Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:04 [musik] 0:08 Brasil TV 0:15 Bismillahirahmanirahim. Assalamualaikum 0:17 warahmatullahi wabarakatuh. Allahuma 0:19 sholli ala sayyidina Muhammad wa ala 0:21 alihi sayyidina Muhammad. Alhamdulillah 0:23 kita berjumpa lagi hari ini hari Kamis 0:26 tanggal 2 Oktober, hari batik ya. 0:29 Hari ini pakai batik 0:30 Hari 0:31 Hari ini yang pakai batik saya, Mas 0:33 Ihsan 0:34 Kang Atep pakai batik. 0:36 Saya 0:36 Oh iya, Kang Ondy ya pakai batik. Oke 0:38 kita ketemu lagi hari ini hari Kamis 0:40 tanggal 2 Oktober 2025 atau 10 Rabiul 0:44 Akhir 1447 0:46 Hijriah. Kita jumpa lagi dalam acara 0:49 Bincang Hijrah. 0:50 Ini Masya Allah Bang Habib nih 0:53 hari ini membawa orang yang sangat 0:55 potensial. Siap siapkan siapkan pulpen 0:58 dan nama kertas ya nanti kami bacakan 0:59 nomor nomor telepon yang dapat Anda 1:01 catat ya. 1:03 Eh, kita akan mengambil tema UMKM naik 1:07 kelas, go digital, go hilirisasi, 1:12 go global, itu 1:15 tema yang ditawarkan oleh Bang Habib. 1:17 Oh, kurang jelas ya? 1:19 Sekarang sudah jelas? 1:21 Oke. 1:24 Baik 1:25 eh 1:26 kita akan sapa saja Bang Habib kita. 1:29 Assalamualaikum Bang Habib. 1:30 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:31 wabarakatuh. 1:32 Bang Habib ini dapat saja nih, ada Bu 1:34 Eti ya. 1:35 Masya Allah. 1:36 Beliau seorang pengusaha apa namanya? 1:38 Wanita entrepreneur. 1:39 Wanita entrepreneur. 1:41 Apa 1:41 minyak apa? 1:42 Asiri. 1:43 Asiri essential oil salah satunya asiri. 1:46 Asiri minyak asiri kok satiri. Memang 1:49 minyak asiri itu dulu pernah Mbak Puji 1:52 itu 1:52 Hmm. 1:53 dari Sumedang kita undang juga ngomongin 1:54 soal ini ya. 1:56 Oke silakan Bang Habib dikasih kata 1:58 pengantarnya. Silakan, Bang Habib. 1:59 Oke, bismillahirrahmanirrahim. 2:01 Asalamualaikum warahmatullahi 2:03 wabarakatuh. 2:03 Waalaikumsalam warahmatullahi 2:04 wabarakatuh. 2:07 Pendengar yang dirahmati oleh Allah 2:08 subhanahu wa taala. 2:10 Kalau kita lihat sekarang eh dunia ini 2:13 bergerak cepat sekali gitu, ya. 2:15 Digitalisasi eh dan hilirisasi ini kunci 2:20 utama buat 2:22 perkembangan gitu, ya. Di mana 2:25 eh orang bisa tahu 2:28 produk-produk dari daerah gitu, ya. Dari 2:30 Garut dia bisa tahu sampai ke Jerman, 2:33 sampai ke Eropa gitu, ya. 2:35 Nah, 2:37 bagaimana hilirisasi itu 2:40 eh 2:41 memastikan produk itu enggak berhenti di 2:44 bahan mentah, tapi 2:45 eh ada produk yang bisa bernilai tinggi 2:49 di lapangan gitu, ya. 2:51 Nah, 2:52 dari 2:54 eh kebetulan saya kenal sama Bu Eti ini. 2:57 Bagaimana produk-produk Indonesia ini 3:01 bisa dikenal global gitu, ya. Eh beliau 3:03 banyak ekspor juga 3:05 gitu, ya, ke negara-negara lain 3:07 produk-produk yang memang 3:09 local wisdom atau kearifan lokal 3:13 produk-produk kita gitu. Bagaimana 3:16 kita punya produk itu sangat unik, Pak 3:18 Krisna. Eh 3:20 sangat unik gitu, ya. Indonesia punya 3:22 produk luar biasa, ya. Kekayaan alam 3:24 Indonesia juga sangat 3:26 banyak gitu, ya. Eh ini Allah kasih 3:29 surga dunia lah gitu, ya, di Indonesia. 3:32 Setiap bahkan naruh 3:35 pohon aja bisa jadi singkong gitu, ya. 3:37 Singkongnya bisa diolah jadi 3:39 jadi kerupuk, bisa segala macam gitu, 3:41 ya. Artinya ketika kita berusaha, ketika 3:44 kita 3:45 mau bergerak gitu, ya. 3:47 Kita itu 3:50 dapat keberkahan gitu, ya, dari Allah. 3:52 Dan ketika kita lihat fenomena alam, 3:54 gitu ya, itu 3:56 nilai-nilai Islam, nilai-nilai yang 3:59 Allah berikan itu kelihatan, Pak Krisna. 4:02 Jadi, contoh gini ya, 4:03 ada di eh fisika kuantum, mungkin saya 4:06 agak lompat sedikit ya, karena 4:09 kemarin saya lihat eh beberapa ti- eh 4:11 teori ya. Jadi, di tengah kegelapan, 4:14 Indonesia nih ekonominya lagi tantangan 4:16 luar biasa ya, tantangan luar biasa. 4:18 Tetapi, ada eh teori black hole, Pak 4:22 Krisna. Eh saya eh baca teori black hole 4:24 itu, 4:26 ada lubang hitam, lubang hitam. 4:30 Lubang hitam, di tengah-tengah lubang 4:31 hitam itu ada molekul yang eh ada teori 4:35 Hawking's itu, dia me- ketika dia 4:38 melepas eh partikelnya, jadi di 4:40 tengah-tengah hitam gitu, tengah-tengah 4:42 kesulitan, ketika dia melepas dia timbul 4:44 cahaya, ada energi baru. 4:46 Hmm. 4:46 Nah, itu di kalau di Alquran, disebutkan 4:50 itu 4:51 eh wamayyattaqillaha yaj'allahu 4:53 makhrajan wayarzuqhu min haitsu la 4:54 yahtasib. Ketika orang betul-betul di 4:57 dalam kondisi yang sulit, kondisi yang 5:00 betul-betul terjepit gitu ya, dia 5:03 mengikhlaskan dirinya, kembali ke 5:05 fitrahnya manusia, gitu ya, fitrahnya 5:07 manusia, Allah kasih rezeki yang 5:09 melimpah, gitu ya. Itu Allah kasih 5:11 energi 5:13 atau kekuatan di luar kekuatannya dia, 5:15 Pak Krisna. 5:16 Bagaimana caranya? Mungkin kita banyak 5:17 dosa, kita banyak eh 5:20 di luar fitrah kita lah, gitu ya. Eh 5:23 dikasih sumber daya alam, kita enggak 5:25 manfaatin, gitu ya, segala macam gitu 5:27 ya. Nah, 5:29 caranya kembali, kita kembali bertobat 5:31 sama Allah, eh 5:33 itu ada juga di Quran, itu caranya 5:35 dengan istigfar dan tobat, gitu ya. Nah, 5:39 bagaimana dalam konteks ini, dalam 5:41 konteks bisnis, dalam konteks ekonomi 5:43 ini, 5:44 kita lihat orang-orang yang terutama 5:47 umat muslim ya, yang sukses itu 5:49 berpegang pada sumber yang betul-betul 5:52 sumber utama kita, Alquran gitu ya. 5:55 Kadang orang itu pakai teori ini, teori 5:58 A, teori B, teori C, semua itu turunan. 6:01 Ehm. 6:01 Dia enggak ketemu sumber aslinya. 6:03 Ehm. 6:03 Gitu, dia meninggalkan sumber kekuatan 6:06 hukum, pusat kekuatan kita, life guide 6:09 kita yaitu Alquran gitu ya. Ketika 6:13 kita kembali ke Alquran dan Alquran itu 6:15 berlaku sepanjang zaman Pak Krisna. 6:17 Artinya apa? Ketika eh di Alquran itu 6:19 ada kisah gitu ya, eh itu berlaku juga 6:22 buat kita, oh buat pelajaran kita gitu 6:24 ya. 6:25 Termasuk 6:26 juga kisah-kisah sirah eh nabi ya, sirah 6:31 sahabat, bagaimana Abdurrahman bin Auf, 6:33 bagaimana Sayyidina Abu Bakar, bagaimana 6:35 mereka menginfakkan 6:37 sebagian bahkan seluruh hartanya itu 6:39 berlimpah gitu ya. Yang saya lihat eh 6:42 ini eh teori kita yang kita pakai itu 6:45 sekarang bukan teori eh 6:47 barat ya, kita harus kembali ke 6:50 teori-teori yang 6:51 yang bersumber dari Alquran dan itu 6:53 Masyaallah heeh. 6:53 ya ber 6:55 dan itu Pak Krisna 6:56 kunci bertahan di tengah UMKM 6:58 Ehm. 6:58 yang luar [berdehem] biasa tantangannya 7:00 gitu. Kalau kita pakai 7:03 cara-cara manual, cara-cara yang eh 7:05 banyak orang pakai 7:07 kita suffer, berdarah-darah namanya red 7:09 ocean. Red ocean itu 7:12 di tengah-tengah lautan 7:15 yang sudah merah gitu ya, artinya semua 7:16 pemain bergerak di situ. Itu yang 7:20 yang kuat yang menang gitu ya. 7:22 Bagaimana yang punya modal, dia 7:24 menguasai pasar gitu ya. Tetapi ketika 7:27 kita 7:28 bergantung sama Allah, kita 7:31 pakai teori-teori yang Allah ada di 7:33 Alquran semua nih. Gimana kita membantu 7:35 orang lain, kita akan dibantu. Itu kita 7:37 ketika kita bantu umat, Allah akan bantu 7:39 eh menguatkan 7:41 Ehm. 7:41 posisi kita di muka bumi gitu ya, posisi 7:43 keluarga kita di muka bumi. Itu 7:46 bukan omong kosong, tapi banyak sekali 7:48 kejadian 7:49 pengusaha-pengusaha kita itu maju karena 7:52 beliau mikirin umat gitu ya, beliau 7:53 bantu umat. Beliau gimana UMKM ini 7:56 bergerak berdaya gitu ya. UMKM ini punya 7:59 problem yang 8:01 ee kompleks Pak Krisna, karena 8:03 masalahnya beda-beda gitu ya. 8:06 Masalahnya beda-beda. Kalau mungkin 8:07 kalau perusahaan menengah atau atas itu 8:09 problemnya homogen. Hampir sama ya Bu 8:11 Yati ya. Tetapi UMKM itu satu perusahaan 8:14 masalahnya beda sama perusahaan lain. 8:17 Dan ketika mau di-scale up, ketika mau 8:19 dinaikkan levelnya gitu ya, 8:22 itu 8:23 kadang-kadang enggak siap sama 8:24 produksinya, sama modal dan lain-lain. 8:26 Jadi benar-benar bina yang UMKM ini 8:28 mesti keikhlasannya benar-benar 8:30 kita karena Allah dan 8:32 Allah yang balas gitu ya. Mungkin nanti 8:34 Bu Yati bisa cerita juga gitu ya, beliau 8:36 ada membina UMKM juga. Nah, bagaimana 8:39 UMKM kita bisa bertahan di tengah era 8:42 disrupsi yang sekarang luar biasa 8:44 sekali. Jadi ee disrupsi itu terus 8:47 menghancurkan, merusak peradaban, 8:49 merusak kebiasaan. Gimana 8:52 sekarang di 8:54 luar bahkan di Indonesia sekarang 8:55 pengangguran besar sekali. Pak Krisna 8:57 lihat enggak pengangguran besar sekali 8:58 perusahaan itu kenapa nganggur? Karena 9:01 lebih dari 50% budget-nya itu dialihkan 9:04 ke AI. 9:06 Ee ke kecerdasan buatan. Bagaimana 9:08 sekarang kecerdasan buatan itu bukan 9:10 hanya menggunakan tetapi ada namanya 9:12 autonomous AI. Autonomous AI itu kayak 9:15 manusia. 9:16 Dia bisa bekerja 24 jam ya, 9:18 dia hanya di dengan biaya yang rendah 9:21 ya, dengan biaya yang rendah dengan 9:24 dan cepat, itu bisa menggantikan 9:26 manusia, pekerja, karyawan. Bayangin 9:28 kita mikir generasi setelah kita tuh 9:30 seperti apa, anak-anak kita, cucu kita 9:32 nanti bagaimana. Kalau enggak kita 9:33 enggak bergantung sama Allah, kita 9:35 bergantung sama 9:36 ee ilmu yang Allah sudah ajarkan. Ini 9:39 life guide, ibarat mobil nih, ada buku 9:41 petunjuk ya, ada buku petunjuk, ada ee, 9:45 bagaimana kita menghadapi hidup seperti 9:47 apa, ada ayat Qur'annya, sudah jelas 9:49 semua itu bisa dipelajari. Dari mulai 9:51 bisnis, dari mulai ee, 9:54 kita menghadapi ee, 9:56 keluarga, gimana cara didik anak segala 9:58 macam, itu ada. Dan 10:00 untuk ekonomi, kita kembali ke Alquran, 10:02 bagaimana 10:03 Alquran ini mengatur ya, hubungan antar 10:06 personal, antar bisnis, bagaimana kita 10:08 jujur berdagang, bagaimana kita 10:10 benar-benar menyampaikan. Kalau di teori 10:12 ekonomi misalnya gini, kita berdagang 10:14 Pak Krisna. 10:15 Ee, salah satunya Bu Eti juga saya lihat 10:17 mempraktekkan 10:19 itu. Kita kan 10:20 ketika berdagang 10:22 itu kita jujur apa adanya, gitu ya. Kita 10:24 bukan menjual kita untung, dia rugi. 10:27 He eh. 10:27 Nah, enggak, tetapi kita sebagai 10:29 konsultan nya customer. Kita nyampaiin 10:31 ini kelebihannya ini Bu, kekurangannya 10:33 ini. Dan Ibu bisa ee, kenapa mesti beli 10:36 ini. Nah, ada namanya big why, kenapa 10:38 orang tertarik untuk beli. Itu ada 10:40 masalah yang ditemukan customer. Jadi, 10:43 produk-produk yang winning atau yang 10:45 berhasil di pasar adalah produk-produk 10:46 yang memecahkan masalah umat Pak Krisna, 10:49 masalah-masalah ekonomi umat, 10:51 masalah-masalah yang dirasakan sama 10:54 banyak orang, gitu ya. 10:56 Nah, bagaimana sekarang ini ketika era 10:59 disrupsi sekarang, era ee, AI dan 11:01 lain-lain, ada satu sektor yang susah 11:04 untuk ditandingin ya. Apa itu? 11:06 Pertanian. 11:07 He eh. 11:08 Nah, makanya saya tertarik undang ee, Bu 11:10 Eti ini gimana kita kembali ke alam. 11:13 Sekarang kan belum oke, sekarang ada ee, 11:17 digitalisasi gitu ya, di sektor 11:19 pertanian, tetapi yang ngolah tetap 11:21 harus manusia, gitu ya. Gimana kita 11:23 siapin anak-anak kita itu, gimana cara 11:25 bisa ngolah pertanian, gimana cara bisa 11:27 mengolah ee, misalnya ada blue ekonomi 11:30 laut, gitu ya. Ee, 11:32 pertanian Indonesia ini luar biasa eh 11:34 hasilnya ketika diolah, Pak Krisna, dari 11:37 mulai eh sereh, jagung, pa- apa padi, 11:41 terus eh apa? 11:43 Perikanan. 11:43 Ya, macam-macam. Jadi, ketika kita kuat, 11:46 minimal kita bisa bergantung sama eh 11:50 kekuatan 11:52 yang disediakan oleh Allah ini, sumber 11:54 daya. 11:54 Mmm. 11:55 Gitu ya, pertanian dan 11:56 alhamdulillah kita undang hari ini 11:59 Bu Eti ini eh pengusaha yang menurut 12:02 saya senior saya lah, cukup sukses di 12:05 bidang ini, di beliau ada lahan juga 200 12:07 hektar di bidang 12:08 Wow. 12:08 eh sereh ya. 12:10 200 hektar ya? 12:11 Sereh ya. 12:11 Di Jonggol ya? 12:12 Eh di Bogor, gitu ya. 12:14 Bagaimana beliau nanti sharing, saya mau 12:16 tahu juga kisah beliau, bagaimana beliau 12:18 dari guru 12:20 menjadi pengusaha. 12:21 Guru TK Grace Day di Bogor Purwana. 12:24 Nah, apa sih kisahnya? Terus bagaimana 12:27 juga bisa menginspirasi pendengar, 12:29 mudah-mudahan 12:30 kita bisa kembali ke alam, menguatkan 12:33 sektor-sektor ekonomi umat ini supaya 12:36 bisa 12:37 bertahan, bahkan bisa memenangkan 12:40 persaingan global ini. Ah, gitu. 12:42 Silakan. 12:42 Iya. Oke, warganet, mungkin tadi 12:44 pengantar dari Bang Habib. Bang Habib 12:47 ini adalah master trainer BNSP, juga 12:51 konsultan bisnis digital. 12:54 Kita akan sekarang ke Bu Eti. Bu Eti ini 12:57 eh minyak atsiri ya itunya ya? 12:59 Minyak atsiri. 13:00 Itu minyak atsiri dihasilkan dari pohon 13:01 apa ya, Bu Eti? 13:04 Silakan, Bu Eti. 13:05 Iya. 13:06 Terima kasih, Pak Krisna Mukti dan 13:09 Habib. 13:10 Krisna Mukti. 13:11 Krisna Purwana. 13:12 Aduh. 13:13 Pak Krisna saja ya. 13:15 Eh pendengar hasil yang 13:19 dirahmati Allah di seluruh 13:22 penjuru dunia mungkin ya. 13:24 Terima kasih banyak ini eh kami telah 13:27 dikasih kesempatan. Oleh. 13:30 Habib, bahwa kami. 13:33 Akan menceritakan. 13:35 Sukses story kami, kenapa eee, jadi 13:38 berbisnis di bidang essential oil ini. 13:41 Kisahnya kami memang eee, seorang 13:44 seorang guru Habib dan Pak Krisna. 13:47 Waktu 91 13:50 tahun terakhir ya, menjadi [berdehem] 13:52 tahun 91. 13:55 Eee, kami berpikir karena kebetulan saya 13:57 juga dari keluarga petani. 14:00 Waktu si Eti kecil ini, berpikir kenapa 14:03 pertanian kita. 14:04 Sudah capek sekali, terus hasilnya 14:06 sedikit. Muat bertruk-truk itu kok, eee, 14:10 hasilnya sedikit tidak cukup. Dijual 14:13 hasil pertaniannya masih minus pupuk dan 14:15 segala macam. Akhirnya timbul rasa. 14:19 Dalam lubuk hati yang paling dalam, 14:21 bagaimana caranya bertani yang kecil. 14:23 Tapi bisa jualan mahal, kalau bisa 14:25 keluar negeri ini mimpi. 14:26 Waduh, itu dia. 14:27 Mimpi dari kecil ini Pak Krisna. 14:29 Iya. 14:29 Seiring waktu. 14:31 Eee, ketika. 14:33 Kami mengetahui dari eee, saya 14:35 kebetulan. 14:37 Ikut sebagai konsultan. 14:39 Eee, di Kementerian Transmigrasi. Waktu 14:42 itu tuh Pak Yakub Nuwawea ditunjuk 14:45 sebagai konsultan, bagaimana transmigran 14:47 ini. 14:48 Eee, di. 14:49 Dibina. 14:50 Dibina, ditaruh di suatu daerah yang 14:52 belum ada apa-apa. Tapi ada jaminan 14:54 hidup dari pemerintah itu ketika jaminan 14:56 hidup. Selesai, masih bertahan. 14:59 Waktu itu kami mencoba dengan nilam, 15:01 nilam itu. Pacoli oil, jadi minyak 15:04 atsiri itu di seluruh dunia itu ada 142 15:07 Pak Krisna. 15:08 Hmm. 15:09 Di Indonesia yang terbesar, jadi 15:11 Indonesia adalah negara terbesar 15:13 penghasil essential oil. 15:14 Masya Allah. 15:15 Atau minyak atsiri di dunia. 15:18 Yang namanya nilam ini atau pacoli oil. 15:20 Itu hampir kita bisa mengklaim 100% dari 15:24 Indonesia tapi tidak bisa tentunya kita 15:26 90% kebutuhan dunia akan patchouli oil 15:29 atau minyak nilam itu dari Indonesia 15:32 nah ini tuh ee mungkin suatu berkah ya 15:35 suatu rahmat dari Allah bahwa 15:37 Belanda pun ke Indonesia itu termasuk 15:40 memburu essential oil ini dan rempah iya 15:43 jadi minyak atsiri atau essential oil 15:45 ini di antaranya minyak jahe minyak 15:49 cengkeh minyak nilam minyak sereh wangi 15:52 atau citronella oil minyak kayu putih 15:55 atau cinnamon 15:57 kemudian minyak melati kemudian minyak 16:01 lada nah semuanya tuh ada di Indonesia 16:04 jadi Indonesia terbesar di dunia 16:06 penghasil essential oil ini Pak Krisna 16:09 namun perusahaan di Indonesia itu 16:11 rata-rata perusahaan asing 16:13 bahkan [berdehem] kita semua tahu di 16:14 Indonesia VOC pernah menjajah di 16:16 Indonesia itu sampai sekarang masih 16:18 VOC zaman Belanda itu masih Pak Krisna 16:20 di sini 16:21 dan masih ee bisnis essential oil ini 16:24 atau minyak atsiri 16:26 jadi mungkin pendengar hasil juga tidak 16:29 mengetahui 16:30 minyak atsiri kadang minyak atsiri sereh 16:32 minyak atsiri minyak atsiri adalah suatu 16:34 kelompok minyak yang dari 16:36 tumbuh-tumbuhan gitu ya misalnya kayak 16:38 cengkeh itu ada dua bisa di hasilkan 16:41 dari daunnya yang disebut clove leaf oil 16:44 dan penggunaannya juga beda-beda Pak 16:47 Krisna kalau minyak cengkeh ini kalau 16:50 kita sakit gigi ketika dokter pertama 16:52 kali disemprotkan ke kita adalah 16:54 minyak 16:56 cengkeh 16:57 atau ya kandungannya adalah eugenol gitu 17:01 nah kenapa ee sekarang ini 17:05 kita 17:06 seperti yang Habib tadi ceritakan bahwa 17:09 terombang-ambing antara petani 17:11 penghasil-penghasil essential oil ini 17:14 karena sebagian besar ee pelakunya itu 17:17 perusahaan asing. Ada Takasago, ada Van 17:19 Aroma, 17:20 ada Mane, ada Ogawa. Semua hampir 99% 17:24 itu adalah perusahaan asing. 17:27 Sehingga petani UMKM ini 17:30 terombang-ambing dalam harga enggak 17:32 stabil. Oleh sebab itu akhirnya saya 17:33 berinisiatif 17:35 mempunyai ide membuat hilir, produk 17:37 hilir. Makanya perusahaan kami PT 17:39 Pemalang Agro Wangi membuat 17:42 ee suatu terobosan membuat produk-produk 17:44 dari sereh wangi khususnya sereh wangi 17:46 atau Citronella Oil. Dari hulu sampai 17:48 hilir, Pak. 17:49 Dan kami sudah satu level ke atas dari 17:52 hilirisasi yaitu sirkuler ekonomi dengan 17:54 zero waste. Jadi produksi kami nol 17:56 limbah. 17:58 Dan limbah dari segala sisinya itu bisa 18:00 dimanfaatkan. Misalnya kayak limbah 18:02 cairnya kita bisa jadi produk karbol, 18:05 limbah padatnya bisa jadi media jamur, 18:07 bisa jadi pelet, bisa jadi 18:10 kertas, bahkan bisa menjadi pengganti 18:12 kapas untuk tekstil, gitu. 18:15 Nah, oleh sebab itulah ee kami mengarah 18:18 ke hiliri- ke hilirisasi tersebut. 18:20 Kebetulan sekarang pemerintah juga 18:21 menyambut baik tentang hilirisasi ini 18:24 menjadi program pemerintah 18:26 dan digitalisasi. Jadi UMKM sekarang itu 18:28 dibina untuk menjadi UMKM yang 18:31 profesional yaitu menjadi produk hilir 18:34 kemudian digitalisasi untuk 18:36 pemasarannya. 18:37 Namun tantangannya juga sangat besar, 18:39 Pak Krisna, ee 18:41 hilirisasi ini karena musuhnya adalah 18:43 kita bersaing dengan produk-produk yang 18:45 sudah ada. Seperti misalnya kayak 18:48 Johnson & Johnson, seperti Unilever. 18:51 Tentunya enggak segampang itu kita ee 18:54 membuat hilirisasi karena hilirisasi 18:57 biayanya juga sangat tinggi, bisa 10 18:59 kali lipat dari biaya 19:01 ee tidak hilirisasi, gitu. Karena kita 19:03 butuh gudang, kita butuh mesin, butuh 19:05 perizinan. 19:07 Kemudian pemasarannya. Yang ini yang 19:09 memang sebuah tantangan. Tapi kalau 19:11 pemerintah kita sudah mendukung untuk 19:13 hilirisasi tentunya 19:16 lebih bagus lagi gitu kan Pak, jadi 19:18 mungkin akan mempermudah untuk UMKM naik 19:21 kelas dan go digitalisasi seperti yang 19:24 tadi Habib ceritakan gitu. 19:25 Berapa karyawan karyawan Ibu dan 19:28 tanaman apa yang Ibu tanam di di Jonggol 19:31 itu? 19:32 Kami kebetulan ada beberapa tanaman Pak, 19:34 kami penanaman nilam di daerah Pemalang. 19:37 Kami sudah kerja sama dengan perusahaan 19:39 asing dari Perancis, investasinya dari 19:41 Perancis kalau di 19:43 Bogor di Desa Sukaharja di Gunung Batu 19:46 kami menanam sereh, kami 19:48 ada lahan 260 hektar Pak Krisna. 19:51 Namun yang sudah tertanam 112-an 19:54 ya, masih separuh sih proses menanam 19:56 terus gitu. 19:57 Itu yang kita kirim ke Perancis ke 19:59 mana-mana itu sudah dalam bentuk minyak 20:01 apa masih dalam mentah? 20:03 Minyak Pak. 20:04 Sudah berupa minyak ya? 20:05 Sudah berupa minyak tapi masih mentah. 20:06 Harganya berarti lebih tinggi dibanding 20:08 kalau mentahnya saja 20:10 Jauh, sangat jauh Pak. Sangat jauh kalau 20:12 misalnya sereh wangi daunnya masih 500 20:16 sampai 1.000 20:18 rupiah per kilo, kalau sudah jadi minyak 20:20 untuk saat ini 300. 20:22 300. 20:23 300.000. 20:24 Wow, luar biasa. 20:25 Jadi memang hilirisasi lagi kalau 20:27 misalnya kita menjadi produk lagi akan 20:30 [berdehem] 20:30 berkali-kali lipat lagi Pak. 20:32 Mungkin Ibu bisa enggak ceritain 20:34 bagaimana 20:35 memulai ini, jadi bertransformasi 20:38 dari pegawai ke pengusaha, mungkin ini 20:40 bisa menyemangati pendengar yang memang 20:43 ingin hijrah atau ingin membangun usaha 20:45 dari nol ya mungkin 20:47 ada gap nih, ada gap 20:49 mungkin enggak punya modal atau dan 20:52 lain-lain mungkin Ibu bisa cerita. Yang 20:54 kedua mungkin dijelaskan 20:56 istilah kayak hilirisasi itu 21:00 seperti apa mudahnya lah di masyarakat 21:02 gitu ya. 21:03 Baik, baik terima kasih Pak Habib. 21:06 Jadi kalau diceritai 21:07 diceritakan bikin malu ini ya. 21:10 [tertawa] 21:11 Jadi, ceritanya 21:13 dulu tuh kan zaman guru, guru itu kan 21:15 gajinya sangat sedikit nih, Pak Habib. 21:17 Kami kalau enggak salah 27.000 ya per 21:20 bulan. 21:20 Masyaallah. 21:21 Sementara anak saya banyak, bagaimana 21:23 ceritanya kita membantu suami tentunya 21:24 kan mencari nafkah kan tanggung jawab 21:26 suami kan ya, Bim. Jadi, karena kami 21:29 juga seorang istri, seorang ibu tentunya 21:32 saya berpikir di sela-sela waktu 21:36 apa sambil mengasuh anak, sambil kita 21:38 apa kita cari inspirasi bagaimana 21:40 caranya itulah yang tadi saya sebutkan 21:42 bahwa karena saya dari petani lahan kan 21:45 pasti keluarga sudah punya maka kami 21:47 mencoba waktu itu dengan menanam nilam 21:49 dulu karena waktu konsultan di 21:51 transmigrasi itu kami nilam maka 21:54 saya berpikir kenapa saya harus cuma 21:56 jadi konsultan lebih bagus saya coba 21:58 menanam dan sebagai pelaku. 22:00 Itulah dengan modal seadanya saya 22:03 mencoba menanam nilam ternyata hasilnya 22:05 bagus kenapa harus menanam kalau begitu 22:08 lebih bagus kita lari ke industrinya 22:10 juga makanya kami juga bikin alat suling 22:13 setelah itu kenapa juga kok ter 22:15 ini dari ini saya pelajari kok 22:17 perusahaan besar ini bagaimana sih 22:19 mereka bertahan dan mereka mencari uang 22:21 jadi 22:22 misalnya kayak lihat eh 22:23 firman ini di Indonesia dia bikin apa 22:25 sehingga bertahan sehingga mereka 22:27 menjadi kuat oh ternyata mereka 22:29 hilirisasi jadi 22:31 dia bikin fragrance, dia bikin parfum, 22:34 dia bikin eh makanya saya terus belajar 22:35 terus belajar terus, Habib sehingga saya 22:38 menemukan oh ternyata memang dengan 22:40 hilirisasi ini paling 22:42 efektif dan efisien sehingga nilai 22:44 tambahnya yang sangat luar biasa maka 22:46 saya pelan-pelan merintis dengan membuat 22:49 hilirnya sebelum pemerintah mencanangkan 22:51 hilirisasi. 22:52 Modalnya berapa Bu kalau boleh tahu awal 22:53 itu? 22:54 Saya waktu itu modalnya kalau enggak 22:55 salah sejuta lebih deh kayak gaji-gaji 22:58 kita kumpulin gitu loh. 22:59 Ibu dari guru SD, TK di Pemalang ya? 23:03 Iya. 23:03 Terus itu kan perlu modal besar itu. 23:07 Apalagi tanahnya 23:08 sampai berapa hektar? 23:09 [tertawa] 23:11 Itu tanah itu kami mulai membeli tahun 23:14 2004. 23:16 Ehm. 23:16 Pak Krisna. Jadi 23:18 ketika misalnya kita 23:20 kumpul-kumpulin, membeli pelan-pelan 1 23:22 hektar, 1 hektar. Lama-lama menjadi 23:25 besar. Jadi enggak sekaligus seperti kan 23:27 saya bukan konglomerat nih, Pak Habib 23:28 dan Pak Krisna. 23:29 Ehm. 23:30 Jadi pelan-pelan enggak sekaligus juga. 23:32 Tiap tahun saya nyicil beli tanah 23:34 misalnya ada petani yang butuh motor 23:36 atau anaknya mau sekolah. Saya enggak 23:38 bisa beli langsung. 23:39 Pemalang, Pemalang, Pemalang, ya? 23:40 Di Bogor, Pak. 23:42 Iya. 23:42 Terus sekarang sudah berapa hektar 23:44 jumlahnya? 23:44 Sudah 260, Pak. 23:46 Wih. 23:47 Ada amalan langit enggak, Bu? Apa yang 23:49 Ibu kerjain? 23:50 [tertawa] 23:50 Nah, ini kan juga karena kita radio 23:53 dakwah, ya. Ada mungkin yang Ibu kerjain 23:56 pengusaha lain enggak kerjain. Nah, itu 23:58 mungkin bisa di-share tuh. 23:59 Pasti ada, Bib. Mungkin nanti takut di 24:01 dikatakan ria nih, Bib. 24:02 Enggak, enggak apa-apa kan kita bisa 24:04 contoh. Oh, seperti ini. Bagaimana? Kan 24:07 semuanya bersumbernya dari Alquran, Bu. 24:09 Betul, Habib. Jadi saya pernah membaca 24:11 di 24:12 karena waktu muda kan membaca Alquran, 24:15 membaca cepat-cepat supaya saya tiap 24:16 bulan bisa hafal, bisa khatam. Tapi 24:19 karena sudah dewasa, sudah tua, saya 24:21 setiap membaca tuh memahami artinya. 24:24 Tadabbur. 24:25 Oh, ternyata pahala yang paling besar 24:26 adalah ketika kita membuka lahan 24:29 pertanian. Di situ ada pahalanya besar. 24:31 Hadis atau isi Alquran saya lupa. 24:34 Namun memang saya 24:35 sehari-hari tidur sangat sedikit karena 24:37 satu saya anaknya banyak. Ketika bangun 24:40 malam, alhamdulillah, alhamdulillah 24:42 bukan karena ria. Saya selalu salat 24:44 malam, salat duha, dan baca Alquran itu 24:47 saya utamakan lebih dahulu sambil kita 24:49 misalnya namanya ibu-ibu kan, Bib. 24:51 Goreng tempe ya sambil baca, ya. Istilah 24:53 apa Alquran sambil masak, sambil apa 24:55 gitu. Sampai sekarang alhamdulillah saya 24:57 selalu jalanin. 24:59 Jadi ee di sela-sela memelihara anak, 25:02 kita mengasuh anak, ngurus suami, saya 25:04 utamakan lebih dulu. Setelah semuanya 25:07 itu kelar, tanggung jawab saya sebagai 25:08 istri baru saya lakukan bisnis ini. Jadi 25:11 saya tidak pernah meninggalkan suatu 25:13 kegiatan sebelum kegiatan di rumah saya 25:15 selesaikan karena saya merasa saya hanya 25:18 membantu suami tapi bukan 25:20 sebagai kepala rumah tangga atau 25:22 mendominasi 25:24 Hmm. 25:24 posisi suami gitu. 25:26 Ini mematahkan teori bisnis yang bilang 25:29 bahwa 25:30 sesuatu yang dikerjakan secara sampingan 25:33 hasilnya juga bakal sampingan gitu, 25:34 bakal 25:36 enggak seberapa lah. Tetapi beliau 25:37 ngerjain sampingan hasilnya malah 25:39 ngalahin orang yang utama gitu ya. Gitu 25:42 ya. Itu apa? Berarti memang 25:44 amalan-amalan yang beliau kerjakan itu 25:46 Amalan langitnya kuat. 25:47 berdampak gitu ya. 25:49 Membantu 25:50 membuka mungkin beliau niatnya memang 25:52 benar-benar bantu orang. Gitu ya, bantu 25:54 umat gitu ya. Memberikan manfaat yang 25:56 besar buat orang sehingga 25:58 Allah turun tangan 25:59 menyempurnakan usaha beliau. 26:02 Betul, betul Habib. Jadi saya selalu 26:04 berpikir ketika kita membantu seseorang 26:07 pasti kita juga akan terbantu. Kita juga 26:10 sering mengalami kesulitan tentunya 26:11 Habib namanya saya anaknya banyak. 26:13 Anaknya berapa Bu? 26:14 Anak saya lima Bib, cucu saya sekarang 26:16 sudah 10. 26:17 Masya Allah, masya Allah. 26:18 Sudah menikah semua jadi 26:19 Kelihatannya muda ya. 26:20 Sudah selesai semua nih tanggung jawab 26:22 sebagai ibu, sebagai istri 26:24 Sudah. 26:25 nikmatin hidup aja masih masih bisa Pak 26:26 Krisna ya. Sudah sudah sisa-sisa ini 26:28 menikmati hidup tapi masih mikirin 26:30 gimana pengembangan, gimana cara 26:32 bermanfaat buat orang. [tertawa] 26:34 Assalamualaikum berhasil, luar biasa 26:36 tamunya kali ini. Boleh minta nomor 26:39 Habib dan Ibu Eti, boleh boleh ya 26:41 siapkan pulpen sama kertas kami akan 26:43 bacakan ya. 26:45 Ee nomor telepon Habib, Habib ini adalah 26:47 master trainer di BNSP dan juga 26:50 konsultan bisnis digital. 26:53 Bang Habib nomornya 081, 0823, 26:57 sudah? 26:58 Kemudian 10.000. 27:00 Sudah? 27:02 Kemudian 213. Kalau Bu Eti nomornya 27:05 0817, 27:08 kemudian 87, 0856, 27:12 0817, 27:14 87, 0856 begitu ya Bu Eti ya. 27:18 Eh, ada yang tanya nih ya 27:21 Bu Eti bagaimana kok bisa langsung 27:24 ekspor ke Perancis dan ke luar negeri 27:26 itu bagaimana lobinya? Waduh. 27:31 Jawab langsung Pak Krisna? 27:32 Ya, silakan. 27:33 Ya, terima kasih 27:34 Dari Bu Retno, dari Bu Retno. 27:36 Oh ya, Bu Retno. Jadi, kami pasang 27:38 website itulah yang namanya digitalisasi 27:40 ya. Jadi, kami ada website-nya tiba-tiba 27:44 ada datang jadi perusahaan kami 27:46 Website-nya berbahasa Inggris? 27:48 Pakai bahasa Inggris lebih terkenal di 27:50 luar negeri daripada di Indonesia gitu. 27:52 Kami ada tamu dari Taiwan, dari in 27:56 China, dari Jerman, bahkan kami punya 27:59 karyawan dari Spanyol. 28:00 Oh, karyawan dari Spanyol kerjanya di 28:02 Jonggol? 28:03 Di Aceh. 28:04 Oh, di Aceh. 28:06 Oh, ada ada cabang juga di Aceh? 28:07 Ada. 28:08 Oh, oke. 28:11 Ehm. 28:13 Apa tantangan Ibu dalam usaha ini dan 28:16 apa penyakit tanam-tanaman itu? Apakah 28:18 mudah diurusnya atau perlu pupuk-pupuk 28:21 tertentu untuk bisa subur? 28:23 Dari Bang Mamat. Ya ya Bang Mamat. 28:26 Tanamannya apa yang di ditanya Pak? Izin 28:28 Pak Krisna. 28:29 Masalah perizinan juga sama mengurus 28:31 tanamannya itu, memelihara tanamannya 28:32 bagaimana? 28:33 Sekalian mungkin Bu, eh bagi pendengar 28:35 yang tertarik gitu ya 28:37 eh ber mulai 28:39 berbisnis atau mulai optimasi lahan dari 28:42 mulai ini kan 28:44 eh zero ya dari mulai gimana sih 28:46 memulainya dengan modal kecil atau 28:49 bagaimana caranya nih mulai kita 28:51 bareng-bareng deh beralih ke pertanian 28:53 gitu 28:56 kalau Bang Mamat ya terima kasih Bang 28:59 Mamat responnya jadi kalau nilam itu 29:01 memang seperti kita nanam cabe 29:04 apa sih tantangan yang paling besar 29:06 adalah dia busuk akar ya tapi dari 29:09 teknologi sekarang sih sudah bisa 29:11 diatasi 29:11 gimana caranya itu busuk akar 29:13 ngatasinnya 29:13 itu tiba-tiba 29:15 ini kita lihat dulu biasanya apakah dia 29:18 dari belalang yang makan di dalamnya 29:21 atau biasanya karena ada jamur gitu 29:23 biasanya nanti kita 29:23 ini bisa diatasi busuk akar 29:25 bisa bisa kasih anti jamur tapi kalau 29:27 tanamannya sereh wangi tidak ada 29:29 bandel dia ya 29:30 bandel karena 29:31 tanam tanaman sereh itu bahkan kita 29:34 bakar pun tumbuh sendiri 29:36 oh gitu 29:36 iya tanaman sereh wangi ya 29:38 jadi tanaman itu tanaman liar sebetulnya 29:40 Pak Krisna 29:41 cuma memang ada ketinggian tertentu yang 29:44 dia mesti 29:45 kadarnya itu 29:47 bisa pas gitu jadi enggak bisa terlalu 29:49 tinggi enggak bisa terlalu bawah ada apa 29:52 ketinggian di atas lautnya berapa meter 29:54 gitu ya Bu ya 29:54 ada ada 29:55 itu 29:57 asal posisinya pas itu hasilnya bisa 29:59 bisa dipakai ya 30:00 berapa usia yang bisa dipetik dari sereh 30:03 misalnya 30:03 kalau dari sereh wangi 30:06 itu sereh wangi itu dari menanam sampai 30:09 panen 30:10 6 bulan 30:10 hampir sama dengan nilam yaitu 6 bulan 30:12 hanya sereh wangi itu setiap 3 bulan 30:14 sekali panen nilam juga begitu cuma 30:17 kalau nilam memang perlu perawatannya 30:19 sangat ekstra tapi kalau sereh wangi 30:22 karena kami membuat sistem sirkuler 30:24 ekonomi dari hulu sampai hilir dan 30:26 memper 30:28 memperlama 30:29 usia bahan baku kami harusnya secara 30:32 teori 5 tahun replanting maka yang kami 30:36 sudah tahun ke-13 belum kami replanting 30:38 dan hasilnya masih bagus kalau yang 30:40 sereh wangi 30:41 Ehm. 30:41 Bagi pembeneng pendengar hasil yang 30:44 ingin kunjungan boleh. 30:45 Nah, itu. 30:46 Oh, boleh tuh. Di di mana nih, Ci? 30:48 Di Sukaharja, Bogor. 30:50 Sukaharja, Bogor. 30:51 Iya. 30:52 Ehm, dari Ibu Fitri. Bu Ati mau tanya, 30:55 apa apa perbedaan 30:57 tanam nila nilam dan sereh dalam hal 31:00 peruntukannya? 31:01 Kalau nilam, hasilnya namanya patchouli 31:04 oil. Itu adalah untuk bahan baku parfum, 31:08 untuk peng ah. 31:10 Penebar wangi. Nama istilah kimianya 31:12 fiksatif. Jadi ketika 31:14 seseorang 31:16 lewat di depan kita, harumnya semerbak, 31:18 itulah fungsinya nilam atau patchouli 31:20 oil. 31:22 Ehm. 31:22 Namun kalau sereh wangi adalah 31:24 citronella oil, itu fungsinya anti 31:26 jamur. 31:28 Bisa jadi parfum juga. 31:29 Ehm. 31:30 Dengan aroma mirip bunga lili. Jadi 31:32 kalau kita 31:33 ada di parfum-parfum yang di mal-mal itu 31:36 yang mawar tapi murah, mirip-mirip bunga 31:38 melati tapi bukan melati, itu lah dari 31:41 turunannya sereh wangi. Dari 31:43 seluruh essential oil ini ada 100 lebih 31:45 itu yang tadi saya sebutkan, Pak Krisna. 31:47 Yang bisa di 31:49 eh bikin produk turunan hanya dua, yaitu 31:51 cengkeh dan sereh wangi. Jadi kalau 31:54 cengkeh bisa di eh dicerai-beraikan itu 31:57 kandungannya menjadi beberapa produk. 31:59 Yaitu ada eugenol, ada bisa jadi vanila, 32:03 vanila sintetis. Kalau kita makan permen 32:05 atau 32:07 kita makan es krim yang rasa vanila itu 32:09 murah. Jadi itu bukan vanila tapi dari 32:12 turunannya minyak cengkeh. 32:14 Ehm. 32:14 Kemudian kalau sereh wangi bisa menjadi 32:16 rasa min. 32:18 Min-min yang murah itu dari sereh wangi. 32:20 Kalau seluruhnya harus dipakai bersama 32:22 satu zat, enggak bisa dipisah-pisah. 32:24 barang mewah ya, produk-produk mewah 32:26 akhirnya ya. 32:27 Memang mewah. Padahal itu dari 32:29 Ehm. 32:29 Jadi seluruh parfum yang mahal itu pasti 32:32 ada patchouli oil-nya yang dari kita. 32:33 Patchouli oil dari nilam itu ya? 32:35 Nilam, iya. Jadi kalau parfum yang 32:36 murah-murah itu enggak, tapi kalau 32:38 karena dia mengawetkan juga itu nilam 32:40 seluruhnya. Jadi, kalau misalnya kita 32:43 ada pimpinan kita yang gila stop ekspor 32:46 nilam, pasti dunia akan teriak, Pak, 32:48 karena tidak bisa jadi suatu parfum 32:50 kalau tidak ada nilam. 32:51 Oh, hidup Indonesia. Nilam banyak di 32:53 Indonesia. 32:54 Bagaimana caranya 32:55 yang mau memulai bisnis di pertanian 32:57 nih, Bu, ya? Mungkin bisa sharing. 32:59 Bisa, bisa. Kami juga welcome. Silakan 33:02 misalnya mau datang ke kantor, tapi 33:04 tentunya harus janjian dulu, misalnya 33:06 diskusi mau nanam apa. Bahkan ibu-ibu 33:09 rumah tangga yang mau misalnya santai 33:11 menanam jeruk, beberapa tanaman di 33:13 rumahnya, kemudian daun jeruknya bisa di 33:16 suling. Itu namanya kaffir lime, jeruk 33:18 purut. 33:18 Jeruk purut, ya? 33:19 Itu mahal juga minyaknya 600.000 1 kilo. 33:21 Oh, jeruk purut itu daunnya itu angka 8, 33:24 ya? 33:24 Iya, bisa nanam di rumah atau mau nanam 33:26 jahe, nanti bikin minyak jahe atau bikin 33:29 minyak urut sendiri. Kami siap 33:30 mengajari, gitu. 33:31 Market-nya? 33:33 Market-nya ada, Bu, ya? 33:34 Market-nya ada. 33:35 Kami juga 33:35 banget, Bu. 33:36 Ya, maksudnya Ibu bisa koordinir. 33:38 Misalnya nih ada 33:40 pendengar yang pengin nih ada mungkin 33:42 ada lahan atau ada apa. Nih, kita mau 33:45 nanam sesuatu gitu, ya. Kan kadang 33:47 tantangannya di marketing nih, ya. 33:49 Tantangannya di marketing atau pasar 33:51 market yang siap nampung gitu, ya. 33:52 Mungkin itu ada, ya, offline, ya, 33:55 banyak, ya. 33:56 Boleh, boleh, Habib. Misalnya tapi saya 33:59 rasanya enggak percaya nih, Pak Habib 34:00 dan Pak Krisna, karena 34:02 setiap petani yang datang ke saya dari 34:03 tahun '96 saya akan merintis bisnis ini, 34:05 Pak Krisna, belum pernah ada yang petani 34:07 yang setia. Sebab kalau misalnya 34:10 Enggak sabar. 34:11 Ya, bukan. Misalnya, "Ibu Eti, saya mau 34:13 nanam ini, nanti jualnya ke mana?" Oke, 34:15 nanti jual ke saya. Nanti bibitnya beli 34:16 ke kami, 34:18 [tertawa] 34:18 beli ke kami, begitu. 34:20 Penyuling wanginya ke mana-mana, Pak 34:21 Krisna. Akhirnya pasti ada 34:23 Jual ke mana-mana. 34:24 Bu Eti, Bu Eti yang lain akan datang, 34:25 kan, Pak Krisna. Kan ini kan eksklusif 34:27 tanaman ini. Jadi, pasti "Wah, Bu Eti 34:30 beli berapa?" Nanti yang lain wah, aku 34:33 beli sekian-sekian pasti akhirnya jadi 34:35 Oh, 34:36 Terjadilah perselingkuhan tuh, Pak 34:37 Krisna. 34:38 Saran saya mending nanti kita bikin sesi 34:41 training ini. Penting nih buat 34:43 buat life skill-nya pendengar juga 34:46 supaya ada skill-skill yang dibutuhkan 34:48 ini masa depan ini eksis nih, Pak 34:50 Krisna. 34:50 Bu Eti, kami tidak punya lahan seluas Bu 34:53 Eti. Bagaimana apakah kami bisa ikut 34:56 seperti itu? Katanya tuh dari Bu Riri. 35:00 Bisa juga kita misalnya Bu Riri eh 35:03 misalnya mau nanam apa ya jeruk? Boleh 35:05 di pekarangan sendiri ada berapa ribu. 35:06 Tapi kalau memang mau, silakan Rasil 35:09 koordinir nanti kita ada juga bisa kan 35:12 lahan kami masih ada yang belum 35:13 tertanam. Kalau mau berkelompok menanam 35:16 tapi harus setia jual ke saya ya, jangan 35:18 selingkuh lagi. 35:18 [tertawa] 35:19 Atau jual produknya juga bisa kalau mau 35:22 jualan dulu ya. 35:23 Boleh mau jadi reseller. 35:24 Bisa digambarkan harganya gimana 35:27 kira-kira? 35:28 Jadi kalau gambaran singkat ya, misalnya 35:30 kalau kita menanam serai itu 35:33 sudah sewa sudah tertanam sudah sewa 35:35 lahan ya, tertanam itu 25 juta 1 hektar. 35:37 1 hektar. 35:38 Iya. 35:39 Sebenarnya kalau nanam serai ini kan 35:41 sangat gampang. Jadi dua kali panen 35:43 sudah BEP karena satu saya hitung saja 35:46 500 rupiah satu satu hektar itu isinya 35:49 20 35:51 ribu, 20 ribu pohon. Satu pohon itu 35:55 bisa 2 kilo, bisa 3 kilo. Anggap 35:56 rata-rata 2 kilo sehingga panen kan 80 35:59 ton ya. 36:01 Bisa 80 ton. Tapi kalau satu rata-rata 36:04 satu setengah itu jadi satu kali panen 36:07 kalau hasilnya pohonnya tuh rimbun bisa 36:11 BEP tapi sepahit-pahitnya dua kali 36:13 panen. 36:14 Oke, dari Pak Gata. Bu Eti, saya mau 36:16 tanya. Kata Pak Gibran 36:19 kemenyan bisa juga dihilirsasi karena 36:22 minyak-minyak wangi luar negeri itu 36:24 ujung-ujungnya itu dari kemenyan. Apa 36:26 betul? 36:27 Bisa. 36:28 Betul? 36:28 Betul, betul. Bisa jadi ada minyak 36:31 itu apa? Kayu apa-apa? 36:33 Pohonnya seperti beringin ya. 36:35 Ehm. 36:35 Cuma ada tumbuh hanya di Barus sana, di 36:38 Sumatera Utara. 36:40 Oh, di Barus sana. Mirip-mirip gaharu 36:42 gitu, Bu? 36:43 Iya, mirip-mirip gaharu. 36:44 Oh, di sini enggak bisa ya? 36:46 Kayaknya itulah uniknya di essential oil 36:49 ini, saya juga tidak meneliti di bidang 36:50 itu tuh, Pak Krisna. Jadi, kalau akar 36:52 wangi itu hanya bisa di Garut seluruh 36:54 dunia. 36:55 Di mana? [mendengus] 36:56 Di Garut. 36:57 Oh. 36:57 Namanya akar wangi, akar yang wangi itu 36:58 loh, Pak, yang kadang untuk kerajinan. 37:00 Itu hanya bisa di Garut. Kita tanam di 37:02 luar daerah 37:03 Garut ini, Jawa Barat? 37:04 Jawa Barat. 37:05 Oh. 37:05 Sama di Madagaskar. Ketika kita keluar 37:07 dari dua daerah ini dan Madagaskar, 37:09 alhamdulillah tuh seluruh aroma 37:11 essential oil kita tuh beda dengan 37:13 seluruh dunia. Misalnya nilam ditanam di 37:15 Cina, ditanam ditanam di India, aromanya 37:17 beda dengan aroma Indonesia. 37:19 Lebih apa Indonesia itu? 37:21 Lebih wanginya khas, mungkin karena kita 37:23 di bawah garis khatulistiwa ya. 37:24 Ehm. 37:25 Dan yang paling luar biasa lagi Sumatera 37:27 Utara dan Aceh terbagus di dunia. 37:29 Waduh. 37:31 Untuk 37:31 Nilam, pala, sereh wangi. 37:33 Oh. 37:34 Itulah kelebihan 37:35 Coklat terbaik aja di Bali itu nomor dua 37:37 di dunia. 37:39 Terbaik. 37:39 Luar biasa ya. Kenapa kita negaranya 37:41 ya? 37:41 Enggak kaya-kaya ya? Padahal luar biasa 37:43 ya. 37:43 Swiss enggak punya coklat, tapi coklat 37:45 terkenal dari Swiss. Padahal Swiss 37:46 enggak punya pohon. 37:47 Karena itu kan sebenarnya sebenarnya kan 37:49 hilirisasi ini kan sudah dilakukan oleh 37:50 perusahaan-perusahaan konglomerat semua 37:52 seperti Wilmar, Sinar Mas, itu kan sudah 37:54 hilirisasi. Sereh wangi itu luar biasa. 37:56 Ehm. 37:56 Eh, sereh wangi bukan, sorry sorry, 37:58 sawit. 37:58 Ehm. 37:59 Nah, cuman yang Ibu bilang tadi, 38:01 tantangannya biayanya bisa 10 kali 38:03 lipat. Gimana nih hilirisasi 38:05 dengan 38:06 dari pengalaman Ibu, oh enggak nyampe 10 38:08 kali lipat nih, saya bisa gini caranya 38:10 gitu. Lebih efisien gitu. 38:13 Sekarang pemerintah sepertinya agak 38:15 lunak ya. Jadi, kita bisa usaha di 38:18 rumah, asal rumah itu ada syaratnya 38:20 syarat-syarat tertentu dari BPOM ya, 38:22 misalnya kayak enggak rumahnya itu harus 38:25 ditinggalin enggak boleh ada tikus masuk 38:27 misalnya kita mau buat karbol dari sereh 38:29 wangi 38:29 PIRT 38:30 bisa dengan rumah kita berapa meter gitu 38:34 nanti izinnya namanya PIRT ya itu saya 38:37 rasa bisa apa memulai dulu ya yang 38:41 penting memulai dulu 38:41 ekspor juga Bu 38:42 bisa ya memulai dulu yang penting 38:45 boleh juga kalau kita enggak kuat 38:47 sendiri kolaborasi gitu Habib ya kan 38:49 bisa berkelompok membuat suatu kelompok 38:51 dan pemerintah juga sepertinya ada 38:53 bantuan-bantuan tentang hilirisasi ini 38:55 cuma cara mendapatkannya mungkin 38:58 saya belum paham betul ya karena 39:02 baru era ini ya Habib ya mungkin ada 39:05 info-info nanti lewat dinas-dinas 39:06 setempat misalnya 39:08 dinas 39:09 agribisnis Bogor itu berapa dinas 39:11 pertanian atau perindustrian Bogor ya 39:13 mungkin bisa koordinasi dulu 39:14 syarat-syarat yang pastinya bagaimana 39:16 gitu 39:17 sekarang ada jadi gini sama hampir semua 39:19 kementerian badan itu punya divisi UMKM 39:23 buat membina UMKM gimana caranya supaya 39:26 bisa naik kelas Pertamina ada 39:28 kementerian UMKM kementerian pertanian 39:32 semua hampir semua itu ada di website 39:34 cari website itu nanti mereka ada 39:36 pelatihan-pelatihannya juga gitu ya di 39:38 Smesco juga ada tuh kan Smesco ya 39:40 iya ada ada 39:41 itu ada pelatihan nanti mereka yang 39:43 kurasi mereka yang pilih nah mungkin ini 39:46 jalurnya Bu Eti ini gimana sih road 39:50 map-nya bisa lihat sukses dari orang 39:53 yang udah udah sukses jadi kita enggak 39:55 usah lagi nih kerja belus lagi ke ketipu 39:57 misalnya yang ngabisin biaya yang besar 40:00 nah udah ada nih contohnya nih nih kamu 40:02 ngelakuin ini ini ini gitu ya mungkin 40:04 role modelnya ada ya 40:05 ya mungkin kita bikin pelatihan atau 40:06 bisa lihat dulu ke Bu Eti atau misalnya 40:09 Bu kerja sama gimana nanti kalau bisa 40:11 Rashid juga ikut terlibat nih biar 40:13 supaya suara umatnya semakin terdengar 40:16 Pak Krisna, gitu. 40:18 Sepertinya sih harus di, menurut saya 40:20 harus dikoordinasi tuh, Bib. 40:22 Ehm, iya. 40:23 Karena kalau di saya kan pasti berbayar, 40:24 Bib. 40:25 [tertawa] 40:26 Iya, iya. 40:27 Iya, Pak Krisna. Karena perusahaan kan 40:29 berbayar. Kalau Rasyid bagaimana nanti? 40:31 Apakah melalui yayasannya Rasyid, gitu. 40:35 Betul, betul. Gimana caranya Rasyid ini 40:37 bisa mencetak eh, pengusaha-pengusaha 40:40 muslim yang kuat, ya. 40:40 Betul, betul. 40:41 Nah, iya. 40:42 Assalamualaikum, Ibu Eti. Ibu Eti, jadi 40:45 minyak-minyak wangi terkenal di dunia 40:46 itu bermuaranya dari timur, ya, Bu Eti. 40:49 Apakah betul? 40:51 Dari, maksudnya dari wilayah timur. 40:54 Asia, gitu. 40:55 Dari Asia. 40:56 Eh, tidak juga sih muaranya semua dari 40:58 Prancis. Namun, bahan bakunya sebagian 41:00 besar dari kita. 41:01 heeh. 41:02 Iya, betul. Kayak Young Living itu semua 41:04 produknya dari Indonesia. 41:05 Waduh. 41:06 Hanya nilai perdagangan kita tuh selalu 41:08 negatif karena seluruh 41:10 perusahaan-perusahaan parfum itu punya 41:12 kantor di Indonesia, seperti IFF, Mane, 41:16 Ogawa. Mane itu dari Swiss. 41:18 Ogawa Jepang, Takasago Jepang, Firmenich 41:21 Swiss, Sozio Prancis. Sehingga nilai 41:25 perdagangan kita walaupun ekspornya itu 41:27 menurut Kementerian Pertanian kemarin 41:30 terakhir saya rapat Jumat, 41:32 dua Jumat yang lalu itu sudah 2 triliun, 41:34 tapi 41:35 tetap tidak tidak positif, masih negatif 41:38 karena begitu, Pak. Jadi, nilai impornya 41:40 tuh lebih tinggi karena ke sana bahan 41:42 baku, balik lagi ke Indonesia dengan 41:44 lebih mahal berkali-kali lipat begitu, 41:46 Pak Krisna. 41:47 Oke, nih. Sayang sekali kita sudah 41:49 dibatasi oleh waktu. Ini banyak yang 41:50 nanya nomor telepon Bu Eti. Saya bacakan 41:52 lagi ya nomor telepon tadi juga Ibu Mona 41:54 nanya tuh, Bu Mona Ganim tuh. Ini nomor 41:56 teleponnya Bu Eti, Pemalang. 0817 42:01 Sudah? 42:03 Kemudian 87 42:05 kemudian 0856 42:07 0817 42:09 kemudian 0870856. 42:12 Kemudian nomor teleponnya Bang Habib 42:15 master trainer BNSP dan konsultan bisnis 42:19 digital nomornya 0823 42:23 10.000 42:25 213, 0823 42:28 10.000 213 jadi kita tinggal atur aja 42:32 kapan kita ada pelatihan di sini Bang 42:33 Habib ya 42:34 iya kalau Bu Eti bisa juga 42:37 sharing gitu ya 42:38 iya khusus 42:39 di bidang ini 42:40 nah terima kasih Bu Eti sudah hadir ke 42:41 Rasil, Bang Habib terima kasih juga 42:44 untuk eh 42:46 Bapak eh ini 42:48 siapa ya Bapak 42:52 eh Su eh Shihabudin, Bapak Shihabudin 42:56 terima kasih sudah juga hadir ya hadir 42:59 baik eh terima kasih Bang Habib 43:00 mudah-mudahan sukses ya 43:02 saya Muhammad Krisna Undi Saputra dan 43:04 Algi mohon pamit wabillahi taufik 43:06 walhidayah wassalamualaikum 43:07 warahmatullahi wabarakatuh