Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 [musik] 0:08 Brail TV. 0:11 [musik] 0:16 Asalamualaikum warahmatullahi 0:18 wabarakatuh. Apa kabar Bang Ihsanuddin 0:20 Nursi? 0:22 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:24 wabarakatuh. Alhamdulillah 0:27 R. Waduh, hampir-hampir pendengar kecewa 0:30 ini katanya. Masyaallah. [tertawa] 0:33 Masyaallah. 0:34 Masyaallah. Karena republik ini masih 0:37 ada ya, belum 2030. 0:40 Saya tadi pagi baca-baca lagi ya buku 0:43 prahara Bangsa. Bang, 0:44 Bang luar biasa ini buku ya. Pendengar 0:48 nih mesti beli nih ya. ya, 0:50 anomali-anomali yang terjadi, buku ini 0:52 ditulis 2024 tapi menganalisa sampai 0:55 2000 ee 45 nampaknya ini ya. Buku 1:00 sebelumnya ada buku Kita belum merdeka 1:03 2008, selamat Datang di negeri 1:05 amburadul. Nah, ini ini dia belum lagi 1:08 ekonomi konstitusi ya. Ada lagi selamat 1:11 datang di negeri amburadul kedua lagi 1:13 ya. Dan juga buku berikutnya bangsa 1:16 Terbelah. Nih, [terkesiap] 1:17 ini buku sangat mencerahkan dan 1:20 kondisi-kondisi ini terus berulang. Nah, 1:23 apa yang akan terjadi ketika 2035 hingga 1:27 2040 dalam analisa ini sebuah 1:30 disintegrasi yang tidak bisa juga 1:33 dikatakan mustahil. Karena Prabowo 1:35 sendiri yang menyebutkan dalam September 1:38 eh 9 tahun lalu ya dari novel of the 1:42 next world war. Bagaimana Alkisah 2030 1:46 Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah 1:48 tidak ada lagi. Ya salam kan masih ada 1:52 Indonesia emas atau Indonesia cemas. 1:56 Tapi kini hm ah indikasi seperti 2:01 penduduk Indonesia yang menguasai lahan 2:04 semakin sedikit dan juga tingginya 2:06 hutang serta nilai relatif tinggi dari 2:10 gini rasio entah berapa sekarang ini, 2:13 Bang, gini rasio kita 0,3an atau 0,4 dan 2:16 batas apa yang menyebabkan dikatakan 2:19 kritis ini di dalam negeri, Bang. Belum 2:22 lagi di luar negeri. Nampaknya ee 2:25 Amerika sendiri uring-uringan rakyatnya 2:28 ya tentang kenaikan solar yang sudah 59% 2:33 akibat teluk ee apa salat hormus ini. 2:36 Entah ini salat tram atau bagaimana ya. 2:39 juga di Indonesia. Alkisah lainnya 2:41 mungkin Bang Ihsanuddin Nursi 2:44 menceritakan dari bumi yang sedang 2:47 terkena banyak bencana ini. Cerita apa 2:50 di balik apa pertandakah atau macam mana 2:53 ketika korupsi mangkin garu-garu kepala. 2:56 Ini juga kita lihat dagelan sandiwara 2:59 dari Kejaksaan Agung Febri Adiansah 3:01 nampaknya makin seru saja. Silakan Bang 3:04 Ihsanuddin Nursi mungkin bisa memberikan 3:07 pencerahan untuk kita semua. Tafadol. 3:11 Bismillahirrahmanirrahim. 3:13 Alhamdulillahiabbil alamin. 3:16 Subhanallah wabiham 3:19 wala haula wala quata illa. Ee 3:25 yang pertama 3:28 kita ngelihat itu bencana 3:30 karena bencananya bukan hanya terjadi di 3:32 Indonesia tapi juga terjadi di Amerika 3:34 sendiri. 3:36 Hm. Jadi kalau ee kemarin ada yang 3:42 bilang empat gunung berapi, ternyata ada 3:47 yang mengidentifikasi ya ada 10 3:51 ada 10 hampir bersamaan 3:56 ada 10 ee di Manado, di Sumatera Barat, 4:01 di Jogja, Jakarta, di Lampung, di NTT, 4:05 di mana-mana gitu. Oke, 4:07 itu ee semuanya bergejolak 4:11 ee 4:13 ee seperti tesis kita sebelumnya 4:18 bahwa gejala alam itu itu akibat 4:21 tindakan manusia. 4:23 Alam bereaksi 4:25 ee ada sesuatu yang salah kita lakukan 4:29 dan alam bereaksi gitu dan kita tidak 4:32 minta ampun, kita tidak minta maaf. 4:36 Dalam dalam bahasa yang lain kita bahkan 4:39 ketika diminta itu kita menyangkalnya. 4:43 Eh kita juga menaikkan anggaran bencana 4:46 ya. [tertawa] 4:46 Bukan himbuan bertobat menaikkan 4:48 anggaran bencana. 4:51 Dan dan menariknya ee ada yang bilang 4:55 ini karena ada rekayasa gitu. [tertawa] 5:01 Dan itulah yang kalau dari dari era 5:05 cerita tentang tsunami Aceh 26 Desember 5:08 2004 5:09 itu disebut sebagai gejala alam gitu. 5:12 Ah itu dan itu apa wajah dari Indonesia 5:17 yang menyangkal bahwa setiap tindakan 5:21 manusia itu selalu ada dampaknya bagi 5:24 h 5:24 bagi alam. 5:26 Karena pasti seperti kita pernah bilang, 5:28 alam pasti akan mencari keseimbangan 5:30 baru dari tindakan yang manusia buat. 5:33 He. [berdehem] 5:34 Nah, itu yang disebut dengan mizan. 5:37 [mendengus] Mizan. 5:38 He. 5:40 Nah, kalau kemarin anak Kraka tahu 5:43 seperti itu dan kita sudah seperti 5:45 terkena musibah besar. Bayangkan dari 5:49 dari Lampung ke Jakarta nyampai bahkan 5:52 katanya sampai ke Bogor segala Sukabumi. 5:55 Hm. sampai ke Sukabumi. Nah, itu luar 5:58 biasa. Memang pada 1883 sendiri itu 6:01 sampai ke daerah sana. 6:03 Wah, 6:03 daerah India 6:05 sampai luar jauh gitu 6:08 ke Eropa. 6:09 Jadi kalau ee saya kebetulan pernah 6:12 melihatnya gitu ya, bagaimana 6:15 ee lava dan itu turun dari situ. 6:19 Iya. 6:20 Anak rakaat itu. 6:21 H 6:22 kita perang dan itu mengerikan. 6:24 [mendengus] Heeh. 6:25 Luar biasa itu. H. 6:27 Nah, ee ee ada enggak ada kata lain 6:30 kecuali kita kita harus meminta maaf, 6:33 kita istigfar dan kita mohon ampun dan 6:37 ee seperti doanya ee agar bumi ini 6:40 beserta isinya kembali lagi bersahabat 6:43 dengan kita. 6:44 I 6:44 dan itu hanya karena keputusan Allah. 6:46 Gitu. Oh, bukan keputusan manusia. Tidak 6:50 ada keputusan manusia yang bisa 6:51 melibatkan mengatasi itu semua gitu. He. 6:54 Nah, dari situ kita mesti koreksi diri. 6:56 Kalau saya, saya akan mengajak semua 6:59 pihak ee seperti biasa 7:03 bermuhasabah 7:04 ee merenung, meminta maaf, mohon ampun, 7:08 dan meminta agar isi ee bumi ini ee bumi 7:13 dengan dengan penghuninya, bumi dengan 7:16 segala macam kekuatannya kembali 7:18 bersahabat dan kembali ditentramdamaikan 7:21 oleh Allah Subhanahu wa taala. Tanpa itu 7:24 kita enggak bisa bikin apa-apa. 7:26 Tanpa itu manusia tidak dan manusia akan 7:29 hanya berteriak ketakutan, 7:32 istigfar dan kemudian akhirnya 7:33 melindungi diri juga. Melindungi 7:35 dirinya. Ee ya akan Allah bilang itu 7:38 adah bagian dari yang namanya gunung 7:40 berjalan-jalan. Iya. 7:43 Kan kalau kalimat 7:44 iya gunung berjalan-jalan ya itu ya ini 7:47 gunung gunung berjalan-jalan ya isinya 7:50 berterbangan gitu maksudnya bukan 7:52 gunungnya jalan-jalan tapi isinya 7:54 berterbangan ya itu isinya berterbangan 7:56 itulah gunung jalan-jalan gitu 7:59 pemahamannya. Nah 8:00 ee sementara kita tahu ee saya baru 8:03 dengar dari anak-anak SMA sekarang. He 8:06 betapa krisis narkoba dan krisis LGBTQ 8:09 sudah demikian tinggi. 8:12 H. 8:14 Jadi di kalangkang anak-anak SMTA itu ee 8:18 situasi 8:20 narkoba dan situasi LGBT sudah 8:24 sampai pada puncaknya yang demikian 8:26 berbahaya. He 8:28 bagi negeri [berdehem] 8:30 ee dan 8:32 ee 8:34 dan perang peradaban ini mungkin jelas 8:37 itu kan bagian dari perang peradaban. 8:39 H 8:40 perang peradaban yang memang di 8:44 piciu oleh berbagai hal termasuk 8:47 ketidakmampuan kita mengatasi perang 8:49 peradaban itu sampai kita menyangkal 8:51 berbagai hal. Lagi-lagi memang manusia 8:54 suka berbantah, manusia suka menyangkal. 8:57 ee ya, tapi begitu dampaknya hasilnya. 9:02 Nah, ini yang ee kita menginventarisasi 9:05 kesalahan aja dulu. 9:08 [tertawa] 9:09 Lalu kita lihat lagi ee bagaimana 9:13 kebijakan-kebijakan yang muncul juga 9:15 tetap tidak tidak dalam konstruksi. 9:19 Poinnya adalah intinya adalah secara 9:21 keseluruhan kita meninggalkan 9:24 ee kalau pakai kalau kalau pakai bahasa 9:30 politik gitu ya, kita mengkhianati 9:33 semangat para pendiri republik. 9:36 Kalau pakai bahasa Al-Qur'an 9:38 diberikan Al-Qur'an tapi ditinggalkan ke 9:40 Al-Qur'an, di belakangi ke Al-Qur'an. 9:43 Nah, itu yang ee kita hadapi sekarang. 9:47 He. 9:48 Nah, enggak ada cara lain memang kecuali 9:50 kembali. 9:51 Enggak ada cara lain kecuali kembali. 9:53 Kalau untuk untuk umat Islam yang 9:55 katanya mayoritas terbesar di seluruh 9:58 dunia yang ternyata hasilnya dalam 10:01 posisi mayoritas terbesar hasilnya 10:03 masyaallah la astagfirullah 10:06 astagfirullah astagfirullah. Eh, 10:09 enggak tahu ya. Saya sendiri dalam 10:10 posisi merasakan kerisauan yang amat 10:12 sangat ya melihat situasi seperti ini. 10:15 Ee kita ngelihat, kita ketemu orang yang 10:20 yang itu tadi ketemu para pejabat yang 10:24 seakan-akan kita tidak punya masalah 10:26 besar eh enjoy the power atau menikmati 10:30 kekuasaan ya bisnis as usual yang kita 10:33 lihat. He. 10:34 Dan kalau dibilang ini rasio meningkat 10:38 ya pastilah karena orang miskin mungkin 10:41 miskin, 10:42 rentan miskin bertambah 10:44 lalu ditambah lagi dengan ee kejatuhan 10:46 kelas menengah bawah. 10:48 Lalu ada 10:50 lalu beredarlah indikator-indikator 10:52 kemiskinan menurut bank dunia 10:54 karena kita sudah naik 10:56 ee middle upper income. E kalau pakai 11:00 middle upper income hitungannya bukan 11:01 lagi 1,9. Iya. 11:03 Hitungannya bukan lagi 2,9. 11:06 Hitungannya sudah 6,9. Sudah hitungan 7 11:08 dolar. 11:09 Hm. 11:09 Gitu. 11:10 Iya. 11:11 7 per hari ini kan 11:13 kalau 7 dolar 11:14 data 2 tahun yang lalu ya sekarang 11:16 meningkat 0,4 sebagai hampir ya. 11:20 [menghela napas] 11:21 Iya. E kalau diambil gini rasio kan kita 11:25 bilang 11:26 diasil berkali-kalian yang nurs 11:29 angkanya kan 0,42 sebenarnya. I. 11:34 Nah, kan coba buka ee wawancara 11:37 wawancara dengan Rasil beberapa waktu 11:39 lalu dia bergerak di 0,38 sampai 0,42 11:44 gitu. 11:45 Kalau melihatnya begitu 11:48 apalagi 11:49 ee kebijakannya memang kebijakan untuk 11:52 mendukung orang kaya yang pajaknya 11:54 berlipat-lipat hanya kepada orang 11:56 miskin. Si orang kayanya dapat teks 11:58 amnesty. 11:59 Hm. 12:01 Tek amnesti buktinya itu tadi Pot sama 12:04 Iya. 12:05 sama merah putih bon. Nah, itu itu teks 12:07 amnesti itu 12:09 walaupun angkanya 51,75 triliun yang 12:11 mereka dapat lewat itu gitu lewat 12:13 lewat 12:15 ee 12:16 merah putih bon gitu, lewat Patriot 12:18 Bond. Nah, dari itu semua 12:22 kita harusnya mengoreksi diri, bukan 12:26 malah sekarang, wah ini kalau kita 12:28 ngambil begini akan terjadi malah 12:31 stabilitas gitu. 12:33 Terganggu. Stabilitas pemerintahan akan 12:36 diganggu kalau kita begini. Ini kalau 12:38 begini malah stabilitas pemerintahan 12:40 loh. Tunggu dulu. 12:41 Stabilitas konglomerat yang terganggu 12:44 gitu. 12:45 Iya. Coba lihat 12:47 kenapa mikirnya so itu saya mikirnya 12:51 pendek banget gitu loh bahwa yang 12:52 namanya ketidakstabilan pemerintahan itu 12:55 lebih disebabkan oleh perilaku 12:56 pemerintah sendiri gitu loh melihatnya. 12:59 He he. 12:59 Misalnya protes soal MB. 13:02 Hm. 13:02 Iya kan? 13:03 Iya. 13:03 Protes soal MB itu kan sudah 13:06 sampai akhirnya kayak gitu. 13:08 Protes soal koperasi merah putih 13:10 misalnya. 13:11 Iya. He 13:11 itu kan sudah sampai kayak gitu. Tapi 13:14 pada saat yang sama misalnya ketika kita 13:17 bilang, "Yuk, kita benahin dengan dengan 13:19 mengambil jalan lurus ee ee kiblat 13:23 dengan mengambil kiblat pengolan negara 13:26 berdasarkan semangat para pendiri bangsa 13:28 gitu misalnya." Oh, enggak. Itu itu akan 13:31 berbahaya itu. Kita akan mundur ke 13:33 belakang. Oh, sejumlah tokoh semuanya 13:35 ribut. Kita akan mundur ke belakang 13:37 kalau kita menegakkan pemerintah 13:39 berdasarkan ee semangat sistem para 13:41 pendiri bangsa gitu kan. Kan lucu kan 13:45 dia enggak dia enggak ngelihat contoh di 13:47 depan mata bahwa Amerika yang sudah 13:51 bayangin 13:51 iya 13:52 sudah 13:54 itu ya 13:55 serusak-rusaknya Amerika konstitusinya 13:57 masih jalan gitu [berdehem] 13:59 ya. 14:00 Serusak-rusaknya Amerika konstitus jalan 14:02 tapi pada saat yang sama kita lihat 500 14:05 tahun itu mereka gagal mengangkat harkat 14:07 martabat manusia seperti saya bilang. 14:09 Hm. 14:11 Itu kan kelihatan. 14:12 Iya. sampai akhirnya pemerintahannya 14:14 tetap kayak gitu gitu dan akhirnya orang 14:16 ngebongkar habis-habisan betapa yang 14:19 namanya Amerika mendukung Israel dengan 14:20 dananya, dengan militernya [tertawa] 14:23 kelihatan. 14:23 Akhirnya ada laboratorium New York 14:25 dengan demokratis demokrat sosial 14:28 sosialis gitu. [tertawa] 14:30 Iya. 14:31 Laboratorium berkamulase gitu. 14:35 Kemunculan kemunculan si Abu Abu Abu 14:38 siapa namanya Chigen itu. 14:39 Oh iya. 14:42 He. 14:43 Sampai kayak gitu gitu. Nah, ee dan 14:46 dalam peringatan dalam peringatan 25 14:48 tahun peristiwa 11 September, wah orang 14:50 merasa loh ini apa sih? Dan 14:53 itu kan gambaran 14:55 bahwa yang mereka contoh dari Amerika 14:57 itu gitu ya, itu tidak menunjukkan satu 15:01 keberhasilan gitu. 15:03 Terus tetap aja pencontoh yangah gitu. 15:05 Masyaallah. Enggak enggak 15:07 Abu Abu Alsay. 15:10 Oh, Abu Sayid. Iya. Ya. Nah, bayangkan 15:12 kalau bayangkan kalau kemudian ee orang 15:16 bilang ini orang ribut soal jasahnya 15:19 Gibran misalnya, 15:21 jangan, jangan baper gitu. 15:24 Terus 15:25 coba bayangkan wakil presiden dari 15:27 Hampeng Tubun dari Hatta deh. Dari Hatta 15:30 dari Hatta sampai sampai [berdehem] 15:32 terakhir deh sebut deh sampai dengan 15:34 sampai dengan terakhir e Budono gitu 15:37 loh. 15:37 Heeh. Widion 15:38 sampai Mauf Amin deh. Betul. Oke. Sampai 15:40 maamin 15:41 itu kan punya 15:43 punya ee bukan bukan bukan legal 15:46 standing yang benar, punya e personal 15:49 standing yang benar gitu, punya posisi 15:51 pribadi yang benar gitu. 15:53 Ee lalu kemudian dibenarkan dengan 15:55 cara-cara kayak gitu dalam rangka ini 15:58 kan konyol dan sejumlah intelektualnya 16:00 membenarkan. Coba sampai ada seorang 16:02 anak muda begini itu yang mendukung 16:05 bodoh, pejabatnya bodoh, yang ee yang 16:09 mendukungnya bodoh, yang didukungnya 16:11 bodoh, sampai disebutin struktur bodoh, 16:13 bodoh, bodoh, bodoh. Loh, bangsa 16:14 [tertawa] ini memang bodoh. Sampai 16:16 akhirnya 16:18 sampai akhirnya tahu enggak kalimatnya 16:19 gimana? Itu yang bikin sayaembara 16:22 miliaran juga katanya. 16:23 Itu motifnya apa coba? Coba. [tertawa] 16:28 Itu kan gambaran katanya. itu gambaran 16:31 bahwa kita sedang dipermalukan gitu. 16:34 Walaupun kemudian ee bapaknya datang 16:36 katanya ke satu acara pembicaraan 16:39 perdamaian di Peneng disambut sedemikian 16:41 rupa ini masyaallah ini perang 16:44 informasinya luar biasa. 16:47 H 16:47 dan perang informasi luar biasa itu ee 16:50 disahuti sebagai sebuah keberhasilan. 16:52 Nah, kalau seorang sudah kita sudah 16:55 kalau di antara bangsa ini sudah 16:57 mengalami perang narasi, perang 16:59 informasi 17:00 gitu ya, maka sesungguhnya yang sedang 17:02 terjadi perang peradaban. 17:04 Hm. Gitu. 17:06 Eh, itu [berdehem] di situ butuh 17:07 kepemimpinan gitu. Mestinya dipahami 17:10 oleh pemerintah begitu. Jadi kalau kita 17:12 sadari situasinya begitu banjir 17:16 informasi, perang narasi, perang 17:17 informasi sedemikian rupa dan dia tidak 17:20 menghasilkan satu kesepakatan bersama. 17:23 Nah, itu artinya perang peradaban itu 17:25 artinya ada yang dalam sistem kan 17:28 mestinya ngelihatnya gitu. 17:30 Ngelihatnya mestinya lebih lebih 17:33 jernih gitu ya, 17:35 lebih tenang. ee bukan kemudian malah 17:38 nunjukin itu kata-katanya kasar segala 17:41 macam gitu kan. E ee ada yang [tertawa] 17:45 dengan bahasa dengan bahasa Jawa jangan 17:48 minteri, jangan ini jangan kan gitu. 17:52 Iya. [berdehem] 17:52 Jadi ya memang memang ee di negeri ini 17:58 apa ya orang menyebutnya integritas itu 18:01 menjadi sesuatu ee ya nempellah di 18:04 kantor-kantor mana tuh negara apa BPN 18:08 kantor BUMN integritas tapi hanya 18:11 menjadi hiasan saja gaji naik pun 18:14 karakter ini enggak berubah apa yang 18:16 menyebabk Bang 18:18 atau karena memang sistem lagi yang 18:20 menyebabkan ini, 18:22 [berdehem] 18:23 [mendengus] 18:23 sistem pendidikan secara menyeluruh 18:25 gagal. 18:26 Hm. 18:27 Jadi kalau saya dalam dalam 18:30 satu perkuliahan gitu, 18:32 Heeh. 18:32 saya menyebutnya sejak KMB 18:35 kita sudah diserang habis-habisan oleh 18:38 sistem pendidikan yang individualis, 18:40 materialis, 18:42 riba, gitu. 18:43 H 18:43 ee dan kita sudah diajak langsung untuk 18:47 masuk ke dalam dalam satu peperangan. 18:51 yang mensahkan bahwa sumber daya 18:53 diambil, proses diambil, output diambil. 18:57 Itu dari sejak KMB sampai dengan 18:59 sekarang. Dan makin sahih pada tahun ' 19:02 ketika Fakultas Ekonomi 19:05 itu kurikulumnya diarahkan oleh oleh 19:09 sejumlah guru besar dari dari Berkley. 19:13 Iya. He. 19:13 Lalu ee tentara didirikan sekolah 19:17 gabungan dengan merujuk pada format 19:20 Amerika gitu. 19:21 Heeh. 19:22 Nah, sampai sekarang lanjut berarti kita 19:26 sudah terkena 19:27 peperangan pendidikan itu, peperangan 19:29 peradaban itu, penjungkir balikan 19:31 berpikir itu sudah 70 tahun. Nah, itu 19:34 yang saya bilang suksesnya sekularisme. 19:36 Masyaallah. Jadi ee pintu dibuka pada 19:40 KNB, dibangunlah pondasinya pada 56. 19:44 Tata ruangnya semak dibikin rusaknya 19:47 seperti sekarang. Jadi kita sudah 70 19:49 tahun sebenarnya kita ee 19:52 masuk ke dalam sebuah sistem yang tidak 19:56 kita katakan tapi kemudian kita rumuskan 19:59 sebagai ee mensahihkan sekularisme, 20:03 mensahihkan liberalisme, pluralisme 20:05 dengan istilah-istilah yang 20:07 yang membanggakan itu gitu istilahnya 20:10 kan membanggakan kaum akademisi itu 20:12 ee lewat HAM, lewat macam-macam gitu ya. 20:15 Itu membanggakan betul gitu. Tapi 20:17 hasilnya seperti sekarang. Lalu mereka 20:19 banding-bandingin sama Cina gitu yang he 20:22 penduduknya 1,41 miliar. He. 20:25 Powerpity-nya tinggi, 20:26 kreativitasnya tinggi. 20:28 Dan ketika menyaksikan bagaimana ee 20:31 robot humanoid eh dikontestasikan 20:35 ee gitu ya untuk menari, untuk berdansa, 20:39 untuk lari, untuk bermain tenis, kita 20:41 kebingungan gitu kan. Ih bisa begitu 20:43 robot. Lantas yang diambil kesimpulan 20:46 adalah otoritanisme membawa kemajuan. 20:49 Ini kan jadi bingung kok diambil 20:51 [tertawa] 20:52 diambil yang bisa disambung-sambung 20:54 kayak gitu. Macam mana, Bang? Gitu kan. 20:56 E ada komentar. 20:58 Makanya 20:59 makanya kemarin waktu dalam sebuah 21:01 pembelajaran juga saya sebut ketika juga 21:04 sama bahkan sama rasil ketika saya 21:06 menyaksikan pertumbuhan tersirat sekecil 21:09 melarat gitu. Ingat ya saya bikin judul 21:11 gitu ya. 21:12 Itu kan saya menyebut bagaimana deng 21:14 Sioping pada tahun 92 sudah menyatakan, 21:17 mari kita bersaing antara antara minyak 21:20 sama mineral raptor tahun 92 dan 21:22 hasilnya 21:23 beta saksikan sejak 2020 sekarang kayak 21:26 gini gitu 21:27 30 tahun kemudian menjadi bukti gitu. 21:29 Nah, 21:29 itu kan visi ya. 21:31 Iya. 21:31 Itu pemimpin yang punya visi pemimpin. 21:34 Nah, ini kita bicara hilirisasi ternyata 21:37 hilirisasi pun tidak pernah dibongkar 21:39 kontennya kayak gimana gitu. 21:41 Apakah konten hilirisasi itu betul-betul 21:43 berpihak kepada Indonesia apa enggak 21:45 gitu. Misalnya contoh deh ada orang 21:48 ada ada presiden yang wah kita berhasil 21:50 dengan hilirisasi eh coba bongkar dulu 21:53 dengan benar hiliris gimana gitu. Jeroan 21:55 jeroan. [tertawa] Tapi lucu, lucu 21:58 memang, Bang ini kita tapi merasa alergi 22:01 melihat sebuah contoh negeri yang sedang 22:03 masuk dalam laboratorium dunia yang akan 22:06 bisa merubah konstelasi dunia dengan 22:09 negeri kita yang katanya Ketuhanan Yang 22:12 Maha Esa dan Muslim terbesar di dunia. 22:15 Iran menjadi potret yang menjadi alergi 22:18 tapi di tengah kemajuan Iran menghadapi 22:21 ujian lapangan sekarang ini. Bagaimana, 22:24 Bang? Ni lihat? 22:25 Ee 22:27 saya ee mencoba untuk melihat ee kemarin 22:32 kita ngebahas sekilas minggu lalu. 22:34 He 22:35 eh sekilas di Shanghai 22:40 Cooperation Organization Sekilas jadi 22:43 bintang. Betul. 22:44 Iya. 22:45 dan ee media di Indonesia, 22:50 media massa di Indonesia, media sosial 22:52 di Indonesia 22:53 sangat minim membahas tentang Shanghai 22:56 eh Corporation Organization yang bikin 22:59 pertemuan 31 Agustus 1 September kemarin 23:03 di 23:04 eeistan itu ya. He. [berdehem] 23:08 Nah, dari situ saya melihat ternyata ee 23:13 pertemuan 10 negara itu betul-betul 23:16 menghindar dari sistem digital Amerika, 23:20 sistem militer Amerika, sistem keuangan 23:23 Amerika, sistem energi Amerika, sistem 23:26 pasar Amerika, gitu ya. 23:28 Ee dan kenapa saya bilang menghindar? 23:31 karena mereka melihat betul sanksi 23:33 Amerika, sanksi ekonomi Amerika, embargo 23:36 ekonomi Amerika itu betul-betul perilaku 23:39 sewenang-wenang gitu. He 23:41 ee perilaku yang tidak menceraskan dan 23:45 ternyata Iran berhasil berhasil di forum 23:48 itu 23:48 he 23:49 ee memberikan pemahaman kepada seluruh 23:52 negara bahwa apa yang dilakukan oleh 23:54 oleh Washington gitu ya itu memang harus 23:57 dilawan, harus dibuktikan bahwa walaupun 23:59 mereka tidak menggunakan istilah melawan 24:01 tapi harus dibangun alternatifnya. Pak 24:04 ee lalu kajiannya menunjuk memang mereka 24:06 belumbentuk NATO tapi kerja sama 24:09 keamanan di antara para negara 10 negara 24:11 itu menunjukkan bahwa itu ada Turki loh 24:14 di situ. H 24:15 karena statusnya erasia. 24:17 Statusnya erasia di situ. Nah 24:19 ee di seluruh negara itu sadar betul 24:22 bahwa pentingnya ngembangun keamanan 24:24 agar ee nanti bisa ditingkatkan menjadi 24:28 10 negara itu saling melindungi satu 24:31 sama lain gitu seperti NATO. He. 24:33 Nah, itu sampai kayak gitu. Walaupun 24:35 mereka bilang lebih ini lebih merupakan 24:37 G7 katanya daripada NATO. 24:39 Oh, NATO. Iya. Tapi 24:40 lebih merupakan G7. He. [tertawa] 24:44 Nah, dari sana jaminan jaminan yang 24:46 dimunculkan oleh para anggota SCU itu 24:50 adalah misalnya pada energi. 24:52 Jadi, 24:54 oh ini ini dibahasnya menarik seperti 24:56 saya bilang dulu energy price war 24:59 sekarang supply chain. 25:01 Iya. 25:02 Wah, gitu loh. Jadi kalau dulu di 2008 25:06 ketika Amerika berusaha memukul Cina itu 25:09 lewat harga minyak, sekarang Amerika 25:11 memukulnya berlipat-lipat dari energy 25:14 price war ke supply chain war 25:17 di bidang energi gitu. 25:19 Makanya kemarin muncul pemberitaan ee 25:23 dari Jordania Pulau Kak dibantai 25:26 habis-habisan. Ternyata itu bukan 25:29 pembantaian infrastrukturnya Amerika. 25:31 infrastrukturnya Iran gitu. 25:33 Nah, dari sana kelihatan 25:35 SCO di statistisi menunjukkan bahwa 25:39 tekanan Amerika, paksaan Amerika itu 25:42 berhasil, tapi tidak sampai mengalahkan. 25:45 Nah, gitu kalimatnya. 25:46 Iya. [tertawa] 25:50 Nah, dari situlah negara-negara se 25:52 negara itu menolah ke Iran. Eah, di 25:55 situlah [berdehem] kemudian dilihat 25:56 modelnya. Nah, di situ sistem politik 25:59 Iran kelihatan. Memang tekanan ekonomi 26:03 di Iran itu luar biasa. Luar biasa. 26:05 Sehingga akhirnya ee produksi minyak 26:08 Iran dari 2 juta barel per hari itu 26:11 dalam hitungan return dalam hitungan 26:12 berbagai kalangan itu cuma tinggal 26:14 220.000 sampai R60.000. 26:17 Hm. 26:18 Selat horm gitu ya 26:19 yang tadinya sampai 20,1 juta 26:22 barel per hari gitu. He. 26:24 Itu turun habis-habisan. 26:26 Hm. 26:27 Minyak lewat situ turunnya sampai 77%. 26:30 ee Iran turun sampai 87% tuh pakai 26:34 hitungan-hitungan mereka gitu, data 26:35 mereka gitu ya. 26:36 Nah, dari situ kelihatan bahwa Amerika 26:40 memang sedang memaksa semua kalangan 26:42 untuk tetap tunduk sama dia dengan 26:44 kekerasan 26:45 h 26:46 dengan kekerasan kebijakan, dengan 26:48 kekerasan militer. Dua, 26:50 dengan kekerasan sanksi. Nah, 26:53 kajiannya menunjuk iya Amerika berhasil 26:56 menekan seluruh dunia katanya. Tapi 26:58 Amerika, Amerika lupa bahwa itu pun 27:00 menekan warga negaranya dengan menunjuk 27:03 harga gasolin mereka sampai melampaui 27:06 tingginya gitu. 27:08 Iya. 60% kenaikannya luar biasa. 27:12 Dan muncullah ejekan-ejekan terhadap 27:14 Trump. 27:15 Itulah macam-macam gitu ya. sampai 27:16 akhirnya ee tadi ee 27:19 h 27:20 kasusnya kasus New York, walikota New 27:23 York, kasusnya Abu Abu Abu Said jadi 27:26 contoh. 27:27 Iya, 27:28 jadi contoh ini loh 27:30 pada saat yang sama, 27:31 saat yang sama ee keberhasilan sosialis 27:34 demokrat itu kalangan demokrat itu 27:36 dihadang dengan perisa peringatan 25 27:38 tahun ee 25 tahun WTC gitu 27:45 kembar rontok. Artinya kalau kita mau 27:47 lihat itu semuanya sebagai contoh gitu, 27:50 sebagai contoh. Maka bagaimana mungkin 27:52 Indonesia mencontoh sebuah negara yang 27:56 menimbulkan ketidaktentraman dunia dan 27:58 kemudian tidak tentram pada dirinya 27:59 sendiri gitu ngelihatnya. 28:02 Bagaimana Anda suka dengan ke 28:04 kalau kalau pakai bahasa para petinggi, 28:08 bagaimana Anda kemudian mengambil contoh 28:10 satu model bangsa yang selalu gaduh gitu 28:12 loh. 28:13 Iya. Apa [mendengus] anda? Anda Anda 28:15 memang sukanya kegaduhan gitu. Jadi 28:17 makanya kalau ada setiap keributan Anda 28:18 nonton gitu 28:20 terus Anda ikut-ikut menjadi gaduh gitu 28:22 kan. Menarik kan? 28:24 Menarik. Ah ojo dumeh misalnya gitu kan. 28:27 Ojo kagetan, ojo gumunam. Loh 28:29 filosofi-filosofi itu hilang dari 28:31 permukaan. Tapi yang kemudian ee kita 28:34 mencari nilai-nilai baru gitu disebutlah 28:36 begitu. Nilai-nilai baru yang pijakan 28:38 nilai-nilai lamanya kita buang. Hm. 28:40 Kita belum menemukan pijakan baru, 28:41 nilai-nilai lama kita buang dan kita 28:43 gantikan dengan sesuatu yang betul-betul 28:45 berhentakan. Coba kan cerita reformasi 28:48 begitu. [berdehem] 28:49 Iya. 28:50 Reim konstitusi baru sampai akhirnya 28:52 muncul sampai di akhirnya muncul 28:54 pengakuan tentang ada revolusi senyap 28:57 gitu loh kan. 28:58 Nah, ini ini 29:01 [tertawa] waduh saya enggak saya enggak 29:03 tahu terakhir Bang Ihsanudin Nursi 29:05 ketemu sama Pak Amin Rais. Apa tuh kata 29:07 Pak Amin Rais? Kok jadi begini kita 29:09 bagaimana, Bang? [tertawa] 29:11 Ya. Jadi kalau kalau gitu makanya saya 29:14 bilang he 29:15 ee 29:16 iya kita tidak bermaksud mundur ke 29:18 belakang kok. 29:19 Hm. 29:20 Kalau saya saya nih karena kebetulan 29:24 jari tangan saya yang bekerja untuk 29:27 merumuskan otak saya, pikiran-pakaian 29:30 saya, omongan saya, mulut saya bekerja 29:32 kayak gitu. Dan dan anda bersentuhan 29:34 dengan semua rezim kan ini sebenarnya 29:36 mereka bukan bukan enggak tahu mereka 29:38 tahu ya [berdehem] 29:39 tahu persis 29:40 tapi karena justru saya bersentuhan sama 29:42 semua rezim itu, maka dalam sebuah 29:44 wawancara saya bilang abang enggak 29:46 diundang mana diundang mereka jijik sama 29:49 saya kok saya bilang 29:52 luar biasa jiji mereka jijik sama saya 29:55 karena dianggap saya cuma mau mundur ke 29:56 belakang gitu kan pikirannya [berdehem] 29:58 wah sampai di ada beberapa kalangan 30:01 perguruan an tinggi menyebut kalangan 30:03 perguruan tinggi ternama di Indonesia 30:05 gitu ya. 30:06 Oh, itu di Indonesia maunya menang 30:07 sendiri loh. 30:10 Tergantung tergantung referensi yang 30:12 Anda punya dong. Tergantung argumentasi 30:14 yang Anda bangun dong. Tergantung 30:16 metodologi dan data yang Anda punya 30:17 dong. Kalau Anda memang punya 30:19 referensinya benar, metodologinya benar, 30:21 datanya benar, ya Anda silakan hadapi 30:23 saya dengan cara bercara seperti itu. 30:26 Kan katanya pembahasan demi kebenaran, 30:27 demi kebaikan. H. 30:29 Tapi kan ini bukan salah, bukan salah 30:31 benar ini kalah menang. Ya sudah, 30:33 silakan Anda mengambil posisi menang 30:35 tapi berantakan [berdehem] 30:37 gitu loh. [tertawa] Iya. Itu makanya 30:40 baru tahun kedua aja sudah sibuk tahun 30:42 kelima. Ya ya [berdehem] Allah [tertawa] 30:44 ya. negeri kita ini gimana supaya 30:47 ambadul ini kita bisa menghadapi dengan 30:51 kepala dingin atau hati yang lebih siap 30:53 e dari tulisan panjang yang sedikitnya 30:57 ya 20 30 halaman saya baca tadi pagi ini 30:59 Pak sebagai penutup karena sudah pukul 31:01 09. [berdehem] 31:03 Baikbaik saya yang pertama saya minta 31:06 maaf karena ada kelalaian 31:10 hari ini saya ada kelalaian gitu ya. 31:12 [tertawa] Nah, yang kedua ee yang kedua 31:15 begini. 31:16 Ee saya kemarin diwawancara seorang 31:20 teman 31:22 dalam wawancara 1 jam lebih tentang 31:24 situasi Indonesia. Saya bilang begini, 31:28 ee apakah masyarakat Indonesia bisa 31:30 bertahan dengan kondisi seperti 31:32 sekarang? Itu pertanyaan mendasarnya 31:34 dengan kondisi sekarang. Saya bilang 31:35 tergantung masyarakat pada level mana 31:37 dan pada struktur seperti apa. Kita 31:40 bilang masyarakat bawah. Kalau dibilang 31:41 masyarakat bawah sekarang, mari kita 31:43 ambil dulu apa yang disebut dengan 31:44 masyarakat bawah. Ya, apakah masyarakat 31:47 yang katanya pendapatannya sekitar 4 31:49 juta itu bisa bertahan 4 juta per bulan 31:52 ya 31:53 bisa bertahan dengan kondisi sekarang. 31:56 Saya bilang 4 juta itu pun bias 31:58 karena harga-harga terus naik. 32:02 H. 32:02 Jadi itu yang disebut dengan rentan 32:03 miskin menjadi betul-betul miskin gitu. 32:06 Kalauas menengah 9,48 juta memang jatuh 32:09 posisi rentan miskin. 32:11 Miskin bergeser ke miskin. 32:13 Nah, dari sana saya jawabnya begini. 32:16 Saya menyaksikan ada dua desa 32:19 ee di ee Jawa Tengah gitu ya. 32:23 He. 32:24 Bagaimana mereka bertahan 32:26 ee bagaimana mereka bertahan? Mereka 32:29 ngebangun sistem sosial. Sistem sosial. 32:33 Ee bukan mereka menutup diri enggak. 32:35 Silakan orang luar datang melihat enggak 32:36 apa-apa. Tapi mereka berusaha transaksi 32:39 sendiri. Mereka berusaha menata kekayaan 32:41 alam mereka sendiri ya. Mereka berusaha 32:44 menata kehidupan mereka sendiri. Ee ee 32:47 sampai akhirnya para pejabat datang ke 32:49 sana dan melihat kesuksesan itu. Mereka 32:52 mereka tetap ee silakan melihat tapi 32:55 untuk diajak berinteraksi dengan para 32:57 pejabat itu mereka berusaha bertahan. 33:00 Hm. 33:01 Tapi tidak dengan cara kasar mereka 33:02 bertahannya. Dengan cara yang lemah 33:05 lembut mereka menolak tawaran 33:06 macam-macam gitu ya. He. 33:08 Oh, ini nanti akan bahkan partai politik 33:10 datang gitu. Mereka juga nolak. Nah, itu 33:13 bukti 33:14 bahwa yang hak sama yang batil tidak 33:16 bisa bercampur. 33:17 He. 33:19 Jadi, ada mekanisme ketahanan itu ada 33:21 sesungguhnya itu dicontohkan. Begitu 33:23 juga ketika namanya Gubernur Anwar Hafiz 33:26 memberikan dana pendidikan luar biasa di 33:28 Sulawesi itu kan 33:30 itu kan viral gitu [mendengus] 33:32 dibanding dibanding sama Gubernur Jawa 33:34 Barat yang katanya berpihak itu gitu 33:37 dengan pendapatan yang luar biasa gitu. 33:38 Nah, [berdehem] 33:39 itu bukti bahwa 33:41 memang segala sesuatu sangat tergantung 33:43 pada kepemimpinan. 33:45 Nah, lalu sejumlah orang yang pegang 33:49 proyek-proyek strategis di negeri ini 33:51 bertanya, "Bang, kami mesti berbuat apa 33:53 ya, Bang?" di tengah suasana 33:55 ketidakpastian ini AMF kan juga kemarin 33:57 mesti menunjuk suasana ketidakpastian 33:59 itu berlanjut. 34:00 Nah, saya bilang jawabnya rumusnya 34:03 jangan berangkat dari kelemahan, 34:06 berangkat dari kekuatan. Itu yang pernah 34:08 saya bilang juga di Rasil. Kalau orang 34:10 sudah dalam posisi tenggelam gitu ya, 34:12 maka telapak kakinya yang menjadi 34:14 penentu. Jadi kalau orang tenggelam 34:16 sampai posisi katakan sudah sebahu gitu 34:18 ya, sudah sampai sebahu, sudah sampai se 34:22 pundak gitu dan makin menjurus mendekati 34:25 dagu gitu. 34:26 He. 34:26 Ee dan beberapa sudah sampai dagu ee 34:30 lalu kemudian tapi belum menutupi hidung 34:33 gitu misalnya, maka sadari bahwa pijakan 34:37 kaki yang menjadi pen apa poinnya? 34:38 Poinnya di situ kita harus bicara 34:40 tentang kekuatan kita punya, bukan 34:41 kelemahan. 34:43 Hm. 34:44 Bukan kelemahan, tapi ee ini yang ini 34:46 bertolak belakang. Betul dengan cara 34:48 berpikir kaum neoliberal di Indonesia. 34:50 Saya ulang ya. 34:51 Ini bertolak belakang dengan cara 34:53 berpikir [berdehem] kaum neoliberal yang 34:55 sudah berkuasa di Indonesia 34:56 hutang lagi 34:57 sejak tahun 8. 34:59 Sejak tahun 8 gitu ya. sampai dengan 35:02 sekarang sejak 67 68 mereka berkuasa 35:05 pegang A dan itu mereka bilang, "Ah ini 35:07 kan karena kami yang berkuasa bukan 35:09 kalian. Makanya kalian kritik katanya. 35:10 Kalau kalian berkuasa juga kami kritik 35:12 loh." Loh, jadi mereka pikirnya memang 35:14 soalnya soalnya adalah soal kekuasaan 35:17 dan itu sahih mereka ngomongin kayak 35:18 gitu gitu loh. 35:19 H 35:20 itu bayangin tuh anak bangsa mikirnya 35:22 begitu ketika mendengar kritik-kritik 35:24 saya dan teman-teman. 35:26 Jadi artinya mari kita melihat posisi 35:29 diri kita masing-masing. 35:30 H 35:31 lihat pijakan yang kita punya. Dari 35:33 situlah kita berangkat untuk mengatasi 35:35 situasi yang tidak penuh dengan tidak 35:37 pasti. 35:37 Saya tidak sedang menakut-takuti 35:40 gambaran e Amerika memperpanjang 35:42 perangnya di Selat Hormus itu terhadap 35:44 Iran itu menunjukkan ketidakpastian 35:46 terus berkesinambungan. Ee ada ada tiga 35:49 skenario yang saya sebut dalam sebuah 35:52 TV. 35:54 Scenario pertama terjadi peningkatan 35:57 eskalasi perang. Scenario kedua eskalasi 36:00 perang berjalan seperti biasa. Sen 36:03 ketiga eskalasi perang menurun. Mana 36:05 yang kita pilih? Ah di situlah kita 36:07 mikir. 36:08 H 36:09 mikir [berdehem] apakah ini eskalasinya 36:11 meningkat ataukah eskalasinya stabil 36:14 atau kemudian terjadi penurunan 36:15 eskalasi. He. 36:17 Nah, kalau tiga skener itu kita 36:18 bayangin, maka kita punya ancang-ancang. 36:20 Kaki yang berpijak di landasan air yang 36:22 sudah penuh itu harus kita lihat ini 36:24 gelombangnya mungkin gede, gelombangnya 36:26 stabil begini atau gelombangnya airnya 36:28 mungkin surut. Ah, di situ kita melihat. 36:31 Artinya kita cari mulai dataran yang 36:34 menurunkan yang menurutkan banjir itu. 36:37 Kita cari tempat itu supaya kita tidak 36:39 bagaimana kebijakan konkritnya. Nah, 36:41 Anda jangan ikut-ikutan riba deh. 36:44 Gitu. 36:44 Ubayakan mengatasi riba deh. 36:46 [menghela napas][terkesiap] Karena 36:47 negeri ini, negeri ini negeri muslim 36:49 yang dijerat oleh riba gitu. 36:52 Jadi 282 juta masyarakat Indonesia yang 36:56 87 muslim 36:57 yang 87 Muslim itu total dijelat oleh 37:00 riba di sistem ekonominya, di sistem 37:02 politiknya total dijerat oleh sistem 37:04 liberal, di sistem sosialnya terjerat 37:06 oleh sistem materialisme individual. 37:08 Nah, tiga hal itu yang mesti diatasi. H 37:10 di sistem sosialnya material individual, 37:13 di sistem politiknya liberal, di sistem 37:16 ekonominya riba dengan segala macam 37:18 pasar bebasnya. Ah itu yang kita 37:21 saya kira begitu. Minta maaf sekali 37:24 lagi. 37:24 Subhanakallahumma wabihamdika asadu anta 37:27 astagfirul. Asalamualaikum 37:29 warahmatullahi wabarakatuh. 37:30 Waalaikumsalam warahmatullahi 37:33 wabarakatuh.