Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 [musik] 0:15 Assalamualaikum warahmatullahi 0:17 wabarakatuh Bang Dulah apa kabar? 0:21 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:22 wabarakatuh Mas Ihsan alhamdulillah 0:25 sehat. 0:26 Saya bilang nih Bang Dulah nih masih 0:28 muda terus wah ini kan masih Bang 0:30 [tertawa] 0:32 Luar [berdehem] biasa Bang Dulah ini 0:34 negeri ndak habis-habis ceritanya ya 0:36 karena persepsi korupsi menjadi 0:39 tantangan integritas nasional 0:42 ya skornya itu makin rendah bukan naik 0:45 kok apa padahal kan luar biasa itu Pak 0:48 Presiden di awal tentang korupsi wah mau 0:50 diudak sampai ke ujung apa 0:53 ujung dunia apa-apa waktu itu tuh Bang 0:54 saya lupa ya tapi ah macam mana ya emh 0:58 saya khawatir aja ini kalau apalagi hari 1:01 ini kita dapat kunjungan tuh dari 1:03 Menteri Pertahanan Amerika wakilnya ya 1:06 mudah-mudahan enggak sampai kayak 1:07 Kolombia Bang karena gempanya itu Bang 1:10 hari itu di di dibuka hubungan dengan 1:12 Israel hari itu juga gempa 7,4 Bang itu 1:15 memang hukuman Allah atau gimana entah 1:18 tak macam mana Bang Dulah ah lagi pula 1:20 ini Bang ada ini ada apa ada adagium ya 1:24 adagium apa ya namanya tuh ada pendapat 1:26 bahwa kapitalisme politik mata rantai 1:30 penyebab Indonesia darurat korupsi sudah 1:33 seberapa daruratnya kah Indonesia ini 1:35 apakah macam di Hongkong sana sehingga 1:39 ada orang mau disuntik kalau enggak 1:40 disogok dulu enggak tapi BPJS kita masih 1:42 jalanlah gitu ya 1:44 tapi 1:45 perangkat hukum ketika membongkar sebuah 1:48 masalah 1:49 lagi-lagi nih Bang ada yang mati 1:51 misterius ada orang namanya Sutrimo ini 1:53 urusan sama 1:55 yang di Kejakung itu ya Febri Ardiansyah 1:57 ini kepala rumah tangganya. Ada juga 1:59 yang urusan bea cukai itu namanya siapa 2:01 tuh saya lupa tuh saksi kuncinya kalau 2:03 enggak salah tuh Lorenza Lorenza lah 2:05 gitu Winda Lorenza lah. Nah, cemana Bang 2:08 Abdullah kalau KPK menghadapi dunia 2:11 macam gini? Harapan apa kita akan 2:13 bergantung? Tentu pada Allah, tapi 2:15 negeri ini kan harus berjalan. Silakan 2:17 Bang Abdullah dari Aceh sampai 2:19 Banyuwangi menunggu kabar ini dan 24 2:23 negara setidaknya mendengarkan pagi hari 2:25 ini. Tafadhol Bang Abdullah yang 2:27 maghrib. 2:28 Baik para pendengar Radio Silaturahim 2:31 yang insyaallah dirahmati Allah SWT pada 2:34 Jumat berkah pagi ini. 2:37 Yang pertama ketika KPK baru 2:42 dibentuk 2:43 tahun 2:44 2004 2:46 maka 2:47 indeks persepsi korupsi Indonesia waktu 2:50 itu 19. 2:54 atas kemudian secara bertahap kemudian 2:58 KPK menaikkannya sampai [mendengus] 3:00 angka 40. 3:01 Masyaallah. 3:03 40 3:04 Heem. 3:05 Itu yang ee tercapai sebelum Jokowi 3:09 mengobrak-abrik KPK 3:11 dengan 3:13 mengubah Undang-Undang KPK tersebut 3:16 Heem. 3:16 sehingga KPK yang sekarang itu bukan 3:19 lagi lembaga negara yang independen 3:21 seperti dulu tapi merupakan ASN. 3:25 Heem. 3:25 Dan kita tahu Mas Ihsan bahwa dalam 3:27 Undang-Undang ASN 3:29 pimpinan ASN itu adalah presiden. 3:31 Heem. 3:32 Dengan demikian maka 3:35 kasus-kasus yang melibatkan para 3:37 oligarki 3:39 koruptor-koruptor besar itu tidak bisa 3:42 ditangani 3:43 apalagi waktu itu ee dewan pengawas itu 3:47 dipilih oleh Jokowi langsung. 3:49 Sehingga dengan begitu maka 3:51 dewan Pengawas tidak bisa mengizinkan 3:54 penyidik KPK atau penyelidik KPK untuk 3:58 memonitor 4:00 telepon Jokowi atau telepon Menko, 4:04 telepon menteri tertentu yang ada pada 4:08 koalisi Jokowi. 4:10 Sehingga dengan begitu, maka kita tahu 4:12 kasus-kasus besar itu 4:15 terlindungi dengan adanya amandemen 4:18 Undang-Undang KPK. 4:19 Hari ini kita punya indeks persepsi 4:22 korupsi itu adalah 32. 4:26 He eh. 4:26 Itu di bawah Timor Leste. 4:30 Uh. 4:30 Di bawah, di bawah Timor Leste. 4:32 Timor Leste itu 34. Kita 32. 4:37 Ada yang terus beri tahu kepada saya, ya 4:41 tidak ada yang mau di dikorupsi Timor 4:43 Leste, enggak ada Timor Leste punya 4:45 seperti itu. 4:46 Ah. 4:47 Mungkin, mungkin ada benarnya, tapi 4:51 persoalannya adalah bukan soal besar 4:54 atau kecil sumber daya alamnya, sumber 4:58 daya 4:59 eh keuangannya, tapi tentang ada atau 5:02 tidak 5:03 pengambilan hak-hak rakyat. 5:06 He eh. 5:06 Eh beberapa hari lalu, Mas Ihsan, saya 5:10 pergi urus SIM saya. 5:12 Jadi, 5:14 konsep efisiensi dari Prabowo 5:18 He eh. 5:18 itu membuat kemudian 5:20 aparat negara, aparat pemerintah itu 5:24 eh kreatif. 5:25 Oh, iya, ya. 5:26 Kreatifnya begini. 5:27 He eh. 5:27 Kreatifnya begini, dulu kalau urus SIM 5:30 itu datang apakah ke langsung ke 5:33 He eh. 5:33 apa eh kantor apa namanya 5:36 He eh. 5:36 eh 5:38 Eh. 5:38 Pelayanan umum lah, di ada di mal, ada 5:40 di mana semua, he eh, betul. 5:41 He eh. 5:41 Eh. 5:42 Itu atau ada 5:43 Samsat, Samsat. 5:44 ada bis 5:45 He eh. 5:45 Samsat atau di bis khusus ya seperti 5:48 itu. 5:49 Itu langsung saja kemudian eh bayar 5:53 terus kemudian eh perpanjang. 5:55 Hari ini baru berapa hari lalu 5:58 saya itu ternyata kemudian ada 6:00 pendaftaran. 6:01 Iya. 6:02 Pendaftaran itu 125.000. 6:04 Iya. 6:04 Kemudian tensi tensi 6:07 Tensi. 6:07 tensi [berdehem] 6:08 Betul. 6:08 tensi 6:08 [tertawa] 6:10 tensi 6:10 Darah tinggi apa enggak nih sopirnya? 6:13 [tertawa] 6:13 Tensi 50.000. 6:15 Iya. 6:16 Terus kemudian 6:17 psikotes 6:18 Psikotes. Oh iya itu yang ngisi-ngisi 6:21 betul. 6:21 Nah 6:22 100.000. Saya kira psikotes itu Mas Isan 6:25 Iya. 6:26 eh seperti psikotes 6:27 Iya. 6:27 mengajukan pertanyaan apa begitu begitu 6:30 begitu sehingga 6:31 waduh ini sudah 6:32 Yang online ada juga tuh. 6:34 79 [tertawa] 6:35 tahun bisa lulus ini enggak bisa tes ini 6:37 enggak begitu kan. 6:39 Iya iya iya. 6:40 Ternyata kemudian sampai di situ loket 6:44 khusus itu 6:45 Iya. 6:45 meja khusus itu kemudian 6:46 Iya. 6:47 dia apa buat 6:49 masuk ke Google terus dia bilang isi ini 6:51 Pak ternyata isi nama alamat 6:55 Semuanya [tertawa] semuanya. 6:56 jadi identitas saya pikir ini 6:58 psikotesnya yang mana 7:00 [tertawa] 7:00 Dia dia dia tahu enggak itu Bang Dul 7:02 Abdul Wahab apa dia enggak tahu 7:04 petugasnya? 7:05 [tertawa] 7:05 Wallahualam. 7:07 Kemudian 7:08 Iya. 7:08 eh 100.000 terus saya tanya 7:11 Iya. 7:11 boleh enggak saya bayar 110.000 7:13 Iya. 7:14 begitu 7:14 [tertawa] 7:15 saya tambah saya saya suka 10.000 oh 7:18 enggak Pak cukup 100.000 7:20 [tertawa] 7:20 100.000 7:22 Karena kemarin Bang Bang ada ada ada 7:24 cerita sedikit ini ini kenyataan real ya 7:26 ini apa sopir bilang jangan bilang Bang 7:28 di radio katanya. Kenapa tahun lalu itu 7:31 berapa tahun lalu tuh 700.000 sekarang 7:34 naik 800.000-an. 7:36 Kenapa naik? Ada KPK kata di dalam waduh 7:38 tambah naik katanya. 7:39 [tertawa] 7:44 Iya ini 7:46 sudah selesai itu Bang Iksan terus foto. 7:49 He eh. 7:49 Terus foto. 7:50 He eh. 7:50 Foto tunggu lagi kemudian terus datang. 7:52 He eh. 7:53 Terus kemudian mau ambil itu SIM-nya, 7:55 [mendengus] 7:56 eh dia bilang apa namanya ini mau 7:58 dikasih apa supaya tidak tergores apa. 8:01 Jadi bayar lagi 10.000. 8:02 bayar lagi he eh. 8:03 Eh bayar he eh. 8:04 He eh. 8:05 10.000 lagi. 8:05 He eh. 8:06 Jadi saya pikir konsep efisiensi Prabowo 8:08 ini membuat apa lagi. 8:11 Cukup kreatif. 8:12 Kreatif kreatif. 8:13 [tertawa] 8:13 Tuh ya. 8:14 Cukup kreatif. 8:15 He eh. 8:15 Allahu Akbar sehingga kemudian saya baca 8:17 di medsos. 8:19 He eh. 8:19 Eh. 8:20 Koperasi Merah Putih itu ada di 8:23 mana-mana jadi saya kemarin juga eh 8:26 dengan anak dengan mantu pergi ke apa 8:28 namanya. Ke Perakan Salak. 8:31 He eh. 8:31 Perakan Salak itu di Parung Kuda, Parung 8:33 Kuda itu di Sukabumi Sukabumi Sukabumi. 8:36 He eh. 8:36 Di tengah-tengah tengah-tengah hutan ada 8:38 koperasi desa di situ. 8:41 Yang Zulhat bilang ini mau evaluasi ya 8:42 karena kan terpaksa mereka kalau tidak. 8:45 Eh harus disediakan lahan itu ya. 8:48 Jadi mestinya kan di tengah masyarakat 8:50 kan. 8:51 Masyarakat di situ. 8:52 Ini apa di di tengah hutan terus 8:54 kemudian. 8:55 He eh. 8:55 Saya. Coba lacak di medsos rupanya 8:58 kepala desa itu komplain protes apa 9:01 namanya sudah kita kita apa anggaran 9:04 kita diambil apa segala macam ya kita 9:05 buat saja di tempat seperti itu jadi. 9:07 Oh komplain itu jadi kayak macam balas 9:09 dendam gitu ya. Eh mau dibikin. 9:11 balas balas dendam seperti itu. Jadi. 9:15 Itu itu persoalannya soal eh korup ini 9:18 sehingga dengan begitu maka. 9:21 Eh. 9:22 Penyebabnya itu. Sistem. Sistemnya itu 9:26 sudah bagus ketika undang-undang KPK 9:28 tidak diamandemen sistem sudah bagus 9:31 kita lakukan reformasi birokrasi dan 9:33 seterusnya dan seterusnya. 9:35 Tapi problem yang berikutnya itu adalah 9:37 kemudian 9:39 sanksi terhadap koruptor itu 9:42 sangat rendah. 9:44 He eh. 9:44 Nah, misalnya 9:47 sudah capek-capek KPK 9:50 dan kemudian sudah dijatuhi hukuman, 9:52 maka kalau sudah jatuh hukuman sudah 9:54 inkrah 9:55 He eh. 9:55 berlaku kekuatan hukum tetap, maka sudah 9:57 tidak lagi ee kewenangan dari polisi, 10:00 jaksa, KPK, tapi itu sudah Kementerian 10:02 Hukum dan HAM. 10:03 He eh. 10:04 Lantas kemudian 10:05 ada perayaan 17 Agustus, remisi 10:09 He eh. 10:09 3, 4, 5, 6 bulan. Sudah itu kemudian ee 10:13 menang menang apa? 10:14 He eh. 10:15 Ee sepak bola misalnya, ee kemudian ada 10:17 remisi. 10:18 He eh. 10:20 Ulang tahun presiden misalnya, ada 10:22 remisi. 10:22 He eh. 10:23 Sehingga orang dijatuhi hukuman katakan 10:25 8 tahun atau 10 tahun 10:27 kemudian akhirnya mungkin tinggal ee apa 10:31 namanya 5 tahun, tapi kalau dia sudah 10:33 menjalani sekian tahun setelah 2/3 dia 10:36 bisa keluar, sehingga paling 2 tahun 10:39 saja dalam penjara terus kemudian ee 10:41 bebas seperti itu. 10:43 He eh. 10:43 Nah, oleh karena itu maka kalau misalnya 10:47 ee pemerintah mau mengatakan bahwa mau 10:50 memberantas korupsi kan dalam pidato 10:53 kenegaraan pertama kali presiden 10:55 dilantik itu kan mengatakan "Akan saya 10:58 kejar koruptor sampai ke Benua 11:00 Antartika." 11:01 Iya, oh begitu. 11:02 [tertawa] 11:02 He eh. 11:03 Iya. 11:04 He eh. 11:04 Nah, ternyata pelaksanaannya 11:06 koruptor antar kita, menjadi antar kita 11:09 seperti itu. 11:10 kode. 11:10 Jadi bukan 11:12 [tertawa] 11:12 bukan Antartika tapi antar kita. 11:13 He eh. 11:14 Antar kita seperti itu. Yang yang lucu 11:17 itu cerita guyonan bahwa ketika ketua 11:21 BGN-nya ditangkap 11:22 He eh. 11:22 ee Prabowo itu di rumah menangis 11:24 katanya, menangis. Jadi saya heran juga 11:27 He eh. 11:27 ini jenderal kok bisa menangis seperti 11:29 itu. 11:29 He eh. 11:30 Ee 11:31 karena dia merasa orang yang dia 11:33 percayai ternyata itu yang yang yang 11:35 korupsi 11:36 [tertawa] 11:37 besar-besaran. 11:39 [berdehem] 11:40 Nah, 11:40 nah, 11:41 He eh. 11:42 sesudah itu Mas Ihsan ada problem 11:44 serius. Problem serius itu adalah sikap 11:47 masyarakat terhadap koruptor. 11:49 He eh. 11:51 Ini juga integritas ya. 11:52 ingat beberapa beberapa tahun yang lalu 11:55 He eh. 11:55 ada seorang tokoh kemudian dia bebas 11:58 dari penjara disambut dengan upacara. 12:00 dewan lagi betul. 12:03 He eh. 12:03 Dan seperti [berdehem] itu. 12:04 He eh. 12:04 Lantas saya eh hari hari Sabtu yang lalu 12:08 ada satu seminar di Bandung saya 12:10 diundang datang hadir. Kemudian saya 12:13 dipanelkan dengan mantan pasien saya. 12:15 Masya Allah. 12:16 [tertawa] 12:17 Jadi 12:20 jadi saya pikir wah ini gimana ini 12:22 seperti itu. 12:23 Akhirnya kemudian 12:25 salah seorang rektor 12:26 He eh. 12:27 di di Sukabumi selesai 12:30 He eh. 12:30 dikasih kartu namanya kepada saya. 12:32 He eh. 12:33 Eh 12:33 Pak saya undang nanti ke apa ke 12:35 universitas apa di Sukabumi. 12:38 He eh. 12:38 Eh terus saya bilang insya Allah nanti. 12:40 Lantas kemudian beliau apa namanya 12:43 WhatsApp saya kemudian saya lagi jawab 12:45 bahwa aduh tanggal itu saya sudah ada 12:47 acara. Beliau terus telepon saya. Beliau 12:49 telepon saya. 12:50 He eh. 12:50 Terus beritahu apa namanya Pak ini ada 12:53 delapan orang. Delapan orang disebutkan 12:55 itu tiga orang mantan KPK. [tertawa] 12:58 Jadi saya bilang bagaimana bisa 12:59 bagaimana bisa saya hadir di tempat 13:01 orang yang kemudian menjadi pasien saya 13:04 seperti itu. Nah, jadi ini juga sikap 13:06 dari masyarakat. 13:07 He eh. 13:08 Ada yang sudah dua kali masuk penjara 13:11 itu terpilih jadi anggota DPD. Itu itu 13:14 luar biasa. Dua kali masuk penjara 13:16 terpilih jadi anggota DPD. Begitu juga 13:19 salah seorang mantan menteri ditangkap 13:22 kemudian 13:24 eh pemilu kemarin terpilih jadi anggota 13:26 DPR di daerah Cianjur atau di 13:29 Jawa Barat. 13:30 Ini ini Bang, ini Bang. 13:31 Jadi 13:31 Ehm, luar biasa. Iya, Bang. 13:34 Saya saya lihat ini negeri kalau saya 13:36 terbang misalnya saya ke New Zealand itu 13:38 di airport di airport di pesawat itu 13:40 sudah ditanya. Di antara pertanyaan itu 13:42 adalah apakah Anda pernah dipenjara? 13:46 Mau benar mau kagak ya itu itu sebuah 13:48 pertanyaan. Tapi ada juga yang berasumsi 13:50 orang-orang atau negara-negara ya 13:52 sekuler atau ateis lah ya di Eropa sana 13:55 kok indeks 13:57 prestasi korupsinya itu 13:59 cakep artinya tuh sedikit kali lah orang 14:02 yang korupsi di sana. Di negara-negara 14:04 yang religius kok banyak Bang ya. Ini 14:07 cemana Bang ya? Ini apa ya? Fenomena apa 14:10 yang terjadi Bang? 14:12 Jadi waktu saya masih di 14:15 KPK atau KPKPN saya lupa. 14:17 Ehm. 14:18 Di KPKPN masa sebelum KPK. 14:21 Saya sewa 14:22 eh taksi prebet itu taksi 14:25 Ehm. 14:25 taksi anu 14:26 Ehm. 14:27 taksi swasta taksi swasta itu 14:29 taksi Grab Grab gitu heeh 14:30 Iya 14:31 Iya taksi prebet Grab itu 14:32 Ehm. 14:33 Dia jalan cepat sekali, jalan cepat 14:34 sekali. 14:35 Ehm. 14:35 Sampai apa namanya? Terus saya tanya 14:38 apa syarat 14:40 mau jadi supir dari perusahaan angkutan 14:43 ini? 14:43 Ehm. 14:44 Dia bilang kalau tidak pernah tabrakan 14:46 tidak diterima. 14:47 Wah. 14:48 [tertawa] 14:51 Jadi kalau tidak pernah nabrak katanya 14:53 tidak diterima. Saya bilang kenapa 14:54 begitu? 14:55 Nah soalnya ini kan kerja target, kerja 14:57 target seperti itu. Jadi kalau dia itu 15:00 kerja target satu hari itu misalnya lima 15:02 lima trip seperti itu. Kalau dia tidak 15:05 pernah tabrakan berarti dia jalan 15:07 pelan-pelan kan tidak tercapai target 15:09 [tertawa] 15:10 Jadi jadi itu kondisi kondisi Indonesia 15:13 sehingga menjawab pertanyaan Mas Ihsan 15:16 tadi saya ingat kata-kata Buya Hamka. 15:18 Kata Buya Hamka 15:20 saya ke Mesir saya jumpa orang Islam, 15:23 tapi saya tidak jumpa Islam di sana. 15:25 Ehm. 15:26 Saya ke Eropa, 15:27 itu saya tidak jumpa orang Islam, tapi 15:29 saya jumpa Islam. 15:31 Ehm. 15:31 Seperti itu. 15:32 Ehm. 15:32 Nah, karena itu maka sekitar 10 tahun 15:34 yang lalu ada satu penelitian oleh 15:37 seorang profesor di universitas di 15:39 Amerika, 15:40 Ehm. 15:40 negara mana yang paling Islami di dunia? 15:43 Ehm. 15:44 Ternyata 15:46 tiga negara yang disebutkan itu semua 15:47 negara Eropa. Semua negara, tidak ada 15:49 satu 15:50 Ehm. 15:50 negara Timur Tengah, tidak ada satu 15:51 negara di ASEAN dan seterusnya. Itu 15:53 semua jatuh 15:55 New Zealand, kemudian Skandinavia, 15:56 kemudian Denmark. 15:57 Ehm. 15:58 Itu tiga negara yang penduduk Islamnya 16:00 mungkin cuma 0, sekian, kan? Tapi itulah 16:03 negara yang paling Islami. 16:04 Ehm. 16:05 Artinya bahwa 16:07 apa yang disebut dengan ajaran-ajaran 16:09 Islam dalam Quran tentang adil, tentang 16:11 amanah, tentang jujur dan lain-lain, itu 16:14 berjalan. 16:15 Ehm. 16:15 Sehingga kemudian 16:17 sekali waktu ada seorang dari Indonesia 16:19 pergi ke ke Inggris, lantas waktu masih 16:23 lama, jadi masih pakai bis biasa, 16:25 Ehm. 16:25 terus kemudian sampai di hotelnya, dia 16:28 baru ingat bahwa tas stelnya tertinggal 16:30 di halte bis 16:31 Oh. 16:32 waktu menunggu halte bis. 16:33 Ehm. 16:33 Nah, itu kan perjalanan itu kurang lebih 16:35 satu jam, kan? 16:36 Ehm. 16:37 Jadi pulang pergi, dia datang ke sana, 16:39 itu kameranya ada di situ. 16:40 Masya [tertawa] Allah. 16:41 Kameranya ada di 16:43 Coba saya bayangkan tas stel itu kalau 16:45 di Jakarta, kalau di Jakarta, jangan kan 16:48 dua jam, lima menit saja 16:50 Ehm. 16:50 sudah hilang. 16:51 Ehm. 16:52 Sehingga ada ada cerita kelakar, joke 16:55 begitu, 16:56 Ehm. 16:56 orang Jepang buat buat percobaan tentang 16:59 robot untuk menangkap korupsi, menangkap 17:02 pencuri, robot. Lantas dibawa ke 17:04 beberapa negara, terus kemudian sampai 17:06 di Malaysia, robot itu nangkap beberapa 17:09 orang. 17:09 Ehm. 17:09 Di Singapura, robot itu menangkap 17:12 sedikit orang. 17:13 Ehm. 17:13 Sampai di Indonesia, robot itu dicuri 17:15 orang. 17:16 [tertawa] 17:18 Jadi, jadi kita ini mau bicara 17:20 integritas capek. Jadi, sudahlah kita 17:22 bercanda ajalah urusan negeri ini memang 17:24 luar biasa. 17:25 [tertawa] 17:25 Yang mengarah ke yang mengganggu atau 17:27 berbahaya kadang-kadang ya itulah ada 17:30 yang mati mendadak, ada yang apa 17:32 walaupun takdir tapi luar biasa ini 17:35 kapitalisme politik ini memang luar 17:37 biasa. Uang menjadi sebuah wah 17:40 Pengalaman saya Mas Ihsan, waktu saya 17:43 [berdehem] 17:43 aktivis dulu 17:45 Ehm. 17:45 tahun 70-an sampai 80-an, awal 80-an. 17:49 Ehm. 17:49 Ada biasa 17:51 proses bagaimana menyuntik orang 17:54 Ehm. 17:55 untuk kemudian 17:57 setelah 6 17:59 7 beberapa hari 18:01 Ehm. 18:01 meninggal 18:02 Ehm. 18:02 yang terapinya adalah serangan jantung. 18:04 Oh. 18:05 Ada juga yang kemudian ditabrak di 18:08 jalanan. 18:08 Ehm. 18:09 Aktivis 18:10 Ehm. 18:10 dua ketua dewan mahasiswa 18:12 Ehm. 18:13 Ehm. 18:14 Jadi itu ada 18:16 Ehm. 18:16 dan kemudian 18:18 eh saya diberitahu oleh salah seorang 18:21 yang 18:21 Ehm. 18:22 bergerak di 18:23 bidang intelijen bahwa 18:25 Ehm. 18:26 hal itu dilakukan dengan cara 18:28 Ehm. 18:29 melakukan penyidikan yang itu 18:31 Ehm. 18:32 berlangsung kurang lebih 1 bulan, eh 1 18:34 pekan baru kemudian seperti serangan 18:36 jantung. Jadi, kalau dia anosmia 18:38 serangan jantung padahal itu sudah 18:40 disuntik sebelumnya. 18:41 Jadi, oleh karena itu saya tidak kaget 18:44 kalau misalnya 18:45 eh pembantu rumahnya apa namanya Febri 18:48 Ardiansyah itu meninggal 18:49 Ehm. 18:49 kemudian salah seorang saksi di 18:52 Bea Cukai itu meninggal itu adalah 18:55 bagaimana proses untuk menghilangkan 18:57 jejak. Dan lupa Mas Ihsan bahwa 19:00 Ehm. 19:00 dalam teori kapitalis itu kan 19:03 filosofinya dengan modal yang 19:05 sekecil-kecilnya 19:07 mendapatkan keuntungan yang 19:08 sebesar-besarnya. 19:09 Ehm. 19:10 Sehingga kemudian mereka tidak 19:11 membicarakan soal akhlak, soal moral, 19:14 soal apa saja. pun. Yang penting bila 19:16 perlu lawan saingan itu dihabisin. Nah, 19:19 kita tahu dalam kasus narkoba itu 19:21 misalnya, itu bisa saling bunuh-bunuhan 19:23 seperti itu. Jadi, oleh karena itu maka 19:26 ini yang mereka ini kapitalis ini, 19:29 kemudian oligarki. 19:30 Coba eh 19:32 Febriansyah Febriansyah itu Febriansyah 19:35 itu kan 74 kg kilogram emas. Itu bukan 19:39 emas sepuhan kan kalau emas sepuhan. 19:42 Ngapain 19:43 ngapain disembunyikan di 19:44 Emas yayasan emas yayasan katanya, Bang. 19:47 Ah, 19:48 tidak seperti itu. Jadi, itu memang apa 19:51 namanya saya ingat waktu 19:54 eh KPK tetapkan 19:56 Ketua DPR jadi tersangka. Ketua KPK 19:59 dipanggil sendirian. 20:01 Oleh Jokowi. 20:03 Iya. 20:03 Dalam kode etik di di KPK 20:06 pimpinan dan deputi 20:09 itu kalau pergi 20:11 satu urusan tidak boleh sendirian. 20:13 Harus didampingi, harus didampingi. Nah, 20:16 sebagai apa namanya saksi dan se seperti 20:18 itu. 20:19 Nah, ternyata kemudian eh Ketua KPK ini 20:23 diberi syarat bahwa Anda sendiri yang 20:25 datang. Nah, tinggalnya berpikir mungkin 20:28 persoalan penting apa segala macam 20:30 tentang KPK, datang. 20:32 Maka kemudian Jokowi katakan batalkan 20:34 itu penangkapan apa Ketua DPR. 20:38 [berdehem] 20:38 Kata Ketua KPK ini "Maaf, Pak, dalam 20:41 undang-undang KPK tidak bisa terbitkan 20:44 SP3." 20:45 Nah, Jokowi enggak ngerti apa itu SP3, 20:47 kemudian dijelaskan 20:49 SP3 [tertawa] 20:50 SP3 itu surat perintah penghentian 20:52 penyidikan. 20:53 Jadi, kalau polisi, jaksa bisa terbitkan 20:56 SP3. Kalau KPK tidak bisa terbitkan SP3. 21:00 Kenapa? Karena 21:01 korupsi itu kejahatan luar biasa 21:03 sehingga waktu saya di KPK saya beritahu 21:05 kepada teman-teman penyidik-penyidik 21:08 Anda ketika tetapkan seseorang menjadi 21:10 tersangka, Anda harus yakin 99% 21:14 bahwa dia akan jadi hukuman di 21:17 pengadilan. 21:18 Iya, tapi 21:19 Kenapa, Pak? Karena 21:21 ini ini ekspo kejahatan luar biasa 21:23 karena kita tidak boleh SP3. Jadi, 21:25 begitu ditetapkan tersangka, dia jatuh 21:27 hukuman. 21:28 He eh. 21:28 Terus ada yang nanya ada 21:30 eh kenapa bukan 100%, Pak Bula? Saya 21:32 katakan 1% itu otoritas Allah yang bisa 21:36 kemudian Allah membalik-membalikkan apa 21:38 namanya hati seseorang seperti 21:40 Iya. 21:41 Ya, memang luar biasa, ya, seorang juru 21:45 bicara KPK pun bisa jadi pengacara yang 21:49 dituduh korupsi pula. 21:51 Dunia memang luar biasa masalah 21:52 integritas ini. Bukan begitu, Bang Bula? 21:55 [berdehem] 21:55 Ya, jadi 21:57 karena itu maka persyaratan untuk jadi 21:59 pegawai KPK itu pertama integritas 22:01 He eh. 22:01 baru kedua profesional. 22:03 He eh. 22:03 Kenapa integritas pertama, profesional 22:05 kedua? Karena kalau dia lulus integritas 22:08 di KPK bisa di ikuti bimtek, pelatihan 22:12 untuk tingkatkan profesionalitas. Tapi 22:14 kalau misalnya integritas bermasalah, 22:16 maka itu jadi masalah betul. Saya sudah 22:18 pernah ceritakan di rahasia ini beberapa 22:20 waktu yang lalu. 22:21 He eh. 22:22 2004 ketika KPK perlu penyidik baru maka 22:25 kemudian SOP di KPK integritas itu 22:28 nilainya empat dan harus minimal 22:31 nilainya eh 3,5. 22:34 3,5. Maaf. 22:36 He eh. 22:37 Nah, ternyata kemudian ketika di tes, 22:40 dia dapat 3.4. 22:42 Jadi, kurang 0.1. 22:44 Kurang 0.1. Sedikit lagi, Pak. 22:46 Ya. 22:47 He eh. 22:48 Menurut SOP tidak lulus, tapi waktu itu 22:51 perlu penyidik karena baru, kan, 2004 22:53 itu. 22:53 He eh. 22:54 Banyak salah satu yang bilang tidak 22:55 apa-apa, dia nanti kita perbaiki. 22:57 Perbaiki di angkatan. Ternyata apa yang 22:59 terjadi, Mas Ihsan? Hanya 6 bulan 23:02 Dia 23:02 ditangkap oleh teman-temannya sendiri. 23:05 Dia jadi 23:06 Alat ukurnya harusnya ada kalau mau bisa 23:08 ya. 23:08 Iya. 23:09 Ya, meritokrasi kalau kata orang itu. 23:11 Kalau kita repot-repotkrasi sekarang. 23:14 Masya Allah. 23:16 saja integritas itu 6 bulan saja sudah 23:18 langgar pelanggaran. Nah, itu persoalan 23:20 integritas. 23:21 He eh. 23:21 Nah, saya kira begitu setelah itu 23:23 kemudian sebelum Jokowi merusak KPK 23:26 tidak ada lagi toleransi. Pokoknya kalau 23:29 tidak dapat nilai 3,5 tidak bisa lulus 23:32 seperti itu. 23:33 He eh. 23:33 Seperti itu. 23:34 Masya Allah. 23:35 Itu itu 23:36 [menghela napas] 23:36 soal integritas. 23:37 He eh. 23:38 Nah, [berdehem] kalau di dalam Alquran 23:39 itu disebutkan dengan kaffah. Ya 23:42 ayyuhalladzina amanu 23:44 udkhulu fi silmi kaffah wala tattabi'u 23:47 khutuwatis syaithan innahu lakum aduwun 23:49 mubin. Hai orang-orang yang beriman, 23:51 masuklah dalam Islam secara totalitas. 23:53 He eh. 23:53 Dan jangan kamu mengikuti 23:55 langkah-langkah setan karena setan itu 23:57 musuh kalian yang nyata. 23:58 Masya Allah. 23:59 Bang Dullah terakhir, Bang Dullah. 81 24:02 tahun kemerdekaan. 24:04 Kita dikasih hadiah hutang yang belum 24:07 pernah terjadi di negeri kita ini. Luar 24:09 biasa. Ditambah lagi kenaikan karena 24:12 beda kurs ya. 24:13 Dan juga penangkapan 24:15 eh masih dari KPK yang nampaknya kalau 24:19 mau ditangkap kata seorang pengamat itu 24:21 80% lebih itu bisa ditangkap macam di 24:23 kebun binatang. 24:25 Apa nasehat Bang Dullah di tengah 24:27 Indonesia yang hari Senin besok 24:30 mengingat tentang kemerdekaan negeri 24:33 ini. Apakah makna itu masih ada? Atau 24:36 apa yang perlu diingatkan? Setidaknya 24:38 dari seorang senior citizen seperti Bang 24:40 Dullah untuk para warga negara lain, 24:44 setidaknya pendengar Radio Silaturahim. 24:46 Silakan, Bang Dullah. 24:48 Ya, Mas Ihsan. Kalau usia 81 tahun 24:52 maka kemudian 24:55 orang kakek, nenek, ya seperti saya 79 24:59 tahun, insyaallah itu sore-sore bermain 25:02 dengan cucu, kemudian minum kopi atau 25:06 teh dengan pisang goreng atau singkong 25:09 goreng. Itulah kira-kira ilustrasi 25:12 tentang orang yang berusia 81 tahun. 25:15 Ehm. 25:16 Berarti kalau merdeka 81 tahun, maka 25:20 rakyat itu sudah sejahtera, rakyat itu 25:22 sudah adil, rakyat itu sudah aman, 25:25 rakyat itu punya hak kebebasan yang 25:28 bertanggung jawab sesuai dengan amanat 25:32 sila kelima Pancasila, keadilan sosial. 25:34 Ehm. 25:35 Tapi hari ini ternyata 81 tahun bukan 25:39 menikmati kesejahteraan, bukan menikmati 25:41 keamanan, kenyamanan, bukan menikmati 25:44 keadilan, tapi kemudian menikmati beban 25:47 yang luar biasa. Kalau sekarang itu 25:50 disebutkan utang itu 9 eh 25:53 ribu triliun lebih, itu utang APBN sisan 25:57 yang tertulis di APBN. Ada utang BUMN, 26:01 ada utang BUMN yang tidak masuk dalam 26:03 APBN. Utang BUMN itu 8 ribu lebih, 8 26:07 ribu lebih triliun. Kemudian ada utang 26:10 swasta, ada utang swasta itu sekitar 4 26:12 ribu triliun. Kemudian ada utang proyek 26:15 seperti kereta api Jakarta-Bandung, 26:18 kemudian IKN dan seterusnya yang itu eh 26:21 tidak masuk di dalam APBN dan seterusnya 26:23 dan itu sehingga sekitar 20 ribu lebih 26:25 Ehm. 26:25 apa namanya utang kita yang itu bisa 26:29 bisa lunas 2000 2045 26:32 atau 2050. Problemnya adalah 2050 itu 26:36 Indonesia masih ada atau tidak, itu itu 26:38 itu problem seperti itu. 26:40 Karena ada hadis ada hadis sahih san 26:42 Iya. 26:43 bahwa 26:44 ketika orang melakukan kecurangan, apa 26:48 timbangan, sukatan dan seterusnya, maka 26:51 Allah akan mengirimkan apa yang disebut 26:53 dengan tentara Allah yaitu panas yang 26:56 panjang. 26:57 Kemarau yang panjang, sehingga kemudian 27:00 itu-itulah tentara Allah. Kita selama 27:02 ini berpikir tentara Allah itu cuma 27:03 malaikat. Maka tentara Allah itu gempa 27:06 bumi, tentara Allah itu panas yang 27:09 panjang, tentara Allah itu apa namanya 27:12 guntur. Nah, kita lihat apa namanya 27:15 Nabi Nuh banjir. Dan Nabi Ad itu gempa 27:18 gempa bumi. Nabi apa namanya Bani 27:22 Tsamud itu 27:23 apa batu-batu yang dilempar pada seperti 27:27 kasus Abrahah seperti itu. Kemudian kaum 27:30 Luth itu seperti 27:32 apa namanya tiba-tiba diserang satu 27:35 penyakit begitu sehingga mereka besok 27:37 itu mati dalam rumahnya seperti itu. 27:40 Jadi tentara Allah itu apa semua yang 27:43 terjadi itu adalah tentara Allah yang 27:45 dikirimkan kepada orang. Sehingga dengan 27:47 begitu maka kemudian kalau kita mau 27:51 menyelamatkan negara ini, kita kembali 27:53 saja ke kalau orang Islam katakan 27:57 kembali ke Islam, eh 27:59 Indonesia kan bukan negara agama. Iya, 28:01 betul. 28:02 Ada 28:04 ada Piagam Jakarta gitu kan, Bang. Jadi 28:06 masalah juga itu kan. 28:08 Nah, Indonesia itu negara tauhid, Mas 28:10 Ishan. Karena sila pertama Pancasila itu 28:13 Ketuhanan Yang Maha Esa. Diabadikan 28:15 dalam pasal 29 UUD 45 ayat 1 berbunyi 28:20 negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang 28:22 Maha Esa. Jadi Indonesia itu negara 28:23 tauhid, negara tauhid. Baru ayat duanya 28:26 menyebutkan negara menjamin kebebasan 28:29 setiap warga memeluk agama dan 28:30 menjalankan syariat agamanya itu. 28:34 Nah, jadi oleh karena itu maka apa yang 28:36 sudah dilakukan oleh beberapa kelompok 28:38 selama ini, ada undang-undang jagal, ada 28:41 undang haji, ada undang kemudian 28:43 diteruskan undang-undang narkoba, 28:45 undang-undang miras, undang-undang 28:47 perzinahan undang sehingga kemudian 28:50 akhirnya kemudian berlakulah apa yang 28:52 ditetapkan oleh Alquran dan As Sunnah. 28:54 Bahwa ketika 28:56 umat Islam 28:57 dan penduduknya itu melaksanakan 28:59 ajaran-ajaran Allah. 29:01 Dan dan dan tidak hanya di Quran, dalam 29:04 Injil, Taurat juga dijelaskan itu. Eh, 29:06 tidak ada Injil dan Taurat yang 29:08 membenarkan riba, Mas Isan. Tidak ada. 29:11 Betul. Ya. 29:12 Ya, Bang. 29:14 Eh, bahkan Bang Nabi kata Rasulullah, 29:16 orang yang memakan riba itu sama dengan 29:17 menzinahi ibu kandungnya sendiri. Nah, 29:20 menzinahi orang lain lebih dosa. 29:22 Yang memungut yang memungut pajak, bukan 29:24 juga masalah juga yang memungut pajak. 29:26 MUI sudah bilang zakat jadikan pajak. 29:28 Orang pajak bilang, emang gua pikirin 29:30 katanya. Gitu katanya. 29:32 [tertawa] 29:33 Padahal ada hadis yang lain mengatakan 29:35 pemungut pajak itu masuk neraka. 29:37 He eh. 29:38 Pemungut pajak itu masuk neraka. Nah, 29:40 bagaimana [berdehem] jalan keluarnya? 29:41 Zakat. Ada zakat tambang, ada zakat 29:43 pertanian, ada zakat apa. Yang itu 29:45 kemudian insyaallah negara ini bisa 29:47 makmur karena Allah takdirkan kita ini 29:50 negara paling makmur di dunia. 29:51 Masyaallah. 29:52 Kenapa hutan kita itu hutan tropis 29:54 ketiga terluas di dunia. 29:57 Laut kita itu terpanjang kedua di dunia. 29:59 20.000 triliun potensi laut kita. 30:02 Tambang kita 20 jenis tambang terbanyak 30:04 di dunia, Mas Isan. 30:06 He eh. 30:06 Yang itu kalau dikelola sesuai dengan 30:08 Quran dan Sunnah atau pasal 33 30:11 He eh. 30:11 dikuasai oleh negara, kemudian 30:14 perusahaan-perusahaan swasta gimana? 30:16 Perusahaan swasta tapi jadi operator 30:17 saja. 30:18 Tapi yang melaksanakan adalah BUMN 30:21 3 tahun cukup negeri ini berubah kalau 30:23 dipimpin oleh ya salam. Enggak lanjut 30:26 lagi lah saya. 30:27 [tertawa] 30:28 Hah. 30:28 Iya iya iya iya. 30:29 Bang Dulah, 30:31 saya baru ingat ini. Bang Dulah ini 18 30:34 Agustus lahirnya di Ambon. 30:37 47 30:37 [tertawa] 30:38 tahun 47. Mungkin ada baiknya nih 30:41 pendengar mengaminkan doa Bang Dullah. 30:44 Seluruh pendengar karena kita kita 30:46 pengen Bang Dullah selalu sehat dan 30:48 bangsa ini masih memerlukan orang-orang 30:51 seperti Bang Dullah ini. 30:52 Ya, Bang Dullah silakan Bang Dullah kita 30:54 berdoa dulu biar pendengar yang lain 30:56 mengaminkan. Ya Allah, tafadhol Bang 30:58 Dullah, bismillah. 31:00 [mendengus] 31:01 [menghela napas][terkesiap] 31:01 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 31:04 Bismillahirrahmanirrahim. 31:06 Allahummaghfir lil mukminin wal 31:08 mukminat. 31:09 Wal muslimin wal muslimat. Al ahya 31:12 minhum wal amwat. 31:14 Innaka sami'un qoribun mujibud da'wat. 31:16 Rabbana dzolamna anfusana wa illam 31:20 taghfirlana wa tarhamna lanakunanna 31:22 minal khosirin. 31:24 Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz 31:27 hadaitana wahablana minladunka rahmat. 31:29 Innaka antal wahhab. 31:31 Rabbana la tuakhidzna innasina wa 31:34 akhto'na. 31:36 Rabbana wala tahmil alaina ishran kama 31:38 hamaltahu alalladzina min qablina. 31:41 Rabbana wala tuhammilna ma la 31:43 thoqotalana bihi. Wa'fu anna waghfirlana 31:46 warhamna. Anta maulana fanshurna alal 31:50 [tertawa] qoumil kafirin. 31:52 Fanshurna alal qoumil kafirin. Fanshurna 31:55 alal qoumil kafirin. 31:57 Rabbana taqobbal minna innaka antas 31:59 sami'ul alim. Rabbana taqobbal doa. 32:02 Rabbana atina fiddunya hasanah. Wafil 32:05 akhirati hasanah. Waqina adzabannar. 32:09 Subhana rabbika. 32:11 Izzati amma yashifun wasalamun alal 32:12 mursalin walhamdulillahirabbil alamin. 32:14 Amin ya rabbal alamin. Terima kasih Bang 32:17 Dullah, mudah-mudahan Allah memberikan 32:19 keberkahan dan sisa usia ini betul-betul 32:21 bermanfaat buat sebanyak-banyaknya umat. 32:24 Diberikan kesehatan dalam keberkahan. 32:27 Terima kasih Bang Abdullah, 30 menit 32:29 lebih sedikit kita ini berbincang pagi 32:31 hari ini dan nampaknya sudah cukup 32:33 memberikan pencerahan. Kita bertemu lagi 32:36 di Jumat mendatang, insyaallah. Bang 32:38 Abdullah yang 32:39 Assalamualaikum warahmatullahi 32:41 wabarakatuh. 32:42 Waalaikumsalam [berdehem] warahmatullahi 32:44 wabarakatuh.