Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Wabarakatuh. Alhamdulillahirobbil
- alamin. Allahumma sholli ala Muhammad wa
- ala ali Muhammad wa ba'du.
- Dipancarkan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kali Manggis,
- Cibubur, Bekasi. Radio Silaturahim dan
- Radio Visual untuk Islam yang satu.
- Bagaimana kabarnya Ikhwan Akhwat di
- malam hari ini?
- Semoga baik yang dalam masih masih dalam
- perjalanan atau yang sudah sampai di
- rumah, selalu dalam keadaan sehat dan
- selalu dalam lindungan Allah Subhanahu
- wa ta'ala. Amin ya rabbal alamin.
- Baik Ikhwan Akhwat, kali ini saya Panji
- Ahmad akan menemani Ikhwan Akhwat dalam
- tausiyah malam. Dan kali ini edisi hari
- Kamis, 4 Oktober 2018 atau bertepatan
- dengan 25 Muharram 1440 Hijriah.
- Dan kali ini tentunya tausiyah malam
- bersama Ustadz Zaki Mubarak.
- Alhamdulillah beliau sudah berada kami
- di studio. Mari kita sapa terlebih
- dahulu. Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Apa kabar sehat, Ustadz?
- Alhamdulillah sehat.
- Alhamdulillah.
- Lancar juga.
- Iya.
- Baik Ikhwan Akhwat, kali ini eh ada
- malam hari ini
- bahasan temanya ialah persaudaraan
- sesama muslim.
- Ya.
- Nah, tapi sebelum dimulai oleh Ustadz eh
- Zaki Mubarak, kita sampaikan dulu bahwa
- yang ingin bertanya nanti di sesi kedua
- dapat melalui pesan WhatsApp atau SMS di
- 08111999720.
- Dan dicatat juga jika Ikhwan Akhwat
- ingin berinteraksi langsung bersama kami
- di studio, dapat melalui narahubung kami
- di 0218451512.
- Pembahasan tema kali ini ialah
- persaudaraan sesama muslim. Dan kepada
- Ustadz Zaki Mubarak, kami persilakan.
- Assalamualaikum
- warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillahilladzi
- an'amana binikmatil imani wal islami wa
- kafa bihim wa
- asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la
- syarikalah.
- Wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa
- rasuluh.
- Allahumma sholli wasallim ala hadzan
- nabiyyil karim
- sayyidina wa maulana Muhammadin
- wa ala alihi wa ashabihi wa tabi'in
- wa man tabi'ahum bi ihsanin ila
- yaumiddin.
- Amma ba'd.
- Ikhwan akhwat
- para pendengar Radio Silaturahim
- dan pemirsa Rasel TV
- yang kami cintai dan kami banggakan
- malam hari ini
- dengan bersyukur kehadirat Allah
- atas rahmat dan karunia-Nya
- alhamdulillah kita dapat jumpa kembali
- di acara tausiyah malam.
- Semoga acara ini dapat mengantarkan kita
- untuk
- mengamalkan dan mempraktekkan ajaran
- agama dengan baik sehingga kita
- memperoleh ridho dari Allah subhanahu wa
- ta'ala. Amin ya rabbal alamin.
- Ikhwan dan akhwat sekalian
- dalam kehidupan sehari-hari
- kita ini tidak pernah lepas
- dari teman dan saudara kita
- sahabat dan handai tolan.
- Sebagai makhluk sosial
- kita tidak bisa hidup sendiri.
- Oleh karena kita
- lakukan
- pergaulan sesama kita
- termasuk interaksi dalam masyarakat
- maka hendaklah kita saling memahami
- satu sama lain.
- Apa ukurannya? Diri kita sendiri.
- Kalau
- ini kita enggak enak, orang lain pun
- enggak enak.
- Kalau suatu hal kita itu senang, orang
- lain pun senang.
- Jadi, semua itu kembali kepada diri
- kita, bagaimana cara kita
- menyikapi orang lain.
- Karena kalau kita tidak bersikap
- demikian, maka kita akan terjadi
- gesekan-gesekan
- sesama kita, bahkan sesama muslim
- yang itu tidak menguntungkan.
- Karena itu, usahakan
- satu sama lain saling bertenggang rasa,
- saling mengasihi, saling mencintai,
- saling beriba hati, dan saling
- bersaudara.
- Inilah wujud dari kehidupan manusia
- muslim.
- Apalagi sekarang kita jumpai
- masalah-masalah banyak sekali yang
- membuat kita kadang-kadang saling
- mencela sesama muslim.
- Oh, itu pantangan itu.
- Ya. Sering kita punya perasaan, oh,
- kalau saya memperjuangkan Islam,
- memperjuangkan
- Lah, semua orang muslim pasti
- memperjuangkan agama.
- Mungkin pilihan Anda berbeda,
- tapi tujuan mereka
- pasti enggak terlalu jauh, deh.
- Setiap orang muslim pasti punya
- keinginan
- untuk
- memuliakan agamanya,
- untuk mengangkat kalimat Allah,
- untuk berdakwah, semua begitu.
- Hanya caranya berbeda. Satu sama lain
- enggak mungkin disamakan.
- Maka, dalam hal ini kita harus sadar.
- Jangan merasa kita sendiri yang paling
- baik, itu sikap yang
- tidak terpuji.
- Ya, kita harus menyadari kalau terjadi
- ada perbedaan, itu masalah selera saja.
- Seperti misalnya,
- kita ada beberapa orang ditawari minum.
- Anda mau minum apa?
- Ada yang mengatakan, "Saya minta kopi."
- "Oh, saya teh."
- "Ini jus."
- "Ini air putih." Lah, silakan
- masing-masing.
- Jangan yang pesan kopi kemudian
- menyalahkan yang pesan teh. "Kenapa Anda
- pesan teh? Seperti saya dong, kopi." Ah,
- itu enggak benar.
- Jadi, itulah gambaran-gambaran yang
- mesti kita sikapi supaya kita umat Islam
- ini
- cerdaslah dalam hal begini.
- Ya, nanti kita menghadapi ada pemilihan
- anggota legislatif, ada pemilihan eh
- presiden, ada eh pemilihan-pemilihan
- lain, kita harus cerdas. Jangan sampai
- kita bermusuhan sesama muslim, sesama
- saudara dengan tetangga bermusuhan, ya,
- karena kita merasa paling baik, paling
- benar, enggak, ya. Semua itu
- kita harus berhusnuzan,
- punya niat yang baik.
- Siapa sih manusia yang punya niat yang
- buruk?
- Semua niat yang baik, hanya caranya
- bisa berbeda-beda.
- Ikhwan dan akhwat sekalian,
- saya
- dikasih makan oleh ibu saya sama dengan
- adik saya.
- Apa yang saya makan, ya dimakan oleh
- adik saya.
- Madrasah saya sama dengan adik saya.
- Tapi ternyata kemudian pandangannya
- berbeda, itu manusiawi, enggak ada
- masalah.
- Yang penting kita jangan bermusuhan.
- Jangan Anda
- eh menghadapi hal seperti itu bermusuhan
- satu sama lain sesama muslim sehingga
- menimbulkan hal-hal yang tidak baik,
- pecah,
- ya, saling bermusuhan, saling mengejek.
- Untuk apa, Saudara-saudara? Padahal
- Islam mengantarkan kita supaya kita
- saling
- menyampaikan
- kebaikan.
- Lihat kalimat salam itu,
- ya,
- salam kedamaian
- ditebarkan antara kita. Kasih sayang
- juga demikian, sehingga umat Islam ini
- menyatu.
- Itulah kekuatan kita kalau bersatu.
- Kalau kita enggak bersatu, sulit.
- Nah,
- ikhwan dan akhwat sekalian,
- dalam sebuah hadis,
- Rasulullah menyampaikan
- Iza la taqol muslimani
- bi saifihi ma
- fal qotil
- wal maqtul finnar kata Nabi.
- Apabila dua orang muslim saling bertemu
- dua-duanya membawa pedang
- bi saifihi ma
- dan kemudian mereka itu saling
- membunuh dengan pedang itu
- kata Nabi fal qotil wal maqtul finnar.
- Maka yang membunuh dan yang dibunuh
- sama-sama masuk neraka kata Nabi.
- Lihat dua orang muslim yang saling
- bermusuhan
- yang membunuh dan yang dibunuh kata Nabi
- dua-duanya masuk neraka.
- Para sahabat merasa aneh
- adapun yang membunuh Rasulullah
- masuk akal kalau dia masuk neraka.
- Bagaimana tentang orang yang dibunuh?
- Kata Nabi
- innahu harisun
- ay yaqtul akhahu. Yang dibunuh pun sama
- saja mereka itu
- mempunyai keinginan yang keras untuk
- membunuh temannya.
- Itu hanya masalah nasib saja.
- Ya.
- Yang satu terbunuh yang satu membunuh
- itu nasib saja. Sebetulnya dua-duanya
- sama punya niat yang
- jahat yang enggak baik.
- Nah, dari kalimat inilah ikhwan akhwat
- sekalian kita supaya
- lakukan dengan teman-teman kita, dengan
- saudara kita ya.
- Sesama muslim ataupun mungkin dengan
- pemeluk agama lain kita harus saling
- ya, beribahati.
- Saling berbuat baik.
- Ya, saling menyapa.
- Saling menebarkan kedamaian.
- Ya, dari kenyataan inilah
- ikhwan dan akhwat sekalian maka kita
- harus terus
- ya, melakukan kegiatan-kegiatan yang
- bermanfaat.
- Ya, di dalam
- berbagai keterangan
- disebutkan
- bahwa sesama muslim itu kata Nabi
- kal bunyani
- yasuddu ba'duhu ba'da
- ya
- kita ini diumpamakan seperti bangunan
- yang satu
- satu sama lain saling menguatkan itu
- ada pondasi
- ada pilar-pilarnya
- ada tembok
- ada genteng di atas ada kayu, ada paku,
- semua itu saling menguatkan
- nah inilah yang digambarkan persaudaraan
- kita
- dalam hadis lain tegaskan kasnanil mus
- seperti
- geriginya sisir
- ya sisir itu kan ada kayak gerigi gitu,
- itu sama kita semua, nah inilah yang
- harus kita kembangkan dalam masyarakat
- kita, nah ikhwan dan akhwat kalau kita
- memaksa orang lain harus seperti pilihan
- kita itu hal yang tidak tepat itu
- itu menunjukkan kita enggak dewasa dalam
- berpolitik
- ya saya ambil contoh tadi
- kita ditawari minuman kok
- ada yang meminta teh, ada yang kopi
- ada yang jus, ada yang air putih
- ya, ada yang sirup
- eh yang
- meminta kopi menyalahkan yang meminta
- teh
- "kenapa Anda pilih teh? Pilih seperti
- saya dong kopi", lho orang seleranya
- enggak sama kok, nah inilah
- gambaran-gambaran yang harus kita sikapi
- secara cerdas sehingga kita tidak jadi
- ya tidak jadi
- eh saling bermusuhan
- ya bahkan sampai kepada saling mencela
- masyaallah berat saudara-saudara
- ya
- saling mencela
- di antara kita malah kadang-kadang
- sampai jauh mencelanya
- sampai jauh melewati batas-batas aturan
- agama, waduh berbahaya sekali, Ya, jadi
- inilah yang harus kita hindari.
- Ikhwan dan akhwat sekalian,
- di dalam
- ayat Alquran disebutkan itu.
- Innamal mukminuna ikhwatun.
- Faslihu baina akhwaikum.
- Sesungguhnya orang-orang mukmin itu
- bersaudara.
- Faslihu baina akhwaikum, maka
- perbaikilah
- persaudaraan di antara kamu sekalian.
- Nah, ini adalah kenyataan-kenyataan yang
- kita jumpai.
- Kalau tadi digambarkan
- dalam
- kehidupan masyarakat itu seperti
- bangunan yang satu,
- ikhwan dan akhwat sekalian,
- itu akan kita jumpai dalam bangunan itu.
- Ya.
- Ada fondasi,
- ada bangunan sipilnya,
- ada eh pintu, ada jendela, ada genteng.
- Ya.
- Nah, saudara-saudara,
- dari wujudnya bangunan itu,
- masing-masing punya peran.
- Nah, ada yang perannya paling besar,
- tapi enggak pernah disebut.
- Sebaliknya ada yang kurang berperan,
- tapi disebut terus.
- Sambil contoh, cat.
- Suatu bangunan yang catnya
- berwarna
- krim.
- Itu cat disebut.
- Oh, itu yang warnanya krim.
- Padahal, kalau enggak ada cat juga,
- rumah itu tetap tegak.
- Tapi ada yang lain yang sangat
- berfungsi, tapi kemudian enggak pernah
- disebut.
- Apa? Air.
- Coba kalau enggak ada air.
- Semuanya itu memerlukan air.
- Waktu kita mengecor,
- waktu kita memplester, semua perlu air.
- Tapi enggak pernah disebut itu air.
- Tapi ya air juga enggak ada masalah.
- Nah, jadi ada di tengah-tengah
- masyarakat kita,
- orang-orang yang sering menonjolkan
- diri.
- Oh, ini saya bantu ini bantu.
- Tapi ada orang-orang yang enggak mau
- menonjolkan diri, malah dia
- menyembunyikan hak sedekah-sedekahnya.
- Ya.
- Ada orang-orang yang seperti air itu
- tadi.
- Dia berjasa, bermanfaat, tapi enggak
- pernah menyebut-nyebutin.
- Sebaliknya ada yang seperti cat tadi,
- ya. Fungsinya enggak seberapa, tapi wah,
- selalu dia ingin disebut.
- Ya, inilah gambaran-gambaran dari
- kehidupan masyarakat kita. Nah, kita
- harus berlapang dada
- dalam menghadapi kenyataan ini. Karena
- nanti dijumpai dalam masyarakat kita,
- ada orang-orang yang gemarnya itu
- mencela
- atau mencaci. Apapun oleh dia dicela,
- dicaci.
- Saya ambil contoh ada orang
- datang ke masjid
- memberikan bantuan
- 500.000.
- Ya.
- Sebelumnya ada orang memberikan bantuan
- masjid
- 20.000.
- Kepada yang bantu 20.000, orang itu
- mengatakan, "Ya, untuk apa uang 20.000?
- Beli rokok juga cuma satu bungkus."
- Dah, yang 20.000 dicaci.
- Datang lagi orang yang
- memberi bantuan 500.000.
- Dicaci juga oleh dia.
- Oh, dia
- pamer itu.
- Ya, supaya dipuji orang. Nah, lihat ya.
- Ada yang datang bawa uang 5 juta
- membantu,
- dia caci juga. Oh, dia pencitraan itu.
- Nah, Anda lihat itu, lihat.
- Ya, jadi ada orang seperti ini. Kita
- harus berlapang dada.
- Nah, kalimat-kalimat yang diungkapkan
- oleh dia itu sangat tidak benar. Karena
- dia memasuki wilayah yang bukan zona
- dia.
- Yang mengetahui hati orang itu hanya
- Allah, bukan kita. Kita enggak tahu
- apa-apa. Nabi juga enggak tahu hatinya
- seseorang. Yang mengetahui hatinya
- seseorang hanya Allah. Jadi, kita enggak
- boleh mengklaim, "Oh, dia itu
- pencitraan, dia itu riya." Enggak boleh.
- Itu kita langsung salah itu, masuk
- wilayah itu.
- Ya, jadi jangan. Janganlah kita menuduh
- yang enggak-enggak, ya.
- Karena nanti kita dosa.
- Ya, inna ba'da dzanni ismun.
- Sebagian daripada
- sangka-sangka itu, prasangka itu adalah
- dosa. Jadi, harus hati-hati, ya.
- Yang hal di bukan wilayah kita, kita
- jangan masuk di situ.
- Yang mengetahui hati seseorang hanya
- Allah.
- Kalau kita mengklaim mengetahui hati
- seseorang, kita sudah masuk dalam
- zona salah itu.
- Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi
- Wasallam
- pernah dipanggil oleh salah seorang
- sahabatnya
- untuk makan malam.
- Rumahnya agak jauh, berkelak-kelok.
- Sehabis
- salat Isya,
- Nabi keluar dengan beberapa orang
- sahabatnya
- ke rumah orang yang memanggil beliau.
- Nah, setelah selesai acara di rumah itu,
- beliau kembali ke masjid. Ada seorang
- sahabat mengatakan, "Rasulullah, dia itu
- orang munafik loh.
- Kenapa Anda datang ke sana?"
- Nah, ikhwan dan akhwat sekalian, Nabi
- marah sekali.
- Ya, Nabi marah sekali.
- Dari mana kamu tahu dia munafik?
- Itu itu hanya Allah yang tahu.
- Jadi kalau orang mengatakan dia munafik,
- itu dia sudah salah itu.
- Sudah sangat salah. Ya, sehingga Nabi
- katakan
- bahwa
- orang yang mengucapkan la ilaha illallah
- dakhala al jannah.
- Masuk surga katanya.
- Ya.
- Man qala la ilaha illallah
- dakhala al jannah.
- Siapa yang mengucapkan la ilaha
- illallah, maka dia masuk surga. Jadi itu
- orang di
- diberitahu oleh Nabi untuk tidak
- melakukan seperti itu.
- Nah,
- di dalam kehidupan sehari-hari, kita
- jumpai hal itu dan yang mengetahui
- tentang niat kita adalah hanya diri kita
- dan Allah subhanahu wa taala.
- Allah dan diri kita sendiri.
- Nah, maka di dalam
- kenyataan-kenyataan inilah kita harus
- berusaha
- untuk melakukan
- kebaikan-kebaikan dalam kehidupan kita.
- Mengapa?
- Karena barangsiapa yang merencanakan
- berbuat baik
- meskipun baru rencana, itu sudah dapat
- satu pahala.
- Jadi kalau merencanakan sesuatu, ya
- yang buruk
- kemudian dia batalkan, dapat satu
- kebaikan.
- Melaksanakan sesuatu yang buruk
- kemudian dia kerjakan, dapat satu dosa.
- Tapi begitu dia itu bertobat, hilang
- lagi dosanya.
- Nah, inilah gambaran-gambaran
- yang perlu kita kembangkan dalam
- kehidupan kita supaya kita banyak
- melakukan
- kegiatan yang bersifat
- dan berniat yang baik.
- Dalam sebuah hadis
- ditegaskan
- dari
- Al Abbas
- Abdullah bin Abbas
- radhiallahu anhu ma
- an Rasulillah sallallahu alaihi wasallam
- dari Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam
- fi ma yar
- wi an rabbihi
- sebagaimana diriwayatkan dari Tuhannya
- tabaraka wa taala qala innallahu katabal
- hasanat was sayyiat
- sesungguhnya Allah itu menetapkan
- kebaikan-kebaikan dan
- keburukan-keburukan
- summa bayyana dzalika
- kemudian Allah menjelaskan
- sejelas-jelasnya tentang
- hal-hal yang baik dan yang buruk itu
- faman hamma bihasanatin barangsiapa yang
- berniat untuk melakukan kebajikan
- falam ya'malha padahal dia belum
- melaksanakannya
- katabahullahu indahu
- tabaraka wa taala
- hasanatan kamilah
- jadi Allah telah menetapkan bagi orang
- itu
- kebajikan yang sempurna
- wain hamma biha
- fa'amilaha dan apabila orang berniat
- untuk berbuat baik kemudian dia
- dilanjutkan dengan
- mempraktikkannya
- apa katabahullahu asyru hasanatin
- Allah akan membalas orang itu dengan 10
- kebajikan
- lihat betapa Maha Maha kasihnya Allah
- ikhwan dan akhwat sekalian kalau
- perbuatan
- baik baru niat saja
- dapat satu kebajikan yang sempurna.
- Begitu dikerjakan bisa dapat 10 kali
- lipat.
- Kalau perbuatan buruk
- ya dia niat berbuat buruk, dia batalkan
- dapat pahala.
- Dia berbuat buruk
- kemudian dia lakukan, dapat satu dosa.
- Nah, jadi itu luar biasa ya.
- Kemudian bukan cuma sampai
- 10
- kebajikan asyru hasanatin
- tapi sampai ila sab'i mi'ati dir'fin
- sampai
- 700 kali.
- Ya, sebagaimana disebutkan Alquran di
- surat Al Baqarah itu.
- Masalulladzina yunfiquna amwalahum fi
- sabilillahi
- kamasali habbatin
- ambatat sab'a sanabila
- fi kulli sumbulatin mi'atu habbah.
- Perumpamaan bagi orang-orang yang
- menafkahkan hartanya di jalan Allah
- seperti satu biji
- yang ditanam kemudian tumbuh menjadi
- tujuh bulir
- dan setiap bulirnya 100 biji.
- Jadi 100 kali 700 kali 7 berarti 700.
- Dilipat gandakan pahalanya sampai 700
- bahkan ila ad'afin katsirah lebih dari
- itu.
- At au aziyad atau lebih banyak lagi.
- Ayat sebutan di sini
- ila ad'afin katsirah
- kepada lipatan-lipatan
- ya
- atau kepada
- eee apa namanya
- balasan-balasan yang lebih banyak lagi.
- Ya.
- Nah, kemudian apa?
- Wa in hamma bisayyi'atin
- dan apabila seorang itu
- merencanakan suatu keburukan ya maka
- dia tidak melaksanakan dapat kebaikan
- nah kalau melaksanakan keburukan
- kemudian
- direncanakan dan melaksanakan dia dapat
- satu dosa, inilah bagian dari karunia
- Allah subhanahu wa taala
- ikhwan dan akhwat sekalian dalam
- hadis dari Abi Hurairah
- ya disebutkan
- bahwa
- ada hal-hal yang
- kita mendapatkan fadilah-fadilah besar
- seperti salat berjamaah misalnya
- itu dapat
- ya balasan dari Allah
- dengan pahala berlipat ganda
- ya qala Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallama
- salat arrajuli fi jamaatin
- salatnya seorang secara berjamaah
- tazidu
- ala salatihi fi suqihi
- akan
- diberikan pahala
- tambahan
- atas salatnya seorang diri di pasar
- dalam di pasar
- ya
- atau di rumahnya dengan apa
- bid'an wa isyrina darajatan
- lafaz bid al bid'u dalam bahasa Arab itu
- hitungannya 3 sampai 9
- bisa diterjemahkan
- 23
- derajat bedanya
- bisa dikatakan 24 derajat bisa 25 sampai
- 27
- ya sampai 29 jadi artinya
- itu balasan pahalanya itu 27
- ya
- derajat
- dari salat seorang diri
- wadzalika
- anna ahadahum
- yang demikian itu sesungguhnya apabila
- salah seorang diantaramu
- idza tawadhoa
- Apabila dia berwudhu Fahsan al wudhua
- Dan dia
- Lakukan wudhu dengan baik
- Sesuai dengan aturan wudhu
- Ingat ikhwan-ikhwat digosok waktu kita
- wudhu itu
- Anggota tangan kita, kaki kita semua
- digosok Wajah kita
- Ya jangan hanya kena air
- Ya
- Disunahkan digosok Karena apa?
- Nanti manfaatnya besar itu
- Selain dari kesuciannya terjamin, yang
- kedua juga
- Di anggota tubuh kita ini
- Merupakan
- Saraf-saraf yang sensitif
- Jadi kalau disentuh kemudian
- Dibersihkan dengan air kemudian
- Digosok itu
- Akan
- Menghidupkan sel-sel yang
- Sudah mati
- Artinya kesehatan dari kulit kita dan
- lain-lain akan terjaga
- Kemudian
- Summa atal masjida
- Setelah dia berwudhu dengan baik dengan
- sebaik-baiknya lalu dia mendatangi
- masjid
- La yuridu illa sholata
- Yang orang itu tidak
- Menghendaki sesuatu ke masjid itu
- Kecuali sholat
- Tidak untuk ngobrol, tidak enggak dia ke
- masjid tujuannya untuk sholat
- Lam yahtu khutwatan
- Illa rufia lahu biha darojatan
- Tidaklah orang itu melangkah satu
- langkah
- Untuk masjid itu kecuali
- Allah angkat satu derajat Orang itu
- kedudukannya
- Ya, langkahnya satu langkah
- diangkat satu derajat.
- Ya.
- Kemudian apa?
- Wa khut anhu biha khotiah.
- Dan dihilangkan keburukannya, satu
- keburukan.
- Setiap langkah dari orang yang pergi ke
- masjid yang pertama dia
- ya mendapatkan
- ya, dari itu adalah satu derajat
- tinggi, semakin tinggi naik derajatnya.
- Yang kedua
- dalam langkah yang sama
- dihilangkan satu keburukan.
- Jadi kalau Anda ke masjid itu
- 200 langkah, 200 keburukan hilang.
- Ditambah 200 derajat kedudukan akan
- naik. Jadi luar biasa, ya.
- Hatta yadkhulal masjida, sehingga dia
- masuk masjid. Gitu kan.
- Faiza dakhola al masjida
- kana
- fis sholati
- ma kana fis sholatu
- yallati tahbisu.
- Orang yang ada di masjid itu
- adalah dihitung sholat.
- Ya.
- Meskipun dia di masjidnya cuma zikir
- misalnya, itu dihitung sholat itu.
- Ya.
- Selama dia masih ada di dalam masjid
- tersebut.
- Dihitung sholat terus-menerus itu.
- Ya.
- Maka
- demikian
- ya, besarnya pahala kita melaksanakan
- sholat, zikir
- kemudian
- eee
- tahlil
- dan sebagainya di masjid, sangat bagus.
- Ya.
- Kemudian ditegaskan lagi.
- Wal malaikatu yusholluna ala ahadikum.
- Dan para malaikat berdoa untuk salah
- seorang di antaramu.
- Madama fi majelisihi.
- Selama orang itu ada di majelisnya.
- Ya, tempat duduknya di masjid.
- Allah. Doakan.
- Disebut nama orangnya.
- Ya.
- Malaikat doakan pada Allah maksudnya.
- Ya, bukan Allah doakan. Malaikat berdoa
- pada Allah untuk orang itu.
- Ya.
- Ya, tegaskan. Fi majelisil ladzi sholla.
- Jadi selama orang itu tetap di tempat
- duduknya di mana dia sholat.
- Yaquluna, malaikat berdoa.
- Allahummarhamhu.
- Ya Allah rahmatilah.
- Si fulan ini.
- Allahummaghfirlahu.
- Ya Allah.
- Ampunilah si fulan ini.
- Allahumma tub alaih.
- Ya Allah berikanlah tobat. Terimalah
- tobat orang ini.
- Ya,
- ditegaskan di sini.
- Kalimatnya demikian, didoakan.
- Oleh para malaikat pada Allah Subhanahu
- Wa Ta'ala supaya dapat rahmat.
- Kemudian diampuni dosanya dan diterima
- tobatnya, hadis shahih.
- Riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Ikhwan
- dan akhwat sekalian.
- Inilah yang bisa kita kaji malam hari
- ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Saya
- mohon maaf apabila ada kekhilafan. Dan
- kesalahan. Wassalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Demikian ikhwan akhwat sesi
- pertama ini. Dalam tausiyah malam
- bersama Ustadz Zaki Mubarak. Dan
- tentunya kami mengundang kembali kepada
- Ikhwan Akhwat yang ingin bertanya
- melalui pesan WhatsApp atau SMS dapat
- melalui nomor kami di 0811
- 1999720
- atau Ikhwan Akhwat ingin berinteraksi
- langsung bersama Ustaz Zaki Mubarak di
- studio dapat melalui hubung kami di 021
- 8451512.
- Sudah beberapa pertanyaan yang masuk,
- namun sebelum kita bahas bersama dengan
- Ustaz Zaki Mubarak kita jeda dengan
- nasyid berikut ini.