Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:01 [musik] 0:06 [musik] 0:11 [musik] 0:18 Bismillahirrahmanirrahim. 0:20 Asalamualaikum warahmatullahi 0:21 wabarakatuh. Ikhwan akhwat 0:24 rahimakumullah. 0:25 Sehat aman ya hari ini? Alhamdulillah 0:29 kita bertemu kembali di acara ruang 0:31 kesehatan Radio Silaturahim yang 0:35 mudah-mudahan 0:36 kehadirannya mampu mempersuasi dan 0:39 memotivasi kita untuk bisa melangkah 0:42 lebih ringan menjalani hari-hari kita 0:45 dengan sehat lahir dan batin. 0:49 Tidak lupa salam selawat kita lantunkan 0:51 untuk junjungan umat kekasih kita 0:54 Muhammad Rasulullah sallallahu alaihi 0:56 wasallam. Semoga kelak kita mendapatkan 0:59 syafaat beliau karena itulah yang sangat 1:02 kita rindukan ya juga dapat dipertemukan 1:05 dengan beliau di saat-saat ee yaumil 1:08 akhir. Ikhwan akhwat, acara acara dari 1:13 Radio Silaturahim juga disebarluaskan 1:15 oleh ee Seela FM di Batam, kemudian 1:19 Latan, Sari Sukabumi, Silaturahim yang 1:22 ada di Bondowoso dan Jogja. Kemudian di 1:25 Aceh ada megafone yang juga 1:27 menyebarluaskan siaran kita. Dan di 1:30 Banyuwangi 1:31 ada Habibullah. 1:34 Ikhwan akhwat ini habis lebaran ya. Di 1:36 bulan puasa kita sudah melatih banyak 1:40 hal. Kemudian di Idul Fitri kita sudah 1:44 menzirukan salah kita maaf memaafkan. 1:47 Tadi di off air bersama dokter kita yang 1:50 hari ini adalah dr. dr. 1:53 Syah, SpKJ, MPH. Beliau masih praktik di 1:57 Rumah Sakit Marzuki Mahdi Bogor dan tadi 2:01 di ee sebelum on air ngomongin soal 2:05 maaf. Halo, apa kaitannya maaf dengan 2:08 kesehatan? Ternyata luar biasa banget. 2:10 Nanti kita simak, kita sapa beliau. 2:12 Asalamualaikum warahmatullahi 2:13 wabarakatuh, Dok. 2:14 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:16 wabarakatuh. Mahuning masih ceria aur 2:20 positif pasca sawal. Alhamdulillah habis 2:23 awal nih. Jadi terkait dengan maaf, 2:25 memaafkan dan dan gimana tuh persisnya? 2:29 Iya. Ee ikhwan dan akhwat Rasil yang 2:32 dirahmati Allah, 2:34 hidup tentu selalu akan berhadapan 2:37 dengan hal-hal yang menyenangkan. 2:40 He 2:41 hal-hal yang membuat kita senang, 2:43 membahagiakan. Tapi sebaliknya juga 2:44 kadang-kadang ada hal yang 2:46 menyebalkan. He 2:48 dan kekecewaan ya. Nah, ketika hal-hal 2:51 yang menyenangkan dan membahagiakan itu 2:53 tentu membuat kita semakin menjadikan 2:58 hidup bermakna. 2:59 He. 3:00 Nah, masalah ketika kita menghadapi yang 3:03 mengecewakan, 3:05 menyebalkan, 3:06 menyebalkan. Nah, 3:09 dan satu aspek sumber 3:12 kesal dan menyebalkan karena adanya 3:17 perasaan yang diakibatkan pihak lain 3:20 He. 3:21 Yang membuat kita itu menjadi korban 3:27 korban perasaan 3:28 korban perasaan korban 3:29 yang lain [tertawa] juga ya. Jadi 3:31 bagaimana tekniknya untuk memaafkan dan 3:36 juga manfaatnya bagi kesehatan itu ya 3:38 yang akan kita bahas ya. Jadi tanpa 3:40 disadari ya konflik-konflik yang masih 3:44 tersembunyi 3:45 he 3:46 yang ke berasal dari satu konflik 3:49 kekecewaan dan kemarahan lalu muncul kan 3:52 tadi kan kekesalan tadi nih orang bikin 3:56 gua jadi menderita gitu kan 3:58 he 3:59 pokoknya gua ngapin h 4:01 ah 4:02 jadi ikhwan akhwat mari kita simak 4:04 sepenuh hati sepenuh rasa dengan telinga 4:06 jiwa kita kalau seandainya maaf Maaf, 4:09 memaafkan kelihatannya cukup, tapi 4:11 sebetulnya tidak. Apalagi kalau apa yang 4:14 kita lakukan membuat orang terluka itu 4:16 melanggar hukum. O, mari kita simak. 4:18 Silakan, Dok. 4:19 Ya. Ee ikhwan dan akhwat Rasil yang 4:22 dirahmati Allah. 4:25 Hidup membutuhkan sebuah ketangguhan 4:28 agar kita selalu beradaptasi 4:32 di dalam menjalankan apa yang memang 4:35 sedang kita hadapi. Ee tadi di awal 4:38 sudah sedikit kita berikan gambaran 4:42 bahwa kehidupan yang menyenangkan tentu 4:45 membuat hidup makin tentram, damai. 4:48 Namun tidak selalu begitu. Dan ketika 4:50 ada kekecewaan dan kekesalan, kemarahan 4:53 yang dimunculkan pada interaksi sesama 4:55 manusia, muncullah rasa sakit hati. Nah, 4:59 ketika rasa sakit hati ini merasa berada 5:01 pada posisi korban, maka tentu dia 5:05 berharap orang yang melakukan 5:07 tindakan-tindakan tersebut minta maaf. 5:10 Ee dalam banyak hal 5:13 maaf ini memang bisa pada posisi kita 5:17 yang melakukan lalu kita minta maaf. 5:18 He. 5:19 Atau dalam posisi terbalik kita orang 5:21 yang mendapatkan kezaliman atau dalam 5:24 posisi korban sehingga berhak 5:27 mendapatkan 5:28 untuk mereka menyatakan permohonan maaf. 5:32 Lalu kita sebagai orang yang melakukan 5:35 atau merasakan itu mestinya membuka diri 5:39 untuk memberi maaf. Jadi 5:41 antara minta dan memberi Mbak Nuning, 5:44 kelihatannya memang dua-duanya punya 5:47 salah satu bagian kesehatan yang nanti 5:51 akan muncul adalah ada orang yang juga 5:54 tidak mudah untuk meminta maaf 5:57 karena mungkin merasa enggak bersalah. 5:58 Merasa enggak bersalah ya. sehingga 6:01 orang lain yang kemudian berinter dengan 6:03 dia ya menunggu maafnya dia padahal dia 6:06 tidak merasa. 6:08 Akibatnya yang terjadi adalah duri-duri 6:12 kemarahan, duri-duri kekesalan dari 6:15 aktivitas yang terjadi. 6:17 Lalu orang tersebut mengunci pintu 6:21 maafnya. 6:22 He. 6:23 Apa yang terjadi di dalam kesehatannya? 6:25 Allah Subhanahu wa taala menciptakan 6:27 sistem-sistem yang begitu sangat canggih 6:30 ya. Kita diberikan indra rasa ya makanya 6:34 ada rasa sakit 6:35 bisa panas bisa dingin. 6:37 Kita berikan juga mata, telinga, dan 6:39 sebagainya untuk melihat, mendengar dan 6:41 sebagainya. 6:43 Sakit hati itu bisa loh hanya karena 6:44 dari penglihatan. 6:46 Iya. 6:46 Sebaliknya sakit hati bisa muncul karena 6:48 pendengaran. 6:50 Nah, dari manapun sumber persepsi yang 6:53 didapatkan oleh manusia ketika tadi 6:55 merasa ada kekesalan dan kemarahan, dia 6:59 akan tersimpan di dalam sistem 7:01 neurotransmitter di otak manusia. 7:05 Dan ini akan menjadikan sebuah kondisi 7:09 yang tetap seimbang atau tidak. Heeh. He 7:12 mungkin ilustrasi yang mudah adalah 7:14 orang suka dengan permainan adrenalin. 7:20 Ayo pacu adrenalinnya nih. Ya. Kenapa? 7:22 Karena adrenalin itu akan memacu jantung 7:24 jadi berdetak kencang, 7:26 nafas jadi terengang-engah, 7:28 kemudian juga otot-otot menjadi tegang 7:31 dan siapsiaga. Itulah fungsi adrenalin 7:34 yang memang diberikan sebuah sistem 7:37 untuk setiap orang siap siaga di dalam 7:41 menyikapi dima kehidupan. 7:43 Nah, kalau ambang batas yang kita sebut 7:45 normal itu terl terlewati, maka adenalin 7:50 yang tadi berlebihan jadi bahaya. 7:54 Jantung yang terus tegang berdetak di 7:57 luar batas normal akan memacu dia 8:00 tekanan darah naik. 8:01 Heeh. akan mawacu dia mungkin nanti 8:05 dalam batas yang begitu sangat tidak 8:07 kita inginkan beberapa pembu darah yang 8:09 vital bisa pecah. 8:11 Heeh. 8:11 Itu yang orang mungkin kenal sebagai 8:14 stroke, pecah otak, e pembuluh darah 8:16 otak dan sebagainya. 8:18 Hanya karena tadi adrenalin yang dipacu 8:20 yang kemudian tidak bisa dikendalikan 8:22 akibat rasa marah, rasa benci, rasa 8:26 kesal yang diakibatkan tadi menuntut 8:29 orang untuk minta maaf. 8:32 sehingga banyak kesehatan-kesehatan yang 8:34 sebetulnya dialami seseorang ketika 8:36 masuk ke dalam suatu pertolongan 8:39 begitu dicek dengan semua alat normal 8:41 Mbak Nuning. 8:42 Tapi 8:43 Heeh. 8:43 Nah, tapi dia merasakan 8:45 he 8:46 semua sensasi dari apa yang dirasakan 8:49 menjadi tadi sesak nafas, menjadi 8:52 debar-debar, berkeringat, kepala pusing, 8:55 otot pegal dan sebagainya. yang 8:58 diakibatkan tadi salah satu yang 9:01 kemudian terabaikan adalah konflik yang 9:05 dia tidak pernah bisa memaafkan dari 9:08 suatu kejadian. 9:10 Heeh. Nah, ini penelitian-penelitian 9:11 menggambarkan tentang ee bagaimana 9:14 akhirnya terapi memaafkan 9:18 menjadi cara untuk dia bisa menenangkan 9:23 dirinya dan akhirnya kemudian 9:26 fungsi-fungsi fisiologisnya kembali 9:28 seimbang kembali. Jadi dampak 9:31 kesehatannya sering ketika orang abai 9:33 tentang apa yang terjadi di dalam fungsi 9:36 fisiologisnya, dia terpaku pada sensasi 9:39 fisiknya. He. 9:42 Dan lupa akhirnya mencoba untuk menelaah 9:45 atau menelisik kenapa nih jadi begini. 9:48 Iya. yang ketika kemudian dengan sebuah 9:50 teknik-teknik yang dilakukan oleh para 9:52 ahli-ahli kesehatan jiwa, muaranya 9:55 adalah tadi karena ada dendam, ada 9:57 kesal, ada marah yang dia coba untuk 10:01 tutup pintu maafnya kepada orang lain, 10:05 kepada orang lain yang tadi katakan dia 10:07 sendiri melakukan itu enggak merasa 10:08 bersalah sehingga menunggu kep minta 10:09 maaf enggak pernah akan terjadi. 10:11 Yang sakit siapa? 10:12 Orang yang tidak pernah bisa memberi 10:14 maaf. 10:16 Jadi ini perjalanan yang mestinya harus 10:19 kita sikapi ketika Idul Fitri. 10:21 Iya. 10:22 Nah, sayang pada Idul Fitri 10:25 itu lebih kepada formalitas. 10:28 Ucapan-ucapan itu memang saling 10:31 melempar. Mohon maaf ya lahir batin. Ya 10:33 gitu kan. 10:35 Sepertinya melempar sebuah permohonan. 10:38 Tapi apakah kemudian yang disampaikan 10:42 dari permohon maaf yang menerima tadi 10:44 dalam hati yang terdalamnya menerima? 10:47 Belum tentu. 10:49 Ada orang mungkin hanya sekedar 10:50 formalitas bersalaman maf lahir batin. 10:52 Ya, sama-sama ngomong maaf lahir batin. 10:55 Tapi enggak mau meng gua juga beri maaf. 10:58 Ah, maunya hanya mohon, tapi dia 11:02 memberinya enggak dikeluarin. 11:05 Nah, inilah yang sebetulnya hakikat pada 11:07 Idul Fitri ini mesti bisa menjadi satu 11:10 momen. Ya, mari kita tingkatkan 11:13 permohonan maaf tentu suatu tindakan 11:15 bagus karena kita tidak luput dari 11:17 kesalahan. 11:18 Namun yang juga tidak kalah penting 11:20 adalah memberi maaf. Tidak perlu 11:24 menunggu orang minta maaf. H. 11:28 Nah, sering orang kemudian loh 11:31 dia bikin segala macam kekesalan entah 11:34 hutangputang misal gitu kan 11:36 entah mungkin tindakan-tindakan yang 11:39 merugikan 11:40 apakah itu menjadi sesuatu yang ee tetap 11:44 akan tidak mereka lalui 11:47 ketika ada kaitan-kaitan hukum. Jadi 11:50 memberi maaf tidak otomatis 11:53 menghilangkan aspek hukumnya. 11:56 Aduh, ini hutang piutang misalnya gitu 11:57 kan. 11:57 Iya. 11:58 Minta maaf dong belum bisa dibayar nih. 12:01 Oh, iya gua maafin berarti utang jual 12:02 lunas. Enggak begitu. 12:03 Tetap harus dibayar [tertawa] 12:05 hutangnya tetap harus dibayar gitu kan. 12:07 Ee namun bagaimana memang dinamika yang 12:11 terjadi ketika tentu pemberi hutang itu 12:13 mendapatkan suatu hal yang tidak 12:15 semestinya karena waktu yang sudah 12:17 berlalu. Tetap memberi maafnya harus 12:20 kita berikan. Tapi hubungan muamalah 12:22 termasuk aspek hukumnya 12:24 yang menyangkut kriminal 12:26 harus itu menjadi sesuatu yang 12:28 diselesaikan. Jadi perbedaan antara 12:31 memberi maaf dengan aspek hukum dua hal 12:33 yang berbeda. Karena memberi maaf adalah 12:36 kepentingan pada individu terhadap 12:39 kesehatan dia sendiri. khususnya nanti 12:42 bukan hanya kesehatan mentalnya, 12:44 kesehatan fisiknya tadi orang yang tidak 12:46 pernah memberi maaf malah bisa enggak 12:48 bisa tidur Mbak Nuning. Karena kepikiran 12:50 terus menunggu orang untuk minta maaf 12:52 padahal dia sudah mengatakan pokoknya 12:54 kalau dia enggak minta maaf gua enggak 12:55 maafin aja misal begitu. Nah, ini yang 12:57 mestinya harus kita ubah. Memberi maaf 12:59 justruah obat bagi setiap individu 13:02 ketika dia merasakan adanya kekecewaan, 13:05 kemarahan yang justru akan menjadi 13:08 unfinished emotion. emosi yang tidak 13:10 pernah berkesudahan kalau dia kemudian 13:13 tidak pernah mau membukakan pintu maaf 13:15 gitu, Mbak Nuni. 13:17 Masyaallah. 13:19 Jadi, Ikhwan Akhwat karena ini live bisa 13:22 telepon langsung juga ke Rasil dan untuk 13:28 terkait maaf memaafkan ini kebetulan 13:32 sudah ada yang masuk pertanyaan sambil 13:34 jalan nanti materinya jalan terus. Tapi 13:36 pertanyaan yang muncul di sini dari ee 13:40 Mbak Sis ya, itu 13:43 mana lebih sulit memaafkan atau meminta 13:45 maaf tetapi yang dimintain maaf 13:48 betul-betul memaafkan. Oh, persis sekali 13:51 dengan bahasan kita. Gampangan mana nih, 13:54 Dok? [tertawa] 13:55 Iya, tadi seperti saya dikata tergantung 13:58 pada individunya. Ada orang yang mudah 14:01 minta maaf, mudah. Salah dikit. Eh, 14:03 maafin ya, enggak sengaja gitu kan. 14:06 Selalu memulai kata-kata minta maaf, 14:08 minta maaf. 14:09 He. 14:09 Tapi belum tentu dia akan menjadi orang 14:12 yang mudah memberi maaf. Sebaliknya 14:16 ilustrasi bisa terbalik ini Mbak Nuning. 14:18 He. 14:18 Pada orang tua itu justru sering mudah 14:21 memberi maaf. 14:23 Anak salah katakan ya. 14:25 Iya. 14:25 Dalam hatinya dengan dengan segala macam 14:27 keibuan dan kasih sayangnya sudah 14:29 memaafkan sebelum anak itu minta maaf. 14:32 Nah, pada karakter ini ee sering terjadi 14:36 hal yang tersembunyi nih. Anak salah ya 14:38 dengan berulang-ulang. Lalu ibunya pada 14:40 dasarnya tidak pernah merasa kemudian 14:42 juga pasti akan tidak memaafkan. Dalam 14:45 hatinya pasti sebagai seorang ibu kasih 14:47 sayang memaafkan. Jadi 14:49 pada posisi itu dia mudah memberi maaf. 14:52 Orang-orang yang memang punya 14:53 keterlibatan kasih sayang khususnya pada 14:55 orang tua ya pada umumnya. Walaupun 14:57 tentu tidak semua ya dalam konteks yang 15:00 ee terjadi ada orang tua juga yang bisa 15:03 ee sulit untuk bisa memaafkan anaknya 15:06 apalagi kalau sudah berkali-kali. Nah, 15:08 ini yang juga akhirnya seolah-olah maaf 15:11 itu harus ada batasnya. 15:14 Padahal tidak. 15:16 Oh, oke. 15:17 Paket maaf itu harus unlimited. 15:20 Jangan pakai kuota yang hanya sekali dua 15:23 kali. Pokoknya kalau sudah ketiga kali 15:25 enggak dimaafin misalnya gitu. Tidak 15:27 ada. Maaf. Harus kita punya bekal 15:30 sebagai panjang kuota-kuota yang kita 15:32 pakai di dalam paket-paket ee dalam 15:34 komunikasi. Maaf harus punya simpanan 15:38 yang tidak ada batas waktunya, tidak ada 15:42 kadar luarinya. Dia akan terus 15:44 berlangsung karena kesalahan atau 15:46 tindakan dilakukan manusia di pihak lain 15:49 juga tidak pernah bisa kita ketahui akan 15:52 burang lagi apa tidak. 15:53 Heeh. He. 15:53 Nah, ini mungkin ilustrasi yang harus 15:57 kita coba sadari ketika setiap anak 16:00 kecil mau bisa berdiri dan berjalan. 16:04 Iya. 16:05 Ya, bayangkan anak kecil dengan 16:09 keterbatasan mau berjalan pasti jatuh. 16:13 He. 16:13 Nah, ketika jatuh apa yang terjadi 16:17 adalah 16:19 pemahaman pemakluman karena dia belum 16:21 bisa berdiri. 16:23 Jadilah kemudian jatuh itu menjadi 16:25 pengalaman untuk bisa berdiri. 16:28 Orang tua atau lingkungan pengasuhi yang 16:30 mencoba untuk memberikan toleransi eh 16:33 jatuh sekali dimaafin pasti 16:35 ditoleransi. 16:37 Bangun lagi jatuh lagi ditoleransi 16:40 bangunnya. Berapa kali sih boleh jatuh 16:42 anak? 16:44 Enggak ada batasnya. 16:45 Iya. Nah, pada ilustrasi anak jatuh 16:47 bangun sebenarnya ingin menggambarkan 16:50 perjalanan hidup manusia dalam 16:51 berinteraksi 16:52 itu juga begitu 16:53 akan begitu bisa berulang tapi bukan 16:56 berarti tidak mentolerir kesalahan yang 16:58 terjadi pada sebuah sikap individu. 17:01 Karena justru yang dipentingkan di dalam 17:04 me 17:06 masalah tadi jatuh bangun adalah orang 17:08 jatuh yang jadi masalah kalau sudah 17:10 enggak bangun lagi. 17:12 Iya. Selama dia masih bangun lagi, maka 17:15 tidak pernah ada kata tertutup. Ah, 17:17 bangga nih anaknya bangun lagi. Sampai 17:19 akhirnya bisa jalan, bisa berdiri. 17:21 Begitulah kira-kira juga adalah maaf. 17:23 Tidak boleh ada batasan yang mengatakan 17:26 pokoknya cuma batasnya tiga kali jatuh 17:29 ya. Kalau lebih dari tiga kali jatuh 17:30 bukan anak mama, enggak pernah ada anak 17:32 bisa jalan akhirnya. 17:33 Iya. Jadi, 17:35 nah mudah-mudahan dalam konteks 17:36 unlimited ee forgiveness ini juga 17:40 menjadi bekal. Jangan pernah kemudian 17:42 sekali sudah dimaafin, berulang kali 17:44 sekali dimaafin. 17:46 Merasa sakit hati kayaknya sudah 17:47 berulang-ulang dimaafin kok berulang 17:49 kali. Ya begitulah memang kehidupan yang 17:51 bisa terjadi pada interaksi manusia. 17:53 Namun sekali harus digaris bawahi bukan 17:56 berarti aspek hubungan antar manusia 18:00 yang menyangkut hukum di dalam ee 18:02 perdatanya 18:03 tetap harus diselesaikan. Contoh yang 18:05 paling klasik itu hutang misalnya. Bukan 18:06 berarti maaf itu akan menghapuskan 18:09 hutang. Hutangnya harus tetap dibayar. 18:10 gitu. [tertawa] 18:12 Iya. Ini dari Pak Budi. Sakit hati 18:16 karena ucapan itu bisa jadi duri kalau 18:20 itu dalam hal cinta seperti yang tadi 18:22 disampaikan ya, Dok. 18:23 Tetapi luka yang tersimpan di dalam apa 18:26 tadi? Neurotransmitter otak kita 18:29 bikin datangnya penyakit seperti stroke 18:32 dan lain-lain. 18:33 Jadi, apa yang harus dilakukan kalau 18:36 ternyata lukanya enggak sembuh-sembuh 18:38 juga? 18:39 [tertawa] 18:39 luka karena ee bukan luka beneran gitu. 18:42 Iya. Ee terima kasih ya. Tadi ingin 18:45 mengilustrasikan betapa memang luka 18:47 fisik saja sangat bergantung pada 18:50 kedalamannya. He. 18:52 Kalau hanya di permukaan ya sembuh 18:54 sendiri ya baret dan sebagainya. Makin 18:57 dalam 18:58 dokter bahkan harus mengelupas lagi 19:02 bagian-bagian yang rusak tadi. Dipotong 19:04 lagi tuh sama para dokter dalam rangka 19:06 merapikan. 19:07 Hm. Dalam ilustrasi fisik ini kedalaman 19:11 sakit akan juga menjadikan teknik untuk 19:15 memperbaiki juga beda. 19:17 H 19:18 sama juga dengan luka batin. Ketika 19:20 memang kita mencoba untuk memperbaiki 19:23 daripada luka batin tergantung pada 19:25 kedalaman yang tadi dihayati. 19:28 Semakin sebetul ringan 19:30 maka proses untuk memperbaiki mudah. 19:33 Tapi kalau sudah sangat dalam dia harus 19:35 dibongkar dulu. Dan ketika membukar itu 19:37 menyakitkan memang 19:39 kalau seseorang bikin salah, bikin salah 19:41 diulang, diulang, diulang itu terjadinya 19:43 seperti itu tadi ya. 19:45 Iya. Nah, saking dalamnya memang proses 19:47 yang disebut dengan forgiving perlu 19:49 bantuan. 19:51 Perlu bantuan terapis karena dia akan 19:54 membutuhkan suatu 19:57 momen 19:58 yang memang ketika kita mengulas 20:00 trauma-trauma meyakinkan tadi pasti akan 20:03 membayangkan lagi kekecewaan dan rasa 20:05 sakit hatinya. Di situlah fungsi terapis 20:08 mendampingi. 20:09 Jadi, bagaimana kita tahu bahwa em 20:14 yang terjadi antara maaf dan memaafkan 20:17 ini bisa mengganggu fungsi fisiologis 20:19 kita. Kan kadang-kadang kita enggak 20:21 sadar bahwa sebetulnya ini karena itu. 20:23 Itu cari tahunya dari mana dong? Nah, 20:26 ini memang yang tadi ee saya maksudkan 20:29 terapis-terapis di dalam mencoba untuk 20:32 melakukan pengeksplorasian tentu yang 20:35 pertama yang paling mudah adalah ketika 20:36 ada sensasi badan jasadiah. 20:40 Iya. Teraba tertera 20:41 orang deg-degan bisa diukur. 20:44 Betul 20:44 ya? Berapa sih nadinya? 20:47 Orang sesek berapa sih frekuensi 20:48 nafasnya? 20:50 pada aspek jasadiah yang tadi di awal 20:53 juga sudah sedikit ee saya sampaikan itu 20:56 justru memang sering menjadi yang dia 20:58 perhatikan maka didatanglah ke 21:00 tempat-tempat yang bisa mengukur tadi. 21:02 Nah, ketika diukur secara umum 21:05 perangkat-perangkat teknologi yang 21:07 mencoba untuk mengukur kuantitas tadi 21:10 yang Mbak Nuning maksudkan 21:12 sampai bas mana 21:13 ternyata normal. 21:15 Tapi dia merasa ada hal yang enggak enak 21:19 gitu ya normal. 21:20 Ee bahkan terjadinya pada momen-momen 21:23 tertentu. Kenapa ini momen tertentu? 21:26 Karena flashback kepada kejadian itu. 21:29 Nah, ketika flashback kejadian itu, 21:31 trauma itu memancing respon fisiologis. 21:35 Jadi indikatornya sebetulnya adalah yang 21:37 paling mudah pada konteks yang kemudian 21:40 kita jadikan ee dasar dasar kehidupan 21:43 adalah pertama adalah kualitas tidur. 21:46 Hm. 21:48 Orang yang masih terjebak [berdehem] 21:49 dengan luka-luka batin susah tidur 21:52 [tertawa] 21:53 akan menjadikan otak dan fungsi kerja 21:56 yang ada di dalam kegiatan otaknya 21:58 enggak pernah bisa dalam keadaan tenang. 22:01 Maka cerminannya adalah sejauh mana 22:04 kualitas tidur kita. 22:07 Ketika kualitas tidur kita baik, 22:08 insyaallah itu sudah menjadi indikator. 22:11 Tapi bukan berarti juga kayak kebo gitu 22:13 kan, malah tidur melulu gitu kan 22:15 [tertawa] 22:16 yang kemudian menjadikan tidak produktif 22:18 bukan ya. Kualitas itu terukur pada 22:20 bagaimana jumlahnya, bagaimana dia 22:23 melalui dan akhirnya bangun segar dan 22:25 sebagainya. Itu sebetulnya 22:27 indikatorindikator awal. 22:29 sebelum pada indikator-indikator yang 22:31 sifatnya nanti pada konsentrasi. 22:35 Karena kita butuh aktivitas kan pasti 22:37 fokus pada aktivitas. Nah, kalau sudah 22:39 ada gangguan kerja sedikit-sedikit 22:41 terlintas ya. 22:42 Karena begitu sesuatu yang traumatik itu 22:45 bukan hanya kemudian selalu sama dengan 22:48 traumanya, Mbak. 22:50 He 22:50 bisa saja lintasan itu kemiripan. 22:54 Dia trauma pada seorang A. Oke. 22:56 Lu ketemu tokoh B yang sebetulnya enggak 22:59 ada hubungannya, tapi entah mukanya, 23:02 entah caranya itu mengingatkan dia pada 23:04 si tokoh yang bikin kesal itu bisa 23:06 memacu tuh. 23:07 Kesal juga sama dia. 23:08 Kesal juga sama dia. [tertawa] 23:10 Padahal dia enggak bikin salah. 23:11 Padahal dia bukan apa-apa. Begitulah 23:13 saking sudah dalamnya sebuah trauma 23:15 keterkaitan pada sesuatu kejadian karena 23:18 ada kemiripan itu bisa menstimulus 23:21 sebuah respon yang sama. 23:23 Iya. Reminding bawah sadar. 23:26 Nah, itu yang memang kemudian pada 23:27 batas-batas yang sudah terlalu dalam 23:29 butuh bantuan terapis. 23:32 Terapis. Oke, ini pertanyaan dari Pak 23:35 Rahman. Asalamualaikum, Dok. 23:37 Waalaikumsalam. 23:38 Bagaimana kita bisa meyakinkan diri 23:41 bahwa saling memaafkan yang benar-benar 23:44 ikhlas? Karena dalam faktanya sesaat 23:46 kemudian berulah kembali sisi parameter 23:50 berpikir masing-masing yang memaksa 23:52 orang harus menerima. ini bagaimana, 23:55 Dok? Terima kasih. 23:56 Ya, betul. Makanya tadi dalam konteks 23:59 mungkin ucapan mudah ya. 24:03 Aduh, maafin ya. Ya, gua udah maafin 24:05 lisan ya. Tapi persis seperti tadi yang 24:08 ditanyakan, sejauh mana orang yang tahu 24:11 tentang ketulusan dari yang dia berikan 24:14 hanya dirinya dan Tuhan? 24:16 Oh, oke. 24:17 Tidak pernah bisa tergambarkan 24:20 sebetulnya tingkat ketulusan kita 24:22 maafkan dalam cerminan kata apalagi 24:25 sedikit orang berakting gitu kan. 24:29 Sangat mudah tuh. Udah udah dimaafin 24:31 tapi dalam hati masih membara gitu kan. 24:34 Iya. 24:34 Oh, enggak biar Tuhan balas loh lu lu 24:36 celaka lagi loh kira-kira gitu. Nah, itu 24:38 yang disebut tadi ee sejauh mana kita 24:41 mengukur bahwa ketulusan sudah terjadi 24:44 ketika kita sendiri sudah bisa 24:46 memisahkan kejadian yang tadi pernah 24:48 mengingatkan tentang trauma tadi 24:51 dengan kondisi saat ini sudah enggak ada 24:52 hubungannya. 24:54 Sehingga sering orang terjebak dengan 24:57 forgive dilakukan dengan forget 25:01 itu salah. 25:02 Beda ya forg forget. Ketika kita 25:05 memaafkan, kita bilang, "Dok, bisa 25:08 enggak sih kejadian itu dilupakan? 25:09 Karena itu bikin saya pokoknya teringat 25:12 terus dan menyakitkan sekali." Tolong 25:13 dong, Dok, lupain dong kejadian itu. 25:16 Itu kesalahan pertama di dalam menyikapi 25:19 sebuah upaya memaafkan. Minta untuk 25:21 dilupakan. 25:22 Iya. 25:23 Karena memori setiap kejadian sudah 25:26 tersimpan. Itu yang nanti bahkan dalam 25:28 ee banyak hal ya. 25:31 sampai sebesar zarah pun yaqtin 25:36 sebesar zarah suatu simpanan memori akan 25:38 Allah perlihatkan. Jadi jangan pernah 25:41 untuk memberikan suatu mekanisme maaf 25:44 dimulai dengan ingin melupakan. 25:46 Justru ketika ingin melupakan itulah 25:48 kesalahan yang membuat dia enggak bisa. 25:51 Soalnya yang perlu dilakukan ketika ter 25:54 ketulusan adalah menyadari adanya 25:56 kejadian dan memunculkan persepsi saat 26:00 itu menyakitkan. Itu harus kita sadari. 26:02 Tidak salah dia marah, dia nangis, dia 26:05 melakukan ekspresi yang selama ini dia 26:08 pendam. 26:09 Nah, terapis membantu itu. Fenomena itu 26:13 perlu dikatarsiskan, perlu dikeluarin 26:15 dulu. yang tadi istilah luka luka fisik 26:18 dikorek dulu tuh 26:19 luka-luka itu menyakitkan memang. 26:22 Nah, namun ada teknik berikutnya. Nah, 26:25 bagaimana persepsi yang sudah terjadi 26:27 pada kejadian menyakitkan untuk bisa 26:30 kita kelola di persepsi saat ini. 26:32 He. 26:32 Sekali lagi, kejadian tidak pernah bisa 26:34 kita lupakan, tapi persepsi tentang 26:36 kejadian itu bisa dirubah 26:39 sudut pandangnya. 26:40 Sudut pandangnya. Nah, contoh mungkin 26:42 ketika anak didisiplin oleh orang tua, 26:46 disiplin, enggak ada waktu main, enggak 26:48 ada waktu untuk ber ya bersenang-senang 26:51 sedikitlah, mungkin nonton juga 26:53 dibatasi. Kayaknya kesal banget nih pada 26:55 orang tua ini, gitu kan. 26:57 Tapi begitu dia akhirnya mendapatkan 26:59 semacam sebuah pembelajaran, dia menjadi 27:01 anak yang rajin membaca, tertib, 27:05 baru hikmah berikutnya tentang persepsi 27:08 waktu kecil itu yang mengesalkan, 27:10 alhamdulillah, ayah, ternyata ini 27:11 menjadikan saya berprestasi akibat 27:14 disiplin. Itu yang disebut namanya 27:16 mengubah persepsi. 27:17 Iya. Iya. kejadian mengesalkannya sudah 27:20 memang terjadi. Namun persepsi yang 27:24 membuat kita akan kejadian tadi 27:27 berkembangnya waktu bisa kita bantu 27:29 untuk diubah melihat sudut pandang yang 27:31 lain. 27:34 Oke. Ee masih ada yang mau bertanya? 27:38 Kita masih cukup banyak waktu terkait 27:40 dengan ee ini enggak ada namanya. Kalau 27:44 kita sudah menghancur leburkan rasa 27:47 harga diri orang, paling sulit rasanya 27:52 membuat posisi kita sama seperti semula. 27:55 Itu pernah terjadi 27:58 3 tahun yang lalu, tapi sampai sekarang 28:00 dia masih tetap menutup diri karena 28:03 memang saya salah parah menghancurkan 28:07 harga dirinya. Apa yang harus saya 28:09 lakukan nih kalau udah kayak gini? Ya, 28:12 ini tadi kan ada memang kesadaran ya 28:15 kalau kita salah, 28:16 kita salah 28:17 maka betul itu harus minta maaf 28:19 pada posisi dia ya. 28:21 Iya. 28:22 Apakah kemudian orang lain yang kita 28:24 minta maaf betul maaf itu sudah bukan 28:26 lagi 28:27 Oh, oke. Jadi 28:28 tuntutan yang bisa kita minta kita 28:30 lakukan. 28:31 Iya. 28:32 Jadi memang ada dua posisi nih ya. 28:33 Ketika orang melakukan kesalahan, 28:35 tugasnya adalah meminta maaf 28:38 ketika posisi itu. Namun pertanya apakah 28:41 yang bersangkutan mau maafkan itu sudah 28:44 bukan lagi 28:45 maafkan 28:45 kewenangan kita. 28:47 Jadi biarin aja gitu. 28:48 Sudah ya karena 28:50 permohonan maaf itu sudah menyatakan 28:52 kesadaran tentang kesalahan. He. 28:55 Yang tentunya bagi kita yang sadar tadi 28:58 ya tidak mengulang. Itu kan konsekuensi 29:01 kesadaran meminta maaf. Tentu bagi orang 29:03 yang melakukan tindakan-tindakan diikuti 29:06 dengan harapan tadi karena apagi sudah 29:08 menghancur leburkan orang dan sebagainya 29:10 ya kita juga harus membuat konsekuensi 29:12 atau bagian pengobatan terhadap sakit 29:15 hatinya. Kita harus harus juga pulihkan 29:18 itu pada posisi yang kalau kita salah 29:21 ya. 29:22 Jadi memang meminta maaf itu menjadi 29:25 satu kata kunci yang dahsyat. 29:29 Minta maaf. 29:31 Berterima kasih. 29:33 ya terhadap apa yang kemudian sudah 29:36 mulai terjalin pencairan 29:38 tapi tetap harus berbalut ketulusan 29:41 ketulusan. 29:43 Nah, bagaimana kaitan dengan pihak lain 29:45 yang tadus hancur lebur? 29:46 He 29:47 ya, posisi dia kan mesti memberi maaf. 29:50 Iya. posisi dia ya. Kalau kita berada 29:52 pada posisi A dan B, si B yang merasakan 29:55 menjadi korban 29:56 ya memang akan terus sakit ketika dia 30:00 sendiri kemudian tidak pernah bisa 30:02 memaafkan. 30:04 Apalagi dia sudah minta maaf nih orang 30:06 yang tadi merasa salah sudah minta maaf 30:09 tapi orang yang menjadi korban kemudian 30:12 sulit untuk maafkan. Malah yang sakit 30:15 adalah orang yang tidak pernah bisa 30:17 membuka pintu maaf. Makanya sakitnya 30:19 tadi sering tidak menjadi manifestasi 30:22 pada emosinya, tapi ada fisiknya. 30:25 Enggak bisa tidur tadi akibatnya jantung 30:27 aktif terus ya menjadi sesuatu hal yang 30:31 tegang ya enggak pernah rileks. 30:34 Akibatnya apa tadi? Menjadi tidak 30:35 nyaman, konsentrasi menjadi juga tidak 30:38 bisa fokus. Banyak dampak-dampak 30:40 kesehatan yang kemudian pada manifesta 30:43 fisiologis sampai mengganggu, Pak. 30:45 Iya. 30:46 Fungsi levelnya jadi terganggu. 30:47 pencernaannya menjadi gert misalnya. H 30:50 karena asam lambung terus meningkat tuh. 30:51 Orang yang bergejolak dengan rasa 30:54 ketidaknyaman kekecewaan pasti 30:56 kena 30:57 akan meningkatkan semua perlindungan 30:59 yang seben Tuhan ciptakan untuk menjaga. 31:01 He. 31:01 Tapi karena itu berlebihan terus enggak 31:03 pernah bisa mengelola dengan maaf yang 31:06 terjadilah over. Nah, ketika over apapun 31:08 dalam keseimbangan manusia pasti 31:10 berbahaya. 31:12 Nah, ini yang tadi kita tempatkan pada 31:14 posisi mana sebelum kita yang membuat 31:16 salah minta maaf. 31:17 Tapi ketika menjadi korban 31:20 memaafkan bukan hal yang sederhana. 31:23 Memafkan, tepat sekali. Jadi itu tentu 31:26 memang menjadi cara yang mengukur tadi 31:28 perjalanan daripada proses tadi. Ketika 31:31 dia bisa tentu akan baik ya untuk dia 31:35 atasi sendiri. Namun ketika memang tidak 31:37 bisa datang ke profesional karena ada 31:40 teknik-teknik tertentu, Mbak. 31:41 Kalau ada sebuah kasus saya ceritakan, 31:43 waduh sedih sekali, Mbak. Oke. 31:45 40 tahun menyimpan suatu trauma. 31:49 He. 31:50 Yang menyebabkan dia jantungnya menjadi 31:52 tadi berdetak terus, tegang terus, nafas 31:55 menjadi tidak nyaman. 31:57 He 31:57 gert kambuh. 40 tahun. Dokter-dokter 32:01 yang berfis sudah bilang, "Bu, kayaknya 32:03 Ibu ada sesuatu deh. Ibu harus ke 32:05 pesiater. Emang saya gila?" Nah, ini ini 32:09 labeling ya. He 32:10 ee hal-hal yang membuat orang ke 32:13 psikiatri itu seperti harus gila dulu. 32:15 Tidak. Ternyata, Mbak dalam beberapa 32:18 pertemuan 32:19 klien ini menyimpan kemarahan yang 32:21 begitu sangat membara. 32:23 Masyaallah 32:24 yang dia simpan. Tidak pernah bisa dia 32:26 sampaikan itu pada siapapun karena 32:28 sangat menyakitkan kejadian itu. 32:30 Tapi justru tadi ketika memang diberi 32:32 kesempatan seorang terapis mengungkap 32:36 trauma itu, Dok. Rasanya plong, Dok. 32:42 Rahasia yang selama ini enggak pernah 32:44 bisa saya berbagi. 32:45 Setelah dokter membantu saya untuk 32:47 mengeluarkan dan kemudian melakukan 32:51 modifikasi tadi sudut pandang 32:55 bahwa Bu kalau enggak ada kejadian Ibu, 32:57 Ibu tidak begini, tidak begitu. Nah, 32:59 itulah yang kita sudut pandangnya. 33:00 Justru karena kejadian itu Allah berikan 33:02 jalan-jalan lain. 33:05 Enggak pernah datang lagi tuh semua 33:07 keluhan-keluhan fisiknya. Heehow. 33:09 Jantungnya, paru-parunya, penceraan 33:11 normal semua. Hanya karena tadi 40 tahun 33:15 menyimpan sebuah trauma yang menyakitkan 33:17 yang dia selalu bilang, "Poknya kalau 33:19 orang itu enggak minta maaf, gua enggak 33:20 maafin. Orangnya udah ke mana? Enggak 33:23 pernah ketemu lagi. Yang terjadilah tadi 33:26 manifestasi kesehatan fisiknya 33:27 terganggu." 33:29 Iya. 33:31 Oke, kita ke Ibu Ani Cepeah 33:37 yang sedang menyimak acara ini dan 33:41 mudah-mudahan 33:44 memudahkan maaf memaafkannya juga bisa 33:46 dengan mudah ya. Ini ada pertanyaan dari 33:51 tunggu sebentar 33:54 terkait dengan memaafkan bagi saya lebih 33:58 sulit daripada minta maaf. Karena kalau 34:01 merasa bersalah kan kita diajari untuk 34:04 minta maaf agar terbebas dari ee dosa 34:09 istilahnya ya. Tetapi bagaimana 34:11 memaafkan itu susah sekali kalau ada 34:15 dendam di dalamnya. dan mengganggu 34:20 kenyamanan hari-hari. Bagaimana cara 34:23 menghilangkan dendam yang terpendam? 34:27 Heeh. Udah dendam terpendam lagi. 34:30 [tertawa] 34:31 Jadi betul-betul tadi dalam sekali itu 34:34 kalau dalam konteks yang kita luka ini 34:35 sudah dalam sekali ya. 34:37 Itu kalau enggak kena fisik masih bagus 34:38 ya, Dok ya. Tapi kalau kena fisik lebih 34:40 repot lagi. 34:42 Oke. Iya. Terima kasih. ini sebuah ee 34:47 hal yang harus kita coba memang ee 34:49 sadari. Betul tadi pernyataan memaafkan 34:52 bukan hal yang mudah. He 34:54 ya. Jangan dipakai memaafkan itu sulit 34:56 itu jadi negatif. 34:59 Kita sebut memaafkan itu bukan hal yang 35:01 mudah. 35:02 Jangan identik dengan sulit ya mudahnya. 35:06 Oke. 35:06 Karena ketika kita mengatakan bukan hal 35:07 yang mudah itu berarti mudah. Hanya 35:11 butuh usaha. He. He. 35:12 Tapi kalau sudah mengatakan memaafkan 35:13 itu sulit, ya jadi sulit sudah. 35:15 Iya. 35:16 Ya, betul ya. Bahwa memaafkan bukan hal 35:18 yang mudah. Karena itu butuh sebuah 35:21 proses. Nah, proses-proses yang dilalui 35:23 yang pertama tadi ketika memang ingin 35:25 melakukan apa yang kita sebut self ee 35:29 kesadaran diri ya, self awareness 35:32 terhadap kejadian yang tadi traumatik 35:34 boleh ya. sekarang apalagi sudah sangat 35:36 mudah kita menggoogling dan membuka 35:39 YouTubeyube bagaimana sih teknik 35:41 forgiveness terapi ya pertama memang 35:43 harus kita sadari tadi harus tuh 35:46 membayangkan lagi Mbak situasi itu 35:49 jangan pernah pengin dilupakan enggak 35:51 pernah bisa 35:52 harus dibayangkan bayangkan dulu 35:54 kejadian yang tadi dikatakan 35:56 mengesalkan, menjengkelkan, sudah sangat 35:58 dalam pendam 36:00 berhari-hari dan berminggu-minggu 36:02 bertahun-tahun menjadi dendam kan tadi 36:04 karena kita tidak memaafkan. Nah, 36:07 setelah membayangkan tadi kejadian ini 36:09 memang menimbulkan persepsi mengecewakan 36:11 itu manusiawi. 36:13 Sakit hati manusiawi karena kita 36:15 diberikan rasa terhadap hal yang 36:17 menyenangkan dan tidak menyenangkan. 36:19 Nah, berikutnya tentu kejadian sudah 36:22 berlalu. 36:24 Hidup terus harus berlanjut. He. 36:27 Makanya kemudian kita ubah menjadi 36:30 persepsi baru. 36:31 He. 36:33 Cari yang disebut dengan ada maknakah 36:36 yang kemudian kita dapat dari kejadian 36:38 tadi. Pasti ada. Selalu ada. Tuhan tidak 36:40 pernah menimpakan satu kejadian tanpa 36:43 makna yang baik buat orang itu. 36:45 Masalahnya tadi sudut pandangnya dia 36:47 terbelenggu oleh sudut pandang negatif. 36:49 Maka langkah yang kedua kembangkan yang 36:51 disebut tadi positive thinking itu. 36:55 Tuhan saya yakin ada hikmah dari 36:56 kejadian yang pernah memang membuat saya 36:58 tadi sakit hati, kecewa, terzalimi dan 37:01 sebagainya. Tapi harus aku tanamkan 37:05 engkau maksud punya makna pada kejadian 37:09 itu kebaikan saya. 37:10 Nah, mohon petunjuk. Nah, mohon petunjuk 37:13 ya Tuhan tentang bagaimana memang 37:16 kemudian ini akan berimbas pada kebaikan 37:19 yang bisa kita lihat nanti 37:20 kebaikan-kebaikan yang mengikuti 37:22 perjalanan akibat trauma tadi. 37:24 He. 37:25 Katakan trauma terjadi kan berjalan kan 37:27 hidup. Ingat yang baik-baik aja. 37:31 Iya. 37:32 Ingat yang baik-baik. masih bisa jalan, 37:34 masih bisa melihat, masih bisa apa, 37:37 silakan internalisasi rasa syukur 37:40 terhadap apa yang masih kita miliki saat 37:42 ini. 37:44 Jangan dihubungkan dengan kejadian 37:45 traumanya. 37:47 Syukuri apa yang ada. Hidup adalah 37:50 anugerah. [tertawa] 37:52 Iya. Terus ini disebut dengan positive 37:54 thinking. Nah, kalau memang itu secara 37:58 eh pribadi sudah selesai, 38:01 insyaallah ketulusan itu bisa kita 38:04 tempatkan. Jadi ketika di awal memang 38:07 harus ada semacam ee penguatanpenguatan 38:11 emosi tadi ya. Saya siap untuk membuka 38:14 kembali file itu dan file ini sedang aku 38:18 coba untuk ubah persepsinya bukan 38:21 kejadiannya. He he. 38:22 Sekali lagi, kejadian tidak pernah bisa 38:24 ubah, tidak pernah bisa lupakan. Namun, 38:26 persepsi sangat bisa 38:27 bagaimana kitanya. 38:29 Nah, maka langkah kedua tadi positive 38:30 thinking dulu. 38:31 Iya. Iya. 38:32 Ada hikmah yang tentu ingin Tuhan 38:34 berikan dalam perjalanan kehidupan yang 38:35 sudah berlangsung. He. 38:37 Tentang kejadian saat ini dihubungkan 38:39 dengan masa lalu adalah untuk kebaikan 38:42 saya. 38:43 Jadi, memaafkan lebih cenderung ke 38:47 bagaimana kita bisa melepaskan beban 38:49 yang ada di dalam perasaan kita. Tepat 38:51 sekali. 38:53 Maafin, maafin tapi masih sakit aja 38:55 percuma. 38:56 Itu makanya itu namanya belum tulus 38:58 ya. Itu yang susah. 38:59 Iya. Heeh. 39:00 Apalagi begini, udah maafin nih ya. 39:02 Ketemu orang yang melengos 39:05 [tertawa] 39:06 sudah dimaafin masih begitu juga. 39:07 Nah, jadi 39:08 berarti beban perasaan kita yang di 39:10 masih terus ya itu tadi sampai terus k 39:12 dan itu memang bukan berarti sekali lagi 39:14 hal yang mudah. Terus lakukan terus 39:16 sampai indikator yang pertama tadi 39:18 tidurnya, Pak. Ketika membayangkan itu 39:21 tidur itu sudah ke mana udah les 39:25 tolok ukurnya ya di situ ya. Masyaallah 39:27 kalau Anda bisa tidur dengan nyenyak, 39:30 ikhwan akhwat, berarti yang terpendam 39:32 sudah terurai gitu ya. 39:34 Sudah terurai. [tertawa] Iya. Nah, 39:35 karena aktivasi daripada gelombang otak 39:38 itu karena tadi masih menyimpan dendam 39:40 dan duri kemarahan yang belum diberikan 39:43 daripada kata kunci memaafkan. 39:45 Oke, kita ke Ibu Magfira. 39:48 Asalamualaikum, Dok. 39:49 Waalaikumsalam. 39:50 Saya sering relaps, marah, ngerasa 39:52 dikhianati karena momen yang sudah 39:54 berlalu di kondisi-kondisi tertentu dan 39:57 akhirnya sesak nafas. Bukan karena tidak 39:59 ingin memaafkan, tapi ada kondisi di 40:02 mana saya ternyata belum bisa tuh 40:04 menerima bahwa masalah tersebut hadir 40:07 karena seseorangnya, bukan karena 40:09 masalahnya. 40:11 Dan kondisi ini dipicu karena masalah 40:14 dengan teman dekat nih pekerjaan yang 40:16 kami jalani. Solusi paling sederhananya, 40:19 Dok, saat relaps ini karena satu momen 40:22 yang tiba-tiba ada, gimana dong? Saya 40:25 pernah konsultasi satu kali dengan 40:27 psikolog tapi enggak nyaman. 40:29 Heeh. [tertawa] 40:31 Terima kasih Ibu sudah berusaha ya bahwa 40:33 memang menyadari adanya sebuah 40:35 problematika. 40:37 Nah, Mas tadi kan ini ada keterkait 40:40 dengan entah itu figurnya entah itu 40:43 kejadiannya kan 40:45 sehingga apa yang dirasakan menjadi 40:48 terus ee berulang relaps gitu. Nah, 40:52 kalau tadi dikatakan baru sekali 40:55 mencari bantuan dan belum memberikan 40:58 efek ya berarti memang masih perlu ya 41:00 jangan pernah kemudian berakhir untuk 41:03 mencari usaha tadi. Sekali lagi memang 41:05 tidak mudah ya 41:06 sampai tadi akar masalah yang tadi Ibu 41:08 ceritakan itu betul-betul tergali karena 41:11 kata kuncinya tadi 41:13 ingin menghilangkan, ingin melupakan 41:15 tidak bisa. 41:17 Iya. 41:18 Justru kesadaran memaafkan adalah 41:20 kesadaran mengingat kembali kejadian 41:22 dengan utuh itu dulu 41:23 dan mengikhlaskannya. 41:25 Dan mengikhlaskan 41:27 karena sudah terjadi. 41:28 He. 41:29 Waktu enggak bisa diputar mundur. Hidup 41:32 sudah harus berlangsung ke depan. Nah, 41:33 bagaimana kemudian kejadian itu kita 41:37 ubah persepsi? Nah, membantu mengubah 41:39 persepsi ini yang tadi tergantung dalam 41:42 dan sakitnya itu. 41:44 He. 41:44 Kalau yang sifatnya superfisial, 41:46 insyaallah orang dengan teknik-teknik 41:48 sederhana bisa. Tapi kalau memang tadi 41:50 dikatakan dalam ya begitu sangat 41:52 traumatik pada batas tertentu memang 41:55 harus dibantu. Dengan bantuan-bantuanlah 41:58 terapis nanti akan seperti tadi menjahit 42:00 kembali ya luka-luka ilustrasi fisik 42:03 tadi 42:05 dirapikan dulu ya. bagian-bagian yang 42:07 malah memunculkan ee ketidakbagusan 42:11 atau ketidaksehatan ee bagian-bagian 42:14 lain harus di toreh ya, dipotong, 42:18 diambil lagi bagian baru dirapatkan. 42:20 Itulah yang disebut bantuan-bantuan 42:22 terapis. Memang pada batas-batas 42:25 tertentu tidak bisa dilakukan sendiri 42:27 tergantung berat dalam ringan itu 42:29 ee langkah yang tadi sudah dilakukan 42:31 mencari pertolongan sudah bagus. Tapi 42:32 kalau kita memang belum dikata sudah 42:34 ketemu tapi enggak enggak nyaman, ya 42:36 berarti perlu 42:38 kecocok kecocokan. 42:40 Iya. 42:40 Karena terapis juga macam-macam ya. 42:42 Bagaimana dia mencoba mengkaitkan ini 42:45 sebagai sesuatu kenyamanan sangat betul. 42:47 Kalau sudah enggak nyaman pasti dari 42:49 awalnya pun enggak akan bisa dia 42:52 mendapatkan kelonggaran yang tadi plong 42:55 gitu ketika sudah dia bercerita. Karena 42:57 mungkin ada terapis yang langsung 42:58 judgement. 43:00 Oke. 43:00 E iya, Ibu sih salah WA. Udah. 43:03 Jadi deh. [tertawa] 43:05 Jadi ini bukan soal ego atau gengsi ya 43:09 kalau sampai terjadi hal semacam ini. 43:11 Dan memaafkan juga ee sebuah proses 43:15 proses 43:15 dan prosesnya itu yang perlu kita 43:17 sadari. Enggak ada orang yang bisa 43:19 langsung maafin juga kan. 43:20 Betul. 43:21 Termasuk diri kita gitu ya, Ikhwan 43:23 Akhwat. 43:24 Yang jelas kita semua punya timeline 43:26 sendiri. 43:27 I. 43:28 Oke, ini ada pertanyaan tidak ada 43:30 namanya lagi. Kalau kesulitan memaafkan 43:33 itu memang berdampak pada kesehatan 43:36 kita, saya yang gelisah tidur padahal 43:39 enggak sadar bahwa ini karena tidak 43:41 memaafkan orang, 43:43 kualitasnya 43:45 menurun terus. Saya harus gimana ya, 43:47 Dok, terapi gitu. Tapi saya mau ngingat 43:51 yang harus dimaafin banyak. [tertawa] 43:54 Oh, gitu. Jadi anu ya apa menderita 43:56 banget ya. 43:58 Iya. Ini yang tadi ee kita tentu buat 44:03 prioritas. 44:04 He 44:05 pasti banyak ya. Kalau kita ingat-ingat 44:07 suatu kejadian yang membuat kita belum 44:09 menyelesaikan dan menuntaskan maaf 44:12 jas pasti banyak karena interaksi antar 44:14 manusia 44:15 ketemu dengan beragam orang. 44:16 Iya. 44:17 Jadi buat prioritas mana yang memang 44:19 kalau diingat-ingat akan banyak enggak 44:21 apa-apa tapi satu-satu mulai diis. Oh 44:23 ini sudah selesai 44:24 diurai. Ah, dilis kasih lias ini topik 44:27 ini dengan si fulan selesai tiap hari 44:30 insyaallah selesai ya sebelum mau tidur. 44:33 Oh waktunya di situ lebih tepat ya. 44:35 Iya. Sebelum mau tidur dalam keadaan 44:37 yang relatif kita sebut tenang ya kita 44:39 juga akan masuk maka indikator tadi 44:41 tidurnya jadi nyenyak. 44:44 Bayangkan dulu si fulan kejadiannya 44:47 hari ini targetnya itu 44:50 satu ya. satu-satu 44:51 terus ya nanti fenomena lain lagi ingat 44:55 ubah persepsinya hilang lagi lis selesai 44:58 insyaallah lama-lama selesai 45:01 ya hanya tadi memang butuh waktu 45:03 iya iya 45:04 ya 45:04 jadi butuh waktu apalagi kalau yang 45:06 disimpan itu dendam yang sulit sekali 45:09 memaafkan ya 45:10 iya 45:11 karena bikin stres level naik tapi kalau 45:15 dendam itu masuk akal seperti misalnya 45:18 karena yang dilaku lakukan membuat aku 45:22 merugi bahkan bukan 100% tapi 1000% kan 45:25 dendamnya tinggi. [tertawa] 45:26 Itu gunanya terapi ya, Dok ya. Toh kita 45:28 pengin sehat. 45:29 Iya. Iya. Salah satu tentu bagian 45:31 daripada hubungan menuntut keadilan 45:33 H 45:34 itu adalah hak asasi. 45:36 Nah, terkait dengan ee 45:37 kan dia menuntut keadilan kan karena 45:39 sakit hati kemudian menuntut keadilan. 45:42 Penginnya apa yang terjadi dalam sesuatu 45:44 yang penyakit dihukum. 45:46 Nah, masalah hukum ini sudah bukan bukan 45:48 bagian kita. 45:52 memaafkannya bagian kita. Namun 45:54 bagaimana konsekuensi hukum itu sudah 45:57 bagian bukan bukan kita sudah ada proses 46:00 lain. 46:00 Ada tapinya kalau [tertawa] 46:02 ee penyelenggara hukum ini tidak adil 46:06 dan kita tetap menderita padahal 46:08 seharusnya ee dihukum itu. Terus what 46:11 should we do? 46:12 Oke. Ini tentu dialami juga oleh para 46:14 kenabian. 46:15 [berdehem] 46:16 He 46:16 kenabian-kenabian sudah memberikan 46:18 contoh ya. Tidak pernah selalu sebuah 46:22 fenomena kenabian diikuti oleh sebuah 46:24 pemerintahan yang sudah enak-enak saja. 46:27 Hm. 46:28 Justru itu pentingnya sebuah risalah 46:31 kenabian estafet menyampaikan kebenaran 46:33 termasuk di dalam mencoba untuk 46:35 meluruskan penegak-penegak hukum. 46:38 tidak pernah kemudian akan menjadi satu 46:40 tuntutan yang selalu 46:43 happy ending. Tidak selalu 46:45 gitu ya. 46:47 Tapi yakinlah 46:48 He 46:50 kebahagiaan hakiki pada masanya di 46:53 pengadilan Allah. 46:56 Pengalihan duniawi bisa semu dan 46:58 relatif. Yang benar bisa salah, yang 46:59 salah bisa jadi benar. 47:01 Namun memang usaha ini menjadi bagian ya 47:03 yang tadi kalau kita hubungan muamlat 47:05 lalu kita tahu wah wah hidup dengan 47:09 semua bagian daripada hukum yang jual 47:11 amburadul enggak apa-apa ikhtiar ya 47:14 bahkan 47:15 yang salahnya jadi benar yang benar jadi 47:17 masuk penjara 47:18 ada tuh 47:19 banyak kan 47:20 ya bagaimana Buya Hamka ya bagaimana 47:23 Soekarno bagaimana kemudian Mahatma 47:26 Gandhi 47:27 bagaimana Syah ee apa Komeni Ini 47:31 artinya fenomena-fena kebenaran. 47:32 Yakinlah momen Allah lebih tahu. Tapi 47:36 bukan berarti kita berputus asa dengan 47:38 adanya siklus daripada pemerintahan atau 47:42 kebijakan yang belum berpihak kepada 47:44 kebenaran. Itulah peran daripada 47:47 kehidupan menyampaikan risalah kebenaran 47:50 pada setiap zamannya. 47:52 Dan kita ada di situ semuanya. 47:54 Iya. 47:55 Oke. Ee, Dok, untuk orang-orang yang 47:59 membutuhkan bantuan profesional untuk 48:02 bisa move on dari soal memaafkan, bukan 48:05 minta maaf ya, minta maaf lebih gampang 48:07 meskipun faktanya meminta lebih sulit 48:09 ya, tetapi untuk soal maaf lebih mudah 48:12 meminta maaf 48:13 dan Oh, ada telepon masuk. Boleh, boleh. 48:16 Masih ada waktu kok. Silakan. Halo. 48:19 Halo. Asalamualaikum. 48:21 Waalaikumsalam. 48:23 Silakan. Dengan Ibu siapa? Hamba Allah 48:25 aja ya. 48:26 Hamba Allah deh. 48:28 Gini ee saya saya sudah memaafkan apa 48:31 belum ya kalau seperti ini ee apa 48:33 namanya saya dengan pasangan yang sudah 48:37 almarhum mohon maaf sudah almarhum itu 48:39 dulu punya kesan banyak yang cukup 48:43 menyakitkan hati saya gitu. He. 48:45 Kemudian ee setiap saya ingat tuh selalu 48:50 timbul lagi gitu loh perasaan yang eh 48:53 sakitlah sakit. Tapi saya selalu 48:55 berpikir begini, "Ah, Allah maha adil 48:59 gitu." Nah, kalau seperti itu saya sudah 49:01 memaafkan apa belum ya? 49:03 Oke. Masih sakit. Sudah mau mau maafin 49:06 belum ya, 49:06 Mas? Mas. Heeh. Makanya masih setiap ada 49:09 momen-momen yang tertentu gitu, ingat 49:12 aduh orangnya sudah enggak ada gitu. 49:15 Tapi gim dan sampai wafat mohon maaf 49:19 belum sempat sih saya dengar dia minta 49:21 maaf sama saya gitu tapi saya sih selalu 49:23 saya rawat ya ketika sakit 49:26 sampai selesai deh sampai 49:29 berpulang gitu. Tapi kok seperti itu ya 49:32 hati tuh gimana ya, Dok? 49:35 Baik 49:36 wahai hamba Allah. 49:38 Ikhlas memang tidak mudah, tapi mari 49:40 kita dengar apa kata dr. Fidan 49:41 luar biasa. Ibu sudah berani 49:43 mengungkapkan saja. Itu sudah 49:45 menunjukkan kebesaran hati ibu. Apalagi 49:48 ilustrasinya ini sampai orang itu sudah 49:49 meninggal nih. 49:50 He 49:51 ya. Bukan hanya enggak mungkin ketemu 49:53 lagi menuntut dia menyatakan pint sudah 49:56 enggak mungkin akan terjadi kan. 49:57 Iya. 49:58 Nah, apakah tadi Ibu katakan sebetulnya 50:00 juga sudah menyadari ibu sudah menerima. 50:03 Oh, sudah, Ibu sudah memaafkan itu ya. 50:05 Dan Ibu Bagus tadi menutup ya keadilan 50:08 hakiki terhadap apa yang tadi Ibu 50:10 katakan belum terselesaikan karena dia 50:12 sudah kembali kepada Sang Halik. 50:15 Yakinlah 50:17 memang Allah nanti yang akan menemukan 50:18 keadilan itu sendiri. Namun kita sendiri 50:21 He. 50:23 Jangan lagi memberikan tadi 50:27 pernyataan-pernyataan 50:29 untuk tidak memaafkan. Bahkan akan lebih 50:32 dahsyat lagi, Bu, kalau Ibu katakan tadi 50:34 sejauh mana leveling yang sebenarnya 50:35 kita ee sudah sampai pada ketulusan kita 50:40 doakan, Pak. 50:42 Jadi bukan hanya memaafkan ya, apalagi 50:45 kalau hubungan ee begitu sangat dekat 50:47 ya, pasangan hidup, anak dan sebagainya. 50:50 Doakan sudah ya sudah kita memaafkan. Ya 50:54 Allah, semoga Engkau juga memberikan 50:56 ampunan kepada apa yang dilakukan dari 50:59 dinamika yang terjadi. Itu pahala 51:02 terhadap apa yang kemudian kita berikan 51:04 maaf. Dianya kemudian juga terbebaskan 51:07 dari beban kesalahan. Imbasnya kepada 51:09 kita, Pak. 51:10 Iya. 51:11 Kepada kesehatan kita. kepada nanti 51:13 manifestasi Allah yang memang selalu 51:15 akan memberikan apa yang dijadikan 51:19 kebaikan-kebaikan itu berlipat ganda 51:21 lebih dahsyat lagi. Insyaallah Mbak 51:24 sudah menuju kepada proses pemaafan 51:27 walaupun tadi dikatakan dinamikanya 51:29 masih kadang-kadang muncul itulah 51:31 namanya yuaswisu fi sudurinas 51:34 minal jinnati wannas. Kita berhadapan 51:36 dengan musuh-musuh yang memang masih 51:38 enggak mau berhenti. Orang yang tulus 51:40 maafkan tuh pasti diganggu tuh oleh oleh 51:43 setan tuh. He ma begitu aja 51:47 udah maafin enggak enggak ingat loh 51:49 waktu itu udah itu yang namanya yasunas 51:52 akan terus berlangsung dan yakinlah 51:53 kembalikan kepada ee Allah dan Allah 51:57 nanti yang akan memberikan keadilan 51:59 ketika kita memang sedang mencoba untuk 52:01 memberikan ee harapan. Nah, harapan ini 52:04 jika ingin tadi mengukur apakah sudah 52:06 pada leveling yang makin tulus, doakan. 52:09 Kalau itu sudah terjadi, Mbak, 52:11 insyaallah. 52:12 Masyaallah. 52:12 Doa Mbak begitu sangat akan membuat 52:15 kehidupan Mbak sendiri kemudian berjalan 52:17 semakin tenang. Almarhum yang almarhumah 52:21 yang tadi Mbah sebutkan juga kembali di 52:23 dalam proses pengadil kan. Terus nih 52:26 dalam kubur itu terjadi proses sedang 52:29 ada pengadilan-pengadilan. Nah, bukakan 52:31 pintu maaf itu punya dua kemenangan. 52:36 Kemenangan untuk diri kita dan 52:38 kemenangan juga memberikan peluang 52:39 kepada yang bersangkutan untuk mendapat 52:41 ampunan. 52:42 Masyaallah, keren banget bahasan kita. 52:43 Sayang, kita di batasi oleh waktu. Jadi 52:47 untuk Dr. Fidyansyah, SpKJ. MPH kali ini 52:53 akan memberikan closing idea. Silakan. 52:56 Iya, Ikhwan dan akhwat ee Rasil yang 52:59 berbahagia, 53:01 kutipan terakhir ini tentu akan menjadi 53:03 leveling-leveling menuju kepada maaf 53:05 yang sesungguhnya. 53:07 Silakan nanti ikhwan dan akhwat membuka 53:09 surah Al Imran 1334. 53:13 Di situ ada leveling, maaf yang akan 53:15 bisa menjadikan kita mudah. Yang pertama 53:17 Allah mengatakan dalam surat itu, 53:20 "Kalian akan mendapatkan ampunan dariku 53:22 dan surga yang akan seluas langit dan 53:24 bumi jika kalian membiasakan." Yang 53:27 pertama adalah selalu punya jiwa untuk 53:29 berinfak. 53:30 He 53:31 infak dalam artian semangat untuk selalu 53:33 memberi. Memberi. Memberi. Memberi dalam 53:36 keadaan lapang maupun sempit. Kalau 53:38 dalil dalam keadaan lapang enak ya 53:41 memang lagi ber. Nah, padahal penitan 53:43 dalam keadaan sempit juga. Nah, 53:44 bagaimana? Maaf, dimulai dengan 53:46 kebiasaan memberi dulu. Memberi apapun. 53:49 Kalau memberi dalam keadaan lapang, oke 53:51 dengan uang, materi, tapi dalam keadaan 53:53 seit apa? Dengan diri. Dari mana 53:55 caranya? Senyummu kepada saudara 53:57 sedekah. 53:58 Jadi biasakanlah menebar kehidupan ini 54:00 dengan semangat untuk senyum tapi jangan 54:03 senyum sendirian dan di pojok dan bahaya 54:06 nanti ya. 54:07 Yang kedua, waliminal giz. Kekecewaan 54:10 itu harus kita kendalikan. mengendalikan 54:12 emosi adalah kata leveling kedua setelah 54:15 membiasakan memberi karena hidup tidak 54:17 selalu lancar dan mulus-mulus saja. Maka 54:20 yang ketiga kalau sudah bisa memberi 54:22 mengendalkan emosi, maka dia harus 54:25 walinas. 54:27 Dia harus juga punya karakter untuk 54:29 selalu membiasakan diri memaafkan pada 54:32 setiap situasi yang pernah terjadi pada 54:33 kehidupannya. Mudah-mudahan Idul Fitri 54:36 yang baru saja kita lalui, yang kita 54:38 selalu isi dengan kata saling maafkan. 54:41 Bukan hanya sekali lagi meminta, namun 54:44 juga berikan maaf pada setiap 54:46 ingatan-ingatan memori yang pernah 54:48 terjadi dari hal-hal yang mengcewakan. 54:50 Masyaallah. 54:50 Subhanallah wabihamdih. 54:54 Masyaallah. Terima kasih, Dr. Fidiansyah 54:57 dan ikhwan akhwat di manaun radio ini 55:01 bisa disimak ya. Ternyata memaafkan itu 55:04 lebih ke soal melepaskan beban beban 55:08 emosional kita selama ini yang 55:10 dibawa-bawa. Minta maaf bisa jadi lebih 55:13 mudah ya. Baik, mudah-mudahan bahasan 55:15 kali ini ee membuka sekat pemahaman baru 55:18 bagi kita terkait dengan maaf dan 55:21 memaafkan. Makasih ya, Dok, ya. Billahi 55:23 taufik wal hidayah. Wasalamualaikum 55:25 warahmatullah wabarakatuh.