Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- Muhammad Muhammad. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Ibu dan
- akhwat pendengar dan dirahmati Allah.
- Kabar Anda sehat di sore hari ini hari
- Rabu hari yang ketiga di bulan
- Syakban atau bertepatan dengan hari yang
- ke-17 di bulan Maret 2021.
- Alhamdulillah kita kembali berjumpa di
- acara tausiah sore bersama Ustaz Kholil
- yang kajian tempatnya dan alhamdulillah
- kita
- telah
- ee Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Alfatih had sayidina wa
- habibina rasulillah Muhammad ibn
- Abdillah sallallahu alaihi wasallam.
- [Musik]
- aliwaji
- ahli
- muhain
- ulama arwahi aba wa
- umatina wa
- amwati muslimin
- maqidanafiarhamu
- [Musik]
- mautana umumana
- wa Nabi Muhammadinallahu alaihi
- wasallamillahir
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin
- arrahmanirrahim. Maiki yaumiddin. Iyaka
- na'budu wa iyaka nasta ihdinasirathal
- mustaqimathalladzina anamta alaihim
- giril magdubi alaihim
- waladin.
- Amin. Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin wasalatu
- wasalamu ala asrofil mursalin habibiabil
- alamin sayyidina wa maulana Muhammadin
- waa alihi wasohbihi ajma amma ba fna
- asqal hadis kitabullah taala wir had
- muhammadin shallallahu alaihi
- wasallam
- umur bidah
- Para pendengar radia
- silaturahim yang dirahmati Allah.
- Alhamdulillah kembali kita panjatkan
- puji serta syukur ke hadirat Allah
- Subhanahu wa taala yang senantiasa
- melimpah curahkan nikmat karunianya
- kepada kita, terutama nikmat iman dan
- Islam, nikmat sehat walafiat, nikmat
- panjang usia dalam taat, termasuk nikmat
- dipertemukannya kita sore ini dalam
- rangka menjalankan perintahnya yang
- diwajibkan atas kita semua yaitu
- menuntut ilmu yang insyaallah pada sore
- ini dalam kajian akidah akhlak ee yang
- selalu
- kita bahas di setiap
- ee Rabu sore kita akan membahas tentang
- mahabbah artinya cinta.
- Tentu
- saja
- ee bicara tentang cinta ini secara ee
- khusus kita akan menitik beratkan kepada
- mahabbah fillah ya. Mahabbah ee kepada
- Allah dan mahabbah karena
- Allah. Ee di samping juga adalah
- mahabbah kepada rasul tentunya. Selawat
- dan salam semoga selalu tercurah atas
- Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam beserta keluarganya, para
- sahabatnya, para pengikut dan pengamal
- sunahnya. Para pendengar radia
- silaturahim yang dirahmati
- Allah. Mahabbah itu, ini dalam bahasa
- Indonesia
- ya, kata ee kata cinta.
- Cinta itu kalau dalam bahasa Arab ini
- bisa jadi
- mahabbah, bisa jadi juga adalah
- mawaddah, bisa jadi juga adalah
- ragbah. Jadi tiga kata bahasa Arab ini
- kalau diterjemahkan ke dalam bahasa
- Indonesia itu artinya cinta atau suka.
- Nah, ee maka kalau kita melihat tiga
- kata ini terjemahnya, maka pengertiannya
- nanti akan akan apa namanya? Akan
- kabur ya. Sebab kata mahabbah dan
- mawaddah misalnya walaupun dalam bahasa
- Indonesianya adalah suka atau cinta tapi
- mempunyai makna
- berbeda ya. Kalau
- mahabbah itu adalah cinta yang tidak
- disertai dengan nafsu, yang tidak
- disertai dengan syahwat. Itu namanya
- mahabbah.
- Kita wajib mencintai Allah, mencintai
- Rasulullah, mencintai keluarga
- Rasulullah, mencintai umatnya
- Rasulullah. Saya Fahri harus mencintai
- ente. Ente pun harus mencintai saya.
- Kenapa? Karena kita sama-sama umatnya
- Nabi
- Muhammad.
- Iya. Orang FPI harus mencintai si Abu eh
- itu apa namanya? Abu janda. Abu janda
- pun sama ya. Harus mencintai orang FI,
- mencintai Pak Anis gitu tuh. Kenapa?
- Sama-sama umatnya Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi
- wasallam. Nah, ini ini mahabbah. Bukan
- berarti kalau saya mencintai Pak Anis
- lalu saya jadi
- homo. Ya, enggak begitu. Karena apa?
- Mahabbah itu cinta yang tidak disertai
- dengan
- syahwat. Paham Fahri ya? Ah. Nah, kalau
- mawaddah cinta yang disertai dengan
- syahwat ya. Seorang lelaki mencintai apa
- namanya?
- Wanita karena pengin menjadi istrinya.
- Nah, itu namanya
- mawaddah. Tapi saya mencintai istri ente
- Fahri. Ente pun harus mencintai istri
- saya. Cintanya saya kepada istri entre
- cintanya ente pada istri saya itu
- namanya mahabbah. Kenapa? Sama-sama
- umatnya Nabi bukan
- mawaddah gitu ya. Jadi kalau ditanya Pak
- Ustaz saya sangat mencintai istri Pak
- Ustaz ya saya jangan marah.
- Bagus, Pak Hri. Saya sangat mencintai
- istri ente, Pak Hari. Ya, nanti kalau
- pulang sampaikan salam saya sama istri
- ente lah. Ente jangan walah Ustaz demen
- sama bini saya ya. Ini demennya itu
- mahabah Paki. Bukan pengin e istri ente
- jadi istri jadi menantinya jadi istri
- saya ya.
- Nah, makanya suka ada titip salam.
- Ya, sampaikan salam saya kepada ustazah
- anu ya. Ustazahnya titip salam lagi.
- Jangan lantas kayak anak muda dititipin
- salam
- marah ya. Ah ini mahabbah dengan
- mawadah. Karena itu kalau di ayat yang
- menerangkan
- pernikahan di sana Allah mengatakan
- waja'ala bainakum mawaddatan warahmah.
- innaikaatan ya. Nah, ee dan seterusnya.
- Jadi di sana menggunakannya kata mawadah
- bukan
- mahabbah. Allah jadikan Allah tanamkan
- rasa cinta di antara si suami dan istri,
- si laki-laki dan
- perempuan. Ya.
- Warahmah. Inna fialika laayata liqomi
- yatafakarun. Gitu. Nah, ini semua adalah
- merupakan ayat bagi orang yang mau
- berpikir menggunakan akal sehatnya,
- gitu. Nah, bukan pakai mahabbah. Sebab
- kalau pakai mahabah nantinya enggak
- punya
- anak gitu ya. Nah, nah ini jadi kita
- bicara tentang cinta bukan mawadah tapi
- cinta yang bahasa Arabnya adalah
- mahabbah ya.
- Cinta itu, mahabbah itu dalam Islam pari
- adalah
- gayatul qoswa minal maqamat
- warwatulya minad
- darajat. Itu merupakan puncak ajaran
- Islam. Derajat tertinggi dalam ajaran
- Islam itu adalah mahabbah. Tidak ada
- ajaran dalam Islam makam yang lebih
- tinggi dalam Islam dibandingkan dengan
- mahabbah. Ya, cinta kepada Allah, cinta
- kepada Rasul, cinta kepada keluarga
- Rasul, cinta kepada umat Rasul, itu tuh
- ya. Cinta kepada apa namanya ee
- lingkungan, cinta kepada makhluk Allah
- dan lain sebagainya.
- itu ajaran tertinggi
- Islam. Mahabbah, cinta, kasih sayang.
- Bagaimana mungkin ajaran tertingginya
- mahabbah orang Islam kok kemudian jadi
- teroris? Ya. Nah, dan lucunya lagi orang
- Islam itu percaya lagi ya kalau Islam
- itu
- teroris. Kenapa? Karena dia tidak
- mengenal Islam. Tapi faktanya kan ada
- Pak yang jahat begitu ya. Itu bukan
- ajaran
- Islam. Giliran apa namanya ada polisi
- yang berbuat jahat itu
- oknum ya kan. Giliran ada ini pemerintah
- yang berbuat enggak beres disebutnya
- oknum. Orang Nasrani yang berbuat begini
- itu oknum. giliran Islam enggak
- menggunakan
- oknum ya. Yang ngomongnya sendiri
- agamanya Islam. Apa enggak lucu Fahri?
- Ya. Nah, ini coba sekarang perhatikan
- oleh ente bagaimana perkembangan Islam
- di dunia ya, di Amerika, di Eropa, Rusia
- yang tempatnya komunis bahkan diprediksi
- itu akan menjadi negara Islam terkuat.
- di dunia nantinya ya. Oh, perkembangan
- Islam di sana luar biasa. Kenapa?
- Kejenuhan mereka tentang apa namanya
- kehidupan ini? Mereka tidak tahu apa
- arti hidup
- ini. Eah, dan mereka temukan jawabannya
- itu adalah di dalam
- Islam. Nah, itulah ketika orang mau
- berpikir, mau menggunakan akal sehatnya.
- Jadi sekali lagi, mahabbah atau cinta
- adalah ajaran tertinggi dalam Islam,
- derajat tertinggi dalam Islam, makam
- tertinggi dalam Islam, maka tidak ada
- makam ya yang lebih tinggi di atas
- mahabbah itu. Tidak ada. Tidak ada
- ajaran yang lebih tinggi dari mahabbah.
- Kalaupun ada itu bukan bukan makam.
- Ah, saya sudah mungkin ini bingung ada
- pendengar yang barangkali masih belum
- paham ya kalau disebut makam. Saya sudah
- katakan dalam istilah akhlak itu ada ee
- hal dan ada makam ni Fahri ya. Kalau hal
- itu adalah sifat
- baik, akhlak yang baik ya.
- tetapi belum mendarah
- daging. Sewaktu-waktu saja.
- Kadang-kadang ada kadang-kadang tidak.
- Ya boleh jadi adanya itu lebih sering
- daripada tidak adanya. Yang jelas tidak
- selamanya. Begitu.
- Misalnya, misalnya nih sifat dermawan
- ya. Dermawan. Nah, ente misalnya nih
- Fahri ya, kedermawanan ente itu bisa
- dikatakan
- hal kedermawanan saya itu baru sampai
- tingkatan
- hal
- apabila ya ini belum menyatu dengan
- jiwa. Artinya masih palah pilih.
- Kadang-kadang kita dermawan,
- kadang-kadang enggak. Walaupun bisa
- dermawan atau kita mau memberi kalau
- yang kita beri orangnya enggak
- nyebelin. Itu tuh. Tapi kalau nyebelin
- malas kita ngasihnya. Nah, itu
- dermawannya kita itu namanya adalah
- hal. Paham ya, Pak Ri ya? Nah, itu baru
- tingkatan hal
- namanya. Nah, coba lihat matahari. Apa
- matahari itu menyinari orang yang
- beriman saja? Tidak. Yang beriman
- disinari, yang kafir disinari semuanya.
- Semuanya. Nah, sekarang kalau makam,
- nah, itu kayak matahari begitu. Jadi dia
- dermawan itu ya enggak melihat apakah
- orang itu nyebelin apa
- enggak. Ketika dia menolong ya ditolong
- aja. Karena yang dilihat oleh dia adalah
- ini ada makhluk Allah yang butuh
- pertolongan dan tidak melihat agamanya
- apa. Apa agamanya Islam? Apa agamanya
- Nasrani, Yahudi, Buddha, Hindu? Karena
- dia butuh pertolongan. ya dibantu,
- ditolong. Apakah kemudian sesudah
- ditolong dia mau mengucapkan terima
- kasih atau tidak, enggak ada urusan.
- Sebab dia ini ketika menolong bukan
- mengharapkan balasan walaupun sekedar
- ucapan terima kasih. Tapi apa? Ini
- perintah Allah.
- Namanya orang mahabbah itu cinta ya,
- bukan menuntut. Mahabbah itu adalah
- memberi. Itu sekali lagi mahabbah itu
- bukan menuntut Fahri. Cinta itu bukan
- menuntut tetapi memberi. Bukan apa yang
- akan orang berikan kepada kita, tapi apa
- yang bisa kita berikan kepada mereka.
- masalah mereka nanti akan membalas atau
- tidak itu enggak ada
- urusan. Ah, saya buatkan contoh
- pari
- ya.
- Ah, Imam Ahmad bin Hambal itu beliau
- pernah diminta tolong sama
- tetangganya ya. Dimintai tolong sama
- tetangganya.
- Maka datanglah ke rumah si tetangga itu.
- Begitu sampai di rumah si tetangga,
- masih muda orangnya, ya. Lalu apa kata
- si tetangga? Syekh, enggak jadi,
- katanya. Syekh, sudah pulang aja. Ya
- sudah, pulang Imam Ahmad. Karena emang
- enggak jadi kita hanya meminta tolong
- enggak jadi. Begitu sudah nyampai rumah
- disusulin lagi, disuruh ke rumahnya lagi
- mau minta tolong lagi. Datang lagi Imam
- Ahmad nyampai di rumahnya suruh balik
- lagi sampai tiga kali begitu
- pari sampai tiga
- kali. Ya, pulanglah Imam Ahmad sambil
- tersenyum. Ya, nih orang ini heran ini
- orang katanya enggak ada marahnya,
- enggak ada tersinggung. Maka ditanya,
- "Syekh, kenapa engkau tertawa
- tersenyum-senyum?" Loh, memang kenapa?
- Ya, saya tersenyum ya senang. Syukurlah
- kepada Allah ya, karena saya sudah
- menjalankan perintah Allah untuk berbuat
- baik kepada tetangga.
- Tapi kan tetangga ente tanpa sampean itu
- syekh itu mempermainkan ente gitu yaitu
- dirinya itu apa kita kata Imam Ahmad lah
- itu urusan urusan kamu enggak ada
- urusannya dengan saya itu urusanmu nanti
- dengan Allah masalah kamu itu
- mempermainkan saya atau tidak itu
- urusanmu. Kewajiban aku adalah berbuat
- baik kepada
- tetangga. Nah, dan saya berbuat baik
- kepada kamu itu atau kepada tetangga
- yaitu rupa kamu bukan karena
- kamu. Kenapa? Karena Allah yang nyuruh.
- Coba tuh lihat Pak Hari ya. Karena dia
- niatnya menjalankan perintah Allah ya.
- Jadi yang diharapkan oleh Imam Ahmad
- bukan balasan dari setetangga itu,
- tetapi yang diharapkan adalah balasan
- dari Allah Subhanahu wa taala. Kalaupun
- mengharapkan
- balasan, karena itu dia enggak
- kecewa, enggak ya.
- Nah, jika kita berharap balasan dari
- orang atas kebaikan yang kita
- lakukan, mungkin orang itu akan
- membalasnya, mungkin juga
- tidak. Membalas itu mungkin balasannya
- baik, mungkin juga balasannya buruk.
- Namanya juga dari manusia. Tapi kalau
- Allah Subhanahu wa taala pasti membalas.
- Dan balasan Allah itu pasti baik dan
- adalah
- lebih.
- Nah, menuntut balasan dari manusia itu
- menuntut balasan duniawi. Saya sudah
- katakan kalau kita mencari dunia,
- balasan dunia nih
- pari ya enggak bakalan
- dapat. Kalaupun dapat enggak akan
- banyak.
- Ya, enggak akan banyak. Berapa tahun
- ente nyari
- duit, udah berapa gudang yang ente
- miliki itu duit? Kalau kita nyari duit
- ini dunia juga. Jadi enggak akan banyak.
- Kalaupun banyak pari ya tidak akan puas.
- Enggak ada orang yang puas.
- Makanya kata Nabi sallallahu alaihi
- wasallam, "Seandainya
- manusia menemukan satu lembah emas, dia
- akan cari lembah kedua. Kalau dia sudah
- dapat lembah kedua, dia akan cari juga
- lembah ketiga." Dan begitulah seterusnya
- selama mulutnya belum tersumbat oleh
- tanah. Jadi, tidak akan banyak. Kalaupun
- banyak tidak akan puas. Katakanlah puas
- karena saking banyaknya dia puas. Enggak
- lama. Enggak lama ya. Cuma berapa tahun
- kita di dunia ini umatnya Nabi Muhammad
- antara 60 sampai 70
- tahun ya. Nah, kemudian sekarang beda.
- Kalau kita nyari akhirat pasti dapat.
- Enggak mungkin enggak dapat.
- dan sudah dapat banyak lagi. Bagaimana
- tidak banyak? Satu kali kebaikan yang
- kita lakukan minimal Allah akan
- membalasnya 10. Itu
- minimal ya, Pak ya. Nah, jadi pasti
- banyak. Sudah banyak puas lagi. Udah
- puas tidak terbatas waktunya bahari.
- Kholidina fiha abada.
- Kan luar biasa itu ya. Luar biasa. Apa
- kita? Ya
- Allah.
- Ah lihat sekarang Fahli.
- Fahri ketika seorang suami
- meninggal ya. Ketika seorang suami
- meninggal apa istrinya kemudian enggak
- makan? Makan ya tetap. Jadi berarti yang
- ngasih makan bukan suami, yang ngasih
- makan adalah Allah Subhanahu wa taala.
- Nah, ma indakum yanfad wallahi
- baq. Apa yang ada di sisimu itu akan
- musnah. Tetapi yang di sisi Allah itulah
- yang kekal. Masa kita mau nguber-nguber
- yang apa namanya? Yang musnah. lalu kita
- meninggalkan yang kekal. Ini kan sebuah
- kebodohan namanya Fahri ya. Maka kita
- memohon kepada Allah Subhanahu wa taala
- agar Allah selalu memberikan taufik
- kepada kita ya ee untuk melakukan apa
- yang disukai oleh Allah Subhanahu wa
- taala dan yang membuatnya rida.
- Amin. Ah jadi itulah mahabbah. Jadi
- kalaupun ada di atas mahabah itu ah itu
- pengertian hal ya. Pengertian hal lah.
- Kalau
- makam, nah makam itu perilaku baik,
- akhlak yang baik yang sudah mendarah
- daging. Yang namanya darah daging enggak
- bisa
- dipisahkan. Jadi ente mauembantu orang
- enggak ngelihat agamanya apa, nyenengin
- apa enggak. Nah, itu namanya makom yang
- begitu.
- Nah, mahabbah ini adalah sebuah makam
- tertinggi dalam Islam. Enggak ada makam
- lain yang lebih tinggi
- dari Nah, kalaupun ada yang lebih tinggi
- itu bukan makam, tapi itu adalah buah
- dari mahabbah. Misalnya apa?
- Sauk,
- rindu. Ya, rindu itu kan karena cinta.
- Ente merindukan anak, merindukan istri
- karena sudah 1 tahun enggak ketemu.
- Kenapa rindu? Karena mahabbah, karena
- cinta. Kalau enggak ada cinta, enggak
- ada rindu. Jadi rindu itu bukan makam,
- tapi rindu itu adalah buah dari
- mahabbah. Kemudian apalagi? Uns mesra
- gitu ya. Mesra.
- Nah, ini mesra juga sama buah dari
- cinta. Kenapa ente begitu mesra kepada
- istri? Karena
- cinta. Kalau umpamanya ente apa namanya?
- Gedek banget sama sama istri, enggak
- mungkin bersikap
- mesra. Lihat Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam sudah sepuh ya, tiduran
- di atas pangkuan Bunda Khadijah.
- Ya Allah, sudah sepuh Rasulullah tapi
- tetap masih
- mesra. Begitu juga adalah Siti
- Khadijahnya. Nah, ini kenapa? Karena
- adanya mahab ada mawadah dan mahabbah di
- sini. Lalu apalagi? Rida. Nah, rida juga
- sama ya. Rida itu adalah buah dari
- mahabbah.
- Nah, karena tadi itu saya katakan yang
- namanya mahabbah
- itu adalah memberi bukan
- menuntut. Jadi kalau ente pahar cinta
- kepada Nabi bukan menuntut apa yang akan
- Nabi
- berikan, tapi apa yang bisa kita perbuat
- yang bisa membuat Nabi bangga, membuat
- Nabi senang. Ah, itu
- mahabbah ya.
- kita beribadah kepada Allah. Kalau orang
- yang muhibbin itu bukan minta surga,
- minta ini. Kalau sudah kepada mahabbah,
- maka
- dia yang diinginkan apa? Ridanya
- Allah. Ini orang banyak bicara tentang
- ya semua ini kita lakukan demi
- mengharapkan rida Allah. Kadang-kadang
- yang ngomong begitu juga enggak ngerti
- rida Allah tuh
- apa. Ya. Ee mengharapkan rida Allah tapi
- kena musibah mengeluh. Lah kok orang
- mengharap rida kok mengeluh. Ini
- bagaimana ya? Itu artinya ini dia bisa
- berbicara tapi enggak ngerti apa yang
- diucapkan.
- ya. Nah, maka saya kita bahas mahaba
- ini. Kita jangan sampai kayak burung beo
- ya bisa ngomong tapi kita tidak mengerti
- apa yang kita omongkan. Pari. Nah, ini
- maka mahabbah ini ajaran yang luar
- biasa.
- Ee nah
- selanjutnya dan makam makam
- sebelumnya. Makam-makam sebelumnya
- seperti apa? Raja, sabar, zuhud,
- tawakal, ya, khauf, dan lain sebagainya
- itu
- mukadimahnya. Itu penghantar yang bisa
- menyampaikan kita kepada makam mahabbah.
- Artinya seorang tidak mungkin ya menjadi
- kelompok
- muhibbin kalau dia bukan orang sabar,
- bukan orang yang syukur, bukan orang
- zahid, zuhud, bukan orang yang apa
- namanya tawakal gitu.
- Orang enggak ngerti tawakal, enggak bisa
- tawakal, orang enggak sabar. Lalu ngajak
- orang, "Ya, jadilah kalian muhibbin,
- orang-orang yang cinta kepada Allah."
- Lah,
- ini namanya nyuruh orang melakukan
- sesuatu yang dia sendiri enggak
- ngerti, ya. Dia sendiri enggak ngerti.
- Ee jadi sama dengan menyuruh orang lain
- melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak
- melakukannya.
- Waduh. Oh itu bahaya. Itu berat itu Pak
- Hari
- ya. Berat itu Pak Hari.
- Saya sering katakan
- begini ya.
- Ee dulu itu ada alaihi wasallam
- menjelaskan bahaya orang yang menyuruh
- melakukan kebaikan sementara dia sendiri
- tidak melakukan kebaikan itu. Ya itu
- istilah orang Jawa nyebutnya itu
- zarqoni. Iso ngajar ora iso ngelakon ya.
- Jadi nyuruh orang melakukan kebaikan
- yang tidak dia lakukan.
- melarang orang melakukan kejahatan tapi
- dia sendiri melakukannya. Lah ini
- ancamannya ini luar biasa.
- Atmurunanasa bil birriansauna anfusakum
- waumumunal
- kitabala oleh Allah itu disebutnya apa
- kamu enggak berakal. Jadi itu orang yang
- ee kayak orang enggak ada akalnya yang
- begitu kata Allah pari ya.
- Nah, akhirnya sahabat itu ngomong
- begini, "Rasulullah, kalau gitu saya
- enggak mau katanya amar makruf nahi
- mungkar sampai saya bisa melakukan semua
- perintah Allah dan meninggalkan semua
- larangannya." Lalu apa kata Rasulullah?
- Yang enggak begitu, Saudara ya, ya
- enggak benar jugalah
- begitu. Lalu apa kata Rasulullah? Suruh
- oleh kamu orang lain melakukan kebaikan
- yang kamu sudah bisa
- melakukannya. Larang orang lain
- melakukan larangan yang kamu sudah bisa
- meninggalkannya. Begitu. Jangan nyuruh
- istrinya tahajud, dianya sendiri enggak
- tahajud. Nah, ini nih namanya menyuruh
- orang lain melakukan kebaikan yang dia
- sendiri enggak lakukan. Lah emangnya
- enggak ada hisabnya? Itu ada pari ya.
- Nah, melarang anaknya ngerokok, dianya
- sendiri ngerokok. Ah, itu bahaya. Enggak
- boleh begitu ya. Jadi kalau kalau ente
- enggak enggak biasa tahajud, jangan
- nyuruh istri ente tahajud. Enggak ada
- gunanya, Fahri gitu. Nah, jadi ente
- tahajud dulu. Kalau sudah rutin ente
- tahajud yakin akan akan rutin baru ajak
- istri kita ini baru satu kali aja
- tahajud baru tumben-tumbenan tadi malam
- tahajud pagi ke pagi istrinya mengeluh
- lalu ngomong makanya katanya jadi orang
- coba tahajud ya jangan molor melulu baru
- satu kali udah begitu akhirnya istrinya
- ikut tahajud dianya per akhirnya nah ini
- kagak beres pari
- Ya. Baik. Dilanjutkan
- Fahri itu apa namanya? Semua itu
- makam-makam yang sebelumnya itu menjadi
- mukadimah bagi apa namanya ini bagi
- mahabbah. Nah, sekarang di dalam
- pembahasan mahabbah ini ada beberapa
- subbahasan yang akan kita kaji. Sub
- pertamanya adalah dalil ya, dalil syarak
- Al-Qur'an maupun hadis dan
- maqalah-maqalah ulama salafus saleh
- tentang mahabbah nih. Jadi pagi ini eh
- maaf sore ini kita akan membahas sub
- pertama
- ya.
- Heeh. Nah, para pendengar hadia
- silaturahim yang dirahmati Allah. Semua
- ulama Islam ya itu sudah sepakat
- bahwasanya cinta kepada Allah dan
- rasulnya adalah kewajiban.
- Dan mencintai Allah dan Rasul-Nya itu
- wajib ditempatkan oleh kita di atas
- kecintaan kita kepada yang
- lainnya. Artinya kecintaan kepada Allah
- dan Rasul ini tidak menafikan kecintaan
- kepada
- selainnya. Enggak ada larangan. Boleh
- kita
- mencintai apa nam yang lain dan itu
- tidak
- dipungkiri ya. bahwa seorang suami akan
- mencintai istrinya, mencintai anaknya,
- mencintai hartanya, mencintai
- kendaraannya, mencintai usahanya. Itu
- sudah apa namanya? Sebuah
- keniscayaan. Enggak bisa dipungkiri dan
- itu tidak salah. Tapi kecintaan kepada
- semuanya itu tidak boleh melebihi
- kecintaannya kepada Allah dan
- Rasul-Nya. Nah, ini nih nih gitu ya.
- Dan itu wajib menempatkan Allah dan
- suruh Rasul di atasnya. Kenapa bisa
- begitu? Saya tidak apa namanya nanti
- akan kita ee buka
- ya. Allah Subhanahu wa taala berfirman,
- "Yuhibbuhum wa
- yuhibbunah." Allah mencintai mereka.
- Mereka pun mencintai Allah. Walladzina
- amanu asyaddu hubban lillah. Dan
- orang-orang beriman itu sangat mencintai
- Allah. Kata Allah begitu. Orang-orang
- beriman itu sangat mencintai. Asyaddu
- khubban
- lillah. Ya. Dan masih banyak lagi
- ayat-ayat lainnya yang menerangkan
- tentang mahabbah.
- Dan itu kata-kata walladzina amanu
- asyadu hubban lillah menunjukkan
- bahwasanya tingkat mahabbah orang itu
- berbeda-beda. Nah, tingkat mahabat itu
- berbeda-beda. Nah, kalau ada pertanyaan
- apakah maksiat itu akan menghalangi
- mahabbah atau tidak? Tidak. Ya, orang
- maksiat
- maksiat enggak menutup ke enggak menutup
- kemungkinan dia itu mahabbah kepada
- Allah. Artinya kepada Rasulullah dia
- maksiat tapi tetap cinta kepada Allah.
- Cinta kepada Rasulullah ya enggak
- menutup yang demikian.
- Ee kemudian Allah ee di dalam ee di
- dalam beberapa hadis ya itu banyak
- sekali menerangkan masalah ini. Abu
- Razin itu pernah berkata, "Ya
- Rasulullah, mal iman." Wahai Rasulullah,
- iman itu
- apa?
- Qyakunallahuluhu ahabika mimma siwahuma.
- Kata
- Rasulullah, "Iman itu bahwa Allah dan
- Rasul-Nya lebih kamu
- cintai ya daripada selain
- keduanya. Allah dan Rasul-Nya lebih kamu
- cintai daripada yang
- lainnya." Nah, itulah kata Rasulullah
- iman. Hmm.
- Dalam hadis lain, la yminu ahadukum
- hatta yakunallahu waasuluhu ahabba
- ilaihi mimma siwahuma. Tidak beriman
- seseorang ya tidak beriman katanya
- seseorang dari kamu sehingga Allah dan
- rasulnya lebih ia cintai daripada yang
- lainnya. Kata la yukminu ahadukum.
- tidak beriman ini bukan berarti kafir.
- Awas ya. Maksudnya adalah tidak sempurna
- imannya ya. Tidak sempurna. Sebab di
- sini kalau kalau la yukminu ahadukum
- hatta yakunallahu waasulu
- ahabawaum. Tidak beriman seorang dari
- kamu sehingga Allah lebih dia dan
- rasulnya lebih cintai daripada yang
- lainnya. Berarti kalau ada orang yang
- lebih mencintai e rasulnya maka dia
- kufur. Ya enggak
- begitu ya. Enggak begitu. Tetap iman
- cuma lemah imannya yang begitu ya.
- Karena ee enggak ngerti iman itu
- sebenarnya
- apa. Jadi jangan terlalu gegabah juga
- kita ini ketika ee menafsirkan hadis ya.
- Ada orang berkata begini, "La shataril
- masjid illa fil masjid." Tidak ada salat
- bagi orang yang bertetangga di masjid
- kecuali di masjid. Berarti kalau orang
- bertetangga dengan masjid, salatnya di
- rumah itu berarti sama dengan dia tidak
- salat lah. Kalau tidak salat berarti
- kafir. Gimana itu ngartiin hadis begitu
- ya? Ya, enggak seperti itu. Bukan
- layukmin tidak beriman itu berarti
- kafir. Tidak sempurna iman seseorang.
- Imannya ada cuma enggak
- sempurna. Ya, enggak sempurna.
- Nah, dulu ada seorang ee dai ustaz ya,
- itu di televisi terang-terangan dia
- mengatakan begini, orang-orang mukmin
- apakah itu mau ustaz mau kiai apabila
- dia merokok ya maka ee
- keimanannya imannya belum sempurna. Nah,
- kata saya lah orang ngukur iman kok
- dengan rokok ini dari mana gitu ya.
- Nah, ini apa
- namanya? Enggak seperti itulah ya.
- Mualim Syafi'i itu ulama besar
- Jakarta ya, Alim luar biasa alamah dia
- ini. Mbah Mahrus Ali
- ya, pengurus apa nam ee pengasuh Pondok
- Pesantren Lirboyo dan sebagainya. Wow.
- Rama alim-alim semuanya. jauh lebih alim
- daripada ustaz yang ngomong begitu ya.
- Enggak. Mereka itu ngerokok ya.
- Ngerokok. Saya bukan mendukung orang
- yang ngerokok Fahri ya. Ya. Saya sangat
- setuju orang-orang itu enggak ngerokok
- gitu. Saya juga enggak ngerokok Pari ya.
- Eah lihat saya ngerokok. Nah gitu pari
- ya. Nah cuma gitu ya. Jangan karena
- sampean enggak ngerokok, lalu
- merendahkan yang
- ngerokok. Jangan karena Anda merokok
- enggak cocok dengan ustaz yang enggak
- ngerokok. Ya enggak begitulah jadi orang
- ya. Nah,
- gitu nih.
- Fahri. Saya ini di
- Jakarta ngajar dari
- tahun
- 5 sudah berapa tahun ya?
- Selama saya ngajar di Jakarta belum
- pernah waktu ngajar ada orang ngerokok.
- Belum
- pernah Jakarta itu memang paling rapih
- lah kalau dalam masalah
- taklim. Begitu di kampung kelahiran saya
- ya, kampung kelahiran saya itu di Subang
- Pari. Walaupun nenek ee kakek nenek saya
- dari Cirebon, tapi saya lahirnya di
- Subang di Pegaden Baru namanya.
- lah itu kalau kalau ngaji di musala itu
- asbak berjejr pari yang ngajar di sana
- abang saya rutin abang saya itu ee 4
- hari di Jakarta 3 hari di sana di Subang
- jadi dia pengin membangun kampungnya
- sendiri rela setiap minggu dia
- pulang ya untuk membangun kampung lah
- itu ketika ngaji Pak Hari ya pada ngebul
- pada ngerokok nah lah Saya kan protes
- sama abang saya gitu ya, Bang. Kata saya
- ini apa-apaan ini ngaji begini gitu kan.
- Ngaji pada
- ngebul. Lalu abang saya nanya begini.
- Baiklah, katanya Jazuli katanya nih
- kalau katanya mereka dibiarkan ngerokok,
- mereka diam di musala ini ya ngaji. Jadi
- sambil ngaji ngerokok atau sambil
- ngerokok
- ngaji. Tapi kalau kita larang mereka
- ngerokok, Jazuli mereka
- pulang enggak ngaji, ngerokoknya tetap
- jalan ya. Ngerokoknya jalan, ngajinya
- enggak. Mana yang kamu pilih,
- Jazuli? Merok enggak ngaji atau merokok
- sambil ngaji? Oh, iya ya, ya, ya.
- Katanya, terusinlah, terusin ngerokok
- dah. Nah, ya kan lebih baik ngerokok
- tapi juga ngaji daripada ngerokok.
- Enggak ngaji nih ulama tuh ulama salaf
- Wali Songo dulu dakwahnya begini.
- Fahri enggak galak
- ya. Wah neraka udah begitu. W bencinya
- sama orang ngerokok. Padahal dia juga
- dulunya ngerokok. Kadang-kadang begitu
- ya. Cobalah ikuti para ulama nih. Jadi
- kembali ini bukan masalah karena kita
- doyan atau enggak doyan ngerokok. Dakwah
- ini
- masalahnya dakwah
- ya. Nah, ternyata Fakari itu yang
- tadinya asbab
- 20 kemudian
- berkurang jadi
- 19 minggu atau 2 minggu atau sebulan
- bulan
- berikutnya kurang lagi jadi
- 18. Yang tadinya begitu masuk langsung
- bakar rokok ya.
- Lama-lama mau ngerokok tengok-tengok
- dulu nunggu ada orang bakar ya. Kalau
- sudah ada satu aja cres bakar. Wah udah
- pada ngerogok kantong padang. Itu
- artinya sudah berubah
- pari ya. Itu namanya sudah berubah.
- Nah, di sinilah ada
- mahabbah, ada kecintaan untuk selamat
- orang ini. Bagaimana?
- Hm. Ini jadi jangan ngikutin karena
- dirinya enggak ngerokok. Ya, ini kalau
- bicara bab masalah rokok. Begitu juga
- yang lainnya ya. Ini salah satu contoh
- saja. Baik.
- Jadi demikian lainul abdu
- yuldu akuna ahli aj. Jadi kata
- Rasulullah tidak sempurna iman seorang
- hamba akuna ahabai ahli. Sehingga aku
- lebih dia cintai daripada
- keluarganya, hartanya dan semua manusia.
- Ketika sahabat Umar sudah memeluk agama
- Islam,
- Fahri, Rasulullah bertanya kepada
- sahabat
- Umar, "Ya Umar, apakah ee kau cinta
- kepadaku?" "Tentu saja Rasulullah, saya
- mencintaimu ya ee melebihi kecintaan e
- kecintaan saya kepada siapapun dan
- kepada apapun selain diri saya.
- gitu kata sahabat. Artinya sahabat Umar
- itu lebih mencintai dirinya daripada
- Rasulullah. Kenapa sahabat Umar berkata
- begitu? Karena menurut sahabat Umar
- enggak ada orang mencintai orang lain
- melebihi kecintaannya pada dirinya
- sendiri. Enggak ada
- itu.
- Nah, ini wajar kalau sahabat Umar ini
- mengatakan demikian. Umumnya manusia
- juga adalah ya seperti
- itu ya jika tidak ada hubungannya dengan
- Rasulullah atau Allah.
- Nah, tapi karena ini hubungannya dengan
- Rasulullah, maka kata Rasulullah, Rasul
- enggak salahkan
- dia. Ya, ketika ada orang bertanya,
- "Rasulullah, saya punya uang
- banyak. Apa yang harus saya lakukan
- dengan uang saya itu?" Kata
- Rasulullah, "Infakkan buat dirimu." "Oh,
- buat diri saya sudah ada
- Rasulullah. Untuk anak istrimu, untuk
- anak, untuk istri sudah ada." Ya. Ya.
- Selanjutnya kata Rasulullah ya, kamu
- lebih tahu kenapa Rasulullah
- menyebutkan dirimu? Ya, karena semua
- orang mencintai dirinya melebihi
- kecintaan kepada yang
- lain. Nah, kan seperti itu. Jadi
- maklum. Nah, begitulah sahabat Umar.
- Lalu Rasulullah bersabda begini.
- Ya la yminu ahadukum hatta akuna ahabba
- ilaihi min
- ahli
- aj ya min waladihi waidihi gitu tuh ya
- belum sempurna iman
- seseorang sehingga aku lebih ia cintai
- daripada dirinya daripada anaknya
- daripada bapaknya, daripada hartanya,
- dari semua
- manusia. Sahabat Umar itu Fahri yakin
- betul kalau Rasulullah itu
- benar. Walaupun dia enggak sependapat,
- enggak paham di mana letak kebenarannya
- Rasul, tapi keyakinan dulu yang penting.
- Nah, ini
- iman. Ini iman
- ya. Nah, karena pendapat dia beda dengan
- rasul. Maka menurut sahabat Umar dirinya
- salah, cuma dirinya juga tidak tahu di
- mana letak salahnya.
- Jadi, letak benarnya Rasulullah dia
- enggak tahu, letak salahnya dirinya juga
- tahu, tapi dia yakin. Ini
- penting. Nah, ini adalah sebuah
- pelajaran yang berharga bagi kita
- bahwasanya apapun yang datang dari
- Allah, yang datang dari Rasul, kalau itu
- adalah sahih, maka harus kita letakkan
- di atas kepala kita. Walaupun isi kepala
- kita tidak memahaminya.
- Fahri sahabat Umar kan enggak paham di
- mana letak benarnya Rasul dan di mana
- letak salah dirinya. Enggak paham,
- enggak ngerti. Menurut dia enggak masuk
- akal. Tapi iman dia luar biasa. Dia
- yakin Rasulullah benar dan itu dia harus
- tahu. Ini yang akan membawa kepada
- tumakninahnya
- hati gitu ya. Maka sahabat Umar kemudian
- merenung
- dia, tafakur
- ya, dia pikirkan. Nah, inilah yang kata
- Nabi, tafakur saah kirun min ibadati
- sanah. Berpikir 1 jam itu lebih baik
- daripada ibadah 1 tahun. Ya, ketika kita
- mendayagunakan pikiran kita.
- ijtihad. Dalam renungan itu, Fahri,
- sahabat
- Umar mengingat perjalanan hidupnya.
- Selama ini aku berada di tepi jurang
- neraka. Wauntum ala syafa khufratim
- minanar. Dulu kalian semua kata Allah
- berada di tepi jurang
- neraka. Jadi kata sahabat Umar, selama
- ini aku berada di tepi jurang. Tinggal
- nyemplung doang nunggu mati.
- Tapi anakku, istriku ya dan semua
- orang-orang yang aku cintai, aku bela,
- aku lindungi, satu pun tidak ada yang
- coba menyelamatkan aku dari tepi jurang
- itu. Anak istrinya. Malah gilanya lagi
- anak istrinya itu
- mendukung berdiri berjejer di tepi
- jurang bersama-sama didukung kesesatan
- dia. Nah, akhirnya dan ternyata yang
- menyelamatkan aku dari tepi jurang itu
- adalah Rasulullah.
- Dialah yang menuntun aku dari tepi
- jurang itu dan dibawanya aku ke taman
- yang sangat indah yaitu taman
- Islam. Nah, jadi kata sahabat, "Wah,
- langsung sahabat Umar girang sekali
- ditemukan jawaban." Hm. Ini
- jawaban ya. Selama ini aku tidak
- mencintai diriku. Anak istriku juga
- tidak ada yang mahabbah kepadaku, yang
- mencintaiku. yang mencintai aku cuma
- Rasulullah. Cuma
- Rasulullah. Karena itulah Rasulullah
- yang menyelamatkan aku dari tepi jurang.
- Kalau Rasul lebih mencintai aku daripada
- aku sendiri, ya aku harus mencintai
- Rasul melebihi kecintaanku pada diriku
- sendiri. Ditemukan tuh jawabannya berkat
- tafakur. Pak
- Hari bisa ngerti sekarang ya? Kenapa
- kita wajib mencintai Rasul melebihi
- kecintaan dirinya sendiri? Itu jawaban
- sahabat Umar ketemu begitu. Maka
- besoknya sahabat Umar, "Demi Rasulullah,
- Rasulullah, demi Allah ya engkau lebih
- aku cintai daripada diriku sendiri."
- Coba Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam
- senang. Ah, senangnya Rasul itu
- sebenarnya bukan ucapan sahabat
- Umar karena dirinya lebih dicintai. Tapi
- apa? Yang lebih membahagiakan Rasul itu
- adalah
- terbukanya akal iman sahabat
- Umar. Gitu
- tuh. Sebab ketika akal iman seseorang
- sudah terbuka, jawaban Umar akan
- ditemukan oleh
- siapapun. Oleh siapapun akan ditemukan.
- Dan kalau orang sudah seperti ini ya,
- ini orang enggak mungkin dia akan
- meninggalkan Islam. Enggak mungkin dia
- itu akan membenci Nabi Muhammad ya,
- meninggalkan Islam. Kenapa? Karena akal
- imannya sudah
- terbuka gitu ya, Fahri.
- Nah, kalau Rasul saja harus kita cintai
- lebih dari dari diri sendiri, apalagi
- Allah Subhanahu wa
- taala. Tentunya
- begitu ya. Kalau Nabi sayang kepada kita
- luar
- biasa, ternyata Allah lebih sayang
- lagi. Allah tuh lebih sayang lagi.
- Fahri ya. Allah mengatakan kepada Nabi
- Muhammad, "Ya
- Muhammad, a umatmu kamu sendiri yang
- menghisab, ya Allah." Apa kata
- Rasulullah? "Tidak, Ya
- Allah. Engkau lebih mencintai
- umatku daripada
- aku." Iya. Jadi Allah lebih cinta kepada
- umatnya Nabi Muhammad dari kecintaannya
- Nabi Muhammad kepada umatnya. Dan ente
- harus yakin itu Pak Hari.
- Kenapa? Ya kalau Nabi Muhammad lebih
- cinta kepada umatnya daripada Allah,
- berarti Allah enggak arhamurrahimin
- lagi. Ada yang lebih arham di situ,
- yaitu Nabi Muhammad. Dan itu enggak
- mungkin. Yai, pihai. Paham itu ya? Nah,
- ini jadi kalau Nabi Muhammad sayangnya
- kepada umatnya kayak begitu, apalagi
- Allah Fahri. Ya lah ini lah kok ada
- orang Islam kemudian putus asa, takut
- ini nantinya gimana ya masuk neraka
- kalau saya mati ya berjihad nanti
- bagaimana dengan anak istri saya mana
- masih kecil-kecil. Bahkan Allah lebih
- sayang kepada umatnya daripada kita.
- Daripada nabi apalagi daripada
- kita. Sudah kita titipkan kepada Allah
- Fahri
- ya. Nih ini mahabbah nih Pak Hari ni
- mahabbah ya. Nah itulah ee selanjut ee
- coba nanti dilihat di dalam surah Taubat
- ayat 24.l
- in abukum wa abnaukum wa ikwanukum wa
- azwajukum wa
- asiratukum wa
- [Tepuk tangan]
- amwarak aakum
- minallahulihinallahu wallahu
- yahdilal katakanlah jika
- ayah-ayahmu,
- anak-anakmu
- ya, kemudian
- saudara-saudaramu, pasangan hidupmu,
- istri-istrimu, kerabatmu, keluargamu,
- harta
- perniagaanmu, ya itu usahamu, dan juga
- adalah ee perniagaan yang kamu takutkan
- ruginya tempat tinggal yang kamu sukai
- lebih kamu cintai daripada Allah dan
- rasulnya. dan dia di jalan Allah, maka
- tunggu sampai Allah mendatangkan
- keputusannya, mendatangkan amrnya. Amr
- itu enggak bisa diterjemahkan ke dalam
- bahasa
- Indonesia ya. Karena sesuatu yang luar
- biasa yang hanya Allah yang tahu itu amr
- itu amr itu untuk hal yang seperti
- itu.
- Amri ya. Mereka akan bertanya kepadamu,
- katanya Muhammad tentang ruh. Jawab oleh
- kamu Muhammad, ruh itu adalah amr
- Allah. Hm. Ini enggak ada yang tahu.
- Sudah kalau sudah bicara masa amplas itu
- sesuatu yang luar biasa dijelaskan juga
- enggak bakal
- ngerti. Dan Allah tidak akan memberikan
- hidayah kepada orang fasik. Artinya
- kalau kita mencintai ya selain Allah dan
- Rasul-Nya lebih daripada Allah dan
- Rasul-Nya maka kita masuk ke dalam
- kelompok
- fasikin. Wallahu la yahdilal fasikin.
- Kata Allah
- begitu lah. Ada orang kok nabinya
- dihina
- malah cicing wae ya.
- Nah, ini awas
- hati-hati. Inilah mengenai sub pertama
- masih ini baru ayat ya nanti dengan
- dengan ee dengan akhbar yang lainnya
- akan kita bahas lagi pada pertemuan yang
- akan datang. Ini sudah jam 5. Fahi ya.
- Jadi ini dulu yang bisa saya sampaikan.
- Mudah-mudahan kita semua walaupun bukan
- muhibbin tapi oleh Allah dijadikan
- dimasukkan ke dalam kelompok muhibbin.
- Amin ya rabbal alamin. Amin ya rabbal
- alamin. Wallahuam.
- Baik, demikian Iwan Nawat tausiah sore
- bersama Ustaz Ahmad Zazuri Kholil dengan
- tema mahabbah atau cinta. Mahabah sebuah
- makam tertinggi dalam Islam ya. Dan yang
- ingin bergabung silakan Iwan Ahwat yang
- ingin bertanya silakan kirim
- pertanyaannya melalui WhatsApp kami di
- 0811999720. Kami segera kembali.
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- Oh.
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- H
- Hasil untuk Islam yang satu masih
- bersama kami ikhwan akhwat di acara
- tausiah sore kaji kajian akidah akhlak
- bersama Ustaz Ahmad Zuri Kholil mengenai
- mahabbah tema kita di sore hari ini.
- Sudah banyak WhatsApp yang masuk ustaz.
- Saya bacakan saja. Ini WhatsApp yang
- pertama saya akan bacakan datangnya dari
- Ibu Hesti di Bogor. Pak Ustaz,
- asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz Ahmad Zuriri Kholil.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Ustaz, bagaimana caranya
- seorang hamba bisa mengetahui bahwa
- sesuatu itu dicintai dan diridai Allah?
- Dan ee apa tandanya cinta seorang hamba
- kepada Rabbnya?
- Baik.
- Bismillahirrahmanirrahim. Bagaimana kita
- tahu bahwa sesuatu itu dicintai oleh apa
- namanya? Rabb, oleh Allah
- ya. Dan bagaimana ee ciri-ciri orang apa
- ciri-ciri orang yang mahabbah kepada
- Allah gitu ya. H. Nah, kalau mengenai
- ciri-ciri orang yang dicintai oleh Allah
- Subhanahu wa taala ya enggak jauhlah
- dengan ee ciri-ciri orang yang cinta
- kepada
- Allah.
- Ee tanda orang
- cinta
- begini. Kalau kita nih ini apa namanya?
- Saya bikin ini aja ya ee kias dulu.
- Kalau kita sedang jatuh cinta kepada
- seseorang, apa yang kita
- inginkan? Tentu adalah bertemu dengan
- yang dicintainya. Iya, Pari. Iya. Ah,
- anak muda yang lagi ke semsem ya itu
- seminggu sekali paling tidak wajib apel.
- Kenapa? Karena pengin ketemu dengan yang
- dicintainya. Itu cirinya orang yang
- cinta.
- Jadi kalau orang yang cinta kepada
- Nabi, maka keinginannya dia setiap saat
- bersama
- Nabi. Ya, rindu kepada
- Nabi. Kalau orang cinta kepada Allah,
- maka dia pengin segera bertemu dengan
- Allah. Betul ya, Pari? Bisa dipahami?
- Bisa. Sekarang pertanyaannya begini.
- Apakah kita di dunia ini bisa bertemu
- dengan Allah?
- Enggak
- mungkin. Orang baru bisa ketemu dengan
- Allah itu kalau sudah mati. Artinya ciri
- orang yang mahabbah, benar-benar
- mahabbah kepada Allah, dia sangat
- mendambahkan, merindukan
- kematian gitu. Nah, sekarang kita tanya
- pada diri
- sendiri ya. kita ini ingin sekali mati
- atau takut banget sama
- mati? Ya, kita jaga
- jarak dalam
- salat. Apa itu ciri mahabah? Apa ciri
- orang? Ciri orang yang pengin ketemu
- Allah apa ciri orang yang pengin enggak
- ketemu
- Allah? Apa kalau kita salaman?
- Ya, enggak mau sekarang salaman ini
- karena takut kena
- apa? Ah, sampai sikunya
- doang. Renungkan, tanya pada diri
- sendiri. Ini ciri orang yang cinta
- kepada Allah apa takut mati? Artinya
- enggak pengin segera ketemu dengan
- Allah. Jawabannya ada pada diri kita
- masing-masing. H.
- Itu cirinya.
- Makanya Syekh Junaidi
- Albaghdadi mengatakan begini, eh Syekh
- Ibrahim bin Adham, seandainya di Basrah
- di Baghdad
- ini sungai-sungai di Baghdad
- mengalirkan cairan
- emas, sedikit pun hati saya tidak
- tergerak untuk pergi ke sana.
- Tapi kalau ada orang
- mengatakan ada sebuah tiang atau pohon,
- siapapun yang menyentuhnya dia akan
- mati. Sayalah orang pertama yang akan
- menyentuhnya karena kerinduanku untuk
- bertemu dengan Allah. Itulah
- muhibbin. Itulah muhibb. Ya, itu
- cirinya. Nah, kita ini belum masuk ke
- situ. Yang kedua, paling tidak begini.
- Mungkin kalau kita
- ya seandainya kekasih kita, orang yang
- sangat kita rindukan, Ibu sangat kita
- dambakan
- pertemuannya ada di sebuah
- terminal yang dekat dengan rumah kita.
- Tiba-tiba dia apa namanya? Nelepon kita,
- "Ya, Mas atau Dek, saya ada di terminal
- anu ya." Insyaallah dalam 15 menit atau
- 30 menit saya akan sampai di rumah. Ya
- Allah, kayak apa sebenarnya girangnya
- kita mau bertemu dengan kekasih kita?
- Tapi sayang rumah kita masih berantakan.
- He. Karena itu kemudian berkata begini,
- "Ya Allah, kenapa sekarang datangnya?
- Coba kalau nanti besok ya biar saya
- rapikan dulu ini rumah biar pertemuan
- itu tidak terganggu oleh apa namanya
- berantakannya
- rumah. Mungkin kita begitu barangkali
- Pak Hari. Iya betul. Ya Allah bukan
- enggak pengin mati sekarang tapi ini
- hati saya masih berantakan. Biarkan saya
- menata hati saya memperbanyak amal saleh
- dan Allah memberikan kesempatan itu
- kepada kita. Ayo, mau benain enggak tuh
- rumah kita yang
- berantakan? Nah, itu ciri ciri kedu per
- kedua. Nanti ciri-cirinya akan saya saya
- sampaikan semua itu dua aja dulu ya
- kepada Ibu penanya tadi dari Bogor ya.
- Iya. Nah, sekarang cirinya orang yang
- cinta kepada Allah itu di antara lain
- begitu cirinya Allah itu bahwa Allah
- mencintai orang itu bagaimana? Ya, itu
- tadi itu sama tinggal dibalik aja.
- Insyaallah kalau orang benar begini
- dicintai oleh
- Allah gitu. Makanya orang-orang ulama
- enggak ada yang takut mati. Justru
- mereka itu pengin apa namanya? Segera
- mati. Kalau muhibbin. Muhibin. Kalau
- enggak muhibbin juga enggak ada ulama
- yang takut mati. Kenapa? Wong takut
- enggak? Enggak takut juga pasti mati
- kok. Betul.
- Ya.
- Innina
- inina
- inalutuum. Sesungguhnya kematian yang
- kamu semua pada lari darinya, kematian
- itu akan mendatangi kamu. Kata Allah.
- Ya. Ada corona enggak ada corona, kamu
- bakal
- mati. Hmm. Karena itu enggak perlu takut
- mati.
- Emangnya kalau takut mati enggak mati?
- Bakal mati juga. Mati juga sama ya. Nah,
- jadi kita jangan jangan apa namanya?
- Bingung mati kena corona atau enggak
- kena corona. Yang harus kita pikirkan
- bagaimana kematian kita itu husnul
- khatimah. Ya. Nah, biar sekarang Fahri
- ente kena
- corona. Kalau ajalnya belum datang
- enggak bakal mati.
- Ya, ente pasti sembuh karena ajalnya
- belum datang. Tapi kalau ajalnya sudah
- datang, enggak ada enggak kena corona
- juga mati
- ya. Oh iya. Begitu satu kena corona.
- Walah udah
- semuanya. Hm. Pek semuanya ya. Nah itu
- sekarang sudah saya ngikut aja sudah
- pari
- ya. Iya. Nah.
- Baik, begitu ya. Iya. Baik,
- Ustaz. Selanjutnya pertanyaan dari Bapak
- Ari, Ustaz di Bekasi. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullah. Syukron
- atas pencerahannya, Ustaz, di sore hari
- ini katanya. Terus ee Ustaz mohon
- nasihatnya bagaimana agar kita ini
- selalu mendahulukan rasa mahabah kita
- kepada sesama umat muslim daripada ego
- diri sendiri dalam saling mengingatkan
- dan saling menasehati hingga tidak
- terjadi saling menyalahkan. Mohon
- nasihatnya, Pak Ustaz.
- Bismillahirrahmanirrahim. Enggak ada
- perintah ya harus mendahulukan mahabah
- kepada sesama. Enggak, enggak
- begitu. Tapi kita itu harus
- mahabah. Itu harus mahabah kepada apa
- namanya? Pertama adalah Allah dan
- Rasul-Nya. Nah, baru kemudian mahabbah
- kepada lainnya, lain Allah dan Rasul,
- ya. Nah, yang lainnya itu apa?
- Ya, mahabah kepada umatnya Nabi, kepada
- keluarganya Nabi. Kita tidak disuruh
- mendahulukan mahabah kepada umatnya.
- Enggak. Dalam hidup ini ada skala
- prioritas ya. ada mana yang harus
- diutamakan dan itu tidak mesti ee A dan
- B itu enggak seperti itu. Bisa jadi kita
- harus mendahulukan diri sendiri, bisa
- jadi juga kita harus mendahulukan orang
- lain. Tergantung nanti
- situasinya gitu loh. Tergantung ya.
- Apakah kita harus mendahulukan
- kepentingan orang banyak daripada
- kepentingan diri sendiri secara umum?
- Iya. Tapi tidak selamanya seperti itu.
- Kadang-kadang ya kita harus mendahulukan
- kepentingan diri sendiri daripada
- kepentingan orang lain. Ya, itu seperti
- itu. Jadi yang penting adalah kita harus
- mencintai orang lain seperti nah
- mencintai diri sendiri
- artinya kalau seperti mencintai diri
- sendiri ya itu kecintaan kita kepada
- orang lain tidak harus melebihi
- kecintaan diri sendiri tetap kecintaan
- pada diri sendiri itu utama. Hm.
- baru kepada orang
- lain punya duit ya, punya duit
- Rp10.000 dalam keadaan
- lapar. Nah,
- kemudian lalu kita pengin sedekah apa
- sudah dituntut kita sedekah sementara
- itu sangat dibutuhkan oleh sendiri. Kata
- Allah,
- "Waasalunaka yunfiquunil afwa."
- Mereka akan bertanya kepadamu, Muhammad,
- apa yang yang harus kami infakkan? Kata
- Allah, "Katakan olehmu yang lebih dari
- yang kamu
- butuhkan."
- Artinya itu kita mendahulukan diri
- sendiri. Ya, ada lebihnya bantu orang
- lain, bukan membantu dulu orang lain,
- baru kemudian diri sendiri enggak
- seperti
- itu, ya. Tapi kita mencintai orang lain
- ya seperti kita mencintai diri sendiri.
- Tuh kalimat itu tuh ya. Jelas berarti
- kalau seperti mencintai diri sendiri
- artinya kecintaan pada diri sendiri
- lebih kepada yang lainnya. Tapi
- kecintaan pada diri sendiri tidak boleh
- lebih dari cinta kepada Allah dan
- Rasul-Nya. Gitu ya. Kalau yang lainnya
- boleh, tapi kepada Allah dan Rasul tidak
- boleh. Wallahualam.
- Baik. Dari Ibu Nia, Pak Ustaz di
- Sukabumi. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Tadi Ustaz
- katakan mahabbah itu memberi bukan
- menerima. Berarti kalau kita memiliki
- sifat mahabbah, hilangkan keinginan
- berharap kepada orang lain. Bukankah
- sikap ingin dicintai dan dihargai juga
- ee sikap ingin dihargai orang lain
- adalah sifat dasar manusia, Pak Ustaz.
- Mohon pencerahannya. Baik.
- Bismillahirrahmanirrahim. Manusia memang
- senang ya mempunyai sifat pengin
- dihargai, pengin dihormati, pengin
- dicintai, tapi juga menjadi tabiat
- manusia mempunyai sifat apa nam
- kekecewaan ya, sakit hati itu sifat
- juga. Nah, sekarang Allah ee kecewa dan
- sakit hati itu kan satu sifat yang
- enggak enak sekali kita rasakan. Siapa
- yang pengin sakit hati? Siapa yang
- pengin kecewa? Enggak
- ada. Enggak ada. Nah, jadi ini kecewa
- dan sakit itu adalah merupakan bahaya
- yang selalu dihindari oleh manusia. Ya
- kan? Iya. Sementara pujian atau tadi
- penghargaan itu adalah sesuatu yang
- manfaat buat kita. Senang kan kita kalau
- dipuji. Nah, jadi ada manfaat, ada
- madarat. Nah, sekarang kalau ada
- dua manfaat dengan
- madarat, apakah
- madarat dulu yang ditolak?
- Ya, menolak madarat itu lebih diutamakan
- dari mengambil maslahat atau mengambil
- maslahat itu lebih diutamakan dari
- menolak madarat.
- Coba perhatikan sekarang
- baik-baik ya. Ah, Ibu siapa tadi? Ibu
- Nia di Sukabumi. Ibu Nia ya. Ibu Nia ya.
- Seandainya ibu melihat ah ibu lagi
- salat kemudian melihat ada orang buta
- berjalan mengarah ke sumur
- tua. Bimbang dalam hati apa yang harus
- saya lakukan. Ibu kemudian meneruskannya
- salat sampai
- selesai. Dan ternyata orang buta itu
- nyemplung ke sumur
- sampai airnya mati.
- Apakah penyes ya menolong dulu ya?
- Menolong dulu gitu. Tapi karena mungkin
- Ibu enggak ngerti akhirnya ibu teruskan
- salat. Padahal
- Ibu untuk menghilangkan penyesalan yang
- berkepanjangan, maka
- Allah ya wajibkan ibu itu membatalkan
- salat. wajib membatalkan
- salatnya agar bisa menyelamatkan orang
- buta tadi sehingga
- ibu tidak akan mengalami penyesalan.
- Yang ada kebahagiaan telah
- menyelamatkan satu nyawa manusia. H ya
- kan? Tapi kalau ibu teruskan salat,
- orang buta itu nyemplung umpamanya mati,
- maka ibu akan
- terus
- dihantui perasaan
- bersalah. Ini Allah tidak ingin ini
- terjadi pada kita
- hamba-Nya.
- Makanya itu yang akan menyesal
- berkepanjangan ini didahulukan oleh
- Allah dihilangkan.
- Ibu berharap orang dapat pujian,
- ternyata enggak dapat pujian dari orang.
- Kesal jadinya ibu nyesal ya,
- kecewa. Setiap ngelihat dia begitu lagi.
- Setiap ngeliwat lama itu berkepanjangan.
- Ah, karena itulah untuk menghilangkan
- nih perasaan-perasaan yang bisa merusak
- batin ibu, jangan
- berharap kepada manusia. Sebab manusia
- mungkin akan membalas, memberikan apa
- yang kita inginkan, mungkin juga tidak.
- Tapi kalau kita mengharapnya kepada
- Allah, Allah pasti memberikan apa yang
- ingin yang yang kita inginkan. Lalu
- kenapa kita mengharapkan sesuatu yang
- tidak pasti dan mengabaikan sesuatu yang
- sudah pasti akan kita terima?
- Wallahualam.
- Ya, selanjutnya pertanyaan dari hamba
- Allah, Pak Ustaz. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Ustaz, banyaknya
- perselisihan di antara sesama manusia
- bahkan seagama. Apakah ini tanda bahwa
- dalam diri manusia zaman sekarang tidak
- ada sifat mahabbah walaupun dia
- beragama? Dan kenapa ada negara yang
- mayoritas penduduknya bukan Islam tapi
- perilaku masyarakatnya sangat islami,
- mencintai dan menyayangi sesama dan
- mengharga
- Bismillahirrahmanirrahim. Kalau yang
- dimaksud dengan perselisihan itu adalah
- perselisihan di kalangan
- ulama. Artinya perselisihan ini
- perbedaan pandangan atau pendapat.
- Kalau itu masalah adalah masalah
- fikhiah, itu adalah masalah yang biasa,
- bukan hal yang buruk, justru itu baik.
- Tapi kalau perselisihan, perbedaan
- pendapat, pandangan itu dalam masalah
- usul, dalam masalah apa namanya akidah,
- nah ini yang apa namanya yang enggak
- beres, yang enggak benar ya. Itu seperti
- ini buruk.
- Nah, tetapi kalau perselisihan ini
- dimaksudkan antara sesama umat Islam ya,
- sering bertengkar gitu kan,
- dukung-dukungan kayak sekarang ini di
- sini
- yaitu ada kalanya itu adalah namanya
- politik ya. Kalau politik kan ee ada
- dikataan begini, politik itu enggak
- mengenal apa namanya ee teman atau
- sahabat abadi. Yang ada adalah
- kepentingan abadi. Kepentingan abadi.
- Jadi sekarang berantem tapi kalau
- kepentingannya sama ya udah enggak
- berantem lagi
- rangkul-rangkul. Tapi seminggu kemudian
- karena kepentingannya beda,
- jotos-jotosan. dalam politik itu ya
- biasa seperti itu ya. Kalau kalau
- politik ya begitu. Tapi kalau dalam
- kehidupan yang
- nyata nah kita ini untuk apa kita
- ribut? Untuk apa kita
- berselisih? Coba renungkan baik-baik
- oleh kita ya. Maka pasti kita akan
- menemukan jawaban bahwa semuanya ini
- adalah omong kosong. Semua ini akan
- merugikan diri kita sendiri.
- Nah, kenapa di negara-negara yang bukan
- agama Islam mereka mengerti tentang hak
- asasi manusia, prinsip-prinsip atau
- konsep-konsep Islam justru mereka
- laksanakan? Di kita sendiri yang
- mayoritas Islam tidak. Ini masalahnya
- bukan masalah Islam atau tidak
- Islam. Ini masalahnya adalah
- pengetahuan. Ya. Iya. masalahnya
- kesadaran gitu tuh. Masalahnya
- kesadaran. Kesadaran dari mana?
- Kesadaran menggunakan akal sehatnya
- dengan baik tadi. Makanya kata Allah,
- afala
- takqilun. Begitu banyak ya, Saudara
- dalam Al-Qur'an ayat yang memerintahkan
- kita menggunakan akal sehat.
- Sebab kalau orang menggunakan akal
- sehatnya, enggak bakalan dia melakukan
- perbuatan yang merugikan dirinya,
- apalagi merugikan orang lain. Enggak
- bakalan kalau menggunakan akal sehat.
- Nah, itu mereka yang bukan
- Islam juga orang Islam bisa melakukan
- itu. Nah, tinggal sekarang siapa yang
- melakukan kalau ternyata yang
- menggunakan akal sehat itu adalah non
- Islam, ya maka mereka ngerti apa itu
- adalah hak asasi manusia.
- Tapi kalau orang Islam enggak
- menggunakan mau menggunakan akal
- sehatnya, ya bukan karena Islamnya,
- tetapi karena tidak mau menggunakan
- perintah
- Islam. Ini masalahnya.
- Jadi jangan disalahkan
- Islamnya, tapi orangnya itu tadi itu
- kita kalau
- umpamanya ya si ee kelompok anu kelompok
- anu melakukan kesalahan disebutnya
- adalah oknum. Tapi giliran orang Islam
- disebutnya adalah Islamnya. Awas ini ada
- orang yang menggiring opini ke sini gitu
- ya. mau membuat citra Islam buruk itu
- sudah dari dulu ini sudah di di apa
- namanya diprogram seperti itu. Dan
- agen-agnya itu adalah justru orang Islam
- sendiri ya. Orang Islam sendiri. Maaf
- ya, coba Ibu atau Saudara perhatikan.
- setiap menjelang tanggal 25 Desember
- pasti ribut tentang halal boleh dan
- tidaknya atau haramnya mengucapkan
- selamat apa namanya Natal dari dulu ini
- dari dulu dari dulu ya kita ini mau aja
- itu di diadu supaya kita jangan bersatu
- gitu tuh para kiai ya kaum muslimin
- bertengkar akhirnya kita sesama yang
- mengatakan boleh, yang tidak boleh.
- Padahal yang mengatakan boleh dalilnya
- dari dulu sudah
- jelas. Yang mengatakan haram dari dulu
- sudah jelas. Gitu ya. Nah, makanya saya
- ketika ditanya, "Pak Ustaz, apa hukumnya
- Natal mengucapkan selamat Natal dan
- baru?" Dari dulu ulama sudah mengatakan
- ada yang mengatakan boleh, ada yang
- mengatakan tidak boleh. Ada yang
- mengatakan haram, ada yang mengatakan
- tidak haram. dari dulu ini sudah ada ya.
- Jadi enggak perlu lagi ini ditanyakan
- lagi. Terserah sampean mau ke mana.
- Punya tanggung jawab masing-masing
- kepada
- Allah. Akhirnya karena saya menyampaikan
- hukumnya haram. Yang nerima, yang
- mengatakan tidak haram balas lagi.
- Padahal teman akhirnya berantem kita.
- Jadi kita ini sudah ada yang
- memancing ini. Masalah ini akan
- ditimbulkan terus. Yang menimbulkan
- masalah ini
- siapa? Nah, ini pertanyaannya. kita ini
- senang kok rupanya di diadu-adu begitu
- dan itu kiai-kiai pada menyampaikan ya
- di apa namanya entah YouTube-nya lain
- sebagainya ya kata saya ee dalam hati
- emang kita ini gampang banget diadu
- enggak sadar yang bertanya ini siapa ya
- awalnya dari man dulu masalahnya itu
- sudah ada, sudah clear tinggal kita
- pilih ya tuh tinggal kita pilih terserah
- serah masing-masing kita punya tanggung
- jawab gitu. Jadi enggak usah ribut lagi
- masalah
- itu ya.
- Begitu. Nah, jadi persatuan ini adalah
- yang penting kita ini bersatunya. Jangan
- karena kita beda pendapat lalu kita
- berbeda sikap. Abu Hanifah, Maliki,
- Syafi'i, Hambali emang sama pendapatnya?
- Tidak beda-beda. Beda. Mereka itu
- berbeda pendapat apa mereka berantem?
- Tidak. Tidak tidak pernah berantem.
- Saling menghormati, saling memuliakan.
- Kenapa? Karena ininya yang dipakai. Akal
- sehat mereka yang
- dipakai. Akalnya yang dipakai, bukan
- okolnya. Kata orang Jawa. Nah, kita ini
- lagi lebih banyak menggunakan okol
- daripada akal. Akhirnya begini kita
- berantem. Makanya Allah begitu banyak
- dalam Al-Qur'an mengatakan, "Afala
- takqilun?" Apa kalian tidak berakal?
- Afala tatafakarun. Apa kalian tidak
- berpikir tazkiratanil albab? Kurang
- apalagi itu ayat menjelaskan kepada
- kita. Lalu kapan sadarnya kita? Dan yang
- justru yang apa namanya mengungkapkannya
- begini adalah yang disebut dengan ulama.
- Maka benar kata Nabi, di akhir zaman
- nanti fitnah itu akan keluar dari ulama
- dan kembali akan menyerang kepada ulama.
- kelakuan mereka sendiri
- masalahnya ya. Bagaimana Pak Hari? Jelas
- ya? Jelas. Udahlah. Jadi kita enggak
- usah ribut lagi ya. Masalah cadar
- diributin. Masalah celana cingkrang
- diributin. Jidadin
- diributin. Ahah. Jidat-jidat dia mau
- dihitin mau apa? Celana cingkrang. Wong
- celana-celana dia pakai badan-badan dia.
- Kenapa kita yang ribut? Kita enggak suka
- tinggalin selesai. Yang suka maulid
- jalankan, yang enggak suka maulid
- tinggalin selesai. Sudah enggak usah
- ribut ya. Kalau Imam Syafi'i, Imam Abu
- Hanifah berbeda enggak ribut. Kita yang
- begitu aja ribut. Ya udah pepesan kosong
- direbutin kita ini. Akhirnya kita enggak
- pernah bersatu. Karena enggak bersatu
- enggak bisa kuat kita ini. Karena kita
- senang
- gontok-gontokan, mereb-rebutkan pepesan
- kosong.
- Ya, mudah-mudahan dengan demikian kita
- ini menyadari sudahlah enggak ada lagi
- tuh yang meributkan masalah tarawih
- nanti nih. Mau 20 mau 8 ya. Oh, enggak
- tarawih juga enggak apa-apa. H lah. Iya,
- enggak tarawih juga enggak apa-apa. Nah,
- ini malah diributin terus. Ini tiap
- tahun akan datang lagi nanti ribut lagi
- masalah itu. 8 20 8 20. Alah ya. Saya
- sudah udah bosan ngomongin yang begitu
- ya. Baik Pak, barangkali inilah yang
- bisa saya sampaikan pada sore ini.
- Harapan saya mudah-mudahan Allah
- Subhanahu wa taala panjangkan umur kita
- dalam taat kepadanya. Allah bimbing hati
- kita ke jalan yang diridai dan
- dicintainya. Allah hiasi hati kita
- dengan akhlak yang mulia. Allah
- bersihkan hati kita dari akhlak yang
- hina. Allah limpahkan rahmat, taufik,
- dan hidayah kepada kita anak cucu kita
- sehingga dapat istikamah dalam
- menjalankan perintahnya menelarangan.
- minhabanaunah
- waallahuidina Muhammadin wasallam
- alhamdulillahiabbil alamin dan saya
- mohon doanya insyaallah ya hari hari
- Minggu besok pari ya saya akan ngecor
- dan terima kasih kepada pendengar yang
- telah
- turut
- berpartisipasi berinvestasi ukhrawi ba
- dengan dana maupun dengan doa ya. Jadi
- walaupun doa jangan merendahkan kekuatan
- doa sebab nilai dan kekuatan doa tidak
- bisa diukur dengan kekuatan dana sebesar
- apapun juga. Karena itu bagi Anda ya
- pendengar yang tidak turut membantu
- dengan dana jangan merasa kecil ketika
- hanya bisa berinvestasi dengan doa. Itu
- kekuatannya luar biasa. Saya harapkan ya
- doa dari Bapak dan Ibu, Saudara semua
- mudah-mudahan ini semua menjadi wasilah
- ya, diampuni kita oleh Allah Subhanahu
- wa taala dan dikaruniakan kepada kita
- ajrun ghairu mamnun. Wallahuam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Demikian
- ikhwan akhwat kebersamaan kita di acara
- tausiah sore bersama Ustaz Ahmad Zuli
- Kholil. Terima kasih Ustaz atas
- pencerahannya dan tausiahnya sore hari
- ini dengan tema mahabbah. Semoga kita
- digolongkan ke dalam orang-orang yang
- muhibbin. Amin ya Allah ya rabbal
- alamin. Yang sudah bergabung terima
- kasih banyak. Yang belum sempat
- terbacakan mohon maaf karena waktu yang
- terbatas. Saya Fahri temani Neza dan
- juga Hafiz ulir pamit. Subhanakallahumma
- wabihamdika ashadu alla ilaha illa anta
- astagfiruka wa atubu ilaik.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.