Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Brail [bernyanyi]
- [musik]
- [musik]
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillahiabbil alamin
- hamdan katsir thyiban mubarokan fi kama
- yuhibuna waard asadu alla ilahaillallah
- wahdahu la syarikalah wa asadu anna
- muhammadan abduhuasuluhu la nabi ba'da
- amma ba' masih dipancarluaskan dari
- jalan masjid silaturahim nomor 36
- kalimanggis Cibubur Bekasi radio
- silaturahim dan rasil TV untuk Islam
- yang satu ikhwan akhwat para pendengar
- radio silaturahim dan pemirsa Rasil TV
- yang di manapun antum dan antuna berada
- di siang hari ini. Semoga ikhwan akhwat
- yang saat ini sedang menyimak radio
- silaturahim dan menyaksikan Rasil TV di
- mana pun Antum berada, berkumpul bersama
- keluarga di rumah ataupun yang saat ini
- sedang berada dalam ee perjalanan,
- berada dalam kendaraannya dan di mana
- pun antum berada semoga kita semuanya
- selalu dalam kesehatan dan senantiasa
- selalu dalam lindungan dan rahmat Allah
- Subhanahu wa taala. Bahagia sekali
- bersama saya Muhammad Hafiz Alfloresi
- beserta kerabat kerja yang bertugas di
- siang hari ini ada Bang Ondi di
- kameraman dan switcher dan Bang Anis
- Mualim di meja operator. Alhamdulillah
- kembali hadir dalam program tausiah
- siang bersama guru kita Ustaz Aminoni di
- edisi hari ini hari Rabu tanggal 4
- Syakban 1442 Hijriah atau bertepatan di
- tanggal 17 Maret
- 2021. Dan ikhwan akhwat, guru kita
- insyaallah e sudah berada di studio.
- Kita sapa terlebih dahulu.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kabar sehat, Ustaz?
- Alhamdulillah bikhair. Insyaallah.
- Masyaallah. Perjalanan lancar, Ustaz,
- ya? Dari rumah.
- Insyaallah lancar.
- Alhamdulillah.
- Ikhwan akhwat yang dirahmati oleh Allah
- Subhanahu wa taala. Insyaallah pada
- kesempatan kita di siang hari ini, guru
- kita Ustaz Amin Roni masih membahas ee
- kelanjutan tema dari pekan sebelumnya,
- pertemuan sebelumnya, yakni ee dengan
- tema yang dibahas insyaallah adalah
- Hizbullah di tengah pasang surutnya
- kepemimpinan. Ikhwan akhwat yang
- dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala.
- Sebelum kita menyimak nasihat dari guru
- kita, langsung saja kita buka acara
- kajian kita di siang hari ini dengan
- membaca doa thabul ilmi.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Rabbi zidni ilman Allahumma fa'ni bima
- alamtani waimni ma yanfauni warzuqni
- ilman yanfauni. Tafadol ustaz.
- Ya. Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Innalhamdalillah nahmaduhu wa nastainuhu
- wafiruh
- wa naud nazubillahi min sururi anfusina
- wamin sayiati a'malina.
- May yahdillahu fala mudillalah wam
- yudlilhu fala hadiyaalah.
- Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la
- syarikalah wa ashadu anna muhammadan
- abduhu wa rasuluhu la nabiya ba'dah.
- Amma ba'du inna astaqal hadis kitabullah
- wahairal haji haji Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam wasyarul umuri
- muhdasatuha wa muhdasin bidah wa bidatin
- dolalah.
- Para pendengar radio silaturahim di mana
- pun berada dan pemirsa Rasil Visual yang
- dimuliakan oleh Allah.
- Alhamdulillah siang hari ini karena
- takdir dan izin Allah semata kita
- berjumpa kembali dalam kajian siang.
- [berdehem]
- Semoga Allah menjadikan pertemuan kita
- siang hari ini bernilai ibadah di
- sisinya.
- Lebih dari itu apa yang akan kita kaji
- siang hari ini mudah-mudahan
- bermanfaat untuk kita semuanya
- dan Allah bukakan hati kita, bukakan
- pikiran kita, Allah tambah ilmu yang
- bermanfaat bagi kita dan mudah-mudahan
- kajian kita bisa menambah keimanan dan
- kualitas amal kita di masa yang akan
- datang.
- Tentu
- setiap kali kita
- membuka kajian dengan niat karena Allah,
- mudah-mudahan
- ini menjadi wasilah
- Allah datangkan rahmat bagi kita
- semuanya. Amin ya rabbal alamin.
- Dengan semangat ingin menuju kepada
- kesatuan, maka kita akan lanjutkan
- bagian kedua tentang Hizbullah di
- tengah-tengah pasang turut pasang
- surutnya kepemimpinan.
- Hadis yang sudah kita bedah pada pekan
- atau 2 pekan yang lalu itu menjadi
- khabar dari Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam untuk kita tentang bagaimana
- dinamika
- aktivitas pergerakan dan perkembangan
- Islam dari sejak wafatnya Nabi kita
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
- Informasi yang sudah disampaikan oleh
- Rasulullah dengan pasang surutnya
- kepemimpinan umat Islam itu
- menggambarkan bahwa memang
- Rasulullah mengkhabarkan ada beberapa
- tipe, ada beberapa gaya, ada beberapa
- model kepemimpinan yang berjalan
- dan riwayat yang sudah dibaca memang
- sebagian ada yang menyebutkan e sanadnya
- ada yang lemah. Namun syawahid,
- hadis-hadis yang lain yang menguatkan
- tentang beberapa periode dari
- kepemimpinan umat Islam itu bisa kita
- baca.
- Dan lebih konkret lagi, bagaimana fakta
- sejarah
- yang mampu direkam dan ditulis oleh para
- ahli sejarah tentang perjalanan umat
- Islam di Indonesia. Guru kita ee Prof.
- Hamka pun menulis tentang sejarah umat
- Islam dan masih banyak para ahli sejarah
- lain. Dan juga di negeri kita banyak
- bermunculan penterjemahan buku-buku
- tentang sirah nabawiyah yang bisa kita
- baca untuk memperkaya khazanah, fakta
- sejarah yang pernah berjalan yang
- dialami dari kurun ke kurun, dari waktu
- ke waktu sepanjang perjalanan hidup umat
- Islam sejak Nabi Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam sampai hari ini. Tentu
- kalau kita lihat semangat kebersamaan
- itu nampak. Semangat kesatuan umat Islam
- itu nampak sekali. Bagaimana
- dalam situasi
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- baru saja menghadap Allah, dipanggil
- oleh Allah. Kemudian dihadapkan muslimin
- dengan berbagai macam problem yang
- datang mengiringinya.
- Namun kemudian tidak belum mendapatkan
- penyelesaian solusi yang tepat karena
- memang belum hadir di tengah-tengah
- mereka pelanjut dari kepemimpinan
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- [mendengus]
- Dan ini menunjukkan urgensinya kesatuan,
- urgensinya kebersamaan, kepemimpinan
- dalam Islam. Nah, itulah yang kemudian
- menjadi awal perjalanan
- pengganti Rasul yang disebut dengan
- khalifatu Rasulillah sallallahu alaihi
- wasallam, Abu Bakar radhiallahu anhu.
- Dan begitulah seterusnya. Setelah itu
- Umar bin Khattab, kemudian Utsman bin
- Affan, kemudian Ali bin Abi Thalib
- radhiallahu anhu. Kemudian kita kita
- juga baca setelahnya adalah transisi
- atau mungkin ee penyerahan dari Hasan
- bin Ali bin Abi Thalib kepemimpinan itu
- kepada Umayyah Abu Muayyah bin Abi
- Sufyan. Abu Sufyan bin Mua
- bin Umayyah.
- eh Mua Muawiyah bin Abu Sufyan dari Bani
- Umayyah. Walaupun kemudian sistem
- kepemimpinannya itu walaupun dalam tetap
- satu kesatuan umat Islam agak sedikit
- berubah dan itu sejalan dengan khabar
- dari Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam. Jadi ada fase kepemimpinan
- yang memang dijalankan mengikuti
- petunjuk Rasulullah sehingga sebutannya
- adalah khulafaur rasyidin almahdiyin.
- Khulafaur rasyidin almahdiin atau
- khalifah rasyidah. Kemudian berganti
- kepada kepemimpinan yang gayanya
- berbeda. Inilah ee Muawiyah bin Abu
- Sufyan. sehingga itu menjadi bagian
- informasi khabar dari Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Itu
- merupakan satu apa? Satu fakta sejarah
- yang bisa kita baca dan kita saksikan.
- Kelebihan dan kekurangannya tentu gaya.
- Jangankan antara kepemimpinan Khulafah
- Rasyidah dengan Bani Umayyah, di antara
- para khalifah sendiri berbeda gaya
- kepemimpinan antara Umar bin Khattab
- radhiallahu anhu dengan Utsman bin
- Affan. Begitu pula kondisi juga
- membedakan bagaimana kepemimpinan Ali
- radhiallahu anhu au karamallahu wajah.
- Masyaallah. Namun dari kurun ke kurun,
- dari waktu ke waktu itu menggambarkan
- kepada kita komando kepemimpinan
- muslimin masih dalam satu dalam satu
- kesatuan. Nah, ini yang mesti kita garis
- bawahi. Di masa Khulafaur Rasyidin,
- komando pemimpin kepemimpinan masih
- dalam satu kesatuan. Begitu berubah
- menjadi apa? Berubah bergeser kepada
- kepemimpinan Bani Umayyah dengan gayanya
- yang mungkin tidak lagi khulafa
- rasyidin, khalifah rasyidah. Tapi
- berbentuk mulkan itu pun masih dalam
- gambaran kesatuan dan kesatuan. Begitu
- pula ketika nanti kita baca dalam
- sejarah perubahan dari apa? Dari Bani
- Umayyah ke Bani Abbasiyah itu pun masih
- tetap muslimin terkonsolidasi
- dalam satu kesatuan yang sifatnya alamin
- dan seterusnya dan seterusnya. Dan ini
- menjadi satu catatan yang patut kita
- garis bawahi ya. Memang umat Islam itu
- memiliki simbol-simbol kesatuan.
- Dan juga tidak hanya itu, Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam pun dalam
- sabdanya memberikan ee memberikan ee apa
- arahan tentang urgensinya kita itu
- bersatu. Dan beberapa pekan yang lalu
- pun sudah kita bahas bagaimana Allah
- memberikan betapa kepentingan itu bagi
- umat membawa kepada kemaslahatan yang
- banyak. itu dalam surat Ali Imran ayat
- 103.
- Masyaallah. Jadi kalau seumpama hari ini
- muncul pada diri kita umat Islam melihat
- sejarah, melihat apa? Melihat kezaliman,
- melihat keberadaan umat Islam yang di
- sebagian dunia ini mungkin masih
- tertindas, masih lemah, masih
- memprihatinkan seperti di Yaman ini.
- Masyaallah ya. Hari ini kita lihat
- bagaimana di Yaman sana, saudara-saudara
- kita sedang tertimpa kelaparan.
- Masyaallah. Belum lagi di Palestina dan
- seterusnya. Sebenarnya ada dari hati
- yang paling dalam kita sebagai umat
- Islam. Bagaimana nih umat Islam bisa
- terbelakan, bisa apa? Bisa terlindungi
- juga bisa apalagi mendapatkan santunan
- yang layak bagi umat Islam yang yang
- lain. Kita juga tentu tidak bisa menutup
- mata. bahwa kalau kita ini hidup
- berkecukupan, hidup dengan penuh
- keamanan, tapi saudara kita di belahan
- dunia yang lain mengalami penderitaan,
- mungkin juga kita akan merasakan bahwa
- kita sudah tidak nyaman, perasaan kita
- tidak nyaman, empati kita tidak nyaman,
- fitrah kita pasti terundang, terusik.
- Nah, ini menjadi PR yang PR itu pada
- akhirnya umat Islam itu butuh
- kebersamaan.
- Umat Islam itu butuh duduk bersama.
- Jangan butuh dalam bahasa Malaysia ya.
- Umat Islam itu apa? Bisa kok duduk bisa
- juga termasuk enggak boleh ya di bahasa
- Malaysia. Jadi umat Islam ini berharap
- adanya kebersamaan duduk bersama.
- Bagaimana kita bisa menjalin kerja sama
- bisa mempererat ukhuwah persaudaraan
- antara umat Islam. Kita kedepankan
- kepentingan umat Islam di samping
- kepentingan sen sendiri dan seterusnya.
- Kesadaran itu sebenarnya ada pada diri
- kita setiap muslim. Kita tidak
- menghendaki bahwa saudara kita
- menderita. Kita juga tidak menghendaki
- bahwa umat Islam itu tertindas,
- terzalimi. Kita juga menghendaki
- bagaimana sih Islam ini sudah supaya
- punya izah, punya apa? Punya kehormatan,
- punya kemuliaan, punya wibawa.
- Masyaallah.
- Dan itu jawabannya sudah jelas dari
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam 14
- abad yang lalu memberitakan yusikul
- umam. memang nanti akan menimpa umat ini
- apa? Umat ini laksana hidangan atau
- laksana makanan yang enak diperebutkan
- oleh orang-orang yang non nonmuslim.
- Masyaallah. Kenapa ya? Kemudian para
- sahabat dengan kecerdasan dan
- keingintahuan mereka, dengan analisa,
- dengan berpikir kritis mereka bertanya,
- "Apakah kondisi yang menjadikan kami itu
- diperebutkan karena jumlah yang
- sedikit?" Ya Rasulullah bukan. Tapi
- kalian banyak
- katir kata Rasulullah, tapi seperti buih
- di atas lautan.
- Lautan.
- Nah, di situ Rasul sudah memberikan
- solusinya dan sudah memberikan
- diagnosannya. Jadi umat itu sedang
- sakit. Sakitnya bukan sakit fisik.
- Sakitnya juga bukan karena kekurangan
- makanan. Ini kan sekarang bukan
- kekurangan makanan. Malah banyak orang
- yang sakit sekarang karena banyak
- makanan.
- Masyaallah. Nah, sakitnya apa? Sakitnya
- sakit yang ada di hati sini ya kata
- Rasulullah yang disebut dengan wahan
- khubud dunya waq waqarahiyatul maut. Itu
- yang kata Rasulullah sebutkan. Nah,
- masyaallah ini sudah semakin apa ya?
- Sudah semakin terang benderang bagaimana
- peta umat Islam hari ini. Ya kan
- kondisinya tentu kita sebagai muslim
- berkeinginan, "Ya Allah persaudarakan
- kami." Kalau memang kita belum
- bersaudara.
- Ya Allah, rapatkan ukhuwah kami kalau
- memang ada keretakan ukhuwah pada diri
- kita. Ya Allah, la taj'al fi qulubina
- hillan. Kau jangan jadikan ya Allah di
- antara kami para ulama, para asatid,
- para umara gitu kan, para muslim
- semuanya, para agnia. Di hati kami itu
- ada gil, ada gil, ada perasaan tidak
- nyaman, ada perasaan tidak apa tidak
- enak, ada perasaan apa ada perasaan apa
- ya kira-kira ada ganjalan hilangkan dari
- kita. Yang ada adalah keterbukaan. Kita
- ingin umat Islam ke depan maju. Kita
- ingin hidup kita ini mendapatkan dan
- dinaungi dengan rahmat Islam. Kita ingin
- keluarga kita ke depan ini juga
- tercerahkan tentang keis keislaman.
- Masyaallah. Kita ingin namanya syariat
- Islam yang sempurna itu yang berdampak
- kepada kemaslahatan hidup dalam segala
- aspeknya itu mampu memberikan tadi
- perubahan suasana kepada aman sontrosa,
- penuh keadilan dan kesejahteraan. Jauh
- dari ketidakadilan, jauh dari kezaliman.
- Subhanallah. Kita semua ingin.
- Masyaallah. Maka ya mau tidak mau
- sebenarnya unsur-unsur kesatuan itu ada
- kok pada diri kita. Kalau kita mau
- membedahnya, masyaallah. Yang pertama
- bisa saja kita kaji adalah unsur
- kesatuan akidah. Nah, itu sudah menjadi
- ini sebelum pada fitrah kita.
- Kalau Allah menyebutkan dalam surat Alim
- 103 tadi, pertama keuntungan kita ini
- bersatu, keuntungan kita ini bersama
- adalah kita sudah menjalankan perintah
- Allah. Jadi jangan dulu bayangkan bahwa
- bersatu itu harus sedunia juga tidak.
- Bersatu itu kepentingannya untuk
- dominasi, berkuasa di dunia. Tidak.
- Bersatu itu harus banyak orang dan
- kemudian ya seluruh didukung oleh umat
- Islam. Tidak. Bersatu itu sesungguhnya
- adalah ibadah kepada Allah.
- Kita jangan paksakan bahwa kita salat
- berjamaah menunggu semua warga di
- sekitar masjid kemudian mau berjamaah
- baru kita salat berjamaah. Karena salat
- itu ibadah, waktunya sudah ditentukan
- oleh Allah. Jadi kalau kita ingin
- berjamaah, tegakkan azan di sana
- kemudian hadir seberapapun orangnya itu
- sudah dalam kategori berjamaah.
- Di samping ada upaya bagaimana ada
- pencerahan, bagaimana ada apa ada nzir
- peringatan, bagaimana ada basyirah, ada
- berkabar gembira, ada kajian sehingga
- tercerahkan ilmu itu terbedah ilmu itu
- terpahami ilmu itu tersosialisasi
- sehingga muncul keinginan
- dengan tadi sudah berjalannya sistem
- salat berjamaah itu seiring waktu kita
- berharap tumbuhnya kesadaran dari
- sekitar. Jadi salat berjamaah itu
- merupakan ibadah yang tidak harus
- tegaknya menunggu semua warga di
- sekitarnya itu mau salat.
- Masyaallah.
- Hatta hanya muadzin dengan imam saja
- sudah dikategorikan
- salat berjamaah.
- Nah, makanya ketika kita bermasyarakat
- rumusnya juga begitu. Rasul menjadi nabi
- tidak harus disetujui dulu oleh seluruh
- kaum muslimin. Karena itu syariat
- ditetapkan oleh Allah diangkat menjadi
- nabi dibitah beliau sudah berjalan
- kehidupannya berawal dari keluarganya.
- Seiring waktu kemudian satu persatu
- Allah dapat Allah berikan hidayah kepada
- Abu Bakar radhiallahu anhu. Utsman bin
- Affan. Terus seiring waktu bertambah
- bertambah bertambah. Apakah kemudian
- hadirnya Rasul halnya sama langsung
- seperti kondisi Fathu Makkah? Masyaallah
- kan tidak.
- Heeh.
- Bertahap tadrijat
- juga turun secara bertahap tadrij sesuai
- dengan kemampuan. Masyaallah. Adamul har
- karena Islam itu mudah. Mudah tapi tidak
- untuk dipaksakan keseluruhannya karena
- sebenarnya berjalan, bertahap.
- Masyaallah. Masyaallah.
- Nah, jadi jelas. Nah, makanya ternyata
- fitrah kita umat Islam hari ini
- menghadapi berbagai macam problem ingin
- bersatu itu bukan hanya tuntutan
- syariah.
- Itu sebenarnya adalah fitrah kita. Kita
- kan inginnya umat Islam itu punya
- kekuatan loh. Umat Islam itu punya
- kemuliaan. Umat Islam itu punya wibawa.
- Sehingga kita tidak diremehkan,
- dilecehkan. Ya kan? Umat Islam itu
- penginnya saya, kita umat Islam itu
- bersaudara. Saling tawasau bilhaq,
- tawab, saling berdoa. Masyaallah.
- Seandaikan kita punya gerakan yang sama
- didorong dengan ibadah iman kepada
- Allah, di malam hari kita jadwalkan
- tahajud untuk masing-masing kita.
- Kemudian kita masing-masing berdoa.
- Berdoa untuk siapa? Untuk kita, untuk
- umat Islam, untuk tetangga kita, untuk
- saudara kita. Masyaallah. Betapa itu
- akan menjadi gemuruh doa di malam hari
- itu seketika tahajud kepada Allah
- Subhanahu wa taala. Dan tidak ada
- kepentingan apa-apa kecuali hanya untuk
- ibadah kepada Allah. Allah tegaskan
- azubillahiminasyaitan watasimu
- bihablillahi jami wala tafarqu. Kita
- bedah dalam tafsirnya Ibnu Katsir dalam
- tafsir siapa lagi? Atisir dalam tafsir
- apa? Almarakhi. Dalam tafsir apa lagi?
- Fizil Quran dalam tafsir apaagi? Kita
- baca bagaimana ini perintah Allah jamian
- supaya umat Islam itu bersatu bersama.
- Subhanallah. Jadi ketika semangat kita
- bersatu itu sudah menjadi hidayah dari
- Allah terjadi. Kita tercerahkan bahwa
- kita secara fitrah berkeinginan umat
- Islam itu bersama, bersatu berjamaah.
- Nah, kan. Yang kedua tercerahkan lagi.
- Ternyata berjamaah itu sifatnya ibadah.
- Ibadah. Untuk beribadah kepada Allah.
- Jadi kalau seumpama kita sudah
- berjamaah, coba mau dihitung kapan?
- Kapan pun kita berada dengan kita
- menjalin persaudaraan, kita menjalin
- ukhuwah, kita berjamaah, itu bernilai
- ibadah. Kalau salat ibadahnya tadi kapan
- salat itu? Ketika dikumandangkan azan
- kemudian dia ke masjid. Begitu sampai di
- masjid menunggu salat sudah bernilai
- ibadah, apalagi salat qobliah. Kemudian
- kita berjamaah derajatnya tinggi. Nah,
- kalau berjamaah, perintah berjamaah
- dalam kehidupan. Jadi sepanjang kita
- hidup dan kita tegakkan kehidupan
- berjamaah itu kita sedang ibadah.
- Masyaallah. Dalam proses ibadah ya.
- [tertawa] Masyaallah. Jadi ketika kita
- berjamaah, muslimin itu bersatu, dia
- sedang menjalankan perintah Allah.
- Waasimu bihablillahi jamiah.
- Itu dalam satu diamnya saja dia sudah
- sedang menjalankan perintah Allah. Di
- sisi lain wala tafarqu dengan dia
- berjamaah sekaligus dia itu menjauhi
- perpecahan. Bagaimana supaya kita tidak
- berpecah? Berjemah. Bagaimana supaya
- kita tidak berselisih? Bersatu.
- Bagaimana supaya kita punya kekuatan?
- Ayo kita bangun masyarakat ini sesuai
- dengan contoh keteladanan kita Nabi
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam yang
- kemudian dipraktikkan berikutnya oleh
- para sahabat Nabi dengan sistem
- kepemimpinan yang kita sudah terangkan.
- Subhanallah. Luar biasa.
- Tidak itu saja. Jadi berdasarkan ayat
- tadi diamnya kita kalau sudah berjamaah
- satu sedang beribadah. Masyaallah. Yang
- kedua, diamnya kita dengan kita
- berjamaah. Walaupun diam, kita sedang
- berusaha menghindari perpecahan. Wala
- tafarqu.
- Nah, yang ketiga, wadkuru nikmatallahi
- alaikum id kuntum a'daan faallafa baina
- qulubikum faasbahtum binikmatihi
- ikhwana. Masyaallah. Ternyata untuk kita
- memperkuat silaturahim, ukhuwah
- persaudaraan tidak ada jalan lagi
- kecuali berjamaah.
- Ternyata langkah berjamaah itu membuka
- hati kita dari berbagai macam gil dan
- penyakit hati. Allah hilangkan itu
- sehingga dengan berjamaah selangkah
- lebih maju Allah persatukan hati kita.
- Subhanallah.
- Itu dari ayat yang satu itu belum
- selesai. Masih. Wauntum ala syafa
- khufrah. Nah, kalau kita tidak berjamaah
- kita rentan betul dengan apa? dengan
- tadi dengan posisi yang lemah yang Allah
- gambarkan seperti orang yang sedang
- berada di tepi jurang api neraka. Kalau
- kita berjamaah, potensi untuk diadu
- domba sangat mudah, potensi untuk dibuat
- kisruh sangat mudah, potensi untuk di
- apa? Dihancurkan dengan hoak saja bisa.
- Nah, ini pentingnya. Jangankan kita yang
- tidak berjamaah bersatu. Di masa Rasul
- ketika Aus dan Khajrat, mereka sudah
- dalam bingkai Islam. Mereka sudah
- mendapatkan sebutan ansar, orang-orang
- yang ansar, penolong. Tapi ternyata
- Rasul ada di tengah mereka. Mereka
- bersatu, berjemaah. Itu pun masih ada
- potensi celah setan untuk mengadu domba
- mereka. Coba baca asbabun nuzulnya.
- Bagaimana orang-orang Yahudi tidak
- senang.
- Ini mungkin sudah menjadi perilaku orang
- Yahudi tidak senang kalau melihat umat
- Islam itu duduk damai, tenang, akur,
- penuh keakraban. Itu enggak senang
- melihat umat Islam itu bergandeng tangan
- gitu kan. Berat sama dijinjing, ringan
- sama di eh gimana tuh? Berat sama
- dipikul ya ringan sama diing. Mereka
- enggak senang lihat itu.
- Kita kemudian damai dalam kerukunan.
- Saling tolong-menolong, bantu-membantu.
- Dia enggak senang dengan itu. Itu yang
- dibuktikan di masa Rasul. Maka kemudian
- mereka tadi memerankan diri sebagai
- provokasi, provokator masuk di
- tengah-tengah perkumpulan Aus dan
- Khajrat yang sedang bercengkerama
- tanpa disadari keliahaiannya mereka.
- Nah, jadi masyaallah. Jadi disebutkan
- wauntum alyafah hufrati minanari
- faanqakum minha. Sangat sejalan dengan
- asbabun nuzul dari ayat itu. Di mana
- Rasul jadi pemimpin umat, umat yang
- dipimpinnya saat itu mampu ada celah
- diadu domba oleh orang-orang Yahu
- Yahudi. Mereka umat Islam di masa Rasul
- bersatu pun masih ada celah untuk
- dipecah belah
- lah. Apalagi kalau kita sekarang umat
- Islam
- dalam kondisi tidak bersatu. Sangat
- mudah. Masyaallah. Nah, inilah jadi kita
- tetap semangat membangun ini sesuai
- dengan apa? Sebai dengan telekline ini
- nih rasil ya kan untuk Islam yang satu
- memang masyaallah.
- Jadi yang ketig yang keempat kalau kita
- bersatu umat Islam kita selamat dari
- jurang api neraka. Masyaallah kita lihat
- kondisi sekarang nih. Masyaallah
- bagaimana terombang-ambingnya
- nasib saudara kita di Palestina.
- Sebagian membantu tapi sebagian besar
- melupakannya. Kita juga bisa melihat
- bagaimana sekarang kondisi kelaparan
- yang menimpa Yaman.
- Masyaallah. Padahal di tengah-tengah
- muslim, di tengah-tengah negara muslim
- yang kaya raya. Masyaallah.
- Subhanallah. Nah, ini dari sisi
- kepentingan saja sangat rentan untuk
- diadu domba. Nah, makanya yang keempat
- maha maha besar Allah. Luar biasa dengan
- ayatnya ini. Jadi ternyata dengan kita
- berjamaah bersatu yang keempat untungnya
- adalah kita selamat dari api neraka.
- Yang kelima la'allakum tahtadun. Dengan
- kita bersama berjamaah bersatu itu, maka
- Allah akan berikan hidayah. Hidayah
- pencerahan. Karena apa? Karena semangat
- dinamika hidup berjamaah itu untuk
- ibadah kepada Allah semata, tidak untuk
- yang lain. Gitu. Itu semangatnya.
- Sehingga dengan semangat hidup untuk
- beribadah kepada Allah, orientasinya
- adalah berjuang ya kan untuk menjadi
- ansarullah, penolong-penolong Allah,
- Hizbullah, orang-orang yang berpihak
- kepada agama Allah. Nah, karena
- orientasinya, motivasinya, kalau bahasa
- kerennya sekarang, visi misinya itu
- adalah untuk apa? Untuk tegaknya kalimat
- tauhiah uliya, Allah bukakan kemudahan.
- Nah, di sana pertama tadi yang setelah
- yang kedua. Yang ketiga, Allah jinakkan
- hati mereka untuk bersaudara.
- Sehingga kalau ada nasihat dari orang
- lain sesama muslim tidak lagi dipandang
- sebagai hal yang negatif, tapi itu
- adalah hal yang po positif. Oh,
- masyaallah. Positif.
- Saya banyak salah tapi yang bisa melihat
- kesalahan saya ternyata bukan diri saya,
- orang lain. Jazakallah. Nah, kan begitu.
- Kira-kira kita juga ada tergerak
- keinginan kalau melihat saudara kita
- dalam posisi khawatir dia jatuh dalam
- hal-hal yang dilarang oleh Allah. Nah,
- masyaallah. Nah, itu penting untuk kita
- garis bawahi. Nah, jadi dari sisi apa?
- Dari sisi fitrah kita semua umat Islam
- ingin loh saya yakin bagus mana
- bertengkar dengan bersaudara. Ya, pasti
- milih bersaudara
- ya kan. Bagus mana kita saling hasad
- dengan kita saling mencintai? Nah, pasti
- saling mencintai kan begitu. Bagus mana
- dengan kita acu tak acu dengan kita
- empati dan simpati tentu berbeda. Nah,
- di situlah fitrah. Yang kedua, panggilan
- syariat tadi ayatnya itu ternyata
- perintah dari Al-Qur'an jelas loh supaya
- kita berjamaah bersatu itu. Yang ketiga,
- hadis Nabi begitu banyak. Alaikum bil
- jamaah waakum wal furqan. Dan ayatnya,
- hadisnya masyaallah. Kemudian apalagi?
- Innallah yardakumanakum.
- Allah rida tiga perkara dan benci tiga
- perkara. Rida tiga perkara. Salah
- satunya kalau kalian berpegang teguh
- dalam melaksanakan Islam ini, jamian
- secara berjamaah diridai oleh Allah
- Subhanahu wa taala. Luar biasa nih. Nah,
- apakah ada potensi lain untuk kita
- berjamaah dan kita bersatu? Nah, ini
- kira-kira ada enggak tadi potensi
- fitrah? Ada
- potensi syariatnya jelas bentuknya
- perintah dari Allah. Bahkan lima
- keuntungannya kalau kita berjamaah.
- Kemudian potensi dari hadis keteladanan
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- begitu jelas ya kan. Tuh, itu yang
- ketiga. Yang keempat ya kan potensi
- dalam sejarah umat Islam itu bersatu itu
- tidak hanya setahun 2 tahun iad-abad
- walaupun dengan gaya kepemimpinan yang
- berbeda-beda.
- Nah, kan Rasul sudah mengabarkan coba.
- Masyaallah. Dan fakta sejarah bisa kita
- baca. Rasul 23 tahun dalam kehidupan
- berjamaah. Kemudian 30 tahun
- kekhilafahan sahabat-sahabat beliau.
- Kemudian dalam sejarah kita baca Bani
- Umayyah 92 tahun. Kemudian Bani
- Abbasiyah tuh kan berapa? 5 abad lebih.
- Kemudian Utsmaniyah berapa? Hampir 6
- sampai 7 abad. Loh ini kan berabad-abad
- umat Islam itu sudah menunjukkan jati
- dirinya mampu mendunia dan bersatu.
- Masyaallah. Ini itu potensi sejarah.
- Nah, sekarang kita bedah potensi yang
- lain. Nah, apa itu? pertama adalah
- kesatuan akidah. Nah, kita umat Islam
- ini punya simbol kesatuan dalam hal
- akidah. Apa? Syahadat. Ya kan? He.
- Asyhadu alla ilahaillallah wa asyhadu
- anna muhammadar rasulullah.
- Satu.
- Siapapun yang bersyahadat maka dia saat
- itu menjadi muslim.
- Tidak lagi memandang Anda dari negeri
- mana, bahasa apa, latar belakangnya apa,
- siapa yang mengucapkan syahadat. Ya kan?
- ashadu alla ilahaillallah maka dia
- menjadi muslim
- dan ini luar biasa
- artinya kalau orang sudah bersyahadat
- berarti dia sudah menyerahkan dirinya
- untuk beribadah hanya kepada Allah. Nah,
- syahadat itu kemudian mengantarkan semua
- orang yang bersyahadat untuk menyembah
- Tuhan yang satu Allah kan. Jadi
- syahadatnya sendiri sudah simbol
- pemersatu.
- Kemudian konsekuensi menjadi muslim dia
- beribadah kepada Tuhan yang satu.
- Ibadahnya sendiri sudah menyatukan dia.
- Masyaallah. Maka setiap syariat yang
- kita laksanakan dalam Islam apalagi yang
- wajib itu nampak jelas simbol-simbol
- itu menunjukkan simbol kesatuan. Ahah.
- Tadi kan syahadat. Coba apa contohnya
- yang fardu salat.
- Coba ketika umat Islam dipanggil untuk
- salat, ada simbol kesatuan dalam salat.
- Apa? Pertama, kiblatnya yang mereka
- jadikan untuk menghadap Allah itu satu.
- Masyaallah. Itu simbol itu dampak dari
- syahadat yang
- masyaallah itu simbol akidah ya. Belum
- lagi nanti kita baca doanya. Coba baca
- doa attahiyat sebagai penutup salat.
- Luar biasa. Attahiyatul lillah. Kita
- mengagungkan Allah wasatu wasalawatu
- wat thayibah kepada Allah. Terus
- wasalamu alaika ayyuhan nabi. Bagaimana
- kita berselawat kepada nabi baru
- kemudian kita selawat kepada wala
- ibadillahi shihin kepada saudara-saudara
- kita. Luar biasa ini. Masyaallah. Jadi
- salat itu dari kiblatnya saja sudah apa?
- Sudah menyatakan simbol kesatuan.
- Isi doa dari salat di attahiyat saja itu
- menunjukkan simbol kecintaan dan
- kebersamaan. Masyaallah.
- Masyaallah.
- Itu baru salat. Jadi ibadah-ibadah fardu
- yang mesti dilaksanakan oleh umat Islam
- sebagai konsekuensi dia bersyahadat itu
- menunjukkan simbol kesatuan.
- puasa ketika nanti ini 1 bulan lagi
- insyaallah
- kita semua Allah berikan kesempatan
- untuk bisa menikmati Ramadan tahun ini.
- Amin.
- Amin. Nah, ketika kita memasuki bulan su
- Ramadan itu apa? Memberikan simbol
- kesatuan ya kan? Begitu masuk bulan suci
- Ramadan, Ramadan menjadi pemersatu kita.
- Allah.
- Kita mulai untuk berpuasa dan nanti juga
- memulai untuk mengakhiri puasa itu
- simbol kesatuan.
- Masyaallah. Seluruh dunia mengerti.
- dunia. Masyaallah. Ini kan tidak terasa.
- Ini ini menjadi fakta yang kelima. Itu
- simbol kesatuan. Coba kalau kita ibadah
- haji itu menimbuhkan tempat yang satu.
- Di mana kita berhaji, di mana kita
- tawaf, di mana kita umrah, di mana kita
- wukuf. Seluruh dunia hadir di sana.
- Tidak hanya kesatuan dari sisi waktu,
- tapi juga kesatuan dari sisi tem tempat.
- Subhanallah. itu ibadah fardu.
- Nah, real lagi dari sisi empati dan
- simpati. Ketika ibadah wajib itu muncul
- berupa zakat, itu menunjukkan bahwa kita
- itu punya perasaan yang satu, punya
- empati yang satu, punya apa? Punya hati
- yang jiwa yang satu. Sehingga masyaallah
- kalau Allah menyatakan
- seperti satu barisan yang rapat padat.
- Masyaallah. Kalau Rasul menyebutkan kal
- jasad seperti tubuh yang sehat yang
- hidup yang saling connect satu dengan
- yang lain. Masyaallah. Atau lagi
- kalbunan seperti satu bangunan.
- Bangunan.
- Nah, itu simbol persatuan dari sisi aki
- akidah. Nah, ini ini baru yang kelima
- a-nya itu
- jadi akidah apalagi kesatuan ibadah.
- Nah, jadi kan satuan akidah, kesatuan
- iba ibadah. Allah jelaskan, masyaallah
- dengan kita umat Islam ee menjadi apa?
- mendapatkan hidayah dari Allah, maka
- kita sesuai dengan tujuan Allah
- menciptakan manusia yaitu untuk iba
- ibadah kepadanya. Nah, ibadah itu ya
- difardukan kepada kaum muslimin untuk
- dilaksanakan.
- Banyak aspek ibadah dalam Islam yang
- semakin memperkuat dan memperkukuh apa
- tadi? Kesatuan umat serta merapatkan
- jaringannya. Seperti satu kiblat tadi
- sudah jelaskan. Masyaallah. kan ini satu
- kesatuan iba
- kesatuan ibadah itu menjadi juga bukti
- bagi kita. Kemudian kesatuan apa nih?
- Adil adab. Masyaallah.
- Adab itu kan kaitannya dengan akhlak
- lah. Ini sudah menunjukkan. Coba tanya
- ini Mas apa nih? Coba
- Ondi.
- Hm.
- Ondi.
- E Mas Ondi tanya coba. Coba bagaimana
- adab mau makan loh dengan kita menjadi
- muslim di mana pun sama adabnya ya kan?
- Enggak ada tanya kenapa. Kenapa kok bisa
- begitu? Karena setelah kita menjadi
- muslim, teladan kita, uswah kita satu.
- Tentu satu.
- Heeh. Maka dengan keteladanan yang satu
- itulah menjadikan kita satu. Masyaallah.
- Itu dari sisi adab.
- Masyaallah. Makanya ada kesatuan adab
- dan perilaku. Perilaku itu sikap ya.
- Jadi mau bertanya kepada umat Islam di
- mana pun berada, tanya bagaimana adab
- masuk rumah keluar rumah. Pasti doanya
- sama. Nah begitu. Masuk rumah, keluar
- rumah, doanya sama. Begitu. Tahajud
- pasti malam hari, kecuali qada ya kan.
- Qada tahajud siang waktunya rakaatnya
- mau mazhab apapun sama
- kajiannya. Subhanallah luar biasa. Jadi
- dari sisi potensi bahwa kita umat Islam
- itu ya tadi karena uswahnya satu
- menjadikan akhlak adab kita satu.
- Masyaallah. Nah, ini kan potensi. Belum
- lagi sikap. Sikap itu lebih kepada apa?
- sikap itu lebih kepada ee kepada ee ruh
- ya. Coba bagaimana kalau kita menghadapi
- ujian? Sikap orang muslim bagaimana?
- Sabar. Loh di mana pun bertanya begitu.
- Coba ada orang yang meninggal kemudian
- disunahkan untuk takziah. Pasti dalam
- takziah itu mengajarkan siapapun di
- manapun muslim. Apa perintahnya?
- Perintahnya memberi nasihat sabar.
- Karena apa? Karena sikapnya sama loh
- dari teladan yang satu.
- Ketika mendapatkan nikmat enggak ada
- sebegitu mendapatkan nikmat jarang itu
- muncul sabar ya karena nikmatnya banyak.
- [tertawa] Paling yang ada adalah syukur
- kepada Allah.
- Syukur.
- Nah, ini kan menjadi sikap. Jadi
- persatuan dalam adab dan juga persatuan
- dalam perilaku atau sikap. Masyaallah.
- Jadi jelas sekali di situ. Nah, ini
- potensi yang ketiga ee dari bagian yang
- kelima. Yang ketiga, pertama persatuan
- ee akidah, yang kedua, persatuan ibadah.
- Yang ketiga, kesatuan ini apa? Adab.
- Keutetahuan adab dan si sikap perilaku.
- Masyaallah. Belum lagi kalau kita baca
- kesatuan sejarah. Nah, ini kan sangat
- jelas kalau kesatuan sejarah. Sejarah
- muslim adalah seat umat Islam. Maka
- ketika kita baca umat Islam itu kan ini
- yang sering saya sampaikan kita ini
- seperti satu gerbong ya kan. satu
- gerbong yang panjang. Mungkin di sana
- ada paling ujung ya, gerbong pertama
- adalah rombongan Nabi Nuh, rombongan
- Nabi Adam, rombongan Nabi Nuh. Terus
- gerbong berikutnya rombongan Nabi
- Ibrahim, Nabi Luth dan seterusnya.
- Begitu. Ee kemudian gerbong berikutnya
- adalah e tadi rombongan Nabi Isa,
- berikutnya Nabi adalah Nabi Muhammad,
- gerbong sahabat. lah kita masih satu
- gerbong ini dengan para nabi. Matahari
- yang dinikmatinya masih matahari yang
- sama di dunia ini. Kemudian udara yang
- pernah dihirup oleh mereka mana udara
- yang sama? Jadi kita hanya gerbongnya
- saja beda. Nah mereka duluan insyaallah
- mereka sudah masuk ke dalam surga
- ditempatkan. Nah kita tinggal di
- belakangnya pasti masuk surga asal kita
- istikamah
- dalam ket.
- Nah kan begitu. Masyaallah ini kesatuan
- sejarah ya. Masyaallah ini sudah
- menunjukkan. Maka dalam Al-Qur'an
- disebutkan qul amanna billahi w unzila
- ilaina w unzila ila Ibrahim wa Ismail wa
- Ishaq wa Yaakuba wal asbat wya Musa wa
- Isa wbiun
- la nufarqu baina ahadim. Nah, kami tidak
- membeda-bedakan antara para nabi dan
- para rasul karena satu gerbong apa yang
- perlu diberd? Nah, ini namanya kesatuan
- sejarah.
- Jadi kita ini adalah orang yang di
- belakang setelah orang-orang yang saleh
- mendahului kita, para nabi mendahului
- kita, gitu. Para syuhada mendahului kita
- keti gerbongnya sama ya. Kalau satu
- rangkaian gerbong sampainya sama enggak
- sama. Insyaallah
- gitu. Gerbangnya sama, tujuannya sama.
- Nah, ini masalah potensi untuk kita ya
- renungkan kembali tentang betapa fitrah
- kesatuan itu amat sangat mudah dan bisa
- diwujudkan. Asal orientasinya adalah
- dalam bingkai kita beribadah dan
- pengabdian kepada Allah Subhanahu wa
- taala. Masyaallah. Jadi ya, jadi tidak
- bisa dipisahkan loh. Ini nih sejarah
- umat Islam Indonesia enggak ada
- kaitannya dengan sejarah ya kan. Kondisi
- umat Islam Indonesia tidak ada kaitannya
- dengan sejarah masa lalu ya tidak ada.
- Justru karena Islam itu turunnya melalui
- para rasul. Nah, dari merekalah kemudian
- kita menjadi muslim. Jadi enggak bisa
- terputus.
- Nah, kira-kira kesatuan sejarah ini kan
- memang enggak bisa diputus. Maka kalau
- kita kaji lebih dalam, kenapa kok bangsa
- Islam, bangsa orang-orang yang beriman
- disebut umat? Karena ternyata umat itu
- punya makna dan nilai tersendiri. Dia
- adalah komunitas masyarakat yang tidak
- muncul secara tiba-tiba tapi memiliki
- sejarah, tujuan dan falsafah hidup yang
- sama. Itu baru umat.
- Umat. Nah,
- ya. Walaupun ada penggunaan kalimat umat
- untuk hewan, untuk makhluk yang lain,
- tapi para ulama sudah sepakat bahwa
- sebutan umat itu hanya untuk siapa?
- Mereka. Suatu umat yang ada hubungannya
- dengan generasi sebelumnya. Filsafahnya
- juga ada, tujuan hidupnya ada. Jadi, ada
- nilai-nilai yang selalu turun-temurun.
- Nah, inilah rangkaian sejarah yang kita
- umat Islam bisa mengambil kesimpulan.
- Kita memiliki kesatuan se sejarah. Jadi
- enggak pernah terputus Nabi Muhammad ada
- kesatuan sejarahnya dengan sebelumnya
- Nabi Ibrahim. Ya kan? Masyaallah luar
- biasa. Mildata Ibrahim. Jadi ada
- kesatuan sejarah. Nah itu kira-kira yang
- ke berapa? Yang keempat itu 5A A B C D
- dari yang kelima potensi untuk bersatu.
- Belum lagi kesatuan bahasa.
- Masyaallah. Kesatuan bahasa dalam apa?
- Oo. Kesatuan bahasa dalam apa? Kesatuan
- bahasa dalam akidah.
- Makanya syahadatnya sama. Mau orang
- India syahadatnya asadu alla ilallah.
- Kan kesatuan kesatuan bahasa dalam
- akidah
- ya kan. Kesatuan ibadah ya. Kesatuan
- bahasa dalam ibadah. Apa contohnya?
- Salat kita menggunakan bahasa Arab.
- Sehingga wajar kalau Imam Syafi'i
- menyebutkan wajib belajar bahasa Arab
- itu karena kepahaman orang terhadap
- bahasa Arab akan memudahkan dia memahami
- tentang syari syariat
- dan Allah pilih ag apa bahasa yang
- sangat indah dan sempurna itu dengan
- bahasa Arab. Subhanallah. Nah, ini
- menunjukkan kesatu. Oh, ternyata kenapa
- harus bahasa Arab? Itu menjadi simbol
- kesatuan bahasa dari ibadah. dari hal
- akidah bahasanya sama, dalam hal masalah
- ibadah juga sama, bahkan dalam masalah
- akhlak pun sama bahasanya.
- Ada selamat bagi Anda kan tidak ada.
- Asalamualaikum.
- Assalamualaikum itu kan akhlak. Nah,
- jadi kesatuan bahasa ini menyimbulkan
- kesatuan dalam ibadah. Iya. Dalam syari
- dalam apa? Dalam akidah juga iya. Dalam
- akhlak juga begitu. Asalamualaikum.
- Waalaikumsalam. Ya kan
- begitu diberi bukan terima kasih bahasa
- indahnya jazakallah khair kan bahasa
- bahasa akhlak itu masyaallah jazakallah
- khair khairul jaja masyaallah luar biasa
- itu kan bahasa akhlak
- begitu ngelihat orang bersin
- alhamdulillah baca dijawab oleh oleh
- yang lain karena mendengar orang bersin
- dengan bahasa Arab juga bukan wahim
- segala puji bagi Allah kan enggak juga
- alhamdulillah ya yang tetangganya
- dengerin yarhamukallah kemudian dib
- balas lagi yahdikumullah ini kan bahasa
- akhlak. Nah, luar biasa ya. Subhanallah.
- Itu potensi-potensi untuk kita bersatu
- secara bahasa. Belum lagi kalau kita
- kaji masyaallah dalam ee sekarang
- kesatuan jalan.
- Nah, umat Islam itu memiliki kesatuan
- jalan. Nah, jalan apa yang menjadikan
- kita bersatu? Kan bertanya kita pada
- diri kita, apa benar kita punya satu
- jalan? Jalan apa? Jalan siratal
- mustaqim. Ihdinasirathal mustaqim.
- Sama kita semua sebagai muslim, kita
- pengin dalam hidup ini di jalan yang
- lurus. Jalan yang lurus itu jalannya
- siapa? Jalan yang ditempuh oleh siapa?
- Sirathalladzina an'amta alaihim. Ya kan?
- Iya.
- Jalan yang telah Kau berikan, jalan yang
- pernah ditempuh oleh orang-orang yang
- Kau beri nikmat, Ya Allah. Nah, itu yang
- kita minta, Ya Allah. Semua umat Islam
- meminta dalam hidupnya itu jalan yang
- lurus. Karena jalan itu jalan yang
- pernah ditempuh oleh orang-orang yang
- Allah beri nikmat.
- Orang-orang yang Allah beri nikmat ini
- dalam surat Annisa disebut maalladina
- anamallahu minan nabiyin. Siapa mereka?
- Para nabi, para syuhada, para shihin. Ya
- kan? Subhanallah. Ulaik maadina
- anamallahu minan nabiyin wasiddiqin
- wasuhada wasihin wunaq.
- Ternyata ihdinatal mustaqim. Jalan lurus
- yang kita minta, yang diminta oleh semua
- Islam adalah jalan yang pernah ditempuh
- oleh seluruh para para nabi.
- Nah, inilah simbol kesatuan. Bagaimana
- kita ingin mendapatkan petunjuk siratal
- mustaqim tapi dengan cara tidak
- mengikuti orang-orang yang Allah beri
- nikmat. Nah, coba ini kan jadi
- pertanyaan bagi kita. Kita ingin
- bersatu, tapi cara bersatunya tidak
- seperti yang Rasulullah praktikkan,
- Rasulullah contohkan.
- Kita ingin bersatu, kita ingin menjadi
- orang yang ada dalam siratal mustaqim
- supaya menjadi syuhada wasiddiqin
- wasyuhada wasaliihin. Tapi kita tidak
- menempuh jalan untuk itu. Nah, ini kan
- jadi pertanyaan bagi kita. Subhanallah.
- Jadi kalau kita baca ya simbol-simbol
- kesatuan untuk muslimin bersatu kapanpun
- di manapun itu seperti terang
- benderangnya hari seperti terang
- benderangnya atau seperti apa cahaya di
- siang hari yang begitu terang enggak ada
- lagi yang tertutup, enggak ada lagi yang
- tersumbat. Karena jelas kesatuan jalan
- kita doakan dalam sehari itu 17 kali.
- Ihdinasiratal mustaqim. Menunjukkan
- jalan satu yang kita minta.
- Jadi ketika kita salat, umat Islam salat
- semua meminta kepada Allah jalan yang
- satu yaitu siratal mustaqim.
- Nah, kemudian di situ pun ada
- penjelasannya mana siratal mustaqim itu
- sirat jalan yang kau yang pernah
- ditempuh oleh orang-orang yang kau beri
- nikmat ya Allah. Siapa mereka? Nah. Nah,
- ada keterangannya baru ulaika maadina
- anamallahu minan nabiin wasiddiqin
- wasuhada wasihin wun ulaik. Jangan
- kemudian anamta alaihim, tapi yang kita
- tempuh kiril magdubi alaihim wadin.
- Allahu akbar. Nauzubillah minzalik. Kita
- berdoa ihdinasiratal mustaqimatadzina
- anamta alaihim. Cari tapi cara berpikir
- kita rujukan dustur hidup kita kan
- begitu kan. Masyaallah. Bayangan kita,
- hasrat kita, nafsu kita bukan kepada
- anamta alaihim, tapi ghairil magdubi
- alaihim wadin. Nauzubillah minalik.
- Masyaallah. Itu namanya kesatuan.
- Kesatuan jalan. Jelas. Nah, baru yang
- ketujuh, kesatuan dustur, pedoman dan
- perundang-undangan. Nah, ini juga mesti
- kita garis bawahi. Ya Allah. Jadi jelas
- kalau dustur kita apa? Al-Qur'an,
- undang-undang kita apa? Al-Qur'an begitu
- kan kira-kira. Kenapa kok kemudian umat
- Islam menyadari bahwa justnya Al-Qur'an?
- Karena di balik itu umat Islam itu
- menyadari tidak ada yang layak
- memberikan hukum halal haram kecuali itu
- adalah hak progratif Allah Subhanahu wa
- taala. Nah, begitu ya kan? Jadi Allah
- memberikan aturan-aturan hukum haram,
- haram, haram gitu. Itu karena Allah yang
- maha tahu dari berbagai macam sudut
- aspeknya.
- Allah mengharamkan khamar karena Allah
- maha tahu tentang apa bahayanya dari
- berbagai macam aspek.
- Sehingga kalau ini diserahkan hukumnya
- kepada manusia mungkin hanya bisa
- melihat satu aspek saja. [berdehem] Ada
- yang melihat apa aspek e hukum minuman
- keras bagus untuk orang-orang yang hidup
- di musim dingin. Tapi dia tidak melihat
- aspek bahayanya untuk akal, aspek
- bahayanya untuk fisik, aspek bahayanya
- untuk mental. Betapa banyak orang bisa
- melakukan hal-hal yang dilarang oleh
- Allah hanya berawal dari minuman keras.
- Nah, begitu. Sehingga kalau hukum ini
- diserahkan kepada manusia tergantung
- kepentingannya.
- Kalau dia punya pabrik ya katakan ayo ya
- kan sebagai penguasa punya pabrik khamer
- enggak mungkin dia haramkan maka dia
- akan terus halal. Nah kan gitu kan.
- Nanti sisi lain karena musim di musim
- dingin orang supaya hangat minum. Wah,
- jadi kepentingannya beda-beda tapi
- bahayanya sama. Baik untuk pemiliknya,
- baik untuk pelakunya, baik untuk
- pemesannya. Ujung-ujungnya satu itu
- merusak bagi konsumennya. Merusak akal,
- merusak fisik, merusak apa. Semua
- dirusak dalam kehidantanan
- masyarakatnya. Maka Allah tetapkan
- hukumnya itu karena Allah maha tahu
- tentang kelemahan manusia. Nah, begitu.
- Jadi kira-kira tadi kesatuan dustur itu
- aturan karena memang Allah hal-hal yang
- sifatnya teknis silakan buat jalan, buat
- pesawat, buat kendaraan, buat teknik
- mendedaki, buat teknik itu hal-hal yang
- sifatnya teknik yang manusia bisa
- mengembangkan dengan potensi dengan apa?
- Dengan instrumen akal, pikiran,
- pendengaran, penglihatan yang Allah
- berikan.
- Tapi untuk-untuk hal yang manusia tidak
- bisa menjangkau, Allah tetapkan
- hukumnya. Ya kan? potong tangan Allah
- tetapkan hukumnya supaya tadi tidak
- hanya secara humanis Allah lebih tahu
- tentang kebunuhan kebutuhan manusia
- terkait dengan humanis Allah maha kasih
- sayang arrahman arrahim sifat yang
- paling banyak dalam Al-Qur'an arrahman
- arrahim tapi kalau kemudian ditetapkan
- potong tangan bagi orang yang mencuri.
- Nah kira-kira apa gitu? Oh Allah maha
- tahu. Jadi dengan itu ada apa? Ada ada
- jera dengan itu orang jadi takut orang
- dan macam-macam dan seterusnya dan
- seterusnya. Nah, ini kadang-kadang ya
- tadi kita tidak atau kurang menyadari
- tentang betapa hebatnya Allah,
- sempurnanya Allah dalam menurunkan
- hukum. Makanya satu dustur, kesatuan
- dustur. Kenapa sih kita ee menerapkan
- syariat Allah yang memang sudah
- ditetapkan oleh Allah? Loh, itu untuk
- kemaslahatan hidup manusia. Dilihat dari
- aspek apa? Aspek pengetahuan Allah yang
- tahu tentang kebutuhan manusia. Bukan
- karena aspek manusia yang hanya melihat
- dari dua tiga sisi saja. tapi lemah dari
- sisi yang yang lain. Masyaallah, itu
- pentingnya.
- Nah, yang terakhir itu memang kesatuan
- kepemimpinan ituang sangat penting. Nah,
- ini menunjukkan apa ya tadi semuanya itu
- sebenarnya umat Islam itu sudah klop
- klop fitrahnya ingin bersatu dengan apa?
- Dengan syariat yang menganjurkan supaya
- bersatu dan dibuktikan dengan sejarah.
- Apalagi perangkat syariat yang Allah
- turunkan dengan tadi. Apakah itu
- ibadahnya, apakah itu tauhidnya, apakah
- itu sejarahnya, apa itu. Itu menunjukkan
- memang arahnya untuk kebersamaan dan
- kesatuan. Tapi kemudian kalau masih ada
- ganjalan pada diri kita, di mana yang
- salah? Itulah yang mesti kita gali, kita
- bedah, kita koreksi diri kita. Jangan
- kita mau mengoreksi orang lain, tapi
- diri kita tidak mau dikoreksi. Ya,
- jangan kita berharap kebaikan dilakukan
- oleh orang lain, sementara kita sendiri
- tidak melakukan kebaikan itu. Allah
- sudah menegaskan walbulas
- bil birri. Apakah kamu mengarahkan,
- menyuruh orang untuk berbuat baik, paka
- kamu sendiri melupakan dirimu.
- Masyaallah.
- Nah, inilah jadi semangat itu perlu kita
- bangun untuk kebersamaan, untuk
- berjamaah.
- Tidak hanya di kalangan awam, kalangan
- para cendikiawan. Allah maha tahu siapa
- yang sudah memahami ini tapi tidak mau
- melakukannya. Allah juga maha tahu orang
- yang belum memahami tapi punya keinginan
- untuk bersatu. Semuanya Allah maha tahu.
- Masing-masing nanti tanggung jawabnya di
- hadapan Allah Subhanahu wa taala. Nah,
- jadi adanya tausiah itu ya memang
- basyiro wair. Kalau yang indah-indah itu
- sifatnya untuk memberi kabar gembira dan
- motivasi. Kalau nadirah memang ayatnya
- begitu. ada yang sifatnya untuk
- pencegahan preventif sehingga
- disampaikan untuk supaya kita
- berhati-hati. Mudah-mudahan bedahan kita
- tentang tema hari ini melanjutkan pekan
- yang lalu ya menumbuh suburkan kembali
- semangat kesatuan untuk kita muslim
- bersatu. Kenapa? Liill liillahi
- kalimatillah. Untuk tegaknya
- kalimatullah yang ulia yang tinggi
- sebagai wujud bahwa kita ingin
- menjadilah penolong-penolong Allah. Kita
- ingin menjadi Hizbullah. Siapa itu
- Hisbullah? Orang-orang yang berpihak
- kepada
- agama
- agama Allah. Wallahuam bisawab.
- E baik e ikhwan akhwat yang dirahmati
- oleh Allah Subhanahu wa taala, para
- pendengar Radio Silaturahim dan pemirsa
- Rasil TV yang saat ini sedang
- menyaksikan dan menyimak Radio
- Silaturahim untuk Islam yang satu.
- Alhamdulillah telah kita simak
- bersama-sama nasihat dari guru kita
- Ustaz Amin Roni di siang hari ini dalam
- pembahasan eh Hizbullah di tengah-tengah
- surutnya
- pasang
- pasang surutnya kepemimpinan. Dan kami
- juga masih mengundang bagi ikhwan akhwat
- yang ingin menyampaikan pertanyaannya,
- komentar dan juga sarannya melalui Line
- interaktif kami di WhatsApp di
- 08111999720
- dan telepon kami di 0218451512.
- Kami akan segera kembali tetap di roda
- silaturahim dan Rasil TV
- [musik]
- [musik]
- berasil
- [musik]
- [musik]
- Radio Silaturahim dan Rasil TV untuk
- Islam yang satu. Terima kasih Anda masih
- setia menyimak kajian kita di siang hari
- ini bersama guru kita Ustaz Amin Nurani
- dengan tema yang dibahas adalah
- Hizbullah di tengah-tengah pasang
- surutnya kepemimpinan. Dan alhamdulillah
- ikhwan akhwat kita sudah memasuki di
- sesi yang kedua dan kami akan membacakan
- pertanyaan-pertanyaan yang sudah masuk
- di siang hari ini. Pak Ustaz ini
- pertanyaan pertama datang dari hamba
- Allah Pak Ustaz
- ya.
- Ee asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Eh, Pak Ustaz mohon
- pembahasannya dan penjelasannya, Ustaz.
- Eh, kenapa Ustaz selalu mengambil tema
- Hizbullah sebagai bahasan? Syukron,
- Ustaz.
- Alhamdulillah. Ini pertanyaan yang
- sangat bagus dan inspiratif.
- Jadi, karena memang itu disebut dalam
- Al-Qur'an
- penyebutannya bahkan tidak hanya
- penyebutan tunggal, tapi ada
- pembandingnya. H. Dalam surat Al-Maidah
- Allah menyebutkan ulaika hisbullah
- ala inna hisballah humul golbun.
- Hizbullah pasti menang. Yang kedua dalam
- surat almujadilah ayat yang ke-22
- fainna hisballah humul muflihun.
- Disebutkan di sana dan pembandingnya
- dalam surat almujadilah hisbusw
- alaihumitan.
- Nah di situ kan ulaika hisbus. H.
- Jadi kalau di dalam Al-Qur'an disebutkan
- nih, disebutkan pertama ada Hizbullah,
- yang kedua ada Hizbus setan. Ya, kita
- akan membahas yang mana kira-kira yang
- supaya kita pengin untuk menjadi pasti
- kita ingin menghitukan Hizbullah.
- Jangan kemudian
- hanya karena ada gerakan kelompok muslim
- yang mengatasnamakan kelompoknya
- Hizbullah, kemudian lebih kepada hal-hal
- yang tidak sesuai dengan syariat.
- Kemudian kita menafikan dan merasa bahwa
- kita itu enggak perlu membahas
- Hizbullah. Justru kita bedah ini.
- Padahal Hizbullah itu hal yang strategis
- dalam Al-Qur'an. Kenapa hal yang
- strategis? Karena Hizbullah itu
- disebutkan oleh para ulama jamaatun fiha
- hilat. Jemaah kelompok muslim yang punya
- kekuatan. Nah, dan tidak itu saja.
- Kelompok yang disebut dengan Hizbullah
- ini adalah kelompok yang dicintai oleh
- Allah Subhanahu wa taala. Nah, kenapa?
- Nah, itulah yang mesti kita wujudkan.
- Nah, Allah mencintai. Bahkan sebelum
- sebelum Nabi kita Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam menyaksikan tentang
- kemurtadan, ayat ini turun di antara
- siapa? Mayartad minkumini fasaufa
- yatillahu biqu yuhibbuhum yuhibbuna.
- Jadi kaum yang Allah persiapkan untuk
- mengganti orang-orang yang memang tidak
- bersyukur terhadap syariat itu adalah
- kaum yang dicintai oleh Allah. Mereka
- pun mencintai Allah. Kaum yang mereka
- saling mencintai sesama muslim dan
- bersikap tegas terhadap kekafiran.
- Kaum yang keempat sifatnya orang-orang
- atau orang-orang yang memiliki ruhul
- jihad untuk membela agama Allah. Yang
- kelima, sifat mereka diterangkan adalah
- kaum yang hidupnya rapi, tertib,
- disiplin dalam satu jemaah. Coba
- disebutkan begitu. Nah, kelompok inilah
- orang-orang yang dicintai oleh Allah,
- yang dijuluki oleh Allah sebagai hiz
- hizbullah. Nah, begitu. Masyaallah.
- Mungkin kalau kita bedah tadi dengan
- perspektif Almaidah 55, 54, 56 dan
- Al-Mujadilah. Kita sebagai muslim pasti
- ingin menjadi Hizbullah. Yang dalam
- tafsir Depak disebutkan Hizbullah itu
- adalah orang-orang yang berpihak kepada
- Allah. Nah, karena kita bicaranya
- tentang
- pentas kemasyarakatan jemaah, maka tidak
- ada lain kelompok ini adalah disebut
- oleh Rasul eh oleh Allah dengan tadi
- sebutan Hizbullah.
- Nah, kalaupun kemudian ada hal yang
- negatif, itulah kewajiban kita untuk
- membedah secara dalam siapa Hizbullah,
- dinamika Hizbullah, dan kemudian
- keuntungan untuk menjadi Hiz Hizbullah
- dengan literasi yang benar. Karena itu
- disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur'an.
- Wallahuam. Eh, baik. E, semoga terjawab
- ya kepada hamba Allah yang telah
- menyampaikan pertanyaannya. Pak Ustaz,
- kita beralih ke pertanyaan selanjutnya.
- ini datangnya dari Bapak Syafi'i di
- Depok, Pak Ustaz. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Pak Ustaz, apakah yang golongan ini
- termasuk Hizbullah, Pak Ustaz? Ketika
- saat ini banyak sekali orang-orang yang
- berlomba-lomba dalam mendapatkan
- kepemimpinan dengan cara berjuang di
- kanca politik, Pak Ustaz. Dan saat dan
- kalau menurut saya ini sangat penting
- karena apabila kita sudah menguasai
- suatu kepemimpinan, maka kita juga bisa
- membuat kebijakan-kebijakan yang
- menguntungkan umat Islam. Pak Ustaz,
- kita ambil contoh saja seperti di Turki.
- Mohon nasihatnya dan bisa dijelaskan Pak
- Ustaz kepemimpinan seperti apa yang
- dianjurkan dalam Islam. Syukur.
- Iya. Masyaallah. Pertanyaan yang sangat
- tajam dan sangat analisis itu. He
- kenapa saya lihat? Ayo kita justru
- perdalam.
- Memang hadis dari Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam tentang kepemimpinan itu
- ditampilkan di sana corak kepemimpinan
- yang berbeda-beda.
- Yaah. Ah, tinggal umat Islam ini nanti
- akan memilih kepemimpinan yang mana gitu
- ya. Ada kepemimpinan ala nubuwah. Tentu
- ini enggak bisa karena memang itu
- langsung ditetapkan oleh Allah.
- Dipilih siapa yang menjadi nabi dan
- rasul. Tapi untuk periode yang kedua
- kepemimpinan khulafaur rasyidin empat
- sahabat. Tentu kita juga berpikir lebih
- dalam bagaimana konsep kepemimpinan
- khulafaur rasyidin. Ya kan pasti ini
- kenapa disebut di sana alam minhaji
- nubuwah konsep kepemimpinannya beda nama
- tapi isinya sama atau perangkatnya beda
- gitu kan tapi isinya sama kan bisa kita
- analisa.
- Masyaallah. Yang ketiga adalah konsep
- kepemimpinan. Muawiyah bin Abu Sufyan ya
- kan masih sama-sama sahabat Nabi
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam ya
- kan. Tapi bisa kita baca faktanya ya
- kan? Bisa kita baca faktanya bagaimana
- seumpama dalam mengatasi masalah saja
- nih ada masalah bagaimana kepemimpinan
- khulafaur rasyidin memecahkan masalah.
- Kemudian bagaimana tadi sistem kerajaan
- memecahkan masalah. Kan faktanya bisa
- dibaca.
- Ya. Ketika mengelola baitul mal,
- bagaimana Khulafaur Rasyidin mengelola
- baitul Mal? Apakah semaunya? Tapi atas
- dasar amanah atau bagaimana? Tapi
- bagaimana penguasaan Bani Umayyah untuk
- mengelola Maliah? Coba. Luar biasa.
- Masyaallah.
- Bagaimana kemudian? Ya kan? Bagaimana
- kemudian kalau timbul masalah? Apakah
- berjalan musyawarah, kesepakatan antar
- umat Islam dalam bingkai ibadah di masa
- khulafaur rasyidin? Berjalankah? Tidak.
- Kemudian bagaimana konsep musyawarah itu
- di masa Bani Umayyah? Lah kita bisa
- baca, Ustaz ya. Itu itu baru dari.
- Kemudian yang ketiga, yang keempat
- bagaimana kemaslahatan umat? Apakah
- lebih makmur, lebih nyaman, lebih indah
- di masa khulafaur rasyidin atau lebih
- makmur atau lebih makmur di masa tadi?
- Siapa? Bani Umayyah.
- Bani Umayyah.
- Apakah kemudian kalau berpikir apakah
- lebih demokratis di masa siapa? di masa
- khulafaur rasyidin dengan orang bisa
- mengkritik, orang bisa ketemu para
- khalifah, orang bisa memberi saran,
- orang bisa memberi masupan, ataukah bisa
- juga demokrasi itu diterapkan pada masa
- Bani Umayyah? Kan tinggal melihat
- faktanya. Tapi yang jelas hadis itu
- mengabarkan ini loh pola kepemimpinan
- yang Rasulullah terangkan dari satu ke
- satu. Masyaallah.
- Masyaallah.
- Nah, itu jadi fakta yang dipelajari.
- Kalau nanti baru ini ayatnya jelas tadi
- perintahnya watasimu berjamaah. Sekarang
- kita lihat bagaimana apakah itu salah
- kalau memang dalam pandangan umat Islam
- berjuang melalui politik itu benar ya.
- Tapi kemudian coba kaji lebih dalam
- fakta-fakta yang menjadi keinginan.
- Apakah setiap orang melangkah dalam
- politik untuk membela Islam pada
- akhirnya memang betul membela Islam?
- Negara mana yang bisa menjadi contoh
- gitu? Kemudian bagaimana dan seterusnya
- dan seterusnya itu kan bisa fakta-fakta.
- Tapi yang jelas
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- tadi memang bukan perintah itu ke
- berita. Ini loh sistem kepemimpinan para
- nabi. Ini loh sistem kepimpinan
- khulafaur rasyidin. Ini loh sistem
- kepimpinan Mulkan Adon. Ini loh sistem
- kepimpinan Mulkan Jabar. Itu berita.
- Nah, subhanallah. Di sinilah perlu
- berpikir tajam. Kita sebagai umat Islam
- analisa yang tajam. Nah, begitu
- kira-kira ya kan? Kalau kalau semuanya
- sudah terdapat, oh berarti kalau gitu
- kita milih kekuasaan seperti Mulkan
- sajalah kerajaan yang kenapa nih bagus
- begini ya. Itu kan fakta-faktanya bisa
- dibaca. Atau saya ingin memilih
- demokrasi itu yang indah betul seperti
- di masa Abu Bakar. Enggak ada bedanya
- Abu Bakar dengan sahabat yang lain
- walaupun dia khalifah di tengah umat. Ya
- kan tinggal pilih mana. Nah subhanallah.
- Nah orientasinya tertub beda gaya beda
- orientasi. Maka saya yakin Rasul
- menyatakan apa? Ee khilafah ala Minhajin
- nubuwah itu bukan kata kata yang
- sederhana, bukan kata yang sembarangan,
- tapi kata-kata yang menjadi pilihan
- untuk kita analisa lebih da lebih dalam,
- berpikir kritis dan analisis. Karena
- khabar dari Rasulullah ni loh, sistem
- gaya kepemimpinan. Ustaz, bisa saja kok
- orang berjuang lewat politik kemudian
- melahirkan amal saleh. Amal saleh
- semuanya bernilai di sisi Allah
- Subhanahu wa taala dan tidak bisa
- membeda-bedakan. Dan tidak bisa
- membeda-bedakan. Dan Allah pun
- menyebutkan bahwa Allah akan berikan
- izah, kekuasaan, kekuatan kepada umat
- Islam. Syaratnya juga cuman dua. Surat
- Annur ayat 5 kita akan bedah yang masa
- yang akan datang. Pertama iman. Yang
- kedua, amal saleh. Tapi amal saleh yang
- seperti apa? Kriteria amal saleh seperti
- apa? itu mungkin untuk menjadi syarat
- kita sedang ditunggu oleh Allah untuk
- syarat beriman dan beramal karena Allah
- akan segera berikan izah dan kemuliaan.
- Tapi kalau kita tidak meningkatkan
- keimanan dalam bentuk amal salehnya maka
- mungkin janji Allah itu akan tertunda
- dan akan diberikan kepada yang lain.
- Nauzubillah min dalzalik. Wallahuam.
- Ee baik. Semoga terjawab kepada Bapak
- Syafi'i di Depok. Ke pertanyaan
- selanjutnya, Pak Ustaz. Ini datangnya
- dari Bunda Emilda di Bekasi, Pak Ustaz.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Semoga Ustaz Amin Roni dan keluarga
- beserta kuhur Rasul semuanya selalu
- dalam lindungan dan rahmat Allah
- Subhanahu wa taala. Amin.
- Amin ya rabbal alamin.
- Ee Pak Ustaz, di masa sekarang ini
- sepertinya kita umat muslim sangat
- banyak menang dalam segi kuantitas tapi
- kalah di sisi kualitas. Pak Ustaz, dalam
- persatuan kita malah banyak yang
- bercerai-berai mencari kesalahan
- saudaranya sendiri dari segi ekonomika,
- finansial, dan juga ee itu semuanya kita
- kalah. Pak Ustaz,
- mohon nasihat dan pencerahannya agar
- kita sesama umat muslim ini benar-benar
- saling melindungi, saling menasihati,
- bersatu dalam mencari rida Allah. Dan
- perjalanan kita melihat perjalanan dari
- salat berjamaah, kita semuanya bareng,
- berpuasa pun kita bareng dan kita
- bermajelis taklim bareng, Pak Ustaz.
- mohon nasihatnya sehingga ini kita bisa
- aplikasikan dalam kehidupan kita
- sehari-hari. Syukron, Pak Ustaz.
- Jazakallah khair.
- Alhamdulillah. Jadi, [berdehem] ini
- pertanyaan yang mestinya juga tambahan
- materi nih ya. Ya Allah, luar biasa.
- Jadi tinggal lingkupnya.
- Kalau muslim dia mati khususnul khatimah
- itu menang. Nah, kalau di medan perang
- muslim itu mengalahkan musuhnya itu
- menang.
- Kalau di medan perang seorang muslim
- mati syahid itu juga
- menang. Nah, kan gitu. Jadi menang dan
- seterusnya dan seterusnya.
- Nah, tinggal mau. Nah, kelihatannya ini
- pertanyaannya bagaimana supaya muslim
- itu menang di dunia? Tentu terhadap
- siapa? Terhadap orang nonmus muslim.
- Loh, coba nih Allah terangkan. Nah,
- nanti bisa kita bedah dalam surah Al
- dalam surat ee Saf ayat yang 10 11 12
- 13.
- Nah, kita akan bedah kapan-kapan. Tapi
- ini kasih dulu aja jawabannya.
- Karena apa? Allah berikan di sana itu
- kemenangan demi kemenangan. Bahasanya
- itu kesuksesan demi kesuksesan.
- Kesuksesan.
- Apa? Pertama, tunjikum min adzabin alim.
- Jadi kalau kita sebagai manusia nanti
- kembali kepada Allah, selamat dari api
- neraka itu namanya sukses. Nah, itu
- satu. Yang kedua disebutkan yudkilum
- yagfir lakum dunubakum. Kalau nanti
- Allah ampuni dosanya itu sukses sebagai
- seorang muslim. Masyaallah luar biasa
- ya. Jadi macam-macam nih sukses nih.
- Jadi selamat dari api neraka itu menang
- nih. Kalau mau tanya menang gitu ya.
- Yang kedua, kalau diampuni dosanya oleh
- Allah itu menang tuh.
- Makanya kita kalau salat tu selalu
- doanya banyak istigfar. Subhanallah.
- Subhanakallahumma wabihamdika
- subhanakallahumma wabihamdika
- astagfiruka wubu ilaik. Kemudian doa
- sujud ruku itu subhana rabbiyalim.
- Subhan subhana rabbiyalim. Subhabbika
- allahumfirli. Subhana subhanakallahumana
- w
- wabihamdika allahumfir. Kan selalu doa
- untuk diampuni.
- Ternyata pengampunan dosa diampuni oleh
- Allah nanti ketika menghadap itu
- kemenangan kesuksesan. Yang ketiga,
- yudilum jannatinajti
- anhar. Kalau nanti di sana kita
- dimasukkan ke dalam surga, itu juga
- kemenangan, kesuksesan.
- Masyaallah.
- Nah, kalau sudah masuk surga masih
- dimuliakan dengan vila-fila wakin
- thayibah itu juga kesuksesan.
- Nah, masyaallah. Tapi jangan lupa ayat
- berikutnya nih. Kalau tadi kan itu
- urutannya akhirat semua.
- H
- selamat dari api neraka, diampuni
- dosanya. Kemudian apa tadi? dimasukkan
- surga. Yang ketiga diberi vila yang
- indah. Wa nah yang lainnya Allah akan
- berikan di dunia wauk tuhibbunaha yang
- lainnya kalian sebelum mati pasti
- menginginkan mencintai. Apa itu? Nasrum
- minallah. Pertolongan Allah di dunia.
- Nah ini nih yang lain nih. Wafathum
- qorib dan kemenangan yang segera.
- Masyaallah. Jadi ini tadi pertanyaannya
- kayaknya dalam hal kemenangan dan
- kesuksesan di dunia nih Allah sebutkan
- yang lain dari yang surga tadi Allah
- akan segera berikan nasrun pertolongan.
- Yang kedua fathun kemenangan.
- Kemenangan
- syaratnya apa? Hal adullukum ala
- tijarah. Nah di situlah kalimat awalnya.
- Maukah aku tunjukkan kepada kalian
- bisnis? Bisnis yang luar biasa. Tijarah.
- Nah kita akan bedah insyaallah pada masa
- yang akan
- datang. Subhanallah. Jadi kalau tadi
- semangat ibu dalam bertanya ingin
- mewujudkan kemenangan muslim di dunia
- ini nih Allah tunjukkan ayat tuh minimal
- ee bocorannya buka surat Saf 10 11 12.
- Masyaallah.
- E semoga terjawab kepada Bunda Emilda di
- Bekasi. Ke pertanyaan selanjutnya, Pak
- Ustaz. Ini datangnya dari Ibu Mame di
- Jati Waringin, Pak Ustaz. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam. warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Eh, Pak Ustaz, hal-hal yang mendasar apa
- sajakah yang membuat umat Islam atau
- tiga kesatuan, yakni akidah, syariah,
- dan akhlak Rasul tidak teraplikasikan
- baik secara maksim secara vertikal atau
- hablum minallah ataupun secara
- horizontal yakni hablum minannas. Pak
- Ustaz mohon tanggapannya. Syukran
- jazakullah khair.
- Masyaallah luar biasa. Nah, jadi memang
- kenapa sih ya kan kenapa sih kok Rasul
- itu mesti diutus oleh Allah kan karena
- Islam ini kan sumbernya dari
- kepemimpinan Rasul.
- Allah menurunkan wahyunya kepada rasul.
- Prototipe pelaksanaan Islam adalah
- Rasul. Nah, jadi kita kan tadi hal-hal
- yang mendasar apa yang bisa gitu kan
- yang bisa menunjukkan tadi syariat,
- akidah, akhlak itu terwujud.
- Nah,
- ternyata ya kenapa mesti ada rasul?
- Kenapa tidak cukup wahyu saja?
- Nah, ternyata masyaallah kalau kita
- kejar nanti ada di situ ee urgensi
- kepemimpinan,
- urgensi apalagi ketaatan dalam
- kepemimpinan, urgensi keberadaan
- Rasulullah, urgensi nah dan seterusnya
- dan seterusnya itu nanti jawabannya di
- sana.
- Masyaallah. Karena ternyata kaya raya
- tapi begitu mau membantu Palestina kan
- besar juga. miliarder dia, triliuner
- dia. Tapi kalau sendiri walaupun duitnya
- banyak kan berat juga.
- Nah, maka berjamaah kan begitu ya. Ya,
- mau ternyata sudah bantu di Palestina eh
- di Yaman muncul
- Rohingya juga belum.
- Rohingya yang lebih dekat dengan kita.
- Masyaallah. Kemudian apakah sekitar kita
- umat Islam juga sudah sukses semua?
- Sudah makmur semua juga tidak.
- Masyaallah kan begitu. Nah, kalau
- dihadapi perorangan ya mencret berat
- kita enggak mampu. Maka di situlah salah
- satu kepentingan umat itu bersatu
- bersama.
- Yang ringan menjadi lebih ringan, yang
- berat menjadi ringan. Nah, begitu
- kebersamaan itu dalam sisi sosial.
- Nah, termasuk itu menjadi saleh sendiri
- juga susah
- ya kan. Saleh sendiri kan ada pengaruh
- kita saleh tapi punya gadget. gadgetnya
- tuh isinya hoak semua dengan berita
- tidak terpengaruh. Nah, makanya ada
- kesalehan pribadi, ada kesalehan sosial.
- Nah, kenapa dalam Islam itu ada syariat
- yang sifatnya personal, ada yang
- sifatnya jamai?
- Karena memang Islam itu untuk menjadi
- rahmat bagi seluruh a alam. Subhanallah.
- Ya, kita akan mudah pada waktu yang akan
- datang insyaallah. Nah, jadi minimal
- kalau kita berjamaah kita salah, ada
- yang meluruskan. ya kan? Oke. Kemudian
- kita lagi butuh ada yang membantu. Kita
- lagi rapuh jiwanya karena musibah ada
- yang menguatkan. Tawasu bilhaq. Tawa
- tawib berarti tetap indahnya
- kebersamaan. Itu kayak tema di mana? TV1
- ya. [tertawa] Nah, kalau di rasil radio
- silaturahim insyaallah tadi Islam untuk
- untuk Islam yang satu.
- Untuk Islam yang satu. Jadi kita
- berkeinginan bercita-cita kemaslahatan
- ini untuk Islam yang satu. Wallahuam.
- Baik, semoga terjawab. Ikhwan akhwat
- yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa
- taala. Sayang sekali kita sudah dibatasi
- waktu di siang hari ini, Pak Ustaz. Jadi
- bisa disimpulkan, Ustaz ee materi kita
- di siang hari ini. Tfadal, Ustaz.
- I alhamdulillah
- para pendengar Rasil di mana pun berada
- dan pemirsa Rasil Visual yang dimuliakan
- oleh Allah. Ee penutup sebagai
- kesimpulan
- ternyata betapa besar potensi untuk umat
- Islam bersatu. Minimal tadi lima.
- potensi syariat, potensi fitrah, potensi
- sejarah, kemudian dari potensi syari
- syariah. Masyaallah itu menunjukkan
- bahwa memang umat Islam itu wajar kalau
- mendambahkan kesatuan dalam hidup ini.
- Kemudian bagaimana kita mewujudkannya
- itu yang mesti kita gali lebih dalam.
- Bagaimana bisa terwujud kesatuan
- motivasi apa yang mesti dibangun untuk
- bisa bersatu umat Islam ini? Itulah yang
- mesti kita kaji dengan landasan
- Al-Qur'an dan sunah. Harapannya
- semuanya menjadi wacana dan kita tidak
- apa gamang dan bingung. Kemudian wacana
- itu menjadi cita-cita dan cita-cita itu
- mudah mudah-mudahan Allah wujudkan
- dengan Allah berikan petunjuk yang
- clear, yang jelas pada diri kita
- sehingga umat Islam mampu meraih izah
- kemuliaannya karena pertolongan Allah
- subhanahu wa taala. Jadilah Hizbullah
- karena Hizbullah itu orang-orang yang
- dicintai Allah dan mereka pun
- mencintainya. Kemudian jadilah Hizbullah
- karena Hizbullah itu loyalitasnya jelas
- untuk membela Allah, agamanya dan kaum
- muslimin.
- Jadilah Hizbullah. Karena Hizbullah itu
- memiliki semangat berjuang untuk
- menegakkan kalimah Allah. Jadilah
- Hizbullah karena Hizbullah itu adalah
- masyarakat yang tertib, disiplin, dan
- teratur. Mudah-mudahan kita bisa
- mewujudkan ini dalam kehidupan kita.
- Wallahuam bab.
- Eh, baik ikhwan akhwat yang dirahmati
- oleh Allah subhanahu wa taala, para
- pendengar radio silaturahim dan pemirsa
- Rasil TV yang di manap pun antum dan
- antuna berada di siang hari ini telah
- kita simak bersama-sama nasihat dari
- guru kita Ustaz Amin Nuroni di siang
- hari ini dalam pembahasan Hizbullah di
- tengah-tengah pasang surutnya
- kepemimpinan. Dan semoga nasihat dari
- guru kita dapat kita ambil pelajaran dan
- hikmahnya sehingga bisa kita aplikasikan
- dalam kehidupan kita sehari-hari dan
- terutama bisa meningkatkan kualitas iman
- dan takwa kita di sisi Allah subhanahu
- wa taala. Dan sekali lagi kami juga
- mengucapkan jazakallah khair atas
- ilmunya di siang hari ini, Pak Ustaz.
- Dan kami doakan semoga ustaz dan
- keluarga selalu dalam lindungan dan
- rahmat Allah Subhanahu wa taala. Amin ya
- Allah.
- Dan terima kasih juga buat Ikhwan Akhwat
- atas partisipasinya di siang hari ini,
- atas pertanyaannya.
- Dan mohon maaf sekali, banyak sekali
- pertanyaan yang belum bisa kami bacakan
- karena kaki kita di siang hari ini
- keterbatasan dengan waktu. Dan akhir
- kata bersama saya Muhammad Hafiz
- Alfloresi beserta rekanwat kerja yang
- bertugas di siang hari ini ada Bang
- Neja, Bang Ondi di kameramen dan Bang
- Muhammad Anis Mualimja operator. Mohon
- undur diri dari ruang dengar Anda.
- Subhanakallahumma wabihamdika ashadu
- alla ilaha illa anta astagfiruka wa
- atubu ilaik ilalqo. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.