Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- Brail [musik]
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma
- sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.
- Dipancar luaskan dari jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimanggis Cibubur
- Bekasi, Radio Silaturahim untuk Islam
- yang satu. Ikhwan dan akhwat yang
- dirahmati Allah Subhanahu wa taala.
- Bagaimana kabar Anda di sore hari ini?
- Alhamdulillah kembali kita berjumpa
- dalam tausiah sore bersama Ustaz Wahyu
- Hudi KS pembahasan kajian kitab Mausuatu
- Adabil Islamiyah. Tema kita yaitu
- tentang 11 adab memuliakan tamu. Telah
- hadir Ustaz Wahyu DKS di studio Rasil
- saat ini. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Sehat, Ustaz?
- Alhamdulillah
- baik.
- Baru sembuh.
- Baru sembuh.
- Sakit apa sih kabarnya, Ustaz?
- Ya mungkin kelelahan aja lah sama
- infensa.
- Mesti betres ya 2 minggu ya
- 13 hari.
- 13 hari ya 2 minggu berarti. Baik
- [berdehem] ikhwan dan akhwat. Saya Bi
- Agus ee di studio ada Ondi dan juga ada
- Yusuf Subangkit akan menemani Anda
- hingga nanti pukul .30 sore. Langsung
- saja ikhwan dan akhwat kita akan
- dengarkan pemaparan yang akan
- disampaikan oleh Ustaz Wahyu DKS.
- Tafadol ustaz.
- [batuk][berdehem]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Innalhamdalillah
- nahmaduhu waasta'inuhu wa nastagfiruh wa
- naud nauzubillahi min syururi anfusina
- wamin sayiati a'malina.
- May yahdihillahu fala mudillalah. Wam
- yudlil fala hadialah.
- Masyaallahu kan. Wama lam yasya lam
- yakun. La haula wala quwwata illa
- billah. Ashadu alla ilahaillallahu
- wahdahu la syarikalah wa ashadu anna
- muhammadan abduhu wa rasuluh wasalatu
- wassalamu ala rasulillah wa ala alihi wa
- ashabihi wa mawalah
- auzubillahiminasyaitanirrajim
- ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqo
- tuqatih wala tamutunna illa wa antum
- muslimun amma ba'duq
- hadis kitabullahir
- Haji Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- umri muhdas wa muhdasin bidah wa bidatin
- dolatin
- [batuk][berdehem]
- ikhwan akhwat pemirsa rasil visual dan
- pendengar radio silaturahim yang semoga
- dimuliakan Allah subhanahu wa taala
- semuanya.
- Alhamdulillah ee atas izin, hidayah
- serta inayah Allah saya diberikan
- kesempatan untuk kembali berjumpa
- ya dengan ikhwan dan akhwat semuanya
- yang padahal kemarin tuh bersamaan sakit
- itu dengan Ustaz Haji Muslim
- ya. Jadi selisih 4 hari
- Ustaz Haji lebih dulu sakit, 4 hari
- kemudian saya sakit. Di hari ke-15 Ustaz
- Haji dipanggil Allah.
- Iya. Terus saya mikir, aduh jangan
- berarti saya akan nyusul nih. Nah,
- rupanya belum nyusul ini belum ya bukan
- tidak. Jadi belum nyusul. [berdehem]
- Semoga Ustaz Haji diberikan tempat yang
- mulia di Allah jalla.
- Amin. Amin.
- Karena saya juga salah seorang ya hamba
- yang menjadi saksi atas kesungguhan
- beliau [mendengus]
- di dalam ee urusan umat ya.
- Menjalankan amanah [berdehem]
- ya.
- Iya. Menjalankan amanah dari imam ya.
- Iya. Jadi beliau tuh yang membangun
- sanel alfatah.
- Beliau yang pertama kali bersama
- keluarganya di situ. Ditambah lagi ustaz
- takrif dari Cibubur dan seterusnya.
- Sampailah sekarang jadi sebuah pesantren
- yang ee alhamdulillah punya santri cukup
- banyak.
- Heeh.
- Ya. Dan juga ee orang-orang di
- sekeliling pesantren sudah ratusan.
- Sekitar 500 kakak kurang lebih yang ada
- di sekitar situ.
- Awalnya dia meninggalkan keluarga ya di
- Lampung ya?
- Iya di Lampung. di sini saya
- aslinya orang Garut dan kemudian dapat
- amanat di Lampung di Lampung kemudian
- ditugaskan juga oleh imam di pesantren
- Alfath di Cilengsi.
- Heeh.
- Tahun [berdehem]
- 1.1.
- Nah, baik ee ikwan akhwatullah
- rahimakumullah. Pada kesempatan sore
- hari ini kita akan melanjutkan kajian
- ee kitab Mausuatu Adabil Islamiyah dan
- sekarang masuk di halaman 556
- tentang ee adabud diyafah ya. Adabudfah
- itu adab bertamu. Ee kemudian kita akan
- bahas khusus nanti ada dua. Jadi ada
- adab bertun itu ada adab sebagai tuan
- rumah yaitu 11 adab memuliakan tamu. Dan
- kemudian nanti ada adab bertamunya
- sebagai tamu. Kita akan bahas pada sore
- hari ini yaitu adab ee memuliakan tamu.
- Dan insyaallah ada 11 poin. Syekh Abdul
- Aziz bin Fatih Asayid Nadadi dalam
- kitabnya menjelaskan masalah ini. Dan
- sebelumnya kita awali dengan bacakan doa
- menuntut ilmu. Bismillahirrahmanirrahim.
- Rbi zidni ilman Allahummanfa bima
- alamtani waimni ma yanfauni warzuqni
- ilman yanfauni. Amin. [berdehem][batuk]
- Ikhwan akhwatillah rahimakumullah. Di
- dalam ee di bagian awal
- Syekh Abdul Aziz bin Fatih Asayid Nada
- dalam kitabnya Mausuatu Adabil Islamiyah
- menyebutkan ee Adabudyafah ya. Adab-adab
- ya, adabuda, adab-adab tentang bertamu.
- Ma min insanin illa waqod yastadifu
- ahadan fi baitihi. Jadi tidak ee setiap
- orang kena tidaklah setiap eh tidaklah
- di antara manusia kecuali ya kecuali
- pernah kedatangan tamu di rumahnya. Jadi
- artinya ee satu hal yang wajar, satu hal
- yang lumrah biasa kita kedatangan tamu.
- Nah, imma minal aqorib. Ee apakah
- mungkin tamu tersebut dari kerabat ya,
- karib kerabat a minal jiron atau mungkin
- dari tetangganya minal ikhwan atau ee
- teman-temannya atau saudara-saudaranya
- ghairihim atau dari yang lainnya.
- Wad minal adabil islam allatihtamma
- biha.
- [berdehem] Jadi bertamu itu merupakan
- salah satu adab Islam yang perlu
- diperhatikan.
- Wasaraha
- adaban
- likulli thin. Ya. Jadi Islam telah
- mensyariatkan ya beberapa adab bagi
- kedua belah pihak ya. Lidifi bagi eh
- tamu [berdehem]
- walil mudifi dan bagi orang yang di
- ditamui atau orang yang tuan rumah ya
- penerima tamu.
- Nah, jadi sebenarnya jadi wayambagi dan
- selayaknya likulli minhuma bagi keduanya
- ya maksudnya adalah bagi orang yang
- bertamu ataupun yang ditamui itu ya
- perima tamu ayyata
- biadihil adab ya. Jadi ada beberapa adab
- yang perlu diperhatikan dalam masalah
- ini. Hattafah [berdehem]
- tamru. Nah kemudian sampai menghasilkan
- ya. Jadi kunjungannya itu membuahkan
- hasil yang positif. Wamin hadil adab.
- Dan dari adab-adab ini antara lain
- alqismul awal bagian pertama yaitu adabu
- tataallaquohibidah.
- itu ada adab yang berkaitan dengan tuan
- rumah ya sebagai penerima tamu.
- Nah, al-adabul awal adab yang pertama
- sebutkan adalah anniyatus shihah.
- Niat yang saleh atau niat yang baik,
- niat yang benar.
- Kalau kita perhatikan dari awal kajian
- kitab ini hampir selalu di awal tuh
- melibatkan atau menyebutkan bahwa adab
- yang pertama adalah anniatus shihah ya.
- Niat yang niat yang baik atau niat yang
- lurus, niat yang benar. Kenapa? Karena
- memang niat ini adalah merupakan faktor
- yang paling penting dalam semua amal.
- Para ulama telah menetapkan bahwa amal
- itu ada syarat-syaratnya dengan disebut
- dengan ada surutus sihah, ada surutul
- kamal. Surutus sihah syarat sahnya amal
- itu ada dua. Yang pertama adalah ikhlas
- karena Allah. Yang kedua ittibaus sunah.
- Ya. Jadi ikhlas karena Allah dia
- melaksanakan sesuatu bukan karena
- faktor-faktor lain, bukan karena
- dorongan yang lain, tapi semata-mata
- karena Allah. Tidak ada faktor-faktor
- yang diselain karena Allah. Demikian
- pula ittibaus sunah maksudnya adalah
- mengikuti pola, mengikuti prosedur,
- mengikuti ee contoh dari Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Maka dua
- syarat ini menjadi surutus sihah atau
- syarat sahnya amal. Nah, ada juga
- disebut suratul kamal, syarat
- sempurnanya amalan. Antara lain syarat
- [mendengus] sempurnanya seperti halnya
- sibak, ya. Sibak itu adalah bersegera
- ya. bersegera untuk melakukan tindakan
- atau melakukan amal saleh. Jadi, tidak
- menunda-nunda pekerjaan. Nah, seperti
- contoh di Al-Qur'an kalimat sabiqu ila
- magfiratin. Sariu ila magfiratin. Ya,
- bersegeralah kepada ampunan Allah.
- Bersegeralah kepada amal saleh. Itu
- namanya adalah syarat sempurnanya.
- Adapun yang kedua suratul kamal itu
- adalah istimrariah atau mudawamah,
- berkesinambungan
- dan terus membiasakan gitu. Nah, itulah
- dis suratul kamal. Gimana praktiknya?
- Contoh di dalam salat gitu ya. Salat
- zuhur itu adalah sekarang jam 11.41
- ya kurang lebih
- di Jakarta 11.41.
- Nah, kalau seseorang salat zuhur pada
- waktunya, kemudian dia tepat waktu,
- salat berjamaah, melaksanakannya dengan
- keikhlasan dan melaksanakannya dengan
- contoh Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam ya dari mulai takbir sampai
- salam, maka orang itu sudah mencapai dua
- persyaratan. Pertama, suratus sihah,
- syarat sahnya ditempuh dan suratul kamal
- pun ditempuh syarat sempurnanya. Nah,
- jadi suatu sihat tadi kalau praktiknya
- sesuai dengan contoh maka terpenuhi.
- Nah, yang kalau seseorang salat ee jam
- .00 siang, padahal zuhurnya tadi sudah
- sebelum jam 12.00 tapi salatnya jam .00
- siang. Salatnya ikhlas karena Allah,
- tidak ada faktor-faktor lain, hanya
- karena terlambat saja. Kemudian yang
- kedua adalah dia pun melaksanakannya
- sesuai dengan contoh Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Dari mulai
- takbirnya, ruku, sujudnya sampai salam
- sesuai dengan contoh Rasulullah. maka
- dia mencapai satu persyaratan yaitu
- surutusi sihah tadi sampai pada syarat
- sahnya tapi syarat sempurna sempurnanya
- dia tidak sampai apa salat sempurnanya
- salat berjamaah ya terus di awal waktu
- tidak tercapai nah termasuk juga
- merapatkan saf di dalam salat berjamaah
- nah ini maka sering sekarang kan karena
- di social distancing banyak
- diperbincangkan
- gimana nih salat kita nih padahal sesuai
- dan perintah Nabi kan harus rapat
- Tapi realitanya di lapangan banyak yang
- jarang-jarang. Bahkan ada yang 1 m, ada
- yang ada yang 12 m. Ya, kalau misalkan
- jaraknya hanya terpisah mungkin selebar
- gadget gitu, selebar ee HP sih mungkin
- masih mending ya. Tapi ini ada yang satu
- 1 meteran. Nah, nah bagaimana seperti
- itu? Apakah sah salatnya? Para ulama
- ahli fikih menetapkan sahnya salatnya
- sah. Tetapi kesempurnaan salat tadi
- suratul kamal tidak tercapai.
- Itu jadi artinya kondisi darurat ini
- jangan dikehendaki. Kita berharap kepada
- Allah satu saat ditinggalkan semua itu
- kembali kepada pelaksanaan sesuai dengan
- contoh Rasulullah untuk merapatkan saf
- ya itu rapat bahu dan rapat kaki.
- Makanya di beberapa tempat ada yang
- tidak pernah social distancing ya
- seperti di Alfatas ini tidak pernah
- ya alhamdulillah tapi tidak pernah ee
- terjadi sesuatu gitu tapi di tempat lain
- ada juga yang melakukan seperti itu.
- Jadi intinya ee social distancing di
- dalam salat itu hukumnya sah tetap
- tetapi kesempurnaan tidak tercapai dan
- ini kondisi darurat jangan dikehendaki
- oleh kita. Satu hal yang terus kita
- prihatinkan dan selalu mohon kepertolan
- kepada Allah agar suatu saat nanti kita
- dibebaskan dari semua itu ya. Amin
- Allah.
- Amin. Amin.
- Baik para ikhwan. Jadi sekali lagi bahwa
- eh Syekh Abdul Aziz bin Fatih Sayid
- Nadla di dalam kitabnya Musul atau
- Adabil Islamiyah hampir setiap bab
- menampilkan al-adabul awal itu anniyatus
- shihah. Niat yang saleh, niat yang
- benar, niat yang lurus. Karena niat
- menjadi faktor yang utama. Jadi sebagai
- tamu eh sebagai tuan rumah di dalam hal
- ini hendaknya menyambut tamunya itu
- dengan mengharapkan pahala dari Allah.
- bukan mengharapkan
- balasan dari yang bertamu. Nah, ini juga
- masyaallah kadang-kadang kan seringkali
- ada seorang menyebut tamu itu beda-beda.
- Kalau tamunya itu seorang yang kaya raya
- gitu ya atau seorang yang diharap akan
- pemberiannya, wah disambut dengan baik.
- Tetapi ketika tamunya itu adalah
- orang-orang yang biasa saja bahkan
- terkesan, "Ah, ini makanya semah ini
- kalau sunah saya semah tuh ngehesekun
- buka imah gitunya." Jadi menyusahkan
- orang yang punya rumah. Nah, jadi
- akhirnya tanggapannya pun jadi beda
- gitu. Nah, ini padahal ketika dia
- menerima tamu, dia harus luruskan
- semata-mata karena Allah. Maka hendaknya
- keikhlasan ditanamkan dalam hal ini,
- menghidangkan makanan yang disajikan
- harus dengan keikhlasan ya. Berikan
- sambutan yang baik pada tamu yang datang
- siapapun orangnya ya. Nah, kecuali orang
- yang niat jahat lain lagi gitu ya. Nah,
- kemudian ee sang tamu pun sama hendaknya
- meluruskan niat ketika dia bertamu
- semata-mata karena Allah. Kalau dengan
- itu, maka kedua belah pihak jadi pahala.
- Yang datang dapat pahala, yang menerima
- tamu pun mendapat pahala.
- Pahala.
- Nah, itu yang pertama.
- Aladabutani. Adab yang kedua adalah
- husnu istiqbalid diifi ya. Jadi, ee
- menerima tamu dengan baik.
- [batuk][berdehem]
- sebutkan sinifahu
- yaumi
- ya.
- Jadi bahwasanya hendaklah tuan rumah itu
- menerima tamunya dengan baik yaitu
- denganassum dengan senyum
- dengan senyum. Jadi jangan datang tamu
- cemberut gitu ya. datang tamu kayaknya
- ee diperlihatkan
- berbagai hal yang membuat tamu pun jadi
- tidak nyaman. Nah, jadi hendaknya wajah
- yang ceria mengucapkan kata-kata selamat
- datang marhaban. Rasulullah sahu al
- wasallam itu kedatangan putrinya saja
- itu pakai marhaban.
- Marhaban ya bnati. E selamat datang
- wahai putriku. Masyaallah luar biasa.
- Kita begitu enggak? Ee ya kita datang
- orang tua misalkan kadang-kadang eh Pak
- ada apa nih?
- Ada apa nih? Kok datang lama-lama ee
- tiba-tiba datang gitu makan itu kan
- jangan nyaman. Wih, ini bukannya
- disambut dulu atau apa gitu malah
- ditanyain seperti itu.
- Suuzon dulu.
- Iya. hendaknya kata-kata selamat datang
- ya dengan sambutan yang penuh dengan
- keceriaan dengan wajah yang ee apa
- memberikan kesan bahwa sang tuan rumah
- ini menyambut dengan baik. Nah, jadi ini
- adalah akan melapangkan hati tamunya.
- Nah, bahkan disebutkan di sini
- bahwasanya ee sebagian orang kadang
- tidak mempedulikan masalah ini.
- Seringkiali kadang acu tak acu datang
- tamu tuh ya tidak memberikan senyum
- kepada tamunya. Nah, bahkan kadang
- menunjukkan muka masam ya. Muka masam
- tanda tidak setuju tanda merasa
- keberatan dengan datangnya tamu itu.
- Tapi kan zaman sekarang justru malah
- seperti itu, Ustaz.
- Iya. di zaman Covid saat ini justru
- ee
- kita apa Rasulullah mengharuskan
- silaturahim,
- tapi sekarang itu silaturahim kalau bisa
- ditunda dulu.
- Iya.
- Nah, ini gimana, Ustaz?
- Iya, itu artinya ee kita proporsional
- saja. Artinya kalau misalkan memang
- kondisinya
- dalam kondisi rawan ya misalkan contoh
- oh ini yang ditamu itu dalam kondisi di
- situ di zona merah misalkan ya itu lain
- lagi. Tapi kalau
- zona hijau dan tidak ada masalah ya
- kenapa sunah ini tidak diamalkan. Nah
- sunah ini ditinggalkan kan kalau kondisi
- darurat gitu.
- Jadi kalau selama tidak kondisi darurat
- maka senjata di tetap dilakukan ya.
- H. [berdehem] Nah, kemudian,
- nah di sini ada bahkan sampai ada syair
- ya yang indah bahwa jadi bahwasanya
- ketika kita menerima tamu ya walaupun
- misalkan kita menyuguhkan dengan segala
- fasilitasnya siap makanan buah-buahan
- minuman yang lengkap tapi wajah kita
- tidak memberikan senang dengan kehadiran
- tamu itu. Nah ini jelas mengganggu gitu
- ya. akan lebih baik dengan wajah yang ee
- penuh persahabatan, wajah yang senang
- walaupun ya walaupun
- memberikan suguhan dengan apa adanya
- atau bahkan tidak memberikan suguhan
- secara fisik, tetapi penampilan ya dan
- sikap yang diberikan sungguh sangat
- mengesankan. Ini itu lebih baik. Maka
- ada seorang ee apa? Seorang ahli syair
- menyatakan, "Wamal khusbu lil adyafi
- ayaksural qiro." Ya, jadi yang
- menyenangkan tamu itu bukanlah banyaknya
- hidangan.
- Walakinnama
- wajhul karimil khosibu. Namun yang
- membuat senang itu adalah wajah yang
- ceria. Tuh, wajah yang ceria yang
- kesannya memuliakan tamu itu. Jadi,
- senyum seorang kepada orang lain itu
- adalah sedekah. Nabi bersabda,
- "Eabassumuka
- fi wajhi akhika laka shodqah."
- Jadi senyum di hadapanmu, senyummu di
- hadapan saudaramu itu adalah sedekah
- bagimu. Masyaallah. Jadi kalau kita
- sering senyum, sedekah di perjalanan ya,
- tapi jangan senyum-senyum sendiri nanti
- dianggap orang gila lagi ya. Artinya
- terutama kepada orang yang kenal atau
- kepada orang yang misalkan sedang nunggu
- sama-sama nunggu kendaraan umum ya
- enggak apa-apa senyum sewajarnya aja
- tapi jangan terus-terus senyum
- senyum-senyum terus nanti orang ih oke
- bi janganjan ni nah orang gila baru yaah
- jadi artinya ada batasannya nah
- Rasulullah tabumuka fi wajhi akhika laka
- shodqo senyummu kepada saudaramu itu
- adalah sedekah bagim ya Allah Jadi
- ternyata sedekah tidak harus dengan
- harta terus ya, tidak harus dengan itu,
- tapi dengan senyum saja bisa jadi
- sedekah. Kemudian Rasulullah sahu alaihi
- wasallam menerima para utusan yang
- datang pada beliau pun ya dengan baik.
- Beliau senantiasa berkata contoh beliau
- berkata pada utusan Abdul Qais. Beliau
- mengatkan marhaban bil waqdi. Ya
- marhaban bil wafdilladzi
- marhaban selamat datang. bil
- wafdilladina jau giaya
- wala nadama yang datang tanpa akan
- kecewa dan tidak akan menyesal.
- Masyaallah. Jadi begitu datang tu sudah
- diberikan sambutan yang luar biasa
- seperti itu bahwa engkau datang kemari
- selamat datang dan ee istilahnya secara
- kami menjamin engau tidak akan kecewa
- pulang dari sini dan tidak akan
- menyesal. Artinya sudah disiapkan untuk
- menyambut tamu yang seoptimal mungkin.
- Nah, ini adalah di bagian yang kedua.
- Nah, demikian pula tadi Rasul S wasallam
- kedatangan putrinya. Beluman, "Marhaban
- ya bnati ya. Marhaban ya bnati. Selamat
- datang wahai putriku." Masyaallah.
- Kemudian Ummu Hani menuturkan ya Umar
- radhiallahu anha menuturkan juga ee aku
- datang menemui Nabi Rasulullah wasallam
- bemudian beliau bersabda marhaban biummi
- Hani. Ya, selamat datang wahai Ummu
- Hani. Nah, ini jadi ini disebutkan di
- dalam hadis Bukhari nomor 357
- ya dan Muslim nomor 336. Jadi itu begitu
- indahnya Rasul Sallahu Alaihi Wasallam
- menyambut tamu. Saya masih teringat
- ketika Adi bin Hatim H
- Adi bin Hatim ini seorang pemuka Nasrani
- ya yang dalam ee sejarah disebutkan Adi
- bin Hatim ini punya adik namanya
- Fatimah. Nah, Fatimah ini adalah sudah
- masuk Islam, adiknya Adi bin Hatim. Nah,
- kemudian Adi bin Hatim itu
- ingin tertarik itu ingin datang pada
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Nah, berita sudah sampai kepada Rasul
- bukan akan kedatangan Adi bin Hatim.
- Maka ketika Adi bin Hatim datang sudah
- dari kejauhan Rasul sudah
- menghampirinya. Jadi Rasul keluar dari
- rumah menghampirinya. Oh, alhamdulillah.
- Marhaban ya Adi bin Hatim. Selamat
- datang wahai Adi bin Hatim. Masyaallah.
- Kemudian ee silakan silakan Adin Hatim
- kemudian melihat demikian karena
- sebelumnya tergambar bahwa Muhammad itu
- adalah sebuah kerajaan ya. Jadi sebuah
- kekuasaan yang di situ mungkin akan ada
- penjagaan yang ketat tapi ternyata apa?
- Yang datang menyambut Rasul sendiri.
- Maka kemudian dia bersumpah, "Demi Allah
- saya tidak pernah melihat perlakuan raja
- seperti ini."
- He.
- Oh, masyaallah.
- Masih menganggap raja.
- Iya. Jadi asalnya kan menganggap raja.
- H. Nah, kemudian setelah itu maka
- disambut dengan baik oleh Rasulullah,
- ayo masuk. Nah, kemudian ketika itu saat
- mau ke rumah Rasulullah melihat ada
- ibu-ibu yang keberatan mengangkat
- barangnya lalu dibantu oleh Rasul sahu
- alaihi wasallam. Maka di demi Allah saya
- tidak perniat melihat tidak pernah
- melihat perilaku raja seperti ini. Maka
- kemudian setelah itu masuk ke rumahnya.
- Nah, di rumahnya Rasul itu sangat
- sederhana dan ada bantal satu oleh Rasul
- diberikan kepada al binati. Kata Ali,
- "Engkaulah pakai engkau tamuku yang
- lebih hak untuk memakainya." Maka
- diberikanlah bantal itu. Maka Adi bin
- Hatim pun bersumpah, "Demi Allah, saya
- tidak pernah melihat perilaku raja
- seperti ini." Masyaallah, ini luar
- biasa. Jadi, ini menunjukkan bahwa Rasul
- itu memang bukan raja. Ya, jadi alangkah
- kelirunya kalau Rasul disebut sebagai
- seorang figur kekuasaan sebagaimana
- dalam ya pandangan-pandangan ee bagian
- kaum muslimin bahwa Rasul itu figur
- kekuasaan. Berarti tidak Rasul itu
- seperti itu. Makanya lastu bik aku bukan
- seorang raja. Tuh. Maka ketika
- memperlakukan Adi bin Hatim pun
- demikian. Maka sudah itulah terjadi
- dialog dengan Adi bin Hatim dan sampai
- akhirnya Adi bin Hatim masuk Islam. Ya,
- didialogkan kata Rasulullah, "Ya Adib
- Hatim, apa yang mengalami engkau
- sehingga belum masuk Islam? Apakah
- karena melihat jumlah kami sedikit?"
- Kata Rasulullah, "Demi Allah, satu saat
- umat Islam akan terbentang dari barat
- sampai ke timur." Masyaallah. Atau kami
- melihat [berdehem]
- kami tidak punya kekuasaan, tidak punya
- kekuatan. Demi Allah, satu saat nanti
- akan kau saksikan Parsi dan Romawi akan
- ada berapa pangkuan Islam. Nah, begitu
- disun kaget dia, "Hah, Parsi?" Kisra
- Persia. Iya, Kisra Persia. Nah, termasuk
- tadi juga bahwa satu lagi engkau melihat
- kami dalam keadaan miskin satu saat
- nanti umat Islam akan sulit memberikan
- sedekah berikan zakat sulit sedekah
- sulit dan ternyata itu terjadi dan oleh
- Ali bin Hatim ternyata teralami berita
- itu ya teralami yaitu ee kekuasaan
- umat Islam waktu itu atau misalkan
- kekuatan Islam Parsi dan Romawi dalam
- pangkuannya. Padahal Rasul tetap di
- atasah kurma. di masa Khalifah Umar,
- Parsid dan Romawi dalam pangkuan Islam,
- tapi Umar tidak punya istana. Istana
- Umar adalah masjid masjid Nabawi. Nah,
- ini menunjukkan bahwa seseorang dalam
- melihat figur kepemimpinan rasul dan
- khalifah itu hendaknya secara cermat
- secermat mungkin jangan sampai gagal
- paham. Nah, jadi tidak akan di
- dikhawatirkan gitu ya tentang keberadaan
- ee kepemimpinan dalam Islam.
- Nah, [berdehem]
- itulah antara lain ee saya singgung
- sedikit tentang bagaimana Rasul menerima
- tamu dengan baik. Kemudian yang ketiga,
- aladabus salis ya.
- Adabus salis. Adab yang ketiga, ijlasud
- diifi fi makanil laq.
- Jadi ee menempatkan tamu di tempat yang
- layak.
- Jadi menempatkan tamu di tempat itu
- termasuk bentuk penerimaan tamu yang
- baik ialah antara lain tuan rumah
- mempersilakannya duduk di tempat yang
- layak. Seperti tadi Rasul memberikan
- bantal p binatim walaupun Rasul tanpa
- bantal gitu. Nah, ini menunjukkan ee
- penghormatannya luar biasa. Jadi jangan
- sampai ee tuan rumah duduknya di atas
- kursi goyang gitu ya, kursi yang empuk
- dan enak
- atau di apa di atas kursi yang mahal.
- Sementara tamunya hanya di dikasih kursi
- yang biasa saja. Nah, diu harus
- sebaliknya kita muliakan tamu dengan
- diberikan tempat yang layak.
- Kalau seandainya rumah kita [berdehem]
- kontrakan petak tiga, bagaimana, Ustaz?
- Atau kontrakan petak satu?
- Ya, di situ tentu harus menyesuaikan.
- Kalau misalkan rumah ini dia memberikan
- tempat untuk masuk akan mukanan fitnah,
- ya sebaiknya di luar saja
- ya. Di luar saja. Kalau ini masuk
- langsung ke kamar gitu ya. Wah itu kan
- aurat.
- Jadi sebaiknya di luar saja kalau
- seperti itu.
- Tapi yang terpenting tadi sikap sikap
- tindakan wajah kita yang menunjukkan
- senang dengan kehadiran tamu itu. Itu
- yang paling penting. Nah. Nah, kemudian
- [berdehem] jadi jangan sampai ya kita
- menempatkan tamu juga di tempat yang
- bisa melihat aurat keluarga kita. Nah,
- ini kadang-kadang seperti itu. Jadi
- akhirnya misalkan tamu ditempatkan di
- tempat yang bisa melihat ke dalam. Nah,
- itu bahaya. Enggak boleh. Jadi harus
- ditempatkan yang ee tempat yang positif,
- tempat yang baik, selamat dari dia
- melihat fitnah. Nah, kemudian juga
- diberikan aroma yang yang menyenangkan.
- Jadi jangan sampai di dekat toilet
- misalkan ya. Nah,
- tapi hendaknya dijauhkan.
- Nah, ini semua adalah merupakan bagian
- daripada mempersilakan atau memberikan
- tempat yang baik untuk tamu ya, tempat
- yang layak.
- Kemudian al-adabur rabi, adab yang
- keempat,
- [berdehem]
- takqdimul wajib difah wa ikromi diifi.
- Jadi artinya e menyuguhkan hak tamu dan
- memuliakannya. Jadi diutamakan ya
- mengutamakan, menyuguhkan, memberikan
- suguhan kepada tamu dan memuliakan tamu
- itu luar biasa.
- disebutkan di sini eh
- fainnahu yambagihibil bait ayuajila
- bqdimi
- haqqif.
- Jadi hendaklah tuan rumah segera
- menghidangkan.
- Jadi hak tamu seperti air dingin. Jadi
- kalau datang tamu tuh jangan jangan
- diajak ngobrol dulu. sebaiknya adalah
- disediakan dulu suguhan kecuali kalau
- tamu itu tergesa-gesa ya
- kalau enggak punya suguhan
- ya jadi oh saya buru-buru ini mohon maaf
- kalau misalkan tamunya dalam keadaan
- nyantai gitu ya datang jangan diajak
- ngobrol sudah mau pulang baru
- disuguhinah itu mah sama aja dengan
- enggak boleh dimakan gitu ya
- itu sama saja ngusir secara halus Ustaz
- iya gitu
- kalau enggak punya suguhan gimana Ustaz
- kenapa enggak ya suguhan dengan apa yang
- adanya walaupun dengan air putih
- Nah, masa air putih enggak ada gitu ya.
- Walaupun dengan air putih itu tadi yang
- terpenting pertama kali harus lakukan
- adalah sambutan yang ramah. Sambutan
- yang dengan keceriaan menggambarkan
- bahwa kita ini senang dengan
- kehadirannya. Masyaallah. Nah, ini ya
- luar biasa. Memang zaman ini Al-Qur'an
- mengajarkan pada kita itu peristiwa Nabi
- Ibrahim.
- Iya. Ya, Nabi Ibrahim ini adalah yang
- dikenal seorang nabi yang sangat senang
- dengan kehadiran tamu.
- Oh, makanya kalau kita lihat sejarah ya,
- termasuk putranya pun, istrinya pun
- senang menerima tamu. Adanya kota Makkah
- sekarang yang begitu gemerlapan itu, itu
- dulu kan hanya karena dari tamu, tamu
- pertama datang ke Makkah itu suku Jurhum
- yang diterima oleh Hajar dan Ismail tu.
- Kemudian terjadilah pertukaran. Ajar
- punya air zamzam itu punya makanan dan
- terjadilah kehidupan di situ. Nah, suatu
- ketika Rasulull sahu alaihi wasallam ee
- memberikan diberikan gambaran oleh Allah
- Subhanahu wa taala tentang Nabi Ibrahim.
- Maka dalam Al-Qur'an dikatakan
- azubillahiminasyaitanirrajim.
- Hal ataka hadisu difi Ibrahimal
- mukramin.
- Sudahkah sampai kepadamu Muhammad cerita
- tamu Ibrahim yaitu malaikat yang
- dimuliakan?
- alaihi faqu salaman. Ketika mereka masuk
- ya ke rumah Nabi Ibrahim itu, mereka
- berkata salaman. Mengucapkan salam.
- Nah, qa salamun
- kaumun munkarun. Ya. Kemudian Nabi
- Ibrahim pun mengucapkan salam ya kepada
- mereka, menjawab salam mereka. Tapi
- mereka orang-orang yang belum
- dikenalnya. Nah, kemudian
- ila ahlihia
- biijli samin. Maka kemudian eh diam-diam
- Nabi Ibrahim lantus datang kepada
- keluarganya. Maksudnya kepada istrinya
- menyampaikan ya bahwa supaya disiapkan
- ada daging anak sapi gemuk yang dibakar.
- Jadi kemudian disiapkan ya e faqorahu
- ilaihim
- qala ala takulun. Jadi setelah itu Nabi
- Ibrahim menyiapkan makanan itu
- menghidangkan ya kepada para malaikat
- tadi. Nah, tapi kan para malaikat ini
- karena mujud manusia kan tidak tahu
- kalau malaikat kalau ini adalah malaikat
- maka disiapkan aja. Nah, begitu diin kok
- enggak dimakan-makan gitu akhirnya
- sempat rasa khawatir, rasa risih juga
- loh kok ini siapa gitu ya. Nah, akhirnya
- setelah itu kata
- ee Nabi, "Kenapa Anda tidak memakannya?
- Kenapa kalian tidak makannya?"
- Akhirnya malaikat itu terus terang bahwa
- saya adalah utusan Allah untuk
- mengabarkan kepada Anda bahwa
- istri Anda akan mengandung, akan
- mempunyai anak. Nah, kemudian itulah
- ternyata calonnya Nabi Ishak ya. Jadi
- akan hamil Siti Syarah itu. Dan
- masyaallah Allah gambarkan demikian.
- Nabi Ibrahim adalah nabi yang dijadikan
- panutan begitu mulianya dan ia ingin
- mendatangkan tamu ke rumahnya setiap
- hari.
- Nah, inilah dijadikan contoh oleh Allah
- Subhanahu wa taala di dalam surah
- Azzariyat di ayat antara lain di ayat 24
- sampai 27.
- Dalam ini karena Rasul sabda, "Mana
- yukminu billahi wal yaumil akhir
- falyukrim diifahu." Barang siapa yang
- beriman kepada dan hari akhir maka
- hendaklah memuliakan tamunya.
- Nah, para ikhwan rahimakumullah ee
- karena
- waktu juga kita harus jeda dulu
- kayaknya.
- Betul
- ya? Nah, kita jeda dulu ya baru sampai
- bagian keempat. Mudah-mudahan bisa bisa
- sampai 11. Kalaupun tidak ya kita tidak
- kita paksakan. sesuai dengan waktu yang
- tersedia. Demikian ee baru empat bagian.
- Mudah-mudahan ada manfaatnya dan kita
- bisa mencanyanya dengan baik.
- Barakallahu fikum.
- Baik, Ustaz. Terima kasih [berdehem]
- banyak, Pak. Ikhwan dan akhwat. Demikian
- tausiah yang telah disampaikan oleh
- Ustaz Wahyu DKS di sore hari ini. Tema
- kita yaitu 11 adab memuliakan tamu. Baru
- empat, Ustaz, ya?
- Iya.
- Masih kurang
- masih kurang tujuh.
- Tujuh. Nah, itu dia. Tapi setelah jeda
- ya,
- setelah jeda kita tambahkan mungkin dua
- atau tiga lah.
- Baik, nanti [berdehem] sisanya pada
- pertemuan depan. Iya,
- ikhwan dan akhwat, kami akan jeda
- sejenak. Setelah nada takwa berikut ini,
- kami akan kembali ke ruang dengar Anda.
- Tetaplah bersama kami. [musik]
- Hasil TV. [musik]
- Radio Silaturahim untuk Islam yang satu.
- Masih bersama Ustaz Wahyu Diks. Di
- kesempatan sore hari ini, kajian kitab
- Mausuatu Adabil Islamiyah dengan tema
- kita 11 adab memuliakan tamu. Baru tiga
- ee yang dipaparkan oleh Ustaz tiga
- hahempat.
- Empat oven baru empat bagian. Dan ustaz
- akan melanjutkan lagi mungkin sampai
- enam bagian tentang adab memuliakan
- tamu. Tafadul Ustaz.
- Baik. Bismillahirrahmanirrahim.
- Ee ikhwan akhwat rahimakumullah. Jadi
- tadi sudah empat adab yang saya jelaskan
- dan [berdehem]
- ee untuk adab yang kelima disebutkan
- al-adabul khamis yaitu ihdorut thaami
- ila makan diifi. Jadi menghidangkan
- makanan ke tempat tamu ya. Jadi ini
- kalau misalkan kita punya pavilun gitu
- ya, punya pavilun atau punya gas haus
- sendiri itu lebih bagus ya, lebih bagus
- dan kita hormati seoptimal mungkin ya.
- Saya yakin para pendengar hasil tuh
- banyak yang mampu membuat seperti itu
- ya. Membuat kesus, membuat ee atau
- misalkan di rumah kita sendiri boleh,
- tetapi tetap aurat ya itu harus dijaga.
- Iya. Saya pernah bertamu kepada salah
- seorang ee ya para seorang apa kaum
- muslimin gitu yang memang dikenal orang
- kaya. Terus ee ber saya ditempatkan di
- kamar tamu depan. Jadi di kamar depan
- yang kita tidak bisa melewati ee
- kamar-kamar yang lain ya. Jadi khusus
- kamar tamu di situ ada lengkap dengan
- toiletnya dan sebagainya ya. sehingga
- pihak keluarga tuan rumah ini tidak
- sempat tidak bisa berhubungan dengan
- kita. Nah, jadi walaupun di bagian
- depan. Nah, jadi kalau misalkan pihak
- tuan rumah atau anggota keluarga
- tersebut mau ada keperluan keluar tidak
- melewati ruang ruang tamu.
- Iya.
- Jadi ruang tamu itu sudah dilengkapi
- dengan kamar ya. ini misalkan ruang tamu
- nih di situ kamar khusus untuk tamu.
- Nah, jadi tidak nah ini yang terbagus
- dalam misalkan kita punya idealisme
- untuk
- idealnya seperti itu.
- Iya. Idealnya seperti itu ya menyiapkan
- ruang tamu. Maka kalau misalkan waktu
- itu tidak ada dengan apa adanya tentu
- aurat harus dijaga ya. Jadi jangan
- sampai karena ini kan tamu ee enggak
- apa-apa di rumah. Jadi kadang itu rumah
- ya dengan bebas melemparkan uratnya,
- membuka jilbabnya misalkan itu tidak
- boleh. Jadi tetap harus menjaga dalam
- kondisi seperti itu. Nah, maka ini dalam
- Islam dibatasi ya dibatasi ee seberapa
- lama tamu harus ada di rumah, boleh di
- rumah itu semua ada batasannya. Nah, di
- sini disebutkan ihdami ila makanifi.
- Jadi menghadirkan atau menghidangkan
- makanan ke tempat tamu. Maksudnya tadi
- kalau tamu itu kita tempatkan di tempat
- yang khusus, kita tetap harus
- memperhatikannya. Jangan sampai
- terlambat ya. Jangan sampai terlambat.
- Bahkan misalkan ketika malam harinya
- disiapin minuman. Karena kadang-kadang
- ee orang-orang kan [berdehem] ada yang
- terbiasa minum malam hari ya.
- Iya.
- Nah, ini juga jangan sampai karena
- seringkiali kadang terjadi pihak pihak
- tuan rumah tidak perhatian dengan tamu
- ya karena mentang-mentang sudah dikasih
- makan sore harinya itu ya. Nah, terus
- istirahat tidak diberikan minuman di
- situ. Nah, jadi minimal tuh minimal ada
- minuman ya. Lebih bagus lagi kalau ada
- minuman, ada buah-buahan, ada yang
- lainnya. Mungkin tamu itu sebelum tidur
- akan nikmati buah-buahan, kemudian minum
- dan sebagainya. Itu adalah merupakan
- satu bukti bahwa salah satu di antara ee
- bukti keimanan kita kepada Allah dan
- hari akhir lah fal yukrim diifahu. Maka
- disebutkan dalam hal ini ee Allah
- Subhanahu wa taala memberikan gambaran
- dengan kisah Nabi Ibrahim Alaih Salam.
- [berdehem] J Nabi Ibrahim itu
- menyuguhkan makanan ke tempat mereka.
- itu yang memang seharusnya dilakukan.
- Nah, kemudian yang keenam [mendengus]
- ya al-adabul aladabus sadis ya
- adabus sadis adalah adamut taqallufi
- syadid lidifi ya. Jadi artinya tidak
- berlebihan dalam menjamu tamu.
- Jadi kita siapkan kepada tamu itu
- sewajarnya
- dengan wajar dalam pengertian berusaha
- ya sebaik mungkin. Mungkin melebihi dari
- apa yang biasa kita makan juga boleh
- tetapi tidak berlebihan. Ya, maksud
- berlebihan di sini adalah jangan sampai
- membuat kita menjadi beban. Misalkan
- dengan pinjam sana pinjam sini ya
- akhirnya jadi utang. kita pun belum
- tentu bisa bayar hanya karena ingin
- menghormati tamu ya sampai akhirnya kita
- kemudian terelit dengan hutang. Nah,
- atau misalkan menghindarkan makanan yang
- terlampau banyak, tamunya cuma satu
- orang tapi makanannya satu satu meja
- penuh. Nah, ini juga berlebihan.
- Cukuplah satu orang ya satu piring
- misalkan gitu ya atau dua piring. Nah,
- yang satu buah-buahan, yang satu makanan
- ringan dan sebagainya. Nah, itu semua
- adalah hendaknya diperhatikan. Maka
- dalam hal ini ee Nabi Ibrahim juga
- mempertimbangkan waktu memberikan kepada
- tamu ah ini berapa orang nih yang datang
- sudah ini ada daging kambing eh daging
- gemuk tadi kemudian disiapkan setelah
- dibakar disiapkan. Nah, kemudian yang
- yang ketujuh aladabus sabi yai
- ya bahwasanya
- [berdehem]
- disebutkan e waizatuif
- al ma jaai fi suti yaumun wilatun
- ya. Jadi bahwasanya hak tamu itu
- sebagaimana telah disebutkan dalam sunah
- itu sehari semalam
- ya
- wadfatus salat ayyam.
- Kemudian
- ada lagi hak yang berkunjung itu adalah
- 3 hari ya 3 malam.
- Jadi salah satu ayam ba ilaiha eh wala
- talamfah
- faqalik. Nah, kemudian kalau lebih dari
- itu maka ee itu tidak menjadi keharusan
- bagi
- tuan rumah untuk menjamu tamu seperti
- pada malam-malam yang pertama. Nah, tapi
- balada
- fahua shodqoh. J kalau misalkan ee kita
- menjamu tamu lebih dari 3 hari ya itu
- sedqah untuknya. Tapi yang jelas yang
- ditekankan dalam Islam itu pertama hari
- pertama dan malam pertama itu itu
- ditekankan. Betul. Harus kita perhatikan
- tamu itu. Nah, kemudian ee adapun hak
- berkunjung sebenarnya dia hak berkunjung
- itu hak bertamunya adalah tiga 3 hari.
- Nah, maka Rasul bersabda, "Wa inna
- lizzaurika
- alaika haqqo." Sesungguhnya bagi tamumu
- itu terdapat hak-hak yang harus engkau
- tunaikan.
- Jadi artinya kalau hak bagi tamu berarti
- wajib bagi yang ditamui atau bagi orang
- yang ee punya rumah tadi.
- Nah, disebutkan alur itu adalah para
- pengunjung dan tamu. Rasul wasam
- bersabda, "Manana yillah akhir
- falyukrimahu."
- Itulah antara lain para ikhwan. Jadi
- pada yang ketujuh melahirkan hak-hak
- tamu dan para ulama pun berpendapat yang
- sama bahwa mereka memberikan juga
- membiasakan juga untuk menerima tamu
- [berdehem] dan ee memberikan
- penghormatan yang luar biasa kepada
- tamu. Demikian baru sampai tujuh karena
- kita harus menjawab pertanyaan.
- Iya betul Ustaz sudah ada sudah ngantri
- Ustaz kalau pertanyaannya.
- Baik terima kasih untuk Pak Kastam di
- Pondok Aren. Ustaz saya sedang menyimak
- sambil nyetir mobilya.
- Hati-hati Pak ya. Semoga selamat sampai
- di tujuan. Kemudian pertanyaan pertama
- datang dari ee Bunda Fitri, Pak Ustaz.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. [berdehem]
- Alhamdulillah, Teman-teman,
- saudara-saudara senang senang kalau main
- ke rumah kami. Katanya rumah kami itu
- sejuk, adem. Bukan karena AC, tapi
- karena banyak pohon. Dan kebetulan pohon
- mangga kami besar-besar, Ustaz. He.
- Tapi kami sedih sejak pandemi rumah
- tidak pernah ada tamu. Bagaimana menurut
- Ustaz? Apakah pantas kalau kita undang
- teman ke rumah tapi harus rapit dulu
- karena ada kawan yang berbuat seperti
- itu? Terima kasih.
- Ya, jadi intinya [berdehem]
- ee kita pun boleh saja menghadirkan tamu
- dalam kondisi rafid eh dalam kondisi
- COVID-19 ini, tetapi tentu harus
- diberikan ee apa?
- diberikan
- pengertian [berdehem]
- pengertian supaya ia pun tetap menjaga
- menjaga kesehatan gitu ya. J kesehatan
- ya protokol kesehatan dijaga seperti
- tadi to itu semua merupakan bagian
- daripada ikhtiar.
- Iya.
- Jadi kita berakidah ahlusunah wal jamaah
- yang tidak memisahkan antara takdir dan
- ikhtiar itu jadi takdir betul sekalipun
- seketat apapun kalau sudah takdir
- terjadi tetapi ikhtiar harus kita
- lakukan. Nah, sehingga dalam hal ini
- ikhtiar seperti pakai masker, kemudian
- social distancing itu semualah merupakan
- bagian daripada ikhtiar. Nah, cuman kita
- pun jangan sampai berlebihan. Berlebihan
- contoh misalkan gini, tiap hari kita
- ketemu di masjid salat 5 waktu, artinya
- terjaga dari sisi di sisi lima kali
- wudu. Ya, itu saja kadang enggak mau
- bersalaman ya. Karena saking
- khawatirnya, nah ini terlampau
- berlebihan kalau saya lihat ya.
- Terlampau berlebihan. Mestinya tidak
- demikian. pertama air wudu itu bisa
- membersihkan ires apalagi kalau pakai
- sabun ya
- maka itu sudah menjadi salah satu di
- antara ikhtiar kemudian pakai masker
- gitu ya jadi jangan sampai ee salaman
- pun sampai tidak mau gitu kadang-kadang
- ini ya mungkin kalau misalkan biasa suka
- rangkul tidak rangkul enggak apa-apalah
- itu misalkan tidak jadi cukup dengan
- paling tidak salaman ya tetap dilakukan
- karena dengan salaman itu rahmat Allah
- akan turun tuh masyaallah Dan begitu
- lepas salaman dengan saudaranya itu
- gugurlah dosa-dosanya tuh. Masyaallah
- luar biasa gitu. Maka jangan sampai
- dihilangkan keutamaan ini. Nah, kecuali
- bagi mereka yang datang di eh yang
- pertemuan di perjalanan gitu ya atau di
- tempat-tempat yang ee risk. Maka tentu
- kita lebih menjaga ya. Kalau misalkan
- seperti di masjid tadi yang terjaga
- apalagi di masjidnya disiapkan di situ
- ada sabun untuk cuci tangan dan
- sebagainya itu akan lebih lebih terjamin
- ya. Jadi artinya jangan sampai boleh
- kita ee ikhtiar dalam artian tapi jangan
- terlampau khawatir yang akib jadi
- kemudian ee muncul paranoid. Nah, ini
- yang tidak boleh
- parno, Ustaz
- ya. Paranoid ini bahaya ya. Jangan
- sampai tidak parno. Barangkali itu di
- antaranya.
- Baik. Jazakallah Ustaz. [berdehem]
- Kemudian pertanyaan kedua dari Bunda
- Ingga. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Pak.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. [berdehem]
- Untuk saat ini saya mengatakan ke teman
- atau saudara saya untuk tidak
- bersilaturahim dulu ke rumah karena
- takut tertular COVID.
- Apakah saya berdosa karena melarang
- orang untuk bersilaturahim?
- Ya, ee memang itu hak ya, hak bagi
- dirinya untuk menyampaikan hal semama
- itu. Tetapi kita pun harus ingat siapa
- dulu gitu yang ee mau datang dan kita
- sebutkan kondisinya ya. atau misalkan
- ee silakan aja kalau mau datang
- silaturahim tapi dengan caratan gini
- begini begini ini gitu. Artinya ada ada
- aturan datang dalam keadaan ee misalkan
- kalau dikhawatirkan tadi menjaga ee
- social distancing tadi ya ee mungkin
- siapkan di rumah tuh ada untuk pencuci
- tangan
- ya, ada sabun dan sebagainya gitu.
- bicara tentang hand sanitizer juga
- sekarang ada peran kontra kan
- muncul itu. Nah, kita sampaikan
- minimalnya dengan sabun dah siapkan.
- Nah, kemudian pakai masker misalkan
- boleh disampaikan demikian lewat
- WhatsApp itu boleh silakan semua orang
- boleh bertamu kepada saya selama satu
- sehat walafiat gitu ya. Sehat tidak
- sakit. Kemudian yang kedua adalah pakai
- masker yang ketiga mencuci tangan ya dan
- sebagainya. Nah, itu artinya jadi ada
- aturan-aturan seperti itu. Jadi jangan
- sampai kita menghilangkan berkahnya ya.
- Karena berkah tamu itu luar biasa.
- Iya.
- Dan pahala menerima tamu itu luar biasa
- gitu. Jadi jangan sampai ini dicegah,
- dihindari, akhirnya terputuslah rahmat
- Allah.
- Nah, ini
- artinya tetap harus sebatas-pasan
- tertentu. Jadi kalau misalkan boleh
- khawatir, boleh takut, tapi jangan
- sampai paranoid. Paranoidnya berlebihan
- kan kalau sudah parid.
- Iya, betul ustaz.
- Demikian.
- Baik. [berdehem] Terima kasih
- [mendengus] Ustaz atas jawabannya.
- Jazakallah. Kemudian pertanyaan
- selanjutnya datang dari Bunda Hani.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ee jika rumah kita memang kecil dan
- sering ada tamu banyak hingga kadang
- duduknya tidak sama. Kadang ada yang
- duduk di atas, kadang ada yang duduk di
- di bawah. Bagaimana, Pak Ustaz? Mohon
- pencerahannya.
- Ya, tentu dalam hal ini kita harus
- pandai menempatkan, memilah dan memilih
- gu ya. Artinya siapa yang layak untuk
- duduk di atas, siapa yang layak duduk di
- bawah gitu ya. Jangan sampai dibalik.
- Misalkan
- orang tua di bawah, anak-anak di atas.
- Itu kan [mendengus] jadi kurang tawadu,
- kurang menanamkan santun. Jadi ada kalau
- misalkan seperti halnya dalam sebuah
- pengajian ini ustaznya supaya bisa
- kelihatan duduk di atas kursi yang lain
- p duduk di bawah enggak apa-apa. Itu
- bukan berarti ee kita mengkultuskan
- karena mungkin supaya lebih jelas. Kalau
- misalkan ustaznya di bawah juga yang
- lain kan karena enggak lihat, enggak
- kedengaran jadi enggak kelihatan ketika
- menjelaskan. Nah, itu juga hanya
- proporsional. Jadi profesional dan
- proporsional ya. Selama itu dilakukan
- dan tidak melanggar batas tawadu tadi
- maka boleh tidak masalah. Jadi yang
- salah itu kalau kita kurang menghargai.
- Misalkan ini ada orang ini orang pada
- datang orang tua orang berilmu ya tapi
- malah yang yang duduk malah anak-anak
- muda misalkan ya anak muda. Nah itu
- jurus kurang tawadu anak muda di kursi.
- Sementara orang-orang yang mesti kita
- hormati malah duduk di di bawah. Jadi
- sekali lagi tadi Rasulullah sahu alaihi
- wasallam sampai memuliakan tamu seorang
- Adi bin Hatim, orang Nasrani dimuliakan
- oleh Rasulullah. Coba ini kan satu satu
- contoh yang luar biasa ya. Maka laqod
- kanakum rasulahi uswatun hasanah itu
- dalam hal ini termasuk dalam menerima
- tamu. Nah, Rasul sendiri demikian karena
- diceritakan oleh Allah Subhanahu wa
- taala dalam Al-Qur'an di surat Azzariyat
- tentang bagaimana sikap Nabi Ibrahim
- dalam memuliakan tamu.
- Tamu.
- Demikian.
- Baik. [berdehem]
- Alhamdulillah sangat bermanfaat Ustaz.
- Terima kasih di rumah atau di mobil saya
- selalu stay tune Rasil. Baik, terima
- kasih untuk Bapak Edi di Depok yang
- telah menyimak kita. Kemudian tadi
- pertanyaan dari Bunda Hani, semoga
- terjawab. Kemudian datang pertanyaan
- dari
- sebentar, Ustaz.
- Ee Bunda Emilda. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Pak Ustaz.
- Warahmatullahi wabar.
- Saya ingin bertanya, Pak Ustaz. di
- sebelah tempat saya bekerja ada tempat
- pengobatan gitu. Jadi banyak tamu yang
- datang kadang ee numpuk.
- Hm.
- Banyak yang numpang duduk di tempat saya
- bekerja. Tapi ada beberapa yang sering
- sekali ngajak ngobrol dan tanya-tanya
- sesuatu kepada saya. Kadang saya bingung
- kalau mau melayani mereka ngobrol atau
- nanya-nanya
- terus kerjaan saya terganggu.
- Kadang saya enggak layani dan saya fokus
- pada kerjaan saya. Bagaimana kalau
- begini, Ustaz? Dan apakah mereka karena
- numpang duduk di tempat saya juga
- termasuk tamu, Ustaz? Mohon
- pencerahannya.
- I pertama ee itu kan berarti nilainya
- amal saleh ya. amal saleh sebenarnya
- bukan tamu kita kan
- tamu sebelah itu. Tapi kemudian
- karena saking penuhnya akhirnya
- nyerempet itu masyaallah berarti
- kebagian berkahnya itu [tertawa]
- kebagian berkahnya. Sengaja mengundang
- tamu mungkin tidak ternyata datang tamu
- ya dari tamu datang tamu tak diundang
- kan.
- Nah dan ternyata itu adalah merupakan
- bagian berkah dari sebelah gitu. Nah
- yang harus kita lakukan tentu tetap
- bersikap baik ya. Kalaupun kita sedang
- dalam kondisi sebukti sampaikan saja apa
- adanya.
- Mohon maaf saya tidak bisa melayani ee
- Bapak atau Ibu yang datang kemari karena
- saya sudah sedang ee apa mengerjakan
- pekerjaan yang harus saya selesaikan.
- Jadi, jadi silakan saja duduk enak-enak
- di sini dan silakan diminum airnya,
- silakan dimakan, dinikmati makanannya.
- Nah, gitu. Kalau itu lebih bagus lagi
- kan. Nah, jadi ditinggal pun dia dalam
- keadaan nyaman.
- Tapi jangan misalkan begitu datang ya
- karena kelimpahan dari tamatan semula
- begitu datang langsung cemberut ya.
- merengut gitu ya. Wah, udah dia kan
- tidak betah kan,
- tidak nyaman gitu. Maka disambut dulu
- dengan baik, disampaikan dengan baik
- bahwa kalau dirinya tidak bisa melayani
- tamunya, tapi kita sudah siapkan
- misalkan minum itu masyaallah kesempatan
- sedekah yang luar biasa. Kalau seperti
- itu ya ikut bantu ee sedekah itu
- masyaallah dicatat oleh Allah Subhanahu
- wa taala luar biasa karena itu bukan
- tamunya tamu sebelah tapi kita
- memperhatikannya.
- Heeh. Oh, masyaallah. Insyaallah
- demikian.
- Baik, Bunda Fajar semoga [berdehem]
- terjawab.
- Datang pertanyaan kembali dari pendengar
- kita hamba Allah di 088
- 1645. Sekian-sekian. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam.
- Saya ingin bertanya, mohon maaf jika di
- luar tema, apakah cukup dengan syahadat
- bagi perempuan yang masuk Islam ataukah
- ada syarat yang lain? Mohon penjelasnya,
- Ustaz. Terima kasih. Ya. Pertama
- [berdehem]
- ee bagaimana orang yang akan masuk Islam
- di masa Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam itu pertama ditanya dulu
- tentang keimanannya. Ya, betulah
- betulkah dia beriman kepada Allah dan
- Rasul-Nya kalau sudah yakin diyakini
- keimanannya bahwa dia betul masuk Islam
- itu karena beriman kepada Allah ya. Ee
- Allah yang maha esa, Allah yang maha
- tunggal, Allah yang tidak disyerikatkan
- dengan apapun. Kemudian beriman juga
- kepada Muhammad sebagai Rasul Allah.
- Nah, itu sampai yakin. Sampai betul
- yakin itu. Kemudian yang kedua, adakah
- dia pernah berbuat atau menyiapkan
- jimat-jimat atau benda-benda keramat
- atau hal yang misalkan dia gunakan
- bacaan-bacaan yang bukan dari ee
- tuntunan Allah dan Rasul ya. Artinya
- mungkin dia pernah
- pernah apa bermain dukun atau dia pernah
- membuat barang-barang tertentu yang
- dianggap punya kekuatan gaib dan
- sebagainya. Itu semua ketika akan Islam
- harus dihilangkan semua dibersihkan.
- Karena kalau misalkan ee dia yakin
- dengan iman kepada Allah dan yakin pada
- Rasulullah tetapi masih menyimpan jimat
- maka tidak sah Islamnya. Jadi di masa
- Rasul ketika ada orang yang mau baiat
- ditanya oleh Rasul ada enggak itu? Kalau
- misalkan ada, oh ya kata Rasul,
- "Lepaskan ya Rasulullah. Kalau ini saya
- lepaskan saya, nah sudah berarti masih
- syirik tidak bisa diterima." Jadi itu
- antara lain syarat-syarat yang harus
- dipenuhi ya oleh semua orang yang akan
- masuk Islam. Jadi pertama keyakinannya
- dipastikan
- bahwa dia beriman kepada Allah dan
- beriman kepada Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam. Yang kedua adalah
- hindari dalam tubuhnya jangan ada
- bagian-bagian tentu yang akan
- menimbulkan kesyirikan. termasuk tadi
- jimat ya, jampi-jampi
- ya dan lain-lain yang dijadikan sebagai
- kekuatan. Nah, itu semua. Dan kemudian
- yang ketiga adalah ee siap konsekuen
- akan melaksanakan syariat Islam.
- Islam.
- Nah, itulah di antaranya dia siap
- dituntun oleh Allah dan Rasul, siap
- ditunjuki di jalan kebenaran, siap
- dituntun semua urusan-urusan hidupnya.
- Maka dengan itu baru kita terima
- baiatnya untuk masuk Islam. Demikian.
- termasuk mengenakan jilbab
- ya itu termasuk bagi melaksanakan
- syariat kan siap melaksanakan syariat
- kadang-kadang saya sedih gitu ada orang
- yang masuk Islam tetapi tidak diarahkan
- masalah itu.
- Iya.
- Nah saya pernah masuk sebuah komunitas
- di situ ada [berdehem] 448 mualaf. Oh.
- Bahkan saya nginp di tempat itu. Dan
- ternyata yang saya sedih adalah banyak
- di antara mereka yang salat saja ketika
- sakit dia tidak salat. Rasanya tidak
- tahu. Tidak tahu salat saat sakit
- bagaimana gitu ya. Karena begitu dia
- masuk Islam rupanya hanya dibina selama
- 6 bulan ya sudah itu dilepas. Enggak ada
- pembinaan intensif. Jadi kalaupun ada
- sesekali aja waktu ya kadang 2 bulan
- sekali, kadang 3 bulan sekali gitu ya.
- Mana cukup untuk membina orang sebanyak
- itu hanya dengan ceramah. Tidak bisa.
- Perlu kajian kan perlu kajian, perlu
- pembinaan yang intensif. Maka dalam ini
- yang terpenting adalah bagi orang yang
- akan menerima keislaman seseorang maka
- yang juga harus disiapkan adalah
- membinanya.
- Membina setelah dia bersyahadat.
- Iya. Jadi jangan sampai hanya setelah
- syahadat dilepas begitu saja. Kasihan
- gitu.
- Iya. Mereka harus tahu karena kan
- tujuannya pertama mengimani, kemudian ee
- setelah mengimani mengilmui. Setelah
- dapat ilmu kemudian baru dia mengamalkan
- kan.
- Iya.
- Nah, mengamalkan. Setelah mengamalkan
- baru disampaikan pada mendakwahkan dan
- kemudian sabar. Itulah jadi seringkiali
- kadang-kadang ada mualaf yang kurang ada
- perhatian. Maka orang yang menerima
- keislaman ee orang lain, dia harus
- bertanggung jawab tuh. Apakah dia
- apa menyerahkannya kepada mualaf center
- misalkan minimalnya itu cukur kalau dia
- bina sendiri di lembaga dia gitu ya atau
- di pesantren dia sampailah menjadi
- seorang muslim yang benar-benar
- keislamannya. Demikian.
- Baik, Ustaz. Kalau fenomena sekarang ada
- orang yang masuk Islam kemudian
- ee tidak berapa lama dia keluar lagi
- kemudian masuk Islam lagi. Keluar lagi
- masuk Islam lagi.
- Iya.
- Nah, ini bagaimana Ustaz? memang ada ya
- ada usaha pertama ee misionaris. Saya
- pernah menangkap misionaris gitu ya.
- Ceritanya gini ya ini terjadi pada ya
- kurang lebih sekitar 20 tahunan yang
- lalu.
- Iya. Nah, jadi ada seorang mengaku
- sebagai mualaf ya, mengaku sebagai
- mualaf yang konon dia bilang bahwa dia
- di apa digebugin sama orang tuanya,
- keluarganya sampai kaburlah gitu ya.
- Kabur sampailah di pesantren.
- Nah, waktu itu di Tasikmaya kejadiannya.
- Kemudian ee saya alhamnya tidak tahu ya
- kok bisa gitu. Ternyata sudah ada yang
- tertangkap katanya. Terus saya datangin.
- Akhirnya saya pun ikut interogasi.
- Ternyata apa yang terjadi? Bahwa
- ceritanya gini. Si orang ini datang di
- satu pesantren di Tasik Malaya. Kemudian
- dia datang ke masjid-masjid di sekitar
- pesantren
- mengaku
- menceritakan sebagai mualaf. Akhirnya
- kan dapat simpati
- ya. Ada yang ngasih uang, ada ngasih
- pakaian. Wah macam-macamlah gitu.
- Fasilitas luar biasa
- dan baiknya umat Islam mudah simpati.
- Heeh. Padahal belum tentu kan.
- Betul.
- Nah, akhirnya apa yang terjadi? Begitu
- setelah demikian, lalu ee ada salah
- seorang lurah santri istilahnya gitu. J
- lurah santri itu dia di pimpinan asrama
- gitu
- di situ
- kemudian dia penasaran
- ada hal yang enggak srek itu. Maka
- ketika si orang aku mualaf ini sedang
- melakukan apa? Ceramah di satu masjid,
- digeladahlah itu. Digeladah di tasnya
- itu. Ternyata ditemukan apa? Ditemukan
- ada tiga sertifikat. H
- tiga sertifikat masuk Islam.
- Oh.
- Nah, itu tadi bolak-balik masuk Islam
- ya. Nah, pertama di situ ada satu yang
- di Purwakarta,
- ada kemudian yang di Lembang, dan yang
- ketiga di Tasik. Nah, kaget dia. Loh,
- kok begini gitu ya. Nah, dari situ kan
- dicurigai. Akhirnya kemudian ditanya,
- diinterograsi.
- Nah, asalnya dia tidak ngaku. Nah,
- karena Santi kesal juga sempat
- memberikan tindakan fisik gitu ya.
- Ya, rupanya karena diancam dari sana
- sini takut dia terbuka l akhirnya. Nah,
- ini adalah merupakan realita ya. J fakta
- demikian karena saya melihat sendiri
- gitu
- bahwa ternyata dia ngaku bahwa dia
- adalah misionaris
- gitu. Jadi misionaris yang ternyata
- berpusat di Anjur
- ya. Nah, kemudian dia mengaku dibayar
- kalau 3 bulan selamat dibayar R10 juta.
- Tujuannya untuk
- untuk melihat di mana tempat-tempat yang
- potensi untuk disebarkan kristenisasi.
- Oh, seperti Oh, jadi dia berpura-pura
- masuk Islam dulu ya.
- Iya. Iya. Jadi itu. Nah, ini insyaallah
- ini adalah merupakan ee informasi
- penting untuk supaya umat Islam
- meningkatkan kewaspadaan. He.
- Bahwa demikian seperti itu. Jadi artinya
- jangan sampai kita mudah terkecoh ya.
- Kalau ada orang yang masuk Islam kita
- harus juga harus hati-hati. Dan ini juga
- diceritakan oleh para mualaf yang dari
- mualaf center itu pernah datang ke
- alfatah yang menceritakan hal yang sama.
- Jadi ternyata banyak kasus yang seperti
- itu.
- Heeh.
- Nah, ini j harus hati-hati dan dengan
- itu jangan sampai umat Islam disusupi
- oleh pihak-pihak tertentu yang akan
- ngomong-ngomok umat Islam. Demikian.
- Baik, terima kasih banyak Ustaz atas
- jawabannya. Kemudian kita ke pertanyaan
- selanjutnya ada Bapak
- Abdul Qadir Habba di Depok.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi.
- Ustaz Wahyudi KS ada di lingkungan kami
- seorang pejabat dan kaya. Di rumahnya
- ada tiga tempat menerima tamu. Pertama
- ruang tamu untuk keluarga yang datang.
- Kedua, ruang tamu untuk kalangan atas.
- Dan ketiga, ruang tamu untuk orang
- biasa. Hm.
- Apakah dibenarkan menerima tamu seperti
- itu? Terima kasih.
- Ya, pertama ee memang dalam hal ini
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- juga memberikan contoh, muliakanlah
- orang yang memang dimuliakan di
- tengah-tengah kaumnya. Tetapi tentu
- dalam batas-batasan tertentu juga jangan
- sampai berlebihan tadi ya. Jangan sampai
- berlebihan. Karena jangan sampai terlalu
- menyolok. Misalkan ini karena orang
- biasa ya sudahlah ee cukuplah dengan
- tikar misalkan gitu ya. atau cukuplah
- dengan kasur lepet gitu ya. Nah,
- sementara orang yang yang dihormati wah
- ditempatkan yang luar biasa. Nah, tentu
- tidak menyolok demikian. Jadi kalau
- misalkan ada bagian-bagian tertentu yang
- memang mungkin menjadi sebuah
- kebiasaannya bagi dia dan dia sebagai
- sebuah penghormatan selama dalam
- batas-batas yang wajar perbedaan itu
- tidak menyelok. Jangan sampai gini. Jadi
- yang satu kelas tering satu kelas kakap
- gitu ya. Nah, kalau misalkan antara
- antara ikan teri dan ikan mujayir kan
- masih wajar gitu ya.
- Iya. [berdehem] Nah, jadi perbedaan yang
- sedikit tetapi jangan sampai menyolok
- dan itu bisa membuat luka hati bagi para
- tamu yang datang tadi tuh. Jadi, artinya
- ini sebagai bentuk kehormatan
- boleh-boleh saja demikian, tetapi tadi
- jangan sampai berlebihan. Demikian.
- Baik. Tapi enggak apa-apa [berdehem] ya?
- Iya, [tertawa]
- boleh.
- Boleh ya. Baik. Kan idealnya memang
- seperti itu, Ustaz.
- Setiap rumah ada ruang untuk tamu yang
- datang.
- Iya.
- Begitu. Baik. Kemudian ee pertanyaan
- selanjutnya datang dari Bapak Bibit
- Sugeng. Sebentar. Nah, ini dia.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Semoga Ustaz selalu diberkahi Allah
- Subhanahu wa taala.
- Amin. Amin.
- Ustaz, gimana ya kalau tamu tidak tahu
- waktu sampai lama bertabunya?
- Hm.
- Jadi yang tadinya senyum jadi cemberut
- menghadapinya. Terima kasih, Ustaz.
- [berdehem]
- Ya, kadang-kadang ada memang tamu yang
- tidak tahu diri gitu ya, [tertawa]
- sudah diberikan jamuan sudah tapi masih
- juga padahal si tuan rumah tuh sudah
- berkali-kali melihat jam
- ya
- sudah ngasih kode begitu
- melihat HP sebenarnya itu satu isyarat
- sudah gelisah gitu tapi ini karena
- mungkin mohon maaf ya jangan sampai jadi
- tamu yang
- yang apa itulah kasarnya dalam tanda
- kutip dableg gitu gitu.
- Nah dia harus paham apa yang sedang
- terjadi gitu. Maka dama ini tuan rumah
- kalau memang ini tamu sudah larut malam
- masih juga ini terpaksa gitu disampaikan
- saja apa adanya. Mohon maaf masih ada
- yang ee penting untuk disampaikan. Kalau
- memang tidak mungkin boleh kita
- lanjutkan di kemudian di waktu yang lain
- dan waktu sudah larut malam agar kita
- juga punya kesempatan untuk istirahat
- dan besok bisa salat malam gitu. Nah,
- bisa demikian. Jadi karena memang ada
- seperti itu ya yang tidak tahu diri kamu
- tuh terus aja masyaallah. Nah, ini
- mungkin karena pertama mungkin dia
- karena tidak tahu ya adab bertamu. Yang
- kedua mungkin juga karena ee dia sedang
- kompensasi mungkin aja gitu kan. Nah,
- sebenarnya bete lah ada tinggal di rumah
- gitu. Akhirnya datang ke rumah temannya.
- Eh, ternyata semua diungkapkan.
- Padahal yang k tidak harus dikatakan pun
- dikatakannya pula. Nah, itu seringkiali
- demikian. Nah, jadi orang seperti ini
- memang harus diingatkan ya dengan cara
- yang baik tentunya sampaikan kalau
- memang tidak ada lagi ya mohon maaf saya
- tidak bermaksud mengusir. Nah, tapi
- mungkin kita semua punya hak ya. Mata
- kita punya hak, kita punya perlu
- istirahat, Bapak perlu istirahat, saya
- juga perlu istirahat. Bagaimana kalau
- kita sudahi dulu perbincangan kita, kita
- lanjutkan di waktu yang lain. Nah, jadi
- dengan cara yang seperti itu. H
- memang dalam dalam hadis katakan
- Rasulullah itu tidak berani mengusir
- tamu, ya. Nah, maka sampai Allah menegur
- dengan Al-Qur'an di surah Al A Al A
- Al-Ahzab, ya, Al-Azab. Kemudian di
- Al-Mujadilah itu sampai Allah memberikan
- teguran bahwa janganlah kamu lama-lama
- bersama Rasul karena Rasul tidak tidak
- tega untuk mengusirmu sampai begitu.
- Masyaallah ini menunjukkan bahwa akan
- ada sikap seperti itu. Maka Allah
- Subhanahu wa taala memberikan penjelasan
- bahwa kita tidak boleh bertemu-tambu
- misalkan ke rumah ustaz, ke rumah kiai,
- ke rumah ya yang jadi apa ee tokoh umat
- gitu ya. Dia kan mungkin banyak
- pikirannya, tidak hanya memikirkan dia.
- Maka dia pun harus membatasi diri. Dalam
- hal ini mohon maaf ya, saya sendiri
- kalau ada itu kan ada yang WhatsApp,
- "Ustaz eh saya ganggu enggak kalau mau
- bertamu ee ada apa ya misalkan oh ini
- adau ya okah ee ustaz kapan siapnya ya
- hari anu jam sekian tapi mohon maaf ya
- saya hanya punya waktu 30 menit
- sampaikan aja gitu
- iya
- itu aja supaya jadi perhatian artinya
- jangan sampai kita jadi dumelum kan
- ini orang mana sih enggak ngerti-ngerti
- gituah kalau sudah seperti itu kan jadi
- kita jadi keikhlasan terganggu gitu maka
- Maka agar presangkat
- daripada niatkan Allah untuk mendapatkan
- pahala, lebih baik terus terang agar
- terang terus.
- Iya, [mendengus]
- Ustaz. Kalau pada sore ini kan kita
- membahas 11 adab memuliakan tamu.
- Iya.
- Di dalam Islam ada tidak adab-adab
- memuliakan tuan rumah?
- Ada. Nah, itu nanti akan kita bahas.
- Oh, begitu ya.
- Nah, ini kan baru adab tuan rumah
- terhadap tamu. Nanti adab bertamu
- terhadap tuan rumah.
- Oh, begitu. Baik.
- Karena ini ini berkaitan dengan
- pernyataan ustaz yang tadi bahwa
- Rasulullah itu sendiri tidak tega
- iya
- untuk mengusir tamu sampai Allah sendiri
- berfirman dalam Al-Qur'an.
- Iya
- kan seperti itu, Ustaz.
- Insyaallah nanti.
- Baik dan itu menjadi pertanyaan terakhir
- Ustaz
- iya
- di kesempatan sore hari ini.
- Baik
- mungkin sebagai kesimpulannya bisa
- disampaikan Ustaz.
- Baik ikhwan akhwat rahimakumullah ya.
- Jadi dari tujuh ya.
- Iya baru tu ya. Ya,
- baru tujuh tadi saya sampaikan 7/8
- tujuh ustaz.
- Ini terakhir saya catat tuuh.
- Iya. Dari dari tujuh tujuh pembicaraan
- tadi antara lain disebutkan
- dari 11 ya dari 11 adab
- sebagai tuan rumah, adab memuliakan
- tamu. Jadi kita bahas lagi nanti
- insyaallah pada pertemuan mendatang.
- Amin.
- Empat, adab memuliakan tamu dan ditambah
- nanti adab bertamu. Ya, insyaallah nanti
- kita akan bahas demikian. Dan tentu
- dalam hal ini yang terpenting untuk kita
- adalah hendaknya kita berusaha
- semaksimal mungkin untuk meluruskan niat
- karena Allah dalam semua aktivitas kita
- termasuk dalam menerima kehadiran tamu.
- Iya.
- Sekali lagi kalau ada hal yang memang
- kurang berkenan dengan tindakan-tindakan
- tamu tersebut jangan sampai di hati kita
- dumel.
- Jangan sampai kita juga memberikan ee
- apa sikap yang tidak baik dengan membuat
- tamu tidak nyaman. Maka hendaklah lebih
- baik berterus terang ya berterus terang.
- agar terang terus. Nah, dengan itu
- insyaallah dengan cara yang baik kita
- menyampaikannya ya dengan sikap santun
- tetap dan kita pun tidak menutup, tidak
- membanting pintu untuknya
- ya tetap kita menerima kapan saja dia
- akan datang selama keperluannya jelas
- dan ee hal-hal yang akan disampaikan pun
- tidak menimbulkan fitnah. Apa yang
- menimbulkan fitnah itu? Misalkan contoh
- akan menceritakan keburukan orang lain.
- Itu kan berarti menunukkan fitnah.
- Iya. Nah, untuk misalkan datang hanya
- sekedar ee menjelek-jelekkan
- anggota keluarganya apalagi pasangan
- hidupnya, apakah suaminya atau istrinya,
- ini juga harus kita hindari ya. Kalau
- misalkan seperti itu berbeda. Memang ada
- yang dibolehkan. Misalkan kita akan
- mengadukan tentang permasalahan suami
- atau istri kita. Kepada siapa bolehnya?
- Kepada orang yang akan bisa
- menyelesaikan urusan itu. Jadi jangan
- sembarangan. Janganlah saya mau bertamu
- lah itu mau curhat daripada kesal
- katanya daripada ee di hati enggak
- nyaman lah ee curhat sajalah
- mudah-mudahan dengan itu jadi lapang.
- Nah, kalau seperti itu salah karena
- tidak proporsional. Kalau kepada hakim
- atau kepada ustaz atau kepada ee tokoh
- masyarakat yang memang siap atau akan
- bisa menyelesaikan urusan itu, maka
- tidak mengapa kita menceritakan hal itu.
- Ee seperti halnya kejadian Haulah binti
- S'labah ketika datang para rasul sahu
- alaihi wasallam menceritakan tentang
- suaminya.
- Iya.
- Sampai akhirnya turun ayat Allah surat
- almujadilah ayat 1 sampai 4. Ini
- membuktikan bolehnya kita mengadu
- permasalahan dengan catatan kepentingan
- yang jelas dan tidak bermaksud
- menyebarluaskan fitnah. Demikian,
- mudah-mudahan yang sedikit ada
- manfaatnya dan mohon maaf bila ada yang
- kurang berkenal. Winkum
- subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik.
- Walhamdulillahiabbil alamin.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih Ustaz Wahyu
- Diks atas tausiahnya di sore hari ini.
- Terima kasih kepada pendengar kita ada
- Bapak Aris di Bogor, Bapak Jaman, ada
- Bapak Hakim di Setu, ada hamba Allah di
- Sukabumi, Bunda Dharma, Ibu Tris, Bapak
- Istono,
- Bapak Hedar, Bapak Arwin, Ibu Hestri di
- Cibinong, Bapak Iwan Suwandi, kemudian
- ada hamba Allah di Cipulir, Ibu Aisyah
- di Bekasi, Bapak Abu Abdillah, ada Ibu
- Dia, Bapak Sodqin, ada Ibu Yuli, Ibu
- Mame, kemudian ada Ibu Purnama di
- Cikarang,
- Ada Ibu Warodi Tambun. Kemudian ada Ibu
- TI, ada Bapak Aminudin Haji Musawir.
- Kemudian ada hamba Allah di 08569596
- sekian-sekian Bapak Dance dan Bapak
- Mariadi yang telah menyimak kita dan
- memberikan respon balik ustaz di sore
- hari ini. Terima kasih Anda sudah
- menyimak kami dari awal hingga akhir.
- Terima kasih kepada para penanya yang
- sudah berinteraktif. Mudah-mudahan
- terjawab dan semoga bisa diambil ibrah
- dan manfaatnya. Terima kasih kepada Ondi
- dan juga SBangkit serta ada dua anak
- magang dari Stai Alfattah ada ee Sahara
- dan juga
- Kaimah. Baik, saya Abi Agus undur diri.
- Billahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- [musik]
- [musik]
- Subhanallah. [musik] Oh.