Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirahmanirahim
- walhamdulillah washolatu wassalamu ala
- Rasulillah wa ala alihi wa shohbihi wa
- mawalah.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh ikhwan akhwat yang dirahmati
- Allah. Apa kabarnya di kesempatan hari
- ini? Semoga ikhwan akhwat dimanapun anda
- berada selalu dalam keadaan baik dan
- keadaan sehat dan selalu dalam naungan
- rahmat dan lindungan Allah Subhanahu wa
- ta'ala. Amin amin ya rabbal alamin. Dan
- masih dipancarkan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimanggis Cibubur
- Bekasi, Radio Silaturahim dan juga Rasil
- TV untuk Islam yang satu.
- Ikhwan akhwat saat ini kita bertemu
- kembali dalam program acara sejarah
- Islam di Nusantara.
- Dan seperti biasa kita juga berkunjung
- ke kediaman
- Profesor Ahmad Mansur Suryanegara
- yang terletak di Jalan Saturnus Raya
- nomor 27 Margahayu Raya Bandung ikhwan
- akhwat. Dan alhamdulillah kita diberikan
- kesempatan kembali oleh beliau untuk
- bersilaturahim
- berbincang-bincang mengenai sejarah.
- Ah, assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Pak Mansur.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kumaha damang kabarna?
- Alhamdulillah.
- Alhamdulillah, senantiasa segar nih
- kalau melihat Pak Mansyur nih.
- Nah.
- Alhamdulillah.
- Dan Ikhwan Akhwat di kesempatan ini kita
- akan berbincang-bincang
- mengenai sejarah Islam di dunia
- Nusantara. Mungkin banyak hal nanti yang
- akan di eh perbincangkan.
- Tapi kami ingin mengambil judul yaitu
- Nafas Islam
- di
- Kebudayaan Indonesia. Ya, Nafas Islam di
- Nusantara tentunya ya, Pak Mansyur.
- Baik, yang pertama Pak Mansyur eh
- belum lama ini
- di Indonesia
- mencuat kasus mengenai bendera Merah
- Putih, Pak Mansyur.
- Iya.
- Dan bendera Merah Putih ini
- ketika Aksi Bela Ulama
- 161 Bela Ulama ini, Pak Mansyur. Dan ada
- salah satu peserta aksi membawa bendera
- Merah Putih bertuliskan tauhid Laa Ilaha
- Illallah Muhammadur Rasulullah. Dan
- ternyata hal itu diperkarakan oleh
- aparat oleh kepolisian.
- Sampai-sampai eh aktivis yang membawa
- bendera itu ditahan. Memang pada
- akhirnya ditangguhkan penahanan
- penahanannya, Pak Mansyur. Nah, kami
- ingin tahu bagaimana sejarah
- bendera Merah Putih tersebut, Pak
- Mansyur. Mungkin sebelumnya sudah
- dijelaskan, tapi kami ingin mendengar
- kembali seperti apa sih sejarah bendera
- Merah Putih itu dan apakah memang eh
- bendera-bendera yang digunakan oleh para
- pejuang dulu dalam memperjuangkan
- kemerdekaan juga
- bernuansa Islam atau bertuliskan
- tulisan-tulisan
- Islam atau tulisan tauhid, Pak Mansyur?
- Kita kalau bicara tentang hal Islam
- itu pada umumnya
- akan terbayang sesudah Merah Putih
- kalimat itu pandangan itu
- kesimpulan yang demikian itu
- ditanamkan dari SD sampai
- orang-orang yang sudah dewasa.
- Karena pengertian Hindu-nya
- itu mengawali seluruh
- penyebaran agama di Nusantara ini.
- Lalu akibatnya
- sistem penulisan periodisasinya dengan
- Hindu, Buddha
- atau Buddha Hindu lalu baru Islam
- maka seolah-olah
- Islam itu belakangan.
- Pikiran-pikiran semacam ini
- sudah cukup lama
- disampaikan oleh Muhammad Ali
- ketua
- Arsip Nasional
- dan juga ketua jurusan
- sejarah di Unpad
- bahwa periodisasi demikian ini membuat
- sejarah tidak benar
- tidak realistis
- karena Islam, Hindu dan Buddha itu
- bersamaan
- artinya pengembangan-pengembangan
- seperti Candi Borobudur itu kan abad 9
- sedang Islam
- juga sudah masuk pada abad 7
- dan abad 9 sudah ada kerajaan Islam
- yang ada di Aceh.
- Jadi kalau kita bicara
- Nusantara
- maka bayangan kita juga begitu
- Nusantara itu adalah hanya Indonesia.
- Kalau kita berkunjung ke Thailand
- maka orang Thailand juga mengatakan
- wilayahnya itu sebagai bagian dari
- Nusantara.
- Kalau kita pergi ke Filipina
- yang muslim juga mengatakan Filipina
- bukan
- tidak menjadi bagian Nusantara itu.
- Jadi kalau kita semuanya
- bicara tentang pengertian Nusantara itu
- adalah satu wilayah
- di antara benua
- dan di antara samudra akan begitu.
- Dan di antara samudra Pasifik dan antara
- samudra
- India.
- Walaupun pada waktu sebelumnya ada
- istilah samudra India pun itu istilah
- samudra
- Persia.
- Jadi penamaan-penamaan yang tadinya
- namanya Islam, wilayah-wilayah ini
- lalu berubah
- menjadi di diibaratkan setelah Barat
- berhasil menjajah.
- Semuanya Islam,
- semuanya dipengaruhi oleh
- kebudayaan
- dan
- dari keilmuan pandangan geografi Islam.
- Karena yang membuat peta bumi di dunia
- yang pertama itu
- pakar adalah
- Islam.
- Lalu karena diislamisasi
- sistem penulisan sejarah
- lalu semua yang berbau Islam itu
- dibelakangkan.
- Dan yang dikedepankan adalah yang bukan
- Islam
- sehingga menurut
- eee
- Muhammad Ali
- dari
- Arsip Nasional, ketua Arsip Nasional dan
- juga menjadi ketua jurusan sejarah
- yang saat waktu itu
- saya masih menjadi mahasiswanya.
- Beliau menceritakan bahwa
- penempatan Islam di belakang Hindu tidak
- benar.
- Bahkan Islam di belakang Buddha tidak
- benar.
- Karena
- Nusantara
- itu semuanya
- didatangi ketiga negara tiga agama itu
- dan saling mendirikan
- kerajaan atau kesultanan
- dengan tanpa ada yang dinamakan perang.
- Perang agama hanya terjadi ketika Barat
- sudah masuk di Indonesia.
- Masuk Malaka,
- He eh.
- masuk ke Filipin.
- Itu istilah-istilah Filipin,
- semua macam itu adalah bukan nama
- Nusantara.
- Dan ibu kota itu man Allah jadi Manila.
- He eh.
- Jadi karena
- di Filipin itu pun adalah Islam
- yang berkembang.
- Tapi karena Barat mencoba
- menghilangkan
- kebenaran sejarahnya, maka di tampilkan
- tampilkan Magellan-nya.
- He eh.
- Kalau Amerika
- yang pertama dituliskan adalah
- Columbus-nya.
- Bahkan sebelum Columbus itu
- orang-orang Indonesia sudah bisa ke
- sana.
- Karena Hawaii itu juga namanya Hawaii.
- He eh.
- Hawaii itu Jawa. Jawa kecil.
- He eh.
- Dan bahasa Jawa itu pengertian Jawa
- dalam peta bumi itu artinya di atas.
- Maksudnya di atas apabila dilihat dari
- dari Arab,
- yang namanya Sumatera itu
- di sebelah sana ada Jawa.
- He eh.
- Maka terbayang
- oleh orang Arab sana lebih atas sedikit.
- He eh.
- Nanti Jawa
- atau Jawi.
- Jawi.
- Pengertian semacam ini pun sudah
- terkikis habis.
- Tidak ada lagi karena apa?
- Ditimpa
- bertubi-tubi.
- Seolah-olah Columbus yang menemukan
- Amerika.
- Padahal
- Jan Romein
- itu sejarawan Belanda mengatakan
- yang pertama orang Asia karena yang
- paling dekat dengan Amerika.
- He eh.
- Melalui Selat Bering masuk ke sana.
- Dan orang Indonesia dari pulau ke pulau
- sudah bisa mereka ke Amerika.
- Karena tidak ada hak menulis
- kesejarahannya,
- maka lalu tergusur.
- Dan Indonesia
- sebenarnya
- itu ada 74 kerajaan Islam.
- Kalau kita mau
- istilah kerajaan
- tapi kalau kita menggunakan istilah
- kesultanan
- gitu.
- Maka kita bisa
- membayangkan
- kalau ada kerajaan harus pakai nama
- Islam.
- Ehm.
- Kalau ada kerajaan harus pakai ke Hindu
- Buddha.
- Tapi ke kesultanan
- pasti
- Islam gitu.
- Jadi ketika
- agama-agama ini sampai di wilayah
- Nusantara
- baik Islam dari Arab maupun gitu
- dan kemudian Hindu dan Buddha dari India
- sampai di Nusantara itu
- tidak ada masalah
- Ehm.
- dengan pengertian
- kalau toh akan merebut hati rakyat
- supaya memeluk agama yang dibawanya
- maka itu hanya dengan
- saling
- berlomba dalam kebaikan.
- Adu ilmu.
- Kalau memang ilmuwannya itu
- melebihkan
- daripada yang
- satu yang lain maka yang lain itu kalah
- menjadi
- gitu.
- Seperti umpama
- di kalangan Islam sendiri
- gitu.
- Di tahun 20 itu abad 20 ini
- ada
- kalau memang betul-betul
- apa yang dijadikan landasan pem
- pembuatan organisasi itu
- dibenarkan oleh
- pemikiran-pemikiran Quran dan Hadis
- maka dia harus tetap di Bandung.
- Ehm.
- Tapi kalau dia keliru dalam mema
- menafsirkan Quran dan Hadisnya itu harus
- keluar.
- Itu pun terjadi. Jadi bukan
- melalui saling
- perang memerangi tidak ada.
- Oleh karena itu kalau kita sekarang di
- dunia ini belum ada duanya.
- Kita nyepi seluruh Nusantara ikut nyepi.
- Itu toleransi yang apa yang dimiliki
- orang Indonesia.
- Walau mayoritas Islam.
- Kok dikatakan intoleransi.
- Ya karena mereka berpikiran
- tidak historis.
- Ahistoris.
- Mana ada Natalan
- suruh bangsa Indonesia ikut libur.
- He eh.
- Mana ada nanti Imlek
- di Indonesia kebetulan hari Minggu bukan
- libur Seninnya.
- Jadi kalau Imlek itu hari hari libur
- hari kerja mesti libur.
- Itu Indonesia. He eh.
- Kenapa? Karena basic di dalam penyem
- pengembangan agama di sini para
- pendahulu-pendahulunya
- tidak mau
- adu kekuatan. He eh. Tetapi yang di
- lembahkan power-nya itu science-nya.
- Ilmunya, kekuatan doanya.
- Jadi kalau
- kita lihat antara agama Hindu dengan
- para wali
- gitu. Lalu adu itu. Kalau memang
- didengar oleh Allah doanya coba gitu.
- Dan mengadu apa gitu loh. He eh. Ada 40
- telur didirikan.
- Lalu apa Islam bisa membuat telur
- berdiri seperti ini 40. Lalu waliullah
- itu mengambil bagian bawahnya justru
- tanpa alas. Ini jadi tanpa ada tempat
- bertemu antara telur dengan telur.
- Lalu di celah-celahnya diambil bisa
- menempel.
- Kekuatan semacam ini
- adu adu kekuatan seperti itu
- ada adu ilmu kebenaran seperti itu
- itu di setiap wilayah Indonesia
- untuk bisa mencari pengaruh.
- Ehm.
- bukan
- yang dibayangkan orang seperti
- bahwa
- ada perang
- Islam melawan Hindu, itu hanya
- kisah-kisah sejarah
- yang dibuat oleh
- orang-orang yang dibiayai oleh Belanda
- Ehm.
- untuk mengadu domba
- divide and rule
- Saya kalau mengatakan kata adu domba
- kasihan orang Garut.
- Hehehe.
- Itu kan kebudayaan
- Iya.
- di sana punya arti positif kenapa
- dijadikan arti negatif
- jadi
- itu hanya pinjaman satu istilah
- Ehm.
- domba dengan domba yang kuat diadu lah
- ya
- nah itu
- istilahnya di Indonesia digampangkan
- dengan adu domba
- jadi kita semuanya
- Islam itu satu agama
- yang sangat lengkap
- percaya dan tidak percaya
- Ehm.
- Ehm.
- kita lihat itu
- umpama
- ada
- kalau mereka punya
- penganut pimpinannya keagamaan itu
- tidak nikah
- itu kan enggak lengkap contohnya
- lalu Islam justru
- memberikan contoh-contoh yang sangat
- baik
- sangat lengkap sekali
- meliputi masalah bendera
- Ehm.
- gitu
- kita diingatkan
- bahwa kita semuanya itu
- sebelum kita punya badan ini
- yang membuat
- listrik itu bukan karena kabelnya ini
- Ehm.
- yang bikin listrik adalah kabel keliru
- yang membuat Rizal adalah badannya ini
- yang celananya ini, yang bajunya itu,
- itu bukan Rizal.
- Ehm.
- Walaupun kepalanya dan dahinya itu bisa
- bergerak dan masih bisa bicara seperti
- Bapak Bapak ini
- kepada Rizal
- itu karena di dalamnya ada Mansur.
- Ehm.
- Kalau kita
- melihat
- yang dinamakan
- ponsel ini
- apakah android-nya
- Ehm.
- atau
- luarnya bungkus luarnya itu
- Ehm.
- Nah, badan kita itu juga begitu.
- Di dalamnya ini ada nur.
- Yang disebut nur
- Rizal
- nur Muhammad, nur Angga.
- Nah, nur-nur ini semuanya
- sebelum turun di muka bumi ini ketemu
- dengan Allah.
- Ehm.
- Rasulullah mengubah pikiran orang
- melalui sejarah.
- Gitu.
- Tidak benar kalau manusia ini wujud
- aslinya adalah badannya itu.
- Ehm.
- Kita harus percaya di dalam badan kita
- ada yang gaib.
- Oleh itu Alquran mendahulukan
- satu ajaran
- alif lam mim dzalikal kitabu
- la raiba fihi
- hudal lil muttaqin.
- Siapa yang muttaqin itu? Yu'minuna bil
- ghaib.
- Jadi Rizal harus percaya bahwa Rizal di
- dalamnya ada.
- Ehm.
- Mansur ada di sini.
- Kalau Mansur nanti pulang
- badannya enggak ada artinya.
- Tinggalkan.
- Seperti alat-alat peralatan kita
- semuanya sekarang ini
- dengan
- kakinya yang dinamakan nama apa, dengan
- tiangnya, dengan kabel-kabelnya semuanya
- enggak ada artinya kalau enggak ada yang
- namanya setrumnya, listriknya.
- Listrik.
- Nah, di dalam kita juga begitu.
- Nah, nur Rizal
- itu dulu ketemu dulu dengan Allah.
- Alastu birobbikum.
- Maka jawab Rizal itu
- bala syahidna.
- Semua-semua
- itu akan menjawab bala syahidna. Bala
- itu semuhun, iya.
- Yes.
- Syahidna bersaksi.
- Nah, waktu kita mengucapkan asyhadu alla
- ilaha illallah
- wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah.
- Saya bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah.
- Bersaksi itu
- saya melihat Rizal, Rizal melihat Bapak.
- Kan begitu.
- Nah, pada waktu kita belum punya badan,
- bisa ketemu dengan Allah.
- Nur ilahi. Nur Muhammad. Maka berani
- mengatakan asyhadu alla ilaha illallah
- saya bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah.
- Betul, bisanya ketemu itu karena kita
- belum punya badan waktu itu.
- Dan kemudian kita ketemu dengan
- rasulullah.
- Dengan kekuatan Allah, dengan anugerah
- Allah, dengan rahmat Allah kita ketemu
- dengan Allah dan bersyahadat.
- Kun fayakun, jadi.
- Lalu masuk dalam rahim.
- Dalam rahim inilah kita
- yang sebenarnya
- sekepal ini.
- Badan yang sebesar ini
- itu hanya
- awalnya sebutnya sperma
- atau nutfah
- yang besarnya 60 mikron.
- Ini maksa saya ulang lagi.
- 60 mikron ini
- itu 60%
- per 1 juta kali 1 mili.
- 1 mili bagi 1 juta.
- Itu nanti bertemu dengan ovum.
- Lalu pindah masuk ke dalam rahim.
- Selama 9 bulan 10 hari itu.
- Sekecil itu makan apa?
- Iya. Maka jawab Allah iqra. Baca.
- Bismi rabbikalladzi khalaq, khalaqal
- insana min alaq.
- Darah
- ibu apa warnanya? Merah.
- Mmm.
- Selama 9 bulan 10 hari.
- Badan ini
- berubah terus
- Iya.
- di dalam rahim.
- 9 bulan 10 hari itu 9 * 30
- sama dengan 270.
- 270.
- Ditambah 10, 280.
- Rasulullah mengingatkan kita
- bahwa dalam rahim itu setiap per 40 hari
- berubah.
- Mmm.
- 280 dibagi 40 7.
- Langit 7, bumi 7, Ka'bah itu 14, 2 * 7.
- Hajar Aswad itu 7.
- Dan tawaf 7, sa'i 7, Al-Fatihah 7, hari
- 7. Semua seperti 7 itu apa? Mengingatkan
- kita
- jadinya manusia itu karena Maha Rahimnya
- Allah itu.
- Dan berada dalam rahim ibu
- mengonsumsi apa? Darah ibu yang warnanya
- apa? Merah.
- Merah.
- Wa hamluhu wa fisaaluhu salaatsuna
- syahra.
- Allah
- itu memberi pada kita
- kesempatan pula
- untuk setelah lahir
- itu dengan
- mengonsumsi darah ibu yang warnanya
- putih.
- Yang sebutnya ASI.
- Mmm.
- ASI itu kalau
- ibunya sebut ibu
- maka air susu ibu
- kalau sebutnya ummi ya bukan ASI,
- singkatannya.
- Mmm.
- Itu singkatan.
- Iya, Kak.
- Jadi, ASI ini 20 bulan 20 hari.
- Apa wujudnya? Putih.
- Putih.
- Warnanya apa? Putih.
- Maka Allah
- menyampaikan kepada Rasulullah
- lalu nanti di hadiskan
- diceritakan oleh Rasulullah
- innallaha zawal al-ardhu
- Allah menunjukkan dunia padaku
- masyariqaha wa magharibaha, Allah
- menunjukkan pula timur dan baratnya.
- He eh.
- Ah, pohon kata Zaid, aku diberi warna
- sangat indah, al ahmar wal abyad,
- begitu.
- Berarti
- merah putih.
- Nah, merah putih itu
- dibawa oleh Rasulullah
- dan dibawa oleh nanti
- para dai-dai yang ke Indonesia.
- He eh.
- Nah, dai-dai itu
- kalau ditinjau dari
- pekerjaannya
- profesinya
- pedagang.
- Begitu.
- Kalau dilihat profesinya
- tapi kalau dilihat dari sanadnya
- itu keluarga Rasulullah.
- He eh.
- Keluarga Rasulullah itu Habib.
- Habaib.
- Habaib.
- Begitu.
- Besar kemungkinan
- sebagai buktinya nyata sampai sekarang
- He eh.
- seorang Habib saja
- He eh.
- bisa mengumpulkan berapa juta manusia
- untuk menegakkan agama Islam ini
- dengan peristiwa
- 411
- dan 4 eh 212 itu.
- He eh.
- Itu juga membuktikan bahwa
- Habib ini
- memegang peranan penting di dalam
- pengembangan Islam.
- Tetapi karena
- penulisan sejarah itu orang barat.
- He eh.
- Ketika
- kerajaan Katolik Portugis akan mena
- menegakkan penjajahan di Asia
- dan Afrika
- maka banyak bertemu di
- pelabuhan-pelabuhan itu
- pedagang-pedagang
- Arab.
- He eh.
- Itu dapat dibaca dalam sejarah yang
- sebenarnya yang tidak dituliskan untuk
- SD dan SMP di Indonesia.
- Tapi kita bisa membaca
- bahwa di India
- itu orang-orang Arab itu dirampok oleh
- Portugis
- dan dia membawa beberapa
- kapal membawa rempah-rempah itu dari
- India
- ke
- Lisabon
- ke Portugal
- dan kemudian
- apa
- barangnya itu didapat dari mana?
- Apakah dia tukar barang dengan barang
- barang?
- Yang Romein
- penulis sejarah Belanda
- seorang sejarah Belanda mengatakan
- kapal-kapal mereka itu kosong
- tidak punya barang dagangan
- apa yang akan diperdagangkan di
- Indonesia ditukarkan?
- Maka dia hanya bawa batu aja
- supaya tidak terlalu oleng gitu
- dan meriam dengan modal meriam itu
- ditembakkan di pelabuhan
- dan kemudian dia merampok orang-orang
- Arabnya itu
- untuk diusir dari pelabuhan itu
- pedagang yang dulu itu bukan Cina
- Arab
- ini sejarah
- bukan saya
- karena sekarang ini
- lalu Pak Habib Rizieq yang sedang
- jadi
- pemikiran sejarahnya sekarang
- bukan begitu maksud saya
- hanya ada di Arabisasi dalam penulisan
- sejarah
- gitu
- lalu diganti dengan India
- dan semua nama-nama yang tadi
- yang dinamakan
- Samudra Persia diganti dengan Samudra
- India
- itu adalah karena ada
- anti Semitnya
- anti Arabnya
- anti Yahudinya
- anti segala macamnya yang ber-Asia
- lalu Barat menuliskan
- tanpa ada Arab
- Indian Jones kalau kita film
- kalau kita lihat
- orang yang bloon mesti orang Arab
- he
- tapi yang pintar orang Barat begitu
- itu
- segala aspek sehingga melalui
- dari
- segi budaya
- terjadilah
- penggusuran
- pengertian bahwa
- Arab dan Islam itu
- tidak pernah membudayakan orang
- he
- padahal
- yang dinamakan
- orang mengerti tentang hal
- bintang-bintang di langit itu bukan
- diajari oleh
- para
- astrolog Islam
- yang ada di Universitas
- itu Barat mengerti ada Universitas itu
- kan
- juga Islam
- dengan adanya
- Madrasah Kurtuba
- he
- cuma istilah Madrasah
- yang lebih
- hebat adalah Universitas
- dari Indonesia Madrasah itu
- bukan satu
- lembaga pendidikan yang membanggakan kan
- iya
- padahal begitu karena dia demikian rupa
- dia dipukul oleh Belanda dihancurkan
- sehingga
- bagaimana
- untuk mempertahankan eksistensi Madrasah
- itu
- seadanya
- Pesantren juga seadanya
- dan akhirnya
- punya bayangan
- bahwa Islam tidak memberikan peradaban
- sampai pun masalah bendera itu bukan
- bukan peradaban Islam
- iya
- dengan sistematik
- maka dipindahkan merah putih itu
- bukan ajaran Islam
- he
- kalau kita mengatakan sekapur sirih itu
- kan dari Melayu
- iya
- sirih dan kapur itu mesti
- merah
- gitu
- sirihnya merah kapurnya putih
- iya
- jadi
- sirihnya itu hijau
- he
- gitu kalau dengan kapur merah dan hijau,
- putih dengan hijau itu berubah menjadi
- merah
- He
- lalu
- kalau warnanya
- warna
- yang dinamakan gula, itu gula merah gitu
- Iya
- yang maksudnya
- jadi Indonesia
- kalau ada bayi
- kemudian baru lahir
- He
- lalu dengan adanya bubur merah dan bubur
- putih, itu merah putih
- He
- kenapa dibudayakan Islam itu
- karena
- yang dinamakan
- budaya cetak itu
- kemampuan cetak-mencetak itu sangat
- minim sekali
- He
- bayangkan pada zaman Sayyidina Usman
- itu baru dikodifikasikan, disatukan yang
- satu mushafkan
- sehingga ada empat saja
- nah bagaimana Islam sudah sampai di
- Indonesia
- maka untuk mengingatkan kembali semua
- ajaran-ajaran itu
- di Nusantarakan
- He
- dibahasa
- daerahkan
- ajarannya itu
- dilokalkan
- iya
- dengan bahasa-bahasa yang
- kita pinjam dengan daerah gitu
- maka Islam itu bisa
- masuk
- He
- jadi kalau
- sekarang ini
- kita
- beli ladu saja gitu ya
- di Malangbong
- He
- gitu
- tiba-tiba
- Ladu itu yang manis ya?
- iya yang seperti itu
- Seperti dodol ini
- lalu
- ladu itu
- lalu tukang ladunya itu tiba-tiba waktu
- saya beli
- He
- nyanggakeun barangna
- nampi artosna
- nah itu kan fikih yang sudah membudaya.
- Ijab kabul.
- Iya, ijab kabul.
- Nah, itu tidak dirasakan bahwa
- Islam
- berkembang melalui budaya.
- Baik, Pak Mansur.
- Islam berkembang melalui budaya. Nanti
- kita lanjutkan, Pak Mansur.
- Iya.
- Kita jeda terlebih dahulu dan
- Ikhwan Akhwat ya, kurang lebih sudah
- sekitar 20 menit Pak Mansur menjelaskan
- mengenai
- nuansa Islam di Nusantara. Salah satunya
- tadi penjelasan mengenai bendera merah
- putih memang eh, berasal dari nuansa
- Islam, Ikhwan Akhwat. Nanti juga akan
- dijelaskan, insyaallah setelah jeda
- bagaimana bendera-bendera lain yang ada
- di Indonesia ini eh, memang bertuliskan
- yang bernuansakan tauhid.
- Ikhwan Akhwat, kita akan kembali setelah
- jeda berikut ini.
- Ya, terima kasih Ikhwan Akhwat yang
- dirahmati Allah, masih menyimak siaran
- di kesempatan ini dalam program acara
- Sejarah Islam di Nusantara. Sebelum jeda
- tadi, Pak Mansur menjelaskan
- mengenai nuansa Islam
- di Nusantara. Mulai dari dijelaskan
- beberapa hal-hal yang berkaitan dengan
- kebudayaan-kebudayaan kita yang sangat
- banyak bernuansa Islam. Dan juga tadi
- dijelaskan mengenai bendera merah putih
- pun
- sangat bernuansa Islam ya, dan ternyata
- dijelaskan tadi
- bendera merah putih itu juga adalah
- bagian dari bendera Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam.
- Dan Ikhwan Akhwat dijelaskan juga Islam
- itu berkembang melalui budaya yang ada
- di Indonesia sendiri, Pak Mansur ya.
- Iya.
- Baik, Ikhwan Akhwat, kita akan simak
- kembali lanjutan penjelasan dari nuansa
- Islam Nusantara juga tadi akan
- menjelaskan lagi lebih banyak mengenai
- sejarah merah putih sama-sama merah
- putih. Kami persilakan Pak Mansur.
- Jadi
- pelaku pembawa ajaran Islam
- itu kalau ditinjau dari profesinya
- wira niagawan
- Iya.
- atau yang disebut pedagang
- Pedagang.
- tapi kalau ditinjau dari nasabnya
- itu kebanyakan habib-habib
- Iya.
- baik yang di Papua
- di Banda
- ataupun sampai di
- Sabang
- itu kebanyakan
- adalah orang-orang Arab
- yang sebenarnya lebih dikenal sebagai
- habaib itu
- Iya.
- kalau ditinjau dari segi
- pemahaman ulamanya pemahaman ilmunya
- maka
- para pembawa agama itu
- disebut ulama
- Ulama.
- Jadi karena kita terpaku
- kepada permasalahan pedagang
- maka lalu
- terbayangkan
- pedagang itu hanya Cina
- Iya.
- itu kesekarangan
- tetapi pada masa lalu-lalu itu
- justru
- Arab
- ikut berperan besar
- di dalam
- pemasaran satu produk atau perdagangan
- di
- dunia ini
- ada mata uang Arab yang ada di Norwegia
- Iya.
- ada di Swedia
- jadi kita bisa melihat bahwa saat itu
- penguasa laut itu
- maritim itu ada dikuasai oleh Arab
- Iya.
- itu
- kemudian juga Cina
- bermain di dalam pemasaran perdagangan
- itu.
- Hubungan antara Cina
- dengan Arabia melalui daratan disebutnya
- Jalan Sutra.
- Iya.
- Nah, yang di laut juga
- sebenarnya mempunyai bagian yang sangat
- terbesar.
- Karena
- pelaut yang pertama kan Nabi Nuh.
- Iya.
- Tetapi
- kita disuruh me
- me
- mengenang
- bab pelaku-pelaku pelaut itu
- tidak ada kaitannya dengan kenabian.
- Iya.
- Itu sistem berpikir integritas.
- Artinya
- juga secara ilmiah dan juga
- menggabungkan dengan Alquran
- itu kan
- kita sebagai muslim itu harus integritas
- pemikirannya begitu.
- Iya.
- Integritas keilmuannya begitu.
- Jangan sebatas
- kalau ada
- kapal
- lalu
- definisi
- tidak ter tidak ada kaitannya dengan
- Nabi Nuh.
- Tapi harus dengan kenabian Nuh itu.
- Sejarah yang diangkat kembali oleh
- Rasulullah
- adalah
- nabi-nabi itu merupakan
- tokoh sejarah, pelaku sejarah, aktor
- sejarah
- yang menjawab tantangan zamannya.
- Iya.
- Gitu.
- Jadi kalau kita
- sekarang ada gerakan
- bahwa ulama itu tidak tahu politik
- ulama itu harus di luar masalah
- pembicaraan politik.
- Politik itu menjadi apa artinya?
- Kalau Alquran sendiri
- nabi yang pertama itu ber bersu
- berpolitik.
- Kalau politik itu dikaitkan dengan
- pemerintahan
- kekuasaan
- kekhalifahan.
- Allah mengingatkan kita semuanya
- bahwa nabi yang pertama
- baru berdua dengan istrinya Siti Hawa
- Ehm.
- maka perintahnya adalah ini ja'ilun fil
- ardhi khalifah.
- Jadi nabi itu karena gelarnya nabi
- maka kebayang tua.
- Ehm.
- Kebayang orangnya mempunyai fisikal yang
- kurang
- fit.
- Pak Nabi Adam itu manusia pertama
- gitu.
- Tidak mungkin aki-aki bagaimana kehendak
- kita.
- Karena kita semuanya ini adalah Bani
- Adam.
- Ehm.
- Jadi ini ja'ilun khalifah
- itu di
- perintahkan oleh Allah ke Nabi Adam.
- Dan Nabi Adam itulah salatnya
- yang disebut salat subuh.
- Nabi Adam itu syahadatnya kan asyhadu
- alla ilaha illallah
- wa anna Adam khalifatullah.
- Ehm.
- Kalau kata khalifah
- itu berkaitan dengan masalah politik
- maka nabi pertama mengajarkan politik.
- Ehm.
- Kehidupan kebersamaan itu politik.
- Politik itu adalah
- satu kerja sama
- untuk memberhasilkan
- tujuan kebersamaannya itu.
- Itu politik sebenarnya.
- Tapi kalau ada istilah politik kotor
- itu bukan politik itu yang kotor
- tapi orangnya
- yang kotor.
- Seperti
- ada uang haram
- uangnya enggak haram sebenarnya.
- Hanya cara memperolehnya
- yang haram.
- Nah politik sebenarnya adalah
- ajaran paling dasar
- yang dimiliki oleh Islam diberikan
- kepada Nabi dan Nabi kepada warasatul
- Anbiya.
- Jadi kalau kita semuanya
- ada gerakan golput tidak mau ikut
- memilih,
- itu orang tidak tahu
- ajaran Islam itu dasarnya
- adalah politik.
- He eh.
- Dan sekarang kalau ada ulama bicara
- politik,
- lalu dianggap ulama itu nyimpang.
- He eh.
- Ulama itu tidak benar.
- He eh.
- Ulama sempalan.
- Iya.
- Padahal justru kita
- diingatkan oleh Alquran sampai pun
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- mengapa mengubah Yatsrib
- dengan nama Madinah?
- Iya.
- Madinah itu kota.
- Kota itu polis.
- Polis itu politik.
- Jadi
- kita semuanya diingatkan
- bahwa Nabi Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam pun
- itu
- membangun kehidupan berpolitik.
- Dan kehidupan politik Rasulullah itu
- di
- hadapkan dengan
- kebinekaan.
- Ada Majusi,
- ada Yahudi, ada Nasrani,
- dan begitu.
- Ada Islam.
- Maka bagaimana Rasulullah
- yang memegang wahyu
- untuk bisa
- membangun kebersamaan di antara
- perbedaan keyakinan itu.
- Maka dibuatlah Piagam Madinah.
- Nah, ulama-ulama Indonesia
- ketika sudah proklamasi
- juga
- menggunakan Piagam Madinah untuk
- dijadikan
- dasar pemikiran Undang-Undang 45.
- Kalau tidak percaya,
- datang saja ke rektor
- Universitas Islam 45
- yang ada di Bekasi itu
- nanti
- akan diberikan bukunya tentang restorasi
- Pancasila
- di situ disebut dijelaskan dalam buku
- itu
- bahwa 37 pasal undang-undang 45 itu
- adalah peng-Indonesia-an dari Piagam
- Madinah
- jadi
- kalau kita bicara tentang hal ulama
- maka kita
- minus politik
- itu sekarang
- bagaimana ada proklamasi
- terjadi
- kalau Bung Karno itu harus datang dulu
- pada ulama-ulama
- kehilangan sejarah
- peran ulama di Indonesia
- mengakibatkan sekarang ini
- disebut ulama itu tanpa Bhinneka
- tidak tahu Bhinneka Tunggal Ika
- sedangkan yang nyebut Bhinneka Tunggal
- Ika itu
- Sunan Kalijaga
- diwujudkan dalam bentuk
- tiang salah satu tiang di Demak itu
- tiang itu bukan merupakan kayu satu
- tetapi potongan-potongan kayu
- yang disebut dengan bahasa
- tatal
- tatal itu sebenarnya bekas-bekas
- disugu
- atau di apa gitu kayu itu
- pecahan-pecahan
- tapi pecahan kayu yang gede-gede
- besar-besar
- ya ada yang sampai 30 senti 25 tapi
- tidak sama bentuk
- tapi oleh Sunan Kalijaga
- disatukan
- ilmunya itu hebat sekali
- sehingga potongan-potongan kayu itu bisa
- menjadi ka
- menjadi tiang
- dan diikat dengan
- ee
- kulit kambing dituliskan Bhinneka
- Tunggal Ika
- dengan
- pengertian bahwa
- umat Islam itu punya banyak wadah
- dalam kehidupan kebersamaannya di
- Indonesia yang akan datang
- dan juga pada-pada zaman Sunan ee Sunan
- Kalijaga
- tapi bagaimanapun juga
- itu Islam yang satu itu
- ya
- lalu
- Bhinneka Tunggal Ika
- itu Sunan Kalijaga
- tetapi dikatakan
- sekarang ini ulama tidak tahu Bhinneka
- Tunggal Ika
- Pancasila lambangnya itu
- lambangnya itu juga yang membuat siapa?
- Masyumi
- gitu
- yang mengesahkan
- sedangkan
- yang paling awal
- yang membuat adanya Pancasila urutan
- dari Ketuhanan Yang Maha Esa sampai
- keadilan sosial itu
- iya
- itu kan Kiayi Bagus Hadikusumo
- dari mana Muhammadiyah?
- dengan Wahid Hasyim dari mana Wahid
- Hasyim itu? bapaknya Gus Dur Nahdlatul
- Ulama
- tanpa ada dua ulama ini ditambah dengan
- Kasman Singodimedjo
- Muhammadiyah
- maka apa
- yang akan terjadi di Indonesia itu?
- tidak akan mungkin sudah proklamasi
- punya Pancasila dan Undang-Undang 45
- ulama
- bicara tentang hal politik
- bicara tentang hal proklamasi
- tanya kepada saksi sejarahnya
- Dokter Soeharto
- dokter pribadi Bung Karno itu namanya
- sama dengan Presiden Soeharto
- iya
- Soe pakai Soeharto juga
- seperti Rizal nama Rizal banyak Mansyur
- juga banyak
- bahkan ada Asep banyak kan itu
- iya
- jadi
- lalu Dokter Soeharto itu bicara Bung
- Karno akan proklamasi itu
- minta nasehat pada ulama-ulama.
- Di antaranya kepada Wahid Hasyim.
- Wahid Hasyim itu
- maaf, Hasyim Asy'ari.
- Hasyim Asy'ari.
- Hasyim Asy'ari itu mbahnya Gus Dur.
- Mmm.
- Gitu. Saya mengatakan pakai mbah karena
- Gus Dur sering nyebut mbah saya.
- Ya.
- Hasyim Asy'ari itu ketika didatangi
- Bu, bagaimana tentang hal akan
- diproklamasikan
- gitu. Jawabnya, proklamasi, Bung. Terus.
- Mmm.
- Dan Bung akan jadi presiden.
- Istilah presiden itu sendiri
- kenapa NU bisa menyebutkan
- Hasyim Asy'ari itu bisa bicara presiden?
- Karena Tanfidziyah NU itu
- bukan seperti Agil Sirat sekarang
- namanya ketua PBNU.
- Mmm.
- Dulu tahun 26
- ketika NU berdiri
- maka Tanfidziyah disebutnya presiden.
- Mmm.
- Tapi sejarah karenanya dikenal Presiden
- Soekarno
- atau BEM yang sekarang pakai presiden
- semuanya gitu.
- Presiden BEM.
- Maka seolah-olah NU tidak mendahului.
- Baca Statuten,
- saya enggak saya ambil saya keluarkan
- tuh Statuten tahun 26 itu
- NU mempelopori
- Nama presiden.
- penggunaan istilah presiden.
- Mmm.
- Gitu. Oleh karena itu Hasyim Asy'ari
- sebagai kiai, sebagai ulama
- dan dia juga bisa mukasyafah
- Mmm.
- bisa melihat ke depan
- lalu dia mengatakan presiden, Bung
- nanti Bung akan jadi presiden.
- Dan kaum Nahdliyin akan menjaga Bung
- menjadi presiden.
- Iya.
- Dan begitu. Jadi istilah presiden itu
- bukan
- istilah yang
- tanpa ada NU dulunya.
- NU.
- Iya.
- Seperti halnya istilah nasional
- tidak akan mungkin ada istilah nasional
- kecuali ada SI Cokroaminoto.
- Mmm, Serikat Islam.
- Di Bandung itu di gedung Asia Afrika
- yang sekarang, di situ ada Kongres
- Nasional Sentral Serikat Islam.
- Kata nasional itu Islam.
- Dan yang yang membawa ar istilah
- Indonesia
- memang
- ada istilah di
- Eropa itu
- ada Earls.
- Dia seorang yang
- mengin ingin menggantikan
- India Belanda
- itu dengan nama
- Indo nesia.
- Mmm.
- Tapi oleh Logan diganti dengan
- Indo pakai O, nesia.
- Lalu nanti oleh Bastian itu
- antropolog dari Jerman
- dipopulerkan istilah Indonesia itu.
- Dan ketika
- dipasarkan atau di
- populerkan disosiasi di kalangan istilah
- disosialisasikan
- oleh Bastian di kalangan sarjana-sarjana
- di
- di Belanda
- ada Dr. Sukiman Wirjosandjojo.
- Nah, dialah nanti yang merubah
- Indische Vereeniging
- Vereeniging itu
- menjadi Perhimpunan Indonesia
- Mmm.
- di negeri Belanda. Ketika dia pulang
- maka dia masuk SI.
- SI sudah menjadi partai politik waktu
- itu.
- Partai politik Serikat Islam.
- Adanya parpol yang pertama
- juga ulama.
- Iya.
- Cokroaminoto.
- Cokroaminoto.
- Itu.
- Lalu ulama kok tahu politik? Ulama yang
- membuat partai politik
- yang pertama.
- Lalu ditambah Partai Sarekat Islam
- Indonesia.
- Nanti
- karena Budi Utomo menyaingi Islam, lalu
- membuat juga PBI
- Persatuan Bangsa Indonesia, padahal
- orang Jawa saja yang boleh masuk situ,
- kiai-kiai saja.
- Lalu juga ada Parindra
- Partai Indonesia Raya, tapi juga
- golongan
- priyayi saja
- ambtenar
- pegawai pegawai kebenaran Belanda.
- Itu
- ikut menga- me- gunakan istilah
- Indonesia.
- Ehm.
- Karena Bung Karno nanti menjadi
- menjadi presiden.
- Dan Bung Karno itu menantu Pak Cokro.
- Maka istilah Indonesia dipakai oleh Bung
- Karno.
- Ehm.
- Bung Karno nanti mempopulerkan karena
- kepresidenannya.
- Lalu seolah-olah istilah Indonesia itu
- bukan dari ulama.
- Sangat disayangkan.
- Pengertian-pengertian kesejarahan yang
- sekarang tersesatkan sampai jauh.
- Sehingga ulama-ulama
- seolah-olah tidak membuat Indonesia
- bermerah putih.
- Ehm.
- Seolah Indonesia tidak tahu politik.
- 74 kerajaan Islam
- dari Sabang sampai Merauke.
- Tapi karena hanya disebutkan Demak saja
- Ehm.
- Gitu.
- Dan nanti Jogja dan Solo
- diganti dengan
- kesul- yang namanya
- Hamengkubuwono itu.
- Itu kan ini ja'ilun fil ardhi khalifah.
- Khalifah.
- Hanya ketika dijauhkan
- lalu seolah-olah
- bukan Islam.
- Ehm.
- Tapi itu Islam.
- Karena kalau
- ada jabatan nabi, lalu ada jabatan
- Amirul Mukminin
- ada jabatan Sultan kan
- ada yang bukan Malik itu kan
- penterjemahan
- hmm
- dari ini ja'ilun fil ardhi khalifah
- nah ketika di Jawa
- maka tak
- ehm Al Baqarah
- surat 2 ayat 30 itu
- dijawakan menjadi Hamengkubuwono
- ini ja'ilun fil ardhi khalifah
- ardhi itu buana
- gitu
- tapi dialah yang memangku artinya
- menerima amanah
- untuk
- menjadi khalifah itu
- sehingga gelarnya
- itu kan
- Senopati ing Alogo
- hmm
- Sayidin Panotogomo
- Khalifah Rasulullah Shallallahu Alaihi
- Wasallam ing tanah Jawa
- hmm
- jadi
- Diponegoro juga begitu
- semua begitu
- itu hanya translate
- hanya penerjemahan ini ja'ilun fil ardhi
- khalifah dinusantarakan
- atau dijawakan
- hmm
- nanti kalau saya nyebut Jawa Madura
- tidak
- kalau saya menyebut ini
- menyebut Sunda nanti Aceh enggak
- ya sekaligus saya Nusantara
- hmm
- Nusantara itu meliputi wilayah Filipin
- meliputi Thailand itu semuanya begitu
- dulu
- iya
- dulu bukan sekarang
- ya
- jadi dulu itu sampai
- seluas itu pengertian Nusantara
- nah
- ini perlu diketahui oleh masyarakat
- bahwa ulama
- itu yang pertama-tama
- gitu
- menjadi
- penegak politik di Indonesia
- baca saja Taufik Abdullah dengan Islam
- dan masyarakatnya
- hmm
- Ketua LIPI Ketua MSI
- mereka selalu ini Islam itu
- dia cerita
- Ibnu Batutah itu
- seorang
- kelana muslim
- yang nanti datang ke
- yang dinamakan
- eee
- Samudera Pasai
- Sultannya itu
- tidak akan bisa berbuat kecuali
- didukung oleh ulama-ulama besar itu
- he
- jadi ulama di tiap-tiap wilayah itu
- membuat terjadinya kekuasaan politik
- Islam
- maaf yang belum mengerti begitu
- istilah kekuasaan politik Islam itu
- di dalam sejah di kalangan sejarawan
- untuk menyebut kerajaan atau kesultanan
- maka diganti dengan istilah
- political authority
- he
- gitu
- lalu diterjemahkan Indonesia kekuasaan
- politik
- jadi sangat
- tidak
- gitu
- sejarah atau ahistoris menurut saya
- kalau memisahkan ulama dengan politik
- he
- jadi ulama itu didepolitisasi
- kalau parpol diislamisasi
- ulamanya supaya tidak berpolitik ini
- penjajah ini
- gitu
- penjajah Belanda itu begitu
- ulama-ulamanya supaya tidak berpolitik
- maka kesultanan itu dilarang untuk
- berdekatan dengan ulama begitu
- jangankan dengan ulama haji pun tidak
- boleh sultan
- he
- bupati tidak boleh
- kecuali bupati Bandung
- kecuali bupati Sumedang
- itu
- berani
- naik haji
- jadi
- penulisan-penulisan sejarah yang
- dibiarkan oleh para ulama, kata Bung
- Karno,
- ulama-ulama yang tidak pernah menaruh
- perhatian kepada penulisan sejarah,
- akibatnya ulama itu
- hanya membaca abunya sejarah.
- Hmm.
- Nah, apalagi masyarakat.
- Iya.
- Bung Karno
- menganjurkan supaya umat Islam mengerti
- tentang Islamnya sebenarnya itu harus
- tahu api sejarahnya.
- Buku saya itu memang dipengaruhi oleh
- Bung Karno dalam istilah api sejarah
- itu.
- Hmm.
- Jadi, api sejarah itu
- pengertian Islamnya komplit.
- Akmal,
- sempurna.
- Sempurna.
- Karena
- dikatakan agama itu hanya
- masalah akhlak,
- masalah ritualitas,
- masalah tarawih gitu ya.
- Iya, masalah ibadah.
- usholli,
- masalah ee
- qunut atau apa gitu.
- Hanya itu saja. Itu pembatasan dari
- dunia Barat.
- Religion dengan definisi yang begitu.
- Sedangkan Islam
- meliputi segala aspek
- dalam kehidupan ini, way of life.
- Gitu. Sehingga gitu, diperlukan para
- penguasa-penguasa
- untuk mengerti.
- Jepang itu
- zaman Jepang gitu ya.
- Sampai
- bapaknya Hamka itu ditangkap.
- Hmm.
- Hmm. Dan kemudian Hasyim Asy'ari juga
- ditangkap. Kenapa? Tidak mau
- hormat ke Tenno Heika.
- Ke Jepang.
- Seikerei.
- Hmm.
- Kalau su kalau pagi-pagi itu.
- Lalu dia mengatakan, "Kami sudah punya
- kiblat."
- Iya.
- Kiblatnya itu adalah Ka'bah,
- bukan ke Tokyo.
- Kan.
- Ketika ditanya begitu K.H. Bas Mansur,
- kenapa begitu?
- Islam itu way of life.
- Dari segala aspek kehidupan
- itu Islam
- punya ajarannya.
- Sampai tadi menyerahkan ladu saja saya
- kaget waktu itu ya.
- Di Malampong tadi kan.
- Ehm.
- Gitu.
- Aduh.
- Nyangkakeun barangna.
- Nampi artosna.
- Nampi artosna. Itu kan ijab kabul.
- Sampai demikian
- Islam itu.
- Sampai tentara kalau salat bagaimana
- kalau dalam keadaan bahaya. Itu ada beda
- salat dengan kita dalam keadaan aman.
- Jadi Islam memberikan satu ajaran
- meliputi politik, meliputi ekonomi,
- meliputi sosial, meliputi segala budaya.
- Baik.
- Dan ketika sampai di Indonesia
- maka digunakanlah budaya untuk
- menyampaikan
- ajaran Islam itu.
- Ketika budaya ini sudah diislamkan
- maka bagaimana Belanda untuk memisahkan
- budaya dari pengaruh Islam.
- Ehm.
- Lalu ada gerakan-gerakan yang sekarang
- terkejut kita.
- Seolah budaya itu bukan Islam.
- Orang Sunda itu masih Islam.
- Iya.
- Gitu.
- Yang namanya Universitas Pasundan
- itu Islam.
- Gitu sebenarnya.
- Jadi kalau
- ada dulu itu Jawa itu
- Islam.
- Kenapa? Kampung di Mekah itu namanya
- Kampung Jawa.
- Ehm.
- Gitu.
- Tempat-tempat orang berkumpul walaupun
- dari Aceh, dari mana Jawa. Jadi istilah
- Jawa itu Islam.
- Jadi kalau adat itu mesti berdasarkan
- syariat.
- Syariat berdasarkan pada kitabullah.
- Gitu.
- Kenapa Belanda itu ingin memisahkan
- antara budaya dengan Islam?
- Kalau budaya itu lokal.
- Ehm.
- Kalau Islam itu universal.
- Begitu.
- Jadi kalau amal-amal shalihah
- itu kalau Islam itu sama.
- Gitu. Tapi kalau budaya beda-beda.
- Iya.
- Gitu.
- Kita tidak mengerti eh orang Belanda
- enggak ngerti
- bahwa yang namanya
- bakiak itu Islam.
- Islam loh maksudnya?
- Iya.
- Kenapa enggak sandal jepit?
- Ehm.
- Kata Adi
- Hidayat itu, Ustaz itu
- bakiak itu kata baqi
- dan yakin.
- Kita semua melangkah akan ke alam baka.
- Ehm.
- Gitu.
- Sarung itu syar'i.
- Itu adalah
- syariat Islam itu.
- Dan baju itu baju takwa
- yang dada ini.
- Untuk bisa nanti kembali ke alam baka
- dengan apa?
- Takwa.
- Kopiahnya itu khauf.
- Khauf itu rasa takut untuk sujud pada
- Allah.
- Sampai demikian Islam
- membuat segala aspek
- kehidupan itu
- diislamisasikan.
- Tapi hanya disebutkan dengan bahasa
- Sunda
- Iya.
- Jawa, Madura, Aceh gitu. Atau Ternate,
- Tidore gitu.
- Atau Kalimantan gitu.
- Atau Papua.
- Iya.
- Tapi itu Islam.
- Gitu.
- Nah ketika sudah berganti nama
- gitu. Sekarang berjuang untuk mengganti
- nama semuanya.
- Tidak ada baju takwa, koko.
- Iya. Ehm.
- Gitu.
- Sekarang ada perubahan-perubahan.
- Gitu. Bakiak enggak ada, diganti dengan
- jepit.
- Iya.
- Semuanya
- semua itu blue jean kita, celana kita
- blue jean.
- Ehm.
- Nah
- semua kita sekarang sedang berubah
- budaya busananya.
- Tapi dulu ulama berikan basic sampai
- batik itu
- Alquran itu intinya Al Fatihah. Inti Al
- Fatihah itu bismillah. Bismillah itu ba
- titik, batik.
- Ehm.
- Jadi seluruh
- kehidupan ke
- ke dalam kehidupan kemanusiaan di
- Indonesia itu diislamisasikan.
- Jangankan bendera,
- kakinya yang
- dengan
- alasnya itu disebut bakiak Islam.
- Ini para pemimpin
- yang sekarang sedang membuat pemisahan
- dengan Islam dan ulama
- satu kekeliruan yang besar.
- Ketidaktahuan sejarah
- dan tidak akan berlanjut.
- Ehm.
- Dia akan gugur sendiri.
- Karena apa? Dia keliru melangkah.
- Lebih baik kembali
- dalam pengertian Islam.
- Saya sebagai sejarawan bukan orang
- politik.
- Saya tidak memikirkan parpol.
- Ehm.
- Tetapi sangat saya sayangkan
- itu
- para pembina-pembina
- bangsa ini
- tidak memahami sejarah yang sebenarnya.
- Yang sedang
- yang yang asli
- yang tidak di
- putarbalikkan
- disembunyikan oleh para pelaku oleh
- orang-orang yang sekarang ini mencoba
- untuk memutar sejarah.
- Itu, melawan sejarah.
- Ehm.
- Kita semuanya akan menyaksikan.
- Mereka boleh berbuat seperti itu.
- Baik.
- Tapi saya sampaikan saya sebagai
- sejarawan
- dia telah salah langkah
- dan tidak akan berbuah sesuatu yang
- menguntungkan
- kecuali merugikan dirinya sendiri.
- Bangsa ini tetap
- dipengaruhi Islam
- sejak abad 7.
- 800 tahun
- atau berapa tahun
- ini abad ini sudah abad 15 dulu abad 7
- gitu.
- He eh.
- Sekian abad ini
- Islam sudah membudaya.
- Apapun ndak akan diusahakan menggantikan
- daripada ujungnya
- hanya ketemu dengan waktu kesementaraan.
- Baik.
- Karena apa? Berkat rahmat Allah
- Indonesia merdeka.
- PSI Partai Sosialis Indonesia Sutan
- Sjahrir
- mengadakan perundingan Linggarjati
- untuk menyelesaikan sengketa Indonesia
- dengan Belanda
- gagal.
- Amir Sjarifuddin PKI
- mengadakan Renville akan menyelesaikan
- Indonesia
- Belanda sengketanya gagal.
- He eh.
- Kemudian
- Muhammad Hatta dengan PNI-nya
- akan menyelesaikan sengketa Indonesia
- Belanda
- membuat RIS hanya berumur 26 hari.
- He eh.
- Tanggal 27 Desember
- diresmikan RIS
- tanggal 23
- APRA sudah membuat kekacauan di Bandung.
- 23 Januari tahun 50
- dan akibatnya apa?
- Siapa yang bisa menyelesaikan Indonesia
- bersatu dari Sabang sampai Merauke itu?
- Muhammad Natsir.
- He eh.
- Datuk Sutan Sjahrir Panjang.
- Dia
- dari partai apa?
- Beliau itu dari partai apa?
- Masyumi.
- He eh.
- Partai politik Islam Masyumi.
- Majelis Syura Muslimin Indonesia.
- Partainya siapa?
- Partainya orang-orang NU.
- Partainya Muhammadiyah.
- Partainya Al Washliyah.
- Persis.
- Nahdlatul Wathan.
- Dan semua-semua semua organisasi itu.
- Semuanya itu PUI.
- Saya pernah melihat.
- Itu ada rumah yang masih ada lambang
- Masyumi.
- Kenapa kok disimpan? Sejarah itu.
- PUI pernah jadi.
- Itu Persatuan Umat Islam yang di Majak
- itu.
- Jadi Majalengka.
- Itu.
- Masyumi juga.
- Jadi Masyumi itu ahli sunnah wal jamaah.
- Ada ya orang-orang Muhammadiyah, orang
- semuanya itu bersatu di bawah satu
- simbol kepartaian Masyumi.
- Dialah yang membuat adanya NKRI.
- Harga mati. Kalau sekarang istilahnya.
- Siapa? Islam. Ulama.
- Sangat tidak benar kalau dikatakan ulama
- tidak tahu NKRI. Justru yang menegakkan
- NKRI itu ulama.
- Saya bicara begini.
- Karena.
- Tahu sejarahnya.
- Gitu.
- Muhammad Natsir dari Masyumi.
- Membubarkan semua RIS.
- Republik Indonesia Serikat yang di bawah
- Ratu Belanda.
- Dan kemudian
- negara-negara bagian bubar.
- Dan membuatlah nanti yang dinamakan.
- Negara Kesatuan Republik Indonesia.
- Presidennya masih Bung Karno.
- Itu. Presiden masih Bung Hatta.
- Kalau saya bilang kayak Bung ya.
- Karena sesudah jadi presiden tidak lagi
- sebut Bung. Paduka Yang Mulia. Pada
- waktu itu.
- sesudah nanti Pak Harto hilang istilah
- Paduka Yang Mulia
- Ehm.
- Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno
- Paduka Yang Mulia Wakil Presiden Hatta
- Paduka Yang Mulia Perdana Menteri
- itu
- lalu Paduka Tuan Yang Mulia
- Panglima Besar Sudirman
- kalau enggak percaya
- di kamar kerja saya itu koran-koran di
- tahun 45 masih ada
- nanti kita bisa membaca geningan begitu
- Ehm.
- geningan pakai
- Paduka Tuan Yang Mulia begitu ya
- sesudah proklamasi
- lalu nanti sampai ke NKRI
- itu masih ulama yang bicara
- masih semua bertumpu kepada ulama
- baca
- Baik.
- yang dinamakan
- teori perang
- on war
- itu
- dalam buku itu diterangkan kalau perang
- terjadi
- maka ulama
- dan tokoh-tokoh
- ulama tokoh religi atau agama itu semua
- dijadikan tempat naungan
- tapi bila
- perang sudah selesai
- Karl Clausewitz mengatakan
- maka semua orang meninggalkan
- orang-orang yang pernah membuat kita
- berani di tengah
- kekacauan peperangan yang uncertain time
- ada waktu yang tidak bisa dipastikan
- kapan berhenti
- dalam keadaan tidak ketenangan
- pikiran baik jenderal sekalipun
- dia mesti mendekat ulama
- Ehm.
- tapi kalau sudah
- proklamasi diperoleh menjadi NKRI
- maka ulama
- harus ditangkap dan dipenjarakan
- masya Allah
- ini kekeliruan
- bangsa
- dalam sejarah
- tidak usah diulang.
- Mari kita kembali
- untuk menghormati ulama.
- Mari kita kembali
- membela ulama.
- Yang benar-benar kita merdeka.
- Kita tidak bisa merdeka seperti hari ini
- kecuali Maha Akbar
- mahakarya
- dari para ulama terdahulu.
- Kalau senjata
- yang terhebat itu bom atom
- dua kota lumat
- Hiroshima dan Nagasaki.
- Bayi baru dilahirkan pun
- terhancurkan oleh bom itu.
- Hanya Amerika untuk mengalahkan lawannya
- bayi-bayi yang baru lahir pun dibasmi.
- Apakah tidak takut proklamasi
- di tengah ledakan bom yang seperti itu?
- Maka Bung Karno
- mendekati
- ulama-ulama itu.
- Siapa
- yang membuat ulama berani bertempur?
- Siapa yang membuat orang-orang ini
- dengan bambu runcing berani menghadapi
- sekutu
- yang habis melumatkan Jepang
- Jerman
- Italia dikalahkan semua
- datang ke Indonesia.
- Maka seorang namanya Kiai Subkhi
- dari Wonosobo Parakan
- nanti memberikan
- bambu runcing yang tidak berlubang
- tengahnya
- pejal
- membuat semua
- orang berani
- menyerbu Surabaya
- setelah dipanggil oleh
- K.H. Hasyim Asy'ari
- dengan resolusi jihadnya.
- PKR tidak ada secara institusi.
- Karena Sutan Sjahrir sebagai Perdana
- Menteri
- melarang militer untuk menghadapi
- sekutu.
- Tapi santri
- kiai
- gitu.
- Menurut Ricklefs
- dalam bukunya Sejarah Indonesia itu
- Surabaya diperlukan ulama dan santri
- untuk melawan sekutu.
- Tanggal 22 Oktober diumumkan
- tanggal 31 pertempuran Surabaya
- Inggris kehilangan jenderalnya Mallaby.
- Lalu dia membuat ultimatum
- supaya Surabaya dikosongkan
- 10 November
- terjadi pertempuran yang hebat.
- Apa yang terjadi?
- Semua sekutu tidak bisa maju.
- Ya, lebih baik mati berkalang tanah
- daripada hidup dijajah.
- Siapa yang membuat begitu berani?
- Ulama yang beri arti kematian itu mulia.
- Sekarang
- sekarang
- karena ulama tidak menuntut janji, tidak
- menuntut jasa.
- Dia kembali kepada pangkalannya
- masing-masing.
- Lalu ulama
- dianggap tidak tahu politik.
- Ulama tidak tahu Hankam.
- Ulama tidak tahu
- ekonomi.
- Ulama tidak tahu
- tentang hal Republik
- yang dipertahankan dari Sabang sampai
- Merauke ini.
- Kekeliruan sejarah yang membuat orang
- bicara seperti itu.
- Berpendapat seperti itu.
- Insyaallah berkat rahmat Allah
- gitu.
- Dengan penerangan-penerangan yang lebih
- luas lagi medsos termasuk dari radio
- silaturahim ini
- mudah-mudahan
- ketegangan, ketidakmengertian
- He eh.
- tentang ulama
- tidak tahu bineka
- tunggal ika, ulama tidak tahu politik,
- ulama tidak tahu NKRI
- ulama tidak tahu merah putih
- ulama tidak tahu apa yang membuat
- Indonesia merdeka
- itu kekeliruan pembacaan sejarah
- yang didapatkan dari orang-orang
- yang ingin memisahkan ulama dengan
- Republik ini
- He eh.
- umat Islam dengan ini
- dengan Republik NKRI
- jangan dikecilkan
- keakbaran amal para ulama
- yang tidak menuntut jasa itu
- tidak mendapatkan satu penghormatan
- tapi dia beramal
- lillah
- dia beramal
- hanya supaya Republik ini terlepas dari
- penjajah
- He eh.
- hanya Indonesia
- satu negara
- kemerdekaan hak segala bangsa
- dan penjajahan di atas dunia
- harus dihapuskan karena bertentangan
- dengan peri keadilan dan peri
- kemanusiaan
- siapa penjajah itu
- tidakkah penjajah itu dalam bukunya yang
- Muhammad Yamin
- yang dinamakan Tata Negara Majapahit di
- belakangnya
- ada perjanjian Tordesillas
- apa isinya
- Paus Alexander ke-6
- mengumumkan bahwa dunia dibagi dua
- Itu.
- Yang timur untuk dijajah oleh kerajaan
- Katolik Portugis
- dan sebelah barat
- untuk kerajaan Katolik Spanyol.
- Kenapa
- bangsa Indian tidak ada sekarang?
- Karena mereka
- menjajah itu misi suci.
- Siapa yang melawan
- harus dibasmi, genocide.
- Ketika Portugis sampai Indonesia
- Islam sudah ada.
- Selamatlah Indonesia
- dari upaya genocide itu.
- Karena apa? Ulama.
- Bongkok ngaronyok. Walaupun dirinya
- menjadi bungkuk
- He eh.
- tapi harus ngaronyok bersama ulama.
- Bengkung ngariung. Walaupun dirinya juga
- fisiknya secara
- realitas itu bengkung
- tapi asal bersama ulama ngariung.
- Orang Jawa makan
- mangan orang mangan
- asal kumpul. Kumpul dengan siapa? Ulama.
- He eh.
- Hal semacam ini
- tidak dikumandangkan, tidak diartikan,
- tidak ditafsirkan
- bahwa itu jasa ulama.
- Semoga Allah merahmati kita lagi.
- Amin, amin.
- Kita dalam keadaan kedamaian
- dan persatuan.
- Ulama yang membuat kita Natal bersama
- libur bersama
- He eh.
- kita bisa
- ada Nyepi bersama
- Gitu.
- Seluruh Nusantara ikut libur
- Waisak, Waisak kita bersama libur
- Gitu.
- Pak.
- Kita
- yang namanya Lebaran bersama
- He eh.
- gitu.
- Ini Indonesia tidak ada di tempat lain
- yang seperti
- hebatnya ini. Karena apa? Ulama pemimpin
- mayoritas
- tidak merupakan
- pemimpin yang tirania
- merang tirani yang membuat segalanya
- model satu
- tapi Bhinneka Tunggal Ika pesan dari
- Sunan Kalijaga
- itu walaupun berbeda tapi merupakan satu
- kesatuan bangsa ini
- mayoritas dipimpin oleh Islam bukan
- untuk ditindas
- menindas
- Hmm.
- tapi untuk kebersamaan
- semoga Allah
- menumbuhkan kembali pemohon-pemohon
- sejarah yang benar
- Indonesia yang tadinya 74
- kesultanan dan kerajaan itu
- dari Sabang Merauke
- diserahkan pada tanggal 16 Oktober
- 45
- kepada Presiden Soekarno
- untuk dipimpin bersama
- hanya Islam
- di Indonesia
- yang siap itu kebersamaan di dalam
- kedaulatan rakyatnya
- kalau sekarang kita dituduh
- tidak NKRI
- hanya mereka
- buta sejarah
- Hmm.
- mereka tidak tahu sejarah
- insya Allah
- itu
- kalau sejarah ini benar
- bangsa ini
- akan kembali merupakan satu kesatuan
- mudah-mudahan Dikbud
- membuat satu kurikulum sejarah yang
- benar
- jangan sampai dibalikkan
- itu
- sultan-sultan Aceh itu pemeras rakyat
- yang benar adalah Van Heutsz
- Hmm.
- dan penjajah itu dianggap benar
- dan kemudian Sultan Cut Nyak Dien segala
- macam Pang Nang Polem penjajah semuanya
- menindas rakyat sedangkan penjajah
- dianggap penyelamat
- pembalikan sejarah
- itu terjadi.
- Sehingga kekeliruan-kekeliruan
- itu dimulai dari buku-buku sejarah SD,
- SMP, dan SMA, dan universitas yang tidak
- mengenal sejarah.
- Unisba satu-satunya bentuk eh
- universitas
- yang tiap angkatan tiap-tiap
- eh
- tiap-tiap prodinya itu
- He eh.
- harus belajar sejarah.
- Itu zaman saya masih ada di dalam
- He eh.
- Unisba
- dan saya diperintahkan untuk memberikan
- ideologi, memberikan gambaran ideologi
- bangsa ini
- adalah ulama yang membuatnya
- oleh Pak Muttaqin
- sebagai rektor
- doktor
- K.H. E.H.
- Muttaqin.
- Beliau ketua MUI dan juga rektor.
- Mengupayakan supaya
- cinta kepada kepahlawanan,
- cinta kepada bangsa,
- cinta kepada negara,
- cinta kepada bahasa Indonesia yang
- ditumbuhkan oleh para ulama.
- Tidak akan ada bahasa Indonesia
- kalau dulunya tidak ada Melayu pasar.
- Tidak ada Melayu pasar kalau enggak
- ditulis dengan bahasa tulisan Arab.
- He eh. Arab Melayu.
- Arab Melayu.
- Alhamdulillah Undang-Undang 45
- menjadikan bahasa Indonesia yang menjadi
- bahasa persatuan.
- Dan bendera merah putih
- dari yang sudah dibudayakan itu
- berubah menjadi-menjadi bendera nasional
- kita.
- Berkat rahmat Allah
- Allah Maha
- yang Maha Kuasa
- Indonesia merdeka.
- Semoga
- bangsa ini
- tergerak hatinya untuk mencari sejarah
- yang benar
- dan menolak sejarah yang tidak benar
- karena rekayasa mereka yang menutupi
- kejahatan
- He eh.
- kebohongan, kepalsuan ke pemimpin bangsa
- padahal dulu-dulunya
- dia tidak pernah ikut membuat Indonesia
- merdeka.
- Baik, terima kasih Pak Mansur.
- He eh.
- Tidak terasa
- sudah hampir 1 jam menjelaskan mengenai
- lanjutan tadi dan tadi diingatkan lagi
- oleh Pak Mansur bahwa
- eh
- kemerdekaan ini merupakan mahakarya
- perjuangan dari para ulama
- He eh.
- dan santri
- He eh.
- yang berusaha menegakkan kemerdekaan
- Republik Indonesia ini, Pak Mansur ya.
- Iya.
- Jadi tadi diingatkan kembali oleh
- beliau, jadi terutama kita masyarakat
- dan juga pemerintah
- bahwa
- kenikmatan kemerdekaan yang kita rasakan
- sekarang ini adalah
- mahakarya perjuangan ulama dan santri,
- Pak Mansur ya.
- Baik.
- Dan sebenarnya masih banyak yang ingin
- diperbincangkan, tapi
- Iya.
- karena waktu juga yang membatasi, Pak
- Mansur. Saya tadi baru 2 3 pertanyaan,
- tapi penjelasannya begitu lengkap,
- begitu panjang. Mungkin nanti di
- pertemuan selanjutnya kita
- berbincang-bincang kembali, Pak Mansur.
- Sekali lagi terima kasih banyak, Pak
- Mansur atas waktunya
- atas kesediaannya memberikan pencerahan
- kembali terutama mengenai sejarah.
- Mangga.
- Dan Ikhwan Akhwat semoga Ikhwan Akhwat
- yang berada di rumah mendapatkan
- pencerahan terutama mengenai sejarah
- yang dijelaskan oleh Pak Mansur di
- kesempatan ini yaitu nuansa Islam di
- Nusantara, nuansa-nuansa Islam baik yang
- eh
- bercampur atau Islamisasi budaya yang
- ada di Indonesia ya, Pak Mansur ya. Tapi
- tadi dijelaskan juga bagaimana para
- penjajah menjauhkan
- Islam dengan budaya yang ada di kita dan
- juga semoga tidak terjadi di
- era sekarang ini
- ya pemisahan antara Islam dan budaya
- tersebut.
- Semoga ini menjadi peringatan untuk kita
- semua dan juga pemerintah sekarang, Pak
- Mansur.
- Dan akhirnya saya Rizal Akhlak ditemani
- oleh para pejuang dakwah kita
- dari kediaman Profesor Ahmad Mansur
- Suryanegara di Saturnus Raya nomor 27,
- Margahayu Raya, Bandung undur diri.
- Rizal Akhlak, Zen, Khalid, Atep, dan
- Kang Angga undur diri dan juga Pak
- Mansur undur diri. Subhanakallahumma
- wabihamdika, asyhadu alla ilaha illallah
- astaghfiruka wa atubu ilaik.
- Billahi taufiq walhidayah,
- wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.