Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:06 [musik] 0:08 Brail TV. 0:11 [musik] 0:16 Asalamualaikum warahmatullahi 0:17 wabarakatuh, Bang Ihsanudin. 0:19 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:21 wabarakatuh. 0:21 Baik, bagaimana kabarnya pagi hari ini, 0:23 Bang Ihsan? 0:24 Eh, apa ya? Ya, kalau dari segi pribadi 0:28 sih biasa-biasa aja. Alhamdulillah 0:30 sehat. 0:31 Heeh. 0:32 Tapi dari segi sebagai anggota 0:33 masyarakat, 0:35 sebagai 0:37 orang yang 0:38 ee mau melihat kenyataan masyarakat 0:42 gitu. 0:44 Kita dalam posisi yang 0:46 ee 0:48 bersedih gitu ya. 0:49 Bersedih, 0:50 prihatin. 0:51 Iya. Iya, iya. 0:53 karena problematik 0:55 yang bertubi-tubi gitu ya. 0:57 Setiap masalah ditimbulkan lagi masalah 1:00 seperti modal 1:02 ya modal modal modal Yahudi 1:05 modal distrak desepsi gitu. I 1:09 dan kita tidak disadari bahwa 1:12 kita sudah jauh terperangkap dalam 1:15 modal Yahudi, modal dan persepsi. 1:18 Iya. Iya. Bang Ihsanudin ada pengalaman 1:21 jadi dosen berapa lama, Bang Ihsan? 1:25 Sampai dengan sekarang saya masih jadi 1:27 dosen tamu ke mana-mana. 1:28 Sampai sekarang masih jadi dosen tamu. 1:30 Karena Bang Hanudin kita ingin 1:31 mengangkat 1:33 salah satu topik yang sekarang ini 1:35 menjadi sorotan dalam negeri ini ya. 1:37 Apalagi kita perlu analisanya dari 1:40 seorang ahli ekonomi bagaimana melihat 1:42 hal ini. Ada satu kalimat Bang Ihsanudin 1:45 yang diangkat di opini eh media hari 1:48 ini. Higer Education Middle Income Trap. 1:52 Ini ketika melihat [berdehem] 1:55 kampus mahal, dosen murah, riset lemah 1:59 gitu ya. Jadinya Indonesia ini makin ee 2:03 terancam dari sisi pendidikan. Nah, di 2:06 samping Bang Hanudin ya, kasus-kasus 2:09 seperti kita tahu sedang ada ee di MK 2:14 ini ee ee gugatan gitu ya beberapa dosen 2:18 gitu ya dari beberapa ee universitas ee 2:21 forum komunikasi dosen seluruh ee 2:23 Indonesia yang menuntut ee mengenai ee 2:27 gaji yang masih di bawah ee UMR gitu ya 2:30 beritanya. Selain itu juga ada 2:32 berita-berita lain di dunia pendidikan 2:34 tentang dunia korupsinya juga ada gitu 2:37 ya. Lalu lalu juga terkait dengan ee 2:40 riset di kampus yang beberapa waktu yang 2:43 lalu 2:45 apa istana Presiden menyampaikan bahwa 2:47 Presiden akan menambah dana riset untuk 2:50 perguruan tinggi gitu ya. Nah, ini ini 2:53 kita ingin melihat gitu ya Bang fenomena 2:56 sekitar 2:58 ee beberapa tahun ini gitu ya. 3:00 pendidikan Indonesia itu e ke mana 3:02 sehingga nanti berefek ke politik gitu 3:05 ya, ke sosial dan juga ke ekonomi. Nah, 3:09 ini di dalam negeri ini Bang Hasanudin. 3:11 Di luar negerinya kami juga ingin 3:14 bagaimana analisa Bang Hasanuddin ketika 3:16 media dan pejabat-pejabat Amerika 3:20 Serikat terkejut gitu ya. ini satu 3:22 berita ada yang menuliskan terkejut 3:24 menyaksikan jutaan massa memberi 3:26 penghormatan terakhir untuk mendiang 3:29 pemimpin Iran gitu ya. Dan banyak juga 3:33 analis-analis yang mengatakan bahwa ee 3:37 ini pandangan dalam ee acara prosesi 3:41 seperti ini aja sepertinya 3:43 memperlihatkan gitu ya, bagaimana 3:45 masyarakat ee Iran itu secara ritual 3:49 saja itu mereka begitu menghormati 3:52 pimpinannya gitu ya. Ini seperti pesan 3:54 juga yang disampaikan oleh 3:55 pejabat-pejabat Iran kepada Trump 3:57 khususnya gitu ya, bahwa Iran akan terus 4:00 melawan. Nah, ini apakah ada show force 4:03 juga di acara pemakaman sebenarnya gitu 4:05 ya. Dan juga kan yang viral nih beberapa 4:07 kunjungan pimpinan-pimpinan atau 4:09 delegasi-delegasi negara-negara 4:11 tetangganya juga yang datang gitu ya. 4:14 Itu menjadi sorotan juga 4:16 kecuali Indonesia baru disinggung ya. 4:19 Tapi katanya menteri mau datang katanya 4:20 menteri luar negeri gitu ya. Nah, dua 4:22 hal ini nih Bang Ihsanudin dia di dalam 4:24 negeri gitu ya tadi mengenai Higger 4:26 education middle income trap dengan 4:27 segala permasalahannya. Lalu luar negeri 4:29 juga ini mengenai bagaimana show 4:31 force-nya Iran dalam pemakaman Aitul ini 4:34 almarhum. 4:35 Oke. Bismillahirrahmanirrahim. 4:38 Alhamdulillahiabbil alamin. 4:41 Subhanaka la ilma lana illa ma alamtana 4:45 innaka antal alimul hakim. 4:53 am 4:57 Allah sayidina Muhammadidina Muhammad 5:01 ee 5:03 sayail bicara pendidikan 5:07 rasanya sudah berkali-kali 5:10 h 5:11 lebih dari tangan saya dari tangan kanan 5:14 dari tangan kiri 5:15 H 5:16 sebagai wujud ee ee [berdehem] 5:19 sebagai wujud kepedulian kita dan 5:21 sebagai wujud ee 5:25 upaya membangun 5:27 penyadaran 5:28 h 5:29 bahwa andai kita ingin 5:32 melakukan pembebasan bangsa ini dari 5:36 tekanan eksternal, kekacauan internal 5:39 gitu ya, 5:41 maka jalan keluarnya adalah salah 5:43 satunya pendidikan. Dan pendidikan tentu 5:46 ada pendidikan jangka pendek, jangka 5:48 pendengah, jangka panjang. H 5:50 pendidikan jangka pendek itu 5:53 adalah keteladanan para tokoh, 5:56 keteladanan para politisi, keteladanan 5:58 para elit. Saya bilang para elit ya. 6:01 Jadi artinya [berdehem] 6:03 dari elit umaro sampai dengan elit ulama 6:06 gitu kan. Di ulama juga ada elitnya. 6:09 Iya. 6:11 Jadi elit ulama, elit pengarok gitu, 6:14 elit akademisi, elit pebisnis, 6:18 elit sosial. 6:21 Itu ee keteladanan itu sangat penting. 6:26 H 6:27 dan ketika keteladanan itu hilang 6:31 misalnya dengan menyatakan 6:33 ee membebaskan dunia pendidikan untuk 6:35 investasi asing, 6:36 h 6:37 maka dia tidak sedang menunjukkan 6:38 keteladanan. Itu ungkapan saya dalam 6:41 sebuah diskusi 6:43 ketika usai ada penyelenggaraan 6:47 penyelenggaraan pertemuan internasional 6:49 di Peru 5 karena Indonesia dinyatakan 6:52 terbuka untuk dunia pendudukan, terbuka 6:54 untuk investasi asing. Maka saya memang 6:57 secara terbuka juga menyatakan itu 6:59 menentukan dia bukan teladan. 7:02 Nah, itu 7:04 ee jangka pendek. Jadi jangka pendeknya 7:07 memang kita harus nunjukin betul 7:09 contoh-contoh konkret sehingga dia ee 7:14 langsung menjadi patron, 7:16 menjadi pola, menjadi model. Itu level 7:20 pertama jangka pendek. 7:22 Jangka menengah tentu kita harus 7:24 ngebangun pemahaman. 7:26 Kalau kita bicara pemahaman, kita harus 7:28 ber harus ngasih tahu. 7:30 Setelah ngasih tahu baru kita 7:33 membangkitkan kemauan. 7:35 baru ngebangkitkan kemauan baru kita 7:37 bikin pemahaman. Setelah pemahaman kita 7:39 [berdehem] masih punya dua tahap lagi. 7:40 Ngebangun kesadaran dan keinginan untuk 7:43 bertindak atas kesadaran. 7:46 Jadi levelnya begitu gitu. 7:48 Nah, untuk jangka panjang pendidikan itu 7:51 adalah bertujuan membangun 7:54 satu peradaban atas nilai-nilai yang 7:57 dimiliki oleh masyarakat itu. 8:00 Nah, di sini [berdehem] 8:02 ee kata dosen menjadi penting, 8:06 ee UKAM dosen menjadi penting, 8:08 pembelajaran menjadi penting. 8:12 September 8:14 ee 20 25 ketika saya bicara di depan 8:19 Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia 8:22 dihadiri oleh sejumlah profesor gitu ya. 8:26 Saya memulai 8:28 ee dunia pendidikan dengan bagaimana 8:30 membangun 8:31 ee sikap pada setiap anggota masyarakat 8:36 untuk berempati dan simpati terhadap 8:39 kondisi masyarakat. 8:40 Hm. 8:42 Jadi ee titik awalnya adalah bagaimana 8:45 membangun setiap anggota masyarakat 8:47 untuk simpati, empati, dan peduli dengan 8:50 kondisi masyarakat. 8:52 Ee 8:54 dan itu tidak mungkin terjadi kalau di 8:56 rumahnya tidak dididik seperti itu. 8:58 Hm. 8:59 Nah, artinya ee setiap rumah sebagai 9:03 madrasatul ular sebagai sok awak awal 9:05 sekolah dan itu berarti gurunya adalah 9:08 ibunya itu di mengajarkan 9:12 ee sikap empati, simpati dan peduli 9:14 terhadap kondisi keluarga, terhadap 9:16 kondisi masyarakat, terhadap kondisi 9:17 lingkungan. 9:20 ee tanpa itu enggak enggak mungkin 9:23 terbangun ee satu sikap tanggung jawab 9:25 terhadap diri dan sikap satu sikap 9:27 tanggung jawab terhadap lingkungan. 9:28 Enggak mungkin. 9:30 Ee dengan bekal itu untuk bisa peduli, 9:35 untuk bisa simpati, empati harus punya 9:38 sikap meneliti apa yang sedang terjadi 9:41 gitu. Itu bekal yang dimiliki oleh ee 9:46 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. 9:49 sebelum menjadi Rasul milik Muhammad bin 9:52 Abdillah gitu untuk masuk ke gua Hira. 9:56 Gua Hira pertama gua Hira 9:59 kunjungan pertama, kunjungan kedua 10:00 enggak dapat kunjungan ketiga baru 10:02 diajarkan iqra 10:04 itu pembelajaran. 10:06 Tetapi untuk masuk sampai pada 10:07 pembelajaran seperti itu, dia harus 10:11 punya tadi punya bekal dalam diri. 10:14 Kalau dalam dirinya adalah sikap 10:15 ketangguhan, sikap kepedulian, 10:18 sikap simpati, sikap empati, dan mau 10:20 meneliti kondisi. Dan meneliti itu 10:23 tujuannya dalam rangka mencari jawaban 10:25 atas problem masyarakat yang terjadi. 10:28 Nah, pendidikan kita 10:31 itu menara Gading. 10:33 Hm. H. Jadi [berdehem] ee selama 10:37 saya punya pendidikan empat tidak maksud 10:42 istigfar dulu deh. Astagfirullah 10:44 astagfirullah astagfirullah. 10:45 Pengalaman 10:45 saya punya pendidikan 10:47 saya punya pendidikan cukup gitu dan 10:49 saya punya empat gelar gitu ya 10:51 yang ilmunya beda-beda gitu. Saya tidak 10:53 satu line ya, tidak satu disiplin ilmu. 10:56 Saya punya teknik industri, saya punya 10:58 pendidikan hukum, saya punya pendidikan 11:01 administrasi publik dan politik gitu ya. 11:03 H 11:04 saya punya pendidikan ekonomi 11:06 fiscal moneter makro 11:09 dan di belakang itu ada pendidikan 11:11 informal yang saya ikuti misal 11:14 pendidikan manajemen, pendidikan 11:15 psikologi. 11:18 Nah, lalu kalau dari perspektif 11:21 pembelajaran di sana [berdehem] 11:23 dia kita lihat ee ee harusnya terbangun 11:29 pada pada seorang pengajar itu 11:32 menanamkan tadi konsep bagaimana seorang 11:35 ibu membangun ee apa yang apa yang saya 11:38 singkatkan sebagai 5B. 11:40 Hm. 11:41 Dia belajar, dia baik gitu ya. dia dia 11:46 benar, dia berani, dia bertanggung 11:48 jawab. 11:51 Harus seperti itu. Dia belajar, dia 11:53 baik, dia benar, dia berani, dia 11:56 bertanggung jawab gitu. 11:59 Nah, kalau kalau dia benar baiknya 12:03 berdasarkan belajar lalu kemudian dia 12:07 menunjukkan sikap bertanggung jawab dia 12:10 tentu tentu akan lain baik benar berani 12:15 bertanggung jawab itu itu di dibungkus 12:19 dengan sikap pembelajaran untuk selalu 12:21 menjadi lebih baik. Itu yang disebut 12:23 denganum. 12:28 Tidak mungkin terjadi konsepum 12:34 tampak disertai dengan eh keinginan 12:38 melakukan pembelajaran atas empat hal. 12:41 Atas sikap baik, atas sikap benar, atas 12:43 sikap berani, atas sikap bertanggung 12:45 jawab. Nah, di Indonesia 12:48 dalam ee dalam model pembelajaran yang 12:52 saya ikuti gitu ya, 12:55 terkadang 12:57 dosen itu 12:59 tidak membuka ruang orang untuk berani 13:03 mengemukakan pemikiran. 13:07 Terkadang guru itu tidak membuka ruang 13:09 murid ee bertanya tentang apa yang 13:12 diajarkannya. 13:13 Hm. Bahkan kalau kalau muridnya bertanya 13:17 ee dia dianggap mengganggu atau dianggap 13:22 menguji. 13:23 Hm. 13:25 Bahwa dalam proses pembelajaran untuk 13:27 saling melengkapi wajar-wajar saja. 13:29 Heeh. 13:31 dalam konstruksi ee dalam peristiwa 13:36 menanam kurma misalnya, Muhammad 13:38 Rasulullah jelas menyatakan kamu lebih 13:40 tahu tentang apa yang kamu lakukan 13:42 daripada aku itu. Itu walaupun kemudian 13:46 dari tangannya juga ditanam kurma dan 13:48 lahirlah ee Azwa aliah gitu ya. 13:53 Ee tapi paling tidak Muhammad sendiri 13:55 menyatakan proses pembelajaran itu 13:57 dilakukan. 13:59 Artinya ketika kita melihat model 14:01 pembelajaran Indonesia, saya tidak ingin 14:04 mengkritik dulu sistem sistem makro ya. 14:07 Saya tidak ingin lebih dahulu melihatnya 14:09 dalam perspektif makro. Saya ngelihatnya 14:10 dalam sistem itu betul-betul dimulai 14:13 dari sang pembelajarnya 14:16 dan yang pemberi belajarnya. Si anak 14:19 didiknya dan yang terdidiknya gitu dan 14:20 pendidiknya 14:23 yang eh bagaimana pembelajarnya, 14:26 learnernya kayak apa gitu. lalu yang 14:28 memberikan pembelajarannya gitu. Itu 14:31 menjadi penting. Dan dari sana baru kita 14:34 bicara tentang muatan. Nah, di situ 14:37 lagi-lagi 14:39 seorang ibu yang mungkin tidak punya 14:42 pendidikan sekolah formal cukup SD saja 14:47 tidak lulus gitu ya, tapi punya 14:49 pemahaman Al-Qur'an yang hebat gitu ya. 14:52 Dia akan mengajarkan metode-metode, 14:54 pemikiran-pemikiran yang ada dalam 14:56 Al-Qur'an. Bayangkan SD saja tidak 14:59 lulus, 15:00 tapi yang diajarkan ke anaknya Al-Qur'an 15:02 itu gimana? 15:03 H. 15:04 Wah, itu dahsyat. Dahsyat. Luar biasa. 15:07 Di situ peranan peranan Umi gitu ya, 15:11 peranan Ibu 15:12 iya. 15:12 Menjadi sangat menentukan. 15:14 Jadi saya sekali lagi saya tidak akan 15:16 ngambil tesis makro lebih dahulu, tapi 15:19 ee ini adalah radio komunitas. 15:22 sekaligus saya ingin mengingatkan 15:25 komunitas muslim Indonesia agar ibunya 15:28 itu jangan main HP 15:32 agar ibunya itu tidak banyak nenangga 15:35 agar ibunya jangan pergi ke mall 15:37 banyak-banyak ke mall agar ibunya tidak 15:40 egois mengurusi dirinya 15:42 ibunya lebih peduli bagaimana menanamkan 15:46 keimanan, menanamkan pengetahuan, 15:49 menanamkan cara berpikir gitu. cara 15:52 pandang, cara penyelesaian masalah, 15:54 tidak mengajarkan kemanjaan, 15:57 tapi ngebangun keyakinan, kepercayaan 15:59 diri bahwa si anak bisa melakukan 16:01 sesuatu misalnya. Itu di harus 16:04 dilakukan. 16:05 Nah, ketika kita masuk ke dalam kita 16:08 geser sekarang ke dunia pendidikan 16:10 formal dan dunia pendidikan formal 16:13 berlatar belakang dari dosen-dosen yang 16:15 dididik di rumahnya seperti itu ya 16:18 dampaknya dosen-dosennya 16:21 ya di satu sisi memang ada beberapa yang 16:23 punya kelebihan tapi beberapa yang lain 16:25 akhirnya proses pembelajaran lebih 16:28 merupakan pembelajaran rutinitas 16:30 ditambah lagi dengan pemberian hak yang 16:32 tidak membadai dari 16:35 kelihatan problem Indonesia seperti saya 16:38 bilang, 16:39 krisis penghargaan terhadap pendidikan. 16:43 Saya mengalaminya betul tak? Betul-betul 16:46 saya mengalami betapa Indonesia tidak 16:48 menghargai pemikiran-pemikiran 16:50 intelektual. 16:54 Panggung politiknya, panggung sosialnya 16:57 gitu ya. pentas, pentas kehidupan 17:00 politik, pentas kehidupan sosialnya itu 17:03 pentas kehidupan yang tidak menghargai 17:04 intelektualitas. 17:06 Saya masuk ke dunia agama deh, ke dunia 17:08 masjid karena saya kental gitu ya. Hm. 17:14 Pentas pentas mimbar masjid saja itu 17:19 tidak sesungguhnya sepenuhnya melakukan 17:23 pembelajaran yang 17:26 optimal atas bagaimana Al-Qur'an dan 17:29 hadis dan sunah itu dikembangkan, 17:31 dipahami. ee kalau saya bilang dipahami 17:34 tadi runtunan belakangnya itu sampai 17:36 pada posisi bagaimana Anda 17:39 tahu, Anda mau, dan Anda kemudian dari 17:43 mau posisi mau itu baru Anda memahami, 17:45 baru menyadari, baru melakukan apa yang 17:47 Anda sadari. Tahapannya begitu gitu. 17:50 Dibangun kesadaran untuk bertindak gitu. 17:53 Nah, nah ee 17:56 ee pentas itu kan kalau kita mengambil 17:58 metodologi sedikit keluar dari cara-cara 18:01 berpikir terjemahan yang yang dari yang 18:04 terjemahan yang umum gitu ya, itu 18:07 pentasnya menjadi kelihatan berbeda. 18:09 Nah, jemaahnya juga menjadi kelihatan ee 18:13 berkualitasnya juga beda jadinya. 18:14 H. 18:15 Nah, itu menggambarkan proses input 18:18 menentukan output itu kelihatan. 18:22 Nah, di situ saya berkali-kali juga 18:24 melalui ee umatan yang satu gitu, Islam 18:27 yang satu, saya menyampaikan pentingnya 18:29 para ustaz, para ulama gitu 18:32 memperbaiki 18:34 metodologi. 18:35 Hm. 18:36 Ee jadi makin kaya akan Anda metodologi, 18:39 semakin luas wawasan Anda gitu. Karena 18:42 Anda bisa melihat ee satu ayat, satu 18:45 hadis itu dari berbagai sisi, tapi 18:48 dengan syarat konsistensi, istikamah, 18:50 gitu. Karena ee Al-Qur'an dan sunah itu 18:54 dimensyaratkan untuk melihat sesuatu 18:57 secara konsisten, secara koheren, secara 18:59 koresponden. 19:00 Nah, ketika masuk ke pembelajaran umum 19:02 gitu ya ceritanya ee ee guru-guru, 19:06 dosen-dosen itu tidak dihargai atau ter 19:08 tidak 19:09 apa UMR-nya di bawah seperti kasus hari 19:12 ini yang kita lihat itu 19:14 eh itu menggambarkan bahwa Indonesia 19:17 sudah mengalami krisis pendidikan gitu. 19:21 75 tahun gitu. 19:25 Jadi bayangkan 75 tahun kita mengalami 19:27 krisis pendidikan. Ee kalau dalam itu 19:30 saya bahkan menyebut termasuk bahkan 19:32 pesantren gitu ya. 19:33 H 19:33 ee walaupun beberapa pesantren punya 19:35 keunggulan gitu, tidak semua pesantren 19:37 tentu ee itu kita hadapi kenyataan 19:40 seperti itu. Misalnya kita kita tidak 19:43 mengambil metodologi 19:46 ee tasawuf, tauhid, fikih, akhlak gitu. 19:48 Hm. Tapi kita mengambil metodologi 19:50 hakikat 19:52 makrifat syariat gitu misalnya kan boleh 19:55 kan? 19:56 H. 19:57 Jadi kita tidak mengambil metodologi 19:59 misalnya kita tidak mengambil metodologi 20:02 tasawuf, tauhid 20:04 gitu ya, fikih, syariat, dan akhlak. 20:07 Lima struktur 20:08 tapi diringkaskan menjadi apa 20:10 hakikatnya, 20:11 bagaimana makrifatnya, bagaimana 20:13 syariatnya. 20:14 Nah, dari situ berarti akhlaknya baru 20:16 muncul. Nah, itu menghendaki ketika 20:19 kajian hakikat itu kajian kajian 20:22 keilmunya mendalam sekali, tapi tidak 20:26 merujuk ke dalam posisi memikirkan 20:29 Tuhan, bukan tapi memikirkan ajaran. 20:32 Jadi, hakikat memikirkan ajaran itu 20:34 menjadi jauh lebih penting. Misalnya 20:36 kita tidak memasalahkan 20:39 kita tidak memasalahkan ee 20:42 baca gitu ya. 20:49 Kalau ambil terjemah secara umum ya 20:51 tabarak ya sudah selesai begitu. Tapi 20:53 begitu menggunakan metodologi tertentu 20:56 dalam sekali. Sama seperti misalnya para 20:58 dosen tidak memasalahkan Ketuhanan Maha 21:02 Esa yang Maha Esa pertama dikunci dengan 21:04 keadilan sosial dalam perspektif 21:07 keilmuan gitu misalnya. 21:09 Ah, itu menghendaki 21:11 bukan cuma sekedar ilmu secara 21:14 funsional, tapi ilmu secara struktural 21:17 dan fundamental. H 21:18 dampak dari cerita begitu maka 21:20 kualitasnya juga menjadi berbeda. Nah, 21:23 ini yang yang dalam pandangan saya 21:26 ketika secara makro dia tidak dihargai 21:29 ee tepatnya penghargaannya di bawah 21:31 marginal gitu seperti yang dialami, maka 21:34 output-nya juga menjadi pemberiannya di 21:36 bawah marginal. Seperti maksud saya 21:38 angka ya. 21:40 Di bawah marginal. Jadi kalau hari ini 21:43 Indonesia begitu mudah di di saya pakai 21:47 bahasa saya begitu mudah terjerat dalam 21:49 jalan sesat gitu ya, begitu mudah 21:52 dihanyutkan dalam jalan bodoh gitu ya. 21:55 Karena kalimat saya menikmati kebodohan 21:57 terjerat dalam jalan sesat g 21:59 eh itu karena tadi model pendidikannya 22:02 begitu, 22:03 model pendidikan politiknya begitu. Yang 22:06 ada adalah ilusi demokrasi gitu ya. ee 22:10 demokrasi liberal seolah ee setiap orang 22:12 punya kesetaraan dan terbukti Anda tidak 22:15 punya kompetensi tapi Anda berani terima 22:17 jabatan gitu kan 22:18 ya. Anda punya kompetensi apa di dunia 22:20 energi? Anda punya kompetensi apa di 22:22 dunia kepelahuanan? Anda punya 22:25 kompetensi apa di dunia keuangan? Anda 22:27 punya tapi mau duduk di jabatan itu 22:29 berima jabatan itu misalnya. Kalau saya 22:32 enggak mau, 22:34 saya enggak mau [tertawa] 22:36 ditawari jabatan-jabatan kayak gitu tuh 22:38 saya malu pada diri saya karena tadi 22:40 karena model pembelajaran, model 22:44 kebaikan yang kita tanam, model 22:45 kebenaran, model keberanian, model 22:47 kebertanggungjawaban itu berujung pada 22:50 bagaimana metodologi yang kita pakai 22:52 atas satu wawasan, atas satu kondisi 22:54 sehingga kita bisa melihat secara 22:56 refleksi, posisi, dan projektif gitu. 23:01 Nah, itu enggak sembarang. Jadi, kalau 23:03 [berdehem] 23:03 kalau model pembelajaran benar, maka 23:05 masyarakat Indonesia beberapa orang 23:08 Indonesia yang berani menerima jabatan 23:10 yang bukan kompetensinya itu tidak akan 23:11 terjadi kalau pembelajaran benar. 23:13 Karena dia malu. 23:14 Iya. Iya. 23:15 Iya. Kalau dia malu, dia enggak mau. Dia 23:18 dia ee apalagi seorang anak muda yang 23:20 umurnya cuma 27 tahun gitu ya, 23:23 berani-beraninya masuk ke dunia eh 23:26 supply change gitu ya. 23:28 Iya. Atau Anda berani-beraninya masuk ke 23:29 dunia kepelabuhanan gitu ya 23:32 yang pertarungannya luar biasa. L ini 23:36 real maksud saya. Jadi salah yang 23:38 merekrut, salah yang direkrut, salah 23:40 output, salah input, salah output. 23:42 H 23:44 itu pembelajaran Anda 23:45 berarti latar belakang pendidikan 23:47 mempengaruhi meritokrasi juga ya, Bang, 23:49 ya. 23:50 Nah, di sini di sini ee ketika ee saya 23:54 enggak mau jawab secara saklok di sini, 23:57 Angga. Karena saya menggunakan metode 23:59 schooling dan metode schooling. 24:01 Iya. 24:01 Tadi kan sudah saya sebut saya saya 24:03 tidak satu line, saya punya pendidikan 24:06 informal lain gitu ya. [berdehem] 24:08 Jadi dari perspektif pendidikan yang 24:09 saya punya, saya enggak melihat 24:12 pendidikan sebagai gambaran untuk 24:14 meritokrasi untuk e untuk mobilitas 24:17 vertikal. 24:17 Heeh. 24:18 Halo. 24:19 Heeh. 24:19 Beda enggak melihatnya? 24:20 Iya. Jadi saya tidak melihat pendidikan 24:23 sebagai jenjang untuk meningkatnya 24:24 mobilitas vertikal untuk menapaki 24:27 struktur vertikal berikutnya. Saya 24:29 enggak ngelihat itu. 24:30 Saya ngelihat pendidikan sejak saya 24:32 maaf ya 24:33 h 24:34 sejak saya SD gitu ya. Walaupun kemudian 24:37 saya pahami ketika saya mulai kuliah. 24:39 Sejak saya 24:41 saya menyadari pendidikan itu harus 24:43 memberikan keilmuan, keimanan. Hm. 24:45 Karena tadi karena didasari pada kalau 24:48 kamu ingin baik diri kamu, kamu punya 24:51 posisi yang enak, kondisi yang enak gitu 24:52 ya, kamu punya penilaian yang dinilai 24:56 oleh orang gitu dan kamu maka kamu harus 24:59 beriman dan berilm. Ah, itu ayat. Jadi 25:02 pendidikan harus melahirkan pembelajaran 25:05 tentang bagaimana 25:07 seseorang berilmu dan beriman. Apakah 25:10 berilmu praktis atau kemudian berilmu 25:13 kreatif atau dalam rangka pengembangan 25:16 ilmu kan dunia pendidikan gitu 25:17 dalam rangka itu kan dunia pendidikan 25:19 tinggi dalam rangka pendidikan 25:21 penelitian dan pengabdian kan gitu 25:23 dan perguruan tinggi. Nah kalau kita 25:26 ngelihatnya begitu gitu ya 25:30 Indonesia 25:31 kampus negerinya kampus negerinya yang 25:34 namanya milik negeri nih milik negara 25:37 gitu. He 25:37 itu hanya ada anggaran sekitar 17 18%. 25:41 Cina mendapat anggarannya 80%. 25:45 Kejauh kan? 25:47 Jauh banget gitu. Nah, dari situ 25:50 ee orang yang yang berada di kampus 25:52 enggak usah Cina deh, ke Malaysia aja. 25:55 [mendengus] E sama dia akan dia akan 25:58 tidak perlu menjadi menyambih ee jualan 26:02 ee macam-macam. ee jadi dosen tapi ee 26:06 jadi pengojek tambahannya gitu. Jadi 26:09 guru tapi sekaligus pengojek. Jadi dosen 26:11 tapi juga jual jualan seblak misalnya 26:14 soal macam-macam gitu ya. 26:16 Lalu kemudian tugas untuk membimbing 26:17 mahasiswanya. Ah sudahlah enggak usahlah 26:19 gitu. 26:20 Eh itu itu gambaran bahwa akar masalah 26:25 di Indonesia untuk dunia pendidikan 26:27 tidak terselesaikan. Dan ketika Anda 26:29 fokus membiayai makan, maka Anda ikut 26:33 menambah persoalan. H. 26:36 Kenapa? Karena yang namanya universitas, 26:39 karena Anda bicaranya di universitas 26:41 gitu ya. Universitas itu mengajarkan 26:43 universe, 26:45 mengajarkan keluasan berpikir, 26:48 mengajarkan kedalaman berpikir, 26:49 mengajarkan ketajaman berpikir 26:52 secara spiritual gitu ya, secara moral, 26:55 secara intelektual, secara material. 27:00 Dan di sana Anda menjadi salah satu 27:04 pemilik kecerdasan sosial. 27:07 Jadi dunia pendidikan Indonesia yang 27:09 bertujuan untuk bertakwa dan berakhlak 27:11 mulia kan gitu tujuannya kalau pakai 27:14 pakai konstitusi gitu ya, bertakwa dan 27:18 berakhlak mulia gitu ya. Maka bisa kita 27:22 lihat ada enggak terjemahannya dalam 27:23 kurikulum. 27:25 Hm. Nah, ternyata jangankan dalam 27:27 kurikulum, dalam pembelajaran dosennya 27:29 aja enggak ada gitu. [tertawa] 27:31 Ya sudah, e input menentukan output 27:34 berantakan di situ, gitu ngelihatnya. 27:36 Itu baru sekedar input menentukan 27:38 output. Bagaimana kalau pakai model 27:40 pendekatan sistemik struktural makin 27:41 rusak? Di situlah betapa enaknya 27:45 Indonesia diacak-acak oleh pemikiran 27:47 luar. karena feedback loop sistem 27:51 struktural itu tidak terjadi. 27:53 Ini saya sedang menyampaikan satu ee 27:56 thinking model model berpikir gitu ya. 28:00 Kalau kita menggunakan satu 28:03 model berpikir 28:05 bahwa ada visi, ada misi kehidupan dan 28:08 karena itu ada kebijakan dan ada 28:10 strategi. Lalu kemudian mengambil input 28:13 lalu diproses lalu output lalu ada 28:15 outcome ada efek ganda. Maka output itu 28:20 harusnya memang melahirkan tujuan tujuan 28:22 jangka pendeknya, tapi efek gandanya, 28:25 efek berlapisnya, efeknya 28:28 itu harus bisa menjawab visi kehidupan 28:30 itu sendiri. Visi kehidupan Indonesia 28:33 apa? Nah, ketika kemudian pendidikan 28:35 tidak menghasilkan [berdehem] visi 28:36 pendidikan gitu ya, ulang. 28:38 Hm. 28:39 Ketika sistem pendidikan di Indonesia 28:40 tidak menjawab visi kehidupan berbangsa 28:42 dan bernegara, di situ kontribusi 28:45 pendidikan kelihatan salah. Nah, ketika 28:47 kontribusi pendidikan tidak memberikan 28:49 pemahaman tentang visi kehidupan 28:50 berangsa bernegara, gagal menjawab visi, 28:53 kedekatan visi, maka dia kembali lagi ke 28:57 dalam sistem politik, sistem ekonomi, 28:59 sistem sosialnya. [berdehem] Karena 29:03 sistem sosial kita misalnya sekarang 29:05 saya berkali-kali bilang, 29:07 reformasi itu telah merusak modal 29:10 sosial. 29:12 Reformasi itu telah merusak modal 29:14 politik. 29:15 Reformasi itu telah merusak modal 29:17 ekonomi. Ya. Dan itu diindikasikan oleh 29:20 tiga hal. 29:22 Social disorder, 29:24 social yang pertama social trust, lalu 29:27 social disorder, dan social disobedi. 29:31 H 29:32 gagas misalnya tentang penolakan bayar 29:35 pajak kan sudah lama tuh ya gitu ya. Oh, 29:37 kita tolak bayar pajak gitu. Itu bagian 29:40 dari social disobedient, political 29:43 disobedience, citizen disobedient. 29:46 Di Amerika penolakan terhadap ICE, 29:48 penolakan terhadap kebijakan Trump itu 29:51 ditunjukkan secara konkret bagaimana ICE 29:53 dihadang oleh kekuatan masyarakat 29:55 sehingga ketika ACE mau menangkap satu 29:57 warga gagal. 30:00 H 30:01 dan itu ditunjukkan secara nyata. itu 30:03 sudah bukan lagi bukan lagi political 30:06 disobedient itu sudah e eh low 30:11 disobedient pembangkangan hukum sudah 30:14 dilakukan oleh war itu dilakukan oleh 3 30:16 seteng dalam dalam sebuah tulisan yang 30:18 terbit di New York Times eh kemarin 30:20 dalam rangka 250 tahun peringat Amerika 30:23 misalnya 30:24 itu ditunjukkan oleh masyarakat Amerika 30:27 padahal masyarakat Amerika ya itu begitu 30:28 gitu. Nah, artinya [berdehem] eh yang 30:31 saya mau bilang bukan saya mau 30:32 membandingkan bahwa pendidikan Amerika 30:33 juga bagus, tapi paling tidak dia 30:35 melahirkan satu pemahaman bahwa social 30:39 disorder, social disobedience yang 30:42 bermula dari social distust itu terjadi 30:44 ketika Anda betul-betul memuja-muja 30:47 sekularisme. 30:48 Hm. Dan ternyata ketika kita mundur ke 30:50 belakang dalam modal sekularisme itu 30:53 terjadi karena memang dekret presiden 5 30:56 Juli 59 itu sebenarnya dalam rangka 30:59 menanamkan sekularisme. He. 31:01 Sehingga agama gitu ya, agama hanya 31:04 dijadikan sebagai gerakan budaya. 31:08 Jadi sekularisah itu yang disebut dengan 31:09 jadi sekularisme ini 31:11 pembajak pendidikan di Indonesia. 31:14 pembajak ee ee fondasi, misi dan visi 31:17 dan misi kehidupan Indonesia. H 31:19 dia membajak pondasi, dia membajak ee 31:21 visi dan membajak misi kehidupan 31:23 berbangsa dan bernegara. 31:24 Heeh. H. Jadi kalau kita mau ngambil 31:26 secara mendalam gitu ya, ketika ee 31:29 ketika dekret Presiden 5 Juli di 59 31:31 menyatakan misalnya kembali ke UN5 gitu 31:35 ya, karena itu membubarkan konstituante 31:38 yang pertama membubarkan konstituante 31:40 tapi kembali ke 45 lalu kemudian 31:43 mendirikan MPRS dan DPRPR gitu ya kan 31:47 dengan kalimat 31:49 dengan dijiwai oleh piagam Jakarta. 31:52 Itu kan gambaran karena terjadi konflik 31:54 antara kelompok nasionalis. Kalau kita 31:57 baca sejarah ditebutnya sebagai 31:58 nasionalis sekuler dengan kelompok 32:01 Islam. 32:03 Sehingga muncul kalimat negeri negara 32:05 ini bukan negara agama tapi negara 32:08 beragama. Saya kemarin dalam presentasi 32:10 saya hari Ahad, betul memang negara ini 32:13 bukan negara agama tapi negara beragama. 32:16 Maka setiap regulasi 32:19 ini ini kalimat penting 32:20 Heeh. Heeh. Maka setiap kebijakan, 32:23 setiap regulasi, setiap tindakan para 32:26 pejabatnya, para petingginya yang 32:29 wataknya 32:31 menyalahi nilai-nilai agama, pasti pasti 32:36 dia akan berujung pada kehinaan dan 32:38 keburukan. H 32:39 karena negara ini negara beragama. 32:41 Negara beragama itu menjalankan lima hal 32:43 tadi. Anda harus belajar, Anda harus 32:46 baik, Anda harus benar, Anda harus 32:48 berani, Anda harus bertanggung jawab. 32:52 [berdehem] 32:53 di sana dan di sana kelihatan akhirnya 32:56 umat Islam pun masuk ke dalam model 32:58 sekular 32:59 dan akhirnya seperti yang sekarang kita 33:00 lihat umatan wahidah umatan yang satu 33:03 itu adalah buih. Nah, itu sejarahmu. 33:05 Jadi, Anda bayangkan kali itu 33:07 i 33:07 itu terjadi sedemikian rupa gitu, 33:09 sedemikian panjang dan itu yang saya 33:11 bilang ini sudah 70 tahun 33:13 berjalan gitu ya 33:15 kayak gitu. Maka kalau hari ini dituntut 33:18 tentang ee gaji, tentang hak, mestinya 33:21 kita tanya dulu apakah memang sistem 33:24 pendidikan kita sudah memenuhi syarat 33:28 dalam rangka menjawab amanat konstitusi. 33:32 Pertama, tegaknya fondasi. Dua, 33:34 menjalankan visi dan misi. Lalu, 33:36 kebijakan dan regulasinya benar. Nah, 33:38 kalau sudah sampai di situ sistem 33:40 feedback loopnya satu umpan balik 33:43 tertutup. Itu benar. 33:46 Kalau enggak ya sudah akhirnya hidup 33:48 kita kalau kita tanya sekarang ke mana 33:51 sebenarnya arah Indonesia sekarang? 33:53 Siapa yang bisa jawab? 33:54 H 33:54 oh dia jawab dengan pendekatan RPJMN 33:57 kita akan begini. Tapi kenyataan dari 33:59 yang namanya sejak reformasi hingga hari 34:02 ini gitu ya, arah yang dinyatakan dalam 34:04 RPJMN, arah yang diarahkan oleh RPJP 34:08 gitu ya, bencana [mendengus] pembangunan 34:10 jangka panjang itu tidak pernah 34:11 tercapai. 34:12 Hm. 34:13 Saya ingat betul ketika saya berdebat 34:15 dengan seorang seorang menteri waktu itu 34:17 yang kemudian masuk penjara gitu ya di 34:19 2009. 34:21 Oh dia dengan bangga menyebut Indonesia 34:23 sudah sama dengan India mengutip majalah 34:27 gitu ya. Saya balikin ini RPJM begini 34:31 tidak satu butir pun RPJMN itu tercapai 34:34 sama dengan Joko Widodo. 34:35 Hm. 34:37 Sama. 34:37 Iya 34:38 enggak ada bedanya. [tertawa] 34:39 Jadi kalau kita fokus kan bidan 34:41 pendidikan, apa fokus pendidikan kita? 34:43 Oh kita mau bilang kita meningkatkan ee 34:46 jumlah sekolah rakyat, kita meningkatkan 34:49 sekolah ee kedokteran masyaallah la 34:53 haula wala quata illa billah. 34:55 Dekati dulu secara sistemik struktural. 34:57 Jangan fokus dulu pada titik-titik 34:59 tertentu gitu ya. Kalau kalau di Banten 35:04 sana sama di Bogor sana orang untuk 35:07 sekolah SD aja sudah butuh ee 35:10 pengerbanan waktu saya yang kayak gitu 35:13 gitu ya. Apalagi terus dosennya kayak 35:15 gitu. Asal Anda tahu kalau dosen itu 35:18 mengeluh di bawah UMR 35:21 sejumlah guru honorer itu menerima 35:24 sebulan hanya terkadang R00.000 sampai 35:27 dengan Rp300.000. Saya pernah bilang di 35:30 Rasil, ada saudara saya yang sudah 35:32 puluhan tahun menjadi guru honorer, per 35:35 bulannya hanya menerima 3.000, 35:38 artinya dia dibayar Rp10.000 untuk 35:40 bensin aja enggak cukup 35:43 [tertawa] 35:43 untuk karena jayanya ditempuh lebih dari 35:46 2 jam jauh gitu loh dari rumahnya untuk 35:50 mencapai e sekolah SD itu gitu. 35:52 Kebayang enggak kayak gitu gitu. Nah, 35:55 artinya ketika kita melihat ada 35:56 prosesnya, mari kita ngelihatnya secara 35:58 secara 36:00 benar. Dari kerangka makro ke mikro, 36:03 dari kerangka mikro ke makro, 36:05 dari alfatihah ke annas, dari annas ke 36:08 alfatihah, 36:09 gitu loh. 36:10 Jadi, kan metodologi Al-Qur'an dari 36:12 Alfatihah masuk kemudian ke Albaqarah 36:14 pakai mushaf ya, pakai cerita mushaf. 36:16 H 36:17 cerita mushaf Albaqar ee Alfatihah 36:19 Albaqarah ditutup dengan annas. dibalik 36:21 lagi dari Annas, baca lagi surat-surat 36:24 pendek, masuk lagi surat-suratusnya 36:27 berujung juga pada Al-Fatihah. Jadi 36:29 pakai pendekatan 36:31 umum ke khusus, khusus ke umum misalnya. 36:34 Mari kita lihat pendidikan dalam 36:35 kerangka itu. Karena ujungnya adalah 36:38 pendidikan harus melahirkan 36:39 satu peradaban 36:41 yang mengangkat harkat martabat manusia 36:44 dan menyelamatkan perjalanan hidup 36:46 manusia di dunia dan akhirat. Jadi bukan 36:48 cuma sekedar Anda, Anda punya kenikmatan 36:52 materialisme di dunia gitu ya, tapi 36:55 hidup Anda sesungguhnya risau. 36:58 He. 36:59 Bayangkan seorang seorang anggota DPRD, 37:02 mantan anggota DPRD lalu kemudian 37:05 menjadi staf di dalam kabinet, 37:07 kekayaannya berlipat sampai sekian ratus 37:09 persen. 37:11 [tertawa] 37:12 Enggak usah saya sebut siapa ya. I 37:13 dia anaknya seorang menteri, dia anaknya 37:15 seorang tokoh partai, gitu ya. Lalu ada 37:17 juga yang kayak gitu. Ada seorang 37:19 anggota DPR lulus 37:22 S1, S2 lalu dalam waktu singkat dia 37:25 punya kekayaan berkali-kali lipat gitu. 37:27 He. 37:27 Bisnisnya apa ya, usahanya apa gitu. 37:29 He. 37:30 Dan ee saya ngobrol lagi dengan berbagai 37:33 kalangan ada pejabat-pejabat tertentu 37:36 yang hanya dalam waktu tertentu rumahnya 37:39 demikian mewah megah gitu ya. dilengkapi 37:41 dengan berbagai macam fasilitas mewa dan 37:43 beg. Padahal kalau dihitung gaji 37:45 formilnya ya paling cuma 10 juta gitu. 37:49 Oke. [tertawa] 37:52 Ada ada sesuatu yang salah dan saya kira 37:56 kabinet ee ee tepatnya saya enggak 37:58 bilang kabinet ya. 37:59 Hm. 38:01 Tepatnya Rizim merah putih. 38:02 Heeh. 38:03 Dia gagal menemukan akar masalah. H 38:07 ketika bicara tentang tentang Indonesia 38:10 yang seharusnya tidak paradoks gitu ya. 38:13 E kan paradoks Indonesia saya balik aja 38:15 Indonesia paradoks gitu ya. Ketika kita 38:17 bicara Indonesia paradoks maka kita 38:18 harus dia tidak hanya pasal 33 padahal 38:22 pasal 33 dalam rangka ekonomi konstitusi 38:24 menurut Ihsanuddin Nursi yang pernah 38:26 disampaikan secara terbuka ke mereka 38:28 gitu ya 38:30 itu berkaitan dengan dan di dalamnya ada 38:32 persoalan pendidikan 38:34 ekonomi pendidikan. Kalau dalam ekonomi 38:36 konstitusi itu namanya ekonomi 38:38 pendidikan. Nah, ketika bicara ekonomi 38:40 pendidikan kita bicara tentang bagaimana 38:42 keputusan politik, keputusan sosial kita 38:45 yang dimulai dengan keputusan sosial 38:47 tentunya. Lalu kemudian kita bicara 38:48 keputusan politik untuk bicara ekonomi 38:51 pendidikan. 38:52 Kan strukturnya begitu. Modal spiritual, 38:55 modal sosial, modal politik, modal 38:58 ekonomi, modal kultural yang keseluruhan 39:01 modal tadi dijaya secara digital. begitu 39:04 Anda ngejawabnya sesuatu yang saya 39:07 sedang betul-betul [tertawa] 39:10 Oke, sekarang kita masuk almarhum gitu 39:13 ya, Mas. Eh 39:17 5 menit lagi. [tertawa] 39:18 Eh 5 menit lagi. Ee 39:22 peristiwa 39:24 ee mahkamah 39:27 Mama adalah bukti bahwa 39:30 ee satu masyarakat yang kokoh ee atas 39:35 keimanannya 39:36 dia tidak mudah ee dijungkir balikkan 39:40 oleh pendekatan-pendekatan yang sifatnya 39:42 material. ee sama seperti satu keluarga 39:48 yang kokoh keimanannya, dia tidak akan 39:50 mudah ee dijungkir balikkan oleh 39:53 tawaran-tawaran material yang 39:55 menyesatkan dan menjerumuskan. 39:59 Nah, itu kalau sudah kayak gitu 40:01 ee modal spiritualnya kalau pakai teori 40:05 teori saya tadi, modal spiritual ke 40:07 modal sosial itu punya relasi kental 40:11 dalam ee dalam Siratul Nabawiyah, relasi 40:16 modal spiritual ke modal sosial lalu 40:19 ngebentuk ke modal politik itu memang 40:21 dalam satu kesatuan sehingga dia 40:23 membentuk modal kultural. Nah, ee 40:26 pemakaman kemarin itu membuktikan 40:29 utuhnya modal sosial, modal spiritual, 40:32 modal sosial, lalu modal politik, modal 40:35 ekonomi, dan modal peradaban, modal 40:37 kultural 40:38 yang dijet dengan Nah, 40:40 ee di situ e para petinggi Amerika salah 40:45 dan para petinggi Indonesia salah. 40:47 Iya. Iya. Iya. 40:49 salah di situ ngelihatnya karena mereka 40:53 keluar dari ee kalau pakai bahasa 40:56 berpikir saya keluar dari patron linear 41:00 lateral. Jadi format linear lateralnya 41:03 saja tidak 41:04 tidak beres, tidak selesai, cacat bahasa 41:06 sederhananya. Anda bicara e desimal 19, 41:10 tapi Anda tidak gagal menyebutkannya 41:13 secara deret hitung, secara deret ukur 41:15 gitu loh. 41:16 Bagaimana Anda bisa masuk ke sekuensial 41:18 ke quantum gitu misalnya gitu ya. 41:19 Logika verbal Anda terbalik-balik 41:21 karu-karuan misalnya ee sehingga tidak 41:23 ketemu modelnya kayak apa. Apalagi 41:25 memang bahasa Indonesia ee punya 41:27 kekayaannya sangat terbatas ketika masuk 41:29 ke relasi antara nilai dengan teknologi 41:31 misalnya. Nah, dari sana sesungguhnya 41:35 gambaran pemakaman kemarin gitu adalah 41:38 pemakaman yang menunjukkan ke masyarakat 41:40 dunia bahwa materi bukan segala-galanya. 41:44 Bahwa kekuatan fisik yang dimiliki itu 41:46 bukan segala-galanya, tetapi adalah 41:49 penting punya kekuatan fisik dan 41:50 kekuatan materi bukan dalam rangka 41:53 menunjukkan bahwa saya berkuasa atas 41:56 segalanya. Itu bedanya. Jadi dalam 41:59 format berpikir Iran kemarin gitu ya. 42:02 dia telah menabrak satu 42:06 kenyataan hidup yang dibangun oleh 42:08 Amerika 42:09 selama satu abad. Ee ini kan ceramah 42:11 saya di bulan Juli 2025 gitu ya. Eh 42:15 2024. di bulan Juli 2024 bahwa Amerika 42:19 itu gagal selama abad dan kemarin Iran 42:23 itu menunjukkan bukti bahwa bangun 42:26 berpikir yang dilakukan oleh Amerika 42:28 selama masa abad dalam pendikatan yang 42:30 sekuler yang di belakang sekuler ada ada 42:33 misi zionisme 42:34 itu gagal dan itu terbukti 42:37 itu terbukti dan sebaliknya mereka 42:38 membunjukkan perlawanan. Jadi kalau ada 42:40 pihak yang mencurigai bahwa Syiah adalah 42:43 juga bagian dari Yahudi, Syiah adalah 42:45 bagian dari Zionisme, kemarin itu 42:47 menunjukkan bukan. 42:48 Hm. 42:50 Jadi ada dalam perspektif ee hubungan ee 42:53 sosiologi keagamaan, politik keagamaan, 42:55 h 42:55 bahwa Syiah dianggap sebagai bagian dari 42:58 perpanjangan Yahudi. Kemarin itu bukti 43:00 bukan gitu. Yang menarik lagi ketika 43:03 Mutsabah menyatakan, "Mari antara Syiah 43:05 dan Sunni bersatu." 43:07 Hm. Jadi artinya kalau mau ngambil 43:09 kemarin pembelajaran paling mendalam 43:11 adalah gitu ya, suka tidak suka pelajari 43:15 Al-Qur'an dan sunah dengan benar 43:17 sehingga kita betul-betul menjadi umatan 43:19 wahidah, umatan yang satu. Tanpa itu ya 43:22 seperti Allah bilang tidak ada tidak 43:25 akan ada pembelajaran 43:28 buku pedoman 43:30 yang menyatukan umat manusia sedunia 43:33 kecuali 43:35 ah Al-Qur'an dan sunah. Nah, itu 43:37 saya kira begitu ya. Saya kira itu 43:39 terima kasih banyak. 43:41 Salah tentu saya minta maaf karena 43:42 kekurangan saya gitu ya 43:44 dan benar hanya karena milik Allah dan 43:47 tentu saja semuanya juga karena izin 43:49 Allah. 43:50 Subhanakallahumma wabihamdika asadu 43:53 anta astagfirum. 43:56 Wasalamualaikum warahmatullah 43:58 wabarakatuh.