Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Roda silaturahim juga Rasil TV Iwan dan
- Awat telah masuk kita di sesi tanya dan
- jawab di tausia pagi hari ini bersama
- Ustaz Ahmad Jazuli Kholil. Saya akan
- bacakan e pertanyaan pertama dari Ibu
- Albar di Cikarang. Ustaz, asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz. Kebetulan saya
- diamanahkan sebagai ketua majelis taklim
- di lingkungan perumahan saya. Yang jadi
- masalah akhir-akhir ini adalah salah
- satu jemaah yang keluar dan ikut gabung
- taklim salafi. Bagi saya tidak masalah.
- Yang jadi masalah dia mengatakan ke
- salah satu jemaah yang masih gabung di
- taklim saya mengatakan kalau selama ini
- taklim kita itu tidak jelas dan banyak
- bidahnya. Dia menyarankan daripada
- terombang-ambing dia mengajak gabung ke
- taklim ee dia. Bagaimana Ustaz? Apa yang
- harus saya lakukan? Syukron.
- Jazakumullah.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Ee memang yang namanya kita mengharapkan
- kalau memang ibu-ibu atau bapak-bapak
- siapapun ya ikut ke dalam ee taklim
- kita. Karena kita yakin apa yang kita
- lakukan itu baik, yang kita lakukan itu
- benar. Nah, ketika ada orang berbeda
- dengan kita ya walaupun kita tidak
- menyalahkan mereka setidaknya ini
- pilihan yang kita ada di dalamnya adalah
- yang terbaik. Berarti yang di sana itu
- adalah kurang kurang baik gitu kan.
- Nah, begitu juga sebaliknya yang di sana
- menganggap bahwa yang ee dilakukan oleh
- kita ini adalah ee dipandang oleh mereka
- ya kurang baik, tidak baik, bahkan juga
- bukan cuma kurang. Jadi bisa jadi tadi
- itu dengan bahasa
- bidah. Maka dengan sendirinya dia juga
- senang kalau orang-orang yang ngaji pada
- jemaah kita ini ngikutin kepadanya.
- Partai mana sih yang tidak ingin apa
- namanya pengikutnya lebih banyak
- ya sekarang ini kan lagi bertarung juga
- sama pengin supaya pada mendukungnya
- semua ya begitulah di dalam ini juga
- agama juga seperti itu. Lalu bagaimana
- sikap Ibu sekarang
- kepada mereka namanya dalam berdakwah
- mereka itu adalah haknya. Tinggal ibu
- membentengi ya ee jemah-jemah ibu ya.
- Kalau perlu ajak orang itu
- berdiskusi dengan ibu. Tunjukkan di mana
- kesalahannya ya atau kekurangannya. Cuma
- biasanya, Bu, kalau sudah ke sana masuk
- ke salafi, diajak diskusi, enggak
- bakalan enggak bakalan mau. Sampai apa
- namanya botak juga kita ajak gitu ya,
- duduk bersama di enggak enggak bakal
- mau. Fatik ya, Ustaz ya. Iya. Enggak
- bakal mau. Ee kan ada dakwahnya ini
- mirip-mirip ya Islam jemaah dengan itu,
- dengan Wahabi dengan yang lainnya. Yakni
- kalau kalau ketemu kebok tuntun, kalau
- kebetu macan apanya? Lari. Artinya kalau
- ketemu orang yang kepalanya kecil,
- perutnya yang gede, nah tuntun. Karena
- orang bodoh. Kalau orang bodoh gampang
- dipengaruhi gitu. Tapi kalau ketemu
- orang yang kepalanya gede, perutnya
- kecil, artinya isi kepalanya banyak. Ya
- udah jauhin. Kenapa? Nah, karena bukan
- orang itu akan terpengaruh, tapi ente
- bisa jadi terbawa nantinya. Nah,
- ini ee terus begini ya, Ibu. yang perlu
- Ibu sampaikan kepada teman dalam Islam
- itu, Bu
- ya. Apakah bisa dipastikan yang kita
- anut, yang kita pahami sekarang ini
- adalah yang benar, kemudian mereka yang
- salah? Hakikatnya cuma Allah yang tahu.
- Itu menurut kita ya. Kita inilah yang
- benar. Tapi begitu juga kan menurut
- mereka, merekalah yang yang benar itu
- yang kita yang salah.
- Nah,
- selanjutnya sekarang untuk mencari ee
- untuk mudahnya ya, untuk mudahnya salah
- satu Imam Ghazali menjelaskan di
- antara ee sifat ya yang menyebabkan
- seseorang ini terhijab dari
- kebenaran adalah ketika orang itu
- taasub, yakni fanatik pada satu mazhab.
- Kalau fanatik mazhab saja ee menjadi
- bisa menjadi hijab dari kebenaran,
- apalagi fanatik kepada seorang guru.
- Makanya dalam Islam kan enggak benar
- fanatik kepada mazhab, fanatik kepada
- guru. Fanatik Islam ya. Fanatik mazhab,
- fanatik kepada guru itu yang enggak
- benar ya. Enggak dibenarkan. Karena itu
- di sini kita bisa memahami ya, bahwa
- kalau kita
- ini belajar pada seorang kiai yang kiai
- ini tidak mempermasalahkan kita belajar
- kepada siapapun bahkan mendorong,
- "Ngailah Anda, tidak harus kepada saya.
- Wong ada kiai anu kiai silakan ngaji,
- ya."
- Lalu bagaimana kalau kiai beda
- pendapatnya dengan Kak itu? Anda kan
- punya akal, Anda punya rasa, Anda punya
- hati. Nanti juga Anda bisa membandingkan
- mana yang apa namanya yang pas gitu kan
- dengan yang tidak. Nah, kalau kiai itu
- atau guru itu seperti itu memberi
- kebebasan kepada kita untuk belajar
- kepada si A, kepada si B, kepada si C,
- silakan. Lalu ambil yang pas. Mana yang
- Anda yakini itu adalah baik, ambil. Yang
- sekiranya enggak cocok kita tinggal
- tinggalkan. Ikuti kiai yang seperti itu,
- guru yang seperti
- itu. Tapi kalau ada ustaz atau kiai ya
- yang melarang muridnya belajar ke tempat
- lain kecuali kepada dirinya
- saja atau kepada ustaz yang
- segolongannya saja, sebaiknya Anda
- enggak usah belajar. Kenapa? itu namanya
- Anda dipaksa untuk takqlid kepada
- gurunya ya. Nah, itu nanti Anda ini ya
- jadi eksklusif hidupnya juga ya. Enggak
- bisa berbaur dengan orang lain, dengan
- kelompoknya saja. Biasanya orang yang
- semacam ini karena tahunya cuma satu ya,
- cumanya satu biasanya pemahamannya itu
- picik
- nantinya memaksakan kehendak dan itu
- ciri-ciri mereka kan begitu memaksakan
- kehendak enggak mau menghargai pendapat
- orang lain ya. Dan ini sampaikan kepada
- teman-teman Ibu demikian Ibu ya. Jadi
- kalau memang kita serang orang itu
- enggak karena itu adalah haknya dia ya.
- Ah faman sa amanawan saa kafar. Yang mau
- iman silakan iman, yang mau kufur
- silakan kufur, yang mau pindah silakan,
- yang enggak ya terserah. Tuh seperti
- itu. Wallahuam. Baik. Ee insyaallah
- jelas ya jawab-dawat dari Ustaz. Saya
- akan beralih ke pertanyaan berikutnya
- dari Didi di Bogor. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Eh tadi saya dengar ustaz
- berkata bahwa orang yang beramar makruf
- nahi mungkar itu tidak baik hubungannya
- dengan lingkungan lingkungan sekitarnya.
- Mohon ee lebih jelas lagi, Ustaz,
- penjelasannya. Baik, jemaah Allah.
- Ee biasanya orang
- kalau selalu mengajak ke masyarakatnya
- kebaikan, terus juga mencegah ada orang
- berbuat ee mungkar ya misalnya yang
- enggak pakai kerudung dekor langsung
- diingatkan. Yang enggak mau ngaji
- dinasehatin. Padahal di kita ini
- lingkungan masyarakat teh yang banyak
- kan yang begitu. Coba yang ngaji dengan
- yang enggak ngaji kan banyakan yang
- enggak ngaji ya. Yang berjamaah dengan
- yang enggak berjamaah banyakan yang
- enggak ya. Jangan-jangan yang salat
- dengan yang enggak salat juga banyakan
- yang enggak jangan-jangan ya. Nih kalau
- orang tukang amar makruf nahi mungkar
- akan begitu tuh. Lihat yang enggak pakai
- kerudung langsung dinasehati, ditegur.
- Nah, ketemu lagi besok dinasehatin lagi.
- Nanti juga orang enggak pada suka. Nah,
- enggak ada suka itu yang dimaksud ya.
- Jadi kalau orang benar-benar selalu ee
- mengajak orang kepada kebaikan ketika
- tidak berbuat baik, ketika melakukan
- kesalahan langsung diingatkan oleh kita
- nih kita biasanya kurang disukai oleh
- masyarakat
- kita. Tapi mereka mengakui kita itu
- orang baik. Hm. Gitu. Mereka akui kita
- orang baik, tapi mereka biasanya tidak
- menyukai kita. umumnya. Karena umumnya
- orang itu pengin di apa namanya
- dibebaskan terserah mau berbuat apa saja
- begitu. Jadi bukan berarti kita ini
- nantinya jelek di mata Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam itu kan
- enggak disukai oleh Abu Sufyan, oleh Abu
- Jahal, oleh apa? Ketika Abu Sufyan
- ditanya oleh raja ini Romawi ya ee
- apakah dia ini dari suku yang baik ya?
- Apakah dia ini pernah apanya berdusta?
- Enggak pernah. H. Jadi kalau umpamanya
- dikatakan dia orang baik gitu, orangnya
- orang baik dan seterusnya, tapi kami
- enggak suka gitu. Enggak suka apa?
- Karena umumnya orang itu kalau
- diperbaiki memang apalagi yang
- memperbaikinya lebih mudah. Anak-anak
- lagi ya ee enggak mau mengakui kelebihan
- anak-anak itu. Saking jengkelnya lu
- ngajak-ngajak gua begini begini. Lu
- sunatkan gua yang mangku.
- [Musik]
- Begituannya. Iya. Nanya orang kan begitu
- ya. Iya betul ustaz. Itu yang dimaksud
- ya. Wallahualam. Baik. Ini namanya masih
- berkaitan dengan pertanyaan sebelumnya.
- Hamba Allah Ustaz asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Ee hisbah atau amar makruf
- nahi mungkar kan kita mengajak kepada
- kebaikan dan mencegah keburukan. Ustaz,
- bagaimana jika kita telah berusaha
- mencegah gunjingan dan hasutan di antara
- manusia misalnya? Adakalanya orang yang
- kita ajak kepada kebaikan dan kita cegah
- dari keburukan itu malah mencela dan ee
- marah kepada kita. Apakah kita berdosa
- karena kemarahannya walaupun itu salah
- seorang orang tua kita yang harusnya
- kita hormati, apakah kita tetap harus
- mencegah mereka atau membiarkan hal yang
- tidak kita perlukan dalam hal ini? Mohon
- jawabannya. Bismillahirrahmanirrahim.
- Itulah makanya tadi saya ee dikatakan
- kitab Taurat itu menjelaskan kalau orang
- suka amar maruf dahi mungkar biasanya di
- tengah kaumnya itu dia kedudukannya
- enggak
- bagus. Itu karena umumnya orang diajak
- benar itu
- susah itu diajak diajak benar itu. Kalau
- diajak pintar insyaallah kalau diajak
- pintar enggak susah tapi diajak benar
- orang itu susah.
- Makanya pendidikan yang diajarkan Nabi
- itu bagaimana membentuk masyarakat yang
- benar
- dulu. Kalau orang sudah benar diajak
- pintarnya gampang, tapi kalau orang
- sudah pintar diajak benarnya
- susah. Ya. Nah. Nah, sekarang resikonya
- orang yang berdakwah itu memang seperti
- itu. Karena itulah
- maka Nabi mengatakan, "Siapa yang
- menunjukkan kepada kebaikan ya, maka dia
- mendapatkan pahala ya seperti orang yang
- melakukan kebaikan itu tanpa berkurang
- sedikit pun. Cuma nunjukin doang. Eh,
- tuh di sono tuh ada pengajian setiap
- hari ini. Ayo, coba pada ngaji. Dianya
- enggak ngaji dapat
- pahala. Dapat pahala juga yang cuma
- menunjukkan aja. Apalagi cuma nanti
- kalau sudah sudah begitu kan dia juga
- mikir, "Saya nyuruh-nyuruh orang ngaji
- lah. Sayanya kagak ngaji. Apa kata
- orang?" Nanti juga dia berpikir, "Udah
- lumayanlah namanya ngajak dulu, dakwah
- dulu ya. Dan resikonya orang yang ngajak
- kepada kebaikan ya itu tadi dimarahin
- oleh orang ya
- dimusuhin. Ya sudah seperti itu. Wong
- dapat nilai dari Allah yang luar biasa
- itu sudah resiko. Nah wama alaina illal
- balagul mubin. Ya, tidak ada kewajiban
- bagi kita melainkan menyampaikan hukum
- apa adanya. masalah nanti yang kita
- sampaikan itu diterima atau tidak satu
- adalah tergantung kepada bagaimana cara
- kita
- menyampaikan. Ya, itu yang pertama. Yang
- paling pokok nomor satu ini adalah
- apakah Allah berkenan memberikan taufik
- atau tidak. Ini yang paling pokok gitu.
- Tapi kita namanya orang memberikan
- nasihat, orang yang berdakwah harus
- memperhatikan bagaimana caranya
- berdakwah. Tapi orang yang didakwahi
- jangan memperhatikan bagaimana cara
- orang berdakwah, tapi apa tujuannya
- dia. Cuma susah ini yang begini ini ya.
- Saya di kampung sana di tempat di tempat
- mertua saya ini. Ada orang
- tua dia sering nasehatin
- begini. Kalau ada orang yang ngomelin
- kita itu tandanya orang itu masih sayang
- sama kita, jangan marah katanya tuh. Ya,
- itu tandanya dia sayang sama kita.
- Karena guru-gurunya juga ngomong begitu.
- ketika pernah dia ditegur ngambek enggak
- salat Jumat di
- situ ya. Jadi baru cuma dalam mulut aja
- dia bicara seperti itu tuh. Nah,
- ceritanya kalau beliau ini
- salat itu membaca surah
- Ad-Duha kata yang
- keliru,
- yaitu
- ee wawajadaka dolan fahada wajadaka
- ailan faagna dengan saila ya itu selalu
- salah bacanya. Jadi beliau ini kalau
- membaca
- wawajadaka lan fada wawajadaka
- ailan. Nah itu bacanya ailan pakai
- hamzah dulu baru kemudian ain. Hmm.
- Kemudian sailanya juga pakai ain. Bukan
- saila tapi saila ya. Maknanya kan udah
- jadinya enggak karu-karuan.
- Nah, orang ini masyarakat di sana suka
- pada ngedumel kalau sudah salat. Tapi
- enggak ada yang berani
- ngomong. Diluruskan tuh enggak ada yang
- berani. Kenapa? Ya suka ngambek kalau
- diluruskan. Kata saya begini, sebenarnya
- mungkin cara kita barangkali saya
- makanya datang ke
- rumahnya, Pak. Kata
- saya, saya ke sini itu di samping
- silaturahim ada dua hal juga. Ada satu
- hal lain yang ingin saya sampaikan. Apa?
- Mau minta maaf kata saya,
- "Bak, maaf salah apaan lu, Ji?" katanya
- gitu. Nah, enggak gini, Pak. Kata
- saya, saya dengar Baba itu kalau baca
- ini baca surah
- Adduha itu ada dua yang salah. Nah, saya
- sih makanya mau ngingetin aja gitu kan.
- Ee yang mana katanya ji? Yang pertama
- adalah ee wawajadaka ailan. Nah, Bapak
- itu suka bacanya ailan pakai
- hamzah. Ain dulu baru hamzah. Ailan lah.
- Kalau saya bacanya
- ailan terbalik. Jadi menurut saya baji
- itu salah tuh bacanya. gitu. Padahal
- saya balik itu keadaannya ya. Saya balik
- gitu cuma saya salahkan aja diri saya.
- Nah, nah setelah itu begitu saya pulang,
- saya periksa Al-Qur'an, ternyata saya
- yang salah, Pak. Kata saya. Jadi saya
- datang ke sini meminta maaf. Iya, Bang.
- Enggak apa-apa, Pak. Bagus, Ji. Lu
- katanya ngelihat Quran. Kalau enggak, lu
- salah terus. Gitu kan. Iya, ya. Enggak
- apa-apa ya. Enggak apa-apa katanya. ee
- apa namanya? Kalau umpahnya begitu benar
- lu jatanya satu periksa dulu jangan main
- ngomong aja dulu ya. Begitu juga kalau
- kalau kalau enggak ada yang baca yang
- salah katanya lu ingetin kan gitu. Nah,
- lalu yang kedua tas cuma Pak yang kedua
- giliran saya tuh yang benar tuh Pak gitu
- abah yang baba yang salah yang mana ji
- katanya waamsaila.
- Kalau saya baca
- wamila pakai hamzah, Baba bacanya saila
- gitu pakai ain. Ah, jadi gua salah ji.
- Iya, kata saya gitu
- ya. Ah, jadi kalau gitu satu-satu deh,
- Pak. Kata saya, saya salah satu apa
- satu. Orang kalau merasa salah ada
- temannya yang salah juga dia enggak apa
- namanya ya kan merasa enggak dikalahkan
- lah gitu. Berarti lu sama gua sama gitu
- kan ya. Eh, ya ya katanya. Wah, enggak
- ngelihat-lihat lagi katanya, Ji. Ya,
- rupanya setelah saya pulang ya udah
- makasih Ji katanya lu ingetin gua
- katanya gitu. Iya, Pak. Kata sama-sama
- saya juga maafin tuh Mbak saya sudah
- suudon Pak enggak apa-apa katanya gitu
- ya. Nah, cerita akhirnya magrib salat
- baca surah Ad-Duha. Orang itu ya begitu
- baca dua-duanya benar tuh. Yang tadi itu
- sampai Mas Aar ngomong tumben katanya
- itu bacanya benar gitu ya. Tumben
- bacanya benar. Akhirnya saya bilang jadi
- sebenarnya bukan ngambekkan ini orang
- Pak caranya kita gitu ada cara mungkin
- gitu. Biarinlah kita bohong dikit yang
- penting Al-Qur'an jangan sampai rusak
- gitu ya. Heeh. Jadi demikian barangkali
- apa penanya itu tadi ya. Heeh. Enggak
- apa-apalah tahu buat orang tua ya,
- Ustaz. Kasih tahu orang tua. Iya yang
- ngasih ngasih orang tua gitu kan. Jangan
- ya sampai ada pernah nih di di tempat
- saya di sana. Ustaz saya mau nanya
- nih. Iya. Kalau orang tua enggak salat
- apa kewajiban kita? Katanya ustaz. Ya
- kita ngasih tahu ajak dengan baik-baik.
- Awas tapi ee wala tak uf. Jangan sampai
- mengat hus begitu aja kan wasohibhuma
- fid dunya ma'rufa gitu ya. Kalau diajak
- sudah tapi belum mau salat juga mohon
- sama Allah contohin sama kita dan terus
- minta Allah awas jangan sampai
- tersinggung hatinya.
- Nah, terus apalagi ya? Enggak ada. Udah
- itu aja minta kepada Allah supaya
- diberikan apa namanya taufik gitu ya.
- Dan kitanya contohkan terus dengan
- diajak enggak usah dinasehhatin ya
- karena orang tua sudah tahu
- sebenarnya. Enggak ada cara lain yang
- lebih dari itu enggak ada kata saya.
- Akhirnya enggak masalahnya, Pak Ustaz
- nih saya
- ngaji lalu ada yang ngomong begini,
- "Kalau orang tua sudah dibilangin suruh
- salat enggak mau, ya, maka langkah kedua
- jangan
- ditanya. Kalau sudah kita enggak tanya
- masih juga dia enggak mau salat, ya,
- maka kita usir juga enggak apa-apa gitu.
- kita usir aja gitu dari rumah kita ya.
- Saya tuh tanda tanya, "Apa benar, Pak
- Ustaz, kita anak boleh ngusir orang tua
- walaupun enggak salat?" Kata saya itu
- Ustaz gebleg itu orang tua kok diusir
- ya. "Jangan dengerin, jangan dengerin
- kata saya." "Udah kita itu berusaha
- ngajak mereka ya. Kalau belum juga itu
- belum ada taufik dari Allah." Makanya
- satu contohin oleh kita ngajak dengan
- baik-baik dengan diperlihatkannya
- perilaku kita yang baik nanti juga ya
- insyaallah nanti akan berubah ya. Jangan
- diajak langsung apa namanya langsung mau
- jangan maunya begitu aja kita di mana
- apa namanya perjuangan kita ya bagus
- kita enggak disambitin Nabi kan
- disambitin dan sebagainya tuh gitu jadi
- pelan-pelan. Nah, jadi enggak benarlah
- kalau sampai orang tua hanya karena
- diajak salat enggak mau kemudian diusir.
- Bahkan yang terakhirnya orang begitu
- katanya dibunuh juga enggak apa-apa. Ini
- kan kata saya wah edan ini sinya jangan
- dengerin kata saya berhenti ente
- ngajinya sama sama dia ya cari ustaz
- yang lain. Saya enggak suruh ngaji sama
- saya enggak cari yang yang beneranlah
- gitu. Masa orang tua dibunuh saya ya
- gitu ya ibu ya. Eh, Saudara, jadi emang
- resikonya orang-orang berdakwah ya
- seperti itulah. Seperti itu. Tapi jangan
- kapok ya. Jangan kapok. Wallahualam.
- Baik. Satu pertanyaan terakhir Ustaz ya.
- Singkat ee ini dari hamba Allah ustaz
- yang bertanya. Tadi Ustaz sudah
- mengatakan bahwa untuk menegakkan amar
- makruf nahi mungkar ada
- kriteria-kriteria tersendiri. Saya
- mengukur diri saya masih sangat awam,
- Ustaz. Lalu apabila sudah ada orang lain
- yang melaksanakan ee amar makruf nahi
- mungkar tersebut, apakah sudah gugur
- kewajiban saya untuk ikut ee ikut-ikutan
- melaksanakan amar makruf nahi muka
- tersebut?
- Bismillahirrahmanirrahim. Dalam ayatnya
- kan begini ya. Wal takum minkum ummah
- nih. Wal takum minkum ummatun yaduna
- ilaliruna
- bilufanil munkar waul muflihun.
- hendaknya di antara kamu gitu kata Allah
- hendaknya di antara kamu ada sekelompok
- orang. Nah, jadi bukan berarti hendaknya
- kalian semua, tidak ya di antara kalian.
- Maka di sini amar makruf nahi mungkar
- itu jelas berarti hukumnya fardu
- kifayah. Tidak semua kita harus amar
- makruf nahi mungkar. Tidak. Jadi kalau
- ada ada orang yang sudah amar maruf ya
- sudah selesai gugurlah kewajiban dari
- yang lainnya. Begitu juga kemungkaran
- ada yang sudah melakukannya maka ee nahi
- mungkarnya juga sudah gugur dari orang
- lainnya karena sudah ada yang
- melakukannya. Itu seperti itu ya. Nah,
- jadi hukumnya adalah fardu kifayah.
- Ah. Nah, paling tidak kalau kita di
- keluarga kita gitu kan ya. Jadi demikian
- ya, Ibu ya ee hukumnya fardu kifayah.
- Tidak semua kita harus beramar makruf
- nahi mungkar ya, tapi sebagian dari kita
- saja. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa
- taala panjangkan umur kita dalam taat
- kepadanya. Allah limpahkan rahmat,
- taufik, dan hidayah kepada kita anak
- cucu kita sehingga dapat istikamah dalam
- menjalankan perintahnya. dan meny
- larangannya
- [Musik]
- minahmatika
- yainbanaun hasanah wail
- akaballahu sayidina muhammad
- [Musik]
- waamhamdulillahabbilaminamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh
- waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh alhamdulillah ikhwan dan
- akwat telah kita ikuti bersama
- pencerahan dan ilmu dari Ustaz Ahmad
- Jazuli Kholil seputar Hisbah terima
- kasih bagi ikhwan dan awan yang telah
- menyampaikan pertanyaannya khususnya nya
- lewat WhatsApp dan terima kasih pula
- pada kru yang bertugas pada hari ini ada
- Fajar dan Panji di belakang ruang
- kendali. Saya Karolin undur diri semoga
- di lain kesempatan kita diberi waktu
- untuk berjumpa kembali.
- Subhanakallahumma wabihamdika ashadu
- alla illa anta astagfiruka wa atubu
- ilaik. Wabillahi taufik wal hiidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]
- [Musik]