Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:15 Bismillah alhamdulillah washolatu 0:17 wassalam ala Rasulillah wa ala alihi 0:19 wasahbihi umma wa ala assalamualaikum 0:21 warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwan 0:22 akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa 0:24 taala apa kabar? Selamat datang selamat 0:26 pagi. Selamat datang di acara kajian 0:28 tasawuf bersama al fakir Isa Alkaf ada 0:31 Neja 0:32 di kameramen dan juga Edo di meja 0:35 operator. Ikhwan akhwat alhamdulillah di 0:38 pagi hari yang cerah ini sudah 0:39 membersamai kita guru kita bersama Habib 0:42 Ahmad Musyaffa bin Syahab. 0:43 Assalamualaikum Habib. Iya 0:45 waalaikumsalam warahmatullahi 0:46 wabarakatuh. 0:46 Kabar sehat Habib? Alhamdulillah sehat 0:48 walafiat. Alhamdulillah walafiat 0:50 alhamdulillah. 0:51 Alhamdulillah. Kemarin kita baru 0:53 membahas 0:54 ikhwan akhwat kita masih membahas kitab 0:56 Bidayatul Hidayah karangan daripada Imam 1:00 Ghazali. 1:01 Kita baru bahas 1:03 dua baris ya? 1:04 Iya na'am mukadimahnya maksudnya. 1:06 Masya Allah. 1:07 Masih mukadimah. Masih kita kemarin 1:10 pemaknaan hamdalah kemudian selawat 1:13 kemudian ee 1:15 apa namanya 1:17 selawat kepada keluarga Nabi juga kepada 1:20 sahabat Nabi 1:21 juga wah masya Allah. Bahkan tentang 1:24 makna bismillah pun kemarin kita bahas 1:27 ikhwan akhwat. Buat ikhwan akhwat yang 1:29 belum sempat menyimak kemarin silakan 1:32 cek di YouTube. Dan nantinya kalau 1:34 ikhwan akhwat mau bertanya 1:36 ya akan kita lanjutkan silakan kirimkan 1:38 pertanyaan Anda di 08111999720 1:44 atau telepon di 021 1:46 8451512. 1:49 Ee ikhwan akhwat sebelum kita mulai ada 1:52 baiknya kita buka dulu dengan membaca 1:55 ummul Quran surat Al Fatihah tafa'dal 1:57 Habib diratibkan. 2:00 ratib boleh fatihah insyaallah niat 2:02 sholeh wal jamal amin amin 2:09 audzubillahiminasaitonirojim 2:10 bismillahirohmanirohim 2:12 alhamdulillahirobbilalamin 2:14 arrohmanirohim maliki yaumiddin 2:17 iyyakanakbudu wa iyyakanastain 2:19 ihdinassirotolmustaqim 2:21 sirotolladzina an'amta alaihim ghoiril 2:24 maghdubi alaihim waladdollin amin ikhwan 2:27 akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa 2:29 taala silahkan buat ikhwan akhwat yang 2:31 punya kitab bidayatul hidayah dibuka 2:34 kitab bidayatul hidayahnya bab khutbatul 2:36 kitab bab muqaddimah yang belum punya 2:39 silahkan nanti kita insyaallah 2:41 sediakanlah di antara silahkan yang bel 2:45 yang enggak punya juga enggak apa-apa 2:46 tinggal simak aja insyaallah kita akan 2:49 mendapatkan manfaatnya mari sama-sama 2:52 ikhwan akhwat kita dengarkan penjabaran 2:54 dari Habib Ahmad Musawa bin Syahab 2:56 mengenai muqaddimah daripada kitab 2:59 bidayatul hidayah tafa'dul 3:01 masyaallah Habib toyib bismillah 3:03 bismillah 3:04 bismillahirohmanirohim 3:05 alhamdulillahirobbilalamin wabihi 3:07 nastainu ala umuriddunya waddin 3:08 washolatu wassalam ala sayyidil mursalin 3:11 sayyidina Muhammadin wa ala alihi wa 3:13 shohbihi ajma'in subhanaka la ilmalana 3:15 illa ma allamtana innaka antal alimul 3:18 hakim 3:19 watub alaina innaka antatawaburrohim 3:21 allahumma ya fattahu ya alimu ya fattahu 3:23 ya alimu ya fattahu ya miftahalaina 3:26 fathan qoriba ya arhamarrohimin 3:28 allahumma la sahla illa ma ja'altahu 3:30 sahla wa anta taja'alul hazana idza 3:32 syi'ta sahla 3:34 allahumma sahillana hifdzal ulum 3:35 wahablana wasi'atul fuhum bijahi nabikal 3:37 ma'shum shollallahu alaihi wasallam 3:40 allahumma inna nas'alukal ilmal ladunni 3:42 wal masyrabal shofil haniyya wahabiyya 3:44 ghoniyya 3:45 wana'udzubika allahumma min ilmin la 3:47 yanfa' waqolbin la yakhsya wa'amalin la 3:49 yurfa' wa'ainin la tadma' wa nafsin la 3:51 tasyba' 3:53 wada'watin la yustajabu laha birahmatika 3:55 ya arhamarrahimin ya arhamarrahimin ya 3:57 arhamarrahimin nawaina ta'allum wa 3:59 ta'lim 4:00 wat tadzakur wat tadzkir wan naf'u wal 4:02 intifa' wal ifadah wal istifadah wal 4:04 hatsu ala tamassuki bi kitabillah wa 4:06 sunnati rasulillah wad da'wa ilal huda 4:09 wad dalalatu alal khair ibtigha 4:11 wajhillah mardhatihi wa qurbihi wa 4:13 tsawabihi subhanahu wa ta'ala nawaina ma 4:16 nawahu as salihun nawaina ma hafidha 4:18 bihi ilmul ta'ala min husnin 4:20 alhamdulillah 4:22 senantiasa puji dan puji syukur 4:24 terhaturkan ke hadirat Allah subhanahu 4:26 wa ta'ala 4:27 atas limpahan nikmatnya 4:29 limpahan hidayah dan taufiknya dan 4:31 alhamdulillah 4:32 dengan taufiknya lah kita bisa kembali 4:34 dalam kajian mingguan kitab hidayatul 4:37 hidayah karangan al Imam Abi Hamid 4:39 Muhammad Al Ghazali rahimahullahu ta'ala 4:42 pada pertemuan lalu kita 4:44 sedikit membahas tentang muqaddimatul 4:46 kitab al basmalah hamdalah dan juga 4:49 shalat ala rasulillah 4:51 juga menyebutkan cerita yang berkaitan 4:53 dengan kitab hidayatul hidayah ini 4:55 seperti cerita 4:57 tiga tiga serangkai tiga orang habaib 5:01 yang mengamalkan 5:03 kitab hidayah ini dan apa yang mereka 5:05 dapatkan daripada bisyarah Habib 5:08 Abdurrahman bin Mustofa Alaydrus dan 5:09 Habib 5:10 Syekh bin Muhammad Al Jufri dan Habib 5:13 Abu Bakar bin Muhammad Balfaqih wa 5:15 hakaza 5:17 akulah ikhwan cerita yang sangat 5:19 memotivasi kita untuk membaca merenungi 5:22 mengkaji dan mengamalkan kitab hidayatul 5:25 hidayah ini wa hakaza ikhwan nah 5:27 sekarang kita akan mulai 5:29 pembahasan pertama dan di sini memang 5:31 Imam Ghazali memulai pembahasannya 5:32 dengan niat an niyah an niyah matiyah 5:36 dikatakan an niyah itu 5:37 kendaraan utamamu wa hakaza 5:40 jadi engkau mudah atau susahnya cepat 5:43 atau lambatnya sampai ke tujuan 5:44 tergantung dengan kendaraanmu bagaimana 5:46 kendaraanmu itu 5:48 Wahakaza, nah juga eh amalmu itu baik 5:50 atau buruk, eh di terima atau tidak, 5:53 cepat atau lambat sampainya kepada Allah 5:55 itu tergantung daripada niatmu dalam 5:58 amal itu. Nah, di sini sekarang beliau 6:00 akan 6:01 eh 6:03 langsung mengomentari eh tujuan kita. 6:05 Dan di sini karena temanya tema belajar, 6:08 tema tholabul ilmi, maka di sini beliau 6:11 membahas niat-niat dalam belajar ilmu. 6:13 Ehm. Baik. 6:15 Ikhwani, eh ma'ruf di eh konsep mereka 6:19 at takhliyah 6:20 tsummat tahliyah. 6:22 Pertama takhliyah, pakai kho. Artinya 6:25 pembersihan dulu. 6:27 Nah. 6:28 Sudah dibersihkan baru tahliyah, pakai 6:31 ha. 6:32 Eh dihiasin. 6:34 Nah, jadi jadi apa 6:36 dekorasi, dihiasi itu setelah 6:38 dibersihkan dulu. Ya pastilah kalau 6:40 orang mau buat acara di di rumahnya, 6:43 sebelum dia mendekorasi, sebelum dia 6:45 mendesain segala macam, dia bersihkan 6:46 dulu 6:48 yang ada sekarang, baru dia desain 6:49 setelah itu. 6:50 Baru dia hiasi rumah itu. 6:52 Wahakaza. 6:53 Ehm. Ya aneh kalau seandainya dia 6:55 menghiasi dulu, dia dekor dulu kemudian 6:57 baru dibersihin. Ya 6:59 ya kerja dua kali akhirnya kan. 7:00 Wahakaza, itulah konsepnya 7:02 tahliyah, takhliyah tsummat tahliyah. 7:04 Nah, di sini juga 7:07 dalam perihal niat, Imam Ghazali akan 7:09 membahas 7:10 takhliyah dulu, membersihkan niat-niat 7:12 dan tujuan yang buruk. 7:15 Jauhkan itu dari hati ketika engkau 7:17 menuntut ilmu. 7:19 Setelah engkau jauhkan niat-niat yang 7:20 buruk itu, baru engkau tanamkan 7:22 niat-niat yang baik dalam menuntut ilmu. 7:23 Nah, makanya beliau berkata, "Amma 7:25 ba'du." 7:27 Pembahasan amma ba'du pembahasan yang 7:28 panjang, Ikhwan. 7:29 Ini masih musykilah. Amma ba'du fa'alam 7:31 ayyuhal harisu alagtibasal ilmi. 7:35 Nah, langsung. Ya ini metode Imam 7:37 Ghazali di di kitab Hidayah ini eh 7:39 seakan-akan dia ngomong langsung ke kita 7:41 gitu. Fa'lam, ketahuilah. 7:43 Ayyuhal harisu, wahai orang yang 7:45 mempunyai semangat. Ala iktibasil ilmi, 7:48 atas menuntut ilmu. 7:50 Hai, orang-orang yang punya tekad dalam 7:52 menuntut ilmu. Al muzhiru min nafsihi. 7:55 Sidqur raghbati fihi wa furut ta'attusyi 7:57 ilaihi. Yang. Me menampakkan dari 8:02 dirinya. Yang menonjolkan dari dirinya. 8:05 Sidqur raghbati fihi, kesungguhan dalam. 8:09 Mendapat ilmu itu. 8:11 Wa furut ta'attusyi ilaihi, dan. 8:15 Rasa dahaga yang sangat. Kepada ilmu 8:18 itu. Hai kalian orang-orang yang haus 8:20 terhadap ilmu. 8:22 Yang aku lihat engkau ini punya semangat 8:24 yang luar biasa untuk menimba ilmu itu. 8:27 Dan aku lihat engkau ini semangat. Untuk 8:30 mendapatkannya. Nah, sekarang langsung 8:32 beliau ini ngomong sama kita. Nih 8:34 orang-orang yang mau menuntut ilmu. 8:36 Eee, langsung beliau tembak. Annaka in 8:38 kunta taqsidu. Thalabul ilmi al 8:40 munafasata. 8:42 Wal mubahata, wattaqadduma alal aqran. 8:46 Wastimalata wujuhin nasi ilaik. Wajama'a 8:49 hutamud dunya. Fa anta sa'in fi hadmi 8:52 dinik, wa ihlaki nafsik, wa bai'i 8:55 akhiratika biduniyaka. 8:58 Sesungguhnya engkau, bilamana tujuanmu 9:01 dalam menuntut ilmu itu hanya sekedar 9:03 munafasah. 9:05 Munafasah artinya berlomba-lomba. 9:08 Bersaing. Gitu. 9:11 Wal mubahah, mubahah artinya. 9:14 Eee, berbangga-bangga. 9:17 Wattaqadduma alal aqran. Attaqaddum 9:20 artinya maju. 9:22 Menang. 9:24 Ya. Al aqran, 9:26 atas teman-teman. 9:28 Wastimalata wujuhin nasi ilaik. Dan 9:32 mencondongkan. 9:34 Wajah atau pandangan orang kepadamu. 9:38 Memperhatikan lirikan orang kepadamu. 9:41 Wajama'a hutomi dunya. 9:43 Cari perhatianlah. Cari perhatian kalau 9:45 bahasa gitu ya. 9:46 Iya betul Bib, cari cari perhatian. 9:49 Naam. 9:50 Wajama'a hutomi dunya. 9:53 Menghumpulkan mengumpulkan 9:56 harta dunia. 9:58 Hutam itu sebenarnya eh mata ya harta 10:01 perihal dunia. 10:02 Bilamana niatmu 10:04 demikian sedemikian rupa maka sebenarnya 10:07 walaupun engkau sekarang secara 10:09 dzahirnya belajar menuntut ilmu pun itu 10:11 ilmu syariat 10:13 sebenarnya engkau fa anta sa'in fi hadmi 10:15 dinik, engkau sebenarnya sekarang sa'in 10:17 dalam perjalanan 10:19 kemana? Fi hadmi dinik. 10:21 Untuk menghancurkan agamamu sendiri 10:23 dengan itu. 10:24 Waihlaqi nafsik dan membinasakan dirimu. 10:27 Waba'i akhiratika bidunyakak dan menjual 10:30 akhiratmu dengan duniamu. 10:33 Ah maka jelas fasof gatuka nasyiroh maka 10:37 eh bartermu itu rugi. 10:40 Pasti. 10:41 Watijaratuka ba'iroh dan perniagaanmu 10:43 itu hancur. 10:46 Nah begini Ikhwan, ini langsung beliau 10:48 menyebutkan niat-niat yang yang tidak 10:51 bagus dan bahaya sebenarnya niat-niat 10:53 seperti ini. 10:54 Dan kadang-kadang 10:56 eh benar tanpa kita sadari itu niat 10:58 kadang-kadang ada di hati kita ya 11:00 Ikhwan. Nah kita bahas satu-satu. 11:02 Pertama almunafasah. 11:05 Almunafasah itu berlomba-lomba. 11:07 Kadang-kadang kita belajar 11:10 biar 11:11 eh 11:12 main siapa yang menang. Bisa debat. Bisa 11:15 debat. 11:16 Masya Allah Bib. 11:17 Saling ngalahin. Wah duluan ane pernah 11:19 dikalahin sama Fulan. 11:21 Udah ane belajar yang giat. Biar apa? 11:23 Biar ane bisa ngalahin dia. Ya. 11:25 Jadi cuma itu niatnya ente? Iya aduh 11:27 masuk dalam perihal ini nih. 11:30 Jadi berlomba-lomba. 11:31 Nah di sini sering kali kita entar eh 11:34 biasanya dikritik, "Eh, bukannya eh 11:37 berlomba-lomba dalam kebaikan itu 11:38 bagus?" He eh. 11:40 Wa ha ka da. 11:41 Al mutanafis, iya kan? Orang yang 11:43 berlomba-lomba. 11:45 Nah, ini dia Bib, ini. 11:48 Bedanya apa, Bib? Bedanya apa? Begini. 11:53 Berlomba-lomba 11:54 itu bagus. 11:55 He eh. 11:56 Tapi 11:58 Fulan contohnya. Fulan sedekah 1.000. 12:01 Wah, ane 12:03 eh sedekah cuma 500. He eh. 12:06 Masa ane kalah? 12:07 He eh. Ane 1.500 deh akhirnya. 12:10 Itu baru yang enggak apa-apa gitu. Kita 12:12 enggak apa-apa ya. Artinya ketika 12:14 teman kita maju selangkah dalam kebaikan 12:17 ya, Iya. 12:18 itu memotivasi kita untuk lebih maju 12:21 dari dia. Oke. Tapi niat kita niat kita 12:24 ketika maju itu lillahi ta'ala. 12:27 Bukan karena untuk mengalahkannya. He 12:29 eh. Nah, ini bagus baru. Tanamannya 12:31 fasah. At tanafus. 12:34 Nah. 12:35 Tapi yang enggak bagus itu hampir 12:36 mirip-mirip ya, hampir mirip. Kalau kita 12:38 maju demi untuk mengalahkannya. He eh. 12:41 Ini enggak enggak bagus. 12:43 He eh. 12:44 Oke, oke, oke. Jadi eh teman kita yang 12:46 maju lebih selangkah itu 12:48 eh itu membuat kita 12:51 termotivasi, ya termotivasikan untuk 12:53 kita juga maju seperti dia. 12:55 Tanpa berharap dia eh kalah, tanpa 13:00 berharap dia 13:01 dihilangkan dari eh hilang nikmat itu 13:03 darinya. 13:05 Itu bahaya itu. 13:07 He eh. Dan ketika kita maju itu eh 13:09 semata-mata lillahi ta'ala. Nah, ini 13:11 baru zain ini, at tanafus yang mahmud, 13:14 wa ha ka da. 13:15 Tapi sering kali ketika orang 13:16 berlomba-lomba itu, dia berharap 13:19 temannya itu terhilangkan darinya nikmat 13:22 yang 13:23 yang itu. 13:24 Itu bahaya itu sudah masuk dalam perihal 13:26 hasad. Sudah ada hasadnya ya? Sudah 13:28 hasad itu karena dia sudah enggak ridho 13:30 sama rezeki orang lain. 13:33 Enggak ridho sama pemberian Allah kepada 13:34 temannya itu kan. Itu itu musykilah itu 13:37 sudah hasad tuh. 13:38 Atau eh dia enggak pengin nikmat itu 13:41 hilang darinya tapi aku ini maju demi 13:45 untuk mengalahkannya bukan lillahi 13:47 ta'ala akhirnya. Nah ini juga enggak 13:48 bagus. 13:53 Nah ini sangat ini sangat dekat 13:55 dekat. Kalau kayak begitu barangkali 13:57 Nah. Ada masuk unsur riya juga Bib ya? 14:00 Artinya dia melakukan sesuatu bukan 14:03 karena Allah subhanahu wa ta'ala. Masuk 14:05 apa enggak Bib? Masuk juga masuk juga 14:07 Bib. Eh betul ketika dia melakukan 14:10 perihal demi manusia ya sudah enggak 14:13 ikhlas berarti. 14:14 Enggak ada ketulusannya. 14:17 Ala kulli hal termasuk munafasah ini Itu 14:19 munafasah. Masyaallah. Nah jadi intinya 14:21 tadi untuk membedakan antara munafasah 14:24 yang mahmudah 14:25 Kalau bahasa hadisnya ghibthah. 14:28 Ghibthah. 14:30 Sama munafasah yang tidak yang tidak 14:32 bagus kalau seandainya eh eh temanmu itu 14:36 Eh lebih maju selangkah darimu Pertama 14:39 engkau tidak merasa 14:41 Eh sumpek dengan itu. 14:43 Enggak merasa risih dengan itu. 14:45 Eh justru engkau termotivasi untuk maju 14:47 juga. 14:48 Ini satu nih syaratnya. Tapi kalau 14:49 seandainya orang sudah mulai sumpek 14:51 Gara-gara temannya menang gara-gara 14:52 temannya lebih maju ini sudah dipastikan 14:54 ada niat yang enggak bagus sudah pasti. 14:56 Walaupun dia ngakunya ana ini lillahi 14:58 ta'ala tetap saja tetap Kesumpekanmu 15:00 atas majunya temanmu itu itu tanda yang 15:04 sangat jelas atas apa namanya cacat 15:07 cacatnya niatmu dalam suatu amal itu. 15:09 Yang pertama dia enggak enggak merasa eh 15:12 risih atau merasa sumpek ketika temannya 15:15 maju. Yang kedua Eh majunya temannya itu 15:18 eh daripada dia eh 15:20 eh apa namanya 15:22 Membuat dia ingin juga untuk maju, 15:24 termotivasikan untuk maju ya. Wahakaza. 15:27 Tapi tanpa berharap hilangnya nikmat 15:30 atau karunia itu atau kemenangan itu 15:31 dari temannya. Tamam. Kalau sudah 15:34 berharap hilangnya ee, kemenangan atau 15:36 nikmat itu dari temannya, ah sudah masuk 15:38 hasad ini. Yang kedua itu. Yang ketiga, 15:41 ee, majunya ketika engkau maju, engkau 15:44 termotivasikan oleh temanmu yang sudah 15:46 maju selangkah darimu, maka engkau maju 15:48 juga. Nah, di sini jadikanlah niatmu itu 15:51 ketika maju lillahi taala. Jangan 15:52 semata-mata karena ingin mengalahkan si 15:54 teman ini. Nah, jadi gitu ikhwan. Jadi 15:56 itu bisa dibedakan antara munafasah yang 15:59 bagus dan munafasah yang tidak bagus. 16:01 Oke, itu pertama. Al-mubaha, al-mubaha 16:03 artinya 16:05 ee, berbanga-banga. Ah. Ini juga 16:09 problem artinya. 16:10 Kadang-kadang ada orang ee, belajar ilmu 16:14 Hehe. 16:15 ee, demi untuk 16:18 dibanggakan orang, demi untuk dia ee, 16:22 merasa dirinya itu besar karena dia 16:24 mempunyai ilmu ini. Heem. 16:26 Ente belajar apa? Ana belajar ilmu, ilmu 16:28 yang jarang dipelajari lah contohnya. 16:30 Atau ilmu yang susah-susah. Oh, ana mau 16:32 belajar ilmu ini, ilmu mantik, ilmu 16:34 logik atau ilmu ushul fikih atau ilmu 16:38 ee, ilmu al-munazharah wal jidal atau 16:40 ilmu sastra Arab yang tinggi maqamatul 16:42 hariri contohnya. Heem. Biar apa? Biar 16:44 lebih 16:46 ee, pede gitu, biar 16:48 mmm, ini ilmu jarang nih. Kalau jadi 16:51 aneh kalau kalau bisa itu jadi kayak 16:53 gimana gitu. 16:54 Itu sudah cacat berarti niatnya ketika 16:56 menuntut ilmu itu, Bib. 16:58 Berbanga-banga gitu, membanggakan 17:00 dirinya atas ilmu yang dia akan gapai. 17:02 Tapi kalau orang zaman sekarang ini 17:04 kadang-kadang sudahlah bismillah, kuliah 17:07 dulu biar S1 dulu, hah biar saya sarjana 17:10 dulu. Nah, itu masuk mubaha enggak, Bib? 17:13 Atau atau mungkin dengan 17:16 talbis lainnya maksudnya membanggakan 17:18 orang tua. Apa itu termasuk dalam 17:20 mubahah gitu? 17:22 Masya Allah. Nah, ini 17:24 khair, Habib. 17:26 Contohnya, ya. Iya. Eee 17:28 demi 17:29 mendapat gelar, contohnya. 17:32 Iya, sebenarnya sih kalau kita mau mau 17:34 kritik, ya. 17:36 Mau lihat ininya, ya, ini kalau 17:38 dikatakan ikhlas 100%, oh, jauh dari 17:41 keikhlasan. 17:43 Wah, gitu. Dapat gelar, enggak dapat 17:45 gelar. 17:46 Ya, engkau belajar. Wah, gitu. Tapi 17:48 hanya saja eee mungkin 17:51 eee aku belajar dari bismillah. Kenapa, 17:53 ya? 17:53 Ya, musykilahnya gini, kalau biar dapat 17:55 S1. 17:56 Nah, itu 17:57 eee problem. 17:58 Tapi kalau seandainya belajar 18:00 eee kalau seandainya dapat S1, ya, bisa 18:02 bermanfaat, insya Allah. Dalam ranah 18:04 dakwahnya. Wah, gitu. Nah, itu lumayan, 18:06 Habib. Jadi, itu bukan suatu target 18:08 untuk mendapatkan S1 atau S2 itu. Kalau 18:10 seandainya kita jadikan target dan kita 18:12 bermangga-mangga dengan gelar itu, nah, 18:14 ini masuk dalam mubahah. Tapi kalau kita 18:16 enggak jadikan target, bahkan kita 18:18 jadikan itu sebagai perantara untuk 18:20 menggapai target yang mulia. Oke. Ana 18:22 pengin dapat S1. Biar apa? 18:24 Enggak apa-apa, ya. Biar orang tua 18:26 senang. Nah, masya Allah, bagus. Eee ana 18:28 pengin dapat S1. Biar apa? 18:31 Biar eee dengan itu aku bisa masuk eee 18:34 ke dakwah, ke tempat-tempat yang 18:36 mensyaratkan harus S1. Contohnya gitu. 18:40 Kalau itu bagus itu sih ya. 18:41 Supaya dapat sanad, gimana, Habib? Eee 18:43 bagus. Supaya dapat sanad. 18:45 Masih musykilah. Itu bukan masuknya 18:47 mubahah gitu. Masya Allah, khair. Tapi 18:49 kalau dia 18:50 berbangga dengan sanad dia begitu. 18:51 Nah, itu dia, Habib. Kalau seandainya 18:53 dapat sanad dan dia merasa ini suatu 18:54 kemuliaan. 18:56 Uh, sanad, ya, Allah. Saya punya 18:58 masya Allah, luar biasa. Kita masuk 18:59 dalam rantainya Rasulullah sallallahu 19:00 alaihi wasallam, sanadnya. Itu suatu 19:02 kemuliaan. Nah, itu bagus. Tapi kalau 19:03 seandainya 19:04 wah, ana biar dapat sanad ini. Nah, 19:06 sanad langka nih di sini. Wah, gitu. 19:09 Eee jadi dan dia membanggakan dirinya 19:11 karena membesarkan dirinya karena dia 19:13 punya sanad itu. 19:13 Oh iya nantinya ya. 19:17 Aduh masya 19:18 Allah. Dan juga nomor tiga takadum al 19:21 akron. Nah ini sering terjadi waktu 19:23 lebaran nih, takadum al akron. 19:24 Waktu lebaran. 19:27 Gimana itu waktu lebaran? 19:29 Bangga-bangga sama di depan 19:30 saudara-saudara begitu. 19:32 Betul Bib ya? 19:33 Ya Allah Bib, ya Allah benar nih. 19:35 Kadang-kadang subhanallah Bib ya. 19:38 Sekian tahun lamanya kita tempuh itu 19:40 yang kita rasa diri kita ikhlas, 19:42 kadang-kadang kebuka kedoknya itu 19:44 pas gini nih, pas benar-benar 19:46 diuji sebenarnya keikhlasanmu 19:48 kemarin-kemarin tuh. Engkau engkau kira 19:50 dirimu ikhlas. Heeh. 19:52 Tahu-tahu pas kita 19:53 ee apa namanya ee nyebutin ee martabat 19:57 ataupun gelar ataupun apa yang ada sama 20:00 diri kita ya gitu 20:02 ee dengan kebanggaan, dengan ee 20:06 ketika teman-temannya atau 20:07 kerabat-kerabatnya nyebutin 20:09 ini sini sini sini ini kita kita kita 20:11 juga akhirnya nyebutin gini-gini, itu 20:12 kadang-kadang 20:14 membuat kita berpikir kembali, berarti 20:17 ane kemarin tuh ikhlas enggak ya? Heeh. 20:19 Iya iya. Iya. 20:20 Kenapa harus 20:22 kayak gini? Kenapa harus butuh pengakuan 20:24 begitu? 20:25 Betul. 20:26 Masya Allah antum, masya Allah antum 20:28 juga. Kenapa harus apa namanya 20:30 ee ketika orang nyebutin bahwasanya dia 20:33 pernah belajar di sini di sini di sini 20:34 sekian tahun 20:37 ane juga nyebutin deh Heeh. ane belajar 20:39 di sini di sini sekian tahun juga demi 20:41 seakan-akan mengalahkan orang yang tadi 20:44 menyebutkan ee ceritanya gitu. Heeh. 20:46 Main hebat-hebatan deh kalau bahasa 20:48 kasarnya, main hebat-hebatan. 20:49 Iya iya. Itu berarti cacatnya bukan 20:51 sekarang, enggak cacatnya dari awal. Ya 20:54 Allah. Cacatnya dari awal ketika engkau 20:55 menuntut ilmu itu ada ee suatu penyakit 20:58 yang terpendam di hati. 21:00 Wahai ente sekarang baru sadar. 21:02 Berarti enggak ikhlas itu kemarin tuh, 21:04 enggak sempurna keikhlasannya. 21:06 Kalau seandainya sempurna keikhlasannya, 21:08 ini enggak bakal risih dengan 21:09 teman-teman yang menyebutkan 21:10 manaqib-manaqibnya itu. 21:12 Manqobah-manqobahnya ya, derajatnya atau 21:14 gelarnya. 21:16 Dan 21:16 bagimu Nah, gini juga contohnya. Contoh 21:20 ini luar biasa, patokan yang ajib ajib 21:22 ajib. Nah. 21:24 Ada seorang punya gelar contohnya, entah 21:26 S1 entah S2 atau apalah. 21:29 Atau gelar yang di belakang itu apa 21:30 namanya? LC atau Betul. Eee apa ya? 21:34 SP S S.Sos SPd atau Kalau ana S.Sos 21:38 S.Sos? Apa S.Sos itu? Sarjana Sosial. 21:41 Sosial. 21:44 Ada yang PhD. PhD contohnya ya. Dan lain 21:47 sebagainya. Nah, itu kan gelar tuh, oke. 21:49 Heeh. Sebenarnya musykil-musykil ada 21:50 disebutkan atau enggak disebutkan, raih 21:52 musykilah. 21:53 Atau ketika orang belajar sekian tahun 21:55 contohnya di luar sana. 21:57 Atau belajar di luar negeri atau enggak. 21:58 Nah, ketika 22:00 itu tidak disebutkan 22:02 atau salah penyebutannya 22:05 bergerak enggak hatinya? Iya juga sih. 22:08 Contoh gini. 22:09 Pas orang ini ini kita akan mendengarkan 22:11 nasehat dari fulan bin fulan, yang mana 22:13 fulan bin fulan ini 22:15 contohnya orang itu pernah belajar di 22:16 luar di luar negeri 6 tahun, disebutkan 22:19 yang pernah beli dia ini pernah belajar 22:21 di luar negeri 2 tahun. Nah, bergerak 22:23 enggak hatimu? 22:24 Kok 2 tahun kan 6 tahun. 22:25 Nah, anjir 6 tahun. Nah, itu biasanya 22:28 tuh. 22:29 Nah, gitu. 22:31 Iya kan ya, atau sebenarnya dia punya 22:33 apa namanya PhD PhD PhD 22:35 PhD tapi disebutkan cuma S1. 22:37 PhD delivery bukan? 22:41 Oh, itu beda beda ya. 22:43 PhD PhD maksudnya. 22:46 Filosofi 22:47 Filosofi apa sih? 22:49 Begitulah pokoknya. 22:50 Duh, kebodohan ini. Nah, ketika apa 22:52 namanya ketika gelarnya yang tinggi 22:54 enggak disebutkan dan justru disebutkan 22:55 gelarnya yang di bawah itu ayo gerak 22:57 enggak hatimu? 22:59 Nah, nah itu menguji apa menguji 23:01 keikhlasan kita ya, Ikhwan. Menguji 23:03 keikhlasan kita dalam menuntut ilmu, 23:04 hal-hal yang seperti itu. 23:06 Atau enggak disebutkan gelar sama 23:07 sekali. 23:08 Enggak disebutkan gelar ustaznya atau 23:10 kiai-nya atau habibnya atau enggak 23:12 disebutkan juga buntut-buntutan yang di 23:14 belakang itu, fulan bin fulan, deh. 23:15 Contohnya gitu. Nah, itu 23:19 Ya, sebenarnya berat sih, Bib, ya. 23:21 Berat, tapi ini harus di harus kita 23:23 harus jujurlah kita sama diri kita 23:25 sendiri. Ane sudah ikhlas belum? Kenapa 23:27 kok ane risih, ya? Kenapa ane marah? 23:30 Karena ane belajar sekian tahun di sana 23:32 atau di sini belajar ini dapat itu bukan 23:35 karena pengin disebutin orang. Ngaji. 23:37 Orang tahu enggak tahu 23:39 bukan tujuan ane itu emang. Yang ane 23:41 tuju adalah keridaan Allah, hidayat, 23:43 contohnya. Yang sudah ane gapai atau ane 23:46 sedang menempuhnya untuk menggapainya. 23:47 Yang kayak gini-ginian disebutin orang, 23:49 dipandang atau enggak dipandang ini 23:51 jangan dihiraukan. Ketika kita ada 23:53 melirik perihal ini, berarti ini 23:55 menandakan bahwasanya dari dulu emang 23:56 engkau ini tujuanmu, contohnya. 23:58 Buktinya sekarang tersinggung ketika 24:00 enggak enggak disebutkan. 24:03 Atau mungkin barangkali apakah ada yang 24:06 tidak tuntas waktu dia menuntut ilmu? 24:09 Karena kan seharusnya ilmu itu memberi 24:11 cahaya kepada seseorang. 24:13 Sehingga yang begini-begini itu sudah 24:15 harusnya 24:16 terasa sepele begitu. 24:18 Oh, jamil, Bib. Masya Allah, antum. 24:19 Jamil jiddan. 24:21 Ini sebenarnya menandakan eh tidak 24:24 tuntas. 24:25 Bukan arti tidak tuntas tidak tidak 24:26 tidak selesai sampai tamat, ya. Tidak 24:28 tuntas artinya ada cacat cacat ketika 24:30 pola dia dalam menuntut ilmu. Wahakaza. 24:33 Walaupun mungkin dia sudah tamat, tapi 24:34 sebenarnya ilmu yang engkau cari itu 24:36 yang engkau dapatkan, ya, mungkin 24:37 sebatas ilmu zahir saja. Enggak menembus 24:40 sampai ke hati. 24:41 Kalau seandainya ilmu itu sampai ke 24:43 hatimu dan itu ilmu berupa cahaya, pasti 24:45 dia akan menghilangkan niat-niat yang 24:47 tidak baik ini. 24:49 Berarti tanda bahwasanya ketika dia 24:51 menuntut ilmu, dia hanya mementingkan 24:52 ilmu yang zahir saja tanpa mementingkan 24:55 ilmu yang batin, wahakaza. 24:56 Atau memang dari awal niatnya dalam 24:58 menuntut ilmu tidak bagus. Ehm. Nah, 25:00 makanya di sini Imam Ghazali ehm 25:03 nyebutin ini di awal. 25:04 Nyebutin ini di awal. Jangan sampai 25:06 sudah jalan panjang lebar, sudah capek 25:08 sekian tahun, tahu-tahu ketahuan hampa 25:10 semua semua itu. Makanya dari awal kita 25:12 benahin ayo, Anji. Anji. 25:14 Atau mungkin enggak, Bib, karena Ehm. 25:17 gurunya enggak rida. 25:19 Oh, bisa jadi ininya jadi muncul. 25:22 Lailahaillallah 25:22 Gurunya enggak rida nih, anak. Kenapa 25:24 sih maksudnya? Artinya dalam Ada satu 25:27 adab atau akhlak dari muridnya ini ke 25:29 gurunya yang enggak yang enggak benar. 25:32 Kemudian ya sudah diterusin saja karena 25:34 itu toh gurunya merasa ada tanggung 25:36 jawab. 25:37 Kemudian setelah lulus timbul nih 25:39 penyakit-penyakit ini Iya, karena karena 25:42 ada gurunya yang enggak rida. yang tidak 25:44 rida. 25:44 Iya, kariyah, kariyah. Bisa jadi ya, 25:46 Bib. Memang itu di antara sebab musabab, 25:48 di antara salah satu penyebab ehm enggak 25:51 berkahnya ilmu. Ehm. Iya, kan. Ehm. Nah, 25:53 seorang guru bilamana tidak meridai 25:55 muridnya 25:57 ehm ya kasihan sih sebenarnya murid itu. 25:59 Nah, itu berarti nanti walaupun husnunya 26:02 menjadi ulama besar tapi tetap saja 26:03 ilmunya enggak berkah. Ehm. Kurang 26:05 manfaat. Mungkin bisa jadi orang bisa 26:07 mengambil manfaat darinya tapi dia 26:09 sendiri hancur dalam dirinya sendiri, 26:11 wahakaza. Tidak bisa mengambil manfaat 26:13 dari ilmu yang dia miliki itu. 26:15 Nah, yang keridaan seorang guru itu 26:17 penting. Ini gini ehm 26:19 keridaan orang tua penting juga 26:21 ehm sama seperti itu juga keridaan 26:23 seorang seorang guru, wahakaza. 26:25 Anji. Nah, kalau gurunya rida ehm 26:29 walaupun ilmu yang dimiliki murid itu 26:30 sedikit tapi gurunya rida 26:33 nah, itu ilmu akan menjadi 26:35 barokah dan banyak dan ditambahkan oleh 26:38 Allah Ta'ala al ladunni darinya, 26:40 wahakaza. Karena 26:42 keridaan seorang guru tadi. 26:43 Lailahaillallah. Lailahaillallah. Tayib. 26:46 Nah, juga, Bib, wastimatu wujuhinnasi 26:48 ilaik, sama juga. 26:50 Istimatu wujuhinnasi ilaik, istimatu 26:53 artinya perhatianlah kalau bahasa kita 26:54 sekarang. 26:55 He em, betul. Mencari kecenderungan 26:57 muka-muka manusia kepadamu artinya cari 26:59 perhatian. 27:00 Ini sekarang ini ada bentuk barunya nih 27:03 Bib, mencari perhatian. 27:04 Mencari eksposur. 27:07 Cari apa eksposur itu di media sosial 27:11 itu mencari view. Mencari view ya Allah. 27:13 Nah, kalau YouTube itu banyak-banyakan 27:16 view. Iya luar biasa. 27:18 Kalau Instagram banyak-banyakan sharing. 27:22 Atau banyak-banyakan komen. 27:24 Dan ini bisa dijual Bib ke brand. Iya 27:26 luar biasa, oh gitu ya. 27:28 Bisa dijual, 27:29 bisa dijual. 27:31 Artinya banyak-banyakan 27:33 minta dilihat orang begitu Bib ya kurang 27:35 lebih. Ini luar biasa Bib, kita bahas 27:38 masalah ini Bib ya dengan dengan penuh 27:41 rasa sedih sebenarnya dengan penuh rasa 27:43 sedih dan prihatin. He em. Betul Ikhwan, 27:45 kalau seandainya kita bahas dengan pola 27:47 lama artinya mencari perhatian ketika 27:49 orang belajar. 27:51 Dan niatnya dalam menuntut ilmu itu demi 27:53 untuk mencari perhatian dari fulan atau 27:55 fulan, dipandang oleh fulan atau fulan. 27:58 Wa ha kaza, 27:59 dulunya contohnya dulunya dia melamar 28:02 anak orang. Iya. Ditolak lamarannya. He 28:04 em. Gara-gara enggak begitu punya ilmu 28:07 akhirnya belajar dengan giat demi untuk 28:09 menjadi pandang. He em. He em. Bukannya 28:12 dia melamar semestinya dia dilamar 28:14 contohnya gitu wa kaza, itu kan sudah 28:16 mulai untuk mencari perhatian orang. 28:18 Oke, itu kan yang sangat-sangat jelas. 28:20 Iya. Tapi kadang-kadang begitu juga Bib, 28:22 kadang-kadang. 28:23 Ketika engkau menyebarkan ilmumu wa ha 28:25 kaza. 28:26 Ini ada beberapa cara yang dengannya 28:29 engkau mengetahui ada cacat. Bukan cuma 28:33 sekarang dari awal ketika engkau 28:34 menuntut ilmu itu enggak ikhlas. He em. 28:36 He em. Kayak tadi contohnya. 28:38 Mulai masuk dalam sosial media. 28:41 Dengan niat berdakwah kan ya, memposting 28:44 satu dua. Alhamdulillah ada yang 28:46 melihat, oh nikmat senang tuh, bagus. 28:48 Salah enggak salah, bagus, bagus banget, 28:50 terus banyak melihat. 28:52 Tapi 28:54 kalau sudah 28:56 membanding-bandingkan antara postinganmu 28:58 dengan postingan orang lain 29:00 iya kan, berapa yang view-nya. 29:03 Iya kan. 29:04 Atau 29:06 materi yang ini bagus tapi kok sedikit 29:08 yang lihat, nah ini juga sudah mulai 29:10 nomor dua nih. 29:12 Iya iya benar. Iya kan. 29:15 Itu sudah berarti ada cacat, bukan hanya 29:16 sekarang, bukan hanya dalam menuntut, 29:17 dalam menyebarkan dakwah, kagak berarti 29:19 dari awal engkau menuntut ilmu. 29:22 Kalau seandainya engkau ikhlas dalam 29:23 menuntut ilmu pasti dalam penyebaran 29:26 ilmu itu engkau akan ikhlas, dengan 29:27 segala cara kita ambil cara, 29:29 nah ketika kita mengambil segala cara 29:31 untuk menyebarkan ilmu itu 29:33 hanya semata-mata untuk penyebaran ilmu 29:35 itu, tanpa 29:36 ada untuk cari perhatian orang. 29:41 Rasa senang karena dilihat orang itu 29:43 pastilah 29:44 ada rasa oh alhamdulillah manfaat ilmu 29:46 ini. Bagus, yang lihat sekian, 29:48 alhamdulillah. 29:50 Tapi kalau seandainya sudah mulai tadi 29:51 Bib 29:52 fulan bin fulan, oh yang lihat fulan, 29:54 yang lihat sekian, materinya biasa-biasa 29:55 saja. 29:57 Nah mulai membandingkan nomor, nomor 29:59 antara ini antara itu. 30:01 Itu sudah sudah sudah perlu break 30:04 sebenarnya Bib, oh ini berarti hati-hati 30:06 nih. 30:07 Tahan dulu sebentar benahi dulu niatmu. 30:11 Kalau engkau lanjutkan ini bahaya Bib, 30:13 kebablasan dan banyak orang 30:16 tak tanpa disadari masuk dalam sifatnya 30:18 ulama su. 30:20 Walaupun dalam perihal posting-postingan 30:21 saja. 30:22 Naudzubillah min dzalik. 30:26 Ya Allah ya Allah ala kulli hal 30:28 ujiannya berat Bib ya. Ala kulli hal 30:35 mengumpulkan harta dunia, nah tadi kan 30:37 yang yang Habib bilang tadi 30:40 dapat brand dan bisa begitu 30:43 dijual lah. 30:43 Dijual. 30:43 Benar sih intinya entar kalau nah 30:46 niat-niat yang kayak gitu entar intinya 30:47 pasti ujung-ujungnya entar ke dunia. 30:50 Mmm. 30:51 Bukan cuma harta dunia yang zahir saja. 30:53 Eee. 30:54 Penghormatan orang itu masuk dalam 30:56 kategori dunia. 30:57 Betul. Wahai kita dihormatin. 31:00 Terkenal, tenar. 31:03 Viral itu masuk dalam kategori dunia. 31:05 Iya iya. Kadang-kadang orang eee dia 31:07 enggak peduli eee ada ada harta atau 31:09 enggak ada harta. Bukan itu yang dia 31:10 cari, tapi ketenaran yang dia cari. Itu 31:12 masuk juga sama juga nyari dunia 31:14 sebenarnya. Atau kursi. Ah bisa jadi 31:17 kursi contohnya. Itu sama juga dalam 31:19 perihal dunia. 31:20 Iya iya wahai kita. 31:21 Wah ini panjang lagi bahasannya. Panjang 31:23 bahasannya. 31:25 Ada orang yang mendekati pemilihan 31:28 tiba-tiba jadi ustaz. 31:31 Lailahaillallah. Lailahaillallah. 31:33 Macam-macam ya Bib ya. Iya iya 31:35 masyaallah. 31:36 Nah juga seperti ini seperti ini Bib. 31:40 Ini maafilah kita bahas sedikit ya tapi 31:41 sangat-sangat 31:43 aduh sangat pilu hatinya mendengarnya. 31:46 Tapi al kulli hal 31:48 eee diantara makna jamaah hutam dunia 31:51 mengumpulkan, mencari harta dunia. 31:54 Orang kalau mau nyari dunia silakan 31:57 mencari dunia enggak ada salahnya kok. 31:59 Dan bagus engkau mencari dunia itu demi 32:01 untuk menjaga kehormatanmu sehingga 32:03 engkau tidak minta-minta. Carilah dunia 32:05 tapi dengan dunia juga. 32:08 Gitu. Cari dunia dengan dunia. Kerja. 32:11 Gitu. Mencari dunia dengan dunia. 32:13 Yang musykilah di sini ya kan dia jamaah 32:16 hutam dunia mencari mengumpulkan harta 32:18 dunia. Dengan apa? Dengan ilmu. Wah ini 32:20 bahaya. 32:22 Ini sangat-sangat bahaya Bib. 32:25 Dan ini 32:26 eee ada orang jadi 32:28 ini eee contohnya ya dia belajar. 32:31 Belajar belajar belajar belajar. 32:33 Dapat S1 kerja dia kan. Heem. Kerja. 32:36 Dengan gaji sekian. Iya. 32:39 Apa yang dilakukan? Dia belajar lagi. 32:41 Belajar, belajar, belajar, belajar, 32:43 belajar. 32:44 Buat apa? Buat dapat S2. Oke, kalau 32:47 dapat S2 mah kenapa? Biar gajinya lebih 32:50 tinggi. Nah, ini berarti masuk dalam 32:52 kategori jama' hutami dunia. 32:54 Na'udzubillah min dzalik. 32:56 Ya, semua orang kayak gitu. Enggak semua 32:58 orang kayak gitu. 33:00 Ini di antara contoh niat yang buruk. 33:02 Dia belajar demi 33:04 ee gaji naik. 33:06 Bila mendapatkan gelar itu. 33:08 Sudah masuk di sini, Ikhwan. 33:10 Atau dia belajar demi entar 33:14 ee kalau bahasa kasarnya tarifnya 33:16 tinggi. Oh, itu sudah kacau balau, 33:19 Habib. Sangat kacau itu. Ya Allah, sedih 33:21 kita. Dan ini 33:22 kan itu kan suatu suatu problem. Lebih 33:24 problem lagi ketika itu sudah menjadi 33:26 budaya dan dipandang biasa. Iya, betul. 33:29 Ini, waduh, problem yang ini lebih besar 33:32 daripada problem niat yang buruk tadi. 33:34 Sedang merubah budaya atau pola pandang 33:36 seseorang. Jadi, ketika orang ee 33:39 mendengar tarif 33:41 sudah dimaklumin dan itu biasa dan 33:43 normal. 33:44 Ini suatu problem besar ini. Iya, iya. 33:46 Shollu 'alannabi, shollu 'alannabi. 33:47 Allahumma sholli 'ala. 33:48 Allahumma sholli 'ala. 33:49 Iya, iya. Terjadi, Bib, soalnya. Ya, 33:51 bukan terjadi lagi, Bib. Sudah menjadi 33:52 kayak budaya di sebagian umat. 33:54 Bahkan guru-guru untuk bisa menjadi 33:58 diangkat menjadi pegawai negeri, kalau 34:01 dia punya sertifikat banyak Hmm. 34:05 lebih mudah. Nah, itu kalau kita nanti 34:07 ngambil sertifikatnya. Hmm. Artinya 34:09 ngambil ilmu terus ngambil ngambil 34:12 ilmunya, seminarnya karena sertifikat 34:14 kan masuk ke situ. 34:16 La ilaha illallah, makanya bahaya itu. 34:19 Berat, ya? Berat, berat, berat. Itu 34:21 enggak bisa dipungkiri dan banyak 34:22 terjadi, Ikhwan. Banyak terjadi. Makanya 34:24 di sini Imam Ghazali mulai dengan niat 34:26 ini. 34:27 Ala kulli hal. Jadi, waktu belajar 34:30 jangan jangan engkau niatkan untuk 34:32 mendapatkan sertifikat 34:33 yang dengannya engkau bisa bertambah 34:36 gajimu iya itu mah 34:38 sayang banget yang sebenarnya dengan 34:40 ilmu itu engkau bisa jadikan sarana dan 34:43 tangga engkau bisa lebih dekat kepada 34:45 Allah dan semua dunia akan datang 34:47 kepadamu tenang saja hmm Allah kata 34:49 iya itu 34:50 oke 34:52 perihal tadi jamaah khotami dunia tadi 34:53 kan kita bahas masalah tarif bib ya 34:55 masalah tarif naudzubillah min dzalik 34:56 ada beberapa orang yang 34:58 mentarifkan dirinya gitu hmm 35:01 ada lagi yang lebih parah lagi 35:03 kok mahal iya ane mondok dulu mahal oh 35:05 gitu 35:06 kita dengar itu langsung kayak mau benar 35:08 kayak mau 35:09 mau pingsan 35:12 jadi 35:14 jadi kok ya Allah jadi ente pandang nih 35:16 yang namanya mondok atau belajar itu 35:18 kayak kerja gitu itu modalmu sehingga 35:20 engkau harus mendapatkan keuntungan 35:22 lebih dari modal itu jadi ente 35:24 modali itu untuk mendapatkan dunia ini 35:26 targetmu ya Allah bib itu 35:29 ya itu terjadi itu ada yang kayak gitu 35:32 kan naudzubillah min dzalik 35:34 jadi nah timbul pertanyaan di sini emang 35:37 salah masang tarif jawabannya iya salah 35:39 iya 35:40 enggak bisa di iya enggak enggak enggak 35:41 enggak salah 35:43 absolut salah 35:44 begitu 35:47 soalnya bib Allah Allah Allah 35:49 karena mungkin dia bisa harusnya dia 35:51 bisa dapat lebih dari itu ya maksudnya 35:53 lebih dari tarif yang dia dapatkan 35:56 artinya ya itu keridhoan Allah subhanahu 35:58 wa ta'ala ini kan yang kita kan kita 36:00 bahas dalam perihal dakwah ini dalam 36:02 perihal dakwah dan dalam perihal belajar 36:04 ilmu ya hmm 36:06 ya 36:06 engkau menyebarkan dakwah itu suatu 36:08 karunia yang besar dari Allah ta'ala 36:11 orang ngasih atau enggak ngasih 36:14 jangan kau pandang jangan bahkan jangan 36:17 kau lirik apalagi engkau benar-benar 36:19 fokus masalah itu 36:20 ya Allah jangan 36:22 eh 36:23 itu kalau dikasih ya emang salah kalau 36:25 kita menerima dari orang jawabannya 36:27 enggak salah. Jadi yang salah itu bukan 36:29 menerima atau tidaknya Bib. 36:31 Yang salah itu lirikkan hati kepadanya, 36:33 ini yang salah. 36:35 Iya iya iya. Kalau hatimu tidak melirik 36:37 itu benar, baikpun engkau menerima atau 36:39 tidak. He em he em. Ya sama aja. 36:41 Buktinya apa? Begini, untuk kita jujur 36:43 ya, benar jujurnya. Ee kalau seandainya 36:46 kita 36:47 entah ceramah entah ngapainlah gitu ya. 36:49 Semestinya dikasih, eh lupa panitia 36:52 enggak dikasih contohnya ya. He em. Nah, 36:54 bergerak hati Itu uji ujiannya itu ya. 36:56 Itu di situ diuji. Di ngertiin, 36:58 dikode-kode Bang. 37:01 Kan dikode-kode. Atau contohnya, dikasih 37:04 tapi enggak seberapa, salah amplop 37:05 contohnya. He em he em. Di sini ayo 37:08 bergerak enggak hatimu? Diuji tuh 37:09 keikhlasan tuh. 37:11 Anjir. Begitu. 37:13 Itu berat Habib, ini cacatnya kalau 37:15 seandainya ada gerak pergerakan hati, 37:17 berarti cacatnya bukan karena bukan pada 37:19 dakwah saja, enggak dari awal engkau 37:21 menuntut ilmu itu terbukti bahwasanya 37:23 telah cacat semua itu. Buktinya enggak 37:26 enggak beres ini sekarang nih. Wah kayak 37:28 gitu. Jadi gimana? Sampaikanlah ilmu, 37:30 sampaikanlah syariat Rasulullah demi 37:32 Rasulullah. Nah gitu. Naam. Engkau 37:35 menyampaikan syariat itu sudah karunia 37:36 yang besar dari Allah Ta'ala, iya kan? 37:38 Iya iya. 37:39 Nah. 37:40 Orang ngasih atau enggak ngasih. Nah, 37:41 jadi gimana cara ngobatinnya Bib ya? 37:43 Ini kan sudah menjadi nah begini, emang 37:45 cara ngobatinnya enggak mudah, 37:46 satu-satu, pelan-pelan. 37:48 Bukan berarti ane enggak nerima 37:51 ee hadiah, itu kadang-kadang juga 37:53 problem. 37:54 He em he em. 37:55 He em. 37:56 Gini, 37:57 Ar-Raddu 38:00 Li Syuhrah 38:02 Asyadd 38:04 Min Al-Akhdz Bi Syahwah katanya. 38:07 Ada orang Nah, contohnya ya, contohnya 38:09 ada orang nargetin gitu, dia ngambil 38:11 dengan syahwatnya, ngambil. 38:13 Itu kan buruk-buruk jelas, tapi lebih 38:15 buruk lagi kalau seandainya dia menolak 38:16 demi tenar. 38:19 Demi orang tahu, wah ini enggak nerima. 38:21 ini 38:21 nih enggak nerima nih. Dan itu yang dia 38:23 cari, ketenaran itu. Iya, iya, iya. Eh, 38:25 kalau begitu mendingan ente ambil. He 38:26 eh. Ambil. Ente ambil dengan syahwatmu, 38:29 daripada engkau menolak demi ketenaran. 38:31 Anjrit. 38:33 Nah, sama juga. Yang yang yang salah itu 38:35 bukan karena nolak-nya, atau bukan 38:37 karena ngambil-nya, enggak. Yang salah 38:39 hati melirik, itu yang salah. He eh. 38:43 Begitu, Habib. He eh. Ala kulli hal. 38:45 Nah, jadi gimana cara mengobati-nya? Di 38:46 antaranya 38:48 masih musykilah, sampaikanlah dakwah itu 38:50 dengan baik, belajar dengan ikhlas. 38:52 Ada orang ngasih tanpa engkau lirik 38:56 istisyraf kalau bahasa dalam hadis-nya 38:58 kan, min ghairi istisyrafin nafsin. 39:00 Tanpa ada istisyraf, tanpa ada lirikan, 39:02 ya ambil, itu barakah dari orang-orang 39:04 wa hadza. Masih musykilah. 39:06 Nah, untuk 39:07 melatih keikhlasan lagi, gini biasanya. 39:11 Kalau seandainya ente dikasih nih, 39:12 dikasih orang hadiah gitu. He eh. 39:15 Latihan ayo, latihan. Gimana? 39:17 Kasih ke orang lain lagi, gitu. Apa yang 39:18 kau dapatkan itu. He eh. Tanpa membuka 39:21 apa isinya. 39:22 Paham Nabi? Allahumma shalli alaihi. 39:24 Paham saya di? 39:26 Itu latihan-nya begitu. Latihan-nya 39:27 begitu, latihan-nya begitu. 39:29 Latihan-nya begitu. 39:30 Dan kalau bisa, kalau bisa jangan pernah 39:33 membuka apa isinya dalam itu. He eh. 39:35 Jangan pernah membuka. 39:37 Ente kasih, ente punya asisten kek yang 39:39 orang yang terpercaya, atau ente punya 39:41 istri kek, atau apalah. 39:43 Biar dia yang memanage. Oh. 39:45 Ente sampaikanlah dakwah lillahi taala. 39:46 Dikasih enggak dikasih bukan urusan. 39:47 Iya, iya. Paham? Lillahi taala. 39:50 Orang ngasih, eh, ane enggak mau tahu. 39:52 Ini jangan sampai mencoreng 39:53 keikhlasan-ku 39:55 dalam belajar atau mengajar, dalam 39:56 berdakwah. Biar fulan yang memanage 39:58 semuanya. 39:59 Entah istri-nya kah, atau asisten-nya 40:01 kah, orang yang jujur tapi. Wa hadza, 40:03 atau enggak bisa juga, ya masih 40:05 musykilah, masih musykilah, masih 40:05 musykilah. Eh, jangan menghitung apa 40:08 yang di dalamnya. 40:09 Eh, dan sering-sering 40:11 eh, kasih hadiah ke orang lain apa yang 40:13 kau dapatkan. He eh. Yang masih disegel 40:15 itu, kasih ke orang lain. 40:18 Nah, itu bisa melatih keikhlasan kita 40:20 dalam berdakwah. 40:22 Dan benar keikhlasan berdakwah itu 40:24 hasil daripada keikhlasan masa dia 40:26 menuntut ilmu. Dan juga sebaliknya. 40:29 Shollu 'alannabi. Allahumma sholli 40:30 'alaih. Jadi, 40:32 ya, jadi begitulah Bib. Jadi, ya Allah 40:35 ini 40:36 eh semoga Allah Ta'ala memberikan kita 40:38 semua hidayah ya ini insya Allah ikhwan. 40:39 Jadi, bisa lebih memilih lebih benar wa 40:41 ha kadza. 40:42 Dan ini eh minta maaf banget ya Faqir He 40:45 em. He em. 40:46 Eh dan memang eh eh menurut al Faqir dan 40:50 dan yang kita lihat memang perihal 40:53 eh memasang target dalam berdakwah itu 40:55 perihal yang salah dan tidak mungkin 40:57 dibenarkan dengan alasan apapun. 41:00 Wa ha kadza. Sampaikanlah dakwahmu, 41:01 ilmumu lillahi Ta'ala. Tenang tenang aja 41:05 dunia bakal bakal berlari mengejarmu. 41:07 Yang penting ente jangan ngejar dunia. 41:09 Kalau ngejar dunia enggak bakal datang 41:10 dia. Wa ha kadza. 41:12 Dunia bagaikan bayangan. 41:14 Bayanganmu. Kalau mengejarnya sendiri, 41:16 dia akan kabur. Tapi kalau engkau kabur 41:17 darinya, dia akan mengejarmu. 41:19 Oke. Jadi, kembali ke mana Bib? 41:23 Ya Allah ke niat-niat yang buruk tadi. 41:25 Ini kan contoh-contoh niat yang buruk. 41:26 Maka, sucikanlah kata beliau. Kalau 41:28 seandainya benar engkau mengakui ini ada 41:31 dalam tujuanmu ketika engkau belajar, 41:33 maka ini bahaya. Engkau sekarang dalam 41:35 bahaya yang besar. Fa anta sa'in fiha 41:37 dimiddinik. Sekarang sekarang ini engkau 41:39 dalam perjalanan untuk menghancurkan 41:41 agamamu sendiri. 41:42 Kedoknya sih bagus belajar walaupun itu 41:44 belajar ilmu syar'i ya, menghafal 41:45 Alquran kah, menghafal ini, menghafal 41:46 itu, segala macam. 41:48 Uh, dalam perihal Alquran 41:50 wow, banyak lagi ceritanya Bib. 41:53 Banyak lagi keluhan-keluhan. 41:55 Menjadi qari yang baik gitu seandainya 41:57 uh keren gitu ya. Biar apa? Itu kan. 42:00 Adakah perihal dunia yang dicari? Itu 42:02 sama juga. Belajar qiraat ini, qiraat 42:04 itu. Belajar lahan ini, lahan itu, 42:06 segala macam. Biar apa? 42:08 Iya. Ya, semoga Allah Ta'ala yahdil 42:11 jami'a. Tuh. Kalau seandainya itu engkau 42:14 mengakui bahwasanya ini adalah betul ada 42:16 pada dirimu, maka secepat mungkin 42:19 bersihkan, karena 42:21 selagi itu masih ada, sekarang engkau 42:23 dalam perjalanan untuk bukan membela 42:25 agama Allah, justru sebaliknya engkau 42:27 menghancurkan agama Allah yang ada pada 42:29 dirimu. Wailah nafsi, membinasakan 42:31 dirimu, dan seakan-akan engkau menjual 42:34 akhiratmu yang maha luar biasa itu 42:36 engkau jual dengan dunia enggak ada 42:38 harganya. 42:39 Jelas ini perniagaan barter yang 42:42 yang sangat merugikan. 42:47 Itu ilmu yang engkau diberikan kepadamu 42:49 berupa Alquran ataupun hadis ataupun 42:52 ilmu fikih ataupun ilmu ilmu syariat, 42:54 ilmu yang indah itu itu adalah warisan 42:56 Rasulullah yang sangatlah mahal 42:58 sebenarnya. 43:00 Sangat-sangat mahal, enggak bisa 43:01 dihargai dengan sekian 43:04 angka nominal angka, enggak bisa 43:06 dihargai itu Ikhwan. Salah ketika kita 43:08 menghargai 43:09 ini dengan ini, ini harganya sekian, 43:11 salah besar sudah. 43:13 Seandainya dunia dan dan seisinya engkau 43:15 dapatkan 43:16 apa namanya karena ada ilmu sedikit 43:20 daripada ilmu itu, itu belum seberapa 43:21 dunia dan dan seisinya dibanding 43:23 kemuliaan ilmu yang engkau miliki. Maka 43:25 jangan jangan jangan engkau peruntukkan 43:28 ilmumu itu untuk dunia ini, ya. 43:31 Ya, rugi banget dan sangat rugi Bib. 43:33 Apa namanya, semestinya ilmu itu untuk 43:35 apa? Engkau korbankan ilmu itu untuk 43:38 keridhoan Allah, kedekatan dengan 43:39 Rasulullah. 43:40 Senyuman di mukamu, nah itu yang 43:42 semestinya engkau korbankan ilmu itu 43:44 untuknya. 43:45 Tujuanmu itu. 43:47 Kalau dunia ya Allah, ini dulu dibilang 43:49 gini Bib. 43:51 Apa namanya? 43:52 Eee 43:55 Perihal akhirat dan dunia contohnya. 43:58 Kan Syekh Misal yang pernah berkata 44:01 kalau seandainya 44:02 akhirat itu bagaikan kayu 44:05 tapi yang 44:06 kekal 44:09 dan dunia bagaikan 44:11 emas 44:12 tapi yang fana 44:14 nggih 44:15 Syekh Fulan 44:16 ente pilih salah satu dari dua 44:19 ane kasih pinjam ente rumah yang mewah 44:22 emas 44:23 tapi cuma setahun ya habis itu ente 44:25 ngegembel deh he em enggak ada rumah 44:27 atau ane kasih ente rumah yang sederhana 44:29 kayu tapi selamanya 44:32 ente sama keturunan ente 44:34 nah ayo bagaimana 44:37 katanya orang yang berakal pasti akan 44:38 milih rumah yang kayu yang kayu 44:41 karena selamanya dia akan tinggal di 44:42 situ daripada rumah yang bisa dinikmatin 44:44 satu tahun habis itu enggak punya rumah 44:47 sama sekali selamanya 44:47 he em he 44:48 ini kalau seandainya bagaimana kalau 44:50 seandainya 44:52 yang dikasih pilihan itu kayu 44:55 yang sementara ane kasih ente pinjam 44:57 rumah yang kayu sementara setahun habis 44:59 itu ente ngegembel enggak punya rumah 45:00 lagi atau ente pilih emas rumah yang 45:03 megah dan selamanya itu sama keturunan 45:04 ente ini jelas jelas orang pada milih 45:06 ini semua 45:07 iya betul begitulah perihal akhirat sama 45:08 dunia 45:10 dunia sementara sudah tidak seberapa 45:12 banding dengan akhirat enggak 45:14 enggak bisa dibandingkan jauh banget 45:16 begitu ya kan 45:17 dan ini sementara dan akhirat kemegahan 45:20 yang luar biasa dan kekal 45:22 masa iya sih ente itu sudah dapat 45:24 akhirat yang kekal yang luar biasa ini 45:26 ente jualkan demi mendapatkan dunia yang 45:28 hina yang sementara itu kan aneh 45:31 ente punya emas 45:32 30 kg he em begitu 45:35 ente jualkan dengan apa 45:37 mending kalau seandainya dengan kayu 45:39 mending itu masih masih oh itu enggak 45:41 waras tuh benar enggak waras tapi yang 45:43 yang yang lebih enggak waras lagi 45:45 itu orang jualkan emasnya dengan kotoran 45:48 he dengan kotoran kambing malahan 45:50 he 45:51 ini benar-benar enggak waras lagi ini 45:53 semestinya ini masuk rumah sakit nih 45:54 rumah sakit apa itu 45:56 nah ini 45:57 nah begitulah perihal orang-orang yang 45:58 menjual akhirat dengan dunia sebenarnya 46:01 ilmu yang kau punya miliki, engkau 46:03 tarifkan sekian. Enggak. 46:06 Aduh Rashid, ane cerita dulu. 46:10 Ada seorang 46:11 ulama. 46:13 Minas Solihin, orang saleh. Dia punya 46:14 anak. 46:16 Nah, ini orang kaya nih ceritanya Bib. 46:18 Orang kaya. Dia punya anak. 46:20 Anaknya itu belajar. Anaknya belajar 46:21 dari seorang ustaz, dari seorang guru. 46:24 Naam. 46:26 Eee 46:27 akhirnya berkat gurunya ini, anaknya itu 46:30 bisa bisa ngaji Quran. 46:32 Sampai tamat 46:33 Quran. 46:35 Gurunya si anak ini orangnya orang 46:37 biasa, orang sederhana gitu. 46:39 Dan si anak ini abahnya orang kaya. 46:40 Minas Solihin, ulama juga. 46:43 Nah, jadi 46:44 pas eee anaknya itu da balik ke rumah, 46:47 "Alhamdulillah hari ini aku tamat, Abah. 46:50 Tamat Alquran, baca Alquran dengan 46:52 lancar." Senang banget abahnya. 46:55 "Alhamdulillah, makasih banyak tuh 46:56 ustazmu." 46:58 Akhirnya besok dikasih hadiah, Bib. Si 46:59 anaknya ini. 47:01 Pas mau ngaji lagi ke ustaznya, dikasih 47:02 hadiah. 47:03 Besar hadiahnya. 47:05 Enggak dikira-kira lah. 47:07 Enggak tahu apa ya, wallahualam. 47:08 Pokoknya besar. Entah itu emas sekeping. 47:12 Yang dikasih ustaz ente nih, hadiah. 47:14 Hadiah Bib, karena dia berkat dia, ente 47:17 bisa ngaji tamat Alquran. Alhamdulillah. 47:20 Gede banget hadiahnya. 47:21 Datang si anak ini ngasih ustaznya, 47:23 "Ustaz, ini hadiah dari Abah. Ini Abah 47:24 mau bilang makasih banyak, berkat ustaz 47:26 ane bisa khatamin Quran." 47:28 Ustaznya pas lihat kaget, Bib. 47:30 "Ini 47:32 beneran ini hadiah dari Abah ente buat 47:33 ane?" "Iya, benar." 47:36 "Eee kebanyakan ini." 47:38 Kata ustaznya kan. 47:40 "Ini kebanyakan. Apa yang ane ajarin ini 47:43 enggak patut ane dapat sebanyak ini dari 47:45 Abah ente." 47:47 "Ya, gimana lagi? Abah udah kasih gitu." 47:50 "Coba tanyain, beneran enggak nih?" 47:51 "Beneran." "Ya, beneran pastilah, enggak 47:53 usah." 47:55 "Terima kasih banyak." "Ya, makasih 47:56 banyak." 47:57 Nah, balik tuh si anak besoknya. 48:00 Jalan ke Abahnya, gimana? 48:02 Ustaznya sudah nerima? Sudah, terima 48:04 kasih banyak kata Ustaznya. Apa kata 48:05 Ustaznya? Kata Ustaznya kebanyakan Abah 48:07 hadiahnya. 48:09 Enggak sepatutnya dia mendapatkan ini 48:11 karena dia mengajari aku Quran, enggak 48:13 sepatutnya kebanyakan ini. Langsung Beb. 48:16 Besok jangan kau belajar lagi sama dia. 48:19 Apa salahnya? Marah si Bapaknya itu. 48:22 Oh, berarti dia enggak tahu nih, enggak 48:23 tahu kadar kemuliaan apa yang dia yang 48:25 apa yang dia miliki. Dia 48:27 menganggap apa yang dia miliki itu 48:29 enggak setara dengan apa yang aku 48:31 berikan kepadanya. Padahal 48:33 apa yang aku berikan kepadanya dan 48:35 ratusan lipatan darinya itu enggak 48:37 seberapa dengan apa yang dia miliki dari 48:39 Alquran itu. Haji. 48:40 Ketika dia memandang apa yang dia miliki 48:42 lebih murah dari apa yang aku berikan, 48:43 ini orang enggak tahu enggak tahu diri, 48:45 enggak tahu kadar kemaharan apa yang dia 48:47 miliki. Sudah deh, ente bahaya kalau 48:48 ngaji sama dia, bisa bisa hubud dunia 48:50 ente lama-lama. 48:51 Masya Allah. 48:52 Cari Ustaz yang lain. 48:53 Segitunya. 48:56 Kalau Anda jadi ingat satu kalamnya 48:58 Sayyidina Ali Bib, 49:00 eh barang siapa yang diberikan oleh 49:02 Allah Subhanahu Wa Ta'ala Alquran, 49:04 kemudian menghafalnya, 49:06 artinya menjaganya, 49:08 kemudian dia masih melihat ada orang 49:10 lain yang diberikan sesuatu yang lebih 49:13 dari dia atau yang setara dengan yang 49:15 dia punya, setara bukan lebih, maka dia 49:18 telah menghinakan sesuatu yang agung dan 49:21 mengagungkan sesuatu yang hina kata 49:23 Sayyidina Ali. 49:25 Masya Allah antum Bib, masya Allah. 49:27 Masya Allah Sayyidina Ali. 49:29 Kalam kabir hadza. He em. 49:32 Masya Allah. Saya kita dengar dari 49:34 Sayyidina Ali, menukil dari Sayyidina 49:35 Ali. Ada riwayat juga yang seperti itu 49:37 Habib. Allah, benar benar benar. 49:40 Nah, itu dia. Jadi, 49:41 semestinya 49:42 orang yang berilmu itu menyadari 49:45 kemuliaan apa yang mereka miliki. Maka 49:47 jangan sekali-kali untuk menjualnya 49:50 dengan harta dunia yang sementara yang 49:52 tidak seberapa. 49:53 Eee, jadikanlah ilmu yang kau punya itu 49:56 tangga untuk engkau bisa menggapai yang 49:57 lebih dari itu semua, apa? Keridhoan 49:59 Allah Ta'ala. Anjiman. Nah, itu senyuman 50:01 Rasulullah gitu. Itulah yang semestinya 50:03 kita korbankan. 50:06 Demi itu. 50:07 Ala kulli hal Habib. Ala kulli hal, 50:09 masya Allah. Bagi kawan-kawan yang ingin 50:10 bertanya, silakan kirimkan pertanyaan 50:12 Anda di 08111999720 50:17 atau bisa telepon di 0218451512. 50:20 Ini ada satu pertanyaan yang masuk 50:22 Habib. Bagaimana Ustadz kalau si 50:24 penuntut ilmu sepi dari pamrih? Artinya 50:27 tidak pamrih sama sekali. Apa? Tak, 50:29 tidak pamrih artinya tidak bangga, tidak 50:33 tidak pamer begitu. Heeh. Tapi orang 50:35 tuanya sibuk pasang status anaknya. 50:37 Matur suwun. 50:40 Masya Allah. Lha mau apa? 50:44 Ah, gimana tuh Habib? 50:45 Ala kulli hal Habib, apa namanya? 50:48 Yang penting 50:49 si anak itu ya, yang penting si anak 50:51 itulah tulus dalam menuntut ilmu. 50:53 Orang tuanya ataupun yang lainnya mem, 50:56 memamerkannya, 50:58 ya terserahlah, terserah mereka mau 51:00 memamerkan atau mau tidak, yang penting 51:02 si anak ini yang jadi eee patokannya 51:04 sebenarnya. 51:05 Lha kan, dan apakah salah ketika orang 51:08 tua senang dengan apa yang diraih 51:10 anaknya? Tidak salah. Justru semestinya 51:12 engkau senang, ya aneh kalau enggak 51:13 senang. Heeh. Waha gitu. Ya memang sudah 51:16 thabi'i nya. 51:17 sudah thabi'i nya senang dengan dengan 51:19 dengan penyampaian anaknya kan pasti. 51:22 Eee, salah enggak kalau kita memosting 51:24 eee prestasi anak kita? Enggak, enggak 51:25 salah juga. Masih musykilah. Heeh. 51:27 Enggak salah juga. Yang penting 51:30 eee jangan sampai kita menggores 51:32 keikhlasan 51:34 anak kita gara-gara apa yang kita 51:35 perbuat untuknya. 51:37 Waha gitu. Bisa jadi karena 51:39 posting-postingan itu akhirnya anakmu 51:40 melirik ke situ akhirnya 51:42 naudzubillah melirik. Waha gitu. Tapi 51:44 kalau sekedar 51:45 memosting karena senang dengan 51:47 pencapaian anaknya itu, ya silakan 51:49 bangga gitu. 51:50 Dan niatkan juga untuk memotivasi yang 51:52 lain, gitu. Nah, juga bahaya nih, jangan 51:56 sampai untuk 51:57 eh meniatkan bahwasanya 51:59 eh anakku lebih hebat daripada anak yang 52:01 lain, oh jangan itu, jangan jangan. Nah, 52:03 iya, biarlah orang lain 52:04 menempuh jalannya masing-masing. Eh, kan 52:07 niatkan ketika engkau memosting itu, ya 52:10 mengajak orang lain juga untuk kebaikan 52:11 yang luar biasa ini. 52:13 Dan doakan anakmu semoga terjaga dari 52:16 sifat riya atau pamer. Amin. 52:18 Masih Mas Kiran, insyaallah. Insyaallah, 52:20 ini ada dari Abdullah di Depok. 52:21 Assalamualaikum warahmatullahi 52:22 wabarakatuh, Habib Mustofa. Heeh. 52:24 Mohon izin bertanya, seseorang bekerja 52:27 di instansi pemerintahan atau swasta dan 52:30 orang tersebut mendapatkan promosi 52:33 atau beasiswa untuk melanjutkan 52:34 pendidikan. Ketika dia selesai sesuatu 52:39 eh ketika dia selesai pendidikan, 52:40 tentunya dia akan mendapatkan sesuatu 52:43 yang lebih baik dari sebelumnya. Dan 52:45 orang tersebut memang mengharapkan itu. 52:48 Bagaimana menurut Habib mengenai hal 52:50 ini? Dan bagaimana seorang ulama yang 52:53 mengikuti pilkada dan tentunya pilkada 52:56 sangat membutuhkan biaya yang sangat 52:58 besar. Mohon pencerahannya, Habib. 53:00 Oke, dua pertanyaan, Bib. Pertanyaan 53:02 pertama tadi ringkasannya gimana tuh 53:03 kalau antum? 53:04 Eh, eh kalau kita kerja misalnya, Bib, 53:08 kadang-kadang suka ada fasilitas S2 53:11 Oh. dari kantor. Nah. Kita ambil tuh 53:13 Kita mau ambil tuh, kadang-kadang 53:15 berharap alhamdulillah nih dapat habis 53:17 S2 gaji saya naik nih, nah begitu. 53:20 Oke, siap siap siap siap. 53:21 begitu, Habib, 53:22 itu gimana tuh menurut Habib kalau kata 53:26 Bapak Abdullah ini? Siap, Habib. 53:28 Bismillah. 53:30 Untuk mengambil kesempatan yang 53:31 ditawarkan itu sangat baik eh bilamana 53:34 diluangkan suatu kesempatan untuk itu, 53:37 maka gunakanlah, Habib, jangan 53:38 disia-siakan. Itu diantara nikmat Allah 53:41 taala yang Allah Ta'ala ee giring itu 53:43 nikmat kepadamu. Maka ada beasiswa untuk 53:45 mengambil S2 kah atau beasiswa untuk 53:47 luar negeri kah atau beasiswa ke mana 53:48 kah. 53:49 Heeh. 53:50 Ee atau engkau mempunyai ee 53:53 tabungan yang dengannya engkau bisa 53:54 untuk melanjutkan, itu juga sangat baik 53:56 ya. Bagus, bagus semua itu. 53:59 Enggak salah, tapi nah itu dia ketika 54:01 untuk ee wah lumayan nih S2. 54:04 Nah, itu yang musykilahnya itu di 54:05 akhirnya tuh. Entar naik ee 54:08 tunjangannya. Nah, ini yang perlu di 54:10 Heeh. di di renov sedikit. 54:12 Begitu ya. Itu tenang aja Ikhwan. 54:15 Kan itu begini kalau bahasa ininya ya. 54:18 Ee itu kan apa insya Allah akan terjadi. 54:21 Selagi akan terjadi itu jangan jangan 54:23 dilirik. 54:24 Jangan dilirik. 54:26 Maka lah. 54:27 Ee ketika habis S2 tamat, apa yang 54:29 terjadi? Yo entar tunjangan naik. Ya 54:31 sudah alhamdulillah. Niatkan 54:33 ee engkau ketika dalam ee belajar di S2 54:36 itu atau yang serupa 54:38 ya untuk menambah ilmu, menambah 54:40 kedekatan kepada Allah, menambah ee apa 54:42 namanya 54:43 wawasan begitu. Lebih manfaat insya 54:46 Allah. 54:47 Iya. Kan masya Allah kan niatnya bagus 54:49 lebih manfaat. Tapi kalau seandainya 54:51 hanya ah ini dia. Kalau seandainya hanya 54:54 demi naik tunjangan wah itu sayang 54:57 sekali. 54:57 Jabatan gitu ya. Betul. Sayang sayang 54:59 sayang sekali. Lebih niatnya bisa 55:01 dimodifikasi. 55:02 Kalau kita kan teknik bisa teknik ya. 55:04 Nah, itu dia. Ini keren nih. Insya Allah 55:06 saya bisa lebih berkontribusi dengan S2 55:09 saya. 55:09 Betul. banget. Bisa lebih andal, lebih 55:11 ini. Nah, makanya kita baca kitab yang 55:13 seperti ini sebenarnya hanya untuk 55:16 memodif sedikit. Heeh. Wah, ini niat 55:18 yang salah nih. Waduh, gimana cara 55:19 benarnya? Begini caranya tek tek tek tek 55:21 benar. Heeh. Oh iya Pak. Gitu bisa jadi 55:23 bagus jadi ibadah malah. 55:26 Padahal dengan 55:27 gerak-gerik yang serupa Heeh. Heeh. 55:29 enggak ada bedanya nih. 55:30 Iya. Ini suatu kemaksiatan, ini suatu 55:32 ibadah. Heeh. 55:33 Yang membedakan niat Niat niat. Niat 55:35 yang buruk itu dirubah dikit aja. Terus 55:38 yang pentingnya sebenarnya pola-pola 55:39 pandang Beb. Iya iya. Dirubah dikit pola 55:41 pandangnya tek jadi baik langsung insya 55:42 Allah baik. 55:43 Nah barakah, ini yang pertama. 55:45 Nah oke yang Kedua. Yang kedua. 55:48 Ulama ikut Pilkada. Pilkada itu 55:50 pemilihan ya, pemilihan 55:52 kepala daerah atau mungkin caleg atau 55:55 mungkin 55:56 dirinya gitu. 55:56 Mencalonkan diri. 55:57 Dalam kontestasi politik, nah itu 56:00 bagaimana hukumnya Beb? 56:02 Nah antum gimana antum gimana Beb? Hah? 56:05 Menurut antum gimana? Enggak tahu sih 56:06 enggak tahu sih. 56:08 Enggak tahu Beb. 56:10 Iya khair. 56:10 Ya udah itu-itu aja lah. Ala kulli hal, 56:12 ala kulli hal begini ikhwan. 56:15 Eee ya ikut eee 56:20 mencalonkan diri ya kalau gitu 56:21 maksudnya, mencalonkan diri dalam 56:23 perihal yang seperti itu salah enggak? 56:24 Enggak ada salahnya ya silakan. 56:26 Eee selagi tujuannya baik ya, selagi 56:28 tujuannya baik kan biasanya gitu 56:29 orang-orang eee nyaleg kalau bahasanya. 56:32 He em he em. 56:32 Nah kan. 56:33 Eee demi untuk bisa lebih manfaat lagi, 56:36 lebih bisa untuk menyampaikan eee 56:40 menegakkan syariat ini biasanya kan itu 56:42 yang di iniin. 56:44 Eee lebih bisa untuk eee 56:47 memberikan manfaat untuk orang, itu 56:49 bagus semua niatnya itu oke. 56:53 Eee tapi ada dua perihal di sini yang 56:55 pertama 57:00 Yang pertama 57:01 ini kan namanya imarah. 57:03 Imarah. 57:05 Kekuasaan kita. Iya. Baginda bersabda 57:07 dalam hadisnya inna kum satakharisuna 57:09 ala imarah. 57:10 Wa innaha satakunu nadamah, kata Baginda 57:13 Rasul Allah. 57:14 Kalian 57:15 akan datang waktu nanti kalian akan 57:17 mencari 57:19 apa yang namanya kekuasaan itu. 57:22 Dan 57:24 akibat dari semua itu adalah penyesalan, 57:26 kata Rasulullah sallallahu alaihi 57:27 wasallam. 57:28 Itu satu. 57:29 Makanya eee ketika engkau 57:32 mendapatkan jabatan yang yang jabatan 57:34 jabat jabatan yang demikian itu ya. 57:35 He em, he em. 57:36 Jangan lupa 57:37 eee, salat duhamu pasti akan 57:39 bolong-bolong. He em. 57:40 Witirmu pasti akan bolong-bolong. He em. 57:42 Eee, belum tentu juga engkau bisa salat 57:44 berjamaah lima waktu. 57:46 Dan mau enggak mau ente harus 57:48 mendengarkan gibah. He em. Maka mau 57:50 enggak mau ente harus berhadapan dengan 57:52 orang-orang 57:53 itu kan saingan Bib, saingannya luar 57:55 biasa, saingannya saingan yang kotor itu 57:57 di situ. He em. Jelaskan. He em. 57:59 Siap-siap untuk sikut-sikutan. 58:01 Siap-siap untuk menjadi eee, saing 58:03 bersaing daripada anjing-anjing yang 58:05 mereka mau memakan bangkai. He em. 58:08 Karena yang engkau cari itu hakikatnya 58:09 adalah bangkai. He em. Nah iya kan, kata 58:11 Imam Syafi'i apa? 58:13 Kalau ente mau dunia ya siap-siap tuh 58:15 lomba-lomba sama anjing-anjing yang 58:16 lapar yang memakan bangkai itu. Iya, 58:18 iya. He em. 58:20 Itu itu satu. 58:21 Walaupun ya, walaupun dengan tujuan yang 58:24 wah banget biasa yang kita dengar tuh 58:26 kan. 58:26 He em, he em. 58:27 Itu satu. 58:29 Ya, yang kedua 58:30 eee, al kulli hal selagi niat itu bagus 58:32 dan engkau rela untuk lillahi ta'ala 58:35 untuk berkorban demi kemaslahatan umat, 58:37 bagus. 58:38 Tapi 58:39 eee, jangan sampai engkau mempromosikan 58:42 dirimu karena ilmumu. Ini bahaya Bib. He 58:46 em. 58:47 Pilihlah fulan, kenapa? Karena kiai. Ya 58:49 Allah. 58:50 He em. 58:51 Pilihlah fulan, kenapa? Karena ini 58:52 ulama. 58:54 Ulama semestinya dipilih bukan buat itu. 58:56 He em. Bukan dijadikan bukan buat 58:57 dijadikan eee, apa? 58:59 Eee. 59:01 Begitu kan, ulama dipilih untuk 59:03 dijadikan tauladan ya. Eee, imam, begitu 59:06 dipilih ulama. He em. Engkau 59:08 mempromosikan dirimu untuk apa? Untuk 59:10 orang memilihmu. 59:12 Engkau korbankan akhiratmu Iya. demi 59:14 jabatan ini. Nah, sama kayak tadi. 59:16 Enggak ada bedanya sih eee, orang 59:18 belajar demi mendapat belajar ilmu 59:20 berdakwah demi mendapatkan 59:21 eee, uang sekian. Sama orang yang 59:24 mencalonkan dirinya 59:25 demi mendapatkan jabatan dan dia ya sama 59:27 juga menjual akhirat 59:31 keulamaannya iya, itu dia jadi untuk 59:34 mencalonkan dirinya sebagai eh apalah 59:38 apa tadi namanya? 59:39 eh apa itu namanya? eh tadi yang ada di 59:41 jabatan yang sedang soal itu Pilkada 59:44 Pilkada iya, mencalonkan dirinya ke 59:45 Pilkada atau nyaleg, salah enggak salah 59:47 tapi dengan beberapa pertimbangan iya 59:49 iya iya iya ah, jangan engkau pasarkan 59:51 dirimu karena kealimanmu, kearifanmu 59:54 he em satu itu salah besar sudah masuk 59:55 dalam kategori ini ya 59:57 betul yang kedua juga eh niat yang bagus 1:00:01 engkau pasang iya pasti eh haruslah demi 1:00:04 untuk em menyebarkan manfaat lebih luas 1:00:07 lagi, menegakkan keadilan di akhirat, 1:00:09 kedua, yang ketiga siap-siap untuk 1:00:12 dipastikan itu, siap-siap untuk 1:00:13 sikut-sikutan sama he em 1:00:15 iya iya sama anjing yang menggonggong 1:00:17 syarat yang ketiga ya lihat-lihat dulu 1:00:18 dunianya ya betul, lihat-lihat dulu 1:00:20 banyak-banyak ngobrol banyak-banyak 1:00:22 ngobrol banyak-banyak ngobrol 1:00:24 banyak-banyak ngobrol banyak-banyak, 1:00:25 musyawarah banyak-banyak, istikharah 1:00:26 betul maka entar biasanya Bib, biasanya 1:00:28 entar 1:00:29 eh ini entar yang jadi ini kan, wah 1:00:31 kalau ente enggak maju entar banyak 1:00:32 orang yang lain yang yang yang 1:00:34 buruk-buruk yang ngambil ini itu 1:00:36 biasanya gitu entar wah, panjang lebar 1:00:38 kalau dibahas di sini 1:00:39 intinya 1:00:40 di sebagian keadaan iya di sebagian 1:00:42 keadaan ente harus maju he em 1:00:44 di sebagian keadaan jangan maju di 1:00:46 sebagian keadaan istikharahlah engkau 1:00:48 makanya di sini banyak-banyak musyawarah 1:00:50 betul sama orang yang bijak, yang dewasa 1:00:53 betul yang sudah tahu eh pahit manisnya 1:00:57 dunia he em 1:00:58 dan lebih banyak makan garam dari kita 1:01:00 siap 1:01:01 hah? 1:01:01 siap masya Allah antum masya Allah siap 1:01:04 selainin banyak-banyak musyawarah, 1:01:05 banyak-banyak intropeksi diri Allahu 1:01:07 Akbar mampu enggak masuk ke situ? 1:01:10 jangan sampai ketika masuk ke situ kita 1:01:13 tadi 1:01:14 eh sampai agama kita kegadai dan lain 1:01:17 sebagainya iya, nauzubillah min zalik 1:01:19 tapi sebelum itu niatnya dulu ya niat 1:01:21 yang baik 1:01:22 Betul Bib, betul betul 1:01:24 Itulah dunia, kemarin ada cerita Bib, 1:01:26 ane mau ceritain 1:01:27 Bukan masalah ini sih, bukan masalah 1:01:30 jabatan atau secara umum dunia 1:01:36 Nah, di Hadramaut sana ada namanya Habib 1:01:38 Ahmad bin Muhammad Al-Muhdor, di Goyer 1:01:42 Di zamannya itu beliau melihat 1:01:43 orang-orang banyak merantau kemana-mana 1:01:45 gitu demi mencari dunia 1:01:48 Dia beliau sedikit prihatin dengan itu, 1:01:50 karena diantara mereka yang merantau itu 1:01:52 banyak yang kehilangan daripada 1:01:54 budaya-budaya yang baiknya 1:01:56 Akhirnya apa? Beliau menulis Cerita 1:01:59 Makalah 1:02:00 Cerita perumpamaan Iya Iya, cerita 1:02:02 enggak enggak enggak enggak nyata tapi 1:02:04 cerita perumpamaan yang luar biasa 1:02:07 Katanya, seakan-akan aku 1:02:09 Eee keluar dari desaku ini demi 1:02:13 Eee aku ingin menikah dengan yang 1:02:15 namanya dunia 1:02:16 Nah, dunia itu di diumpamakan bagaikan 1:02:18 perempuan 1:02:20 Yang mana dunia ini adalah ya harta, ya 1:02:22 jabatan, ya ketenaran itu masuk dalam 1:02:24 kategori dunia semua 1:02:26 Aku pergi merantau demi bisa menikah 1:02:28 dengan 1:02:29 si perempuan cantik yang namanya dunia 1:02:32 Maka aku merantau, sampailah aku ke 1:02:34 Gujarat 1:02:35 Ke India 1:02:37 Taman 1:02:38 Surat 1:02:39 Maka aku cari, mana dunia itu? Oh, ente 1:02:42 mau dunia? Ya di sana noh di sana 1:02:44 Di tempat itu, maka aku datang ke tempat 1:02:46 itu, itu adalah suatu pasar yang ramai 1:02:48 orang di situ 1:02:50 Sehingga ketemu aku ketemu dengan si 1:02:51 dunia itu 1:02:53 Nge ente ngapain? Aku mau melamarmu 1:02:56 Oh, begitu 1:02:57 Apa yang maharnya? 1:02:59 Oh, aku siap menikah denganmu kata si 1:03:00 dunia 1:03:02 Maharnya adalah 1:03:03 Apa? 1:03:04 Engkau meninggalkan salat dhuhamu 1:03:07 Heh 1:03:08 Dia bilang, oh jangan dong 1:03:10 Eee mahar yang lain deh 1:03:12 Apa saja yang ane buat siap, tapi jangan 1:03:14 kau korbankan salat dhuha ku 1:03:17 Ya itu maharnya nih, kalau ente mau 1:03:18 nikah sama ane ya korban korbankan salat 1:03:20 dhuha-mu. Enggak mau? Ya sudah batal. 1:03:22 Batal. Akhirnya mau pulang ke Hadramaut 1:03:24 ceritanya. Pas mau pulang kehabisan duit 1:03:26 emang. Wah, gimana? Ya sudah mau enggak 1:03:28 mau deh nikah sama dunia. 1:03:30 Gitu deh. Akhirnya dicari keesokan 1:03:32 harinya. 1:03:33 Eee dan dia sudah bertekad untuk 1:03:35 meninggalkan salat dhuha sebagai mahar 1:03:38 untuk menikah dengan si dunia ini. 1:03:41 Sampai di tempat itu, dicari mana si 1:03:44 dunia itu? Perempuan itu mana? Oh, sudah 1:03:46 pindah dia. Loh, ke mana? Ke kota lain 1:03:48 lagi. 1:03:49 Dicari sama dia merantau lagi sampai ke 1:03:52 kota yang kedua. Ketemu lagi dengan 1:03:53 dunia. 1:03:55 Loh, ente ke mana kok kabur kemarin ane 1:03:56 cari-cari? Iya, ane pindah sekarang. 1:03:58 Kata si dunia itu. Gimana ya? Ane sudah 1:04:01 siap nih untuk nikah sama ente. Maharnya 1:04:03 kan ninggalin salat dhuha ya sudah 1:04:04 enggak apa-apa deh ane tinggalin salat 1:04:05 dhuha demi bisa menikah denganmu. 1:04:07 Si dunia bilang, "Wah, sekarang sudah 1:04:09 naik lagi maharnya nih. Enggak cukup 1:04:11 untuk ninggalin salat dhuha." Ah, loh 1:04:13 apa lagi sekarang? 1:04:14 Eee ente juga harus tinggalkan salat 1:04:16 witirmu kalau engkau mau menikahiku. 1:04:17 Wah, yang itu dong kalau dhuha enggak 1:04:19 apa-apa deh ane korbankan. Masa iya 1:04:20 witir juga ane korbankan? 1:04:23 Iya, kalau ente mau nikah sama ane itu. 1:04:24 Enggak enggak batal. 1:04:25 Ya sudah. Tapi keesokan harinya dia 1:04:27 berpikir, "Ah, emh 1:04:29 gimana lagi kayaknya harus deh nikah 1:04:30 sama dunia nih. Enggak apa-apa deh kita 1:04:31 korbankan witir juga." 1:04:34 Besoknya datang ke ke tempat itu mau 1:04:35 ngabarin si dunia nih mau dia nikah sama 1:04:37 dia. 1:04:38 Sudah hilang si dunianya. 1:04:39 Dicari lagi mana ke tempat yang ketiga 1:04:41 kota yang ketiga. Tahu-tahu ke 1:04:42 Indonesia. 1:04:44 Ke Indonesia ke Jawa kalau bahasa dulu 1:04:45 kan ya. Dalam cerita kan gitu ke Jawa 1:04:47 atau di Jawa. 1:04:48 Di Jawa. Merantau dari India ke Jawa ya 1:04:51 nyengit. 1:04:52 Nyari si dunia ini. Nemuin dunia 1:04:54 akhirnya di Surabaya. He emh. Dalam 1:04:56 cerita gitu ya di kamar itu. He emh. 1:04:59 Ketemu sama dunia. 1:05:00 Itu yang mana nih ente kabur kemarenan? 1:05:02 Eee sudah enggak apa-apa deh ane 1:05:03 korbankan salat witir ane juga bisa 1:05:05 nikah dengan ente. Wah, sekarang sudah 1:05:07 naik lagi maharnya. Loh, apa? Kau harus 1:05:09 juga meninggalkan eee salat jamaahmu. He 1:05:12 emh. 1:05:12 Wah, jangan gitu dong masa salat jamaah 1:05:15 enggak aku 1:05:16 dan setiap cerita kayak gitu akhirnya 1:05:19 setiap dia minta nikah sama si dunia, si 1:05:22 dunia mensyaratkan mahar yang lebih. 1:05:24 Iya. Yang tadinya minta dia meninggalkan 1:05:25 salat duha enggak cukup, ninggalin salat 1:05:27 witir enggak cukup lagi ninggalin salat 1:05:29 berjamaah enggak cukup lagi. He eh. 1:05:32 Wah, kayaknya berpindah-pindah si dunia 1:05:33 itu dari tempat ke tempat diuber nih 1:05:35 sama dia terus dan tiap-tiap dia mau 1:05:37 menikahi dipasang target yang lebih. He 1:05:40 eh. 1:05:41 Dia menceritakan akhirnya apa? Hangus 1:05:43 dariku semua, hangus dariku salat duha 1:05:45 ku, salat witirku, salat jamaahku He eh. 1:05:47 hangus dariku kehormatanku 1:05:50 kewibawaanku 1:05:52 hangus dariku ke apa namanya 1:05:54 keberanianku 1:05:56 semua itu hangus demi menikah dengan si 1:05:58 dunia dan sampai sekarang aku belum 1:05:59 nikah dengan dia. 1:06:01 Dia bawa aku muter-muter akhirnya apa? 1:06:03 Hangus dariku salatku satu persatu. 1:06:06 Subuhnya ngilang zuhurnya ngilang, asar 1:06:09 hilang semua demi untuk mencari si dunia 1:06:10 ini dan masih aku belum nikah sama dia. 1:06:13 Iya. Masih mencari dari kota ke kota ke 1:06:15 kota ke kota ke kota 1:06:16 sampai di akhirnya apa? Sampai di 1:06:18 akhirnya si dunia mensyaratkan nih 1:06:20 terakhir nih kalau engkau mau menikah 1:06:22 denganku 1:06:23 kau harus tinggalkan la ilaha 1:06:24 illallahmu. 1:06:25 Naudzubillah min dzalik. Tinggalkan 1:06:27 keislamanmu itu. Wah, ini sudah puncak 1:06:30 deh. 1:06:31 Masa iya 1:06:32 setelah yang lalu semua masa iya aku 1:06:34 korbankan Islamku juga ini mahar kalau 1:06:36 nanti mau nikah sama dia itu maharnya 1:06:38 kalau enggak mau ya sudah. 1:06:41 Masalah mah kalau gitu Malah aku. Nah, 1:06:43 sekarang masih ada prinsip akhirnya aku 1:06:45 pulang katanya ke Hadramaut. Ini cerita 1:06:47 cerita ini cerita ilusi. Iya iya iya. 1:06:49 Cerita belaka. 1:06:49 Fiktif fiktif. Hah? Iya cerita fiktif. 1:06:52 Cerita fiktif namanya wahai kawan. 1:06:54 Kata beliau, nah inilah keadaan orang 1:06:55 sekarang. He eh. 1:06:57 Mau bersih dunia entah itu harta kah, 1:06:59 entah itu jabatan kah, entah itu 1:07:01 ketenaran kah apalah 1:07:03 itu pasti akan memaksamu untuk 1:07:04 meninggalkan satu persatu 1:07:06 mulai dari 1:07:07 salat duha, witir, rawatib qabliyah 1:07:09 ba'diyah, ya kan? Karena kesibukan ini 1:07:11 ceritanya ini. 1:07:12 Mendapatkan? Belum mendapatkan? Belum. 1:07:14 Si dunia itu muter-muter dia. 1:07:17 Belum sampai engkau mati, kau tak akan 1:07:19 menikah dengannya. Iya. 1:07:21 Dan senantiasa dia mengikis kebaikanmu 1:07:23 sedikit demi sedikit. Yang akhir 1:07:25 ceritanya pasti dia akan minta engkau 1:07:27 mengorbankan agamamu. Iya. 1:07:29 Nah, itulah intinya, Habib. 1:07:31 Naudzubillahiminzalik. 1:07:32 Naudzubillahiminzalik. Nah, saya cerita 1:07:33 itu. Naudzubillahiminzalik. Kita ngejar 1:07:35 dunia, kita bakal berkorban agama kita 1:07:38 pelan-pelan begitu ya, Habib. Ibaratnya 1:07:40 begitu mungkin ya. 1:07:41 Betul. Eee sampai di ujung naudzubillah 1:07:45 kita sampai mengorbankan agama kita 1:07:48 secara keseluruhan. 1:07:50 Sebaliknya kalau kita ngejarnya Allah, 1:07:52 keridhoan Allah, maka 1:07:54 dunia ya dalam genggaman Allah Subhanahu 1:07:56 Wa Ta'ala. Lailahaillallah. Iya, 1:07:59 masyaallah. 1:08:01 Jazakumullah khair, Habib. Iya, Habib. 1:08:02 Syukron jawabannya, penjelasannya. Eee 1:08:05 masyaallah, hari ini dapat banyak 1:08:06 sekali. 1:08:07 Eee internet sempat down ya, Kang Neja? 1:08:11 Aduh, mohon maaf sekali lagi kawan-kawan 1:08:13 yang menyimak melalui YouTube. 1:08:15 Mudah-mudahan nah kalau yang sempat 1:08:17 menyimak melalui YouTube, videonya boleh 1:08:19 di-share, komen, terus like, dan 1:08:21 subscribe. 1:08:23 Kami sapa kawan-kawan yang menyimak 1:08:27 menyapa melalui WhatsApp. Ada Eyang Sri, 1:08:30 ada Mumtaz Nabi, ada Ibu Ijah Santoso. 1:08:34 Aminah Arumati Ningsih, Siti Rubiah. 1:08:39 Siti Anisah di Bali, Purwaningsih, Pak 1:08:42 Anwar, Nana Sumarna, Ibu Hati Susmiati 1:08:45 Supri Sa'idah. 1:08:47 Dan masih banyak lagi kawan-kawan yang 1:08:49 belum alfaqir bacakan satu persatu. 1:08:51 Mohon maaf sekali tidak bisa alfaqir 1:08:54 bacakan pertanyaannya karena 1:08:56 keterbatasan waktu. Terima kasih banyak 1:08:58 kawan-kawan yang sudah menyimak melalui 1:09:00 YouTube, Rasel TV, dan juga menyimak 1:09:02 melalui streaming. Semoga menjadi 1:09:04 wasilah hidayah buat kita semua. Semoga 1:09:06 bermanfaat buat ikhwan dan akhwat 1:09:07 sekalian. Buat al-faqir dan kru yang 1:09:10 bertugas di sini, mohon undur diri. 1:09:13 Mari sama-sama kita tutup dengan baca 1:09:15 doa kafaratul majelis. Subhanakallahumma 1:09:18 wa bihamdika asyhadu an la ilaha illa 1:09:20 anta astaghfiruka wa atubu ilaik. 1:09:22 Syukran jazakallah khair, Habib. 1:09:23 Jazakallah khair, syukran syukran. 1:09:25 Sama-sama, Habib. Assalamualaikum 1:09:26 warahmatullahi wabarakatuh. 1:09:28 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:09:29 wabarakatuh.