 27:44 dan akhirnya sampai malas sekolah. 27:47 Kejadian tu 27:48 kejadian bagi saya itu berat banget. 27:53 akhirnya 27:55 dia bisa melalui 27:58 dan akhirnya bisa 28:01 ee 28:03 apa namanya? 28:05 berdiri dan akhirnya bisa 28:09 berlari seperti yang saya bayangkan 28:12 sebelumnya gitu. 28:14 Masyaallah. 28:14 Heeh. Tapi itu bikin saya jatuh 28:18 jatuh banget meskipun bukan diri sendiri 28:20 yang mengalami tetapi buah hati. Karena 28:23 e yang 28:25 betul kita dicubit rasanya enggak sakit 28:27 tapi kalau buah hati kita yang mengalami 28:30 gangguan itu rasanya lebih berat lagi 28:32 ya. 28:33 Tapi itu penting Mbak Nuning. Ternyata 28:35 itu mendewasakan dia. 28:37 Mendewasakan dia. Dia sendiri merasakan 28:40 jadi sekarang lu jadi bertanggung jawab. 28:42 jadi makin dewasa, makin tahu, "Oh, 28:44 bikin planning, bikin gitu jauh lebih 28:47 baik gitu." Artinya memang 28:50 ee kejatuhan sesuatu itu bisa berdampak 28:53 sama seperti kejatuhan saya dulu gitu 28:55 waktu SMP itu gitu. 28:56 Heeh. Heeh. Iya. Iya. 28:58 Itu ternyata menguatkan gitu. Jadi ee ee 29:03 enggak apa-apa saya pun sekarang bisa 29:06 menerima gitu ya, enggak apa-apa jatuh 29:09 itu enggak apa-apa gitu. 29:12 Iya. Jadi, ikhwan akhwat, anak yang 29:14 mendapatkan tamparan bisa menjadi jauh 29:17 lebih cerdas daripada yang dibelai terus 29:19 gitu ya. Meskipun yang nampar bukan kita 29:21 tentu ya. 29:22 Saya mau nambahin satu cerita Mbak 29:24 Noning. 29:24 He. 29:25 Waktu saya melahirkan, waktu saya 29:26 melahirkan 29:28 ee 29:30 saya melahirkan anak pertama 29:33 ee itu saya masih kuliah Mbak Duning ya 29:35 ambil S2. He. 29:36 Apa yang terjadi itu? Ee 2 minggu 29:39 setelah melahirkan atau 10 hari, 10 hari 29:42 setelah melahirkan saya ke kampus. Ke 29:45 kampus itu naik angkotnya itu empat 29:47 kali, Mbak Runing. 29:48 Naik turunnya sambung-menyambungnya. 29:50 Empat kali sambung menyambung 29:53 di Salemba 29:55 dari sini dari Depok. Jadi tiba-tiba ee 30:01 bukan angkot ya, ada angkot, ada bus 30:04 gitu ya. Tiba-tiba busnya berhenti. 30:06 Waktu itu bus berhenti. 30:09 Harus turun kan mogok gitu Mbak Duni. 30:12 Harus turun kan. Akhirnya turun saya tuh 30:14 turun tuh pelan-pelan Dino Nino gitu 30:17 aja. [tertawa] 30:18 Ada ibu-ibu bilang, "Mbak baru lahiran." 30:22 Iya. [tertawa] 30:25 Jadi ee saya tetap bisa 30:29 fight untuk itu gitu Mbak Noning ya. ee 30:33 dalam kondisi yang tidak mudah itu ya 30:37 begitulah. Tapi ketika anak itu lebih 30:40 berat. [tertawa] 30:42 Baik. Emm ikhwan akhwat bersama Dr. 30:46 Laila Mona Ganim sahur bersama Rasil 30:49 ini. Kita jeda sejenak nanti kami 30:52 kembali ke ruang Anda. 31:04 Terima kasih masih bersama Rasil untuk 31:07 Islam yang satu di acara Sahur Bersama 31:11 Rasil ini didukung oleh Mas Agus, oleh 31:14 Neza, dan juga oleh Prabu. Mbak Mona 31:18 hadir ke ruang kita untuk mencoba 31:23 membuat kita semua terpersuasi. Ya, 31:25 ngomong-ngomong Mbak Mona tadi kan kita 31:27 bicara soal kemungkinannya kita ee 31:31 terpuruk meskipun enggak banget-banget 31:33 dan bagi kita yang punya buah hati itu 31:36 berat sekali. 31:37 He. 31:37 Kalau sampai hal itu terjadi. 31:40 Ngomong-ngomong ini kan Ramadan ya 31:42 terkait dengan introspeksi diri agar 31:44 kita jadi jauh lebih tahu diri itu 31:47 menurut Mbak Mona gimana? 31:48 Iya. 31:49 Ramadan ini pesantren. [tertawa] H 31:54 pesantren 31:56 gratis, pesantren 31:58 yang 32:00 dikelola langsung oleh Allah Subhanahu 32:03 wa taala gitu ya. Kita dikasih 32:05 kesempatan untuk belajar 32:07 menempah diri ee disiplin. Disiplin loh, 32:11 Mbak Nuning. 32:12 Iya dong. Sahur sampai buka puasa. 32:14 Iya. Ee ee apa namanya? 32:19 minta kepada Allah, dekat sama Allah 32:21 gitu. [tertawa] 32:23 Durasinya lebih banyak 32:26 minta. Ya Allah, banyak banget. Setiap 32:29 setiap ee lagi ini ingat, ah zikir deh 32:33 mendingan gini gitu ya. Itu reflektif 32:35 banget itu. Jadi 32:38 ee sekarang gini, Mbak Nuning ya. Ya 32:41 Allah, kalau enggak ada Allah kayak 32:43 gimana ini gitu. 32:45 Benar. 32:46 Jadi kita itu kalau 32:49 kalau punya punya keimanan itu rasanya 32:54 alhamdulillah banget gitu. 32:58 Saya ngerasain banget Mbak Nun kalau 33:00 saya lagi jauh gitu ya sama Allah itu 33:07 malu gitu. Kok kok saya cuek sih gitu. 33:11 Enggak enggak minta sama Allah. Tapi 33:13 ketika saya ngerasa ya Allah itu makin 33:16 dekat gitu ya. 33:17 He 33:18 kita bisa bisa interaksi bisa artinya 33:22 saya lebih sadar pada saat saya lebih 33:24 sadar itu 33:25 he 33:26 lebih 33:29 ngerasa hidup ini 33:32 sangat pantas untuk disyukuri gitu. 33:35 Tapi ikhwan akhwat kita bisa sadar bahwa 33:37 kita enggak dekat itu juga enggak 33:38 gampang loh. 33:39 Iya. 33:39 Gimana Mbak Mona? Terus kemudian balik 33:41 ke aku harus lebih dekat sama 33:43 Iya. Ketika ee ingin melakukan ibadah 33:46 itu yang penting kerjain aja deh. Yang 33:50 penting 33:51 pokoknya 33:54 gitu deh. Enggak enggak ada feeling gitu 33:56 enggak ada 33:57 kayaknya sambil lalu pokoknya kewajiban 33:58 gua kerjain gitu ya. Heeh. That's it. 34:01 Dan gitu doang. Tapi ketika bisa nangis, 34:05 ketika bisa, 34:08 "Ya Allah, 34:10 aku butuh Engkau, Ya Allah." Itu dahsyat 34:13 banget. 34:14 Itu muncul karena refleksi diri, karena 34:16 introspeksi diri. Ya, 34:18 tanpa itu enggak mungkin juga kita 34:20 sadar. 34:20 Betul, betul. Betul banget. 34:22 Terus ngomong-ngomong soal sukses, 34:25 pernah banyak juga di antara kita yang 34:27 meraih ya ee ikhwan akhwat. bahagia juga 34:31 pernah kita rasakan. Tapi dua itu kan 34:33 hal yang keren semua yang kalau jalan 34:35 bareng kayaknya terus-terusan impossible 34:38 juga. 34:38 Nah, bagaimana agar seimbang? 34:41 Karena yang datang kan bukan sukses dan 34:43 bahagia doang. 34:43 Heeh. 34:44 Di dalam perjalanan langkah kita ini. 34:46 Nah, itu sebaiknya 34:48 bagaimana kita menyikapinya. 34:50 Yang sukses, yang bahagia bisa sombong 34:52 loh misalnya. 34:54 Jadi, Mbak Nuning, sukses itu apa gitu 34:58 ya? 34:59 ketika kita melakukan sesuatu tugas lalu 35:03 diapresiasi, 35:05 ya udah berarti benar kan gitu. That's 35:09 it. Heeh. Tapi sebenarnya untuk sampai 35:13 ngerjain 35:14 satu tanggung jawab itu tuh sebenarnya 35:17 berdarah-darah loh gitu. Dan itu tuh 35:20 penuh perjuangan loh, gitu. He. 35:22 Sampai akhirnya orang bisa apresiasi 35:24 itu. Itu karena ada perjuangan panjang 35:27 gitu yang orang enggak lihat itu gitu. 35:31 Jadi ketika itu sudah selesai dan ada 35:34 orang bilang ini bagus, oke, it's on the 35:38 right track. Enggak perlu menurut saya 35:41 ya jadi 35:44 bangga banget gitu ya. 35:47 Ya, happy tapi 35:49 bersyukur. 35:49 Bersyukur. 35:50 Enggak bangga enggak? He 35:51 bahagia asal bersyukur itu lebih dari 35:53 Iya. Itu itu yang benar bersyukur. Ya 35:56 Allah alhamdulillah. 35:57 Syukuri apa yang ada. Ada lagunya tuh 35:59 kalau enggak salah ya. Hidup itu 36:01 anugerah ya. He 36:04 jadi datar Mbak Nuning rasanya sekarang 36:06 ini banyak hal jadi datar. Heeh. 36:10 Mbak Mona ngomong-ngomong 36:13 ini kan bulan Ramadan itu bulannya 36:16 bersedekah. 36:17 Iya. PSR itu bagian yang selalu Mbak 36:20 Mona ee apa 36:23 bahas dalam obrolan-obrolan kita gitu 36:26 ya. 36:27 Untuk sedekah bagi orang-orang yang 36:30 dompetnya enggak penuh itu juga kan 36:32 perlu 36:33 ee kreativitas dong. Karena sedekah 36:36 enggak cuman dari uang, bahkan kita 36:39 sedekah senyum aja sudah oke, tapi kan 36:42 banyak sedekah-sedekah yang lain. Nah, 36:44 terkait PSR. 36:45 Iya. Coba persuasi yang dengar. 36:47 Oke. 36:49 Eh, PSR adalah cinta saya. [tertawa] 36:52 PSR adalah konsep bagaimana 36:56 kita sebagai individu punya tanggung 36:58 jawab sosial 37:02 kepada orang lain. Jadi kita ini hidup 37:05 ini enggak cuma mikirin diri sendiri 37:07 tapi mikirin orang lain. Ngerjain apa 37:10 yang bisa kita lakukan sama orang lain 37:11 dengan uang, barang, pikiran, tenaga, 37:13 waktu, perasaan. Itu PSR. Dan PSR itu 37:17 dilakukan dengan tulus, ikhlas. He 37:21 tanpa mengharapkan pamrih. Ee terus 37:26 sesuatu yang bermanfaat harus 37:27 bermanfaat. PSR kita harus bermanfaat. 37:31 PSR itu misalnya ee ambil ee kotoran 37:37 yang ada di jalanan yang bisa ee 37:40 ngeganggu atau bisa paku yang nusuk. Itu 37:44 juga PSR karena kita punya tanggung 37:46 jawab sosial. mikirin orang lain, jangan 37:48 sampai orang lain terkena itu 37:51 PSR-nya dengan ee bersedekah uang atau 37:57 dengan barang atau dengan 37:58 gagasan-gagasan 38:00 yang Mbak Nuning ceritain bacain untuk 38:03 ee 38:05 mitra netra 38:06 he 38:07 ee atau anak-anak itu itu adalah sedekah 38:10 juga atau juga dengan feeling nemenin 38:13 orang, 38:15 melegakan hati orang apalagi orang yang 38:18 lagi duka dan lain sebagainya itu 38:20 sedekah itu adalah PSR dan PSR adalah 38:25 sedekah. 38:26 Keren banget 38:29 besar apa sih yang namanya kepedulian 38:31 itu bisa menjadikan sesuatu yang membuat 38:35 hati kita lebih bercahaya? Peduli. Nah, 38:38 cuman peduli satu kata ya, tapi keren 38:40 banget. Bayangin kalau setiap orang di 38:42 dalam pikiran dan hatinya itu punya rasa 38:45 peduli tanggung jawab sosial individu, 38:47 personal social responsibility itu 38:50 kepada orang-orang yang di lingkungannya 38:52 yang bukan jadi tanggung jawab wajibnya 38:55 dia. Yang misalnya orang tua pada 38:57 anaknya ya iyalah itu mah wajib gitu ya. 39:01 Guru kepada muridnya. guru kepada 39:03 muridnya tapi melampaui panggilan 39:06 tugasnya itu PSR gitu. Bukan wajibnya 39:09 dia, tapi melampaui panggilan tugasnya 39:12 itu PSR. Bayangkan kalau semua orang 39:15 Indonesia punya PSR-nya masing-masing. 39:19 Bayangin betapa keresia, 39:22 betapa 39:22 betapa hebatnya Indonesia. 39:25 Iya. 39:26 Betapa 39:28 damainya Indonesia dan hebatnya 39:30 Indonesia. 39:31 Iya. social responsibility memang luar 39:34 biasa. 39:34 Nah, terkait dengan Ramadan ini 39:38 kan ee kalau misalnya kita melakukan 39:41 ibadah, ada ibadah yang ritual, 39:44 tapi kan ibadah sosial juga bisa kita 39:47 lakukan, kita optimalkan. 39:49 Betul. Betul. Banyak banget. 39:50 Di samping di samping ee gambaran PSR 39:53 yang Mbak Mona sebutkan. 39:54 Iya. 39:55 Kira-kira nih kalau untuk anak-anak buah 39:57 hati kita 39:58 Iya. bagaimana membuat mereka melakukan 40:02 ibadah yang ee rutin sebagai salat, 40:06 ngaji dan segala macamnya itu diimbangi 40:09 dengan 40:10 ibadah sosial. 40:11 Iya, betul banget. 40:12 Bagaimana kita mempersuasi dan 40:14 memberikan mereka ide-ide tertentu 40:16 seperti yang tadi Mbak Mona bilang, PSR 40:18 kan sudah oke banget ya. 40:19 Iya. Iya. Ee Ramadan itu 40:23 ee PSR. [tertawa] 40:27 Ramadan itu bulan PSR, Mbak. 40:29 Allah itu memberikan panduan 40:34 bahwa kita perlu bersedekah, perlu Itu 40:37 kan karena kita punya tanggung jawab 40:39 sosial dan itu sudah dengan uang gitu 40:41 ya. Dengan uang ya atau dengan barang 40:43 gitu ya. 40:45 Ee kita bisa lakukan dengan misalnya 40:46 dengan tenaga. bantuin untuk ngelola 40:49 acara-acara di masjid, bantuin untuk 40:51 ngelola acara-acara di warga, bantuin 40:54 untuk ngajarin anak-anak. 40:57 Itu itu adalah bentukku dari PSR. 40:59 Bayangin kalau anak-anak kita gitu ya di 41:02 di rumah kita kasih 41:04 kita kasih PR untuk ee melakukan apa 41:09 saja yang bisa bermanfaat untuk 41:10 lingkungannya gitu. He 41:12 misalnya bikin makanan untuk ee masjid 41:18 takjil misalnya begitu ya 41:20 atau kita ajakin untuk beres-beres 41:23 kampung 41:24 atau kita ajakin untuk bikin tulisan 41:28 yang bermanfaat untuk lingkungan ya kan. 41:31 Banyak kok banyak banget yang bisa kita 41:33 lakukan. kasih inspirasi anak-anak kita 41:36 untuk secara kreatif berkelana 41:39 pikirannya atau kalau belum belum keluar 41:42 kita sentuh saraf-sarafnya dengan 41:44 inspirasi-inspirasi 41:46 supaya dia punya perilaku berpsr gitu 41:50 secara miniatur. Apalagi kan sekarang 41:52 pemerintah ee kasih libur yang cukup 41:54 banyak ya selama 41:56 puasa 41:57 bulan Ramadan ini ya. Ini ini thank you 41:59 ya pemerintah ya melakukan itu gitu ya. 42:02 Maka dengan itu anak-anak dikasih 42:04 kreativitas gitu, Mbak Nuning, di rumah 42:07 PR dari orang tua itu akan lebih 42:10 ee apa namanya? Lebih besar gitu ya 42:12 dalam memastikan anak-anak ee punya 42:16 nilai-nilai yang baik, tanggung jawab 42:18 sosial, punya kepedulian, punya 42:20 kreativitas, punya 42:23 religius gitu. 42:25 Iya. Bicara tentang bagaimana ayah bunda 42:29 kepada anak. Dari tadi banyak yang sudah 42:32 ee membuat kita paham, membuka sekat 42:35 pintu pengertian kita. Mbak Mona 42:37 sekarang kalau kita masih punya orang 42:40 tua nih. 42:40 Iya. 42:41 Berbakti kepada orang tua itu bagian 42:43 yang sangat luar biasa sekali. 42:45 Sebagaimana luar biasanya kepedulian 42:47 ayah ibu kepada buah hatinya, 42:49 ternyata berbaktinya anak kepada orang 42:51 tua itu 42:52 Iya. kelihatannya enggak seberapa, tapi 42:56 perlu banget ditingkatkan. 42:58 Apalagi di Ramadan seperti ini. 43:00 Ada enggak gagasan gagasan tertentu? 43:02 Karena kemarin waktu aku ngobrol sama 43:04 orang Mbak Nuning satu hal, coba peluk 43:06 ayah ibu dari belakang deh. Kayak apa 43:08 surprise-nya mereka? Iya ya. Kita kan 43:10 enggak pernah melakukan itu. Meluk pasti 43:12 dari depan dong. [tertawa] 43:14 Gimana Mbak Mona? 43:15 Kalau kita sebagai anak-anak dan orang 43:17 tua kita masih ada. Saya punya 43:19 keberkahan besar, Mbak Nuning. Saya 43:21 masih punya ibu, 43:24 Ibu. 43:26 Ibu saya dan Ibu mertu. 43:28 Dua-duanya masih ada dan 43:29 duanya masih ada. Jadi kami bisa 43:34 berinteraksi, masih bisa datang, masih 43:38 bisa teleponan. 43:40 Ee sama Ibu tuh kemarin kan mudik ya 43:44 pulang ya, terus salat berjamaah. 43:48 selesainya itu bersimpuh gitu ya. Aduh 43:51 indahnya 43:53 pokoknya mah alhamdulill 43:54 selagi masih ada kamu 43:56 alhamdulillah banget deh beneran. 43:59 Jadi memang tergantung usia Mbak Nuning. 44:02 Di usia saya ini lebih ngerasain betapa 44:07 beruntungnya saya masih punya 44:09 orang tua ya. He 44:12 anak-anak yang muda mungkin mungkin 44:14 belum segitunya ya. atau atau ketika 44:17 saya di usia itu belum segitunya gitu 44:19 ya. 44:20 He. 44:20 Tapi makin makin dewasa makin makin tua 44:25 [tertawa] makin 44:26 seberapa sering banget? 44:28 Seberapa sering sih ikhwan akhwat kita 44:30 bilang terima kasih sama ibu? 44:32 Iya. I love you. 44:33 Kayaknya jarang deh ya kita masih 44:35 ngerjain kayak gitu. 44:36 Udah sibuk aja ngomong yang seru-seru, 44:38 ngomong yang indah-indah, ngomong yang 44:41 penuh cinta gitu, Mbak Noni. 44:43 That's what I do. 44:45 Iya. ya. 44:46 Heeh. 44:47 Jadi untuk ayah bunda yang masih bisa 44:50 kita temani, jangan kita sia-siakan di 44:53 bulan yang berlimpah berkah ini 44:55 bagaimana membahagiakan mereka. 44:58 Bahagia itu banyak jalannya 45:02 seperti yang tadi dibilang cuman dipeluk 45:04 dari belakang aja surprise-nya bukan 45:06 main. Iya kan? 45:07 Belum lagi yang ee lain-lain. 45:10 Iya. 45:10 Kembali ke PSR tadi Mbak Mona. Kalau ada 45:16 orang menyebut sedekah profesi. 45:18 Iya, [tertawa] sedekah profesi. Betul. 45:21 Jadi ngobrol-ngobrol dengan beberapa 45:24 orang di dalam komunitas tertentu atau 45:26 dalam duduk-duduk itu misalnya waktu itu 45:29 Heeh. 45:30 ee pernah aku naik ojek. 45:32 Heeh. 45:33 Enggak mau dibayar karena jelang 45:35 jumatan. 45:36 Heeh. 45:37 Kenapa? 45:38 Heeh. 45:39 Ini sedekah profesi saya sebagai sopir 45:41 ojek. Astagfirullahalazim. 45:44 Keren banget kan? Itu satu penumpang aja 45:46 cukup kok, Mbak. Katanya yang penting 45:48 menjelang saya masuk masjid untuk salat 45:50 Jumat saya freikan sebagai sedekah 45:53 profesi saya 45:55 untuk penumpang yang saya bawa. 45:57 Iya. 45:58 Terus kemarin dulu lagi jadi ngomongin 46:00 sedekah di bulan Ramadan ini sebetulnya 46:02 banyak banget ya. Kalau tadi masak, 46:05 takjil dan segala macam itu ee 46:08 pakai modal ya. Tapi kalau sopir 46:11 Iya. I 46:11 oek tadi kan 46:12 iya 46:12 yang enggak dibayar berarti rezekinya 46:14 berkurang doang. 46:15 Iya iya iya. Sedekah profesi keren 46:17 banget Nuni. 46:18 Kebayang enggak sih kalau tukang batu 46:22 tukang yang suka bangun bikin bangun 46:24 rumah orang itu. Heeh. 46:25 I kan kalau pas lagi enggak ada 46:28 orderan enggak ada pekerjaan. He. Heeh. 46:30 Itu juga pernah Mbak Mona aku dengar y 46:34 asik juga sih. Pak saya bisa enggak 46:36 bantuin ngaduk semen sama masang batak 46:39 khusus untuk hari ini aja. Heeh. 46:41 Enggak usah dibayar. 46:42 Heeh. 46:43 Kan terpikir enggak sih, Ikhwan Akhwat 46:45 bahwa itu juga sedekah yang sangat luar 46:48 yang mungkin bisa dilakukannya di ee 46:51 aktivitas publik ya, bukan personal ya, 46:53 bukan di rumah tapi di 46:55 kar Iya. Itu kan profesinya sebagai 46:56 tukang bangunan gitu. 46:58 Misalnya beresin masjid, rapiin 47:01 maksudnya. 47:01 Nah, itu juga boleh banget ya. Heeh. 47:04 Iya. Kan tukang batu itu kerjainnya 47:07 rapiin yang di masjid gitu, Mbak Nuning. 47:09 Rapiin apa? rapiin 47:12 ee bangunan di masjid ya. 47:14 Ya kan perlu modal. Kalau ini kan dia 47:16 tenaga aja bangun pokoknya membantu. 47:20 Apalagi kalau masjid yang sedang 47:21 dibangun ikhwan akhwat. Come on ya kita 47:23 sediain minumnya. 47:24 Betul betul [tertawa] betul. 47:27 Kalau terkait dengan hal lain yang Mbak 47:30 Mona rasa perlu banget didengar oleh 47:33 sahabat-sahabat kita. 47:35 Heeh. 47:36 Tahu enggak sih ikhwan akhwat? Mbak Mona 47:38 ini sudah lebih dari 13 tahun menemani 47:42 bincang komunikasi 47:44 itu kemarin dulu tuh tertarik untuk bisa 47:46 ikut gitu-gitu tuh dari siapa? Kenapa 47:49 gitu? 47:49 Iya. 47:51 Saya itu penyiar radio dulu tahun 90 47:57 Mbak Noneng. 47:58 Wih, masih remaja banget tuh ya. 47:59 Masih remaja banget. Atau sebelumnya 48:01 lagi malah masih SMA itu saya suka 48:03 siaran-siaran gitu ya. Tapi 48:04 siaran-siaran cuman sebentar, sebentar, 48:06 sebentar, spot-spot. 48:08 1990 saya mulai jadi penyiar sampai 48:11 1993. 48:13 Heeh. 48:13 Jadi saya menikmati sekali proses sambil 48:17 kuliah, sambil sambil 48:20 siaran. 48:21 He. 48:21 Ee ini gitu. 48:23 Nah, setelah itu saya diajakin sama ee 48:28 seorang teman, sahabat saya 48:30 untuk Rasil nih ee ada loh ada radio 48:34 Rasil gitu. Sebelumnya saya juga siaran 48:36 di radio lain juga gitu ya mengisi ya 48:39 kayak ngisi di Rasil. 48:40 Iya. Narasumber lah ya. 48:41 Heeh. Ee setelah itu diajakin ee ke 48:46 Rasil. Akhirnya saya datanglah ke Rasil 48:49 mulai ngobrol dan lain sebagainya. Ya, 48:51 akhirnya punya acara ini, acara 48:54 komunikasi ini, bincang komunikasi. 48:56 Bagi saya ini something karena saya 48:59 punya kesempatan untuk bisa berbagi. 49:02 Saya punya cinta besar sama acara ini. 49:06 Acara ini juga nyambung banget sama 49:08 profesi saya, nyambung banget dengan 49:11 aktivitas yang saya cintai gitu. 49:13 Pekerjaan yang saya cintai gitu di 49:15 bidang komunikasi. Jadi ini pas banget 49:17 untuk saya ee yang di kerjakan di Rasil 49:23 ini. 49:23 Jadi Allah kasih jalan 49:24 saya belajar banyak loh sebenarnya 49:26 Allah kasih jalan sama Mbak Mona untuk 49:29 mempersuasi jutaan orang yang 49:31 mendengarkan kita tentang bagaimana 49:33 berkomunikasi 49:34 dan berkomunikasi itu bukan kepada ayah 49:37 bunda atau saudara tapi juga kepada diri 49:40 sendiri. Ho. 49:41 Betul. Betul. 49:42 Berkomunikasi pada diri sendiri. 49:45 kayaknya kurang lebih sama dengan 49:47 introspeksi juga, 49:49 sama dengan muhasabah juga. 49:51 Betul banget. Betul. Betul banget. Betul 49:54 banget. 49:55 Terus mau sampai kapan tuh? Kalau bisa 49:56 sampai enggak enggak enggak [tertawa] 49:58 bisa ngomong lagi gitu ya. 49:59 Iya, betul. Insyaallah 50:01 kalau masih di diterima dihasil saya 50:04 senang sekali. 50:05 Pastilah sejauh kita masih bisa bicara, 50:08 bisa menyampaikan ee sayangnya banyak 50:11 loh yang bilang, "Kenapa sih cuman 50:13 sebulan sekali? 50:14 [tertawa] 50:17 Siapa tahu 50:18 berikutnya bersedia enggak sebulan 50:20 sekali doang gitu. 50:21 Insyaallah. 50:23 Mbak Monang 13 tahun dihasil. Begitu 50:27 banyak yang diberikan kepada ikhwan 50:31 akhwat yang menyimak acara bincang 50:34 komunikasi. Tadi saya bilang kalau bisa 50:37 jangan sebulan sekali dong misalnya gitu 50:39 ya. Tetapi pada prosesnya tadi Mbak Mona 50:41 bilang harus menyediakan menyiapkan ee 50:46 apa yang mau dibahas dulu agar pas 50:48 enggak dengan kondisi sekarang 50:50 dari waktu ke waktunya itu selama 13 50:52 tahun ada enggak sih muncul sesuatu yang 50:55 bete gitu atau gimana gitu terkait 51:00 dengan acaranya sendirikah atau dengan 51:02 host-nya siapa sih host-nya 51:04 atau [tertawa] 51:05 dengan ee apapunlah yang terkait dengan 51:07 itu. Ah, enggak 51:09 enggak pernah. Saya setelah pulang dari 51:13 acara itu hah alhamdulillah gitu selalu 51:18 bersyukur. Ee ada khawatir kalau 51:22 materinya itu ee kurang pas. Itu aja 51:26 sih. Jadi eh ada kekhawatiran, tapi 51:30 setelah selesai alhamdulillah 51:33 senang banget 51:34 karena ini memori 51:36 dan dekat sekali sama saya ee siaran 51:39 radio itu 51:40 dari dulu udah jadi penyiar kan? 51:42 Dari dulu sudah jadi penyiar. Jadi, 51:44 jadi cintanya sama Mike enggak kurang 51:46 dari cinta kepada Mike. 51:48 Cinta itu, itu, itu kayak ee apa ya, 51:52 hobi yang disalurkan dalam aktivitas ini 51:55 gitu. 51:55 Betul. Heeh. 51:56 Alhamdulillah. 51:57 Mudah-mudahan rasilnya enggak bosan. 51:59 Enggak. Kalau rasilnya jelas enggak lah. 52:01 Mudah-mudahan sehat masih ada kita 52:03 genggam ya. Dan mudah-mendar juga enggak 52:06 bosan 52:07 enggak sih. 52:08 Amin. Insyaallah. Jadi terkait dengan 52:12 keberadaan Mbak Mona di Radio 52:14 Silaturahim, alhamdulillah nih Iwan 52:16 Wahad di beliau sama sekali enggak ada 52:18 bosannya. Oke. 52:20 Emm, adakah gerangan pesan-pesan 52:24 terakhir di kebersamaan kita di 52:27 sahur bersama Rasil ini 52:29 yang bisa mempersuasi yang dengar 52:31 1 jam sambil menyimak acara sahur 52:34 bersama Rasir pasti sambil nyiapin ee 52:38 santapan sahurnya dong. Mungkin apa nih 52:40 yang paling sehat menurut Mbak Mona lari 52:42 ke situ sedikit itu makanan jenis apa 52:44 kalau kita sahur? 52:45 Ee saya sekarang lagi makan telur. 52:50 [tertawa] 52:51 Telur emang nomor satu sih ya proteinnya 52:53 luar biasa. 52:54 He telur. Saya makan telur sama kurma. 52:59 Telur sama kurma. Buah sahur tuh. 53:01 Iya. 53:02 Tanpa karbohidrat. 53:03 Tanpa. 53:04 Wow. 53:05 Heeh. Itu itu 53:06 tahan itu sampai sore. 53:07 Ee 53:09 enggak lapar sama sekali. 53:10 Ikhwan awa. Telur, kurma, dan 53:13 buah. 53:14 Buah. Heeh. Buahnya apaan? 53:15 Ee bisa jadi pisang atau apel atau apa 53:20 aja yang ada 53:21 yang buah apa saja yang bisa kita dapat 53:22 di ee pasar atau di supermarket. Terus 53:27 yang ada aja yang dekat-dekat. 53:28 Kurma dirasil juga banyak banget. Kurma 53:30 mangga ini pepaya. 53:31 Mangga mangga, pepaya, pisang, jambu. 53:33 Heeh. 53:34 Adanya di Pasar Minggu itu 53:35 yang ada aja [tertawa] 53:37 ada lagunya kan soalnya. 53:38 Heeh. Oke, closing statement terkait 53:41 dengan sahur bersama Rasil dari Dr. 53:44 Leila Monaganimin. 53:46 Terima kasih Ikhwan dan Akhwat yang 53:48 dirahmati Allah. Terima kasih ya. Saya 53:52 berbahagia sekali ee bersama dengan 53:55 Rasil. Eh, bagi saya Rasil itu tempat 53:59 belajar karena banyak 54:03 materi-materi yang sangat menarik yang 54:05 saya dapatkan saya pelajari dari para 54:08 narasumber diasil. Untuk saya sendiri 54:11 untuk setiap kali saya perlu ee mengisi 54:14 rasil, saya pun harus mempelajari satu 54:17 topik yang ee menarik yang saya pikir 54:21 menarik untuk ee Iwan dan Ahwat. 54:23 Sehingga saya berharap semoga ada 54:25 manfaatnya dari semua ee 54:28 perjumpaan-perjumpaan kita. Semoga di 54:32 Ramadan berkah ini kita makin 54:35 ee istikamah, makin baik, makin saleh 54:40 salehah, dan makin ee disayang oleh 54:43 Allah subhanahu wa taala. Terima kasih. 54:46 Wabillahi taufik walhidayah. 54:47 Wasalamualaikum warahmatullahi 54:49 wabarakatuh. Waalaikumsalam 54:51 warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih 54:53 sekali Mbak Mona atas kesediaannya hadir 54:56 di sahur bersama Rasil. Mudah-mudahan 55:00 sudah ada yang disiapin ya untuk nanti 55:02 sahur. [tertawa] 55:04 Dan untuk ikhwan akhwat di mana pun 55:07 Rasil bisa disimak, bisa didengarkan. 55:10 Mudah-mudahan semakin terbuka sekat di 55:14 ee nurani kita untuk bisa menjadi jauh 55:18 lebih optimal. menjalankan hari-hari 55:21 melewati ibadah di bulan Ramadan ini 55:24 dengan seoptimal mungkin. Terima kasih 55:27 sekali lagi. Billahi taufik wal hidayah. 55:29 Wasalamualaikum warahmatullahi 55:31 wabarakatuh. 55:31 Waalaikumsalam warahmatullahi 55:33 wabarakatuh. Yeah.