Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:59 Assalamualaikum warah matullahi 1:00 wabarakatuh. Alhamdulillah rabbil 1:03 alamin. Allahumma sholli ala sayyidina 1:06 Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. 1:09 Dipancar luaskan dari Jalan Masjid 1:12 Silaturahim nomor 36 Kali Manggis 1:15 Cibubur Bekasi. Radio Silaturahim untuk 1:19 Islam yang satu. Ikhwan dan akhwat yang 1:21 dirahmati Allah subhanahu wa taala. 1:24 Bagaimana kabar Anda di malam hari ini? 1:27 Senang sekali kami dapat kembali 1:29 menjumpai Anda dalam program tausiah 1:33 malam 1:34 tadabbur Alquran 1:36 edisi 1:38 Senin 8 Juli 2024 yang juga bertepatan 1:42 di 2 Muharram 1400 1:45 46 Hijriah. 1:47 Tema yang akan 1:49 disampaikan oleh guru kita. 1:51 Alhamdulillah ikhwan dan akhwat beliau 1:54 telah hadir 1:55 melalui sambungan aplikasi Zoom Ustadz 1:57 Doni Amar Sagaf dengan tema Hijrah 2:01 Sejati. Langsung saja Ikhwan dan Akhwat 2:03 kita menyapa guru kita. Assalamualaikum 2:06 warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz. 2:08 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:10 wabarakatuh. 2:11 Sehat ya, Ustadz Doni? 2:13 Alhamdulillah. 2:14 Alhamdulillah. Baiklah Ikhwan dan Akhwat 2:17 yang dirahmati Allah subhanahu wa taala, 2:19 tanpa berpanjang lebar kita akan 2:21 mendengarkan tausiah yang akan 2:23 disampaikan oleh guru kita Ustadz Doni 2:26 Amir Sagaf. Tafadhol, Ustadz. 2:29 Terima kasih 2:30 eh Bagus. 2:32 Eh bismillahirrahmanirrahim. 2:34 Ikhwan Akhwat, Bapak Ibu yang dirahmati 2:36 Allah. 2:37 Assalamualaikum warahmatullahi 2:40 wabarakatuh. 2:42 Alhamdulillah. 2:43 Alhamdulillahilladzi anzala sakinata fi 2:46 qulubil mukminin liyazdadu imanan ma'a 2:50 imanihim. 2:51 Walillahi junudus samawati wal ard. Wa 2:54 kanallahu aliman hakima. 2:57 Assalatu wassalam ala al mab'usi 2:59 rahmatan lil alamin asyraful anbiya'i 3:02 wal mursalin wa'ala alihi wasahbihi 3:05 ajma'in amma ba'd. 3:07 Fayaqulullah taala fi kitabihil karim 3:10 auzubillahiminasyaitanirrajim. 3:12 Bismillahirrahmanirrahim. 3:15 Waminannasi mayyasyri nafsahu ibtigha'a 3:18 mardatillah. Wallahu ra'ufun bil ibad. 3:22 Sadaqallahul azim. Wasadaqa rasuluhu 3:25 nabiyul karim. Wana ala dzalika minasy 3:27 syahidin was syakirin amma ba'd. 3:31 Ikhwan Akhwat para pemirsa 3:34 Rasyid TV 3:35 demikian pula para pendengar Radio 3:37 Rasyid di manapun berada malam hari ini, 3:40 alhamdulillah 3:42 segala puji kita sampaikan 3:44 kita ikrarkan selalu menjadi milik Allah 3:48 subhanahu wa taala hanya kepada Allah 3:51 kita memuji 3:52 atas semua yang telah Allah berikan 3:55 kepada kita baik yang sudah mampu kita 3:57 pahami maupun yang belum mampu kita 4:00 pahami. 4:02 Ialah yang memberikan kepada kita 4:05 kehidupan yang sedang kita jalani saat 4:07 ini 4:08 dan dia pulalah yang menjanjikan kepada 4:10 kita satu hal yang pasti yakni kehidupan 4:14 setelah kehidupan yang sekarang ini 4:17 sehingga kita berusaha berdoa semoga 4:20 kita dapat memasuki kehidupan yang baru 4:23 nanti itu dalam keadaan yang terbaik 4:26 atau dalam bahasa lainnya adalah husnul 4:28 khotimah insya Allah bi iznillah. 4:31 Selawat dan salam mari senantiasa kita 4:33 sampaikan kita curahkan kepada Baginda 4:36 Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi 4:38 wasallam. Demikian pula kepada seluruh 4:40 keluarga dan sahabat-sahabat beliau kita 4:43 berusaha kita berdoa agar kita 4:46 betul-betul dapat istikamah dalam 4:49 belajar kemudian juga mengamalkan dan 4:52 mendakwahkan nilai-nilai yang beliau 4:54 sallallahu alaihi wasallam telah ajarkan 4:57 untuk hidup kita di atas dunia ini. 5:00 Ikhwan akhwat Bapak Ibu yang dirahmati 5:02 Allah para pemirsa Rasya TV para 5:05 pendengar Radio Silaturahim di manapun 5:07 berada 5:08 pada kesempatan malam hari ini 5:10 kita lompat sejenak dari tema kita yang 5:15 berturut-turut kita bahas yakni mengenai 5:17 qaulan atau petunjuk Allah tentang 5:19 bagaimana berkomunikasi berkata-kata di 5:22 dalam Alquran khusus edisi hari ini 5:25 di awal bulan Muharram di awal tahun 5:27 yang ke 5:29 1446 Hijriah ini kita ingin mentadaburi 5:32 Alquran ayat Allah subhanahu wa taala 5:34 wabil khusus tadi yang saya bacakan di 5:36 awal yakni surat Al Baqarah ayat ke 207 5:41 ya kita akan membahas insya Allah 5:42 bagaimana hijrah yang sejati agar kita 5:46 tahu eee semangat hijrah yang seperti 5:50 apa yang harusnya kita persiapkan atau 5:53 kita kita punya atau kita miliki dalam 5:56 eee menyongsong tahun yang baru 1446 5:59 Hijriah ini. 6:01 Saya mohon izin men-share screen di 6:02 layar eee Bapak Ibu di Rasil TV. 6:05 Mudah-mudahan bisa disaksikan, bisa 6:07 dilihat tanpa kendala. 6:11 Hijrah sejati, ya. Kenapa ada sejatinya? 6:14 Karena boleh jadi ada hijrah-hijrah yang 6:17 tidak sejati. Karena kalimat hijrah itu 6:20 sudah memang terlanjur eee menjadi 6:24 apa kosakata 6:26 yang akrab dalam bahasa Indonesia. 6:29 Eee jadi 6:30 memang penting ini untuk kita 6:32 menjelaskan kosakata-kosakata 6:35 yang berasal dari Alquran. Karena kalau 6:38 sudah disadur dalam bahasa Indonesia 6:41 tidak mungkin eee 6:44 utuh maknanya. Sangat eee sering sekali 6:48 akan terkurangi maknanya. Banyak 6:50 kata-kata yang da- dari berasal dari 6:52 bahasa Arab, bahasa Alquran, kemudian 6:55 dipakai dalam bahasa Indonesia. Syukur, 6:57 sabar, ikhlas, eee iman, gitu ya. Itu 7:01 semua dari bahasa Arab, dari bahasa 7:03 Alquran. Demikian pula kata-kata hijrah. 7:06 Yang kita sudah sering paham dalam dalam 7:09 terminologi Indonesia, hijrah itu adalah 7:12 pindah. 7:14 Tapi apakah begitu maksud yang 7:15 sesungguhnya? Tentu saja tidak 7:17 sesederhana itu. Bapak Ibu yang 7:19 dirahmati Allah. Karena dalam Alquran 7:21 nanti kita akan temukan eee kata 7:25 kosakata itu, itu terjelaskan 7:28 berdasarkan petunjuk Allah. Dan demikian 7:31 pula kisah-kisah yang membangunnya di 7:34 dalam Alquran. 7:36 Nah, demikianlah kata hijrah ini. 7:39 Maka itu, kalau kita ingin memahami 7:41 hijrah yang sejati, 7:43 hijrah yang sesungguhnya, maka 7:46 tidak ada lain kita harus berbicara 7:48 tentang satu sosok 7:51 yang hijrahnya itu, pindahnya beliau 7:54 itu, ya, berangkatnya beliau dari Mekah 7:57 ke Madinah ini 7:58 sangat luar biasa. 8:00 Sampai-sampai turun ayat Alquran 8:04 yang eh latar belakang turunnya itu 8:07 adalah perjalanan hijrahnya seorang 8:09 sahabat ini, ya, sahabat yang luar 8:11 biasa. 8:13 Ya, 8:14 eh bahkan beliau ini bisa kata kita 8:17 katakan adalah orang yang terakhir 8:19 hijrah, maksudnya yang terakhir dari eh 8:22 semua sahabat termasuk Nabi Muhammad 8:24 sallallahu alaihi wasallam sudah 8:25 berangkat duluan eh bersama dengan 8:28 Sayyidina Abu Bakar, beliaulah yang 8:29 terakhir. Namanya Suhaib Ibnu Sinan 8:32 Ar-Rumi radhiallahu anhu. 8:35 Menarik sekali perjalanan hijrahnya 8:37 beliau ini, 8:39 sahabat yang mungkin jarang kita dengar 8:41 namanya, tapi sebetulnya amat populer 8:44 juga di tengah-tengah di kalangan para 8:46 sahabat. Karena beliau ini sebetulnya 8:50 pernah menjabat sebagai khalifah juga, 8:52 walaupun hanya pelaksana tugas. 8:55 Ya, jadi dari 8:57 eh Sayyidina Umar Ib- eh Ib- Ibnu 9:00 Khattab radhiallahu anhu 9:02 ketika beliau membentuk ahlul halli wal 9:04 aqdi namanya, 9:06 sekelompok para sahabat yang akan 9:08 merumuskan, yang akan bermusyawarah 9:12 menunjuk siapa pengganti Sayyidina Umar 9:14 ketika itu beliau eh di apa di bacok 9:18 gitu, ya, 9:20 dalam kondisi yang 9:21 eh sudah sekarat gitu, sudah apa artinya 9:24 dalam kondisi yang eh tidak sehat lagi, 9:27 ya, kemudian beliau menunjuk eh namanya 9:30 ahlul halli wal aqdi, eh sahabat-sahabat 9:33 senior yang kemudian memilih siapa yang 9:36 akan melanjutkan 9:38 ee estafeta kekhalifahan. 9:41 Nah, di tengah-tengah para sahabat itu 9:43 salah satunya adalah 9:44 ee sahabat Suhaib Ibnu Sinan Ar-Rumi 9:47 radhiallahu anhu. Bahkan beliaulah yang 9:50 menjadi ee caretaker atau pelaksana 9:53 tugas seperti itu ee yang memimpin kaum 9:56 muslimin ya, selama masa kosongnya 9:59 kekuasaan sampai kemudian ee terpilih 10:02 dan diangkat menjadi khalifah yakni 10:05 seperti yang kita tahu Sayyidina Utsman 10:07 Ibnu Affan radhiallahu anhu. Nah, jadi 10:10 sebetulnya ee kalau kita 10:13 dalam perjalanan ee misalkan Presiden 10:16 Indonesia kita menghitung Presiden B.J. 10:19 Habibie sebagai presiden ya, karena 10:21 beliau caretaker gitu ya, maka harusnya 10:24 juga kita menghitung Sayyidina Suhaib 10:26 Ibnu Sinan Ar-Rumi radhiallahu anhu 10:28 sebagai juga khalifah walaupun hanya 10:31 waktunya sebentar. 10:33 Nah, yang lebih luar biasa lagi dari 10:35 beliau ini adalah perjalanan hijrahnya. 10:37 Artinya perjalanan pindahnya beliau, 10:39 keluarnya dari Mekah menuju Madinah 10:42 gitu. Kenapa? Karena nanti ee terdapat 10:45 Bapak Ibu yang dirahmati Allah surat 10:48 kedua Al-Baqarah ayat 207 yang menjadi 10:52 asbabun nuzulnya adalah peristiwa 10:54 hijrahnya Suhaib Ibnu Sinan radhiallahu 10:57 anhu. Nah, ini di layar Hasil TV saya 10:59 tampilkan beberapa riwayat yang 11:01 menjelaskan tentang hal itu ya. Antara 11:04 lain sebagaimana yang diriwayatkan oleh 11:07 Al-Hakim dari Hammad 11:08 ee bin Salamah dari ee 11:12 Tsabit ya, yang bersumber dari Anas 11:15 ee bin Malik ya, dalam hadis ini 11:17 dijelaskan turunnya ee ayat tentang ee 11:22 apa hijrah tadi itu. Nah, sumbernya 11:24 bersumber dari Abi Dzar dari Jundub Ibnu 11:27 Sakan dan keluarga Abi Dzar. 11:30 Yakni menceritakan bahwa 11:32 ketika Suhaib 11:33 maksudnya Suhaib Ibnu Sinan hijrah ke 11:36 Madinah mengikuti Nabi Shallallahu 11:37 Alaihi Wasallam beliau ini atau Suhaib 11:40 Ibnu Sinan ini dikejar oleh sepasukan 11:42 kaum Quraisy nah jadi beliau ini belum 11:45 berhasil keluar badannya itu belum 11:48 berhasil keluar dari perbatasan Mekah 11:50 itu ya 11:52 yang menarik nanti kita akan belajar 11:54 dari sini ya bahwa hijrah itu ternyata 11:57 bukan fisik ya tapi seperti Suhaib Ibnu 12:01 Sinan ini fisiknya belum berhasil keluar 12:04 belum berhasil melangkahkan kaki keluar 12:06 dari perbatasan Mekah nah karena beliau 12:09 dikejar oleh ee sepasukan orang-orang 12:13 kaum Quraisy yang memang ee menjaga 12:16 jangan sampai Suhaib ini keluar dari 12:18 Mekah menuju Madinah 12:19 ya menyusul Rasulullah dan para sahabat 12:22 ya kenapa demikian karena Suhaib ini 12:24 termasuk orang terkaya nomor tiga 12:27 kira-kira ya atau nomor dua begitu jadi 12:31 dari ee mungkin lima orang terkaya di 12:34 Mekah beliau Suhaib Ibnu Sinan ini 12:36 adalah salah satunya nah jadi 12:39 ee punya kekayaan yang luar biasa 12:43 punya ee 12:47 apa namanya ya kehormatan yang luar 12:49 biasa di tengah-tengah orang ee Mekah 12:52 ketika itu maka betul-betul beliau ini 12:54 dijaga jangan sampai keluar ee 12:57 meninggalkan Mekah karena itu dampaknya 12:59 juga ee sangat banyak baik dari segi 13:02 ekonomi maupun dari segi ee 13:05 apa yang lainnya nah dikejarlah beliau 13:08 ini belum sempat keluar dari perbatasan 13:11 Kota Mekah lalu dalam riwayat itu 13:14 ee beliau Suhaib Ibnu Sinan dijelaskan 13:17 beliau turun dari dari kudanya kemudian 13:21 dengan panah yang sudah siap di 13:23 tangannya beliau berkata atau bicara 13:26 kepada orang-orang ee Quraisy yang 13:28 mengejar beliau. 13:30 Kira-kira kalimatnya begini. Beliau 13:32 mengatakan, "Wahai orang-orang 13:36 Quraisy, kalian semua tahu bahwa saya 13:39 adalah seorang pemanah yang sangat 13:41 ulung, 13:42 yang sangat pandai." 13:44 Kata beliau begitu. 13:47 "Maka demi Allah, 13:49 kalian tidak akan selamat dari saya, 13:51 dari panah saya ini." Kata kata Saidina 13:55 Suhaib. 13:55 "Kalau kita harus bertempur di sini, 13:57 maka kalian tidak akan selamat dari 13:59 panah dan pedang saya yang ada di yang 14:01 ada di saya ini." Kata 14:03 Saidina Suhaib. 14:05 "Nah, sekarang kalian pilih." 14:08 Kata Saidina Suhaib memberi ultimatum 14:10 dia kepada orang-orang 14:12 kafir Quraisy yang mengejar beliau. 14:14 "Sekarang kalian pilih. 14:16 Kalian mau mati terbunuh, 14:18 kita sama-sama saling bunuh di sini dan 14:21 dan saya jamin kalian tidak akan tidak 14:24 akan apa tidak akan lolos." Kata Saidina 14:27 Suhaib begitu. "Atau 14:30 atau pilihannya kalian boleh ambil semua 14:34 harta benda, uang, emas yang sudah saya 14:37 kumpulkan, saya akan beritahukan 14:39 kira-kira tempatnya di mana. 14:41 Nah, dan kalian lepaskan saya, saya 14:45 ingin hijrah menuju Rasulullah 14:47 Shallallahu Alaihi Wasallam ke Yatsrib 14:49 atau yang sekarang kita kenal dengan 14:50 Madinah." 14:53 Tentu saja hadirin, jemaah sekalian, 14:56 ikhwan akhwat serta Bapak Ibu yang 14:59 dirahmati Allah di manapun berada, tentu 15:01 saja 15:03 orang-orang kafir Quraisy memilih 15:05 mendapatkan harta Saidina Suhaib. Karena 15:09 apa? Karena mereka tahu Saidina Suhaib 15:12 ini orang kaya. Orang kaya kedua atau 15:15 ketiga di sana tuh di Mekah itu ketika 15:17 itu. Ya, tentu mereka senang sekali 15:20 mendapatkan apa yang eee, apa dikatakan 15:23 oleh Sayyidina Shuhaib. 15:24 Nah, 15:25 saya, akhirnya oleh Sayyidina Shuhaib 15:27 dijelaskan di mana tempat beliau 15:29 menyembunyikan harta kekayaannya, 15:31 diberikan juga kunci-kuncinya dan lain 15:33 sebagainya, aksesnya, silakan ambil saja 15:36 semuanya. Saya kepingin hijrah kepada 15:39 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. 15:42 Bapak Ibu yang dirahmati Allah, Ikhwan 15:44 Akhwat sekalian, para pendengar Radio 15:46 Rasya serta pemirsa Rasya TV di manapun 15:48 berada, kita patut merenungkan sejenak 15:51 ini. 15:52 Nah, kemudian 15:54 eee, kita kita merenungkan, kok 15:56 bisa-bisanya seorang pebisnis 15:59 ulung, ya, 16:01 ya, tentu saja menjadi orang kaya nomor 16:04 dua atau nomor tiga di Mekah itu tidak 16:06 mudah tentu saja. 16:08 Ya, jadi kalau kita bayangkan sekarang, 16:09 bayangkanlah orang terkaya di Indonesia 16:11 nomor dua, nah, kira-kira begitu. Tentu 16:14 dia adalah seorang pebisnis ulung, 16:17 seseorang yang terbiasa melihat peluang, 16:20 seseorang yang terbiasa mengkalkulasi, 16:22 menghitung, 16:23 gitu ya. 16:24 Nah, tapi kita kita harus merenungkan, 16:27 beliau Sayyidina Shuhaib ini sebetulnya 16:30 bisa saja kalau ingin membuat negosiasi 16:33 dengan orang-orang kafir Quraisy. 16:35 Misalkan negosiasinya, "Kalian boleh 16:37 ambil setengah harta saya." Itu pun 16:39 sudah banyak karena beliau ini orang 16:42 kedua terkaya di Mekah atau ketiga lah, 16:44 kira-kira begitu, Bapak Ibu. 16:47 Itu kan, eee, jadi bisa saja dibuat 16:50 negosiasi sedemikian rupa kalau kalau 16:52 berpikir cara berpikirnya begitu. Tapi 16:55 oleh beliau dikasih semuanya, 16:57 nah, apa yang yang sudah eee, beliau 16:59 cari sedemikian rupa itu dikasih 17:01 semuanya tanpa pikir panjang, bukan 17:04 karena beliau tidak mampu, bukan karena 17:06 beliau takut gitu ya, tapi justru eee, 17:10 ada sesuatu yang penting untuk kita 17:11 renungi di sini, Bapak Ibu. 17:13 Nah, 17:15 kemudian 17:16 Sayyidina Shuhaib pergi 17:18 dengan gembira menuju Yatsrib, harta 17:21 kekayaan yang beliau kumpulkan itu sudah 17:23 diberikan semuanya kepada orang-orang 17:25 kafir Quraisy, orang-orang kafir Quraisy 17:27 pun gembira senang karena mendapatkan 17:29 harta. 17:30 Di sini kita lihat perbedaannya. 17:33 Lalu sesampainya di Madinah, beliau 17:35 ceritakan peristiwa yang terjadi ini 17:37 kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, 17:39 lalu turunlah ayat ke-207 17:43 dari surat Al-Baqarah. 17:45 Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi 17:47 Wasallam setelah turunnya ayat 207 dari 17:49 surat Al-Baqarah itu, kemudian memanggil 17:52 Sayyidina Suhaib dan mengatakan kepada 17:54 beliau, "Rabihal bai'i ya Suhaib, 17:56 rabihal bai'i ya Aba Yahya." 17:59 Sangat beruntung engkau perdaganganmu 18:01 wahai Suhaib, sangat beruntung 18:03 perdaganganmu wahai Abu Yahya. Maksudnya 18:06 Sayyidina Suhaib. 18:08 Eh, Bapak Ibu yang dirahmati Allah. 18:10 Kalau kita perhatikan ayatnya, ya. Ayat 18:13 ke-207 dari surat Al-Baqarah ini luar 18:16 biasa. Kalimatnya begini. 18:19 Waminannasi dan di antara manusia 18:23 mayyasyri, nah yasyri itu 18:27 eh, kalau diterjemahan diartikan 18:29 mengorbankan dan di antara manusia ada 18:32 yang mengorbankan dirinya untuk mencari 18:35 ridho Allah, waminannasi mayyasyri 18:37 nafsahu tibaa mardhotillah, wallahu 18:40 raufun bil ibad dan Allah Maha penyantun 18:42 kepada hamba-hambanya. Tapi sebetulnya 18:45 yang yang benar, arti yang benar, ya, 18:48 secara lughah, secara bahasa 18:51 syari' atau syara', ya, itu artinya 18:54 menjual. 18:56 Nah, jadi sebetulnya yang cocok itu 18:58 kalimatnya dan di antara manusia ada 19:01 orang-orang yang menjual dirinya 19:04 untuk mencari keridhoan Allah Subhanahu 19:07 Wa Ta'ala. 19:08 Nah, simbol itu terjadi kepada Sayyidina 19:12 Suhaib ketika beliau meluap 19:15 melepaskan memberikan semua harta 19:18 kekayaan yang pernah beliau miliki yang 19:20 sudah beliau kumpulkan selama ini demi 19:22 bisa mencari ridho Allah Subhanahu Wa 19:25 Ta'ala. 19:27 Waminannasi mayyasyri nafsahut 19:28 tiqwaamardatillah. Syaaro yasyri artinya 19:32 menjual. 19:33 Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam 19:34 pun ketika turunnya ayat ini mengatakan 19:37 kepada Sayyidina Suhaib robihal bai'i 19:40 sungguh beruntung bai'i jual beli 19:44 perdaganganmu wahai Aba Yahya atau wahai 19:48 Suhaib. 19:49 Kenapa demikian Bapak Ibu yang dirahmati 19:51 Allah? Karena ada kalimat tadi 19:54 waminannasi mayyasyri nafsahut 19:56 tiqwaamardatillah. 19:58 Nah 19:59 ini menunjukkan kepada kita pelajaran 20:01 yang berlapis-lapis Bapak Ibu yang 20:03 dirahmati Allah. Besar, luas, luas 20:06 sekali pelajarannya ini. 20:07 Dan amat luar biasa. 20:09 Antara lain 20:11 yang pertama Sayyidina Suhaib ini belum 20:14 belum hijrah kakinya 20:16 fisiknya itu belum keluar dari Mekkah. 20:19 Tapi kemudian hijrahnya itu ketika 20:22 terjadi pengorbanan yang beliau berikan 20:24 itu sudah tercatat oleh Allah Subhanahu 20:27 Wa Ta'ala. Maka turun ayat yang 20:29 menceritakan tentang bagaimana beliau 20:31 mengorbankan apa yang beliau miliki itu 20:33 tadi. 20:35 Jadi hijrah itu bukan hanya fisik. 20:39 Seperti Sayyidina Suhaib fisiknya belum 20:41 keluar dari Mekkah. 20:43 Kadang-kadang orang hijrah itu dilihat 20:45 dari misalkan tadinya tidak berjenggot 20:47 sekarang berjenggot misalkan begitu. Ah 20:49 itu bagus juga. Karena itu sunnah kan 20:53 jenggot ada jenggotnya tapi bukan itu 20:55 yang utama. 20:57 Yang utama apa? Yang utama adalah 20:59 bagaimana cara berpikirnya dia. 21:02 Sayyidina Suhaib sudah menghijrahkan 21:03 cara berpikirnya. 21:06 Orang-orang Mekkah, orang-orang Quraisy 21:08 gembira mendapatkan harta kekayaan 21:10 Sayyidina Suhaib. Padahal beliau, 21:12 Sayyidina Suhaib ini gembira menyerahkan 21:15 harta kekayaannya dan beliau pun gembira 21:18 tidak punya apa-apa lagi asal bisa 21:20 hijrah bersama Rasulullah sallallahu 21:22 alaihi wasallam. 21:24 Beliau bukan orang bodoh. Beliau orang 21:26 yang cermat. 21:27 Orang yang akurat, seorang pebisnis 21:30 ulung, seseorang yang sangat unggul, 21:32 Bapak Ibu yang dirahmati Allah. Bukan 21:34 orang bodoh. 21:36 Eee, tapi beliau tahu betul mana yang 21:39 sebetulnya menguntungkan, ya itu ya. 21:43 Maka kalimatnya jual beli. 21:45 Mana yang sesungguhnya menguntungkan, 21:48 mana yang sesungguhnya tujuan sejati, 21:50 mana yang sebetulnya hanya kamuflase 21:53 atau tipuan belaka. 21:57 Inilah hijrah yang sebenarnya. 21:59 Inilah hakikat sejatinya hijrah itu. 22:02 Ketika kita bisa memahami mana yang 22:04 sebetulnya menguntungkan, mana yang 22:06 tidak. 22:09 Gitu. 22:10 Nah. 22:12 Jadi maksud saya 22:14 dari pelajaran Sayyidina Suhaib ini, 22:16 Bapak Ibu yang dirahmati Allah, 22:19 hijrah itu bukan hanya fisik. 22:22 Bukan yang tadinya enggak pakai baju 22:24 koko, sekarang pakai baju koko, pakai 22:26 jubah, bukan. Itu bagus tentu saja. 22:29 Ya, sebagai tambahan, sebagai bagus. 22:32 Tapi bukan itu yang sejatinya. 22:35 Eee, kalau berjubah, kalau dia 22:38 berjenggot, berpeci gitu ya, kemudian 22:41 juga mungkin dahinya hitam, tapi cara 22:43 berpikirnya adalah duniawi, 22:46 menginginkan sesuatu untuk dirinya, 22:49 egonya, individunya, maka dia belum 22:52 berhijrah ke mana-mana. 22:55 Belum keluar. 22:58 Ya, belum berhijrah. 22:59 Karena fisik Sayyidina Suhaib belum 23:01 belum sempat keluar dari Mekah. Tapi 23:04 mindset-nya sudah berhijrah, Allah 23:06 approve, Allah setujui hijrahnya itu. 23:09 Allah banggakan bahkan. Ya, sehingga 23:11 turun ayat 207 ini dengan latar belakang 23:15 ee 23:15 hijrahnya Sayyidina Suhaib tadi itu, 23:17 Bapak Ibu. 23:19 Dirahmati Allah. 23:20 Ya, jadi penting bagi kita mempelajari 23:23 ini. 23:24 Ya, bagaimana hijrah yang sejati itu. 23:27 Nah. 23:28 Bapak Ibu yang dirahmati Allah, apa yang 23:30 saya maksud ini? 23:32 Yang saya maksud begini. 23:35 Nah. 23:37 Kita, Bapak Ibu yang dirahmati Allah, 23:40 itu tadi Sayyidina Suhaib ya, dalam 23:42 perjalanannya sudah memberikan pelajaran 23:44 kepada kita. Terus bagaimana sekarang 23:45 dalam kehidupan kita sehari-hari ini ya. 23:48 Bapak Ibu, 23:50 ikhwan akhwat sekalian yang dirahmati 23:51 Allah, para pemirsa Rasio TV, para 23:53 pendengar Radio Rasio di manapun berada, 23:56 kita itu punya satu kecerdasan paling 24:00 tua. Ada satu kecerdasan paling tua yang 24:03 kita miliki. 24:05 Yang inilah harus kita hijrahkan dia 24:08 ini. 24:09 Apa dia? Namanya adalah mirror neurons. 24:13 Nah, apa mirror neuron itu secara 24:15 sederhana ya, saya saya jelaskan. 24:18 Bapak Ibu yang dirahmati Allah, semua 24:20 anak 24:22 kecil, anak bayi, termasuk kita ini. 24:25 Nah, ini nanti kita mudah-mudahan saya 24:28 cukup bisa menjelaskan bagaimana 24:30 harusnya kita menghijrahkan mindset 24:32 pikiran kita ini. 24:34 Ya, jadi semua anak bayi, 24:36 termasuk kita dulu saat bayi, ketika 24:39 kita dilahirkan, kita belum bisa 24:41 berjalan, kita belum bisa bicara, tapi 24:45 ada satu kecerdasan kita yang sudah 24:47 mulai aktif. 24:49 Namanya mirror neuron. 24:51 Apa mirror neuron itu? Mirror itu 24:53 artinya cermin. 24:55 Ya, jadi 24:56 anak bayi, ketika dia sudah bisa 24:58 melihat, suaranya sudah bisa dia dengar, 25:01 suara kalau suara sudah bisa didengar 25:02 dari ee apa dari ee ketika dia berada 25:06 dalam kandungan. Nah, ketika matanya 25:08 sudah bisa melihat, suaranya sudah bisa 25:09 mendengar 25:11 dia sudah bisa menangkap 25:14 respon 25:15 emosional dari orang yang ada yang ada 25:19 di hadapannya. 25:20 Jadi dia sudah bisa menangkap, sudah 25:22 bisa sudah bisa menyimpan 25:25 memori tentang bagaimana ee orang-orang 25:29 dewasa di sekitarnya. Nah, ini disebut 25:32 juga the science of peekaboo atau ee apa 25:37 cilukba. Ee kenapa anak kecil cilukba 25:40 itu senang gitu ya? Karena orang yang 25:44 main cilukba sama dia sama anak kecil 25:47 itu mukanya itu harus gembira. Cilukba 25:50 gitu kan ya. Pakai ada kata yang ba 25:52 gitu. Coba kalau ka kalau mukanya datar, 25:56 cilukba misalkan gitu ya. Datar mukanya 25:59 gitu. Enggak ada enggak ada orang dewasa 26:00 ini cilukba cilukba juga tapi enggak ada 26:03 enggak ada ekspresi gembira. Maka anak 26:06 ini pun enggak akan ketawa. 26:09 Enggak akan gembira dia. 26:10 Karena dia belum mengerti ee konsepnya. 26:13 Yang dia yang dia tangkap adalah dengan 26:16 kecerdasannya itu yang baru dia miliki 26:19 itu adalah ekspresi. 26:22 Ekspresi yang diberikan oleh orang 26:25 dewasa. 26:26 Demikian pula kita tahu anak itu kalau 26:29 mulai berjalan 26:30 ya si dia sudah sudah menangkap ekspresi 26:33 orang sekitar dia. Oh, ekspresi senang 26:35 begini. Oh, ini ekspresi yang mungkin ee 26:38 golongan ekspresi yang apa gitu 26:40 misalkan. Nah, jadi ketika dia mulai 26:43 berjalan terus dia terjatuh untuk 26:45 pertama kalinya, terjatuh untuk pertama 26:48 kalinya. Ya, pertama kali berjalan, 26:50 pertama kali terjatuh gitu ya. 26:52 Dia biasanya akan melihat orang dewasa 26:55 di sekelilingnya sebelum menangis. 26:59 Biasanya dia akan melihat reaksi, 27:02 ekspresi wajah, ekspresi muka dari 27:06 orang-orang dewasa di sekitar dia. 27:09 Dan itulah yang akan masuk jadi 27:10 pelajaran pertama dan akan selalu 27:13 tertanam di kepala dia. 27:15 Bagaimana ekspresi yang diberikan 27:18 orang-orang di sekitarnya. 27:19 Kalau ekspresi yang disampaikan 27:21 orang-orang di sekitarnya adalah 27:23 ekspresi rasa cemas, khawatir, takut. 27:26 Seperti juga ekspresi yang selama ini 27:28 dia pelajari, si anak pelajari walaupun 27:30 dia tidak belum bisa berjalan, gitu ya. 27:31 Tapi dia melihat, merekam gitu ekspresi. 27:35 Hah, kamu enggak apa-apa? Misalkan gitu 27:36 ya, jatuh gitu. 27:38 Aduh, kamu kenapa kenapa kenapa? Jatuh 27:40 ya, nah. 27:41 Maka di situlah dia tahu bahwa ini 27:43 adalah sesuatu 27:44 eh peristiwa yang tidak mengenakkan. 27:48 Maka lahirlah tangis dia itu. 27:51 Tapi kalau orang dewasa di sekitarnya 27:53 bisa memberikan ekspresi yang tepat. 27:58 Tidak khawatir, misalkan. 28:00 Ayo, bisa bangun lagi. 28:02 Enggak apa-apa, ada Mama di sini, 28:04 misalkan atau ada Ayah di sini. 28:06 Eh, semua orang akan jatuh untuk pertama 28:08 kalinya, misalkan begitu ya. Kepada anak 28:10 ini disampaikan. Dengan tenang gitu ya, 28:13 tanpa ekspresi khawatir, takut ya. 28:16 Maka si anak pun tidak akan menangis. 28:20 Karena di situ dia diajari bahwa 28:21 peristiwa itu adalah peristiwa yang 28:23 lumrah, biasa terjadi, enggak apa-apa. 28:26 Ya. 28:27 Hadirin yang dirahmati Allah. 28:29 Nah, tidak boleh juga kemudian ayo ayo, 28:31 anak Mama enggak nangis, anak Mama 28:32 enggak nangis, anak Mama hebat, anak 28:34 Mama kuat, enggak boleh juga tuh. 28:36 Kenapa? Karena itu artinya eh memberikan 28:39 pelajaran kepada anak kalau hebat tidak 28:42 boleh menangis, kalau hebat tidak boleh 28:44 mengungkapkan ke apa namanya, kegagalan. 28:47 Kalau hebat tidak boleh ee terjatuh. 28:51 Gitu. Dan itu berbahaya sekali. 28:53 Nah, jadi yang tengah-tengah itu tadi, 28:55 Bapak Ibu yang dirahmati Allah. Nah. 28:59 Saya jelaskan ini agar kita paham bahwa 29:02 kecerdasan itu sudah kita miliki dulu 29:04 sebelum kita bisa berjalan dan sebelum 29:06 kita bisa bicara. 29:08 Belum bisa ngomong, belum bisa jalan, 29:10 tapi kecerdasan menangkap ekspresi wajah 29:13 orang-orang di sekitar kita 29:15 serta apa yang dia maksudkan, gitu 29:17 kira-kira ya, itu sudah kita miliki. 29:21 Kecerdasan paling tua, namanya mirror 29:23 neuron. 29:24 Nah. 29:26 Terus mirror neuron itu berkembang 29:29 tidak berhenti sampai hari ini pun masih 29:31 ada, Bapak Ibu yang dirahmati Allah. 29:33 Nah, mirror neuron itulah yang menjadi 29:37 satu referensi 29:39 di dalam cara kita berpikir, referensi 29:41 utama karena selama ini dialah yang 29:44 paling tua. 29:46 Mirror neuron. Maka itu seorang peneliti 29:48 di Jepang, namanya Nobuyori Oshima, 29:51 menuliskan satu buku yang amat bagus 29:53 kalau Bapak Ibu berkenan membacanya, 29:55 bagus sekali. Judulnya Mirror Neurons 29:58 Will Save Your Life. 30:01 Ee Mirror Neuron akan menyelamatkan 30:03 hidup Anda. How to stop being controlled 30:06 by other people. Bagaimana caranya ber 30:09 ee 30:10 berhenti untuk dikendalikan oleh orang 30:12 lain. Nah, itu. 30:14 Luar biasa. 30:16 Ya, mirror neuron itu diciptakan Allah 30:19 itu awalnya agar atau ee tujuan aslinya 30:22 adalah agar kita bisa berempati. 30:25 Agar kita bisa belajar untuk berempati 30:28 tentang kesulitan orang lain, tentang 30:29 dan lain sebagainya. Tapi karena banyak 30:33 orang dewasa di sekitar anak kecil yang 30:35 tidak mengerti, yang tidak bertanggung 30:37 jawab, yang ingin me menumpahkan 30:41 ekspresinya sesuka-sukanya 30:43 gitu, dengan dalih mungkin dia saya ini 30:46 ekspresif, saya harus ekspresikan dan 30:49 lain sebagainya, tapi yang dia 30:51 ekspresikan adalah sesuatu yang 30:53 salah 30:55 maka anak pun akan menangkapnya dengan 30:56 keliru. Bapak Ibu yang dirahmati Allah, 30:59 berujung pada apa? Berujung pada ketika 31:02 seseorang sudah dewasa, maaf ini saya 31:04 tampilkan gambar karena tidak ada gambar 31:07 yang lain, mungkin gambarnya anu, ini 31:09 ini penting untuk di untuk menjelaskan 31:14 bagaimana kita itu terbelenggu 31:17 sebagai manusia kita terbelenggu atas ee 31:21 apa 31:23 validasi, nah itu dia namanya, validasi 31:27 yang ingin kita capai, Bapak Ibu yang 31:30 dirahmati Allah, dari orang lain di 31:32 sekitar kita. 31:34 Validasi, 31:36 nah ini ada saya punya simulasinya ini 31:38 di di layar ya. Jadi ini ada seorang 31:41 manusia 31:42 ee 31:44 validasi ya, melakukan atau sesuatu 31:48 melakukan sesuatu atau menjadi sesuatu 31:50 ya itu 31:54 apa namanya 31:56 ee alat memvalidasinya biasanya selama 31:59 ini yang diajarkan ya atau yang yang ada 32:02 di benak kita adalah 32:04 ee 32:05 cocok enggak dengan society, dengan 32:08 dengan orang-orang gitu kira-kira begitu 32:10 ya. Buktinya apa? Buktinya orang akan 32:13 bangga kalau misalkan anaknya atau 32:16 dirinya lulus dari misalkan universitas 32:19 ternama 32:21 kemana-mana dia akan banggakan ya, kalau 32:24 dia punya anak dua, tiga misalkan, yang 32:27 satunya lulus universitas ternama, uh 32:29 pasti kemana-mana dia cerita itu. Tapi 32:31 kalau yang satu universitas tidak 32:33 ternama, dia tidak akan cerita 32:36 gitu. Itu artinya apa? Dia kepingin 32:38 mendapatkan validasi dari manusia di 32:42 sekitarnya dia, bahwa dia adalah orang 32:44 tua yang berhasil, yang hebat, karena 32:46 anaknya berhasil masuk universitas 32:49 ternama di Indonesia atau bahkan di luar 32:51 negeri. 32:53 Gitu. 32:54 Eee, itu semua dari mana itu rasa 32:56 keinginan itu? Dari mirror neuron. 33:00 Mirror neuron yang selama ini sudah kita 33:03 eee, miliki sejak awal. 33:06 Hadirin yang dirahmati Allah. 33:07 Nah, 33:09 ini akan berbahaya. 33:12 Kenapa? Karena 33:14 seperti Sayyidina Suhaib Ibnu Sinan 33:16 tadi, Bapak Ibu yang dirahmati Allah, 33:19 beliau berhasil menghijrahkan 33:22 mirror neuronnya 33:24 tidak lagi mengikuti apa yang diinginkan 33:27 oleh kebanyakan manusia, yang notabene 33:29 juga beliau sudah dapatkan yakni harta 33:31 kekayaan, itu bisa beliau tinggalkan 33:34 sedemikian rupa untuk mencari rida Allah 33:36 Subhanahu Wa Ta'ala. 33:40 Gitu. 33:41 Untuk mencari rida Allah Subhanahu Wa 33:43 Ta'ala. 33:44 Eee, 33:46 nah, 33:48 ini 33:49 maksud saya, 33:52 kita sudah saatnya menghijrahkan itu. 33:56 Kalau kita punya anak tiga tadi ini 33:57 dalam kasus anak ya, biar mudah saja ya, 33:59 misalnya. Punya anak tiga kita. 34:01 Yang satu universitas ternama, cenderung 34:04 akan diceritakan ke sini, ke sana, gitu 34:07 ya. Bangga, gitu ya. Kenapa? Karena 34:09 semua orang mengakui bahwa universitas 34:12 itu, universitas yang dimasuki oleh anak 34:14 kita berhasil itu, dapat masuk ke situ, 34:17 itu adalah universitas yang diakui oleh 34:19 semua masyarakat bahwa itu universitas 34:21 hebat, tidak semua orang bisa masuk, 34:23 maka kita bangga. 34:25 Kenapa? Karena mirror neuron kita tadi 34:27 mengatakan bahwa manusia semua 34:29 mengakuinya. 34:30 Nah, 34:32 ujungnya apa? Kita punya anak tiga, lupa 34:34 sama yang dua lagi, nah ingatnya cuma 34:37 sama yang satu tadi. Akhirnya kita tidak 34:40 bersyukur, Bapak Ibu yang dirahmati 34:42 Allah, tidak tidak ber tidak bersyukur 34:45 sebagaimana tadi punya anak tiga ya. 34:47 Anak yang satu uh bersyukur sekali, 34:50 kenapa? Karena cocok dengan keinginan 34:52 masyarakat sekitar. Karena cocok dengan 34:54 apa yang dijadikan tujuan oleh society, 34:58 oleh oleh masyarakat di sekitar kita. 35:00 Sementara yang dua bersyukur juga, tapi 35:02 tidak setinggi terhadap anak yang satu. 35:05 Kenapa? Karena tidak berhasil. 35:08 Tidak tidak berhasil mendapatkan apa 35:11 yang dianggap oleh masyarakat sekitar 35:13 sebagai sesuatu yang 35:15 eee apa sebagai sesuatu yang prestasi. 35:19 Gitu. Sehingga rasa syukur kita 35:21 berkurang terhadap yang dua tuh. 35:24 Terhadap yang dua berkurang rasa syukur 35:25 kita. 35:26 Bapak Ibu. 35:28 Nah, itu baru soal anak ya. Demikian 35:30 pula soal harta kekayaan, soal 35:33 kesempatan. 35:35 Maka Allah subhanahu wa taala berfirman 35:36 dalam surat Al Fajr itu surat 89. 35:40 Nanti silakan Bapak Ibu buka ayat 15, 35:42 ayat 16. Kalimatnya dua ayat itu ya 15 35:45 16. Fa ammal insan, nih manusia. 35:50 Manusia punya mindset-nya, kalau kita 35:52 ikuti nanti kita sesat. Apa mindset 35:54 manusia? Fa ammal insan. 35:57 Adapun manusia iza mabtalahu 36:00 fa akromahu wa na'amah, fa yaqulu robbi 36:03 akroman. Manusia itu kata Allah 36:08 apabila diuji, mabtalahu diambil dari 36:10 kata bala, ma ibtala, itu dasar katanya. 36:14 Diambil ibtala diambil dari kata bala, 36:16 bala itu ujian. 36:18 Perhatikan bahwa ujian kekayaan dengan 36:21 ujian kemiskinan sama-sama ujian. 36:24 Ayat 15 bicara tentang ujian berupa 36:26 kekayaan. 36:27 ujian berupa kemuliaan di tengah 36:29 manusia, 36:31 dipandang oleh manusia, dianggap tinggi, 36:33 dianggap hebat, atau kekayaannya banyak. 36:37 Nah, manusia kalau diuji dengan jenis 36:39 ujian yang seperti itu, dia akan 36:41 mengatakan, "Rabbi akroman." Sungguh 36:44 Allah sedang memuliakan saya. 36:48 Wa amma, sementara pada ayat 16-nya 36:51 turun ke bawah, wa amma, iza mabtala, 36:54 perhatikan kalimatnya sama, mabtala, ma 36:57 ibtala, ma ibtala, tadi ayat 15, ayat 36:59 16-nya juga demikian, mabtaluhu rob, 37:02 wa amma iza mabtaluhu, faqodaro alaihi 37:05 rizqohu, jenis ujian yang kedua ini 37:09 berupa ee 37:11 terbatasnya rezeki. 37:13 Qodaro alaihi rizqohu, fayaqulu robbi 37:16 ahanan, terbatasnya rezeki itu dalam 37:19 dalam berbagai aspek. 37:21 Ada rezeki anak terbatas, tidak punya 37:24 anak, tidak punya keturunan, ada yang 37:27 rezeki harta kekayaan terbatas, tidak 37:30 punya uang, tidak cukup banyak punya 37:32 uang, tidak cukup banyak punya 37:33 kesempatan dan lain sebagainya, maka dia 37:36 mengatakan, "Rabbi ahanan." 37:39 Atau dia lihat orang lain yang seperti 37:41 itu, dia mengatakan, "Aduh, kasihan." 37:44 Allah sedang menghinakan dia. 37:47 Atau atau Allah sedang melupakan saya, 37:49 menghinakan saya. 37:51 Itu pandangan manusia. 37:53 Ee itu kalau kalau kenapa kita sulit 37:56 lepas dari pandangan seperti itu, 37:58 mindset kita itu, 38:00 ee karena mirror neuron tadi, Bapak Ibu 38:03 yang dirahmati Allah. Padahal Allah 38:05 subhanahu wa taala berfirman, Bapak Ibu 38:07 ya, 38:08 pada ee apa, surat ke-6, surat Al An'am, 38:13 ayat ke-100 38:15 ee 16 ya, 116 nih, 38:18 kalimatnya ya, di layar Hasil TV saya 38:20 tampilkan ya. Silakan kalau Bapak Ibu 38:23 yang apa buka mushafnya surat ke-6 ayat 38:26 116 awal juz yang ke-8. Kalimat Allah wa 38:31 in tuti aksaro man fil ardi yudilluka an 38:36 sabilillah. 38:38 Kalau kamu ikuti 38:40 ikuti apa? Tentu bukan ikuti gerak 38:42 badannya, tapi kalau kamu ikuti cara 38:45 berpikir. 38:47 Wa in tuti aksaro man fil ardi kalau 38:49 kamu ikuti cara berpikir, cara pandang 38:51 kebanyakan orang di atas muka bumi ini, 38:54 apa kata Allah? Yudilluka an sabilillah 38:57 niscaya mereka akan menyesatkan kamu 39:00 dari jalan Allah. Mayoritas manusia tuh. 39:04 Kenapa? Karena cara berpikirnya tadi 39:07 seperti tadi. Surat Al Fajr ayat 15-16. 39:11 Kenapa mereka kenapa mereka bisa 39:14 akan menyesatkan begitu? Iya tabiuna 39:17 illa dzonna wa in hum illa yakhusun 39:20 karena manusia itu hanya mengikuti 39:24 dugaan mereka saja. 39:27 Dugaan apa yang dimaksud ini? Dugaan 39:29 bahwa apa yang ada di dunia ini akan 39:33 abadi, hebat, menjadi segala sesuatu 39:36 yang kita butuhkan, segala sesuatu yang 39:37 kita cari. 39:39 Ah, itu dugaan saja tuh, dugaan saja. 39:42 Apakah orang miskin enggak bisa masuk 39:44 surga? 39:46 Apakah orang yang tidak beruntung di 39:47 dunia ini tidak bisa masuk surga? Ah, 39:50 itu kan 39:51 kan dugaan manusia, ah, enakan yang 39:53 banyak duit dong gitu ya, enakan tidak. 39:56 Belum tentu, Bapak Ibu yang dirahmati 39:58 Allah, belum tentu. 40:00 Ah, dan wa in hum illa yakhusun dan 40:03 mereka tidak lain hanyalah berdusta 40:05 saja. 40:07 Dusta saja itu. Ah, apalagi di zaman 40:09 sekarang ya, Bapak Ibu ya, zaman ah, 40:11 ikhwan akhwat sekalian, zaman media 40:14 sosial. Kita lihat orang di mana-mana 40:17 bikin foto, upload di media sosial, eh 40:21 jalan-jalan ke luar negeri, upload di 40:23 media sosial, beli mot mobil baru, 40:25 upload di media sosial, beli ini, beli 40:28 itu, ke apa namanya? Makan-makan di mana 40:30 sana sini, upload di media sosial, 40:32 seolah-olah mereka telah mencapai apa 40:35 yang diinginkan oleh seluruh manusia. 40:37 Padahal, setiap orang akan diuji dengan 40:39 ujiannya masing-masing. Sama. 40:43 Sama. Mereka berdusta itu. 40:47 Apa ada orang yang akan menampilkan 40:50 update status di media sosialnya yang 40:52 yang yang jujur? 40:55 Bahwa mereka sedang sedang curiga dengan 40:58 pasangan hidupnya, dengan suaminya, 41:00 sedang merasa tidak sedang merasa 41:02 dicampakkan, 41:04 sedang sedang merasa tidak dihargai oleh 41:07 anak-anaknya. Apa mereka sampaikan itu 41:09 di media sosial? Tidak mungkin. 41:12 Karena yang disampaikan tentu yang 41:13 baik-baik yang yang sesuai dengan apa 41:15 yang di dikejar oleh manusia, kan gitu. 41:18 Nah, itu itu kan dusta itu. Maksudnya, 41:22 artinya 41:23 kita akan disuguhkan yang 41:26 hebat-hebat saja. 41:28 Yang baik-baik saja. Padahal, aslinya 41:31 enggak begitu real-nya itu, Bapak Ibu 41:33 yang dirahmati Allah, ya. Nah, jadi wa 41:35 in tuti' aktsaro man fil ardhi 41:36 yudhilluka an sabilillah, mereka akan 41:38 menyesatkan kalian dari jalan Allah. 41:40 Kalau kalian ikuti kebanyakan manusia 41:42 itu. Ya, karena mereka karena kebanyakan 41:45 manusia itu hanya ber menduga saja dan 41:47 eh berdusta. 41:48 Nah, jadi mirror neuron inilah, Bapak 41:51 Ibu yang dirahmati Allah, 41:54 yang harus kita hijrahkan. 41:57 Gitu. Dari manusia, ya, 42:00 dari menatap kepada manusia, 42:03 dari yang selama ini kita dibelenggu 42:06 oleh eh 42:09 standar-standar manusia, validasi 42:11 manusia, gitu ya. Eh, mari kita 42:14 hijrahkan, gitu. 42:15 Ke mana? 42:17 Eh, kita hijrahkan dia kepada validasi 42:20 Allah. 42:22 Eh, nih, mana tadi gambarnya? Ah, ini 42:24 dia. 42:25 Nah, kita hijrahkan nih, caranya begini. 42:28 Validasinya Allah. 42:30 Validasi Allah itu justru, Bapak Ibu 42:32 yang dirahmati Allah, di kita sebagai 42:35 hamba, tuh gambarnya ya, di Rasheed TV 42:37 ya. Kita sebagai hamba melakukan sesuatu 42:40 atau menjadi sesuatu sesuai yang yang 42:42 diminta Allah, sesuai yang apa yang 42:45 Allah inginkan dari kita. Ah, ada tujuan 42:48 hidup yang Allah berikan kepada kita. 42:50 Bapak Ibu, apa tujuan hidupnya? Nanti 42:52 kita buka. Tujuan hidup kita hanya 42:54 bersyukur saja, di mana pun kita berada, 42:56 dalam situasi apa pun kita bersyukur, 42:59 Bapak Ibu ya. Nah, kalau kita 43:01 mengarahkan 43:03 eh, mirror neuron kita kepada Allah, 43:05 berharap divalidasi, diakui oleh Allah 43:09 sebagai hamba Allah. 43:11 Eh, maka kita akan tenang, 43:14 akan senang, akan bahagia, akan lepas 43:17 semua beban kita. Kenapa? Karena Allah 43:19 sebetulnya tidak pernah meminta, tidak 43:22 pernah menuntut kesempurnaan dari kita, 43:25 tidak pernah. 43:27 Kalau manusia selalu menuntut 43:29 kesempurnaan dari kita. Egois manusia 43:32 itu, Bapak Ibu. 43:34 Eh, mereka selalu lihat kekurangan kita. 43:37 Ketika kita kurang, siapa pun itu 43:38 manusia, pasti kita akan dikritik, pasti 43:41 kita akan 43:43 eh, tidak tidak puas. 43:46 Manusia selalu menuntut kesempurnaan 43:48 kita, karena manusia egois, siapa pun 43:50 dia. 43:51 Tapi Allah, Bapak Ibu yang dirahmati 43:53 Allah, 43:54 tidak pernah menuntut kesempurnaan kita, 43:57 bahkan Allah menuntut ketidaksempurnaan 44:01 kita. 44:03 Ya. 44:04 Allah itu menuntut ketidaksempurnaan. 44:08 Loh, kok begitu? Iya. 44:11 Kalau kalau di hadapan manusia kita 44:13 harus kelihatan sempurna terus. 44:15 Duit banyak, 44:17 keluarga bahagia, 44:19 punya istri cantik atau punya suami 44:21 ibu-ibu keren, gagah, kerja di mana 44:24 kerjanya anu BUMN apa begitu aduh. 44:28 Punya anak sudah dapat kerja di sini, 44:30 sudah dapat kerja di sana anu begitu 44:32 begitu bla bla bla capek menuntut 44:35 kesempurnaan begitu ya. 44:37 Manusia itu. 44:38 Tapi kalau Allah justru menuntut 44:41 ketidaksempurnaan 44:43 kita. Jadi tenang saja memang kita tidak 44:45 sempurna. 44:46 Sebagai hamba. 44:48 Gitu. Tidak mampu kita ini sebagai hamba 44:51 itu. Nah, mana dalilnya? Quran surat 44:53 ke-7 ayat 55. Salah satunya salah 44:55 satunya ya. 44:57 Kalimat Allah begini. 44:58 Uduu, perhatikan ini pakai kali pakai 45:01 fiil amr ya Bapak Ibu ya. 45:03 Perintah. 45:04 Allah perintahkan kita untuk menyeru, 45:07 memanggil, berdoa kepada Allah. Uduu 45:10 robbakum. 45:12 Panggillah Tuhanmu. 45:14 Datanglah kepada Tuhanmu, berdoalah, 45:16 mintalah kepada Allah. 45:18 Nah, dengan apa? Tadorruan 45:21 merendahkan dirimu. Nah, merendahkan 45:25 diri itu dengan segala macam aspeknya. 45:28 Artinya apa? Ketidaksempurnaan kita. 45:31 Itu hadapkan ke hadapan Allah maksudnya. 45:35 Nah. 45:36 Kalau manusia tadi terbalik ya. Kalau 45:38 kita ingin divalidasi manusia kita harus 45:40 sempurna. 45:43 Harus sempurna. 45:44 Harus punya semuanya. 45:46 Gitu. 45:47 Wah, hebat ini kamu ya sudah dapat kerja 45:50 tinggal nikah jadi kapan nikahnya? Kan 45:52 gitu. 45:54 Sudah nikah aduh belum punya anak nih 45:55 kapan punya anaknya nih? 45:58 Sudah punya anak satu oh cuma satu 46:00 anaknya itu, dan lain sebagainya. Enggak 46:03 pernah cukup Bapak Ibu yang dirahmati 46:04 Allah. 46:05 Wah, sayang belum punya rumah ya. Oh, 46:07 sayang belum punya anu ya. Oh, sayang 46:09 belum ini ya. Kok mobilnya jadi ganti 46:12 yang lebih jelek nih, kok anu nih, kok 46:13 anu lah, aduh. 46:16 Kalau ikut validasi manusia, harus 46:18 sempurna terus. 46:19 Bapak Ibu. 46:20 Tapi kepada Allah, justru Allah 46:23 mengatakan, "Ud'u rabbakum tadarru'." 46:26 Rendahkan diri. Ya Allah, saya enggak 46:29 mampu. 46:30 Saya enggak sanggup ya Allah. Saya ini 46:32 hamba. Hambamu. Engkau berikan saya 46:35 hidup, saya tidak sanggup 46:38 saya tidak punya apa-apa. Saya lemah, 46:40 saya itu yang Allah inginkan dari kita. 46:42 Ketidaksempurnaan justru. Kenapa? Karena 46:45 yang Maha Sempurna adalah Allah. 46:48 Bapak Ibu. 46:49 Gitu. 46:50 Ya, yang Maha Sempurna adalah Allah. 46:52 Kita ini hamba. Allah itulah khalik, 46:54 pencipta kita. Yang Maha segala sesuatu. 46:58 Gitu. Jadi, "Ud'u rabbakum tadarru'." 47:01 Dengan rendahkan dirimu. 47:03 "Wa khufyah." Dan suara yang 47:06 lirih. Nah. 47:09 Lembut. 47:10 Adukan ketidaksempurnaan kita. 47:13 "Innahu la yuhibbul mu'tadin." Allah 47:16 tidak suka orang yang melampaui batas. 47:18 Melampaui batas apa? Melampaui batas 47:21 sebagai hamba. 47:23 Nah, itu. 47:25 Melampaui batas sebagai hamba. 47:26 Seolah-olah dirinya adalah penentu 47:28 hidupnya sendiri. Seolah-olah dirinya 47:30 mampu berjalan sendiri tanpa Allah. 47:32 Padahal, dia adalah hamba Allah. 47:35 Diberi oleh Allah dia. 47:37 Tidak ada apa-apa kita ini, enggak punya 47:39 apa-apa. Kalau bukan karena Allah, kan. 47:41 Itulah maksudnya jadi hamba. Nah, Allah 47:43 enggak suka kalau Anda melampaui status 47:46 itu. 47:47 "Innahu la yuhibbul mu'tadin." 47:49 Kapan kita melampaui status itu? Ketika 47:51 kita pikir kita bisa semuanya sendiri. 47:53 Ketika kita pikir kita bisa melakukan 47:55 segala sesuatunya sendiri. Kita yang 47:57 merencanakan, kita yang mau eksekusi, 47:59 kita yang begini, kita yang berhasil ini 48:01 dan lain sebagainya. Nah, berarti 48:03 melampaui kita dari hakikat kita sebagai 48:05 hamba. 48:07 Nah, kalau Allah sayang sama kita, nah 48:09 dijadikannya tidak berhasil apa yang 48:11 kita planning. Supaya kita sadar, "Oh 48:13 iya, bukan saya yang menentukan." 48:16 Gitu Bapak Ibu yang dirahmati Allah. 48:19 Ya. 48:19 Nah, jadi Allah menuntut 48:21 ketidaksempurnaan kita justru. Kalau 48:24 manusia menuntut kesempurnaan kita dan 48:26 kita akan lelah, capek. 48:29 Bapak Ibu, putus asa kita kalau 48:31 mengikuti keinginan manusia itu. Mana 48:34 bisa sempurna kita ini? Namanya juga 48:36 kita manusia. 48:38 Mana bisa sempurna kita? Memang kita 48:40 hamba kok, bukan Tuhan, iya kan? 48:43 Eee kita ini hamba, tidak sempurna. 48:46 Nah. 48:47 Yang penting kita selalu bisa bersyukur. 48:49 Itu kan target hidup kita itu. 48:51 Ya, dari mana tahunya itu target hidup 48:53 kita? Nah, ini sedikit saya tampilkan 48:56 karena waktu kita juga terbatas ya. 48:59 Nah, ketika iblis 49:01 diusir dari surga, Bapak Ibu yang 49:03 dirahmati Allah, 49:05 iblis bersumpah di hadapan Allah tuh. 49:07 Surat Al-A'raf, surat ke-7, ayat ke-16 49:11 dan 17, ya. Kalimatnya iblis iblis 49:14 mengatakan di hadapan Allah ketika 49:15 diusir ya dari surga ya. Nah, dia dendam 49:18 kan kepada manusia, dia minta 49:19 dipanjangkan umurnya pada ayat 15, pada 49:22 ayat 14 15 ya. Dia di minta dipanjangkan 49:24 umur oleh Allah dikabulkan. Panjang 49:27 umurnya sampai hari kiamat. Nah, tujuan 49:29 dia minta panjang umur tuh cuma satu aja 49:31 tujuannya itu. Apa tujuannya? Membuat 49:34 manusia tidak bisa bersyukur. 49:37 Itu dia deklarasikan. 49:40 Nah, ayat 16 dan 17-nya. 49:43 Nah, dia bilang begini di hadapan Allah. 49:44 Ini diabadikan Allah nih dalam surat 49:46 ke-7 ayat 16 dan 17. Qala, dia iblis 49:49 bilang begini di hadapan Allah. "Fabima 49:52 agwaitani 49:54 Ya Allah, karena Engkau telah 49:55 mengizinkan saya terhukum, tersesat. 49:58 Fabima agwaitani 50:00 la aqudanna lahum la la itu lam taukid 50:03 sungguh-sungguh. La aqudanna lahum 50:06 sirotokal mustaqim sungguh-sungguh 50:08 saya akan menggelincirkan mereka dari 50:11 jalanmu yang lurus. Apa jalan yang lurus 50:14 yang kita minta setiap kali kita salat? 50:17 17 kali minimal dalam satu hari kita 50:19 baca suratul Fatihah, kita minta sirotol 50:22 mustaqim. Nah, justru sirotol mustaqim 50:25 itulah yang akan digelincirkan oleh 50:27 iblis. Apa hakikat sirotol mustaqim itu? 50:29 Lanjut ayat 17-nya. 50:32 Kata iblis, demi menggelincirkan mereka 50:34 dari jalan yang lurus, aku kata iblis 50:37 akan mendatangi mereka dari depan, 50:40 belakang, dari kanan, dari kiri mereka 50:44 dan aku janji tidak akan banyak di 50:46 antara mereka yang mampu bersyukur. 50:50 Summa la atiyannnahum min baini ainihim 50:53 dari depan, wamin kholfihim dari 50:55 belakang, waan aimanihim dari kanan, 50:57 waan syamailihim dari kiri, saya akan 51:00 datangi mereka. Wala tajidu aktsarohum 51:02 syakirin dan saya janji 51:05 tidak akan banyak di antara mereka yang 51:07 pandai bersyukur atau yang bisa 51:09 bersyukur. Jadi jalan yang lurus sama 51:12 dengan kemampuan bersyukur. 51:16 Ya. 51:17 Kemampuan bersyukur. 51:19 Nah, dengan mengikuti mirror neuron 51:22 manusia tadi itu 51:24 kita ikut validasi manusia, kita ikut 51:26 standar manusia, kita dipastikan tidak 51:30 pandai bersyukur. 51:33 Pasti itu. 51:35 Kenapa? Karena manusia selalu menuntut 51:37 kesempurnaan. Mana ada yang sempurna? 51:39 Enggak ada yang sempurna itu. 51:42 Ya, enggak ada yang sempurna. 51:45 Maka kadang-kadang boleh juga kita 51:47 koreksi 51:48 ya, sering kita mengatakan begini 51:51 sehat selalu ya, sehat terus ya, saya 51:54 mudah-mudahan sehat selalu ya. 51:56 Nah, ini kadang-kadang boleh juga kita 51:59 koreksi bahwa tidak mungkin kita sehat 52:01 selalu Bapak Ibu. 52:03 Namanya kita manusia enggak mungkin kita 52:06 sehat selalu. 52:07 Ya, Nabi Ibrahim beliau berdoa apa 52:10 beliau mengatakan fa idza maridhtu 52:12 fahuwa yasyfin, ketika saya sakit 52:14 Allah-lah yang menyembuhkan saya. 52:16 Artinya pasti sakit dalam hidup kita 52:17 ini. 52:19 Pasti pasti tidak sehat terus kita. 52:22 Nah, gitu. 52:23 Jadi mana ada orang yang sehat terus, 52:25 enggak ada. 52:26 Bapak Ibu, mana ada orang yang berhasil 52:28 terus, enggak ada. 52:30 Gitu, pasti ada gagalnya. 52:32 Pasti ada kurangnya gitu ya. Jadi kita 52:35 bersyukur aja di di di di kondisi apapun 52:38 kita berada karena itulah jalan yang 52:39 lurus. 52:41 Kalau iblis tadi eh mendeklarasikan 52:44 eh apa supaya kita menyimpang dari jalan 52:46 yang lurus, dari siratal mustaqim, nah 52:49 pintunya caranya adalah tidak pandai 52:51 bersyukur. 52:52 Kalau orang tidak pandai bersyukur sudah 52:54 pasti dia akan menyimpang dari jalan 52:55 yang lurus, itu yang dipegang oleh 52:57 iblis, itu yang dituju oleh iblis. 52:59 Itulah mirror neuron, ke sanalah kita 53:02 kalau kita tidak menghijrahkan 53:04 Bapak Ibu. 53:05 Nah, jadi kembali tadi kepada Sayyidina 53:08 Suhaib Ibnu Sinan 53:11 tokoh hijrah yang luar biasa ini. 53:13 Beliau beliau luar biasa seorang 53:16 pengusaha sukses 53:18 pebisnis ulung tapi bisa menghijrahkan 53:21 mindset-nya, cara berpikirnya dari 53:24 mindset kebanyakan manusia tentang harta 53:27 dan kekayaan menuju mindset yang sejati 53:30 bahwa memang segala sesuatu itu milik 53:33 Allah saja bukan milik kita. Jadi apa 53:36 apa takutnya kita kalau kehilangan apa 53:39 yang Allah titipkan, biasa aja. 53:42 Toh itu juga milik Allah. Kalau Allah 53:44 ingin berikan kepada kita, Allah akan 53:46 berikan. Kalau Allah ingin ambil dari 53:48 kita, Allah dengan mudahnya akan 53:49 mengambil semuanya dari kita. Bapak Ibu 53:51 yang dirahmati Allah. Nah, itulah hijrah 53:54 yang sesungguhnya. Bukan hanya fisik, 53:57 bukan hanya tampilan luar, bukan hanya 54:01 ee apa penampilan kita, bukan sama 54:04 sekali bukan. 54:05 Ee 54:06 Kalau pakai jenggot gimana? Bagus, sunah 54:08 Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kalau 54:10 pakai peci, selama ini belum pakai peci, 54:11 bagus kelihatan identitasnya. Tapi bukan 54:14 itu yang utama. Bapak Ibu yang dirahmati 54:17 Allah. Yang utama adalah cara berpikir 54:19 kita dari mirror duron kepada manusia 54:23 menuju mirror duron kita kepada Allah. 54:25 Mencari validasi Allah, mencari apa yang 54:29 Allah rida kepada kita, bukan apa yang 54:31 diridai oleh manusia. 54:33 Ya, yang diridai oleh manusia itu apa? 54:35 Ya, semua hal yang dipandang baik oleh 54:37 manusia, padahal belum tentu baik. Ya. 54:40 Jadi, kalau kita sekarang sakit, belum 54:42 tentu itu sesuatu yang buruk. Kalau kita 54:45 sekarang enggak punya uang, belum tentu 54:47 itu sesuatu yang buruk. Kalau Anda 54:49 sekarang kaya raya, punya uang, belum 54:51 tentu itu sesuatu yang baik. Itu kan 54:53 gitu. 54:54 Ya. 54:54 Ketika Anda sehat sekarang, belum tentu 54:56 juga itu baik. Ya, kalau kita tidak bisa 54:59 mengarahkannya kepada Allah, kan begitu. 55:01 Nah, tapi kalau Anda sakit, terus 55:03 mengarahkannya kepada Allah, menerima, 55:05 bersyukur, bersabar dan lain sebagainya, 55:07 introspeksi diri, jadinya bagus. Kalau 55:10 Anda tidak punya uang, kemudian 55:11 bersabar, kemudian menjaga diri, 55:14 tidak-tidak apa, merendahkan diri, 55:16 kemudian bersyukur atas apa yang Allah 55:17 berikan yang lain ee di hadapan hidup 55:20 kita ini, maka itu baik buat kita. Ee 55:23 demikian pula yang lain sebagainya. 55:25 Surat Al Fajr tadi ayat 15 dan 16 55:27 menunjukkan kedua-dua sisi ee hidup ini 55:31 adalah ujian. Baik ujian yang di 55:34 kacamata manusia itu enak, kaya raya, 55:36 punya uang, dipandang oleh manusia, itu 55:39 ujian juga. Sama, setara dengan orang 55:42 yang tidak punya uang, dengan orang yang 55:43 tidak punya status di tengah manusia, 55:45 sama-sama ujian juga, sama-sama bala 55:47 juga itu. Nah, tergantung bagaimana kita 55:50 bisa melaluinya dengan baik, Bapak Ibu 55:53 yang dirahmati Allah. 55:55 Gitu. Nah, jadi tidak perlu kita melihat 55:57 orang yang punya uang banyak dan lain 55:58 sebagainya, wah, tidak perlu kita 56:00 melihat dia terlalu berlebihan, karena 56:02 kita enggak tahu apa yang yang dia 56:03 lalui. Dia diuji juga, sama, biasa saja, 56:07 gitu. Demikian pula kita tidak boleh 56:09 memandang rendah orang yang mungkin 56:11 status sosialnya lebih lebih bawah 56:14 daripada kita, lebih tidak punya 56:15 daripada kita, kita enggak tahu, ya, 56:17 apakah ee jangan-jangan dia adalah orang 56:20 yang tinggi di hadapan Allah, di sisi 56:22 Allah. Demikian pula ilmu, itu enggak 56:24 boleh kita melihat, "Wah, ini orang 56:26 enggak punya ilmu." Misalkan lebih 56:27 rendah, tidak boleh, Bapak Ibu yang 56:29 dirahmati Allah. Ya, siapa tahu dia di 56:31 sisi Allah adalah orang yang baik. 56:33 Gitu, ya. Ee, belum tentu orang yang 56:36 punya banyak ilmu dipandang di sisi 56:37 Allah sebagai orang yang baik, belum 56:39 tentu. Bisa jadi dengan keilmuannya dia 56:41 takabur sebagaimana iblis. 56:44 Nah, jadi arahkanlah semuanya kepada 56:47 keridaan Allah subhanahu wa taala. Itu 56:49 yang penting, di manapun kita berada, 56:51 dalam kapasitas apapun kita, dalam 56:53 kondisi apapun kita, ala kulli hal, 56:55 dalam semua hal, kita bersyukur kepada 56:58 Allah. Nah, jadi itulah hijrah yang 57:00 sejati, hijrah yang sesungguhnya, bukan 57:03 hanya fisik kita. Wallahu a'lam 57:05 bishawab, mungkin ini saja yang bisa 57:07 saya sampaikan 57:08 pada kesempatan ee hari ini. Selamat 57:11 tahun baru 1446 Hijriah kepada ikhwan 57:15 akhwat semua, Bapak Ibu yang dirahmati 57:16 Allah di manapun berada. Semoga di tahun 57:19 yang baru ini kita betul-betul bisa 57:21 menghijrahkan mindset kita, set pikiran 57:25 kita ini, apa namanya, ee cara berpikir 57:28 kita ini. Sebagaimana Sayidina Suhaib, 57:30 kita hijrahkan menuju kepada Allah 57:33 Subhanahu Wa Ta'ala, mencari validasi 57:35 Allah, bukan mencari validasi manusia. 57:38 Wallahualam bishawab, billahi taufik wal 57:40 hidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi 57:42 wabarakatuh. 57:44 Waalaikumsalam warahmatullahi 57:46 wabarakatuh. Terima kasih untuk Ustaz 57:49 Doni Amir Sagaf yang telah memberikan 57:52 tausiahnya di malam hari ini tentang 57:54 pengertian hijrah yang sejati. Baiklah 57:57 ikhwan dan akhwat, 57:59 kami akan rehat sejenak. Namun sebelum 58:02 itu, kami ingin menyapa para pendengar 58:04 kami di manapun Anda berada. Ada Haji 58:07 Musawir, 58:09 kemudian Ibu Hani Suryani di Sukabumi, 58:13 lalu ada Ibu Fiza Fitriana, 58:16 lalu ada 58:18 Bapak Ahmad, 58:20 Ibu Sarah dan juga siapa ini? Bapak 58:23 Fadli dari Batam yang sudah memberikan 58:26 pertanyaannya. Nanti kami akan 58:28 eh bahas dan kita akan jawab setelah 58:31 jeda berikut ini. Tetaplah bersama kami, 58:33 masih dalam program Tadabbur Alquran. 58:37 Bismillahirrahmanirrahim. 1:02:34 Islam yang satu. Ikhwan dan akhwat yang 1:02:36 dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 1:02:38 Terima kasih Anda masih bersama kami 1:02:40 dalam program tadabbur Alquran bersama 1:02:44 Ustad Doni Amir Sagaf. 1:02:47 Dengan tema hijrah sejati. 1:02:49 Ada beberapa pertanyaan yang sudah 1:02:54 masuk. 1:02:55 Kita awali pertanyaan pertama dari 1:02:59 Ibu Nur di Bekasi. Pak Doni, 1:03:01 assalamualaikum warahmatullahi 1:03:02 wabarakatuh. 1:03:04 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:03:05 wabarakatuh. Iya, Bu. Silakan. 1:03:08 Pak Doni, saya seorang ibu dengan dua 1:03:10 anak remaja. Di zaman sekarang 1:03:13 godaan dan tantangan yang dihadapi 1:03:15 anak-anak sangatlah berat terutama dari 1:03:17 media sosial dan pergaulan. 1:03:19 Lalu bagaimana cara terbaik untuk 1:03:21 mendidik anak-anak agar mereka bisa 1:03:23 berhijrah dengan sejati, menjauhi 1:03:26 hal-hal negatif, dan tetap teguh pada 1:03:29 ajaran Islam di tengah pengaruh buruk 1:03:31 lingkungan sekitar? 1:03:33 Iya. 1:03:35 Terima kasih Ibu Nur ya yang bertanya di 1:03:37 Bekasi. 1:03:38 Ibu-ibu dan Bapak yang dirahmati Allah, 1:03:40 para pendengar Radio Rasya, para pemirsa 1:03:43 Radio Rasya TV di manapun berada. 1:03:46 Jadi sebetulnya 1:03:48 orang tua ini harus 1:03:51 berlomba atau harus bersaing ya 1:03:55 dengan gadget kita sekarang ini. 1:03:58 Coba perhatikan gadget itu. Gadget itu 1:04:00 kenapa anak-anak suka sama gadget itu? 1:04:03 Karena gadget itu responsif. 1:04:07 Begitu dipencet, muncul gitu ya ee 1:04:10 warnanya, suaranya. 1:04:13 Jangan-jangan kita sebagai orang tua 1:04:16 Monoton. 1:04:17 karena 1:04:17 ee anak kita manggil, "Bu." Ah itu atau 1:04:20 Ibu atau Ayah gitu. "Iya nanti dulu, 1:04:22 nanti dulu, nanti apa sih?" Ah gitu ya. 1:04:25 Otomatis kemudian kita kalah dengan 1:04:27 gadget. Anak lebih akrab dengan gadget, 1:04:30 anak lebih nyaman dengan gadget. Karena 1:04:33 gadget itu responsif. 1:04:36 Nah ini respon kita pun demikian. Kalau 1:04:38 kita bisa memberikan respon yang yang 1:04:40 baik kepada anak ya apalagi saat dia 1:04:43 membutuhkan, berarti kita tidak akan 1:04:46 bisa tergantikan oleh gadget itu. 1:04:49 Nah yang kedua, 1:04:50 gadget itu sangat menghargai anak. 1:04:55 Gadget itu. 1:04:56 Dengan dengan game yang dia mainkan ya, 1:05:00 dengan sangat mudah dia bisa berhasil 1:05:03 dapat ini dalam game-nya itu, dapat 1:05:05 dapat ee berhasil mencapai garis finish, 1:05:09 dapat ucapan selamat yang kelihatan ada 1:05:12 kembang api itu astu astu astu astu di 1:05:13 gadgetnya itu ya. Eee senanglah dia, 1:05:16 diapresiasi. 1:05:18 Nah, tinggal kita introspeksi sebagai 1:05:20 orang tua. Kapan kita meng meng 1:05:23 mengapresiasi anak? 1:05:26 Gitu. Kalau kita tidak mengapresiasi 1:05:29 anak, tentu saja kita kalah lagi dengan 1:05:31 gadget. 1:05:33 Kalah lagi kita dengan dengan handphone 1:05:35 itu, anak lebih sukalah dia dengan 1:05:37 handphone itu. Lebih sukalah dia dengan 1:05:39 gadget karena dia diapresiasi di 1:05:41 gadgetnya itu. 1:05:42 Gitu. 1:05:43 Yang ketiga, 1:05:45 kita kita harus bersaing dengan gadget 1:05:48 ini sekarang ini memang inilah 1:05:49 realitanya adalah persaingannya itu 1:05:52 bentuknya apa? Di gadget itu hadirin, 1:05:55 jemaah, bapak, ibu yang dirahmati Allah, 1:05:58 segalanya yang yang asik gitu ya, 1:06:02 yang asik menurut anak itu ada. 1:06:05 Nah, kita orang tua ini kadang-kadang 1:06:08 ya, 1:06:09 tidak mau mengikuti apa yang asik kepada 1:06:12 anak. Contoh, misalkan, anak ngajak, 1:06:16 "Ayo mama kita anu yuk, kita berenang." 1:06:19 misalkan gitu ya. "Ayo mama ikut 1:06:21 berenang." gitu ya. 1:06:23 Orang tuanya, "Aduh malas ah nanti 1:06:24 basah, nanti anu, nanti begini, ganti 1:06:26 bajunya repot, bla bla bla bla bla bla 1:06:27 dan sebagainya." gitu. Jadi tidak 1:06:29 membersamai walaupun ada di situ. 1:06:32 Jadi tidak experiencing, tidak tidak 1:06:35 mengalami bersama 1:06:38 dengan anak-anak. Padahal gadget tadi 1:06:40 membersamai anak. 1:06:43 Ya ada yang begini-begini, ya ada yang 1:06:45 apa dan lain sebagainya gitu ya. Nah, 1:06:48 jadi kita tidak ada bersama walaupun 1:06:51 tubuh kita ada dengan anak, tapi kita 1:06:53 tidak membersamai dia. Otomatis kalah 1:06:55 lagi kita dengan gadget. Sudah 3-0 kalah 1:06:58 kita itu. Nah, hal-hal yang amat penting 1:07:00 gitu ya. Amat 1:07:06 Ya, Pak Doni. 1:07:09 Halo. 1:07:13 Ehm. 1:07:16 Ya, ikhwan dan akhwat, nampaknya ada 1:07:18 sedikit gangguan sinyal, ya. 1:07:22 Mas Yusuf dan juga Mas Neza. 1:07:26 Ikhwan dan akhwat, tadi kita menjawab 1:07:28 pertanyaan dari Ibu Nur di Bekasi. 1:07:31 Pertanyaannya yaitu tentang bagaimana 1:07:33 peran orang tua dalam mendidik 1:07:35 anak-anak, begitu, ya. 1:07:37 Di tengah eh lingkungan sekitar yang 1:07:39 mungkin tidak baik dan menjadi tantangan 1:07:42 tersendiri bagi orang tua. Tadi sudah 1:07:44 dijawab oleh 1:07:46 Ustaz Doni 1:07:48 bahwa 1:07:49 kita 1:07:51 harus bisa meniru seperti gadget yang 1:07:53 responsif 1:07:55 terhadap anak dan juga memberikan 1:07:56 apresiatif terhadap anak. 1:07:59 Nampaknya baik, Pak Doni. 1:08:01 Iya, Mas, tadi sebentar. 1:08:03 Baik, silakan Pak Pak Doni di dilanjut, 1:08:05 monggo. 1:08:06 Iya, iya. Jadi, tadi, ya, tiga hal itu, 1:08:08 Bapak Ibu, setidaknya 1:08:10 bagaimana kita betul-betul memberikan 1:08:12 respon yang baik kepada anak. 1:08:15 Bagaimana kita mengapresiasi 1:08:17 anak itu. Bagaimana kita membersamai 1:08:20 juga anak itu. Supaya asyik, begitu. 1:08:23 Jadi, orang tua ini itu 1:08:25 eh tidak tergantikan oleh gadget. Enggak 1:08:29 boleh, jangan sampai kalah kita tuh. 1:08:31 Jangan sampai tergantikan oleh gadget. 1:08:33 Nanti repot karena gadget itu tidak 1:08:35 sayang sama anak kita. Dia hanya 1:08:37 memberikan racun saja, ya, kan. Tapi 1:08:40 kalau kita kan sayang kepada anak. Nah, 1:08:42 jadi tugas kitalah segera 1:08:44 mengintrospeksi diri dan memperbaiki 1:08:46 agar kita betul-betul bisa responsif, 1:08:49 bisa apresiatif, dan bisa membersamai 1:08:52 kegiatan anak itu secara bersama-sama 1:08:55 dan insyaallah kita tidak akan 1:08:57 tergantikan oleh gadget. Demikian, 1:08:58 kira-kira. 1:08:59 Baik, Pak Doni, terima kasih banyak. Eh, 1:09:02 demikian 1:09:03 jawaban untuk Ibu Nur di Bekasi. Lalu 1:09:06 ada Noval Maulana. Assalamualaikum 1:09:09 warahmatullahi wabarakatuh, Pak Ustaz. 1:09:12 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:09:13 wabarakatuh. Silakan. 1:09:14 Ustaz Doni, bagaimana hakikat bersyukur 1:09:17 itu yang sebenarnya? Apakah selalu 1:09:20 mengucapkan alhamdulillah 1:09:23 dalam bentuk lisan ataukah dalam bentuk 1:09:25 perilaku ataupun dalam bentuk syukur? 1:09:28 Minta penjelasannya, Pak. Terima kasih. 1:09:30 Baik. 1:09:31 Terima kasih, Pak Noval ya yang 1:09:33 bertanya. Jadi, bagus sekali 1:09:35 pertanyaannya. Saya jawab dengan singkat 1:09:38 saja ya. Eh, apa itu syukur? Apakah 1:09:41 syukur itu mengucapkan? Itu bagian dari 1:09:44 syukur. Apakah syukur itu kemudian 1:09:47 beribadah kepada Allah? Itu juga bagian 1:09:49 dari syukur. Atau boleh kita katakan itu 1:09:52 buahnya dari syukur. Jadi, syukur itu 1:09:55 apa? Syukur itu adalah sebuah perasaan. 1:10:00 Adanya di dalam dada, adanya di dalam 1:10:02 diri kita ya, perasaan. Perasaan apa? 1:10:05 Saya cepat saja ya. Nanti lain waktu 1:10:07 insyaallah kita bisa mengupasnya dengan 1:10:09 tuntas dari berbagai macam penjelasan 1:10:12 para ulama, demikian pula dari ayat-ayat 1:10:14 Alquran dan hadis-hadis Nabi sallallahu 1:10:15 alaihi wasallam. Tapi, saya lompat 1:10:16 kepada konklusinya saja. Syukur itu 1:10:20 adalah perasaan yang kita rasakan ketika 1:10:23 kita merasakan pemberian Allah subhanahu 1:10:28 wa taala. 1:10:30 Itu syukur. 1:10:33 Nah, persoalannya adalah 1:10:36 semua hal itu diberi oleh Allah. 1:10:40 Bukan milik kita. 1:10:41 Dan setiap saat kita diberi oleh Allah. 1:10:45 Nah, masalahnya adalah 1:10:47 apakah kita sebanyak itu merasakan 1:10:50 pemberian itu atau tidak? 1:10:54 Kalau kita bisa melepaskan semua 1:10:56 kepemilikan kita yang hakikatnya bu 1:10:59 bukan kita pemiliknya atau kita tidak 1:11:01 memiliki apa-apa, maka semua hal yang 1:11:03 sedang kita rasakan jadi pemberian dan 1:11:06 memang pemberian. Itulah syukur. 1:11:10 Gitu. 1:11:11 Jadi syukur itu adalah rasa yang kita 1:11:13 rasakan. Ya, istilahnya benefisor, ya. 1:11:17 Penerima, penerima 1:11:20 pemberian Allah. Nah, itu itu eh syukur. 1:11:24 Orang-orang yang bisa bersyukur. Ya, 1:11:26 demikian kira-kira. 1:11:27 He eh. Baik. 1:11:29 Kemudian ada dari Haji Musawir, Pak 1:11:32 Doni. Assalamualaikum warahmatullahi 1:11:35 wabarakatuh. 1:11:36 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:11:37 wabarakatuh. 1:11:38 Eh Ustaz Doni, apa hikmah dari peristiwa 1:11:41 hijrahnya para nabi Allah itu selalu di 1:11:43 malam hari? Terima kasih. 1:11:46 Iya. 1:11:47 Terima kasih, Pak Musawir. Jadi mungkin 1:11:49 salah satunya adalah eh 1:11:53 kalau hijrah, kalau yang Bapak sebut 1:11:55 adalah Nabi Luth misalkan dalam surat eh 1:11:59 Al-Qamar itu ya, surat ke-53 itu, beliau 1:12:02 eh keluar dari dari kampungnya dalam 1:12:05 waktu sahur atau anjainahum bissahar, 1:12:09 ya. Dalam waktu sahur ketika itu. Jadi 1:12:12 waktu sahur itu eh waktu kira-kira 60 1:12:16 menit sebelum azan subuh. Eh jadi 1:12:19 eh 1:12:21 apa hikmahnya salah satunya mungkin saja 1:12:24 di antara lain adalah karena waktu-waktu 1:12:27 itu ketika orang sedang eh lengah atau 1:12:31 orang sedang eh istilahnya kalau dalam 1:12:34 eh 1:12:35 surat 28, surat Al-Qasas ayat ke-15, 1:12:39 ketika Nabi Musa juga juga memasuki satu 1:12:41 kota, eh wadakholal madinatu ala ghoflat 1:12:45 ghoflatin ala ghoflatin ahluha. Ketika 1:12:48 eh 1:12:49 penghuninya sedang eh lengah, ya, sedang 1:12:52 lengah, sedang lalai, ya, atau tidak 1:12:55 tidak disadari, kira-kira begitu. 1:12:57 Mungkin salah satu hikmahnya itu. 1:12:58 He em. 1:12:59 Baik, Pak Doni. 1:13:01 Ada Ibu Hani di Sukabumi, Pak Doni. 1:13:04 Assalamualaikum warahmatullahi 1:13:06 wabarakatuh. 1:13:07 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:13:09 Ee Pak Doni, apakah dapat disebut hijrah 1:13:13 juga karena saya tidak mau ikutan 1:13:15 Barzanji 1:13:16 di musala yang diadakan setiap malam 1:13:19 Jumat sehabis salat Maghrib. Tapi ketika 1:13:22 azan Isya terus tidak berhenti. 1:13:25 Sedangkan pada waktu Rasulullah perang 1:13:28 pun harus berhenti saat terdengar azan. 1:13:30 Nah, saya tidak mau ikutan lagi dalam 1:13:32 acara itu, saya mau hijrah. Ini 1:13:34 bagaimana, Pak Doni? Terima kasih. 1:13:37 Iya, terima kasih, Ibu Nur, ya, yang 1:13:39 bertanya, ya. Jadi, ee ya, dalam hal ini 1:13:43 ataupun dalam hal muamalah yang lainnya, 1:13:46 kita sebetulnya memang bisa kembali 1:13:48 kepada beberapa anu, ya, beberapa sisi 1:13:52 dari cara kita melihat. Misalkan begini, 1:13:56 ya, Ibu bisa kembali misalkan nanti 1:13:58 kepada hadis dalam Kitab Arba'in 1:14:01 An-Nawawiyah, nomor hadis yang ke-1, 1:14:04 itu. 1:14:05 Kalimatnya dari sahabat ee Umar Ibnu 1:14:08 Khattab radhiallahu anhu, 1:14:10 beliau menyampaikan satu hadis sahih 1:14:11 Nabi sallallahu alaihi wasallam yang 1:14:12 oleh ee Imam An-Nawawi dalam Hadis 1:14:15 Arba'in An-Nawawiyah diletakkan di hadis 1:14:18 nomor pertama. 1:14:19 Innamal a'malu binniyat wa innama 1:14:22 likulli imri'in ma nawa. Faman kanat 1:14:24 hijratuhu ilallahi wa rasulihi, 1:14:26 fahijratuhu ilallahi wa rasulihi. Waman 1:14:28 kanat hijratuhu iladunya yusibuha au 1:14:31 imra'atin yankihuha, fahijratuhu ila 1:14:33 mahajara ilaihi au kama qala nabiyyu 1:14:35 sallallahu alaihi wasallam. Jadi, 1:14:38 segala sesuatu itu tergantung niatnya. 1:14:41 Jadi, kalau niat Ibu tadi mengagungkan 1:14:43 syi'ar Allah misalkan, begitu, ya, ee 1:14:46 ya, tentu saja baik, ya. Wamayyu'adzim 1:14:48 sya'airallahi fainnaha 1:14:51 dalam surat ke-22 dalam surat Al Hajj 1:14:53 barangsiapa mengagungkan syiar Allah 1:14:55 maka itu adalah bagian dari ketakwaan 1:14:57 hatinya. Eh tapi kalau memang Ibu ikut 1:15:00 juga misalkan di sana dengan niat 1:15:02 misalkan saya ingin menjaga silaturahim 1:15:04 kepada semua orang yang di 1:15:07 apa di sekitar sini itu pun baik juga 1:15:10 karena apa salat Isya memang eh memiliki 1:15:13 waktu yang ada jedanya waktu apa ada ada 1:15:16 waktunya artinya diundur sedikit atau 1:15:18 apapun sebenarnya bisa juga walaupun 1:15:21 tentu kalau bisa diawalkan sangat baik. 1:15:23 Jadi kedua-duanya insya Allah eh 1:15:25 berdasarkan niat ya apa yang yang 1:15:29 yang dipasang di awal itu maka akan 1:15:31 menentukan nanti kemana kemana eh 1:15:34 berlabuhnya atau eh apa amal itu baik 1:15:37 atau tidak. Nah dalam dalam eh apa kasus 1:15:41 Ibu kalau Ibu mau berniat tadi ingin 1:15:43 menghormati mengagungkan syiar Allah 1:15:47 yakni 1:15:48 mungkin Ibu melihat eh apa eh lebih baik 1:15:53 apa namanya di salat Isya gitu ya maka 1:15:56 silakan mudah-mudahan Allah meridhoi 1:15:58 mudah-mudahan Allah menerimanya. Tapi 1:16:00 kita tidak juga boleh menyalahkan 1:16:02 orang-orang yang misalkan tetap ikut eh 1:16:04 di sana eh 1:16:07 karena memang eh apa niat mereka adalah 1:16:10 eh bersilatul ukhuwah bersama-sama juga 1:16:13 eh insya Allah niat itu juga baik 1:16:15 demikian kira-kira. 1:16:16 Baik Pak Doni. 1:16:18 Kita lanjut Pak Doni ada beberapa 1:16:19 pertanyaan boleh? 1:16:21 Silakan silakan. 1:16:22 Dari Bapak Hadi di Batam Pak Doni 1:16:25 Assalamualaikum warahmatullahi 1:16:27 wabarakatuh. 1:16:28 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:16:30 wabarakatuh. Pak Doni anak-anak 1:16:31 seringkali merasa terbebani dengan tugas 1:16:34 sekolah les tambahan dan aktivitas 1:16:36 lainnya. 1:16:37 Di tengah kesibukan mereka bagaimana 1:16:39 cara kami sebagai orang tua bisa 1:16:41 membantu mereka untuk tetap meluangkan 1:16:43 waktu untuk beribadah dan memperdalam 1:16:47 ilmu agama. Bagaimana pula agar mereka 1:16:49 tidak merasa bahwa agama hanya menjadi 1:16:52 beban tambahan di tengah kegiatan mereka 1:16:55 yang padat. Terima kasih. 1:16:57 Iya. 1:16:59 Terima kasih, Pak. Siapa tadi yang 1:17:00 bertanya dia? Dari Batam ya? 1:17:02 Hadi. 1:17:03 Pak Hadi ya dari Batam. 1:17:06 Iya, jadi memang terus terang Pak Hadi 1:17:08 dan Bapak Ibu yang dirahmati Allah, 1:17:09 kalau kita renungi baik-baik dulu saya 1:17:12 waktu anak-anak saya SD juga begitu. 1:17:14 Saya lihat kok eh kami melihat, saya dan 1:17:16 istri melihat kok kegiatannya tuh banyak 1:17:20 sekali dan apa 1:17:22 buku atau apa yang dia pelajari itu 1:17:25 semuanya gitu ya. 1:17:26 Kalau kita perhatikan saya beberapa kali 1:17:29 memenuhi undangan ke 1:17:31 Australia misalkan gitu ya. Ada 1:17:33 komunitas em muslim kita di sana. Saya 1:17:36 bertanya kepada mereka, mengamati 1:17:40 anak-anak di sana belajarnya itu 1:17:41 sedikit. 1:17:43 Ehm. 1:17:43 Gitu. 1:17:44 Eh begitu pula mata pelajaran yang 1:17:47 diajarkan itu tidak serumit anak 1:17:49 Indonesia. 1:17:50 Jadi 1:17:51 matematika misalkan, enggak ada di sana 1:17:53 belajar 1:17:55 eh apa sinus, cosinus, tangen itu enggak 1:17:58 ada itu sudah sudah sudah 1:18:00 S1 S2 itu. Kita nanti di SMP saja sudah 1:18:03 belajar itu kita. Nah, jadi tidak 1:18:05 serumit itu belajar di sana itu. 1:18:08 Nah, justru yang digali adalah eh apa eh 1:18:13 kemandirian berpikirnya. Disuruh membuat 1:18:15 esai, disuruh membuat eh apa namanya eh 1:18:19 konstruksi berpikir tentang sesuatu hal 1:18:22 dan lain sebagainya. Suruh mengumpulkan 1:18:24 data-data. Nah, itu cara-cara skill yang 1:18:27 diajarkan untuk survive dalam hidup 1:18:30 gitu. Nah, suruh berkelompok 1:18:32 mendiskusikan satu hal kemudian 1:18:33 mempresentasikan. Itu yang banyak. Eh 1:18:36 jadi mereka saya sering mengamati itu. 1:18:39 Nanti eh, apa eh, keluar dari kelas 1:18:43 sama-sama dengan gurunya mengamati alam 1:18:45 sekitar, kemudian menceritakan apa yang 1:18:47 dilihat, apa pelajarannya dan lain 1:18:50 sebagainya. Jadi, guru itu banyak 1:18:51 mendengar juga dari anak, kemudian eh, 1:18:54 gimana guru itu memberikan masukan, "Oh, 1:18:57 iya bagus begini." dan lain sebagainya. 1:18:59 Itu dan begini mendiskusikan apa yang di 1:19:01 Jadi, banyak hal yang yang sebenarnya 1:19:03 itu 1:19:04 eh membebani anak. 1:19:07 Nah 1:19:08 di di di kita ini memang harus kita akui 1:19:11 gitu dan ujung-ujungnya eh, apa namanya? 1:19:15 Hanya mengejar satu lembar kertas, 1:19:18 ijazah gitu. 1:19:19 Eh, jadi ijazah sekarang bisa dibuat. 1:19:22 Malah gelar profesor bisa dibeli gitu 1:19:24 kan. 1:19:25 Itu bisa bisa dengan mudahnya orang bisa 1:19:28 dapat gelar doktor, profesor bahkan 1:19:30 sekarang begini. Jadi, sebetulnya memang 1:19:32 ini harus kita akui ada eh apa namanya? 1:19:36 Yang terlalu berlebihan kepada anak 1:19:38 gitu. Eh, jadi kalau bisa 1:19:41 ya mencari lembaga pendidikan yang baik 1:19:44 gitu, yang me mengeksplor justru yang 1:19:46 mengasah daya kritis cara berpikir anak 1:19:49 dan lain sebagainya, mendalami eh, 1:19:52 keagungan Islam, mukjizat di dalamnya 1:19:54 yang sebetulnya adalah eh, merupakan 1:19:57 bangunan dari peradaban hidup manusia 1:20:00 ini dan lain sebagainya. Tapi kalau 1:20:02 sudah terlanjur misalkan sekolah di satu 1:20:04 tempat maka kita bisa meluangkan, 1:20:06 mencari betul-betul me apa? Menyisipkan 1:20:09 betul-betul di waktu-waktu yang memang 1:20:12 anak ini bisa eh, kosong atau kita bisa 1:20:15 involve, masuk eh, menemani dia dalam 1:20:18 kegiatan belajarnya. Itu yang dulu juga 1:20:20 dulu kami coba lakukan. Jadi mau tidak 1:20:23 mau kita harus belajar lagi matematika 1:20:26 supaya kita bisa bersama, berdiskusi 1:20:27 sama dia. Mau tidak mau kita belajar 1:20:29 lagi apa yang dia baca supaya kita masuk 1:20:32 ke dalam kehidupan dia. Ya, kira-kira 1:20:34 begitulah agar kita tetap bisa 1:20:37 membersamai anak tadi itu. Nah, itu 1:20:40 sekilas pendapat saya kira-kira, Pak 1:20:41 Adi. 1:20:42 Baik. 1:20:43 Ada Ibu Lia di Bogor, Pak Doni. 1:20:47 Assalamualaikum warahmatullahi 1:20:48 wabarakatuh. 1:20:50 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:20:51 wabarakatuh. 1:20:52 Pak Doni, kehidupan semakin berat dengan 1:20:54 meningkatnya biaya hidup dan tekanan 1:20:56 ekonomi. Dalam kondisi seperti ini, 1:20:59 bagaimana cara kami sebisa mendidik 1:21:01 anak-anak agar tetap memiliki semangat 1:21:03 hijrah yang sejati dan tidak mudah 1:21:06 terpengaruh oleh gaya hidup 1:21:08 materialistis? 1:21:10 Adakah saran untuk menjaga agar 1:21:12 nilai-nilai Islam tetap kuat di tengah 1:21:14 segala kesulitan yang ada? 1:21:17 Eee. 1:21:18 Terima kasih, Bu. Siapa tadi yang 1:21:20 bertanya, ya? 1:21:20 Ibu Lia di Bogor. 1:21:22 Iya, ya. Ibu Lia di Bogor, ya. 1:21:25 Jadi, Bu Lia, memang iblis itu 1:21:29 menggoda manusia. 1:21:31 Eee, nanti Ibu bisa buka surat ke-7, 1:21:33 surat Al-A'raf ayat ke-20. 1:21:36 Cara iblis menggoda manusia dulu 1:21:38 dipraktikkan kepada Nabi Adam dan Siti 1:21:40 Hawa, nenek moyang kita, dan akan 1:21:43 digunakan lagi metode yang sama kepada 1:21:45 kita. 1:21:47 Yakni apa? 1:21:48 Dibuatnya kita itu melihat, 1:21:51 membandingkan diri kita dengan orang 1:21:54 yang lebih tinggi atau lebih hebat, ya. 1:21:59 Supaya kemudian kita kehilangan rasa 1:22:00 syukur. 1:22:02 Kalimat iblis di situ ayat ke-20, ya. 1:22:04 Fawaswasalahumasyaiton 1:22:06 liyubdiyalahuma mauriya anhu wa min sau 1:22:08 sai min sauatihimakuma waqola manahakuma 1:22:11 robbukuma an hazihisajaroh illa antakuna 1:22:14 malakain autakuna minal kholidin. 1:22:17 Kata iblis kepada Adam lewat waswasnya, 1:22:20 fawaswasalahumasyaiton 1:22:21 liyubdiyalahuma mauriya anhu wa min 1:22:22 sauatihimakuma waqola, dia berkata 1:22:24 begini, manahakuma robbukuma an 1:22:26 hazihisajaroh illa antakuna malaikain 1:22:28 autakuna minal kholidin. Kata iblis, itu 1:22:31 Allah melarang kamu dekatin pohon yang 1:22:33 satu itu karena supaya kamu tidak 1:22:36 menjadi seperti malaikat yang bercahaya 1:22:38 dan bersinar itu. Nah, 1:22:40 jadi perhatikan 1:22:42 kan dulu Nabi Adam hidup di di 1:22:44 tengah-tengah malaikat. Nah, malaikat 1:22:46 yang dijadikan alat oleh iblis untuk 1:22:50 supaya Nabi Adam tidak bersyukur, 1:22:52 membandingkan seperti malaikat padahal 1:22:54 diri beliau bukan malaikat. 1:22:56 Gitu. Nah, sekarang kita hidup di tengah 1:22:59 manusia. Iblis pakai cara yang sama, 1:23:01 diajaknya kita melihat orang yang di 1:23:03 atas kita. Tuh lihat tetanggamu, tuh 1:23:06 lihat adikmu bisa jalan-jalan ke luar 1:23:08 negeri, tuh lihat eh kakakmu bisa punya 1:23:10 rumah, punya uang, punya ini, punya itu, 1:23:13 tuh lihat anu begini begitu dan 1:23:15 seterusnya sehingga mengurangi rasa 1:23:17 syukur kita. Padahal modal kita adalah 1:23:19 bersyukur. Nah, itu tuh itu ayat ke-20 1:23:22 tadi ya. Kalau Ibu kembali ke atasnya 1:23:25 ayat ke-17, nah iblis bersumpah untuk 1:23:28 untuk membuat manusia tidak bersyukur. 1:23:30 Caranya adalah dengan mengajak mata 1:23:33 manusia ini melihat kepada orang-orang 1:23:35 yang diberikan eh ujian berupa sesuatu 1:23:39 yang mungkin lebih daripada dirinya. 1:23:41 Padahal sama-sama ujian itu. Nah, jadi 1:23:45 bagaimana caranya supaya kita bisa 1:23:46 mengajarkan itu kepada anak ya. 1:23:49 Sampaikanlah eh hakikat yang 1:23:51 sesungguhnya dari kehidupan ini bahwa 1:23:53 belum tentu kalau Allah memberikan semua 1:23:56 yang kita harapkan itu belum tentu akan 1:23:59 menjadi baik kepada kita. Allahlah yang 1:24:01 tahu takarannya untuk kita. Jadi kita 1:24:04 bisa mensyukuri apa yang ada, itulah 1:24:07 yang terbaik. Kalau nanti Allah berikan 1:24:09 tambahan, kalau Allah berikan rezeki 1:24:12 kepada kita, kita pun sudah bisa 1:24:14 bersyukur. Kalau Allah kurangi atau 1:24:16 terbatas, kita pun mampu bersyukur. Jadi 1:24:19 tujuannya adalah tetap bersyukur dalam 1:24:22 segala eh apa kondisi dan kita bisa kok 1:24:25 Allah sudah jamin kehidupan kita di atas 1:24:28 dunia ini sebagaimana Allah jamin 1:24:30 kehidupan Nabi Adam dan Siti Hawa di 1:24:32 surga. 1:24:34 Kata Allah silakan makan apa yang di 1:24:36 surga ini ya silakan kamu tinggal di 1:24:39 surga ini 1:24:41 jadi di dunia pun begitu kita sudah 1:24:43 dijamin kehidupannya oleh Allah. Cuma 1:24:47 yang Allah tidak jamin adalah gaya hidup 1:24:51 atau selera hidup. Itu tidak dijamin. 1:24:54 Tapi kalau kehidupan dijamin. Pasti bisa 1:24:58 hidup kita di dunia ini dengan anak cucu 1:25:00 keturunan kita pasti bisa yang tidak 1:25:03 bisa adalah gaya hidup. Atau selera 1:25:06 hidup nah di situlah iblis akan masuk 1:25:09 menggoda kita. 1:25:11 Demikian kira-kira sedikit 1:25:13 kuliah. 1:25:14 Satu pertanyaan lagi Pak Doni boleh? 1:25:16 Iya baik terakhir. 1:25:17 Pertanyaan terakhir dari Bapak Ahmad di 1:25:20 Sukabumi Assalamualaikum warahmatullahi 1:25:22 wabarakatuh. 1:25:24 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:25:25 wabarakatuh iya Pak Ahmad silakan. 1:25:27 Baik. 1:25:28 Pak Doni bagaimana agar kami para orang 1:25:31 tua bisa tetap bersabar dan ikhlas dalam 1:25:35 mendidik anak-anak untuk tetap berhijrah 1:25:37 sejati 1:25:38 meskipun para orang tua atau kami 1:25:40 sendiri tengah menghadapi banyak cobaan. 1:25:43 Apakah ada doa atau amalan yang bisa 1:25:45 kami lakukan untuk memperkuat hati kami 1:25:48 dalam menjalani peran sebagai orang tua? 1:25:52 Baik terima kasih. 1:25:54 Eee. 1:25:56 Bapak Ibu yang dirahmati Allah serta Pak 1:25:58 siapa tadi Pak siapa lupa saya. 1:25:59 Bapak Ahmad di Sukabumi. 1:26:01 Ahmad di ya Pak Ahmad di Sukabumi. 1:26:03 Jadi 1:26:04 yang pertama yang harus kita ketahui 1:26:06 adalah rumusnya 1:26:08 tidak tidak lain dan tidak bukan kembali 1:26:11 kepada surat Al Baqarah ayat 155 1:26:14 sampai 156. 1:26:17 Kalimat Allah di situ Pak Ahmad dan 1:26:18 Bapak Ibu, wala nabluwannakum bisyaiin 1:26:21 minal khauf wal ju' wanaxim minal amwal 1:26:24 wa anfus wa tsamarat wa basyiris 1:26:26 shabirin. 1:26:27 Pasti semua kita akan diuji. Jadi ujian 1:26:30 itu bukan sesuatu yang bukan sesuatu 1:26:33 yang tidak lazim di dunia ini. Namanya 1:26:35 juga darul bala, dunia ini ya kan, 1:26:38 tempatnya ujian. Pasti kita akan diuji. 1:26:41 Wala nabluwannakum, kami pasti akan 1:26:43 menguji kalian semua. Orang yang kita 1:26:45 lihat mudah bukan tidak diuji. Itu 1:26:47 karena kita ada di luar, makanya kita 1:26:49 pandang dia, "Oh enak banget ya hidup 1:26:51 kamu." gitu. Padahal dia yang menjalani 1:26:54 hidup itu berat juga buat dia. Sama, 1:26:56 sama-sama ujian juga gitu. Wa basyiris 1:26:59 shabirin, sampaikan kabar gembira kepada 1:27:01 orang yang sabar. Apa atau siapa mereka 1:27:04 itu? Eee alladzina idza ashobat musibah 1:27:08 qolu inna lillah wa inna ilaihi raji'un. 1:27:11 Ini adalah kuncinya. Kalimat inilah 1:27:14 kuncinya. Inna lillah. Semua ini milik 1:27:17 Allah. Kita juga milik Allah. Anak-anak 1:27:19 Bapak juga milik Allah Pak Ahmad, Bapak 1:27:21 Ibu. Eee jadi inna lillah wa inna ilaihi 1:27:25 raji'un. Eee cara yang terbaik adalah 1:27:28 sering-sering kembali kepada Allah. Tadi 1:27:30 surat ke eee 7 tadi ya ayat 55 ud'u eee 1:27:35 rabbakum tadharru'an wa khufyah. 1:27:37 Kembalilah kepada Allah. Dengan apa? 1:27:40 Dengan rendahkan dirimu. Eee sampaikan 1:27:43 kelemahan kita di hadapan Allah. Allah 1:27:46 menuntut ketidaksempurnaan. 1:27:48 Nah jadi itu cara yang terbaik adalah 1:27:51 mengatakan inna lillah wa inna ilaihi 1:27:53 raji'un. Semua ini milik Allah. Semua 1:27:56 akan kembali kepada Allah. Gitu ya. Dan 1:27:59 kalau kita memikulnya sendiri beban itu 1:28:03 tentu kita tidak sanggup. Tentu kita 1:28:05 tidak kuat. Karena kita adalah hamba. 1:28:08 Ya, kembalikan kepada Allah. 1:28:09 Sering-seringlah mengadu kepada Allah. 1:28:11 Lewat apa? Lewat salat atau lewat zikir 1:28:14 kita. 1:28:15 Zikirnya apa? Apa saja bisa. Bahkan 1:28:18 enggak usah ee pakai bahasa Arab pun 1:28:20 bisa. Boleh kalau bukan dalam salat ya, 1:28:22 Bapak Ibu. Silakan mengadu saja kepada 1:28:24 Allah dalam hati, silakan. Boleh. Ee 1:28:27 jadi kita pegang ayatnya 155 dan 156 1:28:31 dari surat Al Baqarah. Demikian 1:28:33 kira-kira, Pak Ahmad dan Bapak Ibu. 1:28:35 Baik, terima kasih banyak Ustaz Doni 1:28:38 atas penjelasan dan jawabannya. Ikhwan 1:28:40 dan akhwat, demikian tadi beberapa 1:28:42 pertanyaan yang sudah dijawab oleh Ustaz 1:28:44 Doni Amir Sagaf. Dan sebelum berpisah, 1:28:47 kita akan mendengarkan kesimpulan dari 1:28:50 materi kita di hari ini tentang hijrah 1:28:52 sejati. 1:28:54 Iya, terima kasih Pak Agus dan Bapak Ibu 1:28:57 yang dirahmati Allah, ikhwan akhwat 1:28:58 sekalian. Jadi hijrah ini bukan hanya 1:29:02 fisik, 1:29:03 bukan hanya tampilan luar, bukan hanya 1:29:06 penampilan. Semua itu bagus, tapi yang 1:29:09 paling utama, yang sejatinya adalah 1:29:12 menghijrahkan cara kita berpikir, 1:29:15 menghijrahkan validasi. 1:29:18 Ya, validasi itu ee apa? Ee 1:29:22 apa ya? Ee validasi itu 1:29:26 adalah sesuatu yang kita harapkan, ya. 1:29:29 Diakui oleh siapa? Ee selama ini mungkin 1:29:33 validasi kita atau pengakuan yang kita 1:29:35 cari adalah dari manusia, dari ukuran 1:29:37 manusia. Kita hijrahkan kepada ukuran 1:29:39 Allah. Menjadi hamba Allah, menyerahkan 1:29:42 diri kepada Allah, bertawakal dan 1:29:44 bersyukur kepada Allah. Nah, itulah 1:29:46 hijrah yang sesungguhnya. Mudah-mudahan 1:29:49 Allah mudahkan kita untuk bisa berhijrah 1:29:51 sejati di momentum ee bulan Muharram, ee 1:29:55 bulan pertama dari tahun 1446 Hijriah 1:30:00 ini. Demikian, wallahu a'lam bishawab. 1:30:02 Assalamualaikum warahmatullahi 1:30:04 wabarakatuh. 1:30:05 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:30:07 wabarakatuh. Ikhwan dan akhwat yang 1:30:09 dirahmati Allah subhanahu wa taala, 1:30:11 demikian tausiah kita dalam program 1:30:13 tadabbur Alquran bersama Ustaz Doni Amir 1:30:17 Sagaf. Semoga apa yang beliau sampaikan 1:30:19 bermanfaat. 1:30:21 Akhirul kalam, kami yang bertugas mohon 1:30:23 undur diri. Namun, kami juga mengucapkan 1:30:25 terima kasih kepada seluruh pendengar 1:30:27 kami di mana pun Anda berada ya dan yang 1:30:30 tadi telah memberikan pertanyaannya. 1:30:33 Kita tutup dengan doa kafaratul majelis. 1:30:35 Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu 1:30:37 alla ilaha illa anta astagfiruka wa 1:30:40 atubu ilaik. Ilaliqa wabillahitaufik 1:30:42 walhidayah. Wassalamualaikum 1:30:44 warahmatullahi wabarakatuh.