Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Brail [musik][bernyanyi]
- TV.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullah wabarakatuh.
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Allahumma
- sholli wasallim ala habibil alamin.
- Sayyidina wa maulana Muhammadin waa
- alihi wasohbihi ajmain. Subhanaka la
- ilma lana illa ma alamtana innaka antal
- alimul hakim. Rbanaidna
- ilmanna bihin.
- Ikhwan akhwat pendengar setia radio
- silaturahim dan juga pemirsa Rasil
- Visual di mana saja Anda berada. Senang
- sekali di kesempatan sore hari ini saya
- Rian Mulyana bisa kembali hadir di
- tengah-tengah ikwan Awat sekalian dalam
- program acara tausiah sore bersama Ustaz
- Wahyu di KS. Semoga ikhwan awat di sore
- hari ini dalam keadaan sehat walafiat
- dan senantiasa berada dalam lindungan
- Allah subhanahu wa taala. Ikhwan akhwat
- yang dirahmati Allah, di kesempatan sore
- hari ini bertepatan dengan 30 Zulhijah
- Zulk'dah ya 30 Zulqdah. Insyaallah kita
- ini di penghujung
- ee
- bulan ya. Insyaallah kita akan memasuki
- bulan terakhir di bulan ee di Hijriah
- besok insyaallah atau nanti magrib
- insyaallah. Dan di tanggal 21 Juli 2020
- kita akan membahas tentang adab imam dan
- salat munfarid, salat sendirian.
- Insyaallah Iwan Awat yang ingin bertanya
- silakan dipersiapkan pertanyaannya
- dengan tema ini. Adab imam dan salat
- sendirian bersama Ustaz Wahyu DKS.
- Insyaallah kita akan bahas tentang hal
- ini. Silakan Iwan Awat yang ingin
- bertanya dipersiapkan pertanyaannya
- nanti dilayangkan kepada kami boleh
- telepon di 0218451512
- atau Iwanawat bisa kirim via WhatsApp di
- 0811999.
- Baik, di sore hari ini Ustaz Wahyudi
- sudah hadir di studio. Asalamualaikum
- warahmatullah wabarakatuh, Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Dalam keadaan sehat, Ustaz? Ya,
- alhamdulillah.
- Beberapa pekan
- ee tidak bertemu ee karena ada
- apa ada
- sedikit gangguan atau ujian dari Allah.
- Orang tua dalam kondisi kurang sehat.
- Mohon doanya, Ustaz.
- Ee mudah-mudahan ee ini jadi wasilah
- juga bagi kita untuk bisa saling
- mendoakan. Ustaz, kita akan membahas
- tentang adab imam ya, Ustaz ya.
- Dan salat sendiri di kesempatan sore
- hari ini. Tafadol, Pak Ustaz.
- [berdehem]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillah
- alladzi arsala rasulahu bil huda winil
- haq lihirahu aladini kulli wa kafa
- billahi syahida.
- Ashadu alla ilahaillallahu wahdahu la
- syarikalah
- wa ashadu anna muhammadan abduhu wa
- rasuluh [berdehem]
- wasalatu wasalamu ala asrofili iyaai wal
- mursalin waa alihi wa ashabihi watabiina
- watabihim.
- illahitirjim
- ya ayyuhalladina amanutaqulaha haqq
- tuqqati w tamutunna illa wa antum
- muslimun
- ya ayyuhalladina amanutaqulah wauluan
- sadida yuslih lakum
- aalakumagfirakumunubakum
- wiahaulah
- faqanim
- kitabullahir
- Muhammadallahu alaihi wasallam
- wain bidah wainalah
- wainar
- ikhwan dan akhwat pemirsa rasil visual
- dan pendengar liat silaturahim di mana
- saja berada alhamdulillah kita bisa
- berjumpa kembali di dalam ee kajian
- Kitab Mauatu Adabil Islamiyah yang
- ditulis atau disusun
- oleh As Syekh Abdul Aziz bin Fatih
- Asayid Nad. Dan kita sudah sampai pada
- halaman 518
- ya dari 971 halaman.
- [berdehem]
- Jadi sudah melewati setengahnya ya.
- Dan kita sekarang melanjutkan kajian
- masih di adab salat. Nah, akan kita
- bahas sekarang adabul imam wal munfarid.
- [berdehem]
- Jadi, adab seorang imam dan munfarid dan
- salat sendirian. Nah, bagaimana hal-hal
- ini harus kita ketahui? Karena merupakan
- satu hal yang tidak bisa ditawar.
- Seorang imam harus memahami tentang
- posisi dirinya. Dan demikian pula ketika
- kita salat sendiri harus paham dan
- mengerti bagaimana salat sebaiknya agar
- mendapatkan nilai yang terbaik di sisi
- Allah azza wa jalla. [berdehem]
- Jan akwat rahimakumullah.
- Ee dalam hal ini Syekh Abdul Aziz bin
- Fatih Assayid Nada menyebutkan
- [berdehem]
- di adab yang pertama itu al-adabul awal.
- [berdehem]
- Ittus ittikhadus sutrah ya. Iikhadus
- sutra artinya menjadikan sutrah.
- [berdehem] Kita yang pertama ini adalah
- membuat sutrah atau ee membuat pembatas
- dalam salat. disebutkan di sini bimakna
- annahu alal insani arusian
- amamahu jadi maksudnya adalah bahwa
- seorang hamba ya apabila dia mau
- menghambakan diri kepada Allah subhanahu
- wa taala untuk mend
- ya disebutkan
- ya sesuatu yang tinggi
- Nah, jadi dan janganlah menjadikan
- seorang lewat di antara dirinya dan
- jadi artinya saat kita salat jangan
- sampai ada sesuatu itu lewat ya ke
- hadapan salat kita. Nah,
- ikhwan akhwat rahimakumullah. Jadi
- [berdehem][batuk]
- bahkan kita kalau harus mencegahnya
- sekuat tenaga semampunya agar jangan
- sampai ada yang lewat baik itu orang
- atau mungkin ada ya hewan ya hewan yang
- besar lewat gitu tentu harus dialangi
- dan
- juga hendaknya di
- antara
- tersebut
- kurang lebih disebutkan kalau di sini di
- seperti halnya nya dilalui seekor anak
- kambing. Nah, nah Rasul wasam
- apa kalian
- yasturhu minanas ya. Jadi apabila salat
- salat salah seorang di antara kalian
- dengan menghadap [berdehem] sutrah ya
- yang melindungi dari manusia faarod
- ahadun ayajaza
- baina yadaihi. Nah, maka kemudian ia
- ingin melintasi antara dirinya dengan
- sutrahnya. Jadi kalau ada orang yang
- ingin melintasi antara dirinya dengan
- sutrahnya, sutrah itu adalah tadi
- pembatas yang kurang lebih kalau kita
- sujud itu sampai sempurna gitu. sujud
- sempurna. Ee kemudian kalau ada lewat di
- antara sutrah itu dan kita berdiri, maka
- kita harus mencegahnya sekuat tenaganya.
- Nah, jadi bahkan falyadfau.
- Nah, maka hendaknya kita mencegahnya.
- Fain aba apabila dia tidak mau dicegah
- itu misalkan maksa ya maksa disebutkan
- falyuqatilhu
- falyuqatilhu maka hendaklah ia
- membunuhnya. Tuh, bahkan sampai begitu.
- ee ada menterjemah menterjemahkan
- membunuhnya atau melawannya atau
- memukulnya ya fainnama hua setan karena
- itu adalah sesungguhnya setan kalau
- orang kan ngerti gitu ya ini orang maksa
- gitu ini oh berarti sudah ada setan
- dalam dirinya nah di sini disebutkan
- bahwa jadi mungkin juga ini hadis yang
- diriwayatkan oleh Imam Bukhari ya nomor
- 509 dan Muslim nomor
- 505 ya dari Abu Said Al-Khudri.
- Nah, kemudian sangat mungkin artinya
- kalau seorang menjadikan tiang yang ada
- di masjid itu sebagai sutrah. Karena
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- membuat sutra itu dari anak panah ya
- yang bahkan kurang lebih panjangnya
- sekitar 60 cent kalau Nabi. Nah, jadi di
- ditancapkan. Kalau sutrah itu adalah
- yang dimaksud sekedar pembatas, ya
- mungkin bisa di diletakkan aja begitu,
- tetapi Nabi malah menancapkannya berarti
- harus tinggi. Makanya saian murtafian
- sesuatu yang tinggi. Nah, ini yang belum
- banyak dipahami oleh sebagian besar kaum
- muslimin sehingga kadang-kadang salat di
- mana saja ya
- tidak memperhatikan apakah itu ada sutra
- atau tidak gitu. Sehingga orang pun
- kadang lewat dengan lalu larang tanpa
- merasa beban. Nah, padahal ini sungguh
- sangat besar pengaruhnya. Jadi, bisa
- dijelaskan sutra tadi tiang masjid. Nah,
- kemudian ada orang salat di belakangnya
- kita nih. Ini orang salat kita di
- belakang salat. Kemudian ada atau ada
- juga orang yang sedang duduk, sedang
- berdoa, kita pun boleh salat di
- belakangnya. Nah, menjadikan dia status
- sebagai sutrah atau menghadap di dinding
- masjid ya atau kita meletakkan tas kita
- di hadapan kita ya dan sejenisnya. itu
- semua merupakan bagian dari pelaksanaan
- hadis ini. Itu jadi disebutkan dalam ee
- hadis riwayat Muslim nomor 499 dari
- Thalha, Nabi bersabda, "Mislu mukir
- rohli
- takunu baina yadai ahidikum." Tuh. Jadi
- benda yang tinggi sebagian belakang
- pelana itu menjadi sutrah di depan salah
- di antara kalian.
- Nah, maka dengan itulah maka apa-apa
- yang melintas di balik sutra itu pun
- sudah tidak mengganggu salatnya. Ini
- sutra kita ini kita di sini. Nah, di
- sebelah sana sr sudah tidak masalah itu.
- Jadi ini diperhatikan dan kalau kita
- lihat di dalam ee hadis-hadis yang lain
- yang berkaitan dengan sutra ini sungguh
- jelas sekali banyak ya. Bahkan
- disebutkan ancaman bagi orang yang
- melewati orang salat. Ya. Nah, dalam
- hadis riwayat Bukhari dan Muslim ya
- disebutkan
- la yalamul la y'lamul mar. Kalau
- sekiranya tahu orang yang lewat itu
- baina yada musolli ya orang yang lewat
- di antara orang salat
- alaihi apa yang akan menimpanya? Lakana
- ayqifa ariniscaya
- dia akan lebih lebih baik berdiri ya
- selama 40
- kiron itu lebih baik lahu baginya min
- ayamur baina yadaihi daripada lewat di
- depan orang yang salat. Q Abu Abu Nadri
- ya Abu Nadri berkata la adri aku tidak
- tahu
- ar yauman syahron sanatan jadi boleh
- jadi 40 yang dimaksud itu 40 hari 40
- bulan atau 40 tahun artinya berdiri 40
- tahun ya kalau sejak orang salat ini 40
- tahun salatnya gitu ya itu lebih baik
- berdiri sampai dia selesai salat
- daripada harus lewat orang yang salat
- masyaallah ini luar biasa
- menunjukkan
- betapa besarnya ya dosa melewati orang
- yang salat. Nah, jadi para ulama memang
- berbeda pendapat di di memaknai tadi ee
- baina yadail musoli ya. Apa yang
- dimaksud [berdehem] dengan di depan
- orang yang salat? Jadi ee berapa batasan
- jarak ini? Nah, ini macam-macam ya
- pendapat. Pertama ada nyebutkan tiga
- hasta dari kaki orang yang salat. Hasta
- ini kan satu hasta nih. Satu hasta 1eng
- kurang lebih ya kalau sikut kita ya.
- Nah, sikut orang dewasa kurang lebih 1/2
- m* 3 jadi 1,5 m. Jadi kurang lebih 1,5
- m. Memang rata-rata umumnya salat sujud
- segitu kan.
- Iya.
- 1,5 m jarak. Jadi itu adalah ee di situ.
- Nah, sebagian ulama berpendapat kalau
- lewat dari 1,5 m itu maka dibolehkan.
- Bahkan ee sekalipun tidak ada sutra,
- tapi ada lagi yang berpendapat tetap
- diusahakan ada ada sutra ya untuk
- sebagai keselamatan. Kemudian ada lagi
- sejauh lemparan batu. Wah k itu lemparan
- lemparan biasa tidak kencang atau lemah.
- Tentu saja tetap jauh kalau lemparan
- batu kan. Nah ada lagi satu langkah dari
- tempat salat. Satu langkah bisa 1 m bisa
- 1,5 kalau satu langkah. [mendengus] Nah
- inilah perbedaan pendapat di kalangan
- para ulama. Ada lagi kembali kepada urf.
- Uref itu adalah adat atau kebiasaan di
- tempat itu. Bagaimana orang sujud
- sempurna, itulah ukurannya panjang atau
- ukuran jarak dia dengan sutrahnya.
- Nah, ikhwan fillah rahimakumullah.
- Kemudian
- Syekh Abdul Aziz bin Tati Asinada
- melanjutkan ee bahasan yang kedua
- al-Adadabusani ya. Ada bab yang kedua
- tentang sutra ini [berdehem]
- yaitu
- adamut tarhadin yamurru baina yadaihi.
- Ya. Jadi tidak membiarkan seseorang
- lewat
- di depan atau di hadapannya tuh.
- Jadi disebutkan yakni annahu yajibu alal
- musli id lahu sutratan.
- maksudnya adalah wajib ya di atas atas
- orang yang salat itu membuat sutrah dan
- tidak membiarkan orang lewat di antara
- dirinya.
- Nah, dalam ini Rasulullah bersabda
- begini.
- Kana ahadukum
- apabila salah seorang di antara kalian
- yusolli salat ya fala yada ahadan maka
- jangan membiarkan ya seseorang yamuru
- melewati baina yadaihi dia di
- hadapannya.
- Walyadrohu
- mastat ya mastat. Dan kemudian dia harus
- berusaha mencegah semampunya.
- Fain aba apabila
- ia
- enggak mau dicegah gitu ya, maksa gitu
- ya. Falyuqotilhu
- fainama huaitan. Oh begitu. Faluqotilhu.
- Maka hendaklah ia membunuhnya gitu ya.
- Masyaallah. Di sini ada lagi kalimat ee
- apa? Jadi melawan atau memberikan
- cegahan yang lebih keras agar dia
- berhenti dari melewati orang yang salat
- tadi. Kenapa? Fainama hua sitan. Karena
- sesungguhnya hanya saja dia itu adalah
- setan.
- Nah, ikhwatillah rahimakumullah. Jadi
- tidak boleh seseorang ya melihat atau eh
- melintas di antara orang-orang yang
- sedang salat sedang salat dalam dan
- sutrahnya. J di antara orang yang salat
- dan setrnya tidak boleh kita melintas.
- Wajib kita pun mencegah sekuat tenaga
- apabila ada orang yang lewat saat kita
- salat. Nah ini hendaknya diperhatikan.
- Nah kalau adapun makmum
- sutrahnya adalah imam. Jadi kalau sedang
- berjamaah
- sutra makmum itu adalah imam. Jadi tidak
- perlu lagi kalau makmum ini di depan
- kita imam lalu misalkan setiap makmum
- masang sutra masing-masing ya enggak
- perlu itu berlebihan namanya
- ya sudah imam itu cukup menjadi sutra.
- Maka kemudian kalau dalam salat
- berjamaah saf pertama jadi sutrah bagi
- saf kedua kan gitu. Saf kedua jadi
- sutrah bagi saf ketiga. Nah dan
- selanjutnya.
- Kemudian [berdehem] yang al-adabus salis
- ya, adab yang ketiga
- yaitu adamul imamati biunasin
- karihin. Ya. Nah, ini ini rupanya agak
- agak apa
- bermasalah juga nih. Kalimat kan adamul
- imamati biunasin karihin. Bahwasanya
- tidak mengimami salat orang-orang yang
- membencinya.
- Jadi jangan sampai kita salat di
- belakang itu ada orang-orang yang benci
- sama kita gitu. Nah, itu kan bisa
- mengganggu memang ya.
- Nah, kita terganggu gitu ya. Yang jadi
- imam misalkan yang makmum juga terganggu
- karena diimami oleh orang yang dibenci
- tuh. Maka disebutkan
- [berdehem]
- ee hendaknya dalam hal ini kita
- berhati-hati ya jangan sampai ada benci
- di antara kita, baik imam ataupun
- makmum. Masyaallah. Nah, kenapa misalkan
- benci? Karena akhlaknya yang buruk ya.
- Seorang imam berakhlak buruk. Misalkan
- imam kok tapi seringkiali main kartu
- melulu gitu ya. Nah, kan jadi pandang
- jadi perhatian atau misalkan ee suaranya
- yang kurang kurang bagus kan atau
- sebab-sebab lain yang sehingga
- menimbulkan kebencian bagi seorang eh
- bagi makmum kepada imam. Nah, Nabi
- bersabda begini dalam hadis riwayat ee
- Thabrani
- dari Thalhah dan dalam Sahihul Jami
- nomor 2718.
- Ayuma rajulin ya amma kauman wahum lahu
- karihun. Nah, jadi aim rujudin siapa
- saja laki-laki
- ya amma kauman menjadi imam bagi satu
- kaum wahum sedangkan mereka lahu
- kepadanya itu karihun membencinya itu
- lam tajuz maka tidak dibolehkan shatuhu
- udunaihi
- salat melampaui kedua telinganya nah
- maka disebutkan maka salatnya tidak
- melampaui kedua telinganya. Dalam hal
- ini di ada juga memahami maknanya
- tidak tidak diterima gitu salatnya kalau
- terjadi seperti itu. Karena di selama
- salat mungkin yang dia ingat bukan ee
- bukan Allah lagi,
- tapi kebenciannya kepada imam atau imam
- juga benci kepada makmum. Nah, makanya
- dalam hadis disebutkan sebaik-baik
- antara imam dan makmum itu adalah yang
- saling mencintai, saling mendoakan. ya
- saling menasehati, saling meluruskan,
- bukan saling mengutuk, bukan saling
- membenci gitu. Ini jadi inilah gambaran
- memang bahwa salat adalah miniatur
- kehidupan.
- Jadi tidak hanya di dalam salat, tapi
- juga diperhatikan dalam kehidupan. Kalau
- dalam kehidupan tadi sering benci, dalam
- salat pun bisa jadi berpengaruh, maka
- tentu akan menjadi kurang nyaman
- seseorang berjamaah dengan imam yang
- dibencinya.
- Kemudian Rasulullah juga bersabda ya
- dalam hadis riwayat Tirmidzi ya
- disebutkan
- salasatun la tujawizu.
- Ada tiga macam yang ee
- la tuzawizu shatuhum
- azanahum yang salatnya tidak melampaui
- telinga-telinga mereka. itu maksudnya
- adalah tidak diterima tadi. Pertama, al
- abdu
- al abdul abiqu hatta yarjia. Nah, yang
- pertama adalah eh seorang hamba sahaya
- yang melarikan diri dari tuannya
- sampai dia kembali. Tuh satu.
- Wamroatun batat wazaujuha.
- dan
- istri yang melewati malam sementara
- suaminya marah kepadanya. Masyaallah,
- ini ternyata bukan sederhana ya. Seorang
- istri yang dimarahi oleh yang ee membuat
- marah suaminya melewati malam suaminya
- masih marah, maka istri itu sendiri
- termasuk yang tadi yang salatnya tidak
- diterima.
- Berarti harus islah dulu dengan
- suaminya. Masyaallah luar biasa. tahajud
- Islam dulu.
- Nah, padahal ada ceritakan gencatan
- senjata knya dengan suami gimana nih kan
- gitu. [tertawa]
- Nah, k berarti dengan hadis ini jangan
- sampailah terjadi kita sedang mermunajat
- kepada Allah tapi masih ada benci di
- antara kita.
- Nah, ya.
- Nah, kemudian yang ketiga
- disebutkan.
- Jadi kalau tadi wamroatun batat wujuha
- alaihaitun
- ya. Nah, itu yang kedua. Yang ketiga, wa
- imamuin
- wahum lahu karihun. Dan seorang imam
- yang mengimami suatu kaum yang sementara
- kaumnya itulah membencinya. Tuh, ini
- jadi diingatkan jangan sampai ee kita
- mengimami kaum yang membenci kita.
- Nah, lalu gimana kalau misalkan
- posisi imam itu benar?
- Iya,
- gitu. Tapi makmumnya ini yang salah.
- Contoh misalkan posisi imam ini orang
- yang berilmu, orang saleh, paham
- terhadap sunah gitu ya.
- Iya.
- Nah, yang membenci itu merasa benci
- karena
- ee dia tidak biasa dengan kebiasaannya.
- H
- padahal apa yang dilakukannya tidak sah
- atau tidak sesuai dengan dengan sunah.
- Misalkan membenci kepada ahlusunah, maka
- ini pun
- tidak bisa di dijadikan dasar kalau
- seperti itu.
- Itu karena
- ee kesalahan bukan pada posisi imam yang
- tadi kalau yang dibenci itu dalam
- pengertian imamnya berakhlak buruk ya,
- kemudian ee cara ibadahnya jelek gitu.
- Nah, itu yang tidak boleh. Tapi kalau
- misalkan imamnya bagus, memang imamnya
- sebagai ahlusunah, taat beragama,
- akhlaknya baik, sementara makmumnya
- bahkan yang banyak melakukan pelanggaran
- daripada sunah Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam, maka dalam ini
- kebencian mereka adalah tidak pada
- tempatnya gitu. Jadi bukan hanya karena
- benci. Kalau kalau ukurannya hanya benci
- nanti bahaya juga
- ada standarnya gitu.
- Iya, betul.
- Kalau hanya karena benci saya tidak suka
- sudah jadi batal. Tentu tidak demikian.
- Nah, kemudian aladabur rabi, adab yang
- keempat,
- takdimul ahaqqi bil imamati. Ya, jadi
- takdimul ahaqqi biimamati maksudnya
- adalah mendahulukan orang yang berhak
- menjadi imam.
- Tuh.
- Nah, kita mungkin sudah sering ya
- mendengarkan kalimat ini. Kalau
- disebutkan fayjibu alal musallin takdimu
- man hua ahaqu bil imamati.
- Jadi wajib
- orang hendak mendulukan mendahulukan
- orang yang berhak menjadi imam dalam
- salat itu. Jadi wajib atas orang yang
- salat mendahulukan siapa orang yang
- berhak menjadi imam.
- Maka dalam hal ini ketika pelaksanaan
- salat berjamaah itu kan pertama harus
- ditentukan dulu siapa imamnya.
- Jangan qat dulu. E seringkiali ada
- kadang-kadang komat dulu sudah gitu
- dorongan. Iya. Iya.
- Itu yang tidak pas dengan sunah gitu.
- Jadi mesti ditentukan imamnya dulu
- ditentukan itu baru komat.
- Misal dalam keseharian pun dalam perang
- misalkan masa tiba-tiba serbu tapi belum
- ada komandannya. Enggak mungkin. Harus
- ada komandannya dulu gitu yang akan
- memimpin pasukan. Nah, dalam salat juga
- seperti itu. Dalam hidup juga sama ya.
- Pentingnya kehidupan berjamaah tuh harus
- ada seorang imam dalam hidup. Seperti
- halnya salat berjamaah, imam dulu
- ditentukan. Maka imam yang punya hak
- terhadap qat.
- Sedangkan azan itu hak muadin.
- Nah, dalam hal ini ee Rasul Sallahu
- Alaihi Wasallam bersabda tentang
- orang-orang yang didahulukan dalam
- menjadi imam.
- Beliau bersabda gini, "Ya ummul kauma."
- Nah, orang hendaklah orang yang
- mengimami suatu kaum aqrauhum.
- Orang yang paling banyak di antara
- mereka hafalannya likitabillah pada
- kitab Allah. Orang yang paling banyak
- hafalannya, orang yang ee fasih gitu ya.
- Nah, itulah yang pertama. Fain kanu.
- Maka apabila di mereka keadaan mereka
- itu fil qiroati sawaan. Nah, kalau ada
- yang sama nih dua orang atau tiga orang
- sama
- hafalannya. Kamu berapa? 10 juz. Ini 10
- juz. sama-sama 10 juz. Heeh.
- Maka gimana salahnya? Faamuhum bisunah.
- Siapa yang paling alim, paling mengerti
- terhadap sunah? Tuh tanya ngerti enggak
- apa sunah? Ngerti enggak apa hadis? Lalu
- berapa banyak hadis yang dihafal? Nah,
- boleh saja di dicek. Misalkan tanya satu
- masalah nanti kan dijawab oleh tiga
- orang nih. Kalau misalkan tiga orang
- yang sama itu si A misalnya menjawab,
- "Oh, saya hadisnya gini menurut ini
- begini begini." Oh, saya tidak paham
- itu. Ah, berarti sudah gugur tuh yang
- tidak paham gitu. [tertawa] Nah, tinggal
- yang dua misalkan sama nih.
- Nah, dicek lagi.
- Nah, kemudian fain kanu funah. Kalau
- dalam memahami sunah atau ilmu tentang
- sunah itu sawaan sama ya faqdamuhum
- hijratan. Maka hendaklah mendahulukan
- siapa yang paling dahulu hijrah di
- antara mereka.
- Heeh.
- Tuh. Jadi kalau dulu orang hijrah dari
- Makkah ke Madinah,
- kalau sekarang artinya hijrah
- e secara fisik berarti mentaati perintah
- imam atau perintah ulil amri. Misalkan
- pindah pindah. Nah,
- siapa yang paling dulu menuhi panggilan
- ini?
- Nah, ke tempat itu.
- Atau kemudian juga hijrah bimakna ee
- hijrah ee majazi atau hijrah maknawi.
- Hijrah maknawi artinya hijrah dalam
- pengertian nilai. Ya, misalkan
- minasyiriki il tauhid.
- Ya.
- Kemudian e
- minal
- tawadu minal ikhlas dan seterusnya
- dari keburukan kepada kebaikan. Siapa
- yang paling dahulu ini
- ya? Paling dahulu tobatnya gitu. Maka
- itulah yang didahulukan menjadi imam.
- Nah,
- kemudian selanjutnya fain kanu fil
- hijroh sawaan.
- Nah, jika mereka itu keadaannya yang
- tadi itu dalam hijrah itu sama ternyata.
- Nah,
- sama hijrahnya bareng-bareng.
- Nah, maka faqdamuhum silman. Siapa yang
- paling dahulu di antara mereka yang
- masuk Islamnya.
- H
- masyaallah.
- Nah, kalau ternyata sama juga masuk
- Islamnya, maka di riwayat yang lain
- disebutkan siapa yang paling tua
- usianya.
- Faqdamuhum sinan. Siapa yang paling tua?
- Akbarus. Akbarus sinan. Ya. Siapa
- akbarum? Siapa yang paling tua di antara
- mereka? Tuh. Jadi itulah yang kalau
- uturan urutan sunah. Jadi jangan dibalik
- siapa yang pengin tua dulu. Padahal baca
- Quran belepotan ya.
- Baca Quran belpotan boro-boro tajwidnya
- gitu ya. Hurufnya aja banyak yang salah
- misalkan.
- Nah ini tentu tidak pas sesuai dengan
- kalau kainan dengan sunah. Maka tetap
- harus mendahulukan adalah kepada tadi
- yang pertama adalah aqraum likitabillah
- orang yang paling menguasai kitabullah.
- Yang kedua, aamuhum bisunah.
- Ya, al'lam bisunah.
- Kemudian yang
- ketiga adalah
- aqdamuhum hijrah. Orang yang paling
- dahulu hijrah. Yang keempat aqdamuhum
- silman, orang yang paling dahulu Islam.
- Nah, baru yang keempat akbarhum sinnan.
- Yang paling tua di antara mereka. Yang
- kelima. Jadi lima tahapan.
- Satu Quran, dua sunah, tiga hijrah,
- empat Islam baru umur.
- H.
- Nah, jadi jangan dibalik nih ya.
- Kalau dibalik berarti kita menyalahi
- sunah Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam gitu.
- Iya. Kadang kita segen sama orang tua
- orang tua di silakan.
- Padahal aduh lagi salat kan jadi gelisah
- kita apalagi bacaannya belepotan itu ya.
- Iya.
- Masyaallah.
- Nah, inilah. Kemudian yang
- adabul khamis ya. Adab yang kelima.
- Adabul khamis. Ayat taahadal imam
- tasfiatas sufuf binafsihi. Nah, jadi ini
- adalah bahwasanya imam itu turun
- langsung dalam meluruskan saf tuh. Jadi
- jangan tidak peduli pada makmum.
- Seringkiali kadang di satu masjid begitu
- selesai qat langsung Allahu Akbar makmum
- ada yang sedang betulin sarung ya ada
- yang masih ee apa ada yang baru masuk
- ada yang membersih baru mengusap air
- wudu dan sebagainya.
- Nah ini arya imam yang tidak bertanggung
- jawab gitu. Jadi kalau imam sesuai
- dengan sunah itu sesuai dengan dalil
- begitu. Jadi ayat taahada ayat tahada al
- imam taswiat sufuf binafsihi imam sampai
- turun langsung itu rasul wasam itu turun
- langsung ditepuk-tepuk pundak sahabat
- tuh
- ya lunahkan, lunakkan lunakkan. Nah,
- terus rapatkan rapatkan karena kakinya
- juga oleh Rasul di dirapatkan tuh
- pundaknya dirapatkan tapi tidak boleh
- berdesak-desakan
- jadi nempel gitu ya nempel. Maka
- ukurannya kaki mengikuti pundak. Jangan
- pundak sebelum mengikuti kaki. Enggak
- bisa ya. Pundak segini-gininya kan. Maka
- kaki itu mengikuti pundak. Nah, itu
- ukurannya lurus menghadap kiblat. Jadi
- jangan seperti
- ekor burung eh seperti kaki burung. Kaki
- burung kan begini biasanya
- ya. Yang satu ke kiri, yang ke kanan,
- yang satu ke kiri.
- Nah, jadi perintinya mustaqbilal kiblat
- itu menghadap kiblat.
- Hm. itu. Nah, ini kemarin sudah dibahas
- pada minggu yang lalu tentang keharusan
- kita menyempurnakan saat salat.
- Salat berdiri, saat kita rukuk, saat
- kita sujud, dan seterusnya.
- Nah, rahimakumullah. Jadi, merapikan dan
- meluruskan saf adalah merupakan bagian
- dari kesempurnaan salat dan itu tanggung
- jawab imam.
- Bahkan ya bila perlu imam menyuruh, coba
- kamu lihat di sof kedua. Nah, sof kedua
- ada yang ditugaskan melihat sofnya, sof
- ketiga yang ditugaskan melihat sofnya.
- Bila perlu demikian untuk apa?
- Menyempurnakan saf dan tidak takbir
- sebelum rapi safnya.
- Oh, masyaallah.
- Ini luar biasa kalau kalau disiplin
- seperti ini.
- Iya.
- Dan ini memang tidak mudah ya. Tidak
- mudah ya. Ya, alhamdulillah ee kita
- sudah sudah puluhan tahun lah
- melaksanakan hal ini.
- Terasa betul gitu nikmatnya salat itu.
- Tuh, tapi berbeda lagi kalau misalkan
- saat kita salat di satu tempat yang
- safnya tidak dapat
- itu tetap terasa tidak sempurna gitu.
- Karena Rasul kan bersabda kan sawu
- sufakum fain tasf min tamam. Tuh kalau
- kita masuk sebuah masjid yang shnya rapi
- itu rasa nikmat kali gitu ya.
- Masyaallah. Apalagi imamnya tadi
- menyesuaikan dengan tuntunan sunah. Dia
- berbalik ke belakang lurus rapat.
- Perhatikan itu kurang rapat tumitnya.
- Nah, bukan hanya kelingkingnya yang
- rapat, tapi tumitnya dirapatkan dengan
- tumit saudaranya. Nah, bahunya
- dirapatkan. Tolong jangan terlalu lebar
- ya. Jangan terlalu lebar langkahnya
- supaya bahunya supaya bisa rapat. Jadi
- atas bawah rapat, bahu rapat dengan
- saudaranya dan ee tumit pun rapat dengan
- saudaranya. Nah, inilah yang masyaallah
- luar biasa ya. Di dalam kitab Riyadus
- Shihin,
- kitab yang di Indonesia itu cukup
- monumental dan hampir setiap pesantren
- membahas masalah itu.
- I
- tapi tidak setiap pesantren mengamalkan
- mengamalkannya. Kenapa saya bilang
- seperti itu? Karena
- saya sering keluar masuk pesantren yang
- mengkaji Riyadus Shihin ternyata
- salatnya belum rapat. H padahal di
- Riyadus Shihin paling tidak juz 2
- halaman 254 tuh ada 16 coba 16 dalil
- kurang berapa [tertawa]
- sudah 16 kok masih belum ditaati juga
- gitu
- gitu salat tidak rapat gitu nah ini yang
- yang terjadi. Prihatin betul gitu
- kadang-kadang ini. Waduh kok sudah
- selesai kata salat sudah disalin sudah
- katanya sudah oh sudah lama katanya
- sekarang sudah Bukhari. Nah, di Bukhari
- coba di Bukhari juga ada di juz 1
- halaman 133 itu jelas sekali hadisnya
- panjang tentang bagaimana Rasul sahu
- alaihi wasallam menyuruh kepada para
- sahabat merapatkan saf salat. Bahkan
- disebutkan arum
- sesungguhnya aku melihat kalian dari
- belakang punggungku
- karena sahabat itu spontan begituanakum
- lurus dan rapatkan kalian karena
- meluruskan adalah kesempurnaan daripada
- salat
- lurus dan rapatkan. Bahkan Nabi kadang
- menampakkan
- jangan berselisih di antara kalian
- karena Allah akan menyelisihkan hati
- kalian.
- Maka yulahihi
- waqamu biqami maka sahabat merapatkan
- bahu dengan bahu sahabatnya. Merapatkan
- kaki dan kaki sahabatnya. Masyaallah.
- Inilah para ikhwan. Maka disebutkan di
- sini lausunnausawun
- sufufakumna
- [berdehem]
- yukfanallahu baina wujuhikum. Hendaklah
- kalian meluruskan sop-sop kalian atau
- kalian tidak tidak akan oleh Allah atau
- Allah akan membuat wajah-wajah kalian
- saling berselisih itu masyaallah.
- Jadi konsekuensinya kalau tidak rapat
- SOP itu potensi untuk berselisih sangat
- mudah. Tapi kalau rapatnya S potensi
- untuk bersengketa, untuk beritus sangat
- sedikit. Oh, masyaallah ini jaminan dari
- Allah. H
- kemudian
- istawu wala taktalifu fatahtalifa
- qulubukum. Luruslah. Janganlah saling
- berselisih hingga menyebabkan hati
- kalian berselisih.
- Ini hadis riwayat ee pertama tadi hadis
- riwayat Bukhari nomor 628, 631, 675, 819
- ya, 6008 7000. Wah, banyak sekali.
- Banyak sekali. Makanya heran saya itu
- gitu kalau orang-orang membaca Bukhari,
- membaca Muslim, membaca Riyadus Shihin
- tapi sopnya tidak rapat kan aneh tuh
- mungkin loh ini sekarang social
- distancing. Nah, lain kalau kondisi
- darurat itu lain ya. Ini kondisi normal
- kita sedang baca kondisi normal gitu.
- Nah, tapi tentu juga kita tidak boleh
- berlebihan karena rasa takut yang
- berlebihan sehingga akhirnya walaupun
- zona hijau dibuatlah social distancing.
- Nah, ini juga kan kurang beralasan. Kita
- harus betul-betul kita laksanakan
- protokol
- sesuai dengan aturan misalkan ya pakai
- masker, salat, pakai masker, kemudian
- cuci tangan ya atau pakai hand
- sanitizer. Itu adalah protokol. Usaha
- maksimal dan seperti itu tawakal kepada
- Allah. Iya.
- Tapi jangan sampai diganti ee aturan
- salatnya gitu. [tertawa]
- Betul. Betul.
- Nah, ini
- masyaallah ada ada satu kisah yang
- menarik ya. H
- saya diceritakan oleh seseorang ee yang
- biasa rapat salatnya dan di situ ada
- zona zona hijau. Zona hijau didatangin
- tuh sama aparat ceritanya
- tuh ini gimana sih? Katanya enggak
- at-aturan kan harus social distancing
- katanya. Heeh.
- Loh kata lah kan ini zona hijau, Pak.
- Walaupun zona hijau kita mengantisipasi
- kan gitu. Akhirnya apa dibilang seperti
- itu, "I sudah begini, Pak. Yang nyuruh
- meranggengkan merenggangkan SOF-SAT itu
- siapa?"
- Hm.
- Itu kan aturan pemerintah.
- Nah, dan sebenarnya aturannya kan juga
- untuk menghindari.
- Nah, kalau kita dalam kondisi
- sudah memang aman, kenapa harus
- dipaksakan seperti itu?
- Sementara yang menyuruh rapat SP siapa?
- itu Rasulullah. Siapa yang lebih tinggi
- Rasulullah dengan manusia yang lain? Ada
- yang lebih tinggi. Udah dibilang gitu,
- akhirnya enggak komentar lagi [tertawa]
- pulang. Nah, ini adalah hal yang ee
- mungkin berjadi bahan renungan satu
- peristiwa di satu tempat ya. Saya tidak
- perlu menyebutkan tempatnya. Yang jelas
- itu terjadi bukan bukan mengkhayal
- ya. Jadi terjadi sesuatu di tempat itu
- seperti itu dan ternyata alhamdulillah
- sampai sekarang pun belum ada h
- gejala apapun belum ada. Artinya belum
- belum kelihatan sama sekali. Ini tetap
- masih zona hijau salatnya tetap rapat. H
- enggak pernah menjaga jarak itu. Jadi
- artinya di sini tawakal optimal ya.
- Tawakal optimal jangan meremehkan
- kepada COVID-19 itu. Tapi jangan juga
- berlebihan.
- H
- ketakutan yang berlebihan jangan juga.
- Jadi wajar-wajar saja.
- He.
- Karena [berdehem] semua itu kan jelas di
- Al-Qur'an. Main
- ardum.
- He.
- Jadi tidak akan terjadi ya sesuatu
- menimpa kepada satu kaum ya atau satu
- azab itu kecuali yang Allah sudah
- kehendaki.
- Dalam hal ini kita tidak menjadi aliran
- qadariah dan tidak aliran jariah.
- Betul.
- Aliran qadariah itu yang mengandalkan
- logika semata-mata.
- H
- enggak ada tawakal. Sebaliknya orang
- Jabariyah itu orang yang ee apa? Seperti
- orang yang tawakal. Peral bukan tawakal
- gitu. Iya.
- Jadi kepasaran yang terserah Allah tapi
- usahanya tidak ditempuh. Nah, ini jal
- salah. Kita ini ahlusunah wal jamaah.
- Bukan jabariah, bukan qadariah.
- Tidak melepaskan antara takdir,
- takdir dan ikhtiar.
- Heeh.
- Jadi takdir mutlak dan ikhtiar tetap
- kita lakukan.
- Demikian.
- Saya kira cukup dulu baru sampai lima
- ya.
- Baik,
- kita dulu. Demikian barakallahu fikum.
- Baik. Demikian ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah di sesi pertama kita
- kajian sore hari ini terkait dengan tema
- kita adab imam dan salat sendiri. Iwan
- Awat ditunggu pertanyaannya di
- 0218451512
- di L telepon atau Ikhwan Awat bisa
- kirimkan via WhatsApp di 0811999720.
- kami akan segera
- [musik]
- Brail
- [bernyanyi]
- Masih bersama Radio Silaturahim dan
- Rasil Visual untuk Islam yang satu. Anda
- sedang menyimak tausiah sore dengan tema
- kita adab imam dan salat sendiri. Salat
- munfarid. Iwan Awat silakan pertanyaan
- Anda dilayangkan ke 0811999720
- atau telepon 0218451512.
- Kita akan jawab pertanyaan-pertanyaan
- Anda. Tapi sebelumnya kita akan
- lanjutkan dulu ke poin yang keenam.
- Masih ada beberapa poin lagi yang akan
- disampaikan oleh Ustaz Tafadal. Ustaz
- bismillahirrahmanirrahim. [berdehem]
- Ee ikhwan akhwatulah rahimakumullah.
- pemirsa
- Rasil Visual dan pendengar Radio
- Silaturahim di mana saja berada.
- Ee semoga masih tetap semangat ya.
- Amin. Insyaallah.
- Sehingga tidak ada yang terlewat walau
- hanya satu kalimat. [tertawa]
- Insyaallah setia gitu.
- Iya. Alhamdulillah.
- Adab yang keenam ya. Aladabus sadis itu
- takful imami fatihi.
- Yaitu artinya tahfif itu meringankan ya.
- Takiful imam meringankan seorang imam
- itu fi salatihi dalam salatnya. Jadi,
- satu hal yang menjadi perhatian dalam
- hal ini sebagai seorang imam dia harus
- memahami atau empati terhadap kondisi
- makmum. Nah, maka disebutkan bahwasanya
- seorang imam tidak boleh terlampau
- panjang
- dalam membaca ee bacaan, tapi juga
- jangan terlampau pendek juga. He.
- Jadi harus harus paham dalam ini. Lihat
- makmum. Nah, Nabi bersabda demikian.
- Ammal
- amma ahadukum. Ya. Apabila salah seorang
- di antara kalian mengimami annasa kepada
- manusia, kepada orang-orang palyukif
- palyukif maka hendaklah meringankan. Ya.
- Fainna fihim. Karena sesungguhnya di
- tengah-tengah mereka itu adalah asagir,
- ada orang yang anak-anak kecil ya.
- Walk kabir dan juga ada orang tua tuh.
- Kemudian wadif
- ada juga yang lemah. Wal marid ada juga
- yang sakit tuh.
- Wadal hajjah. Dan ada juga orang yang
- punya kepentingan dalam artian buru-buru
- gitu ya. Tapi dia pengin salat jemah.
- Maka waid sha linafsihi.
- Nah, jika salat sendiri dan apabila
- salat sendirian bagi dirinya falyutil
- masya silakan sepanjang-panjangnya gitu.
- Artinya sekehendak kamulah mau sepanjang
- apapun kalau salat sendirian. Nah, ini
- diingatkan oleh Rasul Sallahu Alaihi
- Wasallam. Ini hadis riwayat Albukhari
- nomor 703 dan Muslim nomor 466.
- Nah, ini ikhwan fillah wa akhwatillah
- rahimakumullah. Jadi ketika salat itu
- berjamaah,
- seorang imam harus paham betul tentang
- siapa di belakangnya.
- Ini sebenarnya satu gambaran karena
- salat adalah miniatur kehidupan tadi.
- Maka seorang imam ketika dalam hidupnya
- ya di dalam salat dia memikirkan tentang
- yang di belakang itu siapa? Ada anak
- kecil. Gimana perhatian kita pada anak
- kecil? Rasulull Sallahu Alaii Wasallam
- pernah salat mempercepat salatnya hanya
- karena dengar tangisan anak kecil itu.
- Jadi terdengar tangan anak kecil yang
- tidak berhenti-berhenti. Rasul akhirnya
- mempercepat salatnya. Nah, kenapa?
- Karena walau bagaimanapun mesti akan
- terganggu terutama orang tuanya yang
- ikut salat berjamaah gitu. Dan inilah
- empati seorang imam kepada makmum. Nah,
- kemudian juga orang tua ya. Orang tua
- kan tentu tidak mampu lagi, tidak lagi
- muda. Tentu akan merasakan berat kalau
- harus mendengarkan bacaan imam yang
- panjang-panjang.
- Nah, kemudian juga
- wadif, orang-orang yang lemah. Banyak di
- antara mereka pun orang yang lemah.
- Fisiknya mungkin masih kuat eh apa
- secara masih muda usianya, tapi
- kondisinya lemah gitu ya. Mungkin karena
- kelelahan atau karena sakit ya. Atau
- mungkin tadi ada yang mereka sedang
- punya hajat.
- Dalam artian dia menyempatkan salat
- berjamaah karena ingin dapat pahala
- berjamaah.
- Enggak disangkanya ternyata salatnya
- lama kan bisa jadi gelisah. Waduh gimana
- saya ini ditunggu nih orang. Waduh
- gimana kalau itu kesal kecewa
- meninggalkan saya dan sebagainya. Kan
- bisa jadi gelisah. Nah di situlah
- perlunya empati. Empati itu bisa merasa,
- bukan merasa bisa. Jadi seorang imam
- harus bisa merasa dalam kondisi makmum.
- Maka dalam kehidupan sehari-hari pun
- begitu.
- Dan ini hanya bisa dijalankan, hanya
- bisa diwujudkan kalau ya kita mewujudkan
- kehidupan berjamaah berdasarkan sunah
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Tetapi kalau merasakan cara berjamaahnya
- tidak sesuai dengan sunah pakai pola
- barat, pakai pola timur, yakin dijamin
- enggak akan bisa seperti itu. Karena
- apa? Jauh pengang daripada api. Jadi
- kehidupan ee syariat itu adalah tidak
- bisa diganggu gugat, harus mengikuti
- pola terdahulu.
- Makanya Imam Malik ya, guru Imam Syafi'i
- rahimahullah menyampaikan lau akiru
- hadil ummah illa bim bihi awalu tidak
- akan pernah bisa menata memperbaiki ya
- peradaban akhir umat ini kecuali dengan
- cara bagaimana orang terdahulu telah
- melakukannya tuh jadi masyaallah maka
- Nabi bersabda faalaikum bisunnati
- wasunatil khulafa rasyidin almahdiin
- termasuk dalam mendirikan salat dan juga
- dalam kehidupan sehari-hari. Nah, ini
- jadi miniatur kehidupan luar biasa dari
- hadis ini yang ternyata betul karena
- salat itu adalah akan menjadi patokan
- dasar tentang kehidupan seseorang.
- Nah, kemudian yang ketujuh,
- al-adabus sabi ya. Al-adabus sabi adab
- yang ketujuh adalah iltifatul imam ba'da
- taslim. Ya, iltibatul imamda taslim itu
- imam berpaling menghadap makmum setelah
- salam.
- Nah, ini juga masih ada yang belum kan
- setelah salat terus dia menghadap
- kiblat. Dia enggak peduli dengan
- makmumnya mau apa, ngapain enggak
- peduli. Nah, inilah justru nilai
- kehidupan berjamaah begitu. Imam itu
- selalu memperhatikan makmum.
- Maka begitu selesai salat dia segera
- balik ke makmum.
- Makanya tadi kan di rasul itu faini arum
- warahri. Sesungguhnya aku melihat dari
- pelanggang punggungku. Jadi rasul tu
- tahu kalau ada sahabat yang tidak
- khusyuk tahu. Kalau sahabat yang
- main-main salatnya akan tahu itu rasul.
- Tapi kalau imam tentu bukan rasul ya.
- Ya. Dalam hal ini ee artinya kita
- mengikuti pola sunah mengetahui keadaan
- makmum sesudah salat. Dan ini artinya
- ketika sedang salat kita urusannya
- vertikal kepada Allah Subhanahu wa
- taala. Sesudah salat, kita pun
- menjalankan kembali kehidupan
- horizontal. Makanya asalamualaikum
- warahmatullah ke kanan, asalamualaikum
- warahmatullah ke kiri. Artinya menyebar
- rahmat ke berbagai lapisan, ke berbagai
- kalangan. Kemudian kita menghadap
- memperhatikan bagaimana orang-orang yang
- kita pimpin nih. Luar biasa. Masyaallah.
- Ini yang harus dihayati sebenarnya. Tapi
- sebagian kecil orang-orang menghayatinya
- sehingga salat kadang salat aja dia
- enggak peduli dengan makmumnya seperti
- apa.
- Ya. Nah, dalam hal ini kalau kita lihat
- di tafsir Ibnu Katsir ee dalam tafsir
- surah Annur ayat 62 tentang masalah izin
- pun dijelaskan di kaitan demikian.
- Rasulullah sahu alaih wasallam selesai
- salat balik ke makmum. Kemudian para
- sahabat itu dia akan tetap bertahan ya,
- tidak akan meninggalkan Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam ya sebelum
- Rasul berbalik membelakangi makmum dan
- menghadap kembali kepada kiblat.
- Kecuali kalau mereka uzur, mereka ada
- hajat, mereka izin mengangkat tangannya.
- Ya, mengangkat tangannya dengan
- mengepangkan telapak tangannya begini.
- Izin kepada Rasul Sallahu Alaihi
- Wasallam. Nah, ini disebutkan dalam ee
- tafsir surah Annur ayat 62 bahwa izin
- itu termasuk di dalam salat. Masyaallah.
- Maka [mendengus] tadi Rasul menghadap.
- Nah, tapi kalau Rasul sudah menghadap
- kembali ke kiblat membelakangi makmum,
- itu artinya Rasul mempersilakan silakan
- pergi tanpa izin minta apa gitu. Nah,
- masyaallah ini luar biasa dan ini tidak
- bisa dipraktikkan kalau kita tidak
- menghayati bagaimana pola kehidupan
- berjamaah berdasarkan sunah Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Nah, jadi
- itu Rasul menghadap menghadap keum.
- Kemudian setelah itu disebutkan bahwa
- Rasul sahu alaih wasallam membaca
- Allahumma antasalam waminkas salam
- tabarokta ya jalali wal ikram. Itu
- sambil rasul menghadap kamu tuh.
- Jadi begitu selesai salat Rasul
- menghadap amun dan Rasul membacakan doa
- itu bacakan untuk berarti memulai
- wiridnya.
- Nah terakhir dalam bab ini dalam bab
- imam dan salat munfarid yang terakhir
- adabus samin adalah
- zawazul insirof anil yamin a syimal tuh.
- Jadi bolehnya berpaling ya bolehnya
- berpaling seorang imam ke kanan atau ke
- kiri setelah salam.
- Nah, jadi artinya boleh menghadap ke
- makmum, boleh menghadap ke sebelah
- kanan, boleh juga menghadap ke sebelah
- kiri, tapi yang jelas tidak lagi
- menghadap ke kiblat. Nah, ini kalau
- berdasarkan hadis-hadis ini disebutkan
- dari Abdullah bin Mas'ud bahwa
- disebutkan
- [berdehem]
- janganlah seorang di antara kalian
- menjadikan sesuatu itu bagi setan dari
- salatnya. Yaitu dengan menganggap
- bahwasanya dia tidak boleh berpaling
- kecuali hanya kepada ke hanya dari arah
- kanan misalkan. Nah, ini karena Rasul
- Sallahu Alaihi Wasallam juga sering
- melihat Rasul berpaling ke sebelah kiri.
- Jadi kadang Rasul ke kiri kadang ke
- kanan. Nah, ini dalam hadis
- diriwayatkan oleh Imam Bukhari nomor 852
- dan Muslim nomor 707 dari Abdullah bin
- Mas'ud. Tapi Rasulull sahu alaihi
- wasallam lebih sering beliau kalau
- melihat itu ke kanan itu jadi Rasulang
- seringkiali melihat ke kanan.
- Nah, demikian barangkali delapan poin
- yang berkaitan dengan ee adab imam dan
- salat munfarid. Ya, mudah-mudahan ini
- menjadi kal dan saya tetap sekali lagi
- dengan pintu terbuka selapang-lapangnya
- kalau memang ada yang harus diluruskan
- atau mungkin ada yang mau dikoreksi kami
- persilakan. Ya, demikian.
- Baik, Iwan [berdehem] yang dirahmati
- Allah. Ee demikian tadi kita sudah
- membahas ada delapan poin tentang adab
- imam dan juga salat sendirian. bagaimana
- ee seharusnya atau adab-adabnya. Iwan
- Awat di seksi di ee sesi yang ke tiga
- ini kita akan coba jawab beberapa
- pertanyaan ya Ustaz
- yang masuk ke meja redaksi kami. Kita
- langsung saja barangkali Ustaz
- ini ada pertanyaan dari Sukabumi, dari
- Ibu Ejeh di Sukabumi. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Pak Ustaz, ada seorang imam bilang kalau
- perempuan itu tidak boleh berjamaah di
- masjid. Katanya perempuan itu aurat.
- Tetapi anehnya jika di bulan Ramadan
- perempuan harus berjamaah. Kok salat
- berjamaah perempuan dibeda-bedakan ya,
- Pak Ustaz? Apakah ee itu sudah benar,
- Pak Ustaz? Mohon pencerahan.
- I baik. Bismillahirrahmanirrahim.
- [mendengus]
- Ini sudah kita bahas dulu dalam Kitabul
- Maram. H
- tentang bahwa Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam tidak melarang muslimat
- salat berjamaah di masjid.
- H
- tetapi statusnya beda dengan kaum
- muslimin. Kalau muslimin oleh Rasul
- diwajibkan salat berjamaah di masjid.
- He.
- Tapi kalau muslimat jangan dilarang.
- Hm.
- Artinya boleh gitu.
- Jadi boleh tidak
- mak bahkan aturan pun disebut oleh
- Rasulullah ya di dalam aturan ee
- berjamaah. Yang punya bulgul maram
- silakan buka lagi.
- Dalil-dalilnya banyak. Jadi, muslimat
- itu harus masuk belakangan,
- h
- pulang duluan. Nah, terkait dengan aurat
- tadi,
- I
- ya,
- itulah makanya dijaga hijab seperti itu.
- Muslimat datang belakangan dan pulang
- duluan.
- H
- itu apalagi kalau tanpa ada hijab di
- masjidnya.
- Iya. Iya, iya.
- Itu karena akan sangat ee apa bisa
- berpotensi menjadi fitnah. He
- begitu selesai salat kan kalau tanpa
- hijab akan kelihatan.
- Jadi kalau dengan hijab lebih aman.
- Makanya ada juga misalkan yang buka
- tutup hijabnya.
- Ini juga adalah merupakan bagian
- daripada usaha melaksanakan sunah.
- Di satu sisi muslimat ingin mendapatkan
- pahala berjamaah misalkan atau juga
- ingin mendapatkan ingin mendengarkan
- suara ee Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam saat itu seperti Ummu Atiah
- juga para sahabat yang lain. Ada yang
- sahabat-sahabat yang dia menghafal Quran
- itu hanya dari salat Rasulullah.
- Masyaallah. He [mendengus]
- karena seringnya mendengar sampai hafal
- gitu.
- Nah, seperti itu. Ini artinya berarti
- muslimat boleh salat berjamaah ke masjid
- tidak boleh dilarang.
- Tapi tidak wajib sebagaimana kaum
- muslimin.
- Kalau kaum muslimin tidak berjamaah ada
- ancaman dari Rasulullah alaihi wasallam.
- Bahkan sampai bakar tuh rumahnya sampai
- begitu.
- Ya, walaupun tidak terjadi pesan itu
- karena memang para sahabat sangat taat
- ya kepada perintah Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam. Demikian.
- Masyaallah. Jadi ee kuncinya adalah
- [berdehem] tidak boleh dilarang ya. Ada
- mungkin hal yang harus dipahami.
- Muslimat di ee apa oleh Rasul diberikan
- aturan. Pertama tadi berangkat lebih eh
- belakangan pulang duluan.
- Kemudian tidak boleh memakai
- wangi-wangian yang bisa
- ee membuat terganggunya kaum lawan
- jenis.
- Itu jadi halas semacam itu yang harus
- diperhatikan.
- Kalau di ee masjid-masjid zaman
- sekarang, masjid yang sudah ee besar
- biasanya ada tempat khusus ya bagi
- akhwat ya.
- Iya. Tapi juga yang kadang-kadang kurang
- perhatian di sini. Misalkan gini,
- ada satu kasus nih.
- Iya.
- Kalau seorang ee guru saya dari Yaman
- dulu ee datang ke Indonesia begitu salat
- di bandara.
- Iya.
- Masuk di musala gitu ya. Ada seorang
- perempuan masuk dalam keadaan pakai rok.
- Heeh. Begitu masuk salat pakai mukena
- kan.
- Iya.
- Tutup ya. Tapi begitu selesai salat kan
- dibuka lagi itu pakai rok [tertawa]
- itu spontan.
- Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun
- katanya. Wah ini musibah katanya ini
- negeri apa ini katanya bilang gitu.
- Masyaallah bilang saya jelaskannya saya
- yaah beginilah Indonesia gitu kan. Fakta
- memang ya di fakta di lapangan banyak
- terjadi seperti itu.
- Jadi
- ia mendapatkan ampunan Allah, kasih
- sayang Allah, kecintaan Allah ketika
- salat.
- Iya.
- Selain salat dimurkai Allah lagi.
- [tertawa]
- Masih di masjid juga dibuka.
- Iya, masih di masjid sudah dibuka gitu.
- Masyaallah. Nah, itulah yang terjadi.
- Mudah-mudahan kita berikan doa ya.
- Mudah-mudahan orang-orang yang belum
- berjilbab, belum menup aurat diberikan
- petunjuk oleh Allah Subhanahu wa taala
- sehingga tidak hanya menutup aurat di
- saat salat, tapi juga di luar salat.
- Di luar salat. Masyaallah.
- [berdehem]
- Baik, semoga terjawab pertanyaannya dari
- Ibu Ejeh ya di Sukabumi. Berikutnya nih,
- Pak Ustaz. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh,
- Pak Ustaz. Umur saya 74 tahun.
- Masyaallah. mengalami sakit, ngilu-ngilu
- pada lutut dan ee kiri dan kanan. Dan
- juga saya sakit prostat. Setelah 3 bulan
- saya tidak ke masjid, Pak Ustaz, untuk
- berjamaah.
- Apakah saya berdosa tidak salat
- berjamaah, Pak Ustaz? Mohon
- pencerahannya. Dari hamba Allah di
- Kemayoran. Ya. Jadi di sinilah keindahan
- Islam bahwasanya Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam telah memberikan
- tuntunan kepada kita orang-orang yang
- selalu salat berjamaah dan menjaga salat
- jemahnya dari sejak muda.
- Iya.
- Sampai dia lanjut usia dan ia tidak
- pernah meninggalkan kecuali karena uzur
- syari karena sakit.
- Iya. Maka ketika satu saat tak mampu
- lagi untuk berangkat, Allah tetap
- menjaga ya Allah tetap menilai,
- memberikan pahala
- salat berjamaah kepada orang tersebut
- selama hatinya tetap terjaga bahwa dia
- ingin atau menghendaki ingin salat
- berjamaah.
- Nah, jadi
- itu yang hamba Allah tadi ya mungkin ini
- muslimin ya muslimin.
- Jadi insyaallah Allah akan terus
- memberikan pahalanya akan mengalir terus
- pahalanya. He
- ya. Selama tetap dijaga di hatinya
- bahwa saya ingin ke masjid
- gitu hanya karena kondisi darurat yang
- tidak bisa
- membawa saya ke masjid. Nah, akhirnya
- dengan itu insyaallah walaupun tidak ke
- masjid setiap salatnya dinilai salat
- berjamaah.
- Jadi bukan berdosa tapi malah dapat
- pahala berjamaah.
- Berjamaah tetap yang penting menjaga
- niatnya tadi. Betul. Betul. Betul.
- Itulah insyaallah demikian. banyak
- sekali keterangan-ketentang itu ya. Bisa
- dilihat di dalam ee di sini pun sudah
- pernah dibahas dulu.
- Iya.
- Dan di kitab Buarang pun masih ada juga
- tentang ee pahala salat berjamaah. H.
- Silakan kalau misalkan mau cek di apa di
- internet juga bisa.
- Iya. Pahala salat berjamaah.
- Pahala salat berjamaah bagi yang uzur.
- H
- itu jadi ada hadis yang sifatnya umum.
- Selama dia menjaga niatnya, Allah akan
- terus memberikan pahala salat berjamaah
- karena dia menjaga niat salat jamaah
- tadi.
- Masyaallah. Bukan hanya niat ya, Bu ya.
- [tertawa]
- Bukan hanya niat, tetapi juga memang
- keinginannya berhalangan tadi.
- [berdehem]
- Baik. Ee demikian, Pak hamba Allah ya di
- Kemayoran. Jadi tidak usah berkecil
- hati. Ee sakit kita akan menjadi
- obat ya untuk tetap mendapatkan pahala.
- Dan berikutnya nih Pak Ustaz dari Ibu
- Mameh di Jati Waringin. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Saya ingin bertanya, Pak Ustaz. Masalah
- yang mendasar
- apakah sehingga terjadinya umat Islam
- tidak bersatu? Apakah lebih kepada hal
- yang bersifat vertikal atau horizontal?
- Misalnya politik, agama, sosial, Hankam,
- dan pendidikan. Tolong, tolong
- penjelasannya. Terima kasih. Wasalam.
- Ini di luar tema, Pak Ustaz. Apa mau
- dilewat dulu
- atau mau [berdehem] ditanggapi?
- Iya, enggak apa-apa. Karena berkaitan
- juga dengan salat.
- Oh, iya, silakan.
- Jadi, pertama memang [berdehem]
- terjadinya ee perpecahan umat Islam itu
- karena faktor internal dan eksternal.
- He.
- Faktor vertikal juga horizontal.
- semuanya bisa berdampak.
- Iya.
- Misalkan faktor vertikal ee
- kurangnya rasa takut kepada Allah
- Subhanahu wa taala untuk untuk berpijak
- di atas kebenaran dan menghindari segala
- bentuk pelanggaran ini akan mendorong
- seseorang berbuat tanpa ee rasa takut
- kepada Allah sehingga seenaknya saja
- akan menggunakan konsep-konsep di luar
- Islam.
- Ya, dengan itu maka ketika dia
- mengangkat pimpinan tidak dengan cara
- Islam,
- terus kemudian berkumpul tidak dengan
- cara Islam ya bertindak berjuang tidak
- dengan cara Islam, jelas ini akan
- menimbulkan terkendalanya pertolongan
- Allah datang kepadanya.
- Hm.
- Tuh. Nah, kemudian secara horizontal
- juga begitu ya. Kalau dia sebenarnya
- eksklusif misalkan ya mengelompokkan
- diri, menganggap orang lain bukan
- dianggap karena bukan kelompoknya
- dianggap itu bukan ikhwan kannya. itu
- bukan jamaah bahkan berani mengkafirkan
- apalagi gitu ya mengkafirkan atau mengap
- sesaf yang lain tapi sementara
- dia sendiri tidak menyadari kalau pada
- posisi dia itu adalah justru sampai pada
- ee tingkatan hizbiah atau
- ee disebutkan firkah sesat misalkan ya
- karena dia menilai orang lain atau
- menuduh orang yang bukan golongannya
- adalah sesat.
- Sesat.
- He tu padahal yang di luar golongan itu
- salatnya kadang mungkin lebih baik,
- akhlaknya lebih baik gitu. Nah, ini yang
- kadang-kadang terjadi kaum muslimin
- itu faktor ee vertikal dan
- horizontalnya.
- Faktor internal dan eksternalnya.
- Ekstralnya adalah memang musuh-musuh
- Allah itu berusaha menanamkan sistem
- atau ajaran ya kepada kaum muslimin agar
- umat umat Islam terhindar atau keluar
- dari kebenaran.
- Makanya di Al-Qur'an katakanal yahudu
- hatta
- tuh. Tidak akan pernah rida orang-orang
- Yahudi dan orang Nasrani sehingga kalian
- mengikuti ajaran mereka.
- Kalimatnya tatabi milatahum bukan hatta
- tadkula dinahum.
- Bukan supaya masuk pada agama mereka.
- Biarkan tidak masuk ke dalam agama
- mereka tetapi
- sistem kehidupannya, pola kerjanya, pola
- juangnya semua sudah diarahkan dengan
- cara-cara mereka. Akhirnya
- Allah berlepas diri daripada mereka
- karena mereka tidak berpegang teguh
- kepada kitabullah dan sunah Nabi.
- Jadi sama saja dengan tidak berislam
- berarti ya, Ustaz.
- Nah, artinya gitu. Jadi cara-caranya
- tidak di
- ee tidak diwujudkan sebagaimana sunah.
- Nah, ini yang harus kita. Makanya dengan
- jangan pernah berhenti untuk melakukan
- evaluasi.
- Jangan pernah berhenti untuk melakukan
- muhasabah, introspeksi terus.
- Kenapa umat Islam gagal memperjuangkan
- Islam?
- Lalu mungkinkah Islam dapat ditegakkan
- dengan cara di Islam? Dan mustahil dalam
- Islam tidak ada sistem untuk perjuangan
- Islam.
- Iya, betul.
- Tiga pertanyaan ini sebenarnya yang
- melatar belakangi Dr. Syekh Wali
- Alfattah dulu ya, sehingga ingin kembali
- kepada pola hidup berjamaah sesuai
- dengan sunah Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam.
- Heeh.
- Karena ini yang ternyata di tidak
- terjawab kalau bukan dengan pola
- Rasulullah dan para sahabat. Demikian.
- Baik. Ee semoga terjawab pertanyaannya.
- Dan berikutnya, Pak Ustaz.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Bisakah garis saf sebagai sutrah, Pak
- Ustaz? Dengan demikian, makmum tidak
- boleh mundur dan menginjak atau masuk
- area belakangnya. Biasanya ketika hendak
- sujud. Terima kasih dari M. Irsyad
- Cipotat.
- I.
- Ee bismillahirrahmanirrahim. Tentang
- garis ya. garis itu memang kalau dalam
- hadis riwayat Ibnu Hiban di kitab
- Rumarum disebutkan itu masuk dalam
- kategori ee sutrah tetapi itu dalam
- kondisi darurat. Kaitannya dengan hadis
- Ibnu Hiban ini ada yang menilai ada
- hadis yang lain ini hadis diif tapi ada
- juga yang menilai sahih
- ya. Maka dari itu ee kembali kepada
- dalil yang masyhur ya yang banyak sekali
- riwayatnya juga bahwa kita tetap lebih
- berpegang kepada tadi syaian murtafi'an
- yang dimaksud dengan sutrah itu. Kecuali
- kalau tidak ada sama sekali
- h
- tidak ada sama sekali yang bisa
- dijadikan sebagai sutrah maka boleh kita
- membuat garis di depan salat-salat kita.
- Nah ini
- jadi ambil jalan tengahnya begitu. Jadi
- jangan sampai masih ada yang bisa
- dijadikan sutra, malah kita sudah buat
- garis. Nah, kalau itu berarti
- menyepelekan
- Iya. Iya.
- sunah Rasulullah gitu. Rasul sudah jelas
- sunahnya itu adalah Rasul menancapkan
- pedang, menancapkan anak panah berarti
- kan ditinggikan.
- He.
- Kalau rasul itu tidak perlu tinggi mesti
- digeletakan aja gitu kan cukup. Tapi
- ternyata diberdirikan gitu. Ini artinya
- saian murtafi'an.
- Hm.
- Gitu.
- Jadi kalau misalnya anak [berdehem]
- panah itu hanya diletakkan saja itu
- berarti sama dengan garis
- garis. Sama dengan garis tadi. Makanya
- tadi mengkompromikan hadis tadi Ibnu
- Hiban yang memang dalam pandangan ahli
- hadis
- menurut Ibnu Hiban ini hadis sahih.
- Tetapi menurut ahli yang lain ahli ahli
- hadis yang lain bahwa ini hadisnya diif
- katanya. Nah bagaimana supaya
- dikompromikan? Maka
- para ulama mengambil jalan jalan tengah.
- Artinya bahwa selama masih bisa
- digunakan alat yang murtafi'an tadi,
- syian murtafian suatu yang tinggi, maka
- itu gunakan sebagai sutrah. Kecuali
- kalau itu sudah tidak kita temukan, maka
- boleh kita membuat garis di depan kita
- sebagai sutrah. Itu sutrah minimal
- maksudnya itu demikian.
- Oke.
- Makanya kalau misalkan sekarang
- ditanyakan mungkin bisa dengan sejadah
- lebih aman dengan sejadah. Iya, betul.
- Karena terking terkapling
- terkapling kan daripada membuat garis
- dengan tidak terkapling. Demikian.
- Baik. Ee berikutnya, asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Papa Hasbi di Bekasi, seringkiali dalam
- salat berjamaah saya suka terganggu
- dengan kaki jemaah lain yang suka
- ditempel-tempelkan jadi geli. Pak Ustaz,
- terima kasih.
- Iya. Jadi terganggu dan tidak terganggu
- itu perasaan sebenarnya.
- Hm.
- Perasaan. Kalau kita
- rida kepada tuntunan sunah,
- Heeh.
- maka kita pun akan rida dengan semua
- aturan Islam.
- Heeh.
- Ya, di sini. Jadi, kalau misalkan ee
- justru kalau orang sudah terbiasa dia
- merasa tidak nyaman kalau tidak rapat.
- H
- gitu. Jadi, kan perasaan. Makanya
- kembali yang benar yang mana? Yang rapat
- apa yang renggang? Lah, sesuai sunahnya
- yang yang rapat.
- Al-Qur'an dan sunah menuntut demikian.
- Di Al-Qur'an tuh di surat Assf ayat
- keemp di tafsirnya demikian. He.
- Jadi menangnya kaum muslimin salah
- satunya adalah karena sof salatnya
- rapat. He.
- Dan ini dipraktikkan dalam kehidupan
- sehari-hari. Rapat sopnya itu dengan
- ukhuwah yang luar biasa.
- Saling memperhatikan, saling menolong,
- saling membantu. Itu gambaran dari para
- sopnya rapat.
- Oh, maka kalau kita tidak terbiasa
- dengan sunah memang akan berat. H kalau
- kita rida dengan tuntunan Rasul sahu
- alaihi wasallam kan dalam hadis arbain
- ya di hadis yang
- eh akhir itu kan la yminu ahadukum hatta
- yakuna hawahu taban
- tidaklah termasuk salah seorang di di
- antara kalian beriman sehingga hawa
- nafsunya tunduk kepada yang aku bawa
- maksudnya kepada sunah
- ya kalau kepada sunah kita tunduk
- insyaallah nikmat
- h
- tapi kalau hati kita lebih mendahulukan
- selera daripada sunah He.
- Maka jelas akan berontak
- tu. Jadi,
- jadi kalau itu perasaan nanti pun akan
- terbiasa kan bisa karena
- biasa.
- He.
- Jadi kalau sudah biasakan sop malah
- ketika tidak rapat tuh jadi enggak enak
- justru.
- Nah,
- tapi kalau tidak biasa tidak biasa rapat
- begitu rapat enggak enak awalnya. He.
- Tapi itu ingat ini kita dalam mentaati
- Allah dan Rasul.
- Ini dalam kita ingin mendapatkan
- kecintaan dari Allah dan Rasul. He.
- Maka dengan itu insyaallah Allah akan ee
- lapangkan hati kita,
- akan lunakkan dan akan terasa betah
- dengan merasa salat. Demikian.
- Makan daging pun kalau enggak biasa
- enggak enak, Ustaz.
- Enggak enak. [tertawa]
- [terkesiap]
- Baik. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Wahyudi dan Kang Uri. Ustaz, jika kita
- salat berjamaah tapi imam bacaan dan
- gerakannya cepat sekali, Pak Ustaz.
- Kalau seperti ini bagaimana ya? Apakah
- tetap lebih utama salat berjamaah
- walaupun bacaannya cepat sekali atau
- lebih baik salat sendiri tapi lebih
- berusaha untuk khusyuk, Ustaz. Mohon
- pencerahannya.
- Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Ini ada
- kondisi dilematis ya kan?
- Iya.
- Ada kondisi dilematis. Apa dilematisnya?
- Pertama adalah attumninah falah wajib.
- Hm.
- Tumanninah dalam salat itu wajib.
- He.
- Tanpa tumaninah batal salatnya. H.
- Tu jadi kalau kalau selama tumninahnya
- itu masih bisa dijaga
- walaupun mungkin tidak maksimal.
- He
- itu artinya kita masih sempat membaca
- misalkan baca surat alfatihah masih
- sempat sempurna
- ya membaca tasbih masih sempat walaupun
- hanya sekali gitu ya. Ini tasbih atas
- minimal itu masih sempat
- maka kita masih tetap ada nilai salat
- berjamaah gitu. Tetapi kalau jangankan
- baca Fatihah gitu ya,
- baca basmalah saja belum sempat.
- [tertawa]
- Apalagi baca tasbih enggak sempat sama
- sekali. Oh, kalau ini mohon maaf ini
- kondisi imamnya pun ya misalkan dengan
- kecepatan luar biasa tadi ya.
- Nah, itu jelas dirasa kalau tanpa
- tumaninah.
- Nah, saya sering sampaikan dan sudah
- berapa kali saya sampaikan
- salatnya metode albarqi
- iya kan ketika ee sahabat datang ke
- masjid Rasulullah sahu alaihi wasallam
- sedang duduk
- nih sahabat ini berdiri di samping Rasul
- kemudian salat
- selesai salat dia ucapkan salam kepada
- Nabi. Nabi mau jawab salamnya tapi
- kemudian kata Rasul fasoli fainakam
- tusolli
- he
- salatlah engkau karena engkau belum
- salat.
- Heeh. Nah, kemudian orang sahabat ni
- sahabat lagi salat lagi. Selesai salat
- kata Rasul, "Foli fainakamoli." Salatlah
- engkau karena engkau belum salat. Udah
- dua kali salat suruh salat lagi, salat
- lagi yang ketiga kalinya. Nah, hampir
- yang keempat kalinya begitu oleh Rasul
- empat kali, yang keempat kalinya
- akhirnya sahabat bertanya, "Ya
- Rasulullah, saya sudah beberapa kali
- salat katanya. [tertawa]
- Lalu salat apa yang kau maksudkan?" Alim
- ya Rasulullah ajarkan kepadaku. Nah maka
- kata Rasulullah umtah fakabir. Apabila
- engkau berdiri untuk salat maka
- bertakbirlah. Summaqro ma tayasar maak
- minal quran. Lalu engkau baca dari yang
- mudah. Yang mudah bagimu dari Al-Qur'an.
- H
- sumarka hatta tatmaina riqian. Nah ini
- kemudian kau ruku sampai engkau
- merasakan tenang dan tentram rukummu.
- Sumar Pak engkau bangkit dari rukuk.
- Hatta iman sampai kau berdiri tegak.
- Tulang-tulang seluruh tulang pengun
- berdiri tegak.
- Ya sujud engkau sujud hatta tatma
- sajidan sampai kau merasakan tenang dan
- tentram sujudmu. Semua bangkit dari
- sujud. Hatta tatma jalisan engkau tenang
- dan tentram dudukmu
- di antara dua sujud. Sumjud engkau sujud
- lagi hatta sajidan sampai engau tenang
- dan tentram sujudmuha.
- Lalu engkau lakukan itu semua dalam
- setiap salat. Baru sahabat ini sadar,
- "Oh, iya saya salatnya kecepatan ini."
- Ya, maka dari sinilah para ulama sepakat
- tadi Sahih Muslim ini jadikan sebagai
- landasan
- tidak ada yang berbeda pendapat.
- Ulama-ulama besar ya enggak tahu kalau
- ulama-ulamaan ya. [tertawa] Kalau
- ulama-ulama besar baik mazhab Hanafi,
- Maliki, Syafi'i, Hambali itu sepakat
- semua attumaninah fah wajib. Hm.
- Tumannia dalam salat wajib. Artinya
- tanpa tumannya tidak sah salatnya
- walaupun ribuan rakaat
- gitu. Enggak usah ragu-ragu kita
- menyampaikan demikian. Enggak usah
- enggak tega enggak
- gimana ya? Enggak tega menyebutkan tidak
- sah lah orang nabi menyebutkan demikian.
- Iya. Iya.
- Tidak sah orang yang salat tanpa
- tumaninah itu. He
- tuh. Jadi walaupun banyak rakaatnya ya
- tetap tidak sah salatnya.
- H.
- Enggak usah ragu.
- Jadi kayak matuk-matuk.
- Kalau kalau bicara tentang hukum
- [tertawa]
- tegas tapi luas. gitu. He
- ya.
- Heeh.
- Mudah-mudahan orang-orang yang masih
- cepat-cepat salatnya segera bertobat
- kepada Allah, memperbaiki salatnya
- karena itu akan menjadi jaminan bagi
- dirinya kehidupan yang baik dunia dan
- akhiratnya.
- H. Baik, hamba Allah semoga dipahami ya
- penjelasannya. Insyaallah. Berikutnya
- dari
- Pak Iqbal ini ya di Tangerang.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Pak Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Pak Ustaz, bolehkah ketika kita lupa
- kalau kita salat berjamaah kita ee niat
- sesudah takbir atau harus kita ulang
- takbirnya lagi? Karena anak saya yang 9
- tahun tiba-tiba jadi makmum. Terima
- kasih, Pak Ustaz.
- Ya. Baik. Bismillahirrahmanirrahim.
- Salat itu diawali dari takbir, diakhiri
- dengan salam.
- H. Ya. Jadi
- niat itu sendiri ketika kita akan
- memasuki salat, bahkan saat kita
- mendengar azan,
- H
- lalu kita berwudu.
- H itu
- niat untuk apa? Niat untuk salat.
- Salat.
- Makanya sebutkan bahwa niat itu af'alul
- qolbi.
- Ni itulah perbuatan hati.
- Adanya di hati.
- Dan ketika kita sudah niat salat, lalu
- kemudian saat salat sudah takbir
- tiba-tiba ada yang makmum. He.
- Apakah jadi e niatnya? Tidak usah.
- Tetapi tetap di hadapan Allah dia dapat
- pahala salat berjamaah. Itu jadi sejak
- itu niat jadi berubah kan.
- Karena kita dijadikan imam maka kita pun
- berubah niatnya dalam hati. Tidak usah
- dilafazkan. [tertawa]
- Dilafazkan jadi batal salatnya nanti.
- Iya.
- Iya.
- Cirinya berubah mungkin kalau tadinya
- sir bisa jadi zahar gitu ya, Ustaz.
- Tadinya misalkan takbirnya ee
- pelan-pelan jadi keras karena supaya
- didengar oleh makmum.
- Makmum. Hm. Dan itu ee harus ya.
- Iya. Jelas saya sunah gitu. Kalau
- misalkan dijadikan imam maka dia
- berubah. H
- gitu. Demikian.
- Baik, Pak Iqbal. Jadi tidak berarti
- harus merubah niat dari awal kembali.
- Berikutnya, asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Pak Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh,
- Pak Ustaz. Di dalam salat Id setelah
- salat dua rakaat kalau khatib
- mengkhotbah zikir dulu apa enggak, Pak
- Ustaz? Terima kasih atas jawabannya dari
- hamba Allah. ini tidak ada namanya.
- Oh, gitu ya. Ee kalau kita melihat dari
- perjalanan Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam, Rasulullah itu biasa langsung
- langsung ya.
- Itu jadi biasa langsung kalau selesai
- salat ee salat Idul Fitri atau Idul
- Adha, beliau langsung berdiri dan beliau
- berkhotbah.
- Hm.
- Itu yang yang saya ketahui.
- Iya.
- Nah, mungkin dari dari luar pengetahuan
- saya ya silakan kalau memang ada dalil.
- Iya. Ada contoh mau zikir dulu katanya
- sebelum salat eh sebelum khotbah ya
- silakan kalau memang ada dasar pijakan
- dalilnya. Tapi kalau kita belum menukan
- pijakan dalil
- kita hanya ikut-ikutan sebaiknya ditunda
- dulu
- ya. Lebih baik rujuk kepada yang sudah
- masyhur bahwa Rasulullah sahu alaihi
- wasallam begitu selesai salat beliau
- berdiri dan kemudian berkhotbah.
- Wallahuam.
- Baik. [berdehem] ee
- kita sudah ada di penghujung waktu ini,
- Pak Ustaz. Ee ada beberapa pertanyaan
- yang
- masih ada. Ee pekan depan tema kita apa,
- Ustaz?
- Insyaallah masih satu lagi.
- Masih
- adab salatnya adab makmum.
- Oh, masih adab makmum. Berarti kita bisa
- tunda, ya.
- Iya.
- Dan
- kita baca dulu dan setelah ini mungkin
- Ustaz bisa langsung menyimpulkan, Pak
- Ustaz ya.
- Kita baca dulu
- satu pertanyaan. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Dari Pak Rifai di Bekasi. Ada yang ingin
- saya tanyakan, Pak Ustaz. Bagaimana
- caranya membuat orang lain menjadi paham
- akan pentingnya merapatkan saf dalam
- salat?
- Soalnya saya kerap kali ingin
- merapatkan, namun orang lain
- terus-menerus menjauh. Malahan pernah
- sampai kaki saya diinjak
- orang di sebelah saya. Apakah kalau
- situasinya seperti itu salat saya jadi
- kurang sempurna lantaran tidak bisa
- merapatkan saf dalam salat? Mohon
- jawabannya, Pak Ustaz. Soalnya saya
- ingin sekali mengamalkan ini, tapi
- sikonnya kurang bisa mendukung.
- Iya.
- Demikian, Pak Ustaz. Mungkin [berdehem]
- singkat saja nanti kita akan perpanjang
- di ee apa di jawaban pekan depan ya, Pak
- Ustaz.
- Iya, silakan.
- Baik. Ee intinya pertama bahwasanya
- ee [berdehem] memang memahamkan orang
- itu tidak mudah.
- Iya. Artinya tidak bisa mendadak, harus
- mendidik.
- Yang namanya mendidik adalah sebuah
- proses.
- Pendidikan itu proses, tahapan. Tobakon
- ang tobak atau step by step ya, tahap
- demi tahap.
- Nah, dalam hal ini ee beberapa masjid
- yang saya bina pun seperti itu.
- H.
- Jadi, ternyata ada yang ada yang cepat,
- ada yang lambat gitu ya. [tertawa]
- Nah, saya kira yakin samalah ustaz-ustaz
- yang lain juga ya yang berusaha
- mengamalkan hal ini mengalami hal yang
- sama gitu. Jadi tidak ada yang
- sekaligus itu spontan langsung direspon.
- Iya. Iya. Iya.
- Itu apalagi mereka belum paham. Nah,
- oleh karena itulah perlu dikenalkan
- dalilnya.
- H
- ee saya sarankan pada yang bertanya ee
- Pak Rifai tadi ya. Ya, silakan mungkin
- kalau misalkan tidak didapatkan atau
- tidak punya kitabnya tinggal klik aja di
- internet banyak ya. Tapi lihat ee paling
- tidak
- rujukannya itu hadis-hadis Kutubut Tisah
- ya. He supaya jelas ee jangan jangan
- didahulukan yang lain.
- Dahulukan dulu kutubisah yaitu Bukhari,
- Muslim kan
- Sunan Abu Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan
- Nasaid dan seterusnya.
- Nah, ini didahulukan. Kemudian
- dalil-dalil tentang rapatan S banyak
- seperti di Riyadus Shihin tadi ada 16
- dalil di Riyadus Shihin itu tentang
- merapatkan sok.
- Nah, bagusnya ini diterj difotokopi
- misalkan diserahkan kepada yang
- bersangkutan atau khususnya kepada imam
- salat di masjid tersebut.
- Hm.
- itu jadi dengan itu insyaallah ee
- setidaknya paling tidak mereka pun kalau
- belum mengapukkan mereka tahu dan bisa
- memaklumi orang yang melaksanakan
- demikian.
- Lalu ketika orang akan beramal tadi kan
- tidak bisa sekaligus butuh proses ya
- perlu adaptasi gitu
- maka kita pun jangan memaksakan diri.
- Kalau orang misalkan sudah tidak mau ya
- dirapatkan jangan dipaksakan sampai
- akhirnya jadi lebar kaki kita kan
- jadi melebar langkah kita lalu kemudian
- akhirnya malah timbul gesekan tadi.
- Hm. Nah, jadi jangan sampai tetap
- ukhuwah harus dijaga.
- Kalau mang belum mereka belum siap,
- jangan dipaksakan.
- Ya toh ini bukan menjadi
- ee dasar sahnya salat.
- He.
- Jadi walaupun tidak rapat sopnya,
- salatnya tetap sah.
- Tetap sah.
- Itu jadi ini yang harus dipahami. J
- dan yang mengamalkan kita ya, bukan
- orang lain ya.
- Iya. Jadi kesempurnaan memang kita harus
- terus bertahap tidak boleh berhenti.
- Jadi bagusnya tadi difotokopi kasihkan
- Pak ini dalilnya. Atau misalkan kepada
- ustaz yang biasa ngajar di situ minta
- disampaikan.
- Iya.
- Itulah. Jadi memang ada istilah teguh
- dalam prinsip, luas dalam penerapan.
- Nah, demikian.
- Betul, betul, betul. [berdehem]
- Baik, ee kita sudah berada di penghujung
- waktu ini, Pak Ustaz. Ee silakan jika
- untuk di sampaikan kesimpulannya di sore
- hari ini.
- Baik, ikhwan [berdehem] akhwatillah
- rahimakumullah.
- Memang melaksanakan sunah di akhir zaman
- ini adalah sesuatu yang luar biasa. He
- ya. Dalam hadis disebutkan yati alasi
- zamanun.
- He
- akan datang pada manusia satu zaman.
- Asobiru fihim aladinihi. [berdehem]
- Orang yang sabar di tengah-tengah mereka
- atas agamanya. Kalqobidi alal jamri.
- Laksana memegang bar api.
- Hm.
- Jadi bar api itu kan panas.
- Iya.
- Kalau dipegang dia panas. Kalau
- dilepaskan nanti padam gitu. Begitu pula
- sunah.
- Maka Rasul memberikan kabar gembira pada
- orang pemegang sunah ya badaal badaal
- Islam goriba wasayudu gorba kama badaa.
- He
- dulu Islam datang dalam keadaan asing
- aneh karena terputusnya daripada
- daripada Nabi Isa kepada Rasulullah itu
- kan 600 tahun. Begitu didatangkan agama
- tauhid oleh Rasulullah sahu alaih
- wasallam ditawarkan disampaikan inilah
- Ibrahim
- maka ditolak oleh kaum Quraisy dan kaum
- musyrikin yang lainnya. Maka kemudian
- secara bertahap berarti jadi asing
- Islam. He.
- Tapi kemudian secara berangsur-angsur
- dikenal kembali. Nah, Rasul
- ini akan kembali asing di waktu yang
- akan datang nanti.
- He he.
- Seperti permulaannya. Maka sahabat
- bertanya, "Ya Rasulullah, manual
- guraba?" Karena sahabat bertanya begitu
- karena saking ee takjubnya atas ungkapan
- Rasul, "Fatu lil guroba." Fatubail
- guroba, fatubalil guroba. Berbahagialah
- orang yang asing. Berbahagialah orang
- yang asing. Berbahagialah orang yang
- asing. Maka sahabat bertanya, "Ya
- Rasulullah, manual guroba?" Siapa orang
- yang asing itu? Di satu riwayat, Nabi
- menyab, "Alladzina yuhyuna maanasu min
- sunnati." Orang-orang yang menghidupkan
- sunahku di kalam manusia mematikan
- sunah-sunah itu.
- Di riwayat lain, Nabi bersabda,
- "Alladina yusrihuna ma sunati."
- orang-orang yang perbaiki sunahku di kal
- manusia merusak surah-sunah itu.
- Hadis ini sampai derajat mutawatir
- maknawi saking banyaknya riwayat.
- Heeh.
- Jadi ini menjadikan dasar kita. Maka
- mari kita berusaha untuk menjadi masuk
- dalam kategori ini.
- H
- menjadi orang yang memegang bara api
- tadi. Bertahan dalam kebenaran, sabar
- dalam memegang kebenaran dan kita semoga
- Allah masukkan ke dalam golongan orang
- yang guroba.
- Amin.
- Orang yang mendapatkan kabar gembira
- dari Rasul Sallahu Alaihi Wasallam.
- sehingga kita pulang dalam keadaan
- khususnul khatimah. Demikian wal minkum
- subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilahailla anta astagfiruka waubu ilaik
- walhamdulillahiabbil alamin.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. [berdehem] Demikian ikhwan
- awat yang dirahmati Allah. Kajian kita
- di sore hari ini terkait tema kita adab
- imam dan salat sendiri. Ikhwan awat.
- Insyaallah di pekan depan kita masih
- akan membahas tentang salat ini. Dan
- pertanyaan Anda yang sudah masuk tapi
- belum terbacakan. Seandainya ada yang
- belum terbacakan di sore hari ini,
- insyaallah di pekan depan kita akan ee
- sampaikan, kita akan bacakan dan dijawab
- oleh Ustaz.
- Akhirnya saya Rian Mulyana dan seluruh
- kru yang bertugas di sore hari ini undur
- diri. Ee mohon maaf atas segala hilap.
- Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilahailla anta astagfiruka wa atubu
- ilaik. Asalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh.