Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Allahuma sholi ala Sayyidina Muhammad wa
- ala alihi Sayyidina Muhammad.
- Alhamdulillah kita berjumpa lagi hari
- ini di pagi yang cerah dalam acara
- renungan di bawah naungan Alquran
- bersama Ustaz Husin Anatas dan Ustaz
- Ustaz Hamzah Anatas. Di sini ada Kang
- Atep pada switcher dan juga Ismi ya.
- Dinda. Oh, Dinda. Dinda.
- Dinda yang sedang PKL kita nih.
- Alhamdulillah.
- Kita sedang berada di studio 2 di gedung
- Rasil Jalan Masjid Silaturahim 36
- Kalimanggis Cibubur
- eh Bekasi.
- Pada hari Kamis tanggal 30 Juni 2022 itu
- sudah masuk 1 Dzulhijjah. Nah, kita akan
- membahas masalah hikmah haji akan
- dibahas oleh Ustaz Husin dan Ustaz
- Hamzah. Assalamualaikum Ustaz Husin,
- Ustaz Hamzah. Waalaikumsalam
- warahmatullahi
- mulai acara ini dengan membaca Al
- Fatihah.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin.
- Arrahmanirrahim.
- Maliki yaumiddin.
- Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in.
- Ihdinash shiratol mustaqim.
- Shirotol ladzina an'amta
- Amin, amin. Amin. Kita sudah baca
- Al-Fatihah, mudah-mudahan Allah mudahkan
- kita dalam memahami apa-apa yang
- dijelaskan oleh guru-guru kita. Ya, kita
- tahu pada tanggal 30 Juni, hari Kamis,
- 2022, itu masuk 1 Dzulhijjah. Sekarang
- kita akan mengangkat tema hikmah haji.
- Kepada Ustaz Husein kami persilakan.
- Audzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin.
- Was-sholatu was-salam
- ala Sayyidina
- wa Nabiyyina Muhammadin
- wa alihi thoyyibin
- wa shohabatihil ghurril mayamin.
- Wat-tabi'ina lahum bi ihsanin ila
- yaumiddin.
- Subhanaka la ilmalana illa ma allamtana
- innaka antal alimul hakim.
- Wala haula wala quwwata illabillahil
- aliyil adzim.
- Allahumma atina min indika rohmah
- wa allimna min ladunka ilman nafi'a
- wanfa'na bima allamtana.
- Rabbana zidna ilman wa alhiqna
- bis-sholihin.
- Allahumma akhlis niyatina
- wa saddid
- alsinatana
- wa ati nufusana hudaha wa taqwaha wa
- alhimha rusydaha.
- Wa nas aluka ya rabbana
- al-afwa wal-afiyah wal-ghina muafatan
- daima fiddin wadunya wal akhirat.
- Amma ba'du ikhwan akhwat.
- Pendengar pemirsa yang dirahmati Allah.
- Kaum muslimin dan muslimat.
- Seluruh keluarga besar radio
- silaturahim.
- Ustad Hamzah bin Attas Al Attas yang
- menemani kita pada dialog pagi kali ini.
- Begitu pula Ustad Muhammad Krisna bin
- Muhammad Ishaq.
- Atif.
- Demikian pula ikhwan yang.
- Sedang membantu kita di studio.
- Dinda bersama seluruh akhwat yang
- sedang melaksanakan pelatihan.
- Kepada seluruh saudara-saudari kita yang
- berasal dari ayah ibu yang sama
- salamullahi alaikum warahmatullah
- wabarakatuh.
- Pada hari ini merupakan hari Kamis.
- Yang merupakan.
- Awal dari bulan suci Dzulhijjah.
- Berdasarkan.
- Mereka-mereka.
- Yang berpendapat dari hasil hisab maupun
- yang.
- Berpegang kepada hasil ru'yah.
- Yang disaksikan.
- Di Saudi Arabia.
- Bahwasanya.
- Mereka-mereka yang berpegang pada hisab
- bulan telah lahir setinggi 2 derajat ini
- merupakan.
- Hal yang merupakan.
- Cukup kuat untuk menjadi bukti lahirnya
- bulan baru didukung dengan kesaksian
- ru'yah juga yang berlangsung di Saudi
- Arabia.
- Sedangkan pemerintah Indonesia
- condong untuk menetapkan
- awal Zulhijah pada esok hari.
- Maka sebagai konsekuensinya terjadi
- perbedaan
- pada hari raya Idul Adha.
- Yang
- meyakini bahwasanya hari ini merupakan
- awal Zulhijah, maka Idul Adha akan jatuh
- pada hari Sabtu.
- Sedangkan pemerintah Indonesia
- yang condong untuk menetapkan awal
- Zulhijah pada esok hari, maka hari Ahad
- merupakan hari raya Idul Adha.
- Di saat pemerintah menetapkan hari raya
- Idul Adha jatuh pada hari Ahad, berarti
- terdapat jeda.
- Jeda bukan satu hari, tapi dua hari.
- Dari hari wukuf, hari wukuf tanggal 9
- jatuh pada hari
- Jumat.
- Sedangkan
- di Indonesia
- menetapkan hari Idul Adha pada hari
- Ahad, berarti terdapat jeda. Bukan hanya
- satu hari, tapi dua
- Padahal seharusnya hari raya kurban itu
- langsung setelah hari wukuf di Arafah.
- Nah, kita berharap mudah-mudahan
- umat Islam
- dari sini bisa memiliki betul-betul
- kelapangan dada
- untuk dapat bersatu,
- membiasakan dalam kebersamaan. Karena
- kita tahu bahwasanya
- wukuf di Arafat hanya berlangsung di
- tanah suci.
- Oleh karena itu, alangkah baiknya
- apabila kita bersama-sama
- berhari raya. Apalagi tidak kayak ada
- kaitannya dengan kita memulai puasa atau
- mengakhiri puasa kita yang berkaitan
- dengan hal
- yang sifatnya wajib dan bisa menimbulkan
- keraguan.
- Apalagi jemaah haji Indonesia dalam
- jumlah yang besar berhaji ke tanah suci.
- Mereka juga berhari raya pada hari raya
- Idul Adha di hari Sabtu
- sesuai dengan Arafah mereka pada hari
- sebelumnya. Alangkah indahnya kalau kita
- bisa bersama-sama untuk
- eee
- memperingati hari raya Idul Adha setelah
- hari wukuf di Arafah.
- Kalau seandainya ada perbedaan pendapat,
- mengapa kita tidak mengalah untuk
- kebersamaan persatuan? Karena Islam
- satu, enggak ada yang namanya Islam
- Saudi atau Islam Nusantara.
- Kita harapkan mudah-mudahan para
- tokoh kita termasuk ulama-ulama kita
- bisa betul-betul memiliki kelapangan
- dada untuk bisa menggiring umat, membawa
- mereka ke dalam persatuan
- yang bersama-sama dalam keridhoan Allah
- dan di jalannya.
- Nah, saya ucapkan selamat dalam
- menyambut
- hadirnya bulan suci Dzulhijjah.
- Mudah-mudahan sebagaimana kedatangan
- bulan suci ini Allah sucikan jiwa kita,
- Allah sucikan juga amal dan perilaku
- kita agar sejalan dengan keridhoan Allah
- dan tuntunan Nabi kita Muhammad
- Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam
- bukan hanya sekedar menganggap aku
- sebagai seorang Sunni tapi betul-betul
- mengamalkan sunnah Nabi kita agar mereka
- menyaksikan keindahan dari sunnah Nabi.
- Begitu juga yang mengaku sebagai
- pengikut keluarga Nabinya
- mereka betul-betul mencontoh bagaimana
- perilaku keluarga Nabi yang berusaha
- untuk betul-betul menyesuaikan diri
- mereka dengan akhlak Nabi kita Muhammad
- Shallallahu Alaihi Wasallam menjaga
- lisan mereka, menjaga perilaku mereka
- hingga kita dapat menyaksikan
- betul-betul
- janji Allah
- menjelma dalam kehidupan kita.
- Kuntum khairu ummatin ukhrijat linnas
- ta'muruna bil ma'ruf wa tan hauna anil
- munkari wa tu'minuna billah.
- Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah.
- Kalau kita
- berbicara mengenai hikmah haji
- yang penuh dengan pelajaran-pelajaran
- yang membina dan mendidik kita semua.
- Ayat-ayat Alquran yang Allah subhanahu
- wa taala turunkan dalam surat Al Hajj
- dimulai dengan mengingatkan kita akan
- hari hari di mana kehidupan dunia yang
- tadinya tenang, damai, sentosa
- indah dan permai mengalami kehancuran
- dan keruntuhan.
- Sebagai peringatan buat kita
- bahwa kehidupan dunia ini kehidupan yang
- sifatnya fana atau menuju kefanaan.
- Allah tidak ciptakan kehidupan dunia
- untuk kekekalan.
- Oleh karena itu seharusnya kita bukan
- hanya beramal untuk kehidupan dunia kita
- yang singkat tapi lebih banyak beramal
- untuk kehidupan akhirat kita.
- Bukan berarti kita diperintahkan
- meninggalkan dunia dan usaha, tidak.
- Kita berusaha sebagaimana orang lain
- berusaha
- tapi niat, tujuan dari usaha kita bukan
- sebatas kehidupan dunia ini tapi niat
- tujuan kita dari pekerjaan yang kita
- kerjakan, dari perdagangan yang kita
- lakukan dari jabatan yang kita
- dari kedudukan yang kita duduki, dari
- harta yang kita miliki, dari kemuliaan
- yang Allah berikan kita dalam kehidupan
- dunia ini, kita gunakan untuk bekal hari
- akhirat kita.
- Ini yang membedakan antara seorang
- mukmin
- dan seorang yang tidak beriman.
- Perbedaan bukan terletak pada
- penampilan, jidat yang hitam,
- jenggot yang lebat, ya.
- Atau jubah yang dikenakan seperti saya,
- tapi perbedaan antara orang yang beriman
- dan tidak beriman, yang beriman kepada
- Allah dan hari akhirat, dia beramal
- untuk Allah sebagai tujuan.
- Dia beramal untuk bekal hari akhiratnya,
- sedangkan dunia hanya merupakan lintasan
- yang akan dilalui, bukan sebagai tujuan.
- Sebagaimana firman Allah,
- Wabtaghi
- fima ataka Allahu darol akhirah.
- Tuntutlah, pergunakanlah
- apa saja yang Allah berikan kepada kamu
- untuk kehidupan akhirat.
- Walatansa nasibaka minadunya, tapi
- jangan lupakan, abaikan kebutuhan
- duniamu. Pakaian yang layak, makanan
- yang layak, rumah yang layak, ya. Tapi
- jangan sampai semua ini memalingkan dan
- menyibukkan kamu dari tujuan yang utama.
- Kemudian wahsin kama ahsanallahu ilaik,
- berbuat baiklah engkau dengan apa yang
- Allah berikan kepadamu,
- sebagaimana Allah telah berbuat baik
- terhadap dirimu.
- Walatabghil fasada fil ard, dan kamu
- jangan melakukan kerusakan di muka bumi.
- Innallaha la yuhibbul mufsidin, sungguh
- Allah tidak menyukai orang-orang yang
- melakukan kerusakan.
- Oleh karena itu,
- Allah subhanahu wa taala selalu
- mengingatkan kita akan hari akhirat.
- Bahwa hidup di dunia ini
- hanya sesaat.
- Kesenangan yang kamu rasakan di dunia
- hanya kesenangan yang penuh dengan
- kepalsuan laksana orang yang mengejar
- bayang-bayang fatamorgana wama
- hayatuddunya illa matau
- dan untuk meluruskan hidup kita untuk
- menjaga diri kita agar tetap dalam
- kebenaran
- hendaklah kamu selalu melihat Allah
- dalam gerak-gerik dan perbuatanmu
- baik itu ucapan sepak terjang hendaklah
- kamu selalu melihat Allah menjadikan
- Allah sebagai tujuan kamu
- ini yang selalu ditekankan Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala
- dalam ayat-ayat kitabnya
- terutama sekali dalam surat Al Hajj
- yang mengingatkan
- umat yang beriman untuk datang
- berkunjung ke rumah Allah bukan berarti
- Allah berdiam di Mekah atau di Ka'bah
- tapi sebagai ibadah simbolik
- Allah ingin menjamu hamba-hambanya
- dengan rahmat dan ampunan yang datang ke
- sana memenuhi undangan Allah Allah akan
- jamu dengan rahmat dan ampunannya sama
- dengan berkunjung ke hadapan Allah
- yang bertawaf mengelilingi rumah
- tersebut sama dengan bertawaf
- mengelilingi Allah
- begitu pula dalam salat kita
- diperintahkan untuk menghadapkan wajah
- kita ke sana
- dari berbagai penjuru dunia dari
- berbagai macam mata angin semua
- menghadap ke arah yang sama
- ini merupakan pendidikan yang amat indah
- untuk mengajak kita umat manusia apapun
- latar belakang suku bangsa golongan
- warna kulit untuk menghadapkan wajah
- kita ke hadapan Allah Subhanahu Wa
- Ta'ala
- nah kalau kita membaca awal dari surat
- Al Hajj Allah berfirman
- Bismillahirrahmanirrahim
- ya ayyuhannas
- wahai umat manusia
- Allah tidak hanya memanggil orang yang
- beriman
- Karena baik yang beriman, yang tidak
- beriman,
- semua kelak akan menghadapi
- kenyataan yang sama.
- Dan juga sedang menjalani ujian yang
- sama. Wahai manusia,
- ittaqū rabbakum, bertakwalah kalian.
- Jaga,
- perhatikan rabbakum.
- Rabb kalian yang telah menciptakan
- kalian, yang telah mengasuh kalian,
- merawat kalian, membesarkan kalian,
- melimpahkan nikmat karunianya atas
- kalian. Apakah tidak patut seorang hamba
- yang dirawat, diasuh, diciptakan oleh
- Allah untuk mengabdi kepada Tuhannya?
- Dan juga untuk menjaga betul-betul
- wanti-wanti, pesan-pesan dari Tuhan yang
- merawat dan menciptakan dirinya.
- Lalu Allah ingatkan akan satu kenyataan
- yang akan terjadi, inna zalzalatas
- sā'ati syai'un 'azīm.
- Sesungguhnya gempa
- yang akan terjadi di hari kiamat, di
- hari kehancuran merupakan sesuatu yang
- amat besar dan dahsyat.
- Yauma tarhalu kullu murdi'atin 'amma
- arda'at wa tada'u kullu zāti hamlin
- hamlah.
- Pada hari tersebut yang amat mengerikan
- dan menakutkan, gempa yang akan
- mengguncang bumi.
- Gempa yang akan
- meluluhlantakkan gunung, bahkan gunung
- terangkat dan diterbangkan.
- Karena bumi kehilangan gravitasinya,
- begitu pula planet-planet dan
- bintang-bintang berjatuhan, berserakan.
- Manusia terapung-apung,
- tak memiliki kendali.
- Seluruh yang tadinya menarik
- perhatiannya dari keindahan, kekayaan
- dunia, ternyata semua diabaikan.
- Dan Allah gambarkan saat tersebut ketika
- seorang ibu
- lengah
- tidak lagi peduli terhadap bayi yang
- disusui.
- Bagaimana kecintaan seorang ibu pada
- anaknya?
- Yang tadinya sibuk dengan cita-cita,
- pendidikan, dan lain sebagainya
- sebagai wanita karir, begitu dia
- memiliki anak, perhatian terbesar yang
- tertuju pada bayinya.
- Tapi hari tersebut
- membuat dia lengah, tidak lagi peduli
- terhadap bayi yang disusui.
- Wa ta ba ru kullu dzati hamlin hamlaha,
- setiap wanita yang mengandung pada hari
- tersebut kandungannya akan mengalami
- keguguran.
- Wa ta ran na sa sukara.
- Dan engkau akan menyaksikan manusia pada
- hari tersebut dalam keadaan mabuk.
- Wa ma hum bi sukara, dan sekali-kali
- mereka sebetulnya bukan dalam keadaan
- mabuk karena minuman atau makanan yang
- memabukkan. Wa la kinna adza ballahi
- syadid, tapi yang membuat mereka mabuk
- adalah adzab Allah subhanahu wa ta'ala
- yang amat pedih.
- Ini kenyataan yang akan dihadapi manusia
- pada saat berakhirnya kehidupan dunia.
- Lalu Allah subhanahu wa ta'ala mengajak
- kita
- untuk memperhatikan perilaku sebagian
- manusia.
- Yang mengingkari kebenaran, kemudian
- berdebat secara kusir tanpa dasar ilmu.
- Lupa akan kebesaran, keagungan Tuhannya.
- Lupa bahwa semua yang dimiliki adalah
- pemberian dari Tuhannya.
- Wa minan nasi may yujadilu fillahi bi
- ghairi ilmin wa yattabi'u
- kullasyaitonimmarid.
- Dan sebagian manusia ternyata bukan
- sedikit, sebagian besar manusia.
- Ada yang menentang Allah, mendebat Allah
- tanpa dasar ilmu.
- Tanpa dasar ilmu. Wayattabi'u kullu
- syaitonim marid. Dan dia mengikuti
- ajakan setiap ajakan yang diajukan oleh
- syaitan yang terkutuk dan terusir.
- Kutiba alaihi annahu man tawallahu fa
- annahu yudilluhu wayahdihi ila adzabis
- sa'ir.
- Telah Allah tetapkan, siapa-siapa
- yang mengikuti syaitan, yang menjadikan
- syaitan sebagai walinya, baik syaitan
- yang berasal dari kalangan jin maupun
- manusia, bukan mengikuti Allah,
- menghargai
- bimbingan petunjuk Allah yang berupaya
- untuk menyelamatkan dirinya.
- Allah telah tuliskan, tetapkan, siapa
- yang menjadikan syaitan sebagai walinya,
- maka syaitan akan menyesatkan dirinya
- dan membimbing, mengantarkan dirinya
- menuju adzab yang amat menakutkan, yaitu
- adzab as sa'ir.
- Lalu untuk membuktikan kepada kita,
- setelah kematian manusia ini akan ada
- kehidupan yang baru.
- Allah subhanahu wa ta'ala
- memberikan contoh yang amat indah.
- Ya ayyuhannas,
- wahai manusia,
- inkuntum fi raibim minal ba'si.
- Apabila kalian bimbang, ragu
- tentang hari kebangkitan, fainna
- kholaqnakum min turab.
- Sesungguhnya kami telah menciptakan
- kalian, awal dan asal mula kalian dari
- tanah.
- Summa min nutfah, kemudian dari sperma.
- Yang kemudian dalam rahim bertemu dan
- disatukan dengan ovum atau telur.
- Summa min alaqoh, setelah terjadi
- pembuahan, lahirlah yang namanya alaqoh.
- gumpalan yang begitu kecil dari hasil
- pembuahan yang melekat pada dinding
- rahim.
- Kemudian setelah itu berkembang,
- sel membelah dirinya mulai membentuk
- embrio dirinya.
- Berubah menjadi mudghah.
- Bukan lagi tetesan, tapi sebuah gumpalan
- yang lebih besar
- yang merupakan embrio manusia, mulai
- pada saat itu akan merajut
- tulang-tulangnya, ototnya, jaringan
- syarafnya, organ-organ tubuhnya.
- Perjalanan ini, ya,
- Allah tunjukkan pada kita.
- Allah tetapkan sebagai perjalanan takdir
- manusia dalam ciptaan Allah, tujuannya
- untuk memberikan penjelasan pendidikan
- bagi kalian.
- Karena kalau manusia diciptakan
- sekaligus kun fayakun tanpa melalui
- proses tersebut, manusia tidak akan
- belajar tentang kebesaran, keagungan
- Allah.
- Eee, ma nasya'u ila
- ibu-ibu kalian
- sesuai dengan waktu yang kami kehendaki.
- Ila ajalim musamma, sampai batas waktu
- yang ditetapkan. Summa nukhrijukum tifl,
- kemudian keluarkan kalian, pada saat
- keluar belum seperti kalian yang telah
- matang, dewasa, dan berilmu.
- Tapi sebagai bayi yang lemah, summa
- litablughu asyuddakum, kemudian kalian
- menempuh perjalanan hingga tiba pada
- usia dewasa dan matang.
- ilmin syai'an.
- Di antara kalian sebelum usia tersebut
- telah diwafatkan sebelumnya.
- Ada lagi yang dipanjangkan usianya
- hingga lanjut usia,
- hingga kembali kepada
- keadaan yang lemah seperti kalian
- pertama kali lahir ke dunia. Tua renta
- bahkan mulai pikun, mulai tidak
- mengenali orang-orang yang di
- sekelilingnya. Itu dinamakan ardzal
- al-umur, merupakan saat-saat usia yang
- begitu rendah di mana manusia dari
- sempurna menuju
- kelemahan dan kekurangan.
- Likaila ya'lama min ba'dihi ilmin
- syai'an, hingga dia tidak lagi
- mengetahui apa yang sebelumnya
- diketahui. Artinya dia lupa, pikun,
- tua renta.
- Wataral ardha hamidatan fa'idza anzalna
- alaihal ma'a tazzat
- ambatat min kulli syai'in, min kulli
- zaujin bahij.
- Kamu saksikan bagaimana tanah dalam
- keadaan
- eee tidak memiliki denyut kehidupan,
- kering kerontang.
- Tapi begitu kami turunkan hujan, kembali
- dia bergetar, kemudian tumbuh dan
- menumbuhkan berbagai macam pohon-pohon
- yang melahirkan buah-buah yang
- berpasang-pasangan.
- Pohon-pohon yang berpasang-pasangan.
- Ini merupakan gambaran yang Allah
- gambarkan kepada kita dengan tujuan
- untuk menjelaskan dzalika bi annallaha
- huwal haq.
- Semua ini menunjukkan bahwa Allah
- satu-satunya kebenaran.
- Di balik semua ini,
- satu-satunya kebenaran yang tidak
- meragukan adalah Allah. Wa annahu yuhyil
- mauta, dan Dia
- melalui bukti tersebut kuasa untuk
- menghidupkan yang telah mati sebagaimana
- tanah-tanah yang kering kerontang,
- Allah subhanahu wa ta'ala hidupkan
- sebagaimana manusia dari ketiadaan,
- Allah adakan dari keadaan yang lemah
- menuju kesempurnaan. Wa annahu ala kulli
- syai'in qadir, dan Dia Maha Kuasa atas
- segala sesuatu.
- Wa annas sa'ata atiyatun la raiba fiha,
- dan semua ini menunjukkan bahwa saat
- hari kebangkitan tak ada keraguan
- padanya sedikitpun. Wa annallaha
- yab'atsu man fil qubur, dan Allah kelak
- akan membangkitkan mereka-mereka yang
- terdapat dalam kubur.
- Nah, dari sini
- kita melihat bagaimana Allah
- memulai surah Al-Hajj
- dengan peringatan kepada kita mengenai
- hari kiamat, hari kebangkitan, dan
- bukti-bukti
- yang membuktikan kebenaran dari janji
- Allah subhanahu wa ta'ala.
- Lalu setelah itu pada ayat 18 dari
- suratul hajj, Allah menerangkan kepada
- kita
- bagaimana seluruh makhluk di alam raya
- ini sujud dan tunduk kepada Allah.
- Lalu apa yang menyebabkan kita menolak
- untuk sujud?
- Tunduk kepada Allah padahal yang lebih
- besar dari kita.
- Alam raya dan seluruh isinya
- dibandingkan dengan kita dan bumi kita
- yang tidak berarti
- semuanya sujud kepada Allah, lalu apa
- yang membuat kita menolak untuk sujud
- kepada Allah dan menyombongkan diri?
- Allah menerangkan alam tara annallaha
- yasjudu lahu man fis samawati wa man fil
- ard.
- Apakah engkau tidak melihat
- bahwasanya Allah sujud kepadanya semua
- yang terdapat di langit maupun di bumi.
- Wasy syamsu wal qamar,
- matahari dan bulan. Wan nujumu wal
- jibal, bintang-bintang dan
- gunung-gunung. Wasy syajaru wad dawwab,
- pohon-pohon demikian pula seluruh
- binatang yang melata. Wa katsirum minan
- nas, dan banyak dari manusia
- yang siap untuk tunduk sujud pada Allah
- dengan akal dan pilihan mereka.
- Wa katsirun haqqo alaihil adzab. Tapi
- banyak dari mereka yang layak untuk
- terkena adzab Allah.
- Wa man yuhinillah fa ma lahu min mukrim.
- Siapa yang diperhinakan Allah karena
- sombongnya,
- tak ada seorang pun yang kuasa untuk
- memuliakan dirinya. Innallaha yaf'alu ma
- yasya. Sungguh Allah akan melakukan apa
- yang dikehendaki. Yang taat, yang tunduk
- dimuliakan. Yang sombong,
- yang menolak untuk tunduk pada Allah,
- Allah akan perhinakan dirinya.
- Seharusnya dia merasa malu pada
- matahari, pada bintang,
- pada bulan, yang tunduk pada Allah,
- berjalan sesuai dengan aturan yang
- ditetapkan Allah subhanahu wa taala.
- Tidak pernah satupun dari makhluk Allah
- ini yang melanggar perintah Allah.
- Lalu kita manusia yang lemah, yang bodoh
- ternyata bersikap angkuh kepada Allah
- subhanahu wa taala.
- Nah, dari sini ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah,
- yang merupakan sebagian dari kandungan
- surat Al Hajj.
- Dan kalau kita telusuri semuanya untuk
- menjelaskan kebenaran Allah subhanahu wa
- taala, kebenaran juga janjinya untuk
- menghidupkan manusia setelah kematiannya
- dan menghisab mereka.
- Nah, kalau kita perhatikan Ustadz
- Muhammad Qisna,
- haji ya,
- yang Allah perintahkan kepada Ibrahim
- untuk diumumkan.
- Hingga berdatangan dari berbagai macam
- penjuru ya,
- yang pada saat itu menggunakan unta dan
- kuda-kuda. Mereka berangkat dalam
- keadaan gemuk, tapi karena perjalanan
- yang jauh membuat tubuh mereka menjadi
- kecil.
- Karena menempuh perjalanan yang jauh.
- Undangan dikumandangkan Ibrahim dari
- tempat yang kecil, terasing di dunia.
- Tapi subhanallah undangan tersebut
- menyebar ke seluruh penjuru dunia.
- Setelah undangan Ibrahim, maka orang
- yang datang setelah itu mereka juga
- melaksanakan apa yang Allah perintahkan
- untuk datang ber ke rumah Allah
- Subhanahu wa ta'ala.
- Di mana Allah berfirman walillahi
- alannasi hijjul baiti manistatoa
- ilaihi sabila.
- Sesungguhnya Allah memiliki hak atas
- setiap orang yang beriman untuk
- membuktikan ketulusan iman mereka dan
- kesungguhan mereka
- untuk datang memenuhi undangan Allah
- datang ke rumah-Nya.
- Yang mampu.
- Tapi yang menolak
- maka Allah Subhanahu wa ta'ala juga Maha
- Kaya.
- Allah Subhanahu wa ta'ala tak butuh pada
- hamba-Nya, tapi Allah justru yang ingin
- memuliakan mereka.
- Lalu kita perhatikan dalam manasik haji
- kita temukan ternyata seluruh manasik
- haji ini menggambarkan
- apa yang Ibrahim lakukan.
- Apa yang Ibrahim lakukan ya sebagai mana
- yang Ibrahim minta pada Allah
- wa arina manasikana wa tub alaina innaka
- antat tawwabur rahim.
- Doanya dimulai rabbana waj'alna
- muslimaini laka wa min dzurriyatina
- ummatan muslimatan lak wa arina
- manasikana wa tub alaina innaka antat
- tawwabur rahim.
- Wahai Tuhan kami jadikan kami ayah dan
- anak Ibrahim dan Ismail
- sebagai dua orang yang berserah diri
- kepada-Mu ya Allah.
- Kemudian minta kepada Allah untuk
- ditunjukkan manasik yang harus dilakukan
- dalam menjalankan ibadah haji berkunjung
- ke rumah Allah. Wa tub alaina terimalah
- tobat kami ya Allah. Innaka antat
- tawwabur rahim sungguh Engkau penerima
- tobat lagi paham ya ini.
- Jadi ibadah haji yang kita lakukan pada
- saat ini sebetulnya kita mengulangi apa
- yang dilakukan Ibrahim dalam perjalanan
- hidupnya. Mengapa Allah Subhanahu wa
- ta'ala memilih kehidupan Ibrahim sebagai
- contoh?
- Karena Ibrahim adalah contoh dari orang
- yang mempersembahkan seluruh jiwa
- raganya, hidupnya teruntuk Allah.
- Ketika Allah berkata padanya
- aslim, qala aslamtu li rabbil alamin.
- Aku pasrahkan jiwa ragaku teruntuk Allah
- Tuhan semesta alam.
- Oleh karena itu kata Islam sebetulnya
- dikenal ya
- dari mulai masa Ibrahim. Allah yang
- memberikan nama untuk para pengikutnya,
- justru Ibrahim juga memberikan nama bagi
- para pengikutnya.
- Demikian pula Yakub. Sebagaimana ketika
- Yakub bertanya
- kepada putra-putranya sebelum ajal am
- kuntum syuhada hadara Yakub al mautu
- qala li banihi ma ta'buduna min ba'di.
- Qalu na'budu ilahaka wa ilaha abaika
- Ibrahim wa Ismail wa Ishaqa
- ilahan wahida wa nahnu lahu muslimun.
- Apa kalian tidak ikut menyaksikan ketika
- Yakub berada dalam detik-detik sakaratul
- maut? Ketika dia mengumpulkan
- putra-putra dan keturunannya
- bertanya pada mereka, apa yang kalian
- sembah setelah aku kembali kepada Allah?
- Dijawab oleh anak-anaknya, kami akan
- menyembah Tuhanmu, Tuhan nenek moyangmu
- Ibrahim, Ismail, Ishaq. Hanya satu Tuhan
- yang kami sembah dan kepadanya kami
- berserah diri.
- Jadi Islam ini bukan merupakan nama yang
- asing.
- Nabi Allah Isa
- juga mengajak orang untuk berserah diri
- pada Allah. Begitu pula Yahya, Zakaria,
- begitu juga Sulaiman, Daud, begitu juga
- Harun dan Musa, begitu juga Yusuf dan
- Yakub, begitu pula kakek mereka Ishaq,
- Ismail dan Ibrahim alaihimus salatu
- wassalam.
- Jadi dulu ajaran Allah tidak diisbatkan
- kepada seseorang.
- Seperti Muhammadi
- atau katakan Masihi, atau katakan
- Yahudi, ini nama-nama sebetulnya tidak
- dikenal sebelumnya. Tapi yang
- dikumandangkan oleh para nabi mengajak
- seluruh umat manusia untuk tunduk
- berserah diri kepada Tuhan mereka.
- Ini merupakan seruan yang datang dari
- Allah langsung dan ini juga merupakan
- nama yang Allah ridai bagi kita semua.
- Nah, kalau kita datang dengan identitas
- ini ke hadapan Allah, insyaallah Allah
- akan sambut kita.
- Apabila kita
- membawa identitas dengan bukti
- kepasrahan dan berserah diri kepada
- Allah subhanahu wa taala.
- Oleh karena itu
- sebagai
- eee
- penutup dari surat Al Hajj, Allah
- subhanahu wa taala menyeru pada ayat
- 77-78
- Ya ayyuhalladzina amanurka'u wasjudu
- wa'budu rabbakum waf'alul khaira
- la'allakum tuflihun.
- Wahai orang-orang yang beriman
- rukuklah dan sujudlah kalian kepada
- Allah.
- Sembahlah Tuhan kalian dan berbuat
- kebaikanlah.
- Isi hidup kalian dengan kebaikan demi
- keberuntungan kalian.
- Allah subhanahu wa taala
- memerintahkan kita untuk rukuk dan
- sujud.
- Kita tahu bahwasanya rukuk dan sujud ini
- merupakan ibadah simbolik ya.
- Yang menunjukkan arti kepatuhan,
- ketundukan dan berserah diri kepada
- Allah. Kita percayakan seluruh hidup
- kita kepada Allah. Apa yang datang dari
- Allah kita terima dengan sami'na wa
- ato'na tanpa membantah sedikitpun.
- Bukan kita mengedepankan logika kita,
- rasio kita yang masih dipertanyakan
- kebenarannya. Tapi yang datang dari
- Allah itulah merupakan kebenaran yang
- tidak meragukan.
- Setelah itu Allah perintahkan kita untuk
- menjadikan Allah tujuan hidup kita
- wa'budu rabbakum.
- Kemudian Allah ingatkan kita waf'alul
- khair, kerjakan amal kebaikan demi
- keberuntungan kita.
- Kemudian Allah perintahkan kita dalam
- hidup ini untuk tidak berpangku tangan,
- tidak bermalas-malasan,
- tidak berleha-leha, tidak menyaksikan
- yang mungkar lalu kita berdiam,
- tidak menyaksikan yang ma'ruf tanpa kita
- memberikan dukungan. Tapi hendaknya
- hidup kita ini merupakan perjuangan,
- wajahi fillahi haqqo jihadi.
- Berjuanglah di jalan Allah, bukan untuk
- kedudukan, bukan untuk jabatan, bukan
- untuk harta, bukan untuk kepentingan
- duniawi.
- Tapi berjuanglah di jalan Allah haqqo
- jihadi dengan sebenar-benarnya jihad.
- Wajtabakum, Allah telah menjadikan
- kalian pilihannya, Dia memilih kalian
- dari sekian umat manusia.
- Wama ja'ala alaikum fiddini min haraj,
- Allah tidak jadikan bagi kalian agama
- ini terdapat kesempitan sedikit pun.
- Dia Allah tidak jadikan kesempitan dalam
- agama kalian, millata abikum Ibrahim
- sesuai dengan millah,
- sunnah dan jejak langkah ayah kalian
- Ibrahim.
- Huwa sammakumul muslimin, Dia memberikan
- nama kalian muslimin,
- min qoblu,
- sebelum nabi-nabi, ya,
- yang kita kenal seperti Yaqub, seperti
- ee Yusuf, demikian pula Musa, Harun
- sampai kepada Isa, sebelum semuanya
- Allah telah memberikan para pengikut
- Ibrahim nama muslimin, begitu pula
- Ibrahim untuk para pengikutnya.
- Wafiha dalil yakuna rasulu syahidan
- alaikum, dalam hal ini untuk kelurusan
- hidup kita,
- Allah jadikan rasul sebagai saksi, suri
- tauladan, contoh bagi kalian.
- Watakunu syuhada annas, nah kalian yang
- telah mencontoh rasul,
- jadikan diri kalian sebagai saksi dan
- contoh bagi umat manusia. Jangan orang
- merasa ragu karena perilaku kita. Jangan
- orang bimbang tentang kebenaran Islam
- karena melihat perilaku kita, apalagi
- ulama-ulama yang seharusnya menjadi
- contoh malah menimbulkan kebimbangan,
- keraguan, dan tanda tanya karena mereka
- tidak mengikuti ajaran Allah secara
- murni, tapi mereka bungkus ajaran Allah
- Subhanahu wa ta'ala atau mereka bungkus
- hawa nafsu mereka dengan nama ajaran
- Allah Subhanahu wa ta'ala.
- Jadi, kalian menjadikan Rasul sebagai
- contoh dan saksi, sedangkan kalian
- menjadi saksi kebenaran, contoh yang
- indah bagi umat manusia.
- Faaqimus shalaata wa aatuz zakaah.
- Tegakkanlah shalat.
- Hendaklah hubungan kalian dengan Allah
- hubungan yang terjalin mesra.
- Wa aatuz zakaah. Keluarkan zakat
- dari harta yang Allah berikan kepada
- kalian. Wa'tashimu billaah. Dan
- hendaklah kalian berpegang kepada Allah.
- Huwa maulaakum. Dialah pelindung kalian
- yang sebenarnya. Fani'mal maula wa
- ni'man nashiir. Maka Allah
- sebaik-baiknya pelindung dan
- sebaik-baiknya penolong yang telah
- terbukti kebenarannya.
- Yang telah menolong, membela
- orang-orang yang beriman. Yang membela
- para nabi dan para rasul
- dan mengantarkan mereka menuju
- kehidupan yang penuh dengan kedamaian
- dan keindahan.
- Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah.
- Dari sini kita bisa melihat
- bahwa ibadah haji yang artinya
- berkunjung
- ke rumah Allah,
- tujuan utamanya untuk mengundang kalian,
- mengundang kita semua untuk belajar
- berserah diri kepada Allah dari
- pelajaran-pelajaran yang ditinggalkan
- oleh Ibrahim,
- demikian pula yang ditinggalkan oleh
- para nabi dan para rasul yang ikut di
- belakang Ibrahim.
- Tsumma auhaina ilaika an ittabi' millata
- Ibrahima hanifa.
- Lalu Allah berkata pada nabi kita
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam,
- "Kemudian kami wahyukan kepadamu wahai
- Rasulullah, ikutilah
- apa-apa yang telah kami
- ee tsumma
- ee apa-apa yang apa ee apa-apa yang
- menjadi millah dari Ibrahim. Tsumma
- auhaina ilaika an ittabi' millata
- Ibrahima hanifa.
- Ikuti jejak langkah Ibrahim yang lurus.
- Maka siapa-siapa yang mengikuti Rasul
- mengikuti Ibrahim mereka betul-betul
- akan meluruskan
- wajah mereka, pandangan mereka, jiwa
- mereka dengan menatap, mengharap,
- berpegang, dan bersandar kepada Allah
- subhanahu wa taala.
- Jadi ibadah haji bukan hanya ibadah
- pesiar, wisata, bersenang-senang
- bermewah-mewahan
- untuk menempati hotel berbintang,
- menikmati buffet yang disajikan,
- fasilitas yang begitu mewah, semua ini
- tidak akan sampai pada Allah. Yang akan
- sampai
- iman, ketakwaan kita kepada Allah. Hati
- kita yang tulus, berserah diri, itulah
- yang akan disambut oleh Allah subhanahu
- wa taala.
- Mudah-mudahan Ustaz Hamzah bisa
- menambahkan
- ee hal ini
- dengan tambahan-tambahan yang bermanfaat
- bagi kita semuanya. Wallahualam. Baik
- Ustaz Hamzah, silakan.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil alamin.
- Allahumma shalli wa sallim ala sayyidina
- Muhammadin wa ala ali sayyidina
- Muhammad.
- Alhamdulillah wa syukurillah.
- Kita panjatkan puji syukur kita ke
- hadirat Allah subhanahu wa taala
- atas segala karunia-Nya, rahmat-Nya
- taufik serta hidayah-Nya
- terutama sekali nikmatul iman wal Islam
- dan juga nikmat bagaimana kita dapat
- hari ini
- mendapatkan ilmu tentang masalah haji
- yang tadi dibacakan
- dari surat Al-Hajj.
- Yang di mana awal dari surat Al-Hajj ini
- Allah gambarkan tentang bagaimana
- terjadinya kiamat.
- Kemudian di ayat 27-nya Allah subhanahu
- wa taala
- ee
- terangkan bagaimana ketika Allah
- subhanahu wa taala memerintahkan kepada
- Nabi Allah Ibrahim
- untuk mengumandang kepada manusia ya
- untuk melaksanakan ibadah haji.
- Yang mana kalau kita lihat ibadah haji
- ini
- ini adalah ya merupakan sama seperti
- seorang ya
- yang akan kembali kepada Allah subhanahu
- wa taala. Oleh karena itu di awal
- surahnya tadi diingatkan
- tentang hari kiamat, hari di mana kita
- akan kembali kepada Allah subhanahu wa
- taala.
- Dimulai ketika kita ihram, kita hanya
- menggunakan dua helai kain.
- Yang satu untuk apa ee kain kita yang
- satu diselendangkan.
- Ini menggambarkan bagaimana kita ketika
- mau nanti kita meninggal pun ya kita
- akan di kubur dengan hanya kain kafan.
- Apalagi di padang Arafah itu
- menggambarkan bagaimana nanti kita di
- padang mahsyar.
- Pada saat kita semuanya
- mengharapkan pertolongan Allah subhanahu
- wa taala.
- Di padang Arafah ya itu adalah merupakan
- miniatur dari padang mahsyar nanti.
- Bedanya kalau di padang Arafah kita
- masih diberikan kesempatan untuk
- bertobat kepada Allah subhanahu wa taala
- memperbaiki diri.
- Tapi di akhirat ya di padang kita bukan
- waktunya lagi untuk bertobat pada waktu
- itu. Karena di sana kita akan dihisab
- oleh Allah subhanahu wa taala.
- Jadi, pelajaran haji ini adalah
- merupakan ibadah yang sangat-sangat
- penting untuk kita renungkan.
- Tadi sudah
- sudah diterangkan panjang lebar oleh
- guru kita Ustaz Husein bin Hamid Alatas.
- Pada kesempatan kali ini saya ingin
- hanya
- ingin menekankan tentang
- apa yang sering
- kita alami di Indonesia ini, yaitu
- masalah penentuan waktu
- awal
- bulan.
- Ya.
- Setiap
- tahun selalu terjadi ya, perbedaan
- pendapat.
- Ini sudah bertahun-tahun seperti itu.
- Ya, sudah sejak zaman dahulu terjadi
- seperti itu.
- Kenapa kok, apakah hal ini tidak bisa
- ya, diselesaikan dengan ilmu?
- Bukankah kita ya, diperintahkan oleh
- Allah subhanahu wa taala
- ya, untuk mengikuti
- mengikuti ya, sesuatu dengan ilmu.
- Wala takfu ma laisa laka bihi ilm.
- Jangan kamu mengikuti sesuatu yang kamu
- tidak ada pengetahuan dengannya.
- Dan ini perbedaan ini selalu terjadi ya,
- ya.
- Ada yang dengan rukyat, ada yang dengan
- hisab. Ya, seperti itu.
- Nah, untuk me
- mengetahui perbedaan ini seperti apa
- yang Allah subhanahu wa taala
- perintahkan, fain tanaza'tum fi syaiin
- farudduhu ilallahi wa rasulihi.
- Farudduhu ilallahi wa rasul.
- In kuntum tu'minuna billahi wal yaumil
- Jika kalian berselisih dalam satu
- masalah, kembalikan kepada Allah dan
- Rasul.
- Kita harus kembalikan kepada Allah dan
- Rasul-Nya.
- Nah, pada saat ini ya, Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam sudah tidak
- bersama kita.
- Tapi
- Alquran masih tetap ada bersama kita.
- Kenapa tidak dikembalikan kepada
- Alquranul Karim?
- Tentang masalah ini. Ini mungkin ini
- adalah kita bukan
- ingin
- ribut atau apa, tapi
- ini adalah sebagai
- pelajaran
- bagaimana kita harus menyelesaikan
- sesuatu berdasarkan ilmu
- dan ilmu yang paling pasti adalah yang
- tentunya kembali kepada Alquranul Karim.
- Begitu juga nanti mengenai
- riwayat-riwayat hadis, kita kembalikan
- kepada Alquranul Karim. Ya, kita lihat
- konteksnya seperti apa.
- Nah, karena hal ini, kenapa yang bisa
- terjadi perselisihan terus? Ini karena
- ya, yang satu mengandalkan riwayat
- hadis, yaitu ya kalau dengar rukyat
- ya, memang ada hadis Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi alaihi wasallam ya,
- yang mengatakan ya, tentang puasa awal
- puasa Ramadan, Rasulullah katakan sumu
- li rukyatihi
- wa aftiru li rukyatih.
- Puasalah kalian karena melihat bulan dan
- berbukalah kalian ketika Idul Fitri juga
- karena melihat bulan.
- Oleh karena itu ini karena oleh karena
- itu inilah yang jadi patokan bagi yang
- me
- memakai metode rukyat, harus melihat
- seperti itu.
- Walaupun mereka pun mengerti tentang
- hisab perhitungan, tapi tetap mesti
- rukyat.
- Nah.
- Ya, kalau yang dengan hisab hanya dengan
- perhitungan.
- Ya, karena itu perhitungan juga bukan
- main-main, itu juga berdasarkan ilmu.
- Kita kembali kepada Alquranul Karim
- ya, tentang masalah ee penentuan waktu
- ini.
- Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebutkan ya,
- tentang puasa Ramadan.
- Syahru Ramadhanalladzi unzila fihil
- Quran.
- Hudalinnasi wa nuh hudalinnas wa
- bayyinatin minal huda wal furqan.
- Faman syahida minkum syahra falyasumhu.
- Ya.
- Allah terangkan faman syahida minkum
- syahra.
- Barangsiapa yang menyaksikan di antara
- kalian asy-syahra bulan.
- Sebenarnya kalau menyaksikan bulan di
- sini syahra maksudnya bulan bulan
- Ramadan ya, atau bulan Syawal atau bulan
- haji atau bulan apa-apa ya, bulan yang
- lain-lainnya. Sebenarnya bulan itu
- enggak bisa disaksikan. Kita enggak bisa
- lihat seperti misalnya juga bulan
- Masehi, bulan Januari, Februari enggak
- bisa kita lihat. Ya.
- Yang di sini yang dimaksudkan bukan
- melihat apa menyaksikan
- bulan itunya. Tapi maksudnya adalah
- hilalasyahri.
- Di sini ada kalimat yang yang mahdub.
- Ini adalah uslubul hazfi fil Quran.
- Sama seperti Allah Subhanahu Wa Ta'ala
- berfirman was'alilqaryata.
- Tanyalah ya,
- ke
- ke kota tersebut ya, kota Mesir waktu
- itu. Ya, saudara-saudaranya Nabi Yusuf
- berbicara ketika berargumen kepada
- ayahnya.
- Was'alilqaryata, tanya kepada qarya
- kepada kota tersebut.
- Ya, atau kampung biasa diartikan. Ya,
- di sini maksudnya adalah qarya adalah
- kota Mesir.
- Maksudnya bukan tanya ke kotanya, enggak
- bisa kita nanya kepada ke kota, tapi
- maksudnya adalah was al ahlal qoryah dan
- tanyalah penduduk ya kampung tersebut
- atau penduduk kota tersebut.
- Ya, ini juga ya ketika Allah subhanahu
- wa taala perintahkan ya atau sebutkan
- faman syahida minkum syahro, barang
- siapa yang menyaksikan di antara kalian
- hilalasyahri ya kalau syahro ya bulan
- enggak bisa dilihat ya bulan bukan bulan
- sabit bukan bulan itu maksudnya arti
- bulan Muharram, Safar, Rabiul Awal,
- Rabiul Tsani itu enggak bisa dilihat.
- Tapi hilalnya yang bisa dilihat fa bi
- bisa disaksikan ya faman syahida
- minkum hilalasyahri falyasum.
- Ini yang pertama ya jadi yang harus
- disaksikan adalah
- eee bulan ya masuknya bulan atau
- datangnya bulan bulan sabit
- hilal ya
- karena bulan ini bulan sabit ini adalah
- merupakan Allah katakan ini adalah
- merupakan petunjuk menentukan waktu
- untuk menentukan menghitung waktu itu
- dengan bulan peredaran bulan ini.
- Ya ketika terlihat bulan sabit seperti
- di dalam surah Al Baqarah yas aluna ka
- anil ahillah, ahillah ini jamak dari
- hilal. Mereka bertanya kepada engkau
- tentang ya hilal perubahan-perubahan
- hilal itu.
- Ya.
- Qul katakanlah ya Rasulullah hiya
- mawaqitu linnasi wal hajj bahwasanya
- hilal itu adalah
- ya tanda-tanda untuk menentukan waktu
- dan juga untuk menentukan melaksanakan
- pelaksanaan ibadah haji.
- Jadi dengan
- menyaksikan hilal.
- Ya kita kalau sudah masuk hilal sudah
- bisa disaksikan maka itu sudah masuk
- waktu
- waktu artinya bulan bulan Zulhijah kah
- Ramadan kah
- nah sekarang kita kembali lagi ke makna
- syahidah
- nah
- apa arti syahidah
- ya syahidah ini artinya menyaksikan nah
- makna syahidah ini bukan berarti ya
- harus selalu menyaksikan dengan mata
- telanjang
- ya
- karena makna syahidah itu bisa berarti
- menyaksikan ya menyaksikan dengan mata
- langsung bisa juga artinya menyaksikan
- berdasarkan ilmu dengan landasan ilmu
- pengetahuan
- sama ketika kita bilang asyhadu an la
- ilaha illallah wa anna Muhammadar
- Rasulullah aku bersaksi bahwasanya tidak
- ada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya
- Nabi Muhammad utusan Allah bersaksi ini
- ya
- bukan berarti kita melihat Allah
- Allah
- ya mengatakan la tudrikuhul abshar wa
- huwa yudrikul abshar wa huwa latiful
- khabir Allah tidak bisa dilihat oleh
- pandangan mata
- ya tapi kita bilang kok bilang kita
- bilang menyaksikan ini menyaksikan
- berdasarkan ilmu
- ya berdasarkan keyakinan yang didasari
- oleh ilmu atau ilmul yakin
- nah inilah ya dasar dari faman syahida
- minkum syahra jadi enggak mesti harus ya
- dilihat oleh mata kan dulu Rasulullah
- Shallallahu Alaihi Wasallam perintahkan
- suruh
- kalau puasa awalnya harus lihat melihat
- dengan melihat bulan iya pada masa itu
- karena belum ada ya ilmu pengetahuan dan
- teknologi yang untuk mengetahui apakah
- bulan sudah ada atau belum
- ya Rasulullah ya gunakan dengan cara
- yang ada pada itu ini juga ada kaitannya
- dengan apa yang kita bahas tentang as
- sawabit wal mutahawwilat. Ini hal-hal
- yang berubah.
- Dulu juga Rasulullah ketika pergi haji
- pakai naik unta.
- Karena dulu belum ada pesawat, belum ada
- kendaraan. Andai kata ada kendaraan
- pasti Rasulullah pakai gunakan kendaraan
- karena itu lebih lebih cepat, lebih
- menghemat waktu seperti itu.
- Karena Rasulullah prinsipnya seperti
- yang dalam surah Al Hajj juga, "Ma
- ja'ala alaikum fiddini min haraj." Allah
- tidak menjadikan di dalam agama ini
- suatu kesempitan.
- Ketika pergi haji pun Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam ketika ada
- sahabat yang nanya, "Bagaimana ya
- Rasulullah, apakah kami dulukan tawaf
- ataukan lempar jumrah?"
- Rasulullah katakan, "If'alu." Ya, ya,
- "Wala haraj." Kerjain mana yang gampang,
- ya, yang lebih dahulu dikerjakan tidak
- ada kesulitan. Ini adalah memang
- prinsip-prinsip dalam Islam seperti itu.
- Oleh karena itu, ya, dengan berdasarkan
- bagi arti dari syahida ini adalah
- artinya berdasarkan ilmu pengetahuan
- yang menimbulkan keyakinan,
- oleh karena itu kita bisa lihat ketika
- menentukan waktu salat pun sekarang
- sudah enggak pakai ngelihat
- matahari lagi. Kan waktu zuhur itu baru
- masuk ketika tergelincir matahari.
- Apakah sekarang kita ini umat Islam
- kalau menentukan waktu zuhur harus
- ngelihat dulu matahari?
- Apalagi juga subuh. Kapan masuknya waktu
- subuh? Ketika terbitnya fajar shadiq.
- Ya, apakah ketika subuh sekarang kita
- ngelihat dulu apakah sudah tampak atau
- fajar shadiq di di ufuk sudah kelihatan
- atau belum waktu baru masuk subuh?
- Enggak seperti itu, tapi sekarang sudah
- dengan perhitungan.
- Ya, artinya perhitungan berdasarkan
- bukti-bukti,
- berdasarkan
- apa landasan ilmu pengetahuan dan
- teknologi itu bisa ditentukan semuanya.
- Sehingga penentuan waktu itu bisa
- ditentukan waktu salat, ya enggak perlu
- melihat kepada eh matahari terbitnya
- atau terbenamnya, ya
- seperti itu. Itu bisa ditentukan.
- Ya, sebenarnya hal ini pun bisa
- ditentukan ya tentang penentuan bulan.
- Kalau di sudah dengan perhitungan,
- bahkan sudah bisa diprediksi waktu dalam
- Ramadan kemarin saat ini bakal terjadi
- perbedaan ya, emang terjadi perbedaan.
- Yaitu karena
- eh bulan diperkirakan pada
- hari kemarin itu sudah 2 derajat.
- Ya, 2 derajat artinya sudah masuk bulan
- sebenarnya.
- Tapi karena eh pemerintah Indonesia dan
- juga di ASEAN menentukan kriteria baru.
- Ya, katanya kesepakatan enggak mesti 3
- derajat. Akhirnya ya 2 derajat dianggap
- tidak tidak memungkinkan untuk dilihat
- bulan. Bukankah itu secara ilmu
- pengetahuan bulan sudah ada.
- Ya, kenapa kita tidak
- mengacu kepada ilmu pengetahuan karena
- ilmu Allah perintahkan.
- Dan di dalam Alquran pun
- Allah sebutkan faman syahida enggak
- bilang faman ra'a minkumusy syahra.
- Ya, ini menunjukkan bagaimana
- eh
- perhitungan itu ya sangat-sangat di
- sangat-sangat diperlukan.
- Begitu juga ketika Allah Subhanahu wa
- Ta'ala berfirman dalam surat Yunus
- huwalladzi ja'alasy syamsa dhiya'an wal
- qamara nura.
- Waqaddarahu manazila lita'lamu 'adadas
- sinina wal hisab. Dialah yang telah
- menjadikan untuk kalian matahari
- bersinar dan bulan ya bercahaya.
- Waqaddarahu manazila Allah sudah
- tentukan kadar-kadarnya, ya
- tempat-tempat eh apanya
- terbitnya bagaimana bentuknya dari mulai
- sabit, kemudian setengah bulan,
- seperempat bulan, setengah bulan sampai
- purnama, kemudian mengecil lagi, itu
- ketentuan Allah, arti takdir, sesuatu
- yang sudah ditentukan secara teliti oleh
- Allah Subhanahu wa Ta'ala.
- Ya, ma khalaqallahu dzalika illa bil
- haq, Allah tidak ciptakan itu melainkan
- dengan haq, arti dengan suatu kebenaran.
- Ini pasti, lebih pasti dari ilmu pasti.
- Oleh karena itu hal ini bisa ditentukan
- dengan ilmu pengetahuan, bahkan bisa
- diprediksi.
- Nah, ini jadi penentuan waktu ini, ya,
- sebenarnya kalau
- ya,
- kita mau kembali kepada kepada Alquran
- dan juga kita lihat sunah Nabi,
- bagaimana konteksnya ketika Rasulullah
- Shallallahu alaihi wasallam
- ber- bersabda tentang sumu liruyatihi wa
- afthiru liruyatihi, itu adalah karena
- memang pada saat itu belum ada
- pe- pe- cara, metode yang yang teknologi
- canggih untuk menghitung waktu bulan.
- Akhirnya dengan menggunakan mata, iya,
- benar pada waktu itu.
- Tapi pada saat sekarang, ya, ini bisa
- ditentukan.
- Nah, yang miris, ya,
- umat Islam saat ini enggak punya
- kalender yang pasti.
- Selalu berubah-ubah seperti itu. Berbeda
- dengan kalender Masehi seperti itu, bisa
- ditentukan.
- Ya, setahun ini, tahun depan sudah bisa
- ditentukan, bahkan bisa dihitung.
- Ya.
- Kalau itu enggak, mesti lihat bulan
- dulu, nanti berubah-ubah. Padahal ini
- juga sudah bisa ditentukan karena
- sama-sama sebenarnya perhitungannya
- berdasarkan perhitungan matahari dan
- bulan tadi yang seperti yang Allah
- Subhanahu wa Ta'ala sebutkan. Tapi
- karena masing-masing menggunakan egonya
- masing-masing, ya, akhirnya tidak mau ee
- kembalikan kepada Alquran. Kalau tidak,
- ya, kita bisa, ya, setiap tahun sudah
- enggak perlu lagi, ya, di ee kita apa ee
- melihat lagi bulan, tapi kita bisa sudah
- bisa tentukan waktunya kapan masuk bulan
- itu. Ya, termasuk ya ketika kita
- menentukan sama seperti kita menentukan
- waktu salat. Kita dengan
- melihat jam kita bisa tahu oh sudah
- diberitahu ini sudah masuk waktu salat.
- Enggak perlu kita melihat lagi
- tergelincirnya matahari.
- Inilah yang seharusnya ya kita pahami
- waktu salat bukan
- ini juga penting kan?
- Apakah tidak penting? Ini adalah ibadah
- yang sangat penting ya tapi kok
- penentuan waktunya kok kita percaya
- dengan dengan kemajuan teknologi itu.
- Ya, begitu juga harusnya ketika
- menentukan waktu masuknya bulan apakah
- itu bulan Ramadan, bulan Syawal dan
- termasuk bulan haji ini ya
- ya itu bisa ditentukan dengan teknologi.
- Apalagi kalau di Mekah misalnya kalau
- apa di di sana itu di Saudi Arabia tidak
- bisa ditentukan diprediksi dengan dari
- jauh-jauh hari repot nanti karena ini
- menyangkut jutaan orang. Ya, kalau tidak
- ada suatu penetapan ya schedule yang
- pasti ya mereka
- akan kebingung nunggu dulu misalnya
- akhir bulan
- ya bulan apa
- apa Zulqaidah ya baru bisa ketahuan
- kapan harus wukuf di Arafah. Enggak
- seperti itu harusnya
- semuanya ini bisa ditentukan ya dengan
- kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
- Ya, apakah ini suatu bidah? Tidak ini
- berdasarkan Alquranul Karim faman
- syahida minkum syahra ya di mana makna
- syahadah tidak selalu berarti harus
- melihat tapi itu juga bisa berarti
- dengan
- keyakinan yang berdasarkan ilmu
- pengetahuan. Wallahu Subhanahu Wa Ta'ala
- A'lam. Ya, demikian Iwan Awan
- hikmah
- haji telah diuraikan oleh Ustaz Husein
- dan Ustaz Hamzah, mudah-mudahan akan
- menjadi pemahaman kita dan menambah
- keimanan kita. Terima kasih Ustaz
- Husein, Ustaz Hamzah. Kita akan jumpa
- lagi dalam waktu. Saya Muhammad Krisna,
- Asep, kemudian juga Yusuf Bangkit dan
- Anis Mu'alim mohon pamit. Wabillahi
- taufik walhidayah. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.