Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 [Musik] 0:07 Brail 0:14 TV Huda warahmatan lil 0:21 muhsinin alladzina 0:24 yuqimunas shata 0:27 wa'tunazzakata wahum 0:38 Ulaika ala hudam 0:41 mirbhim wa 0:43 ulaika humul muflihun. 0:51 Waminanasi may yastari lahuwal hadisi 0:57 liyudilla 1:01 sabilillah 1:03 liyudilla 1:05 sabilillahi bighhairi ilmin 1:09 waattakhidza huzwa. 1:14 Ulaika lahum 1:17 adzabum 1:21 muhin. Faidza tutlaa alaihi 1:25 ayatuna walla 1:28 mustakbiran kaallam yasma'ha ka 1:34 fi kaanna 1:37 fi udunaihi 1:40 waqra 1:42 fabasyirhuzabin alim. 1:48 Innalladina amanu 1:51 wailushati lahum 1:54 [Musik] 1:55 jannatun 1:58 na'im. Kholidina 2:02 fiha 2:03 wa'dallahi haqqo 2:06 wahuwal azizul hakim. 2:15 [Musik] 2:17 waq ardhi rawasiya an tamida bik wabatta 2:24 fiha wabatta fiha min kulli 2:31 dabbah wa 2:34 anzalna 2:36 minasamaai maan 2:39 [Musik] 2:40 Faambatna 2:43 fiha 2:45 Faambatna fiha min kulli 2:49 zaujin karim. 2:56 [Musik] 3:03 balidzalimuna 3:05 fiolim 3:09 mubin. 3:13 Sadaqallahuladzim. Asalamualaikum 3:15 warahmatullahi wabarakatuh. 3:40 mulai 3:41 ya. 3:43 Bismillahirrahmanirrahim. Bang Ian 3:44 silakan. 3:47 Sebentar saya setting kamera dulu nih 3:49 sambil nunggu moderator, sambil nunggu 3:51 narasumber. Maksud saya 3:54 Kang masih ada di jalan ya sepertinya 3:58 lagi OTW masuk. Selamat malam semuanya 4:01 pemirsa ILT di mana pun Anda berada. 4:04 Pendengar di radio Rasil Rasi Radio. Eh, 4:07 saya 4:08 Ivan pada kesempatan kali ini menjadi 4:12 moderator ya menggantikan biasanya Bang 4:14 Haldi. Izinkan saya memberikan ee kata 4:18 sambutan untuk memulai Indonesia 4:22 Talk yang ke-200. Jadi tema kita pada 4:26 hari ini adalah 4:28 ee Jakarta butuh siapa? Karena kita 4:31 sedang menyambut kontestasi PK Jakarta 4:34 untuk pemilihan calon gubernur tahun 4:37 2024 sampai 2029 dan masalah Jakarta 4:40 sangat beragam sekali. Masalah Jakarta 4:42 ini sangat diversang berkembang sangat 4:45 sangat kompleks. Mulai dari polisi 4:47 udara, pembangunan yang ee memunculkan 4:50 ruang kumuh sampai pembangunan manusia. 4:54 yang perlu kita tingkatkan untuk 4:56 menambah daya ee daya kompetitif 4:59 Indonesia di mata global. Dengan saya 5:03 sekarang sudah ada Kang Yayat dari 5:06 pengamat perkotaan Universitas Trisakti. 5:08 Juga ada Pak Mardani Alisera sebagai 5:12 anggota DPR RI Komisi 2 dari Fraksi PKS. 5:16 Selamat malam Kang Yayat. 5:20 Malam Bang Ian. Kang Yayat. Halo. 5:22 Asalamualaikum. 5:24 Salamun hatur nuhun pisan. Makasih. 5:27 Sama-sama. Iya. 5:32 Selamat malam ni. Iya. Jadi izin membuka 5:35 Kang ya. Tema kali ini kita Jakarta 5:37 butuh siapa dan apa yang dibutuhkan 5:40 untuk sosok pemimpin Jakarta 5:42 selanjutnya. Karena kita tahu ya masalah 5:44 Jakarta ini bukannya tambah ee tambah 5:47 gampang diselesaikan malah tambah susah. 5:50 Kita tahu pemukiman kumu jadi program 5:53 gubernur dari tahun mungkin dari tahun 5:54 2004 ya sampai sekarang masih ada dan 5:57 mungkin persentasinya enggak berkurang 5:59 gitu. Sekarang juga tambah polisi udara 6:01 kemudian tambah yang lainnya. Nah, ini 6:03 kira-kira kita apa namanya kita butuh 6:05 semacam pencerahan kira-kira apa yang 6:07 dibutuhkan oleh ee Jakarta ke depannya. 6:10 Mungkin saya izin untuk melempar narasi 6:12 ini kepada Pak Mar dan Julu sebagai 6:14 pembicara pertama kita. 6:17 Silakan waktu dan layar dipersilakan. 6:20 Ya, saya duluan. Iya, baik baik. 6:22 Silakan. Bismillahirrahmanirrahim. 6:24 Asalamualaikum warahmatullahi 6:28 wabarakatuh. Alhamdulillah. Allahumma 6:30 sholli ala sayyidina Muhammad. Amma 6:33 ba'd. Leaders dan calon leaders di mana 6:36 pun berada. Jakarta butuh siapa ya? Ee 6:42 Jakarta butuh apa juga? Ini pertanyaan 6:45 menarik karena bulan depan tepatnya 27 6:48 November 2024 kita akan melaksanakan 6:52 Pilkada. Walaupun kita bersedih Mas Anis 6:55 Baswedan tidak ee dapat bertanding, 6:58 tetapi yang ada juga adalah fakta yang 7:01 harus kita 7:02 cermati. Pandangan saya tiga hal, leader 7:05 dan calon leaders. Yang 7:11 pertama dari masing-masing calon ini ee 7:16 kalau bahasa Sunda tuh, Kang Yayat ee 7:19 adat kurungku katanya ya. Ee iya kalau 7:24 kata orang Betawi emang ee dari oroknya 7:28 sudah kayak begini gitu ya. 7:31 Kalau kata orang Jawa ya ee betul-betul 7:36 ee kita perlu ee menang tanpa ngasorake 7:40 gitu. Bahwa yang bijak itulah yang harus 7:44 betul-betul kita 7:46 pilih. Bab TRK record ini penting dan ee 7:51 tiga-tiganya punya kelebihan. ee 7:53 tiga-tiganya Kang RK tentu ee 7:56 berpengalaman di 7:59 Walikota ee kemudian di gubernur ya ee 8:03 di IKN juga jadi 8:04 kurator. 8:06 Ee Mas Pram ee petugas parta yang luar 8:10 biasa taat pada ee perintah Ibu Ketua 8:14 Umum lagi asik jadi menteri tiba-tiba 8:17 dapat tugas ya jadi calon gubernur DKI. 8:21 Bahkan ee Bung Rano yang di atas juga 8:25 siap. Ee dua-duanya petugas partai yang 8:27 luar 8:28 biasa. Pak Darma Pongrekun ee jenderal 8:33 yang punya ee pengalaman tempur eh luar 8:37 biasa walaupun beberapa cukup 8:38 kontroversi terkait 8:40 dengan penanganan COVID dan lain-lain 8:43 ya, tetapi dasarnya mungkin ada. Nah, 8:45 yang pertama pandangan saya TRK record. 8:47 Eh, publik perlu melihat TRK record 8:50 dengan jelas. publik perlu ee membedah 8:54 TRK record masing-masing mana yang 8:55 paling cocok. Kalau bisa jangan trust 8:58 and error ya karena tadi e Ivan sudah 9:01 mengatakan persoalan Jakarta luar biasa. 9:04 Kang Yayan ini sudah ke berapa kita ya 9:06 bahas Jakarta ya bagaimana spiral 9:09 Jakarta dari pusat yang kosong gitu 9:12 sampai ke tengah gitu dan ini perlu 9:15 political will yang kuat, track record 9:17 yang kuat, kepimpinan yang kuat. Nah, 9:20 yang kedua tentu program kita perlu 9:23 kemarin waktu awal mungkin karena belum 9:26 lepas jadi kontestasi karya gagasannya 9:29 masih sedang. Besok kita akan debat yang 9:32 kedua, leaders dan calon leaders. 9:34 Sekarang ada kesempatan, mari kita 9:36 cermati yang kedua besok agar ee bisa 9:40 betul-betul kita melihat mana yang 9:43 paling punya program yang komact, yang 9:46 executable, yang memang berbasis kepada 9:49 masyarakat. jangan malah sebaliknya 9:51 sibuk menjadi ee wakil dari yang lain. 9:55 Terakhir yang ketiga pandangan saya 9:57 memang ee kita perlu melihat ee 10:02 bahwa ee yang maju ini tidak lepas dari 10:06 kepentingan-kepentingan yang ada di 10:08 belakangnya. Nah, kita perlu melihat 10:10 dengan seksama 10:12 faktor-faktor behind the scene-nya. 10:14 Siapa saja yang akan menjadi penentu di 10:17 belakang. Ee mudah-mudahan sih kita 10:19 melihat mereka betul-betul akan fokus 10:22 kepada warga, warga, dan warga. 10:25 Karena dengan status ibu kota yang belum 10:29 jelas belakangan ada twin sister segala, 10:31 twin city segala, akang yaya, kita perlu 10:35 betul-betul ee tidak 10:38 menyia-nyiakan peluang Jakarta menjadi 10:40 kota global ee di landscape 10:43 Undang-Undang DKJ-nya. Bahkan aglomerasi 10:46 sekitar Jakarta diminta untuk mendukung 10:48 Jakarta. Ee walaupun bebadan menjadi 10:51 berat tetapi tantangannya juga ee tidak 10:55 kurang-kurang dan peluangnya juga sangat 10:57 besar. Target Jakarta menjadi 20 kota 11:00 terbaik di dunia dalam 2030. Bukan 11:03 perkara yang mustahil, tapi betul-betul 11:06 menjadi pekerjaan berat dan manusia 11:10 manusia manusia. Nah, karena itu 11:12 anggaran kita. Nah, menarik nih. 11:14 Beberapa sudah mulai Kang RK sudah 11:16 ngangkat ee pemberdayaan RW 1 RW R00 11:20 juta dan kalau saya melihat lebih fokus 11:23 lagi Karang Taruna juga atau anak muda 11:25 dibuat kompetisi yang sehat, yang 11:28 inklusif bahwa uang itu dibawa ke bawah. 11:31 Biarkan masyarakat yang betul-betul 11:33 paling tahu di bawah apa yang 11:34 dibutuhkan. Apalagi kalau kita lihat 11:36 sekarang kelas menengah kita makin turun 11:38 dan Jakarta juga harus betul-betul 11:40 menunjukkan kelas menengah yang tangguh 11:42 dan itu cuma bisa diwujudkan kalau 11:44 sumber daya manusianya bagus, punya 11:46 kemampuan inovasi teknologi yang 11:49 akhirnya memenangkan kompetisi, bukan 11:50 cuma kompetisi nasional tapi kompetisi 11:52 global dan itu memerlukan ee ketekunan 11:56 dan kita memerlukan gubernur yang 11:58 betul-betul siap bekerja untuk 12:00 masyarakat Jakarta itu. Baik. 12:05 Terima kasih, Pak ya. ini jadi salah 12:09 satu tatan juga ya kalau kita ee 12:13 untuk Jakarta 12:17 ini kebetulan mungkin dari Mas Bang RK 12:21 ya sekarang manggilnya bukan Kang Ridwan 12:23 Kamil tapi Bang 12:27 RKnya enggak stabil ini 12:31 saya sudah terdengar ya iya tadi suara 12:35 lanjut suaranya suaranya 12:38 kurang stabil ya tadi ee 12:41 ya gambarnya tidak bergerak tapi suara 12:44 ada enggak apaapa sudah jelas 12:49 lanjut siapsiap maaf kayaknya sedikit 12:52 ada gangguan ya terima kasih Pak atas 12:53 pemaparannya ya mungkin kita lanjut ke 12:55 Kang Yayat ya Kang jadi sebagai pengamat 12:58 perkotaan ya apalagi studinya tuh kan 13:00 studi teknologi ya mungkin Kang Eet juga 13:02 sudah hidup di Jakarta ya sudah puluhan 13:04 tahun ya melihat Jakarta ini ya 13:06 permasalahannya nya kita lihat Tambora 13:08 misalkan Tambura itu kan kawasan pandat 13:10 penduduk dan mungkin Kang Eat juga 13:11 sering komentari ya dan kira-kira ini 13:13 kan jadi salah satu em fokus juga ya di 13:16 dalam Pilkada ini bagaimana kita 13:18 menengahi permasalahan pemukiman kumu 13:20 gitu memungkinkan enggak sih, Kang, 13:22 untuk kita bisa ee menyelesaikan masalah 13:25 pemukiman kumu bagaimana kalau misalkan 13:28 itu kita selesaikan karena mungkin ini 13:31 kan juga jadi problem gubernur-guber 13:33 sebelumnya ya tapi benar ada political 13:36 will tapi Kan Jakarta ini kan sebetulnya 13:38 relatif lebih tersentralisasi ya karena 13:40 walikota disuruh oleh gubernur dan 13:43 enggak ada level du di dalam ee 13:45 pemerintahannya. Menurut Kang seperti 13:47 apa tuh, Kang? Biar kita sama-sama bisa 13:49 memahami ya. Baik, terima kasih, Mas 13:53 Ivan. Terima kasih Bang Marani Ali, ya. 13:56 Sudah lama enggak ketemu. Nah, sekarang 13:58 yang menarik begini. Sekarang menarik 14:00 ini bagaimana cara menyelesaikan masalah 14:03 Jakarta. 14:04 Jakarta itu tidak butuh 14:07 Superman. Siapapun yang Gubernur Jakarta 14:10 itu dia bukan Superman, tapi dia butuh 14:14 super team. Artinya apa? Kekuatan 14:17 seorang aktor, gubernur itu tidak bisa 14:20 bekerja sendiri, tapi memang harus punya 14:23 komitmen bagaimana mengatasi masalah 14:26 kotanya dengan langkah-langkah strategi 14:28 yang jelas, tegas, dan terarah. Saya 14:32 membandingkan dengan cara Liquanyu ya 14:37 ketika menata Singapura yang kumu yang 14:40 tertinggal kampung dan sebagain 14:42 sebetulnya Singapura juga dulu lebih ini 14:45 dari Jakarta tapi yang menarik adalah 14:47 pada visi pengembangan Singapura yang 14:50 lebih jelas bagaimana cara memulainya. 14:53 Jadi kekuatan pertama yang dia lakukan 14:56 adalah membuat analogi bahwa Singapura 15:00 itu bukan orange, bukan jeruk ya, tapi 15:05 duren. 15:07 Durian. Apa yang membedakan antara 15:09 orange dengan durian? Kalau orange atau 15:12 jeruk itu diperas, dibelah, diperas, 15:16 dihisap, ditinggal. Tapi pertanyaannya, 15:20 ada enggak orang yang berani memeras 15:22 duren? 15:25 Tidak ada orang yang berani memeras 15:27 duren. Tapi di dalam duren itu ada apa? 15:31 Ada daging atau buah yang manis, yang 15:36 legit. Itulah sumber daya manusia. 15:39 Itulah kecerdasan. Jadi, pertanyaan yang 15:42 kita lakukan adalah yang mau kita benahi 15:46 kotanya atau manusianya juga? 15:49 Orientasi kita selama ini sebetulnya 15:52 lebih banyak pada penanganan-penanganan 15:55 persoalan 15:56 fisiknya. Padahal menata kota itu juga 15:59 adalah menata manusianya. 16:02 Saya agak sedikit prihatin sebetulnya 16:04 setiap kita masuk di era demokrasi 16:07 Pilkada itu kesannya itu ada tulisan 16:10 yang menarik di sebuah media nasional 16:14 membuat statementnya dari ee almarhum ee 16:18 ayahandanya Presiden Prabowo Pak Sumitro 16:21 itu ada 16:22 statement kalau dibuat dalam judul 16:25 tertulis di mengatakan lapar uang dalam 16:28 demokrasi. 16:30 Jadi ketika dalam panggung demokrasi 16:33 pemilihan kepala daerah atau yang lain 16:35 tuh itu lebih banyak kata janji janji 16:38 bantuan, bantuan, bantuan, bantuan. Jadi 16:41 begitu banyak kata bantuan, seakan-akan 16:44 kita tidak punya powerful. Orang-orang 16:47 di Jakarta tuh lemah, sumber dayanya 16:49 tidak maksimal. 16:51 Jadi kesannya itu demokrasi itu, Pilkada 16:55 itu hanya untuk kelompok-kelompok yang 16:57 termarginalkan, yang tidak punya 16:59 kapasitas untuk bangkit lemah. Itu yang 17:02 sebetulnya dalam konteks Pilkada Jakarta 17:06 ada ketidakadilan sebetulnya. 17:08 Ketidakadilan pertama satu dilihat dari 17:11 sudut pandang janji para kandidat untuk 17:14 menyelesaikan masalah Jakarta yang lebih 17:17 banyak didominasi oleh janji-janji 17:20 pemberian bantuan. 17:22 seperti contoh ya, janjian kepada RT 17:25 atau RW itu 200 berapa 1 miliar atau 17:29 berapa itu ya kan itu kan janji. 17:31 Kemudian memberikan bantuan bantuan 17:34 bantuan ini yang sebetulnya harusnya 17:36 kita evaluasi karena kita juga harus 17:38 melihat dari apa yang terjadi sekarang 17:41 untuk mengatasi masalah Jakarta. Contoh 17:44 satu, Jakarta tahun ini atau tahun lalu 17:48 itu menghabiskan 17 17:51 triliun. Menghabiskan 17 triliun untuk 17:54 apa? Untuk bantuan Jakarta PER, BPJS, 17:58 kesehatan, untuk angkutan transportasi 18:01 dan sebagainya. Tapi yang menjadi 18:03 pertanyaan adalah apakah bentuk 18:05 intervensi itu merubah secara kultur dan 18:09 struktur? Tidak banyak. Contoh misalnya 18:13 kartu Jakarta Pintar Jakarta diberikan 18:16 hampir 2,8 triliun. Apa yang terjadi? 18:20 Yang pintar itu bukan anak-anaknya tapi 18:22 bapak ibunya. Karena ada sebagian 18:25 dananya itu dipakai untuk cicilan motor, 18:27 cicilan panci, cicilan apa. Dan ternyata 18:30 anaknya pun begitu lulus tetap tidak 18:32 bisa ditebus ijazahnya. Jadi 18:35 persoalannya bantuan-bantuan di sektor 18:38 pendidikan, kesehatan, dan sebalin itu 18:40 tidak merubah 18:41 kulturnya. Atau misalnya contoh bantuan 18:44 yang demikian banyak kepada sektor 18:47 transportasi dalam bentuk ee pemberian 18:50 bantuan subsidi untuk naik Transjakarta 18:53 yang lebih terjangkau, naik LRT atau 18:55 MRT. Pertanyaannya terjadi enggak 18:58 perubahan? Ya, terjadi enggak tidak 19:01 perubahan orang yang naik anggutan umum 19:03 semakin banyak atau tidak? Tidak. Hanya 19:06 di bawah 20%-an. Nah, ini yang terjadi 19:09 adalah cara kita membenahi Jakarta itu 19:13 kadang-kadang tidak membaca apa yang 19:15 menjadi latar belakang perubahan itu 19:17 tidak terjadi. Contohnya misalnya untuk 19:20 mengatasi bagaimana mendorong bagaimana 19:24 mendorong orang untuk beralih 19:26 menggunakan public transport di Jakarta. 19:29 Ya, contohnya pemerintah DKI sudah 19:32 hampir 3 triliun mengeluarkan subsidi. 19:35 Pertanyaannya, mengapa tidak ada terjadi 19:38 peningkatan signifikan? Data BPS itu 19:41 menunjukkan bahwa hampir 19:45 71% atau lebih dari 70% mendekati 80% 19:49 warga itu menggunakan kendaraan pribadi. 19:54 Ternyata 70 dari 70 80% itu 90% ogah mau 20:01 naik ke angkutan umum. 20:04 Jadi pertanyaannya ini struktur yang 20:06 sudah 20:07 terbentuk, kultur yang sudah terbentuk 20:09 yang menganggap motor pribadi itu itulah 20:12 anggutan saya. Jadi pertanyaannya berapa 20:16 besar kekuatan modal dan kapasitas kita 20:20 untuk mendobrak kekakuan dan 20:23 terbentuknya kultur yang seperti 20:26 itu? Harusnya kan seperti seorang 20:29 gubernur atau siapapun. Berapun besar 20:32 anggaran yang kita keluarkan untuk 20:34 mengatasi masalah Jakarta, berapa banyak 20:38 perubahan itu bisa terjadi tanpa kita 20:41 memahami. Jadi, tapi bagaimana misalnya 20:43 dengan cara kalau misalnya Singapura itu 20:46 ya misalnya dengan kekuatan struktur itu 20:49 dia bisa mencoba misalnya ya 20:53 mengendalikan atau meningkatkan sumber 20:56 daya manusianya. Nah, contohnya begini. 20:58 Kalau ingin mengenahi apa? menangani 21:01 Jakarta. Mana yang lebih dulu diatasi? 21:05 Janji-janji bangun apa? Giant Seawall, 21:08 bangun ini, bangun ini, atau membangun 21:11 kapasitas sumber daya manusianya. 21:13 Contohnya misalnya dulu Bang Ali tahu 21:17 Jakarta itu harus diikan 21:19 penduduknya. Dia membuat peraturan ya, 21:22 Jakarta tuh sesuai dengan daya tampung 21:24 daya dukungnya itu harus R juta. Apa 21:28 statement dari Bang Ali? Jakarta menjadi 21:31 kota tertutup. Pertanyaannya, bisa 21:34 enggak kita menutup semua batas 21:37 pintu-pintu masuk? Enggak bisa. Tapi 21:41 pertanyaannya, bisa enggak Jakarta 21:43 misalnya ini kan Jakarta punya 21:45 kewenangan dengan Undang-Undang Nomor 2 21:47 Tahun 2024 untuk mengendalikan 21:52 urbanisasi dan jumlah pendatang yang 21:54 memang dalam kategori tidak mampu secara 21:57 ekonomi dan para pencari kerja. 22:00 Dan datanya menunjukkan hampir sebagian 22:03 besar yang masuk itu kategori rata-rata 22:07 S3, SD, 22:09 semp ya kan SMP sama SMP sama SD. Nah, 22:15 pertanyaannya kalau dengan kapasitas 22:17 seperti itu berarti kapasitas secara 22:20 pendidikan dan kapasitas sumber daya 22:23 manusia itu dapat kerja apa di Jakarta? 22:27 Nah, makanya saya mengatakan ada 22:30 bagusnya keberanian para gubernur itu 22:33 adalah berani enggak dia membuat 22:35 peraturan daerah terkait aspek 22:37 kependudukan. Misalnya 22:39 contoh syarat untuk mendapatkan NIK dan 22:42 KTP Jakarta itu harus 22:46 SMA. Jadi kenapa saya harus SMA? itu 22:50 program wajib pemerintah pendidikan 12 22:53 tahun ya kan dengan SMA dia satu punya 22:57 opportunity untuk naik pada jenjang 22:59 pendidikan yang lebih bagus lagi. Dengan 23:02 SMA dia punya insentif yang lebih besar 23:04 dari income-nya misal dengan SMA dia 23:07 bisa di-upgrade kapasitas dengan 23:09 keterampilan yang lebih bagus. Nah, 23:12 pertanyaannya kalau yang tidak mau 23:14 sekolah, saya enggak mau ini, bisa 23:16 enggak saya mendapatkan KTP atau NIK 23:20 Jakarta? Justru di situlah masuk kartu 23:23 Jakarta pintarnya. Yang tidak mau 23:26 sekolah tidak akan pernah dapat NIK atau 23:29 KTP kalau Anda tidak apa tidak sekolah 23:33 karena sekolahnya gratis. Dan tahun ini 23:36 ya, tahun ini ya saya mengatakan bahwa 23:39 DKI itu akan merubah kebijakan kartu 23:42 Jakarta pintar dengan sekolah 23:44 gratis. Nah, artinya apa? Ada 23:48 ribuan kesempatan bagi warga Jakarta 23:52 untuk naikkan kapasitas sumber daya 23:55 manusianya. Nah, kalau misalnya kita 23:58 begini begini saja, mohon maaf ya, 23:59 kadang-kadang kita mengatakan ya Jakarta 24:02 terbuka, kota. Tapi yang menjadi 24:04 persoalan adalah begitu banyak yang 24:06 punya masalah di daerah lain yang 24:09 katakanlah para pimpinan daerah lainnya 24:11 tidak bertanggung jawab dalam 24:13 pengembangan sumber daya manusia yang 24:15 menciptakan lapangan kerjanya. Terjadi 24:17 tekanan urbanisasi yang masuk demikian 24:19 besar ke Jakarta membuat padat Jakarta. 24:22 Dan tahu enggak apa yang terjadi di 24:24 Jakarta itu? Itu kalau saya katakan 24:26 istilah jok lucunya ada kelompok 24:29 rombengan. 24:30 Rombongan yang suka nebeng sama 24:33 teman. Apa itu? Adalah yang numpang 24:37 kakak. Satu kakak itu bisa 10 sampai 20 24:40 keluarga. 24:41 Bayangkan. Dan mereka-mereka itu tidak 24:44 punya status yang jelas dalam konteks 24:46 tempat tinggal dan pekerjaan. Dan ini 24:49 akhirnya apa? 24:51 menjadi beban PEMPR ketika sebagian 24:53 besar dapat bantuan kesehatan misalnya 24:57 BPJS misalnya. Bukan tidak bukan salah 25:01 tapi pertanyaan memang harus dibantu 25:03 tapi ada enggak persyaratan yang bisa 25:05 dibuat misalnya bisa menerima bantuan 25:09 sosial jika sudah 10 tahun tinggal di 25:12 Jakarta atau 5 tahun di Jakarta. Kenapa 25:15 dikasih 5 tahun 10 tahun? supaya punya 25:19 kapasitas untuk meng-upgrade kemampuan 25:23 ekonominya. Bukan sekedar dalam konteks 25:25 janji-janji politik. Kemudian kita 25:28 membuka Jakarta seluas-luasnya, tapi 25:31 sebetulnya menjadi persoalan adalah 25:33 beban. beban dalam penciptaan lapangan 25:35 kerja, beban dalam penyediaan perumahan, 25:38 beban dalam penyediaan fasilitas 25:40 lainnya, dan ujungnya adalah kepadatan 25:43 yang semakin tinggi. Nah, 25:47 pertanyaannya bagaimana kumuh-kumuh yang 25:50 tadi ditanya? Kalau sudah kumuh di 25:53 Jakarta itu yang menjadi PR, bisakah 25:55 kumuh itu 25:56 diatasi? Sulit. Selama apa? selama 26:00 struktur sosial income-nya itu tidak 26:03 pernah 26:04 berubah. Ya, contohnya apa? Saya mohon 26:07 maaf ya. Selama income kita rendah, sor 26:12 ye, sulit dapat rumah di 26:15 Jakarta. Nah, akibat sulitnya rumah di 26:19 Jakarta, keluarga yang terbatas 26:22 ekonominya itu dalam satu rumah bisa 26:25 empat kakak, empat keluarga. keluarga, 26:29 ayah, ibu, anak yang berkeluarga. Karena 26:31 apa? Sulit dapat rumah lagi. Sementara 26:34 untuk harga rumah sudah sangat mahal di 26:37 Jakarta. Otomatis ke mana mereka? Mereka 26:40 keluar dari Jakarta dan itulah yang 26:42 menyebabkan apa? Yang menyebabkan 26:45 kemacetan, kepadatan menggunakan sepeda 26:47 motor. Karena motor adalah alat 26:50 transportasi yang paling rasional. 26:52 Karena apa? karena dianggap paling bisa 26:55 menolong karena income yang terbatas. 26:58 Jadi pertanyaannya bagaimana Jakarta ini 27:02 untuk meningkatkan ya meningkatkan 27:05 kapasitas sumber danau manusianya 27:07 sehingga kesejahteraan meningkat 27:08 sehingga kemampuan daya belinya besar? 27:12 Saya bukan apa-apa, saya kadang-kadang 27:14 agak prihatin. Jakarta ini adalah kota 27:18 yang termahal di Indonesia. Biaya 27:20 hidupnya R juta. Beda tipis dengan 27:23 Bekasi 14,8 juta. Artinya dengan biaya 27:28 hidup yang mahal sementara rata-rata 27:30 income kesejahteraan kita di bawah 5 27:33 juta atau 4 juta, bagaimana mereka bisa 27:36 mendapatkan rumah? Jadi kalau cerita 27:38 kumuh-kumuh ya itu memang fakta. 27:41 Ee kalau kata Presiden Prabowo 27:44 mengatakan kita harus berani melihat 27:46 realita. Itulah realitanya. Apakah 27:49 realita itu bisa diselesaikan dengan 27:51 janji? Sor ya. Pertanyaannya pun kalau 27:55 misalnya ee para gubernur menjanjikan 27:58 lapangan kerja apa yang paling cepat, 28:00 yang paling mudah yang bisa dilakukan 28:02 untuk menyerap kesempatan kerja? Coba 28:04 saya 28:05 tanya, apa yang bisa dijanjikan seorang 28:08 gubernur untuk bisa menyerap tenaga 28:11 kerja secara cepat dan 28:13 mudah? Kalau sekarang namanya ojek 28:18 online. Provider yang menyediakan mereka 28:21 yang mandiri. Nah, pertanyaannya mampu 28:24 enggak pemerintah PEMPRF DKI 28:27 menciptakan satu model provider yang 28:29 bisa 28:31 mengalahkan provider-provider yang sudah 28:33 jalan sekarang sehingga para pekerja itu 28:36 tidak menderita karena merasa tertekan 28:40 dengan tarif bagi hasil yang tidak 28:42 memadai. Kenapa tidak dibuat suatu badan 28:45 usaha di sektor transportasi jika memang 28:48 konteks sekarang lebih ke era digital 28:51 dan era transportasi itu ada satu 28:54 provider yang bisa berkontestasi secara 28:58 lebih ekonomis dengan provider itu 29:00 mencipta laporan kerja baru. Dan yang 29:03 menjadi pertanyaan bagi kita sekarang 29:05 adalah itu kan cara yang paling instan. 29:08 Yang kedua yang yang hal lain yang juga 29:10 ditanyakan kita kota global yang 29:13 sekarang terdegradasi dengan semakin 29:16 banyaknya ee kondisi pusat-pusat Jakarta 29:21 yang mati. Mall-mall Jakarta turun, 29:23 tengah kota semakin 29:26 terdegradasi. Tanah Abang sudah mulai 29:28 berkurang, agak tertutup. Beberapa 29:30 mall-mall besar, Mangga 2, Semanggi dan 29:33 semuanya tuh kosong. 29:36 Ee kalau kelas menengahnya juga semakin 29:39 turun, tidak bisa apa-apa lagi kita. 29:43 Jadi pertanyaannya ke mana kelas 29:45 menengah Jakarta yang banyak yang mampu 29:47 itu? Ke pinggir 29:49 Jakarta. Ada 3 juta orang warga Jakarta 29:54 dengan NIK Jakarta tapi tinggal di luar 29:56 Jakarta. Nah, 29:58 pertanyaannya kalau data fakta seperti 30:01 ini tidak dipahami, maka saya 30:04 khawatir janji yang disampaikan tidak 30:07 akan pernah mampu menyelesaikan masalah 30:10 kalau fakta realitasnya tidak 30:12 dipahami. Okelah, sekarang semua orang 30:15 belanja 30:17 masalah, semua diinventarisasi. Tapi 30:20 pertanyaannya itu tadi, pemahaman atas 30:23 realitas dengan struktur yang seperti 30:25 itu bagaimana? 30:27 Jakarta sekarang kan katakanlah bukan 30:30 ibu kota dari sumber apa yang bisa 30:32 diangkat bisa memenuhi kebutuhan 30:35 masyarakat. Maaf, Jakarta itu tidak 30:38 punya sektor primer untuk pengembangan 30:41 kotanya. Banyak sektor sekunder dan 30:43 sektor tersier yang lebih dominan. 30:45 Primer tuh apa? Misalnya Jakarta tidak 30:47 punya 30:48 tambang, tidak punya nikel, tidak punya 30:51 perkebunan, tidak punya sumber-sumber 30:53 lain yang mungkin bisa mengangkat 30:55 potensi pendapatan daerahnya. Tapi 30:58 Jakarta itu punya sumber-sumber lain 31:01 secara sekunder dan tersier. Apa itu? 31:04 Misalnya kekuatan terbesar sektornya 31:08 manufacture, industri 31:10 pengolahan, keuangan, asuransi atau 31:14 potensi industri dan jasa 31:16 lainnya. Di sini kan terus terang saja 31:19 apakah ada perubahan yang signifikan 31:22 selama pola lapangan kerja Jakarta itu 31:26 masih didominasi oleh sektor informal 31:30 yang 60%. Sekali lagi, sorry ye. 31:33 Jangan-jangan mereka tidak kena pajak 31:36 PPH21 kalau semua pekerjanya di 31:40 bawah gaji yang tidak kena pajak. Ya 31:43 kan? Nah, pertanyaannya kalau sudah 31:45 begitu kota itu ada stak begitu aja 31:47 sementara masalahnya terus meningkat. Ee 31:51 masalahnya terus meningkat. Sumber 31:53 pendapatan kita didapat dari mana? 31:54 ngutang lagi. Justru yang kota ini yang 31:57 dituntut adalah bagaimana kota itu punya 32:00 visi. Misalnya Singapura 2030 dia 32:03 mengatakan 50% lebih itu harus berbasis 32:06 manufacture dengan teknologi 32:09 tertinggi. Artinya apa? dengan I atau 32:13 dengan teknologi-teknologi berbasis 32:14 digital, industri digital yang dituntut 32:17 adalah sumber daya manusianya yang bisa 32:20 masuk ke sana dan gajinya 32:22 tinggi-tinggi. Pertanyaannya misalnya, 32:24 gaji apa yang tinggi-tinggi di 32:26 Jakarta yang kira-kira secara ini bisa 32:30 itu 32:31 keuangan, 32:33 teknologi, kota global itu juga begitu. 32:36 Artinya bagaimana dia bisa diangkat 32:39 statusnya. Nah, yang lain untuk sebagai 32:42 kota global, kota global itu adalah kota 32:46 dengan indeks korupsinya yang tidak 32:49 tinggi. Singapura tuh nomor 32:51 tujuh ya di dunia ya, kota global. Lihat 32:55 indeks korupsinya itu. Nah, artinya kota 32:59 pun harus semakin lama semakin bersih 33:02 dengan sistem yang 33:04 terdigitalisasi. Jadi, ekosistemnya itu 33:07 dibangun dengan sistem digitalisasi. 33:10 Nah, itu kan artinya yang dibangun tuh 33:12 ekosistem. Contoh aja, sederhana aja. 33:14 Mengapa kekuatan digitalisasi dari 33:17 kekuatan struktur dengan sistem 33:19 pembayaran cashless dalam konteks 33:23 transportasi itu bisa membentuk perilaku 33:26 baru. Contohnya aja sederhana. 33:29 orang sekarang ya misal mohon maaf ya 33:31 naik KRL, LRT, MRT, 33:36 Transjakarta semuanya tapping pakai 33:38 kartu semua pakai cashless. Tapi begitu 33:41 sampai kota Bogor, sampai kota Bekasi 33:44 angkot di sana masih cash. 33:47 Ditinggal masyarakatnya 33:50 berubah ya kan? Tapi kalau ekosistemnya 33:53 tidak berubah ditinggal. Jadi pertanyaan 33:56 yang paling menarik adalah membangun 33:59 satu kekuatan dengan era kemajuan 34:02 sekarang berupa kekuatan 34:05 teknologi karena masyarakat sekarang 34:07 memang sudah lebih cepat 34:09 perubahannya. Nah, Jakarta itu kurang 34:12 seperti itu ya kan. Jadi kita belajar 34:15 aja dari kota-kota yang maju bagaimana 34:18 sebetulnya kota ini mampu membangun 34:21 ekosistemnya. Bukan lebih banyak 34:23 memberikan janji-janji yang sekedarnya 34:27 ujung-ujungnya hanya menambah beban 34:30 APBD. Kita lihat berapa persen anggaran 34:34 itu terkunci. 30% untuk ASN, 20% untuk 34:38 sektor pendidikan, hampir 17 triliun 34:41 untuk sektor bantuan sosial. Jadi 34:44 belanja modalnya pun juga 34:47 terbatas untuk membangun misalnya 34:49 pembenahan transportasi, penanganan 34:52 kawasan kumuh, pembangunan jaringan 34:54 jalan dan sebagainya anggaran makin 34:56 terbatas. Jadi itu lebih banyak kepada 35:00 beban biaya sosial, ekonomi, dan 35:02 pendidikan. Jadi apapun ada kumuh, ada 35:05 apa tanpa upaya-upaya untuk memahami 35:08 akar masalahnya, maka di situ agak berat 35:11 bagi kita untuk melakukan perubahan 35:13 dalam waktu yang terbatas hanya 5 tahun. 35:15 Demikian 35:17 terima kasih, Kang Hayat. Ini ada fakta 35:20 yang kita sama-sama sepakat ya, kalau 35:22 Jakarta ini 35:24 masalahnya bukannya tambah easy, tapi 35:26 tambah susah untuk diselesaikan ya. 35:28 Padahal kan ini juga paradoks ya, karena 35:30 Jakarta ini kan daerah yang APBD-nya itu 35:33 kan paling tinggi ya, R triliun dan 35:35 wilayah pun sebetulnya relatif lebih 35:37 kecil ya kalau kita bandingkan dengan 35:39 misalnya ee daerah-daerah di Jawa 35:42 lainnya ya. Artinya dengan dengan 35:44 wilayah yang relatif kecil dengan 35:47 anggaran yang besar ternyata masalah 35:49 Jakarta itu enggak enggak berkurang. 35:52 malahnya justru tadi ya karena tadi ada 35:54 permasalahan yang sangat kompleks itu. 35:56 Nah, sebetulnya saya mau bertanya nih, 35:58 Kang. Ee kalau kita lihat tadi ya, ada 36:00 paradoks tadi ya, ada uang yang besar, 36:03 APBD yang banyak dan wilayah yang 36:05 kecil. Nah, ini kenapa, Kang, 36:07 masalah-masalah Jakarta ini cenderung 36:09 relatif malah tambah sulit gitu. Apa 36:11 yang apa yang miss dilupakan sama 36:13 gubernur-guber sebelumnya gitu dan ini 36:15 yang mungkin juga dilupakan ya sama 36:16 gubernur saat ini gitu. mungkin dua atau 36:19 tiga ee dua atau tiga hal yang dilupakan 36:21 dalam pembangunan Jakarta ke belakang 36:23 sehingga ini jadi makin rumit 36:24 masalahnya. Ni begini, sebetulnya 36:28 Jakarta wilayahnya kecil dan dia terus 36:32 terang aja kan menjadi ee pusat 36:35 perputaran kapital di Indonesia karena 36:38 semua representasi dari office yang ada 36:42 perkantoran itu dengan sistem produksi 36:45 yang menyebar di seluruh Indonesia. Tapi 36:48 pembayaran pajaknya tetap di Jakarta kan 36:51 artinya tetap Jakarta sentris belum 36:55 Indonesia sentris. Coba bisa bayangkan 36:58 bagaimana kalau semua 36:59 perusahaan-perusahaan pertambangan di 37:01 Kalimantan wajib berkantor di 37:04 Kalimantan, bayar pajaknya di 37:06 Kalimantan. Babak belur tuh 37:09 Jakarta. Kita kan semuanya 37:11 tersentralisasi. 37:13 Jadi officernya untuk pembayaran 37:16 fiskalnya, biaya-biaya yang terkait 37:18 dengan tax dan sebagainya. Padahal lihat 37:21 aspek domisili di mana badan usaha itu 37:24 berdiri tapi usahanya ada di 37:27 daerah-daerah. Jadi konteks yang seperti 37:29 ini yang dikatakan Jakarta itu 37:32 sebetulnya tidak punya tambang. Seperti 37:34 saya katakan serta Jakarta itu punya 37:38 ruang dan uang. 37:41 ruang dan uang. Jadi pertanyaannya 37:44 adalah bagaimana dia mengkapitalisasi 37:47 ruang itu menjadi sebuah potensi ekonomi 37:51 ya kan akibatnya ya kita lihat bagaimana 37:55 Jakarta antara tata ruang dan tata uang 37:58 itu saling tumpang tindih di dalamnya. 38:01 Nah, yang lain yang juga menarik kan 38:03 bisa dikatakan kekuatan fiskal Jakarta 38:07 itu cukup besar. Tapi 38:10 pertanyaannya, kenapa kekuatan fiskal 38:12 itu tidak mampu ya secara umum merubah 38:17 struktur yang paling 38:18 dasar? Yang mau dibenahi apanya? Artinya 38:21 begini, saya bukan mengatakan 38:23 kompleksitasnya itu begitu banyak. 38:26 Sebetulnya bisa saja kita bukan buat 38:30 simplikasinya pada akar masalahnya. Akar 38:32 masalahnya kan satu, pada sumber daya 38:36 manusianya, pada jumlah penduduknya yang 38:39 demikian terus menerus enggak pernah. 38:41 Karena bukan apa-apa saya mengatakan 38:43 begini, data dari ee BKKBN atau data 38:48 dari BPS menunjukkan orang Jakarta itu 38:52 tanpa program KB angka kelahirannya 38:55 sudah 38:56 rendah 1,7%. 38:59 Kedua, dari sisi kualitas umur makin 39:03 baik, usianya makin 39:05 panjang. Artinya apa? Orang Jakarta 39:08 sudah tahu bagaimana 39:10 penggalian fertilitasnya, keluarganya. 39:12 Sudah tahu tentang visi mereka kehidupan 39:15 ke depan. Sudah tahu bagaimana menjaga 39:17 kesehatan, quality of life-nya makin 39:19 bagus, umurnya makin panjang. Yang tidak 39:22 bisa dikendalikan di Jakarta adalah pada 39:27 angka migrasinya. 39:30 Jadi jumlah penduduk pendatang itu yang 39:33 menjadi persoalan beban 39:35 baru antara 39:37 migrasi ee apa? Risign. Migrasi resign 39:41 itu adalah orang yang dalam kurang waktu 39:43 5 tahun bisa berpindah-pindah di Jakarta 39:46 itu. Nah, yang menjadi persoalan itu kan 39:49 tadi eeah Jakarta itu bukan hanya untuk 39:52 Jakarta tapi Jakarta untuk 39:55 Jaboretabek. Hmm. 35 juta atau 30 juta 39:59 lebih penduduk Jaboretabek itu ya 40:03 berharap pada Jakarta. Dan kita tahu 40:06 Jakarta itu menanggung apa? 40% warga 40:09 Bekasi yang tinggal yang bekerja di 40:11 Jakarta. Menanggung 40% juga war ee 40:14 warga Depok yang tinggal bergerak ke 40:17 Jakarta. Menanggung juga warga Tangerang 40:20 dan Tangerang Selatan. menanggung juga 40:23 warga kota Bogor dan Kabupaten Bogor. 40:26 Jadi, kota dengan konsep yang 40:29 tersentralisasi seakan-akan Jakarta 40:31 menjadi magni terbesar yaitu tadi ya kan 40:36 Jakarta harus terintegrasi sementara 40:39 dalam konteks otoritas kewenangannya pun 40:42 masih sangat berbasis kepada wilayah 40:44 administratif. 40:46 Padahal untuk model Jabor Tabek itu 40:49 pendekatan wilayah fungsionalnya memang 40:51 harus sudah dimandatorikan. Cuman ada 40:54 sedikit dilema misalnya contoh ya, 40:56 contoh salah satu undang-undang 40:59 tentang pusat undang-undang tentang ee 41:03 otonomi Jakarta itu misalnya daerah 41:05 khusus Jakarta adalah misalnya di sektor 41:09 transportasi ada yang mengatakan Jakarta 41:11 punya kewajiban untuk memberikan subsidi 41:15 secara proporsional kepada wilayah 41:19 sekitarnya ngasih anggaran. Cuma menjadi 41:22 pertanyaan adalah dasarnya apa? Oh, 41:26 perda perda apa nanti dibuat? Perda 41:28 transportasi. Perda transportasi itu 41:31 membatasi dalam konteks wilayah 41:34 administratif. Kalau Jakarta mensubsidi 41:38 bantuan daerah sekitarnya dalam layanan 41:40 transportasi, berarti harusnya perdanya 41:43 bukan perda DKI lagi, tapi Perda 41:46 Jaboretabek, Dewan Aglomerasi tadi. 41:49 Cuman pertanyaannya apakah Jakarta 41:52 sekedar penyantun kepada 41:53 tetangga-tetangganya tanpa ada 41:55 pertanggungjawaban atau tanpa ada 41:57 kolaborasi kerja sama? 42:00 Nah, ini kan pertanyaan ketika Jakarta 42:03 harus melakukan ee apa kewajibannya 42:06 kepada tetangga-tetangga sekitarnya, 42:08 bagaimana tetangga-tetangga sekitarnya 42:10 itu mau bekerja sama. Maka pertanyaan 42:13 lebih lanjut, pengelolaan Jakarta ke 42:15 depan itu ya akan fokus pada konsep 42:19 model kelembagaan yang bagaimana gitu. 42:22 Jangan ada dualisme lah nanti antara 42:24 gubernur nanti dengan dewan aglomerasi 42:28 yang kabarnya akan dijabat oleh Wakil 42:31 Presiden. Apakah perda-perda aturan di 42:34 Jakarta itu untuk dewan aglomerasi atau 42:37 untuk perda DKI 42:39 sendiri? Nah, itu kan menjadi hal yang 42:41 menarik yang juga yang sangat menarik 42:43 jika nanti Jakarta membantu tetangga 42:46 sebelahnya, apakah ada sinergi aturan? 42:49 Misalnya contoh Jakarta dalam perda 42:52 transportasinya karena dimandatori oleh 42:55 Undang-Undang Daerah Khusus Jakarta 42:57 harus mensubsidi daerah tetangganya 42:59 secara proporsional, berarti perda 43:02 Jakarta ada pemberian subsidi. Tapi cek 43:05 perda-perda tetangga sebelahnya, Bekasi, 43:08 Depok, Bogor, Tangerang dan sebagainya. 43:11 Ada enggak mereka juga memberikan 43:13 kewajiban subsidi bagi layanan 43:15 transportasinya? 43:17 Kalau dua kebijakan antara wilayah ini 43:19 tidak nyambung, ya buat apa ngasih 43:22 tetangganya kalau tetangganya juga tidak 43:24 memberikan kontribusi 43:26 apa-apa. Jadi pernataan Jakarta itu 43:29 memang sudah pernataan 43:32 Jaboretabek. Enggak bisa begitu. Karena 43:34 saya sekali lagi saya mengatakan data 43:36 dan fakta itu menunjukkan orang-orang 43:39 Jakarta Barat itu sekarang tuh lebih 43:42 banyak bergerak kepada 3T. Tangerang, 43:45 Tangerang Selatan dan Kabupaten 43:48 Tangerang. Orang Jakarta Pusat, orang 43:51 Jakarta Selatan itu bergerak ke wilayah 43:54 Depok. 43:55 Hm. Karena apa? Ya tadi mobilitasnya 43:59 lebih gampang karena ada struktur 44:01 jaringan jalan 44:03 tol. Sekarang Jakarta Pusat itu kayak 44:07 kue donat. Jakarta tuh kayak kue donat. 44:09 Bolong di tengah. 44:11 Di tengah tuh bolong adalah penduduk 44:13 Jakarta Pusat yang semakin lama semakin 44:16 berkurang. Jakarta Timur tuh paling 44:19 tinggi loh. Hampir 3 juta 44:21 penduduknya. I kan. Kemudian ada di 44:23 wilayah Jakarta Barat, ada Jakarta 44:25 Selatan dan Jakarta Utara. Jakarta Pusat 44:28 itu ada di tengah-tengah dan penduduknya 44:32 makin lama makin berkurang karena 44:35 tingginya biaya hidup yang bertahan itu 44:37 yaitu tadi kampung-kampung kumunya, 44:39 kelas menengahnya itu pada keluar. 44:42 Contohnya misalnya kenapa sebagian kelas 44:45 menengah Jakarta itu keluar untuk 44:47 mencari tempat yang lebih nyaman? Satu 44:50 misalnya beberapa iklan banyak disebar 44:53 selama ini. Orang banyak menjual 44:55 rumah-rumah besarnya di Pondok 44:57 Indah. Kenapa? Pajaknya makin 45:01 besar, pemeliharaannya makin besar, 45:04 tidak bisa dirubah jadi tempat 45:07 usaha. Yang tinggal pensiunan. Sementara 45:11 anak-anaknya itu sudah lebih memilih 45:13 untuk tinggal di luar Jakarta di mana 45:16 lingkungannya itu lebih nyaman, lebih 45:18 tentram, lebih bagus dan fasilitasnya 45:21 cukup lengkap. Dan daerah pinggiran itu 45:23 makin lama makin lengkap fasilitasnya. 45:26 Ada rumah sakit, ada mall, ada sekolah, 45:29 ada semuanya. Jadi untuk apaagi mereka 45:31 harus bersusah payah ke Jakarta. Justru 45:34 yang menyarik adalah kelas menengahnya 45:36 keluar dari Jakarta, kelas menengah 45:39 bawahnya bertahan di Jakarta karena 45:41 tidak punya 45:42 pilihan. Sementara penduduk di tengahnya 45:45 semakin berkurang. Yang terjadi fakta 45:48 adalah MRT-nya itu ada di tengah 45:52 kota. Siapa yang mau naik? Jadilah 45:56 Jakarta di tengah malam tuh kota yang 46:00 mati, kantor-kantor yang sepi, 46:02 kantor-kantor sekarang 46:05 kosong, rumah susun ataupun apartemen 46:08 banyak yang mulai kosong karena orang 46:09 lebih senang rumah land di luar. Nah, 46:13 ini fakta. Ketika infrastruktur dibangun 46:16 di tengah kota tapi optimalisasinya 46:18 tidak 46:19 maksimal, akibatnya apa? orang tuh pada 46:22 ke pinggiran. Yang rata-rata kerja di 46:26 SCBD itu anak-anak SCBD loh. Anak-anak 46:29 Genz SCBD tahu enggak? Anak-anak Genzet 46:32 SCPD seputaran Citayem, Bojong Gedek, 46:36 Bojong Gede, 46:38 Depok. Jadi anak-anak Genset itu sudah 46:41 enggak bisa di tengah kota lagi. Nah, 46:43 pertanyaannya kalau begini terus ya 46:46 struktur kotanya 46:47 timpanglah. Fasilitas banyak dibangun di 46:50 tengah kota. perkantoran di tengah kota, 46:53 tapi pekerjanya di luar. Makanya para 46:56 pengembang-pengembang swasta sekarang 46:58 mereka lebih 46:59 pintar memindahkan perkantorannya ke 47:03 pinggir supaya apa? Efisiensi, 47:06 transportasi, perjalanan dan sebagainya. 47:08 Mungkin satu saat lagi orang lebih 47:10 senang tinggal di PIK dibandingkan ke 47:13 Jakarta Pusat. Pik itu sekarang PSN. PSN 47:18 artinya apa? kemudahan, perizinan, 47:21 investasi dan sebagainya. Dan PIK 47:24 sekarang membuat akses jalan tol 47:26 langsung dari bandara ke PIK 2 dan 47:30 membangun fasilitas yang demikian bagus. 47:33 Mungkin suatu 47:35 saat ee pengelola mengatakan, "Udah 47:38 bangun aja di sini dekat dengan bandara, 47:42 jalannya lancar, lingkungannya bagus. 47:44 Sorry ya, enggak usah ke tengah, enggak 47:46 usah ke Jakarta. macet, 47:50 susah. Jadi lingkungan yang nyaman 47:53 diciptakan dengan kota-kota baru oleh 47:55 para pengembang itu daya tarik bagi 47:58 investasi. BSD misalnya, BSD itu PSN 48:03 juga dan dua konsep yang dia kembangkan. 48:06 Apa itu? 48:08 Satu, dia pusat pendidikan dengan 48:11 universitas-universitas internasional 48:13 yang masuk. Kedua, dia membuka pusat 48:16 layanan medis dengan rumah sakit-rumah 48:18 sakit internasional juga. Mungkin suatu 48:20 saat apa yang diharapkan oleh Menteri 48:23 Kesehatan, suatu saat ada dokter asing 48:25 masuk. 48:27 Wow, luar biasa itu. Jadi maksud saya 48:31 ketika kota-kota baru di luar tetangga 48:34 Jakarta tumbuh kembang menjadi 48:37 pusat-pusat kegiatan dengan fasilitas 48:40 yang makin lebih baik, maka 48:42 kecenderungan itulah berpindahnya pola 48:45 itu. Nah, pertanyaannya kan nanti kalau 48:48 IKN-nya misalnya resmi, kita kan nunggu 48:51 capres-nya kapan. Nah, terjadilah 48:55 kontestasi antara Jakarta sebagai 48:57 administratif yang akan berhadapan 49:00 dengan kota-kota baru yang dikembangkan 49:02 oleh 49:03 pengembang. Siapa yang punya kekuatan? 49:06 Siapa yang paling bagus pelayanan? 49:08 Itulah yang dicari oleh kelas menengah 49:10 atas. Mereka yang tidak mau pusing 49:13 dengan kepadatan, dengan lingkungan yang 49:15 itu. Coba cek aja Jakarta. Kita kan kota 49:18 ini dengan dua wajah. wajah Singapura 49:21 dan wajah 49:22 Bangladesh. Nah, di balik gemerlapnya 49:25 kota masih ada. Tapi cek lagi di 49:27 pemukiman-kepemukiman padat itu. Dan 49:30 Jakarta semakin banyak pemukiman kumuh, 49:34 tragedi kebakaran setiap tahun semakin 49:36 lama semakin 49:37 meningkat ya kan? Karena kekumuhan kan 49:40 kepada kebakaran itu lebih berbahaya 49:43 dibandingkan banjir. Banjir orang bisa 49:46 evakuasi, bisa menyelamatkan. Tapi kalau 49:48 kebakaran orang bukan hanya jatuh 49:50 miskin, tapi minus dalam sesaat. Habis 49:54 hartanya, habis asetnya, habis semua 49:57 rumahnya karena kebakaran. Sekali 49:59 kebakaran bisa 100 50:01 rumah. I kan artinya apa? Semakin kumuh 50:05 persoalan mitigasi bencana menjadi 50:08 persoalan. Nah, itu sebetulnya yang 50:10 harus menjadi pemikiran. Pemikiran kita 50:13 adalah harus mereduksi masalahnya. Tapi 50:16 pertanyaannya mereduksi masalah itu 50:18 tidak jangka pendek. Pertanyaannya apa 50:20 yang bisa dilakukan ketika Pilkada ini 50:23 hanya menjanjikan jangka pendek 5 tahun, 50:25 5 tahun? Ya kan? Harusnya berpikirlah 50:29 kita punya RPJP, punya RPJM-nya, tapi 50:32 kan jangan sampai RPJP-nya menjadi 50:34 rencana pembangunan janji palsu atau 50:38 RPJM-nya rencana pembangunan janji 50:40 melulu atau kata orang Musrembangnya 50:43 musyawarahnya keren, hasilnya 50:47 ngambang. Apa yang bisa dilakukan? 50:49 Makanya orang-orang Jakarta itu harus 50:52 rasional karena SDM kita harus bagus. 50:56 Karena orang Jakarta ini kategori SDM 50:59 menyebabkan SDM juga. Contoh SDM yang 51:02 rendah itu menyebabkan SDM juga. Apa 51:05 SDM-nya? Semua dapat masalah. Kalau 51:08 semua dapat masalah ujungnya apa? SDM 51:11 juga selamatkan diri 51:13 masing-masing. Nah, jadi orang naik 51:16 motor itu adalah cara dia menyelamatkan 51:18 diri karena sistemnya tidak menolong 51:21 lagi gitu. Jadi pertanyaan paling bagus 51:23 itu tadi, bagaimana kita membangun kota 51:26 itu sebetulnya pada tingkat yang paling 51:29 mendasar dulu gitu kan. Kota menarik 51:32 untuk ditata itu adalah kota ketika 51:34 sinergi antara masyarakat dan 51:36 pemerintahnya masuk sama-sama gitu. Jadi 51:39 kalau menurut saya menjadi kota global 51:41 itu kan orang akan melihat ruang 51:44 kontestasi antara Kuala Lumpur, 51:46 Singapura, Bangkok, Vietnam, di mana 51:49 sumber daya manusia itu. Saya kasih 51:50 contoh aja betapa Jakarta ini kedodoran 51:53 ketika ada program misalnya konversi 51:57 motor biasa menjadi motor 51:59 listrik. Ada 2 juta atau berapa juta itu 52:02 yang ditargetkan oleh SDM untuk 52:05 mengkonversi motor biasa menjadi motor 52:07 listrik. apa yang dikeluhkan enggak ada 52:11 anm. He. Jadi ketika ada potensi-potensi 52:15 kebijakan secara nasional itu tidak 52:17 tertangkap di daerah. Maka saya 52:19 mengatakan kampanye yang paling menarik 52:22 untuk pengembangan ini adalah pada 52:24 konteks kami punya sumber daya manusia 52:26 yang unggul pada sektor-sektor tertentu. 52:29 Contohnya sederhana aja, betapa kita 52:32 punya bisnis di sektor penerbangan itu 52:34 kesulitan untuk pengembangan 52:36 investasinya. Karena satu sumber daya 52:39 manusianya terbatas. Sekarang itu di 52:41 sektor MRO, maintenance, repair, dan 52:44 overhaul dari perawatan pesawat yang 52:47 dicari adalah anak-anak D3 Politeknik 52:51 atau ada STM penerbangan. Apa yang 52:54 terjadi sekarang? Mereka bekerja di 52:56 Indonesia 3 sampai 5 tahun. Tapi 5 tahun 52:58 selanjutnya mereka semua pindah ke Timur 53:01 Tengah. Karena Timur Tengah itu bisnis 53:04 airline terbesar di dunia. 53:07 kotor apa semua udah hak-hab besar dunia 53:10 ada di sana mereka membutuhkan mentor 53:12 nah itulah direkrutmen dari kita jadi 53:15 pertanyaannya kita menjadi kota apa 53:18 kalau misalnya kontestasi dalam global 53:21 itu adalah memperebutkan kekuatan 53:23 teknologi dan sumber daya 53:25 manusia kalau janji politik menarik 53:28 karena itu tadi ini saya mengatakan ee 53:31 satu kajian yang menarik yang hasil itu 53:33 mengatakan ini sejarah lama itu ada 53:35 kajian mengat katakan lapar uang dalam 53:38 demokrasi. Dulu para petani itu sengaja 53:42 saya lebih senang mendapatkan sesuatu 53:44 untuk hari ini untuk saya habiskan tanpa 53:46 saya berpikir untuk hari besok. 53:48 Jangan-jangan konsep inilah yang 53:49 digunakan. Lebih bagus saya terima 53:51 bantuan hari saya enggak tahu siapapun 53:52 yang menjadi pemimpin saya ke depan. Itu 53:55 kan fenomena secara budaya sudah 53:57 terbentuk. Dan paling menarik dalam 54:00 popores proses pemilihan ini janji itu 54:03 adalah sesuatu yang paling enak. 54:07 Tapi sesudah itu, nah ini Bang Mardani 54:09 Ali yang harus tanggung jawab nih. 54:12 Bagaimana janji-janji yang realistis 54:14 yang bisa kita lakukan. Tapi sekali lagi 54:16 saya mengatakan, saya berharap kita 54:20 harus berani dengan keberanian inovasi 54:23 baru. Dan satu lagi kalau di Jakarta 54:26 atau di kota-kota lain itu nanti 54:28 gubernur kan punya visi misi yang masuk 54:30 dalam RPJM. RPJM-nya itu dalam bentuk 54:33 RKPD. 54:35 rencana kerja pemerintah daerah. Tapi 54:37 sekali lagi bagaimana menyusun RKPD non 54:41 APBD atau RKPD non APBN dalam bentuk 54:45 apa? Dalam bentuk badan usaha atau 54:49 sumber-sumber alternatif lain. Jadi si 54:51 gubernur tuh harus berani membuat 54:53 gagasan apa yang dinamakan saya bekerja 54:56 dengan konsep dari dana APBD pasti tidak 54:59 cukup. Tapi saya juga punya masterpen 55:02 yang sumber dananya tuh didapat dari non 55:05 APBD. Apakah CSR, apakah dalam bentuk 55:08 lain? Itu yang perlu kita kembangkan. 55:11 Karena bagaimanapun kalau hanya 55:13 bersandar pada APBD enggak bisa. Jadi 55:16 ada dua yang penyeimbang. Kira-kira 55:17 begitu. Jadi kita memang butuh 55:19 gagasan-gagasan inovasi bukan sekedar 55:21 janji-janji. Ini ini janji menarik Mas 55:25 Mardani Ali, Bang Bardadi untuk menengah 55:27 ke bawah. Tapi yang menengah atas yang 55:30 sudah otaknya luar negeri, dia sudah 55:33 mengatakan, "Saya biasa hidup ala 55:36 Amerika, ala Jepang, ala Itali. Masa 55:38 saya dikasih yang ala kadarnya sor ya. 55:43 Tapi untuk dapat suara bagus, tapi dalam 55:47 konteks menengah atasnya yang paling 55:50 banyak berkontribusi saya enggak tahu. 55:53 Apalagi misalnya dalam konteks yang 55:55 seperti sekarang nih, gagasan apa yang 55:57 disampaikan supaya kelas menengah atas 55:59 itu mau berpartisipasi. Saya ingat 56:01 zamannya Pak Ahok dengan Pak Anis itu 56:03 kelas menengahnya main semua, turun 56:05 semua karena ada keberanian, ada gagasan 56:09 yang membuat orang tergerak. Apa yang 56:11 menggerakkan dulu orang tergerak waktu 56:12 zaman pais? Gue sikat yang 56:15 korupsi. Itu kan orang-orang yang 56:18 menengah atas itu sebetulnya sudah bosan 56:20 dengan retorika-retorika biasa-biasa 56:22 saja. Mereka tuh muat satu adalah dengan 56:24 persoalan korupsi. Kota ini enggak akan 56:27 pernah tertarik kalau korupsinya terlalu 56:29 gede. Bagaimana perizinan? Kita kan 56:31 punya tiga macet 56:33 sebetulnya. Macetnya di mana? Macet di 56:36 traffic, macet di perizinan, sama macet 56:38 di koordinasi. di 56:40 kelembagaan kita itu terlalu banyak 56:43 koordinasi ujungnya tekornya nasi lebih 56:46 banyak makan rapat 56:51 ini banyak kosakata baru keren ini. 56:55 Enggak ya? Saya kan terus terang aja kan 56:58 kita tidak ingin warga Jakarta sebagai 57:01 warga yang kategori sebtian kan sebatas 57:04 teman tanpa kepastian kita perlu yang 57:06 pasti-pasti ya. Jadi di sinilah bentuk 57:09 kampanye kan kalau misalnya nanti 57:11 debatnya normatif-normatif banyak itu 57:14 orang pindah 57:15 channel he orang tidak tertarik tapi 57:19 bagaimana sesuatu yang spektakuler 57:21 dengan keberanian dengan nyali yang kuat 57:24 itu lebih penting karena bagi kelas 57:26 menengah ke atas itu buat mereka enggak 57:28 percaya sama janji. Mereka enggak 57:30 percaya sama itu. Mereka hanya satu 57:32 nyali keberanian komitmen, tanggung 57:35 jawab. Itu yang ditunggu. 57:38 Saya berani untuk ini. Saya punya 57:40 keberanian untuk ini. Itu kalau dalam 57:43 konteks quantum energi ini mohon maaf ya 57:47 dalam membangun semangat itu energi 57:49 positif itu berani itu kekuatannya 57:52 200 energi untuk kill-nya. Berani itu 57:56 awal tapi yang paling tinggi nanti sudah 57:58 ikhlas. Jadi dia bekerja untuk 58:00 keikhlasan. Jadi saya kira untuk 58:03 janji-janji politik yang belum tersentuh 58:05 menurut saya sekarang adalah pada 58:07 kelompok kelas menengah yang memang 58:10 mereka sebetulnya paling rasional, 58:12 paling care sebetulnya. Tapi kalau 58:15 biasa-biasa saja, saya kira ini 58:17 konsumsinya pada kelompok yang memang 58:19 kalau dari target suara sih menjanjikan 58:22 kalau begitu banyak janji-janji manis di 58:24 dalamnya. Baik, 58:26 baik, baik, Pak. Kang Yayat ini sudah 58:29 ini ya apa namanya? sudah cukup 58:31 menggambarkan nih bagaimana keren keren 58:33 Kang Yayat masalah-masalah di Jakarta 58:36 itu sebenarnya terkoneksi dengan 58:38 daerah-daerah lain ya daerah daerah 58:39 Bodetabek Punjur ya dan juga masalahnya 58:43 ini juga budaya-budaya politik kita 58:45 mungkin ya yang kita rasakan belakangan 58:47 mungkin banyakan yang kebanyakan janji 58:50 tapi mungkin kurang inovasi ya n kita 58:52 mau tanya Pak Mardani ini Bang Mardani 58:54 nih Bang Mardani kira-kira mungkin Bang 58:57 Mardani kan sudah berpengalaman di 2017 58:59 ya dan jadi tim pemenangan dari Anis 59:03 Sandi, kemudian juga sekarang ee di kubu 59:06 Rido. Kira-kira gimana nih, Bang, 59:09 janji-janjinya nih seperti apa nih? 59:10 Apakah janjinya Rido ini ada inovasinya 59:13 atau memang sekedar janji aja nih? 59:17 Iya. Ee makasih Bang Ian, Kang Yayat. 59:21 Menarik sekali saya komen dikit tentang 59:23 Kang Yayat ya. Ee memang kalau kita 59:27 melihat Jakarta konsentrasi kelas 59:30 menengah berkualitasnya paling banyak 59:32 mestinya ya. Ya boleh capapek lah 59:35 katakan sehingga memang kampanye pada 59:38 kelompok gagasan ini menjadi satu tema 59:41 sentral. Justru decision maker-nya itu 59:44 mereka ya. I saya ingat sekali, Kang 59:47 Yayat, waktu eh kampanye di Pilpres itu 59:51 saya enggak masuk ke bawah dulu, gitu 59:52 loh. Saya masuk ke kelompok gagasan 59:55 dulu. Ketika masuk ke kelompok gagasan 59:58 ini kelas menengah berkualitas, kita 1:00:00 tidak dimintai proposal, kita tidak 1:00:03 dimintai bantuan, tapi kita ditanya 1:00:06 seperti apa visinya, seperti apa 1:00:09 teknokrasinya, 1:00:10 seperti apa ee eksekusinya gitu. Dan itu 1:00:14 menarik sekali. Jadi pembahasan menjadi 1:00:16 tajam, menjadi hidup, engagementnya 1:00:20 tinggi, akhirnya timbul kesadaran untuk 1:00:24 menjadi kelompok gagasan dan sekaligus 1:00:27 kelompok pengubah, gitu. Nah, karena itu 1:00:29 saya setuju ini masukan yang sangat 1:00:31 baik. Saya tadi barusan kampanye dengan 1:00:34 Kang Rido ee ee Bang Emil menarik ya ee 1:00:38 Bang Erka ini menarik karena ee 1:00:41 sebetulnya gagasan-gagasan itunya sudah 1:00:43 ada, tetapi memang kadang-kadang 1:00:45 tarik-menarik dengan yang populis. Saya 1:00:47 setuju yang populis harus kita 1:00:49 kurangkan. Kita ke teknokratis ya, ke 1:00:51 teknokratis yang ee executable. Nah, itu 1:00:55 menarik. Ee untuk Bang Ivan kalau 1:00:59 terkait dengan pertanyaan kayak tadi 1:01:02 tentu ee ini waktunya memang pendek nih 1:01:06 ya. 25 September kampanye kemarin ee 27 1:01:10 sudah pencoplosan 2 bulan lah ya 60 1:01:13 hari. Tetapi buat saya ini menarik Kang 1:01:15 Yayat mencukup kok gitu loh 2 bulan itu 1:01:18 cukup kok gitu loh. Padahal tadi ada 1:01:20 strategi yang benar, ada strategi yang 1:01:22 tepat, ada strategi yang memang punch 1:01:25 itu masuk ya. 1:01:27 Nah, ee Kang Ridon Kamil tentu dengan 1:01:29 penataan kotanya, latar belakang 1:01:32 Jabarnya, Bandungnya, kemampuan 1:01:34 kemampuan analisisnya, ee eksekusinya 1:01:37 punya banyak hal, tetapi memang gaungnya 1:01:39 perlu lebih dikuatkan. Nah, menjadi 1:01:42 menarik juga ketika ee Pram RANO juga 1:01:45 punya gagasan-gagasan yang bisa 1:01:48 dikontestasikan. Saya setuju, Kang. 1:01:50 kemarin debat kemarin itu masih sedikit 1:01:52 malu-malu. Nah, besok mudah-mudahan jadi 1:01:55 debat yang lebih ee substantif, tidak 1:01:58 normatif, yang lebih kritis. Bukan cuma 1:02:01 ewu Pakwu, tapi betul-betul ayo loh 1:02:04 warga Jakarta lagi dalam keadaan yang 1:02:07 tadi ya kebakaran kita. Saya tuh kalau 1:02:09 kebakaran kan kemarin tuh sedih sekali 1:02:12 ya. Setuju saya banjir berat, kebakaran 1:02:15 jauh lebih berat dan korban jiwa itu 1:02:17 selalu berjatuhan. satu nyawa itu mahal 1:02:19 sekali. Dan sudah ditanya di sisi Allah 1:02:22 Subhanahu wa taala, kita boleh bikin 1:02:24 banyak taman, tetapi ada satu yang 1:02:26 meninggal karena enggak kita urusin. 1:02:28 Wah, itu berat sekali. Nah, nah karena 1:02:30 itu Bang Ivan ini memang ee 1:02:34 sayaingat Kang Yat masuk dalam tim itu 1:02:37 kan 1:02:39 ya apa nih harusnya tapi beliau di 1:02:43 Pilpres waktu itu ya gitu di Pilkada 1:02:45 kekecilan kali ini Kang Yayat nih ya 1:02:47 tapi saya setuju yang membuat kenapa BSD 1:02:50 Bintaro tuh karena sumber daya manusia 1:02:53 terbaik kumpul di situ. Berkumpullah 1:02:56 seluruhnya. Kenapa Singapura menjadi 1:02:58 sangat menarik? Karena memang banyak 1:03:00 sumber daya terbaik, jalan kecil 1:03:02 sekalipun bisa disap menjadi unit bisnis 1:03:04 yang sangat ee mempesona gitu loh. 1:03:07 Unit-unit yang menjadi orang datang 1:03:10 bukan cuma traveling sekarang, 1:03:12 experiencing gitu. Nah, Singapura selalu 1:03:14 one or two step ahead gitu loh. Nah, itu 1:03:16 kenapa? karena brand brandnya itu 1:03:19 makanya lebih dari 1000 warga negara 1:03:22 Indonesia tiap tahun pindah jadi warga 1:03:24 negara Singapura dan rata-rata itu krim 1:03:27 di kimnya kita sayang sekali gitu kan. 1:03:30 Nah, itu menjadi tantangan besar. Nah, 1:03:32 mudah-mudahan dengan Undang-Undang 1:03:34 Daerah Khusus Jakarta di mana Jakarta 1:03:36 di-backup dengan aglomerasi di mana 1:03:39 delan kabupaten kota di sekitarnya bisa 1:03:41 ditata untuk mendukung Jakarta global. 1:03:44 Karena kalau Jakarta global spill 1:03:47 overnya ya ke Jabod Tabek. Jaboretabek 1:03:49 akan jadi kota global juga gitu. Apalagi 1:03:52 kalau kita penataan 1:03:54 transportasinya, penataan sampahnya, 1:03:57 penataan air bersih, air kotornya itu 1:03:59 sudah sejabuletapek. Wow. Itu pasarnya 1:04:02 menjadi pasar yang sangat menggiurkan 1:04:04 sehingga makin banyak 1:04:06 perusahaan-perusahaan besar akan pindah 1:04:08 tuh dan bermukim di Jakarta gitu, Bang 1:04:11 Ivan. 1:04:13 Baik, Bang Madani ini ee kita tunggu ya 1:04:15 mungkin nanti di debat-debat berikutnya 1:04:17 nih mungkin inovasi kemudian juga ee 1:04:20 gagasan-gagasan yang menyentuh akar 1:04:22 masalah ini muncul nih di pasangan Rido 1:04:25 dan juga pasangan Pramdul dan pasangan 1:04:28 Pak Darma Pongren dan Kundarma. Ya, 1:04:30 mungkin ini kita karena waktunya sudah 1:04:33 0.30 ya mungkin kita akan .30 10 dan ini 1:04:38 ee Pak Kang Eet ini benar ini Kang Eet 1:04:40 masalah Jakarta ini semakin kompleks ya. 1:04:42 Jadi narasumber kita Bung Rid ee Bung RG 1:04:45 dan juga Mbak Bitri ini mereka terjebak 1:04:48 macet dan HP-nya lobet ya. Jadi mereka 1:04:52 ee ter tidak bisa menghadiri acara pada 1:04:54 hari ini 1:04:55 karena ada masalah Jakarta yang ternyata 1:04:58 macet ini menimbulkan kos yang lain nih. 1:05:01 Baik, kalau gitu mungkin Kang AT 1:05:03 terakhir ya sekaligus menutup ya tadi di 1:05:05 awal Kang Yat bilang kita butuh super 1:05:07 tim dan juga bukan ee politik yang janji 1:05:11 palsu gitu. Bagaimana siapa dan 1:05:13 bagaimana cara untuk super tim ini, 1:05:15 Kang? Ya, mungkin sekaligus penutup ya, 1:05:16 Kang. Iya. Menurut saya ini tadi Bang 1:05:20 Mardani juga bilang debat pertama 1:05:23 kemarin tuh agak malu-malu, terlalu 1:05:25 santun, kurang kritis. Saya terus terang 1:05:28 aja memang sangat menikmati waktu debat 1:05:31 antara Pak Anis dengan Pak Bang Basuki 1:05:35 lah ya. Pak I keren banget itu, Kakang 1:05:38 tajam. Nah, mereka itu saling tajamnya 1:05:40 tajam berani itu misalnya contoh ya 1:05:43 mengkritisi satu ide tentang DP nol. 1:05:46 Nah, orang mengatakan layak atau tidak 1:05:48 layak. Jadi, sisi kritis itu adalah satu 1:05:51 gagasan. Bisa enggak dikerjain dengan 1:05:54 fakta yang ada. Satu, dari sisi analisis 1:05:56 keuangan yang mengatakan perbankan tidak 1:05:58 setuju, tapi dari sisi pendekatan 1:06:00 kebutuhan ini mau diharus dijalankan. 1:06:03 Jadi, perdebatan-perdebatan, ide atau 1:06:05 gagasan mengkritisi itu yang belum 1:06:08 muncul. Jadi saya lihat di sini dari apa 1:06:11 yang disampaikan itu enggak ada yang eh 1:06:14 greget gitu ya sehingga yang keluar off 1:06:17 of the box ituak terlalu santun gitu 1:06:19 kan. Jadi orang tidak begitu tertarik. 1:06:22 Jadi aturannya kalau tadi Mang Mardani 1:06:25 Ali sudah mengatakan siapa sebetulnya 1:06:28 yang membuat orang interest terkait 1:06:30 debat-debat Jakarta yang betul-betul 1:06:32 secara fundamental itu kelas menengahnya 1:06:35 teknokratis dan itu karena mereka lebih 1:06:37 senang jika ada hal ide dan tersentuh 1:06:39 kepada mereka. 1:06:41 Jadi sekarang ee menurut saya dalam 1:06:44 konteks belanja masalah untuk para 1:06:46 ketiga kandidat ini, peganglah prinsip 1:06:49 salah satu iklan dari sebuah minuman, ku 1:06:53 tahu yang kau mau. Nah, itu kan 1:06:55 menarik. Itu aja menurut saya. Jadi 1:06:58 belanja masalahnya lebih dipertajam 1:07:01 dengan melihat fakta-fakta yang tidak 1:07:04 sekedar untuk kelompok sekedar populis, 1:07:06 tapi bagaimana merubah dari pendekatan 1:07:09 populis ke pendekatan kritis. Ah, itu 1:07:12 baru menarik. Keren, keren. 1:07:16 Tuh, ini nyambung ya. Jadi populisnya 1:07:18 diseimbangkan dengan kritisien. Wow. 1:07:20 Iya. Oke. Nah, mungkin Bang Madani ini e 1:07:23 sebagai penutup ya, Bang. kira-kira ee 1:07:26 dari semua masalah yang ada di Jakarta 1:07:29 ini 1:07:30 sebetulnya kita balik lagi ya ke 1:07:32 permasalahan awal kita ya siapa yang 1:07:34 dibutuhkan dan apa yang harus 1:07:36 diselesaikan pertama kali gitu ketika 1:07:37 dia jadi pemimpin. Kalau tadi mungkin 1:07:39 Kang Ayat kota kuncinya adalah berani ya 1:07:41 mungkin Bang Madani punya pendapat lain 1:07:43 kira-kira seperti apa tuh Bang? Makasih, 1:07:46 Bang Ipan. Kalau sederhananya sih ada 1:07:50 kebutuhan yang mendesak tentang 1:07:53 pekerjaan ee tentang ee kebutuhan hidup. 1:07:57 Ee sisi populisme harus ada quick wins. 1:08:02 Tetapi saat yang sama pekerjaan 1:08:05 fundamental dan 1:08:07 substansial yang sifatnya strategis dan 1:08:09 teknokratis harus juga diimbangkan. 1:08:12 Karena itu saat kampanye nanti 1:08:14 dua-duanya 1:08:16 contoh paparkan dulu substansial dan 1:08:19 fundamental dalam bentuk teknokratis dan 1:08:22 strategisnya. Habis itu turunkan dalam 1:08:24 bentuk yang populis. Apalagi kalau ada 1:08:26 jargon yang mudah. Dulu kita ingat tuh 1:08:28 ee Kang Yayan waktu Andi Sandi pokoknya 1:08:32 Sandi itu apapun pertanyaannya 1:08:35 jawabannya oke 1:08:37 oke lama-lama orang tahu itu Pak Darma 1:08:42 Pongrek pun bagus adab adab adab diulang 1:08:44 nah harus ada pengulangan nah ini 1:08:46 menarik itu bentuk bagaimana menanamkan 1:08:50 ke dalam pikiran sesuatu hal yang 1:08:52 penting Nah mudah-mudahan minggu minggu 1:08:54 ini lusa kita bisa melihat debat yang 1:08:57 lebih substantif, yang lebih 1:08:59 teknokratis, yang lebih kritis, tapi 1:09:01 juga tetap ada rasa populisnya gitu, 1:09:04 Bang. Oke. Baik, terima kasih, Pak Bang 1:09:07 Mardani. Baik, pemirsa di YouTube Pak 1:09:11 Mardani, kemudian di PKS TV dan di Rasil 1:09:14 maupun pendengar di radio kita sudah 1:09:16 sampai di penghujung acara. Terima kasih 1:09:19 kepada Bang Madani dan Kang Yayat ya 1:09:21 atas e pemahamannya tentang Jakarta ini 1:09:24 cukup e bagi saya pribadi tentunya ini 1:09:26 jadi pelajaran baru ya tadi apalagi 1:09:28 pelajaran mahal itu nun Kang Yay 1:09:33 semoga kita berharap semoga nanti nanti 1:09:36 mungkin Bang Mar bisikin nih ke tim Rido 1:09:39 ya agar nanti debatnya agak lebih greget 1:09:43 ya tadi kalau bahasa ayat ya kita juga 1:09:46 nanti berharap mungkin pemimpin 1:09:47 berikutnya nya juga bersinergi dengan 1:09:49 Dewan Aglomerasi yang dibangun oleh 1:09:51 pemerintah pusat. Ya, saya juga pesan ke 1:09:53 Bang Mardani Ali, jangan Sebastian ya. 1:09:59 Tadi ada yang bagus tuh RJPM 1:10:05 termus bank juga keren itu. Oke, makasih 1:10:08 makasih. Iya, baikbaik. Terima kasih 1:10:11 kepada Kang Yayat dan Bang Madani. Saya 1:10:14 Ivan moderator pada hari ini izinkan 1:10:17 menutup Indonesia dari stok 1:10:19 ke-2. Ee pikir itu bisa kita tutup ya. 1:10:24 Nah, saya meninggalkan ruangan Zoom. 1:10:26 Terima kasih, Kang Yayat dan Bang 1:10:28 Mardani. Asalamualaikum. Sama-sama. 1:10:30 Salam. Kasih semua.