Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
3:27 Bismillah. Bismillahirrahmanirrahim 3:32 [musik] 3:43 warahmatullahi wabarakatuh. 3:46 Waalaikumsalam. 3:47 Dip Alhamdulillahiabbil alamin. 3:49 Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad 3:52 wa ala ali sayyidina Muhammad. 3:54 Dipancarlaskan dari jalan Masjid 3:56 Silaturahim. Nomor 36, Kalimanggis, 4:00 Cibubur, Bekasi, Radio Silaturahim untuk 4:03 Islam yang satu. Ikhwan dan akhwat yang 4:06 dirahmati Allah subhanahu wa taala, 4:08 bagaimana kabar Anda di malam hari ini? 4:11 Semoga dalam keadaan sehat walafiat dan 4:13 selalu dalam lindungan Allah Subhanahu 4:16 wa taala. Senang sekali rasanya kami di 4:19 malam hari ini dapat kembali menyapa 4:22 ikhwan dan akhwat di udara dalam program 4:26 tausiah malam. 4:29 Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah, 4:31 hijrah seringki dipahami sebagai 4:34 perpindahan dari satu keadaan keadaan 4:37 yang lain. Namun sesungguhnya hijrah 4:41 yang paling berat sekaligus paling 4:42 penting adalah hijrah yang terjadi di 4:45 dalam diri kita. Hijrah dari hati yang 4:48 lalai menjadi hati yang selalu mengingat 4:50 Allah dari kebiasaan yang kurang baik 4:53 menuju amal saleh serta dari kehidupan 4:56 yang berpusat pada dunia menuju 4:58 kehidupan yang berorientasi pada 5:01 akhirat. Dan untuk mengupas tema kita di 5:04 malam hari ini, program tadabur 5:07 Al-Qur'an kali ini akan menyimak kajian 5:09 bertema Hijrah Sejati dari Dalam Diri 5:13 yang insyaallah akan disampaikan oleh 5:15 guru kita Ustaz Doni Amir Sagaf telah 5:19 terhubung melalui aplikasi Zoom. 5:22 Asalamualaikum warahmatullahi 5:23 wabarakatuh, Ustaz. 5:25 Waalaikumsalam warahmatullahi 5:27 wabarakatuh. 5:28 Sehat, Ustaz? Ya, 5:29 alhamdulillah. 5:30 Alhamdulillah. Baik ikhwan dan akhwat, 5:32 mari kita ikuti dengan seksama. Semoga 5:35 setiap ayat yang ditadaburi menjadi 5:38 sarana muhasabah dan menguatkan tekad 5:41 kita untuk terus berhijrah menuju rida 5:43 Allah Subhanahu wa taala. Kepada guru 5:46 kita Ustaz Dunia Amir Sagaf kami 5:48 persilakan. Tafadol Ustaz 5:50 ya. Terima kasih Mas Agus dan eh 5:53 ikhwanat semua di mana pun berada. 5:56 Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum 5:58 warahmatullahi wabarakatuh. 6:01 Alhamdulillah 6:03 Alhamdulillahilladzi 6:04 anzala sakinata fiubil mminin liyadu 6:08 iman maimillahi 6:11 junudamawati 6:13 wallahu aliman hakim asatu wasalam ala 6:17 al rahmatan lil alamin asrofal anbiya 6:21 wal mursalin wa ala alihi wasohbihi 6:24 ajmain amma ba'd 6:27 ee ikhwan akhwat para pendengar radio 6:30 silaturahim 6:31 serta para pemirsa Rasil TV di mana pun 6:34 berada. Alhamdulillah segala puji bagi 6:37 Allah malam hari ini di bulan Muharram 6:41 baru beberapa hari kita masuki 6:44 tahun baru 1448 Hijriah. Alhamdulillah 6:47 [berdehem] 6:48 Allah kembali bisa ee mempertemukan kita 6:51 lewat udara 6:53 ee dalam rangka 6:56 menuntut ilmu, mempelajari ayat-ayat 6:58 Allah subhanahu wa taala, 6:59 mentadaburinya. Insyaallah semoga Allah 7:02 rida kepada perjumpaan kita ini dan 7:04 mudah-mudahan nanti apa yang akan kita 7:05 bahas betul-betul bisa memberikan 7:08 manfaat ee bagi perjalanan hidup kita. 7:11 Selawat dan salam mari senantiasa kita 7:13 sampaikan curahkan kepada baginda Nabi 7:15 Muhammad S. sallallahu alaihi wasallam. 7:17 Demikian pula kepada seluruh keluarga 7:19 dan sahabat-sahabat beliau. Semoga kita 7:22 pun istikamah dalam belajar, dalam 7:24 mengamalkan, dan mendakwahkan 7:26 nilai-nilai yang beliau sallallahu 7:27 alaihi wasallam telah ajarkan untuk kita 7:29 semua. 7:31 Ikhwan akhwat, para pemirsa Rasil TV dan 7:34 pendengar Radio Silaturahim di mana pun 7:36 berada. 7:38 seringki 7:40 kesulitan 7:42 ee 7:44 apa untuk memahami [mendengus] 7:46 orang di sekitar kita ya. 7:49 Saya sering mendapatkan apa pertanyaan 7:52 begitu dari para jemaah 7:55 misalkan kenapa kok ya ibu-ibu nih 7:58 sering bertanya kenapa ya suami saya 8:02 kalau diajak ngobrol mengenai agama atau 8:07 apa ee 8:10 saya pulang pengajian pengin ngajak 8:11 ngobrol suami tentang apa yang didapat 8:13 di pengajian 8:15 kadang-kadang suami malah marah gitu 8:17 malah jadi friksi, malah jadi berdebat 8:21 dan lain sebagainya. 8:24 Atau mungkin ada juga ee kita 8:27 mendapatkan apa kesulitan misalkan dalam 8:30 mengajari anak-anak kita gitu ee 8:33 memberikan apa nasihat kepada anak-anak 8:37 ya supaya mungkin dijaga salatnya, 8:40 dijaga apa ee baca Qurannya dan lain 8:43 sebagainya gitu ya. Tapi kok 8:44 kelihatannya kok susah gitu, kok 8:46 anak-anak kok kayaknya malas gitu ya. 8:49 Nah, sebetulnya apa yang terjadi itu? 8:52 Bapak, Ibu yang dirahmati Allah, ikhwan 8:54 akhwat sekalian di mana pun berada. Jadi 8:56 sebetulnya 8:58 yang dikeluhkan itu 9:02 ber apa? Berada atau terjadi di otak 9:07 setiap manusia. Otak kita sebagai 9:10 manusia. 9:11 Di dalam otak kita itu ada tiga ada tiga 9:15 jenis jaringan ya atau ee apa network 9:21 istilahnya network gitu ya. Tiga jenis 9:23 jaringan yang sangat kuat ya dan 9:27 bekerjanya itu ee apa? bekerjanya 9:31 sebagai satu ee bentuk anu apa ya 9:35 istilahnya otomatis. Nah, otomatis. Jadi 9:38 ini ada tiga di layar Rasil TV saya 9:41 tampilkan namanya anterior Sali Network 9:45 namanya ya. Tentu saja istilahnya enggak 9:48 usah terlalu dipusingin gitu, Ibu-ibu, 9:50 Bapak-bapak ee para pendengar 9:53 ee radio silaturahim ataupun pemirsa 9:56 Rasil TV. Enggak perlu, enggak perlu. 9:58 Wah, istilahnya apa nih, enggak usah. 9:59 Ini cuma nama saja ya. Nah, artinya ada 10:02 namanya gitu loh. 10:05 Nah, anterior saliens ini ya ee adalah 10:08 jaringan otak yang bertugas untuk 10:12 men-switch ya, untuk mengganti 10:16 ee fokus otak dari awalnya adalah fokus 10:20 tentang ee berpikir ya. berpikir ee 10:24 menjadi fokus tentang bertindak atau 10:28 reaksi. Nah, yang bertindak atau 10:31 bereaksi tadi namanya sentral eksekutif. 10:34 Ee jaringan yang namanya sentral 10:36 eksekutif. Nah, jadi kenapa orang kok ee 10:40 kalau diajak ngobrol sesuatu dia marah 10:43 umpamanya gitu ya? Atau orang anak tadi 10:45 kalau diingetin sesuatu dia enggak 10:47 melakukan gitu ya. Sebetulnya itu semua 10:50 ada di Central Executive Network. 10:53 perilakunya dia behavior behavior 10:56 perilaku gitu. 10:59 Nah, sebetulnya yang yang harus kita 11:01 perhatikan bahwa di di perilaku ini, di 11:05 behavior atau di perilaku itu, 11:08 perilaku jaringan perilaku itu adalah 11:11 hanya 11:12 hasil ya, hanya tampilan saja 11:18 dari sebetulnya yang yang mengarahkan 11:21 itu adalah jaringan namanya default mode 11:24 network namanya. Eh, ini jaringan 11:28 jaringan default mode network. Eh, apa 11:31 itu default mode network? Default mode 11:35 network itu adalah jaringan otak kita 11:39 yang berisi semua hal ya tentang diri 11:44 kita. 11:46 Dia adalah narasi 11:49 di dalam diri kita tentang siapa diri 11:52 kita ini. Nah, begitu. Nah, jadi 11:57 dia itulah jaringan itulah yang selalu 12:00 bekerja 12:01 untuk 12:03 selalu mengingatkan siapa kita. Nah, 12:06 menurut yang sudah kita percayai. 12:08 Kira-kira begitu. Makanya namanya 12:12 default mode network, jaringan yang 12:17 sudah default. Default itu artinya dari 12:20 sononya. Kira-kira begitu. dari sononya 12:22 yang dimaksud itu adalah sudah sejak 12:24 lama kita percaya bahwa diri kita tuh 12:26 begitu gitu loh ya. Misalkan begini 12:30 default mode network ini 12:33 misalkan ada orang. Nah ini ada di layar 12:36 Rasil TV saya tampilkan dia gambarnya. 12:38 Ada ada trauma masa kecil yang pernah 12:41 dialami orang itu. Ada pola asuh orang 12:44 tuanya kepada dirinya ya selama masa 12:47 kecilnya. ada perjalanan ilmu 12:50 pengetahuan yang dia pelajari sampai 12:52 hari ini, sampai detik ini, 12:55 cita-cita dia apa dan lain sebagainya. 12:58 Semuanya dikumpulkan oleh jaringan 13:02 jaringan otak namanya DMN atau default 13:05 mode network. Itulah yang menjadi narasi 13:08 tentang siapa dia, siapa diri kita. 13:12 Nah, jadi tindakan seseorang ini 13:15 gambarnya kembali ke sini. tindakan 13:17 seseorang, behavior atau perilaku 13:20 seseorang itu sebetulnya diarahkan 13:24 ya diarahkan 13:27 oleh default mode network, diarahkan 13:32 oleh narasi yang ada di dalam diri kita. 13:35 Ya, saya ambil contoh begini. Misalkan 13:38 ya 13:39 saya ya dibesarkan oleh kedua orang tua 13:44 saya yang asli dari Aceh orang tua saya 13:47 ini kedua-duanya. 13:50 Nah, sehingga Bapak Ibu saya dalam 13:53 perjalanan membesarkan saya itu 13:56 memberikan kontribusi 13:59 kepada narasi 14:02 saya tentang diri saya dari soal 14:05 makanan. Misalkan, 14:07 jadi Bapak Ibu saya sebagai orang Aceh, 14:11 beliau menyukai makanan yang ada 14:14 asinnya, ada asamnya, ada pedasnya 14:19 gitu ya. Di waktu gombong asin asam 14:21 pedas saja saya agak ada apa salifa yang 14:25 air liur yang keluar gitu kira-kira. 14:28 Saking itulah narasi tentang siapa diri 14:30 saya gitu ya. Nah, 14:33 lalu berjalannya waktu ya saya yang 14:37 tadinya kecil ini lalu bertambah dewasa 14:41 itu 14:42 definisi tentang makanan yang enak yang 14:46 berasal dari kedua orang tua saya itu 14:49 menempel 14:50 menjadi narasi tentang siapa saya 14:55 gitu. Karena itulah pola asuh orang tua 14:58 saya. Ee jadi sekarang setelah saya 15:01 dewasa, dia menjadi jaringan narasi di 15:06 dalam otak saya tentang siapa diri saya. 15:09 Saya adalah orang yang suka makanan yang 15:12 asin, asam, dan pedas 15:15 gitu. Berasal dari narasi yang di ee 15:19 kontribusikan oleh orang tua saya, gitu 15:21 kan. Nah, 15:24 seandainya kemudian 15:26 saya kebetulan ya qadarullah bukan 15:29 kebetulan qadarullah saya menikah ya 15:33 istri saya di Ibu Rizka Agustin 15:37 orang Jawa tulen 15:40 gitu. di mana default network-nya dia, 15:44 default default network-nya Bu Bu Riska 15:45 istri saya itu soal makanan adalah 15:50 makanan yang enak itu makanan yang 15:54 manis, yang legit, dan yang gurih 15:58 karena dia dibesarkan oleh pola asuh 16:01 orang tua yang Jawa tulen gitu. 16:04 Nah, akhirnya kami berdua yang berbeda 16:09 default mode network dalam makanan saja 16:12 tadi contohnya ya. Harus bisa 16:15 meng-update ini kami berdua nih. 16:19 Saya harus bisa meng-update default mode 16:21 network saya. Demikian pula eh istri 16:25 saya harus bisa mengupdate default mode 16:27 network dia karena suatu waktu nanti 16:29 kita akan makan makanan yang sesuai 16:31 dengan DMN atau default mode network 16:33 saya. Suatu waktu nanti kita akan makan 16:35 makanan yang sesuai dengan default mode 16:37 network dari istri saya. Kalau saya 16:40 tidak bisa mengubah default mode network 16:42 saya atau meng-update default mode 16:44 network saya ya saya pasti tidak akan 16:46 bahagia 16:48 ya. merasa diri nanti wah ee kurang 16:52 beruntung saya gitu. Ee begitu juga 16:55 sebaliknya. Nah gitu. Begitu juga 16:57 sebaliknya. Nah jadi perilaku seseorang 17:01 sebetulnya diarahkan oleh bagaimana 17:05 narasi di dalam dirinya tentang dirinya 17:08 sendiri. Default mode network. 17:11 Dan default mode network ini kuat 17:13 sekali. Bapak Ibu yang dirahmati Allah, 17:15 ikhwan-akhwat sekalian di mana pun 17:16 berada. karena memang dia bekerja ya 17:20 untuk ee apa istilahnya ya sebagai 17:24 default sebagai ukuran dasar ya tentang 17:28 siapa kita. Nah, gitu. 17:32 Nah, 17:34 hijrah itu sesungguhnya Bapak, Ibu yang 17:37 akhwat sekalian, adalah bukan 17:41 memindahkan bukan hanya memindahkan 17:44 perilaku atau behavior yang ada di 17:47 sentral eksekutif 17:50 perilaku bukan hanya perilaku atau bukan 17:52 hanya fisik, 17:54 tetapi lebih jauh adalah memindahkan 17:56 atau menggeser, meng-update sampai ke 17:59 default mode network. 18:03 sampai kepada dalam diri tentang apa 18:07 yang kita suka, tentang apa yang kita 18:09 anggap berharga, 18:11 tentang apa yang menjadi top of mind 18:14 kita, 18:16 gitu. Jadi contoh misalkan 18:19 ada seseorang yang berhijrah 18:23 tadinya tidak tadinya mungkin tidak 18:26 berjenggot misalkan begitu ya 18:28 Bapak-bapak nih. Tidak berjenggot 18:29 misalkan. Oh sekarang berjenggot ya. 18:33 Alhamdulillah itu bagus sekali. 18:36 Tetapi 18:38 hijrah yang sejati ini tidak hanya 18:40 sampai di sentral eksekutif tadi, itu 18:43 tidak hanya sampai di tampilan luarnya 18:45 tadi. Tetapi apakah di bagian dalam 18:49 default mode network narasi tentang 18:52 siapa diri kita itu sudah berubah atau 18:54 belum. 18:56 Karena sebetulnya narasi itulah narasi 18:59 tentang siapa kita itulah yang akan 19:01 membuat kita berperilaku seperti apa 19:04 nanti sesuai dengan apa yang diarahkan 19:07 ya di yang apa yang menjadi arahan dari 19:10 default mode network. Misalkan 19:13 ada seseorang yang tumbuh 19:17 dengan trauma masa kecil misalkan ya, 19:20 misalkan trauma masa kecilnya dia 19:24 selalu diremehkan, direndahkan ya oleh 19:28 orang lain misalkan di sekitar dia 19:29 misalkan begitu 19:32 atau di di apa istilahnya 19:34 dibanding-bandingkan secara negatif 19:37 misalkan ya kepada kakaknya, adiknya 19:39 gitu misalkan ya. kamu nih enggak bisa 19:41 tuh coba lihat kayak kakak gitu misalkan 19:43 kamu makanya kamu ini sih enggak apa 19:46 malas belajar makanya enggak dapat kayak 19:48 kakak umpama begitu ya. Nah, anak 19:50 seperti itu akan tumbuh menyimpan trauma 19:54 tadi yang terjadi kepada dirinya tadi 19:57 ya. dibanding-bandingkan, 19:59 disudutkan, ya, tidak didengar dan lain 20:01 sebagainya itu akan menjadi data di 20:04 dalam otaknya. Kemudian dipakai oleh 20:08 jaringan default mode network ini untuk 20:11 menarasikan siapa dirinya. 20:14 Akhirnya itu menjadi satu pengalaman 20:17 traumatis tadi menjadi satu alarm, 20:21 menjadi satu sensor tanda bahaya yang 20:25 diingat oleh otaknya. 20:27 Maka di usia dewasa ya kemudian kalau 20:32 ada sesuatu terjadi kepada dirinya yang 20:37 ya menurut otak tadi mirip-mirip atau 20:40 berpotensi akan terjadi seperti trauma 20:43 masa kecil di mana dia 20:44 dibanding-bandingkan, 20:46 disudutkan, tidak didengar dan lain 20:48 sebagainya gitu dipandang rendah. 20:52 Maka peristiwa yang terjadi di masa 20:55 dewasa ini 20:57 langsung akan ditanggapi dengan emosi. 21:00 Nah, makanya banyak jemaah ibu-ibu 21:03 bertanya begini, "Ustadz, kenapa ya kok 21:06 suami saya saya pulang pengajian nih 21:10 dapat ilmu baru. Nah, saya pengin 21:13 ngobrol sama suami ya tukar pikiran. 21:16 Saya ceritalah apa yang saya dapat waktu 21:18 di pengajian. Eh, kok reaksi suami malah 21:21 emosi ya? 21:24 Malah kayaknya kok dia marah gitu loh. 21:26 Nah, 21:28 kok dia jadi kok kok dia jadi marah 21:30 gitu. Nah, saya bingung gitu kenapa 21:33 begitu ya. 21:34 Nah, jawabannya adalah boleh jadi 21:38 di bagian network default network tadi 21:41 itu inner narasi narasi di dalam dirinya 21:45 suami si ibu tadi itu ada alarm 21:50 yang ee 21:53 mendeteksi bahaya 21:55 seperti dulu pernah terjadi di masa 21:57 kecil 22:00 gitu. waktu dia disudutkan, 22:03 ee waktu dia disalahkan, kamu nih enggak 22:06 becus, enggak beres, bla bla bla bla, 22:08 trauma tersimpan. Nah, begitu sudah 22:10 dewasa, istrinya datang membawa satu 22:13 kebenaran, misalkan dari pengajian gitu 22:15 ya. 22:16 Nah, berarti kan membawa kebenaran itu 22:19 berarti kan a apa otaknya mulai-mulai 22:24 berpikir nih, wah berarti ini akan 22:25 menyudutkan saya nih ee karena mungkin 22:29 akan mengevaluasi selama ini saya salah, 22:33 yang benar tuh begini loh. Nah, gitu. 22:35 Nah, sehingga alarmnya tadi itu duluan 22:38 berbunyi. Nah, dan membuat dia merespon 22:41 dengan cara yang ee emosi. Nah, gitu. 22:45 Jadi sebetulnya kalau sudah hijrah 22:50 secara fisik, rajin ke masjid, ikut 22:53 pengajian umpamanya begitu ya, tetapi 22:56 belum berhasil mengubah sampai ke dalam 22:59 default mode network, ya nanti bisa 23:03 terjadi arogansi dalam agama itu. 23:08 Orang semasa kecilnya sering diremehkan. 23:12 orang semasa kecilnya trauma karena dia 23:15 tidak pernah didengar kata-kata dia, 23:17 tidak pernah dianggap kira-kira begitu 23:20 menurut dia gitu ya dalam perjalanan 23:21 masa kecil dia. Lalu tiba-tiba di usia 23:23 dewasa dia mendapatkan 23:27 satu alat ya kebetulan alat ini namanya 23:33 agama, aturan agama. dengan alat itu 23:35 rupanya dia bisa menjadi merasa lebih 23:38 baik daripada orang lain, menyalahkan 23:40 orang lain. 23:42 Ah, akhirnya jadilah alat itu sebagai 23:45 kompensasi 23:46 untuk inner naratif dia, narasi di dalam 23:50 diri dia yang merasa tadi tidak didengar 23:53 dan lain sebagainya. trauma masa kecil 23:55 tadi itu dikompensasi lewat cara agama 23:59 itu. Nah, sehingga dia ke mana-mana 24:01 menyalahkan orang, "Oh, kamu ini kalau 24:04 celananya di bawah mata kaki, nanti kamu 24:06 masuk neraka loh, gitu." Padahal ee 24:10 hal-hal seperti itu ee bukan letterl 24:14 soal celananya di bawah mata kaki atau 24:17 di atas mata kaki ternyata. Tetapi ada 24:19 simbol kesombongan di situ. Nah, kayak 24:22 gitu. Orang misalkan salat subuh pakai 24:25 qunut umpama, wah sama dia langsung 24:27 disalahkan nih. Eah kamu ini bisa ini 24:30 tidak dicontohkan Nabi. Misalkan begitu 24:32 ya, misalkan ini. Nah, itu itu menjadi 24:35 alat untuk menyalurkan 24:39 inner narasi narasi dalam dirinya yang 24:41 belum selesai tadi, yang belum 24:42 terhijrahkan 24:44 membutuhkan kompensasi dari ee bisa 24:48 menyalahkan orang lain. Kira-kira 24:49 begitu. 24:51 Nah, maka itu orang hijrah itu 24:54 sebetulnya harus sampai ke dalam eh 24:56 default mode network mengubah apa yang 24:59 apa yang selama ini menjadi hal berharga 25:03 buat dia tuh berubah. 25:06 Nah, Bapak Ibu yang dirahmati Allah, 25:08 inilah yang terjadi kepada seorang 25:11 sahabat luar biasa bernama Suhaib Ibnu 25:14 Sinan radhiallahu anhu. Suhaib Ibnu 25:18 Sinan ini luar biasa. 25:20 Karena beliau ini 25:23 kisah kisah berangkat hijrahnya beliau 25:27 itu 25:28 menjadi asbabun nuzul atau latar 25:31 belakang turunnya surah Albaqarah surah 25:35 ke-2 ayat 207. 25:39 Surah 2 ayat 207. 25:41 Nah, jadi singkat cerita di situ dari 25:45 hadis dari dua jalur hadis yang 25:48 diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Hammad 25:51 bin Salamah dan berujung nanti pada Anas 25:54 ibn Malik satunya itu dalam Sahih Muslim 25:57 ya. Demikian pula satu lagi diriwayatkan 25:59 dari Ibnu Jarir yang berujung pada Abi 26:02 Dzar Al-Ghifari ya ee dan Jundub Ibnu 26:07 Sakan ya itu ada di 26:11 Sahih Bukharinya ya. Nah, di situ 26:14 diceritakan bagaimana 26:16 Suhaib Ibnu Sinan ketika berangkat 26:18 berhijrah karena beliau ini ee termasuk 26:21 terakhir yang berhijrah. Nabi Muhammad 26:24 sudah pergi, sudah hijrah sama ee Abu 26:26 Bakar gitu kan. Sebelumnya para sahabat 26:29 yang mayoritas sudah hijrah. Lalu 26:32 Rasulullah dan Abu Bakar Asiddiq 26:34 radhiallahu anhu. Lalu ee Ali bin Abi 26:37 Thalib radhiallahu anhu. Nah, terakhir 26:40 ini sahabat yang apa yang ee 26:46 termasuk seorang sahabat yang sangat 26:49 dekat kepada Rasulullah yaitu Suhaib 26:50 Ibnu Siddi terakhir berangkatnya. 26:53 Dan beliau itu adalah seorang terkaya 26:57 kedua di Makkah ketika itu. Nah, terkaya 27:01 pertama tuh Abu Bakar Assiddiq 27:03 radhiallahu anhu. Nah, Suhaib ini 27:06 termasuk orang yang paling kaya ya. 27:08 Bahkan ada yang mengatakan terkaya 27:10 kedua. 27:12 Nah, begitu akan hijrah ini yang membuat 27:14 kemudian turunnya surah Albaqarah ayat 27:16 207 tadi. Ketika beliau akan hijrah ini 27:21 akan keluar dari perbatasan Makkah ee 27:25 beliau itu dihadang 27:27 oleh pasukan orang-orang kafir Quraisy. 27:30 Dihadang beliau. 27:32 Lalu dalam kedua hadis tadi dijelaskan, 27:36 digambarkan bahwa beliau bilang begini 27:38 sama orang-orang Quraisy, pasukan 27:39 Quraisy itu. Kata beliau begini, "Wahai 27:43 orang-orang Quraisy, kalian ini kan tahu 27:46 semua bahwa saya ini seorang pemanah 27:50 yang ulung. 27:53 Saya ini jago panah. 27:56 Jadi kalian tidak akan bisa mendekati 27:59 saya 28:01 kecuali anak panah ini menancap di tubuh 28:05 kalian masing-masing. Kata Suhaib. 28:10 Dan memang betul Suhaib ini seorang jago 28:12 panah. Nah, ya makanya langsung 28:16 ketar-ketir juga nih orang-orang pasukan 28:19 ee Quraisy nih. Tapi hebatnya kemudian 28:23 setelah mengatakan itu, Sayidina Suhaib 28:27 Ibnu Sinan radhiallahu anhu ini kemudian 28:30 mengatakan juga kalimat begini. 28:34 Sekarang kata Suaib kepada para 28:37 orang-orang Quraisy ini sekarang 28:39 daripada kalian mati terbunuh 28:43 ya terbunuh kena panah saya. 28:47 Gimana kalau gini aja deh 28:51 saya ini kan banyak uang, banyak duit 28:53 saya ini ya orang terkaya kedua 28:57 uangnya mungkin triliunan kalau zaman 28:59 sekarang itu ya triliunan. Nah, kalau 29:03 kalau kalau sekarang kan uang itu 29:05 disimpannya di rekening gitu ya, 29:07 rekening bank gitu ya. Kalau dulu kan 29:08 simpannya pakai emas. 29:11 Nah, lalu kata Suhaib gini aja lah 29:13 daripada kalian mati kena panah saya, 29:18 mau enggak kalian 29:20 itu emas-emas saya yang jadi anu jadi 29:25 harta saya itu saya kasihkan aja semua 29:27 buat kalian. Mau enggak? 29:30 E nah terus biarkan saya pergi nih. Saya 29:33 mau hijrah ke Madinah. Mau pindah saya. 29:36 Kata Suaib. Nah, mendengar hal seperti 29:39 itu tentu saja orang-orang Quraisy ini 29:41 bukan kepalang. Girangnya itu bukan 29:43 kepalang. Senang banget itu. Ah. Oh, 29:47 okelah kalau begitu. Wah, kenapa enggak 29:50 ngomong dari tadi nih, Bro? Kira-kira 29:52 begitu ya. Okelah. Ee akhirnya karena 29:56 mereka senang akan dapat uang banyak 29:59 gitu ya dalam bentuk emas tadi itu ya. 30:01 Nah, diantarlah oleh Suhaib ke rumah 30:04 beliau. 30:07 Dibuka tempat penyimpanannya 30:09 ya, tempat penyimpanan yang sangat 30:11 rahasia ya. Lalu beliau kasih semuanya 30:14 itu hartanya dikasih semua. Hasil beliau 30:18 berbisnis, berdagang, berniaga selama 30:20 ini dikumpulkan dalam bentuk emas harta 30:23 kayaannya. Lalu dikasihkan semua. 30:26 Kasihkan semua. Nah, 30:29 orang-orang Quraisy mendapat harta 30:33 kekayaan itu gembiranya bukan main. 30:36 Sementara Suhaib yang berangkat hijrah 30:38 pun gembiranya juga luar biasa. 30:41 Dan saat itu tidak ada satuun lagi orang 30:44 beriman yang melihat kejadian itu. 30:46 Karena orang pada sudah pada hijrah 30:48 semua kan? Pada hijrah semua. Nah, 30:51 rupanya Allah Subhanahu wa taala tentu 30:54 saja tahu peristiwa itu. Lalu turunlah 30:57 malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad di 31:01 Madinah. 31:03 Nah, di situlah turun surah Albaqarah 31:06 ayat 207 tentang Suhaib yang akan 31:09 berangkat hijrah tadi. Nah, kalimatnya 31:12 begini. Surah Albaqarah 207. 31:17 Waminanas yasasri nafsahillah. 31:23 Wallahu bil ibad. Sayang sekali kalau di 31:26 terjemahan itu diartikannya kata-kata 31:29 syaro. Syaro waminanasi yasri. Yasri itu 31:33 diambil dari kata syaro. Nah, syaro itu 31:36 sebetulnya artinya menjual. 31:40 Istaro itu membeli. E menjual itu 31:43 namanya syaro. Nah, jadi sayang sekali 31:46 di terjemahan diartikan syaro itu 31:48 diartikan mengorbankan. 31:51 Padahal tidak tepat ini kata-kata 31:53 mengorbankan ini. 31:55 Kalau diartikan mengorbankan seolah-olah 31:58 jadi enggak kebak enggak muncul itu 32:01 cerita bahwa Suhaib sebagai seorang 32:04 pengusaha tapi merelakan semua hartanya. 32:08 Ya, enggak enggak muncul anunya itu 32:11 nuansa itu. Padahal harusnya kalimatnya 32:14 dan di antara manusia ada orang-orang 32:17 yang menjual dirinya sendiri karena 32:20 mencari rida Allah Subhanahu wa taala. 32:22 Nah, jadinya beda kan menjual menjual. 32:26 Sebab begitu Suhaib sampai di Madinah 32:30 rupanya ya para sahabat sudah tahu nih 32:34 di dari Rasulullah tentu saja. 32:37 Maka para Rasulullah dan para sahabat 32:40 menyampaikan kata-kata yang sangat 32:43 terkenal tuh kepada Suhaib tuh 32:44 kalimatnya kata-kata itu. Rabihal bai ya 32:47 Suhaib. Rabihal bai ya Aba Yahya. Ee 32:51 beruntung sekali ini perdaganganmu, 32:53 perniagaanmu beruntung sekali wahai Abu 32:56 Yahya, wahai Suhaib. Ee kata para 32:59 sahabat dan Rasulullah kepada beliau. 33:02 beruntung sekali perdaganganmu ya. 33:04 Perdaganganmu. 33:06 Nah, jadi perdagangan itu karena apa? 33:10 Rupanya yang di yang di apa? Yang 33:13 diteliti oleh para mufasir ini. Betapa 33:16 hebatnya Suhaib 33:19 ini orangnya 33:22 kakinya belum langkah keluar dari 33:24 Makkah. fisiknya belum keluar Makkah, 33:28 tapi hijrahnya sudah diapprove oleh 33:31 Allah Subhanahu wa taala lewat turunnya 33:34 surat Albaqarah ayat 207. 33:36 Nah, ini hebatnya. Jadi, fisiknya, 33:39 fisiknya belum jalan. Tapi dari dalam 33:42 dirinya beliau sudah terjadi hijrah. 33:47 Hijrahnya, berpindahnya itu isi di dalam 33:50 pikiran tadi ya. Wabil khusus sekarang 33:53 kita tahu di dalam default mode 33:55 network-nya itu DMN tadi yang menjadi 33:59 top of mind, yang menjadi sesuatu yang 34:02 berharga itu bukan lagi uang, bukan lagi 34:05 emas, bukan lagi duit. 34:08 Sehingga beliau dengan mudahnya bisa 34:10 menyerahkan saja kepada orang-orang 34:12 Quraisy uangnya semuanya. Semuanya. Ee 34:18 maksudnya begini, Bapak, Ibu ya, ikhwan 34:20 akhwat sekalian. 34:22 Kan Suhaib ini kan seorang pengusaha, 34:25 pengusaha kakap, pengusaha sukses. Ya, 34:29 namanya juga orang terkaya kedua di 34:31 Makkah. Pastilah cara berpikirnya, 34:37 otaknya itu adalah otak pengusaha, gitu. 34:41 Otak pengusaha itu apa ya? terbiasa 34:45 menghitung laba rugi, 34:48 terbiasa untuk melakukan strategis, 34:51 strategik, rencana strategis. 34:55 Artinya begini, seandainya Suhaib 34:59 mengatakan kepada orang-orang Quraisy 35:01 untuk memberikan uangnya setengahnya 35:03 gitu, separuhnya aja, orang-orang itu 35:06 pasti sudah senang juga. 35:10 Saya punya uang 5 triliun nih, kata 35:12 Suaib misalkan begitu ya. Karena orang 35:14 terkaya kedua nih. Eah, gimana kalau 35:16 saya kasih separuhnya buat kalian? 35:18 Separuhnya saya bawa ke Madinah. Pasti 35:20 juga mereka mau itu 35:23 karena itu sudah sangat banyak sekali. 35:25 Tapi kenapa tidak dilakukan gitu 35:27 kira-kira ya? Atau mungkin 35:31 kasihnya ya lebih banyak ke sana 35:34 misalkan 80% 20%nya bisa dibawa gitu. 35:37 Kenapa itu tidak dilakukan oleh Suhaib? 35:39 Kenapa semuanya dikasih dengan entengnya 35:42 begitu? Seolah-olah otak pengusaha atau 35:46 bisnismen-nya tadi seolah-olah sudah 35:47 tidak ada lagi. Ee apa yang terjadi 35:51 kepada beliau? Yang terjadi adalah 35:53 pergeseran alias hijrahnya, 35:57 narasi di dalam dirinya tentang siapa 36:00 dia, tentang siapa beliau, tentang apa 36:03 yang berharga buat beliau. narasi itu 36:06 default mode network tadi itu sudah 36:09 berubah. 36:10 Bukan lagi uang yang berharga, bukan 36:13 lagi duit yang berharga, bukan lagi 36:15 dunia yang berharga. Nah, jadi dunia 36:18 atau uang atau duit tadi sudah tidak ada 36:20 lagi harganya. 36:22 Nah, sehingga bisa diberikan dengan 36:23 mudah saja, rileks [tertawa] saja, 36:25 santai aja ya. Enggak ada masalah 36:27 apa-apa ya sudah ambil aja semuanya. 36:29 Ee gitu. Jadi, Ibu Bapak yang dirahmati 36:32 Allah, ikhwan akhwat sekalian di mana 36:34 pun berada. 36:37 Pelajaran kita dari hijrahnya Suhaib 36:40 Ibnu Sinan adalah kaki beliau belum 36:43 melangkah Makkah, tapi hijrahnya sudah 36:44 diapprove. Berarti hijrah yang 36:47 sebenarnya itu, yang sejati itu 36:50 sebetulnya dia adalah proses hijrah di 36:54 dalam diri kita. Menghijrahkan narasi 36:59 tentang siapa kita. 37:01 [mendengus] 37:01 selama ini boleh jadi narasinya karena 37:03 di karena berisi itu kan berisi trauma 37:06 masa lalu apa ee pola asuh dan lain 37:09 sebagainya. Akhirnya banyak narasi yang 37:12 bertentangan dengan petunjuk Al-Qur'an. 37:15 Ee itulah yang mesti kita hijrahkan, 37:18 kita geser sehingga nanti perilaku kita 37:22 sentral eksekutif, jaringan otak sentral 37:25 eksekutifnya dengan sendirinya diarahkan 37:27 dengan baik karena sudah terjadi hijrah 37:30 dari default mode network alias eh DMN 37:35 kita ya, jaringan otak itu. Nah, gitu. 37:41 Jadi inilah yang terjadi kepada Suhaib. 37:43 Makanya yang sejatinya tuh seperti itu. 37:45 Makanya kadang-kadang orang hijrah 37:46 fisiknya hijrah dari yang tadinya enggak 37:49 ikut pengajian jadi ikut pengajian 37:52 rajin. Tapi kalau DMN-nya belum 37:54 dihijrahkan, masih kebawa 37:57 tentang bagaimana 38:00 apa 38:02 ada trauma masa kecil ya, ada pola asuh 38:06 yang membuat dia merasa inferior atau 38:09 rendah diri. 38:12 Nah, begitu ikut pengajian ah dia malah 38:15 jadi arogan ya, malah jadi seolah-olah 38:19 orang lain salah semua. Nah, itu 38:21 sebetulnya adalah cara tadi untuk 38:24 default mode network itu mendapatkan 38:27 mainan baru. Ya, istilahnya begitu. 38:29 Mainan baru 38:31 kan begitu. Eh, tapi kalau orang sudah 38:34 hijrah default mode network-nya sudah 38:36 tidak perlu lagi ada gelisah, sudah 38:39 tidak perlu lagi ada khawatir tentang 38:41 dunia, tentang apa, enggak perlu lagi. 38:44 Kenapa? Karena sudah hijrah 38:46 ya. Hijrah di FM network ini. Nah, jadi 38:50 tidak lagi tidak lagi menjadi agama tuh 38:53 aturan agama tuh tidak lagi menjadi alat 38:55 untuk melegitimasi 38:57 apa ee 38:59 ininya arogansinya. Jadi ya arogan ya, 39:02 semua orang salah aja, semua orang 39:05 enggak ada yang benar aja. Pokoknya yang 39:06 benar ya cuma dia sendiri umpamanya 39:08 begitu ya. Atau apa ee semua orang 39:11 mencurigakan, semua orang ini salah gitu 39:14 ya, semua orang ini enggak ngerti gitu 39:16 dan lain sebagainya gitu. Nah, itu kan 39:18 itu kan bentuk arogan yang berasal dari 39:21 ya peristiwa masa kecil, pola asuh dan 39:24 lain sebagainya. Trauma-trauma 39:26 itu yang mesti dihijrahkan. Silahkan. 39:30 Nah, gitu. Gimana cara menghijrahkannya? 39:33 Cara menghijrahkannya ada tiga nih, 39:37 kawan-kawan sekalian, Bapak, Ibu, para 39:40 pemirsa Rasil TV dan pendengar Radio 39:42 Silaturahim, ada tiga cara 39:45 supaya betul-betul kita ikut petunjuk 39:48 Quran menghijrahkan [mendengus] 39:51 ee mental kita. Maksudnya DMN atau 39:55 default mode network tadi kita 39:57 hijrahkan. [berdehem] 39:58 Nah, yang pertama kita hijrahkan mental 40:02 atau karakter kita, DMN kita tadi itu 40:05 kita hijrahkan dari yang sebelumnya 40:09 bangga dengan pencapaian dunia, 40:13 kita hijrahkan. 40:15 Jadi, pencapaian dunia itu tidak penting 40:17 lagi sekarang. 40:19 Nah, yang penting kalau yang menjadi 40:22 penting justru adalah bagaimana sesuai 40:24 dengan bagaimana karakter kita ini 40:27 sesuai dengan petunjuk Allah. 40:30 Mau disebut di dunia atau tidak ya 40:33 enggak penting lagi. 40:35 Mau dikenal di dunia atau tidak enggak 40:37 penting lagi. Mau di ee apa? Mau di apa 40:42 ya istilahnya? Mau dicognize atau di di 40:45 ya di aduh dikenal di dunia. Enggak, 40:48 enggak, sudah enggak penting lagi. Ee 40:50 mana dalilnya? Ini surat An-Najm satu 40:52 kita tadaburi surat An-Najm ya, 40:55 [mendengus] ayat 29 dan 30. Surah 54 ya, 40:59 Bapak, Ibu ya, di juz yang ke-27 itu kan 41:03 kalimat Allah begini. 41:04 Azubillahiminasyaitanirrajim. 41:06 Faid 41:08 aman tawallaikrina. 41:10 Kata Allah, berpalinglah. Memang khitab 41:14 pertamanya kepada Nabi Muhammad nih yang 41:15 diajak bicara. Nah, terus Al-Qur'an ini 41:18 kan sampai sampai juga kepada kita. Jadi 41:21 aturan ini juga sampai kepada kita. 41:23 Kalimatnya berpalinglah 41:26 dari artinya tinggalkanlah gitu ya. 41:29 Berpaling. Jangan ikuti. Siapa? 41:31 Orang-orang yang lupa kepada kami. Eh, 41:35 amman tawalla zikrina. Berpalinglah dari 41:38 orang-orang yang lupa akan peringatan 41:39 kami atau atau akan kami gitu ya. Apa 41:43 ciri mereka? Apa ciri orang yang lupa 41:46 dari peringatan Allah? Kalimat 41:47 berikutnya, walam yurid illal hayatad 41:51 dunya. 41:53 Keinginan mereka itu ujung-ujungnya 41:56 adalah dunia saja. 41:59 Keinginan mereka ujung-ujungnya dunia. 42:03 Puncak tertingginya ilmu mereka, 42:06 keinginan mereka, pengetahuan mereka. 42:09 Puncak tertingginya hanya nyampai dunia 42:11 doang. E pada ayat 30-nyaika 42:14 mablaguhum minal ilm. Nah, dunia itulah 42:18 yang menjadi setinggi-tingginya 42:20 pencapaian ilmu mereka, pencapaian kerja 42:24 keras mereka, pencapaian kebanggaan 42:27 mereka. Yang tertinggi itu cuma dunia 42:29 saja. 42:31 Dunia saja. Nah, jadi ke mana-mana 42:33 cerita tentang dunia ya. [mendengus] Ee 42:37 mengurusi kelihatannya mengurusi agama 42:40 gitu. Misalkan, wah jadi pengurus masjid 42:44 umpamanya kelihatannya ngurusin agama 42:46 terus, ngurusin masjid terus sehari-hari 42:48 ngurusin masjid. Tapi begitu dalam 42:50 mengurus masjid ini egonya yang pengin 42:54 tampil terus. Ee yang pengin diingat 42:57 orang dirinya terus yang kepengin 43:00 disebut-sebut ah dirinya. Kalau dia 43:03 enggak disebut dia marah, kecewa. Ah 43:06 gitu. Ah, itu berarti orang seperti itu 43:09 walaupun berada dalam lingkup urusan 43:11 agama, tapi urusannya masih dunia. 43:15 Masih dunia. Nah, ini harus dihijrahkan 43:20 dunia. Maka itu Allah secara spesifik 43:23 juga memberikan panduan kepada kita apa 43:28 saja dunia itu. Ya, jadi dunia dan 43:31 akhirat itu bukan bukan soal urusan 43:33 luarnya. Misalkan tadinya enggak ngurus 43:36 masjid, karena ngurus masjid aja ya. 43:39 Tadinya kan kerja gitu ya, sekarang 43:40 ngurus masjid aja. Wah, berarti dia udah 43:43 akhirat, udah akhirat semua nih. Bukan, 43:46 belum tentu ngurusin masjid. Tapi kalau 43:50 egonya yang paling nomor satu, 43:52 [mendengus] dianya yang paling pengin 43:54 diingat, pengin dikenal, pengin apa, 43:56 pengin tampil, pengin apa dan lain 43:58 sebagainya. Ah, itu berarti urusannya 44:00 masih dunia. 44:03 Walaupun mengurusi yang kelihatannya 44:06 kayak ngurusi akhirat gitu loh, kayak 44:08 ngurusi masjid umpamanya. Tapi egonya 44:11 itu. Nah, maka kata Allah dunia itu 44:15 setidaknya ada lima. Nah, kalimatnya 44:18 begini ya. Amu, ketahuilah oleh kalian 44:23 annamal hayatud dunia. Bahwa kehidupan 44:25 dunia itu ada lima. 44:27 Anamal hayat dunia. Pertama, laibun. 44:30 Laibun itu permainan ya, permainan 44:34 ya. Kemudian walahwun, lahwun itu senda 44:38 gurau ya. Jadi senda gurau ini ya 44:42 entertainment lah bisa disebut begitu. 44:44 Kalau sekarang orang ya macam-macam nih 44:46 entertainment-nya itu ya. Kalau e apa 44:49 katanya ibu-ibu tuh suka drama Korea, 44:51 sekarang lagi drama Cina. Nah, habis 44:54 sudah dengan dengan itu jadi jadi sampai 44:57 pikirannya tuh sampai ngikut dengan 44:59 dengan anu dengan fantasi dengan 45:02 halusinasi yang ada di di film-film itu. 45:05 Nah, itu bahaya betul. Laibun walahwun. 45:08 Yang ketiga, wazinatun. 45:11 Zinatun itu artinya perhiasan. 45:16 pengin tampilnya tuh kayak wah pokoknya 45:20 ee ini banyak di kampung-kampung nih 45:23 Bapak Ibu ya ee termasuk jugalah di 45:26 kampung kami di sana itu kalau sudah mau 45:29 mendekati Idul Fitri 45:32 itu toko emas itu penuh. 45:35 Ee kenapa orang pada beli emas? 45:40 Untuk apa beli emas ini? Untuk nanti 45:42 acara salam-salaman. 45:45 Nih kelihatan emasnya. Wah, gelangnya 45:47 bagus banyak emasnya cincinnya bagus 45:50 banyak gitu. Lucunya setelah selesai ee 45:55 Idul Fitri menjelang nanti Idul Adha 45:57 dijual lagi emasnya. 45:59 Masnya dijual lagi gitu. Jadi harganya 46:03 turun ada penurunan harga ada ongkos 46:08 apalah ongkos membikin atau apa segala 46:10 macam enggak ada masalah. Nah, ini 46:13 zinatun perhiasan. 46:16 Ee pengin tampil, pengin dilihat, wah 46:18 ini loh kami saya punya ini loh, saya ah 46:20 gitu. Itu dunia itu urusannya itu. Ee 46:24 termasuk juga pengin kelihatan, pengin 46:27 apa tuh dalam soal bukan tadi bukan 46:29 hanya perhiasan dalam bentuk fisik saja 46:32 ya, tapi perhiasan dalam bentuk 46:34 kebanggaan-kebanggaan yang lainnya gitu. 46:38 Wazinatun yang ketiga. Yang keempat, wat 46:42 tafakurum bainakum. 46:44 Tafakur itu artinya berbangga-banggaan 46:48 [mendengus] ya. 46:50 Ee maksudnya sombong gitu loh. Sombong 46:53 ya. Ber megah-megahan di antara kalian. 46:58 Wah. Ini kadang-kadang bisa jadi 47:01 bermegah-megahan yang sombong itu soal 47:06 ya almamater mana gitu misalkan gitu ya. 47:09 Ee dia dia karena almamater universitas 47:12 yang terkenal wah pokoknya ke mana-mana 47:14 dia selalu yang yang dia ini tuh 47:16 kebanggaannya itu adalah wah saya ee 47:19 almamater dulu kuliah di sini Bapak dulu 47:21 kuliah di mana? Wah, gitu kan. Atau apa 47:25 pekerjaannya dulu pernah menjabat 47:26 misalkan pejabat di BUMN Bapak atau di 47:29 mana gitu. Oh, saya dulu sekian puluh 47:32 tahun saya mengembangkan ini misalkan 47:34 gitu ya ngomongnya begitu tuh e 47:36 mengembangkan di kantor dulu apa begini 47:38 begitu Bapak dulu Bapak dulu bekerja di 47:40 mana? Gitu. Hal-hal seperti itu duniawi 47:45 ya. Karena tadi tafakurun bainakum, 47:48 saling menyombongkan di antara kalian 47:51 ini. Nah, menyombongkan apa aja tuh 47:53 banyak tuh macam-macam ya. Bahkan juga 47:55 lah ini ya bahkan juga menyombongkan 47:58 misalkan nasab. Wah itu dia. Nabi 48:02 sallallahu alaihi wasallam itu pernah 48:03 bersabda, 48:04 orang Arab dengan orang ajam ini sama 48:07 aja. Orang Arab dengan orang non Arab tu 48:09 sama aja. Yang beda tuh takwanya. 48:12 Takwanya. 48:14 ee takwanya yang bikin beda itu ee malah 48:18 kalau kalau mungkin ada apa keturunan ya 48:22 dari Nabi atau apa tapi perilakunya 48:25 tidak mencerminkan 48:27 tidak mencerminkan Nabi Muhammad 48:28 sallallahu alaihi wasallam cuma 48:29 mengaku-ngaku saja dan mungkin ada juga 48:32 dampak ekonomi yang dia terima dapat 48:34 duit karena orang tuh pengin pengin 48:37 mendapat barokah dari misalkan keluarga 48:40 Nabi atau apa itu. Wah itu tanggung 48:41 jawabnya berat besar sekali. Nanti di 48:43 sisi Allah tuh ee tafakurun bainakum. 48:46 Ini berbangga-banggaan di di antara 48:49 kalian. Macam-macam yang bisa dijadikan 48:51 kebanggaan itu, yang bisa dijadikan 48:54 kesombongan itu 48:56 gitu ya. Demikian pula ilmu agama. Nah, 49:00 ilmu agama juga dijadikan kesombongan. 49:02 Tafakur bisa banyak malah Bapak Ibu ya. 49:06 Organisasi demikian pula organisasi ya. 49:10 Wah, organisasi ini. Wah, saya lama di 49:12 organisasi itu begini begitu sampai 49:14 puncak pimpinan saya kenal apa bla bla 49:16 bla. Nah, itu ya itu tafakur bainakum. 49:20 Makanya Ibnu Qudamah dalam kitab beliau 49:22 Madarijus Salikin itu ya ee apa beliau 49:28 ee 49:30 pernah menuliskan ciri-ciri orang apa 49:33 pintu pintu menjadi ria seseorang itu 49:38 adalah salah satunya adalah tadi ee 49:40 kenal kenal anu si relasi relasi ya itu 49:45 bikin sombong bikin sombong itu. Oh saya 49:47 kenal itu. Oh saya tahu itu. saya. Nah, 49:50 gitu. Itu itu dunia 49:54 gitu. Ee jadi harus kita hijrahkan sudah 49:57 hijrahkan. Ee dan yang kelima ya tadi 50:01 kan ada sudah empat ya, laibun satu 50:04 walahwun eh senda gurau atau 50:06 entertainment ya. Wazinatun perhiasan 50:09 tadi ya pengin tampil anu perhiasan. 50:13 Watfakurum bainakum. Saling 50:15 menyombongkan diri di antara kalian nih. 50:17 Yang keempat nih tadi dengan apa saja 50:19 tuh dengan ilmuah, dengan almamater kah 50:22 dengan pekerjaanah, karir kah, apalah 50:25 semuanya kenalan, relasi atau apapun. 50:28 Nah, yang yang kelima, watakurun fil 50:31 amwali wal aulad. Nah, 50:34 berbangga-banggaan 50:37 tentang anak dan harta kekayaan. 50:39 [berdehem] 50:40 Nah, ini jadi kadang-kadang kita ke 50:43 mana-mana ya nyeritain anak kita 50:46 berhasil dapat kerja di perusahaan apa 50:49 gitu misalkan gitu ya. Nah, itu mah 50:51 dunia masih tuh urusannya tuh. Oh, si 50:54 anu sudah kerja di sini alhamdulillah ya 50:56 gajinya mencukupilah supaya dia begini 50:59 begitu atau bah cerita macam-macam itu 51:02 duniawi. 51:03 Duniawi. Nah, jadi kebanggaan tadi kan 51:07 dari dalam diri biasanya gitu ya. Nah, 51:09 kalau yang nomor 5 ini khusus harta dan 51:12 anak keturunan. Ah, gitu. 51:16 Itu memang dua yang nanti juga dalam 51:18 surah almunafikun juga disebutkan itu ya 51:20 dalam surat almunafikun. Nah, jadi orang 51:24 yang lupa kepada Allah karena harta dan 51:27 anak keturunan itu. Nah, jadi 51:29 kebanggaannya jenis yang berbeda ini 51:31 harta dan anak keturunan tadi. Kalau 51:33 yang tadi yang nomor empat tuh 51:35 kebanggaan dari yang lainnya dari 51:37 individu kita misalkan tadi nasab lah 51:40 ya, kemudian almamater lah. kuliah di 51:43 mana bisa dibanggakan jadi kebanggaan 51:45 juga bisnisnya lah relasinya kenal ini 51:49 kenal itu, organisasinya 51:51 ilmu agamanya dan lain sebagainya lah 51:54 semua. Nah, yang khusus yang nomor lima 51:57 adalah berbanyak-banyakan dalam harta 51:59 dan anak keturunan. Nah, Bapak Ibu yang 52:02 dirahmati Allah, ini mesti kita 52:04 hijrahkan ya. Kalimat Allah tadi 52:06 hijrahkan ke mana? Ya, kepada yang 52:08 memberilah, kepada Allah gitu. Nah, 52:11 kalau misalkan anak kita diterima, 52:14 diterima kerja umpamanya, wah bersyukur 52:16 sekali kita. Gimana caranya? Ya, jangan 52:19 cerita sama orang ya. Bangun tengah 52:22 malam salat, habis salat tahajud angkat 52:25 tangan sama Allah, bilang terima kasih 52:27 ya Allah. Gitu. Nah, itu baru tidak 52:30 duniawi lagi karena tidak kepada orang. 52:32 Kan begitu kan tadi tafakurun bainakum 52:35 kan. Berbangga-bangga di antara kalian, 52:39 di antara sesama manusia. Nah, jadi 52:41 ngomongnya jangan sama manusia supaya 52:43 tidak termasuk yang duniawi ini. 52:47 Bilang sama Allah terima kasihnya. Yang 52:49 ngasih kan Allah gitu. Makasih ya Allah 52:51 gitu. Alhamdulillah gitu. Nah, itu itu 52:55 baru beres. Nah, gitu ya. Geser gitu 52:59 hijrah. [mendengus] Hijrah. Nah, Suhaib 53:02 Ibnu Sinan itu, Bapak Ibu yang dirahmati 53:05 Allah, ikhwan-akhwat sekalian, beliau 53:07 itu kakinya belum melangkah keluar 53:09 Makkah. 53:11 Tapi di dalam dirinya sudah terhijrahkan 53:14 pikiran ya yang berharga dulu. Dulu yang 53:18 berharga ketika beliau menjadi pengusaha 53:21 sebelum hijrah yang berharga adalah uang 53:23 duit. 53:25 Ee uang duit itu berharga. Makanya 53:28 beliau jadi orang terkaya kedua itu 53:30 pelit. Tentu saja namanya pengusaha tuh 53:32 begitu dihitung betul. Wah ini gimana 53:34 nanti dapat apa ininya gimana. Nah, gitu 53:36 kan begitu dia. Ee rupanya sudah hijrah 53:40 itu. Nah, sudah tidak lagi penting itu 53:42 uang duit tuh udah sudah enggak lagi 53:45 penting itu. Jadi ya sudah kalian ini 53:47 orang-orang kafir Quraisy nih kalian nih 53:49 masih masih menganggap duit itu penting 53:53 kan ya. Ambil ajalah ambil ajalah buat 53:55 kalian semuanya gitu. Saya mau hijrah 53:57 karena hijrah ini penting buat saya gitu 53:59 kan. Nah, jadi sudah terjadi hijrah 54:03 sehijrah di dalam di dalam mentalnya. 54:06 bental beliau padahal langkah kakinya 54:08 belum keluar Makkah gitu 54:11 gitu. 54:13 Nah, lalu yang kedua ya sesudah tadi 54:16 kita hijrahkan mental bangga dengan 54:19 pencapaian dunia yang kedua kita 54:22 hijrahkan 54:23 dari dalam diri kita supaya DMN-nya 54:26 hijrahnya itu dari default mode network. 54:29 kita hijrahkan mental yang selama ini 54:32 merasa diri kita ini sebagai pemilik 54:35 dari nikmat-nikmat yang Allah beri 54:37 kepada kita. Ini mesti dihijrahkan nih 54:40 menjadi apa? Ya mental kita itu adalah 54:43 petugas. 54:45 Petugas dari Allah. Ditunjuk oleh Allah 54:47 bertugas. 54:49 Nah, 54:51 anak misalkan ya, anak itu bukan milik 54:54 kita, [berdehem] 54:55 tapi kita bertugas. 54:58 Milik siapa dia? Milik Allah. Anak itu 55:01 dititipkan kepada kita tugasnya kita 55:04 jadi orang tua. Bukan milik kita. Dia 55:07 bukan milik kita. Bedanya gimana nih? 55:09 Bedanya seorang pemilik itu ya suka-suka 55:12 di lumpahkan 55:16 marahnya kepada anak. Gu kan kalau dia 55:19 lagi kesal wah dia dia bablas nih 55:22 syahwat kemarahannya nih kepada anak. 55:25 Kesal banget saya. Nah, itu artinya apa? 55:27 Dia merasa ini properti saya dong. Ini 55:29 anak ini harus dengerin saya ya, harus 55:32 nurut kepada saya karena karena tadi 55:34 mentalnya pemilik. Coba kalau mental 55:35 petugas, 55:38 petugas itu kan ya kita ini ditugasi 55:41 oleh bos ya, bos besar ya. Bos besar 55:44 kita dalam dalam hal ini maksudnya Allah 55:46 begitu kan ya. Ditugaskan nih titip saya 55:48 titip ya jiwa manusia yang saya ciptakan 55:51 ni saya titip sama kamu. Nah, namanya 55:53 anak gitu ya. Karena ada pemiliknya 55:56 bukan kita pemiliknya, kita petugasnya. 55:59 Maka itu kita tentu akan pelan-pelan 56:01 hati-hati kita nih hati-hati. Sebab apa? 56:05 Pemiliknya melihat gitu ya kan? 56:08 Pemiliknya kan ada ada pemiliknya. 56:11 Ee jadi dalilnya mana? Ini surah An-Nahl 56:15 misalkan ayat 53 surah 16. Nah, kalimat 56:19 Allah di situ luar biasa. 56:21 W bikum min nikmatin kata Allah. 56:25 Semua nikmat yang ada sama diri kalian 56:28 kata Allah tuh semua tidak ada satuun 56:31 juga semua nikmat yang ada menempel 56:34 dalam diri kalian itu faminallah 56:37 semuanya dari sisi Allah. Allah yang 56:39 kasih semuanya itu milik Allah. Nah 56:43 gitu. Semua itu semua itu milik Allah 56:46 bukan milik kalian kata Allah tuh. 56:49 Lalu pada penggal berikutnya dari ayat 56:52 itu, tumma 56:54 udah. Nah, nanti kalau kemudian nanti 56:58 datang mudarat kepada kalian, baru 57:01 kalian 57:03 sadar. Failaihi tajarun. Maka waktu 57:07 datang mudarat itu, nah barulah barulah 57:10 sadar hanya kepada Allahlah kalian 57:12 meminta pertolongan. Kata Allah tuh 57:14 begitu. kemarin ke mana aja waktu lupa 57:19 sama pemilik nikmat yang yang ada itu di 57:23 dia ngaku-ngaku itu atau dia kira itu 57:25 milik dia karena dia nikmat yang ada 57:28 itu. Padahal itu kan milik Allah karena 57:30 lupa tadi kata Allah nanti kalau kamu 57:32 kena mudarat baru kamu ingat ya gitu. Ee 57:35 jadi makanya makanya kadang-kadang ya 57:38 mudarat itu ya sebetulnya adalah cara 57:41 Allah untuk mendidik kita. Karena kita 57:42 lupa selama ini bahwa nikmat itu milik 57:44 Allah bukan milik kita. Kita ngaku-ngaku 57:46 itu milik kita gitu 57:49 gitu kan ya. Lewat apa tadi? Karena kita 57:51 enggak hijrah tadi ya. Kita ngaku-ngaku 57:54 itu milik kita. Kita berasa itu milik 57:55 kita padahal milik Allah bukan milik 57:57 kita. Nah [berdehem] 58:00 inilah yang terjadi kepada Qarun. Eh 58:03 Bapak Ibu ya ikhwan akhwat sekalian. 58:06 Inilah yang terjadi kepada Qarun. Qarun 58:08 itu ngaku-ngaku bahwa 58:11 nikmat yang ada sama diri dia, kekayaan, 58:14 harta kesuksesan gitu ya. Dia bilang, 58:17 "Qnama 58:19 utitu ala ilmin." 58:22 Kata Qarun, "Semua ini saya dapatkan 58:26 karena saya ini 58:29 ilmu saya ini 58:31 ada dan saya kerja keras. 58:35 Saya gagal terus saya bangkit lagi. 58:37 Enggak pernah saya enggak enggak 58:39 menyerah saya. Makanya dapat ini semua. 58:42 Nah, itu itu kalimat Qarun tuh begitu 58:44 sebetulnya. 58:46 Innama ala ilmin ya ilmin di situ kan 58:49 nakirah. Nakirah itu artinya umum banyak 58:52 gitu ya ilmunya itu ee ilmu ilmu dagang, 58:56 ilmu akunting, ilmu bertahan. ketika 58:59 ketika gagal bangkit lagi. Ketika ini, 59:00 nah orang kalau sudah bilang begitu ini 59:04 apa bisnis saya nih dulu karena memang 59:06 saya tidak saya tidak menyerah gagal 59:08 saya bangkit lagi ini saya jalanin lagi 59:11 saya cari lagi saya anu lagi saya 59:13 berusaha lagi saya berusaha lagi. Ah ini 59:15 hati-hati nih omongan seperti ini. 59:17 Seolah-olah semua yang dia dapat ini 59:19 karena dirinya 59:23 seolah-olah itu milik dia. Ya. Padahal 59:26 kata Allah tadi, wama bikum min nikmatin 59:28 faminallah. Semua nikmat yang ada sama 59:30 kamu tuh punya Allah, milik Allah. Nah, 59:33 jangan sampai kamu lupa. Nanti kalau 59:34 kamu lupa kena mudarat kamu baru ingat 59:36 kan. Nah, gitu ya, Bapak, Ibu. Begitu 59:39 juga anak kita ya. Kalau kita tapi ustaz 59:43 kalau enggak ada kerasa kepemilikan 59:44 nanti enggak bertanggung jawab. Loh, 59:46 terbalik. justru lebih bertanggung jawab 59:50 karena sadar bahwa dia adalah titipan 59:54 Allah kepada kita. Kita ini petugas 59:57 untuk menjaga titipan itu. Istilahnya 1:00:00 kayak tukang parkir 1:00:02 ya dalam hal ini dijagain. Betul. 1:00:05 Kenapa? Karena bos besar nih menitipkan 1:00:07 kepada kita miliknya bos besar. Bos 1:00:09 besar maksudnya Allah gitu ya. Biar 1:00:11 gampang aja. Ini Allah itu menitipkan 1:00:13 miliknya kepada kita. Dia ciptakan itu 1:00:15 anak. ya, jiwa manusia yang ia ciptakan, 1:00:19 yang Allah ciptakan lalu dititipkan 1:00:21 kepada kita. Nah, maka itu kalau orang 1:00:24 tadi milik ya milik anak ini milik saya 1:00:28 gitu karena karena apa? Subordinat saya, 1:00:31 saya yang kasih makan, saya yang kasih 1:00:32 ini sampai dia besar. E seolah-olah 1:00:35 milik milik kita itu anak. Maka tadi 1:00:37 kalau emosi 1:00:39 bablas, 1:00:41 luapkan emosi gitu. Kalau marah ya 1:00:44 marah, kalau apa gitu kan. Kenapa? 1:00:46 Karena kita tidak melihat pemiliknya. 1:00:49 Kita pikir kita pemiliknya. Padahal 1:00:51 pemiliknya bukan kita, 1:00:54 Allah pemiliknya. Nah, justru malah 1:00:57 kerja [mendengus] kita lebih bagus. 1:00:59 Kenapa? Karena kita khawatir nanti kalau 1:01:01 pemiliknya marah, gimana ini? Kalau saya 1:01:03 perlakukan dengan tidak benar gimana 1:01:05 ini? Ee gitu ya. Ee sebaliknya gitu juga 1:01:08 kalau dimanjain apa gitu enggak boleh 1:01:10 juga. Karena pemiliknya kan tidak minta 1:01:12 begitu. Minta dididik, dididik dengan 1:01:15 benar. 1:01:16 diberikan pengetahuan yang benar, 1:01:18 diberikan contoh. Ya, dalam surat 1:01:20 Alfurqan itu kan kalimatnya hablana min 1:01:23 azwajinaun. 1:01:26 Ya Allah berikanlah kepada kami pasangan 1:01:28 hidup kami dan anak-anak cucu keturunan 1:01:31 kami yang menyejukkan mata kami. Lalu 1:01:33 coba lihat kalimat berikutnya. Waj'alna 1:01:36 lil muttaqina imama. Jadikanlah kami ya 1:01:38 Allah untuk mereka untuk 1:01:40 orangorang-orang yang bertakwa. 1:01:41 maksudnya tadi kembali kepada yang awal 1:01:44 tadi, anak-anak kami ee pasangan hidup 1:01:47 kami. Jadikanlah kami ini mampu menjadi 1:01:50 imam. Imam ee imam itu apa? Imam itu 1:01:54 mencontohkan. 1:01:56 [berdehem] 1:01:57 Ahah. Itu imam namanya. [mendengus] 1:02:00 Kalau yang cuma ngomong doang, itu 1:02:01 namanya muazin. Muazin kan cuma Allahu 1:02:05 Akbar. Cuma menyerukan saja dia. Ee 1:02:07 kalau imam itu ada gerakannya. 1:02:11 Nah, dia duluan melakukan baru kemudian 1:02:13 makmumnya melakukan 1:02:15 itu. Itu cara yang Allah ajarkan sama 1:02:18 kita. Jadi, kalau kita kepengin anak itu 1:02:21 ee mencintai Al-Qur'an, ya kita juga 1:02:24 harus nunjukin bahwa kita begitu. Enggak 1:02:26 bisa kita hanya memvonis mentang-mentang 1:02:28 kita, ibunya, bapaknya, "Wah, kamu nih 1:02:30 enggak ini kan mama sudah bilang enggak 1:02:32 bisa, gak boleh." Itu cara yang salah 1:02:35 dari Quran. Kita cuma mengandalkan 1:02:39 otoritarianisme. 1:02:41 Nah, gitu ya. Otoritas [mendengus] 1:02:42 aja mentang-mentang orang tua. Nah, lalu 1:02:44 kita bisa kamu ini kamu ngaji. Kalau 1:02:48 ayah kan sibuk cari duit. Ah, enggak 1:02:49 bisa dong. Enggak bisa begitu dong. 1:02:51 Harus dilihatkan bahwa ayahnya juga 1:02:53 betul-betul mencintai Quran di waktu 1:02:55 yang sangat sempit tetap berinteraksi 1:02:58 dengan Quran. Anak melihat itu. 1:03:00 Waj'alana lil muttaqina imama. Jadikan 1:03:02 kami ini imam ya Allah. kepada mereka 1:03:05 memberikan contoh. Nah, gitu. Berikan 1:03:07 contoh baru bisa. Baru bisa. Nah, jadi 1:03:11 itu mental petugas yang begitu. 1:03:13 Waja'alna lil muttaqina imama. Nah, 1:03:16 kalau mental pemilik tadi ya suka-suka 1:03:18 saya lah ya. Mental pemilik kan gitu 1:03:20 pemiliknya tidur-tiduran ya. Ee enggak 1:03:24 enggak mengerjakan apa-apa misalkan gitu 1:03:26 ya. Namanya juga dia pemilik. Ah, 1:03:28 karyawannya suruh kerja itu pemilik. 1:03:32 Itu pemilik. Nanti dia tinggal dapat 1:03:34 hasilnya. Kan begitu. Nah, kalau tadi 1:03:38 kita merasa nikmat ini milik kita, ya 1:03:39 kita akan perlakukan kayak gitu. Ee 1:03:42 kalau enggak dapat hasilnya kita marah 1:03:44 gitu kan. Nah, kita kecewa dan lain 1:03:46 sebagainya. Nah, ini harus kita geset. 1:03:49 Jadi mentalnya jadi mental peetugas. 1:03:51 Jangan pemilik tuh Bapak, Ibu ya. Jangan 1:03:53 pemilik. Karena pemilik itu ya hanya 1:03:57 Allah saja yang memiliki semua nikmat 1:04:00 yang ada dalam atau yang ada pada diri 1:04:02 kita. 1:04:04 Oke, saya pikir ini saja dua dua yang 1:04:07 bisa saya sampaikan ya untuk mengubah ee 1:04:11 mental kita hijrahnya dari mental dari 1:04:14 dalam diri kita atau dari default mode 1:04:16 network tadi seperti Suhaib Ibnu Sinan 1:04:19 di dalam diri beliau sudah terhijrahkan. 1:04:23 Yang menjadi penting buat beliau ini 1:04:25 bukan lagi uang tapi ee hijrah kepada 1:04:29 Nabi sallallahu alaihi wasallam. 1:04:30 Sehingga walaupun enggak ada yang lihat, 1:04:32 satu orang kaum muslimin pun enggak ada 1:04:34 yang lihat waktu beliau memberikan semua 1:04:36 hartanya. Tapi Allah Subhanahu wa taala 1:04:39 melihat itu. Maka turunlah surah 1:04:41 Albaqarah ayat 207 yang ee latar 1:04:44 belakangnya adalah kisah hijrah Suhaib 1:04:46 tadi itu. Waminanas yasri nafsahillah. 1:04:52 Di antara manusia ada orang-orang yang 1:04:54 menjual dirinya sendiri. Padahal 1:04:56 beliaunya suhaibnya tidak tidak berniat 1:04:59 apa, tidak merasa seperti itu. Cuma 1:05:01 ngasih aja karena sudah tidak penting 1:05:02 lagi buat beliau. Tapi oleh Allah itu 1:05:04 dihargai. 1:05:06 Dihargai. Maka Rasulullah menyambut 1:05:09 menyambut Suhaib dengan kalimat rabihal 1:05:12 bai. Ya suyu sungguh betul-betul sudah 1:05:15 beruntung sekali ini perdaganganmu wahai 1:05:17 Suhaib. Ee yang menunjukkan tadi apa 1:05:20 yang beliau korbankan itu betul-betul 1:05:22 dihargai oleh Allah Subhanahu wa taala. 1:05:24 Nah, inilah hijrah yang sebenarnya. 1:05:26 Hijrah dari dalam diri. Apa yang menjadi 1:05:29 penting buat diri kita itu kita 1:05:31 hijrahkan sesuai dengan petunjuk Allah 1:05:33 tadi ada dua, yakni hijrahkan mental 1:05:36 kita 1:05:38 bangga dengan pencapaian dunia. 1:05:39 Hijrahkan dan hijrahkan mental kita. 1:05:43 Merasa nikmat ini milik kita yang ada di 1:05:45 dunia ini. Padahal sebetulnya kita hanya 1:05:47 petugas saja. Wallahualam biswab. 1:05:49 Mungkin ini saja yang bisa saya 1:05:51 sampaikan. Saya kembalikan ke studio 1:05:53 dengan Mas ee Agus. Billahi taufik 1:05:56 walhidayah. Wasalamualaikum 1:05:57 warahmatullahi wabarakatuh. 1:06:01 Warahmatullahi wabarakatuh. Jazakallah 1:06:02 Ustaz Adoni atas tausiah atas 1:06:06 tausiahnya. Baiklah ikhwan dan akhwat, 1:06:09 kami akan jeda sejenak terlebih dahulu 1:06:12 dan kita akan kembali setelah jeda 1:06:15 nasyid berikut ini. Tetaplah bersama 1:06:18 kami. 1:06:20 Bismillahirrahmanirrahim. 1:06:25 [musik] 1:09:48 Bismillahirrahmanirrahim. 1:09:54 [musik] 1:10:03 untuk Islam yang satu. Ikhwan dan akhwat 1:10:06 yang dirahmati Allah Subhanahu wa taala. 1:10:08 Terima kasih Anda masih bersama kami 1:10:11 dalam program tadabur Quran bersama guru 1:10:14 kita Ustaz Doni Amir Sagaf. Ada beberapa 1:10:18 pertanyaan Ustaz yang sudah masuk. Namun 1:10:21 sebelum kita jawab pertanyaan ee kita 1:10:24 sapa terlebih dahulu pendengar kita di 1:10:29 ee yang sudah masuk di tab. Ada siapa 1:10:32 ini? 1:10:34 Pendengar dari Sukabumi. Asalamualaikum 1:10:36 ustaz. Dari Baro Sukabumi hadir 1:10:39 menyimak. Jazakumullah khair ilmunya. Oh 1:10:42 ada Ibu Yati di Baros begitu ya. Terima 1:10:45 kasih Ibu. 1:10:47 Kemudian ada Bapak Arwin. 1:10:50 Asalamualaikum. Terima kasih atas 1:10:52 tausiah, nasihat, dan pencerahannya, 1:10:54 Ustaz. Semoga Ustaz dan juga pejuang 1:10:57 dakwah serta para pendengar Radio Rasil 1:11:00 selalu dalam keadaan sehat walafiat 1:11:02 serta dalam lindungan Allah Subhanahu wa 1:11:05 taala. 1:11:06 Amin ya rabbal alamin. 1:11:08 Dari Bapak Arwin. Kemudian Ibu Lali Sirl 1:11:13 Purwari. 1:11:15 Ada pula Ibu Ani Hanif Khudaifah di 1:11:18 Kemayoran. 1:11:20 Kemudian ada hamba Allah 1:11:24 di Jakarta tidak disebutkan ee 1:11:27 domisilinya. Kemudian dari Bapak Fauzi 1:11:31 dan Ibu Fani. Beberapa pertanyaan sudah 1:11:34 masuk Pak Ustaz. Ini pertanyaan pertama 1:11:37 datang dari hamba Allah di Sukabumi. 1:11:40 Asalamualaikum warahmatullahi 1:11:42 wabarakatuh. Ustaz. 1:11:44 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:11:45 wabarakatuh. 1:11:46 Ustaz, bagaimana cara mendidik anak agar 1:11:49 mencintai Al-Qur'an di tengah banyaknya 1:11:51 pengaruh gadget dan media sosial? 1:11:55 Iya, terima kasih. Ee ini hamba Allah di 1:11:59 Sukabumi ya. Ini permasalahan kita semua 1:12:01 ini 1:12:02 sekarang ini. Jadi ee 1:12:05 tapi kunci jawabannya sebetulnya mudah. 1:12:09 Ee nanti kalau kita buka dan jadikan 1:12:12 pedoman surah An-Nisa ayat ke-9 kalimat 1:12:16 Allah di situ. 1:12:19 Auzubillahiminasyaitanirrajim 1:12:21 walaksyalladzina laqu min khalfihim 1:12:25 zurriyatan 1:12:28 khofu alaihim falyattaqulah walyaquluan 1:12:31 sadida. Hendaklah setiap orang itu 1:12:34 merasa khawatir 1:12:36 kalau kalau dia meninggalkan di belakang 1:12:39 hidupnya nanti anak keturunannya yang 1:12:43 lemah difan ee lemahnya berbagai macam 1:12:47 kelemahan. Lemah dalam hal akidah, lemah 1:12:51 dalam hal apa? mental ya. Lemah dalam 1:12:55 hal ilmu pengetahuan, lemah juga dalam 1:12:57 hal ee apa ee kemampuan untuk ee ya 1:13:03 bekerja gitu ya. Kemampuan untuk 1:13:05 menghidupi diri itu juga termasuk. Nah, 1:13:07 gimana caranya ayat itu memberikan juga 1:13:13 ee ee apa solusi. Caranya adalah 1:13:16 falyattaqulah. Hendaklah orang tua ini 1:13:19 selalu bertakwa kepada Allah. 1:13:23 Dan hendaklah orang tua ini bisa 1:13:27 ee menghadirkan kata-kata yang sadida. 1:13:32 Ulan sadida. 1:13:34 Ulan sadida itu nanti akan membersih e 1:13:37 memperbaiki amal kita, perbuatan kita. 1:13:40 Yuslih lakum a'mal. Nanti dalam surat 1:13:42 al-ahzab itu ya. Ulan sadida. Nah, ee 1:13:46 sadida itu bagaimana? Nah, kolon sadidah 1:13:49 itulah yang ee kita pernah bahas juga di 1:13:53 tadabur di radio silaturahim ini ya. 1:13:56 Seperti kita berbicara kepada anak tuh 1:14:00 adalah pembicaraan yang menenangkan, 1:14:02 yang menyejukkan, bukan yang emosi gitu 1:14:05 ya. Ee jadi yang melihat masa depan 1:14:09 gitu. Jadi tidak dengan intonasi yang 1:14:13 tinggi, tidak dengan ee otoritas yang 1:14:17 dikedepankan, tetapi sesuatu yang 1:14:19 sifatnya sadida. Sadida sin, dal, dan 1:14:24 dal ya. Sadada itu akar katanya. 1:14:28 Nah, itu artinya menyejukkan, 1:14:30 menenangkan gitu. Nah, kalau kita bisa 1:14:32 seperti itu, kita bisa anak-anak ini 1:14:35 walaupun ada gempuran gadget atau apa, 1:14:37 tetapi mereka ee apa punya ketenangan 1:14:41 hati itu. Coba bayangkan, Ibu, Bapak, 1:14:44 kalau kita ini sebagai orang tua ngajak 1:14:48 anak ngaji tapi pakai emosi gitu ya. 1:14:50 Heeh. 1:14:51 Sementara 1:14:53 gadget 1:14:54 ngajak anak kita untuk dekat dengan 1:14:58 gadget itu dengan cara yang baik. dia 1:15:01 gadget itu dikasih dikasih 1:15:05 apa? Warna yang cerah, dikasih 1:15:09 apa? Iming-iming kalau dapat menang 1:15:11 hadiahnya ini dikasih apa? Ada musik, 1:15:15 lagu-lagu yang ini yang yang menenangkan 1:15:18 otaknya apa ya? Otomatis kita kalahlah 1:15:20 sama gadget. 1:15:22 Sementara kalau kita marah-marah, kalau 1:15:25 kita selalu ngomongnya, "Mama kan sudah 1:15:27 bilang sama kamu, ini kan kamu masa 1:15:29 depan nanti kamu." Ah, jadi kalahlah 1:15:31 kita. Kalah kita. Nah, oleh karenanya 1:15:34 pakai cara Quran berkata-kata yang 1:15:36 sadidah. Nanti kalau ee Bapak Ibu 1:15:39 kepengin melihat lagi ada video kita di 1:15:42 ee Tadabur Quran ini juga di Rasil di 1:15:46 YouTube Rasil ya nanti mungkin juga bisa 1:15:48 di mohon dimasukkan juga linknya begitu 1:15:51 biar mudah ee jemaah bisa mengklik ulan 1:15:54 sajida bagaimana itu ulan sajida ya 1:15:57 kurang lebih demikian pada baik 1:16:00 ada kami ingin menyapa ada Bunda Siti 1:16:03 Aulia di Sukabumi yang ikut menyimak 1:16:05 alhamdulillah semoga Pak Kiai juga kru 1:16:08 Rasil selalu ada dalam lindungan Allah 1:16:11 Subhanahu wa taala. Amin. 1:16:17 Kita pertanyaan selanjutnya, Pak Ustaz. 1:16:19 Dari Bapak siapa ini? Bapak 1:16:23 Ujang. Asalamualaikum warahmatullahi 1:16:25 wabarakatuh. 1:16:26 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:16:28 wabarakatuh. 1:16:28 Di zaman sekarang ini banyak anak muda 1:16:30 yang takut dibilang sok alim kalau mau 1:16:33 mulai berubah. Bagaimana supaya tetap 1:16:36 percaya diri dalam menjalani proses 1:16:38 hijrah, Ustaz? Terima kasih. 1:16:40 Iya, terima kasih, Pak Ujang tadi yang 1:16:42 bertanya. Iya, anak-anak sekarang itu ee 1:16:45 takut kalau dia tidak divalidasi. 1:16:48 Jadi, takut akan validasi ee kelompoknya 1:16:52 atau kawan-kawannya. 1:16:54 Ee jadi kenapa dia kok takut dengan 1:16:57 validasi kawan-kawan? Karena kawan-kawan 1:17:00 itu bisa memberikan kenyamanan kepada 1:17:03 dia. 1:17:04 He. 1:17:04 Makanya dia takut kehilangan. Kalau 1:17:07 kawan-kawannya nanti melihat dia dan 1:17:09 akhirnya ee tidak lagi berkawan dengan 1:17:12 dia, itu yang dia takut. Kenyamanan yang 1:17:14 akan hilang. Nah, kalau kenyamanan itu 1:17:18 bisa kita gantikan ya, anak nyaman 1:17:21 dengan orang tuanya, dekat dengan orang 1:17:23 tuanya nyaman dia. Ee maka dia tidak 1:17:27 akan merasa takut untuk kehilangan atau 1:17:31 tidak divalidasi oleh kawan-kawannya. 1:17:33 Tidak takut dia. Kenapa? Karena dia 1:17:35 kenyamanan itulah sebetulnya yang dia 1:17:37 butuhkan. Nah, maka itu sebagai orang 1:17:39 tua ini kita jangan gampang emosi, 1:17:43 gampang ini. Anak tuh enggak nyaman. 1:17:45 gitu. Dan jangan salah kalau kita bikin 1:17:48 anak enggak nyaman, nantinya anak malah 1:17:49 nyaman sama teman-temannya, sama 1:17:51 kawan-kawannya. Kalau kawannya baik sih 1:17:54 enggak apa-apa. Kalau ternyata kawannya 1:17:56 ini membawa yang buruk, nanti terkena 1:17:59 anak kita keburukan. Padahal diawali 1:18:02 dari karena orang tua ini kita ini tidak 1:18:04 mampu untuk memberikan kenyamanan kepada 1:18:07 anak 1:18:09 gitu. Dikit-dikit langsung anak salah. 1:18:11 Dikit-dikit langsung bilang, "Ah, 1:18:13 makanya kan mama sudah bilang kan." Nah, 1:18:14 gitu. Ee kan ayah sudah bilang kan ayah. 1:18:17 Nah, gitu kan. Tu kan anu tuh jadi 1:18:19 enggak nyaman tuh. Coba kalau 1:18:20 kawan-kawannya dia cerita sama 1:18:22 kawan-kawannya enggak pasti enggak akan 1:18:24 ada ngomongan begitu pasti. Ah, ya 1:18:26 udahlah kalau gitu gini aja kamu tenang 1:18:27 dulu. Ah, gitu kan. Makanya dia lebih 1:18:29 pilih ke sana ya sama kawan-kawan. Nah, 1:18:32 jadi sebetulnya kuncinya adalah apakah 1:18:35 kita bisa memberikan rasa nyaman kepada 1:18:38 dia? Ya, memberikan rasa nyaman tuh 1:18:40 bukan harus semua dibolehin gitu, bukan. 1:18:44 Tetapi cara kita ee cara aja, cara aja 1:18:47 sebetulnya. E jadi terutama emosi itu 1:18:50 loh, emosi dan otoritarianisme itu loh 1:18:53 merasa diri kita ini pemiliknya dia. Ee 1:18:56 itu itulah yang harus dihijrahkan. Ya, 1:18:58 kurang lebih demikian, Pak Mas Agustus. 1:19:01 Baik, Ustaz. 1:19:03 Kemudian pertanyaan selanjutnya, Pak 1:19:05 Ustaz ee dari siapa ini? Pak Dedi di 1:19:08 Tangerang. Asalamualaikum warahmatullahi 1:19:11 wabarakatuh, Pak Ustaz. 1:19:13 Waalaikumsalam. warahmatullahi 1:19:14 wabarakatuh, Pak Dedi ya. Silakan. 1:19:15 Iya, Ustaz. Di zaman saat ini banyak 1:19:17 anak muda yang bingung karena informasi 1:19:20 di media sosial sangat beragam tentang 1:19:22 LGBT. 1:19:24 Bagaimana kemudian kami sebagai orang 1:19:26 tua dan pendidik bisa memberikan 1:19:28 pemahaman Islam yang bijak kepada 1:19:30 generasi Buddha saat ini? 1:19:32 Iya, ini memang persoalan kita sekarang 1:19:35 luar biasa. Enggak enggak sama kayak 1:19:38 dulu. Jadi, persoalannya sudah sangat 1:19:41 kompleks ya. Sekarang kalau kalau anak 1:19:44 kita pergi berkawan 1:19:48 ya sama teman-temannya laki-laki itu aja 1:19:51 kita masih harus 1:19:53 apa khawatir juga gitu ya. Kalau dulu 1:19:56 zaman dulu mah enggak gitu. Jadi kalau 1:19:57 sudah 1:19:58 ya apa laki-laki oh mau ke mana ini 1:20:01 cowok-cowok semua pada mau ini misalkan 1:20:03 gitu ya hiking atau apa ya kita tenang 1:20:05 saja karena enggak ada lawan jenisnya 1:20:07 gitu. Nah, kalau sekarang ya sesama 1:20:10 jenis pun ya kita khawatir juga. Nah, 1:20:12 caranya bagaimana? Sebetulnya cara 1:20:16 mendidiknya itulah yang yang kita mesti 1:20:18 ya cara menyampaikannya cara 1:20:20 menyampaikannya gitu ya yang mesti kita 1:20:23 gali terus. Nah, jadi tentang LGBT itu 1:20:26 luar biasa sebetulnya kerugiannya, 1:20:29 dampaknya 1:20:31 kepada fisik dan lain sebagainya. nanti 1:20:34 ee belum lagi soal apa murkanya Allah, 1:20:37 keberkahan yang hilang. Demikian pula 1:20:40 data-data yang ada di apa kepolisian. 1:20:44 Bagaimana kalau kasus-kasus pembunuhan 1:20:48 kalau yang didalangi atau dilakukan oleh 1:20:51 penyuka sesama jenis itu tingkat 1:20:53 sadismenya, tingkat sadisnya itu di luar 1:20:57 nalar gitu ya. Kenapa? karena dia sudah 1:21:00 berhalusinasi. Orang-orang yang LGBT itu 1:21:03 halusinasi dia. Nah, maka itu dia anunya 1:21:07 luar biasa sadisnya. Kalau kalau sudah 1:21:09 Nah, itu kan artinya kan itu memberi 1:21:11 gambaran secara ini kepada anak-anak 1:21:15 kita jangan sampai dia terjerumus karena 1:21:17 kita enggak bisa jagain dia 24 jam 1:21:20 apalagi di era gadget ini enggak bisa. 1:21:23 yang bisa kita lakukan memberi pemahaman 1:21:25 kepada dia. Nah, cara memberi pemahaman 1:21:27 ini jangan hanya top down, jangan hanya 1:21:30 kamu enggak boleh begini ya, pokoknya 1:21:31 enggak mama enggak mau tahu, enggak 1:21:33 boleh deh. Enggak, jangan gitu. Kalau 1:21:35 begitu nanti enggak masuk, cuma sekedar 1:21:38 anu aja, emosi-emosi gitu aja. Tapi 1:21:40 harus faktanya mana datanya kita 1:21:43 ceritakan tadi tentang dampak buruknya, 1:21:46 tentang sadisme, tentang apa tentang 1:21:49 penyalahgam-macamlah 1:21:51 ya. Jadi emang enggak enggak ada 1:21:52 benarnya itu enggak ada udah enggak ada 1:21:54 baiknya sama sekali lah. Ee cuma kita 1:21:57 jelasin ini loh ini maksud ayah begini, 1:22:00 ini maksud mama atau maksud ibu begini. 1:22:02 Nanti dia sadar tuh. Oh oke. Maksudnya 1:22:05 sadar tuh dia jadi aware gitu. Oh ini 1:22:07 nih enggak boleh nih. Oh ini aduh nih 1:22:09 nanti ruginya buat saya tuh besar gitu. 1:22:11 Jadi cara saja saya pikir Pak Bapak Ibu 1:22:14 ya. 1:22:16 Baik pertanyaan terakhir Ustaz 1:22:18 ya 1:22:18 dari Ibu Yaya. Asalamualaikum 1:22:20 warahmatullahi wabarakatuh. 1:22:23 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:22:24 wabarakatuh. Silakan, 1:22:25 Ustaz. Kadang kita sibuk memperbaiki 1:22:27 diri sendiri tapi lupa memperbaiki 1:22:29 hubungan dengan pasangan, anak atau 1:22:33 tetangga. Apakah hijrah sejati juga 1:22:36 harus terlibat dalam hubungan kita 1:22:38 dengan sesama manusia atau seperti apa, 1:22:40 Ustaz? Terima kasih. 1:22:42 Iya, terima kasih, Bu Yaya. Nah, jadi 1:22:45 konsepnya Bu, kalau kita sudah 1:22:48 memperbaiki diri dengan benar, nah ini 1:22:51 kalimatnya itu dengan benar sampai 1:22:53 kepada eh karakter default mode network 1:22:57 tadi, otomatis kita jadi orang yang 1:23:00 berubah, jadi orang yang lapang dada, 1:23:03 jadi orang yang bisa melihat 1:23:05 kekurangan-kekurangan itu sebagai 1:23:07 sesuatu yang ya bisa diperbaiki, bisa di 1:23:10 bisa di-manage gitu, bisa diatur gitu. 1:23:14 Nah, jadi hal itulah nanti yang akan 1:23:18 membuat hubungan kita dengan manusia di 1:23:20 sekitar kita jadi lebih baik. Karena 1:23:22 kitanya kitanya sudah lebih lapang dada 1:23:25 dari sebelumnya, gitu. Nah, jadi tapi 1:23:28 syaratnya hijrah yang dimaksud adalah 1:23:30 hijrah yang sampai ke dalam diri, bukan 1:23:33 hijrah yang enggak sampai ke dalam diri. 1:23:34 Nanti malahan jadi arogan, malahan jadi 1:23:39 apa? Individualis gitu. malahan jadi 1:23:41 enggak mau ee apa enggak mau 1:23:44 mendengarkan orang gitu. He. 1:23:46 Ee jadi hijrahnya harus sampai ke dalam 1:23:49 karakter tadi eh default mode network 1:23:52 tadi yang menjadi penting buat kita. 1:23:54 Bukan lagi dunia, bukan lagi kebanggaan, 1:23:56 bukan lagi ee status dan lain 1:23:59 sebagainya. Sehingga kita lapang dada 1:24:00 rileks aja, tenang aja kita. Sehingga 1:24:03 kita kepada anak bisa bicara yang bijak, 1:24:06 kepada ee istri atau suami, ibu-ibu 1:24:09 mungkin ya bisa juga dengan e rileks, 1:24:11 dengan enak gitu. Nah, nanti berubah 1:24:14 dengan sendirinya. syaratnya hijrahnya 1:24:17 sampai menghijrahkan mental atau 1:24:19 karakter kita dari default mode network 1:24:22 gitu kurang lebih demikian. 1:24:24 Baik. 1:24:25 Alhamdulillah ikhwan dan akhwat yang 1:24:27 dirahmati Allah subhanahu wa taala, 1:24:29 sahabat Rasil di mana pun Anda berada. 1:24:31 Kita telah menyimak uraian yang sangat 1:24:33 berharga tentang hijrah sejati dari 1:24:36 dalam diri. Dan kita berharap semoga 1:24:39 Allah Subhanahu wa taala memberikan 1:24:42 taufik kepada kita untuk mengamalkan 1:24:44 ilmu yang telah disampaikan. Dan sebagai 1:24:47 penutup kami persilakan kepada guru kami 1:24:51 Ustaz Doni Amirsagaf untuk menyampaikan 1:24:53 pesan dan doa penutup. 1:24:56 Iya. Terima kasih, Pak Mas Agus Susilo. 1:24:58 Jadi, Bapak, Ibu, Ikhwan Akhwat di mana 1:25:01 pun berada, Allah Subhanahu wa taala itu 1:25:04 melihat kita selalu. Seperti Suhaib Ibnu 1:25:07 Sidam tadi, hijrah beliau secara fisik 1:25:10 belum terjadi, tapi di dalam diri beliau 1:25:13 sudah hijrah. Nah, itulah yang diapprove 1:25:16 oleh Allah, yang diakui oleh Allah 1:25:19 hijrahnya. Oleh karena, maka turun surah 1:25:22 Albaqarah ayat 207. Dari sini kita 1:25:25 belajar malam ini bahwa hijrah itu 1:25:28 memang harus dimulai dari dalam diri, 1:25:30 dari dalam karakter, dari dalam sifat 1:25:33 kita. Menghijrahkan apa-apa yang yang 1:25:36 kita anggap penting, apa-apa yang kita 1:25:38 anggap ee tinggi dan lain sebagainya itu 1:25:41 sesuaikan dengan Al-Qur'an, dengan 1:25:43 petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam 1:25:45 yang diajarkan oleh guru-guru kita, oleh 1:25:47 para ulama kita. Kurang lebih demikian. 1:25:50 Wallahuam bawab. Saya kembalikan Pak 1:25:53 Agustus. 1:25:54 Baik, Ustaz. Jazakallah ikhwan akhwat, 1:25:56 setiap perjalanan hijrah dimulai dari 1:25:59 satu langkah kecil untuk berubah dan 1:26:02 semoga tadabur yang telah disampaikan 1:26:04 pada hari ini oleh ustaz kita Ustaz Doni 1:26:07 Amir Sagaf menjadi penguat bagi kita 1:26:09 untuk terus memperbaiki diri dan 1:26:11 istikamah di jalan Allah Subhanahu wa 1:26:14 taala. Akhirul kalam kami yang bertugas 1:26:16 mohon undur diri dari ruang dengar Anda. 1:26:19 Subhanakallahumma wabihamdika ashadu 1:26:21 alla ilahailla anta astagfiruka waubu 1:26:24 ilaik billahi taufik wal hidayah. 1:26:27 Wasalamualaikum warahmatullah 1:26:28 wabarakatuh.