Masjid Pantai Bali Jadi Simbol Harmoni dan Wisata Religi di Tengah Keberagaman

Cibubur, Rasilnews – Masjid Pantai Bali terus mengembangkan perannya sebagai pusat ibadah sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat dengan mengedepankan nilai-nilai toleransi, kolaborasi, dan kemanfaatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Upaya tersebut dilakukan di tengah kondisi Bali yang mayoritas penduduknya beragama non-Muslim.

Masjid Pantai Bali yang juga dikenal sebagai Masjid Raudhatul Jannah merupakan kawasan wisata religi terpadu yang berada di pesisir Desa Cupel, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali. Kawasan ini memadukan fungsi tempat ibadah dengan destinasi wisata alam tepi laut serta sarana edukasi manasik haji dan umrah. Pengelolaannya berada di bawah Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN) dan dikembangkan sebagai ikon wisata religi yang mengintegrasikan aspek sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat sekitar.

Ketua Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN) yang juga berperan sebagai Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Pantai Bali, Firmansyah Dimmy (60), mengatakan bahwa tantangan terbesar dalam mengelola masjid di lingkungan yang mayoritas non-Muslim adalah membangun kepercayaan dan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.

Menurutnya, keberhasilan pengembangan Masjid Pantai Bali hingga saat ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Bali, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali, pemerintah daerah, serta tokoh-tokoh masyarakat setempat.

“Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama kami. Konsep masjid yang kami bangun adalah masjid rahmatan lil ‘alamin yang manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat tanpa memandang agama maupun latar belakang,” kata Firmansyah dalam wawancara dengan Radio Silaturahim.

Sebagai kawasan wisata religi, Masjid Pantai Bali memiliki sejumlah daya tarik yang membedakannya dari masjid pada umumnya. Salah satunya adalah fasilitas miniatur Tanah Suci yang digunakan sebagai sarana edukasi manasik haji dan umrah. Di kawasan tersebut terdapat replika Ka’bah, Hajar Aswad, Masjidil Haram, serta area Sa’i antara Shafa dan Marwa yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran ibadah haji.

Selain itu, kawasan masjid berada di tepi pantai dengan panorama laut, hamparan pasir, serta perkebunan kelapa yang menjadi daya tarik wisata alam dan lokasi menikmati pemandangan matahari terbenam. Lingkungan pesisir tersebut menjadikan kawasan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang refleksi yang menyatu dengan keindahan alam Bali.

Kawasan ini juga memiliki dua bangunan masjid, yaitu masjid lama dan masjid baru, yang mencerminkan perjalanan perkembangan dakwah Islam di wilayah pesisir barat Pulau Bali. Keberadaan kedua bangunan tersebut menjadi bagian dari nilai historis kawasan yang terus dikembangkan.

Firmansyah menjelaskan, pendekatan inklusif yang diterapkan pengelola juga terlihat ketika pelaksanaan Hari Raya Idulfitri berdekatan dengan Hari Raya Nyepi di Bali. Pengurus masjid mengimbau seluruh jamaah untuk menghormati masyarakat Hindu yang sedang menjalankan rangkaian ibadah Nyepi.

Hasilnya, pelaksanaan Shalat Idulfitri dapat berlangsung dengan baik tanpa mengganggu pelaksanaan Nyepi. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan dapat berjalan seiring dengan pelaksanaan ibadah umat Islam.

Selain mengembangkan hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar, Masjid Pantai Bali juga berupaya meningkatkan keterlibatan generasi muda melalui berbagai program kepemudaan. Sejumlah kegiatan yang rutin dilaksanakan antara lain pawai obor pada momentum Iduladha, program berbagi takjil selama Ramadan, kegiatan sosial kemasyarakatan, serta berbagai aktivitas yang melibatkan remaja masjid.

Langkah tersebut dilakukan untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap masjid sekaligus menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas positif bagi kalangan muda.

Dalam memperkuat peran sosialnya, pengurus Masjid Pantai Bali juga menjalin kerja sama dengan berbagai tokoh agama dan tokoh masyarakat di Bali. Firmansyah mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan sejumlah tokoh lintas agama guna memperkuat semangat kebersamaan dan toleransi.

Selain itu, pihaknya juga mendapat amanah untuk turut membantu pengembangan Masjid Agung Jembrana. Menurutnya, keberadaan masjid harus mampu memberikan manfaat yang lebih luas, tidak hanya dalam aspek spiritual tetapi juga dalam bidang sosial dan ekonomi masyarakat.

Ke depan, Masjid Pantai Bali mendorong penguatan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat melalui pendekatan kolaborasi pentahelix. Konsep tersebut dinilai penting untuk mendukung pengembangan masjid yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi masyarakat.

Firmansyah menegaskan bahwa masjid tidak boleh hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kegiatan sosial, pelestarian budaya, hingga pengembangan pariwisata yang memberikan manfaat positif bagi masyarakat sekitar.

Ia juga mengajak umat Islam di seluruh Indonesia untuk bersama-sama menghadirkan wajah Islam yang ramah, damai, dan membawa manfaat bagi seluruh umat manusia.

Menurutnya, Masjid Pantai Bali berupaya menampilkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin melalui pendekatan edukasi, ekonomi, ekologi, empati, dan entertainment. Pihaknya juga membuka ruang kolaborasi bagi berbagai kalangan yang ingin berkontribusi melalui dukungan moral, publikasi, keahlian, maupun bentuk bantuan lainnya.

“Melalui kebersamaan dan kolaborasi, kami berharap dapat menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam,” ujar Firmansyah.

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *