Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [Musik]
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma
- sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.
- Dipancar wasta dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor
- 36 Radio Silaturahim.
- Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah
- subhanahu wa taala. Bagaimana kabar Anda
- di hari ini? Senang sekali saya dapat
- kembali menjumpai Anda dalam
- program surah di edisi 15
- [Tepuk tangan]
- Maret
- dari kita. Alhamdulillah masih hadir dan
- kita Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Sehat Ustaz
- ya? Alhamdulillah.
- Baik, dapat di pagi hari ini ini akan
- ee
- bisa
- [Musik]
- jadi
- kita ya.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- Para pendengar la silaturahim dias
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- [Musik]
- Mudah-mudahan hari
- ini kita berada dalam rahmat dan Allah
- Subhanahu wa
- taala. Saudaraku kaum muslimin yang
- dirahmati Allah subhanahu wa taala. Pagi
- ini kami akan mengangkat kisah seorang
- sahabat Nabi yang namanya hampir di
- seluruh kawasan negeri-negeri Islam.
- Mereka pasti akan kenal siapa dia. Ia
- adalah Amar bin
- Yasir. Keteladanan Amar bin Yasir tidak
- jauh beda seperti keteladanan seorang
- sahabat yang sama-sama satu ras, satu
- suku, yaitu Bilal bin Rabah. ya,
- sama-sama dari negeri Habsyi dan
- masing-masing punya prestasi yang sangat
- gemilang dan ini menjadikan tokoh
- keteladanan di antara sahabat Rasulullah
- sallallahu alaihi
- wasallam. Para pendengar Radio Rasil dan
- TV Rasil yang dirahmati Allah.
- Ammar bin Yasir dari sisi orang tuanya
- yaitu yang namanya
- Yasir. Yasir ini berasal dari Yaman.
- Kemudian dia mengembara sampailah di
- Madinah eh di Makkah dulu ya. Setelah
- sampai di Makkah dia dibeli oleh salah
- seorang tokoh orang Makkah namanya Abu
- Huzaifah.
- Abu Huzaifah ini membeli Yasir. Kemudian
- setelah berada dalam ee lingkungannya
- kemudian oleh beliau
- dinikahkan
- dengan pembantunya juga yang bernama
- Sumayyah. Jadi dua orang ini akhirnya
- menjadi orang yang dipertemukan oleh
- Allah dalam keluarganya yang berada
- waktu itu di seorang yang bernama Abu
- Huzaifah.
- Dari
- pernikahan
- yaitu Yasir dan Sumayyah melahirkanlah
- seorang anak yang namanya
- Amar. Jadi tiga orang ini, Bapak, Ibu,
- dan anak ini semuanya menjadi tokoh
- keteladanan dalam keimanan dan juga
- dalam aktivitas.
- Bagaimana coba ayahnya? Ayahnya begitu
- mendengar dakwah Nabi Muhammad tentang
- Islam, tidak banyak komentar dia masuk
- Islam. Begitu pula ibunya Sumayyah
- begitu diajak oleh suaminya kemudian
- tidak banyak dia pertanyaan dia masuk
- Islam. Kemudian enggak lama
- anaknya anaknya pun sama diajak dakwah
- masuk Islam, masuk Islam. Nah, tiga
- orang ini dari mulai Amar, Yasir,
- Sumayyah, masyaallah kita akan
- mendapatkan beberapa manfaat dalam
- perjalanan sirah mereka. Pertama saya
- sampaikan tentang ibunya yang namanya
- Sumayyah. Pada saat Sumayyah diintegrasi
- oleh orang-orang kafir Quraisy tentang
- keimanannya, dia disuruh menyatakan
- keluar dari Islam. Dia tolak tidak.
- Maka penolakan ini seolah-olah merupakan
- damprat yang sangat menyakitkan bagi
- muka-muka orang-orang Quraisy. Maka
- setelah dia dicambuk, dipukul, dan lain
- sebagainya, akhirnya ujian yang
- sangat-sangat menyakitkan dan sangat
- memilukan. Justru Sumayyah di tengah
- padang pasir ditombak dengan lembing
- sehingga beliau meninggal.
- Nah, inilah bagaimana pertahanan akidah,
- pertahanan akidah atau keimanan yang
- kuat oleh ibunya sehingga beliau
- merupakan wanita pertama yang syahid,
- yang gugur dalam mempertahankan keimanan
- kepada Allah. Kemudian
- ayahnya, ayahnya pun sama
- disiksa sehingga para penyiksa merasa
- kelelahan.
- Nah, siksaan ini pun akhirnya
- berakhirlah. Wafatlah ayahnya. Jadi, ibu
- dan bapak sudah wafat dengan
- mempertaruhkan keimanannya kepada Allah.
- Rela ruhnya lepas dari dirinya daripada
- keimanan keluar daripada dirinya. Ini
- perjuangan daripada Amar ee ayahnya Amar
- yaitu Yasir dan ibunya yang bernama
- Sumayyah.
- Nah, sekarang menimpa kepada anaknya
- yang namanya Amar. Tadi Yasir, kemudian
- Umayyah, ibunya kemudian Amar. Bagaimana
- Amar? Amar setelah mendengar ayah ibunya
- wafat, maka beliau disiksa.
- Mereka mengharapkan tadinya itu kalau
- ibunya leleh atau runtuh keimanannya itu
- niat mereka agar Amar itu ikut seperti
- ibunya. Tapi ternyata ibu dan bapaknya
- pertahanan akidahnya kuat lebih-lebih
- daripada
- baja. Maka akhirnya mereka mengalihkan
- sekarang perhatian kepada Amar karena
- ibunya sudah tidak ada, ayahnya pun
- sudah tidak ada.
- Pertama, Amar
- [Musik]
- dibujuk. Bujukannya di antaranya,
- "Apakah kamu mau seperti ayah dan ibumu?
- Saya perlakuan bahkan lebih kejam
- daripada itu saya akan lakukan." Tapi
- sebelum terjadi kalau bisa Amar jangan
- seperti itu. Kembalilah kepada agama
- nenek moyang orang-orang Quraisy
- penyembah berhala. Amar menjawab,
- "Tidak. Pokoknya saya tidak akan
- mengikuti. Akhirnya karena keimanannya
- kuat, Amar bin Yasir dibawa oleh
- orang-orang kafir Quraisy ke sebuah
- bukit yang agak jauh dari kota Makkah.
- Kemudian dia
- dilentangkan. Nah, itu panasnya padang
- pasir seperti panasnya bara api. Bisa
- dibayangkan.
- Kemudian di bagian
- atasnya punggung atau kaput itu ditaruh
- batu seperti mereka dulu menyiksa atau
- seperti mereka menyiksa Bilal bin
- Rabah. Tapi
- keimanan Amar sekalipun disiksa begitu
- hebat itu tidak menimbulkan runtuh dan
- goyang
- imannya. Akhirnya Amar dilemparkan dari
- atas bukit.
- Saya dulu
- membayangkan bukitnya itu enggak jauhlah
- seperti bukit di Jawa Barat. Pikiran
- saya waktu itu yang selalu identik kalau
- bukit itu ada pepohonan, ada air. Karena
- saya ingatnya Bukit Jawa Barat
- sepertinya Gunung Gede, Gunung Salak ya.
- Kemudian gunung-gunung yang lain,
- terutama gunung-gunung yang ada di
- daerah Sukabumi itu saya pahamlah. Jadi
- naik ke gunung enggak pernah kekurangan.
- Baik itu makanan minuman, banyak di
- gunung itu makanan ada yang disebut
- pohon singkong ya. Kemudian dibakar di
- tengah hutan tuh. Kemudian dalam keadaan
- sudah dibakar dimakan. Kemudian ada
- nanas kiri kanannya ada cabai ada
- pupaya. Ah kemudian kalau turun ke bawah
- itu ada yang disebutnya lembah. Itu di
- lembah itu ada air ngalir itu di diminum
- itu. Bayangkan langsung tanpa ada
- masalah apa-apa. Saya kira seperti itu
- gunung yang ada di Arab. Tapi ternyata
- begitu saya datang ke
- Arab, saya bengong. Katanya, "Itu apa
- yang di depan?" "Batu, Pak Ustaz." "Batu
- apa?" "Ya, gunung."
- Wah, pas saya diperlihatkan, "Itu Gunung
- Uhud. Ya Allah, saya kira Gunung Uhud
- tuh seperti Gunung
- Gede atau gunung-gunung yang lain."
- Ternyata beda ya. Masyaallah.
- Nah, bisa
- dibayangkan pasir dan gunung yang batu
- di kena sinar matahari itu panasannya
- kayak apa? Sesudah dijemur di padang
- pasir dilempar. Bayangkan itu kalau di
- kita kan tebingnya itu agak landai
- begini nih. Contoh set ini kalau di
- begini. Waktu saya mau naik ke Jabal
- Gunung Hiro itu saya kira gunungnya
- begini. Ah, saya mau naik ya. Begitu
- saya diperlihatkan itu kaget saya. Hah?
- Kata orang Sunda ieu mah lain atau
- bukannya nanjak ieu mah
- nerekel ke begini. Ya Allah akhirnya
- saya mundur enggak jadi
- itu. Masyaallah itu saya membayangkan
- bagaimana waktu Amar dilempar itu dari
- atas gunung. Masyaallah. Mungkin kalau
- di kita ya orang dijatuhin ya ambruklah
- ringkes tangan. Tapi kok Amar enggak
- kayak bola gitu ya.
- Mantum manggul begitu bluk. Iya, artinya
- badannya enggak apa-apa itu memang kuat
- oleh Allah ciptakan seperti itu.
- Akhirnya orang-orang Quraisy setelah
- melihat amar dijatuhkan enggak apa-apa
- kan mereka berpikir juga kalau dibiarkan
- dia nanti ke mana-mana menyebar lagi
- dakwah Islam repot aja tangkap lagi bawa
- lagi masukin ke tempat penjara dia.
- Besoknya begitu
- lagi. Akhirnya orang Quraisy bingung ini
- seorang satu kok. Masa begitu orang
- gagah-gagah enggak kuat.
- Kan mestinya satu orang berhadapan satu
- orang selesai ini enggak ditanya ini
- enggak mau ditanya itu enggak mau
- disiksa keras tetap aja teguh disuruh
- mengatakan A dia katakan ya B enggak
- pernah nyekrup itu. Nah
- akhirnya kata mereka sudah daripada kita
- capek menyaksa dia, siapin aja
- tungku. Ternyata apa? Dibakar.
- Bayangkan hidup-hidup
- dibakar.
- Masyaallah. Kemudian akhirnya Rasul tahu
- nih ee Rasul
- datang. Nah, begitu Rasul
- datang oleh Rasul dipegang tuh bahunya
- dielus diusapin sambil meneteskan air
- mata. Apa kata Nabi? Ya
- Amar, inna mauidaka fil jannah.
- Wafi
- riwayatin ana ali
- amar mauidakum al jannah. Sesungguhnya
- keluarga Ammar itu tempat tinggalnya di
- dalam surga. Ucapan itu membuat suatu
- semangat yang tak terbayangkan
- sebelumnya. Seolah-olah jiwanya hidup
- kembali. Mungkin kalau bahasa gampangnya
- kata orang Sunda, "Aing teu nanaon
- yeuh."
- Nah, arek dibakar pokoknya yang penting
- saya sudah pintu surga sudah siap bagi
- saya sehingga enggak peduli orang
- ngomong itu
- ngomong. Nah, kemudian Rasul berkata
- kata saya yana
- rukuni bardan ala amar kama baddarta ala
- Ibrahim. Hai api, dinginlah engkau
- kepada Amar seperti engkau dulu dingin
- kepada Ibrahim. itu tiba-tiba apinya
- langsung
- dingin. Masyaallah kayak es
- mungkin. Kenapa ini api menyala kok
- enggak kena-kena? Ini biasanya kalau api
- menyala kan kalau kata orang Sunda aya
- tutung aya hideungnya kok ini
- enggak. Masyaallah. Nah di situlah
- bagaimana berkat doa Rasulullah
- terijabah oleh Allah. Api yang menyala
- itu enggak terasa panas, dingin aja.
- Kayak dia sedang dikepasin oleh kipas.
- Dingin aja.
- Sudah. Akhirnya dengan siksaan itu
- mereka tidak mempan. Nah, kemudian
- mereka disiksa lagi. Nah, dalam keadaan
- siksa itulah tiba-tiba
- apa? Bekas siksaan kan parcing berenjol
- tuh. bekas bakaran yang sudah mas
- bayangkan tiba-tiba diculupin ke dalam
- air kemudian saudara dibebesin dibebesin
- ditenggelamin. Jadi dia itu sudah
- ditenggelamkan ke dalam air, sudah
- dilemparkan dari gunung, sudah dibakar,
- sudah dipukul,
- macam-macam. Masyaallah. Sampai dia
- berkata, "Ya Rasulullah, orang-orang
- Quraisy telah menyiksa kepada saya
- sampai kepada puncaknya
- penyiksaan." Rasulullah
- diam dan Rasulullah akhirnya memberikan
- hiburan. "Ya
- Amar, tempat tinggalmu surga." Enggak,
- enggak usah waktu. Itu begitu doa Rasul
- langsung adem lagi itu terasa badannya
- segar lagi. Itu kan masyaallah itu
- amat. Akhirnya karena mereka akhirnya
- kalau istilah kita enggak pernah jebol.
- Jadi kalau sudah ditabrak
- mentaat, pukul mantap
- sampai puncak siksaannya itu Amar itu
- sampai ngomongnya kalau istilah kita
- itu
- mungkin error ya. Seingat enggak
- nyambung itu kalau diajak bicara itu
- sampai enggak nyambung saking apa?
- Saking kerasnya
- siksaan sampai orang bilang tuh Amar
- kayak orang gila itu palaha polohok.
- Padahal bukan gila. Dia kan merasakan
- bagaimana sadisnya siksaan kepada
- dirinya karena diini enggak bisa diitu
- akhirnya. Wah mungkin kalau istilah kita
- digencet mungkin kalau ada setrum
- disetrum dia karena itu belum ada setrum
- ya. Tapi Susan begitu hebat.
- Nah, sehingga akhirnya orang-orang
- Quraisy bilang, "Poknya ikuti apa yang
- saya katakan. Kalau kamu ingin selamat,
- ingin ikuti." Akhirnya dia mengatakan,
- "Wahai Amar, Tuhanku adalah Tuhan Lata
- Uja." Akhirnya Amar mengikuti apa yang
- mereka katakan.
- Nah, dalam keadaan dia tidak sadar.
- Kemudian setelah dia bangun sadar baru
- dia ng kenapa saya tadi ikut apa yang
- mereka katakan
- ya? Padahal saya kan sebelumnya enggak
- pernah
- mau. Akhirnya dia nangis
- sedih. Ya Allah, kata dia. Saya sudah
- bertahan begitu kuat. Tiba-tiba kenapa
- saya ikut apa yang mereka
- katakan? Nangis
- Amar. Nah, sedang nangis tiba-tiba Rasul
- datang.
- Kata Rasul, "Kenapa
- Amar?" "Iya, ya
- Rasulullah, saya sudah pertahakan akidah
- saya, tapi tiba-tiba saya kemarin saya
- disiksa oleh mereka, saya enggak sadar,
- saya ikutin." Rasulullah
- tersenyum. "Oh, gitu. Udah gini aja ya.
- Kalau besok lagi mereka menyiksa engkau,
- ikuti aja. Ikuti aja apa yang mereka
- katakan." Loh, mungkin kalau kita loh,
- kok gitu?
- Tiba-tiba Rasul membacakan ayat dalam
- surah An-Nahl atau lainnya. Kata Nabi,
- azubillahiminasyaitanirrajim. Illa man
- ukriha waqolbuhu mutmainnun bil
- iman. Kecuali orang-orang yang
- dipaksa untuk mengikuti keinginan
- mereka. Sementara hatinya tetap tenang
- dan
- tentram, maka ucapannya tidak berdampak
- apa-apa. Wah. Berarti boleh ya? Boleh.
- Kenapa? Karena apa yang kamu ucapkan
- enggak sesuai dengan kehendak keimanan
- kamu. Imanmu tetap utuh. Tapi karena
- mereka memaksa itu oleh Allah enggak
- dinilai. berarti imanmu masih
- bersih. Ya, akhirnya Amar yang tadinya
- sedang sedih mengingat ucapan dia,
- akhirnya dibuka oleh Allah jadi bahagia
- lagi. Alhamdulillah saya ternyata di
- diakui oleh Allah artinya dimaafkan
- kesalahan saya. Pokoknya kata Nabi,
- "Ikuti aja dah apa yang mereka katakan."
- Ah, karena keimanannya kuat,
- alhamdulillah Allah melindungi dia.
- Akhirnya dia
- dimerdekakan. Yaitu datang Abu Bakar
- terus dibeli itu dia dari perbudakannya.
- Kemudian merdekalah dia. Jadi Abu Bakar
- ini salah satu sahabat yang paling
- banyak berjasa memerdekakan hamba saya
- yang sedang disiksa termasuk Amar, Bilal
- dan
- lain-lainnya. Nah, inilah perjuangan
- besar yang dilakukan oleh para sahabat
- Nabi. Di antaranya Abu Bakar bisa
- menyelamatkan perbudakan. Kemudian Amar
- yang diselamatkan oleh Abu Bakar. Beliau
- pun akhirnya merdeka dari perbudakan dan
- tidak lama kemudian akhirnya dia ikut
- bersama Nabi hijrah ke kota
- Madinah. Dalam perjalanan beliau ikut
- bersama Nabi, maka tidak lama terjadi
- peristiwa perang Badar.
- Nah, pada peristiwa perang Badar, Nabi
- bersabda, kata Nabi, "Kalau kamu nanti
- ketemu dengan orang-orang Quraisy, ada
- Abul Bukhtari, ada Mut'im bin Addi, ada
- beberapa orang sahabat Nabi, jangan kau
- bunuh." Akhirnya
- sahabat bilanglah
- kenapa? Bahkan kalau ketemu Abbas jangan
- kau
- bunuh. Aduh, ada yang orang berkata,
- "Enggak peduli saya. Pokoknya ketemu
- siapa saya sikat aja. Tapi Nabi
- mengatakan kalau orang ini Abul
- Bukhtari, dia salah satu tokoh yang
- menghapuskan perjanjian yang di mana
- janji itu dalam perjanjian itu
- mengatakan orang-orang yang berada di
- pihak Nabi Muhammad dan orang yang ada
- di pihak Quraisy tidak boleh mereka
- mengadakan persetujuan, tidak boleh
- mengadakan pernikahan, tidak boleh
- mereka mengadakan jual beli. Tiba-tiba
- surat perjanjian yang ditempelkan di
- Ka'bah dicabut oleh Abul Bukhtari.
- Inilah jasa Abu Bukhtari. Maka kalau
- kamu ketemu dengan dia, jangan kau
- bunuh. Baru mereka sadar. Tadinya kan
- enggak tahu sebabnya. Ketemu lagi dengan
- yang lain, ketemu lagi dengan Abbas.
- Kalau kamu ketemu nanti dengan Abbas,
- jangan kau bunuh. Ada orang ngomentar
- mentang-mentang saudaranya, bukan
- saudaranya. Abbas itu ada keimanan, cuma
- dia belum dinampakkan keimanannya.
- Akhirnya terjadilah beberapa peristiwa
- dan alhamdulillah orang yang disebutkan
- itu
- teraman dari serangan sahabat. Nah,
- tiba-tiba ketemu dengan
- Umayyah. Nah, Umayyah ini dulu yang
- pernah menyiksa Amar bin
- Yasir. Nah, dia dengan gagahnya si
- Umayyah ini pokoknya melihat orang
- muslim ini kayak melihat kucing tikus
- aja, pokoknya geram aja.
- Tapi dalam perang Badar itu suasana
- Umayyah seperti apa? Seperti ayam
- beratung kalah
- peot. Ya, belum apa-apa dia menyerah
- kalah. Loh, akhirnya ditangkap oleh
- sahabat kemudian dia dijadikan tawanan.
- Apa yang membuat dia rasa takut? Belum
- apa-apa sudah takut. Karena dia melihat
- ada pasukan
- putih ini. Pasukan putih ini di luar
- sahabat Nabi. Gesit, lincah, cerdas.
- Mungkin seperti yang dikatakan Uni di
- kapal Mapi Marah-marah itu pasukan
- putih-putih tiba-tiba muncul pas
- ditangkap kok
- hilang. Nah, ini terjadi di zaman Nabi
- waktu perang Badar sehingga Umayyah
- nyerah sudah kenapa pasukan Put ini
- pegang pecut. Nah, pecutnya itu kalau
- dipukulin itu kayak listrik
- meledak bus. Wah, takutnya bukan main.
- Makanya begitu lihat menyerah aja.
- Akhirnya ditawan tangan sahabat. Sudah
- ditanganin ketemu Amar bin Yasir. Kata
- Amar
- Umayyah tenang kamu ya berada dalam
- pegangan seseorang. Tidak kata dia.
- Selama kamu masih ada, aku yang tidak
- akan tenang hidup. Aku harus
- menyelesaikan kamu dulu sebelumnya lain
- kamu harus saja selesaikan. Kata Amar.
- Kata sahabat. Heh, Amar. Ini kan tawanan
- saya enggak ada sekarang. Belum ada
- tawanan sekarang. Sekarang saya sikat
- dia. Ternyata benar dari belakang
- dipanjung itu dengan pedangnya bat
- gedebeg
- jatuh tuh. Gedebeg
- wudubruk blak jatuh si Umayah. Ah, kata
- dia, "Saya sudah tenang sudah mati dia."
- Sebab kalau yang dia masih ada itu
- kejahatannya bisa nanti menimpa kepada
- yang lain. Sebelum terjadi saya
- selesaikan dulu. Jadi yang menyiksa Amar
- itu ternyata oleh Amar sendiri
- diselesaikan.
- Jadi bukan oleh Hamzah ya, bukan oleh
- Ali, tapi oleh orang yang dulu disiksa
- oleh dia yaitu Amar bin Yasir.
- Selesailah perang Badar, selesai
- kemudian perang Uhud. Terus Amar selalu
- menjadi prajurit yang tangguh sampai
- Rasulullah wafat. Nah, bagaimana
- kehebatan Amar bin Yasir? Sekalipun
- beliau
- itu mendapatkan berbagai prestasi, itu
- beliau hidupnya sederhana sekali.
- Masyaallah. Itu bukan mungkin kalau di
- kalangan sekarang itu ya pejabat khusus
- itu
- tapi fisiknya itu memang badannya
- seperti itu. Rambutnya keriting ya kayak
- kismis. Hidungnya agak pesek.
- Hah. Kemudian badannya masyaallah ya.
- Memang Allah kehendaki seperti itu ya.
- Ya, orang Habsi karena kebanyakan itu
- hitam-hitam
- ya. Saya masih ingat kemarin waktu di
- Yaman juga apalagi waktu saya di Sudan
- hari-hari saya ketemu kalau saya mau ke
- kantor kata saya itu siapa? Kata kawan
- saya, "Ustaz, jangan dilihat katanya."
- "Kenapa Ustaz?" "Iya takut tersinggung."
- Jadi kalau banyak ngelihat
- Yeah. di tengah-tengah yang hitam ada
- juga yang
- Alhamdulillah dengan takdir Allah memang
- kalau kita jihad ya melaksanakan
- perintah Allah itu ada tur ya tapi kalau
- tur tidak ada jihad tapi kalau jihad ada
- tur
- alhamdulillah nah saudaraku akhirnya
- Amar bin Yasir menjamani kehidupan Nabi
- dari sejak di kota Makkah sampai di
- Madinah sampai Nabi wafat dia masih
- tegar kemudian Dia ikut di zaman Abu
- Bakar. Kemudian Abu Bakar wafat zaman
- Umar. Umar di zaman Utsman sampai di
- zaman Ali. Empat khalifah itu al
- khulafaur rasyidin dia ikuti semua.
- Sampai akhirnya beliau berada di zaman
- Ali bin Abi Thalib yang
- menentukan di mana posisi Amar. Ternyata
- posisi Amar berada di pihak Ali bin Abi
- Thalib. Akhirnya mereka semakin mantap
- yang ada di pihak Ali dan mereka
- akhirnya menyerbu pihak Muawiyah.
- Berakhirlah sudah peristiwa Khulafa
- Rasyidin dan Umar Amar bin Yasid tetap
- membela kebenaran. Dan Rasul pernah
- berkata, "Ikutilah Amar karena semua
- tingkah laku Amar tidak akan melenceng
- daripada
- kebenaran. Dan ikutilah Abu Bakar,
- ikutilah Umar. Karena dua tokoh ini
- sepanjang hidupnya tidak akan sesat di
- jalan Allah." Nah, jadi Rasul mengatakan
- Abu Bakar, Umar, kemudian Amar ini orang
- ini tidak akan sesat. Kalau kamu ngikuti
- jalan, ikutilah mereka. Wattabi sabil
- man anaba ilaiya. Ikutilah orang yang
- kembali kepadaku karena mereka mengikuti
- jalan yang benar. Demikian para pemirsa
- radio silaturahim dan pemirsa TV Rasil.
- Bagaimana keteladanan aman keteladanan
- Amar bin Yasir serta ayah dan ibunya
- dalam berpegang teguh kepada agama
- Allah. Meskipun ujian begitu hebat,
- beliau tetap dengan sabar. Beliau tetap
- yakin dengan pertolongan Allah. Dan
- akhirnya benar bahwa ujian itu tidak
- selamanya. Itu hanya sesaat dan sesaat.
- Demikian walumikum. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.