Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 Bismillahirrahmanirrahim 0:06 [musik] 0:16 warahmatullahi wabarakatuh. 0:19 Waalaikumsalam. 0:20 Dipan Alhamdulillahiabbil alamin. 0:22 Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad 0:25 wa ala ali sayyidina Muhammad. 0:27 dipancarlaskan dari jalan Masjid 0:29 Silaturahim nomor 36, Kalimanggis, 0:33 Cibubur, Bekasi, Radio Silaturahim untuk 0:36 Islam yang satu. Ikhwan dan akhwat yang 0:39 dirahmati Allah subhanahu wa taala, 0:41 bagaimana kabar Anda di malam hari ini? 0:44 Semoga dalam keadaan sehat walafiat dan 0:46 selalu dalam lindungan Allah Subhanahu 0:49 wa taala. Senang sekali rasanya kami di 0:52 malam hari ini dapat kembali menyapa 0:55 ikhwan dan akhwat di udara dalam program 0:59 tausiah malam. 1:02 Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah, 1:04 hijrah seringki dipahami sebagai 1:07 perpindahan dari satu keadaan keadaan 1:10 yang lain. Namun sesungguhnya hijrah 1:14 yang paling berat sekaligus paling 1:15 penting adalah hijrah yang terjadi di 1:18 dalam diri kita. Hijrah dari hati yang 1:21 lalai menjadi hati yang selalu mengingat 1:23 Allah dari kebiasaan yang kurang baik 1:26 menuju amal saleh serta dari kehidupan 1:29 yang berpusat pada dunia menuju 1:31 kehidupan yang berorientasi pada 1:34 akhirat. Dan untuk mengupas tema kita di 1:37 malam hari ini, program tadabur 1:40 Al-Qur'an kali ini akan menyimak kajian 1:42 bertema Hijrah Sejati dari Dalam Diri 1:46 yang insyaallah akan disampaikan oleh 1:48 guru kita Ustaz Doni Amir Sagaf telah 1:52 terhubung melalui aplikasi Zoom. 1:55 Asalamualaikum warahmatullahi 1:56 wabarakatuh, Ustaz. 1:58 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:00 wabarakatuh. 2:01 Sehat, Ustaz? Ya, 2:02 alhamdulillah. 2:03 Alhamdulillah. Baik, ikhwan dan akhwat, 2:05 mari kita ikuti dengan seksama. Semoga 2:08 setiap ayat yang ditadaburi menjadi 2:11 sarana muhasabah dan menguatkan tekad 2:14 kita untuk terus berhijrah menuju rida 2:16 Allah Subhanahu wa taala. Kepada guru 2:19 kita Ustaz Dunia Amir Sagaf kami 2:21 persilakan. Tafadol, Ustaz. 2:23 Ya, terima kasih Mas Agus dan ee 2:26 ikhwan-akhwan semua di mana pun berada. 2:29 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 2:31 warahmatullahi wabarakatuh. 2:34 Alhamdulillah. 2:36 Alhamdulillahilladzi 2:37 anzala sakinata fiubil mminin liydadu 2:41 iman maimillahi 2:44 junudamawati 2:46 wallahu alimanakatu 2:49 wasalam al rahmatanil alamin asrofal 2:54 anbiya wal mursalin wa ala alihi 2:56 wasohbihi ajmain. Amma ba'. 3:00 Ee ikhwan akhwat, para pendengar Radio 3:03 Silaturahim 3:04 serta para pemirsa Rasil TV di mana pun 3:07 berada. Alhamdulillah segala puji bagi 3:10 Allah malam hari ini di bulan Muharram 3:14 baru beberapa hari kita masuki 3:17 tahun baru 1448 Hijriah. Alhamdulillah 3:21 Allah kembali bisa ee mempertemukan kita 3:24 lewat udara 3:26 ee dalam rangka 3:29 menuntut ilmu, mempelajari ayat-ayat 3:31 Allah Subhanahu wa taala, 3:32 mentadaburinya. Insyaallah semoga Allah 3:35 rida kepada perjumpaan kita ini dan 3:37 mudah-mudahan nanti apa yang akan kita 3:38 bahas betul-betul bisa memberikan 3:40 manfaat ee bagi perjalanan hidup kita. 3:44 Selawat dan salam mari senantiasa kita 3:46 sampaikan curahkan kepada baginda Nabi 3:48 Muhammad S. sallallahu alaihi wasallam. 3:50 Demikian pula kepada seluruh keluarga 3:52 dan sahabat-sahabat beliau. Semoga kita 3:55 pun istikamah dalam belajar, dalam 3:57 mengamalkan, dan mendakwahkan 3:59 nilai-nilai yang beliau sallallahu 4:00 alaihi wasallam telah ajarkan untuk kita 4:02 semua. 4:04 Ikhwan akhwat, para pemirsa Rasil TV dan 4:07 pendengar Radio Silaturahim di mana pun 4:09 berada. 4:11 seringki 4:13 kesulitan 4:15 ee 4:17 apa untuk memahami orang di sekitar kita 4:21 ya. 4:22 Saya sering mendapatkan apa pertanyaan 4:25 begitu dari para jemaah 4:28 misalkan kenapa kok ya ibu-ibu nih 4:31 sering bertanya kenapa ya suami saya 4:35 kalau diajak ngobrol mengenai [berdehem] 4:39 agama atau apa ee 4:43 saya pulang pengajian pengin ngajak 4:44 ngobrol suami tentang apa yang didapat 4:46 di pengajian 4:48 kadang-kadang suami malah marah gitu 4:50 malah jadi friksi, malah jadi berdebat 4:54 dan lain sebagainya. 4:57 Atau mungkin ada juga ee kita 5:00 mendapatkan apa kesulitan misalkan dalam 5:03 mengajari anak-anak kita gitu ee 5:06 memberikan apa nasihat kepada anak-anak 5:10 ya supaya mungkin dijaga salatnya, 5:13 dijaga apa ee baca Qurannya dan lain 5:16 sebagainya gitu ya. Tapi kok 5:17 kelihatannya kok susah gitu, kok 5:19 anak-anak kok kayaknya malas begitu ya. 5:22 Nah, sebetulnya apa yang terjadi itu? 5:25 Bapak, Ibu yang dirahmati Allah, ikhwan 5:27 akhwat sekalian di mana pun berada. 5:29 Jadi, sebetulnya 5:31 yang dikeluhkan itu 5:35 ber apa? Berada atau terjadi di otak 5:40 setiap manusia. Otak kita sebagai 5:43 manusia. 5:44 di dalam otak kita itu ada tiga ada tiga 5:48 jenis jaringan ya atau ee apa network 5:54 istilahnya network gitu ya. Tiga jenis 5:56 jaringan yang sangat kuat ya dan 6:00 bekerjanya itu ee apa? bekerjanya 6:04 sebagai satu ee bentuk anu apa ya 6:08 istilahnya? Otomatis. Nah, otomatis. 6:11 Jadi ini ada tiga di layar Rasil TV saya 6:14 tampilkan namanya anterior Sali Network 6:18 namanya ya. Tentu saja istilahnya enggak 6:21 usah terlalu dipusingin gitu, Ibu-ibu, 6:23 Bapak-bapak ee para pendengaril 6:26 ee radio silaturahim ataupun pemirsa 6:29 Rasil TV. Enggak perlu, enggak perlu. 6:31 Wah, istilahnya apa nih? Enggak usah. 6:32 Ini cuma nama saja ya. Artinya ada 6:35 namanya gitu loh. 6:37 Nah, anterior sali ini ya ee adalah 6:41 jaringan otak yang bertugas untuk 6:45 men-switch ya untuk mengganti 6:49 ee fokus otak dari awalnya adalah fokus 6:53 tentang ee berpikir ya. berpikir ee 6:57 menjadi fokus tentang bertindak atau 7:01 reaksi. Nah, yang bertindak atau 7:04 bereaksi tadi namanya central eksekutif. 7:07 Ee jaringan yang namanya sentral 7:09 eksekutif. Nah, jadi kenapa orang kok ee 7:13 kalau diajak ngobrol sesuatu dia marah 7:16 umpamanya gitu ya atau orang anak tadi 7:18 kalau diingatin sesuatu dia enggak 7:20 melakukan gitu ya. Sebetulnya itu semua 7:23 ada di Central Executive Network. 7:26 perilakunya dia behavior behavior 7:29 perilaku gitu. 7:32 Nah, sebetulnya yang yang harus kita 7:34 perhatikan bahwa 7:36 di di perilaku ini, di behavior atau di 7:39 perilaku itu, 7:41 perilaku jaringan perilaku itu adalah 7:44 hanya 7:45 hasil ya, hanya tampilan saja 7:51 dari sebetulnya yang mengarahkan itu 7:54 adalah jaringan namanya default mode 7:57 network namanya. E ini jaringan jaringan 8:01 default mode network. E apa itu default 8:05 mode network? Default mode network itu 8:08 adalah jaringan otak kita 8:12 yang berisi semua hal ya tentang diri 8:17 kita. 8:19 Dia adalah narasi 8:22 di dalam diri kita tentang siapa diri 8:25 kita ini. Nah, begitu. Nah, jadi 8:30 dia itulah jaringan itulah yang selalu 8:33 bekerja 8:34 untuk 8:36 selalu mengingatkan siapa kita e menurut 8:40 yang sudah kita percayai. Kira-kira 8:42 begitu. Makanya namanya default mode 8:46 network, jaringan yang sudah default. 8:51 Default itu artinya dari sononya. 8:53 Kira-kira begitu. dari sononya yang 8:55 dimaksud itu adalah sudah sejak lama 8:58 kita percaya bahwa diri kita tuh begitu 9:00 gitu loh ya. Misalkan begini default 9:03 mode network ini 9:06 misalkan ada orang nah ini ada di layar 9:09 Rasil TV saya tampilkan gambarnya ada 9:12 trauma masa kecil yang pernah dialami 9:14 orang itu. Ada pola asuh orang tuanya 9:18 kepada dirinya ya selama masa kecilnya. 9:21 ada perjalanan ilmu pengetahuan yang dia 9:24 pelajari sampai hari ini, sampai detik 9:26 ini, 9:28 cita-cita dia apa dan lain sebagainya. 9:31 Semuanya dikumpulkan oleh jaringan 9:35 jaringan otak namanya DMN atau default 9:38 mode network. Itulah yang menjadi narasi 9:41 tentang siapa dia, siapa diri kita. 9:45 Nah, jadi tindakan seseorang ini 9:48 gambarnya kembali ke sini. tindakan 9:50 seseorang, behavior atau perilaku 9:53 seseorang itu sebetulnya diarahkan 9:57 ya diarahkan 10:00 oleh default mode network diarahkan oleh 10:05 narasi yang ada di dalam diri kita. Ya, 10:08 saya ambil contoh begini. Misalkan ya 10:12 saya ya dibesarkan oleh kedua orang tua 10:17 saya yang asli dari Aceh orang tua saya 10:20 ini kedua-duanya. 10:23 Nah, sehingga Bapak Ibu saya dalam 10:26 perjalanan membesarkan saya itu 10:29 memberikan kontribusi 10:32 kepada narasi 10:35 saya tentang diri saya dari soal 10:38 makanan. Misalkan. 10:40 Jadi, Bapak Ibu saya sebagai orang Aceh, 10:44 beliau menyukai makanan yang ada 10:47 asinnya, ada asamnya, ada pedasnya 10:51 gitu ya. Di waktu gua asin asam pedas 10:55 saja saya agak ada apa salifa yang air 10:59 liur yang keluar gitu kira-kira. Saking 11:02 itulah narasi tentang siapa diri saya 11:04 gitu ya. Nah, 11:06 lalu berjalannya waktu ya saya yang 11:10 tadinya kecil ini lalu bertambah dewasa. 11:14 Itu definisi tentang makanan yang enak 11:18 yang berasal dari kedua orang tua saya 11:21 itu menempel menjadi narasi tentang 11:25 siapa saya 11:28 gitu. Karena itulah pola asuh orang tua 11:31 saya. Ee jadi sekarang setelah saya 11:34 dewasa, dia menjadi jaringan narasi di 11:39 dalam otak saya tentang siapa diri saya. 11:42 Saya adalah orang yang suka makanan yang 11:45 asin, asam, dan pedas 11:48 gitu. Berasal dari narasi yang di ee 11:52 kontribusikan oleh orang tua saya, gitu 11:54 kan. Nah, 11:57 seandainya kemudian saya kebetulan ya 12:01 qadarullah bukan kebetulan ya qadarullah 12:03 saya menikah ya istri saya di Ibu Rizka 12:08 Agustin 12:10 orang Jawa tulen 12:13 gitu. di mana default network-nya dia, 12:17 default default network-nya Bu Riska 12:18 istri saya itu soal makanan adalah 12:23 makanan yang enak itu makanan yang 12:27 manis, yang legit dan yang gurih 12:31 karena dia dibesarkan oleh pola asuh 12:34 orang tua yang Jawa tulen gitu. 12:37 Nah, akhirnya kami berdua yang berbeda 12:42 default mode network dalam makanan saja 12:45 tadi contohnya ya, harus bisa 12:48 meng-update ini kami berdua nih. 12:52 Saya harus bisa meng-update default mode 12:54 network saya. Demikian pula ee istri 12:58 saya harus bisa mengupdate default mode 13:00 network dia karena suatu waktu nanti 13:02 kita akan makan makanan yang sesuai 13:04 dengan DMN atau default mode network 13:06 saya. Suatu waktu nanti kita akan makan 13:08 makanan yang sesuai dengan default mode 13:10 network dari istri saya. Kalau saya 13:13 tidak bisa mengubah default mode network 13:15 saya atau meng-update default mode 13:17 network saya ya saya pasti tidak akan 13:19 bahagia 13:21 ya. merasa diri nanti wah ee kurang 13:25 beruntung saya gitu. Ee begitu juga 13:28 sebaliknya. Nah gitu. Begitu juga 13:30 sebaliknya. Nah jadi perilaku seseorang 13:34 sebetulnya diarahkan oleh bagaimana 13:38 narasi di dalam dirinya tentang dirinya 13:41 sendiri. Default mode network. 13:44 Dan default mode network ini kuat 13:46 sekali. Bapak Ibu yang dirahmati Allah, 13:48 ikhwan-akhwat sekalian di mana pun 13:49 berada. karena memang dia bekerja ya 13:53 untuk ee apa istilahnya ya sebagai 13:57 default sebagai ukuran dasar ya tentang 14:01 siapa kita. Nah, gitu. 14:05 Nah, 14:07 hijrah itu sesungguhnya Bapak, Ibu 14:10 akhwat sekalian, adalah bukan 14:14 memindahkan bukan hanya memindahkan 14:17 perilaku atau behavior yang ada di 14:20 sentral eksekutif 14:23 perilaku bukan hanya perilaku atau bukan 14:25 hanya fisik, tetapi lebih jauh adalah 14:29 memindahkan atau menggeser, meng-update 14:31 sampai ke default mode network. 14:36 sampai kepada dalam diri tentang apa 14:40 yang kita suka, tentang apa yang kita 14:42 anggap berharga, 14:44 tentang apa yang menjadi top of mind 14:47 kita, 14:49 gitu. Jadi contoh misalkan 14:52 ada seseorang yang berhijrah 14:56 tadinya tidak tadinya mungkin tidak 14:59 berjenggot misalkan begitu ya 15:01 Bapak-bapak nih. Tidak berjenggot 15:02 misalkan. Oh, sekarang berjenggot ya. 15:06 Alhamdulillah itu bagus sekali. 15:09 Tetapi 15:11 hijrah yang sejati ini tidak hanya 15:13 sampai di central eksekutif tadi, itu 15:16 tidak hanya sampai di tampilan luarnya 15:18 tadi. Tetapi apakah di bagian dalam 15:22 default mode network narasi tentang 15:25 siapa diri kita itu sudah berubah atau 15:27 belum. 15:29 Karena sebetulnya narasi itulah narasi 15:32 tentang siapa kita itulah yang akan 15:34 membuat kita berperilaku seperti apa 15:37 nanti sesuai dengan apa yang diarahkan 15:40 ya di yang apa yang menjadi arahan dari 15:43 default mode network. Misalkan 15:46 ada seseorang yang tumbuh 15:50 dengan trauma masa kecil misalkan ya, 15:53 misalkan trauma masa kecilnya dia 15:57 selalu diremehkan, direndahkan ya oleh 16:01 orang lain misalkan di sekitar dia 16:02 misalkan begitu. 16:05 Atau di di apa istilahnya 16:07 dibanding-bandingkan secara negatif 16:10 misalkan ya kepada kakaknya, adiknya 16:12 gitu misalkan ya. kamu nih enggak bisa 16:14 tuh coba lihat kayak kakak gitu misalkan 16:16 kamu makanya kamu ini sih enggak apa 16:19 malas belajar makanya enggak dapat kayak 16:21 kakak umpama begitu ya. Nah, anak 16:23 seperti itu akan tumbuh 16:26 menyimpan trauma tadi yang terjadi 16:28 kepada dirinya tadi 16:30 ya. dibanding-bandingkan, 16:32 disudutkan, ya tidak didengar dan lain 16:34 sebagainya itu akan menjadi data di 16:37 dalam otaknya. Kemudian dipakai oleh 16:41 jaringan default mode network ini untuk 16:44 menarasikan siapa dirinya. 16:47 Akhirnya itu menjadi satu pengalaman 16:50 traumatis tadi menjadi satu alarm, 16:54 menjadi satu sensor tanda bahaya yang 16:58 diingat oleh otaknya. 17:00 Maka di usia dewasa ya kemudian kalau 17:05 ada sesuatu terjadi kepada dirinya yang 17:10 ya menurut otak tadi mirip-mirip atau 17:13 berpotensi akan terjadi seperti trauma 17:16 masa kecil di mana dia 17:17 dibanding-bandingkan, 17:19 disudutkan, tidak didengar dan lain 17:21 sebagainya gitu dipandang rendah. 17:25 Maka peristiwa yang terjadi di masa 17:28 dewasa ini 17:30 langsung akan ditanggapi dengan emosi. 17:33 Nah, makanya banyak jemaah ibu-ibu 17:36 bertanya begini, "Ustaz, kenapa ya kok 17:39 suami saya saya pulang pengajian nih 17:43 dapat ilmu baru. Ee saya pengin ngobrol 17:46 sama suami ya tukar pikiran. Saya 17:49 ceritalah apa yang saya dapat waktu di 17:51 pengajian. Eh, kok reaksi suami malah 17:54 emosi ya? 17:57 Malah kayaknya kok dia marah gitu loh. 17:59 Ee 18:01 kok dia jadi kok kok dia jadi marah 18:03 gitu. Nah, saya bingung gitu kenapa 18:06 begitu ya. Nah, jawabannya adalah boleh 18:09 jadi 18:11 di bagian network default network tadi 18:14 itu inner narasi narasi di dalam dirinya 18:18 suami si ibu tadi itu ada alarm 18:23 yang ee 18:26 mendeteksi bahaya 18:28 seperti dulu pernah terjadi di masa 18:30 kecil 18:33 gitu. Waktu dia disudutkan, 18:36 ee waktu dia disalahkan, kamu nih enggak 18:39 becus, enggak beres, bla bla bla bla, 18:41 trauma tersimpan. Nah, begitu sudah 18:43 dewasa, istrinya datang membawa satu 18:46 kebenaran, misalkan dari pengajian gitu 18:48 ya. Ah, berarti kan membawa kebenaran 18:52 itu berarti kan a apa? otaknya 18:56 mulai-mulai berpikir nih, wah berarti 18:58 ini akan menyudutkan saya nih ee karena 19:02 mungkin akan mengevaluasi selama ini 19:04 saya salah, yang benar tuh begini loh. 19:07 Nah, gitu. Nah, sehingga alarmnya tadi 19:10 itu duluan berbunyi ya dan membuat dia 19:13 merespon dengan cara yang ee emosi. Nah, 19:17 gitu. Jadi sebetulnya kalau sudah hijrah 19:23 secara fisik, rajin ke masjid, ikut 19:26 pengajian umpamanya begitu ya, tetapi 19:29 belum berhasil mengubah sampai ke dalam 19:32 default mode network, ya nanti bisa 19:36 terjadi arogansi dalam agama itu. 19:41 Orang semasa kecilnya sering diremehkan. 19:45 orang semasa kecilnya trauma karena dia 19:48 tidak pernah didengar kata-kata dia, 19:50 tidak pernah dianggap kira-kira begitu 19:53 menurut dia gitu ya dalam perjalanan 19:54 masa kecil dia. Lalu tiba-tiba di usia 19:56 dewasa dia mendapatkan 20:00 satu alat ya kebetulan alat ini namanya 20:06 agama, aturan agama. dengan alat itu 20:08 rupanya dia bisa menjadi merasa lebih 20:11 baik daripada orang lain, menyalahkan 20:13 orang lain. 20:15 Ah, akhirnya jadilah alat itu sebagai 20:18 kompensasi 20:19 untuk inner naratif dia, narasi di dalam 20:23 diri dia yang merasa tadi tidak didengar 20:26 dan lain sebagainya. trauma masa kecil 20:28 tadi itu dikompensasi lewat cara agama 20:32 itu. Nah, sehingga dia ke mana-mana 20:34 menyalahkan orang, "Oh, kamu ini kalau 20:37 celananya di bawah mata kaki nanti kamu 20:39 masuk neraka loh, gitu." Padahal ee 20:43 hal-hal seperti itu ee bukan letterlek 20:47 soal celananya di bawah mata kaki atau 20:50 di atas mata kaki ternyata, tetapi ada 20:52 simbol kesombongan di situ. Nah, kayak 20:55 gitu. Orang misalkan salat subuh pakai 20:58 qunut umpama, wah sama dia langsung 21:00 disalahkan nih. Ee kamu ini bisa ini 21:03 tidak dicontohkan Nabi. Misalkan begitu 21:05 ya, misalkan ini. Nah, itu itu menjadi 21:08 alat untuk menyalurkan 21:12 inner narasi narasi dalam dirinya yang 21:14 belum selesai tadi, yang belum 21:15 terhijrahkan tadi. membutuhkan 21:17 kompensasi dari ee bisa menyalahkan 21:21 orang lain. Nah, kira-kira begitu. 21:24 Nah, maka itu orang hijrah itu 21:27 sebetulnya harus sampai ke dalam ee 21:29 default mode network mengubah apa yang 21:32 apa yang selama ini menjadi hal berharga 21:36 buat dia tuh berubah. 21:39 Nah, Bapak Ibu yang dirahmati Allah, 21:41 inilah yang terjadi kepada seorang 21:44 sahabat luar biasa bernama Suhaib Ibnu 21:47 Sinan radhiallahu anhu. Suhaib Ibnu 21:51 Sinan ini luar biasa. 21:53 Karena beliau ini 21:56 kisah kisah berangkat hijrahnya beliau 22:00 itu 22:01 menjadi asbabun nuzul atau latar 22:04 belakang turunnya surah Albaqarah surah 22:08 ke-2 ayat 207. 22:12 Surah 2 ayat 207. 22:14 Nah, jadi singkat cerita di situ dari 22:18 hadis dari dua jalur hadis yang 22:21 diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Hammad 22:24 bin Salamah dan berujung nanti pada Anas 22:27 ibn Malik satunya itu dalam Sahih Muslim 22:30 ya. Demikian pula satu lagi diriwayatkan 22:32 dari Ibnu Jarir yang berujung pada Abi 22:35 Dzar Al-Ghifari ya ee dan Jundub Ibnu 22:40 Sakan ya itu ada di 22:43 Sahih Bukharinya ya. Nah, di situ 22:47 diceritakan bagaimana 22:49 Suhaib Ibnu Sinan ketika berangkat 22:51 berhijrah karena beliau ini ee termasuk 22:54 terakhir yang berhijrah. Nabi Muhammad 22:57 sudah pergi, sudah hijrah sama ee Abu 22:59 Bakar gitu kan. Sebelumnya para sahabat 23:02 yang mayoritas sudah hijrah. Lalu 23:05 Rasulullah dan Abu Bakar Assiddiq 23:07 radhiallahu anhu. Lalu ee Ali bin Abi 23:10 Thalib radhiallahu anhu. Nah, terakhir 23:13 ini sahabat yang apa yang ee 23:19 termasuk seorang sahabat yang sangat 23:22 dekat kepada Rasulullah yakni Suaib Ibnu 23:24 Siddi terakhir berangkatnya. 23:26 Dan beliau itu adalah seorang terkaya 23:30 kedua di Makkah ketika itu. Nah, terkaya 23:34 pertama tuh Abu Bakar Assiddiq 23:36 radhiallahu anhu. Nah, Suhaib ini 23:39 termasuk orang yang paling kaya ya. 23:41 Bahkan ada yang mengatakan terkaya 23:43 kedua. 23:45 Nah, begitu akan hijrah ini yang membuat 23:47 kemudian turunnya surah Albaqarah ayat 23:49 207 tadi ketika beliau akan hijrah ini 23:54 akan keluar dari perbatasan Makkah ee 23:57 beliau itu dihadang 24:00 oleh pasukan orang-orang kafir Quraisy. 24:03 Dihadang beliau. 24:05 Lalu dalam kedua hadis tadi dijelaskan, 24:09 digambarkan bahwa beliau bilang begini 24:11 sama orang-orang Quraisy, pasukan 24:12 Quraisy itu. Kata beliau begini, "Wahai 24:16 orang-orang Quraisy, kalian ini kan tahu 24:19 semua bahwa saya ini seorang pemanah 24:23 yang ulung. 24:26 Saya ini jago panah. 24:29 Jadi kalian tidak akan bisa mendekati 24:32 saya 24:34 kecuali anak panah ini menancap di tubuh 24:38 kalian masing-masing. Kata Suhaib. 24:43 Dan memang betul Suhaib ini seorang jago 24:45 panah. Nah, ya makanya langsung 24:49 ketar-ketir juga nih orang-orang pasukan 24:52 ee Quraisy nih. Tapi hebatnya kemudian 24:56 setelah mengatakan itu, Sayidina Suhaib 25:00 Ibnu Sidan radhiallahu anhu ini kemudian 25:03 mengatakan juga kalimat begini. 25:07 Sekarang kata Suaib kepada para para 25:10 orang-orang Quraisy ini, sekarang 25:12 daripada kalian mati terbunuh 25:16 ya terbunuh kena panah saya. 25:20 Gimana kalau gini aja deh 25:24 saya ini kan banyak uang, banyak duit 25:26 saya ini ya orang terkaya kedua 25:30 uangnya mungkin triliunan kalau zaman 25:32 sekarang gitu ya triliunan. Nah, kalau 25:36 kalau kalau sekarang kan uang itu 25:38 disimpannya di rekening gitu ya, 25:40 rekening bank gitu ya. Kalau dulu kan 25:41 simpannya pakai emas. 25:44 Nah, lalu kata Suhaib gini ajaalah 25:46 daripada kalian mati kena panah saya, 25:51 mau enggak kalian 25:53 itu emas-emas saya yang jadi anu jadi 25:58 harta saya itu saya kasihkan aja semua 26:00 buat kalian. Mau enggak? 26:03 E nah terus biarkan saya pergi nih. Saya 26:06 mau hijrah ke Madinah. Mau pindah saya. 26:09 Kata Suaib. Nah, mendengar hal seperti 26:12 itu tentu saja orang-orang Quraisy ini 26:14 bukan kepalang. Girangnya itu bukan 26:16 kepalang. Senang banget itu. Ah. Oh, 26:20 okelah kalau begitu. Wah, kenapa enggak 26:23 ngomong dari tadi nih, Bro? Kira-kira 26:25 begitu ya. Okelah. Eah. Akhirnya karena 26:29 mereka senang akan dapat uang banyak 26:31 gitu ya dalam bentuk emas tadi itu ya. 26:34 Nah, diantarlah oleh Suhaib ke rumah 26:37 beliau. 26:40 Dibuka tempat penyimpanannya 26:42 ya, tempat penyimpanan yang sangat 26:44 rahasia ya. Lalu beliau kasih semuanya 26:47 itu hartanya dikasih semua. Hasil beliau 26:51 berbisnis, berdagang, berniaga selama 26:53 ini dikumpulkan dalam bentuk emas harta 26:56 kayaannya. Lalu dikasihkan semua. 26:59 Kasihkan semua. Nah, 27:02 orang-orang Quraisy mendapat harta 27:06 kekayaan itu gembiranya bukan main. 27:09 Sementara Suhaib yang berangkat hijrah 27:11 pun gembiranya juga luar biasa. 27:14 Dan saat itu tidak ada satuun lagi orang 27:17 beriman yang melihat kejadian itu. 27:19 Karena orang pada sudah pada hijrah 27:21 semua kan? Sudah pada hijrah semua. 27:23 Nah, rupanya Allah Subhanahu wa taala 27:26 tentu saja tahu peristiwa itu. Lalu 27:29 turunlah Malaikat Jibril kepada Nabi 27:33 Muhammad di Madinah. 27:36 Nah, di situlah turun surah Albaqarah 27:39 ayat 207 tentang Suhaib yang akan 27:42 berangkat hijrah tadi. Nah, kalimatnya 27:45 begini. Surah Albaqarah 207. 27:53 nafsah 27:56 wallahu bil ibad. Sayang sekali kalau di 27:59 terjemahan itu diartikannya kata-kata 28:02 syarasi 28:05 yasri. Yasri itu diambil dari kata 28:07 syaro. Nah, syaro itu sebetulnya artinya 28:10 menjual. Istaro 28:14 itu membeli ee menjual itu namanya 28:16 syaro. Nah, jadi sayang sekali di 28:20 terjemahan diartikan syarikan 28:22 mengorbankan. 28:24 Padahal tidak tepat ini kata-kata 28:26 mengorbankan ini. 28:28 Kalau diartikan mengorbankan seolah-olah 28:31 jadi enggak jadi enggak enggak muncul 28:33 itu cerita bahwa Suhaib sebagai seorang 28:37 pengusaha tapi merelakan semua hartanya. 28:41 Ya, enggak enggak muncul anunya itu 28:44 nuansa itu. Padahal harusnya kalimatnya 28:47 dan di antara manusia ada orang-orang 28:50 yang menjual dirinya sendiri karena 28:53 mencari rida Allah Subhanahu wa taala. 28:55 Nah, jadinya beda kan menjual menjual. 28:59 Sebab begitu Suhaib sampai di Madinah 29:03 rupanya ya para sahabat sudah tahu nih 29:07 di dari Rasulullah tentu saja. 29:10 Maka para Rasulullah dan para sahabat 29:13 menyampaikan kata-kata yang sangat 29:16 terkenal tuh kepada Suhaib tuh 29:17 kalimatnya. Kata-kata itu, "Rabihal bai 29:20 ya syuhaib. Rabihal bai ya Aba Yahya. Ee 29:24 beruntung sekali ini perdaganganmu, 29:26 perniagaanmu beruntung sekali wahai Abu 29:29 Yahya, wahai Suhaib." ee kata para 29:32 sahabat dan Rasulullah kepada beliau, 29:35 "Beruntung sekali perdaganganmu, ya." 29:37 Perdaganganmu. 29:39 Nah, jadi perdagangan itu karena apa? 29:43 Rupanya yang di yang di apa? Yang 29:46 diteliti oleh para mufasir ini. Betapa 29:49 hebatnya Suhaib 29:52 ini orangnya, 29:55 kakinya belum melangkah keluar dari 29:57 Makkah. Fisiknya belum keluar Makkah. 30:01 Tapi hijrahnya sudah diapprove oleh 30:04 Allah Subhanahu wa taala lewat turunnya 30:07 surat Albaqarah ayat 207. 30:09 Nah, ini hebatnya. Jadi, fisiknya, 30:12 fisiknya belum jalan, tapi dari dalam 30:15 dirinya beliau sudah terjadi hijrah. 30:20 Hijrahnya, berpindahnya itu isi di dalam 30:23 pikiran tadi ya. Habil khusus. Sekarang 30:26 kita tahu di dalam default mode 30:28 network-nya itu DMN tadi yang menjadi 30:32 top of mind, yang menjadi sesuatu yang 30:35 berharga itu bukan lagi uang, bukan lagi 30:38 emas, bukan lagi duit. 30:41 Sehingga beliau dengan mudahnya bisa 30:43 menyerahkan saja kepada orang-orang 30:45 Quraisy uangnya semuanya. Semuanya. Ee 30:51 maksudnya begini, Bapak, Ibu ya, Ikhwan 30:53 akhwat sekalian. 30:55 Kan Suhaib ini kan seorang pengusaha, 30:58 pengusaha kakap, pengusaha sukses. Nah, 31:02 namanya juga orang terkaya kedua di 31:04 Makkah. Pastilah cara berpikirnya, 31:10 otaknya itu adalah otak pengusaha, gitu. 31:14 Otak pengusaha itu apa ya? terbiasa 31:18 menghitung laba rugi, 31:21 terbiasa untuk melakukan strategis, 31:24 strategik rencana strategis. 31:28 Artinya begini, seandainya Suhaib 31:32 mengatakan kepada orang-orang Quraisy 31:34 untuk memberikan uangnya setengahnya 31:36 gitu, separuhnya aja, orang-orang itu 31:39 pasti sudah senang juga. 31:43 Saya punya uang 5 triliun nih, kata 31:45 Suaib misalkan begitu ya. Karena orang 31:47 terkaya kedua nih. Ee gimana kalau saya 31:49 kasih separuhnya buat kalian? Separuhnya 31:52 saya bawa ke Madinah. Pasti juga mereka 31:54 mau itu 31:56 karena itu sudah sangat banyak sekali. 31:58 Tapi kenapa tidak dilakukan gitu 32:00 kira-kira ya? Atau mungkin 32:04 kasihnya ya lebih banyak ke sana 32:07 misalkan 80% 20%nya bisa dibawa gitu. 32:10 Kenapa itu tidak dilakukan oleh Suhaib? 32:12 Kenapa semuanya dikasih dengan entengnya 32:15 begitu? Seolah-olah otak pengusaha atau 32:19 bisnismen-nya tadi seolah-olah sudah 32:20 tidak ada lagi. Ee apa yang terjadi 32:24 kepada beliau? Yang terjadi adalah 32:26 pergeseran alias hijrahnya, 32:30 narasi di dalam dirinya tentang siapa 32:33 dia, tentang siapa beliau, tentang apa 32:36 yang berharga buat beliau. narasi itu 32:39 default mode network tadi itu sudah 32:42 berubah. 32:43 Bukan lagi uang yang berharga, bukan 32:46 lagi duit yang berharga, bukan lagi 32:48 dunia yang berharga. Nah, jadi dunia 32:51 atau uang atau duit tadi sudah tidak ada 32:53 lagi harganya. Nah, sehingga bisa 32:55 diberikan dengan mudah saja, rileks 32:57 saja, santai aja ya, enggak ada masalah 33:00 apa-apa. Ya sudah ambil aja semuanya. 33:02 Ee gitu. Jadi, Ibu Bapak yang dirahmati 33:05 Allah, ikhwan akhwat sekalian di mana 33:07 pun berada. 33:10 Pelajaran kita dari hijrahnya Suhaib 33:13 Ibnu Sinan adalah kaki beliau belum 33:16 melangkah Makkah tapi hijrahnya sudah 33:17 diapprove. Berarti hijrah yang 33:20 sebenarnya itu, yang sejati itu 33:23 sebetulnya dia adalah proses hijrah di 33:27 dalam diri kita. Menghijrahkan narasi 33:32 tentang siapa kita. 33:34 Selama ini boleh jadi narasinya karena 33:36 di karena berisi itu kan berisi trauma 33:39 masa lalu apa ee pola asuh dan lain 33:42 sebagainya. Akhirnya banyak narasi yang 33:45 bertentangan dengan petunjuk Al-Qur'an. 33:48 Ee itulah yang mesti kita hijrahkan, 33:51 kita geser sehingga nanti perilaku kita 33:55 sentral eksekutif, jaringan otak sentral 33:58 eksekutifnya dengan sendirinya diarahkan 34:00 dengan baik karena sudah terjadi hijrah 34:03 dari default mode network alias eh DMN 34:08 kita ya, jaringan otak itu. Nah, gitu. 34:14 Jadi inilah yang terjadi kepada Suhaib. 34:16 Makanya yang sejatinya tuh seperti itu. 34:18 Makanya kadang-kadang orang hijrah 34:19 fisiknya hijrah dari yang tadinya enggak 34:22 ikut pengajian jadi ikut pengajian 34:25 rajin. Tapi kalau DMN-nya belum 34:27 dihijrahkan, masih kebawa 34:30 tentang bagaimana 34:33 apa 34:35 ada trauma masa kecil ya, ada pola asuh 34:39 yang membuat dia merasa inferior atau 34:42 rendah diri. 34:45 Nah, begitu ikut pengajian ah dia malah 34:48 jadi arogan ya, malah jadi seolah-olah 34:52 orang lain salah semua. Nah, itu 34:54 sebetulnya adalah cara tadi untuk 34:57 default mode network itu mendapatkan 35:00 mainan baru. Ya, istilahnya begitu. 35:02 Mainan baru 35:04 kan begitu. Eh, tapi kalau orang sudah 35:07 hijrah default mode network-nya sudah 35:09 tidak perlu lagi ada gelisah, sudah 35:12 tidak perlu lagi ada khawatir tentang 35:14 dunia, tentang apa, enggak perlu lagi. 35:17 Kenapa? karena sudah hijrah 35:19 ya hijrah default mode networknya ini 35:22 ya. Jadi tidak lagi tidak lagi menjadi 35:25 agama tuh aturan agama tuh tidak lagi 35:27 menjadi alat untuk melegitimasi 35:30 apa ee 35:32 ininya arogansinya dia arogan ya. Semua 35:35 orang salah aja, semua orang enggak ada 35:38 yang benar aja. Pokoknya yang benar ya 35:40 cuma dia sendiri umpamanya begitu ya. 35:42 Atau apa ee semua orang mencurigakan 35:45 aja, semua orang ini salah gitu ya, 35:47 semua orang ini enggak ngerti gitu dan 35:49 lain sebagainya gitu. Nah, itu kan itu 35:51 kan bentuk arogan yang berasal dari ya 35:54 peristiwa masa kecil, pola asuh dan lain 35:57 sebagainya. Trauma-trauma 35:59 itu yang mesti dihijrahkan. Silahkan. 36:03 Nah, gitu. Gimana cara menghijrahkannya? 36:06 Cara menghijrahkannya ada tiga nih, 36:10 kawan-kawan sekalian, Bapak, Ibu, para 36:13 pemirsa Rasil TV dan pendengar Radio 36:15 Silaturahim, ada tiga cara 36:18 supaya betul-betul kita ikut petunjuk 36:21 Quran menghijrahkan ee mental kita. 36:26 Maksudnya DMN atau default mode network 36:29 tadi kita hijrahkan. [mendengus] 36:31 Nah, yang pertama kita hijrahkan mental 36:35 atau karakter kita, DMN kita tadi itu 36:38 kita hijrahkan dari yang sebelumnya 36:42 bangga dengan pencapaian dunia, 36:46 kita hijrahkan. 36:48 Jadi pencapaian dunia itu tidak penting 36:50 lagi sekarang. 36:52 Nah, yang penting kalau yang menjadi 36:55 penting justru adalah bagaimana sesuai 36:57 dengan bagaimana karakter kita ini 37:00 sesuai dengan petunjuk Allah. 37:03 Mau disebut di dunia atau tidak ya 37:06 enggak penting lagi. 37:08 Mau dikenal di dunia atau tidak enggak 37:10 penting lagi. Mau di ee apa mau di apa 37:15 ya istilahnya? Mau direcognize atau di 37:18 di ya di aduh dikenal di dunia. Enggak, 37:21 enggak. Sudah enggak penting lagi. Ee 37:23 mana dalilnya? Ini surat An-Najm satu 37:25 kita tadaburi surat An-Najm ya ayat 29 37:30 dan 30. Surah 54 ya, Bapak Ibu ya di juz 37:33 yang ke-27 itu kan 37:36 kalimat Allah begini. 37:37 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 37:39 Faid 37:41 aman tawallaikrina. 37:43 Kata Allah berpalinglah. Memang khitab 37:47 pertamanya kepada Nabi Muhammad nih yang 37:48 diajak bicara. Nah, terus Al-Qur'an ini 37:51 kan sampai sampai juga kepada kita. Jadi 37:54 aturan ini juga sampai kepada kita. 37:56 Kalimatnya berpalinglah 37:59 dari artinya tinggalkanlah gitu ya. 38:01 Berpaling. Jangan ikuti. Siapa? 38:04 Orang-orang yang lupa kepada kami. Ee 38:08 amman tawalla an zikrina. Berpalinglah 38:11 dari orang-orang yang lupa akan 38:12 peringatan kami atau atau akan kami gitu 38:15 ya. Apa ciri mereka? Apa ciri orang yang 38:18 lupa dari peringatan Allah? Kalimat 38:20 berikutnya, walam yurid illal hayatad 38:24 dunya. 38:26 Keinginan mereka itu ujung-ujungnya 38:29 adalah dunia saja. 38:32 Keinginan mereka ujung-ujungnya dunia. 38:36 Puncak tertingginya ilmu mereka, 38:39 keinginan mereka, pengetahuan mereka. 38:42 Puncak tertingginya hanya nyampai dunia 38:44 doang. 38:45 E pada ayat 30-nya dalalika mablaguhum 38:48 minal ilm. Nah, dunia itulah yang 38:51 menjadi setinggi-tingginya pencapaian 38:54 ilmu mereka, pencapaian kerja keras 38:57 mereka, pencapaian kebanggaan mereka. 39:00 Yang tertinggi itu cuma dunia saja. 39:04 Dunia saja. Nah, jadi ke mana-mana 39:06 cerita tentang dunia ya. Ee mengurusi 39:12 kelihatannya mengurusi agama gitu. 39:14 misalkan, "Wah, jadi pengurus masjid 39:17 umpamanya kelihatannya ngurusin agama 39:19 terus, ngurusin masjid terus sehari-hari 39:21 ngurusin masjid. Tapi begitu dalam 39:23 mengurus masjid ini egonya yang pengin 39:27 tampil terus. Ee yang pengin diingat 39:30 orang dirinya terus, yang kepengin 39:33 disebut-sebut ah dirinya, kalau dia 39:36 enggak disebut dia marah, kecewa." 39:39 Ah, gitu. Ah, itu berarti orang seperti 39:41 itu walaupun berada dalam lingkup urusan 39:44 agama, tapi urusannya masih dunia. 39:48 Masih dunia. Nah, ini harus dihijrahkan 39:53 dunia. Maka itu Allah secara spesifik 39:56 juga memberikan panduan kepada kita apa 40:00 saja dunia itu ya. Jadi, dunia dan 40:04 akhirat itu bukan bukan soal urusan 40:06 luarnya. Misalkan tadinya enggak ngurus 40:09 masjid, sekarang ngurus masjid aja ya. 40:12 Tadinya kan kerja gitu ya, sekarang 40:13 ngurus masjid aja. Wah, berarti dia udah 40:16 akhirat. Udah akhirat semua nih. Bukan, 40:19 belum tentu ngurusin masjid. Tapi kalau 40:22 egonya yang paling nomor satu, 40:25 [mendengus] dianya yang paling pengin 40:27 diingat, pengin dikenal, pengin apa, 40:29 pengin tampil, pengin apa, dan lain 40:31 sebagainya. Ah, itu berarti urusannya 40:33 masih dunia. 40:36 Walaupun mengurusi yang kelihatannya 40:39 kayak ngurusi akhirat gitu loh, kayak 40:41 ngurusi masjid umpama gitu. Tapi egonya 40:44 itu. Nah, maka kata Allah dunia itu 40:48 setidaknya ada lima. Nah, kalimatnya 40:51 begini ya. Amu, ketahuilah oleh kalian 40:56 annamal hayatud dunia. Bahwa kehidupan 40:58 dunia itu ada lima. 41:00 Anamal hayat dunia pertama laibun. 41:03 Laibun itu permainan ya, permainan 41:07 ya. Kemudian walahwun. Lahwun itu senda 41:11 gurau ya. Jadi senda gurau ini ya 41:15 entertainment lah bisa disebut begitu. 41:17 Kalau sekarang orang ya macam-macam nih 41:19 entertainmentnya itu ya. Kalau e apa 41:22 katanya ibu-ibu tuh suka drama Korea 41:24 sekarang lagi drama Cina. Ah, habis 41:27 sudah dengan itu jadi jadi sampai 41:30 pikirannya tuh sampai ngikut dengan 41:32 dengan anu dengan fantasi dengan 41:35 halusinasi yang ada di film-film itu. 41:38 Nah, itu bahaya betul. Laibun walahwun. 41:41 Yang ketiga, wazinatun. 41:44 Zinatun itu artinya perhiasan. 41:49 pengin tampilnya tuh kayak wah pokoknya 41:53 ee ini banyak di kampung-kampung nih 41:56 Bapak Ibu ya ee termasuk jugalah di 41:59 kampung kami di sana itu kalau sudah mau 42:02 mendekati Idul Fitri 42:05 itu toko emas itu penuh. 42:08 Ee kenapa orang pada beli emas? 42:13 Untuk apa beli emas ini? untuk nanti 42:15 acara salam-salaman 42:18 nih kelihatan emasnya. Wah, gelangnya 42:20 bagus banyak emasnya cincinnya bagus 42:23 banyak gitu. Lucunya setelah selesai ee 42:28 Idul Fitri menjelang nanti Idul Adha 42:30 dijual lagi emasnya. 42:32 Masnya dijual lagi gitu. Jadi harganya 42:36 turun. Ada ada penurunan harga, ada 42:39 ongkos apalah ongkos membikin atau apa 42:43 segala macam enggak ada masalah. Nah, 42:45 ini zinatun, perhiasan. 42:48 Ee pengin tampil, pengin dilihat. Wah, 42:51 ini loh kami saya punya ini loh saya. 42:53 Ah, gitu. itu dunia itu urusannya itu ee 42:57 termasuk juga pengin kelihatan pengin 43:00 apa tuh dalam soal bukan tadi bukan 43:02 hanya perhiasan dalam bentuk fisik saja 43:05 ya tapi perhiasan dalam bentuk 43:07 kebanggaan-kebanggaan yang lainnya gitu. 43:11 Wazinatun yang ketiga. Yang keempat wat 43:15 tafakurum bainakum. 43:17 Tafakhur itu artinya berbangga-banggaan 43:21 [mendengus] ya. 43:23 ee maksudnya ber sombong gitu loh. 43:25 Sombong ya, ber megah-megahan di antara 43:30 kalian. Ee ini kadang-kadang bisa jadi 43:34 bermegah-megahan yang sombong itu soal 43:39 ya almamater mana gitu misalkan gitu ya. 43:42 Eh, dia dia karena almamater universitas 43:45 yang terkenal, wah pokoknya ke mana-mana 43:47 dia selalu yang yang dia ini tuh 43:49 kebanggaannya itu adalah wah saya ee 43:52 almamater dulu kuliah di sini, Bapak 43:54 dulu [berdehem] kuliah di mana? Wah, 43:55 gitu kan. Atau apa pekerjaannya dulu 43:59 pernah menjabat misalkan pejabat di BUMN 44:02 Bapak atau di mana gitu. Oh, saya dulu 44:04 sekian puluh tahun saya mengembangkan 44:06 ini misalkan gitu ya, ngomongnya begitu 44:08 tuh e mengembangkan di kantor dulu apa 44:11 begini begitu Bapak dulu Bapak dulu 44:13 bekerja di mana? Nah, gitu. Hal-hal 44:15 seperti itu duniawi 44:18 ya. Karena tadi tafakurun bainakum 44:21 saling menyombongkan di antara kalian 44:24 ini. Nah, menyombongkan apa aja tuh 44:26 banyak tuh macam-macam ya. Bahkan juga 44:28 nah ini ya bahkan juga menyombongkan 44:31 misalkan nasab. Wah itu dia Nabi 44:35 sallallahu alaihi wasallam itu pernah 44:36 bersabda, orang Arab dengan orang ajam 44:39 ini sama aja. Orang Arab dengan orang 44:42 non Arab itu sama aja. Yang beda tuh 44:43 takwanya. Takwanya. 44:47 ee takwanya yang bikin beda itu ee malah 44:51 kalau kalau mungkin ada apa keturunan ya 44:55 dari Nabi atau apa tapi perilakunya 44:58 tidak mencerminkan 45:00 tidak mencerminkan Nabi Muhammad 45:01 sallallahu alaihi wasallam cuma 45:02 mengaku-ngaku saja dan mungkin ada juga 45:05 dampak ekonomi yang dia terima dapat 45:07 duit karena orang tuh pengin pengin 45:10 mendapat barokah dari misalkan keluarga 45:13 Nabi atau apa itu. Wah itu tanggung 45:14 jawabnya berat besar sekali. Nanti di 45:16 sisi Allah tuh ee tafakurun bainakum. 45:19 Ini berbangga-banggaan di di antara 45:22 kalian. Macam-macam yang bisa dijadikan 45:24 kebanggaan itu, yang bisa dijadikan 45:27 kesombongan itu, 45:29 gitu ya. Demikian pula ilmu agama. Nah, 45:33 ilmu agama juga dijadikan kesombongan. 45:35 Tafakur bisa banyak malah Bapak, Ibu ya. 45:39 Organisasi demikian pula organisasi ya. 45:43 Wah, organisasi ini. Wah, saya lama di 45:45 organisasi itu begini begitu sampai 45:47 puncak pimpinan saya kenal apa bla bla 45:49 bla. Nah, itu ya itu tafakur bainakum. 45:53 Makanya Ibnu Qudamah dalam kitab beliau 45:55 Madarijus Salikin itu ya ee apa beliau 46:01 ee 46:03 pernah menuliskan ciri-ciri orang apa 46:06 pintu pintu menjadi ria seseorang itu 46:11 adalah salah satunya adalah tadi ee 46:13 kenal kenal anu si relasi relasi itu 46:18 bikin sombong bikin sombong itu. Oh saya 46:20 kenal itu. Oh saya tahu itu. saya. Nah, 46:23 gitu. Itu itu dunia 46:27 gitu. Ee jadi harus kita hijrahkan sudah 46:30 hijrahkan. Ee dan yang kelima ya tadi 46:34 kan ada sudah empat ya. Laibun satu 46:37 walahwun eh senda gurau atau 46:39 entertainment ya. Wazinatun perhiasan 46:42 tadi ya. Pengin tampil anu perhiasan. 46:46 Watfak bainakum. Saling menyombongkan 46:49 diri di antara kalian. T yang keempat 46:50 nih tadi dengan apa saja tuh dengan 46:53 ilmuah dengan almamater kah dengan 46:56 pekerjaanah karir kah apalah semuanya 46:58 kenal relasi atau apapun. Nah yang yang 47:02 kelima, wat takaturun fil amwali wal 47:05 aulad. Nah berbangga-banggaan 47:10 tentang anak dan harta kekayaan. 47:13 Nah, ini jadi kadang-kadang kita ke 47:16 mana-mana ya nyeritain anak kita 47:19 berhasil dapat kerja di perusahaan apa 47:22 gitu misalkan gitu ya. Nah, itu mah 47:24 dunia masih tuh urusannya tuh. Oh, si 47:27 anu sudah kerja di sini alhamdulillah ya 47:29 gajinya mencukupilah supaya dia begini 47:32 begitu atau bah cerita macam-macam itu 47:35 duniawi. 47:36 Duniawi. Nah, jadi kebanggaan tadi kan 47:40 dari dalam diri biasanya gitu ya. Nah, 47:42 kalau yang nomor li ini khusus harta dan 47:45 anak keturunan. Ah, gitu. 47:49 Itu memang dua yang nanti juga dalam 47:51 surah almunafiqun juga disebutkan itu ya 47:53 dalam surat almunafikun. Nah, jadi orang 47:57 yang lupa kepada Allah karena harta dan 48:00 anak keturunan itu. Nah, jadi 48:02 kebanggaannya jenis yang berbeda ini 48:04 harta dan anak keturunan tadi. Kalau 48:06 yang tadi yang nomor empat tuh 48:08 kebanggaan dari yang lainnya dari 48:10 individu kita misalkan tadi nasab lah 48:13 ya, kemudian almamater lah. kuliah di 48:16 mana bisa dibanggakan jadi kebanggaan 48:18 juga bisnisnya lah relasinya kenal ini 48:22 kenal itu, organisasinya 48:24 ilmu agamanya dan lain sebagainya lah 48:27 semua. Nah, yang khusus yang nomor lima 48:30 adalah berbanyak-banyakan dalam harta 48:32 dan anak keturunan. Nah, Bapak Ibu yang 48:35 dirahmati Allah, ini mesti kita 48:37 hijrahkan ya. Kalimat Allah tadi 48:39 hijrahkan ke mana? Ya, kepada yang 48:41 memberilah, kepada Allah gitu. Nah, 48:44 kalau misalkan anak kita diterima, 48:47 diterima kerja umpamanya, wah bersyukur 48:49 sekali kita. Gimana caranya? Ya, jangan 48:52 cerita sama orang ya. Bangun tengah 48:55 malam salat, habis salat tahajud angkat 48:58 tangan sama Allah, bilang terima kasih 49:00 ya Allah. Gitu. Nah, itu baru tidak 49:03 duniawi lagi karena tidak kepada orang. 49:05 Kan begitu kan tadi tafakurun bainakum 49:08 kan. Berbangga-banggaan di antara 49:10 kalian, di antara sesama manusia. Nah, 49:14 jadi ngomongnya jangan sama manusia 49:16 supaya tidak termasuk yang duniawi ini. 49:20 Bilang sama Allah terima kasihnya yang 49:22 ngasih kan Allah gitu. Makasih ya Allah 49:24 gitu. Alhamdulillah gitu. Nah, itu itu 49:28 baru beresah gitu ya. Geser gitu 49:32 hijrah. [mendengus] Hijrah. Nah, Suhaib 49:35 Ibnu Sinan itu, Bapak Ibu yang dirahmati 49:38 Allah, ikhwan akhwat sekalian, beliau 49:40 itu kakinya belum melangkah keluar 49:42 Makkah. 49:44 Tapi di dalam dirinya sudah terhijrahkan 49:47 pikiran ya yang berharga dulu. Dulu yang 49:51 berharga ketika beliau menjadi pengusaha 49:54 sebelum hijrah yang berharga adalah uang 49:56 duit. 49:58 Ya, uang duit itu berharga. Makanya 50:01 beliau jadi orang terkaya kedua itu 50:03 pelit. Tentu saja namanya pengusaha tuh 50:05 begitu dihitung betul. Wah, ini gimana 50:07 nanti dapat apa ininya gimana? Ah, gitu 50:09 kan. begitu dia. Ee rupanya sudah hijrah 50:13 itu. Nah, sudah tidak lagi penting itu 50:15 uang duit tuh udah enggak lagi penting 50:18 itu. Jadi, ya sudah kalian ini 50:20 orang-orang kafir Quraisy nih, kalian 50:22 nih masih masih menganggap duit itu 50:25 penting kan ya. Ambil ajalah ambil 50:27 ajalah buat kalian semuanya gitu. Saya 50:29 mau hijrah karena hijrah ini penting 50:31 buat saya gitu kan. Nah, jadi sudah 50:33 sudah terjadi hijrah sehijrah di dalam 50:37 di dalam mentalnya mental beliau padahal 50:40 langkah kakinya belum keluar Makkah gitu 50:44 gitu. 50:46 Nah, lalu yang kedua ya sesudah tadi 50:49 kita hijrahkan mental bangga dengan 50:52 pencapaian dunia. Yang kedua, kita 50:55 hijrahkan 50:56 dari dalam diri kita supaya DMN-nya 50:59 hijrahnya itu dari default mode network. 51:02 kita hijrahkan mental yang selama ini 51:05 merasa diri kita ini sebagai pemilik 51:08 dari nikmat-nikmat yang Allah beri 51:10 kepada kita. Ini mesti dihijrahkan nih 51:13 menjadi apa? Ya, mental kita itu adalah 51:16 petugas. 51:18 Petugas dari Allah. Ditunjuk oleh Allah 51:20 bertugas. 51:22 Nah, 51:23 anak misalkan ya, anak itu bukan milik 51:27 kita, tapi kita bertugas. 51:31 Milik siapa dia? Milik Allah. Anak itu 51:34 dititipkan kepada kita. Tugasnya kita 51:37 jadi orang tua. Bukan milik kita. Dia 51:40 bukan milik kita. Bedanya gimana nih? 51:42 Bedanya seorang pemilik itu ya suka-suka 51:45 di lumpahkan 51:49 marahnya kepada anak. Tu kan. Kalau dia 51:52 lagi kesal wah dia dia bablas nih 51:55 syahwat kemarahannya nih kepada anak. 51:58 Kesal banget saya. Ah itu artinya apa? 52:00 Dia merasa ini properti saya dong. Ini 52:02 anak ini harus dengerin saya ya, harus 52:05 nurut kepada saya karena karena tadi 52:07 mentalnya pemilik. Coba kalau mental 52:08 petugas, 52:11 petugas itu kan ya kita ini ditugasi 52:14 oleh bos ya. Bos besar ya, bos besar 52:17 kita dalam dalam hal ini maksudnya Allah 52:19 begitu kan ya. Ditugaskan nih titip saya 52:21 titip ya. Jiwa manusia yang saya 52:23 ciptakan ini saya titip sama kamu. Nah, 52:26 namanya anak gitu ya. Karena ada 52:29 pemiliknya bukan kita pemiliknya, kita 52:31 petugasnya. Maka itu kita tentu akan 52:34 pelan-pelan hati-hati kita nih 52:36 hati-hati. 52:37 Sebab apa? Pemiliknya melihat gitu ya 52:41 kan? Pemiliknya kan ada ada pemiliknya. 52:44 Ee jadi dalilnya mana? Ini surah An-Nahl 52:48 misalkan ayat 53 surah 16. Nah, kalimat 52:52 Allah di situ luar biasa. 52:54 W bikum min nikmatin kata Allah. 52:58 Semua nikmat yang ada sama diri kalian 53:01 kata Allah tuh semua tidak ada satuun 53:04 juga semua nikmat yang ada menempel 53:07 dalam diri kalian itu faminallah 53:10 semuanya dari sisi Allah. Allah yang 53:12 kasih semuanya itu milik Allah. Nah 53:16 gitu. Semua itu semua itu milik Allah 53:19 bukan milik kalian kata Allah tuh. 53:22 Lalu pada penggal berikutnya dari ayat 53:25 itu, tumma 53:27 umur. Nah, nanti kalau kemudian nanti 53:31 datang mudarat kepada kalian, baru 53:34 kalian 53:36 sadar. Failaihi tajarun. Maka waktu 53:40 datang mudarat itu, nah barulah barulah 53:43 sadar hanya kepada Allahlah kalian 53:45 meminta pertolongan. Kata Allah tuh 53:47 begitu. kemarin ke mana aja waktu lupa 53:52 sama pemilik nikmat yang yang ada itu di 53:56 ngaku-ngaku itu atau dia kira itu milik 53:59 dia karena dia nikmat yang ada itu. 54:02 Padahal itu kan milik Allah karena lupa 54:04 tadi kata Allah nanti kalau kamu kena 54:05 mudarat baru kamu ingat ya gitu. Ee jadi 54:09 makanya makanya kadang-kadang ya mudarat 54:12 itu ya sebetulnya adalah cara Allah 54:14 untuk mendidik kita. Karena kita lupa 54:16 selama ini bahwa nikmat itu milik Allah, 54:17 bukan milik kita. Kita ngaku-ngaku itu 54:20 milik kita, gitu. 54:22 Gitu kan ya. Lewat apa tadi? Karena kita 54:24 enggak hijrah tadi ya. Kita ngaku-ngaku 54:27 itu milik kita. Kita merasa itu milik 54:28 kita padahal milik Allah bukan milik 54:30 kita. Nah, inilah yang terjadi kepada 54:34 Qarun. Eh, Bapak, Ibu ya, ikhwan-akhwat 54:37 sekalian. Inilah yang terjadi kepada 54:40 Qarun. Qarun itu ngaku-ngaku bahwa 54:44 nikmat yang ada sama diri dia, kekayaan, 54:47 harta kesuksesan gitu ya, dia bilang q 54:51 inamau 54:53 ala ilmin 54:55 kata Qarun, semua ini saya dapatkan 54:59 karena saya ini 55:02 ilmu saya ini 55:04 ada dan saya kerja keras, saya gagal 55:09 terus saya bangkit lagi. lagi enggak 55:11 pernah saya enggak enggak menyerah saya 55:13 makanya dapat ini semua. Nah, itu itu 55:16 kalimat Qarun tuh begitu sebetulnya. 55:19 Innama utidu ala ilmin indi ya ilmin di 55:22 situ kan nakirah. Nakirah itu artinya 55:24 umum banyak gitu ya ilmunya tuh ee ilmu 55:28 ilmu dagang, ilmu akunting, ilmu 55:30 bertahan. ketika ketika gagal bangkit 55:33 lagi. Ketika ini, nah orang kalau sudah 55:35 bilang begitu ini apa bisnis saya nih 55:38 dulu karena memang saya tidak saya tidak 55:40 menyerah gagal saya bangkit lagi. Ini 55:43 saya jalanin lagi saya cari lagi saya 55:45 anu lagi saya berusaha lagi saya 55:46 berusaha lagi. Ah ini hati-hati nih 55:49 omongan seperti ini. Seolah-olah semua 55:51 yang dia dapat ini karena dirinya 55:56 seolah-olah itu milik dia. Ya. Padahal 55:59 kata Allah tadi, w bikum min nikmatin 56:01 faminallah. Semua nikmat yang ada sama 56:03 kamu tuh punya Allah, milik Allah. Nah, 56:06 jangan sampai kamu lupa. Nanti kalau 56:07 kamu lupa kena mudarat kamu baru ingat 56:09 kan. Nah, [berdehem] gitu ya, Bapak, 56:11 Ibu. Begitu juga anak kita ya kalau 56:13 kita, "Tapi, Ustaz, kalau enggak ada 56:16 kerasa kepemilikan nanti enggak 56:18 bertanggung jawab." Loh, terbalik. 56:20 Justru lebih bertanggung jawab karena 56:24 sadar bahwa dia adalah titipan Allah 56:27 kepada kita. Kita ini petugas 56:30 untuk menjaga titipan itu. Istilahnya 56:33 kayak tukang parkir. 56:35 Ya, dalam hal ini dijagain. Betul. 56:38 Kenapa? Karena bos besar nih menitipkan 56:40 kepada kita miliknya bos besar. Bos 56:42 besar maksudnya Allah gitu ya, biar 56:44 gampang aja. Ini Allah itu menitipkan 56:46 miliknya kepada kita. Dia ciptakan itu 56:48 anak ya, jiwa manusia yang ia ciptakan, 56:52 yang Allah ciptakan. Lalu dititipkan 56:53 kepada kita. 56:55 Nah, maka itu kalau orang tadi milik ya, 56:59 milik anak ini milik saya gitu karena 57:01 karena apa? Subordinat saya, saya yang 57:04 kasih makan, saya yang kasih ini sampai 57:06 dia besar. E seolah-olah milik milik 57:08 kita itu anak. Maka tadi kalau emosi 57:12 bablas, 57:14 luapkan emosi gitu. Kalau marah ya 57:17 marah, kalau apa gitu kan. Kenapa? 57:19 Karena kita tidak melihat pemiliknya. 57:22 Kita pikir kita pemiliknya. Padahal 57:24 pemiliknya bukan kita, 57:27 Allah pemiliknya. Nah, justru malah 57:30 kerja kita lebih bagus. Kenapa? Karena 57:33 kita khawatir nanti kalau pemiliknya 57:34 marah gimana ini? Kalau saya perlakukan 57:37 dengan tidak benar gimana ini? Ee gitu 57:39 ya. Ee sebaliknya gitu juga kalau 57:41 dimanjain apa gitu enggak boleh juga. 57:44 Karena pemiliknya kan tidak minta 57:45 begitu. Minta dididik. Dididik dengan 57:48 benar, diberikan pengetahuan yang benar, 57:51 diberikan contoh ya. Dalam surat 57:53 alfurqan itu kan kalimatnya, "Rabbana 57:55 hablana min azwajina wriatina qurun." 57:59 Ya Allah berikanlah kepada kami pasangan 58:01 hidup kami dan anak-anak cucu keturunan 58:04 kami yang menyejukkan mata kami. Lalu 58:06 coba lihat kalimat berikutnya. Waj'alna 58:09 lil muttaqina imama. Jadikanlah kami ya 58:11 Allah untuk mereka untuk 58:13 orangorang-orang yang bertakwa. 58:14 Maksudnya tadi kembali kepada yang awal 58:17 tadi, anak-anak kami ee pasangan hidup 58:20 kami, jadikanlah kami ini mampu menjadi 58:23 imam. Imam ee imam itu apa? Imam itu 58:27 mencontohkan. 58:30 Ahah. Itu imam namanya. [mendengus] 58:33 Kalau yang cuma ngomong doang, itu 58:34 namanya muazin. Muazin kan cuma Allahu 58:38 Akbar, cuma menyerukan saja dia. Nah, 58:40 kalau imam itu ada gerakannya. 58:44 Nah, dia duluan melakukan baru kemudian 58:46 makmumnya melakukan. 58:48 Itu itu cara yang Allah ajarkan sama 58:51 kita. Jadi kalau kita kepengin anak itu 58:54 ee mencintai Al-Qur'an, ya kita juga 58:57 harus nunjukin bahwa kita begitu. Enggak 58:59 bisa kita hanya memvonis mentang-mentang 59:01 kita ibunya, bapaknya, "Wah, kamu nih 59:03 enggak ini kan mama sudah bilang enggak 59:05 bisa." Gak boleh. Itu cara yang salah 59:08 dari Quran. Kita cuma mengandalkan 59:12 otoritarianisme. 59:14 Nah, gitu ya. Otoritas [mendengus] 59:15 aja mentang-mentang orang tua. Nah, lalu 59:17 kita bisa kamu ini kamu ngaji. Kalau 59:21 ayah kan sibuk cari duit. Nah, enggak 59:22 bisa dong. Enggak bisa begitu dong. 59:24 Harus dilihatkan bahwa ayahnya juga 59:26 betul-betul mencintai Quran di waktu 59:28 yang sangat sempit tetap berinteraksi 59:31 dengan Quran. Anak melihat itu. Waj'alna 59:33 lil muttaqina imama. Jadikan kami ini 59:36 imam ya Allah. kepada mereka memberikan 59:38 contoh. Nah, gitu. Berikan contoh baru 59:41 bisa. Baru bisa. Nah, jadi itu mental 59:45 petugas yang begitu. Wajalna lil 59:47 muttaqina imama. Nah, kalau mental 59:50 pemilik tadi ya suka-suka saya lah ya. 59:52 Mental pemilik kan gitu. Pemiliknya 59:54 tidur-tiduran ya ee enggak enggak 59:57 mengerjakan apa-apa misalkan gitu ya. 1:00:00 Namanya juga dia pemilik ee karyawannya 1:00:02 suruh kerja itu pemilik 1:00:05 itu pemilik. nanti dia tinggal dapat 1:00:07 hasilnya. Kan begitu. Nah, kalau tadi 1:00:11 kita merasa nikmat ini milik kita, ya 1:00:12 kita akan perlakukan kayak gitu. Ee 1:00:15 kalau enggak dapat hasilnya kita marah 1:00:17 gitu kan. Eah kita kecewa dan lain 1:00:19 sebagainya. Nah, ini harus kita geset. 1:00:22 Jadi mentalnya jadi mental petugas. 1:00:24 Jangan pemilik tuh Bapak, Ibu ya. Jangan 1:00:26 pemilik. Karena pemilik itu ya hanya 1:00:30 Allah saja yang memiliki semua nikmat 1:00:33 yang ada dalam atau yang ada pada diri 1:00:35 kita. 1:00:37 Oke, saya pikir ini saja dua dua yang 1:00:40 bisa saya sampaikan ya untuk mengubah ee 1:00:44 mental kita hijrahnya dari mental dari 1:00:47 dalam diri kita atau dari default mode 1:00:49 network tadi seperti Suhaib Ibnu Sinan 1:00:52 di dalam diri beliau sudah terhijrahkan. 1:00:56 Yang menjadi penting buat beliau ini 1:00:58 bukan lagi uang tapi ee hijrah kepada 1:01:02 Nabi sallallahu alaihi wasallam. 1:01:03 Sehingga walaupun enggak ada yang lihat, 1:01:05 satu orang kaum muslimin pun enggak ada 1:01:07 yang lihat waktu beliau memberikan semua 1:01:09 hartanya. Tapi Allah Subhanahu wa taala 1:01:12 melihat itu. Maka turunlah surah 1:01:14 Albaqarah ayat 207 yang ee latar 1:01:17 belakangnya adalah kisah hijrah Suhaib 1:01:19 tadi itu. Waminanas yasasri nafsahillah. 1:01:25 Di antara manusia ada orang-orang yang 1:01:27 menjual dirinya sendiri. Padahal 1:01:29 beliaunya suhaibnya tidak tidak berniat 1:01:32 apa, tidak merasa seperti itu. Cuma 1:01:34 ngasih aja karena sudah tidak penting 1:01:35 lagi buat beliau. Tapi oleh Allah itu 1:01:37 dihargai. 1:01:39 Dihargai. Maka Rasulullah menyambut 1:01:42 menyambut Suhaib dengan kalimat rabihal 1:01:45 bai. Ya Suhaib, sungguh betul-betul 1:01:48 sudah beruntung sekali ini perdaganganmu 1:01:50 wahai Suhaib. Ee ya menunjukkan tadi apa 1:01:53 yang beliau korbankan itu betul-betul 1:01:55 dihargai oleh Allah Subhanahu wa taala. 1:01:57 Nah, inilah hijrah yang sebenarnya. 1:01:59 Hijrah dari dalam diri. Apa yang menjadi 1:02:02 penting buat diri kita itu kita 1:02:04 hijrahkan sesuai dengan petunjuk Allah 1:02:06 tadi ada dua, yakni hijrahkan mental 1:02:09 kita 1:02:11 bangga dengan pencapaian dunia. 1:02:12 Hijrahkan dan hijrahkan mental kita 1:02:16 merasa nikmat ini milik kita yang ada di 1:02:18 dunia ini. Padahal sebetulnya kita hanya 1:02:20 petugas saja. Wallahualam bisawab. 1:02:22 Mungkin ini saja yang bisa saya 1:02:24 sampaikan. Saya kembalikan ke studio 1:02:26 dengan Mas ee Agus. Billahi taufik 1:02:29 walhidayah. Wasalamualaikum 1:02:30 warahmatullahi wabarakatuh. 1:02:34 Warahmatullahi wabarakatuh. Jazakallah 1:02:35 Ustaz Doni atas tausiah atas tausiahnya. 1:02:40 Baiklah ikhwan dan akhwat, kami akan 1:02:43 jeda sejenak terlebih dahulu dan kita 1:02:46 akan kembali setelah jeda nasid berikut 1:02:49 ini. Tetaplah bersama kami. 1:02:53 Bismillahirrahmanirrahim. 1:02:58 [musik][bernyanyi] 1:03:06 untuk Islam yang satu. Ikhwan dan akhwat 1:03:09 yang dirahmati Allah subhanahu wa taala. 1:03:11 Terima kasih Anda masih bersama kami 1:03:14 dalam program tadabur Quran bersama guru 1:03:17 kita Ustaz Doni Amir Sagaf. Ada beberapa 1:03:21 pertanyaan Ustaz yang sudah masuk. Namun 1:03:24 sebelum kita jawab pertanyaan ee kita 1:03:27 sapa terlebih dahulu pendengar kita di 1:03:32 ee yang sudah masuk di tab. Ada siapa 1:03:35 ini? 1:03:37 Pendengar dari Sukabumi. Asalamualaikum 1:03:39 ustaz. Dari Baro Sukabumi hadir 1:03:42 menyimak. Jazakumullah khair ilmunya. Oh 1:03:45 ada Ibu Yati di Baros begitu ya. Terima 1:03:48 kasih Ibu. 1:03:50 Kemudian ada Bapak Arwin. 1:03:53 Asalamualaikum. Terima kasih atas 1:03:55 tausiah, nasihat, dan pencerahannya, 1:03:57 Ustaz. Semoga Ustaz dan juga pejuang 1:04:00 dakwah serta para pendengar Radio Rasil 1:04:03 selalu dalam keadaan sehat walafiat 1:04:06 serta dalam lindungan Allah Subhanahu wa 1:04:08 taala. 1:04:09 Amin ya rabbal alamin. 1:04:11 Dari Bapak Arwin. Kemudian Ibu Lali Sirl 1:04:16 Purwari. 1:04:18 Ada pula Ibu Ani Hanif Khudaifah di 1:04:21 Kemayoran. 1:04:23 Kemudian ada hamba Allah 1:04:27 di Jakarta tidak disebutkan ee 1:04:30 domisilinya. Kemudian dari Bapak Fauzi 1:04:34 dan Ibu Fani. Beberapa pertanyaan sudah 1:04:37 masuk Pak Ustaz. Ini pertanyaan pertama 1:04:40 datang dari hamba Allah di Sukabumi. 1:04:44 Asalamualaikum warahmatullahi 1:04:45 wabarakatuh. Ustaz. 1:04:47 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:04:48 wabarakatuh. 1:04:49 Ustaz, bagaimana cara mendidik anak agar 1:04:52 mencintai Al-Qur'an di tengah banyaknya 1:04:54 pengaruh gadget dan media sosial? 1:04:58 Iya, terima kasih. Ee ini hamba Allah di 1:05:02 Sukabumi ya. Ini permasalahan kita semua 1:05:04 ini 1:05:05 sekarang ini. Jadi ee 1:05:08 tapi kunci jawabannya sebetulnya mudah. 1:05:12 Ee nanti kalau kita buka dan jadikan 1:05:15 pedoman surah An-Nisa ayat ke-9 kalimat 1:05:19 Allah di situ. 1:05:22 Auzubillahiminasyaitanirrajim 1:05:24 walaksyalladzina laqu min khalfihim 1:05:28 zurriyatan 1:05:31 khofu alaihim falyattaqulah walyaquluan 1:05:34 sadida. Hendaklah setiap orang itu 1:05:37 merasa khawatir 1:05:39 kalau kalau dia meninggalkan di belakang 1:05:42 hidupnya nanti anak keturunannya yang 1:05:46 lemah difan ee lemahnya berbagai macam 1:05:50 kelemahan. Lemah dalam hal akidah, lemah 1:05:54 dalam hal apa? mental ya. Lemah dalam 1:05:58 hal ilmu pengetahuan, lemah juga dalam 1:06:00 hal ee apa ee kemampuan untuk ee ya 1:06:06 bekerja gitu ya. Kemampuan untuk 1:06:08 menghidupi diri itu juga termasuk. Nah, 1:06:10 gimana caranya ayat itu memberikan juga 1:06:16 ee ee apa solusi. Caranya adalah 1:06:20 falyattaqulah. Hendaklah orang tua ini 1:06:22 selalu bertakwa kepada Allah. 1:06:26 Dan hendaklah orang tua ini bisa 1:06:30 ee menghadirkan kata-kata yang sadida. 1:06:35 Ulan sadida. 1:06:37 Ulan sadida itu nanti akan membersih e 1:06:41 memperbaiki amal kita, perbuatan kita. 1:06:43 Yuslih lakum a'mal. Nanti dalam surat 1:06:46 al-ahzab itu ya ulan sadida. Nah ee 1:06:49 sadida itu bagaimana? Nah, kolon sadidah 1:06:52 itulah yang ee kita pernah bahas juga di 1:06:56 tadabur di radio silaturahim ini ya. 1:06:59 Seperti kita berbicara kepada anak tuh 1:07:03 adalah pembicaraan yang menenangkan, 1:07:06 yang menyejukkan, bukan yang emosi gitu 1:07:09 ya. Ee jadi yang melihat masa depan 1:07:13 gitu. Jadi tidak dengan intonasi yang 1:07:16 tinggi, tidak dengan ee otoritas yang 1:07:20 dikedepankan, tetapi sesuatu yang 1:07:23 sifatnya sadida. Sadida sin, dal, dan 1:07:27 dal ya. Sadada itu akar katanya. 1:07:31 Nah, itu artinya menyejukkan, 1:07:33 menenangkan gitu. E kalau kita bisa 1:07:35 seperti itu, kita bisa anak-anak ini 1:07:38 walaupun ada gempuran gadget atau apa, 1:07:40 tetapi mereka ee apa punya ketenangan 1:07:44 hati itu. Coba bayangkan, Ibu, Bapak 1:07:47 kalau kita ini sebagai orang tua ngajak 1:07:51 anak ngaji tapi pakai emosi gitu ya. 1:07:53 Heeh. 1:07:54 Sementara 1:07:56 gadget 1:07:57 ngajak anak kita untuk dekat dengan 1:08:01 gadget itu dengan cara yang baik. dia 1:08:04 gadget itu dikasih dikasih 1:08:08 apa? Warna yang cerah, dikasih 1:08:12 apa? Iming-iming kalau dapat menang 1:08:14 hadiahnya ini dikasih apa? Ada musik, 1:08:18 lagu-lagu yang ini yang yang menenangkan 1:08:21 otaknya apa ya? Otomatis kita kalahlah 1:08:23 sama gadget. 1:08:25 Sementara kalau kita marah-marah, kalau 1:08:28 kita selalu ngomongnya, "Mama kan sudah 1:08:30 bilang sama kamu, ini kan kamu masa 1:08:32 depan nanti kamu." Ah, jadi kalahlah 1:08:34 kita. Kalah kita. Nah, oleh karenanya 1:08:37 pakai cara Quran berkata-kata yang 1:08:39 sadidah. Nanti kalau ee Bapak Ibu 1:08:42 kepengin melihat lagi ada video kita di 1:08:45 ee Tadabur Quran ini juga di Rasil di 1:08:49 YouTube Rasil ya nanti mungkin juga bisa 1:08:51 di mohon dimasukkan juga linknya begitu 1:08:54 biar mudah ee jemaah bisa mengklik ulan 1:08:57 sajida bagaimana itu ulan sajida ya 1:09:00 kurang lebih demikian pada baik 1:09:03 ada kami ingin menyapa ada Bunda Siti 1:09:06 Aulia di Sukabumi yang ikut menyimak 1:09:08 alhamdulillah semoga Pak Kiai juga kru 1:09:11 Rasil selalu ada dalam lindungan Allah 1:09:14 Subhanahu wa taala. Amin. 1:09:20 Kita pertanyaan selanjutnya, Pak Ustaz. 1:09:22 Dari Bapak siapa ini? Bapak 1:09:26 Ujang. Asalamualaikum warahmatullahi 1:09:28 wabarakatuh. 1:09:29 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:09:31 wabarakatuh. 1:09:31 Di zaman sekarang ini banyak anak muda 1:09:33 yang takut dibilang sok alim kalau mau 1:09:36 mulai berubah. Bagaimana supaya tetap 1:09:39 percaya diri dalam menjalani proses 1:09:41 hijrah, Ustaz? Terima kasih. 1:09:43 Iya, terima kasih, Pak Ujang tadi yang 1:09:45 bertanya. Iya, anak-anak sekarang itu ee 1:09:48 takut kalau dia tidak divalidasi. 1:09:51 Jadi, takut akan validasi ee kelompoknya 1:09:55 atau kawan-kawannya. 1:09:57 Ee jadi kenapa dia kok takut dengan 1:10:00 validasi kawan-kawan? Karena kawan-kawan 1:10:04 itu bisa memberikan kenyamanan kepada 1:10:06 dia. 1:10:07 He. 1:10:08 Makanya dia takut kehilangan. Kalau 1:10:10 kawan-kawannya nanti melihat dia dan 1:10:12 akhirnya ee tidak lagi berkawan dengan 1:10:15 dia, itu yang dia takut. Kenyamanan yang 1:10:17 akan hilang. Nah, kalau kenyamanan itu 1:10:21 bisa kita gantikan ya, anak nyaman 1:10:24 dengan orang tuanya, dekat dengan orang 1:10:26 tuanya nyaman dia. Ee maka dia tidak 1:10:30 akan merasa takut untuk kehilangan atau 1:10:34 tidak divalidasi oleh kawan-kawannya. 1:10:36 Tidak takut dia. Kenapa? Karena dia 1:10:38 kenyamanan itulah sebetulnya yang dia 1:10:40 butuhkan. Nah, maka itu sebagai orang 1:10:42 tua ini kita jangan gampang emosi, 1:10:46 gampang ini. Anak tuh enggak nyaman. 1:10:48 gitu. Dan jangan salah kalau kita bikin 1:10:51 anak enggak nyaman, nantinya anak malah 1:10:53 nyaman sama teman-temannya, sama 1:10:54 kawan-kawannya. Kalau kawannya baik sih 1:10:57 enggak apa-apa. Kalau ternyata kawannya 1:10:59 ini membawa yang buruk, nanti terkena 1:11:02 anak kita keburukan. Padahal diawali 1:11:05 dari karena orang tua ini kita ini tidak 1:11:07 mampu untuk memberikan kenyamanan kepada 1:11:10 anak 1:11:12 gitu. Dikit-dikit langsung anak salah. 1:11:14 Dikit-dikit langsung bilang, "Ah, 1:11:16 makanya kan mama sudah bilang kan." Nah, 1:11:17 gitu. Ee kan ayah sudah bilang kan ayah. 1:11:20 Nah, gitu kan. Tu kan anu tuh jadi 1:11:22 enggak nyaman tuh. Coba kalau 1:11:23 kawan-kawannya dia cerita sama 1:11:25 kawan-kawannya enggak pasti enggak akan 1:11:27 ada ngomongan begitu pasti. Ah, ya 1:11:29 udahlah kalau gitu gini aja kamu tenang 1:11:30 dulu. Ah, gitu kan. Makanya dia lebih 1:11:32 pilih ke sana ya sama kawan-kawan. Nah, 1:11:35 jadi sebetulnya kuncinya adalah apakah 1:11:38 kita bisa memberikan rasa nyaman kepada 1:11:41 dia? Ya, memberikan rasa nyaman tuh 1:11:43 bukan harus semua dibolehin gitu, bukan. 1:11:47 Tetapi cara kita ee cara aja, cara aja 1:11:50 sebetulnya. E jadi terutama emosi itu 1:11:53 loh, emosi dan otoritarianisme itu loh 1:11:56 merasa diri kita ini pemiliknya dia. Ee 1:11:59 itu itulah yang harus dihijrahkan. Ya, 1:12:02 kurang lebih demikian, Pak Mas Agustus. 1:12:04 Baik, Ustaz. 1:12:06 Kemudian pertanyaan selanjutnya, Pak 1:12:08 Ustaz ee dari siapa ini? Pak Dedi di 1:12:11 Tangerang. Asalamualaikum warahmatullahi 1:12:14 wabarakatuh, Pak Ustaz. 1:12:16 Waalaikumsalam. warahmatullahi 1:12:17 wabarakatuh, Pak Dedi ya. Silakan. 1:12:18 Iya, Ustaz. Di zaman saat ini banyak 1:12:20 anak muda yang bingung karena informasi 1:12:23 di media sosial sangat beragam tentang 1:12:25 LGBT. 1:12:27 Bagaimana kemudian kami sebagai orang 1:12:29 tua dan pendidik bisa memberikan 1:12:31 pemahaman Islam yang bijak kepada 1:12:33 generasi Buddha saat ini? 1:12:35 Iya, ini memang persoalan kita sekarang 1:12:38 luar biasa. Enggak enggak sama kayak 1:12:41 dulu. Jadi, persoalannya sudah sangat 1:12:44 kompleks ya. sekarang kalau kalau anak 1:12:47 kita pergi berkawan 1:12:51 ya sama teman-temannya laki-laki itu itu 1:12:54 aja kita masih harus 1:12:56 apa khawatir juga gitu ya. Kalau dulu 1:12:59 zaman dulu mah enggak gitu. Jadi kalau 1:13:01 sudah 1:13:01 ya apa laki-laki oh mau ke mana ini 1:13:04 cowok-cowok semua pada mau ini misalkan 1:13:06 gitu ya hiking atau apa ya kita tenang 1:13:08 saja karena enggak ada lawan jenisnya 1:13:10 gitu. Nah, kalau sekarang ya sesama 1:13:13 jenis pun ya kita khawatir juga. Nah, 1:13:15 caranya bagaimana? Sebetulnya cara 1:13:19 mendidiknya itulah yang yang kita mesti 1:13:21 ya cara menyampaikannya cara 1:13:23 menyampaikannya gitu ya yang mesti kita 1:13:26 gali terus. Nah, jadi tentang LGBT itu 1:13:29 luar biasa sebetulnya kerugiannya, 1:13:32 dampaknya 1:13:34 kepada fisik dan lain sebagainya. nanti 1:13:37 ee belum lagi soal apa murkanya Allah, 1:13:40 keberkahan yang hilang. Demikian pula 1:13:43 data-data yang ada di apa kepolisian. 1:13:47 Bagaimana kalau kasus-kasus pembunuhan 1:13:51 kalau yang didalangi atau dilakukan oleh 1:13:54 penyuka sesama jenis itu tingkat 1:13:56 sadismenya, tingkat sadisnya itu di luar 1:14:00 nalar gitu ya. Kenapa? karena dia sudah 1:14:03 berhalusinasi. Orang-orang yang LGBT itu 1:14:06 halusinasi dia. Nah, maka itu dia anunya 1:14:10 luar biasa sadisnya. Kalau kalau sudah 1:14:12 Nah, itu kan artinya kan itu memberi 1:14:15 gambaran secara ini kepada anak-anak 1:14:18 kita jangan sampai dia terjerumus karena 1:14:20 kita enggak bisa jagain dia 24 jam 1:14:23 apalagi di era gadget ini enggak bisa. 1:14:26 yang bisa kita lakukan memberi pemahaman 1:14:28 kepada dia. Nah, cara memberi pemahaman 1:14:30 ini jangan hanya top down, jangan hanya 1:14:33 kamu enggak boleh begini ya, pokoknya 1:14:35 enggak mama enggak mau tahu, enggak 1:14:36 boleh deh. Enggak, jangan gitu. Kalau 1:14:38 begitu nanti enggak masuk, cuma sekedar 1:14:41 anu aja emosi-emosi gitu aja. Tapi harus 1:14:44 faktanya mana datanya kita ceritakan 1:14:47 tadi tentang dampak buruknya, tentang 1:14:50 sadisme, tentang apa tentang 1:14:52 penyalahgam-macamlah 1:14:54 ya. Jadi emang enggak enggak ada 1:14:55 benarnya itu enggak ada udah enggak ada 1:14:57 baiknya sama sekali lah. Ee cuma kita 1:15:00 jelasin ini loh ini maksud ayah begini, 1:15:03 ini maksud mama atau maksud ibu begini. 1:15:06 Nanti dia sadar tuh. Oh oke. Maksudnya 1:15:08 sadar tuh dia jadi aware gitu. Oh ini 1:15:10 nih enggak boleh nih. Oh ini aduh nih 1:15:12 nanti ruginya buat saya tuh besar gitu. 1:15:15 Jadi cara saja saya pikir Pak Bapak Ibu 1:15:17 ya. 1:15:19 Baik pertanyaan terakhir Ustaz 1:15:21 ya 1:15:21 dari Ibu Yaya. Asalamualaikum 1:15:23 warahmatullahi wabarakatuh. 1:15:26 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:15:27 wabarakatuh. Silakan, 1:15:28 Ustaz. Kadang kita sibuk memperbaiki 1:15:30 diri sendiri tapi lupa memperbaiki 1:15:32 hubungan dengan pasangan, anak atau 1:15:36 tetangga. Apakah hijrah sejati juga 1:15:39 harus terlibat dalam hubungan kita 1:15:41 dengan sesama manusia atau seperti apa, 1:15:43 Ustaz? Terima kasih. 1:15:45 Iya, terima kasih, Bu Yaya. Nah, jadi 1:15:48 konsepnya Bu, kalau kita sudah 1:15:51 memperbaiki diri dengan benar, nah ini 1:15:54 kalimatnya itu dengan benar sampai 1:15:56 kepada eh karakter default mode network 1:16:00 tadi, otomatis kita jadi orang yang 1:16:03 berubah, jadi orang yang lapang dada, 1:16:06 jadi orang yang bisa melihat 1:16:08 kekurangan-kekurangan itu sebagai 1:16:10 sesuatu yang ya bisa diperbaiki, bisa di 1:16:13 bisa di-manage gitu, bisa diatur gitu. 1:16:17 Nah, jadi hal itulah nanti yang akan 1:16:21 membuat hubungan kita dengan manusia di 1:16:23 sekitar kita jadi lebih baik. Karena 1:16:25 kitanya kitanya sudah lebih lapang dada 1:16:28 dari sebelumnya, gitu. Nah, jadi tapi 1:16:31 syaratnya hijrah yang dimaksud adalah 1:16:33 hijrah yang sampai ke dalam diri, bukan 1:16:36 hijrah yang enggak sampai ke dalam diri. 1:16:37 Nanti malahan jadi arogan, malahan jadi 1:16:42 apa? Individualis gitu. malahan jadi 1:16:44 enggak mau ee apa enggak mau 1:16:47 mendengarkan orang gitu. He. 1:16:49 Ee jadi hijrahnya harus sampai ke dalam 1:16:52 karakter tadi eh default mode network 1:16:55 tadi yang menjadi penting buat kita. 1:16:57 Bukan lagi dunia, bukan lagi kebanggaan, 1:16:59 bukan lagi ee status dan lain 1:17:02 sebagainya. Sehingga kita lapang dada 1:17:04 rileks aja, tenang aja kita. Sehingga 1:17:06 kita kepada anak bisa bicara yang bijak, 1:17:09 kepada ee istri atau suami, ibu-ibu 1:17:12 mungkin ya bisa juga dengan e rileks, 1:17:15 dengan enak gitu. Nah, nanti berubah 1:17:17 dengan sendirinya. syaratnya hijrahnya 1:17:20 sampai menghijrahkan mental atau 1:17:22 karakter kita dari default mode network 1:17:25 gitu. Kurang lebih demikian. 1:17:27 Baik. 1:17:28 Alhamdulillah ikhwan dan akhwat yang 1:17:30 dirahmati Allah subhanahu wa taala, 1:17:32 sahabat Rasil di mana pun Anda berada. 1:17:34 Kita telah menyimak uraian yang sangat 1:17:37 berharga tentang hijrah sejati dari 1:17:39 dalam diri. Dan kita berharap semoga 1:17:42 Allah subhanahu wa taala memberikan 1:17:45 taufik kepada kita untuk mengamalkan 1:17:47 ilmu yang telah disampaikan. Dan sebagai 1:17:50 penutup kami persilakan kepada guru kami 1:17:54 Ustaz Doni Amir Sagaf untuk menyampaikan 1:17:56 pesan dan doa penutup. 1:17:59 Iya. Terima kasih, Pak Mas Agus Susilo. 1:18:01 Jadi, Bapak, Ibu, Ikhwan Akhwat di mana 1:18:04 pun berada, Allah Subhanahu wa taala itu 1:18:07 melihat kita selalu. Seperti Suhaib Ibnu 1:18:10 Sidam tadi, hijrah beliau secara fisik 1:18:13 belum terjadi, tapi di dalam diri beliau 1:18:16 sudah hijrah. Nah, itulah yang diapprove 1:18:20 oleh Allah, yang diakui oleh Allah 1:18:22 hijrahnya. Oleh karena, maka turun surah 1:18:25 Albaqarah ayat 207. Dari sini kita 1:18:28 belajar malam ini bahwa hijrah itu 1:18:31 memang harus dimulai dari dalam diri, 1:18:33 dari dalam karakter, dari dalam sifat 1:18:36 kita. Menghijrahkan apa-apa yang yang 1:18:39 kita anggap penting, apa-apa yang kita 1:18:41 anggap ee tinggi dan lain sebagainya itu 1:18:44 sesuaikan dengan Al-Qur'an, dengan 1:18:46 petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam 1:18:48 yang diajarkan oleh guru-guru kita, oleh 1:18:51 para ulama kita. Kurang lebih demikian. 1:18:53 Wallahuam bawab. Saya kembalikan Pak 1:18:56 Agustus. 1:18:57 Baik, Ustaz. Jazakallah ikhwan akhwat, 1:18:59 setiap perjalanan hijrah dimulai dari 1:19:02 satu langkah kecil untuk berubah dan 1:19:05 semoga tadabur yang telah disampaikan 1:19:07 pada hari ini oleh ustaz kita Ustaz Doni 1:19:10 Amir Sagaf menjadi penguat bagi kita 1:19:12 untuk terus memperbaiki diri dan 1:19:14 istikamah di jalan Allah Subhanahu wa 1:19:17 taala. Akhirul kalam kami yang bertugas 1:19:19 mohon undur diri dari ruang dengar Anda. 1:19:22 Subhanakallahumma wabihamdika ashadu 1:19:24 alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu 1:19:27 ilaik. Billahi taufik wal hidayah. 1:19:30 Wasalamualaikum warahmatullah 1:19:32 wabarakatuh.