Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Allahumma
- sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.
- Dipancar luaskan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimanggis,
- Cibubur, Bekasi, Radio Silaturahim untuk
- Islam yang satu. Ikhwan dan akhwat yang
- dirahmati Allah subhanahu wa taala.
- Bagaimana kabar Anda di pagi hari ini?
- Senang sekali kami dapat kembali
- menjumpai Anda dalam program sirah
- Sahabat di setiap hari Senin bersama
- narasumber kita. Beliau adalah Ustaz
- Qobaruddin Basuni. Mari kita sapa
- beliau. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Sehat,
- Ustaz? Ya, alhamdulillah dan kita berada
- di edisi hari Senin 10 Juni 2018 yang
- juga bertepatan di tanggal 26 Ramadan
- 1439 Hijriah. Tema kita, Ikhwan dan
- Akhwat di pagi hari ini sirah sahabat
- yaitu kisah sahabat Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam Zaid bin
- Tsabit. Baik, mari ikhwan akhwat kita
- simak pemaparan yang akan disampaikan
- oleh Ustaz Komaruddin Basuni. Tafadol
- Ustaz
- ya.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi
- wabarakatuh. Innalhamdalillah nahmaduhu
- wa nastainuhu wafiruh wa naud
- nauzubillahi min syururi anfusina
- wasayiati a'malina. May yahdillah fala
- mudillalah wam yudlil fala hadialah.
- Asyhadu alla ilahaillallah wahdahu la
- syarikalah wa asyhadu anna muhammadan
- abduhu wa rasuluh. Amma
- ba'd. Para pendengar radio silaturahim
- dan juga pemiarsa TV Rasil di mana saja
- berada.
- Alhamdulillah di hari Senin ini kita
- kembali
- mengkaji tentang sosok seorang sahabat
- Nabi yang namanya Zaid bin Tsabit.
- Para pendengar Radio Silaturahim dan
- pemirsa TPIR, pemirsa TPR hasil
- bahwa kehidupan para
- sahabat
- setelah mereka dibina, dibimbingbing
- oleh Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam itu masing-masing sahabat
- memiliki keahlian.
- Dan keahlian ini betul-betul keahlian
- yang bisa diandalkan.
- Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan
- oleh Imam at-Tirmidzi, Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam pernah
- bersabda, kata
- Rasulullah, "Arhamu umati biumati Abu
- Bakrin wa asyadduhum fi amrillah
- Umar wa asdaquhum hayaan
- Utsman wa a'lam bil halal wal haram.
- Jabalum
- zaiduit
- waqumbay walikulli umatin
- amin wa aminu hadil ummah abu ubaidah
- bin
- aljarrah.
- Artinya
- bahwa
- umatku yang paling
- penyayang
- terhadap umat lainnya
- ia adalah Abu
- Bakar. Ini kelebihan Abu Bakar punya
- sikap dan sifat rahim kepada siapa saja.
- Beliau mudah
- terenyuh, mudah melihat orang lain,
- apalagi mereka yang di bawah
- ee sebagian orang dianggapnya rendah,
- dianggapnya hina, tapi beliau lain
- perhatiannya sangat penyayang.
- Kemudian wa asyadduhum fi amrillah umar
- dan umat nabi yang paling
- keras, paling
- kokoh atau yang paling ya syadid dalam
- mendegakkan agama Allah, ia adalah Umar
- bin Khattab.
- Jadi wa
- asyadduhum jadi umat nabi yang paling
- kokoh dan kuat dalam pertahanan akidah
- itulah Umar bin Khattab. Waasdaqhum
- haya. Sementara
- yang
- paling
- jujur dan penuh dengan malu, orangnya
- jujur, pemalu, ia adalah Utsman bin
- Affan. Ya. Jadi jujur pemalu
- lagi jadi kayak apa digambarkan dalam
- sebuah riwayat yang lain dia seperti
- seorang gadis yang selalu
- dipingit. Ee itu bagaimana Utsman bin
- Affan ee memiliki hal
- tersebut. Kemudian selanjutnya
- Rasulullah mengatakan kata
- Rasulullah waamuhum bilal wal haram.
- Dan umatku yang paling mengetahui urusan
- halal dan haram, dia adalah Muad bin
- Jabal. Jadi kalau ditanyakan kepada
- beliau, "Gimana hukumnya ini barang
- ini?" Nah, itu Muad bisa menjawab, "Ini
- halal atau ini haram." Selanjutnya, wa
- aqraduhum Zaid Ibnu Tsabit. Dan orang
- yang paling ngerti tentang urusan
- paraid, urusan bagi waris.
- Ia adalah Zaid bin Tsabit.
- Nah, kemudian wa
- aqrauhum dan sahabat atau umat Nabi yang
- paling bagus tentang bacaan Al-Qur'an
- dia adalah Ubay bin
- Ka'ab. Waliulli umatin amin. Setiap umat
- adalah orang yang sangat dicintai,
- sangat di ee ikuti atau sangat
- dipercayai. J setiap umat itu
- ada
- kepercayaannya. Wa aminu hadil ummah.
- Dan kepercayaan umat ini
- ia adalah Abu Ubaidah bin Arjal. Jadi
- Abu Ubaidah ini salah seorang sahabat
- Nabi. Badannya tinggi
- besar. Ee beliau salah satu di antara
- sahabat yang mendapatkan panggilan
- aminul ummah, yaitu kepemimpinan yang
- penuh dengan amanah.
- terpercaya. Itu hebatnya ee salah
- seorang sahabat Nabi satu persatu
- disebutkan oleh Nabi. Nah, kita masuk
- pada pagi ini yaitu tentang Zaid bin
- Tsabit yang oleh Nabi dikatakan wa
- aqraduhum. Dia yang paling paham dan
- ngerti tentang ilmu
- faraid. Para pemiarsa radio apa TV Rasil
- dan para pendengar Rasil di mana saja
- berada.
- Maka sesungguhnya siapa sih yang namanya
- Zaid bin
- Tsabit? Lengkapnya Bain bin Tsabit
- adalah
- ia
- namanya Zaid bin Tsabit bin
- Adohaq
- al-Anshari. Ya, Zaid bin
- Tsabit ad-Dohaq al-Anshari. Artinya dia
- orang
- Madinah. Kemudian
- ia berasal dari suku Najar.
- Syukur Najar ini adalah memang ada
- keluarga Rasulullah di situ. Dulu ibunya
- Aminah waktu berkunjung ke
- makam ee suaminya Abdullah, bapaknya
- Nabi. Nah, ia tinggal di daerah
- situ. Kemudian suku Najar ini merupakan
- keluarga yang di situ Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam keluarganya
- ada.
- Kemudian saat
- Rasulullah tiba di
- Madinah itu usia beliau itu Zaid baru
- usianya 11 tahun. Bisa dibayangkan ya
- umur 11 tahun itu biasanya kelas 5 SD
- atau kelas 5 MI.
- Nah, beliau termasuk salah satu anak
- Madinah yang masuk kategori
- yatim. Karena
- ayahnya wafat waktu terjadi perang Buas.
- Waktu itu beliau berusia 5
- tahun. Jadi masih kecil bisa dibayangkan
- ya umur 5 tahun masyaallah sudah
- ditinggal ayah.
- Nah, kita aja kalau umpamanya ditinggal
- ayah dalam usia seperti itu ya masih
- ingatlah ayah kita dulu. Nah, sekarang
- tiba-tiba enggak ada ayahnya. Nah, dia
- dipelihara oleh ibunya dengan penuh
- kasih dan santun. Nah, pada saat Islam
- masuk ke kota Madinah dibawa oleh
- orang-orang Ansar termasukah di situ ada
- seorang sahabat Nabi yang namanya Muad
- bin Jabal. Apa bukan Muad, Sa'ad bin ee
- Muad, Saad bin Ubadah. Pokoknya ini
- tokoh-tokoh
- Madinah. Ada Mak'rur dan lain
- sebagainya. Kemudian Rasulullah mengirim
- seorang dai ke Madinah, yaitu sahabat
- Mus'ab bin Umair. Waktu itu beliau masih
- muda, usianya sekitar 16 tahun usia
- beliau. Nah, saat kedatangan ee
- pendakwah atau dai Rasulullah di
- Madinah, maka semangat Islam
- semarak sehingga tidak ada satu rumah
- yang tidak kemasukan dakwah Islam.
- Kami waktu ke Madinah itu
- membayangkan dalam suasana waktu itu
- Madinah masih zaman dulu kala yang ada
- hanyalah ya pasir dan batu rumah-rumah
- bukan seperti Madinah hari ini yang
- penuh dengan gedung-gedung pencakar
- langit yang serba wah dan mewah. Nah,
- itu masyaallah.
- Bagaimana perjuangan salah seorang
- sahabat Nabi yang ditugaskan dakwah ke
- negeri Madinah. Nah, anak-anak Madinah
- orang tuanya begitu mendengar dakwah
- Nabi itu mereka begitu antusias.
- Termasuk salah satunya Zaid
- ini. Nah, dia belajar Quran kepada
- sahabat tadi itu. Nah, pada saat
- Rasulullah
- hijrah dari Makkah ke Madinah, maka
- orang-orang Madinah datang menyambutnya.
- Ada yang memberikan
- hadiah yang berupa makanan, ada yang
- memberikan berupa pakaian, macam-macam
- hadiah. Nah,
- giliran orang tuanya Zaid. Nah, dia
- melihat nih
- Zaid, saya ingin
- persembahkan. Karena kalau saya
- mempersembahkan harta saya enggak punya,
- kata ibunya.
- ini saya punya anak
- nih. Sudah biarlah dia dididik oleh
- Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam.
- Nah, waktu dia bersama ibunya, bersama
- rombongannya datang kepada Nabi. Nah,
- kemudian ee keluarganya bilang, "Ya
- Rasulullah, anak ini sudah
- hafal beberapa ayat Al-Qur'an dan hafal
- beberapa surat."
- Kata Nabi, "Coba
- baca,
- dibacalah." Waktu
- dibaca, nah, Nabi
- kagum. Bacaannya bagus anak ini. Ya
- sudah, akhirnya waktu berjalan sampailah
- peristiwa perang
- Badar. Nah, waktu perang Badar dia
- umurnya kan masih muda ya, umurnya
- antara 12 13 lah. Terus apa yang
- terjadi?
- daftar. Bayangkan anak-anak kecil daftar
- ingin menjadi
- mujahid. Masyaallah. Nah, di sini banyak
- di kalangan anak-anak
- muda yang hadir menghadap Nabi untuk
- ikut di
- dalamnya. Di antara
- mereka ada yang bernama Ro bin Khadij.
- Ada juga di antara mereka yang
- bernama Ibnu Umar dan banyak kurang
- lebih ada enam anak anak muda yang
- tanggung. Nah, sedangkan Rab dia
- mengatakan, "Ya Rasulullah, saya punya
- kelebihan nih. Ada yang melempar ah kata
- Nabi, masuk." Nah, giliran
- Zaid begitu masuk, "Saya juga, ya
- Rasulullah."
- Nabi sampai melirik dia, "Kamu masih
- kecil,
- Nak. Belum saatnya kamu nanti
- aja." Nah, ibunya menyaksikan dari arah
- jauh bahwa anaknya enggak diterima
- menjadi pasukan, nangis
- dah. Yang tadi harapannya orang yang
- diandarkan menjadi
- mujahid masih cilik orangnya. Tapi Nabi
- melihatnya lebih jauh. Anak-anak, enggak
- usahlah. biar orang tua urusan
- ini. Nah, waktu perang Uhud juga sama
- daftar lagi dia. Ternyata masih muda
- lah, belum sampai umur. Nah, dia
- akhirnya keterima menjadi mujahid yaitu
- pada saat dia waktu perang Hondak. Nah,
- selama perjalanan dari peristiwa Uhud ee
- peristiwa Badar, Uhud dan sebagainya,
- bagaimana kiprah dia?
- itu dia menjadi orang yang berkhidmat
- kepada
- Nabi. Ini Zaid bin Tsabit ini punya
- kelebihan. Orangnya
- cerdas kemudian cekatan.
- Kemudian kalau ada orang bicara dia
- suruh ngikutin itu dia bisa ngikutin.
- Itu hebatnya Zaid bin Tsabit ini. Nah,
- suatu saat setelah dia datang kepada
- Nabi ee kemudian dia bacakan surat dan
- ayat dia baca dengan bagus. Nabi nanya,
- kata
- Nabi,
- "Kamu bisa enggak bahasa Ibrani?" "Ya,
- enggak bisa saya."
- Kalau gitu kamu belajar ya. Iya. Siap.
- Nah,
- waktu Nabi nanya begitu sama dia, dia
- bilang, "Bisa berarti kan kalau belajar
- itu harus ada modal.
- Modalnya baik itu fisik, kemampuan atau
- materi." Nah, nah beliau kok bisa
- ngikutin? Kenapa? Karena waktu perang
- Badar itu kan ada
- tawanan. Nah, tawanan dari pihak Quraisy
- itu ada beberapa cara. Bagi orang yang
- punya kelebihan bisa bisa nulis, bisa
- membaca itu harus mengajari orang
- anak-anak Madinah. Nah, termasuk jahid
- ini yang diajari oleh orang Makkah, oleh
- tawanan Makkah sehingga jahid ini bisa
- membaca dan bisa menulis.
- Dan jangan ee berpikir kok baca tulis
- aja heboh. Nah, karena di zaman itu
- tidak gampang orang bisa membaca dan
- bisa menulis. Kenapa? Karena masih
- terbatas ilmunya, pengajarnya masih
- terbatas.
- Maka Zaid bin Tsabit dengan kesungguhan
- waktu diajari oleh para tawanan perang,
- dia termasuk salah satu muridnya dan dia
- bisa mengikuti kajian itu, bisa menulis,
- bisa membaca. Maka pada saat Quran turun
- kepada Nabi dan oleh Nabi disabarkan,
- dia bisa baca dan dia bisa mendengar
- dengan baik dari apa yang disampaikan
- gurunya. Nah, ini kondisi yang terjadi
- pada diri sahabat Zaid bin Tsabit. Maka
- pada saat dia disuruh oleh Nabi belajar
- bahasa
- Ibrani itu enggak seperti orang yang
- baru mengenal pendidikan. Dia sudah
- tahu. Maka belajar bahasa Ibrani dia
- hanya memerlukan waktu setengah bulan di
- 2 minggu. Bayangkan
- tuh kita belajar bahasa Inggris
- bertahun-tahun enggak bisa-bisa.
- Ini ada ikhwan kita mengatakan di
- Jakarta itu ada perguruan yaitu khusus
- bahasa
- Ibrani. 3 tahun dia belajar baru ngenal
- satu dua kata. Belum dialeknya, belum
- susunannya.
- Masyaallah. Dan biaya untuk dapat
- belajar bahasa itu, itu mahalnya bukan
- main. Nah, sahabat Zaid bin Tsabit itu
- belajar bahasa Ibrani. Dia bisa membaca
- dengan baik, dia bisa menulis, dia bisa
- menterjemahkan. Bayangkan, hanya dua
- waktu, 2 minggu.
- Bayangkan selesai. Nah, kenapa Nabi
- menyuruh dia untuk belajar bahasa
- Ibrani? Kata Nabi, "Nanti kita
- ini akan disuratin oleh
- mereka-mereka." Nah, tentu saya kan
- harus menjawab surat mereka. Nah, kalau
- saya percayakan untuk menjawab kepada
- mereka
- lagi, nanti mereka ya khawatir bisa
- memutar balik. Maka kamu sekarang
- belajar bahasa Ibrani. Ya, Zaid bin
- Tsabit inilah alhamdulillah dengan waktu
- singkat bisa menyerap ilmu tentang
- bahasa Ibrani. Selesai dia lapor sama
- Nabi bahwa dia sudah bisa. Kata Nabi,
- "Kamu tahu enggak bahasa Suryani?"
- Ini bahasa S ini bahasa orang-orang elit
- lah di kalangan para pejabat tinggi, di
- kalangan raja dan sebagainya. Mungkin
- kalau kita bahasa kita mah sekarang
- bahasa Inggrisnya lah gitu, bahasa
- internasional. Kalau bahasa Ibrani kan
- biasa intern di kalangan orang Arab dan
- itu di biasa dimiliki oleh orang-orang
- Yahudi. Nah, ini biasanya kalau
- pejabat-pejabat dari Parsi itu kan
- kebanyakan mereka menggunakan bahasa
- itu. Itu beliau belajar hanya waktu
- berapa? 17 hari.
- Waduh. Jadi sudah kum laut itu bahasa
- Ibrani 15 hari, Suryani 17 hari. Jadi
- kecerdasannya
- masyaallah. Saya waktu belajar bahasa
- Arab aja pusing itu. Apalagi kalau sudah
- diurut dari sisi bahasa ini jumlahnya
- apa, jumlah ismiah apa jumlah fi'liah?
- Terus bagaimana ini cara
- menyambungkannya harus sesuai dengan
- ilmunya. Terus belajar balagoh, belajar
- mantek. Waduh, masyaallah. Nah, ini
- tambah lagi belajar bahasa Suryani,
- bahasa ee yang masyaallah. Tapi bagi
- Zaid bin Tsabit bahasa itu diapnya enjoy
- aja, santai. Kemudian dia bisa
- mengikuti. Nah, itulah kecerdasan
- seorang sahabat Nabi yang bernama Zaid
- bin Tsabit.
- Nah, beliau setelah menguasai kemudian
- beliau dipanggil oleh Nabi, maka beliau
- menjadi sekretaris Nabi. Ah, jadi
- dijadikan sekretaris Nabi yang kalau
- Allah menurunkan wahyu dialah yang
- menulis.
- Rasulullah lebih bahagia, lebih nyaman
- kalau memang yang melaksanakan itu
- orang-orang yang terpercaya yang
- langsung di bawah asuhan didikan
- Rasulullah. Zaid bin Tsabit ni
- masyaallah.
- Nah, pada saat beliau ditugaskan untuk
- mencatat wahyu dari wahyu-wahyu Allah
- yang turun kepadanya dan juga pada satu
- saat beliau pernah dipanggil oleh Nabi
- untuk membaca surat yang datang dari
- Yahudi. Beliaulah yang memberikan
- jawaban kepada surat tersebut. Jadi
- Rasulullah sudah punya sekretaris
- khusus, artinya staf ahli di bidang
- bahasa. Ya, jadi untuk bahasa ini ini
- orangnya gak perlu nyari-nyari lagi.
- Enggak perlu sekarang aduh gimana kalau
- ada tamu. Jadi beliau sudah ada juru
- bicaranya langsung.
- Nah, nah beliau Zaid bin
- Tsabit itu semangat juangnya tinggi.
- Waktu terjadi perang Hondak, beliau maju
- lagi daftar jadi mujahid. Nah,
- alhamdulillah waktu di perang Hondak
- beliau masuk dalam deretan prajurit. Woh
- senangnya bukan
- main. Dan beliau setelah peristiwa
- perang Hoda, kemudian terjadilah perang
- perang selanjutnya. Apakah itu
- perjanjian Hudabiyah, Fathu Makkah,
- Tabuk dan sebagainya. Nah, beliau selalu
- ikut di
- dalamnya. Nah, enggak lama Rasulullah
- wafat, Nah, Zaid sedih sekali.
- Artinya orang yang dijadikan tumpuan,
- orang yang jadikan
- sandaran itu sekarang telah
- tiada. Akhirnya di situlah kemudian
- panglima muslim yaitu Abu Bakar Siddiq
- yang diangkat oleh kaum muslim menjadi
- khalifah.
- Beliau mendapatkan
- laporan setelah Umar bin Khattab
- menyaksikan pasukan Abu Bakar banyak
- gugur di perang. menghadapi kaum
- murtad. Ada 70 ahli Quran
- gugur.
- Kemudian Umar lapor sama Abu Bakar,
- "Bagaimana kalau Quran
- ditulis?" Artinya dibukukan. Karena di
- zaman Nabi Quran belum dibukukan, masih
- sifatnya
- hafalan. Nah, kata Abu Bakar, "Wah,
- ini saya enggak berani ini karena Nabi
- enggak pernah nih membukukan Quran. Jadi
- Quran kayak sebarang sekarang
- ini. Terus Umar berkata, "Ini baik ya
- khalifah. Kalau kita pulang pada Allah,
- apa yang mereka baca harus kita
- siapkan." Kata Abu Bakar, "Ya kasih
- waktulah saya untuk munajat kepada
- Allah." Akhirnya beliau munajat. Nah,
- dibukakan hatinya, nerima saran Umar
- itu. "Ya Quran mau dibukakan." Cuma
- sekarang siapa pelaksananya?
- Yang mengeksekusinya siapa ini?
- Teringat. Oh, Zaid. Panggil Zaid. Zaid
- ini ada pekerjaan ini untuk kebaikan.
- Apa? Penulisan Al-Qur'an dalam satu
- buku. Wah, enggak enggak berani saya
- enggak siap. Karena Rasul enggak pernah
- mencontohkan. Kata Abu Bakar, "Saya juga
- dulu begitu pandangannya seperti kamu.
- Tapi sekarang saya menerima saran Umar."
- Kenapa?
- Ya, kita kan enggak lama hidup akan
- mati. Nah, terus apa yang harus kita
- tinggalkan? Kecuali kalau mushaf
- inilah jaahnya. Ah, kalau gitu beri
- kesempatan. Akhirnya dia istikharah.
- Alhamdulillah hatinya dilunahkan dari
- nah waktu Abu Bakar menyerahkan
- penulisan Al-Qur'an kepada Zaid bin
- Tsabit, Zaid bin Tsabit agak
- kewalahan. Kenapa?
- Karena tidak mudah untuk mengumpulkan
- ayat-ayat Quran yang
- berserakan. Karena waktu itu Al-Qur'an
- berserakan ada yang di pelapah kurma,
- ada yang ditulis di tulang, ada yang
- ditulis di lauh. Ya. Ya, kayak papan
- tulis-pantus itu loh. He. Nah, bagaimana
- itu merakitnya untuk
- menyambungkannya? Khawatir ada yang
- kesalahan, khawatir ada yang
- ketinggalan.
- Wuh. Beliau itu telitinya bukan kalau
- ada orang alim dekatin tanya, "Gimana
- kalau ayat ini engkau hafal?" Hafal
- diakurkan antara bacaan dia dengan
- tulisan.
- Udah. Kemudian mengenai tulisan. Tulisan
- di zaman itu dengan sekarang beda
- sekali. Kalau tulisan umumnya
- bismillahirrahmanirrahim. Tulisan
- sekarang kan ada harkatnya. Heeh. Ada
- titiknya, ada reget-regetnya. Heeh.
- Seperti sinin itu kan ada tiga itu
- regetnya. Sin, syin. Nah, ada sin, ada
- syin. Sin beda. Kalau syin ada titiknya.
- Kalau sin enggak ada ba ada titiknya. Di
- zaman itu, itu enggak ada titik, enggak
- ada harkat, enggak ada reget-reget,
- enggak ada reget-reget. Nah, gitu-gitu.
- Nah, kayak
- gergaji. Nah, coba
- bayangkan itu tulisan. Kalau sekarang
- tulisan modul dulu ada kita bingung
- bacanya.
- Tapi dengan kejenisan itu, itu jahit
- bisa baca dengan bagus itu. Masyaallah.
- Nah, kalau gitu kapan itu Quran kok bisa
- diharakatin sampai kepada kita yang
- sekarang ini? Ada ba titiknya satu, ada
- nun titiknya satu di atas, ada ta, ada
- tsa. Ada zai, ada jim, ada titiknya.
- Kapan itu adanya? Itu terjadi di zaman
- Khalifah Ali bin Abi Thalib. Nah,
- al-Asad Addaulai. itu salah satu orang
- yang berjasa untuk ee memberikan harkat
- dan ee titik-titik yang ada dalam
- Al-Qur'an tuh. Jadi lebih masyaallah
- lagi ya, repot lagi kalau kita belajar
- bahasa aslinya. Nah, sesudah di zaman
- Khalifah Ali itu agak mudah karena ada
- harkat lain sebagainya. Nah, Zaid bin
- Tsabit waktu nulis itu Al-Qur'annya
- seperti itu. Belum ada harkat, belum ada
- titik.
- Nah, kecerdasan yang dimiliki oleh Zaid
- bin Tsabit ini menjadi hormat para ulama
- di kalangan
- sahabat. Termasuk salah satunya Ibnu
- Abbas. Ibnu Abbas itu kan paman Rasul.
- Suatu
- saat ee Zaid sedang naik kendaraan ada
- Ibnu Abbas.
- Nah, itu tali kekang
- kendaraannya oleh Ibnu Abbas langsung
- dipegang lalu dituntun. Kata Zaid,
- "Enggak
- usah kalau kita mah ya kendaraannya
- dipegang-pegang diantar." Kata enggak
- usah ya Tuhan. Kata Ibnu Abbas, "Memang
- beginilah seharusnya kita menghormati
- ulama kita." Bayangkan Ibnu Abbas aja
- hormatnya kepada Zaid bin Tsabit bukan
- main itu. Nah, kita sekarang sama ulama
- dilecehkan, ulama dianggap teroris.
- Gimana itu?
- Masyaallah, itu besar tanggung jawabnya
- di hadapan Allah itu tuh dia akan
- diproses oleh malaikat munkar nakir itu.
- Mungkin kalau Allah enggak memaafkan
- bisa digedor itu kepalanya. itu ulama
- yang berkhidmat, yang memberikan ilmu
- kepada umat kok sampai
- ditangkapin, sampai ada yang dimasukin
- penjara,
- digebugin. Nah, sementara para ulama
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam
- begitu hormatnya. Inilah bedanya di
- kalangan sahabat Nabi menghormati
- seorang alim. Karena apa? Karena ilmu
- mereka sangat dibutuhkan dalam kondisi
- apapun.
- Para pemirsa radio TV, Radio dan TV
- Rasil. Mudah-mudahan ya dalam keadaan
- saum kita Ramadan ini Allah memberikan
- ilmu yang sangat bermanfaat bagi kita.
- Kita kaji itu Al-Qur'an. Salah satu di
- antara hasil tulisan sahabat Nabi yang
- sampai kepada kita. Ini merupakan satu
- amal saleh yang sangat besar. Terutama
- bagi Khalifah Abu Bakar karena dia yang
- menyuruh untuk menuliskan Al-Qur'an.
- Nah, sementara ya penulisnya adalah Zaid
- bin Tsabit. Nah, sehingga tulisan itu
- akhirnya disempurnakan di zaman Utsman
- bin Affan. sehingga dikenallah dengan
- mushaf Utsman, tapi tetap penulisnya
- masih Zaid bin Tsabit. Demikian, semoga
- bermanfaat. Walaupun minkum.
- Wasalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh.
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]