Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- [musik]
- Berasil TV [musik]
- untuk Islam yang satu.
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahamdan
- asadu ilahaillallah wahdahu la
- syarikalah wa asadu anna muhammadan
- abduhu wa rasuluh. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwan
- akhwat pendengar radio silaturahim dan
- juga pemirsa Rasil Piswa yang dirahmati
- Allah. Alhamdulillah saya Muhammad Fahri
- temani Anis dan juga Ondi hadir di acara
- sirah sahabat bersama Ustaz Komaruddin
- Basyuni. Alhamdulillah beliau telah
- studio. Kita sapa saja Iwan Hawat.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Kabar sehat, Ustaz? Ya,
- alhamdulillah.
- Alhamdulillah sehat. Dan hari ini akan
- membahas kisah sahabat siapa nih, Ustaz?
- Insyaallah
- akan kita bahas tentang sahabat yang
- bernama Tsabit bin Qais.
- Tabit bin Qais. Iya.
- Oke, nanti yang ingin bergabung bertanya
- seperti biasa, Anda bisa pergunakan Line
- WhatsApp kami di 0811999720
- ataupun telepon kami di 021
- 8451512.
- Silakan, Ustaz. Sahabat Sabit bin Qais.
- Iya. Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Innalhamdalillah nahmaduhu wa nastainuhu
- wafiruh wa naud nazubillahi min syururi
- anfusina wasayiati amalina may yahdillah
- fala mudillalah w yudlil fala
- hadiyaalah. Ashadu alla ilahaillallah
- wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna
- muhammadan abduhu wa rasuluh. Amma ba'd.
- Para pendengar radio Rasil dan pamiarsa
- TV Rasil.
- Alhamdulillah pada kesempatan pagi ini
- kita berada di 10 hari terakhir Syawal
- ya.
- Jadi masih ada kesempatan waktu bagi
- yang belum puasa Syawal. Ya,
- saudaraku kaum muslimin yang dirahmati
- Allah subhanahu wa taala.
- Salah seorang sahabat Nabi yang kami
- sebutkan namanya adalah Sabit bin Qais.
- Beliau ini merupakan adalah jubir
- atau juru bicaranya Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam.
- Dan banyak sahabat-sahabat yang memiliki
- kemampuan tersendiri
- seperti seorang sahabat Nabi yang
- bernama Hasan.
- Hasan bin Tsabit ya itu kelebihannya dia
- seorang penyair. H.
- Jadi kalau ada syair-syair
- puisi gitu ya.
- Iya. Puisi-puisi dialah orangnya. Ya,
- mungkin kalau di Indonesia itu yang
- sering kita dengarnya Taufik Ismail.
- Ismail
- kalau di zaman Rasul itu Hasan bin
- Tsabit.
- Ah. Nah, dia kalau sudah menyampaikan
- syait itu menggelegar
- indah
- orang sampai terperangah itu
- dengan gaya bahasanya. Bahkan salah satu
- karya
- Hasan bin Tsabit yang disampaikan dalam
- perjalanan hidupnya itu telah dimuat
- oleh salah seorang ulama Aceh dalam
- rangka mengubarkan semangat jihad Aceh
- melawan Belanda itu.
- Hm.
- itu ada bukunya dan alhamdulillah saya
- punya itu. He.
- Bagaimana orang-orang Aceh menghadapi
- tentera Belanda sehingga kalau seseorang
- baca buku itu maka begitu dia baca itu
- langsung dia seolah-olah terbang
- h
- ingin melaksanakan jihad sebagaimana
- yang pernah dulu disorakkan atau
- dikobarkan oleh sahabat Hasan bin
- Tsabit. H. Nah, ini ada lagi orang dia
- seorang jubir. Jubir.
- Oh, jadi kalau sekarang dalam
- acara-acara khusus ada jubir. Nah, di
- zaman Nabi juga ada jubir. Ya.
- Nah, itu yang bernama orang ini salah
- seorang sahabat yang tadi disebut
- namanya Tsabit bin Qais. Nah,
- Tabit bin Qais pada saat Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam kedatangan
- tamu
- di hari yang kita kenal dalam sejarah
- adalah
- Amul Wufud,
- yaitu tahunnya berdatangan para utusan.
- Nah, waktu itu
- ada utusan dari Bani Tamim.
- H.
- Bani Tamim datang menghadap kepada
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Kemudian dia berkata, kata dia, "Kami
- datang akan membanggakan
- diri kami kepada Anda.
- Tolong izinkan kami untuk menyampaikan."
- Jadi, para ketua Bani Tabang
- kepada Nabi ingin menyampaikan
- kelebihan-kelebihan mereka. H.
- Nah, termasuklah salah satunya
- kebanggaan mereka.
- Nah, waktu Nabi mendengarkan apa yang
- dimintakan oleh mereka, kemudian Nabi
- berkata, kata Nabi, "Aku telah
- mengizinkan sil bicara." Nah,
- maka juru bicara mereka yang bernama
- utorid. Utolid.
- Nah,
- Utoid ini kemudian dia maju lalu dia
- membanggakan apa yang diakui oleh
- dirinya
- tentang Bani Tamim.
- Begitu dia membawakan gayanya dengan
- syair-syairnya, wah membuat orang
- terperangah.
- Ini seolah-olah nih Nabi Muhammad mampu
- enggak menyaingi ini? H
- orang yang telah menyampaikan
- ee presentasinya di depan orang yang
- termulia Nabi Muhammad.
- Saking apa? Saking indah tutur katanya.
- Kemudian sangat menggelegar.
- Woh, orang juga masyaallah
- terperangahlah
- dengan pidatonya Jubir dari Bani Tamim.
- Begitu
- mereka tadi menyampaikan dengan sangat
- menggebu-gebu,
- tahu tahu Rasul berkata begitu. Kata
- Nabi, "Sabit bangkit kau."
- Kalau bahasa cicing mana, nah ayo maju.
- Maka berdirilah sabit. Setelah dia
- berdiri, dia puji Allah, dia sanjung
- Allah.
- Nah, kemudian dia berkata begini,
- "Langit dan bumi adalah ciptaannya.
- Tidaklah
- titahnya
- melainkan telah berlaku kepadanya.
- Ilmunya meliputi kerajaannya.
- Tidak satuun yang ada kecuali dengan
- karunianya.
- Kemudian dengan kodratnya juga
- dijadikannya kita golongan dan
- bangsa-bangsa
- dan ialah makhluknya yang ter
- seorang rasulnya
- yang berketurunan,
- berwibawa
- dan jujur kata tuturnya. Wahina juga ni
- di dengan Al-Qur'an
- dan dibebaninya dengan amanah.
- Membimbingnya ke jalan kesatuan umat.
- Dialah pilihan Allah dari yang ada di
- alam semesta.
- Kemudian menyeru manusia agar beriman
- kepadanya.
- Maka berimanlah orang-orang Muhajirin
- dari kaum dan dari kerabatnya,
- yakni orang
- keturunannya
- dan yang paling baik amal perbuatannya.
- Dan setelah itu kami orang-orang Ansar
- adalah yang pertama
- memperkenankan
- seruannya.
- Kami adalah pembela-pembela agama Allah
- dan pendukung rasul-Nya.
- Sayid telah menyaksikan
- perang Uhud bersama Rasul
- dan peperangan-peperangan penting
- sesudahnya.
- Caranya menakjubkan
- dan sangat menakjubkan.
- Jadi
- setelah dia menyampaikan itu, maka
- penyusun kisah tarikh ini mengatakan
- ternyata tidak hanya
- dalam menyampaikan sebagai jubir
- yang akan menimbulkan orang kagum dan
- terpesona. Dan mereka pun para sahabat
- pernah menyaksikan
- bagaimana Sabit ini waktu di perang Uhud
- Allah berikan kelebihan kepadanya. Dan
- juga pada saat beliau menghadapi
- orang-orang murtad
- waktu terjadi peperangan di zaman Abu
- Bakar menghadapi orang murtad.
- Beliau salah satu di antara orang yang
- berada di barisan paling terdepan.
- Nih orang lain kan di belakang
- dia paling depan.
- Paling depan memb
- dan dia menebaskan pedangnya yang tak
- pernah tumpul dan tak pernah berhenti.
- Wih kalau digambarkan kata orang suan
- kuda kadek mana.
- Ke kanan ke kiri ke depan ke belakang.
- Masyaallah. Itulah seorang yang bernama
- Tsabit bin Qais.
- Qais.
- Para penengar Radio Silaturahim dan para
- pemirsa TV Rasil.
- Sabit
- telah mengguncangkan
- para sahabat lainnya
- pada saat terjadi peristiwa yang dikenal
- peristiwa
- perang
- Yamamah.
- Yamamah.
- Iya.
- Itu menghadapi
- nabi palsu. H
- itu ada juga nabi palsu
- ada namanya Musailamah al-Kazzab.
- H.
- Nah. Nah,
- di perang Yamamah ini
- beliau yaitu Sabit
- telah
- memperlihatkan
- satu hal yang tidak dilakukan oleh orang
- lain. Di antaranya
- Sabit melihat terjadinya serangan yang
- mendadak
- yang dilancarkan oleh pasukan Mus
- Salemah. terhadap kaum muslimin di
- pertempuran.
- Iya.
- Maka berserah ia dengan suara yang
- keras.
- Kata dia, "Demi Allah,
- bukan begini caranya
- kami berperang bersama Rasulullah."
- Artinya kok sahabat di zaman itu kalau
- bahasa kita mah loba cicingun,
- enggak ada kreasi gitu. H
- sampai mereka diserbu duluan poho.
- H.
- Nah,
- Sabit dengan gayanya langsung dia
- tampil, dia teriak, "Demi Allah." Wuh,
- bisa dibayangkan tuh ya orang Arab tu
- kalau ngomong
- keras
- keras bukan main.
- Demi Allah, bukan begini caranya
- kami berperang bersama Rasul.
- Masyaallah.
- Kemudian kata dia,
- "Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas
- diri
- kepadamu dari apa yang dibawa oleh
- mereka."
- Jadi, saya berlepas diri ya Allah dari
- pasukan Usailamah itu.
- He.
- Saya bukan kelompok mereka.
- Dan aku memohon kepada-Mu ya Allah
- ampunan
- dari apa yang diperbuat oleh mereka. H
- ya kaum muslimin
- yang punya karasi kendor dalam semangat.
- H
- aku mohon ampun jangan sampai aku
- terbawa oleh mereka. Nah
- sesudah itu
- beliau yang namanya siapa? Tabit bin
- Qais. Temu dengan sahabatnya yang
- namanya Salim.
- Salim.
- Salim ini maulanya Rasulullah.
- Orang yang pernah dimerdekakan.
- Jadi dua sejoli ini ketemu
- kata Sabit.
- Kalau gampang bahasa gampang ya.
- Bit B bit
- kumaha orang yeuh? Ah
- urang kejutan yeuh. Naon? Galitanuh. Wah
- galitan.
- Jadi sabit. Ngont
- Salim.
- Salim untuk berkreasi yang tidak pernah
- dipikirkan oleh lain. Ngapain aja
- galias? [tertawa]
- Bikin parit kali ya.
- Bikin parit. Bukan parit. Bikin lubang.
- Lubang aja.
- Pokoknya cukup berdua geus urang y. Oh
- naon? Udah gali. Aduh,
- digali itu tanah
- yang keras itu berdua itu
- sampai udah kurang lebih setengah badan
- masuk masuk dirinya ke dalam
- sabit masuk
- salim
- salim masuk
- sudah masuk apa itu tanah yang dari
- dalam dikeruk lagi sama di dalam lagi.
- Dikeruk lagi dimasukin ke dalam. Oh,
- jadi dia itu seolah-olah
- dikubur atau dipatok
- laksana tiang.
- Jadi badannya ke atas kelihatan separuh
- ke bawah. Untuk apa? Jangan sampai dia
- lari ke belakang. Coba bayangkan. Jadi
- menahan dirinya agar tidak lari seperti
- orang-orang. Karena waktu serangan
- pertama kan pada buyar itu
- pada berlari. Nah, dia jangan sampai
- punya inisiatif
- dikubur dikubur bersepar. Coba bayangkan
- lari gitu supaya tidak lari. Ah,
- kemudian setelah itu Sabit punya bikin
- kejutan lagi. Apa
- sesudah itu dia sebenar
- he
- wih apa nih? Ternyata apa?
- Begitu sudah menghilang data lagi sudah
- dalam keadaan badan dibungkus oleh kain
- putih. layaknya orang mati
- kapan
- kapan
- ya orang
- membayangkannya wah kok ada riwa
- kok ada pocong hidup jadi ah dibungus di
- dia masuk ke situ bayangkan ke tempat
- ketiga itu
- kan orang pada takut
- seolah-olah kuburan
- mengeluarkan mayat
- ternyata
- dia punya kelebihannya apa dia pegang
- senjata
- Dia tidak membiarkan musuh lewat di
- hadapannya melainkan dia sabat dengan
- pedangnya.
- Hm.
- Jadi tangannya ke depan, tangannya ke
- kanan, ke kiri, ke belakang. Uh.
- J kalau kita lihat filmnya kayak
- pingpok.
- Hm. [tertawa]
- Kayak Jetlee itu jut. Wah, memang
- masyaallah. Nah,
- kehebatan,
- keindahan, gairah, roh jihadnya yang
- dimiliki oleh Tabit bin Qais.
- Nah, akhirnya
- dia menemukan syahid.
- Hm. Pas lagi perang itu, Ustaz.
- Pas perang Yamamah. Nah,
- dalam riwayat yang lain
- pada saat Allah menurunkan ayat,
- "Innallaha yuhib mukhtaling fakur
- Allah tidak suka dengan orang-orang yang
- sombong, fakur
- dalam membanggakan diri." Iya. Nah,
- waktu ayat ini turun,
- dia nangis
- terus dia masuk rumah,
- dia tutup pintunya, keluar lagi, tutup
- lagi, cebret. Kalau bahasa kita
- apa kerjanya? Nangis aja.
- Kata Rasul, "Ke mana ini? Sabit enggak
- pernah kelihatan."
- Akhirnya
- ketemu Rasul, dia bilang, "Ya
- Rasulullah,
- saya merasa ya banyak salah
- dan Allah tidak menyukai orang yang
- sombong."
- Di antaranya bentuknya saya ini kalau
- ngomong keras.
- Iya.
- Heeh.
- Apa itu kesombongan?
- Dan juga saya sering senang dengan
- pakaian-pakaian bagus, sendal bagus.
- pakaian.
- Heeh. Saya khawatir
- saya masuk kategori orang sombong. Kata
- Rasul, "Enggak, kamu enggak termasuk
- enggak termasuk orang sombong. Bahkan
- kamu akan menjadi penduduk surga."
- Terus lagi
- pada satu kesempatan
- ini setelah
- gugurnya Qais
- bin Tsabit,
- seorang
- mualaf
- lewat.
- Ah,
- nah seorang sahabat dia itu mimpi masih
- keluarganya.
- Dalam mimpinya itu Sabit bin Qais
- datang. He.
- Kalau gampangnya gini, "Pulan,
- saya mau pesan ya." Katanya, "H
- waktu perang
- saya kan gugur katanya."
- Itu baju besi saya diambil sama si
- fulan. Orang itu kan masih mualaf.
- Iya. Ee
- akhirnya dia ambil baju saya.
- Nah, karena saya ini punya hutang,
- tolong enggak baju itu dijual.
- H dijual dijual. Tapi baju itu sekarang
- disembunyiin.
- Hm.
- sama yang baru masuk Islam itu.
- Mualaf itu ya.
- Mualaf itu. Tapi saya tahu ini tempatnya
- di sini ditutupin pakai pelana kuda.
- Baju besinya ditutupin pelana kuda.
- Pelan kuda.
- Nah, untuk itu coba kamu datang ke
- panglima Khalid bin Walid. Tanyakan
- kepada Khalid bin Walid. Diselesaikan
- urusannya. ee tolong utang saya
- dibayarin lewat ee ke pemilikan saya
- baju besi itu.
- Nah, orang yang mimpi itu antara iya dan
- tidak ini mimpi bener apa?
- Hanya sekedar ilusi saja.
- Tapi setiap dia tidur mimpinya itu-itu
- juga.
- Mimpi itu yang sama gitu.
- Iya sama. Akhirnya dia sampaikan kepada
- Khalid bin Walid.
- Kata Him, "Coba cek aja dah benar enggak
- barangnya yang ditunjukin oleh dia ini,
- oleh orang yang datang."
- Ternyata begitu ditunjukin berada.
- Hm.
- Lah,
- berarti benar mimpinya.
- Jadi mimpinya benar. Nah, terus
- barangnya ada
- akhirnya dijual.
- Iya.
- Sesuai dengan petunjuknya, pesannya lalu
- dibayarkan
- kepada orang yang dia punya hutang.
- Masyaallah. Nah, ini membuktikan bahwa
- benarnya firman Allah bahwa orang yang
- gugur di jalan Allah itu
- bukan mati seperti matinya orang mati.
- Mati biasa.
- Allah berfirman, "Wala tahsabannadina
- fabilillah amwat." Jangan kamu menyangka
- orang yang gugur di jalan Allah itu
- mati. Kalian mati.
- Kenapa? Dia itu enggak mati. Akan tetapi
- dia hidup dan kamu tidak menyadari
- kehidupannya. Oh.
- Nah, itu maka
- masyaallah. Jadi mereka itu bahkan kata
- Allah, "Wahum yurzaquun fina
- bahumullah."
- Mereka merasa gembira, mereka merasa
- merasa senang dengan rezeki-rezeki yang
- Allah berikan kepadanya.
- Itulah kehebatan para mujahid
- fisabilillah. Nah, Tsabit bin Qais salah
- satu sahabat Rasulullah yang mendapatkan
- anugerah syuhada syahid di jalan Allah.
- Demikian walhamdulillah Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih Ustaz atas
- kisah sahabat Tabit bin Qoais di pagi
- hari ini. Iwan Wan Akhwat telah
- disampaikan oleh Ustaz Sahabat. Dan
- untuk Anda yang bergabung Anda bisa
- kirimkan pertanyaan melalui SMS dan
- WhatsApp kami di 0811999720.
- atau ma telepon kami di 0218451512.
- Kami se kembali
- [musik] berhasil TV
- untuk Islam yang satu.
- [musik]
- Radio Rasil untuk Islam yang satu masih
- bersama kami di acara Siro Sahabat
- bersama Ustaz Komaduni untuk Anda para
- pendengar kami di kawasan Batam,
- Semarang, Pontianak, di Magelang,
- Banyuwangi, di Sukabumi juga Anda di
- berada yang bisa menyimak kami melalui
- streaming kami di
- www.radiosilaturatim.com.
- Sahabat Sabit bin Qais hadir di pagi
- hari ini dikisahkan oleh Ustaz Kom
- Masuni. Ini adalah seorang jubir atau
- juru bicara pada ee zaman Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam ya, Ustaz ya.
- Ternyata ada juga zaman itu juru bicara
- Ustaz.
- Selain pintar juga dia bisa untuk ee
- berpuisis ya, puitis ya seperti itu.
- Baik, sudah ada penelepon yang masuk
- silakan. Halo. Asalamualaikum.
- Oh, terputus. Silakan diab lagi silakan
- lewat e telepon di 0218451512
- langsung ke SMS yang sudah masuk di
- 0811999720
- dari Bapak Hadi di Sukabumi. Ustaz
- asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Pak Ustaz apakah ada sahabat Nabi yang
- wafat selain dalam keadaan syahid atau
- syuhada?
- He baik Pak Hadiah dari Sukabumi. Saya
- juga orang Sukabumi nih.
- Daerah mana, Ustaz? sama-sama Sukabumi
- daerah
- Sukaraja
- ya Sukaraja ke selatan ya Kidul
- Kidul [tertawa] ya.
- Nah itu. Jadi
- kalau yang tadi Tabit bin Qais salah
- satu sahabat yang gugur di medan juang
- yang disebut orang syahid.
- Syahid
- apa ada selain itu? Arnya sahabat yang
- gugur bukan syahid. Ada bahkan banyak
- banyak ya. termasuk salah satunya
- panglimanya
- Khalid bin Walid
- itu meninggalnya di atas kasur.
- Hm. Bukan dalam keadaan perang ya.
- Bukan di di medan perang.
- Padahal sering perang ya. Tapi
- padahal dia komandan perang. Bukan hanya
- prajurit komandan.
- Komandan ya
- memimpin peperangan berapa puluh kali
- mungkin ratusan dia ya.
- Kemudian lagi yang paling banyak itu di
- zaman Umar ya. di Jaw kan dia selalu di
- ee angkat menjadi panglima, tapi eh ee
- bukan di zaman Abu Bakar hampir dia
- memimpin. Nah, di dicopot
- iya
- dari panglima jadi prajurit. Tapi dia
- berkata, "Saya berperang bukan karena
- Umar."
- H
- ya, saya berperang karena Allah. Mau
- diangkat pemimpin mau bagi saya sama
- kan? Heeh. Itulah. Dan contohnya lagi
- Utsman bin Mad'un
- itu sahabat Nabi wafatnya bukan di medan
- perang karena sakit dan lain sebagainya.
- Masih banyak. Jadi ada sahabat yang
- meninggal bukan karena di medan perang
- atau demikian.
- Walaupun banyak sahabat mungkin yang
- merindukan meninggal dalam keadaan
- syahid saja.
- Oh iya semua orang merindukan mungkin
- enggak semuanya ada beberapa yang tidak
- dalam keadaan syahid.
- Selanjutnya dari Bapak Ridwan kita.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustaz Kom.
- Waalaikumsalam Pak Ridwan. Ustaz, ketika
- Rasulullah, apakah sahabat Tabit bin
- Qais ini meneruskan jabatannya sebagai
- jubir
- di masa Umar ataupun yang lainnya?
- Kalau yang saya ketahui itu sejak itu
- tidak ter
- dengar lagi, tidak terbaca lagi apa
- beliau melanjutkan jubirnya di zaman
- khalifah. Karena di zaman khalifah
- banyak hal-hal yang baru yang tidak
- pernah terjadi di zaman Rasul. Jadi
- banyak perubahan-perubahan ya.
- Ada beberapa majelis yang di zaman Nabi
- tidak ada. Tapi di zaman Abu Bakar, di
- zaman Umar itu dibentuk majelis-majelis.
- Ada majelis surau, ada majelis baitul
- mal dan lain sebagainya. Sehingga ini
- memerlukan orang yang spesifik-spesifik.
- Nah,
- he
- sehingga ada
- dikuatkan lagi ada wali. Wali itu kalau
- sekarang gambarnya kayak gubernur ya.
- Gubernur ya. Wali-wali ini membawahi
- beberapa daerah seperti wali Makkah ya,
- terus wali Sona
- wali Bahren
- dan lain sebagainya. Demikian
- itu zaman sahabat ya.
- Iya.
- Baik dari hamba Allah. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullah.
- Sebagai juru bicara sahabat Tsabit bin
- Qais tentunya tidak dihususkan untuk
- berperang. Kenapa beliau ikut berperang
- juga, Ustaz? Dan apakah beliau yang
- paling dekat dengan Rasul?
- yang namanya jubir itu selalu ya
- diperlukan.
- Heeh.
- Di medan perang diperlukan. Di luar di
- medan pelan juga diperlukan.
- Nah, apalagi pada saat menghadapi
- orang-orang yang kelihatannya
- berwibawa menghadapi orang-orang yang
- agak sedikit mungkin emosional, orang
- yang selalu ingin membanggakan, maka
- jubirlah
- yang suruh maju. dan Rasul mempercayakan
- kepadanya. Artinya apa yang disampaikan
- Rasul setuju karena Rasul sudah menakar
- kemampuannya
- dalam tutur katanya. Jadi orang-orang
- yang dicetak oleh Rasulullah itu memang
- orang-orang yang punya kapasitas
- tersendiri ya.
- He.
- Dalam tutur kata, dalam menjawab
- permasalahan,
- dalam berdialog,
- dalam berdiskusi. Wah itu mereka sudah
- memang ahlinya di bidangnya. Iya,
- demikian.
- Tapi selain jago bicara juga jago
- berperang juga, Ustaz. Tapi kalau
- jubir-jubir aja enggak ikut perang gitu
- ya. Kalau di zaman Rosa mah semuanya
- orang
- semuanya harus bisa
- bisa ya panah juga.
- Bahkan kalau sudah perang tuh mereka tuh
- biasanya bertani lagi, biasanya
- berkantor lagi gitu ya.
- Bukan kayak tentara kita khusus
- pokoknya tentara-tentara di zaman enggak
- waktu di Medan pulang betul mereka jadi
- tentara tapi begitu selesai pulang. Atau
- begitu pulang kembali lagi ke
- masing-masing
- yang nyangkul-nyangkul, yang tani-tani,
- yang jualan-jualan begitu diperlukan
- maju maju
- multifungsi seperti itu.
- Iya. Baik dari hamba Allah kembali di
- daerah Sukabumi. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Pak Ustaz.
- Sahabat Sabit pernah menghilang
- dikarenakan dia merasa orang sombong
- dengan suara dia yang keras melebihi
- suara rasul. Apakah memang tidak
- diperbolehkan kita berbicara dengan
- suara yang keras ataupun lantang, Ustaz?
- Iya, memang Allah melarang hal itu.
- Dalam surat Al-Hujurat
- Allah berfirman,
- "Azubillahiminasyaitanirrajim."
- Ya ayyuhalladzina amanu lafau aswatakum
- fauqo sautin nabi. Wahai orang beriman,
- janganlah kamu meninggikan suaramu
- melebihi suaranya rasul.
- Jadi Allah melarang. Jadi kalau kamu di
- hadapan Rasul kalau ngomong jangan
- terlalu tinggi, jangan keras, bahkan di
- bawah suara Rasul. Tapi kalau kamu
- dengan kamu itu terserah.
- Kebiasaan orang Arab kalau ngomong
- sesama mereka kan keras. Tapi kalau di
- zaman Rasulullah jangan disamakan. Itu
- bisa berakibat seluruh amal akan hancur.
- Oh.
- Maka sabit begitu mendengar ayat yang
- dibacakan Rasul, dia langsung masuk
- rumah dia nangis. merasa ini.
- Heeh. Karena merasa suaranya keras.
- Heeh.
- Wah. Sehingga Rasul merasa kehilangan.
- Akhirnya dipanggil
- terus dia berkata, "Saya nyesal. Saya
- mendengar ayat ini. Jangan-jangan saya
- menjadi ahli neraka."
- Kata Nabi, "Enggaklah kamu mah
- enggak seperti itu. Bahkan kamu akan
- menjadi orang syahid." Sudah
- digembirakan. Akhirnya
- pulih lagi itu semangatnya. Semangatlah
- tu. Yang kalau bahasa orang Sukab mah
- murkusun.
- Murkusunu
- di belakang cicing enggak ada gairah.
- Sekarang begitu di
- sampaikan oleh Nabi. Enggak kamu enggak
- termasuk kelompok orang yang rugi.
- Enggak. Wah baru senang lagi.
- Semangat lagi.
- Iya. Demikian. Baik. Dari hamba Allah.
- Ada hadis yang mengatakan, "Janganlah
- kalian mencela seseorang dari sahabatku.
- Karena sesungguhnya seseorang dari
- kalian seandainya menginfakkan emas
- sebesar gunung Uhud, maka ia tidak akan
- dapat menandingi satu mood atau
- setengahnya dari apa yang telah
- diinfakkan para sahabatku.
- Kita tidak bisa menandingi
- sahabat-sahabat Nabi. Apakah benar
- kedudukan hadis ini, Ustaz?
- Betul itu. Rasul bahkan berkata, "La
- tasubbu ashabi."
- Jangan kamu mencaci maki sahabatku.
- Betul itu dilarang. Ngapain kita menceci
- maki sahabat?
- Tadi dikatakan kalau kita sekarang
- berinfak
- dengan harta yang kita infakkan sebesar
- enggak akan menyamai infaknya para
- sahabat.
- Jadi bagaimana? Bayangkan di
- tengah-tengah orang mengucilkan Nabi, di
- tengah-tengah orang memerangi Nabi dia
- membela Nabi, dia men-support Nabi, dia
- dukung Nabi. Wah.
- itu berat memang memang orang-orang yang
- hidup di zaman Nabi itu kualitas imannya
- Allah sendiri yang telah mengukurnya.
- Hm.
- Nah, artinya kalau kita sekarang menjadi
- orang musim masuk aja ya. Kenapa kita
- kok lahir sekarang? Kenapa enggak di
- zaman Nabi itu qadarallah, itu ketentuan
- Allah.
- Enggak usah kita protes. Ya kita terima
- aja.
- Sekarang sekarang mungkin yang dulu-dulu
- imannya juga beda kan. He
- bisa jadi kita dilahirkan di zaman
- jangan-jangan kita jadi pasukannya Abu
- Jahal. [tertawa] Innalillah
- sampai
- kita alhamdulillah sekarang jadi
- pengikut Nabi Muhammad
- mentaati perintahnya menjauhi
- larangannya. Bahkan dalam surat
- ee An-Najm Allah berfirman
- ee bahwa kebaikan akan diberikan oleh
- Allah dengan kebaikan. Alhusna bilhusna.
- Alhusna
- siapa? Alhusna bilhusna. Alladzina
- yaztanibuna kaba walwahisamam.
- yaitu orang-orang yang menjauhi
- dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan
- keji ya. Zina,
- mencuri,
- kemudian membunuh,
- kemudian lagi
- menyiarkan berita bohong alias hoak,
- h
- memfitnah, mengadu domba. Nah, itu
- mereka jauh dari sifat-sifat itu. Bahkan
- mereka
- mendekati pun tidak. Nah, kecuali
- mungkin dosa-dosa kecil yang pernah
- mereka lakukan.
- Nah, maka Allah akan mengampuni dan akan
- menempatkan hamba Allah ini dalam
- lindungannya.
- Dia akan mendapatkan al-husna kebaikan
- dari Allah selama dia menjauhi dosa-dosa
- besar.
- Demikian.
- Ya, jangan mencela sahabat-sahabat Nabi,
- Ustaz. Ya,
- mencela itu termasuk dosa besar ya.
- Dan juga saya pernah dengar juga Nabi
- pernah menyanjung juga umat akhir zaman
- karena mereka tidak bertemu aku tapi ee
- begitu cinta padaku gitu.
- Iya, betul. Itu ada hadisnya dalam
- riwayat Imam Ahmad. Kata Nabi, "Wadidtu
- ala ikhwani."
- He.
- Saya rindu dengan ikhwan saya.
- Faqala sabiun. Sahabat berkata,
- "Aashabi,
- apakah yang dimaksud adalah
- sahabat-sahabat
- engkau ya Rasul?" La kata Nabi.
- Bukan.
- Bukan. Tapi siapa?
- Hum kaumun.
- Alah mereka satu kaum
- yang ia
- keberadaannya
- ba'di sesudah saya. Sudah
- yukminu Nabi walam yaroni. Dia beriman
- sama saya kata Nabi. Dia beriman kepada
- saya tapi dia tidak melihat saya.
- Wadid saya rindu kata Nabi dengan ikhwan
- itu. Kenapa? Dia mengimani dia
- mengamalkan apa yang para sahabat
- amalkan tapi dia tidak melihat Nabi.
- Ya, bagaimana? Enggak rindu. Ya,
- belum pernah ketemu.
- Belum pernah ketemu
- gitu. Tidak boleh untuk apa melukiskan.
- Tidak boleh.
- Iya. Iya.
- Subhanallah.
- Insyaallah kita semua juga yang
- Rasulullah ya.
- Amin.
- Dari Ibu Darma, Ustaz. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam Bu Darma. Kamari
- ketemuanya Bu Darma.
- Ketemu di halal ya. [tertawa]
- Ini katanya bagaimana Ustaz? Saya dari
- sebelum lebaran kena sakit tipes.
- He.
- Terus sampai sekarang minum obat
- dan belum bisa puasa Syawal. Iya.
- Tapi saya punya niat untuk puasa mulai
- besok. Insyaallah. Mohon pencerahannya,
- Ustaz.
- Iya. Ya, orang sakit kan ada ruk ya.
- Yang sedang saum wajib aja kalau ada
- sakit boleh berbuka. Nah,
- apalagi yang sunah ya.
- Kita baru niat aja sudah dapat pahala.
- Baru niat dapat pahala satu. Apalagi
- kalau bisa mengamalkan. Masyaallah.
- Itulah satu kebahagiaan orang-orang
- mukmin. Hamma biasatin. Begitu dia punya
- harapan, cita-cita ingin berbuat
- kebaikan, maka baru niat aja sudah
- dicatat amal satu bagian daripada
- amalnya. Masyaallah sekali.
- Begitu dia melaksanakan dilipat gandakan
- pahalanya. Nah,
- maka kalaupun ada keinginan,
- keinginanlah yang baik.
- Mau sodqah, mau infak, mau ngaji,
- mau silaturahim,
- mau beramal.
- Nah, itu niatkan di hati. Mudah-mudahan
- dengan niat itu Allah mencatat menjadi
- orang-orang ahlu ahlul husna, husna,
- ahli kebaikan. Demikian
- terakhir dari Bapak Amin di kalender,
- Ustaz. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam, Pak.
- Pak Ustaz, apa nasihat yang bisa diambil
- dari seorang sahabat yang beliau
- mendapatkan tugas sebagai jubir
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam?
- Apa?
- Nasihat.
- Nasihat
- untuk kita semua.
- Heeh. Jadi nasihat bagi kita bagaimana
- kita berbuat sesuatu perbuatan yang
- membuat Allah dan Rasul-Nya rida. Nah,
- artinya apa? Kalau kita bicara bicara
- kita yang membuat Allah senang. He.
- Kalau kita beramal, berbuat amal yang
- Allah membuat senang. Hua adha wa abka.
- Dialah Allah yang telah membuat kita
- tertawa dan membuat kita menangis.
- Menangis dan tertawa.
- Jadi menangis dan tertawa itu Allah yang
- memberikan kepada kita. Coba kalau
- nangis terus gimana?
- Iya. Bisa habis air matanya.
- Bisa habis air matanya. Ketawa juga
- terus. Enggak. Makanya dua hal ini
- akan selalu beriringan. Ya, ketawa ya
- menangis. Inilah perilaku orang-orang
- yang mendapatkan karunia Allah.
- Ketawanya bukan ketawa
- seperti asal ngabarak kakak ya. Wah.
- Tapi ketawanya ya sewajar
- sehingga bahagialah.
- Sebab attaum orang yang suka membuka
- lebar jiwanya sering senyum. He.
- Itu sap-sap di mukanya itu mengendor.
- Jadi orang itu boleh dibilang itu awet
- muda.
- Iya gerak itu ya.
- Iya. Tapi orang yang kucem, jarang
- ketawa, cemrut itu petua itu kenapa?
- Karena sarafnya enggak bergerak itu.
- Itu terbukti secara medis ya?
- Secara medis terbukti.
- Subhanallah.
- Makanya attaum hua asodqah.
- bahwa senyum itu merupakan sedekah. Tapi
- jangan
- lihat sesuatu senyum terus, lihat tiang
- senyum. Jangan
- itu enggak beres.
- Ada orang yang senyum lihat pohon itu
- mungkin karena terlalu ya murah
- senyumnya kenangan itu senyum.
- Ya, demikian. Silakan.
- Baik, Ustaz. Ada yang disampaikan
- terakhir?
- Cukup ya. Terima kasih Ustaz e Komin
- atas ilmunya di pagi hari ini. Sahabat
- Sabit bin Qais, jubirnya Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam. Semoga dapat
- menginspirasi kita.
- iman dan kepada Allah subhanahu wa
- taala. Saya temani dan juga pamit.
- Subhanakallah wam asadu alla ilahailla
- anta astagfiruka waubu ilaik.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam.
- [musik]
- Rasil TV [musik]
- untuk Islam yang satu.
- [musik]