PRSSNI Jawa Barat Dorong Radio Bertransformasi Digital untuk Hadapi Perubahan Industri Media

Cibubur, Rasilnews — Pengurus Daerah Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PD PRSSNI) Jawa Barat mendorong percepatan transformasi digital di kalangan radio swasta guna menghadapi perubahan perilaku audiens dan meningkatnya persaingan dengan platform digital. Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), teknologi streaming, pengelolaan data pendengar, hingga pengembangan visual radio dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan industri radio di masa depan.

Hal tersebut disampaikan oleh Suseno Brotokusumo, Data Analyst atau bagian Riset dan Pengembangan (R&D) PD PRSSNI Jawa Barat, dalam Forum Group Discussion (FGD) antara PD PRSSNI Jawa Barat dan Radio Silaturahim (Rasil), Selasa (2/6/2026), di Jakarta.

Dalam paparannya, Suseno menjelaskan bahwa industri radio saat ini menghadapi tantangan besar akibat perubahan pola konsumsi media masyarakat yang semakin bergeser ke platform digital. Menurutnya, radio tidak lagi dapat bergantung sepenuhnya pada siaran terestrial, tetapi harus mulai mengembangkan ekosistem digital yang mampu menjangkau audiens secara lebih luas.

“Radio harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Jika hanya mengandalkan siaran konvensional, tantangan yang dihadapi akan semakin berat dalam beberapa tahun ke depan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah sistem pengelolaan data siaran berbasis metadata yang memungkinkan radio menyediakan bukti siar secara otomatis kepada pengiklan. Sistem tersebut memungkinkan seluruh aktivitas siaran terdokumentasi dan dapat diverifikasi secara akurat sehingga meningkatkan kepercayaan klien terhadap media radio.

Selain itu, Suseno menyoroti pemanfaatan teknologi AI yang semakin luas dalam industri penyiaran. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membuat suara penyiar virtual, memproduksi jingle, hingga membantu berbagai kebutuhan produksi siaran dengan biaya yang lebih efisien.

Menurutnya, perkembangan AI memberikan peluang bagi radio untuk meningkatkan produktivitas tanpa harus menambah beban operasional yang besar. Bahkan, teknologi voice cloning memungkinkan sebuah suara direplikasi dan digunakan untuk berbagai kebutuhan siaran secara otomatis.

Dalam kesempatan tersebut, Suseno juga menekankan pentingnya data pendengar sebagai aset strategis radio di era digital. Melalui layanan streaming, radio dapat memperoleh informasi mengenai jumlah pendengar, durasi mendengarkan, waktu siaran yang paling banyak diakses, hingga pola konsumsi konten secara lebih rinci.

Data tersebut, kata dia, menjadi modal penting bagi radio untuk menyusun strategi program sekaligus meningkatkan daya tarik di hadapan pengiklan.

“Kalau radio mampu mengumpulkan dan mengelola data pendengar dengan baik, maka posisi radio dalam ekosistem media akan semakin kuat,” katanya.

FGD tersebut turut membahas masa depan radio dakwah yang selama ini memiliki basis pendengar loyal, tetapi menghadapi tantangan regenerasi audiens. Menanggapi hal itu, Suseno menyebut radio berbasis komunitas, termasuk radio dakwah, justru merupakan salah satu model penyiaran yang relatif stabil karena memiliki ikatan kuat dengan pendengarnya.

Meski demikian, ia menilai radio dakwah tetap perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar mampu menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan media digital dan konten visual.

Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah visual radio, yakni model siaran yang menggabungkan audio dan tampilan visual melalui platform digital. Dengan konsep tersebut, pendengar tidak hanya dapat menikmati siaran melalui suara, tetapi juga menyaksikan konten pendukung dalam bentuk video atau visual interaktif.

Menurut Suseno, pendekatan tersebut berpotensi memperluas jangkauan audiens sekaligus meningkatkan keterlibatan pendengar, khususnya dari kalangan generasi muda.

Ia memperkirakan bahwa dalam tiga hingga lima tahun mendatang, radio yang hanya mengandalkan siaran terestrial akan menghadapi tekanan yang semakin besar. Sebaliknya, radio yang mampu mengintegrasikan siaran konvensional dengan streaming, media sosial, visual radio, serta pengelolaan data digital berpeluang untuk terus bertahan dan berkembang.

Karena itu, transformasi menuju model penyiaran multiplatform dinilai menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari oleh industri radio nasional.

FGD yang mempertemukan PD PRSSNI Jawa Barat dan Radio Silaturahim tersebut menjadi forum pertukaran gagasan mengenai masa depan industri penyiaran sekaligus upaya memperkuat kolaborasi dalam menghadapi tantangan digitalisasi media di Indonesia.

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *