Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:54 Brazil [musik] Oke, 1:03 bismillahirrahmanirrahim. 1:04 Asalamualaikum warahmatullahi 1:06 wabarakatuh. Allahumma sholli ala 1:08 sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina 1:10 Muhammad. Alhamdulillah kita berjumpa 1:12 lagi hari ini, hari Kamis tanggal 1 1:15 Oktober 2026. Enggak terasa tu sudah 1:18 Oktober ya. 18 Rabi akhir 1448 Hijriah. 1:23 Kita jumpa lagi dalam acara 1:26 hijrah e bincang hijrah. 1:30 Bincang hijrah sudah ada ee Habib 1:34 Husaini, beliau adalah master BNP, 1:37 paster trainer, konsultan digital dan 1:40 ada juga Prof. Deden Lesmana 1:44 di via Zoom kita ya. 1:47 Asalamualaikum. 1:48 Oke, 1:50 Bang Habib Husaini, 1:52 Prof. 1:54 Waalaikumsalam warahmatullah. 1:56 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:57 wabarakatuh. 1:58 Jadi tema kita hari ini adalah apa 2:01 hubungan sampah organik, tanah, pangan, 2:04 kesehatan, dan masa depan bisnis 2:05 berkelanjutan. Mantap. Oke, sebagai 2:09 pengantar Bang Habib silakan. 2:13 Oke. Bismillahirrahmanirrahim. 2:15 Asalamualaikum warahmatullahi 2:16 wabarakatuh. 2:18 Waalaikumsalam. Pak Rasil yang dirahmati 2:20 Allah dan 2:22 ee Pak Krisna yang saya hormati 2:25 ee tamu kita Prof. Deden. Kita mulai 2:28 dari satu yang sangat sederhana. 2:31 Ee setiap hari kita menghasilkan sampah 2:34 ya. Bisa makanan mungkin ada kulit buah, 2:38 sayuran, 2:40 daun-daun ya, macam-macam bahan organik 2:43 ya. Biasanya setelah kita membuangnya ke 2:45 tempat sampah ee kita ngerasa urusan 2:48 kita selesai gitu ya. Ee nah itu cerita 2:52 berikutnya dimulai sebetulnya dari situ. 2:55 Nah, 2:57 ini ada satu hal yang menarik gitu ya. 3:00 Bagaimana sesuatu yang kita sebut sampah 3:04 itu sebenarnya masih memiliki nilai Pak 3:06 Krisna 3:07 sangat. 3:07 Bagaimana kalau sebagian bahan organik 3:09 itu dapat kembali masuk ke proses alam 3:12 gitu ya. dikelola dengan bantuan 3:14 biologis, mikro ada mikroorganismenya 3:17 juga gitu ya, juga masuk ke dalam sistem 3:20 apalagi bisa menghasilkan profit gitu 3:22 ya. Nah, ini juga ee memang dari ee 3:27 praktisi ya dari sampah ya, habis itu 3:30 jadi tanah, tanaman dan manusia gitu ya. 3:34 Ketika kita bicara manusia akhirnya kita 3:36 juga ngomong terkait ke kesehatan gitu 3:38 ya. Nah, ini menarik sekali karena 3:41 bagaimana juga ada inovasi 3:45 terkait sampah ini ee kenapa tidak bisa 3:48 digunakan oleh banyak orang gitu ya. Ee 3:51 bagaimana membuatnya supaya juga bisa 3:53 menghasilkan profit gitu ya. Bagaimana 3:56 teknologi ini bisa membantu gitu ya dan 3:59 bagaimana bisa menghasilkan dari data 4:02 waste menjadi resource gitu ya. Jadi 4:05 resource jadi inovasi. Nah, inovasi jadi 4:09 value. Nah, value baru menjadi impact. 4:11 Nah, jadi sebetulnya tantangannya 4:14 bagaimana inovasi itu digunakan ee 4:17 supaya bisa memberi manfaat gitu ya. 4:20 Jadi kalau kita lihat misalnya FAO itu 4:25 ee mencatat bahwa 13,4% 4:29 makanan yang diproduksi secara global 4:31 itu hilang setelah panen sebelum sampai 4:34 ke e retail atau penjualan. 4:37 ya. Sementara 19% makanan yang ada itu 4:41 di konsumen akhirnya dibuang. Bagaimana 4:43 kita lihat sekarang kalau misalnya lihat 4:46 ee makanan MBG, makanan ee catering ya, 4:51 makanan rumah tangga itu menumpuk banyak 4:53 sekali gitu ya. Nah, itu ee bagaimana ee 4:58 mubazir dibuang-buang gitu ya. Bagaimana 5:00 juga sekarang kita lihat kalau FAO 5:04 bilang kehilangan pemborosan secara 5:06 global itu setara 10% ya emisi gas rumah 5:10 kaca gitu ya. Nah, ini ee sangat menarik 5:13 ya. Jadi 5:16 ee kalau menurut FHO tanah itu ekosistem 5:19 hidup gitu ya. apa yang di dalam di 5:21 tanah itu organisme hidup di situ ada 5:24 penguraian, ada siklus nutrien, ada 5:28 struktur tanah yang di situ. Nah, ketika 5:31 manusia ini intervensi ya ee masukkan 5:34 barang kimia gitu ya, mengintervensi 5:39 tanah, setelah itu ada yang hidup di 5:42 dalam tanah itu kita makan, kita minum. 5:45 Nah, ini ada tren baru baru akhir-akhir 5:49 ini ya ee sudah ya beda ya. Kalau 5:53 puluhan tahun lalu kita tidak sering 5:55 mendengar autoimun. Ini penyakit juga 5:59 yang nanti kita bahas secara menarik ya. 6:02 Kenapa autoimun itu muncul gitu ya. 6:04 Prof. Deden kebetulan ee beliau ee apa 6:09 lama juga meriset ini, kebetulan juga 6:11 merisetnya di Eropa gitu ya. ee 6:14 bagaimana ee ee penyakit autoimun dan ee 6:20 bagaimana ee kita itu bisa menyembuhkan 6:24 diri sendiri dengan apa yang kita makan 6:26 gitu ya. Nah, dari pola hidup, fisik, 6:30 dan lain-lain. Jadi ee nanti kita akan 6:33 bahas ya dari ee perspektifnya 6:38 ee Prof. Deden gitu ya. Tapi menariknya 6:43 apa yang kita bahas itu sebetulnya satu 6:46 hal yang sederhana, tetapi banyak ee 6:50 dilupakan orang gitu ya. Banyak 6:52 dilupakan orang. Apa sampah? Sampah di 6:55 ee di bahkan dihina bahkan di dijelekkan 7:00 gitu ya. Tapi ini bisnis masa depan gitu 7:03 ya. Bagaimana kalau kita lihat ee contoh 7:06 nyata misalnya anaknya Prof. Deden 7:09 kuliah 7:11 ee ratusan juta dibiayain oleh sampah 7:14 gitu ya. Nanti kita dengar ceritanya 7:15 juga ee bisa beli rumah dan lain-lain 7:18 gitu ya. Ee bisa mandiri itu menarik 7:21 gitu ya. Jadi 7:23 kita jangan terjebak dengan judul gitu 7:26 ya ee apa nih sampah ee gitu ya apalah 7:29 manfaatnya sampah dan lain-lain gitu ya. 7:32 Apa gunanya buat kesehatan? satu hal 7:34 yang terpisah gitu ya, seolah-olah 7:37 padahal ini sangat berkaitan dari sampah 7:40 yang dibuang ke kesehatan, ke 7:42 bahan-bahan kimia yang dimasukkan ke 7:44 dalam tanah. Minimal kita mulai dari 7:47 lingkungan kita dulu gitu ya. Kalau kita 7:49 lihat ada ee sampah orang bilang buang 7:53 gitu ya. Nah, tapi kita lihat bisa ini 7:55 bahan baku gitu ya. Mulaiin dulu dari 7:58 yang sederhana gitu ya. Nah, ee 8:02 masalahnya bukan bagaimana membuang 8:04 sampah, bagaimana memisah-misahkan 8:06 sampah, bukan seperti itu, tapi 8:08 bagaimana sampah ini jadi sumber daya 8:11 yang enggak hilang. Nah, ini ee ada 8:14 prinsip sirkular ekonomi ya. Ckular 8:17 ekonomi itu kayak contoh ginilah, paling 8:20 gampang misalnya makan gorengan ya. 8:21 Makan gorengan habis beli makan 8:24 bungkusnya buang tong sampahnya di mana. 8:26 Tapi enggak kayak gitu. ee circular 8:29 ekonomi itu paling gampang itu habis 8:32 kita ambil kita produksi, habis itu kita 8:35 pakai lagi, buang, habis itu kita olah 8:38 lagi. Jadi circular ya e direuse atau 8:42 digunakan kembali. Ada nilai baru yang 8:44 diciptakan di situ gitu ya. 8:46 Mempertahankan ee nilai dari ee sampah 8:50 gitu ya. Jadi sampah itu sebetulnya 8:52 perspektif gitu ya. Bagaimana kalau kita 8:55 melihat ini jadi sampah? Bagaimana orang 8:57 lihat ini wah sumber daya itu juga ada 9:00 mindset di situ ya gitu ya. Jadi di 9:03 balik sesuatu yang orang tidak nilai itu 9:07 sebetulnya satu opportunity besar Pak 9:10 Krisna supaya ke depannya kita bisa 9:12 lihat ini potensi ekonominya besar gitu 9:14 ya. ya, residu tanaman, sisa-sisa ee 9:19 makanan organik ee dan lain-lain itu 9:22 bisa jadi pupuk yang luar biasa 9:24 sebetulnya. Nanti kita lihat ee dan 9:27 dengar pengalaman Prof. Deden ya. 9:29 Mungkin saya lebih ke bagaimana eh scale 9:31 up inovasi ini supaya bisa menghasilkan 9:34 profit gitu ya. Bagaimana mencale up 9:36 profit ini supaya bisa scalable, stabil 9:39 gitu ya di upal. 9:42 Nah, jadi ee tanah itu bukan sekedar 9:47 tanaman berdiri ee tapi sesuatu yang 9:51 masuk ke dalam tanaman itu idealnya bisa 9:54 dimasukkan ke dalam tubuh. Kalau kita 9:56 tahu sebelumnya tubuh kita ini berasal 9:59 dari apa? Tanah gitu ya. Nah, sekarang 10:03 banyak masuk 10:05 ee bahan-bahan kimia ke dalam tanah dan 10:08 tanahnya, tanamannya kita makan. 10:11 Akhirnya di tubuh ini ada reaksi-reaksi 10:13 seperti autoimun dan lain-lain. Nanti 10:15 kita bahas juga. 10:17 Ada juga istilah namanya mol, 10:19 mikroorganisme lokal gitu ya. Apa itu? 10:23 Nah, jadi mikroorganisme itu yang 10:26 berperan dalam proses ee sampah ini, 10:28 pengolahan sampah. Jadi dan ini juga ada 10:33 penyakit degeneratif. Kenapa banyak 10:35 penyakit diabet ya dan lain-lain ee 10:41 autoimun dan lain-lain. Ini ada 10:43 hubungannya dengan sesuatu yang kita 10:45 tanam, sesuatu yang ee ada di dalam 10:49 tanah itu sendiri gitu ya. Nah, gitu. 10:53 Jadi itu mungkin ee sekedar pengantar. 10:55 Nah, nanti kita diskusi, banyak diskusi 10:57 Pak Krishna nanti. Ee Prof. Deden ini ee 11:01 sahabat saya 11:03 ee beliau meneliti langsung juga ada 11:06 kaidah-kaidah memang dari apa namanya 11:09 agama gitu. Ee bagaimana nanti mungkin 11:13 saya intro sedikit ya Pak Krisna ya. 11:15 I 11:15 bagaimana Nabi Musa itu menghidupkan 11:18 dengan izin Allah menghidupkan orang 11:20 mati gitu ya. Nah, itu ada diteliti 11:24 secara ilmiah gitu ya. Ee dan itu beliau 11:29 sudah ngriset itu menarik sekali, 11:31 menarik sekali gitu ya. Bagaimana dan 11:33 kandungannya itu beliau jadikan satu 11:36 produk kesehatan yang sudah diuji ke 11:38 banyak orang itu bisa recover 11:40 organ-organ dan lain-lain gitu ya. 11:42 Bahkan diterapin di ee apa hewan ternak 11:47 untuk penyakit PMK dan lain-lain itu 11:49 bisa sembuh gitu ya. Bismillah ya. 11:51 mungkin pengantar sedikit ee nanti kita 11:54 banyak diskusi saja, Pak Krisna. 11:56 Silakan. 11:57 Baik, sekarang kita ke Prof. Deden 12:00 Lesmana. 12:02 Ee Prof eh kenapa kesadaran orang untuk 12:05 memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang 12:08 sangat berguna itu masih kurang di kita 12:10 nih. Silakan, Prof. 12:13 Asalamualaikum warahmatullahi 12:14 wabarakatuh. 12:15 Waalaikumsalam warahmatullahi 12:17 wabarakatuh. 12:18 Iya. Jadi memang simpel singkatnya 12:20 begini. He. 12:22 Karena kita sejak tahun -an itu kan 12:25 dipaksa untuk menggunakan kimia sintetis 12:29 di dalam tanaman. 12:30 Iya. 12:32 Dan akhirnya itu kimia sintetis itu 12:33 enggak bisa diurai di tubuh kita dan 12:35 tersimpan di dalam beberapa organ tubuh. 12:37 Salah satunya ginjal. 12:39 Nah, kimia sintesis itu sintetis itu 12:41 dinamakan trisidu ya. Residu itu s 12:43 sampah lah gitu kan. 12:45 Jadi akumulasi sampah banyak di tubuh 12:48 kita yang mengakibatkan, maaf cara 12:51 berpikir kita juga hampir mirip seperti 12:53 itu, Pak. 12:54 Hm. 12:55 Kalau sudah menyampah, 12:56 iya kita jadi terbawa, Pak. Jadi kalau 12:59 sudah 13:00 ada sampah mereka ya sudah tidak 13:02 dimuliakan lagi, Pak. Buang begitu aja. 13:04 Zaman dulu sebelum tahun 0-an itu kan 13:08 orang-orang kalau buang sampah itu kan 13:09 pasti ke belumbang ya. Ada istilah 13:11 lubang di belakang rumah. 13:12 Iya. Lumbang itu. 13:14 Nah, sampah itu dimuliakan, dimasukkan 13:16 ke delapan ke dalam lubang. Kemudian 13:18 setelah penuh ditutup kembali tanah 13:21 ditanam di atasnya. Nah, budaya-budaya 13:23 semacam itu sudah berkurang, Pak. Karena 13:25 kenapa? Karena makanan yang masuk ke 13:27 kita sejak tahun-an itu sudah banyak 13:29 residu-residu sampah yang berakibat 13:32 kepada kelakuan kita juga akan mengikuti 13:35 seperti itu, Pak. Memang ini secara 13:39 secara empiris ya, keilmuan empiris 13:41 kayak enggak masuk akal. Cuma kalau 13:43 dalil faktanya kok sampahnya kok bukan 13:46 semakin berkurang, semakin bertambah 13:48 gitu. 13:48 H 13:50 gitu, Pak. 13:52 Jadi logikanya kalau memang benar-benar 13:54 sampah dimanfaatkan, 13:56 bisa-bisa ibu-ibu rumah tangga tidak 13:58 perlu ke pasar beli sayur. Ya, itu 14:00 sangat di untuk halaman-halaman kecil 14:03 pun bisa dimanfaatkan untuk menanam 14:04 sayur atau lalap-lalapan ya, Pak Prof. 14:06 Ya, 14:07 betul. Betul, Pak. Sebetulnya gini ee 14:10 sampah kan terbagi dua, terbagi tiga ya. 14:12 Yang pertama organik, kedua nonorganik, 14:15 yang satunya residu ya. persis itu ya 14:18 model baterai terus yang lain-lainnya ya 14:21 yang tidak bisa diurai 14:24 namanya B3 sama B3 gitu kan. Nah, 14:27 sebetulnya yang organik itu yang paling 14:29 banyak menumpuk di TPA sekarang. 14:31 Hm. 14:32 Nah, sebetulnya dari organik itu sumber 14:35 dut yang paling banyak, Pak, 14:37 dibandingkan sampah-sampah yang 14:38 nonorganik. 14:39 Salah satunya menjadi biogas. Bisa jadi 14:42 bisa dilakukan ya untuk bik membuat 14:44 biogas. Yang kedua untuk media tanam. 14:48 Media tanam. Media tanam akhirnya 14:50 ditanam tanaman yang untuk kebutuhan 14:53 sehari-hari gitu kan. Yang ketiga bisa 14:56 digunakan sebagai ee 15:00 bahan pencampur pakan 15:02 pakan ternak gitu kan. Mau unggas, mau 15:05 mamalia. Nah, hal semacam itu sebetulnya 15:08 ilmu lama yang sudah dikembangkan namun 15:11 hilang, Pak. Namun hilang. Karena 15:13 sekarang kemudahan mendapatkan sumber 15:15 pangan itu hanya dengan impor, Pak. 15:17 Hm. 15:18 Ketika inflasi naik, perman 15:23 permintaan tinggi barang tidak ada, 15:26 banyak keputusan-keputusan atau regulasi 15:28 yang menyatakan udah impor saja. Jadi 15:31 masyarakat tidak dilatih untuk bikin 15:32 survival. 15:34 Nah, bentuk survivalnya yang paling yang 15:36 paling baik adalah di tingkat rumah 15:37 tangga, yaitu mengolah sampah organik 15:39 menjadi yang saya sebutkan tadi bisa 15:41 jadi pakan. 15:43 bisa jadi media tanam gitu kan. Nah, 15:47 sekarang ini kan saya bawa ee kampanye 15:50 sendiri ke beberapa pesantren namanya 15:52 West to table. Jadi sampah dibalikin 15:54 lagi ke meja makan. 15:56 Masyaallah. 15:57 Begitu Bapak. 15:58 Keren kan? 16:00 Kalau Prof sekarang 16:02 ee terkait penyakit influenza, Prof. 16:05 Misalnya influenza A nih yang yang baru 16:07 ya. Apa yang bisa dilihat nih fenomena 16:10 seperti penyakit-penyakit degeneratif, 16:14 Prof. 16:15 dan 16:16 penyakit-penyakit yang ee yang sekarang 16:18 aktual nih makin lama makin aneh 16:20 penyakitnya, Prof. 16:23 Ya, saya kebetulan mengikuti mengikuti 16:27 persis, Pak, perkembangan penyakit 16:29 degeneratif ini. Karena gini, 16:33 di dalam di dalam pemahaman kita selalu 16:37 mengatakan bahwa penyakit degentif itu 16:38 penyakit turunan, Pak. 16:40 Hm. 16:41 Penyakit turunan artinya nenek moyang 16:43 kita tuh pesakitan semua gitu kan. 16:45 He 16:46 gitu kan. Sedangkan dijelaskan oleh 16:48 Allah bahwa manusia diciptakan dalam 16:51 bentuk sebaik-baiknya gitu kan. 16:53 Iya. 16:53 Kan tidak berpenyakitkan. Ini adalah 16:56 yang sudah tertanam di kepala kita oleh 16:58 siapapun sejak industri kesehatan 17:01 industri medis ini di mana-mana. Artinya 17:03 kalau penyakit yang tidak bisa 17:05 disembuhkan artinya penyakit turunan 17:07 gitu kan generatif gitu kan. 17:10 Nah, sedangkan ee 17:15 yang saya teliti, Pak, saat ini tubuh 17:19 kita kalau kita terinfeksi oleh apapun 17:22 asal tubuh kita, sel tubuh kita 17:25 patogennya dirubah menjadi patogen, 17:28 maka dia akan berkembang menjadi sel-sel 17:31 baik, Pak. 17:31 He. 17:32 Contoh kanser ya. Canser itu kan penuh 17:34 dengan patogen. Makanya di dikata 17:36 disembuhkannya kan salah satu dengan 17:38 metode kemo kan. mematikan sel-sel 17:40 jahatnya kan. 17:41 Heeh. 17:42 Nah, sel-sel jahat itu adalah yang saya 17:45 sebutkan tadi yang akumulasi dari 17:47 makanan-makanan atau jenis ee konsumsi 17:52 konsumsi pangan yang banyak residunya. 17:56 Kalau berkaitan dengan influenza A 17:58 sebetulnya mereka ini melakukan 18:00 kesepakatan. Karena apa? Karena yang 18:03 disebutkan oleh Allah di surat A'raf 56, 18:06 aku sudah ciptakan langit dan bumi, aku 18:08 sudah pelihara. Tolong manusia jangan 18:10 dirusak, gitu kan. Jadi kalau bentuk 18:13 bukan bentuk bukan bentuk karma, Pak, 18:16 bentuk peringatan kepada manusia gitu 18:17 kan. 18:18 Terlalu banyak sampah di luar dan 18:20 terlalu banyak residu atau terlalu 18:22 banyak pencemaran, maka diperingatkanlah 18:24 seperti hal sekarang ini. 18:26 Hm. 18:30 Oke, ini ada pertanyaan dari pendengar 18:33 dari Bapak Sony. Prof. Apakah kalau 18:36 produk-produk organik itu jauh lebih 18:38 mahal dibanding kalau ee produk-produk 18:42 itu dari yang kupuk kimia? 18:47 Karena pemeliharaan lebih besar. 18:51 Halo. 18:51 Ken Prof. Ini 18:53 kenapa produk organik lebih mahal? ya 18:55 lebih mahal dibanding kalau ee produk 18:57 yang memakai mm bubuk kimia. Apa betul 19:03 demikian, Prof? 19:06 Hm. 19:07 Prof. 19:07 Sebetul ee 19:10 karena organiknya masuk B 19:14 ee ini ada ganggu 19:16 terdengar. 19:17 Oh, oke. Saya mungkin tambahin dulu, Pak 19:20 Krisna boleh ya? 19:21 Sebelum Prof. 19:23 Jadi biasanya organik itu kenapa sering 19:27 lebih mahal? Kebetulan saya juga ada 19:30 pengalaman ya. Jadi ada melihat di site 19:34 ya, melihat di lapangan biasanya 19:37 skalanya lebih sedikit. Kalau kimia 19:40 karena sudah industri sudah masuk di 19:42 situ, semakin besar 19:44 posisi mana ya? 19:45 Ee semakin besar industri masuk biaya 19:48 operasionalnya kan semakin rendah. 19:50 artinya artinya harganya bisa ditekan 19:53 gitu ya. Nah, 19:56 ee 19:58 sekarang itu juga untuk organik itu 20:03 banyak yang masih pakai mekanis gitu ya 20:06 ee enggak pakai ee mesin-mesin yang 20:09 canggih. Jadi pemerintah juga nurunin ee 20:12 itu 20:14 alat-alat yang canggih buat ee kimia. 20:16 Nah, jadi 20:18 kalau pakai mekanis otomatis kan tenaga 20:20 Pak Krisna pakai tenaga dan itu bisa 20:22 lebih mahal pakai tenaga gitu ya, tenaga 20:24 manusia gitu ya. Kalau kita lihat produk 20:26 yang dianyam pakai tangan misalnya sama 20:29 produk yang dicetak pasti lebih murah 20:31 produk yang dicetak gitu ya. 20:33 He. 20:33 Nah, jadi ee juga karena ini masih 20:38 organik gitu ya, ee produksinya juga 20:41 bisa lebih sedikit gitu ya output-nya 20:43 gitu ya. Nah, nanti Prof. juga ee bisa 20:47 jelasin ya. Nah, segmennya 20:50 juga karena organik ini jadi satu 20:53 eksklusif ya. Jadi misalnya sayur 20:56 organik harganya bisa lebih premium gitu 20:59 ya. Segmennya tuh beda gitu ya. Karena 21:02 karena semua orang pada pakai pupuk 21:04 kimia misalnya ini enggak pakai pupuk 21:06 kimia otomatis kan lebih sulit 21:08 pemeliharaannya mesti di e apa namanya? 21:11 Treatment khusus. Nah, itu tenaga 21:14 manusianya yang yang lebih mahal 21:16 sebetulnya gitu. Itu mungkin tadi Prof 21:19 suaranya ee terputus Prof. Jadi saya 21:21 bantu sedikit apa namanya? Jelasin, 21:25 Prof. 21:26 Tadi ada pertanyaan dari Pak Soni itu. 21:28 Prof. Sekarang sudah dengar lagi, Prof? 21:30 Sudah tersambung, Prof. 21:33 Oh, sinyalnya 21:35 tidak. 21:36 Oke, lanjut mungkin, Pak Krisna. 21:37 Prof. 21:38 Halo. Halo. 21:39 Eh, Prof. Ini ada pertanyaan dari Ibu 21:42 Ani belakang aja, Pak. Alfamat yang 21:43 masuk aja ke dalam Pak. 21:45 Prof, ini ada pertanyaan dari Bi. 21:48 Apakah produk sayur mayur misal di pasar 21:51 bisa dibedakan secara fisik antara yang 21:54 organik dengan nonorganik? Itu bisa 21:56 dilihat tidak? 21:58 Sebetulnya secara fisik 22:02 sama, Pak. 22:03 Sama. 22:03 Secara fisik sama. 22:05 Heeh. 22:05 Heeh. Sebelah kiri, Pak. Masuk. He. 22:07 Namun perbedaannya adalah ketika sudah 22:10 disimpan dalam waktu dalam waktu apa 22:13 namanya? 22:15 Kalau dipetik dalam waktu 1 hari itu 22:18 sama, Pak. Bedanya 22:22 ee apa menyebutkannya ya? Ee 22:27 kalau organik cenderung dia 22:32 tampilannya tidak sehijau dengan 22:35 tidak menarik 22:36 nonorganik. Iya. Jadi masyarakat kita, 22:39 nah ini aja di sini ya. Jadi masyarakat 22:41 kita itu sebetulnya gini, Pak. Lebih 22:43 senang melihat bentuk yang bagus gitu 22:45 ya. 22:46 H 22:46 ya tampilan tapi dia tidak paham 22:51 di dalamnya seperti apaanya. Memang ini 22:53 kan sangat 22:54 sangat bukan sangat menipu ya. Ini trik 22:56 dagang aja Mas. Makasih ya. 22:58 Trik dagang aja. Nah. Cuma dalam hal ini 23:04 kalau kita melihat sayuran yang digigit 23:06 serangga kan orang enggak mau beli ya, 23:07 Pak. 23:08 Iya. 23:09 Padahal digigit apa? Heeh. 23:11 Gitu kan. 23:12 Iya. Maunya yang bentuknya bagus gitu 23:14 kan. 23:14 Heeh. 23:16 Iya. Tapi kalau misalnya 23:21 yang bagus itu mengandung kimia tinggi 23:23 kan kita enggak tahu juga. He 23:29 oke, 23:31 Bang Men, saya di belakang ya. 23:34 Sebentar saya pindah mobil, Pak. Bentar. 23:36 Oke. Jadi saya lanjutkan, Pak. Ini biar 23:39 biar fokus ya. 23:39 Oke. I oke. Silakan, Prof. 23:43 Apakah kita bisa membedakan produk yang 23:46 organik dan non organik apabila kita 23:48 berbelanja di pasar? 23:54 Eh, hilang lagi nih, Prof. suaranya, 23:59 Bang Habib. 24:00 Ya, silakan, Pak Krishna mungkin bisa 24:02 lanjut. Tadi sudah dijawab dari 24:04 tampilannya. 24:05 Heeh. 24:06 Ee dari ee macam-macam tadi ada 24:08 beberapa. 24:09 Oke. 24:09 Jadi, terutama ee tidak terlihat 24:11 menarik, tampilannya lebih original gitu 24:13 ya, 24:14 gitu ya. 24:15 Kalau ada formalin dan lain-lain lebih 24:17 lebih lebih hijau, lebih bagus ya gitu 24:21 seperti itu. 24:22 Oke dari Bapak Wibi nih. Asalamualaikum 24:26 Prof. Apakah di Indonesia kita bisa 24:29 membeli apel yang organik? 24:32 Pertanyaan itu. Buah apel yang organik 24:34 apakah bisa didapat di Indonesia atau di 24:36 Jakarta? 24:40 Banyak. Eh, Pak Krisna 24:43 ee Profnya sudah nyambung belum? 24:44 Belum. 24:46 Oh, profesional belum nyambung. Ini 24:48 belum nyambung ya. Mungkin ini beliau 24:49 memang sibuk sekali. Jadi, pas lagi di 24:52 jalan memang saya bilang, "Enggak 24:54 apa-apa, Prof. Kita ee sharing-sharing 24:56 dulu ya ee terkait 24:59 apa namanya ee apa yang kita bisa ee 25:02 sharing gitu ya. banyak. Jadi penelitian 25:04 beliau itu banyak yang yang sudah ini 25:06 Pak Krisna yang sudah yang sudah bahkan 25:10 termasuk ke jurnal Scopus gitu ya 25:14 internasional. 25:15 Nah 25:17 kita sekarang itu ada label organik Pak 25:20 Krisna. Label organik gitu ya. Ee dan 25:23 itu memang harganya biasanya lebih mahal 25:25 gitu ya. Kalau impor biasanya ada 25:27 sertifikasi dari negara asal. sekarang 25:29 banyak China ee US gitu ya banyak tuh. 25:34 Nah, 25:35 kalau enggak nongkrong kreatif 25:36 kadang-kadang ditempel juga Pak Krisna. 25:39 Nah, 25:39 kita langsung ke palungan enggak 25:42 kita enggak bisa bedain dari misalnya 25:45 sempurna gitu ya. Nah, misalnya gini 25:48 anggur yang organik sama yang sudah 25:51 manipulasi itu bedanya apa? Sekarang 25:53 yang lebih sehat itu anggur yang ada 25:56 bijinya, Pak Krisna gitu ya. Dibanding 25:58 anggur yang sudah enak, enggak ada 26:00 bijinya dan lain-lain itu sudah ada 26:02 manipulasi di situ gitu ya. Nah, ini 26:05 saya banyak ngobrol juga kebetulan sama 26:07 Prof gitu ya. Jadi ee buah-buah ya, 26:11 buah-buah yang 26:13 memang sehat itu buah yang musim gitu 26:16 ya. Jadi kalau kita makan buah yang 26:17 musim itu buahbuah yang sehat gitu ya. 26:21 karena buahnya banyak, produksinya 26:22 banyak berlimpah gitu ya. Nah, buah-buah 26:25 yang produksinya sedikit karena sedikit 26:27 kebutuhannya besar akhirnya dipakai 26:29 manipulasi bagaimana pupuknya di ee 26:32 banyak kimianya dirangsang supaya buah 26:34 itu produksinya lebih besar gitu ya 26:37 padahal memang tidak musim. Jadi makan 26:39 buah yang masih musim gitu ya. Banyak 26:42 hal banyak hal sebetulnya yang sederhana 26:44 saya ee berdiskusi sama beliau ya itu 26:48 bagus sekali gitu ya gitu. 26:51 E apa sudah tersambung? Mungkin bisa 26:53 lanjut Pak, Pak. 26:55 Berikutnya, 26:55 Prof. Apakah bisa mendengar suara kami, 26:58 Dok? Prof, 27:02 sinyalnya masih kurang bagus, ya. 27:04 Mungkin lanjut, Pak Krisna pertanyaan. 27:07 Oke. 27:08 Apa peran mikroorganisme dalam mengolah 27:11 sampah organik dan bagaimana prosesnya 27:14 bisa dimanfaatkan? 27:17 ini ada pertanyaan demikian 27:19 ee Prof masih ee 27:23 apa namanya? Masih bisa nyambung atau 27:27 masih di jalan? 27:28 Belum. Belum. Belum bisa, 27:30 Prof. Belum bisa. 27:31 Heeh. 27:32 Oke. Nah, jadi saya ee pengantar aja 27:36 nanti mungkin bisa dijelasin dari Prof. 27:38 Ya, mikroorganisme itu misalnya gini, 27:41 Pak Krisna. kayak ada sisa nasi, kulit 27:44 buah, ada sayuran gitu, sisa-sur makanan 27:47 kita ngelihatnya udah buang aja gitu ya. 27:50 Nah, tapi mikroorganisme itu yang makan 27:53 itu sebetulnya kalau kita lihat ee apa 27:56 namanya ada bakteri jamur gitu ya ee 28:01 buat pertumbuhan dia tuh memecah itu 28:04 memecah itu jadi bentuk-bentuk yang 28:06 lebih sederhana. Misalnya gini, ada 28:08 sampah organik. sampah organik itu kayak 28:10 misalnya bekas makanan dan lain-lain. 28:12 Nah, itu diurai sama mikroorganisme 28:18 ee ada ada karbon, air, dan lain-lain. 28:20 Biasanya ada unsur-unsurnya lah di situ 28:22 ya, Pak Krisna. Nah, nanti bahannya itu 28:24 lebih stabil gitu ya. Nah, masukinlah di 28:28 ee biasanya kalau Prof itu diolah lagi 28:31 ya dicampur ee ee semacam probiotik buat 28:36 tanaman gitu ya isinya. itu juga unik 28:39 gitu ya. Saya lihat ada campuran madu, 28:42 ada campuran macam-macam semuanya itu 28:45 natural gitu ya. Dan saya sudah coba Pak 28:48 Krisna ee 28:51 ada dua pot ya, ada dua. Saya kebetulan 28:53 nanam-nanam juga Pak Krishna. Kita coba 28:55 ada pot yang ditanamin ee natural ya. 28:59 Bahkan saya campur ini ee memang agak 29:01 ekstrem. Saya campur madu di potnya. Ini 29:04 ada videonya saya sudah videoin satu 29:06 lagi betul-betul full kimia. Nah, yang 29:09 ada campuran madunya itu tumbuhnya bukan 29:12 satu tapi lima gitu ya. 4 L yang ini 29:15 tumbuh cuma satu G gitu ya. Jadi ada ada 29:19 unsur-unsur ee 29:21 molekul-molekul yang bekerja di situ dan 29:24 memang secara ini lebih natural, Prof. 29:27 Ee silakan, Prof. Sudah stabil 29:30 koneksinya. 29:31 Iya. Itu kenapa sinyalnya enggak stabil 29:32 ya? Mati hidupmati hidup terus. 29:34 Baik, Prof. Tadi ada yang bertanya ee 29:37 lanjut Prof. 29:38 Apakah di Jakarta atau di Indonesia ini 29:40 ada bisa didapat apel yang organik? 29:43 Nah, bagaimana membedakan dengan yang 29:45 yang kimia, Prof? Tadi pertanyaan 29:48 untuk buah-buahan atau say-sayuran? 29:50 Buah-buahan 29:51 dua-duanya mungkin, Prof. supaya bisa 29:53 jelas. 29:54 Oke. Eh, sebetulnya antara buah dan 29:56 sayur kan posisi sama. 29:58 Kalau sekarang gini ya, industri itu kan 30:00 lebih lebih pintar ya, lebih hebat orang 30:05 mempagingnya kan kalau non kimia ee non 30:09 kimia itu seolah-olah paling lebih fresh 30:12 kan gitu kan. Lebih fresh. 30:15 Contoh kayak pisang. Pisang itu kan ada 30:16 yang fresh banget, ada yang tidak gitu 30:18 kan. Kalau kita dibandingkan justru yang 30:21 yang tidak fresh itu yang maksudnya 30:24 kulitnya yang penuh dengan bintil-bintil 30:27 dan agak kehitaman itu itu yang organik 30:29 biasanya [tertawa] 30:32 pisang gitu ya. Jadi kita jangan tertipu 30:35 bentuk dan tampilan kayak sayuran. 30:36 Sayuran 30:37 cenderung lebih lebih sempurna. Tidak 30:40 ada gigit-gigitan serangga gitu kan. Nah 30:42 itu kadang-kadang yang non apa yang 30:45 kimia ya yang gunakan full kimia. Bahkan 30:47 dia disemprot pengawet dan lain-lain. 30:50 Tapi yang non kimia yang benar-benar 30:51 organik kadang banyak luka, Pak. Kadang 30:55 banyak luka gitu kan. Kemudian 30:57 tampilannya juga tidak apa namanya 31:00 warnanya tidak tidak mencolok 31:04 ya. Kalau merahnya ya tidak terlalu 31:06 tidak terlalu merah. Biasa-biasa saja 31:08 kan gitu Pak. Kalau hijau ya hijaunya 31:11 juga hijau alami gitu kan. Kadang kita 31:13 melihat kan yang kimia hijaunya kok 31:16 hijau banget gitu, hijau bersinar gitu. 31:20 Kadang-kadang agak kehitaman gitu kan. 31:23 Nah, cuma gini untuk perbedaan itu 31:28 kita kalau terus ee bukan meributkan ya, 31:31 mempersoalkan itu tidak akan ada 31:34 habisnya. Maka nanti di rumah bikin 31:37 cairan yang mirip ekoenzim lah 31:39 atau probiotik 31:41 ya. 31:42 apapun makanannya 31:44 yang kita dapat dari pasar kek, dari 31:46 warung kek, dari mall, swalayannya cuci 31:49 dulu pakai koenzim, dicuci dulu pakai 31:52 probiotik, direndam selama 5 menit baru 31:56 diangkat. Insyaallah sampai mengucapkan 31:58 bismillah, racun-racun itu nanti pergi, 32:01 Pak. 32:02 Oh, gitu ya. Termasuk plastik-plastik 32:04 lilin-lilin itu yang di apel bisa hilang 32:06 itu. 32:07 Iya, bisa hilang insyaallah, Pak. Karena 32:09 apaun 32:09 cara buatnya gimana, Prof? 32:11 ee nanti fermentasi buah aja. Salah 32:13 satunya yang paling buah yang paling 32:15 bagus disarankan untuk membuat sabun 32:17 probiotik adalah dari buah nanas. 32:19 Buah nanas itu kan ada kandungan 32:21 bromelin 32:22 yang dia fungsinya tuh bisa memecah 32:26 memecah beberapa sel atau ee 32:29 senyawa-senyawa yang tadi yang kayak ada 32:31 lilin kek, ada pestisida kek gitu kan, 32:34 ada herbisida dan lain-lain. 32:36 Nanti dibuat dicampur dengan madu 32:39 fermentasi selama 7 hari. Airnya diambil 32:43 satu sampai du sendok masukin ke dalam 32:45 baskom cuci. Mau beras kek, mau daging 32:48 kek, mau sayuran kek, mau bau ban di 32:50 sana. 32:52 Oke. 32:53 Iya. 32:54 Karena justru yang paling bahaya itu 32:56 sebenarnya beras paling, Pak. 32:57 Beras. 32:59 Beras itu paling bahaya. 33:00 Di mana, Prof? Bagaimana? 33:02 Yang satu kan tampilan beras. Beras 33:04 sekarang dan dulu kan beda, Pak. Dulu 33:06 kan beras kan enggak pernah bening kayak 33:08 kayak sekarang. Coba beras sekarang kan 33:09 bening-bening, Pak. H 33:11 hm. 33:12 Kalau dulu kan kayak kuku Pak, ward. 33:15 Iya. I 33:15 iya iya. Betul betul. Iya. Prosesnya tuh 33:18 sekarang bagaimana, Prof. yang sudah 33:20 masuk ke dalam tubuh kita nih 33:21 racun-racun yang masih nempel belum 33:23 keluar segala macam. Nah, bagaimana 33:25 netralisirnya? Menurut saya kan 33:27 lama-lama jadi penyakit macam-macam nih, 33:29 Prof. [tertawa] 33:31 Maka Allah berjanji, Allah mengeluarkan 33:34 sebuah ee ee firman di surat An-Nahal 69 33:39 bahwa 33:40 madu adalah untuk kesehatan manusia. 33:43 Cukup pakai itu, Pak. 33:45 Oh, madu ya. Jadi, 33:46 oke. 33:47 Iya. Kalau kita urai, Pak, di dalam madu 33:50 tuh ada apa? Salah satu ada kandungan 33:52 probiotik, Pak. Probiotik alami yang dia 33:55 bisa memecah apapun, Pak. Itu baru sisi 33:59 mandunya saja. Sekarang diketemukan juga 34:01 tentang lebahnya. Racun lebah bisa 34:04 memecah sel kanker malah. 34:06 Oh, gitu. Oh, luar biasa ya. 34:08 Iya. Jadi kita jangan ya kan kata Allah 34:10 itu kan kalau kalau kebingungan di muka 34:12 bumi gitu kembalilah ke jalanku kata 34:14 Allah gitu kan. 34:15 Sudah jangan takut, Pak. Ada madu kan. 34:18 Kemudian juga ada khamer yang tidak 34:20 memabukkan gitu kan. Dan 34:22 pokoknya makan-makan minuman yang 34:24 disarankan di Al-Qur'an itu tidak akan 34:26 salah. 34:28 Oke. 34:29 Minum madu aja. Minum madu aja. Pagi 34:31 satu sendok campur air hangat. Bisa 34:33 campur jahe, bisa campur sereh gitu. 34:36 Insyaallah terhindar semua dari 34:38 penyakit-penyakit yang ditakutkan. 34:41 Nah, menurut Prof ini menarik ya. Kalau 34:44 Prof. ee anggap itu tanah itu hidup 34:46 enggak, Prof? Sebetulnya tanah itu hidup 34:48 enggak? Artinya hidup 34:50 hidup ya dia bisa bereaksi ya. Kita apa 34:54 namanya respon apapun ke dalam tanah, 34:56 tanah itu akan bereaksi ya. Kalau kita 34:58 masukkan racun yang keluar itu racun ya, 35:00 Prof. ya. 35:01 Betul, Pak. Jadi tanah itu kan 35:03 sebetulnya bahan bahan baku kita 35:06 Heeh. 35:06 apapun masalahnya di dalam tanah itu kan 35:08 hidup jutaan mikro 35:11 ee 35:11 organisme. Menarik menarik. 35:13 Iya. mikroorganisme ini harus kita 35:16 pelihara. 35:18 Makanya tanah itu kan bisa likuidasi, 35:21 bisa bergerak kan. Pernah dengar enggak 35:23 tanah likuidasi? Tanah bergerak salah 35:25 satunya yang kejadian di Sukabumi, 35:27 Cianjur, di Palu gitu kan 35:31 atau sekarangimana 35:32 atau sekarang terkenal dengan patahan 35:34 patahan bumi gitu kan. 35:36 Heeh. Heeh. 35:37 Nah, biasanya jumlah mikroba di dalamnya 35:39 sudah berkurang, Pak. 35:41 Oh, begitu ya, Prof ya? 35:43 Iya. Mikrobiomanya sudah berkurang. 35:45 Bagaimana Bapak? Kita mau di sini aja, 35:46 mau di dalam. 35:47 Bib kita bacain lagi pertanyaan dari 35:49 pendengar. 35:50 Silakan. Silakan, Pak. 35:52 Dari yang Asalamualaikum. Saya sering 35:54 masak dari bahan organik. Dekat rumah 35:56 tokonya ada. Beda banget. Sayurnya 35:59 dimasak tanpa masuk kulkas tidak basi. 36:02 Kalau kok lebih renyah. Kalau telur 36:05 kuningnya telurnya lebih isinya lebih 36:07 orange. Tokonya di bawah lisensi PB dari 36:11 Abu Ami di Cimang. Dari Bu Ami di 36:14 Cimanggis. Betul enggak nih, Prof? 36:18 Iya. 36:20 Jadi sebetulnya kalau organik tuh B 36:24 ketika dipetik bisa bertahan lama, Pak. 36:26 Hm. He. 36:27 Eh, kebetulan kan saya nanam ya, 36:28 kelompok tandan 36:30 itu kalau metik Pak Coy itu 3 hari itu 36:33 belum belum layu, Pak. 36:35 Oh, 36:36 belum layu. 36:38 Heeh. Beda dengan yang dari kimia. Kimia 36:41 itu sebetulnya kalau dicuci aja warnanya 36:43 luntur, Pak. 36:44 He. 36:44 Sayurannya tuh jadi airnya tuh banyak 36:46 hijau-hijau gitu. 36:47 Oke. 36:48 Kalau yang organik enggak, 36:49 Prof. Ini ada pertanyaan juga. Apakah 36:52 tanaman organik bisa ditanam secara 36:54 massal besar-besaran? 36:58 di Belanda semua sudah organik sekarang. 37:00 Oh, gitu. Mungkin mungkin bisa dijelasin 37:03 pengalaman di Belanda, Prof. ngeriset 37:06 itu yang pengalaman ngeriset dari 37:09 ee Al-Qur'an terus bagaimana itu ilmunya 37:13 ternyata ditemukan secara medis. 37:14 Bagaimana, Prof? 37:16 Iya, sebetulnya hanya di Indonesia yang 37:19 tidak meyakini nanam organik bisa massal 37:22 gitu kan. Karena memang kita sudah 37:24 dicekokin sejak tahun -an itu dengan 37:27 pupuk-pupuk kimia gitu kan. Artinya 37:30 kalau organik pasti pertumbuhannya tidak 37:32 baik. Jadi begini ya, 37:35 di 37:37 Belanda itu mereka meyakini di surat 37:40 Alar'raf 58 bahwa tanah yang baik 37:42 manusianya baik, tanah yang sakit 37:45 manusianya sakit. 37:47 Dari kejadian-kejadian itu akhirnya 37:50 mereka sudah mengurangi 37:53 ee awalnya sama di Belanda itu dihajar 37:56 kimia habis-habisan. Tanahnya juga jadi 37:58 miskin miskin haraya. 38:01 Akhirnya dia membuat media tanam di atas 38:03 tanah yang isinya tuh dari sampah-sampah 38:05 organik. 38:07 Akhirnya media tanam itu kan hidup. 38:10 Nah, ketika hidup hasil panennya bagus, 38:15 maka dia meyakini karena ini sehat maka 38:17 dia buat massal, Pak. 38:19 Oh, 38:19 dibuat massal sama dengan yang di Jepang 38:21 juga. 38:22 Nah, pembuatan massal pertanian ini 38:25 sebetulnya harus diimbangi dengan 38:27 regulasi pemerintah 38:29 tentang kemudahan mendapatkan 38:32 bahan-bahan atau ee sertifikat organik. 38:35 Di kita kan agak susah, Pak, sertifikat 38:36 organik, Pak. Kalau kita nanam kanan 38:38 kiri kita harus organik dulu gitu kan. 38:41 Makanya enggak bisa enggak bisa jalan, 38:42 Pak. Jadi kalau sertifikat organik kita 38:44 tuh sebenarnya gini, 38:45 di lahan kita organik, Pak. Lahan kanan 38:47 kiri kita masih menggunakan pupuk kimia, 38:48 sertifikatnya enggak keluar. 38:50 H 38:51 gitu kan. Jadi cara cara supaya masal 38:55 itu akhirnya saya menggabungkan beberapa 38:57 pesantren ee yang ada di Jawa ini untuk 39:01 melakukan proses ini. Nah, kalau dari 39:02 pesantren masuk diharapkan nanti 39:05 santri-santrinya yang keluar melakukan 39:08 tindakan yang sama gitu loh. Kalau 39:10 bertani organik dengan dasar ekoteologi 39:12 tadi. Nah, untuk melakukan perubahan 39:15 massal memang harus EVO-nya tinggi 39:19 sekali, Pak. Tinggi sekali ya. Jadi 39:21 memang bagaimana caranya ee supaya kita 39:26 ee menikmati hasil sayur organik minimal 39:29 di rumah duluah 39:30 atau di RT duluah kita nanam gitu aja 39:32 dulu. 39:33 H oke. 39:33 Jadi kalau kalau berpikirnya kejauhan 39:36 enggak akan selesai-selesai gitu enggak 39:38 akan enggak akan apa enggak akan 39:40 tercipta-cipta gitu [tertawa] 39:43 gitu kan. Minimal di kalangan RT dulu 39:45 RT-nya diberesin pakai organik kan. 39:48 Kebutuhan 1 RT nih apa? Misalnya Pak Coy 39:51 1 hari 10 kilo e 5 kilo ya kita sudah 39:54 ngukur actual annual plannya seperti apa 39:57 gitu. 39:58 Pak RTO biorganik juga tuh. 40:01 Iya kalau RT bergerak saya jamin 40:03 se-Indonesia massal nantinya. 40:06 Jadi gitu ya, Pak ya. Makanya saya 40:08 gerakannya RT, Pak. Setiap RT sudah saya 40:12 bina dengan sayuran organik. 40:14 Ini Prof. menarik juga bahas ee terkait 40:17 sisi bisnis ya, Prof. atau ekonomi. 40:20 Kalau kita paksa tanah ini ee untuk 40:23 terus produksi, apakah dia itu nilai 40:27 ekonominya meningkat atau gimana, Prof? 40:29 Maksudnya 40:31 ee bagaimana agar sustainable terus gitu 40:34 kan dipaksa supaya keluar terus misalnya 40:36 produktif produktif produktif misalnya 40:38 gitu ya. Nah, bagaimana ee kemampuan 40:41 tanahnya itu sendiri? Apakah ada formula 40:44 khusus supaya tanahnya itu tiba-tiba 40:46 bisa bukan subur lagi atau gimana di 40:49 kayak diover manusia lah misalnya ada 40:53 tanah apakah bisa di-recover? Kata Prof 40:55 kan hiduplah. Jadi bisa di-recover 40:57 misalnya berapa siklus dikasih kayak 40:59 nanam sawit atau bagaimana gitu, Prof. 41:01 supaya kita itu antara optimalisasi 41:05 ekonomi sama kemampuan kita apa 41:09 mengelola lahan sama kemampuan kita 41:12 bagaimana menjaga alam itu seimbang, 41:14 Prof. 41:16 Oke. Jadi sebetulnya tanah itu enggak 41:18 ada yang namanya 41:20 satu musim itu paceklik. Enggak ada, 41:21 Pak. Gitu. 41:23 Enggak ada. Enggak ada. Enggak ada, Pak. 41:25 Tah 41:26 enggak ada. Ketika peristiwa, ingat 41:29 peristiwa Isra Mikraj itu loh, Nabi 41:31 Muhammad kemudian bertanya kepada 41:33 malaikat Jibril, "Hai malaikat, itu apa 41:36 kok ada petani panen enggak 41:37 berhenti-berhenti?" gitu kan. 41:39 Sebenarnya itu sudah gambaran pernah ya 41:41 anu ya? 41:43 Iya. Iya. 41:43 Ee pernah baca itu ya? 41:45 Iya. E gimana lanjutannya, Prof? 41:47 Iya. Sebetulnya gini, [berdehem] 41:49 kalau kita menggunakan agen hayati, 41:53 salah satunya agen hayati yang 41:55 disarankan ya, salah satunya kotoran 41:56 sapi, kotoran kambing, ya, kotoran ayam 41:59 pun yang organik, maka tanah itu akan 42:01 hidup, Pak. Mikroba itu akan mendapatkan 42:05 asupan makan yang stabil. 42:08 Saya jamin tidak ada istilah tanah itu 42:11 setahun itu berhenti produksi, Pak. 42:13 Terus-terusan, Pak. 42:14 Baik buah-buahan maupun sayur-sayuran. 42:16 Ya. 42:17 Iya. Baik. Buah-buahan dan 42:18 sayur-sayuran. Dan itu sudah sudah 42:20 proven, Pak. Sudah terbukti, Pak. Di 42:21 beberapa negara maju. 42:23 Hanya kita aja, Pak, yang mengalami masa 42:25 pasaklik ini 6 bulan nanam. Karena kita 42:28 menggunakan pupuk kimia yang berlebihan, 42:30 Pak. Akhirnya unsur haranya hilang. 42:33 Unsur hara itu adalah berpindahnya 42:35 mikroba ke tempat yang lebih nyaman dia. 42:38 Jadi, caranya bagaimana nanti 42:40 bertaninya? 42:42 Ya mungkin pelan-pelan, Pak, ya. 50% 42:44 menggunakan bahan kimia, 50% menggunakan 42:47 bahan organik 42:48 supaya mereka tidak kaget. Kalau kami 42:51 sih di pesantren sudah saya sarankan 42:53 100% menggunakan organik. 42:55 Karena gini, 42:56 semakin lama tanahnya akan semakin 42:58 subur, Pak. Semakin gembur, semakin 43:00 banyak. 43:02 Iya. Itu kan itu janji Allah, Pak. 43:04 Tolong dipelihara. Kan janji Allah di 43:07 surat Alf 56 tolong dipelihara. Jadi 43:10 kalau kita sendiri tidak yakin dengan 43:12 kandungan agen hayati yang Allah 43:14 sampaikan tadi, maka ya repot, Pak. 43:17 Sedangkan filosofi tanaman itu bagian 43:21 daripada rukun Islam. Yang pertama akar 43:23 gitu kan. Akarnya harus kuat. Batang. 43:27 Batang akar itu keimanan kita. Keimanan 43:31 kita harus kuat. Akar ya. Batangnya 43:33 adalah bentuk dari salat 43:37 ya. Salat. 43:39 yang agama kan salat. Kemudian 43:42 dahan-dahan, 43:43 dahan-dahan itu mampu menampung segala 43:47 pemberatan. Misalnya ada daun kek, ada 43:50 buah kek ada di sana. Kemudian di sana 43:53 ada daun. Itu bentuk dari jemaah 43:56 jemaah haji ya. Ribuan kan di sana 43:58 daun-daunan. 43:59 Masyaallah. Sudah ada gambaran, Pak. 44:02 Tanaman juga sudah daripada bagian 44:04 daripada rukun Islam. Akhirnya gini kita 44:06 kerepotannya gini. Kalau kita nanam 44:08 dengan pola-pola yang makqosid 44:10 syariahnya kita gunakan, 44:12 kita juga sudah melakukan ibadah 44:13 sebetulnya. 44:14 Hm. 44:15 Tapi masyarakat kita kan hanya kalau 44:16 kita nanam berpikirnya apa? Cuan. Yang 44:20 penting cuan. Biar orang yang makan pun 44:22 siapa itu mah enggak peduli. Yang 44:25 penting kita dapat cuan orangnya pada 44:26 sakit gitu. Itu yang yang tidak tertanam 44:28 dalam diri kita. Makanya melalui media 44:31 ini kita ayo kita bertani, ayo kita 44:33 mengolah tanah, ayo kita melakukan ee 44:36 bisnis agro agroisnis dengan 44:38 mengedepankan maqasid syariah, Pak. Kan 44:40 di sana kan ada tentang alam, tentang 44:44 keturunan, tentang budaya dan lain-lain. 44:46 H 44:47 gitu, Pak. 44:48 Oke. Baik. Pertanyaan berikutnya. 44:50 Emprau, kapan mengadakan pelatihan tanam 44:52 yang sehat di dan di mana? Di pesantren 44:55 apa? Silakan dijawab apa? Kapan Prof 44:58 mengadakan pelatihan mengenai bertani 45:00 yang sehat? 45:02 Bismillahirrahmanirrahim. Saya 45:04 insyaallah di Jawa Tengah itu saya ambil 45:06 di daerah Bawang Batang di wilayah 45:11 Pesanggrahan. Di sana ada pesantren 45:13 agrener 45:15 yaitu pesantren Nasrul Huda 2. H 45:19 dari Batang naik ke arah naik ke atas 45:22 ya. Nasrul Huda 2. Untuk di Jawa Barat 45:24 insyaallah di pesantren Kanzul Ulum atau 45:27 Albahja. 45:29 Albah. 45:30 Di mana tuh, Prof? 45:33 Di Albahja. Di Albahja di pesantrennya 45:36 Buya Yahya 45:37 Cirebon. Iya. 45:37 Oh, Cirebon. Oke. 45:39 Nah, sementara ini saya di Depok belum 45:41 dapat, Pak, kerja sama dengan pesantren. 45:43 Kalau ada pesantren yang sempat menyimak 45:45 ini, ajak saya, Pak, untuk melakukan 45:47 proses ini. Saya hanya bisa melakukan 45:49 ini di pesantren. 45:51 Karena apa? karena mampu mengosongkan 45:54 gelas gitu kan. Kalau di tempat yang 45:56 lain enggak mau gelas kosong, berdebat 45:57 mulu isinya. [tertawa] 46:00 Akhirnya enggak jalan-jalan. Kita ini 46:02 kita ini selalu berdebat, Pak. Belum 46:03 melakukan apa-apa sudah berdebat dulu 46:05 gitu kan. Kalau di pesangkan padahal 46:06 belum ada hasilnya ya, Prof. ya. 46:08 Belum ada hasilnya. Debat dulu. 46:09 Dari mana tanahnya, bagaimana tanahnya 46:11 dikelola? Kapan ditanamnya? Padahal 46:14 belum belum mulai gitu ya. Sudah 46:18 saya enggak punya tanah di rumah. Nah, 46:19 ini Prof. Mungkin sederhana ya buat ee 46:22 pendengar hasil yang enggak punya tanah 46:24 luas, punya tanah sedikit di halaman 46:26 rumahnya. Gimana mulaiin dari diri 46:29 sendiri dululah dari tanah kecil. Nah, 46:32 bagaimana bisa 46:34 berdampak ini? Kita memperbaiki 46:36 kesehatan keluarga kita dulu lah. 46:38 Dan betul 46:39 kalau bisa nilai ekonominya bisa 46:40 meningkat ya alhamdulillah gitu. 46:41 Misalnya 46:42 ee nanam-nanam yang sederhana sendiri, 46:45 cabe dan lain-lain kita enggak perlu 46:47 beli gitu dengan sehat gitu. Gimana, 46:49 Prof? Mulainya itu 46:51 kan semua bermulai pada diri kita. 46:54 Contoh, kalau kita melihat ee selalu ke 46:58 depan, selalu jauh ke depan, ya. 47:00 Sedangkan yang di yang dekat diri kita 47:03 tidak dipedulikan, akhirnya kita enggak 47:05 akan selesai-selesai. Seperti tadi, Pak, 47:08 kalau tidak punya lahan kan banyak 47:11 galon-galon mineral itu loh, Pak, yang 47:13 dibuang-buang. 47:14 Iya. 47:16 Tentu nanti saya melakukan pelatihan 47:18 bagaimana membuat media tanam yang baik 47:20 di dalam galon yang minimal kalau nanam 47:23 cabe bisa berbuah dan bisa panen gitu 47:24 kan. Kan kebanyakan kan sekarang kan 47:28 ibu-ibu 47:29 terus kelompok tani nanam cabai di galon 47:33 ada yang berhasil dan ada yang tidak 47:34 gitu kan. Itu kandungan media tanamnya 47:37 juga mesti harus ada 47:40 komposisi yang baik gitu. Maka nanti 47:43 insyaallah 47:44 komposisinya salah satunya ee agen 47:47 hayati sampah organiknya itu 50%, 47:50 kemudian kotoran sapinya sekitar 25% 47:54 kemudian ee 47:57 daun-daunan 47:59 yang membusuk gitu kan. Sisanya ya 48:02 mungkin menggunakan tanah. Tanahnya kita 48:05 bisa beli atau kita bisa dapatkan di 48:08 mana saja. Justru kalau misalnya mau 48:10 kita mulai dari kelompok TV dan radio 48:13 Rasil nih kita melakukan pelatihan 48:15 misalnya rutinan setiap bulan. Saya 48:17 siap. 48:18 Wah, mau banget tuh. 48:20 Oke, pesertanya 48:21 daftarin 48:22 daftarin ee Pak Krishna ke nomor hasil. 48:26 Nanti siapa yang mau daftar ee nanti 48:28 kita adain pelatihan dari mulain pertama 48:32 sederhana dulu bagaimana mengolah 48:35 sampah, hidup sehat gitu ya dari 48:38 sehari-hari memilih tanaman dan 48:40 lain-lain. Yang kedua nanti kita buat 48:43 juga ee membuat produk Pak Krisna. Jadi 48:46 ee ada produk-produk ee yang sederhana 48:49 tetapi itu punya nilai ekonomi misalnya 48:52 sabun ya, sabun organik gitu ya dan 48:55 lain-lain itu 48:56 menarik gitu ya. Jadi ee saya lihat dari 49:02 Pak Prof. Deden ini ada yang pertama 49:04 buat diri kita sendiri, yang kedua nilai 49:07 ekonomi minimal kita enggak beli 49:09 produk-produk luar gitu ya yang 49:11 berbahaya buat baik tubuh kita, baik 49:14 dalam maupun di luar kayak sabun, shampo 49:17 dan lain-lain. Kalau terlalu banyak 49:18 paraben, terlalu banyak kimia-kimia 49:20 berbahaya itu jangka panjangnya akan 49:23 akan akan berdampak. Makanya sekarang 49:26 masa anak muda masih kecil gitu, sudah 49:30 ubanan gitu ya, ada itu ya masih muda 49:33 gitu ya. Kalau dulu kan sudah tua baru 49:35 uban. Sekarang masih muda Prof. Banyak 49:37 yang sudah 49:39 eean 49:40 Ian 49:41 tubuhnya tua terlihat tua nih. 49:44 Iya. Ee [tertawa] nah itu kalau Pak 49:46 Krisna memang mudah terus gitu ya. 49:49 Bagaimana? 49:50 Heeh. Menarikmenarik. Oke, nih 49:52 pertanyaan banyak banget yang masuk nih. 49:54 Ada nanya nomor telepon, ada yang Prof. 49:56 Kenapa kalau di pasar di Arab itu 49:59 buah-buahannya lebih lengkap dari 50:00 Indonesia? Ada memede, ada pete, ada 50:03 yang aneh-aneh gitu dan segar-segar di 50:05 pasar di Arab. 50:08 Ya, di Arab budayanya beda dengan kita. 50:11 diarap itu kan semakin dia diversifikasi 50:14 jual sales-nya atau barang yang dijual 50:18 maka menarik perhatian bagi pembeli. 50:20 Kalau kita kan enggak. Kalau kita kan 50:22 misalnya jualan, maaf ya, jualan satu 50:25 produk kanan kirinya sama gitu misalnya 50:27 di sini cilok, kanannya cilok, kirinya 50:30 cilok. 50:33 Harusnya dinaikkan kan harusnya 50:34 dinaikkan difikasinya biar orang menarik 50:36 kayak contoh apa ya? Jadi di sana itu 50:40 sebetulnya [berdehem] pedagang itu kalau 50:42 bisa out of the box barangnya itu 50:45 berbeda dengan yang lain gitu kan. Nah, 50:48 petaninya juga sana di sana sama di sana 50:50 kalau misalkan petani semangka udah 50:52 banyak nanam semangka nih nanti petani 50:53 yang lain nanam melon gitu kan. Kalau 50:56 kita enggak enggak apaak latah cabai 50:59 mahal nanam cabe semua gitu kan enggak 51:01 konsisten. Akhirnya apa? pada saat 51:04 pasar-pasar tertentu barang-barang kita 51:06 enggak ada, kita impor. Jadi di sana tuh 51:09 memang petaninya jalan, Pak. Di di 51:11 [berdehem] apa? Di Saudi ya, di Arab ya 51:13 jalan. 51:14 Padahal tanahnya gersang ya, Prof. 51:16 Padahal tanahnya 51:16 bukan dari Arab itu kan dari dari luar 51:19 itu kan. 51:20 Iya. Maksudnya kerja sama mereka dengan 51:22 Afrika kek, dengan Eropa kek kerja sama 51:24 kan dekat berdekatan ya. 51:26 Iya. Sayur masurnya lebih lengkap 51:27 daripada pasar Indonesia. 51:30 Iya. Ya. Sebetulnya gini ya. Tadi saran 51:33 saya kalau RT-nya setiap RT-nya kita 51:35 bina misalnya di Depok RT-nya ada ee 51:39 satu kecamatan ee satu desa RT-nya ada 51:43 20 gitu kan. Dikelompok-kelompokan aja. 51:44 RT saya ini nanam cabai, klub RT ini 51:47 nanam sayuran gitu kan. Nanti pas acara 51:50 tertentu car free day baru buka lapak 51:53 kan macam-macam produknya. Jadi senang 51:56 melihatnya kan kalau kita datang ke mall 51:57 kan ke produknya itu-itu aja kan kita 51:59 jadi malas Pak. 51:59 Hm. Oke, 52:01 mungkin di luar sudah seperti itu, Pak, 52:03 cara dagangnya. Jadi 52:05 enggak satu produk aja gitu. Kalau kita 52:06 kan satu produk tokonya banyak. 52:09 [tertawa] 52:10 Aduh, ini banyak yang tanya mengenai 52:12 pelatihan Prof. Deden ini kapan katanya 52:15 menarik sekali katanya. 52:18 Ya, pelatihan ee sebetulnya saya mau 52:21 ngajak dihasil Pak kalau untuk wilayah 52:23 JABO Derabek. 52:25 Jabo Detabek bebas aja bebas aja. 52:29 Oke. Oke. Jadi kalau misalnya di di 52:32 Radio Rasil atau di Cibubur gitu ya. 52:35 Iya. 52:35 Kita buka bulanan aja. 52:38 Oh mantap itu. 52:40 Heeh. Jadi setiap bulan kita bisa 52:42 evaluasi. Misalnya 52:44 orang Depok nih eh nanam cabai cabainya 52:47 enggak tumbuh-tumbuh kita evaluasi gitu 52:48 kan. Kita datangin. 52:50 H 52:50 orang Cibubur nanam apa melon. Kok 52:52 melonnya kok enggak subur-subur gitu 52:55 kan. kan semakin rutin itu kan kita 52:57 semakin bisa evaluasi gitu. 53:01 Oke, Prof. Ini juga ada yang bertanya, 53:03 "Do sekarang ee di YouTube banyak sekali 53:06 saran-saran untuk menanam pohon. Ada 53:09 yang pakai machin, ada yang pakai 53:13 yakult, 53:15 ada pakai obat sakit kepala juga ada 53:17 dimasukkan itu digerus-gerus itu. Apakah 53:20 itu bagus? 53:24 Dan disebutkan bahwa bahan baku bahan 53:27 baku tubuh kita kan adalah tanah. 53:31 Jadi sebetulnya kalau kita mau 53:33 memberikan nutrisi ke dalam tanah, 53:35 nutrisi yang itu harus bisa kita minum 53:37 dan kita makan dulu. 53:39 Wah, itu standarnya tinggi ya, Prof ya? 53:41 Hah? 53:42 Standarnya tinggi kalau gitu ya. 53:44 Iya. Nah, kita kan 53:47 biasanya sisa-sisa dimasukin ke tanah 53:49 nih. 53:50 Jadi nutrisi atau pupuk cair itu kalau 53:53 mau kasih ke tanaman minimal yang bisa 53:55 diminum kita dulu. 53:56 Waduh, luar biasa ini, Prof. 53:59 Merubah paradigma ini. Bahaya ini. 54:02 Iya. Nah, kalau misalnya kimia kasih ke 54:05 tanaman, tanaman menerima nih, tapi dia 54:07 juga punya kejutan. Nanti 54:10 gua balikin lagi ke orangnya katanya 54:12 [tertawa] gitu. 54:14 Wah, masuk akal, Prof. 54:16 Tapi kadar tertentu masih aman, Prof. 54:18 Kimia selama di tubuh itu bisa 54:21 dikeluarin ya, Prof? Ya, 54:24 bisa. Bisa, Pak. Bisa. 54:28 Di tubuh kita itu 54:29 ee gini, Pak. Di tubuh kita itu kan ada 54:31 namanya sel puncak, Pak. Sel yang belum 54:33 membelah diri. 54:35 Hm. 54:36 Nah, salah satu sel yang belum ee atau 54:40 ee bukan membelah diik pasangan, Pak. 54:44 Pasangan. Jadi gini, kalau misalnya 54:46 sintetis ya, sintetis kimia masuk ke 54:48 dalam tubuh kita kan dia belum belum 54:50 menemukan pasangan di tubuh kita kan. 54:51 Karena tubuh kita kan secara mikrokosmos 54:54 kan 54:55 ee dia berpasang-pasangan. masuklah 54:57 misalnya nitrogen yang tidak berpasangan 54:59 gitu kan atau fosfor yang tidak 55:02 berpasangan, 55:04 maka disimpan di ginjal, Pak. Numpuklah 55:06 di ginjal. Nah, ginjal numpuk lama-lama 55:10 bisa asam urat, bisa batu ginjal, bisa 55:13 kempedu juga bisa bermasalah. Tapi kalau 55:15 misalnya organik, senyawa kimianya tuh 55:18 selalu menemukan pasangannya di tubuh 55:20 kita gitu. 55:21 Oh, 55:21 itu Pak 55:22 sebetulnya itu itu saran saya. Kenapa? 55:25 Kenapa pupuk itu yang mau masuk yang 55:28 kita gunakan ke dalam tanaman itu harus 55:31 dimakan kita dulu, Pak, dan harus bisa 55:33 diminum? Kok bisa, Pak Deden? Katanya 55:35 pupuk yang bisa dimakan kan bikin enzim 55:37 kan bisa dimakan. Saya bilang gitu kan. 55:39 Buah difermentasi. Kan sementara ini kan 55:42 orang tahu kalau buah difermentasi bisa 55:43 jadi pupuk. tahunya pupuk itu ya karena 55:47 karena di otak kita pupuk itu adalah 55:49 benda yang seperti itu dan di di 55:53 letakkan ke dalam tanah diserap oleh 55:55 tanaman. Enggak. Sebetulnya 55:56 fermentasi-fermentasi sayuran, 55:58 buah-buahan yang kayak kimci itu kan 56:00 bisa jadi pupuk, Pak, sebetulnya. 56:01 Oh, gitu ya. 56:04 Iya. Terus buah-buahan yang 56:05 difermentasi, Pak, kan bisa jadi pupuk 56:08 airnya. 56:09 Nah, keyakinan-keyakinan ini kan harus 56:12 melalui pelatihan. Saya akan mengajak 56:14 Rasil nih. 56:15 Kapan 56:16 ini daftar udah banyak banget nih. 56:18 Asalamualaikum Profeden, Habib dan Mas 56:20 Krishna. Saya Ibu Yuni di Ciputat. Saya 56:22 mau ikut pelatihan penanam organik. Saya 56:24 punya lahan halaman lumayan. Saya tolong 56:27 nama saya didaftarkan. 56:29 [tertawa] 56:30 Mungkin nanti bisa menghubungi nomor 56:33 hasil Pak Krisna. Dikasih nomor hasil 56:35 supaya nanti di list kita yang daftar. 56:39 Saya undang Prof. Deden kebernar di luar 56:40 kota nanti kita kumpulkan ee di weekend 56:44 biasanya Pak Krisna di Sabtu atau Ahad 56:47 nanti bisa dilakukan dari pagi sampai 56:50 sore. Yang pertama buat tubuh keluarga 56:53 ee Prof. yang kedua mungkin ada nilai 56:57 ekonomis Prof. sesi duanya tuh. 56:59 Hm. 57:00 Eng. Betul. Yang ketiga, sebetulnya 57:03 nanti selalu kita beriringan dengan 57:05 bagaimana mengolah tubuh kita supaya 57:06 tubuh kita enggak autoimun aja. 57:09 dengan kandungan-kandungan sayuran 57:10 organik [mendengus] ini, makanan-makanan 57:12 organik 57:13 ini, Prof. Kalau sabun-sabun yang kimia 57:15 segala macam itu jangka panjangnya 57:17 bagaimana, Prof? Kayak ee shampo kita 57:20 kan semuanya bukan masuk ke tubuh ya, 57:22 tapi di luar tubuh, Prof. Itu secara 57:25 jangka panjang 57:28 pengaruh juga 57:29 secara jang secara jangka panjang ya 57:32 bikin autoimun, Pak. Sebetulnya karena 57:34 itu kan masuk ke kulit, Pak. 57:35 Oh, ada diserap juga ya. 57:39 Iya, serap. Jadi, maaf ya, maaf, maaf, 57:41 maaf nih. Saya sekarang lagi buat sabun 57:45 untuk laundri berbahan 57:49 buah-buahan. 57:50 Oh, 57:50 jadi kalau dipakai selain bajunya 57:53 lembut, kulit kita juga terjaga. 57:56 Masyaallah. 57:57 Jadi sebetulnya saya akan bicara ini 58:00 akan merepotkan, Pak. Bisnis bisnis 58:02 laundri takutnya. [tertawa] 58:04 Tapi nantihan aja lah. 58:06 Enggak apa-apa. Untuk kebagian. 58:09 [tertawa] 58:09 Jadi autoimun itu biasanya kalau enggak 58:12 masuk ke dalam tubuh kita nempelnya di 58:13 kulit, Pak. H. 58:15 Ini banyak yang nanya nomor teleponnya 58:17 Prof. Nih, Bapak Rahman Bin Sabiono. 58:20 Asalamualaikum. Mohon info nomor HP 58:24 Prof. Deden, narasumber yang hari ini. 58:30 Ketemu aja dihasil nanti. Ketemu aja 58:32 dihasil. Oke. [tertawa] Oke. I deh, Beb. 58:35 ini waktunya sudah habis ini. 58:39 Alhamdulillah. 58:39 Ee mungkin ada kesimpulan mau 58:41 disampaikan silakan, Bib. 58:42 Oke. Bismillahirrahmanirrahim. Terima 58:44 kasih, Prof. Deden, Pak Krisna yang 58:47 dirahmati Allah, dan para pendengar. 58:49 Mudah-mudahan hari ini kita melihat ee 58:53 perjalanan ya, perjalanan pengetahuan 58:56 kita yang melihat sampah itu harusnya 58:58 insyaallah hari ini ee berubah ya. 59:00 Bagaimana ya sesuatu yang biasa kita 59:03 lihat terus kita buang. kita belajar 59:05 bahwa sampah ini masih ada nilai gitu 59:07 ya, masih ada materi organik, nutrisi, 59:10 dan lain-lain gitu ya. Kalau dikelola 59:12 dengan ilmu bisa jadi sumber daya gitu 59:15 ya, bisa jadi inovasi juga. 59:17 Amin. Amin. 59:18 Insyaallah jadi peluang bisnis juga 59:20 nanti insyaallah kita 59:22 buat ee sesuatu yang bernilai dan ee 59:25 berdampak ke diri kita dan keluarga 59:27 kita. Terima kasih, Pak Krisna. 59:29 Mudah-mudahan ee menjadi jariah ilmunya 59:32 dan bermanfaat buat diri kita dan 59:35 keluarga. Terima kasih. 59:36 Oke, terima kasih Bang Habib juga Prof. 59:39 Deden Lesmana atas pengetahuan yang luar 59:41 biasa ya. 59:42 Kembali ke organik. Oke, nanti 59:44 mudah-mudahan ada pelatihan di Rasil 59:46 masih banyak pesertanya nih. 59:48 Sampai jumpa lagi di Kamis keempat eh 59:50 Kamis keempat Kamis pertama di bulan 59:53 November. Oke, saya Muhammad Krishna 59:56 Ondi Saputra dan Algi. Mohon pamit. 59:58 Wabillahi taufik walhidayah. 59:59 Wasalamualaikum warahmatullahi 1:00:00 wabarakatuh.