Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil alamin. Allahumma
- sholli ala sayyidina Muhammad wa ali
- sayyidina Muhammad. Assalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh ikhwan dan
- akhwat yang dirahmati Allah subhanahu wa
- taala yang dapat meraih kami lewat radio
- dengan jaringan yang terdapat di
- Indonesia juga yang bisa diraih lewat
- YouTube Rasya TV juga lewat streaming di
- www.radiosilatuhrahim.com.
- Semoga dalam keadaan sehat dan
- dilangkupi bersama orang-orang yang
- ikhwan dan akhwat cintai. Alhamdulillah
- kami, saya Karolin ditemani kru yang
- bertugas pada hari ini mendampingi guru
- kita Ustad Ahmad Jazuli Khali dengan
- tema kita atau kajian kita seperti biasa
- setiap Sabtu pagi live tausiyah pagi dan
- guru kita telah hadir di tengah-tengah
- kita. Mari kita sapa terlebih dahulu
- Ustad Ahmad Jazuli Khali.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustad.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Sehat ya, Ustad?
- Alhamdulillah. Alhamdulillahirabbil
- alamin.
- Insya Allah ikhwan dan akhwat tema yang
- akan dibahas oleh Ustad pada kali ini
- atau hari ini yaitu pembahasan surat Al
- Waqiah 83 sampai 84. Tafadhol, Ustad.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Al fadhil hadrat sayyidina wa habibina
- rasulillah Muhammad ibni Abdillah
- sallallahu alaihi wasallam wa ala alihi
- wa ashabihi wa azwajihi wa dzurriyatihi
- wa ahli baitihi
- wa li ikhwanihi minal anbiya wal
- mursalin wa khulafaur rasyidin wa
- ashabati wa tabiin wa aimmatil arbaatil
- mujahidin wa muqallidihim
- wal auliya wa syuhada sholihin wa
- shufiyatil muhaqqiqin wal ulama wal
- amilin wa syain nafi din wa ila ruhi
- abaina wa ummahatina
- ya wayas simaradona wayarham mautana ya
- rudo
- Waya
- dinas subulas salam wayafik anallahu
- yuhibbu wayar do yarzuquna rizqan
- halalan toyyiban wasi'an barokan fihi
- wayaj aluna duriyatana minalladzina
- ya'lamun
- waya'malun ma'ani al kitab was sunnah
- yakhtimu lana walakum bil husna wailah
- hadratin nabi Muhammadin sallallahu
- alaihi wasallam al fatihah.
- bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin
- arrahmanirrahim maliki yaumiddin. Iyyaka
- na'budu wa iyyaka nasta'in ihdinas
- siratal mustaqim siratal ladzina an'amta
- alaihim ghairil maghdubi alaihim walad
- dhallin amin. Bismillahirrahmanirrahim
- alhamdulillahi rabbil alamin wassalatu
- wassalamu ala asyrofil mursalin
- sayyidina wa maulana Muhammadin wa ala
- alihi wa sahbihi ajma'in amma ba'd.
- Fa inna asdaqal hadis kitabullah taala
- wa khairal hadi hadi Muhammadin
- sallallahu alaihi wasallam wa syarrul
- umur muhdasatuha wa kullu muhdasatin
- bid'ah wa kullu bid'atin dalalah
- wa kullu dalalatin finnar. Qalallahu
- taala a'uzubillahiminasyaitanirrajim.
- Falau la idza balaghatil hulqum wa antum
- hinai dzintan dzurun
- wa qala taala
- wa
- qila udkhulul jannah qala ya laita qaumi
- ya'lamun bima ghafara li rabbi wa
- ja'alani minal mukramin.
- Wa qala taala
- a'uzubillahiminasyaitanirrajim
- bismillahirrahmanirrahim alhamdulillahi
- rabbil alamin arrahmanirrahim maliki
- yaumiddin iyyaka na'budu wa iyyaka
- nasta'in ihdinas siratal mustaqim
- siratal ladzina an'amta alaihim ghairil
- maghdubi alaihim walad
- Waqola Rasulullah Shallallahu Alaihi
- Wasallam.
- Idza hadhorot mautakum.
- Faagmidul basor fainnal basor.
- Yatbaur ruh.
- Waqulu khoiro, fainnal malaikah tuaminu
- ala ma yaqulu ahlul mayit.
- Sodakallah wasodakallah Rasulullah
- Shallallahu Alaihi Wasallam.
- Para pendengar Radio Silaturahim yang
- dirahmati Allah, alhamdulillah.
- Kembali kita panjatkan puji serta syukur
- kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang
- senantiasa melimpah curahkan nikmat
- karunianya kepada kita.
- Terutama nikmat iman dan Islam, nikmat
- sehat walafiat, nikmat panjang usia
- dalam taat. Termasuk nikmat
- dipertemukannya kita pagi ini.
- Dalam rangka menjalankan salah satu
- perintah. Nya yang diwajibkan atas kita
- semua yaitu menuntut ilmu yang
- insyaallah.
- Pada pagi ini kita akan membahas.
- Ayat dan Al dan hadis Nabi.
- Yang menerangkan atau yang berhubungan
- dengan kematian, yaitu surat.
- Waqiah ayat 83
- dan 84.
- Kemudian juga dalam surat Yasin 26 27
- ya. Dan juga hadis Nabi Shallallahu
- Alaihi Wasallam. Shalawat dan salam
- semoga selalu tercurah atas. Nabi kita
- Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
- Beserta keluarganya, para sahabatnya,
- para pengikut. Dan pengamal sunnahnya.
- Para pendengar Radio Silaturahim yang
- dirahmati Allah.
- Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Alihi
- Wasallam bersabda.
- Idza jaatil maut li tholibil ilmi wahuwa
- ala hadil halah
- mata wahuwa syahid. Ini hadis
- diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Abi
- Dzar, juga dari sahabat Abi Hurairah
- radhiallahu anhu.
- Yang artinya kalau kematian datang
- kepada orang yang menuntut ilmu
- dan dia tetap dalam keadaan itu, yakni
- masih menuntut ilmu
- maka dia mati sebagai syahid.
- Ya, mati sebagai syahid. Ini luar biasa.
- Kayak kita nih namanya online kita ngaji
- rutin terus ya.
- Nah, itu kalau kita meninggal walaupun
- kita meninggal di pembaringan
- meninggalnya
- maka kita termasuk orang yang mati
- syahid.
- Karena masih menuntut eh ilmu agama.
- Jadi begitu eh besarnya ya
- ya semacam apa ya, sugesti dari Rasul
- kepada umatnya agar
- memperdalam, agar menuntut ilmu. Sampai
- coba hadiah dari Allah itu sampai mati
- syahid. Saking pinginnya berarti Allah
- itu
- eh umat manusia itu menjadi orang yang
- pintar ya, orang yang pintar.
- Nah, yang menarik tapi yang menarik nih
- Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- itu kan orang paling pintar.
- Paling alim ya.
- Makhluk yang luar biasa itu Nabi
- Muhammad.
- Saking pintarnya Nabi Muhammad
- beliau ini mengerti betul apa yang
- diinginkan oleh Allah.
- Ya, apa yang diinginkan oleh Allah itu
- paham betul.
- Eh
- saya pernah contohkan begini.
- Dulu saya ingat mertua saya ngomong
- Ci, katanya ya
- yang namanya ngidam itu
- yang namanya ngidam itu kan namanya
- enggak mengungkapkan ya
- itu bukan orang yang minta beliin ini
- beliin itu bohong itu itu bukan ngidam
- yang namanya ngidam seorang istri
- menginginkan sesuatu
- nah si suaminya kemudian membawa sesuatu
- yang diinginkan oleh istrinya itu tanpa
- ee minta tanpa bicara pada suaminya itu
- yang namanya ngidam
- kalau istrinya ngomong Pak kayaknya enak
- banget nih kalau makan ini bukan ngidam
- itu mah pinter-pinternya perempuan aja
- katanya gitu
- nah ini maka si suami ini bagaimana bisa
- bisa ta ngerti si istrinya pengin ini
- pengin itu kan sebuah sesuatu yang susah
- ya enggak gampang itu
- itu Nabi Muhammad itu ngerti
- ya
- Allah perintahkan salat coba perhatikan
- di dalam Alquran apa apakah ada
- penjelasannya orang kalau mau salat
- harus begini cuma ada kan basuh wajahmu
- basuh tanganmu usap kepalamu basuh
- kakimu
- sementara yang lain-lainnya rinciannya
- ya tidak detail sekali masih global lalu
- salatnya yang lima waktu ya salat apa
- saja dan salatnya ini berapa rakaat kan
- enggak dijelaskan secara detail oleh
- Allah tapi Nabi Muhammad kok ngerti
- itu menunjukkan kan cerdasnya luar biasa
- Nabi Muhammad nah
- begitu juga dalam bab zakatnya bab
- hajinya bab puasanya maka kalau orang
- cukup katanya Alquran saja enggak perlu
- sunah ah saya tuh enggak sependapat yang
- begitu
- ya ini cerdasnya Nabi ngerti bagaimana
- cara haji cara umrah puasa demikian
- juga zakat, padahal Allah hanya
- menyampaikan katakanlah garis besarnya
- secara global, secara rinci seperti yang
- dilakukan Rasul kan tidak. Itu artinya
- Nabi ngerti betul ya, cerdasnya luar
- biasa sehingga mengerti apa yang
- diinginkan oleh Allah Subhanahu wa
- Ta'ala. Namun ya,
- Nah, Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak
- pernah memuji Nabi karena kepandaian,
- kecerdasan, kepintarannya. Enggak.
- Ya, enggak ada dalam Alquran bunyi wa
- innaka la ala ilmin adzim. Engkau ini
- berada dalam ilmu yang luar biasa,
- enggak ada. Yang dipuji oleh Allah
- Subhanahu wa Ta'ala itu adalah
- akhlaknya. Jadi bukan ilmunya tapi
- akhlaknya yang dipuji.
- Nah, sekarang kembali kepada ini, kepada
- hadis yang yang di atas.
- Kalau kematian itu datang pada orang
- yang menuntut ilmu dan dia tetap seperti
- itu, maka ya mati syahid.
- Ya, dia mati syahid.
- Eee.
- Seo ini, apa namanya di dalam kitab eee
- Iqna ya.
- Itu dikatakan
- pengarang kitab ini
- membagi
- eee mati syahid itu menjadi tiga.
- Ya, jadi ketiga kategori orang yang mati
- syahid.
- Yang pertama adalah orang yang mati
- syahid dunia akhirat.
- Yaitu orang yang berperang melawan orang
- kafir
- ya, dengan niat li i'lai kalimatillah.
- Ya, li i'lai kalimatillah. Nah, ini
- sudah luar biasa ini kalau sudah begini.
- Maka disebutlah matinya itu nanti
- sebagai mati syahid.
- Para sahabat bagaimana pada gugur, para
- ulama ya.
- Para pejuang-pejuang kita itu ee banyak
- ya yang mati syahid.
- Nah, ini karena niatnya adalah li i'lai
- kalimatillah.
- Ya, untuk ee memperjuangkan agamanya
- Allah.
- Mati syahid. Orang semacam ini yang
- disebut mati syahid ini, syahid dunia
- akhirat ya. Maksudnya dunianya bagaimana
- disebut syahid? Tidak dimandikan, juga
- tidak dikafani. Dibungkus saja dengan
- apa ee dengan pakaian yang yang dia
- kenakan ketika meninggal. Nah, itu
- seperti itu.
- Karena nanti darahnya pun jadi saksi di
- depan Allah subhanahu wa taala.
- Di akhiratnya, dia akan dibebaskan dari
- azab kubur.
- Emm, jadi luar biasa. Makanya kaum
- muslimin ini sangat mendambakan mati
- sebagai syahid.
- Ya, di zaman sahabat itu kalau musuhnya
- banyak, kemungkinan apa itu kemungkinan
- syahidnya besar.
- Karena kemungkinan syahidnya besar, maka
- semangatnya itu untuk berperang lebih
- tinggi lagi.
- Karena sudah sudah sudah dekat ini
- dengan surga, kan begitu ya. Luar biasa
- mereka itu.
- Yang keduanya adalah syahid akhirat.
- Dunianya enggak. Eh, syahid akhirat.
- Ee syahid dunia dulu. Syahid dunia
- akhiratnya enggak.
- Yaitu orang yang berperang melawan orang
- kafir, tapi bukan niat li i'lai
- kalimatillah.
- Niatnya supaya dia dicatat dengan tinta
- emas.
- Masuk dalam kelompok nama-nama para
- pejuang.
- Lalu nanti matinya dikubur di makam
- pahlawan, misalnya ya. Dan ini akan
- membuat bangga anak cucunya.
- Nah, ini namanya orang yang mati syahid
- dunia saja.
- Di dunianya enggak dimandikan, enggak
- dikafani, sama dengan orang mati syahid
- akhirat.
- Dunia akhirat, ya. Tapi di akhirat
- enggak dapat nilai apa-apa dia.
- Eee.
- Wama lahu fil akhirati min khalaq.
- Enggak punya bagian apa-apa.
- Karena niatnya dia cuma dunia saja. Ya.
- Tuh, seperti itu.
- Ya, sayang sekali sebenarnya.
- Ya, banyak yang begini, ya. Niatnya
- enggak enggak bagus. Nah, yang ketiganya
- adalah orang yang syahid akhirat.
- Syahid akhirat itu
- eee tadi maaf saya yang syahid dunia itu
- enggak dimandikan, dikafani. Kenapa? Kan
- jelek. Ya, masalahnya kalau bicara
- masalah niat itu masalah hati. Siapa sih
- yang tahu niat seseorang?
- Kalau dia ini perangnya niatnya supaya
- dianggap sebagai pahlawan, orang lain
- tidak ada yang tahu.
- Karena tidak tahu itulah, makanya dia
- dipandang syahid di dunianya, enggak
- dimandikan, enggak dikafani.
- Nah, masalah akhirat itu adalah urusan
- dia dengan Allah subhanahu wa taala.
- Yang tahu, yang enggak bisa dibohongi
- adalah Allah. Maka, nanti Allah yang
- menentukan.
- Yang ketiganya adalah syahid akhirat.
- Dunianya enggak. Nah, ini banyak. Satu
- di antaranya adalah orang yang mati
- saat dia menuntut ilmu, masih menuntut
- ilmu. Karena itu, jangan pernah berhenti
- ngaji, berhenti belajar. Terus saja, ya,
- belajar itu.
- Karena kalau kita masih belajar,
- seandainya mati, nah masuk kelompok yang
- ketiga ini.
- Luar biasa, ya. Akhirat dibebaskan dari
- azab kubur. Kalau sudah bebas dari azab
- kubur, sedangkan azab azab kubur itu
- merupakan penentu. Kalau dia baik di
- dalam kuburnya, ke sananya akan lebih
- baik lagi. Kalau di kuburnya dia itu
- menderita, ya, tersiksa, di sana sesudah
- itu nanti akan jauh lebih mengerikan
- lagi. Nah, yang menentukan adalah
- bagaimana di masa-masa di alam kuburnya
- ini.
- Eee itu yang menuntut ilmu. Ada lagi,
- yaitu orang yang mati karena eee
- tenggelam, seperti kasus tempo hari kena
- tsunami, ya.
- Orang yang mati teraniaya.
- Eee orang yang mati diasingkan, orang
- yang mati kebakaran, orang yang mati
- ketiban reruntuhan, ya.
- Eee dan lain sebagainya, juga orang yang
- mati saat melahirkan.
- Seorang ibu
- mati saat melahirkan bayinya, walaupun
- bayi yang dilahirkan itu dari hasil
- hubungan
- eee gelap, ya. Kenapa di sini? Ya.
- Eee min ajli dzalik katabna ala bani
- Israil annahu man qotala nafsan bi
- ghairi nafsin au fasadin fil ardhi, fa
- ka annama qotalan nasa jamia, wa man
- ahyaha fa ka annama ahyan nasa jamia.
- Jadi, barang siapa yang menghidupkan,
- memberi eee membunuh, ya, satu jiwa,
- bukan karena dia seorang pembunuh, ya,
- atau membuat kerusakan di muka bumi,
- seakan-akan dia sudah membunuh semua
- manusia. Karena calon anaknya, calon
- cucunya, canggah wareng, terus udeg-udeg
- ziwur, ya. Itu mati semua karena di mate
- di dibunuhnya ini, ya.
- Tapi, barang siapa yang membiarkan
- seseorang hidup, memberi kesempatan
- hidup, seakan-akan dia sudah
- menghidupkan seluruh manusia.
- Nah, seorang wanita yang tadi melahirkan
- ini luar biasa karena dia ini telah
- menyelamatkan satu jiwa.
- Yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa
- Ta'ala yang suci. Sedangkan
- kehormatan seorang mukmin itu lebih
- agung daripada kehormatan Ka'bah.
- Ya. Kata Nabi seandainya seorang itu
- menghancurkan Ka'bah
- sehingga berkeping-keping dan dia masih
- kurang puas lalu dibakarnya sampai
- menjadi abu.
- Maka dosa orang itu tidak melebihi
- besarnya dosa orang yang merusak nama
- baik seorang muslim.
- Coba ya.
- Jadi nama baik seorang muslim itu lebih
- tinggi, lebih mulia, lebih agung
- daripada
- Baitullah. Padahal Abrahah
- ketika mau menghancurkan Baitullah itu
- dibinasakan oleh Allah Subhanahu Wa
- Ta'ala ya.
- Nah, bagaimana kalau menghancurkan
- manusia? Lalu kenapa tidak dihancurkan?
- Ya, kalau memang lebih mulia manusia ya.
- Doanya Nabi minta kepada Allah manakala
- umatnya berbuat salah itu jangan
- dihukum, dibinasakan seperti umat-umat
- sebelumnya.
- Minta diberi kesempatan kepada mereka
- untuk bertobat.
- Ya.
- Untuk bertobat. Ini luar biasanya
- Rasulullah kayak begitu.
- Nah,
- ini ee dulu Nabi Shallallahu Alaihi
- Wasallam pernah didatangi seorang
- wanita.
- Ngadu Rasulullah, saya datang
- menghadapmu mau minta dihukum.
- Saya enggak mau dihukum di akhirat, saya
- minta dihukum saja di dunia.
- Loh, kenapa memangnya kamu itu? Saya
- sudah berzina Rasulullah.
- Ya.
- Nah, karena itu tegakkanlah hukum pada
- saya. Saya enggak mau dihukum di
- akhirat. Ini kan orang-orang orang tobat
- ini jelas. Iya kan? Menyesal.
- Orang tobat yang begini karena mengakui
- kesalahan gitu tuh.
- Ehm.
- Ini kalau koruptor begini semua ya, aduh
- aman banget negara.
- Nah, akhirnya kata Rasulullah pergi
- kamu.
- Ya.
- Pergi. Pergilah si wanita itu.
- Besoknya datang lagi wanita ini.
- Begitu lagi minta dihukum oleh
- Rasulullah. Oleh Rasulullah suruh pulang
- lagi.
- Baru hari ketiganya datang, ya.
- Ah, ditanya oleh Rasulullah. Nah, ini
- kas eh peristiwa ini kemudian ditafsiri,
- dijelaskan, ya. Ditanggapi oleh para
- ulama. Diantaranya ada ah ulama itu
- berpendapat begini.
- Ya, kenapa Rasulullah menyuruh orang
- pergi?
- Maksudnya tuh wanita tuh enggak perlu
- minta dihukum.
- Enggak perlu minta dihukum karena dia
- sudah jelas menyesal. Itu dia yang
- penting menyesal.
- Dihukum juga kalau kalau enggak ada
- penyesalan di dalam hatinya kan enggak
- ada gunanya.
- Gitu. Ini yang penting itu adalah
- penyesalan. Ketika ada penyesalan, dia
- tidak akan melakukan perbuatan lagi.
- Nah, itulah tobat yang sebenarnya.
- At-taubah an-nadam gitu. An-nadam eh
- huwat taubah.
- Nah, penyesalan itu adalah tobat yang
- sebenarnya.
- Gitu.
- Jadi, sudah tinggal bertobat saja. Jadi,
- enggak perlu minta, ya. Pencuri enggak
- perlu nyodorin tangannya minta dipotong.
- Tobat kepada Allah. Itu begitu, ya.
- Ah, tapi karena orang ini datang ke tiga
- kalinya, lalu Rasulullah tanya,
- "Mungkin kamu itu cuma bercumbu."
- "Wong saya hamil." Katanya Rasulullah,
- ya. "Masa cuma bercumbu saja saya
- hamil?" "Oh, jadi kamu sekarang dalam
- keadaan hamil?" "Benar, Rasulullah."
- "Kalau begitu rawat dulu kandunganmu."
- Padahal itu kan dari Rasulullah tahu
- kalau orang ini mengatakan berzina,
- berarti perbuatan haram. Bayi itu dari
- perbuatan haram. Tapi kata Rasulullah,
- "Rawat dulu kandunganmu."
- "Perlu dirawat. Nanti kalau sudah
- melahirkan, kamu boleh ke sini, ya."
- Pulanglah si wanita. Dirawatnya itu bayi
- yang dari hasil zina itu.
- Tuh, dengan merawat ini diharapkan nanti
- akan menghapuskan dosa
- ah, dari perbuatan zinahnya, begitu. Lah
- ini orang sudahlah berzinanya dosa,
- ditambah lagi kemudian bayinya
- digugurkan. Ya Allah, itu kan sadis
- sekali. Kalau zaman jahiliyah dibiarkan
- orang lahir dulu, baru dibunuh, ya. Ini
- belum sempat lahir sudah di, apa
- namanya, digerus dulu di dalam. Ah, ya
- Allah, sadis benar, ya.
- Padahal ini jiwa yang sangat diagungkan,
- dimuliakan oleh Allah. Nah, begitu sudah
- lahir, wanita itu datang lagi menghadap
- Rasulullah.
- Ah, kata Rasulullah, "Rasulullah, sudah
- lahir bayi saya. Saya siap menerima, apa
- namanya, hukuman." Kata Rasulullah,
- "Susui dulu bayimu 2 tahun. Nanti kalau
- sudah 2 tahun, kau baru ke sini." Tuh,
- jadi suruh dirawat dulu itu bayi yang
- suci walaupun itu dari hasil hubungan
- zina. Maka, seorang wanita yang wafat,
- yang meninggal saat melahirkan itu
- adalah syahid. Dari kacamata agama
- sangat beruntung.
- Nah, saya pernah baca ini novel dulu ya.
- Kan novel itu seorang suami ini seorang
- apa namanya suami ayah membenci anaknya.
- Membenci anaknya karena istrinya itu
- meninggal saat melahirkan anak itu. Jadi
- yang
- menggara-gara bayi inilah istri
- tercintanya meninggal.
- Ya namanya orang
- agamanya enggak ada ya begitu ya.
- Baik jamaah rahimakumullah, itulah
- orang-orang yang di
- anggap sebagai orang yang mati syahid
- akhirat.
- Ya, termasuk orang mati syahid akhirat
- itu adalah orang yang demen pada orang
- lain ya. Cuma dia pendam gitu sendiri
- ya.
- Ya, sampai dia ini mati menahan rindu.
- Tetapi dengan syarat bahwa
- seandainya orang ini bertemu
- dipertemukan dengan orang yang
- dirindukan yang dicintainya di satu
- tempat yang sepi, dia tidak akan
- melakukan perbuatan macam-macam. Menjaga
- kehormatan dirinya juga kehormatan orang
- yang di apa namanya dicintainya. Kalau
- umpamanya berada tempat yang sepi berdua
- dia berbuat maksiat, nah orang yang
- semacam itu menahan dendam rindu ini
- enggak masuk dalam kategori orang yang
- mati syahid akhirat.
- Ya.
- Kemudian dalam hadis lain jamaah
- rahimakumullah, Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam bersabda, "Idza
- hadhartumul
- idza hadhartum mautakum, kalau kamu
- menghadiri orang yang mati di antara
- kamu ya
- mati di antara kamu, berarti orang
- orang-orang muslim fa agmidul basor
- pejamkan oleh kamu matanya
- ya, fa innal basor yatbaur ruh
- karena basor itu akan mengikuti ruh
- begitu dicabut nyawa si mata kita ini
- ngelihat
- ya, ngelihatin ruhnya keluar
- nah, selanjutnya kata Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam waqulu
- khairon, ucapkan oleh kamu yang baik,
- maksudnya doakan untuk mayit umpamanya
- binahwi maghfirotin walil musabi jabril
- musibah, ya doakan supaya diampuni si
- mayit ini, nah ketika memejamkan mata
- kita baca bismillah wa ala millati
- Rasulillah
- insyaallah nantinya merem, nah
- ee fainnal malaikatu amminu ala ma
- yaqulu ahlul mayit, karena malaikat itu
- nanti akan mengaminkan apa yang
- diucapkan oleh ahlul mayit ketika kita
- mengatakan ya Allah ampuni dosa si
- fulan, rahmati dia, itu malaikat
- mengaminkan
- dari hadis ini yang menarik di sini
- ee
- Rasulullah mengatakan bahwa basor
- manusia itu akan melihat ya
- melihat ruh
- padahal ruh itu
- adalah sesuatu yang sangat halus yang
- orang tidak bisa melihat
- saya pernah baca dalam satu buku di
- Amerika itu ada satu komunitas ya
- sebuah badan mendirikan sebuah badan di
- mana di situ terdiri dari orang-orang
- kaya yang sudah lanjut usia
- nah
- kemudian mereka ini berusaha bagaimana
- caranya supaya mereka bisa hidup lama,
- kalau perlu selama-lamanya hidup
- ya, mereka sudah bisa bikin manusia.
- Cuma memang enggak bisa bikin ruh.
- Nah, sekarang bagaimana caranya membuat
- ruh supaya orang kalau sudah mati ingin
- hidup lagi, keluarganya bisa dihidupkan
- lagi tinggal masukkan ruhnya.
- Akhirnya kemudian
- eee dibuatlah satu apa nih eksperimen.
- Dimasukkan se satu calon mayit ini yang
- sudah ditetapkan oleh sudah divonis oleh
- dokter umurnya hanya tinggal sekian hari
- atau tinggal sekian jam. Dimasukkan ke
- dalam tabung kaca. Yang rapat sedikitpun
- tidak ada udara yang masuk.
- Lalu di di setiap sudut dipasang kamera
- super canggih.
- Untuk mengetahui apa yang bisa ditangkap
- oleh kameranya.
- Nah, enggak lama kemudian begitu si
- calon mayit ini dimasukkan lalu ditutup
- dengan rapat. Tiba-tiba kaca itu pecah.
- Begitu kaca itu pecah buru-buru dibuka.
- Dibuka, dipegang mayitnya sudah mati.
- Ya, seorang itu sudah mati.
- Lalu bagaimana hasil jepretan kameranya
- ini? Ternyata tidak didapatkan apa-apa.
- Diper
- lagi eksperimen lagi. Ya.
- Nah, itu hanya terlihat sedikit bayangan
- putih sangat putih kayak semacam asap
- begitu.
- Ditingkatkan lagi begitu lagi.
- Tingkatkan tetap saja enggak bisa.
- Itulah halusnya.
- Allah dalam Alquran berfirman
- "Wayas'alunaka anir ruh." Mereka akan
- bertanya kepadamu Muhammad tentang ruh.
- "Qulir ruh min amri rabbi." Ruh itu
- urusan Allah. "Wama utitum minal ilmi
- illa qalila."
- Ya, kamu itu enggak diberi pengetahuan
- tentang ruh kecuali sedikit. Sedikitpun
- bukan tentang hakikat ruh tapi gejala
- roh. Itu yang disebut dengan ilmu jiwa
- kan, mempelajari gejala-gejalanya ya.
- Jadi bukan mempelajari rohnya. Nah,
- sekarang orang mau bikin roh ya.
- Nah, sekarang jadi enggak bisa dilihat
- oleh kamera super canggih saja enggak
- bisa dilihat. Bagaimana orang ketika
- dicabut nyawanya
- rohnya dicabut, lah itu kok mata bisa
- melihat.
- Nah, ini mata bisa melihat.
- Perlu para pendengar ketahui bahwasanya
- alam yang kita tempati ini namanya alam
- disebut dengan alam syahadah atau alam
- malakulin.
- Ya.
- Alam malak, di balik alam ini nanti ada
- lagi namanya alam malakut.
- Ya, itu seperti kuburan
- gitu, surga, neraka dan sebagainya.
- Nah, selanjutnya
- kita ini mempunyai dua mata, satu basor
- yang kedua basiroh.
- Basor ini adalah penglihatan kita.
- Demikian juga dengan basiroh, cuma
- bedanya kalau basor penglihatan dzohir
- basiroh adalah kita sering menyebut
- dengan mata hati.
- Nah, basor ini hanya bisa melihat alam
- syahadah, alam yang kasat mata yang kita
- tinggali ini. Itu pun ada syaratnya
- yaitu dua.
- Satu antara basor dengan objeknya
- tidak terhalang, tidak terhalang, tidak
- ada hijab.
- Tidak ada hijab.
- Kalau sekarang kita tidak melihat mobil
- di depan karena terhalang oleh dinding.
- Inilah dinding itu hijab ya.
- Yang keduanya syaratnya tidak terlalu
- jauh. Lah, kalau jauh ya enggak
- kelihatan.
- Itulah basor kita.
- Dan sekali lagi perlu diketahui bahwa
- basor kita ini tidak bisa melihat alam
- malakut.
- Iya, hanya alam syahadah saja. Artinya
- mata kita ini enggak mungkin bisa
- melihat apa yang melihat alam kubur.
- Mmm, makanya kalau ada orang mengatakan
- kalau memang benar di dalam kubur ada
- istilah ayo kita gali, ya. Kita lihat
- bagaimana tuh mayat. Nah, nah ini orang
- enggak ngerti, enggak usah ditimpalin
- orang yang begini, susah, ya, karena
- enggak ngerti masalahnya.
- Nah, yang keduanya adalah basiroh.
- Basiroh ini bisa melihat alam malakut.
- Syaratnya cuma satu,
- tidak ada hijab.
- Ya. Kalau masalah ini masalah jauh atau
- dekat itu enggak berpengaruh.
- Enggak usah ke situ, Pak. Sekarang ini
- saja hati kita saja, ya.
- Pikiran kita saja. Kalau saya
- menyebutkan kata Masjidil Haram
- dengan kata apa namanya Masjid Istiqlal,
- maka masuknya gambaran, ya, Masjid
- Istiqlal ke dalam khayalan kita dengan
- masuknya gambaran Masjidil Haram, ya, ke
- dalam khayalan kita kecepatan itu sama.
- Enggak kalau kalau Istiqlal langsung
- begitu orang nyebut Istiqlal
- langsung masuk tuh gambaran apa namanya
- eee Masjidil Haram eee Masjidil
- Istiqlal, tapi kalau Masjidil Haram
- setengah jam baru masuk. Kenapa? Wong
- jaraknya ke Istiqlal cuma 15 kilo, ya.
- Sementara ke Mekah 8.008 kilo umpamanya,
- kan enggak seperti itu. Itu artinya
- bahwa hati kita ini tidak berhubungan
- dengan jarak, ya.
- Jadi tidak ada jauh, tidak ada dekat.
- Dengan sendirinya tidak ada cepat, tidak
- ada lama. Ini untuk makhluk begini.
- Dan itu ada yang menciptakan, yang
- menciptakan itu adalah Allah. Karena itu
- Allah itu tidak berkaitan dengan waktu.
- Ya, bagi Allah enggak ada, enggak ada
- jauh, enggak ada dekat, enggak ada
- susah, enggak ada gampang. Ya, ya sama
- saja bagi Allah. Ya, karena enggak
- berkaitan dengan
- jarak, enggak enggak berkaitan dengan
- waktu. Wong buat malaikat saja begitu,
- apalagi ini dengan Allah Subhanahu wa
- taala. Ya.
- Nah, ini akidah nantinya ya, kita kalau
- ngaji tauhid. Makanya ada dikatakan
- bahwa ee Allah itu enggak di atas,
- enggak di bawah, enggak di kanan, enggak
- di enggak di kiri, enggak di depan,
- enggak di belakang. Ya, itu
- tauhid. Ya.
- Nah, kemudian jadi cuma satu ya
- ee hijabnya itu. Apa hijabnya itu yang
- menyebabkan basirah kita ini tidak bisa
- melihat alam malakut. Sementara Nabi
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- suatu hari beliau ini berjalan lewat
- kubur bersama sahabat lalu Rasulullah
- mematahkan pelepah kurma di belah dua,
- ditancapkan ke kubur. "Ada apa
- Rasulullah?" kata sahabat. "Saya lihat
- ada dua orang yang sedang diazab di
- dalam kubur bukan karena dosa besar.
- Satu karena orang ini kalau pipis enggak
- cebok. Begitu. Yang keduanya karena suka
- ngadu domba. Ya. Namimah.
- Ee nah, karena itulah. Lalu
- ini apa? Ee
- lalu kata beliau "Saya berharap selama
- pelepah kurma itu masih basah, ini akan
- meringankan azabnya."
- Nah, dari kasus ini kita bisa memahami.
- Pertama
- bagaimana Rasulullah Rasulullah itu tahu
- apa yang dialami oleh orang di alam
- kubur.
- Ya.
- Apa yang ya ee Rasulullah bisa melihat
- itu? dengan apanya Rasul melihat? Bukan
- dengan basornya, tapi basirohnya yang
- melihat.
- Basirohnya yang melihat.
- Ya, lalu kenapa sahabat itu kok enggak
- melihat? Karena antara basiroh Nabi
- dengan basiroh dan basiroh sahabat ini
- dengan objeknya, itu dengan alam kubur
- tadi, kalau Nabi enggak ada hijabnya,
- kalau sahabat itu ada hijabnya. Apa
- hijabnya itu? Hijabnya itu banyak, salah
- satunya adalah dosa. Jadi selama kita
- ini masih punya dosa, kita enggak akan
- bisa melihat alam malakut.
- Enggak, enggak akan bisa, ya.
- Nah, kalau ada orang yang bisa begitu
- bagaimana? Ya, ya mungkin, mungkin.
- Bahkan Nabi itu bukan cuma tahu itu, apa
- yang akan terjadi di kemudian hari itu
- kan sudah dijelaskan oleh Nabi, itu
- karena luar biasanya, ya, ilmunya
- Rasulullah.
- Ehm, itu karena luar biasanya.
- Ehm, nah ini kebersihan hatinya
- Rasulullah itu seperti itu. Ini ini
- adalah eh hijabnya. Nah, karena
- bersihnya itulah maka Rasulullah bisa
- melihat. Apakah kita mungkin bisa
- begitu? Iya, bisa. Kita juga bisa
- asalkan hati kita juga bersih.
- Kalau enggak bersih ya enggak bisa, ya.
- Dan banyak di antara apa namanya
- sahabat-sahabat yang begitu, para alim
- ulama, sufi atil muhaqiqin, ya, yang
- semacam itu. Nah.
- Dan itu fakta.
- Nah, itu yang pertama adalah hijabnya
- merupakan dosa. Makanya kita
- diperintahkan oleh Allah agar eh
- apa namanya kalau yang berdosa supaya
- bertobat. Begitu juga Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Nah.
- Yang kedua,
- yang kedua yang merupakan hijab itu
- adalah
- ee hubbud dunya, keterikatan,
- keterkaitan hati ini kepada kesenangan
- dunia.
- Nah, kalau dalam agama disebutkan dunia,
- itu adalah tiga intinya. Buat laki-laki
- yaitu wanita, tahta, dan
- harta, ya. Nih, terpikat dengan yang
- tiga ini, maka
- ee menjadi hijab dia itu begitu. Ya,
- kalau perempuan tinggal dibalik aja, ya.
- Tinggal dibalik.
- Maka sekali lagi saya
- katakan, umat Islam itu bukan enggak
- boleh kaya.
- Bukan enggak boleh punya tinggi
- jabatannya, boleh. Kalau perlu jadi
- presiden semua orang Islam, ya.
- Ee boleh, boleh jadi jadi apapun gitu.
- Ee mau jabatan menjadi presiden, mau
- jadi jenderal, mau jadi apapun, silakan.
- Demikian juga
- kita menyukai wanita, menyukai harta,
- menjadi orang paling kaya, silakan.
- Tapi jangan cinta kepada itu. Sebab
- cinta itu akan membuat mata buta,
- telinganya budek.
- Ya, coba ajalah orang kalau lagi demen
- seseorang, susah udah dinasehatin.
- Ya, susah dinasehatin, ya.
- Ee
- Nih, Ibnu misalkan ini tapi amit-amit
- ya, mudah-mudahan jangan gitu ya, nih.
- Biarin aja, Ustaz.
- Ah, biarin aja udah, ya. Demen ama
- seseorang gitu, padahal udah punya
- istri. Dibilangin siapapun juga enggak
- bakalan dengar.
- Karena kupingnya sudah
- Budek.
- Budek. Saya punya jamaah, pintar banget
- jawabnya. Ya, kan nikah lagi.
- Ee akhirnya anaknya minta kepada saya.
- Cobalah katanya barangkali mohon maaf,
- Ustaz, barangkali kalau Ustaz yang
- ngomong.
- Nah, saya kan tidak punya hak melarang
- orang mau nikah lagi, mau enggak itu
- urusannya. Cuma saya paling kalau punya
- istri dua harus begini, gitu ya.
- Lalu saya tanya,
- saya dengar-dengar katanya ee punya
- balai baru ini, gitu.
- Ya, akhirnya dia ngomong, Pak Ustadz
- katanya saya itu bukan pengin nikah lagi
- sebenarnya.
- Ini orang ini pengin apa namanya bisa
- ibadah, ya.
- Lalu dia minta dibimbing oleh saya,
- katanya Pak Ustadz.
- Minta dibimbing. Apa salah katanya Pak
- Ustadz kalau saya ngebimbing dia? Oh, ya
- enggak, kata saya enggak salah, bagus
- itu ngebimbing orang ibadah, gitu itu
- bagus sekali.
- Nah, itu orang enggak pada ngerti itu di
- sini, Pak Ustadz, katanya gitu. Padahal
- saya itu niatnya juga ngebimbing dia
- seperti dia mintanya begitu. Iya.
- Paling orang begini, kata saya, Pak,
- apa ngebimbing itu harus dikawin
- orangnya, gitu kan? Kan enggak dinikahin
- juga bisa saja dibimbing, gitu ya. Ya,
- ada saja alasannya.
- Namanya tadi itu orang kalau sudah
- demen, ya, matanya buta, kupingnya
- budek. Biar jelek juga kelihatannya
- Srikandi saja. Namanya juga orang demen.
- Iya.
- Nah, ini
- dan juga orang kalau cinta nanti akan
- menderita saat berpisah dengan yang
- dicintainya. Itu saja sebenarnya agama
- itu tidak mau kita ini kesulitan,
- menderita, ya. Kalau kita ini hati kita
- terpikat pada istri, pada kekayaan, atau
- jabatan, seketika mau bisa, ya.
- Nah, itu sudah menderita. Banyaklah
- orang begitu pensiun, stroke.
- Iya, kan? Mmm, banyak enggak siap banget
- itu bisa dengan itunya, ah, dengan
- jabatannya. Ya Allah, orang Islam itu
- ketika kita mau pensiun, kita sudah
- siap.
- Pensiun dari sini, kita sudah ada yang
- lainnya sudah persiapkan.
- Makanya kemarin ini saya lagi ngaji di
- Cirangkap, doainlah saya katanya.
- Ya, sebab ada yang dia ada apa, nah, ee
- pensiunan kiai, pensiunan apa, pensiunan
- guru, pensiunan ini.
- Saya bilang begini, doain, Pak, saya
- jangan sampai pensiun, kata saya gitu,
- kan.
- Wuih, iya, Pak Ustaz, katanya. Waduh,
- jelek banget kalau
- Pak Ustaz pensiun dari jadi Ustaznya,
- nah, gitu, kan, jeleknya. Ya, kiai kan
- enggak ada yang pensiun, kan? Iya.
- Lah, kalau pensiun jadi kiai, kan,
- kayaknya
- mantan kiai, kan, jelek banget. Kalau
- mantan preman, kan, bagus, ya, ya?
- Nah, ini ini bekas kiai ini, katanya
- dulunya.
- Kan, jelek sekali itu.
- Ya Allah.
- Nah, itulah apa namanya, kembali
- keterbikatan. Nah, sekarang
- kenapa tadi, kan, kita bisa melihat roh,
- ya, kita ketika dicabut itu mata melihat
- gitu. Coba.
- Kalau umpamanya saya bikin-bikin analogi
- dulu, ya, biar mudah dipahami, ya.
- Eee kalau kita ini berada lagi tenggelam
- di tengah lautan, tiba-tiba ada timsar
- yang mau menolong, tapi tidak bisa
- membawanya
- karena dengan ditambah satu beban lagi
- akan bahaya semuanya. Ah, ada orang
- memberikan pilihan satu dari dua. Ah,
- nih, mau mau ban mobil apa mau milih
- duit 10 miliar.
- Tuh, maka
- saya yakin siapapun juga orangnya
- tidak akan ada yang milih duit 10 miliar
- kan, saat itu dia hanya lebih
- membutuhkan kepada apa namanya ini
- kepada ban, karena keselamatan itu yang
- dipikirkan oleh dia
- padahal seumur hidup jangankan punya
- duit 10 miliar, mimpinya aja enggak bisa
- ya
- mimpinya aja enggak bisa, sekarang
- ditawari 10 miliar enggak mau milihnya
- nah
- kan mobil, kenapa?
- tuh saat orang dalam keadaan apa namanya
- eee di situ dipertaruhkan hidup atau
- mati, lupa sudah enggak tertarik kepada
- harta
- kalau kita dalam ketinggian 3000 kaki
- berangkat umroh tiba-tiba kapal oleng
- begini
- saya yakin tidak ada yang akan
- memanggil-manggil anaknya, istrinya ya
- aduh duit saya yang di anu nanti
- bagaimana ya, anak saya istri saya saya
- saya yakin enggak ada yang begitu, saat
- itu yang keluar dari mulutnya adalah
- Allahu Akbar
- Lailahaillallah, Astagfirullah, udah
- zikir, jadi saat itu yang diingat cuma
- Allah, bagaimana pertanggungjawaban kita
- kepada Allah, lupa sudah sama
- keluarganya, lupa sama hartanya, enggak
- ingat sama sekali, itu hilang artinya
- tuh keterikatan
- nah
- hilang keterikatan,
- kalau ini keterikatan hilang nih orang
- bisa nanti bisa melihat alam malakut
- la yakruja kata Rasulullah Shallallahu
- Alaihi Wa Alihi Wasallam
- la yakruja ahadukum minad dunya, seorang
- tidak akan keluar dari dunia
- ya tidak akan keluar dari dunia, hatta
- yaro aina masiroh.
- Nah, hatta ya'lama aina masiroh. Sampai
- dia mengetahui
- kemana dia akan kembali.
- Wa hatta yaro mak adahu minal jannah
- awinnar.
- Dan sampai dia, sehingga dia mengata,
- melihat atau mengetahui
- tempatnya di surga atau neraka. Oh.
- Bisa melihat surga neraka.
- Dia bisa melihat surga dan neraka orang
- ini, padahal belum mati. Dan ini di
- dalam surat ah tadi al al waqi'ah.
- Walau la idza balaghotil hulqum
- wahinaizin tandurun. Ketika ruh itu
- sampai ke tenggorokan,
- maka kalian semua akan melihat.
- Apa yang dilihat? Memang
- ah ada beragam ya.
- Ah ada beberapa penafsiran.
- Salah satunya orang menafsirkan saat itu
- kita akan melihat itu. Akan melihat
- tempat yang akan kita, eh tempat kembali
- kita atau tempat yang akan kita
- tinggali, surga atau neraka. Karena itu
- ada orang yang mati
- matanya mendelik ketakutan, ada juga
- yang dengan tersenyum, tergantung kepada
- yang dilihat, diperlihatkan kepadanya
- ya.
- Ini salah satu penafsiran, bukan
- satu-satunya penafsiran. Sebab sahabat
- Ibnu Abbas mengatakan begini,
- jika ada orang yang mengatakan ya,
- ah inilah
- ah tafsir Alquran, tafsirnya ayat ini
- adalah begini, itu namanya terlalu
- sederhana.
- Terlalu sederhana kenapa?
- Kita ini kok tahu betul ya, maksud
- daripada ayat Alquran. Maka katakan kata
- Ibnu Mas'ud, "Ini adalah salah satu dari
- penafsiran ayat ini. Jangan satu-satunya
- tafsir ayat ini begini, tapi itu salah
- satunya."
- Sehingga dengan demikian mungkin ada
- penafsiran-penafsiran lain dan itu
- adalah eh sah-sah saja sepanjang bisa
- dipertanggungjawabkan.
- Dan ini adalah salah satu penafsirannya
- bahwa yang dimaksud melihat di sini
- adalah melihat ainama sirohu
- ya, wa hatta ya yaro mak adahu minal
- jannah awinnar.
- Gitu. Nah, kenapa sekarang bisa melihat
- seperti itu? Karena saat roh kita itu
- sampai ke tenggorokan, saat itu hijabnya
- hilang.
- Hijabnya hilang.
- Ya, sehingga kita bisa melihatnya. Apa
- hijabnya? Keterpikatan.
- Keterpikatan, kecintaan kepada dunia ini
- gitu. Maka seringkali saya katakan,
- silakan jadi orang kaya tapi jangan
- cinta kekayaan. Silakan punya jabatan
- yang tinggi tapi jangan cinta. Sebab
- kalau cinta, saat mau pensiun nantinya
- udah
- udah kebingungan luar biasa. Saat
- kemudian
- menjadi orang miskin, ya biasa-biasa
- aja. Ya, enggak menderita, enggak apa.
- Dan ini yang diinginkan oleh oleh agama.
- Nah, inilah eh makna daripada idza
- hadhortum mautakum fa agmidul basor
- fainnal basor yatbaur ruh. Ya, kalau
- kamu menghadiri orang yang mati diantara
- kamu, pejamkan matanya karena orang yang
- mati itu matanya melek.
- Kenapa melek? Fainnal basor yatbaur ruh.
- Karena basor kita ini mengikuti roh,
- padahal roh itu adalah sesuatu yang
- tidak bisa dilihat oleh mata, tapi
- kenapa saat itu melihat? Itu ketika apa
- namanya ee hati kita sudah tidak
- terpikat lagi kepada selain Allah
- Subhanahu wa taala.
- Nah, inilah para pendengar Radio
- Silaturahim yang dirahmati Allah
- mengenai makna kedua ayat bisa.
- Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa taala
- menjadikan ilmu yang kita pelajari
- bersama ini menjadi ilmu yang bermanfaat
- dunia dan akhirat kita. Amin,
- wallahualam.
- Ya rabbana atarafna
- bi annana qatarofna
- wa annana asrofna
- ala ladha asyrofna.
- Fatub alaina taubah taghsilu kull haubah
- wasturlanal
- aurati
- wa aminir rauati.
- Waghfirli walidina
- rabbi wa mauludina
- wal ahli wal ikhwani
- wa sairil khillani
- wa kulli dzim mahabbah
- au jirotin au suhbah wal muslimina
- ajma amin ya rabbi asma fadlan wa judan
- manna
- la bi iktisabin minna
- bil musthofa rasuli
- nahdha bi kulli suuli.
- Ya Allah, kami mengaku bahwa kami
- berdosa.
- Kami melampaui batas.
- Kami hampir tergelincir.
- Berilah kami pengampunan.
- Membersihkan semua nista.
- Tutuplah kekurangan kami, ya Allah.
- Amankanlah yang kami takuti.
- Ampunilah ayah bunda kami.
- Juga anak-anak kami.
- Famili dan saudara-saudara serta semua
- teman.
- Dan yang mereka kami cintai, tetangga
- atau sahabat.
- Serta seluruh muslim semuanya.
- Amin. Terimalah harapanku.
- Semata anugerah dan kemuliaanmu.
- Bukan karena usaha kami.
- Dengan kedudukan Al Mustofa Shallallahu
- Alaihi Wa Alihi Wasallam, kabulkan
- permintaan kami.
- Shalawat dan salam semoga Allah
- limpahkan.
- Kepada Rasulullah senantiasa sebanyak
- butiran awan.
- Puji bagi Allah sejak awal hingga akhir.
- Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah
- Subhanahu Wa Ta'ala, setelah tadi kita
- ikuti pemaparan Ustadz Ahmad Zazuli
- Khalil. Namun sebelum kami lanjutkan ke
- kajian berikutnya yaitu sesi tanya dan
- jawab, saya akan sampaikan berita duka
- yang datang dari eh keluarga besar
- pimpinan Rasio yaitu Bapak Farid Talib
- bersama istri Ibu Wahyuni. Innalillahi
- Wa Inna Ilaihi Raji'un. Telah berpulang
- ke Rahmatullah saudara, abang, kemudian
- paman kita almarhum Syarifuddin
- Abdullah Risyad. Beliau merupakan adik
- dari istri Bapak Farid yaitu Ibu
- Wahyuni. Kemarin, Jumat sore pukul 18.51
- di RSPI. Semoga amal ibadahnya diterima
- Allah Subhanahu wa ta'ala dan almarhum
- mendapat jannah, insya Allah. Rumah duka
- di kediaman Bapak Farid Talib dan insya
- Allah akan dimakamkan ba'da zuhur, yaitu
- hari ini, hari Sabtu, 17 Februari di
- Pemakaman Pondok Ranggon. Yang berduka
- cita Ibu Wahyuni dan Bapak Farid Talib.
- Ikhwan dan akhwat, setelah ini kami buka
- kesempatan untuk menyampaikan tanya di
- nomor seperti biasa untuk SMS dan
- WhatsApp, nomor yang sama, 08111999720
- atau silakan hubungi telepon di
- 0218451512.
- Insya Allah, kami kembali setelah jeda
- nasyid berikut ini.
- Dalam kehidupan manusia, ilmu adalah
- salah satu hal yang sangat penting dan
- hal tersebut bukan lagi merupakan suatu
- rahasia.
- Sebagaimana yang dikatakan Ali bin Abi
- Thalib bahwa seseorang yang memiliki
- cukup ilmu akan merasa dimuliakan.
- Sementara mereka yang tidak memiliki
- ilmu dan tidak mengetahui apapun akan
- merasa tercela dan hal tersebut akan
- membuat seseorang merasa bodoh.
- Menurut istilah, ilmu atau yang lebih
- utama di sini adalah ilmu syar'i.
- Ilmu syar'i adalah ilmu tentang
- penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang
- Allah subhanahu wa ta'ala turunkan
- kepada Rasul-Nya, atau dengan kata lain,
- ilmu yang menyangkut Alquran dan hadis.
- Meskipun demikian, tidak berarti bahwa
- ilmu yang lain tidaklah penting atau
- tidak dianggap dalam Islam.
- Ilmu-ilmu yang ada dalam kehidupan
- manusia juga dapat dikatakan bermanfaat
- apabila ilmu tersebut menuntun manusia
- untuk lebih taat dan beriman kepada
- Allah subhanahu wa ta'ala.
- Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu,
- sesungguhnya Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam bersabda,
- "Barangsiapa menempuh jalan untuk
- mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan
- baginya jalan ke surga."
- Hadis riwayat Muslim.
- Eh, jaringan Rasyid TV yang bisa diraih
- lewat YouTube yang dirahmati Allah, kami
- masuk ke tanya dan jawab dan saya akan
- awali lewat WhatsApp. Ini hamba Allah di
- Jakarta masuk ya Ust, eh pertanyaannya.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Bagaimana caranya membedakan antara
- orang yang basirohnya tajam dengan orang
- yang di dalam tubuhnya ada jin yang
- kadang bisa melihat sesuatu yang tidak
- bisa dilihat oleh orang awam ya, Ustaz?
- Baiklah.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Eee orang yang
- yang apa namanya yang basirohnya sudah
- tajam artinya tidak ada hijab.
- Itu enggak suka
- apa demonstrasi.
- Enggak, enggak suka demonstrasi. Iya,
- enggak.
- Eee sementara tadi yang kedua ini
- seringkali demonstrasi, pamer,
- diperlihatkan kalau dirinya punya
- kelebihan. Kalau orang yang yang
- basirohnya ini enggak pernah begitu,
- kecuali dalam keadaan apa namanya
- terdesak sekali gitu ya.
- Eee itu bedanya insyaallah begitu, ya.
- Eee saya pernah ada orang, saya tahu
- kalau dia ini bukan bukan Habib.
- Artinya bukan duriyah Rasul, ya.
- Cuma karena wajahnya dia ini adalah
- karena ibunya Syarifah, bapaknya itu
- bukan bukan Syarif bukan Habib.
- Nah, jadi rupa rupanya orang ini ke ibu
- gitu, ya.
- Ya, tapi dia mengakuinya Habib saja.
- Suka datang ke saya. Dulu sih tiap bulan
- gitu langganan gitu, ya.
- Ya, saya sih ya biasa saja mau mau Habib
- mau bukan ya apa-apa. Nah, kemudian
- belakangan ini pernah datang dengan
- muridnya.
- Lalu dia mengatakan muridnya eee
- "Mbah", katanya "ini beliau ini Habib
- ini sudah kasyaf".
- Gitu. Iya, sudah tersibak hijab tadi
- sehingga bisa
- ya melihat yang tidak bisa kita lihat,
- dia bisa mendengar yang tidak bisa kita
- dengar gitu.
- Dan beliaunya sendiri juga begitu
- ngomongnya ya.
- Saya kalau lagi kasap katanya Ustad
- saya diam aja, orang kasap kok ngaku
- kasap dalam hati gitu ya. Kata saya
- sampean kalau mau bohongin ya bohongin
- dah orang yang enggak ngerti gitu ya.
- Iya, seumur-umur kata dalam hati saya
- gitu kan.
- Cuma saya enggak mau-mau berantem,
- enggak mau ribut doang ya.
- Enggak ada orang kasap tuh ngaku kasap
- tuh enggak ada.
- Ya, dan saya udah saya saya uji saya
- coba oh
- ternyata dari perilaku dan sebagainya
- kita tahu kalau dia ini bohongin saya
- gitu. Cuma dia ini kok enggak enggak apa
- namanya enggak sadar-sadar, enggak
- paham-paham kalau dia ini keliru
- bohongin.
- Gitu ya. Saya pengin dia supaya sadar
- sendiri tapi sekarang udah lama ini udah
- ada 6 bulan lebih enggak datang-datang
- lagi ke saya ya, udah 6 bulan lebih.
- Jadi begitulah untuk membedakannya orang
- yang sudah futuh dibuka hatinya oleh
- Allah itu enggak pernah cerita-cerita
- kalau dia ini kasap, udah hijab udah
- terbuka enggak ada. Kalau yang
- menampakkan nah itu cirinya biasanya
- adalah yang
- jenis kelompok yang kedua.
- Wallahualam.
- Baik, saya akan beralih ke penanya lewat
- SMS. Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustad.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Mengenai meninggal dalam keadaan syahid
- akhirat, apakah ada syarat-syarat
- tertentu? Misalnya apabila orang
- tersebut selama hidupnya terkena dengan
- kezalimannya, kemunafikannya kemudian
- meninggal karena kecelakaan, tertimpa
- reruntuhan atau ee dalam keadaan
- melahirkan ee atau orang-orang kafir.
- He em.
- Apakah termasuk mati syahid, Ustaz?
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Kalau bicara syahid, itu hubungannya kan
- dengan orang muslim, ya.
- Orang kafir ini enggak enggak ada
- hubungannya dengan itu.
- Cuma sekarang bagaimana kalau orang ini
- ee suka berbuat zalim dan sebagainya,
- apa nanti syahid akhirat juga, ya.
- Begini, saya akan akan dongeng dulu lah,
- ya. Dongeng dulu cerita.
- Itu di zaman Nabi Musa ini, Nabi Musa
- itu pernah diperintah oleh Allah pergi
- ke satu tempat.
- Ya, pergi ke satu tempat
- ee karena di tempat itu ada kalau orang
- Betawi bilang biang kerok.
- Ngerusak kampung gitu, suruh diusir
- karena
- bikin rusak kampung. Dikeluarkanlah,
- diusirlah orang itu.
- Enggak lama kemudian Allah perintahkan
- lagi Musa, pergilah ke satu tempat di
- sana ada kekasihku meninggal.
- Rawat oleh kamu sebagaimana kamu merawat
- apa namanya, merawat kekasih ee para
- kekasih-kekasihku.
- Ketika Nabi Musa ke sana
- ternyata itu orang yang dulu diusir oleh
- oleh Nabi Musa atas perintah Allah.
- Ya. Makanya Nabi Musa kan bertanya
- kepada Allah. Dijawab oleh Allah, iya
- betul, tapi menjelang akhir hayatnya dia
- taubatan nasuha, menyesali semua
- perbuatan, mengakui segala kesalahannya
- gitu. Dia putus asa dari semua makhluk,
- cuma dari Aku dia yang tidak berputus
- asa.
- Nah.
- Ini kalau orang ini dibawa lagi ke
- kampungnya
- kan orang kampung enggak akan terima.
- Kenapa? Karena orang-orang kampung
- enggak tahu kalau dia ini sudah tobat
- nasuha. Hanya antara dirinya dengan
- Allah subhanahu wa taala, kan begitu.
- Nah, sekarang ya pernah ada orang mau
- disalatkan di masjid enggak boleh oleh
- pengurus masjid. Kenapa masalahnya?
- Karena orang ini enggak pernah ke
- masjid. Katanya orang enggak doyan
- masjid, jangan dibawa ke masjid.
- Satu, apa masjid itu milik pengurus
- masjid? Yang kedua, dia itu muslim.
- Apakah yakin orang ini kita tahu sebelum
- meninggalnya dia tidak bertobat? Kan
- kita tidak tahu.
- Boleh jadi orangnya zalim tiba-tiba
- menjelang akhir hayat timbul penyesalan
- yang luar biasa, bertobat nasuha,
- ya. Nah, orang kan enggak ngelihat
- tobatnya yang dilihat itu kezalimannya
- dia dan sebagainya. Itu seperti itu, ya.
- Jadi, ee ketika
- Allah menghendaki orang itu baik, ya,
- ya gampang saja, ya.
- Di Bandung itu saya punya punya sahabat,
- ya, anak kiai. Dia cerita kepada saya,
- "Ustaz,
- ya, ee Jazuli, katanya,
- Abah saya ini pernah diminta oleh orang
- Arab, Habib, ya, minta dibimbing baca
- dua kalimat syahadat.
- Ya, Abah saya itu tidak tahu kalau dia
- itu duriah Rasul.
- Kelakuannya ini wah, enggak
- karuan-karuan nih kelakuannya. Begitu
- akhir hayat ingin ketemu dengan Abah
- saya.
- Begitu ketemu dia katakan, "Saya ini
- adalah ini Al ini." gitu, ya, marganya.
- "Ya, tolong katanya bimbing ah, oleh
- kamu saya untuk membaca kalimat
- tayyibah."
- Minta ditalkini kalimat tayyibah, ya.
- Ya, Allah enggak enggak nyana yang
- selama ini biasa lugu-lugu aja, ternyata
- ini adalah ini kita biasanya sebutnya
- Habib gitu. Lalu ditalqini baca la ilaha
- illallah. Begitu la ilaha illallah, les
- kemudian meninggal. Ya.
- Ini eh apa namanya
- eh Abah dari sahabat saya di Bandung,
- tuh kayak begitu. Lah coba orangnya
- enggak karu-karuan, giliran meninggal ya
- meninggal baca la ilaha illallah. Sampai
- di sini mengatakan yang namanya durra
- Rasul pasti husnul khotimah. Sampai
- yakinnya begitu ya. Padahal itu
- contohnya cuma itu ya. Nah udah udah
- diratakan aja semuanya.
- Itu satu contoh adalah seperti itu.
- Makanya kan kata Nabi
- ya, orang yang selama hidupnya
- selama hidupnya
- itu dia jauh dengan dengan eh apa
- namanya selama selama hidupnya selalu
- taat kepada Allah. Allah.
- Nah, begitu di akhir hayat dia melakukan
- perbuatan
- yang menyebabkan dia itu eh melakukan
- amal ini amal neraka.
- Jadilah dia suul khotimah. Padahal
- sebelumnya itu dengan surga tinggal
- sejengkal kata Rasulullah. Di akhir
- hayatnya dia melakukan amal neraka,
- jadilah dia ahli nar.
- Ya. Sebaliknya ada orang kata Rasulullah
- yang selama hidupnya dia beramal-amal
- neraka, sehingga antara dia dengan
- neraka itu tinggal sejengkal.
- Di akhir hayatnya dia melakukan amal
- surga, sehingga jadilah dia ini ahli
- surga. Jadi yang menentukan bukan
- sekarang yang kita lakukan apa.
- Yang menentukan.
- Tapi yang menentukan itu adalah akhir
- hayat kita nanti bagaimana.
- Makanya kata kata apa namanya
- seperti kata Imam Al-Ghazali, kita
- selalu kata Nabi berhusnudzon kepada
- Allah, selalu berbaik sangka ya dan kita
- minta supaya husnul khotimah gitu. Ini
- jadi yang menentukan apakah kita husnul
- khotimah atau suul khotimah. Lalu apa
- yang menyebabkan orang suul khotimah?
- Imam Al-Ghazali menyampaikan ya yaitu
- ada ada dua yang paling besar dan yang
- apa namanya yang di bawahnya. Kalau yang
- paling besar penyebab husnul suul
- khotimah itu satu adalah
- adalah kufur ya, orang kafir
- itu akan menyebabkan dia suul khotimah.
- Bukankah orang kafir itu pasti suul
- khotimah? Ya belum tentu. Siapa tahu di
- akhir hayatnya dia baca kalimat
- syahadat, kan banyak orang ya. Begitu
- sudah baca dua kalimat syahadat mati,
- ada.
- Nah, seperti itu.
- Nah, yang keduanya ada orang juhud,
- orang yang menentang hukum-hukum Allah.
- Agamanya Islam, enggak sholat, enggak
- zakat, enggak puasa, enggak haji, enggak
- apa cuma Islam doang ininya. Nah, ini
- sangat besar kemungkinannya suul
- khotimah. Tapi kemungkinan husnul
- khotimahnya juga ada.
- Gitu ada, kita tidak tahu.
- Yang kedua adalah yang menyebabkan orang
- suul khotimah itu adalah salahnya
- keyakinan.
- Selama ini kita meyakini apa yang kita
- yakini itu benar padahal sebenarnya itu
- salah.
- Qul hal nunabbiukum bil akhsarina
- a'mala, alladzina dhalla sa'yuhum fil
- hayati dunya wa hum yahsabuna annahum
- yuhsinuna sun'a.
- Ya. Maukah katakan olehmu Muhammad,
- maukah aku informasikan kepada kalian,
- kuberitahukan kepada kalian tentang
- orang yang rugi amalnya.
- Yaitu orang yang
- dia melakukan satu perbuatan yang dia
- yakini itu benar, baik padahal
- sebenarnya tidak baik. Boleh jadi kita
- ini gitu kan beramal.
- Lihat kita begini, perbuatan kita
- disalahin dong sama orang lain.
- Kita menyalahkan dia. Yang benar itu
- yang mana sih? Kita melakukan begini
- berdasarkan keyakinan
- kita ini benar, yakin gitu tuh.
- Nah, orang lain yang berbeda dengan kita
- yakin yang benar dia.
- Yang yakin benar dia.
- Nah, dari dua keyakinan itu mesti ada
- yang salah.
- Mesti ada yang salah.
- Nah, maka orang yang meyakini sesuatu
- benar padahal itu adalah salah, ini
- nanti akan tahu dia akan lihat sendiri
- bahwa dia itu salah atau benar di akhir
- hayat kita.
- Saat dicabut nyawa itu. Tadi tandurun
- ini begini.
- Itu ya jadinya.
- Jadi jadi dua penyebabnya ya.
- Nah, wallahualam.
- Baik, insyaallah jelas sekali penjelasan
- Ustad. Saya akan kembali ke pertanyaan
- lewat WhatsApp yang masuk masuk, maaf,
- dari Ibu Darma di Bekasi, Ustad.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Saya selepas salat maghrib dari dulu
- sudah biasa baca Al Mulk dan surat Al
- Kahfi. Kalau malam Jumat ada yang bilang
- ditambahin surat Al Waqiah. Eh, tapi
- kadang-kadang banyak godaannya sekarang,
- Ustad, seperti membaca grup WA dan lain
- sebagainya. Nah, sebenarnya adakah
- waktu-waktu yang dikhususkan dalam
- membaca surat Waqiah ini, Ustad?
- Baik.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Jadi, eh ini kan hadisnya.
- Jadi begini Ibu.
- Ada hadis ee apa namanya?
- Ee ada tarhib, ada targib, ya.
- Targib itu adalah menggemarkan, tarhib
- itu bikin orang supaya ee takut.
- Ee supaya takut.
- Hadisnya banyak sekali yang daif,
- termasuk yang namanya nanti kalau orang
- mendawamkan surat Muluk setiap magrib
- akan bebas dari azab kubur misalkan ya
- atau malam ini baca ini, malam ini ada
- hadisnya ada, tapi banyak hadisnya itu
- adalah daif. Nah, mengenai hadis ini,
- hadis daif ini
- Al Imam Imam ee guru besar mazhab Syafii
- mengatakan begini.
- Saya lebih suka mengamalkan hadis daif
- yang enggak sampai maudu, ya. Artinya
- maudu itu hadis palsu.
- Hadis daif
- ee daripada ee pendapat ulama.
- Ya, pendapat ustaz, pendapat kiai gitu.
- Ee kenapa ya?
- Ee karena namanya pendapat kiai murni,
- pendapat kiai yang tidak ada kaitannya
- dengan
- ee Rasulullah, ya.
- Bahwa Rasulullah mungkin berkata begini
- enggak, enggak ada. Kemungkinannya dari
- Rasul itu murni pendapatnya kiai,
- pendapatnya Habib, pendapatnya ustaz.
- Tapi kalau hadis daif ada kemungkinan
- mungkin sebenarnya memang Nabi berbuat
- atau berkata begitu.
- Cuma karena sanadnya,
- ya atau rawi-nya, ya. Sehingga karena
- dia itu suka bohong atau lemah daya
- hafalannya,
- lalu dikategorikan hadis daif. Bukan
- berarti Nabi sama sekali enggak pernah,
- enggak mungkin berkata atau berbuat
- seperti yang dikatakan hadis ini.
- Jadi kemungkinan dari Nabinya ada,
- sementara pendapat Habib atau Kiai,
- kemungkinan dari Nabinya kan enggak ada.
- Itulah makanya
- Imam Nawawi lebih memilih penda me
- memilih hadis daif daripada pendapat apa
- ulama.
- Nah, sekarang
- ee Ibu mendawamkan surat Al Mulk, surat
- Waqiah, sekarang saya pengin kalau waktu
- tertentu ada enggak? Tidak ada
- sebenarnya. Ibu bisa baca surat Al Mulk,
- mau pagi, mau siang, mau malam, sebab
- dia Alquran.
- Begitu juga surat Al Waqiah, ya.
- Apa habis Magrib atau habis Isya atau
- habis apa? Ee didawamkan setiap hari, ya
- bagus, ya. Walaupun Nabi enggak menyuruh
- rutin harus kamu baca Waqiah, tidak,
- tidak ada. Tapi juga Rasulullah tidak
- pernah melarang jangan membaca surat
- Waqiah setiap hari, ya enggak ada. Yang
- jelas Alquran dibaca kapan saja bagus.
- Alquran itu dibaca kapan saja bagus.
- Mungkin begitu, ya, Bu, ya. Wallahualam.
- Baik, Ustaz, tampaknya pertanyaan Bu
- Darma menutup kajian kita pada hari ini,
- mohon kiranya kesimpulan juga ditutup
- doa, Ustaz.
- Baik.
- Eee para pendengar Radio Silaturahim
- yang dirahmati Allah.
- Apa yang kita tidak eh saya ingin
- menyampaikan lewat apa yang saya
- jelaskan ini, ya. Bahwa
- eee kalau kita
- kalau kita mendengar atau melihat,
- mengetahui seseorang
- ya.
- Seseorang yang dikatakan mampu
- dia melihat yang tidak kita lihat.
- Mampu melakukan yang tidak bisa kita
- lakukan, itu jangan dulu kita memvonis
- itu adalah apa namanya mustahil,
- tahayul, khurafat dan lain sebagainya.
- Sesuatu yang ti yang tidak kita pahami,
- bukan berarti enggak benar.
- Ya, bukan berarti enggak benar. Dan
- sesuatu yang tidak kita ketahui, bukan
- berarti tidak ada.
- Itu menunjukkan bahwasanya memang bahwa
- pengetahuan kita ini mungkin terbatas.
- Dan tidak ada yang sempurna, enggak ada
- yang sempurna. Yang kesempurnaan itu
- cuma milik Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
- Dan jangan pernah kita merasa bahwa
- Alquran itu sudah ada seluruhnya di
- dalam otak kita.
- Ya, Alquran semuanya. Artinya kita ini
- paham betul kepada
- Alquran secara keseluruhan.
- Ya, karena Bapak-bapak Alquran itu
- adalah agama.
- Firman Allah. Ya.
- Ah, tidak ada orang yang memahami
- seluruhnya agama dari awal sampai akhir,
- tidak ada.
- Terlalu sederhana ya kalau
- sampai saya sendiri ketika
- mau berangkat haji yang kedua, menghadap
- guru Muallim Syafi'i Haddami.
- Ya, Kiai kata saya, insya Allah saya mau
- berangkat haji.
- Namun saya ini enggak ngerti apa-apa,
- apalagi tentang filosofinya, hik mahnya
- itu daripada haji ini, umrah, apa
- namanya melontarnya, tawafnya, sa'inya,
- enggak paham saya ini. Kata beliau
- begini.
- Ahmad Jazuli, kalau kamu mau pergi haji
- nungguin paham dulu haji
- sampai ke mati kamu enggak akan pergi
- haji kalau nungguin paham dulu.
- Enggak ada orang yang paham haji itu
- katanya, secara keseluruhan enggak ada
- ya, sulit. Sudah amalkan manasiknya yang
- ada, fikihnya pelajari,
- nanti dengan sendirinya sedikit demi
- sedikit kamu akan mengetahui. Saya juga
- enggak ngerti, enggak paham.
- Ya, kalaupun ada yang saya pahami, yang
- dipahami dengan yang tidak pahami, saya
- yakin masih banyak yang tidak saya
- pahami. Itulah ulama begitu.
- Luar biasa, kayak Sayyidina Ali Zainal
- Abidin, ketika orang mencela beliau, dia
- mengatakan begini,
- "Saudara," katanya, "apa yang Anda
- katakan itu benar sekali.
- Itu baru sebagian kecil dari
- kekurangan-kekurangan saya.
- Kalau kamu pengin tahu, saya akan
- beritahu lagi kekurangan-kekurangan saya
- yang kamu belum tahu." Orang itu malu
- sendiri pergi. Itulah ulama begitu,
- enggak pernah
- gitu nepuk dada. Jadi, selalu merasa
- bahwa yang diketahuinya itu adalah
- sangat sedikit. Semoga Allah Subhanahu
- wa Ta'ala bimbing hati, panjangkan umur
- kita dalam taat kepada-Nya.
- Allah bimbing hati kita ke jalan yang
- diridai, dicintai-Nya. Allah hiasi hati
- kita dengan akhlak yang mulia. Allah
- bersihkan hati kita dari akhlak yang
- hina. Allah limpahkan rahmat, taufik,
- dan hidayah kepada kita, anak cucu kita,
- sehingga istikamah dalam menjalankan
- perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
- Rabbana taqabbal minna du'ana wa
- raja'ana sirra wa 'alaniyah birahmatika
- ya arhamar rahimin. Rabbana atina fid
- dunya hasanah wa fil akhirati hasanah
- waqina 'adzabannar. Wa shallallahu 'ala
- Sayyidina Muhammadin wa 'ala alihi wa
- sallam. Walhamdulillahi rabbil 'alamin.
- Assalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Jazakallah khairan katsiran
- kepada Ustaz Ahmad Jazuli atas waktu dan
- ilmunya. Dan sebelum saya benar-benar
- menutup perjumpaan kita, kembali saya
- akan ulang kabar duka yang datang dari
- keluarga besar Ibu Wahyuni dan Bapak
- Farid Talib, salah satu pimpinan Rasial.
- Kami yang berduka cita eh menyampaikan
- bahwa inna lillahi wa inna ilaihi
- raji'un telah berpulang ke rahmatullah
- saudara, abang, paman kita Syarifuddin
- Abdullah Risyad. Beliau merupakan adik
- dari istri Bapak Farid Talib, yaitu Ibu
- Wahyuni meninggal kemarin Jumat sore
- pukul 18.15
- di RSPI. Mohon doa dari seluruh
- pendengar agar amal ibadah almarhum
- diterima Allah subhanahu wa taala dan
- almarhum mendapat jannah-nya,
- insyaallah. Rumah duka saat ini di
- kediaman Bapak Farid Talib dimakamkan,
- insyaallah ba'da zuhur hari ini hari
- Sabtu 17 Februari di Pondok Ranggon.
- Yang berduka cita Ibu Wahyuni dan Bapak
- Farid Talib. Kami segenap kru juga
- menyampaikan duka yang sedalam-dalamnya.
- Sekaligus saya juga yang bertugas pada
- hari ini, Caroline ditemani Fajar di
- belakang Miss Radio ada Zulfikar, di
- atas ada Robi ya di Rasial TV. Mohon
- maaf apabila ada kekurangan, semoga
- dibukakan pintu maafnya.
- Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu
- alla ilaha illa anta astagfiruka wa
- atubu ilaih. Wabillahi taufik wal
- hidayah, wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam