Oleh : Ustazah Herlini Amran dalam program Fiqih Wanita
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ustazah, saya sudah berusia dewasa. Namun hingga hari ini saya merasa belum mampu membahagiakan kedua orang tua sebagaimana yang saya cita-citakan. Saya belum bisa memberangkatkan mereka umrah atau haji, belum mampu memberikan kecukupan secara materi, dan terkadang justru masih membutuhkan bantuan mereka.
Perasaan bersalah dan gagal sering muncul dalam diri saya. Bagaimana Islam memandang keadaan seperti ini? Apakah seorang anak yang belum mampu membalas jasa orang tuanya karena keterbatasan ekonomi dan kondisi hidup termasuk anak yang tidak berbakti atau bahkan berdosa?
Jawaban
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Banyak anak yang merasa sedih karena belum mampu membahagiakan orang tua secara materi. Mereka ingin memberikan rumah yang layak, memberangkatkan umrah atau haji, atau memenuhi seluruh kebutuhan orang tua. Namun keadaan ekonomi belum memungkinkan.
Dalam Islam, berbakti kepada orang tua tidak hanya diukur dari harta dan materi. Allah menilai ketakwaan, keikhlasan, serta usaha seorang hamba sesuai kemampuannya.
Dalil Al-Qur’an: Berbakti Tidak Hanya Dengan Harta
Allah SWT berfirman:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah engkau membentak mereka, tetapi ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
(QS. Al-Isra’: 23)
Hubungan Ayat dengan Pembahasan
Perhatikan bahwa Allah tidak menyebutkan ukuran bakti dengan kekayaan atau kemampuan finansial. Justru yang pertama kali Allah perintahkan adalah menjaga ucapan, sikap, dan penghormatan kepada orang tua.
Artinya, anak yang belum mampu membantu secara ekonomi tetap dapat menjadi anak yang berbakti apabila ia menjaga adab, menghormati, menyayangi, dan tidak menyakiti hati kedua orang tuanya.
Allah juga berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak membebani seorang anak dengan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Jika saat ini belum mampu membahagiakan orang tua dengan materi karena keterbatasan ekonomi, maka yang dituntut adalah berusaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan yang ada.
Hadits Shahih Tentang Berbakti Kepada Orang Tua
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ
“Aku bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.'”
(HR. Bukhari No. 527 dan Muslim No. 85)
Kandungan Hadits
Hadits ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Bahkan setelah shalat, amalan yang paling dicintai Allah adalah berbakti kepada orang tua.
Perhatikan bahwa Rasulullah ﷺ tidak membatasi bakti hanya dengan pemberian harta. Semua bentuk kebaikan kepada orang tua termasuk dalam birrul walidain, baik berupa perhatian, pelayanan, penghormatan, doa, maupun bantuan sesuai kemampuan.
Jangan Menyakiti Hati Orang Tua
Rasulullah ﷺ bersabda:
رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
“Ridha Allah bergantung pada ridha orang tua dan murka Allah bergantung pada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi No. 1899, dinyatakan hasan shahih)
Kandungan Hadits
Sering kali seorang anak merasa gagal karena belum bisa memberi banyak harta kepada orang tua. Padahal yang lebih penting adalah jangan sampai orang tua tersakiti, terabaikan, atau merasa tidak dihormati.
Ada orang tua yang hidup sederhana tetapi bahagia karena anaknya santun dan penuh perhatian. Sebaliknya, ada orang tua yang berkecukupan secara materi tetapi menderita karena sikap buruk anak-anaknya.
Penjelasan Para Ulama
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa birrul walidain mencakup seluruh bentuk kebaikan kepada orang tua, baik dengan harta, pelayanan, perkataan yang lembut, memenuhi kebutuhan mereka, maupun menjauhi segala hal yang menyakiti hati mereka.
Sedangkan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan bahwa durhaka kepada orang tua tidak hanya berupa penolakan bantuan materi, tetapi juga mencakup perkataan kasar, sikap meremehkan, membentak, atau tindakan yang membuat orang tua tersakiti.
Dengan demikian, ukuran utama bakti bukanlah seberapa banyak harta yang diberikan, melainkan seberapa besar penghormatan, kasih sayang, dan ketaatan yang diberikan kepada kedua orang tua dalam perkara yang ma’ruf.
Kesimpulan
Jika saat ini Anda belum mampu memberangkatkan orang tua umrah atau haji, belum mampu memberikan rumah yang layak, atau belum bisa mencukupi kebutuhan mereka karena keterbatasan ekonomi, maka jangan langsung menganggap diri sebagai anak yang durhaka.
Teruslah berusaha sesuai kemampuan. Jaga ucapan, hormati mereka, bahagiakan hati mereka, luangkan waktu untuk mendengarkan mereka, dan jangan pernah berhenti mendoakan keduanya.
Karena dalam banyak keadaan, senyum tulus, perhatian yang ikhlas, dan bakti yang lahir dari hati justru lebih berharga bagi orang tua daripada harta yang melimpah.
Semoga Allah SWT memberikan keluasan rezeki kepada kita, memudahkan kita membahagiakan orang tua, serta menjadikan kita termasuk anak-anak yang berbakti hingga akhir hayat.
Wallahu a’lam bish-shawab.