Langit dan Bumi Menangisi Orang Beriman

Disarikan dari Tausiyah Siang Kajian Tafsir Ibnu Katsir bersama Ustaz Umar Rasyid Hasan
Pembahasan QS. Ad-Dukhan Ayat 25–29

Jejak Kehidupan yang Akan Dikenang

Rasilnews – Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini pasti akan meninggalkan jejak. Ada yang dikenang karena kebaikannya, ada pula yang diingat karena keburukan dan kezalimannya. Al-Qur’an mengajarkan bahwa kehidupan bukanlah sekadar perjalanan singkat yang berakhir dengan kematian, melainkan bagian dari rangkaian sejarah panjang umat manusia yang terus berlanjut hingga Hari Kiamat.

Dalam sejarah, Allah mengabadikan kisah-kisah kaum terdahulu agar menjadi pelajaran bagi generasi setelahnya. Di antara kisah yang paling banyak disebut dalam Al-Qur’an adalah kisah Fir’aun dan kaumnya yang tenggelam dalam kesombongan, kekuasaan, serta penolakan terhadap kebenaran yang dibawa Nabi Musa ‘alaihis salam.

Melalui Surah Ad-Dukhan ayat 25–29, Allah menggambarkan bagaimana berakhirnya kehidupan kaum yang durhaka tersebut. Mereka meninggalkan berbagai kenikmatan dunia, namun ketika mereka binasa, tidak ada yang merasa kehilangan atas kepergian mereka.

Kemewahan Dunia yang Ditinggalkan

Allah Ta’ala berfirman:

كَمْ تَرَكُوا مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ ۝ وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ ۝ وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ ۝ كَذَٰلِكَ ۖ وَأَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا آخَرِينَ

“Betapa banyak taman-taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah, dan berbagai kenikmatan yang mereka nikmati. Demikianlah, dan Kami wariskan semuanya itu kepada kaum yang lain.”
(QS. Ad-Dukhan: 25–28)

Ayat ini mengingatkan bahwa sebanyak apa pun kekayaan, jabatan, kekuasaan, dan kemewahan yang dimiliki seseorang, semuanya akan ditinggalkan saat ajal tiba. Fir’aun dan kaumnya memiliki peradaban besar, istana megah, lahan pertanian yang luas, serta berbagai fasilitas kehidupan yang membuat mereka merasa aman dan kuat.

Namun ketika azab Allah datang, seluruh kemegahan itu tidak mampu menyelamatkan mereka sedikit pun. Bahkan semua yang mereka banggakan diwariskan kepada kaum lain setelah mereka binasa.

Pelajaran penting dari ayat ini adalah bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada iman dan ketakwaan yang kita bawa menghadap Allah.

Langit dan Bumi Tidak Menangisi Orang-orang Durhaka

Allah kemudian berfirman:

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi penangguhan.”
(QS. Ad-Dukhan: 29)

Ayat ini merupakan salah satu ayat yang sangat menyentuh hati. Allah menjelaskan bahwa ketika Fir’aun dan kaumnya binasa, langit dan bumi tidak menangisi mereka.

Penjelasan Para Ulama Tafsir

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa para ulama salaf menjelaskan setiap hamba mukmin memiliki tempat naiknya amal ke langit dan tempat ibadah di bumi. Ketika seorang mukmin meninggal dunia, tempat-tempat tersebut merasa kehilangan karena tidak lagi menyaksikan amal saleh yang biasa dilakukan olehnya.

Adapun orang kafir dan durhaka, mereka tidak memiliki amal saleh yang naik ke langit dan tidak memiliki hubungan ibadah yang baik dengan bumi. Karena itu, langit dan bumi tidak menangisi kepergian mereka.

Al-Imam Mujahid rahimahullah berkata:

“Tidaklah seorang mukmin meninggal kecuali langit dan bumi menangisinya selama empat puluh hari.”

Meskipun riwayat ini merupakan atsar dari kalangan salaf, maknanya menunjukkan betapa berharganya seorang mukmin di sisi Allah.

Mengapa Orang Beriman Dicintai Langit dan Bumi?

Orang beriman bukan hanya bermanfaat bagi manusia, tetapi juga menjadi sebab turunnya keberkahan di muka bumi. Kehidupannya dipenuhi dengan ibadah, dzikir, tilawah Al-Qur’an, sedekah, dan amal-amal saleh lainnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحْبِبْهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

“Apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril lalu berfirman: Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyerukan kepada penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia. Lalu penduduk langit mencintainya. Kemudian diberikanlah kepadanya penerimaan yang baik di bumi.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang dicintai Allah akan dicintai pula oleh penduduk langit. Kehidupannya membawa manfaat, keberadaannya dirindukan, dan kepergiannya menjadi kehilangan bagi banyak orang.

Nilai Seseorang Tidak Diukur dari Dunia

Di zaman sekarang, ukuran keberhasilan sering kali dihubungkan dengan jabatan, popularitas, kekayaan, atau pencapaian duniawi. Padahal Al-Qur’an mengajarkan ukuran yang berbeda.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini sangat relevan dengan pembahasan Surah Ad-Dukhan. Fir’aun memiliki kekuasaan yang luar biasa, namun tidak memiliki ketakwaan. Sebaliknya, banyak hamba Allah yang hidup sederhana, tidak dikenal manusia, tetapi sangat mulia di sisi Allah karena keimanan dan amal salehnya.

Ketika mereka wafat, mungkin tidak banyak media yang memberitakannya, tetapi para malaikat mengenalnya, langit mengetahui amalnya, dan bumi menjadi saksi atas ketaatannya.

Menjadi Hamba yang Dirindukan Setelah Wafat

Setiap muslim hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri: “Jika suatu saat aku meninggal dunia, apa yang akan kutinggalkan?”

Apakah yang tertinggal hanyalah harta benda dan urusan dunia? Ataukah ada amal saleh yang terus mengalir pahalanya?

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)

Hadits ini mengajarkan agar setiap muslim mempersiapkan warisan terbaik, yaitu amal yang terus memberikan manfaat setelah kematian.

Karena itu, marilah kita memperbanyak ibadah, memakmurkan masjid, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, berdakwah sesuai kemampuan, serta mendidik keluarga dalam ketaatan kepada Allah. Dengan demikian, kehidupan kita menjadi bermakna dan kepergian kita meninggalkan jejak kebaikan.

Penutup

Kisah Fir’aun dalam Surah Ad-Dukhan mengajarkan bahwa kemewahan dunia tidak menjamin kemuliaan di sisi Allah. Harta, kekuasaan, dan popularitas akan ditinggalkan. Yang akan tetap bernilai adalah iman, ketakwaan, dan amal saleh.

Langit dan bumi tidak menangisi orang-orang yang hidup dalam kesombongan dan kemaksiatan. Namun orang-orang beriman yang menghidupkan bumi dengan ketaatan akan dirindukan oleh tempat-tempat yang menjadi saksi amal mereka.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang ketika hidup memberi manfaat bagi sesama, dan ketika wafat meninggalkan kenangan kebaikan serta amal yang terus mengalir pahalanya.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالتَّقْوَى، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا ذِكْرًا حَسَنًا فِي الدُّنْيَا، وَحُسْنَ الْخَاتِمَةِ عِنْدَ الْمَمَاتِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ تُحِبُّهُمُ السَّمَاءُ وَتَرْضَى عَنْهُمُ الْأَرْضُ.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh. Teguhkan hati kami di atas iman dan takwa. Jadikan seluruh amal kami ikhlas karena-Mu. Anugerahkan kepada kami sebutan yang baik di dunia, husnul khatimah saat wafat, dan masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang dicintai penduduk langit dan diridhai oleh-Mu. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.”

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *