Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 [Musik] 0:00 [Tepuk tangan] 0:00 [Musik] 0:00 [Tepuk tangan] 0:12 Bismillahirrahmanirrahim. 0:14 Asalamualaikum warahmatullahi 0:15 wabarakatuh, ikhwan akhwat 0:17 rahimakumullah. Mudah-mudahan hari ini 0:21 kehadiran jendela sekolah kembali 0:24 mempersuasi kita untuk bisa mendampingi 0:28 buah hati kita, putra-putri Indonesia 0:32 untuk membuat negeri ini semakin 0:33 bercahaya. Ya, tidak lupa salam selawat 0:36 kita lantunkan untuk junjungan umat 0:38 kekasih kita Muhammad Rasulullah 0:40 sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak 0:42 kita dipertemukan dengan beliau di saat 0:44 yang sangat kita rindukan di yaumil 0:46 akhir. dan ikhwan akhwat. Hari ini 0:51 jendela sekolah bukan lagi hanya sekedar 0:55 menghadirkan bagaimana semangat dan juga 0:59 ee peraihan oleh anak-anak kita siswa 1:02 dari ee Insan Mandiri Cibubur, tetapi 1:07 juga bisa menjadi petunjuk bagian dari 1:11 yang mempersuasi siapapun yang menyimak 1:13 dan mendengarkan acara ini. Hadir 1:16 kembali Bapak Barkah Sanyoto, S.Psi, 1:21 MPSI, Psikolog yang menyelesaikan S1-nya 1:25 di Universitas Persada Indonesia 1:29 ya. AI. Kemudian S2-nya di Universitas 1:33 Islam Negeri Syarif Hidayatullah. 1:38 Beliau ini merupakan 1:41 pelatihan yang di ee laluinya itu luar 1:44 biasa banyak. Yang jelas ada basic dan 1:49 advance hypnoterapy. 1:51 Kemudian juga ST ya saved dengan 1:57 Muhammad Faiz. Ada juga Quantum Ikhlas, 2:00 kemudian ee Assesment Center di Lembaga 2:04 Sandi Negara juga merupakan asesor 2:09 kompetensi BNSP. 2:13 Beliau juga merupakan 2:16 pelatihan 2:18 roskah yang diikuti dan administrasi 2:21 serta interpretasi alat ukur oleh 2:25 Humanika Consultant. Kemudian juga 2:28 certified professional coach 2:32 program ya oleh Loop Indonesia. 2:36 Juga pelatihan yang beliau ikuti adalah 2:40 SPSS. 2:42 untuk 2:44 psikologi 2:46 oleh Humanika Consulting juga resource 2:51 therapy dan 2:53 grafologi serta certified assessment 2:57 center oleh PPM. Itu pelatihan yang 3:00 beliau laksanakan. 3:03 Kemudian pengalaman kerjanya sebagai 3:05 asistent training di ASQ remaja, manajer 3:10 di 3:12 eh Headways Indonesia, kemudian 3:14 psikologi pendidikan di sekolah 3:17 kedinasan, 3:19 sekolah tinggi sandinegara 3:21 dan jabatan fungsional asesor muda di 3:25 Badan Cyber dan Sandi Negara serta 3:29 psikolog 3:32 ee pabrik 3:33 guru. Belum lagi nih 3:35 penelitian-penelitian yang beliau 3:37 lakukan di Junar Tarbiyah, Journal of 3:41 Education in Muslim Society, Jurnal 3:44 Kebijakan dan Manajemen PNS, juga jurnal 3:49 kebijakan dan manajemen PNS yang uji 3:54 validitas dan rehabilitasi konstruk 3:58 penilaian wawancara 4:01 berbasis 4:03 kompetensi pada jabatan pelaksana. Nah, 4:08 keahlian beliau di samping sebagai 4:11 psikoterapis juga hipnoterapist, 4:14 shfter, kemudian asesor, coach, 4:16 konselor, dan juga tester. Itu adalah 4:20 latar belakang dari narasumber kita pada 4:24 kali ini, Bapak Barkah Sanyoto yang 4:28 sudah siap di sini untuk kita semua. 4:30 Kita sapa beliau. Asalamualaikum 4:32 warahmatullahi wabarakatuh. 4:33 Waalaikumsalam warahmatullahi 4:35 wabarakatuh. Sehat, bugar, aman, 4:37 terkendali ya. Alhamdulillah. Amin. Aik. 4:40 Nah, untuk kehadiran kali ini yang akan 4:45 kita bahas nih, ikhwan akhwat adalah 4:49 terkait dengan 4:52 hidup itu harus punya strategi gitu deh 4:56 kalau enggak salah ya. Persisnya seperti 4:57 apa nih? Persisnya 4:59 goal setting 5:02 bukan sekedar niat. 5:03 Tapi strategi hidup. Oke. Nah, ini 5:06 penting sekali ee para 5:11 pendengar dan pemirsa sekalian. kita tuh 5:15 kalau enggak punya gambaran tentang 5:17 hidup kita, bagaimana kita bisa 5:21 menjalani hidup kita dengan penuh 5:23 bersemangat, dengan penuh passion gitu, 5:25 dengan punya nilai-nilai diri itu enggak 5:27 kebayang seperti apa. Tapi kalau kita 5:29 bisa tahu dan menetapkan target kita, 5:33 tujuan kita mau ke depan berapa tahun 5:35 lagi, 5 tahun lagi ke depan seperti apa 5:38 ee apalagi kita tahu strategi dan 5:40 langkah-langkahnya gitu. itu insyaallah 5:44 kita akan jadi lebih terukur, terencana 5:48 dan jadi lebih bisa mengelolanya dengan 5:50 baik. Syukur-syukur langsung langsung 5:52 dikabulkan oleh Allah ya kita punya 5:54 rencana gitu. Tapi kembali lagi rencana 5:57 Allah juga ada yang lebih baik lagi 5:58 gitu. 5:59 Jadi, ikhwan akhwat, hidup harus punya 6:02 strategi. Itu setidaknya yang akan kita 6:07 simak dengan telinga jiwa kita pada saat 6:10 ini bersama Pak Barkah. Hidup harus 6:13 punya strategi. Tetapi ini kita 6:16 berhadapan dengan siswa-siswa juga 6:18 mereka juga harus punya strategi 6:19 murid-murid ini. Seperti apakah gerangan 6:21 kira-kira bahasan kita? Monggo. Iya. 6:24 Jadi, pernah enggak sih teman-teman atau 6:26 ee kakak-kakak, adik-adik ee belajar 6:30 pengin niat berubah gitu ya, tapi cepat 6:34 lupa itu contohnya misalnya pengin apa 6:37 ya contohnya pengin bisa menyelesaikan 6:41 tugas-tugas dengan deadline waktu 6:43 tertentu dengan jat tertentu ternyata 6:45 malah bisa mulor ke mana-mana atau 6:47 sederhananya pengin diet ya diet di awal 6:51 tahun terus tapi ternyata minggu kedua 6:53 sudah pengin jajan gorengan atau apa 6:56 gitu ya. Terus ee dan itu membuat yang 7:00 tadinya pengin niat berubah akhirnya ee 7:03 enggak jalan gitu. Tapi yang penting ada 7:06 juga ada orang anggap punya mitos-mitos 7:08 ketika kita punya ee meraih tujuan gitu 7:11 ya. Ada yang ya udah yang penting niat 7:14 dulu deh nanti ee juga jalan gitu. Itu 7:18 ada mitos-mitus seperti itu. Ngalir aja 7:20 enggak perlu deh kita punya 7:22 target-target. gitu kan atau ee seperti 7:27 misalnya ya sudah ikutin aja apa kata 7:29 apa rencana Tuhan gitu misal itu tanpa 7:32 kita membayangkannya atau melaksana atau 7:35 merencanakannya. Padahal di dalam goal 7:38 setting itu penetapan tujuan itu 7:40 sebenarnya kita sedang menarik sebuah 7:43 apa? Kekuatan yang paling besar dari 7:45 alam semesta untuk bisa mewujudkan 7:47 impian-impian kita. dengan kita punya 7:49 langkah-langkah 7:51 yang ingin kita capai, kita jadi bisa 7:53 lebih terarah gitu. Jadi kalau kita 7:56 sebenarnya kendaraan misalnya misalnya 7:58 Mbak Ning pengin pergi ke daerah Monas 8:02 misalnya sederhananya seperti itu, tapi 8:05 ngomong ke tukang taksinya ya suka e mau 8:08 ke mana, Mbak nih? Terserah bingung 8:11 gitu. Tapi kalau saya pengin ke Monas, 8:13 Monasnya lewat mana? apa lewat ee 8:15 Sudirman, apa lewat Senin apa lewat apa 8:19 gitu. Oh, saya mau lewat Senin itu 8:20 mungkin jadi lebih lebih jelas terarah 8:23 gitu. Jadi kalau kita sudah menetapkan 8:26 goal setting bukan sekedar niat aja tapi 8:29 kita tahu strategi-strategi kita harus 8:31 naik apa mau ke sana strateginya apa, 8:35 terus berapa lama yang harus kita capai 8:38 terus usahanya usahanya seperti apa, 8:40 siapa saja yang terlibat untuk 8:42 mewujudkan impian-impian kita. 8:45 Terus dan itu membuat kita jadi lebih 8:48 bermakna bermakna dalam artinya kita 8:49 jadi lebih happy ujung-ujungnya lagi 8:52 menjadi lebih happy ketika kita bisa 8:53 menjalankan ee minat-minat tersebut atau 8:56 goal-gol tersebut bisa terwujud dengan 8:59 baik dan benar seperti itu. Mbak 9:02 anak-anak 9:04 perlu dibantu menanamkan tentang goal 9:08 setting mereka. I biasanya kesulitannya 9:10 ada di titik mana nih? 9:12 biasanya terletak di kesulitannya ketika 9:16 anak itu ee belum punya informasi 9:21 belum punya informasi tentang 9:23 impian-impian mereka. Nah, selama ini ee 9:27 saya pernah terlibat ini Mbak Ning, 9:28 terlibat dalam proses pembuatan buku 9:31 tentang ee sekitar 50 apa 60 tentang 9:35 profil ee pekerjaan target target dari 9:39 sebuah pekerjaan-pekerjaan tersebut. 9:41 Kenapa itu dibuat pada waktu itu? Karena 9:44 memang harus kita harus dikenalkan bahwa 9:46 pekerjaan-pekerjaan atau ee minat-minat 9:48 atau profesi-profesi di ke depan hari 9:50 itu bukan hanya cuma guru 9:53 atau tentara 9:55 atau apa misalnya masinis yang 9:57 terlihat-terlihat itu sebenarnya banyak 9:59 hal gitu ya. minat-minat atau apa 10:01 gol-gol yang bisa ditargetkan untuk bisa 10:04 diwujudkan oleh seorang anak itu bisa 10:06 dilakukan dengan proses komunikasi yang 10:08 baik antara ee orang tua dengan anak 10:11 seperti itu. MB. Jadi lagi-lagi harus 10:16 ada ee kolaborasi pikiran ya iya antara 10:20 anak kita dan karena informasi yang 10:23 mereka dapat itu justru akan menggiring 10:25 mereka ke mana. Betul. Tanpa itu bingung 10:28 juga kan. Betul. 10:30 Sampai sekarang pun juga kebanyakan 10:31 anak-anak SD, SMP, bahkan SMA juga 10:34 enggak paham gitu, enggak paham ee 10:39 saya mau ke mana sih, goal hosting saya 10:41 mau ke mana, tujuan saya mau ke mana 10:42 gitu. Akibatnya ya cuma 10:44 mengalir-mengalir situs begitu saja. 10:46 Tapi kalau ketika seorang ee orang tua 10:50 itu mau memberikan berbagai macam ee 10:55 cita-cita gitu, gambaran-gambaran ke 10:57 depannya. He tentang hidupnya dia tu 11:00 seperti apa gitu. Itu mungkin membuat 11:02 anak jadi punya tujuan dan punya 11:04 strategi, langkah-langkah untuk 11:05 mencapainya seperti apa. Jadi ketika 11:08 kita tahu tujuannya, maka motivasi ada 11:11 yang penggerak dan diri sendiri, ada 11:12 tindakan untuk bisa mewujudkannya itu 11:14 kan. 11:16 Dan karena sekarang banyak sekali yang 11:18 bisa di dapatkan oleh anak-anak kita 11:21 menonton ini, melihat ini, aku mau jadi 11:24 itu. Padahal belum tentu kemampuan 11:27 fisiknya atau ee kemampuan yang lainnya 11:31 bisa mendukung kan. Betul. Betul. Nonton 11:34 film terkait dengan ee penerbangan aku 11:38 mau jadi pilot. Iya. misalnya seperti 11:40 itu. Itu mulai dari kecil ya biasanya 11:43 mereka menyaksikan hal-hal yang seperti 11:45 itu. Bagaimana kita sebagai orang tua 11:48 memberikan gambaran kepada mereka bahwa 11:51 cocok atau tidaknya itu perlu bla bla 11:53 bla gitu. Kalau masih tahap-tahap 11:56 anak-anak itu biarkan anak bereksplorasi 11:59 saja dengan apa yang dia suka gitu. Apa 12:02 yang dia bayangkan. He. Apa yang dia 12:03 bayangkan, apa yang dia suka. He. Kita 12:06 berikan ruang, kita fasilitasi. selama 12:09 itu tidak membahayakan dirinya dia itu 12:11 kasih apa supaya anak itu punya 12:14 pengalaman experience dalam diri dia 12:17 bahwa saya pernah melakukan A B Cun 12:20 ada juga kan anak kan macam-macam ya ada 12:22 anaknya yang sifatnya aktif ada yang 12:24 sifatnya pasif nah ketika kalau anak 12:27 yangak aktif ya berarti kitanya mau 12:29 enggak mau orang tua harus memberikan 12:31 fasilitas-fasilitas 12:33 kegiatan-kegiatan yang mendukung dia 12:35 bisa bersemangat untuk menuju ee 12:37 impian-impinnya dia. Tapi kalau yang 12:39 yang pasif itu harus memang dikenalkan 12:42 gitu. Dikenalkan sambil adanya 12:45 dialog-dialog yang baik terkait dengan 12:48 pencapaian atau gol-gol yang ingin 12:49 dicapainya kayak gitu. Jadi dukung, 12:53 dukung dan dukung itu penting sekali 12:56 sambil kita pelajari kemungkinan ee 12:59 kesulitan yang harus dihadapi kalau 13:02 fisiknya misalnya tidak mendukung, dia 13:05 mau menjadi sesuatu. Betul. Betul. Bisa 13:07 cerita enggak dulu Pak Barkah waktu 13:10 masih awal-awal ee membayangkan sesuatu 13:15 terbayang jadi mentor enggak atau 13:17 kepengin enggak atau gimana? 13:20 Jadi pengalaman saya goal setting saya 13:21 itu sejak kecil saya ee memiliki apa ya 13:26 kesukaannya memang senang dikasih Tuhan 13:30 saya auditorik gitu ya. Jadi saya cepat 13:33 menangkap nada-nada. Jadi saya sejak TK 13:36 tuh guru TK saya emang sudah langsung 13:38 ngelihat tuh ee ini anak senang musik 13:41 nih. Terus akhirnya saya disuruh menjadi 13:44 penyanyi gitu. Masih kecil banget tuh 13:47 ya. Masih ke TK TK sudah. Nah, terus 13:49 setelah itu ee sepanjang SD teman-teman 13:52 saya alhamdulillah banyak dan saya jadi 13:55 tempat curhatnya teman-teman. 13:57 dari tempat curhatnya teman-teman. 14:00 Akhirnya ee dan saya senang juga namanya 14:02 melakukan refleksi diri, evaluasi diri 14:05 gitu. Dan akhirnya saya ee apa kepikiran 14:09 kalau saya jadi psikolog kayak gimana ya 14:12 kayak gitu. Terus apa yang harus saya 14:14 capai ya di sana. Maka itu saya masuk ee 14:17 langkah-langkah saya harus masuk IPA nih 14:19 gitu. Dulu kan dulu zamannya IPA IPS kan 14:21 IPA IPS bahasa saya harus masuk IPA nih 14:24 gitu. Nah, akhirnya saya masuk IPA dan 14:27 biologi. Tapi pada waktu memang saya 14:29 enggak masuk sekolah di negeri gitu. Dan 14:32 itu sebenarnya goal setting-nya sudah 14:34 runtuh lagi tuh. Kembali lagi kita harus 14:36 bangkit lagi mikir, ya udah enggak 14:38 apa-apa deh enggak dapat negeri yang 14:40 penting kita tetap bisa melanjutkan 14:42 pembelajaran sekolah gitu. Karena 14:44 keberuntungan mendapatkan sekolah yang 14:45 dirindukan pun kadang-kadang mendapatkan 14:47 hambatan. Betul. Bukan berarti hambatan 14:49 itu menghancurkan ee apa impian kita. 14:54 Betul. Heeh. Tapi kita harus harus juga 14:55 harus bisa pintar-pintar ganti strategi 14:58 gitu. Jangan kalau sudah gagal di bidang 15:01 A ternyata enggak bisa sesuai dengan 15:04 goal setting kita atau rencana kita, 15:05 terus kita langsung ngambek nyerah gitu. 15:08 Tapi kita harus bangkit lagi ganti 15:10 strategi supaya bisa mengejar gol-gol 15:13 tersebut gitu. He. Sampai akhirnya saya 15:16 bisa kuliah ee di swasta, tapi saya 15:19 punya impian lagi suatu saat awas ya 15:21 nanti saya suatu saat bisa ee apa 15:24 namanya bisa memimpin orang-orang negeri 15:26 juga gitu loh berarti untuk saya bisa 15:28 bekerja di tempat-tempat yang kumpulan 15:30 banyak orang-orang pintar semuanya 15:32 seperti itu. Saya punya cita-cita impian 15:33 seperti itu dan alhamdulillah terkabul 15:35 gitu. Jadi karena punya impian seperti 15:37 itu, goal setting seperti itu, akhirnya 15:39 saya semangat untuk terus belajar. itu 15:42 membuat ee apa punya strategi 15:44 langkah-langkah bagaimana saya harus 15:46 sampai akhir bisa seperti ini ya karena 15:48 beras dari impian-impian saya sampai 15:50 sekarang saya masih punya ini impian 15:52 kedua punya buku sendiri saya punya buku 15:56 adalah saya saya tulis tuh di buku 15:58 tersebut go setting saya saya pengin 16:00 menjadi Allah memberikan izin saya 16:02 pengin jadi seorang psikolog yang bisa 16:05 manfaat dan bisa mewarnai remaj terus 16:08 saya bisa go setting saya bisa bisa 16:11 dikenal dan ternyata alhamdulillah 16:13 banyak sudah mulai media-media sudah 16:15 mulai ada yang mau mendengarkan saya 16:17 gitu termasuk radio silaturahm betul. 16:22 Nah, bukan tanpa masalah ketika ee Pak 16:27 Barkah punya mimpi-mimpi tadi lewat 16:31 perjalanan yang sudah dilakukan 16:34 peran ayah bunda seperti apa? Karena 16:37 bagi yang dengar nih sebagai ayah ibu, 16:39 anak gue pengin atau mimpinya ini, what 16:43 should I do? Misalnya kayak gitu. Selama 16:45 ini apa peran ayah bunda? Peran ayah 16:49 bunda saya pada waktu itu menjadi 16:52 pendengar yang baik setiap keluh kesah 16:54 anaknya. Pendengar kemudian ee mengajak 16:57 diskusi dan men-support men-support 17:00 segala kebutuhan-kebutuhan ee dari ee 17:04 anaknya. Alhamdulillah saya dibesarkan 17:07 dengan dukungan orang tua sesuai dengan 17:09 passionnya masing-masing. Jadi saya kan 17:11 lima bersaudara. Jadi ayah bunda tahu 17:14 banget passion lima yang beda-beda ini 17:16 dan didukung sesuai dengan passionnya. 17:18 Betul didukung dengan passionnya. 17:20 Alhamdulillah. Dan ee dend usahakan 17:23 tetap kuncinya ketika kita goal setting 17:26 itu harus punya mental yang kuat juga 17:30 untuk bisa mencapainya gitu. Enggak 17:32 sekedar cuma difasilitasi, tapi ada 17:35 kekuatan apa ya? Prihatinlah kalau orang 17:38 Jawa bilang, "Bu Ning ya, Mbak Ning itu 17:41 apa? Kita harus prihatin untuk ee bisa 17:44 mencapai itu." Karena kalau ketika kita 17:47 prihatin, kita mau apa namanya? Berusaha 17:51 berikhtiar lahir maupun batin, 17:53 insyaallah kita akan tercapai. 17:55 kita tentu di balur dengan dambah doa 18:02 kepada Allah Subhanahu wa taala. Betul. 18:04 Betul. Di apa dalam lingkaran itu ya 18:07 tidak bisa tidak ya. Betul. Nah, kalau 18:11 em terkait dengan mimpi dan segala 18:14 macamnya kadang-kadang kita perlu idola 18:18 untuk membuat kita melangkah atau 18:20 bermimpi seperti itu. Heeh. 18:22 Seperti apa sih peran idola bagi 18:25 kita-kita anak-anak ini? Ya, idola itu 18:29 penting. Penting dalam kita mewujudkan 18:32 impian-impian kita. He. Ketika kita 18:34 pengin menjadi 18:37 seseorang apa gitu ya, saya contohnya 18:39 menjadi seorang psikologi waktu itu 18:41 mengidolakan Sarlito Wirawan. Hm. Gitu. 18:44 Terus ada lagi Seto Mulyadi. Pak Seto 18:48 Mulyadi itu yang saya pengin seperti itu 18:50 gambarannya. Jadi kok dia bisa ya 18:53 seperti kesampean seperti itu gitu. Dan 18:55 saya lihat ee track record-nya seperti 18:57 apa, apa yang dia lakukan, apa yang dia 18:59 pelajari gitu. Itu penting banget. Tapi 19:03 pastikan hati-hati sekarang, anak-anak 19:05 sekarang juga salah. Kadang-kadang juga 19:07 suka salah loh dalam mengidolakan 19:09 seseorang gitu. Mungkin pemahamannya 19:11 yang belum lengkap. Jadi cuma sekedar 19:13 suka secara physically aja, tapi enggak 19:15 tahu value-value di balik belakangnya 19:17 itu seperti apa. Jadi ada pengalaman ee 19:21 saya mengalami apa namanya? 19:24 Ada klien saya idolanya adalah seorang 19:27 Kpop gitu. Heeh. Terus roleplay-nya 19:31 adalah ee Kpop dia tapi ee tapi bukan 19:35 lebih ke semangat pembelajarnya, tapi 19:37 lebih ke semangat senang-senangnya aja 19:39 gitu kan. sayang sekali. Harusnya ketika 19:41 dia Kpop, dia harusnya cari apa yang 19:44 membuat dia berhasil, apa yang membuat 19:46 dia semangat. Pada saat dia gagal, 19:49 bagaimana cara dia menumbuhkan, 19:51 menaikkan kegagalan-kegagalannya itu 19:52 menjadi suatu hal yang positif itu aja. 19:54 Tapi kadang-kadang anak-anak sekarang 19:55 cuma ngelihat tampilan luarnya saja. 19:57 Rolnya, role modelnya itu cuma tampilan 19:59 model luarnya saja. Tapi tidak, tidak 20:02 melihat apa yang membuat dia berhasil. 20:05 Kenapa dia berhasil? kesedian-kesedian 20:07 apa saja dilewatin, tantangan-tantangan 20:09 apa yang dilewatin itu kadang enggak 20:10 anak-anak sekarang enggak ngelihat 20:11 seperti itu. Cuma sekedar fisiknya saja. 20:14 Nah, pertanyaannya adalah seberapa besar 20:18 peran kita sebagai orang tua membuat 20:20 anak-anak mencari idola, bukan cuman 20:24 sekedar menikmati ke kerenannya atau 20:27 kesuksesannya. 20:29 Dengar kembali lagi, banyakin ruang 20:31 dialog dengan anak. ngobrol 20:35 penyakit ruang dialog dengan anak dengan 20:37 cara bertanya atau mau enggak mau 20:39 sekarang generasi-generasi 20:42 ee orang tua harus kepo gitu ya, kepo 20:45 dengan apa yang terjadi sama anak-anak 20:47 kita, teman-teman kita. Dulu banyak 20:49 orang enggak tahu loh Kepo itu apa. Oh, 20:50 IO Kepo itu pengin tahu banget gitu. 20:52 Penasaran, penasaran, penasaran pengin 20:55 tahu banget gitu ya tentang hal-hal ee 20:58 terkait apa yang diidamkan, apa yang 21:01 diidolakan tuh kita perlu tanya-tanya 21:03 gitu dengan cara kenapa milih dia, apa 21:07 yang menarik dari dia, semangatnya dia 21:09 seperti apa, sudah mengeksplore apa aja 21:11 gitu. Jangan cuma ee tahu tentang idol 21:15 lain, tapi enggak tahu untuk 21:16 menyelusurinya. Kan percuma kita minat 21:18 terhadap sesuatu misalnya kita pengin 21:20 pergi ke mall Pondok Indah misalnya tapi 21:23 kita enggak tahu dalamnya Pondok Indah 21:24 itu apa gitu. Iya. Karena ada pengalaman 21:27 di tempat saya itu dia goalnya adalah 21:30 Min sekolah kedinasan 21:33 tapi dia tidak tahu tidak mau mencari 21:34 tahu tentang sekolah kedinasannya itu 21:36 seperti apa sih gitu. Mengerjakan apa 21:39 nanti targetnya mau jadi apa. Enggak 21:41 tahu tertarik-tarik aja tapi enggak tahu 21:44 gitu. Nah, akhirnya kan dia enggak tahu 21:47 strategi-strategi apa saja yang harus 21:49 disiapkan 21:50 untuk bisa mewujudkan untuk supaya dia 21:53 bisa masuk ke sekolah kedinasan tersebut 21:56 seperti itu. Jadi itu yang membuat ee 21:59 akhirnya ee ketika dia masuk pun ya 22:01 sudah cuman gitu aja, tapi enggak punya 22:04 dorongan untuk menjadi yang terbaik 22:08 karena dia enggak punya goal-goal yang 22:09 spesifik, enggak punya apa ee 22:12 target-target yang jelas dia pengin 22:14 menjadi apa yang bisa bermanfaat buat 22:15 dirinya dia dan lingkungannya. 22:18 Gambaran ini menjawab enggak kalau anak 22:21 kita ternyata enggak punya idola? 22:24 Iya ya. Gimana kalau anak kita mang 22:26 enggak punya idola? Ada sesuatu toh yang 22:29 harus kita lakukan? Iya. Tidak mungkin 22:32 kita biarkan saja dia tumbuh tanpa 22:34 idola. Betul. Kalau idolanya ayahnya. 22:36 Nah, paling benar adalah yang kesuksesan 22:40 sebuah rumah tangga adalah ketika 22:43 anaknya itu mengedolakan orang tuanya. 22:46 Berarti kan ee intens ya apa kelekatan 22:49 attachment antara orang tua dengan 22:51 anaknya itu berarti ketemu banget gitu 22:53 sampai oh gua nge-fans banget. Saya 22:55 nge-fans banget sama ayah saya. Ah saya 22:57 nge-fans banget sama ibu saya. Kenapa 22:59 sih? Karena ayah saya karakternya gini 23:01 gini gini gini. Ibu saya karakternya 23:02 gini lebih ke karakter seperti itu. Dan 23:06 itu perlu juga ditanya gitu. Tapi 23:08 kadang-kadang orang tua juga suka malu 23:10 gitu. Kadang kenapa sih pilih ibu 23:12 sebagai ini e idolanya? masa sih 23:15 gini-gini gitu. Itu berarti bersyukur 23:16 kita sudah bisa jadi idola. Tapi kalau 23:18 yang orang tua yang enggak bisa jadi 23:21 idola buat anaknya, berarti kudu 23:22 introspeksi, harus introspeksi gitu. Apa 23:25 yang menyebabkan mereka enggak mau 23:27 mengidolakan? Nah, ketika anak enggak 23:29 punya idola, berarti kurang lagi 23:32 informasi. tambahin lagi informasi, cari 23:35 lagi, kasih kasih ke dia, bisa 23:37 pengetahuan, bisa buku, bisa mencari ee 23:40 tempat-tempat yang bisa menginspirasi 23:43 dia dengan tadi apa misalnya ses kembali 23:46 lagi dengan multiple intelligence itu 23:48 dengan minat-minat, pintu-pintu minat 23:50 itu macam-macam itu juga bisa jadi salah 23:52 satu cara untuk menemukan idola-idolanya 23:55 tersebut gitu. banyakin 23:57 informasi-informasi sehingga nanti dia 23:59 bisa memilih mana yang paling sesuai 24:01 sama dirinya dia. Jadi memang sangat 24:03 penting ya seseorang mempunyai idola. 24:06 Penting itu sangat penting itu menjadi 24:08 penyemangat menjadi bumbu sedap bagi 24:12 perjalanan hidup seseorang. Ya, betul. 24:14 Karena kalau enggak ada idola ya kita 24:16 enggak kebayang seperti apa ya gitu. 24:19 Enggak kebayang kita pengin gambarannya 24:21 kayak gimana gitu. Tapi kalau ketika 24:23 kita punya idola, 24:25 kita jadi tahu langkah-langkah ternyata 24:27 orang lain tuh bisa ya gitu. Orang lain 24:30 tuh bisa menjadi sukses seperti itu ya 24:31 gitu. Berarti saya juga pasti akan bisa 24:33 karena kan sebenarnya pada dasarnya 24:35 setiap itu ATM kan amati, tiru dan 24:38 modifikasi. 24:40 Dengan kita punya goal, maka kita 24:43 tugasnya adalah mengamati kemudian tiru 24:45 apa yang baik-baik dari dia, 24:46 langkah-langkahnya apa, strateginya apa, 24:48 dan modifikasi enggak plek ketiplek 24:51 seperti itu. C tahu modifikasi kita 24:53 lebih jual lebih bagus, betul tapi jadi 24:54 lebih bagus lagi gitu. Jadi membuat ee 24:58 yang tadinya si ee kerennya bisa jadi 25:00 angka tuuh, kalau saya bisa jadi 25:02 angkanya jadi gitu. Jadi lebih better 25:05 lagi. Siapa tahu kemampuannya juga 25:07 memang lebih betul. Iya. Jadi, ikhwan 25:11 akhwat perlu banget ATM meskipun enggak 25:14 bisa diambil di setiap pinggir jalan 25:17 karena ATM yang itu berbeda. Tetapi 25:20 tetap saja diperlukan ATM untuk 25:22 membimbing, mendampingi anak-anak kita 25:26 agar perjalanan meraih menuju apa yang 25:29 dirindukan, diimpikan bisa menjadi lebih 25:32 mudah terwujud. Oke, kita jeda sejenak 25:34 nanti kami kembali ke ruang dengar Anda 25:37 bersama Bapak Barkah yang luar biasa 25:41 sekali. 25:43 [Tepuk tangan] 25:48 [Musik] 25:54 Terima kasih masih bersama Radio 25:57 Silaturahim. 25:58 Terima kasih untuk radio-radio yang juga 26:00 sudah menyimak serta menyebarluaskan 26:04 siaran ini. Hari ini di jendela sekolah 26:07 kita hadirkan Bapak Barkah Sanyoto yang 26:11 sungguh sangat luar biasa. Mudah-mudahan 26:13 benar-benar bisa mempersuasi dan 26:15 memotivasi kita semua ya. He. Emm, Pak 26:18 Barkah terkait dengan tujuan yang 26:22 spesifik tadi itu kalau sudah ke apa 26:25 namanya idola sudah ada dan untuk 26:29 memiliki tujuan yang spesifik tapi 26:31 sekaligus menantang tuh sebetulnya susah 26:33 enggak sih? Sebenarnya sih ee enggak 26:37 susah-susah banget sih gitu. He karena 26:40 banyak teori-teori yang sudah 26:43 menyebutkan ada banyak 26:44 penelitian-penelitian yang sudah 26:45 menyebutkan untuk bisa membuat tujuan 26:48 yang spesifik dan menantang itu he ee 26:51 ada beberapa hal. Yang pertama harus 26:54 clarity atau jelas tujuannya. Jelas 26:57 jelas tujuannya tuh harus spesifik dan 27:00 tidak ambigu, tidak memiliki dua 27:02 perspektif atau dua persepsi gitu. 27:05 Misalnya ee target saya adalah di 27:08 semester ini nilai ujiannya itu harus 27:13 85. Itu spesifik. Tapi kalau yang enggak 27:15 spesifik pokoknya saya ingin lebih baik 27:17 aja di sekolah. Itu enggak spesifik kan 27:19 enggak ada ukurannya. Jadi yang lebih 27:22 ideal adalah yang spesifik spesifik dan 27:24 ada ukurannya gitu. He. Saya harus 27:27 berhasil meningkatkan ee pendapatan saya 27:32 tahun ini misalnya misalnya berapa 27:34 rupiah, besok berapa rupiah gitu gitu. 27:37 Itu spesifik. Jadi ada ukuran angkanya 27:39 itu lebih jelas. Maka itu kami dalam ee 27:42 biasanya saya kalau lagi proses coaching 27:44 gitu ya, ketika ingin melakukan 27:46 perubahan-perubahan perilaku gitu, 27:48 goalnya apa nih dari seorang klien gitu? 27:52 Kamu pengin dapat senang? Senang itu 27:53 dinilai berapa? Saya pengin senang aja. 27:56 Tapi kalau senangnya enggak tahu kan 27:57 senangnya berapa. Tapi kalau tahu 27:59 senangnya itu di skala berapa antara 1 28:00 sampai 10. Di skala ee 9 misalnya. Coba 28:05 gambarkan angka nya seperti apa gitu. 28:08 Atau saat ini sekarang di skala berapa? 28:09 Misalnya saat ini cuma di skala lima 28:12 dengan seperti apa apa-apa. Jadi dengan 28:15 membuat mengangkakan itu membuat kita 28:17 gambarnya lebih jelas dan spesifik. 28:20 seperti misalnya targetnya saya harus ee 28:23 misalnya menikah misalnya saya targetnya 28:25 harus menikah di usia berapa itu juga 28:27 harus jelas di bulan apa kalau perlu di 28:30 tahun berapa itu lebih lebih spesifik 28:33 lagi itu. Jadi dengan ukuran-ukuran jam 28:37 hari bulan, gitu kualit kuantitasnya itu 28:41 itu bisa jadi lebih jelas. Kemudian ada 28:43 juga challenge tantangan. Yang kedua 28:46 tantangan 28:47 tujuan itu juga harus cukup sulit. atau 28:50 memacu adrenalin, 28:52 tapi juga tetap harus realistis gitu ya. 28:56 Karena ketika kita 28:59 ada tantangan itu kita punya punya 29:01 tanggung jawab gitu. Sama ketika saya 29:04 di-challenge sama ee Rasil untuk isi ini 29:07 gitu, 29:09 untuk mengisi ee apa kegiatan ini ya. 29:13 Saya akhir punya tantangan nih, saya 29:15 harus bisa memunculkan ee 29:17 pikiran-pikiran, ide-ide sampai tema. 29:20 Sampai kemarin pas ditanya sama ee Mas 29:22 Krishna gitu, mau ngambil judul apa? Apa 29:26 yang maha apa gitu menariknya apa gitu. 29:29 saya jadi sampai harus cari, saya harus 29:31 mencari bahan, saya harus mencari 29:33 jurnal-jurnal, saya harus banyak 29:34 membaca, akhirnya bisa mereferensi bikin 29:37 resensi seperti itu. Dan itu harus dan 29:39 itu membuat tantangan saya jadi naik dan 29:41 adenaran saya jadi naik gitu. Dan itu 29:43 membuat harga diri saya juga jadi 29:45 prit-nya jadi nambah gitu. Yang ketiga 29:48 adanya komitmen. 29:51 Nah, jadi ada clarity, terus ada 29:53 tanggung jawab, dan ada sekarang 29:55 komitmen. 29:57 Komitmen itu perlu ee ada sori tadi 30:01 pertama ada kejelasan, yang kedua ada 30:03 tantangan, yang ketiga ada komitmen. 30:05 Jadi komitmen itu adalah ketika kita 30:07 sudah mengambil keputusan untuk untuk 30:12 memilih goal setting kita, maka sesulit 30:16 apapun, seberat apapun harus dijalanin. 30:20 Itulah tantangan. Itu tantangan gitu. 30:24 Karena dan biasa anak-anak sekarang itu 30:26 yang berkomitmen Mbak Ning gitu. Karena 30:30 pernah dapat cerita dari teman saya 30:31 juga. Iya. Anak saya tuh ee dia kan 30:35 atlet atlet renang gitu. Dia atlet 30:37 renang. Anak saya senang sih main 30:39 awalnya bilangnya senang sih main apa 30:41 namanya? Main di kolam renang gitu. Tapi 30:43 ketika sudah jadi atlet renang itu mau 30:46 enggak mau bangun pagi jam . Jalan orang 30:50 tuanya harus ke situ terus berenang 30:53 dalam keadaan dingin-dingin. Itu kan 30:55 komitmen gitu yang harus dihadapin dan 30:57 harus dilewatin. Karena kalau enggak 30:59 pakai komitmen dia enggak bakalan bisa. 31:01 Jadi enggak bisa ngatasi 31:03 kesulitan-kesulitan yang dihadapi gitu. 31:05 Kemudian kita juga perlu umpan balik 31:08 atau feedback dari orang-orang sekitar. 31:10 Kita perlu menanyakan sampai saat ini 31:12 menurut kamu saya seperti apa sih 31:15 seat-sempat ini progres saya sudah 31:17 seperti apa gitu. Dan kita perlu juga 31:19 dikasih masukan dan saran gitu kepada 31:22 apa dari orang-orang sekitar kita yang 31:23 care sama kita, yang sama kita, maupun 31:25 mungkin orang-orang yang mungkin yang 31:27 enggak benci kita bisa jadi masukannya. 31:29 Iya. Jadi justru malah lebih jujur 31:32 itu bagian dari feedback dan umpan balik 31:35 terhadap tantangan-tantangan kita. 31:36 Mungkin kadang-kadang kalau dengar saya 31:38 e pernah ngelihat di podcast-podcast 31:39 tertentu gitu, justru ee justru 31:43 cibiranci cibiran dari netizen gitu ya, 31:46 kadang-kadang itu bisa jadi umpan balik 31:48 sebenarnya gitu. Memperbaiki yang kurang 31:51 sekaligus bisa membuat jadi akil goal 31:53 settingnya bisa bertambah lagi. Kemudian 31:56 ee ada kompleksivitas tugas. gitu. Jadi 32:00 untuk tugas-tugas yang rumit itu kita 32:02 perlu strategi, perlu langkah-langkah, 32:05 perlu upaya untuk bisa mewujudkan itu 32:08 gitu. Karena kalau enggak ada strategi 32:11 ya ngacau aja gitu. Karena enggak ada 32:13 langkah-langkah yang jelas, enggak ada 32:15 langkah-langkah yang spesifik yang perlu 32:16 di ee kuasai atau perlu dilewatin gitu. 32:20 Dan kita harus sadar diri bahwa ketika 32:22 kita pengin mencapai target tersebut ya 32:25 kita harus lewatin itu. Walaupun kita 32:27 mungkin awalnya takut gimana bingung 32:30 gitu tetap harus lewatin karena itu 32:32 bagian dari upaya kita menuju kesuksesan 32:34 kita kayak gitu Mbak. Iya. Nah, 32:37 sementara 32:39 kalau kita mau memutuskan atau 32:41 menentukan gol kita itu enggak gampang 32:44 loh. Karena begitu banyak hal-hal yang 32:47 keluar masuk lalu lalang dalam benak dan 32:50 pikiran kita. Iya. Di dalam perjalanan 32:54 karir ee Pak Anda, apakah ada metode 32:57 tertentu untuk itu semua? Ada. Namanya 33:01 smart metodenya. Bagi-bagi dong. Iya. 33:05 Jadi metodenya tadi spesifik. Jadi kita 33:07 jadi uraian tadi yang kita di atas itu 33:09 bisa kita singkat lagi jadi smart 33:12 spesifik 33:13 spesifik. M-nya itu measurable harus 33:16 terukur tadi itu harus ada ukuran 33:19 before-nya apa, after-nya apa, terus 33:22 gap-nya apa dalam menuju before 33:24 after-nya itu tantangannya seperti apa, 33:27 terus achievable enggak? Bisa tercapai 33:29 enggak gitu. 33:31 Kira-kira kita ngukur tadi itu kapasitas 33:33 kognitif kita, fisik kita, finansial 33:37 kita finansal juga termasuk 33:40 terus dukungan support sistem kita, 33:42 keluarga bisa dicapai atau tidak gitu. 33:46 Terus relevan enggak sama nilai-nilai 33:48 hidup kita? Karena setiap orang pasti 33:49 kan punya nilai-nilai hidup ya. Enggak 33:51 semua orang ee cocok sama bidang A, tapi 33:55 cocoknya di bidang B atau kebalikannya. 33:57 Ini yang juga harus dipertimbangkan. 33:58 Iya. 33:59 Hi gitu ya. Terus ada berani bikin 34:04 tenggang waktu. T-nya tuh time bone ada 34:07 tenggang waktunya. Perlu kita pastikan 34:10 berapa lama kita mencapainya gitu. Kalau 34:13 kita sudah berani menentukan berapa lama 34:15 kita mencapainya, ya kita sampai apa 34:18 usahakan aja dulu sampai mana. Kalau 34:21 enggak capek kita bikin lagi. He 34:23 tenggang waktu berikutnya supaya 34:25 metode-metode mencapai goalnya tersebut 34:28 bisa tercapai. 34:30 Jadi smart itu singkatan, ikhwan-akhwat. 34:34 S-nya adalah spesifik, M-nya adalah 34:38 miserable, A-nya adalah achievable, 34:41 kemudian dilanjutkan dengan relevan dan 34:43 time 34:45 iya iya. Kemudian kalau 34:50 hambatan itu kan enggak pernah enggak 34:52 datang ya. Iya. Dalam kita menentukan 34:54 gol kita, mimpi kita itu selalu saja 34:57 datang dan pergi dan kayaknya 34:58 menggodanya luar biasa. Bagaimanakah 35:01 menghadapi semua itu? Nah, sekarang kita 35:03 harus pastikan dulu hambatan dalam diri 35:05 kita lebih banyak di luar apa lebih 35:06 dalam. Biasanya dari dalam. 35:10 Contohnya apa? Rasa malas ya. Iya, itu 35:13 pasti rasa malas dan itu efeknya adalah 35:16 jadi kita menunda-nunda. He. Nah, kayak 35:18 kemarin saya perdengar cerita ada ada 35:20 tergantung tergantung lagi sama 35:22 karakteristik seorang lagi. Ada orang 35:24 yang tipenya senang membuat jadwal. 35:27 Akibatnya dia enggak bakal menang-nunda. 35:28 Dia pasti tertib aturan gitu. Tapi ada 35:31 juga yang orang yang senangnya di 35:33 akhir-akhir 35:35 akhirnya menunda-nundan itu bisa jadi 35:37 akhirnya effortnya tenaganya habis habis 35:39 di akhir. Tapi justru jumlah idenya 35:41 muncul di situ. Tapi sebenarnya itu 35:43 enggak bagus juga karena dia enggak 35:44 punya enggak punya apa namanya side 35:46 planning berikutnya gitu. Lebih baik 35:49 kita sudah ngatur waktu, jadwal 35:53 standarnya apa, terus membuat plan A, 35:57 plan B, plan C ketika tidak terwujud. 35:59 Nah, nah itu kadang-kadang hambatan dari 36:01 kita, kita suka menunda-nunda, 36:04 menunda-nunda dan kita mengerjakan 36:06 hal-hal yang ee apa ya, yang spele-spele 36:10 yang sebenarnya enggak bisa membuat kita 36:12 jadi berkembang dengan baik. Westing 36:14 time, wasting time. Jadi dia kayak 36:16 scroll-sroll gitu kan sekarang. Ya 36:18 Allah, media 36:20 macam-macam itu online itu membuat kita 36:23 t waktunya sudah 2 jam 3. Padahal 36:26 sebenarnya kalau pikirpir ya Allah 36:27 sebenarnya kok 2 jam bisa ngerjain baca 36:29 Al-Qur'an lah minimal gitu ya sudah bisa 36:31 1 juz 1 seteng juz gitu kan sudah bagus 36:34 gitu. Yang kedua kurang dukungan. Heeh. 36:38 Gitu ya. Kurang dukungan dari ee 36:41 teman-teman kita, orang tua kita. 36:43 [Musik] 36:45 kita mungkin enggak mengkomunikasikan 36:47 apa yang kita inginkan, apa yang kita 36:49 harapkan sehingga ee teman-teman, orang 36:53 tua atau istri atau suami kita atau itu 36:57 tidak bisa memberikan support sistem 36:58 yang baik buat kita. Berarti dalam hal 37:01 ini kita harus terbuka menyampaikan 37:03 betul gol-gol kita, impian-impian kita. 37:06 Jadi kita harus sampaikan kamu dukung 37:08 butuhnya apa dukungannya? dukungan 37:11 materi, dukungan waktu, dukungan 37:14 kesempatan apa dukungan apa itu harus 37:15 sampaikan dan itu perlu latihan. 37:19 Itu perlu kayak kemarin juga saya juga 37:20 baru baru ee mengkonseling teman saya 37:23 juga. Jadi ketika dia mendapatkan 37:26 dukungan dari lingkungan support sistem 37:28 dari sekitar, dia lebih tenang, lebih 37:29 aman dibanding dia tidak memiliki 37:32 gambaran, dia punya dukungan gitu. Itu 37:35 akhirnya membuat dia enggak bersemangat 37:37 untuk mencapai targetnya. Jadi peran 37:39 dukungan ini tinggi sekali. Tinggi 37:41 sekali gitu. Di samping memotivasi juga 37:45 membuat ee kalau apa namanya? Patah hati 37:49 itu tetap bangkit. G betul. 37:52 Terus hambatan berikutnya kadang-kadang 37:54 kita enggak konsisten sama mencapaian 37:56 goal target kita adalah perfeksionis. 37:58 He. Nah, kalau orang perfeksionis kan 38:00 berarti kan maunya bagus bagus bagus 38:04 terus akibatnya tapi kadang-kadang 38:06 enggak maju-maju. Iya. memiliki standar 38:09 yang tinggi banget tapi enggak maju-maju 38:13 akhirnya di muncul muncul adalah 38:14 kecemasan. 38:16 Harusnya kita juga punya boleh 38:19 perfeksionis tapi juga harus realistis. 38:21 Enggak ada manusia sempurna. Iya betul. 38:24 seperti perisan juga perlu ya realistis 38:27 dengan kita menetapkan kalau kita enggak 38:29 tercapai di angka 10 atau misalnya 38:32 seperti itu kita punya plan B ya sudah 38:34 di angka 7 atau 8 sudah cukup tapi kita 38:38 upayakan ya di angka 10 karena kalau 38:40 usaha tetap 38:42 nerimo betul seperti itu. Kalau ketika 38:45 kita sudah merasa apa namanya ee karena 38:49 efek perpeksional itu akhirnya bikin 38:51 stuck di di kepribadian kepribadian 38:53 tertentu itu akhirnya malah enggak 38:55 maju-maju 38:57 karena stuck bingung mau ngapain gitu 38:59 karena ada standarnya harus tinggi gitu. 39:02 Nah, tapi kalau ketika kita turunin ego, 39:05 kita turunin ee harapan-harapan kita 39:08 turunin aja untuk sementara tapi 39:10 insyaallah akan bisa tercapai gitu. itu 39:14 tantangan-tantangan ketika kita ee 39:16 pengin konsisten terhadap goal setting 39:18 kita. Termasuk juga ee perfeksionis 39:23 terhadap pilihan C ya. Iya. Enggak 39:26 dapat-dapat karena tidak sesuai dengan 39:28 apa yang ee dikategorikan tadi ya. Iya 39:32 betul. Diturunin ya kan katanya tadi 39:35 kalau enggak 10 ya delu gitu kan. Betul. 39:38 Oke. Jadi di samping jangan suka 39:40 menunda, jangan pula kurang dukungan. 39:44 Cari deh tuh entah di mana. Jangan 39:47 terlaluis. Terus ada lagi itu aja dulu. 39:50 Itu aja kalau bisa diupayakan sudah luar 39:53 biasa banget ya. Iya. Oke. Kemudian ee 39:57 maka itu ada tambahan ini untuk bisa 39:59 mewujudkan itu perlu ada kita buat 40:02 rencana. Hm. Gitu ya. Perlu buat 40:05 rencana. Rencana. per minggu dulu 40:09 rencana mini per mingguan terus perlu 40:12 adanya ee bertahap jadi tracking dan 40:16 refleksi mingguan 40:18 gitu terus perlu adanya partner atau 40:21 evaluasi dan untuk bisa motivasi kita 40:23 jadi itu dukungan tadi ya partner untuk 40:25 bisa mendukung evaluasi ee harapan kita, 40:28 gol-gol kita bisa tercapai 40:31 gitu Mbak. Jangan sampai satu di antara 40:34 yang barusan disebutkan kita abaikan 40:36 karena sudahlah enggak perlu gitu ya. 40:37 Iya. He. 40:40 Ini terkait dengan bagaimana kita, 40:43 bagaimana anak-anak. Nah, sekarang kalau 40:44 kita kembali ke kelas nih. Heeh. Ke 40:46 kelas guru itu emang mudah ya memahami 40:51 bagaimana karakter masing-masing dari 40:54 siswa-siswa kita. Apalagi kalau baru 40:57 masuk ya, baru kelas baru dimulai atau 40:59 bagaimana. Ada enggak sih metode 41:01 tertentu untuk bisa mengaplikasikan kita 41:05 jadi paham terkait dengan karakter ini? 41:07 Ee bisa ee ada berbagai macam tools 41:11 dalam melakukan proses penilaian ya. 41:12 Jadi penilaian kelas namanya ya, asesmen 41:15 kelas bisa metode observasi. Satu 41:17 observasi adalah metode untuk melihat 41:19 kebiasaan-kebiasaan yang sering muncul 41:21 dan itu memang perlu dibentuk jurnal per 41:23 anak per siswa gitu. dibuat jurnal 41:27 melihat karakter-karakteristik yang 41:29 spesifiknya itu seperti apa. Satu itu. 41:31 Yang kedua ee perlu dilakukan tes. Bisa 41:35 tes ee multiple intelligent research 41:38 atau bisa juga tes ee tes apa namanya? 41:42 Tes DISC. Tes mengukur kemampuan ee gaya 41:46 belajar juga bisa kita cek. Terus tes 41:51 minat bakat juga perlu juga. itu bisa 41:54 untuk memastikan tipe-tipe 41:56 kepribadiannya seperti apa sehingga 41:58 nanti ee perlakuan guru kepada muridnya 42:02 sesuai dengan kebutuhannya. 42:04 Itu mang perlu harus di evaluasi, dites, 42:08 dipastikan 42:10 dan itu durasinya kalau untuk evaluasi 42:12 bisa seminggu sampai 2 minggu. itu 42:14 perilaku apa saja yang sering muncul 42:16 baru kita kasih treatment untuk bisa 42:18 memastikan karakternya sesuai dengan 42:20 kebutuhan-kebutuhannya seperti apa. Itu 42:23 awal siswa masuk atau karena kan ngajar 42:28 kelas ini, kelas ini, kelas ini kan 42:29 gurunya juga berbeda. Sementara nanti 42:31 begitu naik ke kelas berikutnya gurunya 42:34 lain lagi. Padahal yang harus memahami 42:36 ini adalah sang guru. Iya. Jadi gimana 42:38 awal-awal masuk itu paling lebih baik. 42:41 lebih baik di awal masuk ee mungkin 42:44 seminggu awal masih kan Mas orientasi 42:46 ya. Nah, masih orientasi itu dilakukan 42:49 tes 42:50 tes ee karakter, melihat karakter, terus 42:54 bisa juga bisa juga siswanya dibuat self 42:58 self report tu diri sendiri. membuat 43:00 kekuatan dia apa, kelemahan dia apa, di 43:03 dalam tulisan yang dikumpulkan, hobinya 43:05 apa, gaya belajarnya kayak gimana dia 43:07 senangnya belajarnya, metodenya apa, 43:09 dikumpulkan nanti setelah itu bisa 43:11 diklasifikasikan, nanti baru bisa sesuai 43:14 dengan ee apa bikin kurikulum atau ee 43:17 apa namanya pembuatan perencanaan 43:18 belajarnya seperti apa nanti bisa 43:20 disesuaikan dengan seperti itu. bisa 43:22 juga menukkan namanya self report-nya 43:23 dia seperti apa dan itu hasilnya atau 43:26 apapun juga yang ditemukan dari apa yang 43:29 barusan dilakukan dipahami semua 43:32 pendidik di situ. Betul. Disampaikan 43:34 dalam rapat kelas seperti itu. Dari tadi 43:40 begitu banyak yang bisa kita dengar nih, 43:42 Pak Barkah. Tapi ngomong-ngomong mimpi 43:46 itu adalah sesuatu yang bagi banyak 43:49 orang perlu perjuangan berat. 43:52 Tipsnya apa dong biar bisa meraih mimpi? 43:55 Tipsnya yang pertama tadi jangan malas 43:57 udah tahulah. Iya pasti ya. Yang lainnya 44:00 yang kira-kira tips yang pertama adalah 44:02 tadi menggunakan gun e rumus smart tadi 44:04 itu ya. Oh yang tadi spesifik measurable 44:08 achievable relevant dan time bond. He 44:12 yang kedua mulai dari hal-hal yang kecil 44:15 dan sederhana 44:17 itu pasti lebih ringan dibanding kita 44:20 ngebayangnya yang besar-besar gitu. 44:23 Kenapa kita karena dari mulai dari yang 44:25 kecil dan ternyata berprestasi dan kita 44:27 bisa melewati itu sebenarnya sudah bisa 44:30 menimbulkan kepercayaan diri bahwa oh 44:31 kita mampu loh. Berarti PD harus 44:33 digenggam erat. Iya tapi harus di 44:36 lewatin itu. Lakukan aja dulu gitu. 44:38 Lakukan aja dulu gitu. Tapi 44:39 kadang-kadang orang kan enggak mau 44:41 melakukannya dulu. Lakukan aja dulu apa 44:43 yang emang bisa kamu lakukan gitu. 44:45 Jangan menunggu harus besar gitu. Tapi 44:48 hal-hal kecil-kecil hal-hal besar itu 44:50 dimulai dari hal-hal yang kecil. Yang 44:52 ketiga, fleksibel itu bukan gagal gitu. 44:56 Jadi kalau ternyata enggak sesuai 44:58 merencana, evaluasi dan sesuaikan itu 45:01 lebih baik daripada memaksakan gitu. 45:04 Jadi ada teman saya yang dia tidak dapat 45:07 di sebuah perguruan tinggi tertentu. He. 45:10 Terus dia kebingungan. 45:12 Terus akhirnya karena dapat informasi 45:15 temannya untuk pindah ke sekolah yang 45:18 bisa sebenarnya dilewatin, dia akhirnya 45:20 bisa pindah di situ. Walaupun dia punya 45:22 ee punya apa ya? Punya trauma sebenarnya 45:26 pada saat dia gagal. 45:28 Dan itu dia bisa rilis trauma itu ketika 45:31 dia sudah bisa, oh ternyata sih bisa 45:33 mampu juga kok dengan cara yang lain 45:35 gitu. Atau contoh sederhananya 45:38 ee saya punya ponakan. Ponakan saya itu 45:41 sudah dapat di universitas tertentu yang 45:44 diidam-idamkan. 45:45 Tapi cuma karena dia ee apa? Pengin 45:49 punya strategi yang lainnya atau punya 45:51 cadangan. Eh, malah akhirnya dia malah 45:54 memilih yang ngelainnya itu yang 45:56 sebenarnya ee yang sebelumnya itu 45:58 sebenarnya bukan yang diidam-idamkan. 46:01 Cuma saya bilang ke kotanya apa? 46:03 Perbanyak istikharah. Heeh. Oh iya. Iya. 46:07 Pada saat ngambil keputusan itu saya 46:09 selalu ngingatin kepada pondangan saya 46:12 pada waktu itu. Istikarah belum? 46:15 Libatkan Allah dalam setiap ambil 46:16 keputusan kamu. Saya bilang kayak gitu. 46:19 Karena kalau ketika kamu sudah apa? 46:21 Melibatkan Allah dalam keputusan untuk 46:24 apalagi untuk impian-impian kita, untuk 46:25 cita-cita kita gitu, itu insyaallah 46:28 Allah akan ee pasti ada rencana Tuhan 46:30 atau rencana Allah yang kita enggak tahu 46:32 ke depannya seperti apa gitu. Terus yang 46:35 keempat, fokus pada proses bukan hasil. 46:39 Kenapa fokus pada proses? Karena pada 46:42 proses itu ada kenikmatan-kenikmatan 46:45 tersendiri, ada kesan-kesan tersendiri 46:47 dalam pikir dan perasaan kita. Dibanding 46:50 kalau kita mikirin hasilnya seperti apa. 46:52 Karena ketika kita mengikuti prosesnya, 46:54 berarti kita ada hal-hal yang bisa kita 46:56 lewatin dan ternyata kita memang tadi 46:58 itu berhasil. Nikmati prosesnya, nikmati 47:00 prosesnya. Karena kita kalau kita bisa 47:03 menikmati proses, maka kita menjadi 47:05 pribadi yang happy dalam setiap keadaan 47:09 apapun yang kita hadapi, yang kita 47:11 lewati untuk bisa meraih target-target 47:13 tersebut. Itu yang namanya tumbuh 47:15 kembang. Iya. Tanpa proses enggak bakal 47:17 tumbuh dan enggak bakal berkembang. 47:20 Kayak gitu. Terus terkait dimensi ee 47:23 goal goal setting ya. Kalau dimensi 47:27 terkait dimensi goal setting tuh ada ada 47:30 dua dimensinya. He. Yang pertama kita 47:33 harus ee memahami tadi itu konten 47:37 pertama konten dimensi dari goal setting 47:40 itu kontennya itu apa sih? Isi tujuan 47:42 dari goal setting-nya itu apa? Isinya 47:45 apa? Seberapa sulit kita ingin meraih ee 47:49 goal setting itu kita harus punya 47:51 gambaran. He terus seberapa jelas kita 47:54 pengin menuju goset itu juga harus punya 47:57 gambarannya 47:59 dan gambarannya itu harus effort juga 48:01 kita usahakan juga dengan bertanya 48:04 dengan melihat berbagai media dengan 48:07 mengeksplorasi apapun dan enggak boleh 48:09 malas tuh untuk mendapatkan itu atau 48:11 menunggu aja enggak mungkin bisa gitu 48:13 tapi kita harus ada kemauan untuk untuk 48:15 mencoba gitu do something something gitu 48:18 misalnya ee beda banget misalnya aku 48:21 pengin ini hidup sehat sama dibanding 48:24 aku mau lari 15 menit setiap pagi lebih 48:27 keliran yang mana? Yang kedua, yang 48:29 kedua karena lebih spesifik pengin 48:32 lakukan apa. Tapi kadang-kadang orang 48:35 suka enggak paham loh hal itu. Susah 48:37 untuk bisa angan-angan doang. Iya. susah 48:40 membuat ee saya kemarin saya ikut 48:42 pelatihan ikut pelatihan yang di 48:44 dalamnya ada kita ingin berubah dalam 48:46 bentuk tapi buat kata-katanya dalam 48:48 bentuk kegiatan aktivitas pengin 48:50 mengerjakan apa itu lebih jelas tapi 48:52 emang kalau yang enggak biasa ya buyang 48:54 juga gitu loh modelnya kayak gimana gitu 48:57 kemudian yang kedua intensity intensity 49:00 itulah bagian dari dimensi goal setting 49:02 seberapa banyak tujuan yang ingin 49:04 dicapai 49:06 dan seberapa banyak bermakna enggak 49:07 tujuan itu Jadi ketika misalnya tadi 49:10 saya pengin jadi ee memilih lebih pengin 49:13 jadi psikolog misalnya, karena saya 49:15 pengin ada kebahagiaan ketika orang lain 49:18 bisa tersenyum ketika dia selesai 49:20 menyelesaikan masalahnya. Walaupun 49:22 mungkin masalahnya memang dari dia, 49:24 maksudnya diselesaikan oleh dia juga. 49:26 Minimal saya jadi pendengar gitu atau 49:29 saya ee atau tadi sebelumnya di kan tadi 49:32 cerita-cerita bahwa Mbak Ning bisa punya 49:35 apa kemampuan anouncer tadi seperti itu 49:37 kan. bahwa saya begitu bahagia ketika 49:40 ada ee banyak penderita atau tadi 49:44 disfabel divable divable itu bisa 49:47 tercerahkan 49:48 dengan apa dengan suara saya gitu bisa 49:52 membantu dengan suara saya itu bagian 49:55 dari intensity kebermaknaan dalam diri 49:57 kita itu enggak bisa dibayar pakai apun 50:00 gitu jadi dan itu akhirnya menambah kita 50:02 jadi nambah lagi goal setting semangat 50:04 kita pengin buat lagi berbuat lagi 50:05 berbuat lagi itu nagih Ya, Koke seperti 50:08 itu, Pak. Jadi nyanduk. 50:11 [Musik] 50:12 Oke, closing statement dari bahasan kita 50:15 terkait dengan wow strategi itu memang 50:17 penting banget ya. Bersama Bapak Barkah 50:22 Sayoto. Iya. Seorang psikolog yang luar 50:25 biasa sekali. Silakan. Jadi seperti 50:27 ingat kata quote quote kita, he tujuan 50:31 hidup bukan sekedar keinginan, 50:33 tapi arah yang kamu tentukan sendiri. 50:37 Heem. Ya, jadi bukan sekedar keinginan, 50:40 tapi kita harus bikin strategi, bikin 50:42 langkah-langkah dan arahnya itu kembali 50:45 lagi sama diri kita sendiri. Mau atau 50:47 tidak, itu kuncinya. Kalau mau lakukan 50:51 gitu dan yang kalau misalnya tidak apa 50:54 yang membuat itu jadi tidak dilakukan 50:56 itu harus kita berani untuk 50:57 mengintrospeksi diri kita sendiri. 50:59 Karena orang juga kan susah ya untuk 51:01 bisa aduh saya enggak bisa ini, tapi 51:03 enggak mau juga berpindah gitu. Tapi 51:06 kalau kita bilang saya pengin berubah, 51:08 ayo kita berubah bisa jadi lebih baik 51:10 penting seperti itu. Penting. Iya, 51:13 terima kasih sekali ee Barka dengan 51:16 bahasannya kali ini. Mudah-mudahan ya, 51:19 ikhwan akhwat kita masih ingat tentang 51:21 Smart tadi. Bagaimana spesifik, 51:24 miserable, achievable, relevan, dan time 51:28 bone. Kemudian satu lagi, jangan lupa 51:30 istikharah. Iya, betul. Istiqarah 51:32 penting. Terima kasih sekali lagi. 51:34 Billahi taufik wal hidayah. 51:36 Wasalamualaikum warahmatullahi 51:38 wabarakatuh. Waalaikumsalam 51:39 warahmatullahi wabarakatuh.